BAB II
LANDASAN TEORI
A. Keteladanan Orang Tua 1. Pengertian Keteladanan
Keteladanan dapat diartikan dari dua sudut pandang yaitu secara etimologi dan terminologi. Secara terminologi keteladanan (uswah) adalah dakwah dengan memberikan contoh yang baik melalui perbuatan nyata yang sesuai dengan ajaran Islam. (M. Yunan Yusuf, 2003:205-206).
Secara etimologi keteladanan berasal dari kata teladan yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna “sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh”. Dengan demikian, keteladanan berarti hal yang dapat ditiru atau dicontoh. (Lukman Ali, 1995:1025).
Metode keteladanan ini merupakan metode pendidikan dan pengajaran dengan cara pendidik memberikan contoh teladan yang baik kepada anak agar ditiru dan dilaksanakan. Suri tauladan dari para pendidik merupakan faktor yang besar pengaruhnya dalam pendidikan anak. Pendidik terutama orang tua dalam rumah tangga dan guru di sekolah adalah contoh ideal bagi anak. Salah satu ciri utama anak adalah meniru, sadar atau tidak, akan meneladani segala sikap, tindakan, dan prilaku orang tuanya, baik dalam bentuk perkataan dan perbuatan maupun dalam pemunculan sikap-sikap kejiwaan, serta emosi, sentimen, dan kepekaan. ( Dindin Jamaludin, 2013:71)
Metode keteladanan ini merupakan metode yang paling unggul dan paling jitu dibandingkan dengan metode lainnya melalui metode ini para orang tua, pendidik memberi contoh atau teladan terhadap anak atau peserta didiknya bagaimana cara berbicara, bersikap, mengerjakan sesuatu atau cara beribadah. Melalui metode ini maka anak dapat melihat, menyaksikan dan meyakini cara yang sebenarnya sehingga mereka dapat melaksanakannya dengan lebih baik dan lebih mudah. (Heri Jauhari Muchtar, 2006: 29).
2. Pengertian Orang Tua a. Pengertian Orang Tua
Orang Tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak- anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. (Zakiah Darajat, 2012: 35).
Orang Tua adalah orang yang dinisbatkan (dihubungkan) dari kelahiran seseorang, baik itu kelahiran secara langsung ataupun tidak.
Mencakup ayah, ibu, kakek, nenek dan orang-orang di atas mereka.
Biasanya istilah orang tua digunakan untuk ayah dan ibu, karena keduanya merupakan sebab langsung terjadinya kelahiran seorang anak. Namun di zaman modern ini terdapat istilah lain, seperti ayah dan ibu spiritual, jika hubungan tersebut dilandasi kasih sayang, ajaran, dan pemeliharaan. Ada juga orang tua yang disebabkan susuan. (Athiyah Shaqar, 2005:3)
b. Kedudukan dan Fungsi Orang Tua
Orang tua ayah dan ibu memegang peranan yang penting dan sangat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya. Sejak seorang anak lahir, ibunyalah yang selalu ada di sampingnya. Oleh karena itu ia meniru perangai ibunya dan biasanya. Seorang anak lebih cinta kepada ibunya. Pengaruh ayah terhadap anaknya besar pula. Di mata anaknya ia seorang yang tertinggi gengsinya dan terpandai di antara orang-orang yang dikenalnya. Cara ayah itu melakukan pekerjaannya sehari-hari berpengaruh pada cara pekerjaan anaknya. Ayah merupakan penolong utama, lebih-lebih bagi anak yang agak besar, baik laki-laki maupun perempuan, bila ia mau mendekati dan dapat memahami hati anaknya. (Zakiah Darajat, Dkk, 2012: 35).
Demikian pula Islam memerintahkan agar para orang tua berlaku sebagai kepala dan pemimpin dalam keluarganya dari api neraka, sebagaimana Firman Allah dalam Qur’an Surat At-Tahrim ayat 6:
Artinya :
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Q.S At-Tahrim ayat 6). (Depag RI, 2009:
560)
Tafsir ayat di atas Ali bin Abi Thalib r.a. mengartikannya: Quu anfusakum wa ahlii kum naaraan adalah “didiklah mereka dan berilah pelajaran yang cukup untuk menghadapi hari esok mereka”.
Ibn Abbas r.a mengartikannya, “laksanakan amal, taat kepada Allah dan meninggalkan maksiat serta suruhlah anakmu selalu berzikir kepada Allah, niscaya Allah akan menyelamatkan kamu dari neraka.”
Adgadhaha berkata, “kewajiban setiap muslim harus mengajari keluarganya, anak istrinya dan semua kerabatnya apa yang telah diwajibkan oleh Allah dan yang dilarang oleh Allah.” Karena itulah Rasulullah Saw. Bersabda, “Muruus shabiya bis shalati idza balagha sab’a sinina, fa idza balagha asy ra sinina fadh ribuu hu alaiha.”
Artinya, “suruhlah anakmu shalat jika telah berumur tujuh tahun, bila sampai berumur sepuluh tahun maka pukullah anak itu jika meninggalkan shalat” (R. Ahmad, Abu Dawud, Attirmidzi).
Demikian pula tentang puasa supaya berlatih diri untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban agama, dengan demikian setelah dewasa telah terbiasa berbuat ibadat dan meninggalkan maksiat dan mungkar.
Penyala api neraka ialah manusia yang kafir dan durhaka terhadap
Allah serta batu berhala yang disembah oleh manusia dan sekaligus berhala itu memimpin penyembahannya memasuki neraka yang dijaga oleh Malaikat yang kejam, kasar, tak ada rasa belas kasih sedikit pun pada mereka, sengaja dijadikan oleh Allah sebagai makhluk yang sadis, mereka hanya melaksanakan perintah Allah. (Salim Bahreisy dan Said Bahreisy, 1993 : 163-164)
Tanggung jawab pendidikan Islam yang menjadi beban orang tua sekurang-kurangnya harus dilaksanakan dalam rangka:
1) Memelihara dan membesarkan anak.
2) Melindungi dan menjamin kesamaan baik jasmani maupun rohani.
3) Memberi pengajaran dalam arti yang luas baik pengetahuan umum, agama dan teknologinya.
4) Membahagiakan anak baik di dunia maupun di akhirat.
(Zakiah Darajat, Dkk, 2012: 37-38).
Kedua orang tua wajib memusatkan perhatian kepada anaknya yang tertua, kemudian kepada anak-anak yang lebih muda usianya, agar mereka bisa dijadikan teladan yang baik bagi adik-adiknya.
(Abdullah Nashih Ulwan, 2007: 182).
Prinsip yang sebaiknya diperhatikan oleh orang tua dalam penanaman iman di hati anak-anaknya di dalam rumah tangga.
Pertama, membina hubungan harmonis dan akrab antara suami istri (ayah dan ibu anak). Kedua, membina hubungan harmonis dan akrab antara orang tua dengan anak. Ketiga, mendidik, memberi teladan atau contoh dan perbuatan yang baik yang dibenarkan sesuai dengan tuntunan Islam. (Ahmad Tafsir, 2013: 129).
3. Keteladanan Orang Tua
a. Pengertian Keteladanan Orang Tua
Keteladanan orang tua dalam pendidikan merupakan metode yang berpengaruh dan terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spritual, dan etos sosial anak.
Mengingat pendidik adalah seorang figur terbaik dalam pandangan anak, yang tindak tanduk dan sopan santunnya disadari atau tidak akan ditiru oleh mereka. Bahkan bentuk perkataan, perbuatan dan tindak tanduknya akan senantiasa tertanam dalam kepribadian anak.
(Abdullah Nashih Ulwan, 2007: 142).
Suri tauladan adalah alat pendidikan yang sangat efektif bagi kelangsungan komunikasi nilai-nilai agama. Menurut Ki Hajar Dewantara konsep suri tauladan tekanan utamanya pada “ing ngarsa sung tulodho” yaitu pendidik menampilkan suri tauladannya dalam bentuk tingkah laku, pembicaraan, cara bergaul, amal ibadah dan sebagainya. Keteladanan dapat menjadi alat peraga langsung bagi peserta didik.
Meniru, dinamis, dan berkreasi merupakan karakteristik anak.
Pembentukan diri anak terjadi melalui peniruan dari apa yang mereka saksikan di sekitarnya. Berkaitan dengan karakteristik di atas, dalam memberikan pendidikan kepada anak, orang tua hendaknya menjadi sumber keteladanan bagi anak. Anak akan dengan mudah mengikuti apa yang dilakukan orang tuanya. (Mohamad Surya, 2003: 6).
b. Bentuk Keteladanan Orang Tua
Keteladanan yang merupakan hal-hal yang dapat ditiru atau dicontoh oleh seseorang dari orang lain dalam bentuk:
1) Perkataan
Perkataan orang tua serta keluarga yang ada dalamnya yang baik atau kurang baik akan ditiru oleh anak-anaknya. Perkataan yang baik anak akan mengucapkannya dengan baik, begitupun sebaliknya perkataan yang keras akan membentuk sifat yang keras pula dalam soal berbicaranya. Dalam keluarga anak mula- mula mengenal kata-kata dan pengertian. Ucapan dan bacaan- bacaan, bahkan dipraktekannya dalam kehidupan selanjutnya.
2) Perbuatan
Sikap yang keras dimiliki oleh keluarga anak di rumah akan membentuk watak keras pula pada anak, sebaliknya jika watak kehidupan di lingkungan keluarga yang sikapnya lemah lembut dan sopan santun dalam kehidupan sehari-hari. Bila dalam kehidupan keluarga itu sehari-hari bersikap keras, maka anak pun akan tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang keras pula.
Sebaliknya jika kehidupan keluarga senantiasa bersikap lemah lembut dan ramah tamah, maka anak cenderung berbuat yang serupa dengan lingkungan keluarga tersebut.
3) Tingkah Laku
Tingkah laku sesuatu perbuatan yang ditimbulkan oleh sikap pada suatu objek yang ia akan mendukung bila bersikap positif dan kurang mendukung bila bersikap negatif. Sadar atau tidak semua tingkah laku orang tua mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi anak-anaknya dalam berperilaku dan dijadikan contoh dalam melakukan segala kegiatan, karena sejak masa hidupnya, sang anak meniru pengaruh dari keluarga dan waktu yang dihabiskannya adalah lingkungan keluarga lebih banyak dari pada tempat-tempat lain. Tingkah laku yang baik dilakukan orang tua akan tertanam pada jiwa anak tingkah laku yang baik. (Ahmad Umar Hasim, 2005:95).
c. Fungsi Keteladanan Orang Tua
Manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungannya, khususnya lingkungan keluarga. Jika orang tua mengajarkan dan mencontohkan nilai-nilai kebaikan, maka akan sangat mempengaruhi perilaku seorang anak. Hal ini diungkapkan oleh Nabi SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah,
َيِضَر َةَرْ ي َرُى ِبِ َأ ْنَع َع ُللها
ْن ُو َع ُللها ىَّلَص ُّبيَّنلا َلاَق َل ْي ِو
َو َس َل ْم ُّل ُك
َم ْو ُل ْو ُ ي ٍد َو ِل َع ُد ُ ي ُهاَوَ ب َأَف ِة َرْطِفْلا ى َل َه
ْوَأ ِوِن اَدِّو ُ ي َن
َُي ْوَأ ِوِن اَرِّص َس ِّج
ِوِنا
اَعْدَج اَهْ يِف ى َرَ ت ْلَى َةَمْيِهَبْلا ُجَتْنُ ت ِةَمْيِهَبْلا ِلَثَمَك َء
اْوُ ن ْوُكَت ّتّح
.اَهَ نْوُعَدَْتَ ْمُتْ نَا )ىراخبلا هاور(
Artinya:
“Dari Abi Hurairah radiallahu‟anhu berkata, Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan Yahudi, Nasrani, atau Majusi sebagaimana binatang ternak dilahirkan, adakah kamu dapati yang telah dipotong (dilobangi) hidungnya sehingga kamu tidak perlu lagi memotongnya?”
(Imam Bukhori, 2005: 82).
Hadist tersebut merupakan sebuah penegasan bahwa setiap manusia diwarnai oleh lingkungannya. Ketika seorang bayi manusia lahir, dia tidak memiliki pengetahuan apa pun, melalui interaksinya dengan ibu, bapak dan keluarganya ia pun memperoleh pengetahuan.
Pada fase-fase pertumbuhan selanjutnya ia banyak tergantung apa yang didengar dan dilihatnya, yang pada proses selanjutnya akan memengaruhi kepribadiannya. Allah SWT. telah menganugerahkan kepada manusia media dan sarana untuk mendapatkan pengetahuan berupa panca indra dan akal. Melalui pendengaran dan penglihatan, seorang anak belajar dari orang-orang di sekitarnya bagaimana harus bertingkah laku, barulah menjelang dewasa akalnya berfungsi untuk membedakan yang baik dan benar dari apa yang didapatkan dari orang-orang di sekitarnya tersebut. Faktor utama yang menyebabkan seorang anak menurut atau mengikuti lingkungannya atau orang yang lebih dewasa adalah keinginan untuk menyerupai, yang dalam lapangan psikologi hal ini disebut dengan proses identifikasi, di mana hampir setiap orang berusaha mengidentifikasi dirinya dengan orang yang dikaguminya. Khususnya remaja yang menurut penelitian, karena kekaguman mereka terhadap orang tua sehingga menimbulkan proses identifikasi. Dengan demikian, faktor paling dominan yang memengaruhi manusia pada awal pertumbuhannya
adalah peneladanan sikap, pemikiran, serta perilaku orang-orang di sekitarnya. (Faizah, Lalu Muchsin Effendi, 2006: 190-191).
Memberikan teladan yang baik dalam pandangan Islam merupakan metode pendidikan yang paling membekas pada anak didik. Ketika anak menemukan pada diri orang tua dan pendidiknya suatu teladan yang baik dalam segala hal, maka ia telah meneguk prinsip- prinsip kebaikan yang dalam jiwanya akan membekas berbagai etika Islam. Ketika kedua orang tua menginginkan sang anak tumbuh dalam kejujuran, amanah, menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak diridhoi agama, kasih sayang, maka hendaklah kedua orang tua memberikan teladan, misalnya: dalam berbuat kebaikan, menjauhi kejahatan, menanggalkan kehinaan, mengikuti yang hak dan meninggalkan yang batil. Pada dasarnya, anak yang melihat orang tuanya berbuat dusta, ia tidak mungkin akan belajar jujur. Anak yang melihat kedua orang tuanya berkhianat, ia tidak mungkin belajar amanah. Anak yang melihat orang tuanya selalu mengikuti hawa nafsu, ia tidak mungkin akan belajar keutamaan.
Anak yang mendengar orang tuanya berkata kufur, caci maki dan celaan, tidak mungkin ia akan belajar bertutur manis. Anak yang melihat kedua orang tuanya marah dan emosi, tidak mungkin ia akan belajar sabar. Anak yang melihat kedua orang tuanya bersikap keras dan bengis, tidak mungkin ia akan belajar kasih sayang.
Demikianlah, anak akan tumbuh dalam kebaikan, akan terdidik dalam keutamaan akhlak, jika ia melihat kedua orang tuanya memberikan teladan yang baik. Demikian pula sebaliknya, anak akan tumbuh dalam kenakalan dan berjalan di jalan kufur, fusuq, dan maksiat, jika ia melihat kedua orang tuanya memberi teladan yang buruk. (Abdullah Nashih Ulwan, 2007: 178).
Penulis dapat menyimpulkan bahwa fungsi keteladanan orang tua itu sangat penting bagi anaknya untuk disiapkan bagi peranannya di masa yang akan datang. Sejak dini memberikan keteladanan yang
baik bagi anak-anaknya melalui pendidikan agama yang baik. Orang tua pula yang akan menikmati kebahagiaan pada usia tuanya dan akhiratnya nanti.
B. Kenakalan Remaja
1. Pengertian Kenakalan
Istilah kenakalan mengacu pada rentang yang luas, dari tingkah laku yang tidak dapat diterima secara sosial (misalnya bersikap berlebihan di sekolah), sampai pelanggaran status (seperti melarikan diri) hingga tindak kriminal (misalnya pencurian). (John W Santrock, 2003: 519).
Kenakalan dalam perspektif Islam terdapat dalam Qur’an Surat Al- Fathir Ayat 10.
Artinya:
Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, Maka bagi Allah- lah kemuliaan itu semuanya. kepada-Nyalah naik perkataan- perkataan yang baik[1249] dan amal yang saleh dinaikkan- Nya[1250]. dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. dan rencana jahat mereka akan hancur.
[1249] sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa perkataan yang baik itu ialah kalimat tauhid yaitu Laa ilaa ha illallaah; dan ada pula yang mengatakan zikir kepada Allah dan ada pula yang mengatakan semua perkataan yang baik yang diucapkan Karena Allah.
[1250] maksudnya ialah bahwa perkataan baik dan amal yang baik itu dinaikkan untuk diterima dan diberi-Nya pahala. (Depag RI, 1994: 696-697).
Ayat di atas dapat Anda jadikan kelompok baru yang berbicara tentang bukti-bukti keesaan Allah SWT,. setelah ayat-ayat yang lalu , menguraikan sekian banyak nikmat-Nya yang terbentang di langit dan di bumi.
Apa yang digambarkan oleh ayat-ayat yang lalu menunjukan betapa kuasa Allah SWT. dan betapa kekuasaan itu tidak dapat terbendung oleh apa dan siapapun. Inilah yang dinamai dengan al-„izzah (kemuliaan). Kaum musyrikin bahkan semua manusia mendambakan dan saling berlomba untuk meraih kemuliaan. Di sini Allah mengingatkan semua pihak bahwa : barang siapa yang menghendaki kemuliaan, kapan dan dimanapun maka hendaklah dia taat kepada Allah yang Maha Esa dan karena bagi Allah dan miliknya sendiri semata-mata kemuliaan. Karena itu yang menghendakinya agar mendekatkan diri kepadanya dan melakukan aktifitas yang direstuinya.
Kemuliaan itu diperoleh dari amal-amal sholeh yand dilakukan karena Allah dan kepada-Nyalah saja tidak kepada selainnya naik kalimat- kalimat yang baik dan amal yang sholeh dinaikkanya sehingga pelakunya mendapatkan kedudukan yang tinggi disisinya. Dan orang- orang yang merencanakan makar dengan menyembunyikan maksud jahatnya terhadap orang-orang beriman bagi mereka azab yang keras dan makar mereka akan binasa sehingga mereka tidak berhasil mencapai tujuan mereka. (M. Quraish Shihab, 2002:437-438)
Penulis berpendapat bahwa kenakalan adalah perbuatan atau pelanggaran yang dilakukan oleh seseorang yang bersifat melawan hukum, anti sosial, anti susila dan menyalahi norma-norma agama yang berlaku.
2. Pengertian Remaja a. Pengertian Remaja
Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa, maka akan dapat dipahami bahwa masa remaja memiliki kompleksitas masalah yang tak mudah diselesaikan
oleh orang dewasa. Kata remaja berasal dari terjemahan bahasa Inggris adolescence dan bahasa latin adolescere yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Piaget seorang tokoh pendidikan dan perkembangan menyatakan pandangannya tentang masa remaja:
Masa Remaja adalah usia di mana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa. Usia di mana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak. Integrasi dalam masyarakat (dewasa) mempunyai banyak aspek efektif. Kurang lebih berhubungan dengan masa puber, termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok.
(Imam Ratrioso, 2008: 14-15).
Di dalam Surat An-Nuur ayat 59 Allah berfirman.
Artinya:
Dan apabila anak-anakmu Telah sampai umur balig, Maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin[1049]. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat Nya. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
[1049] Maksudnya: anak-anak dari orang-orang yang merdeka yang bukan mahram, yang Telah balig haruslah meminta izin lebih dahulu kalau hendak masuk menurut cara orang-orang yang tersebut dalam ayat 27 dan 28 surat ini meminta izin.
(Depag RI, 1994: 554)
Ayat tersebut menjelaskan anak-anak telah sampai umur baligh.
Baligh dalam istilah hukum Islam digunakan untuk penentuan umur awal kewajiban melaksanakan hukum Islam dalam kehidupan sehari- hari. Atau dengan kata lain terhadap mereka yang telah baligh dan berakal, berlakulah seluruh ketentuan hukum Islam. (Hasbi Ash Shidqi, 1985: 499).
Pengertian remaja dalam buku psikologi pengasuhan anak karangan Rifa Hidayah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan remaja adalah sebagai berikut. Menurut Gander dan Henry Hurlock, mendefinisikan remaja sebagai periode antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa yang berusia 12-22 tahun. Menurut Darajat masa remaja di Indonesia mempunyai rentang masa kehidupan yang lebih panjang dari lingkungan budaya barat yaitu berumur antara 13 hingga 21 tahun. Piaget mengatakan secara psikologis, masa remaja adalah usia di mana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, anak tidak lagi merasa di bawa tingkat orang-orang yang lebih tua, melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang- kurangnya dalam masalah hak. Melly mengatakan bahwa remaja adalah pemuda pemudi yang berada pada masa perkembangan yang disebut masa “adolensi” (masa remaja masa menuju kedewasaan).
(Rifa Hidayah, 2009: 43).
b. Ciri-ciri Remaja
Karakteristik umum masa remaja, tiap periode penting selama rentang kehidupan memiliki ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan periode sebelum dan sesudahnya. Ciri-ciri tersebut juga dimiliki oleh remaja, sebagaimana paparan berikut:
Pertama masa yang penting, baik akibat langsung maupun akibat jangka panjang sama pentingnya bagi remaja karena adanya akibat fisik dan akibat psikologis. Cepat dan pentingnya perkembangan fisik remaja diiringi oleh cepatnya perkembangan mental, khususnya pada awal masa remaja. Atas semua perkembangan itu diperlukan penyesuaian mental dan pembentukan sikap, serta nilai dan minat baru.
Kedua Masa transisi, masa transisi merupakan tahap peralihan dari satu tahap perkembangan ke tahap berikutnya. Maksudnya, apa yang telah terjadi sebelumnya akan membekas pada apa yang terjadi sekarang dan yang akan datang.
Ketiga masa perubahan, dari masa perubahan yang terjadi pada masa remaja memang beragam, tetapi ada lima perubahan yang terjadi pada masa remaja yaitu emosi yang tinggi, perubahan tubuh, perubahan nilai-nilai sebagai konsekuensi perubahan minat pola tingkah laku, remaja menghendaki serta menuntut kebebasan, tetapi sering takut bertanggung jawab akan resikonya dan meragukan kemampuannya untuk mengatasinya.
Keempat masa bermasalah, meskipun setiap periode memiliki masalah sendiri, masalah masa remaja termasuk masalah yang sulit diatasi, baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan.
Kelima masa pencarian identitas, penyesuaian diri dengan standar kelompok dianggap jauh lebih penting bagi remaja daripada individualitas. Banyak cara yang dilakukan remaja untuk menunjukan identitasnya, antara lain penggunaan simbol-simbol status dalam bentuk kendaraan, pakaian dan pemilikan barang- barang lain yang mudah dilihat.
Keenam Masa munculnya ketakutan, Majeres berpendapat,
“Banyak yang beranggapan bahwa popularitas mempunyai arti yang bernilai, dan sayangnya, banyak di antaranya yang bersifat negatif”.
Persepsi negatif terhadap remaja seperti tidak dapat dipercaya, cenderung merusak dan berperilaku merusak, mengidentifikasikan pentingnya bimbingan dan pengawasan orang dewasa. Demikian pula, terhadap kehidupan remaja muda yang cenderung tidak simpatik dan takut bertanggung jawab.
Ketujuh Masa yang tidak realistik, pandangan subjektif cenderung mewarnai remaja. Mereka memandang diri sendiri dan orang lain berdasarkan keinginannya, dan bukan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, apalagi dalam hal cita-cita.
Kedelapan masa menuju masa dewasa saat usia ini kematangan kian dekat, biasanya para remaja merasa gelisah.
Kegelisahan itu timbul akibat kebimbangan tentang bagaimana
meninggalkan masa remaja dan bagaimana pula memasuki masa dewasa. Mereka mencari-cari sikap yang dipandangnya pantas untuk itu. Bila kurang arahan atau bimbingan, tingkah laku mereka akan menjadi ganjil, seperti berpakaian dan bertingkah laku meniru-niru orang dewasa, merokok, minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan dan terlibat dalam perilaku seks. (Muhammad Al- Mighwar, 2011: 63-68).
c. Kecenderungan Remaja.
Secara Psikologis usia remaja merupakan umur yang dianggap
“gawat”, karena yang bersangkutan sedang mencari identitasnya.
Untuk itu, harus tersedia tokoh-tokoh ideal yang pola perilakunya terpuji. Pertama dia akan berpaling pada lingkungan yang terdekat dengannya, yakni orang tua, saudara-saudaranya dan mungkin juga kerabatnya. Apabila idealismenya tidak terpenuhi oleh lingkungan terdekatnya, dia akan berpaling ke lingkungan lain. oleh karena lingkungan terdekat senantiasa harus siap untuk membantu sang remaja. Remaja lebih banyak memerlukan pengertian daripada sekedar pengetahuan saja, dia harus mengerti mengapa manusia tidak boleh terlalu bebas dan juga tidak boleh terlalu terikat (disiplin). Memang orang tua terkadang lebih mementingkan disiplin dari pada kebebasan, sedangkan remaja lebih menyukai kebebasan daripada disiplin. Manusia memerlukan keduanya dalam keadaan yang serasi. Tumbuhnya motivasi dan keberhasilan studi justru ditunjang oleh keserasian-keserasian tersebut diatas. (Sorjono Soekanto, 2007: 387)
3. Kenakalan Remaja
a. Pengertian Kenakalan Remaja
Kenakalan Remaja adalah tingkah laku yang melampaui batas toleransi orang lain dan lingkungannya. Tindakan ini dapat merupakan perbuatan yang melanggar hak asasi manusia sampai melanggar hukum. (U. Saefullah, 2012: 364)
Kenakalan remaja atau delinkwensi anak-anak yang merupakan istilah lain dari juvenile deliquency, adalah salah satu problem lama yang senantiasa muncul di tengah-tengah masyarakat. Masalah tersebut hidup, berkembang dan membawa akibat tersendiri sepanjang masa, sesuai kelompok masyarakat manusia terbentuk.
Delinkwensi anak-anak sebagai salah satu problem sosial sangat mengganggu keharmonisan, juga keutuhan segala nilai dan kebutuhan dasar kehidupan sosial.
Dalam kenyataannya delinkwensi anak-anak atau kenakalan remaja merusak nilai-nilai moral, nilai-nilai susila, nilai-nilai luhur agama, dan beberapa aspek pokok yang terkandung di dalamnya, serta norma-norma hukum yang hidup dan bertumbuh di dalamnya baik hukum tertulis maupun hukum yang tidak tertulis. Di samping nilai-nilai dasar kehidupan sosial, juga kebutuhan dasar kehidupan sosial tidak luput dari gangguan delinkwensi anak-anak. Secara materiil, masyarakat maupun perseorangan kerap kali terpaksa harus menerima beban kerugian. Pada hakikatnya, delinkwensi anak-anak bukanlah suatu problem sosial yang hadir dengan sendirinya di tengah masyarakat, akan tetapi masalah tersebut muncul karena beberapa keadaan yang berkaitan, bahkan mendukung kenakalan itu.
Istilah kenakalan remaja merupakan penggunaan lain dari istilah kenakalan anak sebagai terjemahan dari “juvenile delinquency”.
Menurut Simanjutak Pengertian juvenile delinquency ialah suatu perbuatan itu disebut delinquent apabila perbuatan-perbuatan tersebut bertentangan dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat di mana ia hidup, suatu perbuatan yang anti sosial di mana di dalamnya terkandung unsur-unsur anti normatif. Bimo Walgito merumuskan arti selengkapnya dari “juvenile delinquency”
yakni tiap perbuatan yang bila dilakukan oleh orang dewasa, maka perbuatan itu merupakan kejahatan, jadi perbuatan yang melawan hukum yang dilakukan oleh anak, khususnya anak remaja.
Selanjutnya dalam delinkwen dapat dibedakan antara delinkwen sosiologis dan delinkwen individual. Dalam delinkwen sosiologis anak remaja memusuhi seluruh konteks sosial kecuali konteks sosialnya sendiri. Sedangkan dalam delinkwen individual, anak remaja memusuhi semua orang bahkan orang tuanya sendiri dan sanak saudaranya semakin memburuk karena anak tersebut bertambah umur.
Anak remaja juga melakukan beberapa kejahatan yang lain, seperti penipuan, penggelapan, gelandangan, pengrusakan dan pemerasan. Dewasa ini pengertian kenakalan remaja berkembang lebih luas lagi, yakni meliputi pengertian yuridis, sosiologis, moral, dan susila. Jadi berarti perbuatan-perbuatan tersebut menyalahi undang-undang yang berlaku sebagai hukum positif, melawan kehendak masyarakat, tidak mengindahkan nilai-nilai moral dan anti susila. Akibatnya perbuatan-perbuatan anak delinkwen tersebut sering menimbulkan kekerasan di dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. (Sudarsono, 1991: 5-7).
b. Faktor yang Mempengaruhi Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja akan muncul karena beberapa faktor antara lain:
1) Keadaan Keluarga
Sebagian besar anak dibesarkan oleh keluarga, di samping itu kenyataan menunjukan bahwa di dalam keluarga anak mendapatkan pendidikan dan pembinaan yang pertama kali. Pada dasarnya keluarga merupakan lingkungan kelompok sosial yang paling kecil, akan tetapi juga merupakan lingkungan paling dekat dan terkuat di dalam mendidik anak terutama bagi anak-anak yang belum memasuki bangku sekolah. Dengan demikian berarti seluk beluk kehidupan keluarga memiliki pengaruh yang paling mendasar dalam perkembangan anak. Drs. Agus Suyanto menjelaskan sejak kecil anak dibesarkan oleh keluarga dan untuk
seterusnya, sebagian besar waktunya adalah di dalam keluarga.
Maka sepantasnyalah kalau kemungkinan timbulnya delinquency itu sebagian besar juga dari keluarga.
Pada hakikatnya, kondisi keluarga yang menyebabkan timbulnya kenakalan remaja bersifat kompleks. Kondisi tersebut dapat terjadi karena kelahiran anak di luar perkawinan yang syah menurut hukum dan agama. Kenakalan remaja juga disebabkan keadaan keluarga yang tidak normal yang mencakup “broken home” dan quasi broken home atau broken home semu. Dalam broken home semu sebenarnya struktur anggota keluarga masih lengkap artinya kedua orang tuanya masih utuh, tetapi karena masing-masing anggota keluarga (ayah dan ibu) mempunyai kesibukan sehingga orang tua tidak sempat untuk memberikan perhatiaanya terhadap pendidikan anak-anaknya.
2) Keadaan Sekolah
Masa remaja merupakan masa pembinaan, penggemblengan dan pendidikan di sekolah terutama pada masa-masa permulaan.
Selama dalam proses pembinaan, penggemblengan dan pendidikan di sekolah biasanya terjadi interaksi antara sesama anak remaja dengan para pendidik. Proses interaksi tersebut dalam kenyataannya bukan hanya memiliki aspek sosiologis yang positif, akan tetapi juga membawa akibat lain yang memberi dorongan bagi anak remaja sekolah untuk menjadi nakal.
Biasanya anak-anak tersebut bersikap acuh terhadap tugas- tugas sekolah dan kehilangan rasa tanggung jawab di dalamnya, sikap tersebut biasanya mudah ditiru oleh anak-anak yang lain.
keadaan tersebut masih diperberat lagi dengan adanya ancaman yang tidak ada putus-putusnya disertai disiplin yang ketat dan kurang adanya interaksi yang akrab antara pendidik dan murid serta kurangnya kesibukan belajar di rumah. Kondisi negatif di
sekolah tersebut kerap kali memberi pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap anak, sehingga dapat menimbulkan kenakalan anak atau remaja.
3) Keadaan Masyarakat
Keadaan masyarakat dan kondisi lingkungan dalam berbagai corak dan bentuknya akan berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap anak-anak atau remaja di mana mereka hidup berkelompok. Perubahan-perubahan masyarakat yang berlangsung secara cepat dan ditandai dengan peristiwa- peristiwa yang menegangkan seperti: persaingan di bidang perekonomian, pengangguran, kemajuan teknologi yang semakin maju, media, fasilitas rekreasi yang bervariasi pada garis besarnya memiliki korelasi relevan dengan adanya kejahatan pada umumnya, termasuk kenakalan anak atau remaja.
(Sudarsono, 1991:17-27).
c. Faktor Penurunan Kenakalan Remaja
Menurut Rogers dalam buku Sarlito W. Sarwono ada lima ketentuan yang harus dipenuhi untuk membantu remaja :
1) Kepercayaan. remaja itu harus percaya kepada orang yang mau membantunya (orang tua, guru, psikolog, ulama dan sebagainya).
2) Kemurnian hati. Remaja harus merasa bahwa penolong itu sungguh-sungguh mau membantunya tanpa syarat.
3) Kemampuan mengerti dan menghayati (emphaty) perasaan remaja. Di sinilah diperlukan lagi tenaga profesional yang memang sudah terlatih untuk membangun empati terhadap klien-klien yang dihadapinya.
4) Kejujuran. Remaja mengharapkan penolongnya menyampaikan apa adanya saja, termasuk hal-hal yang kurang menyenangkan.
5) Mengutamakan persepsi remaja sendiri.
Dikarenakan lima ketentuan tersebut memerlukan keterampilan tertentu, maka pada remaja dengan perilaku menyimpang, khususnya yang sudah tidak bisa ditangani lagi oleh orang tua dan anggota keluarga sendiri, perlu kiranya dipikirkan permintaan bantuan seorang profesional, misalnya psikolog, guru BP, psikiater, konselor, pekerja sosial dan sebagainya. (Sarlito. W.
Sarwono, 2011: 284-288 )
Sementara menurut Zakiah Darajat untuk mengatasi remaja bermasalah sebagai berikut:
1) Perlu mengadakan saringan atau seleksi terhadap kebudayaan asing yang masuk, agar unsur-unsur yang negatif dapat dihindarkan.
2) Agar pendidikan agama, baik dalam keluarga, sekolah maupun masyarakat diintensifkan, supaya kehidupan beragama dapat terjamin dan selanjutnya nilai-nilai moral yang pasti, yang terdapat dalam ajaran agama itu akan membantu setiap pribadi untuk mendapat ketenangan jiwa, sehingga kegairahan untuk membangun itu ada.
3) Agar diadakan pendidikan khusus untuk orang dewasa dalam bidang kesehatan jiwa, supaya mereka dapat membantu dirinya sendiri dalam menghadapi kegoncangan jiwa serta terciptanya ketenangan dan kebahagiaan dalam hidupnya sehari-hari di rumah dan dalam masyarakat.
4) Perlu adanya biro-biro konsultasi, untuk membantu orang-orang yang memerlukannya, baik untuk anak dan remaja maupun untuk orang dewasa.
5) Dalam kegiatan pembinaan itu sebaiknya pemerintah dengan wewenang yang ada padanya mengambil tindakan dan langkah- langkah yang tegas dengan mengikut sertakan semua lembaga, para ulama dan pemimpin masyarakat.
Seandainya kita semua segera dapat menyadari bahaya yang terjadi itu dan dapat mengambil langkah-langkah positif ke arah pembinaan kehidupan moral dan agama secara sungguh-sungguh, mudah-mudahan dapat terselamatkan generasi muda dari kehancuran dan tujuan pembangunan dapat tercapai. (Zakiah Darajat, 2009: 155- 156).
d. Indikator Kenakalan Remaja
Adapun indikator kenakalan remaja yang dimaksud adalah perilaku yang menyimpang dari kebiasaan atau melanggar hukum.
Jansen dalam buku karangan Sarlito W. Sarwono membagi kenakalan remaja ini menjadi empat jenis yaitu:
1) Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain:
perkelahian, perkosaan, perampokan, pembunuhan, dan lain- lain.
2) Kenakalan yang menimbulkan korban materi: perusakan, pencurian, pencopetan, pemerasan, dan lain-lain.
3) Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak orang lain: pelacuran, penyalahgunaan obat. Termasuk juga hubungan seks sebelum menikah.
4) Kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari status sebagai pelajar dengan cara membolos, mengingkari status orang tua dengan cara minggat dari rumah atau membantah perintah mereka, dan sebagainya. Pada usia mereka, perilaku- perilaku mereka memang belum melanggar hukum dalam arti yang sesungguhnya karena yang dilanggar adalah status-status dalam lingkungan primer (keluarga) dan sekunder (sekolah) yang memang tidak diatur oleh hukum secara terperinci. Akan tetapi, kalau kelak remaja ini dewasa, pelanggaran status ini dapat dilakukannya terhadap atasanya di kantor atau petugas hukum di dalam masyarakat. Karena itulah pelanggaran status ini oleh Jansen digolongkan juga sebagai kenakalan dan bukan
sekedar perilaku menyimpang. (Sarlito W. Sarwono, 2011:
256-257).
C. Pentingnya Keteladanan Orang Tua dalam Penurunan Tingkat Kenakalan Remaja Usia 13 – 18 Tahun.
Keteladanan yang baik, salah satunya adalah dengan menanamkan nilai- nilai akhlakul karimah. Implementasi keteladanan nyata bagi anak dengan memberikan keteladanan di lingkungan keluarga, sosial masyarakat oleh orang tua, guru, pemuka agama serta pemimpin bangsa maupun media, sebab anak tidak butuh kata-kata akan tetapi juga bukti nyata yang dapat dicontoh langsung. (Rifa Hidayah, 2010: 260).
Pendidikan agama dalam rumah tangga itu memang penting maka pendidikan agama dalam rumah tangga tidak cukup hanya berupa pengajaran kepada anak tentang segi-segi ritual dan formal agama. Pengajaran ini, sebagaimana halnya yang ada di sekolah oleh guru agama, dalam rumah tangga diperankan oleh orang lain, yaitu oleh guru mengaji yang sekarang mulai populer dalam masyarakat. Meskipun ada guru mengaji yang sekaligus juga dapat bertindak sebagai pendidik agama, namun peran mereka tidak akan dapat menggantikan peran orang tua secara sepenuhnya. Maka jika yang dimaksud ialah pendidikan agama dalam rumah tangga jelas melibatkan peran orang tua serta keseluruhan anggota rumah tangga dalam usaha menciptakan suasana keagamaan yang baik dan benar dalam keluarga. Peran orang tua adalah tidak perlu berupa peran pengajaran (yang nota bene dapat diwakilkan kepada orang lain tadi). Peran orang tua adalah peran tingkah laku, tulada atau teladan dan pola-pola hubungannya dengan anak yang dijiwai dan disemangati oleh nilai-nilai keagamaan. Ada pepatah mengatakan “bahasa perbuatan adalah lebih fasih daripada bahasa ucapan”. Jadi jelas bahwa pendidikan agama menuntut tindakan percontohan lebih banyak daripada pengajaran verbal. Oleh karena itu yang penting adalah penghayatan kehidupan keagamaan dalam suasana rumah tangga. mode mendirikan mushola yang sekarang ini cukup banyak dipraktekan orang dalam lingkungan rumah tangga adalah permulaan, bahkan modal yang cukup baik.
Kehadiran mushola secara fisik dalam lingkungan keluarga akan menegaskan kehadiran rasa keagamaan dalam keluarga itu. Secara “sibernetik”
menyediakan prasarana pendukung bagi tumbuhnya kehidupan keagamaan yang bakal membentuk milieu (lingkungan) pendidikan keagamaan rumah tangga. Tetapi sebagaimana setiap sarana prasarana fisik tidak dengan sendirinya menghasilkan apa yang dituju, maka demikian pula mushola keluarga harus ditunjang dengan kegiatan keagamaan yang nyata. Sholat berjamaah mempunyai dampak yang sangat positif bagi seluruh anggota keluarga. Ada ungkapan Inggris yang mengatakan A family who prays together will never fall apart (sebuah keluarga yang selalu berdoa atau sholat berjamaah tidak akan berantakan). (Nurcholis Madjid, 2001:45-47).
Oleh karena itu sebelum merubah akhlak buruk menjadi baik terlebih dahulu kita (orang tua) persiapkan diri untuk menjadi teladan bagi mereka (remaja), sehingga segala perkataan, perbuatan dapat diterima oleh mereka dengan ikhlas. Sebagaimana buruk dan rusaknya perbuatan bangsa Arab sebelum datangnya Islam, hanya dengan hadirnya seorang suri tauladan yang kamil, tutur katanya lembut tidak didasari dengan hawa nafsu, maka bangsa Arab itu dapat berubah menjadi berakhlak mulia. ( Syafari Soma, Hajaruddin, 2000: 116).
Membiasakan sholat berjamaah, membangunkan dengan kasih sayang, rasa aman, makan secara Islami, berdiskusi tentang hal-hal yang terjadi di rumah tangga, adalah sebagian dari cara menanamkan iman di rumah tangga.
Berdoa setelah sholat, zikir bersama, tentu saja cara amat baik dilakukan.
Mendoakan anak secara terus menerus adalah cara mendidik yang amat baik juga. Lebih baik doanya bisa didengar oleh anak-anaknya dan lebih baik lagi jika mereka turut mengamininya. (Ahmad Tafsir, 2013: 131).
Dengan demikian, perlu diketahui oleh para ayah dan ibu bahwa pendidikan dengan memberikan keteladanan yang baik adalah penopang dalam upaya meluruskan kenakalan anak dan remaja. Bahkan merupakan dasar dalam meningkatkan keutamaan, kemuliaan dan etika sosial yang terpuji. Tanpa memberikan teladan yang baik, pendidikan anak-anak tidak
akan berhasil dan nasihat tidak akan berpengaruh. Oleh karena itu bertakwalah kepada Allah, wahai para pendidik dalam mendidik anaknya.
Mendidik mereka adalah tanggung jawab yang dibebankan atas pundak kita.
Sehingga orang tua dapat menyaksikan buah hatinya sebagai matahari perbaikan, purnama petunjuk, yang anggota masyarakat dapat menikmati sinarnya dan bercermin kepada akhlak mereka yang mulia. (Abdullah Nashih Ulwan, 2007: 148)
Penulis dapat menyimpulkan dari uraian di atas menunjukan bahwa keteladanan orang tua berperan penting terhadap penurunan tingkat kenakalan remaja, disebabkan segala tindak perilaku, ucapan, perbuatan orang tua itu pasti akan ditiru dan dicontoh oleh anaknya jika orang tuanya melakukan perbuatan serta perilaku kebenaran sesuai dengan tuntunan ajaran Islam maka anaknya akan mengikuti orang tuanya. Namun apabila orang tuanya tidak melakukan ajaran Islam dengan benar mungkin anak tersebut akan mengikuti pula yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.