1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan sebuah gagasan yang menjadikan perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single bottom line, yaitu nilai perusahaan yang direfleksikan dalam kondisi keuangannya saja tetapi berpijak pada triple bottom lines yaitu pada aspek sosial, lingkungan dan keuangan. Kesadaran atas pentingnya CSR dilandasi pemikiran bahwa perusahaan tidak hanya mempunyai kewajiban ekonomi dan legal kepada pemegang saham (shareholder), tapi juga kewajiban terhadap pihak-pihak lain yang berkepentingan (stakeholder).
Perusahaan merupakan unit bisnis yang di dalamnya terdapat kelompok orang yang memiliki tujuan sama dan berusaha mencapai tujuan tersebut secara bersama-sama. Pada umumnya, keberadaan perusahaan didasarkan pada tujuan utama, yaitu memperoleh keuntungan untuk meningkatkan kesejahteraan bagi pemegang saham dan kreditur, namun kesadaran publik terhadap peran perusahaan di masyarakat semakin meningkat. Masyarakat menganggap perusahaan sebagai lembaga yang dapat memberikan banyak keuntungan seperti: memberikan kesempatan kerja, menyediakan barang kebutuhan, membayar pajak, menciptakan teknologi dan lainnya. Namun disisi lain perusahaan juga menimbulkan masalah sosial dan lingkungan seperti: polusi udara, keracunan, kebisingan, diskriminasi, pemaksaan, pencemaran, dan penipisan sumber daya (Hadi, 2011).
Terdapat beberapa contoh kasus, terkait permasalahan yang muncul dikarenakan perusahaan dalam melaksanakan operasinya kurang memperhatikan dampak lingkungan dan sosialnya.Contohnya, Kasus PT. Lapindo yaitu luapan lumpur karena kegagalan operasional, sehingga perusahaan mengalami kerugian besar sampai saat ini. Kasus lainnya, Pada Maret 2015, PT Kalbe Farma yaitu kesalahan pelabelan obat anestesi yang menyebabkan dua pasien Rumah Sakit
Siloam Karawaci meninggal dunia hingga perusahaan mendapatkan sanksi administratif. Kasus pencemaran Teluk Buyat oleh PT. Newmont (2007), yaitu pembuangan tailing limbah tambang ke dasar laut yang mengakibatkan tercemarnya laut, sehingga berkurangnya tangkapan ikan dan menurunnya kualitas kesehatan masyarakat lokal.
Hal tersebut akan berpotensi menimbulkan protes dan tuntutan dari masyarakat sekitar karena telah merusak sumber mata pencaharian, mengganggu kenyamanan dan kelestarian lingkungan mereka. Reaksi negatif dari masyarakat akan menimbulkan kerugian keuangan karena biaya ganti rugi yang besar dan menimbulkan penolakan atas keberadaaan bisnis perusahaan oleh masyarakat, sehingga hal ini dapat mengganggu keberlangsungan hidup perusahaan dalam jangka panjang.
Masalah sosial dan lingkungan yang terjadi mengharuskan perusahaan agar lebih memperhatikan dampak negatif yang ditimbulkan perusahaan. Hal ini diperkuat dengan adanya dukungan regulasi pemerintah yaitu Undang-Undang Perseroan Terbatas No.40 Tahun 2007 Bab V pasal 74 mengenai tanggung jawab sosial dan lingkungan bahwa perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan, Pasal 66 ayat (2) bagian c disebutkan bahwa selain meyampaikan laporan keuangan, perusahaan juga diwajibkan melaporkan pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Selain itu UU No. 25 tahun 2007 Tentang Penanaman Modal Pasal 15 (b) menyatakan bahwa setiap penanam modal berkewajiban melaksanakasn tanggung jawab sosial perusahaan, dan Peraturan Menteri BUMN No. 4 Tahun 2007.
Salah satu informasi yang sering diminta untuk diungkap oleh perusahaan adalah informasi tentang tanggung jawab sosial perusahaan. Corporate Social Responsibility pada dasarnya adalah komitmen perusahaan terhadap tiga elemen yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dalam situasi ini, tanggung jawab sosial perusahaan merupakan suatu keharusan untuk meminimalisir berbagai dampak negatif tersebut dalam membentuk suatu perusahaan yang tangguh dan berkelanjutan. Apabila dikaitakan dengan prinsip syariah, Nabi Muhammad SAW
telah membawa nilai-nilai islam yang tertuang dalam Al-Quran yang dapat digunakan sebagai landasan dari tanggungjawab sosial perusahaan. Konsep CSR dalam islam lebih ditekankan sebagai bentuk ketakwaan umat manusia kepada Allah SWT dalam dimensi perusahaan. Dengan kata lain, paradigma takwa kepada Allah SWT menginspirasi perusahaan untuk selalu melakukan kegiatan bisnis dengan baik dan bertanggungjawab terhadap kehidupan sosial.
Walaupun pembicaraan tentang CSR atau tanggung jawab sosial perusahaan baru ramai terdengar dalam beberapa tahun terakhir ini, tetapi sebenarnya CSR bukanlah hal yang baru. Melalui CSR perusahaan secara terus menerus meyakinkan masyarakat bahwa mereka melakukan kegiatan bisnisnya sesuai dengan batasan dan norma-norma masyarakat, sehingga tercipta kesesuaian (congruence) antara keberadaan perusahaan dengan harapan masyarakat dan lingkungan, disebut dengan teori legitimasi, Gary O’Donovan (2002) dalam Hadi (2011).
Guthirie dan Mathews (1985) dalam Zaenuddin (2007) menyatakan bahwa pengungkapan sosial (corporate social responsibility disclosure) adalah informasi keuangan dan non keuangan yang berhubungan dengan interaksi organisasi dengan lingkungan sosial yang dinyatakan dalam laporan tahunan atau laporan sosial yang terpisah. Darwin (2007) dalam Nurkhin (2009) menjelaskan bahwa social disclosure sebagai wujud akuntabilitas, responsibilitas dan transparansi perusahaan kepada pemegang saham dan stakeholders lainnya, serta upaya perusahaan untuk memperoleh legitimasi masyarakat dengan memperlihatkan tanggung jawab sosial melalui pengungkapan CSR.
Menurut Hadi (2011) corporate social responsibility dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat tentang aktivitas perusahaan, bahwa perusahaan bukan hanya mencari laba namun juga memperhatikan dampak lingkungan dan sosialnya, sehingga perusahaan dapat menjaga keberadaannya dimasyarakat. Selain itu, menurut Kartadjumena, et al (2011) bahwa laba atau rugi sering digunakan sebagai ukuran kinerja perusahaan atau basis nilai lainnya. Pengukuran atas laba tidak hanya penting untuk memutuskan hasil dari suatu perusahaan tetapi juga sebagai informasi untuk memutuskan pendistribusian pendapatan dan kebijakan
berinvestasi. Kemudian penelitian Zuhroh dan Sukmawati (2003) juga membuktikan bahwa social disclosure berpengaruh terhadap volume perdagangan saham.Hal ini berarti corporate social responsibility sebagai faktor yang dipertimbangkan oleh investor untuk berinvestasi sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan.
Pada perkembangannya tidak semua perusahaan menerima konsep pelaksanaan tanggung jawab sosial ini, Sofyan Syafri Harahap (2007) mengemukakan argumen bahwa perusahaan yang menjalankan konsep pelaksanaan tanggung jawab sosial selain mereka merasa peduli terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar, tetapi perusahaan juga mengharapkan timbal balik yang positif dari pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) tersebut. Terdapat pula argumen yang menolak pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan tersebut tidak lain dikarenakan ketakutan mereka dalam tujuan utama perusahaan yaitu mendapatkan laba yang maksimal akan berkurang.
Pentingnya CSR perlu dilandasi oleh kesadaran perusahaan terhadap fakta tentang adanya jurang yang semakin lebar antara kemakmuran dan kemelaratan, baik pada tataran global maupun nasional. Menghadapi kenyataan yang seperti ini, tuntutan kepada perusahaan untuk melakukan dan mengungkapkan CSR tidak terelakkan. Pelaksanaan CSR terjadi diantara negara-negara di Asia, pada awalnya aktivitas CSR di Indonesia masih tergolong rendah. National Center for Sustainability Reporting pada tahun 2005 mengadakan Indonesia Sustainability Reporting Award (ISRA). Sejak pertama kali ISRA diselenggarakan pada tahun 2005, hanya ada 7 perusahaan yang menjad ipeserta. Namun dari tahun ke tahun, jumlah perusahaan yang mengikuti ISRA menunjukkan peningkatan yang signifikan. Sampai dengan tahun 2015 tercatat 40 perusahaan telah ikut terlibat pada kegiatan tersebut.
Indonesia Sustainability Reporting Awards (ISRA) merupakan penghargaan yang diberikan kepada perusahaan yang telah membuat pelaporan atas kegiatan yang menyangkut aspek lingkungan dan sosial disamping aspek ekonominya untuk memelihara keberlanjutan perusahaan itu sendiri.Secara umum ISRA bertujuan untuk mempromosikan voluntary reporting CSR kepada
perusahaan di Indonesia dengan memberikan penghargaan kepada perusahaan yang membuat laporan terbaik mengenai aktivitas CSR. Penghargaan ini memotivasi perusahaan terhadap akuntabilitas, transparansi dan pengungkapan informasi lingkungan, sosial dan keberlanjutan yang lebih luas kepada stakeholders. Contoh perusahaan yang konsisten memperoleh ISRA 2009 dan 2010 yaitu: PT.
TELKOM, PT. Astra International, PT. Aneka Tambang, PT. Timah, PT. United Tractors, dan PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Press Release ISRA 2009 dan 2010 : 2-5). Disaat yang sama, PT. TELKOM dan PT. Astra International juga termasuk perusahaan TOP 10 Pencetak Aset dan Laba Bersih Terbesar tahun 2010.
Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan dengan profit yang tinggi perlu melakukan social disclosure yang luas agar dapat meyakinkan masyarakat bahwa perusahaan tidak hanya mencari profit semata, namun diseimbangkan dengan aspek sosial dan lingkungannya serta sebagai wujud akuntabilitas dan transparansi perusahaan seperti yang ditunjukkan oleh penelitian Kartadjumena, et al (2011).
Beberapa penelitian dari Utami dan Prastiti (2011); Kartadjumena, et al (2010); Almilia dan Retrinasari (2007) ditemukan bahwa social disclosure juga dipengaruhi oleh karakteristik yang dimiliki perusahaan, salah satunya profitabilitas sebagai karakteristik perusahaan.Karakteristik perusahaan merupakan ciri khas atau sifat yang melekat dalam suatu entitas usaha yang dapat dilihat dari beberapa segi.
Profitabilitas mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan yang diperoleh dari penjualan maupun investasi. Penelitian Nurkhin (2009) juga menyatakan bahwa kemampuan manajemen dengan tanggung jawabnya dalam menghasilkan laba harus diiringi dengan kemampuan dalam melaksanakan tanggung jawab sosialnya. Hubungan profitabilitas terhadap tanggung jawab sosial menurut Bowman dan Haire (1976) dalam Heckston dan Milne (1996) bahwa kepekaan sosial membutuhkan gaya managerial yang sama sebagaimana yang diperlukan untuk dapat membuat perusahaan menguntungkan (profitable). Perusahaan melalui social disclosure, meyakinkan kepada publik bahwa tidak hanya mencari laba semata, namun juga peduli kepada lingkungan dan
sosialnya. Dalam hal ini, semakin tinggi profitabilitas perusahaan, maka semakin tinggi social disclosure perusahaan.
Utami dan Prastiti (2011) menyimpulkan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap social disclosure. Penelitian Kartadjumena, et al (2010) menyebutkan bahwa profit memiliki hubungan positif dengan corporatesocial responsibility disclosure. Kemudian Zaenuddin (2007) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa profitabilitas berpengaruh negatif.Sedangkan Sudaryono dan Rahman (2007) serta Sembiring (2005) dalam hasil penelitiannya menunjukkan bahwa profitabilitas tidak berpengaruh terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial.
Likuiditas mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya kepada kreditur jangka pendek (Prastowo dan Juliaty, 1978) dalam (Almilia dan Retrinasari, 2007). Sedangkan menurut Cooke (1989) dalam Almilia dan Retrinasari (2007) menjelaskan bahwa tingkat likuiditas dipandang dari dua sisi. Disatu sisi tingkat likuiditas yang tinggi akan menunjukkan kuatnya kondisi keuangan perusahaan.
Cooke (1989) dalam (Fitriani, 2001; Almilia dan Retrinasari, 2007) menunjukkan bahwa rasio likuiditas mempunyai hubungan positif terhadap luas pengungkapan. Hal tersebut didasarkan pada ekspektasi bahwa perusahaan yang secara keuangan kuat, akan cenderung untuk mengungkapkan lebih banyak informasi.
Penelitian Utami dan Prastiti (2011); Almilia dan Retrinasari (2007);
Sudaryono dan Rahman (2007), menemukan corporate social responsibility juga dapat dipengaruhi dengan tingkat leverage perusahaan. Leverage mengukur seberapa besar perusahaan dibiayai dengan utang. Dana yang diperoleh tidak hanya berasal dari pememgang saham, perusahaan juga mengelola dana dari kreditur.
Semakin tinggi rasio ini berarti semakin rendah pendanaan perusahaan yang disediakan oleh pemegang saham untuk melunasi utangnya, maka semakin besar resiko yang harus dihadapi oleh kreditur. Kreditur akan menggunakan informasi yang ada mengenai aktivitas perusahaan, termasuk informasi sosial dan lingkungannya. Kondisi ini akan mendorong perusahaan dengan tingkat leverage
yang tinggi untuk mengurangi tingkat keluasan pengungkapan sosialnya agar tidak menjadi sorotan para kreditornya (Utami dan Prastiti, 2011). Dapat dikatakan, semakin tinggi leverage maka semakin rendah corporate social responsibilitypada suatu perusahaan.
Rasio leverage digunakan untuk memberikan gambaran mengenai struktur modal yang dimiliki suatu perusahaan. Perusahaan dengan rasio leverage yang lebih tinggi berarti menggambarkan struktur modal yang lebih didominasi oleh utang. Dalam hal ini, semakin tinggi leverage, maka semakin luas corporate social responsibility perusahaan. Utami dan Prastiti (2011), Anggraini (2006), Sudaryono dan Rahman (2007), dan Sembiring (2005) dalam hasil penelitiannya menunjukkan bahwa leverage tidak berpengaruh positif terhadap social disclosure. Sedangkan Cahya (2010) dalam penelitiannya berhasil membuktikan bahwa leverage berpengaruh positif terhadap tanggung jawab sosial perusahaan.
Perhatian publik tertuju pada ukuran perusahaan (size) bahwa perusahaan besar termasuk entitas bisnis yang memiliki tekanan politis yang lebih besar, dan paling banyak disoroti oleh pasar maupun publik dibandingkan dengan perusahaan kecil. Perusahaan besar memiliki aktivitas operasional yang lebih banyak, sehingga berpotensi menimbulkan dampak yang lebih besar terhadap lingkungan dan sosial (Cowen et. al dalam Sembiring, 2005). Oleh karena itu, semakin besar perusahaan yang memiliki sistem informasi pelaporan yang lebih baik akan cenderung memiliki sumberdaya untuk menghasilkan lebih banyak informasi dan biaya untuk menghasilkan informasi tersebut lebih rendah dan perusahaan besar memiliki insentif untuk menyajikan pengungkapan sukarela, kerena perusahaan besar dihadapkan pada biaya dan tekanan politik yang lebih tinggi.
Beberapa penelitian dari Utami dan Prastiti (2011), Sudaryono dan Rahman (2007), serta Sembiring (2005) menyimpulkan bahwa ukuran perusahaan (size) berpengaruh positif terhadap corporate social responsibility. Sedangkan Zaenuddin (2007) serta Anggraini (2006) memberikan hasil yang menunjukkan bahwa ukuran perusahaan (size) tidak berpengaruh terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial.
Saat ini pertumbuhan saham yang dimiliki oleh investor institusi telah meningkat pesat. Tingkat kepemilikan institusional yang tinggi menimbulkan usaha pengawasan yang lebih besar untuk menghalangi perilaku opportunistic manajer.Sebagai contoh, aktivitas penawazran umum perdana atau Initial Public Officer (IPO) di pasar domestik Indonesia masih terus dikuasi oleh investor institusi.Selama ini, penawaran umum saham perdana di pasar domestik dialokasikan sekitar 95 persen ke investor institusi, termasuk asing, dan sisanya sekitar 5 persen ke investor ritel.Hal itu disebabkan investor institusi biasanya lebih berorientasi jangka panjang.Menurut Mursalim (2007), kepemilikan institusional dapat dijadikan sebagai upaya untuk mengurangi masalah keagenan dengan meningkatkan proses monitoring. Pemegang saham institusional juga memiliki opportunity, resources, dan expertise untuk menganalisis kinerja dan tindakan manajemen. Menurut Mursalim (2007), kepemilikan institusional dapat dijadikan sebagai upaya untuk mengurangi masalah keagenan dengan meningkatkan proses monitoring. Pemegang saham institusional juga memiliki opportunity, resources, dan expertise untuk menganalisis kinerja dan tindakan manajemen.
Dengan melakukan praktek dan pengungkapan CSR, perusahaan akan mendapatkan manfaat tersendiri. Sebagaimana pendapat Kotler dan Lee (2005) dalam Solihin (2009) menyebutkan bahwa perusahaan akan terdorong untukmelakukan praktek dan pengungkapan CSR karena memperoleh beberapa manfaatseperti peningkatan penjualan dan market share, memperkuat brand positioning, meningkatkan citra perusahaan, menurunkan biaya operasi, serta meningkatkandaya tarik perusahaan di mata investor dan analisis keuangan.
Gabriela dan Chairi (2011) dalam hasil penelitiannya mencerminkan bahwa kepemilikan saham oleh institusi menunjukkan pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap corporate social responsibility. DiIndonesia, kepemilikan institusional belum mulai mempertimbangkan tanggung jawab sosial perusahaan sebagai salahsatu kriteria dalam melakukan investasi, sehingga para investor institusi ini juga cenderung tidak menekan manajemen perusahaan untuk mengungkapkan tanggung jawab sosial perusahaan secara detail dalam laporan tahunan perusahaan.
Indonesia merupakan negara muslim terbesar di dunia yang harus dapat menciptakan pengembangan pasar di industri keuangan syariah. Investasi syariah di pasar modal yang merupakan bagian dari industri keuangan syariah, mempunyai peranan yang cukup penting untuk dapat meningkatkan pangsa pasar industri keuangan syariah di Indonesia.Selama ini, investasi syariah di pasar modal Indonesia identik dengan Jakarta Islamic Index (JII).DSN-MUI telah menerbitkan Fatwa No. 80 tentang Penerapan Prinsip Syariah dalam mekanisme perdagangan efek bersifat ekuitas di Pasar Reguler Bursa Efek.Dengan adanya fatwa tersebut, seharusnya dapat meningkatkan keyakinan masyarakat bahwa investasi syariah di pasar modal Indonesia sudah sesuai dengan prinsip-prinsip syariah sepanjang memenuhi kriteria yang ada dalam fatwa tersebut, yang mana salah satunya yaitu menjaga kelestarian lingkungan dan sosial.
Oleh karena itu, industri keuangan syariah memiliki kewajiban juga untuk melakukan corporate social responsibility disclosure. Keharusan perusahaan untuk melakukan corporate social responsibility disclosure tertuang pada Undang- undang PT No. 40 tahun 2007 Bab IV pasal 66 mengenai Laporan Tahunan, pada ayat 2 butir c dijelaskan bahwa Direksi dalam menyampaikan laporan tahunan harus memuat sekurang-kurangnya laporan mengenai pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, serta BAPEPAM No.Kep-134/BL/2006 Tentang Laporan Tahunan dijelaskan bahwa laporan tahunan wajib memuat mengenai aktivitas dan biaya yang dikeluarkan berkaitan dengan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan. Tujuan dikeluarkannya Undang- undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, selain meregulasi perusahaan mengenai CSR, yaitu untuk memenuhi tuntutan masyarakat akan layanan yang cepat, kepastian hukum, serta tuntutan akan pengembangan dunia usaha sesuai dengan prinsip pengelolaan perusahaan yang baik. Namun demikian, peraturan tersebut belum memuat tentang standar-standar mengenai item-item pengungkapannya sehingga corporate social responsibility disclosure sifatnya masih sukarela (voluntary disclosure) sebagai informasi tambahan bagi pengguna, maka perusahaan memiliki keleluasaan dalam mengungkapkan tanggung jawab
sosialnya. Keleluasaan pengungkapan menimbulkan keragaman pada tingkat corporate social responsibility disclosure yang dilakukan oleh perusahaan.
Pada penelitian ini, sampel yang digunakan adalah emiten yang konsisten terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII) periode 2013-2015, yang masuk dalam kriteria syariah (Daftar Efek Syariah yang diterbikan oleh Bapepam-LK) dan termasuk saham yang memiliki kapitalisasi besar dan likuiditas tinggi. Diharapkan merupakan emiten yang memiliki kesadaran terhadap lingkungan hidup dan sosial yang baik, sehingga diharapkan juga mampu merepresentasikan corporate social responsibility disclosure yang lebih luas, jelas dan akurat. Selain itu, emiten Jakarta Islamic Index (JII) belum digunakan pada penelitian terdahulu.
Melihat perkembangan Indonesia Sustainability Reporting Awards (ISRA) selama 10 tahun ini terhadap meningkatnya keinginan perusahaan- perusahaan untuk melakukan corporate social responsibility disclosure yang pada awalnya bila melihat berdasarkan sektor industri, pembuat laporan keberlanjutan didominasi oleh perusahaan dari sektor tambang. Tapi sekarang perusahaan pembuat laporan tersebut cukup bervariasi.Ada yang berasal dari sektor manufaktur, dan ada yang berlatar belakang dari bidang jasa. Selain itu karena adanya keanekaragaman dari beberapa hasil penelitian sebelumnya, penulis memfokuskan penelitian untuk menguji profitabilitas, likuiditas, leverage, ukuran perusahaan, dan kepemilikan institusional. Selain itu, ingin mengetahui corporate social responsibility disclosure pada emiten Jakarta Islamic Index (JII) selama periode 2013 sampai dengan 2015 sebagai objek pada penelitian ini. Berdasarkan fenomena dan uraian tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Profitabilitas, Likuiditas, Leverage, Ukuran Perusahaan, dan Kepemilikan Institusional Terhadap Corporate Social Responsibility Disclosure (Studi Empiris Pada Emiten Jakarta Islamic Index (JII) Tahun 2013-2015)”.
1.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian diatas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Terdapat pengaruh signifikan Profitabilitas terhadap corporate social responsibility disclosure secara parsial pada emiten Jakarta Islamic Index (JII) periode tahun 2013-2015?
2. Terdapat pengaruh signifikan Likuiditas terhadap corporate social responsibility disclosure secara parsial pada emiten Jakarta Islamic Index (JII) periode tahun 2013-2015?
3. Terdapat pengaruh signifikan Leverage terhadap corporate social responsibility disclosure secara parsial pada emiten Jakarta Islamic Index (JII) periode tahun 2013-2015?
4. Terdapat pengaruh signifikan Ukuran Perusahaan terhadap corporate social responsibility disclosure secara parsial pada emiten Jakarta Islamic Index (JII) periode tahun 2013-2015?
5. Terdapat pengaruh signifikan Stuktur Kepemilikan Institusional terhadap corporate social responsibility disclosure secara parsial pada emiten Jakarta Islamic Index (JII) periode tahun 2013-2015?
6. Terdapat pengaruh signifikan pengaruh Profitabilitas, Likuiditas, Leverage, Ukuran Perusahaan, dan Struktur Kepemilikan Institusional secara simultan terhadap corporate social responsibility disclosure pada emiten Jakarta Islamic Index (JII) periode tahun 2013-2015?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah yang dibuat, maka tujuan dalam penelitian ini untuk :
1. Untuk membuktikan bahwa Profitabilitas berpengaruh signifikan secara parsial terhadap corporate social responsibility pada emiten Jakarta Islamic Index (JII) periode tahun 2013-2015.
2. Untuk membuktikan bahwa Likuiditas berpengaruh signifikan secara parsial terhadap corporate social responsibility pada emiten Jakarta Islamic Index (JII) periode tahun 2013-2015.
3. Untuk membuktikan bahwa Leverge berpengaruh signifikan secara parsial terhadap corporate social responsibility pada emiten Jakarta Islamic Index (JII) periode tahun 2013-2015.
4. Untuk membuktikan bahwa Ukuran Perusahaan berpengaruh signifikan secara parsial terhadap corporate social responsibility pada emiten Jakarta Islamic Index (JII) periode tahun 2013-2015.
5. Untuk membuktikan bahwa Struktur Kepemilikan Institusional berpengaruh signifikan secara parsial terhadap corporate social responsibility pada emiten Jakarta Islamic Index (JII) periode tahun 2013-2015.
6. Untuk membuktikan bahwa Profitabilitas, Likuiditas, Leverage, Ukuran Perusahaan, dan Struktur Kepemilikan Institusional berpengaruh secara signifikan simultan terhadap corporate social responsibility pada emiten Jakarta Islamic Index (JII) periode tahun 2013-2015.
1.4 Manfaat Penelitian
Kegunaan teoritis yang ingin dicapai dalam pengembangan dan penerapan pengetahuan dalam penelitian ini, antara lain:
a) Bagi akademisi
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih terhadap ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan corporate social responsibility disclosure, profitabilitas, likuiditas, leverage, ukuran perusahaan, dan kepemilikan institusional yang mempengaruhinya.
b) Bagi Perusahaan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dalam mengambil keputusan perusahaan untuk menerapkan program corporate social responsibility di Indonesia serta mengetahui faktor- faktor yang dapat mempengaruhinya.
c) Bagi Publik
Masyarakat agar dapat terlibat lebih aktif untuk mengawasi jalannya
pengelolaan perusahaan dan mengawasi pelaksanaan program corporate social responsibility di Indonesia sehingga dapat terbentuk tata kelola yang baik di dalam perusahaan.
1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini didasarkan pada data dan informasi yang diperoleh penulis melalui situs resmi Bursa Efek Indonesia (BEI) dan website dari setiap emitennya. Sehingga dapat mendukung penyusunan tesis ini. Adapun waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2016 sampai dengan selesai.