• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Profil SMP Negeri 2 Sumber

1. Sejarah Singkat SMP Negeri 2 Sumber

SMP Negeri 2 Sumber didirikan sebagai sumber wadah bagi lulusan SD di lingkungan Kecamatan Sumber dan sekitarnya yang dari waktu ke waktu terus bertambah dan tidak tertampung oleh SMP Negeri 1 Sumber. Sekolah yang senantiasa asri dan sejuk dipandang karena berusaha untuk menjaga lingkungannya. Berikut adalah gambar lingkungan sekolah SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon.

Gambar 4.1 Foto sekolah SMP Negeri 2 Sumber Kab. Cirebon Berawal pada tahun 1993/1994, SMP Negeri 2 Sumber mulai menerima siswa baru dengan menginduk ke SMP Negeri 1 Sumber. Sedangkan secara resmi berdiri dan disahkan oleh Depdikbud RI berdasarkan SK Mendikbud RI Nomor 0260/1994 5 Oktober 1994 tentang Pembukaan dan Penegrian Sekolah Tahun Pelajaran 1993/1994.

52

(2)

Sebagai perintis Kepala Sekolah adalah Bapak Cecep Sarip Hidayat yang merupakan Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Sumber. Kepala Sekolah selanjutnya, adalah:

1. Drs. M. Purnomo Hidayat (1995-1998) 2. Tatang Iskandar, S.Pd (1998-2001)

3. Adim Rachman Effendi, S.Pd (2001-2006) 4. Jaya Supriadinata (2006-2009)

5. H. Suhadapura, M.Pd (2009-2012)

6. H. Dadang Suryana, M.Pd (Plt. Agustus-Nopember 2012) 7. H. Sutardi, S.Pd, M.M (Desember 2012-2014)

8. Drs. Herri Purnama (2014-2017)

9. H. Taufikurochman, S.Pd (7 Juli 2017- sekarang) 2. Identitas Sekolah

Nama Sekolah : SMP Negeri 2 Sumber No. Statistik Sekolah / NPSN : 201021712002 / 20214846

Tipe Sekolah : B

Alamat Sekolah : Jl. Pangeran Kejaksan Kelurahan Babakan, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat

Telepon/HP/Fax : 0231 – 321972 / 081223465922 Jarak Sekolah Ke Dinas : 2 km

Status Sekolah : Negeri

Nilai Akreditasi Sekolah : A Skor = 94 Kepemilikan Tanah : Pemerintah

Status Tanah : Hak Pakai

Luas Lahan/Tanah : 6.842 m2 Luas Tanah Terbangun : 2.554 m2 3. Visi, Misi dan Strategi SMP Negeri 2 Sumber

Sekolah sebagai sarana membentuk sumber daya manusia yang berkualitas pada umumnya memiliki sarana yang tergambar dalam visi dan

(3)

Misinya. SMP Negeri 2 Sumber yang telah berdiri sejak tahun 1994 memiliki visi dan misi yang telah dirumuskan bersama sesuai sasaran, situasi serta kondisi sekolah.

a. Visi Sekolah

“Unggul dalam prestasi, nyaman dalam belajar, tanggap terhadap pembaharuan, dan sukses dalam kebersamaan”

b. Misi Sekolah

1) Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap Ketuhanan YME.

2) Mewujudkan tercapainya mutu pendidikan di SMP.

3) Meningkatkan disiplin personal dengan menanamkan budaya bersih, budaya tertib, budaya belajar dan budaya kerja.

4) Meningkatkan disiplin peserta didik melalui upacara bendera dan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler.

5) Mengembangkan dan memacu professional personal sehingga tanggap terhadap pembaharuan pendidikan khususnya di SMP.

6) Meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan untuk meningkatkan layanan pendidikan.

7) Mengembangkan rasa kekeluargaan diantara warga sekolah untuk terwujudnya hubungan yang harmonis.

c. Strategi Sekolah

1) Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap Ketuhanan YME.

2) Mewujudkan tercapainya mutu pendidikan di SMP.

3) Meningkatkan disiplin personal.

4) Meningkatkan disiplin peserta didik.

5) Mengembangkan dan memacu professional personal sehingga tanggap terhadap pembaharuan pendidikan khususnya di SMP.

6) Meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan untuk meningkatkan layanan pendidikan.

7) Mengembangkan rasa kekeluargaan diantara warga sekolah untuk terwujudnya hubungan yang harmonis.

(4)

d. Data Guru

Jumlah Guru Pada Tahun Pelajaran 2017/2018 1) Guru Tetap : 49 orang

2) Guru Tidak Tetap : - 3) Guru Bantu Sementara :

e. Jumlah Siswa dan Rombel Kelas Pada Tahun 2017/2018

Berdasarkan hasil observasi serta wawancara dengan pihak SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon, terdapat dua puluh empat rombongan belajar yang setiap kelasnya terdiri dari kelas A-H, jumlah yang lumayan fantastis dikarenakan masih banyak peminat dari SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon. Berikut tabel secara rincinya:

Tabel 4.1 Jumlah siswa dan rombel kelas

Kelas Jumlah Siswa Jumlah Rombel

VII 289 8

VIII 305 8

IX 278 8

Jumlah 872 24

Sumber: Direktoran Pembinaan SMP, Kemendikbud (2017: 1)

Berdasarkan tabel di atas dapat penulis simpulkan bahwasannya SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon masih menjadi primadona dikalangan masyarakat dikarenakan dengan jumlah yang lumayan banyak.

f. Fasilitas Sekolah

Fasilitas merupakan sarana prasana yang ada di sekolah. Adapun untuk fasilitas di SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon lumayan cukup baik sekalipun masih ada beberapa yang belum ada namun sekolah selalu berusaha dalam pemenuhan fasilitas. Berikut fasilitas yang ada di SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon:

(5)

Tabel 4.2 Fasilitas Sekolah

No Jenis Ruangan Jumlah Ruangan Kondisi

1. Ruang Kelas 24

18 Baik 3 Rusak Ringan 3 Rusak Sedang

2. Ruang Kepala 1 Rusak Sedang

3. Ruang Guru 1 Baik

4. Ruang Tata Usaha 1 Rusak Sedang

5. Ruang Tamu 1 Baik

6. Ruang BK 1 Baik

7. Ruang Perpustakaan 1 Rusak Sedang

8. Ruang Lab. IPA 1 Baik

9. Ruang Lab. Komputer 1 Baik

10. WC Guru 2 Baik

11. WC Siswa 3 Rusak Ringan

12. Ruang PMR/UKS 1 Baik

13. Ruang OSIS 1 Baik

14. Masjid 1 Baik

15. Pos Jaga 1 Baik

Sumber: Direktorat Pembinaan SMP, Kemendikbud (2017: 3-5)

Berdasarkan tabel di atas dapat penulis simpulkan bahwasannya untuk sarana prasarana yang ada di lingkungan SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon bisa dikatakan menuju sekolah yang ideal sekalipun pihak sekolah senantiasa berusaha untuk melengkapi yang belum ada.

B. Program Sekolah dalam Upaya Pembentukan Karakter Siswa melalui Model Pembelajaran IPS Berbasis Kearifan Lokal

Gambaran mengenai program sekolah dalam upaya pembentukan karakter siswa melalui model pembelajaran IPS berbasis kearifan lokal, penulis akan mendeskripsikannya melalui program sekolah hubungannya dengan pembelajaran

(6)

IPS berbasis kearifan lokal, bimbingan konseling (BK), dan nilai karakter yang dikembangkan.

Dalam memperoleh data tentang program sekolah dalam upaya pembentukan karakter siswa melalui model pembelajaran IPS berbasis kearifan lokal di SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon, penulis melakukan pencarian data dengan menggunakan teknik wawancara kepada wakil kepala sekolah bidang kurikulum, koordinator ekstrakurikuler, dan koordinator guru BK.

1. Program Sekolah Hubungannya dengan Pembelajaran IPS Berbasis Kearifan Lokal

Program sekolah merupakan seperangkat aturan dan kegiatan yang dilaksanakan di sekitar sekolah, dalam hal ini adalah SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon. Adanya program sekolah diharapkan mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang belum muncul dalam proses pembelajaran di kelas, begitupun dengan pembelajaran IPS.

Mata pelajaran IPS merupakan pengetahuan yang komplek dan dinamis. Hadirnya IPS mampu berintegrasi dengan mata pelajaran lain serta program-program di sekolah. Karena hakikatnya IPS itu tidak kaku.

Pembelajaran IPS mengajarkan guru-gurunya untuk lebih cerdas dan kreatif dalam berinovasi, supaya kelak IPS lebih menarik dan menyenangkan serta menciptakan generasi pelopor cinta budaya lokal.

Berdasarkan hasil observasi atau pengamatan, hasil wawancara serta studi dokumentasi yang dilakukan pada 4 desember 2017 – 2 maret 2018 dapat diketahui bahwa program sekolah dalam upaya pembentukan karakter siswa melalui model pembelajaran IPS berbasis kearifan lokal yaitu dengan adanya program sekolah yang berhubungan langsung dengan pembelajaran IPS.

Berikut hasil wawancara dengan Ady (51 tahun) wakil kepala sekolah bidang kurikulum, beliau mengatakan:

“Banyak program yang ada di sekolah ini, diantaranya:

1) Baca al-qur’an setiap pagi sebelum pelajaran dimulai, setiap kelas anak-anak membaca al-qur’an, biasanya sebanyak 20 ayat diharapkan anak mempunyai karakter keagamaan dan ketauhidan.

(7)

2) Dilanjut dengan menyanyikan lagu indonesia raya diharapkan membentuk karakter siswa yang cinta tanah air dan kebangsaannya.

3) Literasi/ gerakan membaca, yaitu membaca buku fiksi, diharapkan menambah pengetahuannya selain mata pelajaran yang biasa diajarkan di sekolah.

4) Setiap hari rabu menjalankan readhaton (membaca al-qur’an dan pelajaran bahasa), semuanya ada dalam empat bahasa ( bahasa indonesia, bahasa inggris, bahasa sunda, dan bahasa cirebon).

5) Gerakan shalat dhuha dan dzuhur berjama’ah, alhamdulillah sudah berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

6) Ekstrakurikuler pramuka, PMR, Paskibra, Merpati putih dan lain-lain.

Semuanya sengaja diadakan untuk membentuk karakter siswa.” (24 februari 2018)

Berikut ini adalah gambar proses wawancara dengan Ady (51 tahun) sebagai pendukung penelitian.

Gambar 4.2 Proses wawancara dengan Ady (51 tahun)

Berdasarkan ungkapan yang diutarakan oleh ibu Ady (51 tahun) penulis menyimpulkan bahwa dari banyaknya program yang ada bisa dikerucutkan ke dalam:

1) Budaya Sekolah

Budaya sekolah merupakan suatu kebiasaan yang sudah menjadi panutan dan pedoman. Seperti halnya yang diutaran ibu Ady (51 tahun) mengenai budaya sekolah yang ada di sekolah SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon:

“...Setiap hari Rabu menjalankan readhaton (membaca al-qur’an dan pelajaran bahasa), semuanya ada dalam empat bahasa ( bahasa

(8)

indonesia, bahasa inggris, bahasa sunda, dan bahasa cirebon)”. (24 februari 2018).

Readhaton merupakan inovasi dalam berkreasi, mengemas program dan mendukung kearifan yang hampir punah. Pembelajaran bahasa yang mulai memudar kini dikemas dengan menarik dan menambah semangat siswa-siswi. Readhaton dilaksanakan setiap hari rabu pagi sebelum pembelajaran berlangsung. Uniknya dari program ini adalah selain ada unsur islami, cinta budaya lokal juga sangat dimunculkan. Setiap rabu dijadwal kegiatan apa yang akan dilaksanakan bisa membaca al-qur’an, dan literasi buku fiksi dalam bahasa daerah ( Cirebon dan sunda) serta bahasa Indonesia dan inggris. Program ini diikuti oleh seluruh siswa-siswi dan guru-guru.

Gambar 4.3 Proses kegiatan readhaton setiap hari rabu

Dengan adanya program ini diharapkan mampu membudayakan generasi qur’ani dan cinta budaya lokal khususnya bahasa dari masing- masing daerah tempat tinggal kita. Generasi yang unggul bukanlah mereka dengan bangganya mencintai budaya luar melainkan mereka yang cinta budaya lokal dan berusaha mengenalkan kepada dunia luar. Istilah dari semuanya adalah think globally and act locally.

2) Kegiatan Ekstrakurikuler

Ada berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler di SMP Negeri 2 Sumber ini, diantaranya yaitu: Pramuka, Paskibra, PMR, Kesenian, PLH,

(9)

Olahraga, UKS, Keagamaan, Club mata pelajaran (Science Club, Social Club, English Club, Mathc Club, Bahasa Indonesia Club, dan lain-lain).

Semua kegiatan ekstra tersebut guna mengembangkan bakat dan potensi non akademik yang dimiliki oleh siswa-siswa SMP Negeri 2 Sumber.

Sehingga, bisa memunculkan prestasi yang lain di luar kemampuan akademik.

Berikut ini sedikit penjelasan mengenai beberapa ekstra di SMP Negeri 2 Sumber:

a. Paskibra

Paskibra adalah salah satu wadah pembinaan siswa sebagai kegiatan ekstrakurikuler di SMP Negeri 2 Sumber yang tugas utamanya adalah sebagai pasukan pengibar bendera pada saat upacara bendera.

Kegiatan ekstra paskibra ini juga melatih setiap siswa yang kelasnya mendapatkan giliran menjadi petugas upacara. Melalui wadah organisasi paskibra bagi siswa-siswi SMP Negeri 2 Sumber adalah untuk menyalurkan minat dan bakat ke-paskibra-an dan menanamkan karakter disiplin, rasa percaya diri dan tanggung jawab yang mendorong lahir sikap dan kesadaran berbangsa dan negara serta cinta tanah air di kalangan siswa.

b. Pramuka

Kegiatan ekstra pramuka di SMP Negeri 2 Sumber ini berjalan aktif.

Di dalam organisasi ini, siswa diajarkan mengenai kepramukaan dan baris-berbaris juga.

c. PMR

Banyak kegiatan PMR selain sebagai petugas kesehatan pada saat upacara, banyak perlombaan yang sering diikuti. Anggota PMR dan UKS bekerja sama dalam bidang kesehatan sekolah.

d. Keagamaan

Kegiatan keagamaan ini memiliki program utama yaitu pelaksanaan sholat berjamaah bergiliran setiap kelas dalam satu minggu. Selain itu,

(10)

ekstra ini sering memenangkan perlombaan keagamaan yang diadakan oleh perguruan tinggi di Cirebon.

e. PLH

PLH adalah ekstra yang menjadi sentra kebersihan dan keindahan lingkungan sekolah. Program-program yang sudah terlaksana, diantaranya kegiatan jumsih tiap minggu, penanaman tanaman di halaman sekolah, penghijauan halaman kelas dan setiap minggu mengadakan lomba kebersihan atau biasa disebut lomba K4.

Koordinator dari PLH adalah ibu Sri Agustin Mulaningsih, S.Pd.

Gambar 4.4 kegiatan jum’at dan sabtu bersih/ Lingkungan Hidup (LH) f. PJOK atau Olahraga

Ekstra olahraga adalah ekstra yang menjadi program unggulan sekolah. Karena selalu memenangkan pertandingan antar Kabupaten dan Nasional.

g. Club Mata Pelajaran

Ekstra ini adalah kegiatan tambahan di luar jam pelajaran. Kegiatan ekstra ini memberikan kemampuan ilmiah kepada siswa yang tidak banyak dilakukan di dalam proses pembelajaran di kelas. Ada beberapa mata pelajaran yang menjadi esktra, yaitu: IPA, IPS, Matematika, bahasa Indonesia, bahasa Cirebon, bahasa Sunda dan Bahasa Inggris.

(11)

Gambar 4.5 Kegiatan Social Club h. Karawitan

Ekskul karawitan adalah ekskul yang melatih siswa dalam mempelajari musik tradisional. Biasanya, pelatih yang memandu siswa latihannya yaitu salah satu guru kesenian SMP Negeri 2 Sumber, bapak Aiman.

i. Marching Band

Marching Band adalah ekskul terbaru yang ada di SMP Negeri 2 Sumber. Para siswa sangat antusias untuk mengikuti kegiatan ekskul ini. Pembina ekskul ini yaitu ibu Sri Sulastri, S.Pd yang merupakan guru kesenian.

3) Pembiasaan dan Peneladanan

Seperti halnya yang diutarakan oleh ibu Ady (51 tahun), bahwasannya pembiasaan dilakukan setiap hari sebelum pembelajaran berlangsung.

”...anak-anak membaca al-qur’an, biasanya sebanyak 20 ayat diharapkan anak mempunyai karakter keagamaan dan ketauhidan.

Dilanjut dengan menyanyikan lagu indonesia raya diharapkan membentuk karakter siswa yang cinta tanah air dan kebangsaannya.

Kemudian literasi/ gerakan membaca, yaitu membaca buku fiksi...”. (24 februari 2018).

Kegiatan tersebut berjalan dengan baik dan selama ini sangat membantu dalam proses pembentukan karakter siswa. Banyak dari guru- guru pun sangat bersemangat, karena pembiasaan dilakukan pada pagi hari, semangat membara masih menggebu-gebu.

(12)

IPS merupakan pembelajaran yang tidak lekang oleh waktu.

Pembelajaran IPS sangat dinamis dan fleksibel. Sebenarnya semua program apapun yang ada di sekolah pastinya saling mendukung dan saling berhubungan dengan setiap mata pelajaran yang ada. Berbicara masalah IPS adalah tentang keseluruhan. Berdasarkan penelitian yang sudah penulis laksanakan, jelas bahwa program yang ada di SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon memiliki hubungan erat dengan pembelajaran IPS, seperti contoh : Readhaton (cinta budaya lokal/bahasa), pembiasaaan dan peneladanan menyanyikan lagu Indonesia Raya masuk dalam materi IPS tentang nasionalisme, semua ekstrakurikuler sangat berhubungan dengan pembelajaran IPS baik dalam sikap dan perilaku yang ditimbulkan.

2. Bimbingan Konseling (BK)

Program Bimbingan dan Konseling atau biasa sering disebut dengan sebutan BK merupakan satuan rencana kegiatan BK yang akan dilaksanakan pada periode waktu tertentu. Program ini memuat unsur-unsur yang terdapat dalam berbagai ketentuan tentang pelaksanaan BK dan diorientasikan pada pencapaian tujuan kegiatan BK di sekolah. Program BK dibuat dengan maksud agar kegiatan BK di sekolah tidak menyimpang dari pedoman yang sudah ada sekaligus sebagai pegangan atau panduan untuk melaksanakan atau memberikan layanan BK di sekolah tepat waktu, tepat guna, sehingga kegiatan BK dapat berjalan secara efektif dan efisien.

Bimbingan konseling juga senantiasa bekerjasama dengan guru mata pelajar, sebagai contoh dengan guru mata pelajaran IPS. Kerjasama dengan guru IPS yaitu mengenai Sekolah Siaga Kependudukan (SSK). SSK merupakan rujukan dari mata pelajaran IPS yang dikolaborasikan dengan guru BK. Diharapkan dengan adanya SSK mampu mengetahui kultur dari setiap siswa-siswi di SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon. Selain itu juga guru BK senantiasa mengajak siswa untuk mencintai kearifan lokal dengan cara mengunjungi situs kesenian dan ikut andil dalam pelestariannya, seperti halnya

(13)

yang pernah dilakukan sekolah SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon yaitu belajar membuat batik di daerah Trusmi.

Masalah yang banyak dihadapi oleh BK di SMP Negeri 2 Sumber adalah mengenai motivasi belajar siswa. Namun semua itu bukan menjadi penyemangat tersendiri untuk berupaya semaksimal mungkin. Guru BK selalu mempunyai strategi handal untuk mengatasi masalah tersebut. Berikut hasil wawancara dengan Mae (49 tahun) selaku koordinator guru BK ketika ditemui di ruang kerjanya pada tanggal 28 februari 2018, beliau mengatakan bahwa:

“Strategi mengenai motivasi yaitu pendekatan melalui wali kelas.

Karena adanya kultur yang berbeda, maka harus dicari komponen yang menyebabkan anak malas, yang paling dominan yaitu kerjasama dengan orang tuanya melalui media telefon ataupun memberikan surat supaya orang tuanya bersedia datang ke sekolah. Dengan adanya kedekatan dengan orang tua maka semuanya akan berjalan dengan semestinya. Selain itu, harus adanya Sekolah Siaga Kependudukan (SSK), karena pada lembar tersebut banyak faktor yang harus diisi, rujukan dari mata pelajaran IPS dikolaborasikan dengan BK.”

Berikut ini adalah gambar proses wawancara dengan Mae (49 tahun) sebagai pendukung penelitian.

Gambar 4.6 Proses wawancara dengan Mae (49 tahun) Berdasarkan hasil wawancara di atas penulis dapat menyatakan bahwa guru BK memiliki peranan khusus dalam pembentukan karakter siswa. Dengan adanya guru BK setidaknya mampu meminimalisir terjadinya hal-hal yang tidak inginkan, di samping itu juga sedikit meringankan tugas wali kelas dan wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.

(14)

3. Nilai Karakter yang Dikembangkan

Tujuan dari adanya lembaga pendidikan salah satunya adalah untuk membentuk karakter siswa. Karakter menjadi pembeda antara anak yang bersekolah dan tidak bersekolah. Dengan karakter yang dimiliki siswa, sekolah berharap adanya tanggung jawab akan diri sendiri dalam menjaga nama baik keluarga, bangsa, dan negara.

Sekolah selalu berupaya untuk membentuk karakter dalam diri siswa, salah satunya yaitu dengan berinovasi membuat program-program yang mendukung. Berhasil tidaknya suatu rogram sekolah dilihat dari seberapa keseriusan guru-gurunya dalam melaksanakan program yang ada.

Karena sekalipun program sudah bagus tapi guru-gurunya tidak berkontribusi maka akan menghasilkan nilai nol. Guru adalah roda yang selalu berputar dalam mendidik siswanya.

Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan penulis di SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon, terdapat banyak sekali program sekolah yang mendukung dalam pembentukan karakter siswa dan pastinya berhubungan dengan pembelajaran IPS berbasis kearifan lokal. Nilai-nilai di bawah ini merupakan hasil dari penelitian penulis, dan sebelumnya pernah dibahas dibagian atas dalam program sekolah. Berikut adalah nilai karakter yang dikembangkan di SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon:

1) Religius

Nilai karakter religius dimunculkan dari program sekolah yang terkait dengan keagamaan. Program keagamaan seperti membaca al- qur’an setiap pagi dan gerakan shalat dhuha dan dzuhur berjama’ah.

Ini sesuai dengan pernyataan wakil kepala sekolah bidang kurikulum ketika diwawancarai oleh penulis. Berikut pernyataannya:

“Baca al-qur’an setiap pagi sebelum pelajaran dimulai, setiap kelas anak-anak membaca al-qur’an, biasanya sebanyak 20 ayat diharapkan anak mempunyai karakter keagamaan dan ketauhidan...”(Ady (51 tahun), 24 februari 2018).

(15)

2) Disiplin

Setiap program sekolah pastinya memiliki tujuan untuk membentuk karakter disiplin. Berdasakan penelitian penulis, menyimpulkan bahwa semua program di SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon berupaya membentuk karakter disiplin.

3) Nasionalis

Karakter nasionalis/ cinta tanah air tercermin dalam program pembiasaan menyanyikan lagu Indonesia raya setiap pagi sebelum pembelajaran berlangsung, selain itu pula yaitu kegiatan upacara yang dilaksanakan oleh SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon.

4) Gemar membaca

Karakter gemar membaca dimunculkan dalam program literasi dan readhaton. Ketika kita berkeliling di sekitar SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon maka kita akan banyak menemukan lorong baca yang dipenuhi buku-buku fiksi.

5) Peduli lingkungan

Karakter peduli lingkungan muncul dari program lingkungan hidup.

Penulis melihat sendiri ketika melakukan observasi, dan ini pun dibenarkan oleh koordinator program LH.

Berikut hasil wawancara dengan Sr (55 tahun):

“Untuk LH ada nilai karakter disiplin, peduli lingkungan yang tercermin pada setiap jum’at dan sabtu bersih adanya pemunculan karakter anak-anak untuk peduli lingkungan.” (28 februari 2018).

(16)

Gambar 4.7 Proses wawancara dengan Sr (55 tahun) 6) Tanggung jawab

Semua program sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler di SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon mengajarkan tentang tanggung jawab. Berdasarkan observasi penulis, ini terlihat dari murid-murid dari setiap kelasnya yang senantiasa menjaga kebersihan untuk penilaian K4.

7) Gotong royong

Gotong royong tercermin dari setiap program sekolah yang mengharuskan bekerjasama. Berdasarkan observasi penulis, karakter ini terlihat ketika siswa melakukan jum’at bersih dan sabtu bersih.

Nilai karakter yang dikembangkan di SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon sangatlah banyak. Penulis mampu menuliskan dari tujuh nilai karakter tersebut dikarenakan adanya proses wawancara dengan pihak yang bersangkutan dan sebelumnya diadakan observasi di lingkungan sekolah. Berdasarkan observasi kita mampu membaca setiap gerak-gerik kegiatan yang berlangsung.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut penulis berpendapat bahwasannya setiap program sekolah memiliki nilai-nilai karakter tersendiri yang dikembangkan. Nilai karakter yang ada sudah cukup bagus, tinggal

(17)

bagaimana semua elemen untuk terus berintegrasi dalam menjaga supaya nilai tersebut tetap muncul. Semoga dengan adanya nilai-nilai tersebut mampu mengikis penurunan moral yang senantiasa menghantui generasi penerus bangsa. Penulis berharap supaya SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon selalu berinovasi untuk lebih baik dan senantiasa menjadi yang unggul dikancah nasional.

C. Model Pembelajaran IPS Berbasis Kearifan Lokal dalam Pembentukan Karakter Siswa

Gambaran mengenai model pembelajaran IPS berbasis kearifan lokal dalam pembentukan karakter siswa, penulis akan mendeskripsikannya melalui pembelajaran IPS, strategi pembelajaran IPS, dan model pembelajaran IPS berbasis kearifan lokal.

Dalam memperoleh data tentang model pembelajaran IPS berbasis kearifan lokal dalam pembentukan karakter siswa di SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon, penulis melakukan pencarian data dengan menggunakan teknik wawancara kepada guru IPS dan siswa.

1. Pembelajaran IPS

Proses belajar merupakan upaya perubahan tingkah laku. Sementara belajar sebagai suatu aktivitas mental atau psikis berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan dan menghasilkan perubahan sikap dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai dan sikap.

Pembelajaran IPS merupakan integrasi dari berbagai macam cabang ilmu-ilmu sosial dan humaniora, yaitu sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya. IPS merupakan mata pelajaran yang komplek, dinamis, dan fleksibel. IPS diperoleh secara alamiah dari kehidupan sehari- hari yang telah ada pada diri kita. Jelas, bahwa kita semua sudah belajar mengenai ke-IPS-an dari kecil. Namun itu semua tidak cukup, perlu adanya pembelajaran IPS yang formal yaitu di sekolah.

Dari banyaknya data yang diperoleh penulis dari proses penelitian menunjukkan bahwa siswa-siswi SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon

(18)

menyukai mata pelajaran IPS, banyak dari mereka beralasan bahwasannya IPS itu mata pelajaran yang menarik, menyenangkan, dan mengajarkan tentang kehidupan sekarang. Berikut hasil wawancaranya:

“IPS itu menyenangkan, apalagi dengan cara ngajar gurunya, dan dengan IPS juga kita bisa mengingat sejarah pahlawan kita jaman dahulu, bisa mengetahui dunia luar juga”, ungkap And (15 tahun) pada saat wawancara tanggal 24 februari 2018.

Berikut gambar proses wawancara dengan And (15 tahun) sebagai pendukung hasil penelitian.

Gambar 4.8 Proses wawancara And (15 tahun) siswa kelas IX

Jelas terlihat, bahwa dengan IPS siswa mampu mengetahui dunia luar, maksud di sini yaitu perkembangan yang ada di dunia luar. Dengan IPS juga siswa mampu mengetahui sejarah masa lalu negara Indonesia. Bisa dibayangkan jikalau tidak adanya IPS, bagaimana dengan generasi penerus bangsa? Mungkinkah jadi generasi yang lupa akan sejarah? Berbanggalah guru IPS Indonesia, semangat untuk mendidik anak-anak. Untuk siswa-siswi jangan minder belajar IPS, karena IPS bukan mata pelajaran yang sepele dan diremehkan seperti halnya banyak orang di luar sana.

Pada hari yang sama peneliti mewawancarai salah seorang siswa yang duduk di kelas VIII Dwd (14 tahun) dia juga merespon tentang pembelajaran IPS bahwa:

“Respon saya, IPS itu menyenangkan, kita bisa belajar banyak hal ada sejarah, ekonomi, geografi, sosiologi”.

(19)

Berikut gambar proses wawancara dengan Dwd (14 tahun) sebagai pendukung hasil penelitian.

Gambar 4.9 Proses wawancara dengan Dwd (14 tahun) siswa kelas VIII Selain mereka siswa kelas VIII dan IX, peneliti juga mewawancarai salah satu siswa kelas VII Ptr (13 tahun) untuk mewakili dari banyaknya siswa kelas VII, bahwasannya menyatakan:

“Saya sangat senang belajar IPS, karena banyak ceritanya terus gurunya juga enak kalau nerangin tuh”. (24 februari 2018).

Gambar 4.10 Proses wawancara dengan Ptr (13 tahun)

Respon siswa terhadap pembelajaran cukuplah baik, walaupun tidak semuanya yang diwawancarai. Sikap dan perilaku yang dicerminkan dari masing-masisng siswa pun sangat beragam. Sikap dan perilaku muncul ketika mereka telah usai melaksanakan pembelajaran IPS. Salah satu dari mereka mengatakan:

(20)

“Sikap saya ya memperhatikan, kalau tidak mengerti ya nanya, kalau ada pertanyaan ya dijawab. Selalu jaga sikap karena banyak guru-guru yang menilai perilaku kita”, Ujar And (15 tahun).

Berdasarkan hasil wawancara yang telah diuraikan di atas, penulis dapat menyatakan bahwa mereka menyukai pembelajaran IPS karena melihat bagaimana cara mengajar gurunya. Tersampaikannya suatu materi pembelajaran dan sebisa mungkin bisa dipahami oleh siswa adalah prestasi tersendiri seorang guru dalam mengajar. Guru yang asyik senantiasa membawakan materinya dengan simple namun menarik. Dari banyak siswa, banyak yang mengatakan bahwasannya IPS itu menarik karena bisa mengal sejarah di masa lalu, dan mengenal dunia luar yang sekarang. Sikap dan perilaku dari mereka pun sangat beragam, diantaranya memperhatiakan ketika proses pembelajaran berlangsung, menjaga sikap, serta selalu menanyakan apa yang belum dipahami.

Jelas, bahwa pembelajaran IPS banyak disukai siswa-siswa SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon, dan pelajaran tersebut dapat menarik jika seorang guru dalam menyampaikan materinya menggunakan model pembelajaran yang tidak terlalu kaku supaya siswa senang dan merasa enjoy dalam belajar. Diharapkan kedepannya senantiasa guru m

2. Strategi Pembelajaran IPS

Pendidikan tidak hanya soal wacana bagaimana membentuk anak-anak muda menjadi generasi bangsa yang berkompeten. Akan tetapi, pendidikan pula mencakup ranah praktis bagaimana proses tersebut diterapkan. Pada ranah ini, pendidikan membutuhkan stractegi dan pendekatan agar apa yang menjadi tujuan dapat dicapai dengan baik. Begitupun dengan pembelajaran IPS yang sangat komplek dan dinamis harus senantiasa memiliki strategi pembelajaran yang matang.

Lain sekolah, lain pula program. Lain guru, lain pula strategi yang digunakan dalam mengajar. Berdasarkan penelitian di SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon, strategi yang digunakan dalam proses pembelajaran IPS sangatlah beragam, tergantung siapa guru yang mengajar. Berikut hasil

(21)

wawancara dengan Ds (29 tahun) guru IPS kelas VII ketika ditemui di ruang perpustakaan pada tanggal 24 februari 2018, beliau mengatakan bahwa:

“Perencanaannya yaitu seperti yang banyak dilakukan oleh guru yang lainnya, untuk saya sendiri biasa menyiapkan RPP, menentukan model apa yang akan digunakan, dan lebih sering pada saat awal masuk memberikan motivasi, memberikan lembar kerja”.

Berikut gambar proses wawancara dengan Ds (29 tahun) sebagai pendukung hasil penelitian.

Gambar 4.11 Proses wawancara dengan Ds (29 tahun) Di hari yang sama dan tempat yang sama pula, penulis mewawancarai guru IPS kelas VIII. Beliau pribadi yang enak diajak berdiskusi. Berikut hasil wawancara dengan Skr (38 tahun):

“Perencanaan pembelajaran biasanya saya menyiapkan RPP sebelum mengajar. RPP menjadi acuan saya dalam mengajar di kelas. Menjaga semangat saya supaya lebih maksimal dalam mengajar. Selalu memotivasi anak-anak disetiap pembelajaran, dan berinovasi untuk menggunakan model yang menarik supaya siswa senang belajar IPS.”( 24 februari 2018).

(22)

Berikut gambar proses wawancara sebagai pendukung telah melakukan wawancara.

Gambar 4.12 Proses wawancara dengan Skr (38 tahun)

Berdasarkan hasil wawancara di atas, penulis dapat menyatakan bahwa strategi pembelajaran IPS berhubungan dengan perencanaan seorang guru dalam hal mengajar. Semuanya hamper sama, strategi guru yang sering dan tidak boleh lupa adalah menyiapkan RPP dan menentukan model pembelajaran yang digunakan dalam mengajar. Selain itu, guru senantiasa memotivasi siswanya supaya semakin semangat belajarnya.

3. Model Pembelajaran IPS Berbasis Kearifan Lokal

Pembelajaran berbasis kearifan lokal dapat menjadi sarana dalam penanaman dan implementasi karakter bangsa Indonesia yang baik dan benar, dengan mendidik dan mengajarkan nilai-nilai kearifan lokal budaya dalam integrasi mata pelajaran, kegiatan pembelajaran, dan teladan dalam kehidupan sehari-hari anak di masyarakat. Pembelajaran berbasis kearifan lokal penting untuk diajarkan karena unsur budaya di dalamnya mampu bertahan terhadap budaya luar.

Pembelajaran IPS berbasis kearifan lokal di sekolah bisa diaplikasikan dengan menggunakan model pembelajaran yang senantiasa mengarah dan basisnya ke dalam kearifan lokal. Untuk membentuk karakter siswa cinta akan budaya lokal dan mengamalkan nilai-nilai lokal, maka usaha yang dilakukan

(23)

oleh seorang guru itu salah satunya dengan menerapkan model atau metode pembelajaran yang mengarahkan anak agar mereka memiliki karakter cinta budaya lokal yaitu dengan cara menggunakan metode diskusi, tanya jawab, mind map, study outdoor, to head together, problem sholving, dan role playing karena dengan diterapkannya model atau metode pembelajaran tersebut dapat membangkitkan semangat siwa dalam pembelajaran IPS khususnya menumbuhkan nilai-nilai kearifan lokal. Berikut wawancara dengan Ans (43 tahun) guru IPS kelas IX ketika ditemui di ruang kerjanya pada tanggal 28 februari 2018, beliau mengatakan bahwa:

“Sebenarnya model pembelajaran itu sangatlah banyak. Lebih baik lagi seorang guru mampu berinovasi. Ibu sendiri banyak menggunakan model yang bisa membuat aktif, bisa memperbaharui diri, to head together, problem sholving, mind map. Kita juga pernah ada agenda study outdoor untuk lebih dekat dengan alam dan mengetahui sejarah, kesannya jalan-jalan namun sambil belajar. Biasanya study outdoor dilaksanakan oleh kelas IX, karena disesuaikan dengan materi yang diajarkan, dalam kegiatan tersebut diberikan LK untuk masing-masing kelompok”.

Berikut gambar proses wawancara sebagai pendukung telah melakukan wawancara.

Gambar 4.13 Proses wawancara dengan Ans (43 tahun)

Lain halnya yang dikatakan oleh Skr (38 tahun) beliau mengatakan bahwa model pembelajaran yang digunakan lebih kepada model yang

(24)

menanamkan nilai-nilai karakter, karena diharapkan mampu membentuk karakter siswa. Berikut hasil wawancaranya dengan Skr (38 tahun):

“Model pembelajaran yang digunakan lebih kepada model yang menanamkan nilai-nilai karakter. Yang sering digunakan sih diskusi, mind map, role playing. Selain itu juga, ada pembiasan setiap jam pelajaran di pagi hari yaitu menyanyikan lagu Indonesia Raya, diharapkan siswa-siswi mampu menumbuhkan karakter cinta tanah air (nasionalisme)”. (24 februari 2018).

Berdasarkan hasil wawancara di atas, penulis dapat menyatakan bahwa metode atau model yang dapat digunakan dalam pembelajaran IPS yaitu dengan menggunakan model yang menarik, memotivasi, dan menyenangkan, selain itu juga mampu menanamkan nilai-nilai karakter.

Respon siswa ketika menggunakan model pembelajaran IPS sangatlah beragam. Model yang digunakan pun berbasis kearifan seperti halnya study outdoor, selain mampu mengenalkan sejarah Indonesia zaman dahulu dengan melihat langsung peninggalan sejarahnya. Dengan adanya model study outdoor mampu mengajarkan akan pentingnya adab dalam menghargai peninggalan sejarah. Berikut pernyataan Ans (43 tahun):

“Alhamdulillah sedikit banyaknya bisa menumbuhkan nilai-nilai kearifan lokal, dan membentuk karakter, seperti halnya model pembelajaran study outdoor. Kalau anak diajak bersama untuk berbagi maka akan tercapai yang ideal. Guru harus memberi contoh yang baik agar anak mengikuti. Selama ini respon anak baik terhadap pembelajaran IPS.”( 28 februari 2018).

Berikut gambar kegiatan study outdoor sebagai pendukung telah melakukan penelitian.

Gambar 4.14 Kegiatan study outdoor

di gedung naskah linggarjati

(25)

Gambar di atas menggambarkan suasana di linggarjati. Model Study Outdoor tersebut dilaksanakan oleh seluruh kelas IX yang dipimpin oleh wali kelas masing-masing dan guru IPS kelas IX. Sebelum siswa melakukan penelitian, guru IPS memberikan lembar fortofolio kepada masing-masing kelompok supaya mereka senantiasa bekerja sesuai dengan aturan. Di samping itu mereka harus melakukan dokumentasi supaya hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.

Berdasarkan uraian di atas, penulis berpendapat bahwasannya study outdoor yaitu suatu model pembelajaran yang berkaitan dengan living values education, selain itu bisa juga masuk ke dalam model discovery learning.

Karena adanya konsep keberagaman dalam pembelajaran IPS, maka sangat cocok dengan adanya kegiatan study outdoor, namun mungkin terkendala oleh budget karena mengharuskan mengunjungi tempat yang tidak dekat yang berhubungan dengan materi IPS.

D. Faktor Pendorong dan Penghambat dalam Pelaksanaan Model Pembelajaran IPS Berbasis Kearifan Lokal dalam Pembentukan Karakter Siswa

Untuk mencapai suatu tujuan yang diharapkan tentunya ada faktor-faktor yang menjadi pendorong dan penghambat, karena untuk mencapainya tidak semudah membalikkan telapak tangan, demikian juga halnya dengan pelaksanaan model pembelajaran IPS berbasis kearifan lokal dan pembentukan karakter siswa terdapat faktor-faktor pendorong dan penghambatnya.

1. Faktor pendorong pelaksanaan model pembelajaran IPS berbasis kearifan lokal dalam pembentukan karakter siswa

Faktor pendorong merupakan salah satu komponen yang dapat melancarkan atau yang mendukung dalam pelaksanaan model pembelajaran IPS berbasis kearifan lokal dalam pembentukan karakter siswa yang dilakukan oleh guru-guru di SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon.

Menurut Skr (38 tahun) salah seorang guru IPS kelas VIII di SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon memaparkan pendapatnya:

(26)

”Yang menjadi faktor pendorong saya adalah segala sesuatunya merupakan ibadah, lelah kita menjadi amaliah kita. Mendidik siswa diibaratkan mendidik anak sendiri, baik buruknya akan dipertanggungjawabkan di akherat kelak”. (24 februari 2018).

Sama halnya yang dipaparkan oleh Ans (43 tahun):

“Faktor pendorong saya adalah motivasi untuk semangat mengajar dan bertemu dengan anak-anak, mengamalkan apa yang menjadi tanggung jawab saya sebagai seorang guru”. ( 28 februari 2018).

Dari pemaparan Skr (38 tahun) dan Ans (43 tahun) bahwa faktor pendorong dari pelaksanaan model pembelajaran IPS yaitu kembali kepada diri sendiri, motivasi diri, semangat untuk mengajar dan rasa tanggung jawab dalam mengemban amanah sebagai seorang pendidik. Faktor pendorong menjadi pembangkit semangat supaya apa yang menjadi tujuan tercapai dengan yang diharapkan.

Lain halnya dengan Sr (55 tahun) selaku koordinator ekskul LH beliau mengatakan bahwa faktor pendorong dalam pelaksanaan suatu model maupun program sekolah adalah keinginan untuk setara dengan sekolah-sekolah elit dan menjadi lebih baik.

Berikut hasil wawancara dengan Sr (55 tahun):

“Setiap apa yang kita lakukan pasti adanya faktor pendorong. Faktor Pendorong tersebut adalah:

a) Kesadaran diri sendiri untuk berubah menjadi lebih baik b) Rasa tanggung jawab yang diamanahkan sekolah

c) Keinginan untuk setara dengan sekolah-sekolah elit di luar sana”. (28 februari 2018).

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, penulis dapat menyatakan bahwa faktor pendorong dari pelaksanaan model pembelajaran IPS berbasis kearifan lokal dalam pembentukan karakter siswa ada dua faktor yaitu:

1) Faktor internal yaitu faktor yang ada pada diri individu untuk melakukan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Faktor internal sangatlah berpengaruh, karena tanpa adanya kemauan dan kesadaran pada diri seseorang maka hasilnya nol sekalipun sudah dimotivasi oleh orang lain.

(27)

Maka dari itu faktor internal sangatlah penting dalam mendorong suatu perubahan yang lebih baik.

2) Faktor eksternal yaitu faktor yang ada di luar diri individu, seperti motivasi dari orang lain, ketika seseorang mendapatkan motivasi dari orang lain maka dirinya akan mendapatkan energy yang positif untuk bangkit dan bergerak lebih maju.

2. Faktor penghambat pelaksanaan model pembelajaran IPS berbasis kearifan lokal dalam pembentukan karakter siswa

Faktor penghambat merupakan salah satu komponen yang dapat menghalangi atau menghambat dalam pelaksanaan model pembelajaran IPS berbasis kearifan lokal dalam pembentukan karakter siswa yang dilakukan oleh guru-guru di SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon.

Berikut hasil wawancara dengan Skr (38 tahun):

“………sedangkan untuk faktor penghambatnya yaitu kurangnya motivasi siswa, dan judge sekolah pada kelas tertentu mampu menurunkan semangat siswa”. (24 februari 2018).

Senada dengan yang diungkapkan Skr (38 tahun), Ans (43 tahun) menyatakan:

“…..faktor penghambatnya yaitu kondisi anak yang beranekaragam”. (28 februari 2018).

Sama halnya dengan Sr (55 tahun) ketika ditemui di ruang guru, menyatakan bahwa:

“Yang menjadi faktor penghambat yaitu banyak dari guru-guru yang bermalasan, dan kurangnya motivasi siswa”. (28 februari 2018).

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan oleh penulis jelas bahwa faktor-faktor yang menjadi penghambat dalam pelaksanaan model pembelajaran IPS berbasis kearifan lokal dalam pembentukan karakter siswa yaitu adanya pengaruh dari internal maupun eksternal. Untuk pengaruh internal misalnya guru yang bermalas-malasan, sedangkan pengaruh eksternal misalnya yaitu lingkungan yang tidak mendukung, kurangnya motivasi siswa.

(28)

Lingkungan yang tidak mendukung akan menjadi penghambat dalam pelaksanaan model tersebut.

E. Pembahasan

Berdasarkan data-data yang telah diuraikan di atas bahwa model pembelajaran IPS berbasis kearifan lokal dalam pembentukan karakter siswa merupakan salah satu topik yang hangat untuk dibahas, dikarenakan era global yang semakin menggerus era lokal mengharuskan para ilmuwan untuk melakukan inovasi sopaya lokalitas tetap terjaga. Penulis melakukan penelitian di salah satu sekolah yang berada di Kabupaten Cirebon yaitu tepatnya di SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon yang beralamatkan di Jalan Pangeran Kejaksan Babakan Sumber Kabupaten Cirebon. Model pembelajaran berbasis kearifan lokal merupakan suatu model yang mampu menerapkan nilai-nilai kearifan dan senantiasa nilai tersebut membantu dalam proses pembentukan karakter siswa.

Dengan adanya model pembelajaran berbasis kearifan lokal setidaknya mampu membantu carut marutnya pendidikan Indonesia yang semakin merosot dalam segi moral peserta didiknya.

1. Program Sekolah dalam Upaya Pembentukan Karakter Siswa melalui Model Pembelajaran IPS Berbasis Kearifan Lokal.

Hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh penulis, bahwa banyak program sekolah yang bertujuan untuk membentuk karakter siswa.

Banyak program sekolah yang berupaya membentuk karakter sekolah. Dengan berbagai model yang dilakukan dalam pelaksanaan program sekolah sangatlah mendukung keberhasilan suatu sekolah. Program sekolah dilihat dari seberapa kontribusinya dalam mendukung cita-cita sekolah, dan seberapa besar nilai- nilai karakter yang dikembangkan.

Berikut hasil wawancara dengan wakil kepala sekolah bidang kurikulum Ady (51 tahun):

“Karakter siswa-siswi di SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon sangat beranekaragam, seperti halnya peduli lingkungan, gotong royong, cinta tanah air dan lain sebagainya. Semuanya tercermin ketika mereka berada di dalam kelas dan mengikuti kegiatan di sekolah. Nilai

(29)

karakter yang dikembangkan di sekolah yaitu agamis, nasionalis cinta tanah air, peduli lingkungan, gotong royong.” (24 februari 2018).

Hal ini sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh Komalasari, dkk (2017: 11), sebagai berikut:

Lima nilai utama karakter yang saling berkaitan membentuk jejaring nilai yang perlu dikembangkan, diantaranya:

1) Religius

Nilai karakter religius mencerminkan keberimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang diwujudkan dalam perilaku melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah dan kepercayaan lain.

Hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain. Subnilai religius:

cinta damai, toleransi, persahabatan, antibuli dan kekerasan.

2) Nasionalis

Nilai karakter nasionalis merupakan cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Subnilai nasionalis: rela berkorban, unggul, berprestasi, taat hukum, menghormati keberagaman, budaya, suku, dan agama.

3) Mandiri

Nilai karakter mandiri merupakan sikap dan perilaku tidak bergantung pada orang lain dan mempergunakan segala tenaga, pikiran, dan waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi, dan cita-cita. Subnilai mandiri: etos kerja, professional, kreatif, keberanian, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.

4) Gotong royong

Nilai karakter gotong royong mencerminkan tindakan menghargai semangat kerja sama dan bahu membahu menyelesaikan persoalan

(30)

bersama, menjalin komunikasi dan persahabatan. Subnilai gotong royong:

menghargai kerja sama, inklusif, musyawarah mufakat, solidaritas, empati, anti kekerasan, dan kerelawanan.

5) Integritas

Nilai karakter integritas merupakan nilai yang mendasari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaan dan moral. Subnilai integritas:

kejujuran, cinta pada kebenaran, anti korupsi, keadilan, dan tanggung jawab.

2. Model Pembelajaran IPS Berbasis Kearifan Lokal dalam Pembentukan Karakter Siswa

Pelaksanaan pembelajaran sangatlah dipengaruhi oleh inovasi penggunaan model pembelajaran. Semakin menarik guru mengaplikasikan model pembelajaran maka semakin menarik siswa-siswi dalam belajar. Model pembelajaran IPS sangatlah beragam, dan keberagaman itu yang membuat pembelajaran IPS menjadi semakin menarik.

Hasil observasi dan wawancara yang dilakukan penulis bahwa model pembelajaran IPS di SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon lumayan banyak. Dari banyaknya model pembelajaran IPS banyak diantaranya berbasis kearifan lokal dan mendukung nilai-nilai kehidupan yang ada di sekolah tersebut. Semua model pembelajaran IPS yang dilakukan pun sangatlah mendukung terhadap pembentukan karakter siswa.

Berikut hasil wawancara dengan guru IPS SMP negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon Skr (38 tahun) :

“Model pembelajaran yang digunakan lebih kepada model yang menanamkan nilai-nilai karakter. Yang sering digunakan sih diskusi, mind map, role playing. Selain itu juga, ada pembiasan setiap jam pelajaran di pagi hari yaitu menyanyikan lagu Indonesia Raya, diharapkan siswa-siswi mampu menumbuhkan karakter cinta tanah air (nasionalisme)”. (24 februari 2018).

(31)

Model yang digunakan di SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon sedikit banyaknya menggunakan model peneladanan atau pembiasaan yang dilakukan setiap harinya. Karena dengan model tersebut mampu menumbuhkan karakter pada diri siswa. Hal ini sesuai dengan teori yang diungkap oleh Komalasari, dkk, 2017: 145, sebagai berikut:

Model pembelajaran living values education memiliki prinsip yang meliputi kegiatan : 1) butir-butir refleksi; 2) berimajinasi; 3) latihan refleksi/focus; 4) ekspresi seni; 5) aktivitas pengembangan diri; 6) kesadaran kognitif tentang keadilan sosial; dan 7) memasukkan nilai-nilai dalam budaya.

Contoh model yang dikembangkan adalah klarifikasi nilai, pembelajaran berbuat (aksi) dan pembelajaran berbasis budaya. (Komalasari, dkk, 2017:

145).

Model pembelajaran berbasis kearifan lokal dapat menjadi sarana dalam penanaman dan implementasi karakter bangsa Indonesia yang baik dan benar dengan mendidik dan mengajarkan nilai-nilai kearifan lokal budaya dalam integrasi mata pelajaran, kegiatan pembelajaran, dan teladan dalam kehidupan sehari-hari anak di masyarakat. Dalam pelaksanaannya harus berkesinambungan dan seirama, saling berkaitan satu sama lain untuk terjalinnya suatu kerjasama. Dengan ini diperlukannya model yang senantiasa bisa mengatasi semua itu.

Berikut wawancara dengan Ans (43 tahun) guru IPS kelas IX ketika ditemui di ruang kerjanya pada tanggal 28 februari 2018, beliau mengatakan bahwa:

“Sebenarnya model pembelajaran itu sangatlah banyak. Lebih baik lagi seorang guru mampu berinovasi. Ibu sendiri banyak menggunakan model yang bisa membuat aktif, bisa memperbaharui diri, to head together, problem sholving, mind map. Kita juga pernah ada agenda study outdoor untuk lebih dekat dengan alam dan mengetahui sejarah, kesannya jalan-jalan namun sambil belajar. Biasanya study outdoor dilaksanakan oleh kelas IX, karena disesuaikan dengan materi yang diajarkan, dalam kegiatan tersebut diberikan LK untuk masing-masing kelompok”.

(32)

Dari sekian banyaknya model yang digunakan di SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon dalam pembelajaran IPS adalah model kooperatif. Dengan model tersebut mampu menjalin kerjasama antar budaya yang berbeda dan semakin membentuk karakter siswa. Hal ini sesuai dengan teori Johnson, Johnson, & Holubec, 2002:

In order to achieve these outcomes in educational organizations, cooperative learning must be used for the majority of the time. Cooperative learning is the instructional use of small group so that student work together to maximize their own and each other’s learning (Johnson, Johnson, & Holubec, 2002).

Artinya:

“Untuk mencapai hasil ini dalam organisasi pendidikan, pembelajaran kooperatif harus digunakan untuk sebagian besar waktu. Pembelajaran kooperatif adalah penggunaan instruksional dari kelompok kecil sehingga siswa bekerja sama untuk memaksimalkan pembelajaran mereka sendiri dan satu sama lain (Johnson, Johnson, & Holubec, 2002).

Dapat disimpulkan bahwasannya model pembelajaran berbasis kearifan lokal yang digunakan di SMP Negeri 2 Sumber Kabupaten Cirebon yaitu model living values education, terpadu, dan kooperatif.

3. Faktor Pendorong dan Penghambat dalam Pelaksanaan Model Pembelajaran IPS Berbasis Kearifan Lokal dalam Pembentukan Karakter Siswa

Untuk mencapai suatu tujuan yang diharapkan tentunya ada faktor- faktor yang menjadi pendorong dan penghambat, karena untuk mencapainya tidak semudah membalikkan telapak tangan, demikian juga halnya dengan pelaksanaan model pembelajaran IPS berbasis kearifan lokal dan pembentukan karakter siswa terdapat faktor-faktor pendorong dan penghambatnya.

Hasil observasi dan wawancara yang dilakukan penulis bahwa pelaksanaan model pembelajaran IPS berbasis kearifan lokal dalam pembentukan karakter siswa terdapat banyak faktor pendorong. Faktor pendorong sangatlah mendukung keberhasilan suatu tujuan yang ingin dicapai.

(33)

Berhasil tidaknya suatu model pembelajaran bisa dilihat dari output yang dihasilkan, jika lebih baik dan ada perubahan perilaku pada diri siswa maka bisa dikatakan berhasil, jikalau belum ada perubahan maka belum berhasil.

Berikut hasil wawancara dengan Sr (55 tahun):

“Setiap apa yang kita lakukan pasti adanya faktor pendorong. Faktor Pendorong tersebut adalah:

a) Kesadaran diri sendiri untuk berubah menjadi lebih baik b) Rasa tanggung jawab yang diamanahkan sekolah

c) Keinginan untuk setara dengan sekolah-sekolah elit di luar sana”.

(28 februari 2018).

Selain faktor yang menjadi pendorong ada juga faktor yang menghambat pelaksanaan model pembelajaran IPS berbasis kearifan lokal dalam pembentukan karakter siswa. Salah satunya pengaruh dari semangat guru dalam mengajar dan motivasi siwa yang kurang.

Berikut hasil wawancara dengan Skr (38 tahun):

“………sedangkan untuk faktor penghambatnya yaitu kurangnya motivasi siswa, dan judge sekolah pada kelas tertentu mampu menurunkan semangat siswa”. (24 februari 2018).

Hal ini sesuai dengan teori yang diungkap oleh Gunawan (2017: 19- 22), sebagai berikut:

Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi karakter manusia. Dari sekian banyak faktor tersebut, para ahli menggolongkan ke dalam dua bagian, yaitu faktor intern dan faktor ekstern.

1) Faktor Internal

Terdapat banyak hal yang mempengaruhi faktor internal ini, diantaranya adalah:

a) Insting atau Naluri

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Departemen Pendidikan Nasional: 2013), insting merupakan pola tingkah laku yang bersifat turun-temurun yg dibawa sejak lahir, dan bisa disebut juga sebagai naluri. Sedangkan menurut Amin (Gunawan, 2017: 19) mengungkapkan bahwasannya insting adalah suatu sifat yang dapat

(34)

menumbuhkan perbuatan yang menyampaikan pada tujuan dengan berfikir lebih dahulu ke arah tujuan itu dan tidak didahului latihan perbuatan itu.

Pengaruh naluri pada diri seseorang sangat tergantung pada penyalurannya. Naluri (insting) dapat menjerumuskan manusia pada kehinaan, tetapi juga dapat mengangkat kepada derajat yang tinggi, jika naluri disalurkan kepada hal yang baik dengan tuntunan kebenaran.

b) Adat atau Kebiasaan (Habit)

Salah satu faktor penting dalam tingkah laku manusia adalah kebiasaan, karena sikap dan perilaku yang menjadi akhlak (karakter) sangat erat sekali dengan kebiasaan, yang dimaksud dengan kebiasaan adalah perbuatan yang selalu diulang-ulang sehingga mudah untuk dikerjakan (Gunawan, 2017: 20).

c) Kehendak atau Kemauan (Iradah)

Salah satu kekuatan yang berlindung dibalik tingkah laku adalah kehendak atau kemauan keras. Itulah yang menggerakkan dan merupakan kekuatan yang mendorong manusia dengan sungguh- sungguh untuk berperilaku (berakhlak), sebab dari kehendak itulah menjelma suatu niat yang baik dan buruk dan tanpa kemauan pula semua ide, keyakinan, kepercayaan pengetahuan menjadi pasif tidak akan ada artinya atau pengaruhnya bagi kehidupan.

d) Suara Batin atau Suara Hati

Suara batin berfungsi memperingatkan bahayanya perbuatan buruk dan berusaha untuk mencegahnya, di samping dorongan untuk melakukan perbuatan baik. Suara batin dapat terus dididik dan dituntun akan menaiki jenjang keuatan rohani.

e) Keturunan

Keturunan merupakan suatu faktor yang dapat mempengaruhi perbuatan manusia. Dalam kehidupan kita dapat melihat anak-anak yang berperilaku menyerupai orang tuanya bahkan nenek moyangnya,

(35)

sekalipun sudah jauh. Sifat yang diturunkan itu pada garis besarnya ada dua macam yaitu:

(1) Sifat jasmaniyah, yakni kekuatan dan kelemahan otot-otot dan urat saraf orang tua yang dapat diwariskan kepada anaknya.

(2) Sifat ruhaniah, yakni lemah dan kuatnya suatu naluri dapat diturunkan pula oleh orang tua yang kelak mempengaruhi perilaku anak cucunya.

2) Faktor Eksternal

Selain faktor internal yang dapat mempengaruhi karakter, juga terdapat faktor eksternal diantaranya adalah sebagai berikut:

a) Pendidikan

Berdasarkan UU No. 20 Tahun 2003 (SISDIKNAS, 2003) menerangkan :”pendidikan adalah usaha sadar dan terencamna untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara”.

Masdudi (2014: 1) menyatakan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan orang dewasa kepada mereka yang dianggap belum dewasa. Pendidikan adalah tranformasi ilmu pengetahuan, budaya, sekaligus nilai-nilai yang berkembang pada suatu generasi agar dapat ditransformasi kepada generasi berikutnya.

Betapa pentingnya faktor pendidikan itu, karena naluri yang terdapat pada seseorang dapat ibangun dengan baik dan terarah. Oleh karena itu, pendidikan agama perlu dimanifestasikan melalui berbagai media baik pendidikan formal di sekolah, pendidikan informal di lingkungan keluarga, dan pendidikan non formal yang ada pada masyarakat.

(36)

b) Lingkungan

Lingkungan adalah suatu yang melingkungi suatu tubuh yang hidup, seperti tumbuh-tumbuhan, keadaan tanah, udara, dan pergaulan.

Manusia hidup selalu berhubungan dengan manusia lainnya atau juga dengan alam sekitar. Itulah sebabnya manusia harus bergaul dan dalam pergaulan itu saling mempengaruhi pikiran, sifat, dan tingkah laku.

Adapun lingkungan dibagi ke dalam dua bagian, yaitu:

(1) Lingkungan yang bersifat kebendaan

Alam yang melingkungi manusia merupakan faktor yang mempengaruhi dan menentukan tingkah laku manusia. Lingkungan alam ini dapat mematahkan atau mematangkan pertumbuhan bakat yang dibawa seseorang.

(2) Lingkungan pergaulan yang bersifat kerohanian

Seorang yang hidup dalam lingkungan yang baik secara langsung atau tidak langsung dapat membentuk kepribadiannya menjadi baik, begitu pula sebaliknya seseorang yang hidup dalam lingkungan kurang mendukung dalam pembentukan akhlaknya maka setidaknya dia akan terpengaruh lingkungan tersebut.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian Febrianty (2013) yang menyimpulkan bahwa Mayoritas penduduk Indonesia hanya mengenyam pendidikan tertinggi setingkat SD.Hal ini berkorelasi dengan kondisi ketenagakerjaan

Lembaran plastik yang reject digiling sendiri-sendiri dan tidak digabung dengan skeleton (aval) atau produk gelas plastik reject agar pada proses mixing mudah untuk

Furthermore, the research results from Hall (2008) indicate that comprehensive PMS is indirectly associated with managerial performance through dimensions of

“Analisis rasio adalah menyederhanakan informasi yang menggambarkan hubungan antara pos tertentu dengan pos lainnya.” Analisis rasio merupakan bentuk atau cara umum yang

Namun selain faktor kemampuan pegawai pun perlu dipehatikan motivasi kerjanya dimana motivasi kerja yang tinggi akan menciptkan kinerja yang superior dimana hal

Ringkasan Hasil dari Anova Two-Way yang Menunjukkan Interaksi antara Konsentrasi dan Lama Pemaparan terhadap Kerusakan Jaringan Insang Ikan Mujair.. ( Oreochromis mossambicus )

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Terapi Naratif dalam Menumbuhkan Motivasi Belajar Pada Seorang Mahasiswa Putus Asa Menyelesaikan Tugas Akhir di

Seperti halnya subjek 9, faktor yang mempengaruhi motivasi kerja subjek 10 menurut peneliti adalah faktor kebijakan perusahaan dan kondisi mental karyawan itu