2. LANDASAN TEORI
2.1. Pajak Penghasilan menurut UU No. 36 Tahun 2008
Pajak penghasilan adalah pajak yang dikenakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam satu tahun pajak seteleh dikurangi dengan biaya yang diperkenankan di dalam UU No. 36 Tahun 2008. Subyek yang dituju oleh Undang-Undang perpajakan untuk dikenakan pajak adalah orang pribadi, warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak, badan dan Bentuk Usaha Tetap (BUT). Selain itu subyek pajak dapat dibedakan menjadi dua, yaitu subyek pajak dalam negeri dan subyek pajak luar negeri.
2.1.1. Subyek Pajak Dalam Negeri
Subyek pajak dalam negeri adalah orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia atau yang berada di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia, Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia, kecuali unit tertentu dari badan Pemerintah yang memenuhi kriteria pembentukannya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan, pembiayaannya bersumber dari APBN atau APBD, penerimaannya dimasukan dalam anggaran pusat atau daerah, pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan fungsional Negara, dan Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang berhak.
2.1.2. Subyek Pajak Luar Negeri
Subyek pajak luar negeri adalah orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia, dan orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat
kedudukan di Indonesia yang dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia bukan dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia.
2.1.3. Pengecualian Subyek Pajak
Di Indonesia terdapat beberapa pihak yang tidak termasuk sebagai subyek pajak/dikecualikan dari subyek pajak, yaitu:
1. Kantor perwakilan Negara asing;
2. Pejabat-pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat-pejabat lain dari Negara asing dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersamasama mereka dengan syarat bukan warga Negara Indonesia dan di Indonesia tidak menerima atau memperoleh penghasilan di luar jabatan atau pekerjaannya tersebut serta Negara bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik;
3. Organisasi-organisasi internasional yang ditetapkan oleh Keputusan Menteri Keuangan dengan syarat:
a) Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut; dan
b) tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia selain memberikan pinjaman kepada Pemerintah yang dananya berasal dari iuran para anggota;
4. Pejabat-pejabat perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan oleh Keputusan Menteri Keuangan, dengan syarat bukan warga Negara Indonesia dan tidak menjalankan usaha, kegiatan, atau pekerjaan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia.
2.1.4. Penghasilan
UU No. 36 tahun 2008 tentang PPh mengatur bahwa yang menjadi obyek PPh adalah penghasilan. Setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apa
pun. Berikut adalah pengelompokan penghasilan berdasarkan mekanisme pengenaan PPh nya adalah sebagai berikut:
1. Penghasilan yang ketika diterima/diperoleh belum dikenakan PPh;
2. Penghasilan yang ketika diterima/diperoleh tidak dikenakan PPh (bukan obyek pajak);
3. Penghasilan yang ketika diterima/diperoleh dikenakan PPh, dan PPh tersebut bersifat Final;
4. Penghasilan yang ketika diterima/diperoleh dikenakan PPh dan dapat dikreditkan.
Pengelompokan penghasilan yang pertama adalah penghasilan yang ketika diterima/diperoleh belum dikenakan PPh. Yang dimaksud belum dikenakan PPh disini adalah penghasilan yang pada saat di terima belum dikenakan PPh, PPh akan dikenakan pada saat penghitungan diakhir tahun. Contoh dari penghasilan yang belum kena PPh adalah sebagai berikut:
a. Laba usaha dari penjualan barang dagang/penyerahan jasa;
b. Keuntungan Penjualan atau karena pengalihan, selain tanah dan bangunan:
1. Keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan, dan badan lainnya sebagai pengganti saham atau penyertaan modal;
2. Keuntungan karena pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu, atau anggota yang diperoleh perseroan, persekutuan, dan badan lainnya;
3. Keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, pengambilalihan usaha, atau reorganisasi dengan nama dan dalam bentuk apa pun;
4. Keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan, atau sumbangan, kecuali yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat dan badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara pihakpihak yang bersangkutan; dan
5. Keuntungan karena penjualan atau pengalihan sebagian atau seluruh hak penambangan, tanda turut serta dalam pembiayaan, atau permodalan dalam perusahaan pertambangan;
c. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya dan pembayaran tambahan pengembalian pajak;
d. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala;
e. Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah tertentu yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah;
f. Keuntungan selisih kurs mata uang asing;
g. Premi asuransi;
h. Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak;
i. Penghasilan dari usaha berbasis syariah;
j. Imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang mengatur mengenai ketentuan umum dan tata cara perpajakan; dan
Pengelompokan penghasilan yang kedua adalah penghasilan yang ketika diterima/diperoleh tidak dikenakan PPh ( bukan obyek PPh ). Penghasilan yang bukan obyek PPh diatur dalam UU No 36 Tahun 2008, Pasal 4 Ayat 3. Berikut adalah penghasilan-penghasilan yang tidak dikenakan PPh yaitu:
a. 1. Bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah dan yang diterima oleh penerima zakat yang berhak atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah dan yang diterima oleh penerima sumbangan yang berhak, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah; dan
2. Harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan,
sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan;
b. Warisan;
c. Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b sebagai pengganti saham atau sebagai pengganti penyertaan modal;
d. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dari Wajib Pajak atau Pemerintah, kecuali yang diberikan oleh bukan Wajib Pajak, Wajib Pajak yang dikenakan pajak secara final atau Wajib Pajak yang menggunakan norma penghitungan khusus (deemed profit) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15;
e. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa;
f. Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, badan usaha milik Negara, atau badan usaha milik daerah, dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat:
1. Dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan
2. Bagi perseroan terbatas, badan usaha milik Negara dan badan usaha milik daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah modal yang disetor;
g. Iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan Menteri Keuangan, baik yang dibayar oleh pemberi kerja maupun pegawai;
h. Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun sebagaimana dimaksud pada huruf g, dalam bidang-bidang tertentu yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan;
i. Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan,
firma, dan kongsi, termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif
j. Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa bagian laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia, dengan syarat badan pasangan usaha tersebut:
1. Merupakan perusahaan mikro, kecil, menengah, atau yang menjalankan kegiatan dalam sektor-sektor usaha yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan; dan
2. Sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia;
k. Beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan;
l. Sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan pengembangan, yang telah terdaftar pada instansi yang membidanginya, yang ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan, dalam jangka waktu paling lama 4 (empat) tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan; dan
m. Bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial kepada Wajib Pajak tertentu, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
n. Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari Wajib Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas.
Pengelompokan penghasilan yang ketiga adalah penghasilan yang ketika diterima/diperoleh dikenakan PPh, dan PPh tersebut bersifat Final. Penghasilan yang dikenakan PPh final diatur dalam UU No 36 Tahun 2008, Pasal 4 Ayat 2.
Berikut adalah penghasilan-penghasilan yang dikenakan PPh Final:
a. Penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi dan surat utang Negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi;
b. Penghasilan berupa hadiah undian;
c. Penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya, transaksi derivatif yang diperdagangkan di bursa, dan transaksi penjualan saham atau pengalihan penyertaan modal pada perusahaan pasangannya yang diterima oleh perusahaan modal ventura;
d. Penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan, usaha jasa konstruksi, usaha real estate, dan persewaan tanah dan/atau bangunan; dan
e. Penghasilan tertentu lainnya,
Yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.
f. Dividen yang diterima orang pribadi;
g. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva.
Pengelompokan penghasilan yang terakhir adalah penghasilan yang ketika diterima/diperoleh dikenakan PPh dan dapat dikreditkan. Berikut adalah penghasilan-penghasilan yang dikenakan PPh dan dapat dikreditkan:
a. Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya, kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang ini;
b. Bunga sebagai bentuk imbalan karena jaminan pengembalian utang, selain bunga obligasi;
c. Dividen yang diterima oleh WP badan dengan kepemilikan dibawah 25%, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk dividen dari perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi;
d. Royalti atau imbalan atas penggunaan hak;
e. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;
f. Penjualan barang dagang pada Pemerintah.
2.1.5. Biaya
Biaya dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu: yang pertama adalah biaya yang boleh menjadi pengurang. Menurut UU no 36 Tahun 2008 mengenai besarnya Penghasilan Kena Pajak (PKP) bagi WP dalam negeri dan bentuk usaha
tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, termasuk:
a. Biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegiatan usaha, antara lain:
1. Biaya pembelian bahan;
2. Biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gaji, honorarium, bonus, gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang;
3. Bunga, sewa, dan royalti;
4. Biaya perjalanan;
5. Biaya pengolahan limbah;
6. Premi asuransi
7. Biaya promosi dan penjualan yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan;
8. Biaya administrasi; dan
9. Pajak kecuali pajak penghasilan;
b. Penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 dan Pasal 11A;
c. Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan;
d. Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan digunakan dalam perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan;
e. Kerugian selisih kurs mata uang asing;
f. Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia;
g. Biaya beasiswa, magang, dan pelatihan;
h. Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dengan syarat:
1. Telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial;
2. Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih kepada Direktorat Jenderal Pajak; dan
3. Telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau instansi Pemerintah yang menangani piutang Negara; atau adanya perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur yang bersangkutan; atau telah dipublikasikan dalam penerbitan umum atau khusus; atau adanya pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah dihapuskan untuk jumlah utang tertentu;
4. Syarat sebagaimana dimaksud pada angka 3 tidak berlaku untuk penghapusan piutang tak tertagih debitur kecil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf k;
yang pelaksanaannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan;
i. Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah;
j. Sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan yang dilakukan di Indonesia yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah;
k. Biaya pembangunan infrastruktur sosial yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah;
l. Sumbangan fasilitas pendidikan yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah; dan
m. Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Apabila penghasilan bruto setelah pengurangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didapat kerugian, kerugian tersebut dikompensasikan dengan penghasilan mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut sampai dengan 5 (lima) tahun.
Kemudian kelompok biaya yang kedua adalah biaya-biaya yang tidak diperkenankan sebagai pengurang adalah sebagai berikut:
a. Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti dividen, termasuk dividen yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi;
b. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang saham, sekutu, atau anggota;
c. Pembentukan atau pemupukan dana cadangan, kecuali:
1. Cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha lain yang menyalurkan kredit, sewa guna usaha dengan hak opsi, perusahaan pembiayaan konsumen, dan perusahaan anjak piutang;
2. Cadangan untuk usaha asuransi termasuk cadangan bantuan sosial yang dibentuk oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial;
3. Cadangan penjaminan untuk Lembaga Penjamin Simpanan;
4. Cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan;
5. Cadangan biaya penanaman kembali untuk usaha kehutanan; dan
6. Cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan limbah industri untuk usaha pengolahan limbah industri, yang ketentuan dan syarat-syaratnya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan;
d. Premi asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa, yang dibayar oleh Wajib Pajak orang pribadi, kecuali jika dibayar oleh pemberi kerja dan premi tersebut dihitung sebagai penghasilan bagi Wajib Pajak yang bersangkutan;
e. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan, kecuali penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai serta penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan di daerah tertentu dan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan;
f. Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham atau kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan;
g. Harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b, kecuali sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf i sampai dengan huruf m serta zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima
oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah;
h. Pajak penghasilan;
i. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi Wajib Pajak atau orang yang menjadi tanggungannya;
j. Gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma, atau perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham;
k. Sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi pidana berupa denda yang berkenaan dengan pelaksanaan perundangundangan di bidang perpajakan.
Pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun tidak dibolehkan untuk dibebankan sekaligus, melainkan dibebankan melalui penyusutan atau amortisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 atau Pasal 11A.
Kelompok biaya yang ketiga adalah kelompok biaya terkait dengan penghasilan yang dikenakan PPh Final dan penghasilan yang bukan obyek pajak.
Biaya-biaya tersebut pada awalnya masuk dalam kelompok biaya pertama yaitu biaya yang boleh jadi pengurang, tetapi apabila penghasilan tersebut sudah dikenakan PPh Final maka biaya-biaya yang berkaitkan tidak boleh dijadikan pengurang. Begitu pula yang berlakunya pada penghasilan yang bukan obyek pajak, dikarenakan penghasilannya buka obyek pajak maka biaya-biaya yang terkait juga tidak boleh dijadikan pengurang.
2.1.6. Prinsip Taxable–Deductible
Di Indonesia berlaku prinsip taxable-deductible, prinsip ini bertujuan untuk mencegah dikenakannya pajak berganda atas penghasilan yang sama.
Perlakuan taxable-deductible ini dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi penghasilan dan dari sisi biaya. Pertama apabila dilihat dari sisi penghasilan, berikut ini adalah jenis penghasilan yang dikenakan pajak:
a. penghasilan yang ketika diterima/diperoleh belum dikenakan PPh;
b. penghasilan yang ketika diterima/diperoleh dikenakan PPh, dan PPh tersebut bersifat Final, maupun;
c. penghasilan yang ketika diterima/diperoleh dikenakan PPh dan dapat dikreditkan.
Ketiga jenis penghasilan di atas merupakan penghasilan yang dikenakan pajak bagi pihak yang menerima penghasilan, dan merupakan biaya yang dapat dijadikan sebagai biaya pengurang penghasilan bruto bagi pihak yang memberikan penghasilan tersebut. Kecuali apabila penghasilan tersebut termasuk sebagai biaya yang tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto yang diatur di dalam pasal 9, maka bagi pihak pemberi penghasilan tersebut tidak dapat menjadikan sebagai biaya pengurang penghasilan bruto. Contoh penghasilan yang dikenakan pajak (taxable) dan biaya yang dapat dijadikan sebagai biaya pengurang adalah premi asuransi yang dibayarkan oleh pemberi kerja. Di dalam UU No. 36 Tahun 2008 pasal 4 ayat (1) huruf n dijelaskan bahwa premi asuransi merupakan obyek pajak penghasilan sehingga apabila pemberi kerja membayarkan premi asuransi untuk karyawan maka besarnya premi asuransi yang dibayarkan akan menjadi tambahan penghasilan yang dikenakan pajak bagi karyawan. Kemudian berdasarkan pasal 6 ayat (1) huruf a angka 6 atas biaya tersebut dapat dijadikan sebagai biaya pengurang penghasilan bruto bagi pihak yang memberikan. Ketentuan ini juga terdapat pada pasal 9 ayat (1) huruf d.
Selanjutnya apabila kita melihat dari sisi biaya, atas biaya yang secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan kegiatan usaha dapat dijadikan sebagai biaya pengurang, karena atas biaya tersebut merupakan biaya yang ditujukan untuk memperoleh penghasilan atas usaha yang dikenakan pajak (taxable). Kecuali atas biaya tersebut merupakan biaya untuk memperoleh penghasilan yang dikenakan PPh final.
2.1.7. Prinsip Non taxable–Non deductible
Selain prinsip taxable-deductible, juga berlaku prinsip non taxable-non deductible. Atas penghasilan yang ketika diterima/diperoleh tidak dikenakan PPh (bukan obyek pajak) pada pihak yang menerima, maka atas penghasilan tersebut tidak dapat dijadikan sebagai biaya pengurang penghasilan bruto untuk perhitungan pajak. Contoh penghasilan yang tidak dikenakan pajak dan tidak dapat dijadikan sebagai biaya pengurang adalah natura/kenikmatan yang diberikan
sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan dari Wajib Pajak (WP) atau Pemerintah. Wajib Pajak yang dimaksud di atas bukan merupakan Wajib Pajak (WP) yang dikenakan pajak secara final dan Wajib Pajak (WP) yang menggunakan norma perhitungan khusus. Di dalam UU No. 36 Tahun 2008 Pasal 4 ayat (3) huruf d dijelaskan bahwa natura/kenikmatan yang diterima tidak dikenakan pajak bagi pihak yang menerima. Sedangkan di dalam pasal 9 ayat (1) huruf e atas biaya pemberian natura/kenikmatan tersebut tidak dapat menjadi biaya pengurang penghasilan bagi pihak yang memberikan.
Namun tidak semua penghasilan yang tidak dikenakan PPh tidak dapat dijadikan sebagai biaya pengurang penghasilan bruto untuk perhitungan pajak.
Salah satu penghasilan yang tidak dikenakan pajak (non taxable) dan dapat dijadikan biaya pengurang (deductible) bagi pihak yang memberikan adalah sumbangan keagamaan.
2.2. Perlakuan Pajak untuk Organisasi Nirlaba di Negara Lain
Beberapa Negara mengakui bahwa organisasi nirlaba memiliki peran yang cukup penting yaitu dapat meringankan Pemerintah dalam menyediakan layanan sosial dan mengatasi persoalan sosial kemasyarakatan. Karena itu sebagai wujud dukungan terhadap organisasi nirlaba, Pemerintah di beberapa Negara memberikan apresiasi terhadap peran organisasi nirlaba, salah satunya adalah dengan memberikan fasilitas pajak melalui pengecualian obyek pajak (tax exemption) dan biaya pengurang (tax deduction). Selain itu pemberian fasilitas pajak tersebut juga secara umum didasari oleh (Abidin, Kusumastuti, & Saidi, 2007):
1. Beberapa Negara menyadari bahwa pajak tidak dapat menjadi satu-satunya instrumen yang dapat digunakan untuk melakukan pemerataan kesejahteraan sosial. Karena itulah dibutuhkan pihak ketiga, yaitu organisasi nirlaba yang dapat membantu meringankan Pemerintah dalam melaksanakan tujuan tersebut;
2. Dana donatur dapat dimanfaatkan untuk mengatasi beberapa persoalan sosial dan menyediakan layanan sosial yang tidak bisa disediakan oleh Pemerintah karena keterbatasan dana yang dimiliki oleh Pemerintah;
3. Pemerintah berusaha untuk mengarahkan/memancing dana dari individu maupun perusahaan ke bidang-bidang tertentu yang dinilai penting untuk didanai seperti pendidikan, keagamaan, pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM).
Namun dengan adanya apresiasi yang diberikan Pemerintah ini, tidak menutup kemungkinan adanya penyalahgunaan fasilitas untuk praktik-praktik komersial yang seharusnya dikenakan pajak. Karena itu kebijakan fasilitas pajak ini diatur dan diawasi secara ketat agar tidak terjadi penyalahgunaan oleh pihak- pihak yang tidak bertanggung jawab.
2.2.1. Perlakuan Pajak untuk Organisasi Nirlaba di Singapura 2.2.1.1. Perlakuan Pajak bagi Penerima Sumbangan di Singapura
Untuk mendapatkan fasilitas pajak di Singapura, organisasi nirlaba perlu terdaftar secara legal di instansi Pemerintah tertentu yang telah ditetapkan di dalam Undang-Undang yang berlaku di Singapura. Terdapat beragam bentuk legal organisasi nirlaba di Singapura, yaitu seperti society, company, charities, dan lain- lain. Setiap organisasi nirlaba akan mendaftarkan diri sesuai dengan jenis masing- masing, contohnya yaitu:
Registrar of Societies untuk society.
Registry of Companies and Businesses (RCB) untuk company.
Commisioner of Charities untuk charities.
Setiap organisasi nirlaba dalam bentuk legal apapun di Singapura harus bertujuan untuk kepentingan kesejahteraan dan kedamaian publik, selain itu semua aktivitas juga harus sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Ketentuan setiap tujuan dan aktivitas organisasi nirlaba ini dibatasi dan diatur didalam Societies Act, Internal Security Act (ISA), dan Penal Code.
Contoh fasilitas pengecualian pajak ditentukan secara berbeda sesuai dengan jenis masing-masing organisasi nirlaba. Misalnya sebelum tahun 2008 lembaga karitas (charities) harus mengabiskan 80% dana yang berasal dari sumbangan untuk tujuan karitas (charity) untuk memperoleh pengecualian pajak penghasilan. Namun setelah tahun 2008, lembaga karitas secara otomatis memperoleh pengecualian pajak penghasilan tanpa memperhatikan jumlah
presentase dana yang digunakan untuk tujuan karitas. Selain itu juga untuk klub dan asosiasi dapat memperoleh pengecualian pajak penghasilan apabila penghasilan yang diterima tidak berasal dari penghasilan investasi atau usaha.
2.2.1.2. Perlakuan Pajak bagi Pemberi Sumbangan di Singapura
Di Singapura sumbangan yang dapat dijadikan sebagai biaya pengurang hanya berupa sumbangan yang dibayarkan kepada suatu organisasi khusus yang bersifat publik/Institution for Public Character (IPC) yang memenuhi persyaratan. Untuk menjadi anggota IPC tersebut setiap organisasi nirlaba dapat mengajukan permohonan kepada Menteri Keuangan. Organisasi IPC ini berwenang untuk memberikan kuitansi atau suatu tanda bukti kepada anggotanya untuk diberikan kepada setiap donatur.
Selain itu, agar dapat dijadikan sebagai biaya pengurang, maka perlu memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Sumbangan yang diberikan berupa uang, shares, computer, artefact, tanah dan bangunan.
2. Sumbangan yang diberikan kepada organisasi nirlaba, dan kemudian apabila terdapat keadaan dimana donatur memperoleh atau menerima benefit yang memiliki nilai komersial. Maka atas sumbangan tersebut yang hanya dapat dijadikan sebagai biaya pengurang adalah selisih antara sumbangan yang diberikan dengan benefit yang diterima oleh donatur.
3. Besarnya sumbangan tidak boleh melebihi besarnya Penghasilan Kena Pajak (PKP).
4. Untuk mengklaim sumbangan sebagai biaya pengurang harus memiliki bukti kuitansi pembayaran dari IPC yang nantinya akan dilampirkan bersama dengan formulir pajak penghasilan donatur.
2.2.2. Perlakuan Pajak untuk Organisasi Nirlaba di Filipina 2.2.2.1. Perlakuan Pajak bagi Penerima Sumbangan di Filipina
Di Negara Filipina, suatu organisasi nirlaba dapat memperoleh fasilitas pengecualian obyek pajak tergantung dari sumber penghasilan yang diterima.
Salah satu penghasilan yang dikecualikan dari obyek pajak adalah penghasilan berupa sumbangan dan hibah.
Namun tentu saja untuk mendapatkan fasilitas tersebut organisasi nirlaba di Filipina harus melalui beberapa proses yaitu proses pendaftaran dan akreditasi.
Pendaftaran yang dilakukan adalah untuk memperoleh legalitas sebagai suatu organisasi nirlaba yang memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh Undang- Undang di Filipina, sedangkan proses akreditasi diatur oleh PCNC (Philippine council for NGO Certification) agar organisasi nirlaba memperoleh pengakuan resmi atas jasa-jasa suatu organisasi nirlaba yang memenuhi syarat kelembagaan yang dapat menerima fasilitas perpajakan tertentu. Setelah memperoleh akreditasi maka organisasi nirlaba di Filipina harus melaporkan permohonan kepada Bureau Internal Revenue (BIR) atau agensi Pemerintah lain yang relevan.
Apabila disetujui maka BIR/agensi Pemerintah lain yang relevan akan mengeluarkan sertifikat pengecualian. Sehingga dengan adanya sertifikat tersebut maka suatu organisasi nirlaba dapat memanfaatkan fasilitas pengecualian obyek pajak atas sumbangan/hibah yang diterima.
2.2.2.2. Perlakuan Pajak bagi Pemberi Sumbangan di Filipina
Selain dikecualikan dari obyek pajak, sumbangan dan hibah yang diberikan kepada organisasi nirlaba yang sudah memiliki sertifikat pengecualian juga dapat dijadikan sebagai biaya pengurang penghasilan bagi pemberi sumbangan. Namun agar dapat dijadikan sebagai biaya pengurang penghasilan bagi penerima sumbangan, maka organisasi nirlaba harus melakukan pengajuan kepada Bureau Internal Revenue (BIR). Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh pemberi sumbangan adalah sebagai berikut:
i. Pengurangan terbatas (limited deductibility)
Individu akan memperoleh pengurangan paling maksimal sebesar 10% dari penghasilan netto, sedangkan perusahaan akan memperoleh pengurangan paling maksimal sebesar 5% dari penghasilan netto.
ii. Pengurangan sepenuhnya (full deductibility)
Pemberi sumbangan akan memperoleh pengurangan sepenuhnya atas sumbangan yang diberikan kepada organisasi nirlaba yang telah memiliki
sertifikat pengecualian. Namun untuk memperoleh fasilitas ini maka terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu:
a. Organisasi nirlaba terakreditasi dalam jangka waktu tertentu harus langsung memanfaatkan dana tersebut untuk berbagai aktivitas aktif yang menjadi tujuan atau fungsi organisasi. Tujuan tertentu itu adalah terkait dengan: kegiatan agama, amal, ilmiah, atletik, budaya, rehabilitasi veteran, dan kesejahteraan sosial.
b. Pengeluaran-pengeluaran administrasi organisasi nirlaba yang memiliki sertifikat pengecualian tidak melebihi 30% dari total pengeluaran selama tahun pajak.
c. Ketika terjadi pembubaran organisasi, maka asset-asset yang dimiliki oleh organisasi nirlaba tersebut didistribusikan kepada organisasi nirlaba yang memiliki sertifikat pengecualian lainnya yang memiliki tujuan serupa atau diberikan kepada Negara untuk kepentingan publik.
d. Semua anggota badan pembina organisasi tidak menerima kompensasi atau gaji atas pelayanan kepada organisasi tersebut.
Agar dapat dijadikan sebagai biaya pengurang penghasilan maka organisasi nirlaba yang memiliki sertifikat pengecualian harus mengeluarkan bukti pemberian sumbangan berupa sertifikat sumbangan (sertificate of donation) yang formatnya telah ditentukan oleh Bureau Internal Revenue (BIR).
Selain itu pemberi sumbangan harus memberikan pemberitahuan (notice) yang dilampirkan dengan fotokopi sertifikat sumbangan untuk setiap sumbangan yang lebih dari jumlah tertentu kepada Revenue District Officer setempat dalam waktu 30 hari setelah penerimaan sertifikat sumbangan.
2.2.3. Perlakuan Pajak untuk Organisasi Nirlaba di Amerika Serikat 2.2.3.1. Perlakuan Pajak bagi Penerima Sumbangan di Amerika Serikat
Setiap organisasi nirlaba di Amerika Serikat harus memiliki legalitas dan diakreditasi. Walaupun legalitas dan akreditasi tidak menjamin organisasi yang bersangkutan memperoleh pengecualian pajak. Setiap organisasi nirlaba apapun di Amerika Serikat berhak untuk memperoleh status bebas pajak. Untuk memperoleh status tersebut organisasi nirlaba perlu mengajukan permintaan dan mengisi
dokumen-dokumen yang disyaratkan sesuai dengan Undang-Undang kepada Internal Revenue Service (IRS).
Suatu organisasi yang mengajukan pengecualian pajak wajib harus menyerahkan iuran dalam jumlah tertentu dan memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut:
1. Penerimaan tahunan organisasi rata-rata tidak boleh lebih dari 10.000 dolar AS. Apabila lebih dari 10.000 dolar AS maka organisasi akan dikenakan biaya iuran yang lebih besar.
2. Organisasi yang bersangkutan harus memiliki legalitas (corporation, yayasan, dana masyarakat, dan lain-lain).
3. Mengisi formulir dan menyerahkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi. Pada umunya tujuan organisasi yang dapat memenuhi kualifikasi pengecualian pajak antara lain: derma, keagamaan, pendidikan, ilmiah, sastra, dan lain-lain.
Dalam penentuan status bebas pajak, bisa saja terdapat perbedaan penafsiran atat pejabat Pemerintah dalam menafsirkan hukum, sehingga apabila pengajuan tersebut tidak disetujui oleh IRS maka dalam waktu 30 hari sejak surat tersebut dikeluarkan, organisasi dapat mengajukan peninjauan ulang kepada Biro Banding (Appeal Office).
2.2.3.2. Perlakuan Pajak bagi Pemberi Sumbangan di Amerika Serikat Pemerintah Amerika Serikat memberikan pengurangan penuh atas sumbangan yang diberikan kepada organisasi nirlaba yang memiliki status bebas pajak. Untuk membebankan pengurangan pajak bagi individu maka donatur perlu didukung dengan bukti yang paling tidak berisi mengenai tanggal, badan yang menerima, dan jumlah sumbangan yang diberikan.
Untuk sumbangan yang diberikan kepada organisasi nirlaba yang berstatus bebas pajak, dan kemudian apabila terdapat keadaan dimana donatur memperoleh atau menerima benefit yang memiliki nilai komersial. Maka atas sumbangan tersebut yang hanya dapat dijadikan sebagai biaya pengurang adalah selisih antara sumbangan yang diberikan dengan benefit yang diterima oleh donatur. Selain itu apabila jumlah donasi yang diberikan melebihi jumlah tertntu,
maka organisasi harus melaporkan dan memberikan keterangan atas sumbangan tersebut kepada Internal Revenue Service (IRS).
Sumbangan berupa peralatan rumah tangga atau pakaian yang bersifat amal yang dapat dijadikan sebagai pengurang pajak harus dalam kondisi baik atau dapat digunakan.
2.3. Perlakuan Pajak atas Sumbangan Keagamaan di Indonesia
Sumbangan keagamaan merupakan sumbangan yang diatur sebagai pengecualian obyek pajak (non taxable) dan dapat dijadikan sebagai biaya pengurang penghasilan bruto (deductible).
2.3.1. Perkembangan Perlakuan Pajak atas Sumbangan Keagamaan di Indonesia
Sebelum tahun 2009, sumbangan keagamaan diatur sebagai pengecualian obyek pajak. Namun sumbangan keagamaan yang diatur di dalam UU No.7 Tahun 2000 pasal 4 ayat (3) huruf a angka 1 hanya sumbangan keagamaan yang diberikan oleh pemeluk agama Islam, yaitu berupa zakat. Selain dikecualikan sebagai obyek pajak atas zakat juga dapat dijadikan sebagai biaya pengurang penghasilan bruto yang diatur di dalam pasal 9 ayat (1) huruf g.
Sedangkan untuk sumbangan keagamaan agama non Islam tidak diatur di dalam Undang-Undang. Sehingga atas sumbangan keagamaan yang diberikan dapat dikategorikan sebagai sumbangan umum yang diatur di dalam UU No. 7 Tahun 2000 pasal 4 ayat (3) huruf a angka 2 yang mengatur bahwa sumbangan tersebut dapat dijadikan sebagai pengecualian obyek pajak sepanjang diterima tidak dalam rangka hubungan kerja, hubungan usaha, hubungan kepemilikan, atau hubungan penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan. Berbeda dengan zakat, atas sumbangan keagamaan tersebut tidak dapat dijadikan sebagai biaya pengurang penghasilan bruto.
Melihat hal tersebut, maka setelah tahun 2009 diberlakukan UU No.36 Tahun 2008 pasal 4 ayat (3) huruf a angka 1 yang bertujuan untuk menyetarakan perlakuan pajak atas sumbangan keagamaan agama lain yang berlaku di Indonesia. Undang-Undang tersebut mengatur bahwa sumbangan keagamaan
agama lain yang berlaku di Indonesia juga dikecualikan sebagai obyek pajak dan pada pasal 9 ayat (1) huruf g atas sumbangan tersebut juga dapat dijadikan sebagai biaya pengurang penghasilan bruto.
Atas ketentuan pengecualian obyek pajak bagi pihak yang menerima sumbangan dan ketentuan sumbangan keagamaan tersebut sebagai biaya pengurang penghasilan bruto bagi pihak yang memberikan harus memenuhi beberapa syarat yang di atur lebih lanjut di dalam Peraturan Pemerintah.
2.3.2. Perlakuan Pajak bagi Penerima Sumbangan di Indonesia
Pengecualian obyek pajak atas sumbangan keagamaan terkait dengan pihak yang menerima sumbangan keagamaan tersebut. Atas sumbangan yang diterima oleh pihak tertentu tersebut tidak diperhitungkan sebagai penghasilan yang dikenakan pajak (non taxable). Atas ketentuan tersebut diperjelas dengan peraturan pelaksana yaitu PP No.18 Tahun 2009 yang menetapkan penghasilan yang diterima tersebut dapat dikecualikan sebagai obyek pajak apabila memenuhi ketentuan sebagai berikut:
1. Zakat
a. Bersifat wajib bagi pemeluk agama yang berlaku di Indonesia, sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan;
b. Disalurkan melalui badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah; dan
c. Diterima oleh penerima zakat yang berhak.
2. Sumbangan keagamaan non Islam
a. Bersifat wajib bagi pemeluk agama yang berlaku di Indonesia, sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan;
b. Disalurkan melalui lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah; dan
c. Diterima oleh penerima sumbangan yang berhak.
2.3.3. Perlakuan Pajak Bagi Pemberi Sumbangan di Indonesia
Apabila melihat dari sisi pihak yang memberikan sumbangan maka atas pemberian tersebut merupakan biaya. Atas biaya yang terjadi tersebut dapat dijadikan sebagai biaya pengurang penghasilan bruto untuk menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak (PKP). Ketentuan sumbangan keagamaan sebagai biaya pengurang tersebut diatur lebih lanjut dengan peraturan pelaksanaan di dalam PP No. 60 Tahun 2010. Peraturan tersebut menetapkan pemberian sumbangan keagamaan dapat dijadikan sebagai biaya pengurang apabila memenuhi ketentuan sebagai berikut:
1. Zakat
zakat atas penghasilan yang dibayarkan oleh Wajib Pajak orang pribadi pemeluk agama Islam dan/atau oleh Wajib Pajak badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama Islam kepada badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah; atau
2. Sumbangan keagamaan non Islam
sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi Wajib Pajak orang pribadi pemeluk agama selain agama Islam dan/atau oleh Wajib Pajak badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama selain agama Islam, yang diakui di Indonesia yang dibayarkan kepada lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah.
Kemudian atas ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembebanan zakat dan sumbangan keagamaan non Islam sebagai biaya pengurang penghasilan bruto diatur di dalam PMK No.254/PMK.03/2010, yang menekankan bahwa sumbangan keagamaan tersebut dapat dijadikan sebagai biaya pengurang penghasilan bruto apabila didukung oleh bukti-bukti yang sah sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 6/PJ/2011. Bukti pembayaran tersebut dapat berupa bukti pembayaran secara langsung atau melalui transfer rekening bank, atau pembayaran melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM), dan paling sedikit memuat:
i. Nama lengkap Wajib Pajak dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) pembayar;
ii. Jumlah pembayaran;
iii. Tanggal pembayaran;
iv. Nama Badan Amil Zakat/Lembaga Amil Zakat/lembaga yang disahkan oleh Pemerintah;
v. Tanda tangan petugas Badan Amil Zakat/Lembaga Amil Zakat atau lembaga yang disahkan oleh Pemerintah (apabila pembayaran dilakukan secara langsung);
vi. Validasi petugas bank pada bukti pembayaran apabila melalui transfer rekening bank.
2.4. Sumbangan Keagamaan Agama Islam
Ketentuan sumbangan keagamaan sebagai pengecualian obyek pajak dan biaya pengurang penghasilan bruto untuk sumbangan keagamaan yang diberikan oleh pemeluk agama Islam sudah dapat diterapkan di Indonesia. Berikut adalah penjelasan mengenai syarat-syarat yang dipenuhi terkait dengan perlakuan pajaknya:
1. Bersifat wajib
Pemberian zakat oleh pemeluk agama Islam diwajibkan di dalam Al-Quran dan diatur di dalam lima rukun islam yaitu:
a. Syahadat
Rukun Islam pertama adalah syahadat yaitu bersaksi tidak ada ilah yang berhak disembah secara hak melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.
b. Salat
Rukun Islam kedua adalah salat. salat lima waktu sehari semalam yang Allah syariatkan untuk menjadi sarana interaksi antara Allah dengan seorang muslim dimana ia bermunajat dan berdoa kepada-Nya. Juga untuk menjadi sarana pencegah bagi seorang muslim dari perbuatan keji dan mungkar sehingga ia memperoleh kedamaian jiwa dan badan yang dapat membahagiakannya di dunia dan akhirat.
c. Puasa
Rukun Islam ketiga adalah puasa pada bulan Ramadan yaitu bulan kesembilan dari bulan hijriyah.
d. Zakat
Rukun Islam keempat adalah zakat. Allah telah memerintahkan setiap pemeluk agama yang memilki harta mencapai nisab untuk mengeluarkan zakat hartanya setiap tahun untuk diberikan kepada yang berhak menerima dari kalangan fakir serta selain mereka yang zakat boleh diserahkan kepada mereka sebagaimana telah diterangkan dalam Al Qur’an.
e. Haji
Rukun Islam kelima adalah haji ke baitullah Mekkah sekali seumur hidup.
Adapun lebihnya maka merupakan sunnah.
2. Disalurkan melalui Badan Amil Zakat atau Lembaga Amil Zakat
Zakat yang diberikan oleh pemeluk agama Islam harus diberikan melalui Badan Amil Zakat atau Lembaga Amil Zakat yang disahkan oleh Pemerintah.
Contohnya adalah Pos Keadilan Peduli Ummat yang telah dikukuhkan menjadi Lembaga Amil Zakat melalui keputusan menteri agama nomor 441 tahun 2001 tanggal 8 Oktober 2001.
3. Diterima oleh penerima zakat yang berhak.
Pengalokasian zakat oleh Badan Amil Zakat (BAZ) harus dilakukan sesuai dengan ketentuan di dalam ajaran agama Islam, yaitu diberikan kepada 8 golongan yaitu fakir, miskin, amil, muallaf, riqab, gharim, shabillah, dan ibnussabil yang di dalam aplikasinya meliputi orang-orang yang paling tidak berdaya secara ekonomi seperti anak yatim, orang jompo, penyandang cacat, orang yang menuntut ilmu, pondok pesantren, anak terlantar, orang yang terlilit hutang, pengungsi yang terlantar, dan korban bencana alam. Berikut adalah contoh laporan sumber penerimaan dan pengeluaran kas/bank bulan maret 2009 pada Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF) yang telah disahkan:
Tabel 2.1. Data Sumber Penerimaan Kas/Bank Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF) Pada Bulan Maret 2009
No Sumber Penerimaan Kas/Bank 1 Penerimaan kas dari infaq
2 Penerimaan kas dari zakat
3 Penerimaan kas dari pendapatan lain-lain Sumber: Data Diolah
Tabel 2.2. Data Tujuan Pengeluaran Kas/Bank Untuk Dakwah Oleh Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF) Pada Bulan Maret 2009
No Keterangan Pengeluaran Untuk Dakwah 1 Majalah AL Falah
2 Layanan Antar Majalah 3 Layanan Ambil Cepat 4 Layanan Ambulan 5 SMS Tausiyah 6 Silaturahim Donatur 7 Love & Care
8 Ceramah Pengajian, Sidoarjo 9 BIJAQ, Malang
10 Silaturahim Donatur, Malang 11 YDSF di udara, Malang 12 Q.Learning, Malang 13 Newsletter, Malang 14 Love & Care, Malang 15 Layanan Ceramah, Malang 16 Layanan Donatur, Jakarta 17 Program Imam Masjid 18 Pemberdayaan Da'I Desa 19 Sinergi dakwah
20 Konsultasi Dakwah 21 Layanan Ceramah Jum'at 22 Pelatihan
23 Lembaga dakwah
Sumber: Data Diolah
Tabel 2.3. Data Tujuan Pengeluaran Kas/Bank Untuk Kemanusiaan Oleh Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF) Pada Bulan Maret 2009
No Keterangan Pengeluaran Untuk Kemanusiaan 1 Program Salur Hewan Qurban
2 Bantuan Kemanusiaan (Banjir) 3 Layanan Kesehatan Sosial (LKS) 4 Bantuan Palestina
Sumber: Data Diolah
Tabel 2.4. Data Tujuan Pengeluaran Kas/Bank Untuk Pendidikan Oleh Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF) Pada Bulan Maret 2009
No Keterangan Pengeluaran Untuk Pendidikan Alamat
1 SD Muhammadiyah 2 Jl. Jambu 46 Karangsemanding, Balongpanggang, Gresik
2 SDIT Ahmad Yani Ahmad Yani, Malang
3 SMP Al Furqan Jl.Trunojoyo 51 Jember
4 TK Mi Roudlotul Jannah Jl. Wonorejo II/33 Manukan Kulon, Tandes, Sby 5 PP SalafiyahKholidiyah Jl.Masjid 7 Plumpang Tuban
6 Ma'had Ali Bangil -
7 SDM IPTEK Jl. Keputih Tegal Timur, Sukolilo, Sby
8 SDM IPTEK Jl. Keputih Tegal Timur, Sukolilo, Sby
9 Ma'had Aly Ilmu Syariah Desa Sembungankidul, Dukun Gresik 10 Yys Pdd Islam LP Al Falah Tropodo 2 Waru Sda
11 Yaptunik bulan Maret 2009 -
12 Yys Pdd Islam YPI/LP Al Falah Tropodo 2 Waru Sda 13 Yys Pdd Islam LP2AIT Al Uswah Magetan Magetan
14 Yys Pdd Islam Al Falah Tropodo 2 Waru Sda
15 TPQ Nurul Ulum Balong Macekan, Tarik, Sda
16 TPA Al-Istiqomah Sidokepung, Buduran Sda
17 TPQ Al-Mujahadah Waru, Sda
18 TPQ Al-Islam Klantingsari RT7 RW2, Tarik, Sda
19 TPQ Al-Ukhuwah Klatingsari RT21 RW6, Tarik, Sda 20 TB Anak Duta Baca Taman Sidorejo K-45, Krian, Sda 21 Yys Ar-Rozaq, Pendopo Ental Sewu Buduran, Sda
22 Pesantren Ta'limul Qur'an An-Nawawy Sorowongso Karangbong 639, Gedangan, Sda
23 Pp Roudlotul Ulum Jl. KH. Mustaim Romly RT13 RW6, Pilang, Wonoayu, Sda
24 Pena Bangsa Malang Malang
25 Pena Bangsa Sby Surabaya
Sumber: Data Diolah
Tabel 2.5. Data Tujuan Pengeluaran Kas/Bank Untuk Masjid Oleh Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF) Pada Bulan Maret 2009
No Keterangan Pengeluaran Untuk Masjid Alamat
1 Masjid Al Islah Jl. RA Kartini GG XIV, Gresik
2 Masjid Intan Jl. Intan 4/1 Blok 12-E Ds Petiken Driorejo, Gresik 3 Masjid Al Mubarok Kembangan-Turirejo Kedamean, Gresik
4 Masjid Al Hidayah Dsn. Kutil RT04 Rw01 Ds. Gempol Kurung, Menganti, Gresik 5 Masjid Al Mukhlish Jl. Bulaksari 33, Sby
6 Masjid Al Ikhlas Tambak asri 272, Sby 7 Masjid Al Ikhlas Simo kwagean II/6, Sby 8 Masjid Ittihadul Muslimin Jl. Bulak Rukem I/21, Sby 9 Masjid Asrama An Nur Jl. Karah Agung 9, Sby 10 Masjid Rochman Arief Karang Gayam I/17, Sby 11 Masjid Al Furqan Jl.Trunojoyo 51 Jember
12 Masjid Nurul Huda A. Yani Sby
13 Masjid Jami' Darussalam, Malang Malang
14 Masjid Da'watul Ihsan Gg. Kamboja RT8 RW2 no. 78 Gilang, Taman, Sda 15 Masjid Al-Mubarok Citraloka Residence RT19 RW2 Rangkah Kidul, Sda 16 Masjid Al-Muttaqien Puri Sampoerna kali tengah, Tanggulangin, Sda 17 Masjid Babussalam kulon Sukodono, Sda
18 Masjid Al Mubarok Tumapel RT2 RW4 no. 7 Ketajen, Gedangan, Sda
19 Masjid Al Mujahadah Waru, Sda
20 Masjid At Taqwa Jl. Pahlawan 38, Sda 21 Musholla Baitul Fadilah Bluru kidul RT2 RW8, Sda
22 Musholla Al Huda Kedung sugo RT2,RW8
23 Musholla Darussalam Medowo Puro RT13, RW6 Gampingrowo 24 Mush Baitus Salam Jl. Benowo Tegal GG I/09, Sby 25 Musholla Baitul Ummah Jl. Cumpat Kulon Baru I/60, Bulak, Sby 26 Musholla Al Musthofa Jl. Mojoklanggru Lor I/19, Mojo, Sby 27 Mush. Baitul Ilmi Jl. Teluk Sampit 2B, SMK Kal 2, Sby 28 Mush. Sabilillah Rungkut Lor IV A/16, Rungkut, Sby 29 Musholla Nurul Iman Banyu Urip Wetan V-I/2, Sby 30 Mush. MiftahulJannah Banyu Urip Kidul VI B/16, Sby 31 Musholla Pengajian Wanita Sby Jl. Klampis semolo Barat I/1, Sby 32 Musholla Gelora 10 November Jl.Juwet 17, Tambaksari Sby
33 Musholla Al Ikhlas Perum Griya Pesona Asri Medokan Ayu,Rungkut,Sby 34 Mush. Al Hidayah Jl.Kedung Tarukan Baru Sby
Sumber: Data Diolah
Tabel 2.6. Data Tujuan Pengeluaran Kas/Bank Untuk Yatim Oleh Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF) Pada Bulan Maret 2009
No Keterangan Pengeluaran Untuk Yatim Alamat
1 Panti Asuhan Aisyahtong Mariyam Jl.Perlis Selatan 21 & 29 Perak Utara, Sby 2 Yatim Cabang Jember (Yayasan Al Hidayah Ali Wafa) Jember
3 PA. Al Maidah Mutiara Citra Asri B1/1, Candi, Sda
4 PA. Al Hidayah Tempuran RT1,RW1,Tarik, Sda
5 Penyaluran PA. Latiful Muhatadin Bandung
6 Rumah Cinta Yatim YDSF -
Sumber: Data Diolah
Tabel 2.7. Data Tujuan Pengeluaran Kas/Bank Untuk Mustahiq Zakat Oleh Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF) Pada Bulan Maret 2009
No Keterangan Pengeluaran Untuk Mustahiq Zakat 1 Fakir miskin/bantuan fakir miskin
2 Ghorim
3 Fisabilillah-Relawan dakwah YDSF Sumber: Data Diolah
Tabel 2.8. Data Tujuan Pengeluaran Kas/Bank Untuk Biaya Lainnya Oleh Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF) Pada Bulan Maret 2009 No Keterangan Pengeluaran Untuk Biaya Lainnya
1 Biaya Operasional
2 Biaya Administrasi Umum
3 Biaya Publikasi dan Sosialisasi Zakat 4 Investasi dalam Aktiva Tetap
Sumber: Data Diolah
2.5. Sumbangan Keagamaan Agama Kristen
Setelah tahun 2009, sumbangan keagamaan yang diberikan oleh pemeluk agama Kristen diatur sebagai pengecualian obyek pajak, sehingga bagi pihak yang menerima, sumbangan tersebut tidak menjadi penghasilan yang dikenakan pajak. Disisi lain bagi pihak yang memberikan dapat menjadikan pemberian sumbangan keagamaan sebagai biaya pengurang penghasilan bruto untuk perhitungan pajak. Namun agar sumbangan tersebut dapat menjadi non- taxable dan deductible harus memenuhi tiga syarat, yaitu yang pertama bahwa
sumbangan tersebut harus wajib bagi pemeluk agama Kristen. Di dalam ajaran agama Kristen terdapat 3 panggilan terhadap gereja dan jemaat yaitu:
1. Koinonia
Koinonia berarti persekutuan; ada dan terciptanya persekutuan; memperat persaudaraan; semua upaya untuk tetap berada dalam persekutuan. Jadi, dalam gereja harus ada dan tercipta persekutuan, sekaligus terpeliharanya persekutuan yang telah ada dan tercipta; gereja harus menyampaikan model persekutuan yang dimilikinya itu kepada semua umat manusia. Koinonia bukan hanya dibentuk di dalam lingkungan gereja, melainkan harus ditampilkan pada sikon hidup dan kehidupan sehari-hari. Selain itu, setiap anggota Tubuh Kristus, harus memperhatikan satu sama lain, sesama warga, tanpa membedakan suku, ras, golongan, dan jenis kelamin, dan semua latar belakang lainnya. Semuanya merupakan sesama saudara karena kasih Tuhan Yesus Kristus.
2. Marturia
Marturia bermakna kesaksian, bersaksi, memberi kesaksian secara benar dan tepat tentang hal-hal yang pernah dilihat dan didengar; menceritakan realitas yang sebenarnya; mempercakapkan kembali pengalaman-pengalaman dan peristiwa yang dialami sebelumnya. Hal utama mengenai kesaksian adalah mengenai Yesus adalah Mesias.
3. Diakonia
Diakonia memiliki arti melayani. Pada saat ini berdiakonia tak terbatas pada bantuan materi kepada mereka yang berkekurangan, melainkan lebih kompleks. Misalnya, pengobatan, panti asuhan, pendidikan, pendampingan pada saat susah ataupun yang mengalami masalah sosial, penyediaan lapangan pekerjaan, dan lain-lain. Diakonia harus membawa perubahan pada seseorang maupun masyarakat. Bukan sekedar menjadikan ia tidak terlantar dan tercukupi kebutuhan dasarnya, melainkan dapat terangkat secara sosial;
misalnya, melalui pendidikan yang baik, seseorang dapat memperbaiki kualitas hidup dan kehidupannya. Diakonia bisa menjadi salah satu bentuk kepedulian gereja kepada masyarakat luas dalam rangka menunjukkan tanda-
tanda Kerajaan Allah di bumi. Melalui diakonia, warga gereja menunjukkan perhatian kepada masyarakat di luar gereja.
Pemberian sumbangan yang diberikan oleh pemeluk agama Kristen merupakan suatu bentuk kepedulian dan pelayanan yang terkait dengan panggilan diakonia. Namun permasalahannya terdapat berbagai jenis sumbangan yang ada di agama Kristen, dan di dalam ajaran agama Kristen juga tidak mengatur apakah jemaatnya wajib atau tidak untuk memberikan sumbangan tersebut.
Kemudian syarat yang kedua adalah sumbangan keagamaan tersebut harus disalurkan melalui lembaga keagamaan yang disahkan oleh Pemerintah. Di dalam Undang-Undang tidak dijelaskan mengenai lembaga yang ditunjuk untuk menyalurkan sumbangan tersebut. Pada kenyataannya belum ada lembaga secara khusus yang dibentuk dan disahkan oleh Pemerintah untuk mengelola dana sumbangan keagamaan yang diberikan oleh pemeluk agama Kristen. Sehingga pada saat ini pemeluk agama Kristen memberikan sumbangan keagamaan melalui gereja. Gereja merupakan suatu lembaga yang terorganisir baik dalam bentuk manajemen kegiatan maupun keuangan. Karena pada umumnya gereja menerima penghasilan dari sumbangan, maka beberapa gereja di Indonesia melaksanakan pembukuan untuk mempertanggungjawabkan setiap penerimaan maupun pengeluaran gereja kepada pihak-pihak terkait.
Syarat yang ketiga, sumbangan keagamaan tersebut harus diterima oleh pihak yang berhak, pada kenyataannya atas sumbangan tersebut dialokasikan untuk beberapa tujuan, seperti disalurkan kepada pendeta, gembala sidang, karyawan, perawatan gedung, penyaluran kepada orang-orang yang kurang mampu, dan lain-lain.
Dengan melihat hal tersebut maka Undang-Undang pajak penghasilan yang dikeluarkan masih belum dapat memberikan kejelasan terhadap perlakuan sumbangan keagamaan yang diberikan oleh pemeluk agama Kristen. Kemudian diterbitkan PP No. 18 Tahun 2009, PP No. 60 Tahun 2010, dan PMK No.254/PMK.03/2010 mengenai peraturan pelaksanaan sumbangan keagamaan sebagai pengecualian obyek pajak dan sumbangan keagamaan sebagai biaya pengurang penghasilan bruto, namun peraturan-peraturan tersebut juga masih belum memberikan kejelasan bagi perlakuan sumbangan keagamaan yang
diberikan oleh pemeluk agama Kristen. Sehingga penulis merasa perlu untuk melakukan penelitian melalui penulisan skripsi ini, sehingga dapat memberikan masukan maupun saran yang dapat membantu untuk penentuan perlakuan pajak atas sumbangan tersebut kedepannya.