i
MESIN PENDINGIN MINUMAN DENGAN DUA
EVAPORATOR RANGKAIAN SERI
SKRIPSI
Untuk memenuhi salah satu persyaratan mencapai derajat Sarjana Teknik Mesin
Oleh :
MATHEIS EVERDIN MAKATITA
115214015
PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN
JURUSAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
ii
COOLER DRINKS MACHINE WITH TWO
EVAPORATORSERIES CIRCUIT
FINAL PROJECT
As partial fulfillment of the requirement to obtain the SarjanainMechanical Engineering
By :
MATHEIS EVERDIN MAKATITA
115214015
MECHANICAL ENGINEERING STUDY PROGRAM
MECHANICAL ENGINEERING DEPARTMENT
SCIENCE AND TECHNOLOGY FACULTY
SANATA DHARMA UNIVERSITY
YOGYAKARTA
vii
ABSTRAK
Seiring berjalannya waktu semakin banyak mesin pendingin yang dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan manusia. Mesin pendingin ditinjau dari kegunaanya memiliki fungsi yang berbeda. Adapun fungsi dari mesin pendingin yaitu untuk mendinginkan, membekukan dan untuk pengkondisian udara. Sebagai contoh mesin pendingin yang berfungsi untuk mendinginkan yaitu refrigerator, dan yang untuk membekukan yaitu freezer, sedangkan yang untuk pengkondisian udara yaitu air conditioner (AC). Tujuan penelitian ini adalah (a) merakit mesin pendingin dengan dua evaporator yang digunakan untuk mendinginkan minuman, (b) menghitung kerja kompresor per satuan massa refrigeran, kalor yang dilepas kondensor per satuan massa refrigeran, kalor yang diserap evaporator per satuan massa refrigeran, laju aliran massa refrigeran, (c) mengetahui COPaktual mesin pendingin, COPideal mesin pendingin dan efisiensi mesin pendingin.
Penelitian ini menggunakan mesin pendingin minuman dengan dua evaporator rangkaian seri, yang menggunakan siklus kompresi uap dengan panjang pipa kapiler 150cm, daya kompresor 1/5 Hp, refrigeran134a, kondensor yang memiliki lekukan sebanyak 8U dan dua evaporator plat datar. Data yang diambil yaitu (a) suhu refrigeran saat masuk kompresor (T1), (b) suhu refrigeran saat keluar kondensor (T3), (c) suhu udara di dalamruang pendinginan (Truangpendingin), (d) tekanan rendah refrigeran masuk kompresor (P1), (e) tekanan tinggi refrigeran keluar kompresor (P2).
viii
kondensor pada saat stabil 59% dan yang tidak menggunakan kipas pendingin kondensor pada saat stabil 66%.
ix
ABSTRACT
As time goes by more and more cooling machines are utilized in accordance with human needs. Cooling engine in terms of it is functionality has different functions. As for the function of the cooling machine is to cool, freeze, and for air condiioning. For example a cooling machine that serves to cool the refrigerator, and which to freeze ie freezer, while those for air conditioning are air conditioner. The purpose of this study is to (a) assemble the cooling machine with two evaporators used to cool the beverage, (b) calculate the compressor work per unit mass of thr refrigerant, the heat released by the condenser per unit mass of he refrigerant, the heat absorbed by evaporator per unit mass of the refrigerant, the mass flow rate, (c) knowing theCOPactual, COPideal, and cooling machine
efficiency. The air temperature inside the cooling chamber,
This study used a beverage cooling machine with two evaporators series circuit, evaporators using a vapor compression cycle with 150 cm, capillary tube length , 1/5 Hp compressor power, refrigeran 134a, 8U condensor, and two flat plate evaporator. The data taken is the refrigeran temperature when entering the comressor, temperature of refrigerant upon exit condenser, low pressure refrigerant in compressor, high pressure refrigerant out comperssor.
This research gets results (a) a beverage cooling machine with two series circut evaporators has been successfully manufactured and in research using a condenser cooling fan produces evaporator work Te = -35,9 oC, condenser temperature Tc = 42,2 oC, and the temperature of the cooling chamber can be reached Tcooling room = 0,47 oC, whereas in the study that did not use condenser cooling fan to produce the working temperature of evaporator Te = -38,4 oC, condenser tempereture Tc = 45,8 oC, and the temperature of the cooling chamber can be reached Tcooling room = 2,32 oC. (b) the working of a refrigerant mass union compressor (Win) using a condenser cooling fan at a stable 67 kJ/kg, and which does not use a condenser cooling fan at a stable 64 kJ/kg.Headreleased by condenser per unit mass of refrigerant (Qout) using codenser cooling fan at stable 185 kJ/kg, and which does not use condenser cooling fan when stable 184 kJ/kg.Heatabsorbed by evaporator per unit mass of refrigerant (Qin) using condenser cooling fan at stable 118 kJ/kg, and not using condenser cooling fan at stable 120 kJ/kg. Refrigerant mass flow rate (ṁ) using condenser cooling fan at stable 0,00296 kg/sec, and which does not use condenser cooling fan at stable 0,00309 kg/sec.COPactualthat uses condenser cooling fans at a stable 1,76, and that does not use condenser cooling fans at a stable 1,88. COPidealthat uses condenser cooling fans at a stable 2,8, and that does not use condenser cooling fans at a stable 2,84. Efficiency using condenser cooling fan at stable 59%, and which did not use condenser cooling fan when stable 66%.
x
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat yang diberikan dalam penyusunan Skripsi ini sehingga semuanya berjalan dengan baik dan lancar.
Skripsi ini merupakan salah satu syarat wajib mendapatkan gelar sarjana S-1 pada Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Berkat bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak, akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Pada kesempatan ini dengan segenap kerendahan hati penulis menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Sudi Mungkasi, S.Si., M.Math.Sc., Ph.D., selaku Dekan Fakultas Sains dan
Teknologi,Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
2. Ir. Petrus Kanisius Purwadi, M.T., selaku Ketua Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Santa Dharma, Yogyakarta, sekaligus sebagai Dosen Pembimbing Skripsi, yang telah memberikan dorongan motivasi dan perhatian sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini.
3. Budi Setyahandana, S.T., M.T., selaku Dosen Pembimbing Akademik.
4. Kepala Lab Energi Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Santa Dharma, Yogyakarta.
5. Para Dosen dan Tenaga Kependidikan Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Santa Dharma, Yogyakarta.
6. Tenaga Kependidikan Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Santa Dharma, Yogyakarta.
7. Alexius Makatita, dan Maria Makatita selaku orang tua penulis dan keluarga penulis yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah mendukung dan memberi semangat penulis dalam menyelesaikan Skripsi.
xii
LEMBAR PERNYATAAN PUBLIKASI KARYA ... vi
ABSTRAK ... vii
2.5 Rumus Perhitungan Pada Mesin Pendingin ... 20
2.6 Tinjauan Pustaka ... 23
BAB III PEMBUATAN ALAT ... 26
3.1 Alat Penelitian ... 26
xiii
3.3 Peralatan Pendukung Pembuatan Mesin Pendingin ... 29
3.4 Proses Pembuatan Mesin Pendingin ... 35
3.5 Proses Pemvakuman dan Pemetilan ... 40 BABVHASIL PENELITIAN, PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN ... 55
5.1 Hasil Penelitian ... 55
5.2 Perhitungan ... 58
5.3 Pembahasan ... 74
BABVIKESIMPULAN DAN SARAN ... 80
6.1 Kesimpulan ... 80
6.2 Saran ... 83
DAFTAR PUSTAKA ... 84
LAMPIRAN ... 85
7.1 Nilai Entalpi Menggunakan Kipas ... 85
xiv
ISTILAH PENTING
Simbol Keterangan
h1 Nilai entalpi refrigeran masuk ke kompresor, (kJ/kg) h2 Nilai entalpi refrigeran keluar dari kompresor, (kJ/kg) h2 Nilai entalpi refrigeran masuk ke kondensor, (kJ/kg) h3 Nilai entalpi refrigeran keluar dari kondensor, (kJ/kg) Win Kerjakompresorpersatuanmassa refrigeran, (kJ/kg)
Qout Kalor yang dilepas kondensor persatuan massa refrigeran, (kJ/kg) Qin Kalor yang diserap evaporator persatuan massa refrigeran, (kJ/kg) ṁ Laju aliran massa refrigeran, (kg/detik)
COPaktual Koefisien prestasi aktual mesin pendingin COPideal Koefisienprestasi ideal mesin pendingin Te Suhu evaporator, (K)
Tc Suhu kondensor, (K) η Efisiensi mesin pendingin
W Kerja kompresor per satuan waktu, (J/detik)
xv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Perpindahan panas secara konduksi ... 6 Gambar 2.2 Perpindahan panas secara konveksi ... 6 Gambar 2.3 Perpindahan panas secara radiasi ... 8
Gambar 2.4 Kompresor hermetik ... 11
Gambar 2.5 Kondensor dengan jari-jari penguat ... 12
Gambar 2.6 Filter ... 13
Gambar 2.7 Pipa kapiler ... 13
Gambar 2.8 Evaporator Plat datar ... 14
Gambar 2.9 Refrigerant 134a ... 15
Gambar 2.10 Skematik rangkaian komponen siklus kompresi uap ... 16 Gambar 2.11 P-h diagram siklus kompresi uap ... 16 Gambar 2.12 T-s diagram siklus kompresi uap ... 17
Gambar 2.13 P-h diagram refrigeran 134a ... 19
Gambar 3.1 Mesin yang diteliti ... 26
Gambar 3.2 Rangka atau badan mesin pendingin ... 29
Gambar 3.3 Pemotong pipa ... 30
Gambar 3.9 Thermostatdan spesifikasinya ... 33
Gambar 3.10 Pompa vakum ... 34
Gambar 3.11 Styrofoam ... 34
Gambar 3.12 Kipas dan kompresor ... 35
xvi
Gambar3.15 Sambungan ujung pipa keluar kompresor dan ujung
Pipa masuk kondensor serta dudukan manifold gauge ... 37 Gambar 3.16 Sambungan filter dengan ujung pipa keluar kondensor ... 38 Gambar 3.17 Sambungan las pipa kapiler, evaporator 1 dan 2 ... 39 Gambar 3.18 Letak potongan pipa kapiler pada lubang keluar filter ... 39
Gambar 3.19 Letak fan dekat kompresor ... 40
Gambar 4.1 Diagram alur pembuatan dan penelitian mesin pendingin ... 44 Gambar 4.2 Skematik alat penelitian menggunakan kipas pendingin
kondensor ... 46
Gambar 4.3 Skematik alat penelitian tidak menggunakan kipas pendingin
kondensor ... 46
xvii
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Tebel pengambilan data ... 52
Tabel5.1 Nilai rata-rata data hasil penelitian tekanan (psi) menggunakan
kipas pendingin kondensor ... 55
Tabel 5.2 Nilai rata-rata data hasil penelitian tekanan (MPa) menggunakan
kipas pendingin kondensor ... 56
Tabel 5.3 Nilai rata-rata data hasil penelitian tekanan (psi) tidak
menggunakan kipas pendingin kondensor ... 56 Tabel 5.4 Nilai rata-rata data hasil penelitian tekanan (MPa) tidak
menggunakan kipas pendingin kondensor ... 57 Tabel 5.5 Nilai entalpi, suhu evaporator dan suhu kondensor yang
menggunakan kipas pendingin kondensor ... 58 Tabel 5.6 Nilai entalpi, suhu evaporator dan suhu kondensor yang tidak
menggunakan kipas pendingin kondensor ... 59 Tabel 5.7 Kerja kompresor(Win) dari waktu ke waktu yang menggunakan
kipas pendingin kondensor ... 60
Tabel5.8 Kerja kompresor(Win) dari waktu ke waktu yang tidak
menggunakan kipas pendingin kondensor ... 60 Tabel 5.9 Kalor yang dilepas kondensor per satuan massa refrigerant (Qout)
Yangmenggunakan kipas pendingin kondensor ... 62 Tabel 5.10 Kalor yang dilepas kondensor per satuan massa refrigerant (Qout)
tidak menggunakan kipas pendingin kondensor ... 63 Tabel 5.11 Kalor yang diserap evaporator per satuan massa refrigeran (Qin)
yang menggunakan kipas pendingin kondensor ... 64 Tabel 5.12 Kalor yang diserap evaporator per satuan massa refrigeran (Qin)
yang tidak menggunakan kipas pendingin kondensor ... 65 Tabel 5.13 Nilai laju aliran massa refrigeran (ṁ) yang menggunakan
kipas pendingin kondensor ... 66
Tabel 5.14 Nilai laju aliran massa refrigeran (ṁ) yang tidak menggunakan
xviii
Tabel 5.15 Nilai COPaktualmesin pendinginyang menggunakan kipas
pendingin kondensor ... 69
Tabel 5.16 Nilai COPaktualmesin pendinginyang tidak menggunakan
kipaspendingin kondensor ... 69
Tabel 5.17 Nilai COPideal mesin pedingin yang menggunakan kipas
pendingin kondensor ... 71
Tabel 5.18 Nilai COPideal mesin pedingin yang tidak menggunakan
kipas pendingin kondensor ... 71
Tabel 5.19 Nilai efisiensi mesin pendingin (η) yang menggunakan
kipas pendingin kondensor ... 73
Tabel 5.20 Nilai efisiensi mesin pendingin (η) yang tidak menggunakan
kipas pendingin kondensor ... 74
Table 5.21 Hasil penelitian yang menggunakan kipas pendingin kondensor ... 75 Table 5.22 Hasil penelitian yang tidak menggunakan kipas pendingin
xix
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Cara menentukan nilai entalpi (h) dari rata-rata data
Menggunakan kipas pendingin kondensor t = 10 menit ... 85 Lampiran 2 Cara menentukan nilai entalpi (h) dari rata-rata data
Menggunakan kipas pendingin kondensor t = 20 menit ... 86 Lampiran 3 Cara menentukan nilai entalpi (h) dari rata-rata data
Menggunakan kipas pendingin kondensor t = 30 menit ... 87 Lampiran 4 Cara menentukan nilai entalpi (h) dari rata-rata data
Menggunakan kipas pendingin kondensor t = 40 menit ... 88 Lampiran 5 Cara menentukan nilai entalpi (h) dari rata-rata data
Menggunakan kipas pendingin kondensor t = 50 menit ... 89 Lampiran 6 Cara menentukan nilai entalpi (h) dari rata-rata data
Menggunakan kipas pendingin kondensor t = 60 menit ... 90 Lampiran 7 Cara menentukan nilai entalpi (h) dari rata-rata data
Menggunakan kipas pendingin kondensor t = 70 menit ... 91 Lampiran 8 Cara menentukan nilai entalpi (h) dari rata-rata data
Menggunakan kipas pendingin kondensor t = 80 menit ... 92 Lampiran 9 Cara menentukan nilai entalpi (h) dari rata-rata data
Menggunakan kipas pendingin kondensor t = 90 menit ... 93 Lampiran 10 Cara menentukan nilai entalpi (h) dari rata-rata data
Menggunakan kipas pendingin kondensor t = 100 menit ... 94 Lampiran 11 Cara menentukan nilai entalpi (h) dari rata-rata data
Menggunakan kipas pendingin kondensor t = 110 menit ... 95 Lampiran 12 Cara menentukan nilai entalpi (h) dari rata-rata data
Menggunakan kipas pendingin kondensor t = 120 menit ... 96 Lampiran 13 Cara menentukan nilai entalpi (h) dari rata-rata data
Menggunakan kipas pendingin kondensor t = 130 menit ... 97 Lampiran 14 Cara menentukan nilai entalpi (h) dari rata-rata data
xx
Lampiran 15 Cara menentukan nilai entalpi (h) dari rata-rata data
tidak menggunakan kipas pendingin kondensor t = 20 menit ... 99 Lampiran 16 Cara menentukan nilai entalpi (h) dari rata-rata data
tidak menggunakan kipas pendingin kondensor t = 30 menit .. 100 Lampiran 17 Cara menentukan nilai entalpi (h) dari rata-rata data
tidak menggunakan kipas pendingin kondensor t = 40 menit .. 101 Lampiran 18 Cara menentukan nilai entalpi (h) dari rata-rata data
tidak menggunakan kipas pendingin kondensor t = 50 menit .. 102 Lampiran 19Cara menentukan nilai entalpi (h) dari rata-rata data
tidak menggunakan kipas pendingin kondensor t = 60 menit .. 103 Lampiran 20Cara menentukan nilai entalpi (h) dari rata-rata data
tidak menggunakan kipas pendingin kondensor t = 70 menit .. 104 Lampiran 21 Cara menentukan nilai entalpi (h) dari rata-rata data
tidak menggunakan kipas pendingin kondensor t = 80 menit .. 105 Lampiran 22 Cara menentukan nilai entalpi (h) dari rata-rata data
tidak menggunakan kipas pendingin kondensor t = 90 menit .. 106 Lampiran 23 Cara menentukan nilai entalpi (h) dari rata-rata data
tidak menggunakan kipas pendingin kondensor t = 100 menit .. 107 Lampiran 24 Cara menentukan nilai entalpi (h) dari rata-rata data
tidak menggunakan kipas pendingin kondensor t = 110 menit .. 108 Lampiran 25 Cara menentukan nilai entalpi (h) dari rata-rata data
tidak menggunakan kipas pendingin kondensor t = 120 menit .. 109 Lampiran 26 Cara menentukan nilai entalpi (h) dari rata-rata data
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada saat ini semakin banyak mesin pendingin yang dimanfaatkan sesuai
dengan kebutuhan manusia. Mesin pendingin adalah suatu peralatan yang sering
dijumpai di setiap gedung perkantoran, rumah sakit, tempat industri, rumah
tangga, mall/supermarket, hotel dan bahkan pada alat transportasi. Mesin
pendingin dapat berfungsi untuk mendinginkan (refrigerator), membekukan
(freezer), dan mengkondisikan udara (air conditioner/AC).
Refrigerator, jenis ini lebih dikenal dengan sebutan lemasi es atau kulkas.
Pada umumnya berfungsi untuk mengawetkan makanan, mendinginkan minuman,
dan membekukan. Pada Refrigerator perkembangbiakan dan kehidupan bakteri
dalam makanan yang didinginkan atau dibekukan dihentikan sehingga makanan
akan bertahan lebih lama dan dalam keadaan baik. Sedangkan minuman
didinginkan untuk mendapatkan kesegaran saat diminum.
Freezer, jenis ini tidak berbeda jauh dengan kulkas, hanya saja suhu kerja
Freezer lebih rendah dan dapat mencapai suhu -30 sampai -40 . Fungsi
utamanya untuk membekukan air atau bahan makanan seperti daging dan ikan.
Air Conditioner (AC), jenis ini berbeda dengan Refrigerator ataupun Freezer.
AC dipergunakan manusia untuk mengkondisikan udara dalam suatu ruangan,
agar manusia yang berada di dalamnya merasa lebih nyaman. Pengkondisian
Jika AC digunakan di dalam alat transportasi (pesawat, mobil, bus, kereta api,
kapal laut, dll), diharapkan manusia yang berada didalamnya bisa menikmati
perjalanan dengan rasa nyaman.
Mengingat pentingnya peranan mesin pendingin bagi manusia dalam
kehidupan sehari-hari, maka penulis berkeinginan untuk mengerti, memahami,
dan mengenal cara kerja beserta dengan karakteristik mesin pendingin, dengan
cara membuat mesin pendingin dengan dua evaporator dan melakukan penelitian
terhadap karakteristik mesin pendingin tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Masalah pada mesin pendingin pada umumnya adalah tidak diketahuinya
karakteristik dari mesin pendinginnya, oleh karenanya diperlukan suatu
pengalaman penelitian untuk dapat mengetahui karakteristik dari mesin
pendingin.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
a. Merakit mesin pendingin dengan dua evaporator yang digunakan untuk
mendinginkan minuman.
b. Menghitung kerja kompresor per satuan massa refrigeran, kalor yang dilepas
kondensor per satuan massa refrigeran, kalor yang diserap evaporator per
c. Mengetahui COPaktual mesin pendingin, COPideal mesin pendingin dan efisiensi
mesin pendingin.
1.4 Batasan-Batasan
Batasan-batasan yang dipergunakan dalam pembuatan mesin pendingin
dengan dua evaporatorini adalah :
a. Mesin pendingin bekerja dengan siklus kompresi uap.
b. Daya kompresor yang dipergunakan sebesar 1/5 HP, komponen utama yang
lain menyesuaikan dengan besarnya daya kompresor.
c. Refrigeran yang digunakan adalah refrigeran 134a (R-134a).
d. Panjang pipa kapiler yang digunakan 150 cm, dengan diameter pipa 0,028
inch, berbahan tembaga.
e. Kondensor yang digunakan memiliki lekukan atau lintasan sebanyak 8U.
f. Dua evaporator plat datar yang digunakan merupakan evaporator standar.
g. Komponen utama yang digunakan adalah komponen standart yang dijual di
pasaran.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah :
a. Bagi penulis, dapat memberikan bekal pemahaman terhadap mesin pendingin
dengan dua evaporator dan memberikan pengalaman dalam pembuatan mesin
b. Hasil penelitian dapat dipergunakan sebagai referensi bagi peneliti lain yang
ingin membuat mesin pendingin dengan dua evaporator atau lebih.
c. Hasil penelitian dapat di tempatkan di perpustakaan untuk menambah
5
BAB II
DASAR TEORI
2.1 Perpindahan Panas
Perpindahan panas merupakan perpindahan energi karena adanya perbedaan
temperatur atau suhu. Dimana energi yang berpindah dinamakan kalor (heat).
Panas akan terus mengalir dari temperature tinggi ke temperatur rendah dan akan
terhenti saat mencapai kesetimbangan temperature, ada tiga cara perpindahan
panas yaitu : secara (a) konduksi, (b) konveksi, dan (c) radiasi.
a. Konduksi
Perpindahan panas secara konduksi ialah pemindahan panas yang dihasilkan
dari kontak langsung antara permukaan-permukaan benda yang menghasilkan
panas. Setiap benda mempunyai konduktivitas termal (kemampuan mengalirkan
panas) tertentu yang akan mempengaruhi panas yang dihantarkan dari sisi yang
satu ke sisi yang lain. Semakin tinggi nilai konduktivitas termal suatu benda,
semakin cepat benda tersebut mengalirkan panas yang diterima dari satu sisi ke
sisi yang lain. Contohnya seperti pada Gambar 2.1 batang besi yang dipanaskan
Gambar 2.1 Perpindahan panas secara konduksi
b. Konveksi
Proses perpindahan panas melalui suatu zat yang disertai deangan
perpindahan bagian-bagian yang dilaluinya disebut konveksi. Konveksi dapat
terjadi pada zat cair dan gas. Syarat terjadinya konveksi pada zat cair adalah
adanya pemanasan. Hal ini disebabkan oleh massa jenis zat cair ikut berpindah
tempat. Contohnya pada Gambar 2.2 air yang dipanaskan dengan panci, massa
jenis air bagian bawah akan berkurang sehingga digantikan dengan air bagian
atas yang memiliki massa jenis lebih berat.
Ada dua macam perpindahan panas secara konveksi yaitu:
Perpindahan panas konveksi bebas
Perpindahan panas karena adanya pergerakan fluida atau zat cair pada benda
panas tanpa adanya alat bantu yang menggerakan fluida tersebut, tetapi
pergerakan fluidanya terjadi karena adanya perbedaan massa jenis yang
disebabkan oleh perbedaan suhu.Contoh perpindahan panas konveksi bebas
adalah panas kondensor yang berpindah secara bebas karena adanya perbedaan
suhu.
Perpindahan panas konveksi paksa
Perpindahan panas yang fluidanya bergerak karena adanya alat yang
digunakan untuk menggerakan fluida tersebut, seperti fan/kipas, blower, pompa
dan sebagainya. Contoh perpindahan panas konveksi paksa adalah panas
kondensor yang dipindahkan secara paksa dengan menggunakan kipas yang
menggerakan udara sekitar melewati kondensor.
c. Radiasi
Perpindahan panas secara radiasi adalah perpindahan panas yang terjadi
karena adanya pancaran gelombang-gelombang elektromagnetik tanpa adanya
media penghalang. Dengan kata lain radiasi panas dapat melalui ruang hampa.
Contoh perpindahan panas radiasi melalui ruang hampa dapat dilihat pada
Gambar 2.3 Perpindahan panas secara radiasi
Pada Gambar 2.3 menunjukan sinar matahari yang langsung mengenai permukaan
bumi. Maka permukaan bumi yang terkena langsung sinar matahari akan menjadi
panas. Pada kejadian ini terjadi perpindahan panas secara radiasi oleh sinar
matahari yang sampai ke bumi melalui ruang hampa tanpa adanya media
penghalang.
2.2 Definisi Mesin Pendingin
Mesin pendingin atau refrigerator bekerja untuk memindahkan panas dari
suatu ruangan yang memiliki temperatur rendah ke suatu tempat yang memiliki
temperatur yang lebih tinggi. Mesin pendingin yang banyak dipakai manusia
umumnya menggunakan siklus kompresi uap. Siklus ini terdiri dari beberapa
proses yaitu kompresi, kondensasi (pengembunan), penurunan tekanan, dan
evaporasi (penguapan). Proses tersebut berlangsung secara terus menerus dan
berulang-ulang sehingga didapat temperatur yang diinginkan. Adapun proses
a. Proses Kompresi
Proses kerja mesin pendingin dimulai dari kompresor, dengan adanya aliran
listrik, motor kompresor akan bekerja dan menghisap gas refrigeran yang bersuhu
rendah. Kemudian kompresor memampatkan gas refrigeran sehingga menjadi uap
atau gas bertekanan tinggi yang langsung mengalir ke kondensor.
b. Proses Kondensasi (pengembunan)
Gas bertekanan tinggi yang sampai di kondensor akan didinginkan. Proses
pendinginan refrigeran di dalam kondensor dapat terjadi karena suhu refrigeran
lebih tinggi dari suhu udara di luar, maka panas pada refrigeran dapat mengalir ke
udara luar. sehingga suhu refrigeran turun dan wujud refrigeran berubah menjadi
cairan, dan memasuki pipa kapiler.
c. Proses Penurunan Tekanan
Refrigeran kemudian memasuki pipa kapiler, untuk proses penurunan
tekanan. Penurunan tekanan refrigeran diakibatkan karena diameter pipa kapiler
lebih kecil dari diameter pipa lainya, sehingga terjadi hambatan pada tekanan
refrigeran. Dengan adanya penurunan tekanan maka suhu refrigeran menjadi lebih
rendah. Selanjutnya refrigeran memasuki ruang evaporator untuk proses
penguapan.
d. Proses Evaporasi (penguapan)
Saat refrigeran sampai di evapoator, refrigeran tersebut akan menguap atau
berubah fase dari cair menjadi gas. Karena adanya perbedaan suhu dimana suhu
lingkungan evaporator dapat mengalir ke refrigeran akibatnya ruangan di dalam
evaporator menjadi dingin.
Ada dua jenis mesin pendingin atau kulkas yaitu nonfreezer dan freezer.
Mesin pendingin minuman digolongkan sebagai kulkas nonfreezer, karena di
dalam kulkas tidak hanya terdapat bagian pembeku (evaporator). Sedangakan
kulkas freezer memiliki evaporator di setiap raknya, jadi freezer mampu
mambekukan sesuatu lebih banyak dibandingkan dengan kulkas nonfreezer.
2.3 Komponen Utama Mesin Pendingin
Pada mesin pendingin terdapat komponen-komponen utama yang mempunyai
peranannya masing-masing, komponen-komponen tersebut yaitu : (a) kompresor,
(b) kondensor, (c) filter, (d) pipa kapiler, (e) evaporator, dan fluida kerjanya
adalah refrigeran.
a. Kompresor
Kompresor adalah alat yang digunakan untuk menaikkan tekanan fluida gas.
Kompresor merupakan inti dari sistem kompresi uap. Kompresor yang sering
digunakan adalah kompresor hermatik (Hermatic Compressor). Kompresor ini
berada dalam satu wadah yang tertutup rapat, dan digerakkan oleh motor listrik
dengan komponen mekanik. Kompresor ini dapat bekerja dengan prinsip
recipocating ataupun rotary dimana posisi poros atau toraknya bisa vertikal
Gambar 2.4 Kompresor hermatik
b. Kondensor
Kondensor berfungsi untuk melepas panas pada refrigeran. Pelepasan panas
dapat terjadi karena adanya perbedaan suhu refrigeran yang tinggi dengan suhu
udara di lingkungan yang rendah. Dimana akan terjadi perpindahan panas secara
alami dari refrigeran ke udara lingkungan. Saat proses pelepasan panas terjadi,
refrigeran akan mengalami proses kondensasi. Proses ini pada mesin pendingin
Gambar 2.5 Kondensor dengan jari-jari penguat
c. Filter
Filter pada mesin pendingin terbuat dari bahan tembaga. Filter berfungsi
untuk menyaring kotoran yang ikut terbawa oleh refrigeran. Kotoran disaring
dengan tujuan agar tidak terjadi penyumbatan di dalam pipa kapiler saat refrigeran
mengalir, karena diameter pipa kapiler lebih kecil dari pipa-pipa yang lain.
Kotoran yang disaring dapat berupa sisa-sisa debu pada saaat proses pengelasan,
Gambar 2.6 Filter
d. Pipa Kapiler
Pipa kapiler berfungsi untuk menurunkan tekanan refrigeran, dengan tujuan
agar suhu refrigeran menjadi sangat rendah sehingga panas yang akan diserap
oleh evaporator dapat lebih optimal. Penyebab turunnya tekanan pada refrigeran
karena diameter pipa kapiler sangat kecil yang menyebabkan adanya hambatan
yang dapat menurunkan tekanan refrigeran sebelum masuk ke dalam evaporator.
Gambar 2.7 Pipa kapiler
e. Evaporator
Evaporator berasal dari kata evaporasi yang berarti penguapan. Evaporator
adalah ruang atau tempat refrigeran menyerap panas. Ketika refrigeran melewati
evaporator, akan terjadi perubahan fase dari cair menjadi gas. Proses ini terjadi
evaporator. Evaporator terbuat dari bahan logam tembaga atau aluminium karena
logam berfungsi sebagai konduktor yang baik. Jenis evaporator yang bayak
digunakan pada mesin pendingin adalah jenis pipa berplat pada kulkas 1 pintu dan
pipa bersirip pada kulkas 2 pintu.
Gambar 2.8 Evaporator plat datar
f. Refrigeran
Refrigeran juga sangat penting dalam suatu sistem mesin pendingin, karena
refrigeran berfungsi sebagai fluida yang dapat menyerap panas pada evaporator
dan kemudian melepaskan panas tersebut setelah memasuki kondensor.
Refrigeran dapat berubah wujud zat dari cair ke gas dan juga sebaliknya.
Refrigeran yang digunakan pada penelitian mesin pendingin dengan dua
evaporator ini adalah Refrigeran 134a (R-134a), karena refrigeran 134a ini tidak
beracun, tidak mudah terbakar dan relatif stabil. Berikut adalah spesifikasinya :
Tidak berwarna.
Tidak berbau.
Tidak merusak lapisan ozon.
Memiliki suhu kritis 101,1 °C.
Memiliki tekanan kritis 4,06 Mpa.
Ada beberapa bahan pending sejenis refrigeran 134a yg sering kita temukan
di pasaran antara lain SUVA 134a, HFC 134a, dan KLEA Forane 134a.
Gambar 2.9 Refrigeran134a
2.4 Siklus Kompresi Uap
Dari berbagai jenis system refrigerasi pada mesin pendingin, siklus
kompresi uaplah yang banyak digunakan. Pada siklus ini komponen yang
digunakan adalah kompresor, kondensor, pipa kapiler, dan evaporator. Skema
rangkaian komponen siklus kompresi uap disajikan pada Gambar 2.10. Gambar
2.11 menyajikan siklus kompresi uap pada P-h diagram dan pada Gambar 2.12
Qout
Win
Qin
Gambar 2.10 Skematik rangkaian komponen siklus kompresi uap
Gambar 2.11 P-h diagram siklus kompresi uap Kondensor
Pendinginan lanjut Penurunan temperatur
Kondensasi
Kompresi
Gambar 2.12 T-s diagram siklus kompresi uap
Proses siklus di atas dijelaskan sebagai berikut :
a. Proses 1-2 (Kompresi)
Sebelum dimulainya proses ini, refrigeran berupa gas panas lanjut bertekanan
rendah masuk ke kompresor. Kemudian kompresor menaikkan tekanan refrigeran
sehingga refrigeran menjadi gas panas lanjut bertekanan tinggi. Proses kompresi
berlangsung secara isentropic. Pada proses ini memerlukan energi listrik (untuk
kompresor hermatic).
b. Proses 2-2a (Penurunan temperatur/desuperheating)
Pada proses ini refrigeran mengalami proses penurunan suhu sampai
mencapai titik gas jenuh yang disertai dengan pelepasan kalor, sebelum refrigeran
memasuki kondensor. Penurunan temperatur disebabkan oleh perbedaan suhu
refrigeran dengan lingkungan sekitar evaporator. Proses ini berlangsung pada
c. Proses 2a-3a (Kondensasi)
Proses ini terjadi saat refrigeran sampai di kondensor. Dimana refrigeran
yang bertemperatur tinggi melepas panas ke lingkungan luar, sehingga terjadi
proses perubahan fase dari gas jenuh menjadi cair jenuh. Proses ini berlangsung
pada tekanan tinggi dan temperatur yang tetap. Pelepasan ini terjadi karena
temperatur refrigeran lebih tinggi dari temperatur lingkungan luar.
d. Proses 3a-3 (Pendinginan lanjut)
Proses ini berfungsi untuk memastikan agar refrigeran yang keluar dari
kondensor sudah dalam kondisi cair. Supaya refrigeran yang masuk ke dalam pipa
kapiler tidak bercampur dengan gas, yang dapat menyebabkan masalah pada
sistem pendingin. Pada proses ini terjadi penurunan temperatur refrigeran, dimana
temperature refrigeran lebih rendah dari temperatur refrigeran saat proses
kondensasi.
e. Proses 3-4 (Penurunan tekanan dan temperatur)
Proses ini berlangsung di pipa kapiler yang memiliki diameter sangat kecil
dari pipa yang lainnya. Sehingga terjadi penurunan tekanan yang mengakibatkan
terjadi pula penurunan temperatur. Proses ini berlangsung pada entalpi yang tetap.
f. Proses 4-1a (Evaporasi)
Pada proses ini panas yang berada di dalam eveporator akan diserap oleh
refrigeran. Sehingga terjadi perubahan fase campuran (cairan+gas) menjadi fase
g. Proses 1a-1 (Pemanasan lanjut)
Proses ini berfungsi memastikan agar refrigeran yang akan masuk ke
kompresor sudah sepenuhnya berbentuk gas. Proses ini berlanjut pada tekanan
yang tetap.
2.5 Rumus Perhitungan Pada Mesin Pendingin
Dengan diketahuinya nilai entalpi, suhu kerja kondensor, dan evaporator pada
P-h diagram, dapat dihitung besarnya : (a) kerja kompresor, (b) kalor yang dilepas
kondensor, (c) kalor yang diserap evaporator, (d) laju aliran massa refrigeran, (e)
COP, dan (g) efisiensi mesin pendingin.
a. Kerja kompresor (Win).
Besarnya kerja kompresor per satuan massa refrigeran dapat dihitung dengan
Persamaan (2.1).
b. Kalor yang dilepas kondensor (Qout)
Besarnya kalor yang dilepas kondensor per satuan massa refrigeran dapat
c. Kalor yang diserap evaporator (Qin)
Besarnya kalor yang diserap evaporator per satuan massa refrigeran dapat
dihitung dengan Persamaan (2.3)
Qin = h1– h4 (2.3)
Pada Persamaan (2.3) :
Qin : kalor yang diserap evaporator per satuan massa refrigeran
h1 : nilai entalpi refrigeran saat keluar dari evaporator
h4 : nilai entalpi refrigeran saat masuk ke evaporator
d. Laju aliran massa refrigeran ̇
Laju aliran massa per satuan waktu dapat dihitung dengan Persamaan (2.4)
̇ = W/Win = ( ⁄ ) Win (2.4)
Pada Persamaan (2.4) :
̇ : laju aliran massa refrigeran ⁄
W : kerja kompresor per satuan waktu ⁄
Win : kerja kompresor per satuan massa refrigeran ⁄
V : besar tegangan listrik yang digunakan kompresor (V)
e. COP (Coefficient Of Performance)
COP digunakan untuk mengetahui kerja dari siklus kompresi uap. Semakin
tinggi nilai COP, maka semakin baik juga kerja siklus kompresi uapnya. COP
tidak memiliki satuan karena merupakan hasil perbandingan antara kalor yang
diserap evaporator dengan kerja kompresor. COP dapat dihitung dengan
Persamaan (2.5) dan (2.6) :
COPaktual = Qin / Win (2.5)
COPideal = Te / (Tc - Te) (2.6)
Pada Persamaan (2.5) dan (2.6) :
COPaktual : koefisien prestasi aktual mesin pendingin.
COPideal : koefisien prestasi ideal mesin pendingin.
Te : temperatur mutlak evaporator (K).
Tc : temperatur mutlak kondensor (K).
f. Efisiensi (η)
Efisiensi adalah besarnya tingkat efektifitas pada mesin pendingin, yang
dapat dihitung dengan Persamaan (2.7)
η = (COPaktual / COPideal) (2.7)
Pada Persamaan (2.7) :
2.6 Tinjauan Pustaka
Anwar, K., melakukan penelitian tentang efek beban pendingin terhadap
performa sistem mesin pendingin. Penelitian ini menggunakan metode
eksperimental dengan variasi beban pendingin yang menempatkan bola lampu 60,
100, 200, 300 dan 400 watt di dalam ruang pendingin. Performa optimum pada
pengujian selama 30 menit diperoleh pada bola lampu 200 watt dengan COP
sebesar 2.64. Sedangkan untuk waktu pendinginan diperoleh paling lama pada
beban pendingin yang paling tinggi (bola lampu 400 watt).
Basri, M. H., melakukan penelitian tentang pengaruh temperatur kondensor
terhadap kinerja mesin refrigerasi Focus 808. Penelitian ini bertujuan untuk
mendapatkan pengaruh perubahan tekanan pada kondensor dan mendapatkan
kondisi kerja yang optimal dalam pengoperasian mesin dengan mensimulasikan
temperatur kondensor. Hasil penelitian menunjukkan kenaikan temperatur
kondensor akan menyebabkan kenaikan daya kompresor, tetapi menurunkan
kapasitas refrigerasi sehingga menurunkan koefisien prestasi sistem refrigerasi.
Dwinanda, D., melakukan penelitian tentang analisis pengaruh bentuk
lekukan pipa kapiler pada refrigerator. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh bentuk lekukan pipa kapiler pada refrigerator. Penelitian ini
menggunakan metode studi pustaka dan studi lapangan. Penelitian ini juga
menyajikan daftar alat serta bahan yang dipergunakan untuk membuat
refrigerator. Hasil dari percobaan ketiga pipa kapiler tersebut yang menghasilkan
Wilis., melakukan penelitian penggunaan refrigeran 22 dan 134a pada mesin
pendingin. Penelitian tersebut bertujuan : (a) menghitung prestasi kerja refrigeran
22 dibandingkan dengan refrigeran 134a. (b) membahas refrigeran yang lebih
ramah antara refrigeran 22 dengan 134a. Penelitian ini dilakukan dengan
batasan-batasan sebagai berikut : (a) menggunakan refrigeran 22 dan 134a. (b)
menggunakan mesin pengkondisian udara dengan motor penggerak kompresor 2
HP. Dari hasil penelitian didapatkan : (a) refrigeran 22 dari segi prestasi kerjanya
lebih baik dari refrigeran 134a, tetapi tidak ramah lingkungan. (b) refrigeran 134a
lebih ramah lingkungan, tetapi prestasi kerjanya lebih rendah dari refrigeran 22.
Riandri, S. R., melakukan penelitian tentang Mesin pendingin minuman
dengan panjang pipa kapiler 150 cm dan daya kompresor 1/5 HP. Yang bertujuan
: (a) menghitung kerja kompresor kerja kompresor per satuan massa refrigerant,
(b) kalor yang dilepas kondensor per satuan masa refrigerant, (c) kalor yang
diserap evaporator per satuan massa refrigeran, (d) laju aliran massa, (e) COPaktual,
(f) COPideal, (g) efisiensi mesin pendingin. Hasil yang didapatkan dari penelitian :
(a) kerja kompresor terkecil = 47 kJ/kg, terbesar = 53 kJ/kg , rata-rata = 50,28
kJ/kg dan saat stabil besarnya sekitar = 50 kJ/kg. (b) kalor yang di lepas terkecil
= 176 kJ/kg, terbesar = 200 kJ/kg, rata-rata = 184,71 kJ/kg dan saat stabil
besarnya sekitar = 180 kJ/kg. (c) kalor yang diserap terkecil = 128 kJ/kg, terbesar
= 147 kJ/kg, rata-rata = 134,42 kJ/kg dan saat stabil besarnya sekitar 130 kJ/kg.
(d) laju aliran massa terkecil = 0,00371 kg/detik, terbesar = 0,00429 kg/detik,
rata-rata = 0,00392 kg/detik dan saat stabil besarnya sekitar 0,00390 kg/detik. (e)
sekitar 2,60. (f) COPideal terkecil = 3,69, terbesar = 3,83, rata-rata = 3,77 dan saat
stabil besarnya sekitar 3,70. (g) Efisiensi terbesar = 76 %, terkecil = 64 %,
26
BAB III
PEMBUATAN ALAT
3.1 Alat Penelitian
Mesin yang digunakan pada penelitian ini adalah mesin pendingin dengan
daya kompresor 1/5 HP, kondensor dengan jumlah lintasan 8 lekukan U dengan
jari-jari penguat, dua evaporator, filter, pipa kapiler dan refrigeran. Mesin
pendingin minuman yang diteliti dapat dilihat pada Gambar 3.1.
Gambar 3.1 Mesin yang diteliti
a d
b
c
Keterangan :
3.2 Komponen – Komponen Alat Penelitian
Dalam pembuatan mesin pendingin dengan dua evaporator membutuhkan
komponen komponen : (a) kompresor, (b) kondensor, (c) filter, (d) pipa kapiler,
(e) evaporator, dan (f) refrigeran.
a. Kompresor
Kompresor berfungsi untuk menaikkan tekanan refrigeran dari tekanan
rendah ke tekanan tinggi, dan mengalirkan refrigeran di dalam sistem mesin
pendingin. Mesin pendingin ini menggunakan kompresor hermatik merk
panasonic dengan daya input 1/5 HP. (1 HP = 745,7 watt, dengan arus 0,9
ampere, dan voltage : 220 V).
b. Kondensor
Dalam penelitian ini menggunakan kondensor jenis pipa dengan jumlah
lintasan 8 lekukan U dengan sirip (jari-jari penguat). Kondensor bekerja secara
berkebalikan dengan evaporator, yaitu merubah fase refrigeran dari gas menjadi
cair. Kondensor melepas panas dari refrigeran ke udara disekitarnya karena
adanya perbedaan suhu. Spesifikasi kondensor yang digunakan yaitu : panjang
kondensor 65 cm, lebar kondensor 45 cm. Pipa kondensor berbahan besi, dengan
diameter pipa 4,8 mm, Sirip (jari-jari penguat) kondensor berbahan baja, dengan
c. Filter
Fungsi dari filter ialah untuk menyaring kotoran-kotoran refrigeran agar
kotoran-kotoran tidak masuk ke dalam pipa kapiler di sistem pendingin dan juga
agar tidak menyumbat pipa kapiler. Filter yang digunakan berbahan tembaga
dengan panjang 8,5 cm, dan berdiameter 19 mm.
d. Pipa Kapiler
Pipa kapiler berfungsi menurunkan tekanan refrigeran sebelum masuk
evaporator (atau dari tekanan tinggi ke tekanan rendah). Dalam penelitian ini
menggunakan pipa kapiler berbahan tembaga dengan panjang 150 cm dan
diameter 0,028 inch.
e. Evaporator
Evaporator difungsikan untuk mengubah fase refrigeran dari fase cair
menjadi fase gas. Pada saat terjadi perubahan fase, kalor mengalir dari lingkungan
ke evaporator. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan suhu antara refrigeran
dengan suhu lingkungan sekitar. Suhu evaporator lebih rendah dari lingkungan.
Jenis evaporator yang digunakan dalam penelitian adalah evaporator permukaan
datar yang terbuat dari aluminium dan besi dengan ukuran panjang 44 cm, dan
f. Refrigeran
Refrigeran digunakan sebagai fluida kerja di dalam sistem pendingin. Dalam
penelitian ini menggunakan refrigeran 134a (R-134a). Sifat-sifat refrigeran 134a
tersaji pada Gambar (2.13).
3.3 Peralatan Pendukung Pembuatan Mesin Pendingin
Adapun peralatan pendukung dalam proses pembuatan mesin pendingin ini
sebagai berikut :
a. Rangka atau badan mesin pendingin
Rangka berfungsi sebagai pendukung wadah dari semua rangkaian mesin
pendingin yang diteliti. Ukuran rangka atau badan : tinggi 121 cm, panjang 95,5
cm, dan lebar 35 cm.
b. Pemotong pipa (Tubing cutter)
Sesuai namanya alat ini berfungsi sebagai alat pemotong pipa tembaga lunak.
Pemotong pipa ini mempunyai sebuah pisau yang bulat dan tajam. Pisau tersebut
dapat diputar pada porosnya, dimana sisi yang lain terdapat dua buah roda untuk
menahan pipa yang akan di potong. Dua roda tersebut dapat ikut berputar.
Gambar 3.3 Pemotong pipa
c. Pelebar pipa (Swagging tool)
Fungsinya untuk melebarkan diameter ujung pipa tembaga lunak yang akan
disambung dengan pipa tembaga lunak yang berdiameter sama.
d. Manifold gauge
Manifold gauge digunakan untuk mengukur tekanan refrigeran dalam sistem
pendinginan. Baik pada saat pengisian refrigeran dalam sistem pendingin maupun
pada saat sistem beroperasi. Tekanan yang diukur adalah tekanan tinggi (keluar
kompresor) dan tekanan rendah (tekanan masuk kompresor).
Gambar 3.5 Manifold gauge
e. Alat las
Alat las merupakan pipa dengan kran dan tabung berisi gas seperti tersaji
pada Gambar 3.6 yang digunakan untuk menambal, menyambung dan melepaskan
sambungan pipa tembaga pada sistem mesin pendingin.
f. Bahan las
Bahan las yang digunakan dalam penyambungan pipa dalam sistem mesin
pendingin menggunakan bahan tembaga dan borak. Bahan borak digunakan jika
penyambungan antara tembaga dan besi.
Gambar 3.7 Bahan las
g. Metil
Metil adalah cairan yang berfungsi untuk membersihkan saluran-saluran pipa
setelah selesai penyambungan dan pemasangan pipa sistem pendingin.
Penggunaan cairan sebanyak satu tutup botol metil.
h. Thermostat
Thermostat adalah alat yang digunakan untuk mengatur suhu ruangan
pendingin. Pada penelitian ini menggunakan thermostat dengan pengaturan suhu
12,5-1,5°C. Jika suhu yang diinginkan telah tercapai, maka kompresor akan mati.
Gambar 3.9 Thermostat dan spesifikasinya
i. Pompa vakum
Pompa vakum digunakan untuk mengkondisikan agar sistem mesin pendingin
dalam kondisi vakum, agar uap air yang berada di dalam sistem mesin pendingin
dapat keluar dari sistem. Karena jika uap air tidak dikeluarkan maka ketika sistem
Gambar 3.10 Pompa vakum
j. Styrofoam
Styrofoam berfungsi untuk menjaga agar kalor dari luar tidak masuk kedalam
ruang pendinginan. Karena styrofoam memiliki nilai konduktivitas yang rendah
sehingga kalor dari lingkungan luar tidak dapat masuk dengan cepat kedalam
ruangan pendinginan.
k. Kipas
Kipas atau fan berfungsi mengalirkan udara untuk membantu menurunkan
suhu casing kompresor agar kompresor tidak mengalami overheating.
Gambar 3.12 Kipas dan kompresor
3.4 Proses Pembuatan Mesin Pendingin
Langkah-langkah yang dilakukan dalam pembuatan mesin pendingin yaitu :
a. Mempersiapkan rangka yang terbuat dari aluminium yang berfungsi sebagai
badan mesin pendingin. Lihat Gambar 3.2.
b. Memasang styrofoam di bagian dalam ruang pendinginan. Tepatnya di bagian
samping kiri, kanan, atas, bawah, depan dan belakang dari ruang pendinginan
Gambar 3.13 Letak styrofoam dalam ruang pendinginan
c. Memasang kompresor pada dudukan dibagian bawah rangka yang sudah di
siapkan, lihat Gambar 2.4.
d. Memasang kondensor pada bagian samping kiri pada rangka dengan
menggunakan baut, lihat Gambar 2.5.
e. Memasang evaporator di dalam ruang pendinginan yang sudah ditutupi
dengan styrofoam, lihat Gambar 2.8.
f. Memasang thermostat pada salah satu sisi pojok bagian bawah ruang
pendinginan, lalu menghubungkan kabel thermostat dengan kabel kompresor
Gambar 3.14 Letak thermostat pada bagian bawah ruang pendinginan
g. Melakukan pengelasan ujung pipa keluar kompresor dengan pipa masuk
kondensor, tetapi sebelum itu, melas (melakukan pengelasan) dan
menyambungkan terlebih dahulu pipa untuk dudukan Manifold gauge. Seperti
tersaji pada Gambar 3.15.
h. Melakukan pengelasan dan menyambungkan ujung pipa masuk filter dengan
lubang pipa keluar kondensor.
Gambar 3.16 Sambungan filter dengan ujung pipa keluar kondensor
i. Melakukan pengelasan ujung pipa keluar filter dengan ujung masuk pipa
kapiler, lalu melakukan pengelasan ujung pipa kapiler yang satunya dengan
ujung pipa masuk evaporator 1.
j. Melakukan pengelasan bagian ujung pipa keluar evaporator 1 dengan ujung
Gambar 3.17 Sambungan las pipa kapiler, evaporator 1 dan 2
k. Melakukan pengelasan ujung pipa masuk kompresor dengan ujung pipa
keluar evaporator 2.
l. Memasangkan dan melakukan pengelasan potongan pipa kapiler dengan
panjang kira-kira 10 cm pada lubang keluar filter.
m. Memasang fan (kipas) pada bagian bawah rangka bersebelahan dengan
kompresor.
Gambar 3.19 Letak fan dekat kompresor
3.5 Proses Pemvakuman dan Pemetialan
Agar mesin pendingin dapat digunakan, perlu dilakukan proses pemvakuman.
Proses ini merupakan proses untuk menghilangkan udara yang terjebak dalam
sistem mesin pendingin. Setelah proses pemvakuman dilanjutkan dengan proses
pemetilan. Proses ini merupakan proses pemberian cairan metil dengan tujuan
untuk membersihkan sistem pendinginan dari kotoran atau debu-debu yang masuk
kedalam pipa saat pengelasan atau pemasangan komponen mesin pendingin.
a. Pertama menyiapkan pompa vakum, manifold gauge berserta selang merah
dan biru, memasangkan selang merah pada tabung freon dan pipa hisap
pompa vakum, lalu memasangkan selang biru pada pipa tekan pompa vakum
dan pentil kompresor.
b. Menyalakan pompa vakum, secara otomatis udara yang terjebak dalam
rangkaian akan keluar melewati potongan pipa kapiler yang telah dilas
dengan lubang keluar filter.
c. Menaruh korek api yang sudah dinyalakan di depan ujung potongan pipa
kapiler. Untuk memastikan sudah tidak ada udara lagi di dalam sistem.
d. Ketika sistem telah mencapai kondisi vakum, maka pada jarum pressure
gauge akan menunjukkan angka yang negatif (secara maksimal).
e. Memasukkan metil ke dalam sistem sebanyak 1 tutup botol metil dengan cara
menempelkan cairan metil pada potongan pipa kapiler.
f. Mematikan pompa vakum agar metil dapat terhisap dan masuk ke dalam
sistem.
3.6 Proses Pengisian Refrigeran 134a
Pengisian refrigeran setelah proses pemvakuman dan pemetilan berhasil
dilakukan. Ketika proses pengisian refrigeran, kompresor harus dalam keadaan
menyala atau bekerja dan tekanannya harus dibawah 0 s/d – 30 psi.
Langkah-langkah proses pengisian refrigeran pada mesin pendingin sebagai berikut :
a. Persiapkan refrigeran 134a, manifold gauge, selang merah dan biru, pentil
kompresor, dan clamp meter.
b. Pasangkan pentil di bagian pipa pengisian refrigeran pada kompresor.
c. Pasang selang manifold berwarna merah pada pentil pengisian refrigeran pada
kompresor dan selang warna biru pada tabung refrigeran 134a.
d. Setelah semua selang terpasang, buka penuh kran pada tabung refrigeran, dan
nyalakan komperesor.
e. Kemudian pasang tang ampere pada salah satu kabel yang menuju overload
kompresor.
f. Buka keran manifold warna biru secara perlahan-lahan jangan sampai
melebihi 10 psi.
g. Setelah angka tekanan sudah menunjukkan 10 psi dan pada clamp metersudah
menunjukan angka yang sesuai pada spesifikasi kompresor tersebut misal
0,9A berarti refrigeran telah selesai diisi dan menutup semua keran pada
manifold. Bila terjadi bunga es pada pipa evaporator, maka refrigeran telah
h. Setelah refrigeran telah terisi ke dalam sistem kemudian mematikan
komperesor. Lalu melepaskan selang manifold, dan menutup penutup pentil
kompresor.
3.7 Uji Coba
Mesin pendingin yang telah selesai dibuat perlu diuji untuk mendapatkan
informasi dan spesifikasi apakah mesin pendingin telah benar-benar dapat bekerja
dengan baik atau belum. Bila mesin pendingin dapat bekerja dengan baik berarti
mesin pendingin tidak mengalami kebocoran atau kebuntuan, tetapi bila mesin
pendingin bekerja dengan tidak baik berarti mesin pendingin mengalami
kebocoran atau kebuntuan. Jika mesin pendingin belum dapat bekerja dengan
baik, maka mesin pendingin perlu dibenahi atau dibetulkan dahulu, jika mesin
pendingin sudah dapat bekerja dengan baik maka pengambilan data penelitian
44
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Alur Penelitian
Tahap pembuatan dan penelitian mesin pendingin minuman mengikuti
diagram alur seperti yang tersaji pada Gambar 4.1 :
Gambar 4.1 Diagram alur pembuatan dan penelitian mesin pendingin.
Pengolahan Data Win, Qin, Qout, COPideal, Laju Aliran Massa Refrigeran (ṁ),
COPaktual, Efisiensi (), Pembahasan, Kesimpulan dan saran.
Selesai Baik
Tidak Baik Mulai
Perancangan Mesin Pendingin
Pemvakuman, Pemetilan, Penyambungan Mesin Pendingin Persiapan Komponen-Komponen Mesin Pendingin
Pengisian Refrigeran 134a
Uji Coba
Pengambilan Data P1, P2, T1, T3, Truang pendingin
Penggambaran Siklus Kompresi Uap Pada P-h Diagram,
Dalam penelitian mesin pendingin minuman dengan dua evaporator ini
menggunakan beban pendingin minuman mineral kemasan sebanyak 1 botol
dengan ukuran 600 ml. Proses penelitian berlangsung selama 130 menit dan
dilakukan sebanyak 5 kali pengambilan data, dengan hari dan waktu yang
berbeda.
4.2 Obyek yang Diteliti
Obyek yang diteliti adalah mesin pendingin minuman dengan dua evaporator,
lihat Gambar 3.1.
4.3 Skematik Alat Penelitian
Untuk mengambil data-data pada penelitian diperlukan alat ukur tekanan dan
alat ukur suhu. Posisi-posisi alat ukur untuk pengambilan data dapat dilihat pada
Gambar 4.2 dan Gambar 4.3.
Gambar 4.2 Skematik alat penelitian menggunakan kipas pendingin kondensor
Keterangan alat bantu penelitian pada Gambar 4.2 dan Gambar 4.3 sebagai berikut
:
a. Thermokopel dan alat penampil suhu digital (T1)
Berfungsi untuk mengukur suhu refrigeran masuk kompresor.
b. Thermokopel dan alat penampil suhu digital (T3)
Berfungsi untuk mengukur suhu refrigeran yang keluar dari kondensor
sebelum masuk ke pipa kapiler.
c. Thermometer Hygrometer Analog (Tbeban)
Berfungsi untuk mengukur suhu beban pendinginan di dalam ruang
pendinginan.
d. Pressure gauge (P1)
Berfungsi untuk mengukur tekanan rendah refrigeran yang masuk ke
kompresor.
e. Pressure gauge (P2)
Berfungsi untuk mengukur tekanan tinggi refrigeran yang keluar dari
kompresor.
4.4 Variasi Penelitian
Penelitian dilakukan dengan membandingkan karakteristik mesin pendingin
yang menggunakan kipas pendingin kondensor dengan mesin pendingin tanpa
4.5 Alat Bantu Penelitian
Untuk memperoleh data-data dalam penelitian ini, menggunakan beberapa
alat bantu yaitu :
a. Thermokopel dan Penampil Suhu Digital
Kedua alat ini berfungsi untuk mengukur suhu pada saat pengambilan
data-data dalam penelitian. Cara penggunaanya yaitu pertama pasangkan thermokopel
pada penampil suhu digital lalu tempelkan ujung thermokopel pada bagian yang
akan diukur.
Gambar 4.5 Alat penampil suhu digital (APPA)
b. Pressure Gauge
Pada penelitian ini pressure gauge digunakan untuk mengukur tekanan
refrigeran masuk ke kompresor dan keluar dari kompresor.
Gambar 4.7 Pressure gauge
c. Stopwatch
Stopwatch digunakan untuk mengukur waktu pada saat proses pengambilan
data.
4.6 Cara Mendapatkan Data
Data-data didapatkan dari alat-alat ukur yang telah di pasang pada bagian
mesin pendingin yang sudah di tentukan. Langkah-langkah yang dilakukan dalam
pengambilan data adalah sebagai berikut :
a. Menyiapkan peralatan pendukung untuk pengambilan data.
b. Memasukkan thermometer hygrometer analog kedalam ruang pendinginan,
lalu tutup rapat ruang pendinginan agar dapat melihat peningkatan suhu di
dalam ruang pendingin.
c. Menempelkan ujung kabel thermokopel 1 pada pipa masuk kompresor, untuk
mendapatkan data suhu dari refrigeran sebelum masuk ke kompresor.
d. Menempelkan ujung kabel thermokopel 2 pada bagian pipa setelah filter
sebelum refrigeran masuk ke pipa kapiler, untuk mendapatkan data suhu
refrigeran sebelum masuk pipa kapiler.
e. Setelah semua alat ukur terpasang, nyalakanlah mesin pendingin
minumannya untuk melakukan pengambilan data-data.
f. Data-data yang dicatat yaitu :
Tbeban : suhu beban pendinginan, (°C)
T1 : suhu refrigeran sebelum masuk ke kompresor, (°C)
T3 : suhu refrigeran sebelum masuk pipa kapiler, (°C)
P1 : tekanan randah refrigeran sebelum masuk kompresor, (psi)
Pengambilan data dilakukan 5 kali dengan waktu dan hari yang berbeda. Data
diambil setiap 10 menit dengan total waktu selama 130 menit.Tabel
pengisian data disajikan pada Tabel 4.1
Tabel 4.1 Tabel pengambilan data
4.7 Cara Mengolah Data dan Pembahasan
Cara yang digunakan unuk mengolah data dan pembahasan yaitu :
a. Menghitung rata-rata data yang sudah di dapat ( P1, P2, T1, T3,Truang pendingin)
dari hasil penelitian 1, 2, 3, 4, dan 5.
b. Sesudah diperoleh rata-rata dari datanya, selanjutnya menggambar siklus
kompresi uap pada p-h diagram.
c. Dari hasil gambar siklus kompresi uap pada p-h diagram diperoleh nilai
entalpi (h1, h2, h3, h4), suhu kondensor, dan suhu evaporator.
d. Setelah nilai entalpi didapat, lalu digunakan untuk mengetahui karakteristik
dari mesin pendingin minuman yang diteliti dengan cara mengitung kerja
kompresor per satuan massa refrigeran, kalor yang dilepas kondensor per
satuan massa refrigeran, kalor yang diserap evaporator per satuan massa
refrigeran, laju aliran massa refrigeran, COPaktual, COPideal, dan efisiensi dari
mesin pendingin minuman dengan dua evaporator tersebut.
e. Hasil-hasil dari perhitungan untuk karakteristik mesin pendingin minuman
dengan dua evaporator digambarkan dalam bentuk grafik untuk
mempermudah pembahasan. Pembahasan yang dilakukan terhadap grafik
4.7 Cara Mendapatkan Kesimpulan & Saran
Dari hasil perhitungan dan pembahasan yang telah dilakukan, akan diperoleh
suatu kesimpulan pada penelitian ini. Kesimpulan merupakan intisari dari
pembahasan, yang harus sesuai dengan tujuan penelitian yang dilakukan. Saran
ditulis dan diberikan agar pelaksanaan penelitian untuk masa-masa yang akan
datang, dapat berjalan lebih baik. Saran juga berupa masukkan-masukkan
55
BAB V
HASIL PENELITIAN,
PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Penelitian
Dari penelitian yang telah dilakukan terhadap mesin pendingin minuman
dengan dua evaporator rangkaian seri, diperoleh nilai rata-rata tekanan refrigeran
masuk kompresor (P1), tekanan refrigeran keluar kompresor (P2), suhu refrigeran
masuk kompresor (T1), suhu refrigeran keluar kondensor (T3), dan suhu udara di
dalam ruang pendinginan (Truang pendingin). Data hasil penelitian tersaji di dalam
Tabel 5.1.
Tabel 5.2 Nilai rata-rata data hasil penelitian tekanan (MPa) menggunakan kipas
Tabel 5.4 Nilai rata-rata data hasil penelitian tekanan (MPa) tidak menggunakan
Keterangan Tabel 5.2 dan Tabel 5.4 :
P1 = Tekanan refrigeran masuk kompresor (MPa).
P2 = Tekanan refrigeran keluar kompresor (MPa).
T1 = Suhu refrigeran masuk kompresor (C).
T3 = Suhu refrigeran keluar kondensor (C).
Truang pendingin = Suhu udara di dalam ruang pendinginan (C).
Tekanan yang dicantumkan dalam Tabel 5.2 dan Tabel 5.4 adalah tekanan
Dari hasil menggambar siklus kompresi uap pada P-h diagram, diperoleh nilai
entalpi (h1, h2, h3, h4), suhu evaporator (Te) dan suhu kondensor (Tc), yang datanya
disajikan pada Tabel 5.5 yang menggunakan kipas pendingin kondesor dan Tabel
5.6 yang tidak menggunakan kipas pendingin kondensor.
Tabel 5.6 Nilai entalpi, suhu evaporator dan suhu kondensor yang tidak
a. Kerja kompresor per satuan massa refrigeran (Win).
Kerja kompresor per satuan massa refrigeran (Win) dapat dihitung dengan
menggunakan Persamaan (5.1). Sebagai contoh perhitungan untuk mencari nilai
Win diambil pada menit ke 40 yang disajikan pada Tabel 5.5.
Win = h2 – h1 (kJ/kg) ... (5.1)
= (449-382) kJ/kg
Tabel 5.7 Kerja kompresor (Win) dari waktu ke waktu yang menggunakan kipas
Dari Tabel 5.7 Win dari waktu ke waktu yang menggunakan kipas pendingin
kondensor, dan Tabel 5.8 yang tidak menggunakan kipas pendingin kondensor
dapat disajikan dalam bentuk grafik seperti tersaji pada Gambar 5.2.
Gambar 5.1 Win dari waktu ke waktu
Pada Gambar 5.1 Win yang menggunakan kipas dan yang tidak meggunakan kipas
dari waktu ke waktu telihat tidak jauh berbeda namun yang tidak menggunakan
b. Kalor yang dilepas kondensor per satuan massa refrigeran (Qout).
Kalor yang dilepas kondensor per satuan massa refrigeran (Qout) dapat
dihitung dengan menggunakan persamaan (5.2). Sebagai contoh perhitungan
untuk mencari nilai Qout diambil pada menit ke 40 yang disajikan pada Tabel 5.7.
Qout = h2– h3 (kJ/kg) ... (5.2)
= (449-264) kJ/kg
= 185 kJ/kg
Tabel 5.10 Kalor yang dilepas kondensor per satuan massa refrigerant (Qout) tidak
tidak menggunakan kipas pendingin kondensor dapat disajikan dalam bentuk
grafik seperti tersaji pada Gambar 5.2.
Pada Gambar 5.2 Qout yang menggunakan kipas dan yang tidak meggunakan
kipasdari waktu ke waktu telihat sama sama stabil.
c. Kalor yang diserap evaporator per satuan massa refrigeran (Qin).
Kalor yang diserap evaporator per satuan massa refrigeran (Qin) dapat
dihitung dengan menggunakan Persamaan (5.3). Sebagai contoh perhitungan
untuk mencari nilai Qin diambil pada menit ke 40 yang disajikan pada Tabel 5.9.
Qin = h1– h4 (kJ/kg) ... (5.3)
= (382-264) kJ/kg
= 118 kJ/kg
Tabel 5.12 Kalor yang diserap evaporator per satuan massa refrigeran (Qin) yang tidak menggunakan kipas pendingin kondensor
No
menggunakan kipas pendingin kondensor dapat disajikan dalam bentuk grafik
seperti pada Gambar 5.3.
Pada Gambar 5.3 Qin yang menggunakan kipas dan yang tidak meggunakan kipas
dari waktu ke waktu telihat tidak jauh berbeda dan stabil.
d. Laju aliran massa refrigeran (ṁ).
Laju aliran massa refrigeran (ṁ) dapat dihitung dengan menggunakan
Persamaan (5.4). Sebagai contoh perhitungan untuk mencari nilai laju aliran
massa refrigeran (ṁ) diambil pada menit ke 40 yang disajikan pada Tabel 5.11.
ṁ = Daya / Win = (V.I/1000) / Win ... (5.4)
= (220 V. 0,9 A / 1000) / (67 kJ/kg)
= (198 Watt /1000) / (67 kJ/kg)
= (0,198 kJ/detik) / (67 kJ/kg)
= 0,00296 kg/detik = 2,96 gr/detik
Tabel 5.14 Nilai laju aliran massa refrigeran (ṁ) yang tidak menggunakan kipas
pendingin kondensor dapat disajikan dalam bentuk grafik seperti tersaji pada
Gambar 5.4 ṁ dari waktu ke waktu
Pada Gambar 5.4 ṁyang menggunakan kipas dan yang tidak menggunakan kipas
dari waktu ke waktu telihat tidak jauh berbeda namun yang tidak menggunakan
kipas lebih terlihat stabil dari yang menggunakan kipas.
e. Koefisien prestasi aktual (COPaktual)mesin pendingin.
Koefisien prestasi aktual (COPaktual) mesin pendingin dapat dihitung dengan
menggunakan Persamaan (5.5). Sebagai contoh perhitungan untuk mencari nilai
COPaktual diambil pada menit ke 40 yang disajikan pada Tabel 5.13.
COPaktual = Qin/Win = (h1-h4)/(h2-h1) ... (5.5)
= (118/67) = (382-264)/(449-382) kJ/kg
Tabel 5.15 Nilai COPaktual mesin pendingin yang menggunakan kipas pendingin
Dari Tabel 5.15 nilai COPaktual mesin pendingin dari waktu ke waktu yang
menggunakan kipas pendingin kondensor dan Tabel 5.16 nilai COPaktual mesin
pendingin dari waktu ke waktu yang tidak menggunakan kipas pendingin
kondensor dapat disajikan dalam bentuk grafik seperti pada Gambar 5.5.
Gambar 5.5 COPaktual mesin pendingin dari waktu ke waktu
Pada Gambar 5.5 COPaktual yang menggunakan kipas dan yang tidak meggunakan
kipas dari waktu ke waktu telihat tidak jauh berbeda namun yang tidak
menggunakan kipas lebih terlihat stabil dari yang menggunakan kipas.
f. Koefisien prestasi ideal (COPideal) mesin pendingin.
Koefisien prestasi ideal (COPideal) mesin pendingin dapat dihitung dengan
menggunakan Persamaan (5.6). Sebagai contoh perhitungan untuk mencari nilai
COPideal diambil pada menit ke 40 yang disajikan pada Tabel 5.15.
Tabel 5.17 Nilai COPideal mesin pedingin yang menggunakan kipas