• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARTIKEL PUBLIKASIPUSAT REHABILITASI PENYANDANG CACAT TUBUH Pusat Rehabilitasi Penyandang Cacat Tubuh Di Kudus(Penekanan Pada Aksesibilitas dan Pendekatan Arsitektur Neo Vernacular).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ARTIKEL PUBLIKASIPUSAT REHABILITASI PENYANDANG CACAT TUBUH Pusat Rehabilitasi Penyandang Cacat Tubuh Di Kudus(Penekanan Pada Aksesibilitas dan Pendekatan Arsitektur Neo Vernacular)."

Copied!
0
0
0

Teks penuh

(1)

ARTIKEL PUBLIKASI

PUSAT REHABILITASI PENYANDANG CACAT TUBUH

DI KUDUS

(Penekanan Pada Aksesibilitas dan Pendekatan Arsitektur Neo Vernacular)

Diajukan Sebagai Pelengkap dan Syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Teknik Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta

Disusun oleh : Arif Dwi Putranto

D 300 100 026

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

(2)
(3)
(4)

1 PUSAT REHABILITASI PENYANDANG CACAT TUBUH DI KUDUS (Penekanan Pada Aksesibilitas dan Pendekatan Arsitektur Neo Vernacular)

Arif Dwi Putranto

Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Surakarta Jl. A yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura 57102 Telp 0271 717417

Emai: dwiputra.2910@gmail.com

Abstrak

Latar belakang Pusat Rehabilitasi Penyandang Cacat Tubuh Di Kudus adalah Pusat atau tempat untuk pemulihan dan pelatihan kepada individu yang mempunyai kekurangan pada tubuh. Permasalahan yang muncul adalah belum tersedianya pusat pelayanan rehabilitasi cacat di Kudus, sehingga dibutuhkannya suatu tempat yang mampu mewadahi kegiatan pelayanan rehabilitasi. Tujuan dari penulisan ini adalah menyediakan suatu pusat pelayanan rehabilitasi yang mencakup aspek medis, pendidikan, sosial dan keterampilan, dengan penekanan standart aksesibilitas dan dengan pendekatan arsitektur neo vernacular sebagai wajah bangunannya. Keluaran yang ingin dicapai dari pusat rehabilitasi penyandang cacat tubuh di kudus ini adalah dapat menjadikan individu yang berguna, mandiri, terampil dan tidak bergantung kepada orang lain.

Kata kunci : rehabilitasi, penyandang cacat tubuh, kudus.

PENDAHULUAN A. Latar Belakang A.1. Pengertian

Pengertian “Pusat Rehabilitasi Penyandang Cacat Tubuh Di Kudus (Penekanan Standar Aksesibilitas Dan Pendekatan Desain Neo Vernacular)” adalah Sebuah pusat bangunan atau tempat untuk pemulihan atau pelatihan kepada individu yang menyandang (menderita) kekurangan pada tubuh yang berada di kabupaten kudus dengan penekanan standar aksesibilitas dan mengambil unsur-unsur arsitektur tradisional yang telah ada dan diinterpretasikan ke dalam bentuk-bentuk modern atau masa kini.

A.2. Permasalahan

(5)

2 TINJAUAN PUSTAKA

B. Pusat Rehabilitasi Penyandang Cacat Tubuh di Kudus B.1. Pengertian Penyandang Cacat

Penyandang cacat tubuh adalah seseorang yang mempunyai kelainan tubuh pada alat gerak yang meliputi tulang, otot dan persendian baik dalam struktur atau fungsinya yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan

hambatan baginya untuk melakuan kegiatan secara selayaknya.

Cacat tubuh juga disebut cacat orthopedic dan cacat muskuloskeletal yang berarti cacat yang ada hubungannyan dengan tulang, sendi dan otot. Cacat ortopedi adalah sakit jenis cacat, dimana salah satu atau lebih anggota tubuh bagian tulang, persendian mengalami kelainan (abnormal) sehingga timbul rintangan dalam melakukan funsi gerak (motorik). (Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial.2008.Panduan Khusus Pelaksanaan Bimbingan Sosial Penyandang Cacat Tubuh dalam Panti. Jakarta: Departemen Sosial RI.)

B.2. Pengertian Rehabilitasi

Rehabilitasi berasal dari dua kata, yaitu re yang berarti kembali dan habilitasi yang berarti kemampuan. Menurut arti katanya, rehabilitasi berarti mengembalikan kemampuan. Rehabilitasi adalah proses perbaikan yang ditujukan pada penderita cacat agar mereka cakap berbuat untuk memiliki seoptimal mungkin kegunaan jasmani, rohani, sosial, pekerjaan dan ekonomi. Rehabilitasi didefinisikan sebagai ”satu program holistik dan terpadu atas intervensi-intervensi medis, fisik, psikososial, dan vokasional yang memberdayakan seorang (individu penyandang cacat) untuk meraih pencapaian pribadi, kebermaknaan sosial, dan interaksi efektif yang fungsional dengan dunia” (Banja,1990:615). Sedangkan menurut PP No.72/1991 tentang PLB dan SK Mendikbud No.0126/U/1994 pada lampiran tentang Landasan, Program, dan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Luar Biasa, disebutkan bahwa rehabilitasi merupakan upaya bantuan medik, sosial, dan keterampilan yang diberikan kepada peserta didik agar mampu mengikuti pendidikan. Usaha rehabilitasi merupakan proses rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh petugas rehabilitasi secara bertahap, berkelanjutan, dan terus menerus sesuai dengan kebutuhan.

GAMBARAN LOKASI C.1.Kabupaten Kudus

Kabupaten Kudus adalah salah satu Kabupaten di jawa Tengah yang terletak di sebelah timur laut Kota Semarang dengan jarak tempuh + 51 km. Kabupaten Kudus dibatasi oleh beberapa kabupaten lain, yaitu :

o Di sebelah utara : Kabupaten Jepara, Kabupaten Pati o Di sebelah selatan : Kabupaten grobogan, Kabupaten Pati o Di sebelah timur: kabupaten Pati

(6)

3 Letak Kabupaten kudus antara 110 º 36¹ dan 110 º 50¹ Bujur Timur dan antara 6 º 51¹ dan 7 º 16¹ Lintang Selatan. Jarak terjauh dari barat ke timur adalah 16 km dan dari utara ke selatan 22 km.

Kabupaten Kudus yang mempunyai luas wilayah sebesar 425,15 Km2, merupakan wilayah terkecil bila dibandingkan dengan kabupaten lainya yang ada di Propinsi Jawa tengah. Kabupaten Kudus terdiri dari 9 Kecamatan, yaitu : Kecamatan yang terluas adalah Kecamatan Dawe, yaitu : 8.584 Ha (20,19 %) sedangkan yang paling kecil adalah kecmatan Kota seluas 1,047 Ha 92,46 %) dari Kabupaten Kudus. Luas daerah terdiri dari lahan persawahan seluas 21,704 Ha (51,04 %) dan 20,812 Ha (48,96 %) adalah bukan lahan sawah.

C.2. Kondisi Non Fisik Kabupaten Kudus 1. Kependudukan

Jumlah penduduk Kabupaten Kudus pada tahun 2012 tercatat sebesar 791.891 jiwa terdiri dari 391.722 jiwa laki-laki dan 400.169 jiwa perempuan. Apabila dilihat penyebarannya, maka kecamatan yang paling tinggi jumlah penduduknya adalah Kecamatan Jekulo, Kecamatan Jati, Kecamatan Dawe dan yang paling terkecil jumlahnya yaitu kecamatan Bae. Kepadatan penduduk dalam kurun waktu lima tahun (2008 – 2012) cenderung mengalami kenaikan seiring dengan kenaikan jumlah penduduk. Pada tahun 2012 tercatat sebesar 1.798 jiwa setiap satu kilo meter persegi. Di sisi lain persebaran penduduk masih belum merata, Kecamatan Kota merupakan kecamatan yang terpadat yaitu 8.738 jiwa per km2. Undaan paling rendah kepadatan penduduknya yaitu 961 jiwa per km2.

Tabel 1. Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Kudus

NO Kecamatan Luas (ha) Penduduk (Jiwa) Kepadatan Penduduk

1. Kaliwungu 3.271,28 90.219 2758

2. Kota 1.047,33 91.489 8738

3. Jati 2.629,80 97.291 3699

4. Undaan 7.177,04 68.994 961

5. Mejobo 3.676,52 69.080 1879

6. Jekulo 8.318,67 97.888 1181

7. Bae 2.332,27 61.966 2657

8. Gebog 5.445,97 93.491 1698

9. Dawe 8.584,00 94.188 1097

(7)

4 ANALISA DAN KONSEP

D.1. Kondisi Eksisiting Site

Site terletak di jalan Kudus-Purwodadi, Kec. Jati, Tanjung Karang, Kudus, (sebelah selatan Rumah Sakit Umum Mardi Rahayu Kudus), dengan kondisi eksisting site:

1. Termasuk dalam SWP I dan BWK I, yang merupakan zona atau kawasan industri, infrastruktur, energi, pertanian, pariwisata, pemukiman, pertahanan dan pelayanan.

2. Berada di sebelah selatan pusat kota. 3. Sarana dan Prasarana cukup memadai. 4. Akses jalan raya cukup baik.

5. Kebisingan sedang.

6. Topografi tanah tidak berkontur.

Gambar 1 Lokasi Site

Sumber:Google earth, diakses pada september 2014

Batas-batas lokasi:

Utara : Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus.

Timur : Jl.Kudus-Purwodadi, pertokoan, pemukiman dan Gor PB Djarum. Selatan : Lahan pertanian.

(8)

5 D.2. Analisa dan Konsep Pencapaian

Gambar 2. Konsep Pencapaian Sumber : Analisa Penulis Analisa :

a. Jalan Kudus-Purwodadi merupakan jalan utama yang mengarah ke pusat kota dan kearah ring road yang menghubungkan Semarang-Surabaya sebagai penghubung ke dalam dan keluar kota.

Konsep :

a. Merespon dari site lokasi, ME dan SE berada di sebelah timur karena mengoptimalisasi lahan.

D.3. Analisa dan Konsep Orientasi Bangunan

Gambar 3. Konsep Orientasi Bangunan Sumber : Analisa Penulis Analisa :

Berdasarkan letek site terhadap lingkungan sekitar, oreintasi bangunan diarahkan ke jalan Kudus-Purwodadi.

Konsep :

a. Secara garis besar orientasi bangunan di arahkan ke Jalan Kudus-Purwodadi sebagai jalan utama.

(9)

6 D.4. Analisa dan Konsep View

Gambar 4. Konsep View Sumber : Analisa Penulis

Analisa :

a. View dari luar site berasal dari Jalan Kudus-Purwodadi sebagai jalan utama.

b. View dari dalam site berpotensi kearah Jalan Kudus-Purwodadi sebagai jalan utama, Pemukiman, pertokoan dan kearah Gor PB Djarum.

Konsep :

a. View diarahkan keluar bangunan untuk merespon tuntutan dari analisa konsep yaitu kearah jalan utama sehingga diharapkan nilai ekspos bangunan dapat menarik perhatian.

D.5. Analisa dan Konsep Kebisingan

Gambar 5. Konsep Kebisingan Sumber : Analisa Penulis Analisa :

a. Sumber kebisingan berasal dari Jalan Kudus-Purwodadi. Konsep :

a. Penggunaan pagar pembatas dan vegetasi yang berdaun lebat berfungsi mereduksi sumber bunyi kebisingan.

(10)

7 berdekatan dengan zona bising sehingga dapat berfungsi sebagai barier terhadap fasilitas yang membutuhkan privasi tinggi.

D.6. Analisa dan Konsep Iklim

Gambar 6. Konsep Iklim Sumber : Analisa Penulis Analisa :

a. Sinar matahari berasal dari timur dan barat. Konsep :

a. Penggunaan sun shading atau tritisan sebagai penghalang sinar matahari yang langsung masuk ke dalam bangunan.

b. Penggunaan vegetasi sebagai filter dan juga pemantulan terhadap sinar matahari dan memberikan kesejukan.

D.7. Analisa dan Konsep Zonofikasi

Gambar 7. Konsep Zonifikasi Sumber : Analisa Penulis Analisa :

a. Site terletak di Jalan raya merupakan jalan penghubung dalam kota dan antar kota

(11)

8 Konsep :

a. Pemisahan antara zona publik, semi publik, privat kedalam bentuk perzoningan vertikal dan horizontal

b. Zona publik diletakkan di site bagian luar dekat jalan raya dan pintu masuk karena zona publik merupakan zona yang berhubungan dengan orang banyak (pulik) sehingga harus mudah dicapai.

c. Zona semi publik diletakkan di site bagian dalam karena zona ini tidak berhubungan langsung dengan publik.

d. Zona privat merupakan zona yang digunakan untuk fungsi kegiatan penunjang, zona ini terletak di site bagian paling dalam karena tidak semua orang dapat memasuki zona tersebut.

D.8. Analisa dan Konsep Sirkulasi

Gambar 8. Konsep Sirkulasi Sumber : Analisa Penulis Analisa :

a. Sirkulasi pengguna berupa jalur pedestrian, jalur khusus (ramp) dan jalur kendaraan.

b. Area parkir berada diluar bangunan.

c. Pemisahan sirkulasi antara pejalan kaki, pengguna kursi roda dan kendaraan bermotor.

Konsep :

a. Sirkulasi khusus bagi penyandang cacat, pengguna kursi roda berupa jalur pedestrian dan ramp.

(12)

9 D.9. Analisa Kebutuhan Ruang

Tabel 2. Analisa Kebutuhan Ruang

KEGIATAN UTAMA KEBUTUHAN RUANG

Kegiatan Administrasi Pusat (Pengelola) Aktifitas :

 Administrasi direktur

 Koordinasi staf

 Rapat

 Menerima tamu

 Menyimpan data

 Menyimpan barang

 MCK

 Hall

 R.Tamu

 R.Informasi

 R.Direktur

 R.Wakil Direktur

 R.Sekretaris

 R.Humas

 R.Tata Usaha

 R.Kepeg & Keuangan

 R.Seksi PPL

 R.Arsip

 R.Rapat

 Gudang

 Lavatory Kegiatan Rehabilitasi Medis

 Administrasi Medis - Administrasi pimpinan - Koordinasi staf - Menerima tamu - Menyimpan barang

 Pemeriksaan Medis - Menerima tamu

- Pendataan/ Administrasi - Pemeriksaan

- Menyimpan barang - MCK

 Ruangan Operasi - Menunggu

- Pendataan/Administrasi - Pemeriksaan

- Operasi - Bersih diri - Menyimpan alat - Menyimpan barang

 Ruang Penunjang Medis - Periksa

- Bank darah - Menyimpan obat

 R.Pimpinan

 R.Wakil Pimpinan

 R.Sekretaris

 R.Cuci/bersih diri

 Gudang

 R.Radiologi

 R.Laboratorium

 R.Farmasi

(13)

10 - Menyimpan barang

 Ruang Theraphy - Menunggu

- Pendataan/Administrasi - Pemeriksaan

- Berlatih - MCK

 Ruang Prothese - Menunggu - Bekerja - Berlatih

- Menyimpan barang - MCK

 Ruang Rawat Tinggal - Menunggu - Istirahat

- Menyimpan barang - MCK

 Ruang Pelayanan Sevice - Mengawasi - Memasak - Menyiapkan - Mencuci

- Menyimpan barang

 Bank Darah

 R.Tunggu

 R.Administrasi

 R.Dokter

 R.Terapi jalan

 R.Elektro terapy

 R.Hydroterapy

 Lavatory

 R.Tunggu

 R.Karyawan

 R.Bengkel prothese

 R.Latihan

 Gudang

 Lavatory

 R.Tunggu

 R.Perawatan pasien

 Gudang Kegiatan Rehabilitasi Sosial Karya/Vokasional

 Ruang Administrasi - Menerima tamu - Administrasi pimpinan - Koordinasi staf - Menyimpan barang - Istirahat

- MCK

 Ruang Revalidasi/Vokasional - Koordinasi staf - Persiapan pelatihan - Memberi latihan teori - Memberi latihan praktek - Menyimpan barang

 Hall

 R.Informasi

 R.Pimpinan

 R.Wakil pimpinan

 R.Sekretaris

 R.Tim rehabilitasi

(14)

11

 Ruang Pelayanan Servis - Administrasi - Memasak - Persiapan - Mencuci

- Menyimpan barang - MCK

 R.Tata usaha

 R.Pelatih/karyawan

 R.Latihan bid teknik

 R.Latihan bid jasa

 R.Latihan bid

 R.Tidur berkursi roda

 R.Tidur non kursi roda

 R.Tamu

 Lavatory

 R.Kep. Rumah tangga

 R.administrasi

 Gedung serbaguna

 Masjid

 Lap olah raga

 Perpustakaan

 R.Kesenian

D.10. Analisa Hubungan Ruang 1. Hubungan ruang secara makro

Keterangan

(15)

12 2. Hubungan ruang secara makro

a. Administrasi/Pengelola pusat

b. Kegiatan rehabilitasi medis 1. Administrasi medis

2. Pemeriksaan medis

(16)

13 4. Ruang penunjang medis

5. Ruang therapy

6. Ruang prothase

7. Ruang rawat tinggal

(17)

14 c. Kegiatan rehabilitasi sosial karya

1. Ruang administrasi

2. Ruang revalidasi/vokasional

3. Ruang asrama

(18)

15 DAFTAR PUSTAKA

Abadiyah, Siti. 2010. Perpustakaan Sejarah Di Surakarta Dengan Arsitektur Neo Vernakuler

Ahmad Toha, Muslim. 1996. Peranan Rehabilitasi Medis dalam Pelayanan

Kesehatan. Bandung: FK UNPAD.

Anonim. 2001. A City For All, Barrier-Free Environment Finland; National Center on Accessibility (NCA); Integrated National Disability Strategy of the Governmentof NationalUni(CUDD. Dept.of Arhitecture, Gadjah MadaUniversity, Indonesia.

Azizah, Ronim, 2011, Utilitas Bangunan.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Kudus Tahun 2012. Sumber : (Kudus Dalam Angka Tahun 2013)

Buku Publikasi RSO Prof. DR. R. Soeharso Surakarta Tahun 1998 dalam Saptabi,

Rodes. 2003. Redesain Pusat Pelayanan Rehabilitasi Rumah Sakit Ortopedi Prof. Dr. Soeharso Surakarta

Depdikbud RI. 1997. Pedoman Guru Dalam Bina Gerak Bagi Anak Tunadaksa.

Jakarta: Ditjen Dikdasmen Depdikbud

Dharma, Agus. Aplikasi Regionalisme Dalam Desain Arsitektur.

Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. 2008. Panduan Khusus

Pelaksanaan Bimbingan Sosial Penyandang Cacat Tubuh dalam Panti. Jakarta: Departemen Sosial RI.

ESCAP. 1995. Promotion of Non-Handicapping Physical Environments/or Disabled Persons. Casestudies, ESCAP, United Nations, New York. Ismunandar K. 1997. Arsitektur Rumah Tradisional Jawa.

IR. Hartono Poerbo, M. ARCH. 1995, Utilitas Bangunan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia Tahun. 1988. ( http://www.artikata.com/arti-376578-penyandang.html) (di akses September 2014)

___________. 2014. (http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Kudus) (di akses September 2014)

KEMENTRIAN KESEHATAN RI 2012. Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit Ruang Operasi.

KEMENTRIAN KESEHATAN RI 2012. Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit Ruang Rawat Inap.

Kudus Dalam Angka Tahun 2013

Nurjayanti, W. Buku pegangan kuliah Gambar Teknik. 2004.

Parker, Randall M, Szymanski, Edna Mora, and Patterson, Jeanne Boland. 2005.

Rehabilitation Counseling Basics and Beyond. Austin Texas: PRO-ED Inc.

Peraturan Pemerintah No. 36 tahun 1980. Usaha Kesejahteraan Sosial Bagi

Penderita Cacat. Jakarta: Ditjen Dikdasmen Depdikbud

Peraturan Pemerintah No. 72 tahun 1992. Pendidikan Luar Biasa. Jakarta: Ditjen

(19)

16 Peraturan Menteri Pekerjaan UmumNomor : 30/PRT/M/2006. Tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan

Pertiwi, Dyah Lina, 2010. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tuna Daksa, TA. Surakarta

Rusdiyanto, Jun, 2002. Pusat Rehabilitasi Cacat Tubuh di Surakarta, TA RTURK Kabupaten Kudus 2012-2032

Saptabi, Rodes. 2003. Redesain Pusat Pelayanan Rehabilitasi Rumah Sakit Ortopedi Prof. Dr. Soeharso Surakarta

Setyaningsih W. 2005. Policy and Regulation Supporting Inclusion In Indonesia. Perwujutan Elemen Aksesibilitas Bangunan Gedung dan Lingkzmgan.

UNS, Unit Kajian Aksesibilitas Arsitektur

Sumalyo, Yulianto. 1997. Arsitektur Modern Akhir Abad XIX Dan Abad XX.

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997. Tentang Penyandang Cacat, Pasal 1:4.

Widati, Sri. 1984. Rehabilitasi Sosial Psikologis. Bandung: PLB FIP IKIP.

http://indonesia-peta.blogspot.com/2011/01/gambar-peta-kota-kudus

http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://blog.grosirkebutuhanbayi.com/wp content/uploads/2013/11/Bayi-Cacat-Tanpa-Tangan-dan-Kaki-dari-Pasangan-Tulus Tambunan-Lamtiar-br-Silitonga.JPG.jpg&imgrefurl (di akses September 2014)

http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://4.bp.blogspot.com/_riduSghzJRc/S 67zuE0P

WI/AAAAAAAAArY/U32aqI3BAjo/s400/polio.jpg&imgrefurl=http://venasaphe namagna.blogspot.com/2010/03/ireland.ht (di akses September 2014)

http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://img.naij.com/n/00/d/thalidomide_4 .jpg&img efurl=http://apotekonlines.blogspot.com/2014/02/penyalahgunaan-obat-selama-kehamilan.html&h=194&w=259& (di akses September 2014)

http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.jasaraharja.co.id/files/2010/0 2/9168 2.jpg&imgrefurl=http://www.jasaraharja.co.id/akibat-laka-lantas-tangan-tak-berfungsi-dan-kaki-diamputasi,9168.html&h=230&w=400&t (di akses September 2014)

Gambar

Tabel 1. Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Kudus
Gambar 1 Lokasi Site
Gambar 4. Konsep View
Tabel 2. Analisa Kebutuhan Ruang

Referensi

Dokumen terkait

Leal dan Coppen (1996) menjelaskan tujuan program pemuliaan nenas untuk buah segar adalah jumlah tunas akar tidak lebih dari dua tunas, umur panen lebih singkat,

Persaingan yang semakin ketat saat ini, menuntut adanya keunggulan bersaing yang harus dimiliki oleh setiap perusahaan, dan membutuhkan strategi pemasaran yang tepat. Jumlah

Pemberian OAJ kepada pasien dengan faktor risiko, disertai gejala klinis, dan hasil pemeriksaan radiologi dan atau laboratorium yang mencurigakan infeksi jamur.. Terapi pre-emptive

I show that this argument fails to take account of modernity, and I relate the broader argument to the particular case of Cikeusal village of TasikMalaya; second, the particularity

Bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dalam membuat dan merumuskan kebijakan terutama yang berkaitan dengan

Implementasi dari sistem ujian online ini dibuat dengan fasilitas meliputi manajemen ujian, manajemen soal ujian, manajemen data dosen dan mahasiswa yang nantinya akan

[r]

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN MOTIVASI DENGAN PERILAKU PENCATATAN DAN PELAPORAN ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH DINAS KESEHATAN KABUPATEN BOYOLALI.. Pemberian ASI Eksklusif