MAKALAH
“Islam dalam mengahdapi Isu-isu Globalisasi”
Disusun Guna Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam
Dosen Pengampu : Ruhadi
Disusun Oleh:
1. Arfan Habibi (3111416025)
2. Romi Hayu Prasasti (3111416028)
3. Satriya Bayu Sasongko (3111416029)
4. Yulia Fegy Cahyani (3201416048)
5. Intan Wahyu Pinanti (3101416051)
6. Virsa Aulia (7141141075)
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan RahmatNya penulis dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Pendidikan Agama Islam ini yang berjudul “Islam dalam mengahdapi Isu-isu Globalisasi”. Penulis berterima kasih kepada dosen pengampuh yang sudah memberikan bimbingannya kepada penulis.
Penulis juga menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan oleh karena itu penulis minta maaf jika ada kesalahan dalam penulisan dan penulis juga mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna kesempurnaan makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan pihak-pihak yang terkait begitu juga mungkin dalam penyajiannya jauh dari kesempurnaan karena masih banyak terdapat kekurangan serta kelemahan dalam penyusunan makalah ini.
Akhir kata penulis ucapkan terima kasih semoga dapat bermanfaat dan bisa menambah pengetahuan bagi pembaca.
Semarang, November 2016
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... i
DAFTAR ISI... ii
BAB 1 PENDAHULUAN...1
1.1 Latar Belakang... 1
1.2 Rumusan Masalah...2
1.3 Tujuan... 2
BAB II PEMBAHASAN... 3
A. Konsep Globalisasi... 3
B. Dampak Globalisasi...7
C. Transformasi Peradaban Islam Kepada Dunia...8
D. Islam dan Lingkungan...9
E. Pendidikan Karakter...14
F. Perempuan dan Fenimisme dalam Islam...17
G. Korupsi... 22
H. Islam dan Perlindungan Anak...25
I. Pandangan Islam Tentang Globalisasi...29
BAB III PENUTUUP...33
A. Kesimpulan... 33
B. Saran... 33
Daftar Pustaka... 35
BAB 1
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Isu seputar globalisasi mulai marak sekitar dekade 1990-an, pada masa ini sering disebut sebagai zaman globalisasi atau the age of globalization. Ramainya diskursus seputar globalisasi pada dekade ini tidak lepas dari booming ekonomi yang melanda dunia. Era pasar bebas (free trade) yang tidak lagi dibatasi oleh sekat-sekat geografi, budaya, dan ideologi politik sebuah negara, seolah sudah menjadi suatu kepastian yang harus terjadi. Meski berangkat dari persoalan ekonomi, namun globalisasi tidak hanya didominasi oleh masalah ekonomi saja, tetapi juga berkaitan dengan persoalan-persoalan lain seperti sosial, budaya, agama, politik, pendidikan, dan lain sebagainya.
Sebagaimana telah kita ketahui, era globalisasi ditandai dengan kemajuan di bidang teknologi komunikasi, transportasi dan informasi yang sedemikian cepat. Kemajuan di bidang ini membuat segala kejadian di negeri yang jauh bahkan di benua yang lain dapat kita ketahui saat itu juga, sementara jarak tempuh yang sedemikian jauh dapat dijangkau dalam waktu yang singkat sehingga dunia ini menjadi seperti sebuah kampung yang kecil, segala sesuatu yang terjadi bisa diketahui dan tempat tertentu bisa dicapai dalam waktu yang amat singkat.
Persoalan-persoalan yang terjadi di suatu negara yang semula disembunyikan atau ditutup-tutupi menjadi transparan dan dapat diketahui secara detail, begitu juga dengan persoalan-persoalan pribadi seseorang yang dipublikasikan melalui media massa. Dalam konteks ekonomi-politik, kenyataan tersebut bahkan dijadikan faktor penting untuk melihat kemungkinan memudarnya batas-batas teritorial negara-bangsa.
komponen penting yang cukup berpengaruh di dalam berbagai proses globalisasi. Karena begitu pentingnya peran agama dalam kehidupan masyarakat, maka perlu kiranya kita memahami sejauh mana posisi agama di dalam merespon berbagai persoalan kemasyarakatan.
Ketika berbicara globalisasi maka yang terlintas dalam pemikiran kita adalah borderless world. Semua negara bebas untuk melakukan kerjasama dengan negara mana pun dan batas negara bukan penghambat untuk melakukan kegiatan kerjasama. Banyak sekali pemahaman tentang globalisasi yang ditanggapi dengan pendekatan yang berbeda-beda. Namun secara umum istilah globalisasi mengindikasikan bahwa dunia adalah sebuah kontinuitas lingkungan yang terkonstruksi sebagai kesatuan utuh. Marshall McLuhans menyebut dunia yang diliputi kesadaran globalisasi dengan istilah global village. Dunia menjadi sangat transparan sehingga seolah tanpa batas administrasi suatu negara. Batas-batas geografis suatu negara menjadi kabur. Globalisasi membuat negara menjadi transparan akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat.
1.2 Rumusan Masalah
1. Menjelaskan Konsep Globalisasi?
2. Menjelaskan Transformasi peradaban islam kepada dunia? 3. Menjelakan islam dan lingkungan?
4. Menjelaskan pandangan islam tentang globalisasi?
1.3 Tujuan
Untuk memberikan pemahaman mengenai:
1. Konsep Globalisasi
2. Transformasi peradaban islam kepada dunia 3. Islam dan lingkungan
BAB II
PEMBAHASAN A. Konsep Globalisasi
1. Pengertian Globalisasi
Menurut asal katanya, kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Achmad Suparman menyatakan Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.
Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuknya yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama. Theodore Levitte merupakan orang yang pertama kali menggunakan istilah Globalisasi pada tahun 1985.
2. Globalisasi dan tantangannya
Revolusi teknologi media informasi dan tranportasi telah merubah dunia yang demikian luas menjadi hanya sebesar sebuah desa. Apa yang diprediksi oleh Marshal McLuhan tentang “Desa Buana”(Global Village) telah dirasakan sekarang. Peristiwa yang terjadi jauh di sebuah benua lain dalam hitungan detik dapat diketahui di benua lainya., bahkan kadangkala lebih cepat daripada informasi tentang peristiwa yang terjadi di desa sebelah.
dunia menjadi saling tergantung pada semua aspek kehidupan baik secara budaya, ekonomi, maupun politik, sehingga cakupan saling ketergantungan benar-benar mengglobal. Misalnya, dalam bidang politik, globalisasi ditandai dengan adanya kesatuan supranasional dengan berbagai cakupan blok politik dan militer dalam NATO (North Atlantic Organizatioan), koalisi kekuasaan dominan, dan organisasi berskala internasional seperti PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa).
Selanjutnya, globalisasi dalam bidang ekonomi ditandai dengan peningkatan peran koordinasi dan integrasi supranasional, seperti EFTA (European Free Trade Association), EC (European Commission), OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries), perjanjian kerja sama ekonomi regional serta dunia, pembagian kerja dunia, dan peningkatan peran kerja sama multinasional). Globalisasi di bidang ekonomi dapat dipahami sebagai suatu proses pengintegrasian ekonomi nasional berbagai bangsa ke dalam sistem ekonomi global. Oleh karena itu, sejak dicanangkannya penandatanganan kesepakatan GATT (General Agreement on Tariff and Trade), ditandatanganinya aneka kesepakatan lainnya, seperti NAFTA (The North American Free Trade Agreement), APEC (Asia Pasific Economi Conference), serta WTO (World Trade Organization), dan dilaksanakannya Structural Adjustment Program oleh Bank Dunia, pertanda globalisasi tengah berlangsung. Sebenarnya, ditinjau dari sejarah perkembangan ekonomi, pada dasarnya globalisasi merupakan salah satu fase perjalanan panjang perkembangan kapitalisme liberal, yang secara teoritis telah dikembangkan oleh Adam Smith. Dengan demikian, sesungguhnyaglobalisasi merupakan kelanjutan dari kolonialisme dan developmentalism.
budaya pribumi atau lokal semakin terkikis dan terdesak, serta menyebabkan budaya konsumen atau budaya massa model Barat menjadi budaya universal yang menjalar ke seluruh dunia.
Budaya global memaksa individu tanpa sadar untuk mengikuti pola yang ditawarkan oleh penguasa informasi. Budaya global secara perlahan mencerabut budaya lokal dan nasional, sehingga jatidiri bangsa dapat tergeser dengan sendirinya. Hal yang terjadi dalam globalisasi adalah homogenitas budaya. Upacara adat, musik tradisional, kesenian lokal, atau makanan khas daerah semakin tidak diminati oleh sebagian besar masyarakat. Penanaman nilai-nilai budaya oleh orang tua sulit diterima oleh generasi berikutnya yang lebih memilih pola hidup yang ditawarkan media massa. Globalisasi mampu mengubah pandangan hidup masyarakat, bahkan ideologi sekalipun. Runtuhnya ideologi komunisme tidak terlepas dari globalisasi yang dimainkan oleh kaum kapitalis. Demikian pula ideologi Pancasila dapat dimungkinkan hilang dari benak bangsa Indonesia jika tidak ditanamkan lebih kuat. Hal yang mengkhawatirkan adalah jika globalisasi menggeser nilai-nilai agama yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.
Dalam globalisasi telah terumuskan aturan dan etika internasional yang mengikat semua masyarakat dunia. Pengabaian terhadap etika global akan sebagai negara terkorup oleh media internasional akan berimplikasi pada ketidakpercayaan investor dan negara asing untuk menjalin kerja sama dengan negara tersebut. Dengan hilangnya kepercayaan itu, sulit bagi suatu negara untuk melakukan perdagangan internasional. Persoalan etika global yang menjadi wacana publik juga ikut mempengaruhi kebijakan suatu negara, seperti hak asasi manusia, emansipasi wanita, demokratisasi, kebebasan pers, dan sebagainya.
jelas: pendidikan Islam. Pada umumnya lembaga pengelola pendidikan Islam memiliki berbagai keterbatasan dana, media dan SDM yang berkualitas.
3. Fakta Penting Mengenai
Apabila kita mengkaji secara mendalam tentang globalisasi, akan ditemui beberapa fakta penting:
a. Pertama: Globalisasi hanya baru dari sudut istilah, tidak dari sudut maksudnya. Ini kerana pertukaran, pemindahan dan perkongsian dalam berbagai tempat sudah berlaku di antara manusia. Bahkan antara tujuan Allah Subhanahu wa Ta‘ala menciptakan manusia adalah untuk mereka saling “berglobalisasi” seperti firman-Nya:
ممككاننلمعنجنون ىثننأكون رركنذن نممم ممككاننقملنخن انننإم سكانننلا اهنينكأناين
اببوعكشك
هنلننلا نننإم ممككاقنتمأن هملننلا دننمعم ممككمنرنكمأن نننإم اوفكرناعنتنلم لنئمابنقنون
مميلمعن
رميبمخن
.
Artinya: Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersuku puak, supaya kamu berkenal-kenalan (dan beramah mesra antara satu dengan yang lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih taqwanya di antara kamu, (bukan yang lebih keturunan atau bangsanya). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mendalam PengetahuanNya (akan keadaan dan amalan kamu.
c. Ketiga: Sekali pun globalisasi pada mulanya bermaksud pertukaran, pemindahan dan kerjasama antara negara, kenyataannya menunjukkan bahwa ia tidak berwujud dalam bentuk dua hal yang adil. Sebaliknya, ada negara yang bersifat “mengglobalisasi” dan ada negara yang bersifat “diglobalisasi”.
B. Dampak Globalisasi
Globalisasi ini membawa dampak positif dan negatif bagi kepentingan bangsa dan ummat kita. Dampak positif, misalnya, makin mudahnya kita memperoleh informasi dari luar sehingga dapat membantu kita menemukan alternatif-alternatif baru dalam usaha memecahkan masalah yang kita hadapi. (Misalnya, melalui internet kini kita dapat mencari informasi dari seluruh dunia tanpa harus mengeluarkan banyak dana seperti dulu. Demikian pula, dalam hal tenaga kerja, dana, maupun barang). Di bidang ekonomi, perdagangan bebas antar negara berarti makin terbukanya pasar dunia bagi produk-produk kita, baik yang berupa barang atau jasa (tenaga kerja).
Dampak negatifnya adalah masuknya informasi-informasi yang tidak kita perlukan atau bahkan merusak tatanan nilai yang selama ini kita anut. Misalnya, budaya perselingkuhan yang dibawa oleh film-film Italy melalui TV, gambar-gambar atau video porno yang masuk lewat jaringan internet, majalah, atau CD ROM, masuknya faham-faham politik yang berbeda dari faham politik yang kita anut, dsb. di bidang ekonomi, perdagangan bebas juga berarti terbukanya pasar dalam negeri kita bagi barang dan jasa dari negara lain.
Dalam kaitannya dengan ummat Islam Indonesia, dampak negatif yang paling nyata adalah perbenturan nilai-nilai asing, yang masuk lewat berbagai cara, dengan nilai-nilai agama yang dianut oleh sebagian besar bangsa kita. Mengingat agama Islam adalah agama yang berdasarkan hukum (syari’ah), maka perbenturan nilai itu akan amat terasa di bidang syari’ah ini. Globalisasi informasi telah membuat ummat kita mengetahui praktek hukum (terutama hukum keluarga) di negeri lain, terutama di negeri maju, yang sebagian sama dan sebagian lagi berbeda dari hukum Islam.
perkawinan campur, dlsb. Kemajuan teknologi di bidang rekayasa genetik (cloning), misalnya, juga telah menimbulkan persoalan hukum keluarga (waris dan perwalian).
C. Transformasi Peradaban Islam Kepada Dunia
Peradaban Islam Telah memberikan kontribusi besar dalam berbagai bidang khususnya bagi dunia barat yang saat ini diyakini sebagai pusat peradaban dunia. Kontribusi tersebut antara lain:
1. Sepanjang abad ke-12 dan sebagian abad ke-13 karya-karya kaum Muslim dalam bidang filsafat, sains, dan sebagainya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, khsususnya dari Spanyol.
2. Kaum muslimin telah memberikan sumbangan eksperimental mengenai metode dan teori sains ke dunia barat.
3. Sistem notasi dan desimal Arab dalam waktu yang sama telah dikenalkan ke dunia barat
4. Karya-karya dalam bentuk terjemahan, khususnya karya Ibnu Sina (Avicema) dalam bidang kedokteran, digunakan sebagai teks di lembaga pendidikan tinggi sampai pertengahan abad ke-17 M
5. Para ilmuawan muslim dengan berbagai karyanya telah merangsang kebangkitan Eropa, memperkaya dengan kebudayaan Romawi Kuno serta literatur klasik yang pada gilirannya melahirkan Renaisance.
6. Lembaga-lembaga pendidikan Islam yang telah didirikan jauh sebelum Eropa bangkit dalam bentuk ratusan madrasah adalah pendahulu universitas dan perguruan tinggi yang ada di Eropa.
7. Para ilmuan muslim berhasil melestarikan pemikiran dan tradisi ilmiah Romawi-Persi (Greco Helenistic) sewaktu Eropa dalam kegelapan
8. Para ilmuan muslim telah menyumbangkan pengetahuan tentang rumah sakit, sanitasi, dan makanan kepada Eropa.
9. Sarjana-sarjana Eropa belajar di berbagai lembaga pendidikan tinggi islam dan mentransfer ilmu pengetahuan ke dunia Barat.
akal, menetapkan keberadaan hukum alam yang pasti, dan keserasian Tuhan dengan alam.
Hingga akhirnya filsafat skolastik Barat mencapai puncaknya yang telah didukung oleh adanya pilar Islam dengan dibangunnya akademi-akademi di Eropa yang diadopsi dari gaya akademi di kawasan Timur. Hal ini merupakan evolusi dari illuminisme biara ke kegiatan pemikiran yang dialihkan kesekolahan dan akademi. Dan kurikulum yang diajarkan adalah filsafat lama, dan ilmu-ilmu Islam terutama Averoisme Paris. Pada saat yang sama terjadi perubahan kecenderungan pemikiran dari kesenian dan kasusatraan ke gramatika dan logika, dari retorika ke filsafat dan pemikiran, dan dari paganisme kesusastraan Latin ke penyucian Tuhan sebagai pemikiran Islam.
Demikianlah sumbangan besar Islam atas peradaban dunia Barat, yang selanjutnya jusru dijadikan sebagai pusat peradaban dunia pada saat ini. Hal ini dikarenakan kekonsistensian dunia Barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologinya. Bahkan karya-karya besar para ilmuwan Muslim tersebut hingga kini masih dapat kita teukan di perpustakaan-perpustakaan internasional, khususnya di Amerika, yang secara profesional dan rapi telah menyimpannya.[9] Sehingga para umat Muslim di masa kini, yang ingin mempelajari lebih banyak tentang khasanah Islam tersebut, harus pergi ke negara Barat (non Islam) agar dapat meminta kembali “permata” yang sementara ini telah mereka pinjam.
Proses transformasi intelektual Islam ke dunia Barat terjadi secara perlahan dan memakan waktu yang cukup panjang. Proses tersebut tidaklah berjalan dengan mulus. Kendala yang paling besar adalah dari persoalan teologis, yaitu doktrin Kristen yang telah lama didominasi oleh penafsiran-penafsiran kaum geraja yang sering kali berbenturan dengan realitas dan norma-norma ilmu pengetahuan sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya.
D. Islam dan Lingkungan
1. Islam Memandang Masalah Lingkungan
tidak peduli terhadap lingkungan. Manusia sekarang beranggapan lingkungan sebagai pemenuh kebutuhan tanpa harus meletarikannya. Banyak orang belum memahami pentingnya menjaga lingkungan. Sebagai contoh adalah sampah, mayoritas masyarakat indonesia menganggap sampah merupakan hal yang sepele, namun dengan mengabaikan masalah ini, berarti kita sedang dihadapkan dengan suatu masalah yang besar. Sudah banyak dampak yang terjadi akibat sampah, seperti banjir dan lain-lain.
Tanpa kita sadari, setiap kegiatan yang kita lakukan pasti berinteraksi dengan lingkungan. Selalu ada potensi bagi manusia untuk merusak alamnya sendiri. Misalnya, kita lihat dari aspek ekonomi yang merupakan kebutuhan hidup mendasar manusia. Tindakan manusia dalam membangun perekonomian yang berorientasi pada pengelolaan sumber daya alam, dengan dukungan industri telah meningkatkan eksploitasi terhadap sumber daya alam. Dan kebutuhan energi yang mengganggu kestabilan ekosistem, misalnya pencemaran air sungai akibat limbah buangan industri dan aplikasi pestisida, kerusakan ekosistem pantai akibat penebangan vegetasi mangrove, pencemaran udara oleh CO2 hasil pembakaran bahan fosil, kerusakan tanah akibat pemupukan yang berlebihan, dan masih banyak yang lainnya. Tanda-tada kerusakan lingkungan tampak dari peristiwa-peristiwa bencana yang tak heti melanda Indonesia. Kerusakan alam dan lingkungan hidup yang kita saksikan sekarang ini merupakan akibat dari perbuatan umat manusia. Allâh Azza wa Jalla menyebutkan firmanNya :
ننوعكجمرمين ممهكلننعنلن اولكممعن يذملننا ضنعمبن ممهكقنيذميكلم سمانننلا يدميمأن تمبنسنكن امنبم رمحمبنلماون رنمبنلما يفم دكاسنفنلما رنهنظن
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). [ar-Rûm/30:41]
dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak terima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya Rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”. Ajaran islam tidak hanya berisi perintah dan larangan, tetapi juga pandangan hidup yang dapat membentuk sikap hidup para pemeluknya. Pandangan hidup tersebut memberikan pemahaman bagi manusia tentang makna alam semesta dan lingkungan, kedudukan baik alam maupun manusia sebagai ciptaan Allah SWT yang sempurna, peran alam dalam kehidupan dan peribadahan manusia, dan sebagainya. Itu semua berpengaruh enimbulkan penghargaan terhadap alam ciptaan Allah yang besar dalam diri manusia sehingga dalam hati merasa enggan untuk merusaknnya atau berbuat yang melampaui batas.
2. Posisi alam dan Manusia dalam Islam
Dalam perspektif Islam, alam semesta adalah segala sesuatu selain Allah SWT. Oleh karenanya, alam semesta bukan hanya langit dan bumi, tetapi meliputi segala sesuatu yang ada dan berada diantara keduanya. Secara umum, alam itu bisa dibedakan kedalam dua jenis, yaitu alam syahadah dan alam ghaib. Alam syahadahadalah wujud yang konkrit dan dapat diinderakan, dimana alam syahadah tunduk kepada hukum evolusi, yang berkembang dan berubah-ubah. Sedangkan alam ghaibadalah wujud yang tidak dapat diinderakan.
Terdapat perbedaan pandangan dikalangan umat muslim, tentang asal mula penciptaan alam semesta. Ada yang menyatakan bahwa alam semesta ini diciptakandari tiada menjadi ada, sementara pendapat lain mengemukakan bahwa alam semesta diciptakan dari materi atau sesuatu yang sudah ada. Pendapat yang pertama, selalu didasarkan pada kata khalaqa, yang digunakan dalam penciptaan alam semesta.
Kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini bisa dikatakan telah menyebar di berbagai belahan dunia. Khususnya Indonesia yang memiliki potensi alam yang sangat melimpah. Dengan potensi alam yang sedemikian melimpahnya telah membuat orang-orang berusaha untuk mengolah secara maksimal. Bahkan potensi alam tersebut dapat menarik masuk investor-investor asing untuk berbisnis di negeri ini. Dengan adanya potensi yang begitu melimpahnya memang kita akui dapat membantu memajukan perekonomian negara, tapi di sisi lain keadaan ini dapat membuat orang untuk mengeksploitasinya secara maksimal untuk kepentingan pribadi. Inilah yang kita takutkan, akan banyak pengusaha yang bergerak disektor pengolahan lingkungan yang tidak mengindahkan prinsip pembangunan berkelanjutan.
Sejumlah ilmuwan berpandangan bahwa kerusakan alam dan lingkunga yang terjadi berakar dari cara pandang manusia terhadap alam yang bersifat antroposentis (berpusat pada manusia). Cara pandang seperti itu tidak sesuai dengan ajaran islam. Islam menempatkan alam sebagai ciptaan Allah yang keberadaannya tergantung pada Allah yang menciptakan dan memeliharanya. Manusia pun sama seperti alam yaitu sebagai ciptaan Allah dalam fungsinya sebagai khalifah Allah boleh memanfaatkan alam demi kepentingannya, namun dakam hal itu ia bukanlah penguasa alam dan harus memperlakukan alam sesuai pedoman yang Allah berikan demi kebaikan dirinya sendiri.
Dalam kitab suci Al’Quran manusia diajarkan untuk memahami sejumlah konsep islam tentang alam dan penciptaannya yaitu untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dan lam semesta adalah untuk menyempurnakan nikmat dan menjadi ujian bagi semua manusia, utuk mengetahui siapa yang lebih baik amalnya dalam hidup. Sebagai khalifah dibumi manusia memiliki dua tugas yaitu :
“ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku ”. QS Adzariyat 51-56.
Mausia sebagai hamba Allah dibumi memiliki tugas untuk mengabdi kepada Allah, secara khusus dengan melaksanakan ibadah-ibadah yang telah ditetapkan Allah perinciannya, seperti shalat, zakat, dan puasa, dan secara umum dengan melaksanakan segala amalan yang diizinkan Allah dengan niat ikhlas karena Allah, termasuk segala aktivitas manusia yang bertujuan memanfaatkan dan memelihara lingkungan tempat hidup.
b. Sebagai Khalifah Allah, Memakmurkan Bumi.
Tugas manusia sebagai khalifah adalah menegakkan agama dan syariat islam dimuka bumi, terutama dalam konteks lingkungan, sebagai pemakmur bumi, terutama dalam konteks lingkungan, sebagai pemakmur bumi, bukan perusaknya. Untuk dapat melakukan itu manusia perlu menanakan nilai-nilai kebenaran dan keadilan dalam hidupnya, menyiarkan kebaikan, dan tidak memperturutkan hawa nafsu, demi kemaslahatan bersama antara manusia dan lingkungan. Dalam mengelola bumi, manusia tidak diperkenankan memperturutkan hawa nafsuya sehingga melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama. Posisi manusia sebagai khalifah atau penguasa dibumi bukanlah izin baginya untuk berbuat apa saja terhadap alam, meskipun alam diciptakan demi kepentingan manusia. Manusia berhak memanfaatkan alam, tetapi bukan memilikinya, sehingga dalam memanfaatkan alam ia tidak boleh melampaui batas dan merusak. Posisi sebagai khalifah adalah amanat bagi manusia untuk menjaga kelestarian, keseimbangan, dan keteraturan di alam.
c. Tuntutan Islam terkait Pemanfaatn dan Perlindungan Lingkungan
Di dalam Al Quran, manusia dilarang untuk melakukan perbuatan yang berakibat merusak lingkungan. Perbuatan-perbuatan itu adalah :
Merusak alam yang telah Allah ciptakan dan pelihara bagi kepentingan manusia.
Berbuat kecurangan.
Memperturutkan dorongan hawa nafsu yang menyuruh untuk melanggar hak orang lain, hidup berlebihan, bermewah-mewahan, boros dan sebagainya.
E. Pendidikan Karakter
1. Pengertian pendidikan karakter
Secara umum, istilah karakter sering diasosiasikan dengan apa yang disebut dengan temperamen yang memberinya, seolah definisi yang menekankan unsur psikososial yang dikaitkan dengan pendidikan dan konteks lingkungan.
Dari segi etimologi, karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang berprilaku sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia. Sedangkan dari segi istilah, karakter sering dipandang sebagai cara berfikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusan yang ia buat.
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter pada hakekatnya ingin membentuk individu menjadi seorang pribadi bermoral yang dapat menghayati kebebasan dan tanggung jawabnya, dalam relasinya dengan orang lain dan dunianya dalam komunitas pendidikan. Dengan demikian pendidikan karakter senantiasa mengarahkan diri pada pembentukan individu bermoral, cakap mengambil keputusan yang tampil dalam perilakunya, sekaligus mampu berperan aktif dalam membangun kehidupan bersama.
2. Tujuan pendidikan karakter
dalam kerangka gerak dinamis diakletis, berupa tanggapan individu atau impuls natural (fisik dan psikis), sosial, kultural yang melingkupinya, untuk dapat menempa dirinya menjadi sempurna sehingga potensi-potensi yang ada dalam dirinya berkembang secara penuh yang membuatnya semakin menjadi manusiawi. Semakin menjadi manuusiawi berarti membuat ia juga semakin menjadi makhluk yang mampu berelasi secara sehat dengan lingkungan di luar dirinya tanpa kehilangan otonomi dan kebebasannya, sehingga ia menjadi manusia yang bertanggungjawab.
Pendidikan karakter lebih mengutamakan pertumbuhan moral individu yang ada dalam lembaga pendidikan. Untuk ini, dua paradigma pendidikan karakter merupakan suatu keutuhan yang tidak dapat dipisahkan. Peranan nilai dalam diri siswa dan pembaruan tata kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan individu merupakan kedua wajah pendidikan karakter dalam lembaga pendidikan.
3. Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Islam
Pendidikan karakter merupakan langkah penting dan strategis dalam membangun kembali jati diri individu maupun bangsa. Tetapi penting untuk segera dikemukakan bahwa pendidikan karakter harusah melibatkan semua pihak; rumahtangga dan keluarga; sekolah; dan lingkungan sekolah lebih luas (masyarakat). Karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyambung kembali hubungan dan educational network yang nyaris terputus antara ketiga lingkungan pendidikan ini.
Berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan Anas r.a, keluarga yang baik memiliki empat ciri. Pertama, keluarga yang memiliki semangat (ghirah) dan kecintaan untuk mempelajari dan menghayati ajaran-ajaran agama dengan sebaik-baiknya untuk kemudian mengamalkan dan mengaktualitaskannya dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, keluarga dimana setiap anggotanya saling menghormati dan menyayangi;saling asah dan asuh. Ketiga, keluarga yang dari segi nafkah (konsumsi) tidak berlebih-lebihan; tidak ngoyo atau tidak serakah dalam usaha mendapatkan nafkah; sederhana atau tidak konsumtif dalam pembelanjaan. Keempat, keluarga yang sadar akan kelemahan dan kekurangannya.
Lingkungan masyarakat luas juga memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai estetika dan etika untuk pembentukan karakter. Dari perspektis Islam, menurut Quraish Shihab (1996:321), situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya, mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan. Jika sistem nilai dan pandangan mereka terbatas pada “kini dan di sini”, maka upaya dan ambisinya terbatas pada kini dan di sini pula.
Dalam konteks itu, Al-Qur’an dalam banyak ayatnya menekankan tentang kebersamaan anggota masyarakat menyangkut pengalaman sejarah yang sama, tujuan bersama, gerak langkah yang sama, solidaritas yang sama.
Tujuan pendidikan karakter semestinya diletakkan dalam kerangka gerak dinamis diakletis, berupa tanggapan individu atau impuls natural (fisik dan psikis), sosial, kultural yang melingkupinya, untuk dapat menempa dirinya menjadi sempurna sehingga potensi-potensi yang ada dalam dirinya berkembang secara penuh yang membuatnya semakin menjadi manusiawi.
4. Ahlak dalm Islam
Kata akhlaq berasal dari kata khalaqa dengan akar kata khuluqan (Bahasa Arab), yang berarti: perangai, tabi'at, dan adat; atau dari kata khalqun (Bahasa Arab), yang berarti: kejadian, buatan, atau ciptaan. Jadi secara etimologis akhlaq berarti perangai, adab, tabi'at, atau sistem perilaku yang dibuat.
Dengan demikian, secara kebahasaan akhlaq bisa baik dan bisa buruk, tergantung kepada tata nilai yang dijadikan landasan atau tolok ukurnya. Di Indonesia, kata akhlak selalu berkonotasi positif. Orang yang baik seringkali disebut orang yang berakhlak, sementara orang yang tidak baik seringkali disebut orang yang tidak berakhlak.
Adapun secara istilah, akhlaq adalah sistem nilai yang mengatur pola sikap dan tindakan manusia di atas bumi. Sistem nilai yang dimaksud adalah ajaran Islam, dengan Al-Quran dan Sunah Rasul sebagai sumber nilainya serta ijtihad sebagai metode berfikir Islami. Pola sikap dan tindakan yang dimaksud mencakup pola-pola hubungan dengan Allah, sesama manusia (termasuk dirinya sendiri), dan dengan alam.
F. Perempuan dan Fenimisme dalam Islam 1. Pengertian feminisme
Menurut bahasa, feminism berasal dari bahasa latin, femina yang artinya perempuan. Sekarang ini, kepustakaan Internasioanal mendifinisikan sebagai pembedaan terhadap hak-hak perempuan yang didasarkan pada kesetaraan perempuan dan laki-laki. Sehingga feminism dapat diartikan sebagai gerakan emansipasi yang menuntut persamaan hak anatar laki-laki dan perempuan dibidang social, poliyik dan ekonomi.
Tiga ciri feminism, yaitu
a) sebuah gerakan atau doktrin yang menyadari adanya ketidakadilan jender di masyarakat maupun di keluarga. Antara lain dalam bentuk penindasan dan pemerasan terhadap perempuan.
b) Memaknai bahwa jender bukan sebagai sifat kodrati melainkan sebagai hasil proses sosialisasi.
c) Memperjuangkan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. 2. Sejarah Feminisme
Gerakan feminis dimulai sejak akhir abad ke-18 di Eropa tepatnya di Prancis yang didorong oleh ideology pencerahan (Aufklarung) yang menekankan pentingnya peran rasio dalam mencapai kebenaran, namun diakhiri abad ke 20, suara wanita dalam hukum, khususnya dalam teori hukum, muncul dan berarti. Hukum feminis yang dilandasi sosiologi feminis, filsafat femiinis dan sejarah feminism adalah perluasan perhatianwanita dikemudian hari.
Gerakahn feminis di Barat penyebab utamanya adlah pandangan meremehkan bahkan membenci perempuan (misogymy), bermacam-macam anggapan buruk (stereotype) yang dilekatkan kepadanya., serta aneka citra negative yang terwujud dalam tata nilai masyarakat, kebudayaan, hukum dan politik.
Feminisme sebagai filsafat dan gerakan dapat dilacak dalam sejarah kelahirannya dengan kelahiran Era Pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet. Kata feminism dikenalkan pertama kali oleh aktivis sosialis utopis, Charles Fourier pada tahun 1837.
3. Jenis-jenis feminisme a) Feminisme Liberal
Aliran feminisme liberal berakar dari filsafat liberalisme yang memiliki konsep bahwa kebebasan merupakan hak setiap individu sehingga ia harus diberi kebebasan untuk memilih tanpa terkekang oleh pendapat umum dan hukum. Akar teori ini bertumpu pada kebebasan dan kesetaraan rasionalitas.
b) Feminisme Marxis
Aliran ini memandang masalah perempuan dalam kerangka kritik kapitalisme. Asumsinya sumber penindasan perempuan berasal dari eksploitasi kelas dan cara produksi. Status perempuan jatuh karena adanya konsep kekayaan pribadi (private property) kegiatan produksi yang semula bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sendiri berubah menjadi keperluan pertukaran (exchange).
c) Feminisme Radikal
Aliran ini bertumpu pada pandangan bahwa penindasan terhadap perepmpuan terjadi akibat sistem patriarki (sistem yang berpusat pada laki-laki). Pada pokoknya, aliran ini berupaya menghancurkan sistem patriarki, yang fokusnya terkait fungsi biologis tubuh perempuan.
d) Feminisme social
Feminisme social muncul sebagai kritik terhadap feminism Marxis. Aliran ini mengatakan bahwa partriarki sudah muncul sebelum kapitalisme dan tetap tidak akan berubah jika kapitalisme runtuh. Feminism social menggunakan analisis kelas dan gender untuk memahami penindasan perempuan.
e) Femiinisme Teologis
Teori ini dikembangkan berdasarkan paham teologi pembebasan yang mengatakan bahwa sistem masyarakat dibangun berdasarkan ideology, agama dan norma-norma masyarakat. Mereka berpendapat bahwa pemyebab tertindasnya perempuan oleh laki-laki adalah teologi atau ideology masyarakat yang menempatkan perempuan dibawah laki-laki (subordinasi).
f) Ekofeminisme
Aliran ini merupakan jenis feminism yang menyalahi arus utama ajaran feminism, sebab cenderung menerima perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Ekofeminisme mengkritik pemikiran aliran-aliran sebelumnya yang menggunakan prinsip maskulinitas-ldeology untuk menguasai dalam usaha untuk mengakhiri penindasan perempuan akibat sistem patriarki.
Penyebaran ide-ide feminism secara sistematis dan besar-besaran memunculkan beraneka respon dari masyarakat muslim, diantaranya semakin banyak jumlah penganut dan pangajur feminisme, baik secara individual maupun kelompok, dari lembaga pemerintahan maupun LSM. Di Indonesia terdapat tiga kelompok masyarakat Islam yang muncul.
Pertama, kelompok konservatif adalah mereka yang menolak isu-isu jender dan feminisme, baik yang dikemukakan oleh feminis Muslim apalagi feminis Barat. Bagi kelompok ini feminisme adalah ambisi kaum perempuan Barat yang ingin melepaskan diri dari cengkraman kaum laki-laki.
Kedua, kelompok moderat adalah mereka yang menerima ide-ide feminism dan jender selam masih berada dalam koridor ajaran islam. Menurut mereka, islam justru diturunkan untuk mengatasai ketidakadilan jender. Ketiga, kelompok liberal, adalah mereka yang menerima secara umum ide-ide feminism, utamanya ide keseteraan laki-laki dan perempuan dalam berbagai segi. Menurut mereka, ide kesetaraan jender tidak bertentangan dengan ajaran islam.
5. Konsep Islam tentang perempuan
Pembahasan tentang konsep islam diawali dengan pandangan sejumlah peradaban lain tentang perempuan sebelum datangnya Islam. Masyarakat Yunani yang terkenal dengan pemikiran filsafatnya, tidak banyak membicarakan perempuan. Dikalangan elite, para perempuan ditempatkan (disekap0 dalam istana-istana. Dikalangan bawah, nasib mereka sangat menyedihkan, bahkan mereka diperjualbelikan.
Dalam peradaban romawi, wanita sepenuhnya berada dibawah kekuasaan ayahnya. Setelah kawin, kekuasaan tersebut pindah kepada sang suami. Peradaban Hindhu dan China tidak lebih baik dari pada peradaban Yunani dan Romawi. Hak hidup seseorang perempuan yang bersuami harus berakhir pada saat kematian suaminya, istri harus dibakar hidup-hidup pada saat mayat suaminya dibakar.
Dalam ajaran Yahudi, martabat perempuan sama dengan pembantu. Dalam pandangan sementara pemuka Nasrani ditemukan bahwa perempuan adalah senjata iblis untuk menyesatkan manusia. Sementara itu, di semenanjung Arabia sebelum datangnya Islam, terdapat kebudayaan yang disebut jahiliyah. Di zaman ini perempuan dipandang sangat rendah.
Islam memandang perempuan sebagai makhluk yang mulia dan terhormat, memiliki hak dan kewajiban yang disyaratkan Allah. Dalam Islam, haram hukumnya menganiaya dan memperbudak perempuan dan pelakunya diancam dengan siksaan yang pedih.
Dalam buku yang saya pelajari dari perpustakaan, dengan judul “Kodrat Perempuan Dalam Islam” karya Nasaruddin Umar, MA. Beliau mengatakan kehadiran Islam kemudian mengangkat harkat perempuan dalam suatu posisi yang sepadan dengan kaum laki-laki. Al-Quran memberikan pandangan optimis terhadap perempua, salah satunya, dengan menekankan suatu prinsip bahwa ukuran kemuliaan di sisi Tuhan adalah prestasi dan kualitas tanpa membedakan etnik dan jenis kelamin. Al-Quran berusaha memandang perempuan dalam suatu struktur kesetaraan jender dengan kaum laki-laki.
Buku tersebut menjelaskan dalam hadis diterangkan:
“Jagalah perempuan itu baik-baik, karena wanita diciptakan dari tulang rusuk. Bagian tulang rusuk yang paling rapuh adalah bagian atasnya. Jika engkau berusaha meluruskannya, ia akan patah, jika engkau membiarkannya maka ia akan terus bengkok, oleh karena itu jagalah wanita itu baik-baik.” a) Kesamaan kedudukan perempuan dengan laki-laki
Dari Q.S Annisa menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan berasal dari satu jenis yang sama dan bahwa dari keduanya, Allah mengembangbiakkan keturunannya baik laki-laki maupun perempuan. Dalam sebuah hadist, Rasulullah bersabda “Bahwasannya para wanita itu saudara kandung para pria” (HR.Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)
Kesamaan lain antara permpuan dan laki-laki adalah dalam hal menerima beban taklifi (melaksanakan hukum) dan balasannya kelak di akhirat. Q.S Al-Mukmin:40 menyebutkan bahwa siapa saja laki-laki maupun perempuan yang beriman dan mengerjakan alam shaleh, maka akan masuk surge.
b) Perbedaan laki-laki dan perempuan
Q.S Ali Imran : 36 Allah menegaskan bahwa secara kodrati laki-laki memang berbeda dengan perempuan. Letak perbedaan ini menurut K.H Ali Yafie, sebagian besar menyangkut dua hal, yaitu : perbedaan biologis dan perbedaan fungsional dalam kehidupan social.
Jum’at adalah laki-laki sedangkan perempuan tidak, bahkan keikutsertaannya dianggap sunnah. Terdapat pula hukum perempuan tentang hukum daid dan masa iddah, kehamilan dan penyusuan.
Dalam konteks kepemimpinan keluarga, islam memandang istri bukan hanya mitra suami, melainkan juga sahabatnya, artinya keduanya bukan hanya harus bekerjasama dan tolong menolong dalam urusan rumah tangga, tetapi juga saling mencurahkan sinta dan kasih saying (Q.S Al-A’raf:189, An-nisa :9, Ar-rum:21)
c) Hak-hak perempuan
Disamping kesamaan dan perbedaan antara laki-laki dan perempuan, Islam juga memberikan sejumlah hak-hak kepada perempuan.
Hak politik
Tidak ditemukan ayat Al-Qur’an yang melarang perempuan untuk aktif dalam dunia politik. Seperti yang tertera dalam Q.S At-taubah:71 yang artinya “Dan orang-orang yang beriman baik laki-laki maupun perempuan, sebagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan amar makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan rasulnya mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha bijaksana”
Artinya sebagai laki-laki dan perempuan diharuskan untuk bekerja samsa dalam berbagai bidang kehidupan yang dilukiskan dengan kalimat “menyuruh mengerjakan yang makruf”
Hak profesi
Dalam hal memilih pekerjaan, secara singkat dapat dikemukakan bahwa perempuan mempunyai hak untuk bekerja selama pekerjaan tersebut membutuhkannya dan atau selama mereka membutuhkan pekerjaan tersebut.
Hak dan kewajiban belajar
Hak dan kewajiban belajar perempuan (dan laki-laki) sangat banyak dibicarakan dalam ayat al-Quran dan Al-Hadist. Wahyu pertama Al-Quran memerintahkan untuk belajar.
Hak Sipil
Menurut Muhammad Ustman Al-Huyst, perempuan dalam islam memiliki hak-hak sipil sebagaimana laki-laki, seperti: hak kepemilikan, hak mengatur hartanya sendiri, melakukan perjanjian, jual-beli, wasiat, hibah, mewakili atau menjamin orang lain, serta hak memilih suami.
Perempuan juga boleh berpendapat dan dipertimbangkan pendapatnya itu (Q.S Al-Mujadilah : 1-4). Dalam kehidupan berumah tangga, ketika sang istri merasa tidak sanggup melanjutkan perkawinannya dengan suami, Islam juga memberikan hak gugatan cerai kepada perempuan yang dikenal dengan istilah khulu’. merugikan departement atau instasi terkait. Dalam UU No. 20 Tahun 2001 terdapat pengertian bahwa korupsi adalah tindakan melawan hukum dengan maksud mempercaya diri sendiri,oran lain , atau korporasi yang berakibat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
b. Model Bentuk dan Jenis Korupsi
Tindak pidana korupsi dalam berbagai bentuk mencakup pemerasan, penyuapan dan gratifikasi pada dasarnya telah terjadi sejak lama dengan pelaku mulai dari pejabat negara sampai pegawai yang paling rendah. Korupsi pada hakekatnya berawal dari suatu kebiasaan (habit) yang tidak disadari oleh setiap aparat, mulai dari kebiasaan menerima upeti, hadiah, suap, pemberian fasilitas tertentu ataupun yang lain dan pada akhirnya kebiasaan tersebut lama-lama akan menjadi bibit korupsi yang nyata dan dapat merugikan keuangan negara.
Beberapa bentuk korupsi diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Penyuapan (bribery) mencakup tindakan memberi dan menerima suap, baik berupa uang maupun barang.
2. Embezzlement, merupakan tindakan penipuan dan pencurian sumber daya yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu yang mengelola sumber daya tersebut, baik berupa dana publik atau sumber daya alam tertentu.
keuntungan-5. Favouritism, adalah mekanisme penyalahgunaan kekuasaan yang berimplikasi pada tindakan privatisasi sumber daya.
6. Melanggar hukum yang berlaku dan merugikan negara.
7. Serba kerahasiaan, meskipun dilakukan secara kolektif atau korupsi berjamaah.
Jenis korupsi yang lebih operasional juga diklasifikasikan oleh tokoh reformasi, M. Amien Rais yang menyatakan sedikitnya ada empat jenis korupsi, yaitu (Anwar, 2006:18):
1. Korupsi ekstortif, yakni berupa sogokan atau suap yang dilakukan pengusaha kepada penguasa.
2. Korupsi manipulatif, seperti permintaan seseorang yang memiliki kepentingan ekonomi kepada eksekutif atau legislatif untuk membuat peraturan atau UU yang menguntungkan bagi usaha ekonominya.
3. Korupsi nepotistik, yaitu terjadinya korupsi karena ada ikatan kekeluargaan, pertemanan, dan sebagainya.
4. Korupsi subversif, yakni mereka yang merampok kekayaan negara secara sewenang-wenang untuk dialihkan ke pihak asing dengan sejumlah keuntungan pribadi.
Diantara model-model korupsi yang sering terjadi secara praktis adalah: pungutan liar, penyuapan, pemerasan, penggelapan, penyelundupan, pemberian (hadiah atau hibah) yang berkaitan dengan jabatan atau profesi seseorang.
Jeremy Pope (2007: xxvi) mengutip dari Gerald E. Caiden dalam Toward a General Theory of Official Corruption menguraikan secara rinci bentuk-bentuk korupsi yang umum dikenal, yaitu:
1. Berkhianat, subversif, transaksi luar negeri ilegal, penyelundupan.
2. Penggelapan barang milik lembaga, swastanisasi anggaran pemerintah, menipu dan mencuri.
3. Penggunaan uang yang tidak tepat, pemalsuan dokumen dan penggelapan uang, mengalirkan uang lembaga ke rekening pribadi, menggelapkan pajak, menyalahgunakan dana.
5. Menipu dan mengecoh, memberi kesan yang salah, mencurangi dan memperdaya, memeras.
6. Mengabaikan keadilan, melanggar hukum, memberikan kesaksian palsu, menahan secara tidak sah, menjebak.
7. Tidak menjalankan tugas, desersi, hidup menempel pada orang lain seperti benalu.
8. Penyuapan dan penyogokan, memeras, mengutip pungutan, meminta komisi.
9. Menjegal pemilihan umum, memalsukan kartu suara, membagi-bagi wilayah pemilihan umum agar bisa unggul.
10. Menggunakan informasi internal dan informasi rahasia untuk kepentingan pribadi; membuat laporan palsu.
11. Menjual tanpa izin jabatan pemerintah, barang milik pemerintah, dan surat izin pemrintah.
12. Manipulasi peraturan, pembelian barang persediaan, kontrak, dan pinjaman uang.
13. Menghindari pajak, meraih laba berlebih-lebihan.
14. Menjual pengaruh, menawarkan jasa perantara, konflik kepentingan.
15. Menerima hadiah, uang jasa, uang pelicin dan hiburan, perjalanan yang tidak pada tempatnya.
16. Berhubungan dengan organisasi kejahatan, operasi pasar gelap.
17. Perkoncoan, menutupi kejahatan.
18. Memata-matai secara tidak sah, menyalahgunakan telekomunikasi dan pos.
19. Menyalahgunakan stempel dan kertas surat kantor, rumah jabatan, dan hak istimewa jabatan
Anak adalah amanat Tuhan yang harus senantiasa dipelihara. Apapun statusnya, pada dirinya melekat harkat, martabat, dan hak-hak sebagai manusia yang harus dijunjung tinggi. Namun, pada kenyataannya betapa banyak anak yang terlantar, tidak mendapatkan pendidikan karena tidak mampu, bahkan menjadi korban tindak kekerasan. Hidupnya tidak menentu, masa depan tidak jelas, dan rentan terhadap berbagai upaya eksploitasi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Untuk mengatasi hal ini, banyak upaya dilakukan. Salah satunya adalah mengangkat anak. Langkah ini sesuai dengan ajaran Islam yang menekankan saling tolong dalam kebaikan dan memelihara anak yatim. Tidak terkecuali di Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim. Fenomena ini tentu memerlukan perangkat hukum yang terkait dengan pengangkatan anak.
bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakalah: "Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu; dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Menafkahkan Harta untuk anak yatim Qs. An-Nisaa' (4): Ayat 2-10, Serta melarang menghukum anak yatim yang jika dilakukan maka pelakunya sama dengan telah mendustakan agama QS. Al-Maa'uun (Al-Ma'un) (107) Ayat :1-2.
Hak anak dalam Islam
sosial yang berdampak sangat buruk bagi masa depan sebuah komunitas, termasuk agama dan negara itu sendiri. Allah SWT bahkan mengingatkan umatnya untuk tidak berbohong atas nama agama, dan tidak mengekploitasi anak yatim; terlantar; dan sejenisnya, dan melarang terampasnya hak mereka. Eksploitasi anak dapat terjadi dalam suatu pekerjaan atau dengan alasan pembelajaran. semua hal tersebut dapat berakibat langsung pada fisik, mental psikologi mereka. Islam jelas melarang hal ini. Sebuah hadist yang masyhur tentang pendidikan Anak mengurai kewajiban orang tua untuk mendidik anaknya tanpa harus memaksakan kehendak diri orang tua. Tanpa harus mengeksploitasi anak. “Didiklah Anak-anakmu, karena mereka diciptakan untuk menghadapi jaman yang berbeda dengan jamanmu,” Pesan Nabi itu menegaskan karakter pendidikan haruslah futuristik dan membebaskan setiap anak untuk berkreasi sesuai minat dan bakat untuk peranya, tanpa harus keindahan dan kenyamanan mereka untuk menikmati masa kanak-kanak dengan indah Anak adalah kelompok masyarakat yang sangat rentan untuk menjadi korban suatu tindak pidana. Kerentanan itu diakibatkan oleh berbagai keterbatasan dan kekurangan yang dimiliki oleh anak-anak. Lemahnya fisik, keterbatasan pemikiran dan pengetahuan, rendahnya posisi tawar dalam ruang interaksi sosial, keluarga yang tidak utuh, dan lemahnya ekonomi keluarga membuat anak-anak menjadi pihak yang sangat mudah dan rentan dihampiri oleh tindak pidana, atau dengan kata lain menjadi korban tindak pidana. Padahal, dalam hal hubungan dengan anak, Rasulullah mengajarkan orang tua melakukan pendekatan dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Tuntunan Rasulullah ini kerap kali terabaikan, lalu muncullah apa yang disebut kekerasan terhadap anak. Begitu banyak kasus kekerasan terhadap anak muncul dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat. Optimalisasi Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Undang-Undang Perlindungan Anak perlu didukung dan ditingkatkan, agar masa depan anak-anak indonesia terjamin, yang dengan sendirinya dapat menjamin masa depan bangsa ini. Tak heran jika nabi mengungkap “Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan,” dan untuk membentuk mental tangguh seorang pemuda, harus dididik oleh seorang ibu yang tangguh dan kompeten, tak heran jika Nabi juga bersabda “Ibu adalah tiang negara” sebab dari Ibu yang mampu mendidiklah, lahir para pemimpin muda yang tangguh.
Dari pemaparan keuniversalitas Islam , dapat dipahami, bahwa secara prinsip, Islam sangatlah relevan sebagai ajaran global. Persoalannya kemudian, bagaimana memosisikan Islam dalam percaturan globalisasi? Dalam hal ini, dapat digarisbawahi bahwa Islam sebagai ajaran global yang memiliki ajaran universal merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari globalisasi. Menyikapi problema globalisasi, maka prinsip-prinsip ajaran Islam yang universal bisa dijadikan dasar berpijak bagi umat Islam. Di sinilah, pemahaman yang tepat terhadap nashmenjadi syarat yang harus dipenuhi. Islam pada prinsipnya satu secara aqidah, tetapi pada bidang-bidang yang lainnya, boleh jadi berbeda, atau malah bertentangan. Namun demikian, semua itu secara keseluruhan tetap berada dalam naungan Islam.
Islam adalah agama global dan universal. Tujuannya adalah menghadirkan risalah peradaban islam yang sempurna dan menyeluruh, baik secara spirit, akhlak maupun materi. Di dalamnya, ada aspek duniawi dan ukhrowi yang saling melengkapi. Keduanya adalah satu kesatuan yang utuh dan integral. Universalitas atau globalitas islam menyerukan kepada semua manusia, tanpa memandang bangsa, suku bangsa, warna kulit dan deferensiasi lainnya. Hal ini dijelaskan Allah SWT. dalam al-Qur’an, ”Al-Qur’an itu hanyalah peringatan bagi seluruh alam”. (Qs. at Takwir:27).
Semenjak abad VII H., nabi Muhamad SAW. sudah menerapkan konsep globalisasi dalam berbagai aspek kehidupan. Misalnya ketika beliau mengirim utusannya membawa surat-surat beliau kepada para raja dan para pemimpin di berbagai negara tetangga. Di antara para raja dan pemimpin itu adalah Raja Romawi dan Kisra Persia. Dengan demikian, ketika beliau wafat maka seluruh bangsa Arab sudah mampu meneruskan globalisasi yang telah dirintis oleh beliau. Perlu dipahami bahwa globalisasi islam berangkat dari kesatuan antara tataran konseptual dan tataran aktual, dan ini merupakan salah satu keistimewaan islam. Bahkan menurut Fathi Yakan, globalisasi islam memiliki keistimewaaan-keistimewaan, yaitu:
Memiliki keseimbangan antara hak dan kewajiban
Membangun suatu masyarakat yang adil dan memiliki kekuatan
Memiliki landasan atau konsep kesetaraan manusia tanpa diskriminasi, baik status sosial, etnis, kekayaan, warna kulit dan sejenisnya.
Menjadikan musyawarah sebagai landasan sistem politik
Menjadikan ilmu sebagai kewajiban bagi masyarakat untuk mengembangkan bakat-bakat kemanusiaan dan lain-lain.
persepsi dari berbagai pihak karena globalisasi dipandang sebagai problem mendasar yang ikut menentukan kualitas manusia sekarang dan yang akan datang.
Mastuhu dalam ”Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam” menyikapi globalisasi sebagai sebuah keniscayaan sejarah. Mastuhu meminjam argumen Karl Mannheim yang melihat globalisasi sebagai sebuah ideologi. Bagi Mastuhu globalisasi adalah konsep atau proses tanpa henti yang tidak bisa dibendung dan ditolak. Globalisasi menjadi sebuah keniscayaan sejarah.
Dalam menyikapi globalisasi ekonomi yang merupakan bagian dari realita saat ini, Islam sebagai sebuah ajaran moralitas memberikan batasan-batasan agar tidak terjadi eksploitasi antara manusia yang satu dengan yang lain. Islam menghendaki persamaan (musawwah) atas prinsip harta tidak hanya beredar di kelompok-kelompok tertentu saja. Perilaku ekonomi Islam bertujuan untuk menyejahteraan semua pihak. Prinsip utama dari ekonomi Islam di era global adalah (1) tauhid: keesaandan kedaulatan Allah. Konsepsi ini menuntut adanya kepatuhan terhadap aturan-aturan yang telah ditetapkan tanpa syarat. Dalam konsepsi ini, eksistensi manusia dipersatukan dalam ketaatan kepada Allah, yang akan berimplikasi pada aktivitas ekonomi, yaitu tidak ada diskriminasi (2) keadilan: hal ini penting karena keadilan menjadi suatu titik tolak dalam membangun kesejahteraan hidup. Dari sini akan muncul kedinamisan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, (3) tanggung jawab: dalam prinsip ekonomi Islam, setiap pelaku ekonomi harus bertanggung jawab, baik dari sisi ekses ataupun aktivitasnya kepada diri sendiri dan masyarakat atau pun bangsa. Demikian juga tidak dibolehkan terjadi kerusakan ekologi sebagai akibat manfaat teknologi yang berlebihan. Prinsip ekonomi Islam ini muncul dalam rangka melakukan kritik dan solusi atas banyaknya kekurangan yang terdapat dalam ekonomi kapitalis.
Pada aspek budaya, Islam memiliki kebudayaan sendiri yang kosmopolit, tetapi Islam juga mengakui eksistensi kebudayaan lokal. Kosmopolitanisme budaya Islam dibentuk oleh budaya lokal, tempat Islam itu tersebar. Sebagai bukti konkret, kita mengenal Islam Jawa, Islam Madura, Islam Iran dan lain sebagainya, yang meskipun secara kultur tidak sama, tetapi tetap dalam kesatuan Islam. Islam pada waktu berasimilasi yang membentuk tatanan kebudayaan baru yang khas.
transendensi kepada Sang Maha Pendidik, yaitu Allah SWT. Pendidikan seyogyanya mengutamakan kepentingan moralitas sebagai bagian yang esensial dalam tata kehidupan manusi. Namun demikian, tidak berarti antipati terhadap modernisme yang merupakan produk Barat. Oleh karena itu, pendidikan merupakan sistem bagi pengembangan iptek yang berangkat dari ajaran al-Qur’an dan Sunnah, sebagai pembaharuan pemikiran yang dapat merespon tantangan zaman tanpa mengabaikan aspek teologis dogmatis, dan sebagai sarana untuk menumbuhkembangkan sikap dan mental manusia yang benar-benar bertakwa kepada Tuhan tanpa mengenal batas akhir. Pada aspek teknologi, Islam menghendaki teknologi yang tepat guna, dalam arti, tidak hanya memberikan kemudahan dan kenyamanan, tetapi juga tetap menempatkan manusia sebagai subjek penentu. Teknologi juga tidak boleh mengeksploitasi alam secara membabi buta sehinggamerusak ekologi yang ada. Globalisasi yang berangkat dari penggunaan teknologi yang merusak ekologi inilah yang dilarang dalam Islam
BAB III PENUTUUP A. Kesimpulan
merubah pola pikir dan kebiasaan manusia. Dunia dipandang sebagai satu kesatuan dimana semua manusia di muka bumi ini terhubung satu sama lain dalam jaring-jaring kepentingan yang amat luas. Masyarakat yang dulunya tradisional berubah menjadi masyarakat yang modern. Globalisasi merupakan suatu pandangan masyarakat global yang merujuk pada perkembangan tatanan kehidupan, mulai dari perkembagan sektor perekonomian, perdagangan dan teknologi informasi. Namun, perkembangan itu tidak selalu merujuk pada hal-hal positif saja, banyak dampak-dampak negatif globalisasi di rasakan masyarakat.
Islam tidak mempersoalkan tentang perkembangan globalisasi. Kehadiran globalisasi justru membawa perbaikan kepada manusia. Dalam globalisasi sangat menekankan adanya skema perdagangan yang justru membawa manusia pada pekerjaan yang lebih. Globalisasi yang bersifat kompetitif mendorong umat berupaya secara sistematik untuk memproses pembangunan manusia menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, baik fisik intelektual maupun moral.
Selain itu, Islam juga memandang baik terhadap modernisasi sebagai sebuah kemajuan. Modernisasi kemudian menawarkan pendekatan ataupun kehidupan yang lebih baik. Modernisasi yang berarti rasionalisasi untuk memperoleh daya guna dalam berpikir dan bekerja yang maksimal guna kebahagiaan umat manusia.
B. Saran
Mempertegas jati diri kita sebagai muslim. Muslim itu adalah pemimpin umat,
sebaik-baik umat, maka harus memberi pengaruh kepada yang lain. Bukan malah membebek
ke orang non muslim. Kuntum khaira umah.
Memahami bahaya meniru orang non muslim apalagi sampai membeo kepada
mereka. Karena kita akan digolongkan seperti mereka.
Umat Islam harus membangun ukhuwah Islamiyah dan lebih mengedepankannya
daripada ukhuwah atas dasar basyariyah, wathaniyah dan lainnya. Karena itulah
persaudaraan yang sesungguhnya. Innamal mukminun ikhwah.
Umat Islam harus memperkuat jalinan ikatan dan networking ekonomi, politik,
pendidikan dsb untuk membangun kekuatan global umat Islam. Sehingga kelak bisa
Daftar Pustaka
Nurdin Muslim, dkk. 1995. Moral dan Kognisi Islam. Bandung: Alfabeta
Fuaduddin.1999. Pengasuhan Anak dalam Dunia Islam. Jakarta: Lembaga kajian agama dan jender
Umar Nasaruddin.1999. Kodrat Perempuan dalam Islam. Jakarta:
Sini Ridwan. 2015. Sains Berbasis Al-quran. Jakarta: Bumi aksara
Elmubarok Zaim, dkk. 2015. Islam Rahmatan Lil’ alamin, Semarang: UPT UNNES Pres.
Jurnal Tarwabiyah. TANTANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI ERA GLOBAL Oleh Prof. Dr.
Moh. Ali Aziz, M.Ag.
JURNAL DAKWAH DAN KOMUNIKASI. Islam dan Globalisasi: Sebuah Pandangan tentang Universalitas Islam Oleh Khusnul Khotimah.