library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kerangka Teori 1. Tinjauan tentang Gugatan
a. Pengertian Gugatan
Gugatan adalah surat yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan yang berwenang, yang memuat kejadian atau fakta tertentu dan tuntutan hak (M. Natsir Asnawi, 2016: 257). Pasal 118 ayat (1) HIR/Pasal 142 ayat (1) RBg menyebut bahwa tuntutan hak sebagai tuntutan perdata (burgerlijke vordering). Tuntutan perdata adalah tuntutan atas sengketa yang disebut sebagai gugatan.
Menurut Rancangan Undang-Undang Hukum Acara Perdata pada Pasal 1 angka (2), gugatan adalah tuntutan hak yang mengandung sengketa dan diajukan ke pengadilan untuk mendapatkan putusan.
Gugatan sebagai tuntutan seseorang yang diajukan kepada Ketua Pengadilan karena adanya sengketa dengan pihak lain, dimana salah satu pihak sebagai penggugat dan pihak lainnya sebagai tergugat (Zainal Asikin, 2005: 19). Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat diketahui bahwa gugatan adalah pengajuan tuntutan hak atas sengketa para pihak yang harus diperiksa dan diputus oleh Pengadilan.
b. Bentuk-bentuk Gugatan 1) Gugatan tertulis
Pasal 118 ayat 1 HIR menjelaskan bahwa gugatan perdata yang dalam tingkat pertama masuk wewenang Pengadilan Negeri harus diajukan dengan surat gugatan yang ditandatangani oleh penggugat atau orang yang dikuasakan.
2) Gugatan lisan
Pasal 120 HIR menjelaskan bahwa bilamana penggugat tidak bisa menulis dan membaca, surat gugatannya dapat diajukan secara lisan yang akan dicatat ketua Pengadilan.
library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 12
c. Syarat-syarat Pengajuan Gugatan
Surat gugatan haruslah memenuhi syarat sebagai berikut (Rasito, 2015: 44):
1) Merupakan tuntutan hak
Tuntutan hak merupakan tindakan untuk memperoleh perlindungan hukum yang diberikan oleh pengadilan guna mencegah perbuatan main hakim sendiri (eigenrichting).
2) Adanya kepentingan hukum
Syarat ini merupakan syarat utama untuk diterimanya suatu tuntutan hak. Suatu tuntutan hak haruslah mempunyai cukup dan layak serta mempunyai dasar hukum sajalah yang dapat diterima sebagai dasar tuntutan hak.
3) Merupakan suatu sengketa
Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 jo.
Pasal 118 ayat (1) HIR/Rbg menjelaskan tuntutan perdata (burgerlijke vordering) adalah tuntutan hak yang memuat sengketa.
4) Gugatan dibuat dengan cermat dan terang
Gugatan dapat diajukan secara tertulis (Pasal 118 ayat (1) HIR/Pasal 142 ayat (1) Rbg) ataupun lisan (Pasal 120 HIR, 144 Rbg). Surat gugatan haruslah dibuat secara cermat dan terang, dimana dasar hukumnya sesuai serta dapat dibuktikan kebenarannya.
Gugatan yang tidak cermat dan terang mengenai pihak-pihak yang berperkara, obyek sengketanya, maupun dasar hukum gugatan, akan berakibat pada gugatan akan dianggap kabur atau tidak jelas (obscuur libel).
d. Formulasi Surat Gugatan
Formulasi surat gugatan adalah perumusan surat gugatan sesuai dengan syarat formil menurut ketentuan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 118 dan Pasal 120 HIR memang tidak menegaskan mengenai formulasi surat gugatan, akan
library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 13
tetapi dalam praktik peradilan terdapat beberapa hal mengenai formulasi surat gugatan diantaranya adalah (M. Yahya Harahap, 2016: 51-52):
1) Diajukan kepada Pengadilan Negeri sesuai dengan kompetensi relatif Sesuai dalam Pasal 118 HIR, surat gugatan haruslah diajukan kepada Pengadilan Negeri sesuai dengan kompetensi relatif.
Pengajuan surat gugatan yang tidak sesuai dengan kompetensi relatif akan berakibat:
a) Gugatan cacat formil, karena gugatan diajukan PN di luar wilayah hukum yang berwenang untuk memeriksa dan mengadilinya.
b) Gugatan tidak dapat diterima (niet onvankelijke verklaard) karena hakim tidak memiliki wewenang mengadili perkara tersebut.
2) Diberi tempat dan tanggal pembuatan surat gugatan
Gugatan yang diajukan ke pengadilan haruslah mencantumkan tempat tinggal pemohon gugatan dan tanggal dengan jelas untuk mengetahui kepastian tentang tanggal pembuatan surat gugatan (Sarwono, 2011: 32).
3) Ditandatangani penggugat atau kuasa
Surat permohonan gugatan harus ditandatangani oleh penggugat atau wakilnya (kuasanya) sesuai dengan ketentuan Pasal 118 ayat (1) HIR.
4) Identitas para pihak
Identitas para pihak dapat berupa nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, umur, agama, alamat tempat tinggal para pihak yang berperkara. Identitas para pihak harus ditulis jelas dan benar karena kesalahan penulisan nama ataupun alamat tempat tinggal tergugat, akan mengakibatkan gugatan penggugat tidak dapat diterima atau subyek yang mengajukan gugatan tidak memenuhi persyaratan undang-undang (error in persona).
library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 14
5) Posita gugatan (Fundamentum Petendi)
Posita merupakan penjelasan mengenai hal-hal yang menjadi dasar serta alasan hukum daripada gugatan (Sophar Maru Hutagalung, 2010: 20). Posita terdiri dari dua bagian, yaitu (Rasito, 2015: 46):
a) Uraian peristiwa yang merupakan penjelasan tentang duduk perkara.
b) Uraian hukum mengenai terdapat hubungan hukum yang dijadikan dasar tuntutan.
6) Tuntutan hak (petitum)
Petitum yaitu sesuatu yang diminta oleh penggugat agar dikabulkan oleh hakim. Tuntutan tersebut akan terjawab di dalam amar putusan. Petitum haruslah dirumuskan secara jelas dan tegas (Sophar Maru Hutagalung, 2010: 22). Pasal 8 Rv (Reglement op de Burgerlijke Rechtsvordering) menjelaskan petitum yang tidak jelas atau tidak sempurna dapat berakibat tidak diterimanya gugatan atau tuntutan itu (niet onvankelijke verklaard) atau biasa disebut “NO”
(Darwan Prinst, 2002: 44).
7) Perumusan gugatan asesor (accesoir)
Gugatan asesor ialah gugatan tambahan yang melengkapi gugatan pokok untuk menjamin kepentingan penggugat meliputi hal yang dibenarkan hukum dan perundang-undangan. Gugatan asesor terdiri dari gugatan provisi (Pasal 180 ayat (1) HIR) dan gugatan tambahan penyitaan (Pasal 226 dan Pasal 227 HIR).
2. Tinjauan tentang Kumulasi Gugatan a. Pengertian Kumulasi Gugatan
Kumulasi gugatan atau samenvoeging van vordering merupakan gabungan lebih dari satu tuntutan hukum yang diajukan dalam satu surat gugat (Mohd Kalam Daud, 2017: 439). Kumulasi gugatan juga diartikan sebagai kumpulan dari beberapa penggugat maupun tergugat menjadi satu gugatan ataupun gabungan dari beberapa gugatan menjadi satu surat
library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 15
gugatan (Abdulkadir Muhammad, 2008: 70). Menurut penulis dapat disimpulkan bahwa kumulasi gugatan adalah pengabungan beberapa penggugat atau tergugat dalam satu surat gugat ataupun penggabungan beberapa tuntutan hukum dalam satu surat gugat.
b. Bentuk Kumulasi Gugatan
Kumulasi gugatan di dalam praktiknya terdiri dari 2 (dua) bentuk yaitu:
1) Kumulasi subyektif
Kumulasi subyektif yaitu penggabungan beberapa penggugat maupun beberapa tergugat yang didasarkan hubungan hukum yang erat (M. Natsir Asnawi, 2016: 125). Kumulasi subyektif terjadi apabila seorang penggugat melawan beberapa tergugat, atau beberapa penggugat melawan seorang tergugat, ataupun kedua belah pihak masing-masing terdiri lebih dari satu orang (Moh. Ali, 2017:
264). Pasal 127 HIR dan Pasal 151 RBg menjelaskan penggugat dapat mengajukan gugatan terhadap beberapa tergugat (Firdaus Muhammad Arwan, 2008: 8).
2) Kumulasi obyektif
Kumulasi obyektif adalah penggabungan beberapa gugatan yang didasarkan pada adanya hubungan yang erat (innerlijke samenhangen) beberapa obyek perkara (M. Natsir Asnawi, 2016:
125). Kumulasi obyektif yaitu beberapa tuntutan yang digabungkan dalam satu gugatan sekaligus, sehingga di dalam gugatan tidak hanya terdapat satu tuntutan namun ada tuntutan lain (Army Ekonanto, 2012: 12).
c. Syarat-syarat Kumulasi Gugatan 1) Terdapat hubungan yang erat
Menurut Soepomo “antara gugatan-gugatan yang digabung itu harus ada hubungan batin” (innerlijke samenhang) untuk memudahkan proses pemeriksaan perkara serta menghindari putusan yang saling bertentangan (Zainal Asikin, 2015: 32).
library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 16
2) Terdapat hubungan hukum
Hubungan hukum yang dimaksud adalah hubungan antara para penggugat atau para tergugat. Tidak adanya hubungan hukum antara penggugat dan tergugat mengakibatkan kumulasi gugatan tidak dapat dibenarkan sehingga gugatan harus diajukan terpisah (M. Yahya Harahap, 2016:106). Putusan Mahkamah Agung Nomor 1742 K/Pdt/1983 menjelaskan bahwa karena tidak adanya hubungan hukum antara para tergugat mengakibatkan gugatan tidak dapat diajukan secara kumulasi.
d. Tujuan Kumulasi Gugatan
Terdapat 2 (dua) tujuan dengan adanya penggabungan gugatan yaitu:
1) Mewujudkan peradilan sederhana, cepat, dan biaya ringan.
Sederhana artinya proses beracara haruslah jelas, tidak berbelit- belit, dan mudah dipahami (Alberto Rischi Putra Bana dan I Gede Arta, 2019: 8). Penggabungan beberapa gugatan membuat pemeriksaan perkara menjadi sederhana. Pembuktian juga dapat dilakukan secara bersama-sama sehingga menghemat dan mempercepat waktu pemeriksaan (M. Natsir Asnawi, 2016: 272).
Penggabungan gugatan juga meringankan biaya dalam berperkara karena perhitungan biaya administrasi hanya dilakukan dalam satu surat gugat (Kidung Sadewa dan Heri Hartanto, 2017: 586).
2) Menghindari putusan yang saling bertentangan.
Menurut Subekti, untuk menghindari terjadinya putusan yang saling bertentangan mengenai kasus yang memiliki koneksitas serta para pihak yang terlibat sama, lebih tepat perkara tersebut digabung menjadi satu gugatan. Beberapa gugatan yang mempunyai hubungan erat (koneksitas) dapat digabungkan dalam satu gugatan, karena apabila diajukan sendiri-sendiri ditakutkan pendapat hakim yang mengadili masing-masing perkara tersebut berbeda sehingga akan menimbulkan putusan yang saling bertentangan dalam kasus yang
library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 17
sama (Zainal Asikin, 2015: 33). Penggabungan gugatan yang memiliki hubungan erat akan diperiksa oleh hakim yang sama, sehingga akan menghindari kemungkinan putusan yang saling bertentangan (Muhammad Fauzi Darwis, 2008: 10).
3. Tinjauan tentang Proses Pemeriksaan Perkara Perdata di Pengadilan Negeri a. Persiapan dan pemeriksaan di muka sidang pengadilan
1) Pengajuan gugatan
Menurut Pasal 118 ayat (1) HIR, gugatan perdata diajukan kepada Pengadilan Negeri berdasarkan kompetensi relatif yaitu dalam bentuk tertulis yang ditandatangani oleh penggugat atau kuasanya, dan ditujukan kepada ketua Pengadilan Negeri.
2) Pembayaran biaya perkara
Pembayaran biaya perkara ini telah diatur secara tegas dalam Pasal 121 ayat (4) HIR. Penggugat yang belum membayar lunas biaya perkara, maka Pengadilan Negeri tidak akan mendaftarkan gugatan dalam buku register perkara dan memprosesnya sehingga gugatan tidak mungkin diperiksa dan diputus melalui proses pemeriksaan persidangan (M. Yahya Harahap, 2016: 214).
3) Registrasi
Biaya perkara yang telah dibayar oleh pengugat, mewajibkan panitera untuk mendaftarkan gugatan dalam buku register perkara dengan memberi nomor perkara, setelah itu barulah panitera menyerahkan perkara ke ketua Pengadilan Negeri (M. Yahya Harahap, 2016: 217).
4) Penetapan majelis hakim
Ketua Pengadilan Negeri akan menetapkan sedikitnya 3 (tiga) majelis hakim yang dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari dari tanggal penerimaan. Penyerahan berkas kepada majelis hakim dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari dari tanggal surat penetapan (M. Yahya Harahap, 2016: 217-218).
library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 18
5) Penetapan hari sidang
Penetapan hari sidang dilakukan oleh majelis hakim setelah berkas perkara diterima (Pasal 121 ayat (1) HIR) dan paling lambat 7 (tujuh) hari setelah tanggal penerimaan berkas perkara (M. Yahya Harahap, 2016: 218).
6) Pemanggilan para pihak
Tahap berikutnya adalah pemanggilan penggugat dan tergugat untuk hadir di dalam persidangan pengadilan sesuai hari dan waktu yang telah ditentukan. Pemanggilan para pihak dilakukan oleh juru sita (M. Yahya Harahap, 2016: 219). Surat pemanggilan para pihak yang berperkara diberikan paling lambat 3 (tiga) hari sebelum sidang (Abdulkadir Muhammad, 2008: 85).
b. Pelaksanaan Persidangan 1) Mediasi
Mediasi atau upaya perdamaian diatur dalam Pasal 130 HIR atau Pasal 154 Rbg jo. Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 1 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di pengadilan. Majelis hakim memberikan waktu mediasi selama 40 (empat puluh) hari kerja sejak dipilihnya mediator oleh Ketua Majelis Hakim sesuai Pasal 13 ayat (3) Perma Nomor 1 Tahun 2008 dan dapat diperpanjang selama 14 (empat belas) hari sesuai Pasal 13 ayat (2) Perma Nomor 1 Tahun 2008 (Bambang Sugeng A.S. dan Sujayadi, 2012: 45-46).
2) Pembacaan gugatan
Gugatan akan dibacakan oleh penggugat dan nantinya dapat mengajukan perubahan gugatan dengan menambah ataupun mengurangi gugatan (M. Natsir Asnawi, 2016: 88).
3) Jawaban gugatan
Jawaban gugatan adalah jawaban tergugat atas dalil-dalil gugatan penggugat. Jawaban gugatan biasanya berisikan (M. Natsir Asnawi, 2016: 91):
library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 19
a) Eksepsi, yaitu jawaban atau tangkisan diluar pokok perkara seperti gugatan kabur (obscuur liber), gugatan kurang pihak, penggugat tidak berhak mengajukan gugatan (declinatoir exceptie).
b) Rekonvensi (gugat balik), yaitu gugatan balik oleh tergugat kepada penggugat.
c) Pokok perkara, yaitu jawaban yang menyangkut pokok perkara dapat berupa pengakuan, bantahan, referte (diam saja), dan gabungan pengakuan dan bantahan.
4) Replik
Menurut JCT. Simorangkir (1980: 148), replik adalah jawaban balasan atas jawaban tergugat dalam perkara perdata. Replik tidak diatur dalam HIR/RBg, tetapi dalam Pasal 142 Reglemen Acara Perdata (Reglement op Rechtsverordering) Staatsblad 1847-52 Jo.
1849-63 (Darwan Prinst, 2002: 174).
5) Duplik
Tahap ini tergugat akan menjawab dalil-dalil penggugat dalam replik. Hal ini sebagai penegasan terhadap jawaban tergugat sebelumnya dengan mengulang dalil jawaban atau menambah keterangan maupun fakta baru agar dapat memperkuat jawaban gugatan (M. Natsir Asnawi, 2016: 94).
6) Pembuktian
Tahap ini yang menentukan dalam proses perkara, karena hasil pembuktian dapat menentukan benar atau tidaknya suatu gugatan atau bantahan (Bambang Sugeng A.S. dan Sujayadi, 2012: 63).
Sebagaimana dalam Pasal 163 HIR/Pasal 283 RBg dan Pasal 1865 BW menyebutkan terdapat asas bahwa “siapa yang mendalilkan sesuatu, ia harus membuktikannya”.
Pembuktian bertujuan meyakinkan hakim atas kebenaran peristiwa yang menjadi dasar gugatan/dasar bantahan para pihak
library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 20
yang berperkara dengan alat-alat bukti dalam persidangan (M. Natsir Asnawi, 2016: 101).
Pasal 164 HIR/Pasal 284 RBg dan Pasal 1866 BW menjelaskan bahwa alat bukti terdiri dari 5 (lima) yaitu alat bukti tertulis, saksi, persangkaan, pengakuan dan sumpah. Dalil yang telah diakui, tidak dibantah oleh tergugat, dan pengetahuan umum (notoir feiten) tidak perlu lagi dibuktikan kebenarannya (Darwan Prinst, 2002: 176).
7) Kesimpulan
Kesimpulan merupakan pendapat penggugat maupun tergugat mengenai jalannya pemeriksaan sengketa, sebelum putusan hakim dijatuhkan. Kesimpulan berisi pandangan atas pokok perkara dalam proses pemeriksaan, tanggapan setuju atau tidak setuju terhadap alat- alat bukti, dan alasan hukum gugatan penggugat haruslah dikabulkan, tidak dapat diterima, atau ditolak (M. Natsir Asnawi, 2016: 116).
8) Musyawarah majelis
Ketua dan majelis hakim akan melaksanakan musyawarah majelis yang bersifat tertutup setelah proses persidangan telah selesai dilaksanakan. Panitera dapat mengikuti musyawarah atas seizin majelis hakim, untuk mencatat hal-hal yang dianggap penting.
Hakim dalam memutus perkara melalui musyawarah majelis haruslah sesuai Pasal 178 HIR/Pasal 189 RBg dengan memperhatikan hal-hal seperti mencukupkan alasan hukum yang tidak dikemukakan oleh kedua belah pihak, mengadili seluruh bagian gugatan dan tidak memutus melebihi yang dituntut (M. Natsir Asnawi, 2016: 116).
9) Putusan
Tahap ini merupakan akhir dari pemeriksaan perkara di pengadilan. Putusan terdiri dari kepala putusan, identitas para pihak, pertimbangan, dan diktum/amar putusan. Sesuai dengan Pasal 185
library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 21
ayat 1 HIR, putusan hakim terdiri dari (Bambang Sugeng A.S. dan Sujayadi, 2012: 85-87):
a) Putusan akhir yaitu putusan yang mengakhiri perkara perdata pada tingkat peradilan tertentu. Putusan akhir terdiri atas 3 (tiga) macam (M. Natsir Asnawi, 2016: 119):
(1) Gugatan tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaart) Gugatan tidak dapat diterima karena adanya cacat formil yang dapat berupa gugatan kabur (obscuur libel), kurang pihak (plurium litis consortium), gugatan prematur, gugatan daluarsa, dan sebagainya (M. Natsir Asnawi, 2016:
119).
(2) Gugatan dikabulkan
Dasar hakim mengabulkan gugatan yaitu penggugat dapat membuktikan kebenaran dalil-dalil gugatannya, tergugat tidak dapat membuktikan dalil-dalilnya, dan gugatan tidak bertentangan dengan hukum.
(3) Gugatan ditolak
Gugatan penggugat ditolak karena penggugat tidak dapat membuktikan gugatannya, sementara tergugat dapat mematahkan dalil-dalil penggugat dengan alat-alat bukti yang ada, atau gugatan penggugat bertentangan dengan hukum ataupun tidak memiliki dasar hukum.
b) Putusan sela yaitu putusan yang dijatuhkan sebelum putusan akhir. Pasal 48 Rv mengatur mengenai jenis-jenis putusan sela yang terdiri atas putusan preparatoir, putusan interlocutoir, putusan insidental, dan putusan provisionil.
4. Tinjauan tentang Wanprestasi a. Pengertian Wanprestasi
Wanprestasi diatur pada Pasal 1243 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek) yang menyatakan, penggantian biaya, kerugian, dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan mulai
library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 22
diwajibkan, bila debitor, walaupun telah dinyatakan lalai, tetap lalai untuk memenuhi perikatan itu, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dibuatnya, hanya dapat diberikan atau dilakukannya dalam waktu yang melampaui waktu yang telah ditentukan.
Wanprestasi adalah tidak dipenuhinya sebagian ataupun seluruh prestasi oleh salah satu pihak dalam perjanjian (Sarwono, 2011: 304).
Tidak terpenuhinya kewajiban prestasi yang disebabkan oleh kesalahan debitor, baik karena kesengajaan maupun karena kelalaian, dan kesemuanya itu dapat dipersalahkan kepadanya, maka dikatakan bahwa debitor wanprestasi (Loro Ayu Nawangsari, 2009: 58). Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa wanprestasi adalah tindakan pihak dalam perjanjian yang tidak memenuhi atau lalai melaksanakan prestasinya sesuai perjanjian yang telah disepakati.
b. Bentuk Wanprestasi
Wanprestasi seorang debitor dapat terdiri dari 4 (empat) bentuk, yaitu (Subekti, 2001: 45):
1) Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya.
2) Melaksanakan apa yang dijanjikan, tetapi tidak sebagaimana dijanjikan.
3) Melakukan apa yang dijanjikan tetapi terlambat.
4) Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukan.
c. Akibat Hukum Wanprestasi
Akibat hukum dari adanya wanprestasi adalah berikut ini (Abdulkadir Muhammad, 2008: 242-243):
1) Debitor wajib membayar ganti kerugian kepada kreditur
Berdasarkan Pasal 1243 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata bahwa pihak yang lalai melakukan wanprestasi harus mengganti biaya atas kerugian yang diperbuatnya yakni pada saat tidak dipenuhinya prestasi pada tenggang waktu dalam kontrak ataupun telah lalai namun masih diberi kesempatan dalam pemenuhan prestasi. Jadi pihak yang melakukan wanprestasi wajib mengganti
library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 23
kerugian yang besarnya sesuai kesepakatan para pihak dalam perjanjian (Jefri Lukito, 2016: 5).
2) Perikatan dari perjanjian timbal balik, kreditur dapat menuntut pemutusan atau pembatalan perikatan melalui pengadilan.
Pembatalan perjanjian diatur dalam Pasal 1266 Kitab Undang- Undang Hukum Perdata bahwa perjanjian tidak batal dengan sendirinya karena wanprestasi, namun harus dimintakan kepada hakim dan hakim akan memutus pembatalan perjanjian tersebut.
Syarat pembatalan yang tidak dicantumkan di dalam perjanjian, maka hakim akan memberi tenggang waktu satu bulan agar debitor memenuhi prestasinya.
Pembatalan perjanjian ini bertujuan agar kedua belah pihak kembali pada keadaan sebelum perjanjian diadakan. Jika satu pihak sudah menerima sesuatu dari pihak lain, baik uang maupun barang, maka harus dikembalikan.
3) Debitor diwajibkan memenuhi perikatan jika masih dapat dilakukan atau pembatalan disertai dengan pembayaran ganti kerugian (Pasal 1267 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata).
4) Peralihan resiko
Sesuai dengan ketentuan Pasal 1237 ayat (2) Kitab Undang- Undang Hukum Perdata mengenai peralihan resiko dijelaskan bahwa jika debitor lalai untuk menyerahkannya, benda yang bersangkutan menjadi tanggungan debitor semenjak perikatan dilakukan. Menurut penjelasan pasal tersebut, dapat diketahui bahwa debitor akan menerima peralihan resiko sejak terjadinya wanprestasi.
5) Membayar biaya perkara apabila diperkarakan dipersidangan (Pasal 181 ayat (1) HIR).
5. Tinjauan tentang Perbuatan Melawan Hukum a. Pengertian Perbuatan Melawan Hukum
Perbuatan melawan hukum diatur dalam Pasal 1365 sampai dengan Pasal 1380 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Pasal 1365 Kitab
library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 24
Undang-Undang Hukum Perdata merumuskan tiap perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu karena kesalahannya untuk menggantikan kerugian tersebut.
Perbuatan melawan hukum adalah perbuatan yang melanggar hak (subyektif) orang lain atau perbuatan yang bertentangan dengan kewajiban menurut undang-undang atau bertentangan dengan apa yang menurut hukum tidak tertulis yang seharusnya dijalankan oleh seorang dalam pergaulannya dengan sesama warga masyarakat dengan mengingat adanya alasan pembenar menurut hukum (Sedyo Prayogo, 2016: 282).
b. Unsur-Unsur Perbuatan Melawan Hukum
Sesuai dalam Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, unsur-unsur perbuatan melawan hukum adalah sebagai berikut:
1) Adanya perbuatan melanggar hukum
Perbuatan haruslah bertentangan dengan undang-undang, ataupun berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang memenuhi salah satu unsur berikut:
a) perbuatan yang melanggar undang-undang yang berlaku;
b) melanggar hak orang lain yang dijaminkan oleh hukum;
c) perbuatan yang bertentangan dengan kesusilaan;
d) perbuatan yang bertentangan dengan sikap baik dalam bermasyarakat untuk memperhatikan kepentingan orang lain (MA Moegni Djojodirjo, 1982: 20-22).
2) Ada kesalahan
Perbuatan haruslah memiliki unsur kesalahan agar dapat dikatakan sebagai perbuatan melawan hukum baik disengaja ataupun terjadi karena adanya kelalaian sehingga menyebabkan kerugian terhadap pihak lain, maka kesalahan tersebut telah memenuhi unsur- unsur adanya perbuatan melanggar hukum (Sarwono, 2011: 310).
library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 25
3) Ada kerugian
Setiap perbuatan melawan hukum yang mengakibatkan orang lain mengalami kerugian bagi korban, wajib mengganti kerugian tersebut sebagaimana tercantum dalam Pasal 1365 Kitab Undang- Undang Hukum Perdata.
Kerugian akibat perbuatan melawan hukum dapat berupa kerugian materiil berupa harta kekayaan atau kerugian inmateril yang bersifat idiil yaitu ganti rugi yang berhubungan dengan tekanan mental seperti ketakutan, terkejut, sakit, dan kehilangan kesenangan hidup (Harumi Chandraresmi, 2017: 60).
4) Ada hubungan kausal
Hubungan klausal diartikan sebagai hubungan sebab akibat antara perbuatan melanggar hukum yang dilakukan dengan kerugian yang ditimbulkannya. Hal tersebut berhubungan erat karena hubungan antara sebab dan akibat biasanya tidak dapat dipisahkan (Sarwono, 2011: 310). Suatu perbuatan dapat dikatakan perbuatan melawan hukum jika memenuhi unsur-unsur di atas.
Suatu perbuatan tidak dapat dikatakan sebagai perbuatan melawan hukum, jika salah satu unsur di atas tidak terpenuhi.
c. Akibat Hukum Perbuatan Melawan Hukum
Sesuai Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata bahwa setiap perbuatan yang melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang karena kesalahannya tersebut menimbulkan kerugian untuk mengganti kerugian itu. Kesalahan pihak pertama yang merugikan pihak kedua mewajibkan pihak pertama mengganti kerugian tersebut kepada pihak kedua.
Pasal 1366 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata juga menjelaskan bahwa seseorang bukan hanya bertanggung jawab karena kerugian atas perbuatannya, termasuk juga kelalaian atau kesembronoannya. Seseorang tidak hanya bertanggung jawab karena kerugian atas perbuatannya, termasuk juga perbuatan orang-orang yang menjadi tanggungannya atau
library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 26
barang-barang yang berada dibawah pengawasannya sesuai Pasal 1367 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa perbuatan melawan hukum berakibat pada pelaku maupun orang-orang yang mempunyai hubungan hukum yang menyebabkan timbulnya kerugian.
Akibat hukum dari perbuatan melawan hukum yaitu mengganti kerugian orang yang mengalami kerugian tersebut.
library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 27
B. Kerangka Pemikiran
Keterangan:
Bagan Skematik Kerangka Pemikiran Tidak ada pengaturan yang tegas mengenai memperbolehkan atau
melarang kumulasi gugatan Kumulasi obyektif gugatan
wanprestasi dan perbuatan melawan hukum
Putusan Mahkamah Agung Nomor 3057 K/Pdt/2001 dan
gugatan dikabulkan
Putusan Mahkamah Agung Nomor 1330 K/Pdt/2017 dan
gugatan tidak dapat diterima (Niet Ontvankelijke Verklaard)
Adanya perbedaan pertimbangan Hakim Agung dalam memutus
perkara kumulasi obyektif
Pertimbangan Hakim Agung memeriksa dan memutus dalam perkara
kumulasi obyektif
Akibat hukum terhadap para pihak dalam perkara kumulasi
obyektif
library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 28
Keterangan:
Kerangka pemikiran ini menjelaskan alur pemikiran penulis dalam menjabarkan kasus dan mencari jawaban atas penulisan hukum ini, yaitu Kumulasi Obyektif Gugatan Wanprestasi dan Perbuatan Melawan Hukum dalam Satu Surat Gugat (Studi putusan Mahkamah Agung Nomor 3057 K/Pdt/2001 dan putusan Mahkamah Agung Nomor 1330 K/Pdt/2017). Kumulasi obyektif merupakan beberapa tuntutan yang digabungkan dalam satu gugatan sekaligus.
Penggabungan gugatan tidak diatur dalam HIR, RBg, maupun Rv. Pasal 103 Rv hanya melarang kumulasi gugatan antara tuntutan hak menguasai (bezit) dengan tuntutan hak milik (eigendom) (M. Yahya Harahap, 2016: 103).
Praktiknya, penulis menemukan putusan yang saling berlawanan yakni putusan Mahkamah Agung Nomor 3057 K/Pdt/2001 yang mengabulkan kumulasi gugatan wanprestasi dan perbuatan melawan hukum, sedangkan putusan Mahkamah Agung Nomor 1330 K/Pdt/2017 menyatakan kumulasi gugatan wanprestasi dan perbuatan melawan hukum tidak dapat diterima (niet ontvankelijke verklaard).
Putusan Mahkamah Agung Nomor 3057 K/Pdt/2001 menjelaskan tergugat I yang merupakan mantan suami penggugat I berjanji akan menghibahkan harta gono gini berupa rumah dan tanah SHM 650 seluas 509 m2 kepada penggugat II yakni anaknya. Harta gono gini tersebut masih dijadikan jaminan utang sehingga dibuatlah Akta Pengikatan Hibah dan tergugat I berjanji akan menandatangani Akta Hibah setelah pelunasan utang. Setelah hutang dilunasi, tergugat I dan tergugat II yakni istri barunya kembali menjaminkan harta gono gini tersebut atas hutang pihak ketiga. Penggugat pun mengajukan gugatan wanprestasi dan perbuatan melawan hukum ke Pengadilan Negeri Bandung yang amarnya menolak eksepsi para tergugat dan menyatakan gugatan penggugat tidak dapat diterima. Para penggugat kemudian mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Bandung yang amarnya menguatkan putusan Pengadilan Negeri Bandung Nomor 293/PDT/G/1999/PN.BDG. Selanjutnya pada tingkat kasasi, menyatakan tergugat I melakukan wanprestasi dan perbuatan melawan hukum.
library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 29
Putusan Mahkamah Agung Nomor 1330 K/Pdt/2017 menjelaskan Suharsono selaku penggugat sebagai pemilik SHM 2524 seluas 192 m2 yang telah dijaminkan hutang kepada Bank Danamon sebesar Rp. 350.000.000,00 (tiga ratus lima puluh juta rupiah). Tergugat I menjanjikan pinjaman sebesar Rp.
800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah) apabila SHM dijaminkan kepada tergugat III yaitu Bank BCA. Hutang penggugat lalu dilunasi oleh tergugat I dan penggugat meminjam nama tergugat I untuk meminjam uang ke Bank BCA dengan cara membuat akta jual beli. Harga riil rumah Rp. 1.500.000.000,00 (satu milyar lima ratus juta rupiah) namun dalam akta jual beli dibuat Rp.
500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) untuk menghindari pajak besar. SHM lalu dijaminkan kepada tergugat III sebesar Rp. 850.000.000,00 (delapan ratus lima puluh juta rupiah) namun penggugat hanya ditawari uang Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) sehingga penggugat menolaknya karena tidak sesuai kesepakatan. Penggugat lalu mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum dan wanprestasi ke Pengadilan Negeri Jember dengan amar mengabulkan eksepsi obscuur libel dan eksepsi gemis aanhoedanig heid tergugat I serta menyatakan gugatan penggugat tidak dapat diterima (niet ontvankelijke verklaard) yang dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Surabaya. Pada tingkat kasasi, permohonan kasasi penggugat ditolak karena gugatan penggugat tidak dapat terima (niet ontvankelijke verklaard).
Perbedaan amar putusan dari kedua putusan tersebut membuat penulis tertarik untuk mengkaji dan menganalisis mengenai pertimbangan hakim dalam memeriksa dan memutus dalam perkara kumulasi obyektif gugatan wanprestasi dan perbuatan melawan hukum serta akibat hukum terhadap para pihak dalam perkara kumulasi obyektif.