• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II SYAFA AT DALAM ISLAM SERTA DALIL-DALIL MENGENAI SYAFA AT DAN PENDAPAT PARA ULAMA TENTANG SYAFA AT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II SYAFA AT DALAM ISLAM SERTA DALIL-DALIL MENGENAI SYAFA AT DAN PENDAPAT PARA ULAMA TENTANG SYAFA AT"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

SYAFA’AT DALAM ISLAM SERTA DALIL-DALIL MENGENAI SYAFA’AT DAN PENDAPAT PARA ULAMA TENTANG SYAFA’AT

A. Kelompok Yang Mendukung Adanya Syafa’at.

Syafaat dalam Islam merupakan nikmat besar yang dianugerahkan Allah kepada umat manusia. Bagi mereka yang tidak merusak penghambaannya dengan syirik dan kekafiran, syafaat dari orang-orang shaleh akan bermanfaat bagi mereka, mengubah keputusasaan menjadi harapan dan menumbuhkan kerinduan kepada rahmat Allah Swt di hati kita. Menurut bahasa syafa‟at artinya perantara, permohonan, atau pertolongan. Menurut istilah syafa‟at adalah usaha perantaraan untuk memberikan sesuatu manfaat atau pertolongan bagi orang lain atau menghilangkan sesuatu yang mudharat bagi orang lain. Yaitu pertolongan Allah kepada umat Islam di hari kiamat setelah adanya permohonan bantuan oleh Nabi Muhammad Saw, Nabi Muhammad adalah pemegang syafa‟at al-„uzma (syafa‟at yang agung).1 Berasal dari akar kata Syaf‟un yang artinya membuat sesuatu menjadi berpasangan, atau menyatukan sesuatu dengan jenisnya. Dalam ilmu Tauhid syafa‟at berarti pertolongan yang diberikan oleh orang yang mempunyai kedudukan tinggi kepada orang yang mempunyai kedudukan lebih rendah yang sangat membutuhkan pertolongan itu.

Al-Quran dan hadis sebagai sumber rujukan umat Islam senantiasa akan menjadi pedoman bagi umat dalam setiap langkah kehidupan umat manusia. Kehadiran teks al-Quran ditengah umat Islam telah melahirkan pusat pusaran wacana keIslaman yang tak pernah berhenti dan pusat inspirasi bagi manusia untuk melakukan penafsiran dan pengembangan makna atas ayat-ayatnya. Termasuk di dalamnya juga mengenai keberagamaan umat, kehidupan sosial, dan lain sebagainya. Dimana dalam setiap sisi al-Qur‟an merupakan landasan dalam beragama maupun prinsip ajaran agama itu sendiri dan hadis sebagai penunjang, salah satunya yaitu mengenai syafa‟at.

1) Syaikh Al-Mufid dan Imamiah sepakat bahwa Rasulullah Saw akan memberikan syafa‟atnya pada hari kiamat kepada sekelompok pelaku dosa besar diantara umatnya, Amirul

1Ahsin W. Al-Hafidz, Kamus Ilmu Al-qur‟an., (Jakarta: AMZAH, 2008), hlm. 272.

(2)

mukminin Ali bin Abi Thalib juga akan memberikan syafa‟atnya kepada pelaku dosa besar di kalangan Syi‟ah, demikian pula halnya dengan para imam dari keluarga Nabi Muhammad Saw, melalui syafa‟at mereka ini Allah Swt akan menyelamatkan banyak orang yang berdosa kelak.

Kaum Murji‟ah, kecuali Ibnu Syubaib dan sekelompok Ulama Ahlu al-Hadis sependapat dengan itu.

.

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ziyad telah menceritakan kepada kami Dukhain Al Hajri dari Uqbah bin Amir Al Juhani ia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallAllahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika Allah telah mengumpulkan orang-orang terdahulu dan terakhir lalu melakukan hisab di antara mereka. Selesai dari hisab tersebut orang-orang mukmin berkata; Rabb kami telah melakukan hisab di antara kami, lalu siapakah yang akan memberikan syafa‟at untuk kami di sisi Rabb kami? Maka sebagian mereka berkata; Pergilah kepada Adam karena Allah menciptakannya dengan tanganNya dan Dia telah berbicara kepadanya, lalu mereka pun mendatanginya dan mengatakan;

Berdirilah, berilah syafa‟at kepada kami di sisi Rabb kami. Adam menjawab; Kalian harus mendatangi Nuh, lalu mereka pun mendatangi Nuh namun ia menunjukkan mereka kepada Ibrahim. Mereka pun mendatangi Ibrahim namun ia menunjukkan mereka

(3)

kepada Musa. Lalu mereka pun mendatangi Musa namun ia menunjukkan mereka kepada Isa. Maka mereka mendatangi Isa namun ia berkata; Aku akan menunjukkan kalian kepada seorang Nabi yang tidak dapat membaca dan menulis." Beliau melanjutkan:

"Lalu mereka mendatangiku dan Allah 'azza wajalla pun memberi izin kepadaku untuk memberikan syafa‟at. Tempat dudukku pun menghembuskan bau harum yang hanya tercium oleh satu orang hingga aku mendatangi Rabbku, lalu Dia pun mengizinkanku untuk memberi syafa‟at dan menjadikan untukku cahaya dari rambut kepalaku sampai kuku kakiku. Ketika itulah orang-orang kafir berkata kepada Iblis; Orang-orang mukmin telah menemukan orang yang dapat memberikan syafa‟at kepada mereka, maka berdirilah engkau dan berilah syafa‟at kepada kami di sisi Tuhanmu karena engkau telah menyesatkan kami." Beliau melanjutkan: "Lalu ia berdiri dan tempat duduknya menghembuskan bau yang sangat busuk, yang hanya dapat tercium oleh satu orang. Dia memimpin mereka menuju neraka jahannam." Maka ketika itu ia berkata seperti difirmankanNya: (Dan berkatalah setan tatkala perkara hisab telah diselesaikan;

Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya) hingga akhir ayat."2

2) Sementara itu dalil-dalil Ahlus-Sunnah yang menetapkan adanya syafa‟at kepada orang-orang mukmin pelaku maksiat dan yang meolak syafa‟at, jumlahnya tidak bisa dihitung.

“Telah terbukti bahwa syafa‟at berada pada Nabi Muhammad Saw, para Nabi lainya, para malaikat, para wali, dan anak-anak sejalan dengan riwayat yang kami terima.















































Artinya: Barangsiapa yang memberikan syafa'at yang baik niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. dan Barangsiapa memberi syafa'at yang buruk niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

(Q.S. an-Nisa‟: 85).3















Artinya: Siapa yang dapat member syafa‟at di sisi Allah tanpa izin-Nya? (Q.S. al- Baqarah: 255).

Melalaui ayat ini sebagai bantahan terhadap ayat sebelumnya yang mereka tafsiri sebagai menafikan adanya syafa‟at, setelah adanya penjelasan ini kita masih bisa meyakini adanya syafa‟at lalu keyakinan tersebut kita nisbatkan kepada al-Qur‟an. Selanjutnya dalil yang amat jelas yang terdapat dalam ayat tersebut menunjukkan adanya penafsiran sebagai dari syafa‟at,

2Kitab Hadis Ad Darimi No 2684, (Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist)

3Ibid, hlm. 91.

(4)

bukan seluruhnya. Firman Allah yang berbunyi, “... dan tidak pula ada persahabatan yang akrab,” secara jelas mengatakan tentang terputusya ikatan persahabatan yang akrab di hari kiamat, tanpa ada perbedaan antara orang mukmin dan kafir. Padahal al-Qur‟an menjelaskan, bahwa yang terputus adalah persahabatan di kalangan orang-orang kafir, saat Allah Swt berfirman : “sahabat-sahabat karib, pada Hari itu, sebagian menjadi musuh bagi sebagian lainnya, kecuali orang-orang yang bertakwa” (Q.S. az-Zukhruf: 67).

3) Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri mazhab Wahabi mengatakan. Namun kita harus meminta kepada Dzat yang Maha Memilikinya dan memberikan izin untuk itu, dengan memohon, „Ya Allah, perkenankan syafa‟at Nabi Muhammad kepada kami di hari kiamat,‟ atau

“Allahumma”, ya Allah, berikan syafa‟at kepada kami melalui hamba-hamba-Mu yang shaleh, atau malaikat-malaikat-Mu. Do‟a yang seperti itu yang kita mohonkan kepada Allah bukan kepada mereka.” Selanjutnya dia juga mengatakan, sesungguhnya syafa‟at itu merupakan sesuatu yang hak pada hari akhirat, dan setiap muslim harus beriman pada adanya syafa‟at yang diberikan Rasulullah Saw, bahkan pemberi syafa‟at selain beliau. Hanya saja harapan atas syafa‟at harus ditujukan kepada Allah Swt.4 dalam al-Qur‟an Allah Swt berfirman:







































































































Artinya: Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur.

Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar. (Q.S. al-Baqarah:

255).5

4Muhammad Bin Abdul Wahhab, Tsalatsatul Ushul, (Makkah : Ash-Shaff Media, 2009), hlm. 74.

5Kementerian Agama RI, Mushaf Sahmalnour, (Jakarta: Pustaka Mubiin, 2013), hlm. 42.

(5)

4) Rais Am Jam'iyyah Ahlit Thariqah al-Mu'tabaroh an-Nahdliyyah (JATMAN) Habib Luthfi Bin Ali Bin Yahya berpendapat seburuk apapun diri kita, sebusuk apapun pribadi kita, asalkan kita mau mendekat dan mencintai Rasulullah Saw, kita harus berharap mendapat syafa‟at Rasulullah Saw6. Syafa‟at Rasulullah bisa kita dapatkan asalkan kita mau membuktikan cinta kita tersebut. Dan orang yang mencintai akan manut pada yang dicintainya. Cenderung meniru dan ingin seperti sosok yang digandrunginya. Juga rela mengorbankan apa saja demi orang yang dicintainya. Karena itulah dengan cinta pada Nabi Muhammad, orang lantas meneladani perilaku dan akhlaq Rasulullah. Jika umat Muhammad meniru Rasulnya, sudah barang tentu akan mendapat syafa‟atnya di hari kiamat nanti. Syaikh Muhammad Abduh mengatakan, “Ayat-ayat yang berkaitan dengan syafa‟at termasuk kategori ayat-ayat mutasyabihat. Mazhab salaf menentukan sikap untuk menerima dan membenarkan adanya syafa‟at, dan itu merupakan suatu keistimewaan yang secara khusus diberikan Allah kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya di hari kiamat (yang diungkapkan Allah Swt dengan sebutan “syafa‟at”), dan kami tidak membatasi hakikatnya lantaran kemahasucian Allah Swt jualah yang mengetahui makna yang sebenarnya.





































































































































Artinya: dan adalah Kami mendustakan hari pembalasan,hingga datang kepada Kami kematian". Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)?, seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari daripada singa. bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka. sekali-kali tidak. sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat. sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya Al Quran itu adalah peringatan. Maka Barangsiapa menghendaki, niscaya Dia mengambil pelajaran daripadanya (Al Quran). dan mereka tidak akan mengambil pelajaran daripadanya

6Habib Luthfi Bin Ali Bin Yahya, pengajian umum Maulid Nabi Muhammad SA, (Kota Semarang: Jum'at malam pada tanggal 15 November 2013).

(6)

kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Tuhan yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan berhak memberi ampun. (Q.S. al-Muddatstsir: 49-59)

5) Ibnu Mas‟ud berkata : “Ketika mereka (ashabul a‟raf) berada di atas Sirath, mereka boleh mengetahui keadaan penduduk surga dan penduduk neraka. Maka apabila mereka melihat keadaan penduduk surga mereka berkata: “Keselamatan bagi kalian”, dan ketika mereka mengalihkan pandangan mereka ke sebelah kiri mereka bisa melihat penduduk neraka, mereka berkata : “Ya Allah jangan jadikan kami bersama orang-orang dzalim”. Mereka berlindung kepada Allah dari neraka yang mereka lihat itu. Adapun orang yang banyak berbuat kebaikan, maka mereka diberi cahaya, yang mana cahaya itu berada di depan mereka dan samping kanan mereka dan mereka berjalan dengannya. Pada hari itu setiap hamba dan umat diberi cahaya.

Maka ketika mereka semua sampai di atas Sirath, Allah mencabut cahaya orang-orang munafik, ketika ahli surga melihat apa yang terjadi pada orang munafik maka mereka berkata : “Ya Tuhan kami sempurnakanlah cahaya kami”. Adapun ashabul a‟raf cahaya mereka hanya ada di arah depan saja. Itulah yang difirmankan oleh Allah : “Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).7 Dalam kitab hadis Muslim dijelaskan.

7Imam Muhammad Abdul Jakfar at-Thabari, Tafsir Ath- Thabari Jilid IX, (Jakarta Selatan: Pustaka Azzam, 2012), hlm. 192.

(7)
(8)

{

(9)

.

Artinya: Dan telah menceritakan kepadaku Suwaid bin Sa'id dia berkata, telah menceritakan kepadaku Hafsh bin maisarah dari Zaid bin Aslam dari 'Atha' bin Yasar dari Abu Sa'id Al Khudri bahwa sekelompok manusia pada zaman Rasulullah shallAllahu 'alaihi wasallam bertanya, 'Wahai Rasulullah! Apakah kami melihat Rabb kami pada Hari Kiamat?" Beliau menjawab, "Apakah kalian berdesak-desakan dalam melihat matahari di siang hari yang terang tanpa awan?" Mereka menjawab, "Tidak wahai Rasulullah." Beliau pun berkata, "Apakah kalian berdesak-desakan dalam melihat bulan di malam purnama yang tidak ada awannya?" Mereka menjawab, "Tidak." Lalu beliau bersabda: "Tidaklah kalian berdesak-desakan dalam melihat Rabb kalian, melainkan sebagaimana kalian (tidak) berdesak-desakan dalam melihat salah satu dari keduanya. Pada hari kiamat, seorang penyeru akan menyerukan 'Hendaklah setiap umat mengikuti sesuatu yang dahulu mereka sembah', hingga tidaklah ada seorang pun yang menyembah selain Allah berupa berhala, dan patung melainkan mereka akan terjerumus ke dalam neraka, hingga tidak ada yang tersisa seorang pun kecuali orang yang menyembah Allah; baik itu orang yang baik dan buruk, dan sisa Ahli Kitab, lalu orang Yahudi dipanggil dan ditanyakan kepada mereka, 'Apa yang dahulu kalian sembah? ' Mereka menjawab, 'Kami dahulu menyembah Uzair, putera Allah.' Maka dikatakan, 'Kalian telah berdusta, Allah tidak menjadikan isteri dan anak. Lalu apa yang kalian inginkan? ' Mereka menjawab, 'Kami haus wahai Rabb kami, maka berilah kami minum.' Lalu mereka diberi isyarat pada sesuatu yang membuat mereka hilang dahaganya, mereka kemudian digiring hingga ke neraka, seakan-akan fatamorgana, sebagian memukul sebagian yang lain, lalu mereka terjerumus ke dalam neraka.' Kemudian kaum Nashrani dipanggil, lalu mereka ditanya, 'Apa yang dahulu kalian sembah? ' mereka menjawab, 'Kami dahulu menyembah al-Masih, putera Allah.' Lalu dikatakan kepada mereka, 'Kalian telah berbohong. Allah tidak mengambil istri dan anak.' Maka dikatakan kepada mereka, 'Apa yang kalian inginkan? ' Mereka menjawab, 'Kami haus wahai Rabb

(10)

kami, berilah kami minum.' Beliau bersabda: "Lalu diisyaratkan kepada mereka.

'Tidakkah kalian minum.' dan mereka dikumpulkan di neraka Jahannam, seakan-akan neraka tersebut fatamorgana yang mana sebagian mereka memukul sebagian yang lain, lalu jatuh ke dalam neraka, hingga tidak tersisa melainkan orang yang menyembah Allah dari kalangan orang baik dan orang fajir. Allah lalu mendatangi mereka dalam bentuk yang paling ringan yang dapat mereka lihat. Allah berfirman; “apa yang kalian tunggu, padahal setiap umat mengikuti apa yang mereka sembah?.” Mereka berkata; “wahai Rabb kami, kami memisahkan diri dari manusia di dunia ketika kami membutuhkan apa yang kami butuhkan kepada mereka, akan tetapi kami tidak berteman dengan mereka.”

Maka Allah berfirman; “aku adalah rabb kalian.” Maka mereka berkata; “aku berlindung kepada Allah dari-Mu, kami tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatupun.” Mereka ucapakan dua kalia atau tiga kali, sehingga sebagian mereka hampir-hampir berbalik, maka Allah bertanya; “apakah diantara kalian dan Dia mempunyai tanda-tanda, yang dapat kalian kenal dengan tanda-tanda itu?” mereka menjawab; “ya” maka di singkaplah betis-Nya, sehingga tidak tersisa orang yang sebelumnya bersujud kepada Allah dari dalam dirinya (ikhlas) kecuali Allah izinkan baginya untuk bersujud. Dan tidak tersisa orang yang sebelumnya bersujud karena ego dan riya` kecuali Allah jadikan punggungnya menjadi satu lipatan, setiap kali hendak bersujud maka dia tersungkur di atas tengkuknya. Kemudian mereka mengangkat kepala mereka dan Allah telah berubah ke bentuk yang dapat mereka lihat pertama kalinya, Allah berfirman:v “aku adalah Rabb kalian.” Maka mereka berkata; “Engkau Rabb kami.” Kemudian di bentangkan jembatan di atas Jahannam, dan berlakulah syafa'at pada saat itu, mereka berguman; “ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah.” Ada yang bertanya; 'wahai Rasulullah, apakah jembatan itu?” beliau menjawab; “tempat yang licin yang dapat menggelincirkan, disana terdapat besi-besi pencakar, besi-besi pengait dan duri besi yang terbuat dari pohon-pohon berduri. Maka orang-orang mu'min akan melewatinya seperti kedipan mata, seperti kilat, seperti angin, seperti burung, seperti kuda-kuda yang berlari kencang, dan hewan tunggangan. Maka orang muslim akan ada yang selamat, ada yang tercabik-cabik tertunda dan ada yang terlempar kedalam neraka jahannam. Sehingga ketika orang-orang mu'min terbebas dari neraka, maka demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, tidaklah salah seorang dari kalian yang begitu gigih memohon kepada Allah didalam menuntut al haq pada hari kiamat untuk saudara- saudaranya yang berada di dalam neraka, mereka berseru; wahai rabb kami, mereka selalu berpuasa bersama kami, salat bersama kami, dan berhaji bersama kami.” Maka dikatakan kepada mereka; “keluarkanlah orang-orang yang kalian ketahui.” Maka bentuk-bentuk mereka hitam kelam karena terpanggang api neraka, kemudian mereka mengeluarkan begitu banyak orang yang telah di makan neraka sampai pada pertengahan betisnya dan sampai kedua lututnya. Kemudian mereka berkata; “ wahai rabb kami tidak tersisa lagi seseorang pun yang telah engkau perintahkan kepada kami.”

Kemudian Allah berfirman; “kembalilah kalian, maka barangsiapa yang kalian temukan didalam hatinya kebaikan seberat dinar, maka keluarkanlah dia.” Mereka pun mengeluarkan jumlah yang begitu banyak, kemudian mereka berkata; “wahai rabb kami, kami tidak meninggalkan di dalamnya seorangpun yang telah Engkau perintahkan kepada kami.” Kemudian Allah berfirman; “kembalilah kalian, maka barangsiapa yang kalian temukan didalam hatinya kebaikan seberat setengah dinar, maka keluarkanlah dia.” Maka mereka pun mengeluarkan jumlah yang banyak. Kemudian mereka berkata

(11)

lagi; “wahai Rabb kami, kami tidak menyisakan di dalamnya seorang pun yang telah Engkau perintahkan kepada kami.” Kemudian Allah berfirman; “kembalilah kalian, maka siapa saja yang kalian temukan didalam hatinya kebaikan seberat biji jagung, keluarkanlah.” Maka merekapun kembali mengeluarkan jumlah yang begitu banyak.

Kemudian mereka berkata; “wahai Rabb kami, kami tidak menyisakan di dalamnya kebaikan sama sekali.” Abu Sa'id al Khudri berkata, "Jika kalian tidak mempercayai hadis ini silahkan kalian baca ayat: (Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.) (Qs. An Nisa:

40). Allah lantas berfirman: "Para Malaikat, Nabi dan orang-orang yang beriman telah memberi syafa‟at, sekarang yang belum memberikan syafa‟at adalah Dzat Yang Maha Pengasih." Kemudian Allah menggenggam satu genggaman dari dalam neraka, dari dalam tersebut Allah mengeluarkan suatu kaum yang sama sekali tidak melakukan kebaikan, dan mereka pun sudah berbentuk seperti arang hitam. Allah kemudian melemparkan mereka ke dalam sungai di depan surga yang disebut dengan sungai kehidupan. Mereka kemudian keluar dari dalam sungai layaknya biji yang tumbuh di aliran sungai, tidakkah kalian lihat ia tumbuh (merambat) di bebatuan atau pepohonan mengejar (sinar) matahari. Kemudian mereka (yang tumbuh layaknya biji) ada yang berwarna kekuningan dan kehijauan, sementara yang berada di bawah bayangan akan berwarna putih." Para sahabat kemudian bertanya, "Seakan-akan baginda sedang menggembala di daerah orang-orang badui?' Beliau melanjutkan: "Mereka kemudian keluar seperti mutiara, sementara di lutut-lutut mereka terdapat cincin yang bisa diketahui oleh penduduk surga. Dan mereka adalah orang-orang yang Allah merdekakan dan Allah masukkan ke dalam surga tanpa dengan amalan dan kebaikan sama sekali.

Allah kemudian berkata: "Masuklah kalian ke dalam surga. Apa yang kalian lihat maka itu akan kalian miliki." Mereka pun menjawab, "Wahai Rabb kami, sungguh Engkau telah memberikan kepada kami sesuatu yang belum pernah Engkau berikan kepada seorang pun dari penduduk bumi." Allah kemudian berkata: "(Bahkan) apa yang telah Kami siapkan untuk kalian lebih baik dari ini semua." Mereka kembali berkata, "Wahai Rabb, apa yang lebih baik dari ini semua!" Allah menjawab: "Ridla-Ku, selamanya Aku tidak akan pernah murka kepada kalian." Muslim berkata, "Aku membacakan hadis ini di hadapan Isa bin Hammad Zughbah al Mishri berkenaan dengan syafa‟at. Aku katakan kepadanya, "Aku sampaikan hadis ini darimu, bahwa engkau pernah mendengar dari Laits bin Sa'd dari Khalid bin Yazid dari Sa'id bin Abu Hilal dari Zaid bin Aslam dari Atha bin Yasar dari Abu Sa'id Al Khudri bahwasanya ia berkata, "Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami?" Rasulullah ShallAllahu 'alaihi wa Sallam balik bertanya: "Apakah kalian mendapatkan bahaya dalam melihat matahari di hari yang cerah?" kami menjawab; 'Tidak." Kemudian aku melanjutkan hadis tersebut hingga selesai. Dan hadis tersebut semisal hadis Hafsh bin Maisarah." Dan ia menambahkan setelah perkataannya, "tanpa dengan amalan dan kebaikan sama sekali." Kemudian dikatakan kepada mereka, "Bagi kalian apa yang kalian lihat dan seperti itu bersamanya." Abu Sa'id berkata, "telah sampai kepadaku bahwa jembatan lebih kecil dari rambut dan lebih tajam dari pedang." Dan dalam hadis Laits tidak ada redaksi:

"Mereka berkata, 'Wahai rabb kami, engkau telah memberikan kepada kami sesuatu yang tidak diberikan kepada seorang pun di atas alam." Dan kalimat setelahnya Dan Isa bin Hammad menyepakatinya."Telah menceritakannya kepada kami Abu bakar bin Abu

(12)

Syaibah telah menceritakan kepada kami Ja'far bin Aun telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Sa'd telah menceritakan kepada kami Zaid bin Aslam sama dengan isnad keduanya seperti hadis Hafsh bin Maisarah, sampai kepada kalimat yang terakhir, dan di sana terdapat penambahan dan pengurangan."8

6) Ulama Ahlussunnah seperti Imam Bukhari dan Tirmidzi dalam kitab hadis mereka tidak pernah menyamakan syafaat dengan perbuatan syirik. Dalam Sunan Tirmidzi yang termasuk salah satu dari enam kitab sahih disebutkan satu riwayat dari Anas bin Malik yang mengatakan, "Aku meminta Nabi untuk memberiku syafaat di hari kiamat. Beliau menerima dan bersabda, „Aku akan melakukannya.' Aku kemudian bertanya lagi, „Di manakah aku menemuimu ya Rasulullah?' Beliau menjawab, „Di jembatan sirath."9 Yang dimaksudkan dalam ini adalah penjelasan akan kedudukan beliau yang tinggi. Artinya, orang-orang itu hendaknya mendatangi seseorang yang memiliki kedudukan tinggi risalah kenabian. Beliaulah yang mengetahui hakikat ghaib yang diwahyukan kepadanya, dan beliaulah duta Allah di antara hamba-hambaNya. Sebab, dengan kedudukan yang tinggi ini, syafaat beliau tidak mungkin tertolak.

































Artinya: mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain nya jika (Allah) yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafa‟at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? (Q.S. Yasin: 23).10

7)

Syeikh Muhammad bin al-Hasan al-Thunisi, yang wafat tahun 460 H, dalam kitabnya yang berjudul Tafsir al-Tibyan mengatakan, “Hakikat syafa‟at menurut kami adalah menghindarkan bahaya bukan mendatangkan keuntungan. Di hari kiamat nanti kaum mukminin akan mendapatkan syafa‟at dari Rasulullah Saw karena mereka bersaksi tiada tuhan selain Allah dan dengan tulus menyembah, beribadah kepada-Nya. dengan diterima syafa‟at tersebut oleh

8Al-Imam Abil Husein Muslim bin Hijaj Al-Qusyairi An-Nasaburi, Kitab Hadis Muslim Jilid 1, (Libanon:

Beirut, 2011), (Lidwa Pusaka i-Software – Hadis No 269), hlm. 384.

9 Abu Isa Muhammad, Sunan Tirmidzi ju 4, No 2433 (Libanon: Beirut, 1430), hlm. 621.

10Ibid, hlm. 441.

(13)

Allah, banyak sekali orang yang semestinya masuk ke naraka akan selamat dari siksa.11 seperti yang telah disabdakan Nabi Muhammad Saw. „Aku menyimpan syafa‟atku untuk nanti kuberikan kepada umatku yang berdosa.‟ Kami meyakini bahwa syafa‟at adalah hak yang dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw, beliau besabda:

.

Artinya: Telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallAllahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap Nabi itu punya sebuah do‟a yang telah dia panjatkan. Aku hendak menahan do‟aku agar menjadi syafa'at bagi umatku di akhirat."12

8) Ibnu Qudamah Al-Maqdisi mengatakan: “Nabi kita Muhammad akan memberikan syafaat kepada para pelaku dosa besar yang telah masuk neraka agar mereka bisa keluar setelah mereka terbakar dan menjadi arang, kemudian masuk ke dalam surga. Dan para nabi, orang- orang yang beriman serta malaikat akan memberikan syafaat (dengan seizin Allah). Allah berfirman: Dan mereka tidak akan sanggup memberikan syafaat melainkan untuk orang yang Allah ridhai; dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada Allah.” (Al-Anbiya`: 28).

11Romadhon Emka, Rindu kami Pada Syafa‟atmu Ya Rasul, (Yogyakarta:Lafal Indonesia, 2014), hlm. 26- 27.

12Abu Abdullah Malik Bin Anas Bin Malik Bin Abu Amir Al-Ashbahi, Al-Muwatho Lil Imam malik, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2001), (Lidwa Pusaka i-Software – Hadis No 2324), hlm. 427.

(14)

.

Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Suwaid dia berkata; telah memberitakan kepada kami 'Abdullah dari Haiwah bin Syuraih bahwasanya Ka'b bin 'Alqamah mendengar 'Abdurrahman bin Jubair -bekas budak Nafi' bin 'Amr Al-Qurasyi- menceritakan bahwasanya dia mendengar 'Abdullah bin 'Amr berkata; "Aku mendengar Rasulullah ShallAllahu'alaihi wasallam bersabda: "Jika kalian mendengar suara muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh dia, lalu bacalah shalawat atasku. Barangsiapa bershalawat atasku sekali saja, maka Allah akan bershalawat (mendo‟akan kesejahteraan) kepadanya sepuluh kali. Kemudian mintalah wasilah kepada Allah untukku, karena wasilah adalah suatu kedudukan di surga yang tidak patut (mendapatnya) kecuali seorang hamba dari hamba-hamba Allah. Aku sangat berharap menjadi orang yang patut tersebut, dan barangsiapa memintakan wasilah untukku maka dia berhak mendapat syafa‟at!."13

B. Kelompok Yang Menafikan Adanya Syafa’at.

Pada hakikatnya para ulama sepakat bahwa akan adanya syafa‟at di akhirat nanati untuk orang-orang yang menjadi pengikut Nabi Muhammad Saw. Akan tetapi akar permasalahanya adalah untuk siapa dan bagaimana syafa‟at itu diberikan kelak, Imamiah dan Asy‟ariah berpendapat bahwa pada hari kiamat nanti Rasulullah Saw akan memberikan syafa‟at kepada sekelompok umatnya yang melakukan dosa. Sementara Mu‟tazilah mengatakan bahwa syafa‟at Rasulullah Saw tersebut diberikan kepada orang-orang yang ta‟at, bukan kepada pelaku maksiat atau yang berbuat dosa dan bahwasanya beliau tidak akan memberikan syafa‟atnya kepada orang-orang yang memang berhak disiksa diantara seluruh makhluk.14 Al-Baidhawi dalam tafsirnya mengatakan, dengan berpegang pada ayat ini, Mu‟tazilah menafikan adanya syafa‟at bagi para pelaku dosa besar (dikalangan kaum mukminin), dan mereka (Ahlus-Sunnah) menjawab bahwa ayat ini khusus berkaitan dengan orang-orang kafir, karena terdapat banyak ayat dan hadis yang menyebutkan tentang adanya syafa‟at. Pendapat ini didukungnya dengan pernyataan bahwa ayat di atas berkaitan dengan orang-orang kafir, dan ia diturunkan sebagai

13Jalalluddin As-shuyuthi,, Kitab Hadis Nasa‟i, (Libanon: Beirut, 1995), (Lidwa Pusaka i-Software – Hadis No 2537), hlm. 634.

14Al-Baidhawi, Anwar Al-Tanzil wa Asrar Al-Ta‟wil jilid I, (Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, 2012), hlm. 152.

(15)

bantahan atas anggapan orang-orang Yahudi yang mengatakan bahwa nenek moyang mereka dapat memberi syafa‟at kepada mereka.15

Kelompok yang menafikan syafaat mendasarkan pada ayat-ayat yang menurut mereka mencapai derajat nash. Kelompok pengusung syafaat mendasarkan pada ayat-ayat yang menyatakan bahwa syafaat memang ada dan terjadi tapi setelah mendapatkan izin Allah Swt, juga hadis-hadis yang di antaranya mencapai derajat mutawatir. Ayat yang menafikan syafaat masih muawwal. Syafaat bukanlah termasuk rukun Iman yang terdapat nash yang menegaskannya, sehingga orang yang mengingkarinya akan dicap kufur, kendatipun pendapat yang mengitsbat-kannya lebih kuat Mudah-mudahan kita semua senantiasa diberi pikiran yang jernih oleh Allah Swt, diberi kemantapan Iman dan Islam, dimasukkan dalam kelompok orang yang selamat dunia - akhirat di bawah panji Nabi kita Muhammad Saw dan termasuk golongan umat yang akan mendapatkan syafaat dari baginda Nabi di hari akhir.

1). Penyusun kitab Al-Insyaf oleh Imam As Dahwali mengatakan “adapun aliran Qadariyah menempatkan diri mereka pada pendapat yang menyatakan tidak adanya syafa‟at dan jelas mereka tidak akan memperolehnya.













































Artinya: Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa'at. dan orang-orang kafir Itulah orang-orang yang zalim. (Q.S. al-Baqarah: 254).

Melalui ayat ini Allah Swt memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk berinfak, yakni memebelanjakan sebagian dari apa yang Allah rizkikan kepada mereka di jalan-Nya, yaitu jalan kebaikan, dengan demikian berarti mereka menyimpan pahala hal tersebut disisi Tuhan yang memiliki mereka semua; dan agar mereka bersegera melakukan hal tersebut dalam kehidupan di dunia ini yaitu “sebelum datang suatu hari” Hari yang dimaksud adalah hari kiamat. “yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab

15Ibid 1.

(16)

dan tidak ada lagi Syafa‟at”16 Artinya, pada hari itu seseorang tidak dapat membeli dirinya sendiri, tidak dapat pula menebus dengan harta sekalipun ia menyerahkannya dan sekalipun ia mendatangkan emas sepuluh bumi untuk tujuan itu. Persabatan yang akrab dengan seseorang tidak dapat memberikan manfaat apapun kepada dirinya bahkan nasabnya sekalipun, seperti yang dinyatakan dalam firman Allah dalam surat al-Mu‟minun ayat 101 yang artinya : “apabila sangkakala ditiup, maka tidaklah ada lagi pertalian nasab diantara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya”. Yakni tiada bermanfaat bagi mereka syafa‟at orang- orang yang memberikan syafa‟atnya.

Ayat ini secara jelas menafikan adanya syafa‟at dan pengertian lahiriahnya inilah yang dijadikan pegangan oleh orang-orang yang meyakini bahwa syafa‟at itu merupakan kepercayaan yang diciptakan para Kahim agar mereka memperoleh kedudukan yang terhormat dimata umat mereka. Sesungguhnya sumber kekeliruan dalam menafsirkan ayat terletak pada pembatasannya pada satu ayat ini saja seraya mengabaikan maksud-maksud yang terkandung di dalam ayat lainnya yang juga berbicara tentang syafa‟at.

2). Sementara itu kaum Mu‟tazilah seluruhnya sepakat menolak syafa‟at, mereka menganggap bahwa syafa‟at Rasulullah Saw itu hanya diperuntukan bagi oarang-orang yang ta‟at dan bukan untuk para pelaku maksiat.















































































Artinya: Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al Quran itu. pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al Quran itu, berkatalah orang- orang yang melupakannya sebelum itu: "Sesungguhnya telah datang Rasul-rasul Tuhan Kami membawa yang hak, Maka Adakah bagi Kami pemberi syafa'at yang akan memberi syafa'at bagi Kami, atau dapatkah Kami dikembalikan (ke dunia) sehingga Kami dapat beramal yang lain dari yang pernah Kami amalkan?". sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada- adakan.(Q.S. al-A‟raf:53).

16Al-Imam Abul Fida Isma‟il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tafsir Ibnu Katsir Juz 3 Al-Baqarah 253 s.d. Ali- Imran 91. (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000), hlm. 5-6.

(17)

Yaitu apa yang telah dijanjikan kepada mereka, berupa azab, pembalasan, surga dan neraka. Demikianlah menurut Mujahid dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang. Sedangkan menurut Imam Malik, makna yang dimaksud dengan takwil dalam ayat ini ialah balasan atau pahalanya. ar-Rabi' mengatakan bahwa takwil al-Qur'an masih terus akan berlanjut hingga hari hisab (perhitungan amal) selesai, ahli surga telah masuk surga, dan ahli neraka telah masuk neraka. Maka pada saat itu sempurnalah takwil al-Qur'an. Maksudnya, orang-orang yang tidak mau beramal untuk menyambut hari kiamat dan mereka dengan sengaja melupakannya ketika hidup di dunia. Yakni lenyaplah apa yang dahulu mereka sembah selain Allah; sembahan- sembahan mereka tidak dapat memberikan syafa‟at kepada mereka, tidak dapat menolong mereka, dan tidak dapat menyelamatkan mereka dari azab yang mereka alami.17

Dapat diartikan dari ayat ini yaitu orang-orang yang tidak beriman dan beramal, pada hari kiamat nanti mengakui bahwa apa yang dibawa oleh para rasul itu adalah benar. Akan tetapi mereka mengangan-angankan adanya para pemberi syafa‟at yang akan memberikan syafa‟atnya kepada mereka untuk membebaskan mereka daria azab atau mengembalikan mereka ke dunia sehingga mereka bisa beramal tidak seperti amal yang dulu mereka lakukan, yaitu kemusyrikan dan kemaksiatan. Namun mereka telah mencelakakan diri mereka sendiri dengan azab, dan lenyaplah tuhan-tuhan yang dulu mereka ada-adakan dan yang mereka anggap bisa memberikan syafa‟atnya. Berdasarkan itu, maka ayat ini mengekukakan akibat yang harus dipikul oleh orang- orang kafir. Mereka adalah orang-orang yang tidak akan menemukan seorang pemberi syafa‟at yang bisa dimintai syafa‟at.







































Artinya: karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam".dan Tiadaklah yang menyesatkan Kami kecuali orang-orang yang berdosa.Maka Kami tidak mempunyai pemberi syafa'at seorangpun, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab,(Q.S. al- Syu‟ara‟: 98-101).

Maksud ayat ini adalah, sesungguhnya para penghuni neraka di hari kiamat nanti berkata dengan penuh penyesalan kepada para pengikut Iblis dan berhala-berhala yang menjadi

17Al-Imam Abul Fida Isma‟il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tafsir Ibnu Katsir Juz 8 al-An‟am s.d. al-„Araf 87, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2003), hlm. 347-351.

(18)

penyebab kesesatan mereka, “Karena kami mempersamakan kamu dengan Allah Swt” dengan menjadikan kalian sebagai tujuan penyembahan. Kemudian mereka mengakui bahwa tiada yang menyesatkan mereka kecuali orang-orang yang berdosa, serta memperlihatkan penyesalan mereka mengatakan “Maka kami tidak mempunyai seorang pemberi syafa‟at pun.” Yang memberi syafa‟at kepada kami dan kami “tidak pula mempunyai sahabat-sahabat karib” yang bisa membantu kami mengatasi persoalan kami.



















































Artinya: Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy[1188]. tidak ada bagi kamu selain dari padanya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan? (Q.S. al-Sajdah:4).

3). Menurut al-Zamakhsyari yang mengikuti aliran Mu‟tazilah bahwa syafa‟at tidak diberikan kepada orang-orang yang melakukan maksiat karena menurutnya seorang tidak dapat menanggung hak orang lain sehingga ia tidak akan mendapatkan syafa‟at dari seorang pemberi syafa‟at, dan syafa‟at tersebut hanya berlaku untuk menambah derajat atau meningkatkan pahala, bukan untuk menghilangkan siksa atau mengampuni dosa-dosa. al-Zamakhsyari mengingkari adanya syafa‟at bagi pelaku dosa besar dikalangan orang mukmin dan lainya sebagai penebus dosa.18 Di dalam kitab hadis Ibnu Majah dan Bukhari dijelaskan.

18Priyanti Handayani, Penafsiran Syafa‟at Menurut Al-zamakhsyari Dalam Tafsir AL-kasysyaf‟,(Skripsi), (Yogyakarta : 2008), hlm. 88.

(19)

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh Al Mishri, telah memberitakan kepada kami Laits bin Sa'ad dari Ibnu Syihab dari Urwah dari Aisyah sesungguhnya orang-orang Quraisy merasa cemas terhadap apa yang akan ditimpakan kepada seorang wanita bani Makhzumivah yang telah mencuri. Mereka berkata, "Siapa yang akan berbicara mengenai hal ini kepada Rasulullah?" Sebagian orang berkata,

"Siapa lagi yang berani, selain Usamah bin Zaid sosok yang dicintai Rasulullah?" Lalu Usamah membicarakannya kepada Rasulullah shallAllahu 'alaihi wasallam. Maka beliau bersabda: "Apakah engkau akan memberikan syafa‟at atau pengampunan dalam hal hukum hudud?" Lalu beliau berdiri sambil berpidato, beliau bersabda: " Wahai manusia sekalian! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa, karena apabila seorang yang mulia diantara mereka mencuri, maka mereka membiarkannya. Tetapi apabila seorang yang lemah diantara mereka mencuri, maka mereka melaksanakan hukum hudud. Demi Allah! Seandainya saja Fatimah putri Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang memotong tangannya. " Muhammad bin Rumh berkata, "Aku mendengar Laits bin Sa'd berkata, 'Sungguh Allah telah melindunginya (Fatimah) dari pencurian.' Maka seyogiayanya setiap Muslim mengucapkannya perkataan seperti ini."19

.

19Abu Abdulloh Muhammad Bin Yazid Bin Majah Al-Qozwini, Sunan Ibnu Majah, (Mesir: Daru Ihya‟il Kutub Al-Arobiyah, 2012), (Lidwa Pusaka i-Software – Hadis No 2537), hlm. 471.

(20)
(21)

.

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil Telah mengabarkan kepada kami 'Abdullah Telah mengabarkan kepada kami Abu Hayyan At Taimi dari Abu Zur'ah bin 'Amru bin Jarir dari Abu Hurairah radliAllahu 'anhu bahwa Rasulullah ShallAllahu 'alahi wa Salam diberi sepotong daging maka beliau pun mengangkat lengannya, dan beliau menyukai daging itu, hingga beliau menggigitnya. Setelah itu beliau bersabda: "Aku pemimpin manusia pada hari kiamat, tahukah kalian kenapa?

Allah akan mengumpulkan semua manusia dari yang pertama hingga yang akhir dalam satu tanah lapang, seorang penyeru akan menyeru mereka, pandangan menembus mereka dan matahari mendekat, duka dan kesusahan manusia sampai pada batas yang tidak mampu mereka pikul. Orang-orang saling berkata satu sama lain: Apa kalian tidak melihat yang telah menimpa kalian, apakah kalian tidak melihat siapa yang memberi kalian syafa‟at kepada Rabb kalian. Orang-orang saling berkata satu sama lain:

Hendaklah kalian menemui Adam. Mereka menemui Adam lalu berkata: Engkau adalah bapak seluruh manusia, Allah menciptakanmu dengan tanganNya, meniupkan ruh-Nya padamu dan memerintahkan para malaikat lalu mereka sujud padamu, berilah kami syafa‟at kepada Rabbmu, apa kau tidak lihat kondisi kami, apa kau tidak melihat yang menimpa kami? Adam berkata kepada mereka: Rabbku saat ini benar-benar marah, Ia tidak pernah marah seperti itu sebelumnya dan tidak akan pernah seperti itu sesudahnya, dulu Ia melarangku mendekati pohon tapi aku durhaka. Oh diriku, Oh diriku, Ohh diriku.

Pergilah pada selainku, pergilah ke Nuh. Mereka mendatangi Nuh lalu berkata: Hai Nuh, engkau adalah rasul pertama untuk penduduk bumi, Allah menyebutmu hamba yang sangat bersyukur, berilah kami syafa‟at kepada Rabbmu, apa kau tidak lihat kondisi kami, apa kau tidak melihat yang menimpa kami? Nuh berkata kepada mereka: Rabbku saat ini benar-benar marah, Ia tidak pernah marah seperti itu sebelumnya dan tidak akan pernah seperti itu sesudahnya, dulu aku pernah berdo‟a keburukan untuk kaumku, Oh diriku, Oh diriku, Oh diriku, pergilah kepada selainku, pergilah ke Ibrahim. Mereka mendatangi Ibrahim lalu berkata: Wahai Ibrahim, engkau nabi Allah dan kekasihNya dari penduduk bumi, berilah kami syafa‟at kepada Rabbmu, apa kau tidak lihat kondisi kami, apa kau tidak melihat yang menimpa kami? Ibrahim berkata kepada mereka:

Rabbku saat ini benar-benar marah, Ia tidak pernah marah seperti itu sebelumnya dan tidak akan pernah seperti itu sesudahnya, dulu aku pernah bedusta tiga kali -Abu Hayyan menyebut ketiga-tiganya dalam hadis ini- oh diriku, diriku, diriku, pergilah kepada selainku, pergilah ke Musa. Mereka menemui Musa lalu berkata: Wahai Musa, engkau utusan Allah, Allah melebihkanmu dengan risalah dan kalamNya atas seluruh manusia, berilah kami syafa‟at kepada Rabbmu, apa kau tidak lihat kondisi kami, apa kau tidak

(22)

melihat yang menimpa kami? Musa berkata kepada mereka: Rabbku saat ini benar- benar marah, Ia tidak pernah marah seperti itu sebelumnya dan tidak akan pernah seperti itu sesudahnya, dulu aku pernah membunuh jiwa padahal aku tidak diperintahkan untuk membunuhnya, oh diriku, diriku, diriku, pergilah kepada selainku, pergilah ke 'Isa.

Mereka mendatangi 'Isa lalu berkata: Hai 'Isa, engkau adalah utusan Allah, kalimatNya yang disampaikan ke maryam, ruh dariNya, engkau berbicara pada manusia saat masih berada dalam buaian, berilah kami syafa‟at kepada Rabbmu, apa kau tidak lihat kondisi kami, apa kau tidak melihat yang menimpa kami? Isa berkata kepada mereka: Rabbku saat ini benar-benar marah, Ia tidak pernah marah seperti itu sebelumnya dan tidak akan pernah seperti itu sesudahnya, namun ia tidak menyebut dosanya, oh diriku, diriku, diriku, pergilah ke selainku, pergilah ke Muhammad. Mereka mendatangi Muhammad lalu berkata: Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah, penutup para nabi, dosamu yang telah lalu dan yang kemudian telah diampuni, berilah kami syafa‟at kepada Rabbmu, apa kau tidak lihat kondisi kami. Lalu aku pergi hingga sampai di bawah 'arsy, aku tersungkur sujud pada Rabbku lalu Allah memulai dengan pujian dan sanjungan untukku yang belum pernah disampaikan pada seorang pun sebelumku, kemudian dikatakan: Hai Muhammad, angkatlah kepalamu, mintalah pasti kau diberi, berilah syafa‟at nicaya kau diizinkan untuk memberi syafa‟at. Maka aku mengangkat kepalaku, aku berkata: Wahai Rabb, ummatku, wahai Rabb, ummatku, wahai Rabb, ummatku. Ia berkata: Hai Muhammad, masukkan orang yang tidak dihisab dari ummatmu melalui pintu-pintu surga sebelah kanan dan mereka adalah sekutu semua manusia selain pintu- pintu itu." Setelah itu beliau bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNya, jarak antara dua daun pintu-pintu surga seperti jarak antara Makkah dan Himyar atau seperti jarak antara Makkah dan Bashrah."20









































Artinya : dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa'at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong.(al-Baqarah: 48).

4). Syekh Thabarsi menafsirkan ayat ini “Semua kaum muslimin mengakui bahwa Nabi Saw memberikan syafaat pada hari kiamat, meski tentang bagaimana pelaksanaannya terdapat perbedaan pendapat antara Mu‟tazilah dan golongan lainnya. Kalangan Mu‟tazilah berkeyakinan syafaat hanya berlaku untuk orang-orang yang berbuat kebaikan saja, sementara Syi‟ah berkeyakinan tujuan syafaat adalah untuk menyelamatkan orang-orang yang berbuat dosa”, kemudian dia melanjutkan: “Syafaat itu bukan saja diberikan pada Nabi Saw, tetapi juga kepada

20Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Ringkasan Shahih Bukhari jilid 3, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2001), (Lidwa Pusaka i-Software - Hadis No 4343), hlm. 481.

(23)

para sahabat terpilih dan para Imam ma‟sum serta orang-orang mukmin yang beramal sholeh”.21 Abul Fattah ar-Rozi dibawah ayat 48 surat al Baqarah itu menyebutkan bahwa: “Ayat ini berkaitan dengan orang-orang kafir dan orang-orang yang berjihad, kaum muslimin selain Mu‟tazilah semuanya menerima adanya syafaat”, setelah itu beliau menyebutkan ayat-ayat yang berkaitan dengan syafaat pada hari kiamat. Maimun bin Muhammad an-Nusufi juga mengisyaratkan hal yang sama mengenai syafaat Nabi Saw pada hari kiamat sebagai sesuatu yang telah diterima secara umum dan pasti oleh kaum muslimin. Bahkan Wahabi yang mayoritas ulama mereka menolak syafaat juga tidak menolak secara keseluruhan adanya syafaat, mereka menerima syafaat Nabi Saw pada hari kiamat dengan izin Allah Swt. Oleh karena itu, ayat-ayat yang menafikan syafaat seperti surat al-Baqarah ayat 123 itu adalah salah satu contoh ayat yang hanya dikhususkan pada Allah Swt semata, dan keraguan akan adanya syafaat ini sama dengan meragukan permasalahan penting dalam Islam. Nabi Saw bersabda: “Barang siapa yang tidak memaafkan orang yang minta maaf, baik dia memintanya dengan sungguh-sungguh atau tidak, maka dia tidak akan memperoleh syafa‟atku

.

22

Namun dibantah dengan orang-orang yang mengingkari syafaat dengan surah an-Najm: 38-41 yang artinya “ (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya). kemudian akan diberi Balasan kepadanya dengan Balasan yang paling sempurna,” Mereka menafsiri dan memahami bahwa ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa manusia hanya memperoleh balasan pahala, siksa juga ampunan karena amal perbuatan yang ia lakukan dan tidak ada intervensi maupun pertolongan orang lain. Golongan yang mengingkari syafaat juga menafsiri ayat tersebut secara mutlak bahwa pendosa (baik kafir maupun mu'min) tidak akan mendapatkan syafaat. Sementara itu kalangan pendukung syafaat merinci bahwa ayat tersebut hanya berlaku bagi orang-orang kafir sebagaimana tersebut dalam rangkaian ayat sebelumnya- yang memang secara pasti –dan menjadi kesepakatan bersama- bahwa mereka tidak akan mendaptkan syafaat maupun ampunan.

Kelompok ini menambahi justru ayat ini memberikan pengertian kalau orang kafir tidak mendapatkan syafaat maka orang mu'min yang berbuat dosa bisa mendapatkan syafaat. Sampai

21Fakhruddin Ar-Razi, mafatih al-Ghaib, (Beirut: Darul Fikr, 2009), hlm. 243.

22Ibid. hlm. 341.

(24)

di sini belum juga ada ketegasan adanya syafaat, meskipun untuk menafikannya juga bisa dibantah.

Sejauh penulis telusuri mengenai kelompok-kelompok atau ulama yang berpendapat mengenai syafa‟at secara keseluruhan mempercayai dan sepakat bahwa syafa‟at itu ada untuk orang Islam atau umat Nabi Muhammad Saw. Sesuai dengan dalil-dalail yang disebutkan di atas, namun yang membedakan adalah siapakah orang-orang yang mendapatkat syafa‟at dan apakah syafa‟at hanya untuk orang-orang yang ta‟at atau orang-orang yang berbuat maksiat. Di sini kelompok yang menafikan adanya syafa‟at bagi para pelaku dosa besar adalah kaum Mu‟tazilah dan Khawarij di mana mereka menafikan adanya syafaat bagi para pelaku dosa besar dan Mereka berani menyelisihi sesuatu yang dalilnya telah mutawatir dari Al-Qur`an dan As-Sunnah.

Referensi

Dokumen terkait

Setingan switch tidak sesuai Salah seting Reseting router laptop Missing power supply Tegangan tidak masuk ke peralatan Cek wiring tegangan supply Toolset Modul rusak Ganti

pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tindak pidana korupsi dilakukan hukum acara yang berlaku, kecuali ditentukan lain dalam undang- undang ini”.. 31 Tahun 1999 mulai

Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh waktu simpan terhadap kualitas soyghurt dengan penambahan susu bubuk krim atau skim yang ditinjau dari jumlah koloni

bersabda; “Tiap bayi dilahirkan dalam kadaan suci ( fithrah Islamy ). dalam hadist lain juga diungkap “Barang siapa mempunyai dua anak perempuan dan dia asuh dengan baik maka

Hasil analisis menunjukkan bahwa realisasi belanja pemerintah daerah kota Bengkulu tahun 2011-2013 mengalami fluktuasi dengan pertumbuhan rata-rata 11,76% per tahun, hal

[r]

Karena penguasaan kompetensi instrumen musik lebih mengedepankan aspek psikomotorik yang memerlukan latihan dalam jumlah jam yang banyak maka tujuannya bukan pengetahuan (aspek

Pada tabel 6 dan 7 dapat diketahui bahwa sistem pencarian berdasarkan klausa LIKE dan fulltext yang telah diintegrasikan kedalam Sistem Informasi Perpustakaan Jurusan Teknik