Bab ini menyajikan informasi atau kajian mengenai kondisi lingkungan berikut kecenderungannya, yaitu meliputi aspek:
Lahan dan hutan Keanekaragaman hayati Air
Udara
Laut, pesisir, dan pantai Iklim
Bencana Alam
1.1
LAHAN DAN HUTAN
Kajian mengenai tutupan lahan menyoroti 2 hal, yaitu:
Kajian tentang tutupan lahan dalam bentuk ”penggunaan lahan” di Jawa Barat secara menyeluruh.
Kajian tentang hutan.
Data tentang lahan diperoleh dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Provinsi Jawa Barat, sedangkan data tentang hutan diperoleh dari Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat. Data terakhir yang tersedia adalah data tahun 2006.
1.1.1. Penggunaan Lahan
Berdasarkan Buku Jawa Barat Dalam Angka Tahun 2008. Jenis penggunaan lahan yang dominan di Jawa Barat tahun 2006 adalah tegalan, kebun campuran, dan sawah. Kondisi ini relative konstan sejak tahun 2001, kecuali penggunaan lahan permukiman, sawah, dan semak / alang-alang mengalami sedikit kenaikan dan tegalan / kebun campuran, hutan, dan perairan tambak mengalami penurunan.
Tabel 1.1
Penggunaan Lahan di Jawa Barat tahun 2001, 2005, 2006, (Ha)
Jenis Penggunaan Lahan Luas (Ha) Prosentase
2001 2005 2006 2001 2005 2006
Permukiman, jasa, dan industri 314658 307763 319862.5 8.99% 9.11% 8.81%
Tegalan dan kebun campuran 1105735 956741 1080283 31.59% 28.32% 29.74%
Sawah 872043 969322 969373.3 24.91% 28.70% 26.69%
Perkebunan 250274 226807 309188.3 7.15% 6.71% 8.51%
Hutan 706344 604100 674642.8 20.18% 17.88% 18.58%
Perairan dan Tambak 78077 64637 64677.12 2.23% 1.91% 1.78%
Semak dan alang-alang 69736 85208 85207.53 1.99% 2.52% 2.35%
Sumber : BPS Provinsi Jawa Barat 2008
Sumber : diolah dari data BPS 2008.
Sejak tahun 2001 luas hutan tidak pernah lebih dari 10 % dari luas wilayah Jawa Barat. Padahal UU no. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang mensyaratkan luas hutan dalam suatu wilayah harus lebih dari 30%.
Sumber : diolah dari data BPS 2008.
Perubahan komposisi penggunaan lahan dari tahun ke tahun bukan merupakan kejadian yang murni alami, karena di dalamnya terdapat pengaruh dari faktor lain, terutama faktor kebijakan dan politik. Pada dekade yang lalu, dimana kontrol terhadap kebijakan tata ruang masih lemah, perubahan penggunaan lahan relative lebih banyak dipengaruhi oleh mekanisme pasar atau perilaku sosial-ekonomi masyarakat. Namun demikian, untuk tahun-tahun yang akan datang, dimana masyarakat dan aparat sudah lebih “peduli” terhadap tata ruang terkait dengan berlakunya UU no. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, diharapkan kontrol terhadap konversi lahan akan lebih baik sehingga komposisi penggunaan lahan menuju ke kondisi yang lebih stabil. Hal ini mulai nampak sekarang antara lain dengan adanya indikasi sebagai berikut:
Diberlakukannya ketentuan larangan merubah lahan sawah di daerah sekitar perkotaan menjadi lahan terbangun.
Fenomena gaya hidup masyarakat perkotaan yang sudah mulai bisa beradaptasi untuk tinggal di rumah susun, baik berupa Rusunawa untuk golongan bawah maupun apartment untuk golongan atas, sehingga sedikit mengurangi kecenderungan konversi lahan menjadi daerah permukiman.
Upaya rehabilitasi lahan yang cukup gencar dilakukan, juga melalui semangat “one man one tree”, diharapkan jumlah lahan kritis akan terus berkurang dan kembali produktif, sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya konversi lahan dari lahan tertutup vegetasi menjadi lahan terbangun.
Berdasarkan uraian tersebut, untuk satu tahun ke depan, nampaknya yang akan mengalami sedikit perubahan adalah berkurangnya luas lahan semak dan alang-alang, sedangkan lahan terbangun masih mengalami peningkatan walaupun tidak signifikan.
1.1.2. Hutan
Hutan terdiri atas hutan darat dan hutan rawa. Hutan merupakan tutupan lahan yang paling penting dalam hal menjaga keseimbangan ekosistem dan hidrologi. Informasi mengenai hutan meliputi dua hal, yaitu luas hutan dan tutupan hutan. Kajian mengenai hutan dikelompokkan menjadi 2, yaitu hutan darat dan hutan rawa.
A. Hutan Darat
Berdasarkan informasi tentang hutan dari Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, luas hutan dalam 5 tahun terakhir mengalami kenaikan, dari 784,397.09 Ha pada tahun 2003 menjadi 847,986.74 Ha pada tahun 2008, terdiri atas 47,62 % Hutan Produksi, 31,39 % Hutan Lindung, dan 20,99 % Hutan Konservasi. Komposisi ini tidak berbeda jauh sejak tahun 2003, 2005, 2006 dan 2007. Gambaran mengenai komposisi luas hutan menurut fungsinya dan perkembangannya bisa dilihat pada tabel dan gambar pada halaman berikut.
Tabel 1.2
Perkembangan Luas Hutan Tahun 2003 - 2008 Jenis Hutan menurut
Fungsi
Prosentase Luas Hutan Luas Hutan (Ha)
2003 2005 2006 2007 2008 2003 2005 2006 2007 2008
1. Hutan Konservasi 20.00% 22.58% 21.41% 21.41% 20.99% 156,897.31 172,572.88 173,030.03 173,030.03 178,031.41 2. Hutan Lindung 30.37% 29.93% 32.22% 32.22% 31.39% 238,244.51 228,727.11 260,441.37 260,441.37 266,181.52 3. Hutan Produksi 49.62% 47.49% 46.37% 46.37% 47.62% 389,255.27 362,980.40 374,774.97 374,775.23 403,773.81 Luas Hutan Jawa Barat 100.00% 100.00% 100.00% 100.00% 100.00% 784,397.09 764,280.39 808,232.27 808,246.37 847,986.74 Proporsi luas hutan thd
luas Jawa Barat 21.60% 21.04% 22.25% 22.25% 23,34%
Luas Wilayah Jawa Barat 3,631,934.15 3,631,934.15 3,631,934.15 3,631,934.15 3,631,934.15 Sumber : Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat 2008.
Sumber : Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat 2008.
Sumber : Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat 2008.
Ditinjau dari sebarannya, area kawasan hutan lebih terkonsentrasi di wilayah Jawa Barat bagian selatan yang membentang mulai dari Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bandung, Kabupaten Garut, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Tasikmalaya, juga di Kabupaten Kuningan, serta tersebar sebagian kecil di Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Subang, Kabupaten Kuningan. Demikian juga halnya dengan sebaran hutan konservasi tersebar di area yang sama, yaitu di wilayah Jawa Barat bagian selatan. Sebaran kawasan hutan bisa dilihat pada gambar berikut.
Gambar 1.5
Sebaran Kawasan Hutan Di Jawa Barat 2007
Sumber : Perhutani Unit III Provinsi Jawa Barat Hutan Konservasi
Hutan Lindung
Hutan Produksi Terbatas Hutan Produksi
B. Hutan Rawa
Pulau Jawa diperkirakan pernah memiliki hutan-hutan rawa dengan jumlah keseluruhan mencapai 72.000 hektar (Whitten et al, 1996). Menurut catatan lama, hutan rawa di Jawa Barat dapat ditemukan di Rawa Lakbok Ciamis, Rawa Bojong Pamengpeuk Garut, Rawa Sirdayah di antara Bekasi dan Bogor, dan rawa di belakang hutan pantai Cikepuh Sukabumi. Catatan pada tahun 1989 menunjukkan hutan rawa tersisa di Jawa tinggal 7.700 hektar. Demikian pula yang terjadi pada hutan rawa di Jawa Barat, hampir seluruhnya telah hilang. Hal ini dikarenakan sebagian besar rawa dikeringkan untuk kemudian dijadikan lahan persawahan. Tidak ditemukan catatan terbaru mengenai keadaan hutan rawa, namun bukanlah hal yang mengherankan jika ternyata hutan jenis ini telah hilang dari Jawa Barat.
1.1.3 Kecukupan Luas Hutan
Keberadaan hutan sangat menentukan kualitas dari keseimbangan ekosistem dan keseimbangan hidrologi suatu wilayah, sehingga luas minimal hutan pada suatu wilayah harus dipertahankan. Undang-undang no. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang mensyaratkan bahwa luas hutan suatu wilayah minimal adalah 30 % dari luas DAS-nya.
Dalam arahan pola ruang yang dituangkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa Barat 2010, telah ditetapkan bahwa luas hutan darat harus mencapai 22 % dari luas wilayah Provinsi Jawa Barat (RTRW ini disusun sebelum diterbitkannya UU no. 26 tahun 2007), yang terdiri atas: kawasan hutan lindung 16 %, kawasan hutan konservasi 3 %, dan kawasan hutan produksi 3 %. Sementara kondisi luas hutan Jawa Barat tahun 2008 mencapai 23,35 %, terdiri atas kawasan hutan lindung 7,33%, kawasan hutan konservasi 4,90%, dan kawasan hutan produksi 11,12%. Tabel berikut menampilkan luas hutan di Jawa Barat tahun 2008 dan target yang harus dicapai sebagaimana ditetapkan dalam RTRW Provinsi Jawa Barat 2010.
Tabel 1.3
Luas Kawasan Hutan Jawa Barat 2008 dan Luas Kawasan Hutan menurut RTRW Provinsi Jawa Barat 2010
No Kawasan Kondisi Tahun 2008 RTRW Prov. Jawa Barat 2010
Luas % Luas %
I Kawasan Lindung 1.640.456,67 1.619.496,24 45 %
A Kawasan Hutan
Kaw. Hutan Lindung 266.181,52 7,33% 575.820,88 16% Kaw. Hutan Konservasi 178.031,41 4,90% 107.966,42 3%
B Kaw. Non Hutan 1.196.243,74 32,94% 935.708,94 26%
II Kawasan Budidaya 1.991.477,48 1.979.384,29 55 %
A Kaw. Hutan Produksi 403.773,81 11,12% 107.966,42 3% B Kaw. Non Hutan
Sawah 969.373,30 26,69% 755.764,91 21%
Budidaya Lainnya 618.330,37 17,02% 1.115.652,96 31%
Total 3.631.934,15 3.598.880,53 100%
Sumber : Hasil pengolahan dari DInas Kehutanan Provinsi Jawa Barat dan Dokumen RTRW Provinsi Jawa Barat 2010. Menurut draft RTRW Provinsi Jawa Barat 2005 - 2025, luas kawasan lindung yang akan dicapai tahun 2025 adalah sebesar 45 % dari luas wilayah Provinsi Jawa Barat. Pada tahun 2008 luas kawasan hutan di Jawa Barat sudah mencapai 23,35 % yang artinya masih jauh untuk mencapai angka 45 % sebagaimana disyaratkan dalam RTRW Jawa Barat 2005 - 2025.
Kawasan hutan di Jawa Barat tahun 2008 lebih banyak di dominasi oleh kawasan hutan produksi. Padahal untuk tujuan konservasi, seharusnya kawasan hutan lindunglah yang seharusnya menempati porsi terbesar. Porsi kawasan hutan produksi yang cukup luas tidak bisa menjadi jaminan bisa berperan sebagai kawasan konservasi dengan sempurna karena selain akan mengalami penebangan secara rutin pada masa-masa musim tebang, hutan produksi juga relative lebih homogen sehingga kurang optimal dalam menyerap air ataupun sebagai habitat bagi hayati. Kawasan yang bisa diandalkan bisa berperan sebagai kawasan resapan air adalah hutan lindung. Gambar berikut menampilkan proporsi kawasan hutan lindung di setiap wilayah kabupaten / kota di Jawa Barat.
Gambar 1.6
Proporsi Kawasan Hutan Lindung terhadap Luas Daerah di Jawa Barat Tahun 2007
Sumber : Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat 2008. 1.1.4 Kondisi Tutupan Lahan
Kondisi tutupan hutan mencerminkan tingkat efektivitas peran hutan sebagai penyeimbang ekosistem dan hidrologi. Informasi yang menggambarkan kondisi tutupan hutan adalah luasan lahan kritis di kawasan hutan. Secara umum kondisi lahan kritis di Jawa Barat mengalami penurunan dari tahun ke tahun.
Antara tahun 2004 -2008, luas kawasan hutan konservasi yang kritis tidak berubah, yaitu sebesar 17.328 Ha atau 10 % dari luas hutan konservasi yang ada ada di Jawa Barat. Sedangkan luas lahan kritis di kawasan hutan lindung dan hutan produksi mengalami penurunan sejak tahun 2003 sampai tahun 2006 (tidak diperoleh informasi kondisi tahun 2007 - 2008) yaitu dari 130,356 Ha atau 20,78 % pada tahun 2003 menjadi 42,967 Ha atau 6,76 % pada tahun 2006 dari luas kawasan hutan lindung dan hutan produksi.
Lahan perkebunan yang kritis tahun 2003 mencapai 26,180 Ha atau 8,47 % dari luas kawasan perkebunan, tetapi pada tahun 2008 kondisinya membaik sehingga hanya tingga 12.772,56 Ha atau 4,13 % saja kawasan perkebunan yang kritis. Demikian juga halnya dengan lahan milik masyarakat yang mengalami perbaikan sejak dalam 6 tahun terakhir, dimana lahan kritis yang
semula mencapai 402,528 Ha atau sebesar 15,98% menurun menjadi 150,132.35 atau 5,95 % ari luas kawasan.
Tabel 1.4 Luas Lahan Kritis dan Luas Rehabilitasi Lahan di Jawa Barat Tahun 2003 - 2008
Tahun
Luas Lahan Kritis (Ha) Luas Lahan Kritis yang Direhabilitasi
(Ha) Konsevasi Hutan Lindung &Hutan Produksi Perkebunan MasyarakatLahan Milik
2003 21,333.00 130,356.00 26,180.00 402,528.00 Tad 2004 17,328.00 100,698.00 26,180.00 338,425.00 97,767.00 2005 17,328.00 76,967.00 23,263.00 297,793.00 67,279.00 2006 17,328.00 42,967.00 19,682.00 230,932.65 104,441.36 2007 Tad Tad 16,609.87 172,625.19 108,779.64 2008 Tad Tad 12,772.56 150,132.35 26,330.15 Luas Kawasan2007 173,030.03 635,216.60 309,188.31 2,519,403.49
Sumber : Biro Bina Produksi Setda Provinsi Jawa Barat, September 2009
Gambar 1.8
Grafik Perubahan Luas Lahan Kritis di Dalam Kawasan Hutan di Daerah yang Memiliki Hutan 2003 - 2007 (Ha)
1.2 KEANEKARAGAMAN HAYATI
1.2.1 Kawasan Perlindungan Keanekaragaman Hayati
Pada masa lalu ketika populasi penduduk masih sedikit dan hutan masih menutupi sebagian besar Jawa Barat, lokasi-lokasi pusat keanekaragaman hayati kemungkinan tersebar luas dimana-mana. Seiring dengan pertambahan populasi penduduk dan laju pembangunan, banyak lokasi-lokasi alami seperti hutan atau rawa dikonversi menjadi lahan pertanian dan pemukiman. Kini konsentrasi keanekaragaman hayati, hanya tersisa di kawasan lindung terutama daerah yang memang salah satu fungsinya diperuntukkan untuk pengawetan keanekaragaman hayati yaitu kawasan konservasi. Terdapat dua macam kawasan konservasi yaitu, kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam. Kewenangan pengelolaan kedua kawasan ini berada ditangan pemerintah pusat yaitu Departemen Kehutanan.
1.2.2 Kawasan Konservasi
Kawasan pelestarian alam (konservasi) adalah kawasan dengan memiliki fungsi sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan, kawasan pengawet keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, dan untuk pemanfaatan lestari sumber daya alam hayati beserta ekosistemnya. Kegiatan yang diperbolehkan berada di kawasan ini meliputi kegiatan perlindungan dan pengamanan, inventarisasi, pembinaan habitat dan populasi satwa, penelitian dan pengembangan, serta pemanfaatan untuk penelitian, pendidikan, pariwisata dan penunjang budidaya. Kawasan ini terdiri dari 3 macam yaitu taman nasional, taman wisata alam dan taman hutan raya.
Sampai tahun 2008, Jawa Barat memiliki kawasan konservasi sebanyak 46 lokasi, terdiri dari:
Taman Nasional : 3 lokasi
Cagar Alam : 25 lokasi
Suaka Margasatwa : 2 lokasi
Taman Wisata Alam : 6 lokasi Taman Wisata Alam yang
menyatu dengan Cagar Alam : 7 lokasi
Taman Buru : 1 lokasi
Sebagaimana telah dibahas pada sub-bab sebelumnya luas total kawasan konservasi ini 130.030,03 hektar atau 4 % dari luas Jawa Barat. Adapun sebaran kawasan konservasi ini hampir seluruhnya berada pada wilayah tengah dan selatan Jawa Barat, seperti terlihat pada gambar berikut.
Gambar 1.9
Peta Lokasi Kawasan Konservasi di Jawa Barat
1 CA Arca Domas 11 TWA Situ Gunung 21 CA Gunung Malabar 32 CA/TWA Telaga Bodas 2 CA Yan Lanpa 12 CA Bojonglarang Jayanti 22 CA Junghuhn 33 CA Gunung Jagat 3 CA/TWA Telaga Warna 13 CA Cadas Malang 23 SM Gunung Masigit 34 TB Masigit Kareumbi 4 TWA Gunung Pancar 14 CA Gunung Simpang 24 CA/TWA Tangkuban Perahu 35 TWA Gunung Tampomas 5 CA Dungus Iwul 15 CA Takokak 25 CA/TWA Telaga Patengang 36 SM Sindangkerta 6 CA Cibanteng 16 TN Gn. Gede – Pangrango 26 THR Ir. H. Djuanda) 37 CA Laut Pangandaran 7 CA T.
Tanggupan.Perahu-Pelabuhan. Ratu
17 KR Cibodas 27 TWA Cimanggu 38 CA Panjalu / Koordes
8 CA/TWA Sukawayana 18 TWA Jember 28 CA Leuweng Sancang 39 CA/TWA P. Pangandaran
9 SM Cikepuh 19 CA Burangrang 29 Laut Leuweung Sancang 40 SM Gunung Sawal
10 TN Gn Halimun-Salak 20 CA Gunung Tilu 30 TA/TWA Gunung Papandayan 41 CA/TWA Linggar Jati 31 CA/TWA Kawah Kamojang 42 TN Gunung Ceremay Sumber : BPLHD Provinsi Jawa Barat, 2007
Tabel 1.5
Penilaian Lokasi Taman Nasional di Jawa Barat
No Lokasi Kondisi Ekologis Pengelolaan Keterlibatan Masyarakat Total 1 TN Gede Pangrango 3,7 3,65 3,3 10,65 2 TN Halimun-Salak 3,4 4,2 2,55 10,15 3 TN Ciremay - - - -Keterangan
Nilai kondisi ekologis : (1) rusak sekali, (2) rusak, (3) cukup baik, (4) baik, (5) baik sekali Nilai pengelolaan & masyarakat : (1) kurang sekali, (2) kurang, , (3) cukup baik, (4) baik, (5)
baik sekali
Sumber : Keanekaragaman Flora Fauna Jawa Barat 2005
Taman nasional merupakan bentuk kawasan konservasi yang dikelola dengan menggunakan sistem zonasi. Dalam tiap zona memiliki fungsi dan batasan aktifitas yang boleh dilakukan. Diantara kawasan konservasi lainnya, taman nasional merupakan bentuk paling mantap karena berukuran cukup luas dan memiliki badan pengelola tersendiri. Di Jawa Barat terdapat 3 taman nasional, yaitu Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (sebagian di Propinsi Banten) dan Taman Nasional Gunung Ciremai. Berdasarkan penilaian lokasi konservasi dalam dokumen Keanekaragaman Flora Fauna Jawa Barat 2005 (Tabel 1.5), kondisi ekologis dua taman nasional pertama tergolong cukup baik, demikian pula halnya dengan pengelolaannya. Hanya saja Taman Nasional Halimun-Salak masih kurang dalam hal keterlibatan masyarakat. Untuk Taman Nasional Gunung Ciremay belum ada penilaian karena saat itu sedang dalam masa transisi.
Taman Wisata Alam (TWA) adalah bentuk kawasan konservasi yang mempunyai potensi dan daya tarik bagi kegiatan pariwisata. Pengelolaan 13 taman wisata ini dilakukan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat (BBKSDA). Namun untuk pengusahaan pariwisata alamnya sebagian telah diserahkan ke pihak ke tiga dalam hal ini adalah Perum Perhutani. Kondisi taman wisata alam ini beragam, ada yang terkelola dengan cukup baik seperti TWA Linggarjati, tapi ada juga yang masih kurang seperti
TWA Tampomas. Berdasarkan penilaian lokasi konservasi dalam dokumen Keanekaragaman Flora Fauna Jawa Barat 2005, sebanyak 8 TWA memiliki kondisi ekologis cukup baik sementara hanya 5 TWA yang memiliki tingkat pengelolaan cukup baik (Tabel 1.6). Hampir seluruh TWA dinilai kurang dalam melibatkan masyarakat ke dalam pengelolaan lokasi.
Tabel 1.6
Penilaian Lokasi Taman Wisata Alam di Jawa Barat
No Lokasi Kondisi Ekologis Pengelolaan Keterlibatan
Masyarakat Total
1 TWA Linggarjati 3,7 3,75 2,65 10,1
2 TWA Pangandaran 3 2,75 3,45 9,2
3 TWA Situ Gunung 2,85 3,35 2,25 8,45
4 TWA Gunung Pancar 3,45 2,8 1,75 8
5 TWA Cimanggu 2,15 3,15 2,27 7,75
6 TWA Telaga Warna 2,3 2,6 2,55 7,45
7 TWA Papandayan 3,25 2,15 1,95 7,35
8 TWA Tangkuban Prahu 2,95 2 1,75 6,7
9 TWA Patenggang 2,75 1,8 1,5 6,05
10 TWA Kamojang 2,85 1,35 1,55 5,75
11 TWA Jember 2 2 1,75 5,75
12 TWA Telaga Bodas 2,15 1,65 1 4,8
13 TWA Tampomas 1,75 1,45 1 4,2
Sumber : Keanekaragaman Flora Fauna Jawa Barat 2005 Keterangan
Nilai kondisi ekologis : (1) rusak sekali, (2) rusak, (3) cukup baik, (4) baik, (5) baik sekali Nilai pengelolaan & masyarakat : (1) kurang sekali, (2) kurang, , (3) cukup baik, (4) baik, (5)
baik sekali
Taman Hutan Raya biasanya berupa lokasi memiliki ciri khas asli maupun buatan dan memiliki luas yang memungkinan untuk membangun koleksi tumbuhan atau satwa baik asli maupun tidak. Hanya ada satu taman hutan raya di Jawa Barat yaitu Ir.H.Djuanda. Sayangnya menurut penilaian lokasi konservasi dalam dokumen Keanekaragaman Flora Fauna Jawa Barat 2005, tempat ini dinilai kurang baik dari aspek kondisi ekologis, pengelolaan maupun keterlibatan masyarakat. Kawasan konservasi lainnya adalah kawasan suaka alam yang terdiri dari cagar alam dan suaka margasatwa. Kawasan ini memiliki fungsi yang sama dengan kawasan pelestarian alam namun kegiatan yang dapat dilakukan di sini lebih terbatas. Bahkan untuk di
cagar alam hanya kegiatan perlindungan dan pengamanan, inventarisasi, penelitian dan pengembangan yang diperbolehkan di sini.
Cagar Alam (CA) merupakan kawasan dengan keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Terdapat 25 cagar alam di Jawa Barat dengan kewenangan pengelolaan berada di BBKSDA. Sebagian kondisinya masih cukup baik seperti Pangandaran dan Panjalu, namun ada juga yang memprihatikan seperti CA laut Pangandaran dan Cadas Malang. Berdasarkan penilaian lokasi konservasi dalam dokumen Keanekaragaman Flora Fauna Jawa Barat 2005, sebanyak 13 CA memiliki kondisi ekologis cukup baik, sebaliknya hanya 4 CA yang memiliki tingkat pengelolaan cukup baik dan hampir seluruhnya kurang melibatkan masyarakat dalam pengelolaannya.
Suaka Margasatwa (SM) adalah kawasan dengan ciri khas berupa keanekaragaman atau keunikan satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap habitatnya. Di Jawa Barat ada 2 suaka margasatwa yaitu Gunung Sawal dan Cikepuh. Kondisi ekologis kedua SM ini masih cukup baik, tetapi tidak demikian halnya dengan pengelolaan dan keterlibatan masyarakat yang dinilai masih kurang. Satu lagi kawasan konservasi adalah taman buru yang diperuntukan bagi aktifitas perburuan satwa tertentu. Hanya ada satu taman buru di Jawa Barat yaitu Masigit Kareumbi. Kondisi taman ini masih cukup baik, baik aspek ekologis maupun pengelolaannya namun kurang dalam melibatkan masyarakat.
Tabel 1.7
Penilaian Lokasi Cagar Alam di Jawa Barat
No Lokasi Kondisi
Ekologis Pengelolaan KeterlibatanMasyarakat Total
1 CA Panjalu 3 3 3,5 9,5 2 CA Pangandaran 3 2,75 3,45 9,2 3 CA Cibanteng 3,3 3,05 2,1 8,45 4 CA Gunung Simpang 3 2,4 2,4 7,8 5 CA Telaga Warna 2,3 2,6 2,55 7,45 6 CA Papandayan 3,25 2,15 1,95 7,35 7 CA Burangrang 4 1 2,05 7,05 8 CA Gunung Tilu 3,55 1,4 1,85 6,8 9 CA Tangkuban Prahu 2,95 2 1,75 6,7 10 CA Junghuhn 3,3 1,6 1,6 6,5 11 CA Takokak 2,2 2 1,75 6,15 12 CA Patenggang 2,75 1,8 1,5 6,05 13 CA Kamojang 2,85 1,35 1,55 5,75 14 CA Sukawayana 1,7 2 1,55 5,25
15 CA Tangkuban Prahu Pel Ratu 2,3 1 1,7 5
16 CA Gunung Malabar 2,3 1,25 1,4 4,95 17 CA Bojonglarang Jayanti 2,3 1,25 1,4 4,95 18 CA Laut Sancang 2,9 1 0,9 4,8 19 CA Talaga Bodas 2,15 1,65 1 4,8 20 CA Leuweng Sancang 2,3 1 1,4 4,7 21 CA Yanlapa 2,3 1,4 1 4,7 22 CA Dungsu Iwul 2,3 1,2 1 4,5 23 CA Gunung Jagat 1,3 1,75 1,4 4,45 24 CA Cadas Malang 1,3 1,55 1,35 4,2 25 CA Laut Pangandaran 1,6 1,2 1,3 4,1
Sumber : Keanekaragaman Flora Fauna Jawa Barat 2005 Keterangan
Nilai kondisi ekologis : (1) rusak sekali, (2) rusak, (3) cukup baik, (4) baik, (5) baik sekali Nilai pengelolaan & masyarakat : (1) kurang sekali, (2) kurang, , (3) cukup baik, (4) baik, (5)
1.2.3 Kawasan Lindung Lainnya Di luar kawasan konservasi, sebenarnya masih terdapat lokasi-lokasi lainnya yang dapat menjadi
tempat perlindungan dan
pengawetan bagi keanekaragaman hayati. Di antara lokasi tersebut Hutan Lindung adalah yang terpenting. Kawasan ini memiliki areal hutan terbesar di Jawa Barat bahkan lebih luas dari kawasan konservasi, yaitu mencapai 236.601,12 hektar. Meskipun secara
umum tingkat keanekaragaman hayatinya lebih rendah dibandingkan kawasan konservasi dan tidak memiliki fungsi sebagai tempat pengawetan keanekaragaman hayati, beberapa areal hutan lindung menjadi habitat bagi beberapa satwa penting. Misalnya hutan lindung di wilayah Garut antara Papandayan - Pamengpeuk, hasil survai pendahuluan yang dilakukan oleh lembaga konservasi KONUS pada tahun 2007, menunjukkan tempat ini masih menjadi tempat tinggal jenis Owa Jawa. Sayangnya pengelolaan hutan lindung, tidak lah seintensif pengelolaan kawasan konservasi. Hutan lindung di Jawa Barat disatukan pengelolaannya dengan kawasan hutan produksi di bawah Perum Perhutani. Keterbatasan aktifitas pengelolaan membuat terjadinya degradasi kondisi hutan lindung mencapai 23.840 ha pada tahun 2007, sebagaimana telah dibahas pada sub bab 1.1.
Kawasan lainnya yang menjadi tempat perlindungan keanekaragaman hayati adalah kawasan perlindungan plasma nutfah secara ex-situ seperti kebun raya, kebun binatang dan pusat rehabilitasi satwa. Di antara lokasi tersebut, kebun raya relatif memiliki pengelolaan yang baik. Jawa Barat memiliki dua kebun raya yaitu Kebun Raya Bogor dengan luas 80 hektar dan Kebun Raya Cibodas seluas 120 hektar dengan pengelolaan dilakukan oleh LIPI. Sampai tahun 2008, Kebun Raya Bogor menyimpan koleksi tumbuhan dataran rendah baik asli maupun pendatang sebanyak 3.443 jenis umum dan 519 jenis anggrek. Sedangkan Kebun Raya Cibodas memiliki koleksi mewakili tumbuhan pegunungan baik asli maupun pendatang mencapai 1.689 jenis umum (termasuk kaktus dan lumut) dan 232 jenis anggrek.
Kebu n Raya Cibodas
1.3 AIR
1.3.1 Kuantitas Air
Jawa Barat yang beriklim tropis memiliki lahan yang subur berasal dari endapan vulkanis dan memiliki banyak daerah aliran sungai. Ketersediaan air yang berasal dari air di musim penghujan potensinya sangat besar (81,4 milyar m3/tahun) namun di musim kemarau hanya 8,1 milyar m3/tahun. Kondisi badan penerima seperti sungai ataupun waduk mengalami banyak penurunan kualitas. Secara kuantitas beberapa situ telah beralih fungsi, begitu pula dengan rawa sebagai tempat parkir air telah banyak beralih fungsi sejak dari tahun 1970-an.
Lokasi Jawa Barat sangat strategis merupakan wilayah yang berdampingan sangat dekat dengan ibukota sehingga percepatan pembangunan ekonomi dan daya tarik urbanisasi menjadi sangat besar. Alih fungsi lahan menjadi lahan permukiman di beberapa wilayah di Jawa Barat menjadi salah satu penyebab menurunnya kuantitas air yang tersedia, hal ini diperparah dengan meningkatnya aktivitas industri yang berperan besar dalam mengurangi kualitas air. Namun kecenderungan penurunan kualitas air diperparah pula oleh aktivitas domestik, dimana pada beberapa sungai utama di bagian hulu mulai mengalami penurunan kualitas berhubungan dengan indikator biologis. Sebagai gambaran, tingkat pelayanan pengelolaan limbah domestik hingga akhir tahun 2007 masih sangat rendah. Sesuai dengan data Suseda 2007, terdapat 49,01% rumah tangga yang menggunakan tangki/septik tank sebagai tempatk pembuatan tinja dan sisanya menggunakan kolam /sawah /kebun /sungai /lubang tanah /lainnya. Kondisi prasarana pengelolaan limbah domestik menunjukkan bahwa dari 17 unit Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) hanya 11 unit yang beroperasi dengan baik dan baru 4 kabupaten / kota yang memiliki sistem penyaluran air limbah domestik perkotaan yaitu Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Bogor dan Cirebon (2008).
1.3.1.1 Kondisi Ketersediaan Air A. Air Permukaan
A.1 Sungai
Berdasarkan data Puslitbang Pengairan tahun 2001, sungai-sungai di Jawa Barat dibagi menjadi 40 DAS dimana 18 DAS mengalir ke utara dan 22 DAS mengalir ke selatan.
Gambar 1. 10
Pengelompokan DAS di Jawa Barat
Sumber: Puslitbang Pengairan
Ketersediaan aliran rata-rata adalah potensi air yang ada pada suatu DAS yang dihitung berdasarkan curah hujan tahunan dan luas DAS dan kebutuhannya. Ketersediaan aliran dasar adalah debit aliran sungai yang diharapkan selalu ada meskipun pada musim kemarau dan dihitung berdasarkan penggunaan lahan (land use) yang ada, dimana untuk setiap land use dapat ditentukan nilai run off (base flow index) masing-masing.
Gambar 1.11
Debit Maksimum dan Minimum Beberapa Sungai Besar di Jawa Barat tahun 2009 (m3/det)
Sumber : BPLHD Provinsi Jawa Barat, 2008
Gambar diatas memperlihatkan kondisi debit maksimum dan minimum sungai yang diwakili oleh tiga sungai yaitu sungai Citarum, sungai Citanduy dan sungai Cisadane. Disini terlihat bahwa sungai Citarum memiliki debit yang sangat besar namun memiliki baseflow yang kecil bila dibandingkan dengan dua sungai lainnya.
Gambar 1.12
Data Panjang Sungai di Jawa Barat (km)
Peranan sungai Citarum dan Waduk Saguling, Waduk Cirata dan Waduk Jatiluhur, sangatlah penting bagi pembangunan Jawa Barat dan kesejahteraan penduduknya, antara lain untuk air rumah tangga, air irigasi pertanian (300.000 ha di pantura), peternakan, perikanan dan air industri. Bahkan tenaga listrik yang dihasilkan PLTA Saguling, Cirata dan Jatiluhur sangat penting sebagai sumber daya listrik nasional (sekitar 2.000 MW total kapasitas terpasang untuk interkoneksi Jawa-Bali). Waduk Jatiluhur juga mengalirkan air baku dan air penggelontor ke DKI Jakarta (3.000 m3/detik).
A.2 Waduk / Situ
Data waduk yang tersedia adalah data tentang waduk/situ tahun 2002 - 2007 yang memperlihatkan kondisi naiknya luas tangkapan air serta jumlahnya.
Jumlah situ dan waduk pada tahun 2007 meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan tahun 2002, dan hal ini berdampak terhadap peningkatan luasnya mengalami kenaikan sampai 3,7 kali lipat namun potensi debitnya berkurang menjadi 10.303 juta m3 pada tahun 2007. Data yang ada mengasumsikan pada tahun 2007 beberapa wilayah tidak mengalami perubahan berarti dan sesuai dengan data pada tahun 2006.
Gambar 1.13
Trend Potensi Situ / Waduk tahun 2002 - 2007
B. Air Tanah
Air tanah merupakan sumberdaya alam yang potensinya, menyangkut kuantitas dan kualitasnya, tergantung pada kondisi lingkungan tempat proses pengimbuhan (groundwater reacharge), pengaliran (groundwater flow), dan pelepasan air tanah (groundwater discharge) berlangsung pada suatu wadah yang disebut cekungan air tanah. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri ESDM Nomor 716.K/40/MEM/2003 tentang Batas Horizontal Cekungan Air Tanah di Pulau Jawa dan Madura, bahwa di wilayah Jawa Barat terdapat 27 buah cekungan air tanah yang terdiri dari 8 cekungan lokal, 15 cekungan lintas kabupaten/kota dan 4 cekungan lintas provinsi. Total luas cekungan airtanah di Jawa Barat sekitar 26.307 km2, sedangkan jumlah total potensi airtanah bebas (Q1) sekitar 15,377 milyar m3/tahun, sedangkan jumlah airtanah
tertekan sekitar 985 juta m3/tahun. Sebaran CAT di wilayah Jawa Barat dapat dilihat pada
gambar berikut.
Gambar 1.14
Peta Cekungan Air Tanah Jawa Barat
Berdasarkan kondisi geologi dan morfologi serta dikaitkan dengan sistem CAT-nya, Jawa Barat dapat dikelompokkan ke dalam beberapa mandala Air Tanah (AT) (groundwater province) sebagai berikut di bawah ini (DGTL, 2000).
Mandala AT Dataran : Umumnya menempati daerah pantai utara dan bagian selatan, dan setempat pada daerah bantaran banjir (flood plain). Secara hidrogeologi, daerah ini umumnya menunjukkan kandungan air tanah bebas (free groundwater) atau air tanah tidak tertekan (unconfined groundwater) yang cukup potensial.
Mandala AT Kerucut Gunungapi: Sebaran umumnya di bagian tengah Jawa Barat. Secara
umum pola aliran air tanah secara radial dari arah puncak menuju kaki gunungapi, dengan produktivitas akuifer semakin meninggi ke arah bagian kaki gunungapi tersebut.
Mandala AT Perbukitan: Pada mandala ini air tanah dijumpai secara terbatas, misal di
daerah lembah. Daerah dengan timbulan tajam mencerminkan tingkat resistensi yang tinggi sehingga aliran permukaan (surface run-off) lebih dominan dibandingkan proses peresapan.
Gambar 1.15
Peta Hidrogeologi Jawa Barat
1.3.1.2 Kondisi Penggunaan Air dan Statusnya A. Kebutuhan akan Air
Berdasarkan data laporan penanganan ijin pengambilan dan pemanfaatan air permukaan, pada tahun 2009 terjadi peningkatan pemanfaatan air, baik melalui PDAM, non PDAM, ataupun untuk Industri, pertanian, dan niaga dengan rincian sebagai berikut.
Gambar 1.16
Pemakaian air permukaan per Das di Jawa Barat Tahun 2006 - 2009
Sumber : Diolah dari Laporan Penanganan Ijin Pengambilan dan Pemanfaatan Air Permukaan Dinas Pengendalian Sumber Daya Air Jawa Barat Tahun 2009
Dari data delapan sungai diatas terlihat bahwa sungai Citarum merupakan sungai dengan pemakaian terbesar oleh berbagai keperluan. Untuk sungai Ciliwung-Cisadane penggunaan air terlihat merata dari tahun ke tahun begitu pula untuk sungai Cimanuk-Cisanggarung. Peningkatan penggunaan air sangat signifikan pada sungai Cisadea-Cimindi dimana pada tahun 2008 dan 2009 memperlihatkan penggunaan air yang besar dibandingkan tahun sebelumnya. Sungai Citarum memperlihatkan kondisi penggunaan air yang berkurang pada tahun sekarang dibanding tahun sebelumnya. Namun dari kondisi seluruh sungai yang dipantau terhadap pemanfaatannya jelas terlihat bahwa trend penggunaan air tetap meningkat, walaupun laju peningkatan penggunaan air pada tahun 2009 menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Dapat dibayangkan bila kondisi air yang secara kuantitas terus menerus meningkat kebutuhannya namun secara kualitas kondisinya mengkhawatirkan.
Peningkatan kebutuhan air merupakan salah satu tekanan dalam berlanjutnya suplai air ke berbagai pemanfaatan di Jawa Barat. Namun dari grafik di bawah dapat terlihat bahwa untuk keperluan industri dan pertanian baik dari SIPA maupun irigasi kebutuhan air semakin menurun (2004 - 2009). Hal ini dapat disebabkan oleh dua hal yaitu telah berkurangnya aktivitas industri di Jawa Barat, dimana kebutuhan biaya operasional baik untuk bahan baku dan operasional tenaga kerja yang semakin meningkat sedangkan harga jual semakin bersaing baik dengan produk China maupun Vietnam. Beberapa pemilik industri tekstil di Bandung yang ada telah banyak beralih usaha pada jasa lainnya seperti pariwisata dan perhotelan. Sedangkan penggunaan air pertanian maupun irigasi penggunaannya menurun yang dapat disebabkan oleh banyaknya alih guna lahan pertanian menjadi perumahan serta mulai tidak berfungsinya sarana irigasi yang ada.
Gambar 1.17
Trend Kebutuhan Air untuk Industri dan Pertanian di Jawa Barat
Sumber : Distamben Jawa Barat 2009
B. Sumber Air, Daerah Tangkapan Air dan Pengaliran Air Curah Hujan
Intensitas curah hujan di Jawa Barat tahun 2008 belum terdata dengan lengkap (bulan Mei), namun kondisinya pada bulan Mei 2008 Jawa Barat mengalami curah hujan rendah atau kurang dari 150 mm/bulan. Sedangkan curah hujan tertinggi pada tahun 2008 tercatat pada bulan April sebesar 327,1 mm/bulan begitu pula pada tahun sebelumnya sebesar 462 mm/bulan. Sebagian besar wilayah Jawa Barat mengalami curah hujan kurang dari 75 mm/bulan. Bahkan di wilayah Pantura dan bagian Selatan
Jawa Barat mempunyai curah hujan dibawah 10 mm/bulan. Ini semua sangat berpengaruh terhadap ketersediaan air dalam bentuk debit sungai.
Perubahan Tata Guna Lahan
Perubahan tata guna lahan merupakan tekanan terhadap kontinuitas ketersediaan air permukaan. Perubahan ini berkaitan erat dengan tingkat penyerapan air oleh tanah dan kondisi terbangun diatasnya. Dari data tata guna lahan seperti yang disebutkan pada subbab sebelumnya terjadi sedikit peningkatan pada proporsi permukiman, sawah, dan semak / alang-alang. Penurunan penggunaan lahan walaupun sedikit adalah tegalan / kebun campuran, hutan, dan perairan tambak (data tahun 2006).
1.3.2 Kualitas Air di Jawa Barat
Data yang tersedia terkait dengan kualitas air hanya untuk air permukaan saja. Sejauh ini tidak diperoleh data / informai mengenai kualitas air tanah.
1.3.2.1 Kualitas Air Sungai menurut DAS
Berikut akan diuraikan kondisi kualitas air sungai di 7 DAS utama di Jawa Barat yang perlu mendapat perhatian, yaitu : DAS Citarum, Ciliwung, Cileungsi-Bekasi, Cimanuk, Citanduy, Cisadane, dan Cilamaya. Parameter pencemar kemudian akan dibandingkan dengan baku mutu kelas II PP No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk beberapa parameter wajib. Pertimbangan tersebut dilakukan mengingat hingga saat ini Pemerintah Jawa Barat belum menetapkan klasifikasi dan kriteria mutu air sungai untuk masing-masing DAS di Jawa Barat.
Berdasarkan hasil pemantauan, terlihat bahwa semua parameter kualitas air di sungai-sungai tersebut menunjukkan nilai atau konsentrasi yang meningkat dan melebihi baku-mutu dari hulu ke hilir dan dari tahun ke tahun (walaupun tidak seluruh lokasi selalu dipantau dari hulu ke hilir) terutama untuk parameter COD dan DO di DAS Cimanuk dan DAS Ciliwung serta DAS Cisadane.
Kondisi kualitas air sungai yang sangat parah terjadi di DAS Citarum dimana tidak menunjukkan kecenderungan membaik meski di sungai ini terdapat tiga waduk, yaitu Saguling, Cirata dan Jatiluhur karena sungai Citarum melalui daerah-daerah yang padat penduduk dan padat industri, sehingga keberadaan waduk yang berukuran besar pun tidak mempengaruhi penurunan konsentrasi bahan-bahan pencemar. Kemungkinan ini juga menunjukkan
terlewatinya ambang-batas atas (upper threshold) kemampuan sungai Citarum untuk menurunkan konsentrasi bahan-bahan pencemar karena terlalu beratnya beban pencemar yang dibuang dan kemudian dibawa oleh sungai tersebut. Kondisi sangat parah terdapat pula di DAS Cileungsi - Bekasi yang semakin ke hilir semakin buruk terutama di Cileungsi, Cikarang dan Babelan Bekasi.
1. DAS Citarum a. Kondisi
DAS Citarum merupakan DAS terbesar di Jawa Barat dan paling dieksploitasi di Indonesia, mempunyai luas 7.061,77 km2 dan panjang 269
km. DAS ini melewati beberapa wilayah seperti Kab. Sumedang, Kab. Garut, Kab. Bandung, Kota Bandung, Kota Cimahi, Kab. Cianjur, Kab.
Purwakarta, dan Kab. Karawang. Di bagian hulunya, DAS ini terdiri atas beberapa anak sungai seperti S. Citarik, S. Cikeruh, S. Cikapundung, S. Cipamokolan, dll yang bermuara ke bagian utara Jawa Barat.
DAS Citarum berada pada beberapa wilayah administrasi kabupaten dan kota, yaitu :
Lokasi Daerah Pengaliran Dominan beban pencemar DAS Citarum hulu sampai
Waduk Saguling berada pada KabupatenSumedang, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, dan Kota Cimahi menampung beban pencemaran air akibat limbah industri, penduduk dan pertanian
Waduk Cirata dan Waduk
jatiluhur berada pada KabupatenBandung, Kabupaten Cianjur, dan Kabupaten Purwakarta
beban pencemaran air akibat limbah perikanan keramba jaring apung
Citarum Hilir dari Bendung Curug sampai muara sungai
berada pada Kabupaten Karawang dan Kabupaten Bekasi
Beban pencemaran akibat
industri dan
Anak Sungai Citarum mengalir sebagian besar melalui daerah Kabupaten Bandung dan terkumpul pada Waduk Saguling dan Waduk Cirata. Aktivitas yang dialiri anak sungai adalah limbah domestik dari perkotaan, pedesaan, industri dan persawahan sehingga kualitasnya sangat terpengaruh oleh kegiatan pada daerah aliaran sungai (DAS), khususnya pada wilayah Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung, Kota Bandung dan Kota Cimahi. Banjir merupakan kondisi yang terjadi tiap tahun pada musim hujan namun, debit sungai selama musim kering sangat rendah dan tingkat pencemarannya sangat tinggi, terutama induk Sungai Citarum Hulu.
b. Kualitas Sungai
Pada tahun 2009, beberapa parameter yang diukur menuju kearah perbaikan. Parameter tersebut adalah BOD, COD, Nitrit, TSS serta Deterjen. Parameter yang mengalami kenaikan adalah Fecal Coli yang meningkat tajam sampai 10-15 kali lipat serta DO dimana hanya dua lokasi yang masih memenuhi dan berada pada daerah hulu. Trend BOD dan COD dari tahun 2002 - 2009 sangat fluktuatif namun tetap stagnan. Walaupun seluruh lokasi (10 lokasi) yang dipantau melebihi baku mutu, namun bila dibandingkan tahun 2008 mengalami penurunan konsentrasi. Nilai COD pada 50% masih diatas baku mutu sama seperti tahun 2008, namun konsentrasinya mulai mengalami kearah perbaikan. Bila lebih detail dilihat maka kategori pencemaran dari parameter COD terlihat dari mulai kondisi tengah (Cijeruk, Dayeuhkolot, Burujul, Nanjung dan Bdg. Curug) sedangkan pada Hulu (wangisagara, Majalaya & Sapan) dan Hilir (Bd. Walahar dan Tanjung Pura) relatif dari tahun 2002 - 2009 berada pada kondisi stabil dan dibawah baku mutu. Bila diindentifikasi maka pencemaran dari limbah industri sangat mendominasi.
Setelah dari hulu (wangisagara dan majalaya), sungai Citarum terus mengalami penurunan konsetrasi DO. Penyebab menurunnya DO disebabkan oleh kandungan zat organik dalam air seperti kandungan zat organik, deterjen ataupun buangan industri serta padatan tersuspensi (limbah domestik dan pengaruh erosi) yang bila terlalu tinggi dapat mempengaruhi kehidupan akuatik, mengurangi proses fotosintesis, meningkatkan kebutuhan oksigen dan turbiditas yang secara alami terjadi dalam kondisi sungai.
Indikasi dari menurunnya DO ini di DAS Citarum sangat terlihat sekali dan berasal dari berbagai faktor pencemar mulai dari pencemar domestik (fekal koli, deterjen), industri
(logam berat, BOD, COD), pertanian (fosfat, nitrit, sulfida), peternakan (fosfat, nitrit, sulfida) serta erosi (TSS dan turbiditas). pH yang sangat basa terdapat di lokasi Sapan dengan nilai 9,5 maka hal ini dapat berpengaruh terhadap hewan akuatik serta penggunaan air untuk keperluan domestik. Umumnya nilai pH tinggi bersinergi dengan tingginya nilai nitrit yang merupakan produk antara sebelum menjadi nitrat dan hal tersebut sesuai dengan kondisi eksisting yang terjadi di Sapan. Pengaruh aktivitas perikanan dan pertanian berasosiasi terhadap kedua parameter.
Konsentrasi Fenol sangat memprihatinkan di DAS Citarum. Dari mulai sekitar hulu (Wangisagara) sudah terdapat konsentrasi fenol yang melebihi baku mutu yaitu 20 ug/l, disamping BOD dan Sulfida. Konsentrasi fenol terdeteksi pula di semua daerah pemantauan, dan umumnya 20 kali lebih besar. Fenol diatas 1 ug/l dapat mempengaruhi hewan akuatif yang menyebabkan kematian, serta kondisi ini mempengaruhi manusia,karena bersifat racun dan karsinogenik. Zat tersebut biasanya berasal dari zat organik terutama minyak, plastik serta dari aktivitas industri. Paramater yang tinggi dan tidak memenuhi baku mutu terdapat juga pada konsentrasi Fosfat Total, Zat Tersuspensi, Sulfida, BOD, COD dan DO yang rata-rata melebihi di hampir seluruh titik pemantauan. Unsur logam berat seperti seng yang melebihi baku mutu terdeteksi di Sapan, selain itu terdeteksi juga konsentrasi boron di sekitar Nanjung.
Gambar 1.18
Sumber : Laporan Kegiatan Pengendalian Pencemaram Air Pada DAS Prioritas Melalui PROKASIH Tahun 2002 - 2009, BPLHD Provinsi Jawa Barat.
Tabel 1.8
Kualitas Air Sungai Citarum Tahun 2009 DAS Citarum 2009 BOD
(mg/L) (mg/L)COD (mg/L)DO deterjen(µg/L) (mg/L)Nitrit Sulfida(mg/L) (jml/100 mL)Koli Tinja (jml/100 mL)TSS total (mg/L)Fosfat (mg/L)Seng BM KLS II < 3 < 25 > 4 < 200 < 0.06 < 0.002 < 1000 < 50 < 0.2 < 0.05 Wangisagara(hulu) 3.2 8.8 7.9 57 0.003 0.04 26000 48 0.022 0.007 Majalaya 4.3 12.4 4.4 20 0.002 0.04 450000 86 0.595 0.007 Sapan 19.6 62 0 348 0.077 0.04 0 70 2.8 0.007 Cijeruk 16.2 48 0 249 0.021 0.04 0 60 0.974 0.054 Dayeuhkolot 16 42 0.39 118 0.013 0.04 280000 52 1.33 0.007 Burujul 14.8 46 0 236 0.013 0.04 0 30 1.42 0.007 Nanjung 15.6 48 0 184 0.05 0.04 0 60 0.359 0.007 Bdg. Curug 8.42 19.9 1.3 28 0.129 0.04 63000 24 0.911 0.007 Bdg. Walahar 5.72 13.8 1.9 20 0.003 0.04 38000 22 0.175 0.007 Tanjungpura (hilir) 10.3 24.2 3.8 20 0.002 0.04 120000 60 0.584 0.007 Keterangan:
BOD (Baku Mutu = 3 mg/L). Berkisar antara 3,2 – 19,6 mg/L, seluruh tempat melebihi baku mutu, trend turun. COD (Baku Mutu = 25 mg/L). Berkisar antara 8,8 – 48 mg/L, 50% sesuai Baku Mutu mengalami kenaikan, trend turun. DO (Baku Mutu > 4 mg/L). Berkisar antara 0 – 48 mg/L, 80% lokasi melebihi baku mutu yang ditetapkan, trend naik
Fecal Coliform (Baku Mutu = 1000 jml/100mL). Berkisar antara 0 – 450000 mg/L, 60% lokasi melebihi baku mutu, trend fluktuatif. Detergen (Baku Mutu = 200 µg/L). Berkisar antara 20 – 348 mg/L, 20% tidak sesuai Baku Mutu, trend menurun.
H2S (Baku Mutu =0,002 mg/L). 0,04 mg/L, seluruh tempat melebihi Baku Mutu. Trend naik
Fosfat (Baku Mutu = 0,2 mg/L). Berkisar antara 0,022 – 1, 42 mg/L, 80% melebihi Baku Mutu, trend fluktuatif. Nitrit (Baku Mutu = 0,06 mg/l). Berkisar antara 0,017 – 0,117 mg/L, sebagian memenuhi Baku Mutu, trend menurun. TSS (Baku Mutu 50 mg/L). Berkisar antara 22 – 86 mg/l, 60% lokasi tidak memenuhi baku mutu, trend menurun.
2. DAS CILIWUNG a. Kondisi Fisik
Secara administratif, bagian hulu DAS Ciliwung sebagian besar termasuk wilayah Kabupaten Bogor (Kec. Megamendung, Cisarua, dan Ciawi) dan sebagian kecil Kota Bogor (Kec. Kota Bogor Timur dan Kota Bogor Selatan. Bagian hulu DAS Ciliwung mencakup areal seluas 146 km2 yang
merupakan daerah pegunungan dengan
elevasi antara 300 m sampai 300 m dpl. DAS ini bermuara ke bagian utara Jawa Barat.
Bagian tengah DAS Ciliwung mencakup areal seluas 94 km2, merupakan daerah
bergelombang dan berbukit dengan variasi elevasi antara 100 - 300 m dpl. Penggunaan lahan di bagian tengah DAS Ciliwung masih didominasi penggunaan lahan pertanian dan perkebunan (73%). Secara administratif pemerintahan, bagian tengah DAS Ciliwung termasuk wilayah Kabupaten Bogor, Kota Bogor, serta Kota Depok. Sedangkan bagian hilir sampai dengan Pintu Air Manggarai termasuk wilayah DKI Jakarta.
b. Kualitas
Hasil pemantauan Prokasih menunjukkan kualitas air Sungai Ciliwung saat ini dalam kondisi tercemar sejak dari hulunya di Puncak, Kabupaten Bogor, untuk parameter fecal koli, fosfat total dan sulfida. BOD di hulu (Masjid Atta’awun) dibanding tahun 2008 mengalami penurunan dimana sekarang tidak melebihi baku mutu yang ditetapkan. Trend dari tahun 2004 - 2009 kualitas air semakin memburuk dan mengalami kenaikan konsentrasi yaitu sejak dari Katulampa semakin ke hilir di Jembatan Panus. Di samping beban pencemaran yang makin tinggi, kawasan hilir di sepanjang daerah aliran sungai makin berkembang untuk aktivitas domestik. Secara umum kualitas air DAS Ciliwung untuk parameter fecal coliform cenderung menurun setiap tahunnya, hal ini terkait dengan semakin meningkatnya permukiman di wilayah hulu maupun tengah di DAS Ciliwung sehingga tidak memenuhi baku mutu kelas II.
Gambar 1.19
Sumber : Laporan Kegiatan Pengendalian Pencemaram Air Pada DAS Prioritas Melalui PROKASIH Tahun 2002 -2009, BPLHD Provinsi Jawa Barat.
Pada tahun 2009, beberapa parameter seperti fosfat total, H2S, Nitrit dan logam berat Zn
terpantau melebihi baku mutu pada beberapa wilayah seperti untuk fosfat total di daerah hulu yang lebih tinggi 7,6 kali dari Baku Mutu yang ditetapkan (Masjid Atta’awun) dan lebih besar dibandingkan lokasi lainnya hal ini patut ditindaklanjuti lebih dalam berkaitan dengan aktivitas peternakan ataupun pertanian yang terdapat di lokasi tersebut ataupun industri yang menggunakan fosfat sebagai bagian dari proses produksinya. Parameter H2S
disemua lokasi dari hulu ke hilir. Dari parameter H2S disemua lokasi yang sangat tinggi (200
kali dari BM) seharusnya mengisyaratkan kondisi oksigen terlarut yang rendah namun hal ini tidak terjadi karena nilai DO sangat optimum bagi kondisi akuatik yaitu berkisar antara 6,2 - 6,6 mg/L O2.
Tabel 1.9
Kualitas Sungai Ciliwung Tahun 2009 DAS Ciliwung 2009 BOD
(mg/L) (mg/L)COD (mg/L)DO (jml/100mL)Fecal Coli Fosfat total(mg/L) Sulfida(mg/L)
BM Kelas II < 3 < 25 > 4 < 1000 < 0.2 < 0.002
Mesjid Attaawun (Hulu) 2.9 8.6 6.6 4800 1.52 0.04
Cisampay 1.4 5 6.6 2600 0.445 0.04
Pasir Angin/Bd Gadog 2.1 5.2 6.4 1200 0.409 0.04
Cisarua 2 5.2 6.6 7400 0.386 0.04
Katulampa 3.5 9.5 6.6 1400 0.903 0.04
Kebun Raya/Sempur 3.2 8.6 6.2 1350 0.22 0.04
Kedung Halang 4.6 10.4 6.4 9000 0.075 0.04
Pondok Rajeg 3.2 7.5 6.4 8400 0.088 0.04
3. DAS CILEUNGSI-BEKASI a. Kondisi Fisik
Hulu daerah aliran sungai Cileungsi berada di daerah kabupaten Bogor, sedangkan hilirnya berada di daerah Bekasi. Pengambilan sampel air di DAS Cileungsi ini dilakukan di 8 lokasi, yaitu Pekapuran, Cileungsi, Jonggol, Cikeas/Citeureup, Cikeas Hilir sebelum Bekasi, Cikarang, Babelan, dan Marga Jaya. Hasil analisis pada beberapa lokasi tersebut terdapat
parameter yang tidak memenuhi nilai baku mutu sesuai PP No. 82 Tahun 2001 kelas 2 sebagai dasar pelaksanaannya serta beberapa ilustrasi dari tahun 2002 sampai 2008 yang memperlihatkan trend yang semakin memburuk dan tidak memenuhi baku mutu untuk kelas 3.
Sungai Cileungsi-Bekasi merupakan salah satu sungai besar yang berhulu di bagian tengah Jabodepunjur. Di Bojongkulur, Sungai Cileungsi bertemu dengan Sungai Cikeas dan akhirnya berlanjut menjadi bagian dari Sungai Bekasi yang bermuara di Laut Jawa. Baik Sungai Cileungsi maupun Sungai Cikeas bersumber dari Gunung Kencana yang berada di Wilayah Kabupaten Bogor. Panjang sungai Bekasi mulai dari hulu sungai Cikeas adalah 118 km sedangkan jika dari sungai Cileungsi, panjang sungai adalah 102 km, dengan luas daerah aliran sungai sekitar 521,45 km2.
DAS Cileungsi-Bekasi meliputi wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Bekasi. Pada bagian hulu sungai terdapat hutan lindung, hutan produksi, pertanian, tanaman
Keterangan:
BOD (Baku Mutu = 3 mg/L). Berkisar antara 2 – 4,9 mg/L, dari satu lokasi yang melebihi BM (2008) pada tahun 2009 naik menjadi 5 lokasi, trend naik.
COD (Baku Mutu = 25 mg/L). Berkisar antara 5 –10,4 mg/L, semua sesuai Baku Mutu, trend turun. Fecal Coliform (Baku Mutu = 1000 jml/100mL). Berkisar antara 1200 –11000 mg/L, seluruh tempat
melebihi baku mutu, trend fluktuatif.
hortikultura dan tanaman pangan. Di sebagian besar hilir sungai terdapat persawahan dan tambak ikan. Pada DAS Bekasi terdapat daerah industri dengan jumlah industri sekitar 170 buah yang berada di sepanjang daerah aliran sungai Cikeas, Citeureup, Cileungsi di Kabupaten Bogor serta di sepanjang Bekasi di Kabupaten Bekasi. DAS ini bermuara ke bagian utara Jawa Barat.
Pengambilan sampel air di DAS Cileungsi ini dilakukan di 8 lokasi, yaitu Pekapuran, Cileungsi, Jonggol, Cikeas/Citeureup, Cikeas Hilir sebelum Bekasi, Cikarang, Babelan, dan Marga Jaya. Hasil analisis pada beberapa lokasi tersebut terdapat parameter yang tidak memenuhi nilai baku mutu sesuai PP No. 82 Tahun 2001 kelas 2 sebagai dasar pelaksanaannya serta beberapa trend dari tahun 2002 sampai 2008 yang memperlihatkan kualitas yang semakin memburuk dan tidak memenuhi baku mutu untuk kelas 3.
b. Kualitas
Sejak tahun 2002, DAS Cileungsi-Kali Bekasi telah menjadi prioritas DAS yang dipantau dalam program Prokasih. Berdasarkan hasil pemantauan Prokasih sungai Cileungsi - Bekasi kualitas air sungai tersebut sudah tercemar sangat berat, kondisi ini ditunjukkan dengan adanya kecenderungan beberapa parameter penting (BOD, Nitrit, Fecal Coliform dan Logam lainnya) dimana setiap tahunnya cenderung mengalami peningkatan. Gambaran kualitas air DAS Cileungsi Bekasi tersaji pada tabel dan gambar dibawah ini.
Trend peningkatan BOD dari tahun 2002 - 2009 terlihat pada gambar dibawah ini dimana mulai dari hulu sampai hilir terjadi peningkatan untuk baku mutu kelas II dan III hal ini untuk menunjukkan bahwa beberapa segmen sungai sudah tidak terdapat kehidupan akuatik yang aerobik dan menjurus pada kondisi dekomposisi anaerob. Parameter fenol dan sulfida diseluruh lokasi sudah tidak memenuhi baku mutu kelas II. Fenol merupakan gugus hidroksil yang umumnya bila bersenyawa dengan chlor akan mengakibatkan karsinogenik. Fenol berasal dari sumber limbah industri baik plastik, kimia, minyak ataupun limbah domestik seperti pemutih pakaian dan pewarna.
Parameter COD sebanyak 50% lokasi diatas baku mutu yang ditetapkan dimana daerah hilir mulai mengalami kenaikan konsentrasi. Naiknya konsentrasi terjadi di daerah Cileungsi, Cikarang serta Babelan, karena daerah tersebut merupakan lokasi beberapa
industri yang membuang limbahnya pada badan air di DAS Cileungsi. Daerah Cileungsi merupakan daerah terparah kondisinya dimana lima parameter berada diatas baku mutu
(BOD, COD, DO, H2S, Fecal coli dan Nitrit), setelah itu berturut turut Cikarang dan Babelan.
Gambar 1.20
Sumber : Laporan Kegiatan Pengendalian Pencemaram Air Pada DAS Prioritas Melalui PROKASIH Tahun 2002 - 2009, BPLHD Provinsi Jawa Barat.
Tabel 1.10
Kualitas Sungai Cileungsi Tahun 2009 DAS Cileungsi /
Bekasi 2009 (mg/L)BOD (mg/L)COD (mg/L)DO (jml/100 mL)Koli Tinja Deterjen(µg/L) Sulfida(mg/L) (mg/L)Nitrit Minyak(µg/L) (µg/L)Fenol BMA Kelas II < 3 < 25 > 4 < 1000 < 200 < 0.002 < 0.06 < 1000 1 Pekapuran (hulu) 3.64 7.8 7.64 32000 20 0.04 0.068 50 20 Cileungsi 21.4 56.2 3.43 31000 20 0.04 0.275 50 20 Jonggol 5.22 12.1 5.38 48000 20 0.04 0.2 800 20 Cikarang 15.2 36.3 1.78 120000 25 0.04 0.008 50 20 Babelan (hilir) 15.8 36.6 1.2 54000 86 0.04 0.033 800 20 Cikeas-Citeureup 8.88 21.6 1.83 180000 20 0.04 0.018 400 20 Bojongkulur 6.44 14.7 3.6 58000 20 0.04 0.004 50 20 Margajaya 17.6 44.1 1.37 580000 61 0.04 0.004 800 20 Keterangan:
BOD (Baku Mutu = 3 mg/L). Berkisar antara 3,64 – 21,4 mg/L, seluruh tempat melebihi baku mutu, trend naik. COD (Baku Mutu = 25 mg/L). Berkisar antara 7,8 – 56,2 mg/L, 50% yang sesuai Baku Mutu, trend naik.
Fecal Coliform (Baku Mutu = 1000 jml/100mL). Berkisar antara 31000 – 580000 mg/L, seluruh tempat melebihi baku mutu, trend naik. Detergen (Baku Mutu = 200 µg/L). Berkisar antara 31 – 362 mg/L, mayoritas tidak sesuai Baku Mutu, trend meningkat.
H2S (Baku Mutu =0,002 mg/L). 20 mg/L, seluruh tempat dibawah Baku Mutu. Trend turun
Nitrit (Baku Mutu = 0,06 mg/l). Berkisar antara 0,004 – 0,275 mg/L, sebagian besar memenuhi Baku Mutu, trend naik. Minyak & lemak (Baku Mutu 1000 µg/L). Berkisar antara 50 – 800 mg/l, seluruh lokasi memenuhi baku mutu, trend menurun.
4. DAS CIMANUK a. Kondisi Fisik
DAS Cimanuk membujur dari selatan ke utara, berhulu di Kab. Garut dan Kab. Sumedang dan bermuara di Kab. Indramayu (bagian utara Jawa Barat). DAS Cimanuk merupakan sungai ketiga terbesar di Provinsi Jawa Barat yang merupakan gudang padi setelah DAS Citarum. Saat ini DAS Cimanuk yang memiliki luas sekitar 3.483,66 km2
dengan potensi aliran rata-rata tergolong kritis. Debit sungai dirasakan menurun yang dipantau di bendung Rentang atau pencatat tinggi muka air di pos Monjot.
b. Kualitas
Pada tahun 2009, hasil pemantauan Prokasih menunjukkan konsentrasi yang semakin baik, walaupun beberapa parameter masih tinggi tidak memenuhi baku mutu kelas II PP No. 82 Tahun 2001 seperti H2S dan Fecal Coli serta BOD (kecuali daerah hilir di Wado). Pada tahun
2008 untuk parameter BOD yang terpantau dalam grafik mengalami trend kenaikan di arah hulu (Bayongbong) sedangkan di hilir cenderung menurun, namun di semua titik pantau tingkat BOD sangat tinggi, artinya konsentrasi reduktor tinggi dan umumnya didominasi oleh pencemar industri dan buangan domestik, namun pada tahun 2009 terjadi penurunan konsentrasi walaupun masih diatas baku mutu kecuali di hilir. Untuk parameter koli tinja, kandungannya di semua lokasi sangat tinggi. Parameter seng pada tahun 2008 terpantau di lokasi sebelah hiilir Sukaregang dan Tomo, kemungkinan disebabkan oleh limbah industri yang terdapat di daerah Sukaregang Garut, namun pada tahun 2009 tidak terpantau sama sekali. Sulfida di semua lokasi konsentrasi di atas baku mutu kelas II, namun lebih merupakan dekomposisi aerobik dimana parameter DO yang masih optimum (7,6 - 7,8) untuk pertumbuhan akuatik.
Gambar 1.21
Kondisi Kualitas Air Sungai Cimanuk Tahun 2003 - 2009
Sumber : Laporan Kegiatan Pengendalian Pencemaram Air Pada DAS Prioritas Melalui PROKASIH Tahun 2002 - 2009, BPLHD Provinsi Jawa Barat.
Tabel 1.11
Kualitas Sungai Cimanuk Tahun 2009 DAS Cimanuk 2009 BOD
(mg/L) (mg/L)COD (jml/100 mL)Koli Tinja (mg/L)DO (mg/L)Seng Sulfida(mg/L) Zat tersuspensi(mg/L) BM KLS II < 3 < 25 < 1000 > 4 < 0.05 < 0.002 < 50 Bayongbong Garut 3.2 8.6 320000 7.7 0.007 0.04 54 Setelah Sukaregang 3.6 9.4 290000 7.8 0.007 0.04 72 Tomo 3 8.6 7000 7.8 0.007 0.04 46 Jatibarang 4.8 12.8 18000 7.6 0.007 0.04 20 Sasakbeusi 4.2 11.3 50000 7.8 0.007 0.04 44 Wado 2.6 6.9 22000 7.7 0.007 0.04 50 5. DAS CITANDUY a. Kondisi Fisik
DAS Citanduy dengan luas 2.590,54 km2,
merupakan satu dari 18 DAS di Jawa Barat yang mengalir ke selatan. Curah hujan di DAS tersebut tergolong tinggi, yaitu 2.932,00 mm/tahun sehingga aliran rata-ratanya mencapai 144,16 m3/detik, sedangkan aliran
mantap DAS Citanduy pada tahun 2001 mencapai 67,37 m3/detik. DAS ini memiliki
tingkat erosi yang tinggi sehingga dikategorikan sebagai DAS dengan tingkat erosi yang kritis.
b. Kualitas
Hasil pemantauan kualitas air sungai Citanduy selama Program Prokasih yang dimulai sejak tahun 2003 menunjukkan bahwa status mutu Sungai Citanduy sudah tercemar berat. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya parameter pencemar yang tidak memenuhi baku mutu
Keterangan:
BOD (Baku Mutu = 3 mg/L). Berkisar antara 2,6 – 4,8 mg/L, empat tempat melebihi baku mutu, trend membaik (menurun). COD (Baku Mutu = 25 mg/L). Berkisar antara 6,9 – 12,8 mg/L, semua lokasi sesuai Baku Mutu, trend membaik (menurun). DO (Baku Mutu = 4 mg/L). Berkisar antara 7,6 – 7,8 mg/L, sesuai Baku Mutu, trend turun
Fecal Coliform (Baku Mutu = 1000 jml/100mL). Berkisar 7000 – 320000 mg/L, seluruh tempat melebihi baku mutu, trend naik. Seng (Baku Mutu = 0,05 mg/L). 0,007 mg/L, semua lokasi sesuai Baku Mutu, trend turun (membaik).
H2S (Baku Mutu =0,002 mg/L). 0,04 mg/L, seluruh tempat melebihi Baku Mutu. Trend naik
kelas II (PP No. 82 Tahun 2001). Begitu juga pada tahun 2009, hampir setiap tahun di semua lokasi, parameter BOD, COD, Fecal Coliform dan H2S selalu saja terdapat segmen
yang tidak memenuhi baku mutu.
Namun, kondisi kearah perbaikan mulai terlihat, kecenderungan jumlah parameter yang tidak memenuhi baku mutu terus menurun, pada tahun 2006 pernah muncul parameter Fluorida, Timbal, Belerang, Air Raksa dan Sianida, pada tahun 2008 logam berat yang terpantau adalah seng di Panumbangan dengan konsentrasi 0,13 mg/L namun pada tahun 2009 tidak terdeteksi logam berat yang mencemari seluruh titik pantau yang ada. Dari data terakhir terlihat bahwa sumber pencemar limbah domestik serta aktivitas pertanian dan perikanan mempengaruhi kualitas air di DAS CItanduy ini, terlihat dari naiknya konsentrasi fenol, sulfida, koli tinja dan koli total. Konsentrasi nitrit pada tahun 2009 mulai memenuhi baku mutu dimana parameter ini merupakan produk antara sebelum ke bentuk stabilnya berupa nitrat dengan kondisi pH yang alkali.
Gambar 1.22
Sumber : Laporan Kegiatan Pengendalian Pencemaram Air Pada DAS Prioritas Melalui PROKASIH Tahun 2002 -2009, BPLHD Provinsi Jawa Barat.
Tabel 1.12
Kualitas Sungai Citanduy Tahun 2009 DAS Citanduy
2009 (mg/L)BOD (mg/L)COD (mg/L)DO (mg/L)Seng (jml/100 mL)Koli Tinja Sulfida(mg/L) (mg/L)nitrit Baku Mutu Kelas II < 3 < 25 > 4 < 0.05 < 1000 <0.002 < 0.06
Panumbangan 2.4 6.4 7.9 0.008 14000 0.04 0.005
Bendung Pataruman 3.8 10.4 7.8 0.007 20000 0.04 0.009
Tunggilis 3.6 9.8 7.6 0.007 9000 0.04 0.002
Keterangan:
BOD (Baku Mutu = 3 mg/L). Berkisar antara 2,4 – 3,8 mg/L, dua lokasi melebihi baku mutu, trend fluktuatif. COD (Baku Mutu = 25 mg/L). Berkisar antara 6,4 – 10,4 mg/L, semua lokasi sesuai Baku Mutu, trend menurun. DO (Baku Mutu = 4 mg/L). Berkisar antara 7,6 – 7,9 mg/L, sesuai Baku Mutu, trend menurun
Fecal Coliform (Baku Mutu = 1000 jml/100mL). Berkisar antara 9000 – 14000 mg/L, melebihi baku mutu, trend naik. seng (Baku Mutu = 0,05 mg/L). Berkisar antara 0,007 – 0,008 mg/L, sesuai Baku Mutu, trend naik.
6. DAS Cilamaya a. Kondisi Fisik
Sungai Cilamaya membentang memisahkan Kabupaten Karawang dengan Kabupaten Subang. Sebagaimana DAS-DAS sebelumnya, data pemantauan kualitas air sungai dari tahun 2002 untuk daerah aliran sungai Cilamaya juga dilakukan pada beberapa lokasi sampling dengan frekuensi pengambilan tiga kali kecuali untuk tahun 2008 karena masih dilakukan pemantauan (satu kali). Lokasi pengambilan sampel air sungai untuk DAS Cilamaya adalah Wanayasa, Bendung Baru gbug, dan Cilamaya Hilir. Seperti halnya daerah aliran sungai sebelumnya, DAS ini merupakan salah satu sumber alternatif irigasi bagi berbagai lahan sawah di wilayah Purwakarta, Subang, serta sebagian Karawang.
b. Kualitas
Kondisi DAS ini semakin ke hilir konsentrasi pencemar menjadi meningkat. Tahun 2009, parameter yang melebihi baku mutu air kelas II yaitu BOD, COD, Fecal Coli, dan H2S juga
fosfat total pada beberapa segmen melebihi baku mutu. Kondisi ke arah perbaikan mulai terlihat dimana pada tahun 2009 tidak ditemukan unsur logam, tidak seperti tahun sebelumnya (2008) yang ditemukan parameter logam seperti Cd, Cu, Pb dan Zn. Namun untuk daerah hulu di Wanayasa trend BOD mengalami perbaikan dimana dari hasil uji parameter tersebut mengalami penurunan dan dibawah baku mutu yang ditetapkan begitu pula untuk COD dan DO namun patut diwaspadai karena konsentrasinya mulai meningkat dibandingkan tahun 2008.
Kondisi memprihatinkan terdapat di titik pemantauan Barugbag (tengah) dan Sasak Beusi (hilir) dimana dari parameter wajib yang dipantau mengalami peningkatan seperti BOD, COD, DO, total coliform,Fecal Coli, H2S, fenol dan Fosfat. Pengaruh berbagai aktivitas baik
industri, limbah domestik dari pencucian dan tinja, pemutih pakaian, limbah pertanian sangat berpengaruh terhadap lokasi-lokasi tersebut.
Gambar 1.23
Kondisi Kualitas Air Sungai Cilamaya 2005 - 2009
Sumber : Laporan Kegiatan Pengendalian Pencemaram Air Pada DAS Prioritas Melalui PROKASIH Tahun 2002 -2009, BPLHD Provinsi Jawa Barat.
Tabel 1.13
Kualitas Sungai Cilamaya Tahun 2009 DAS Cilamaya
2009 (mg/L)BOD (mg/L)COD (mg/L)DO (jml/100 mL)Fecal Coli (mg/L)Nitrit (mg/L)Seng Sulfida(mg/L) Baku Mutu Kelas II < 3 < 25 > 4 < 1000 < 0.06 < 0.05 < 0.002
Wanayasa 2.22 5.2 7.3 4400 0.004 0.007 0.04 Barugbug 12.5 32.8 3.88 36000 0.003 0.007 0.04 Blanakan 12.7 32.8 0.5 510000 0.004 0.007 0.04 Bongas 12.7 32.8 2.1 12000 0.013 0.007 0.04 Cilamaya stlh BMP 12.8 33.7 1.1 360000 0.007 0.007 0.04 Gempol Haji 11.4 27.6 2.1 410000 0.004 0.007 0.04 7. Das Cisadane a. Kondisi
Hulu Sungai Cisadane berasal dari Kabupaten Bogor, dan masuk ke wilayah Kabupaten Tangerang melalui Kecamatan Cisauk, Serpong dan ke wilayah Kota Tangerang dan akhirnya bermuara di teluk Jakarta. Sungai Cisadane merupakan salah satu sungai lintas provinsi yang melalui wilayah Provinsi Jawa Barat dan Banten. Menurut peruntukannya (PP No. 82 Tahun 2001) sungai Cisadane harus memenuhi baku mutu kelas 2, yaitu untuk prasarana atau sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, dan air untuk mengairi pertanaman. Pada kondisi saat ini di sekitar sungai cisadane telah banyak berdiri kawasan pemukiman dan
industri/pabrik yang sangat mempengaruhi kualitas air sungai tersebut.
Keterangan:
BOD (Baku Mutu = 3 mg/L). Berkisar antara 2,22 – 12,8 mg/L, 90% melebihi baku mutu, trend menurun. COD (Baku Mutu = 25 mg/L). Berkisar antara 5,2 – 33,7 mg/L, 90% melebihi Baku Mutu, trend menurun. DO (Baku Mutu = 4 mg/L). Berkisar antara 0,5 – 7,3 mg/L, 90% melebihi Baku Mutu, trend naik
Fecal Coliform (Baku Mutu = 1000 jml/100mL). Berkisar antara 4400 – 510000 mg/L, seluruh tempat melebihi baku mutu, trend naik.
seng (Baku Mutu = 0,05 mg/L). 0,007 mg/L, seluruh lokasi sesuai Baku Mutu, trend fluktuatif. H2S (Baku Mutu =0,002 mg/L). 0,04 mg/L, seluruh tempat melebihi Baku Mutu. Trend naik
Di daerah aliran sungai Cisadane selain terdapat sebaran penduduk, industri, juga terdapat lahan pertanian yang berpotensi menyumbang limbah. Oleh karena itu, disetiap lokasi pengambilan sampel air DAS Cisadane berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 sampai tahun 2009 terdapat parameter uji yang tidak memenuhi baku mutunya berkaitan dengan pengaruh aktivitas di DAS tersebut. Nilai parameter uji air DAS Cisadane yang berada di atas baku mutu tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah.
b. Kualitas
Titik sampel dilakukan pada delapan lokasi sampling dari hulu ke hilir yaitu, Cisalopa, Muara Jaya, Jembatan Pancasan, Jembatan Karya Bhakti, Jembatan Jasmin, Batu Beulah, Karihkil, dan Rumpin. Parameter Koli Tinja dan Koli Total, Sulfida dan Nitrit merupakan parameter yang sering kali tidak memenuhi nilai baku mutunya pada beberapa wilayah melebihi baku mutu yang ditetapkan.
Tahun 2009, terjadi penurunan kualitas air yang diindikasikan oleh naiknya konsentrasi beberapa parameter dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagai contoh konsentrasi BOD dan COD yang naik pada tahun 2009 dibandingkan tahun sebelumnya sehingga berada pada kondisi tercemar (diatas baku mutu kelas 2).
Trend pada DAS ini untuk parameter tersebut diatas mengalami penurunan (2009) sehingga diperlukan upaya perbaikan dari hulu sampai hilir DAS Cisadane. Secara umum, jenis polutan penyebab menurunnya kualitas di beberapa lokasi DAS Cisadane dikarenakan adanya limbah domestik, limbah pertanian, peternakan, serta adanya limbah cair industri yang terlarut dalam air sungai.
Jembatan Karya Bhakti merupakan lokasi dengan tingkat pencemaran tertinggi dibanding lokasi lain. Beberapa parameter diatas baku mutu seperti BOD, zat tersuspensi,fenol, Fosfat, Nitrit, Sulfida dan fecal coli. Polutan penyebab tingginya konsentrasi ini perlu mendapatkan perhatian.
Gambar 1.24
Kondisi Kualitas Air Sungai Cisadane Tahun 2006 - 2009
Sumber : Laporan Kegiatan Pengendalian Pencemaram Air Pada DAS Prioritas Melalui PROKASIH Tahun 2002 -2009, BPLHD Provinsi Jawa Barat.
Tabel 1.14
Kualitas Sungai Cisadane Tahun 2009 DAS Cisadane 2009 BOD
(mg/L) (mg/L)COD (mg/L)DO (jml/100 mL)Koli Tinja (mg/L)Nitrit Sulfida(mg/L) Baku Mutu Kelas II < 3 < 25 > 4 < 1000 < 0.06 < 0.002
Cisalopa 2.2 6 6.8 7000 0.002 0.04 Muara Jaya 4.9 12.1 6.8 6500 0.005 0.04 Jbt. Pancasan 5.8 13.0 6.4 9000 0.002 0.04 Jbt. Karya Bhakti 6.6 12.1 6.7 11000 0.106 0.04 Jbt. Yasmin 5.8 14 6.8 10000 0.003 0.04 Batubeulah 3.5 15 6.8 9000 0.037 0.04 Karihkil 4.4 10.4 6 14000 0.004 0.04 Rumpin 6.4 17 5.7 18000 0.0012 0.04
1.3.2.2 Kualitas Air Sungai Berdasarkan wilayah Kabupaten / Kota A. Kondisi Sungai di Kota Depok
Dari data yang diambil tahun 2009, maka dapat terlihat bahwa seluruh parameter BOD pada sungai, saluran serta kali yang ada di kota Depok melebihi baku mutu yang ditetapkan dengan konsentrasi dari 11,56 - 53,41 mg/l. Untuk COD maka 68,75% melebihi baku mutu yang ditetapkan. Parameter wajib lainnya masih memenuhi baku mutu kecuali untuk lokasi pemantauan Kali Angsana dimana residu tersuspensinya mencapai 622 mg/l dan perlu mendapatkan perhatian.
Tabel 1.15
Kondisi Sungai, Saluran dan Kali di Kota Depok 2008 Lokasi Pemantauan
Baku Mutu Kelas II
Temperatur Residu Terlarut
Residu
Tersuspensi pH BOD COD DO
oC mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L ± 3 1000 400 6_9 6 50 > 3 Kali Ciliwung 23,5 102 22 6,84 34,12 72,06 7,09 Kali Baru 24,2 104 83 7,34 14,78 32,16 6,77 Kali Grogol 25 214 14 6,73 48,58 100,32 7,73 Kali Sugutama 26,2 216 14 7,53 43,78 98,03 6,61 Kali Laya 27,1 218 15 7,29 26,67 125,06 6,69 Kali Angke 25,1 128 60 6,91 16,39 42,06 6,93 Keterangan :
BOD (Baku Mutu = 3 mg/L). Berkisar antara 2,2 – 6,6 mg/L, 90% melebihi baku mutu, trend naik. COD (Baku Mutu = 25 mg/L). Berkisar antara 6 – 13 mg/L, sesuai Baku Mutu, trend naik.
DO (Baku Mutu = 4 mg/L). Berkisar antara 5,7 – 6,8 mg/L, seluruhnya sesuai Baku Mutu, trend turun
Fecal Coliform (Baku Mutu = 1000 jml/100mL). Berkisar antara 6500 – 18000 mg/L, seluruh tempat melebihi baku mutu, trend naik.
H2S (Baku Mutu =0,002 mg/L). 0,04 mg/L, seluruh tempat melebihi Baku Mutu. Trend naik