PEREMPUAN BERKEBAYA SEBAGAI IDE BERKARYA SENI LUKIS DI ATAS KAYU PETI KEMAS.

37 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PEREMPUAN BERKEBAYA SEBAGAI IDE BERKARYA SENI LUKIS DI ATAS KAYU PETI KEMAS

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Sarjana

Pendidikan Seni Rupa

Oleh

Ratna Muliasari Dinangrit

060400

JURUSAN PENDIDIKAN SENI RUPA FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

(2)

PEREMPUAN BERKEBAYA

SEBAGAI IDE BERKARYA SENI

LUKIS DI ATAS KAYU PETI

KEMAS

Oleh

Ratna Muliasari Dinangrit

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni

© Ratna Muliasari Dinangrit 2014

Universitas Pendidikan Indonesia

Januari 2014

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhya atau sebagian,

(3)

PEREMPUAN BERKEBAYA SEBAGAI IDE BERKARYA SENI LUKIS DI ATAS KAYU PETI KEMAS

Oleh

Ratna Muliasari Dinangrit

060400

Mengetahui dan Menyetujui :

Pebimbing I

Drs. Hery Santosa, M.Sn.

NIP. 196506181992031003

Pebimbing II

Drs. Agus Nursalim, M.T.

NIP. 196108181993011001

Mengetahui

Ketua Jurusan Pendidikan Seni Rupa

Universitas Pendidikan Indonesia

Bandi Sobandi, M. Pd.

(4)

LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI

Ratna Muliasari Dinangrit

060400

PEREMPUAN BERKEBAYA SEBAGAI IDE BERKARYA SENI LUKIS

DI ATAS KAYU PETI KEMAS

Disetujui dan Disahkan oleh:

Penguji I

Drs. Harry Sulastianto, M.Sn

NIP. 196605251992021001

Penguji II

Drs. Yaya Sukaya, M.Pd

NIP. 195403031991031001

Penguji III

Drs. Farid Abdullah, M.Sn.

(5)

ABSTRAK

Ratna Muliasari Dinangrit. 2014 :

PEREMPUAN BERKEBAYA SEBAGAI IDE BERKARYA SENI LUKIS DI ATAS KAYU PETI KEMAS

Skripsi : Jurusan Seni Rupa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Unversitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Karya seni menjadi suatu media bagi penulis untuk menyampaikan pesan serta menawarkan alternatif baru dalam mendayagunakan suatu benda. Kayu peti kemas memiliki nilai keindahan yang khas, dan memberikan stimulasi baru pada penulis dalam proses berkarya seni lukis. Hal tersebut mendorong penulis untuk menggunakan media kayu peti kemas berdasar pada konsep-konsep yang penulis miliki.

Penghayatan penulis terhadap figur perempuan berkebaya melatar belakangi proses penciptaan karya seni lukis ini. Kebaya mencirikan nilai nilai estetika dan eksitensi perempuan Indonesia, kebaya juga mencerminkan jati diri perempuan yang memegang teguh norma-norma budaya yang luhur. Perempuan yang memiliki refleksivitas untuk mengontrol emosinya untuk dapat menjadi penyemimbang dalam kehidupan menjadi sumber gagasan yang dapat dikembangkan dan di representasikan melalui kekaryaan seni lukis.

Penggalian ide dilakukan dengan pendekatan pendekatan terhadap

literasi-literasi yang terkait “perempuan berkebaya sebagai ide bekarya seni lukis di atas kayu

peti kemas”. Kontemplasi menjadi suatu aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dalam proses ini. Kontemplasi merupakan penentu awal dan akhir dalam perjalanan proses berkarya.

Perwujudan gagasan diatas kayu peti kemas s merupakan suatu penuangan rasa estetis penulis yang dipadukan dengan penghayatan terhadap perempuan berkebaya. Proses berkarya merupakan kreativitas penulis dalam mengolah unsur-unsur rupa .

(6)

Ratna Muliasari Dinangrit, 2014

Abstract

WOMAN IN TRADITIONAL DRESS (KEBAYA) AS AN IDEA OF PAINTING ON WOODEN CONTAINER.

An artwork is a media for the author to convey a message and to offer a new alternative in utilizing an object. Wooden container has special aesthetic values and has given a new stimulation for the author in a process of painting, which encourages the author to use wooden container as a media based on the author’s concepts. The author's appreciation of the female figure in traditional dress (kebaya) has underlined a creation process of this artwork. Traditional dress (kebaya) characterizes the aesthetic and existence of woman in Indonesia. The traditional dress (kebaya) also reflects the identity of the woman who holds strong and sublime cultural norms. The woman who has a reflexivity to control her emotion in order to be the balancer in life, to be the source of ideas which can be developed and to be represented through painting. Excavations of ideas could be examined by approaches of related literacies of "woman in traditional dress (kebaya) as an idea in painting on wooden container”. Contemplation is an activity described as inseparable in this process. Contemplation determines the beginning and the end of the process in making the artwork. Manifestation of the idea on wooden container is a realization of the author’s esthetic feeling which combined with the appreciation of the female figure in traditional dress. Making the artwork is a creativity of the author in processing elements of form.

(7)
(8)

v Ratna Muliasari Dinangrit, 2014

B. LANDASAN EMPIRIK ………....………..36

C. GAGASAN AWAL……….……….44

D. KAJIAN EMPIRIK………..45

BAB III. PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN A. PROSES PENCIPTAAN……….…53

1. Ekplorasi Eksternal……….…..…..…….…..53

2. Eksplruatanasi Internal………..………….…….…………..54

B. VISUALISASI GAGASAN……….……55

1. Persiapan Media Alat dan Bahan………..……….55

2. Pembutan Sketsa………..……….……….63

3. Memindahkan Sketsa pda Kayu Peti Kemas……….….66

4. Implementasi Konsep pada Karya……….67

5. Finishing Karya………..……….………...68

BAB IV. VISUALISASI DAN ANALISIS KARYA A. Ekplorasi Gagasan Penciptaan………..………69

B. Visualisasi Penciptaan………..…….……….…………71

a. Teknik Berkarya………..…..…….……….……….86

b. Penciptaan Karya dan Analisis Karya………….………..……….…93

(9)
(10)

Ratna Muliasari Dinangrit, 2014

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

1. Perempuan sebagai objek karya

Karakter perempuan, dengan fisik dan lekuk tubuh yang indah, paras yang

cantik, lembut, menawan dapat digambarkan menjadi sebuah keindahan artistik.

Tetapi, dalam karakter yang akan penulis visualisasikan dalam karya ini adalah

karakteristik wanita yang difokuskan terhadap ekspresi atau luapan perasaan

seperti mimik dan gesture secara emosional (kesedihan, kegalauan, kekecewaan,

kemarahan, dan pengharapan). Selain itu sosok perempuan yang akan

divisualisasikan, akan terlihat seperti perempuan dewasa yang mengenakan

pakaian adat jawa sebagai identitas perempuan Indonesia (kebaya) dan juga

beberapa benda pelengkap lainnya.

Perempuan bukanlah sosok gender yang hanya mampu mengurus segala

kebutuhan rumah tangga. Perempuan di balik kelemahannya memiliki kekuatan.

Menurut Pembayun Lestari Elly sebagai penulis dari buku (Pembebasan

Tubuh Perempuan 2005;2 ),berpendapat : “ Slepping with Your Enemies” (Tidur

Bersama dengan Musuhmu) adalah judul film yang kemudian dianalogikan

dengan kehidupan rumah tangga perkawinan dalam budaya patriarkat. Perilaku

kekerasan, seperti pemukulan dan perkosaan justru paling banyak diterima

perempuan dari keluarga terdekatnya. ( Shirley lie,2005:2 )

Berbagai aspek dalam tubuh perempuan menjadi inspirasi dan referensi

untuk membuat lukisan di atas media kayu peti kemas. Memberikan persepsi dan

pandangan bahkan nilai lain terhadap perempuan. Dengan menghadirkan dan

persepsi simbol tertentu. Mengaggumi sosok perempuan dari sudut pandang lain,

bahwa perempuan itu bukan hanya simbol keindahan, keseimbangan, tapi juga

simbol kekuatan yang sempurna tanpa mengurangi nilai dan syarat spritual dari

(11)

2

Selain itu, saya juga ingin mengadirkan „Dunia Lain‟ atau alam lain dari

alam bawah sadar (Transcendent) perempuan mengenai harapan, kegelisahan dan

kekuatan. Secara visual akan dilukiskan penggambaran karakter perempuan

berambut hitam panjang, tergerai dengan tatanan rambut sehari – hari, aksen

bunga mawar merah sebagai symbol keagungan, anggun, dan romantis.

Pemilihan media kayu (limbah kayu peti kemas) dengan memanfaatkan

karakter serat kayu yang akan menjadi pelengkap dari karya lukisan ini dengan

memadukan objek perempuan. Beberapa visual bentuk atau benda untuk

pelengkap akan diartikan sebagai simbol tertentu.

2. Kebaya

Kebaya merupakan bentukan busana atasan yang pertama kali dikenakan

wanita Indonesia, terutama perempuan Jawa, yang digunakan bersama kain.

Kebaya mengalir mengikuti waktu, beradaptasi dengan zaman yang semakin maju

dan memiliki cerita panjang yang bias ditelusuri hingga abad ke-15 Masehi.

Namun pada akhir abad ke-19, Desain Kebaya juga populer sebagai busana para

perempuan Belanda yang membutuhkan pakaian cocok dengan iklim

tropis Indonesia. Selain itu, model Kebaya juga pernah populer di kalangan

perempuan peranakan China sehingga muncul sebutan kebaya encim. Seiring

berjalannya waktu, kebaya pun menjadi sebuah simbol feminisme, busana khas

perempuan yang kini menjadi busana nasional dan model kebaya modern. Kaum

keturunan Eropa biasanya mengenakan model Kebaya berbahan katun halus

dengan aksen lace di pinggirnya. Kaum Tionghoa menggunakan Desain

Kebaya dengan potongan yang lebih pendek dan sederhana, dengan hiasan yang

berwarna, lazim disebut kebaya encim.

Seiring waktu, desain kebaya berubah dan sempat tergerus di masa

pendudukan Jepang dan memutus jalur perdagangan tekstil dan perlengkapan

penunjangnya di Indonesia akhirnya banyak rumah produksi kebaya tutup, sedikit

perusahaan batik yang bisa bertahan.

Sejak masa itu, para wanita pejuang kemerdekaan yang masih menggunakan

(12)

3

Ratna Muliasari Dinangrit, 2014

walaupun harus bersaing dengan busana Barat, yang dianggap lebih

"memerdekakan" perempuan dari simbolisasi kebaya masa lalu, yang

mengungkung perempuan dalam lilitan korset dan kain panjang (Model Kebaya

Modern).

B. RumusanMasalah

Dari latar belakang diatas, maka penulis membuat suatu rumusan masalah

sebagai berikut:

1. Bagaimana proses dan pengembangan ide perempuan dan bahan kayu peti

kemas sebagai media alternatif selain kanvas.

2. Bagaimana memvisualisasikan perempuan berbaju kebaya sebagai tema

karya pada media kayu peti kemas.

C. Tujuan Penciptaan

Tujuan dibuatnya karya lukis di atas limbah kayu peti emas ini adalah :

1. Memanfaatkan kayu peti kemas agar memilki nilai artistik dan memiliki

fungsi lain yang dapat dikembangkan untuk media karya

seni lukis

2. Memvisualisasikan seni lukis dengan media kayu dan perempuan

berkebaya.

D. Manfaat Penciptaan

Diharapkan karya lukis di atas kayu petik emas ini menjadi sebuah inovasi

atau alternatif yang baik terhadap media berkarya seni lukis.

1. Mengenali budaya lokal, dengan memadukan seni kontemporer, dengan

visualisasi yang sarat akan Budaya, pesan moral, dan Seni Murni.

a. Budaya lokal yang divisualisaikan dengan pemakaian kebaya yang di kenakan

oleh perempuan dalam lukisan

b. Mengkolaborasikan kayu peti kemas dan pop surealism yang dapat menjadi

(13)

4

2. Mengingatkan bahwa banyak sekali media alternatif lainnya yang dapat

digunakan dari memanfaatkan barang bekas untuk dieksplor atau diolah

secara baik.

a. Memperkenalkan media kayu peti kemas (limbah/bekas) yang dapat diolah

kembali menjadi hasil karya dekoratif (recycle art).

b. Karakter serat dari kayu peti kemas yang menjadi daya tarik tersendiri dari

media seni lukis lainya.

E. MetodePenciptaan

Secara garis besar tahapan-tahapannya adalah:

1. Proses PraProduksi

Langkah-langkah yang ditempuh dalam berkarya secara akademik ini adalah

sebagai berikut :

a. Pendekatan empiris dalam mengapresiasi karya lukis tersebut secara filosofis,

memahami dan mengusai media yang akan digunakan.

b. Melakukan kontemplasi dan mengimajinasikan pengalaman yang didapat

ketika mengapresiasi dan juga dalam penggarapan, pendalaman karakter

perempuan dan kebaya yang akan dilukiskan.

c. Membuat sketsa – sketsa gambar yang akan dilukiskan di atas kayu.

d. Mencari referensi mengenai bentuk dan makna simbol – simbol yang akan

digunakan.

e. Memilih warna, garis, bentuk, dan komposisi sebagai unsur rupa dalam proses

berkarya lukis.

1) Menyiapkan media rupa untuk mewujudkan ide dan gagasan tersebut. Alat

dan bahan yang dipergunakan antara lain adalah :

Bahan :

a) Kayu peti kemas

(14)

5

Ratna Muliasari Dinangrit, 2014

c) Glitter gel tekstile

d) Cat semprot bening ( untuk tahap akhir )

Alat :

a) Pensil untuk membuat sketsa awal

b) Kuas berbagai ukuran

c) Amplas kasar sampai halus

d) Gergaji

1) Mencari karakter serat kayu yang baik

2) Berkarya dengan baik dan benar terhadap ide yang telah didapat melalui

pengalaman estetik dalam memahami karakter perempuan yang akan

dilukiskan.

3) Proses ini meliputi persiapan sesi photo model, pembuatan sketsa, studi

karakter mimik dan gesture, sketsa dan pemiliha nalat ( kayu yang akan di

gunakan ), studi kepustakaan tentang seni menggunakan limbah atau

mengolah barang bekas, observasi dengan melakukan pengamatan

kesitus-situs intenet, dan lain-lain.

2. Proses Uji Coba atau Eksperimen.

Proses ini meliputi uji coba bahan dan alat yang cocok untuk digunakan dalam

berkarya, walaupun memang sebelumnya pernah membuat karya yang serupa.

3. Proses Produksi.

a) Memilih sketsa gambar dari beberapa sketsa yang telah dibuat

b) Memindahkan sketsa kasar yang fix ke media peti kemas

c) Pemilihan warna untuk kebaya

d) Pewarnaan dengan teknik tipis dan blok

e) Tahap akhir (finishing) gambar dan outline, membuat motif border dengan

glitter tekstile berwarna emas

(15)

6

F. SistematikaPenulisan

1. BAB I PENDAHULUAN

Bab ini meliputi latar belakang penciptaan, rumusan masalah, tujuan

penciptaan, manfaat penciptaan, proses penciptaan dan sistematika penulisan latar

belakang, rumusan masalah, tujuan penciptaan, manfaat penciptaan, metode

penciptaan

2. BAB II LANDASAN PENCIPTAAN

Bab ini menjelaskan landasan yang mendasari proses penciptaan atau

rancangan dengan mengkaji berbagai sumber pustaka dan meninjau data

informasi lapangan.

3. BAB III IMPLEMENTASI METODE DAN PROSES PENCIPTAAN

Bab ini meliputi uraian proses perancangan dimulai dari kelengkapan alat

dan bahan, pembuatan sketsa, pembuatan model, pengerjaan karya dan

pengemasan karya.

4. BAB IV PEMBAHASAN KARYA

Bab ini menguraikan tentang alat, bahan, persiapan, tahapan proses berkarya

dan hasil akhir karya yang telah jadi.

5. BAB V KESIMPULAN

Bab ini berisi tentang kesimpulan yang didapat setelah melalui proses

berkarya juga rekomendasi dari penulis berdasarkan data dan proses berkarya juga

(16)

Ratna Muliasari Dinangrit, 2014

BAB III

PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN

A. PROSES PENCIPTAAN

Pengolahan ide berkarya merupakan proses pengolahan konsep yang

kemudian diwujudkan kedalam bentuk karya lukis dimulai dengan mengolah rasa,

kepekaan, memperhatikan faktor internal dan eksternal, sampai penuangan ide

dalam bentuk sketsa.

Penciptaan karya seni dengan tujuan ekspresi (seni murni) bagaimanapun

juga memiliki metode dengan alur penciptaan yang tersusun tahap demi tahap.

Pada bagian ini akan dipaparkan tahapan penciptaan yang terdiri dari tahap

persiapan (kajian sumber gagasan) hingga proses visualisasi gagasan pada

medium berkarya (kayu peti kemas).

Prose penciptaan dimana penulis melakukan eksplorasi terhadap gagasan

yang muncul (gagasan awal) yaitu “perempuan berkebaya”. Gagasan awal ini

kemudian di eksplorasi kembali untuk memperkuat perwujudan konsep berkarya.

Eksplorasi gagasan awal pada dasarnya menggunakan dua cara yaitu eksplorasi

eksternal dan internal.

1. Eksplorasi Ekternal

Pada tahap ini penulis melakukan kajian literatur dari berbagai sumber

seperti buku, majalah, internet dan sebagainya. Kajian literatur ini bertujuan untuk

memperkuat pemahaman penulis tentang sumber gagasan yang akan dijadikan

konsep penciptaan dan memperkuat motivasi intrinsik dalam menciptakan karya

seni lukis dengan subject matter tulang rusuk manusia. Eksplorasi terhadap

bentuk objek tulang rusuk juga dilakukan dalam tahap ini

Tahapan mencari gesture dan simbol sebagai gagasan berkarya lukis

PEREMPUAN BERKEBAYA SEBAGAI IDE BERKARYA SENI LUKIS DI

(17)

54

sebagai identitas perempuan Indonesia. Mencari sendiri bahan utama media lukis

yaitu limbah peti kemas.

2. Eksplorasi Internal

Pada tahap eksplorasi internal, penulis melakukan perenungan dan

kontemplasi terhadap bentuk dan makna dari perempuan dan kebaya. Hal tersebut

dilakukan untuk memperkuat motivasi dalam mengembangkan objek dan gagasan

berkarya. Secara umum alur pengkajian sumber gagasan dan eksplorasi gagasan

dapat ditunjukkan dalam bagan sebagai berikut.

Bagan 3.1.

Pengkajian Sumber Gagasan

GAGASAN AWAL

PEREMPUAN

EKSPLORASI TEKNIK

KONSEP

EKSPLORASI

EKSTERNAL

EKPLORASI

(18)

55

Ratna Muliasari Dinangrit, 2014 A. Visualisasi Gagasan

Tahapan selanjutnya adalah memvisualisasikan gagasan (konsep berkarya)

dalam bentuk karya seni lukis. Tahap ini adalah tahapan dimana penulis sebagai

perupa melakukan kegiatan produksi karya yang dimulai dengan persiapan media,

alat dan bahan, pembuatan skestsa, hingga finishing karya.

1. Persiapan Media alat dan bahan

Tahap mempersiapkan media alat dan bahan yang akan dipergunakan

dalam berkarya. Antara lain kayu peti kemas sebagai media, cat akrilik, glitter gel

textile sebagai bahan dan kuas sebagai alat. Penulis hendak menggunakan kuas

sebagai alat untuk menuangkan bahan cat jenis cat akrilik pada permukaan kayu

peti kemas (media).

a. Alat

Alat-alat yang digunakan dalam proses pembuatan lukis ini menggunakan

alat-alat yang mudah kita temui sehari-hari.

a. Pensil

g. Amplas kasar sampai halus

h. Gergaji

i. Bor listrik

(19)

56

Bagan 3.2

Bagan Proses Perwujudan Karya

GAGASAN

AWAL

IMPLEMENTASI

KONSEP

FINISING

(TAHAP AKHIR) MEMBUAT

KARYA PERSIAPAN

ALAT DAN BAHAN PEMBUATAN

SKETSA

(20)

57

Ratna Muliasari Dinangrit, 2014

Gambar 3.1

Pensil, amplas, penghapus, dan palet (Sumber : Dokumentasi pribadi)

(21)

58

Gambar 3.3 Gergaji mesin (Jigsaw) (Sumber: Dokumentasi pribadi)

Gambar 3.4

(22)

59

Ratna Muliasari Dinangrit, 2014

Gambar 3.5 Router

(Sumber : Dokumentasi pribadi)

(23)

60

Gambar 3.7 Palu

(Sumber: Dokumentasi pribadi)

Gambar 3.8

(24)

61

Ratna Muliasari Dinangrit, 2014

Bahan

Gambar 3.9

Lembaran kayu peti kemas berbagai ukuran (kondisional) (Sumber: Dokumentasi pribadi)

Gambar 3.10

(25)

62

Gambar 3.11

Cat akrilik dan glitter gel textile

(Sumber: Dokumentasi pribadi)

Gambar 3.12 Paku triplek

(26)

63

Ratna Muliasari Dinangrit, 2014

Gambar 3.13 Lem Kayu

(Sumber: dokumentasi pribadi)

2. Pembuatan Sketsa

Tahap pembuatan sketsa merupakan pencarian pijakan estetis dan titik

berangkat berkarya. Hasil visual dari sketsa akan dieksplorasi dalam tahap

perwujudan karya diatas kayu peti kemas. (foto)

a. Sesi Pemotretan

Proses pembuatan sketsa diawali dengan proses sesi pemotretan

sebagai tahap awal. Sesi pemotretan model digunakan sebagai acuan

(27)

64

Dibawah ini hasil dari sesi pemotretan dengan bantuan model sebagai

acuan untuk mangambil angle dalam proses berkarya :

Gambar 3.14 Photo model 1 (Tutup telinga) (Sumber: Dokumentasi pribadi)

Gambar 3.15

(28)

65

Ratna Muliasari Dinangrit, 2014

Gambar 3.16

Photo model 3 (Tutup mulut) (Sumber: Dokumentasi pribadi)

(29)

66

3. Memindahkan Sketsa pada Kayu Peti Kemas

Tahap memindahkan sketsa yang telah di buat pada bidang kayu peti

kemas dengan menggunakan pensil 2B, dengan tahapan sebelumnya membuat

sketsa dahulu di atas kertas.

Kayu yang sudah melalui tahap penghamplasan akan lebih mudah untuk di

sketsa, karena permukaannya yang lebih halus dapat memudahkan proses sketsa

di atas kayu peti kemas.

Gambar 3.18

(30)

67

Ratna Muliasari Dinangrit, 2014

4. Implementasi Konsep Estetis

Tahap implementasi konsep estetis menggunakan teknik yang dipilih

terkait dengan media, alat dan bahan yang digunakan.

Gambar 3.19 Proses Pemulasan

Sumber gambar: Dokumentasi pribadi

(31)

68

Gambar 3.21

Teknik pelototan untuk membuat aksen Sumber gambar: Dokumentasi pribadi

5. Finishing Karya

Tahap penyelesaian akhir dan pengemasan untuk penyajian pada apresian,

antara lain melapisi ,karya dengan pernis dan framing.

Sejak pembuatan sketsa hingga implementasi konsep estetis di atas kayu

peti kemas penulis melakukan kontemplasi, simulasi dan eksplorasi bentuk

sebagai kegiatan kreatif mengembangkan gagasan bentuk dan objek di atas kayu

peti kemas.

Gambar 3.22

(32)

69

(33)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Karya budaya adalah sesuatu yang muncul akibat beberapa faktor, dari letak geografis,

kebutuhan, hingga kepercayaan. Masyarakat dengan segala keterbatasan dan niat yang tinggi

untuk dapat meluapkan hasrat manusiawinya berpikir serta berusaha untuk dapat merealisasikan

hasrtanya kedalam media yang sat ini disebut karya budaya.

Ada nilai tersendiri bukan dari sebuah benda atau bentuk dari karya tersebut namun

pemikiran dan tekad yang menjadikannya dapat menjadi suatu hal yang bermanfaat sampai saat

ini. Proses estetik tersebut yang harus menjadi acuan dalam mengapresiasi karya budaya dengan

tidak meleburkan nilai-nilai selain fungsi dan bentuknya saja atau bahkan bukan hanya melihat

seberapa lamakah karya budaya tersebut hadir sampai saat ini.

Ada tekad dan harapan untuk berpetualang mengarungi samudera yang luas dari para nenek

moyang kita, hingga mereka menciptakan teknologi seperti perahu pinisi. Ada harapan yang

tersirat dari nilai-nilai yang terkandung didalamnya yang seharusnya kita jaga dan lestarikan.

Bukan hanya melihat manfaat dari segi ekonomi dan fungsinya saja kita sebagai ahli waris

karya budaya ini berkewajiban untuk dapat memecahkan harapan para nenek moyang ke tingkat

yang paling atas.

Penulis sadar dalam karya penciptaan ini tidak sepenuhnya dapat merepresentasikan

harapan dari terciptanya perahu pinisi namun menjadi langkah awal pembelajaran dalam

mengapresiasi karya budaya khususnya perahu pinisi sebagai symbol kejayaan maritime

Indonesia. Sebagai Negara kelautan yang ditaburi ribuan pulau.

Dalam pengembangan gagasan perahu pinisi sebagai inspirasi dalam membuat karya seni

instalasi, mengeksplorasi bahan dan teknik sangat menjadikan proses berkarya semakin menarik

karena sifat material yang berbeda membuat penulis dipaksa untuk memutar otak dalam

melakukan proses kontemplasi. Berbagai macam ekperimen dilakukan penulis baik secara

terencana maupun tidak terencana. Pengembangan ide atau gagasan bermunculan saat penulis

(34)

80

Ratna Muliasari Dinangrit, 2014

Dengan mengcampurkan imajinasi dan pemahaman gagasan awal penulis mencoba

mengekplorasi segala teknik dalam meramu bahan kayu peti kemas, bahan kayu peti kemas yang

merupakan termasuk kayu golongan kedua menjadikan penulis dalam membuat visual karya ini

banyak mengalami kesulitan seperti sifat kayu peti kemas ini yang sangat sulit untuk dipahat

karena mempunyai serat yang banyak, juga karena material kayu peti kemas ini adalah bahan

yang sudah dipotong dan diolah penulis harus ektra dalam membuat rancangan awal karena

harus mengikuti ukuran kayu tersebut.

B. Saran

.Walaupun penulis menyadari masih banyak sekali kekurangannya. Oleh karena itu, kritik

dan saran merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi penulis, yang dapat dijadikan pegangan

dalam penciptaan karya instalasi yang akan dilakukan selanjutnya.

Untuk itu, bagi yang ingin menciptakan suatu karya seni instalasi, merupakan suatu

tantangan yang menarik karena dalam berkarya seni instalasi memiliki tingkat kesulitan yang

berbeda. Terutama dalam hal mengkombinasikan material. Karya seni instalasi dapat dikatakan

mudah jika melihat dari bentuk namun kesulitan muncul saat harus mencoba merespon ruang

dan membawa jauh sifat bentuk ke dalam sesuatu yang lebih berbeda dan menimbulkan sarana

komunikasi estetik bagi apresiator dan karya.

Maka dari itu, penulis berharap semoga karya instalasi ini dapat memberikan pemahaman

(35)

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku :

Tabrani, Primadi. 2005. Bahasa Rupa. Kelir. Bandung.

Lie, Shirley. 2005. Pembebasan Tubuh Perempuan (Gugatan Etis Simone de Beauvior terhadap Budaya Patriarkat). Jakarta: Grasindo.

Damajanti, Irma. 2006. PSIKOLOGI SENI. Bandung: Kiblat Buku Utama.

Pembayun, Lestari Elly. 2009. Perempuan VS Perempuan (Realitas Gender, Tayangan Gosip, dan Dunia Maya). Bandung: NUANSA.

Hude,M.Darwis.2006.EMOSI (Penjelajah Religio Psikologis tentang Emosi Manusia di dalam Al-Qur’an). Ciputat, Jakarta: Erlangga.

Prayitno, TibertiusAgus. 2012. Kayu Lapis (Teknologi dan Sertifikasi Sebagai Produk Hijau). Yogyakarta: Graha Ilmu.

Susanto, Mieke. 2003. Membongkar Seni Rupa. Yogyakarta: Buku Baik Jendela.

Sahmam, Humar. 1993. Mengenali Dunia Seni Rupa. Semarang: IKIP Semarang Press.

Susanto, Mieke. 2002. Diksi Rupa, Kumpulan Istilah Seni Rupa. Yogyakarta: Kanius.

Subah, Syamhurus. 2012. Skripsi KARAKTER IKON TOKOH MUSIK INDIE SEBAGAI IDE BERKARYA SENI LUKIS. Tidakditerbitkan.

Suryani, AG Linus. 2002. Pengakuan Pariyem (Dunia Batin Seorang Wanita Jawa). Jakarta: KPG ( KepustakaanPopulerGramedia)

Sanyoto, SadjimanEbdi. 2009. Nirmana Elemen-elemen Seni dan Desain.

Yogyakarta: JALASUTRA

Gamble, Sarah. 2004. Feminisme dan Postfeminisme. Yogyakarta: JALASUTRA

Prawira, DarmaSulasmi. 1989. Warna Sebagai Salah Satu Uunsur Seni & Desain.

(36)

120

Ratna Muliasari Dinangrit, 2014 Sumber Internet :

http://salvadordalipaintings.blogspot.com . Diunduh15 Januari2014, 15:25.

http://www.artyfactory.com. Diunduh 15 Januari2014, 15:35

http://www.artyfactory.com , Diunduh 15 Januari 2014, 15:38

http://uk.phaidon.comFaufisme, Diunduh 15 Januari 2014, 15;42

http://www.keithgarrow.com , Diunduh 15 Januari 2014, 16:00

http://www.everypainterpaintshimself.com , Diunduh 15 Januari 2014, 16:05

http://guity-novin.blogspot.com , Diunduh 15 Januari 2014, 16:13

http://www.hma.org.il/Museum/Templates/showpage,Diunduh 15 Januari2014 ,16: 18

http://ardimalaysia.tripod.com/Warna.htm , Diunduh 15Januari 2014, 18: 20

http://riskawikant.wordpress.com, Diunduh 16 Januari 2014,14: 59

http://id.shvoong.com/law-and-politics/contemporary-theory/2234355-arti-dari-sebuah-lambang-keadilan/, Diunduh 17 Januari 2014, 10: 45

http://indahpangestu.wordpress.com/2010/05/08/dunia-peradilan-yang-semakin-tidak%C2%A0adil/, Diunduh 17 Januari 2014, 10: 57

http://www.jawapalace.org/index.html. TriyantodanWidyabaktiSabatari, v

(37)

Figur

Gambar 3.1 Pensil, amplas, penghapus, dan palet
Gambar 3 1 Pensil amplas penghapus dan palet . View in document p.20
Gambar 3.3 Gergaji mesin (Jigsaw)
Gambar 3 3 Gergaji mesin Jigsaw . View in document p.21
Gambar 3.5 Router
Gambar 3 5 Router . View in document p.22
Gambar 3.7 Palu
Gambar 3 7 Palu . View in document p.23
Gambar 3.9 Lembaran kayu peti kemas berbagai ukuran (kondisional)
Gambar 3 9 Lembaran kayu peti kemas berbagai ukuran kondisional . View in document p.24
Gambar 3.11
Gambar 3 11 . View in document p.25
Gambar 3.13
Gambar 3 13 . View in document p.26
Gambar 3.14
Gambar 3 14 . View in document p.27
Gambar 3.16
Gambar 3 16 . View in document p.28
Gambar 3.18
Gambar 3 18 . View in document p.29

Referensi

Memperbarui...