1 BAB III
Hasil Penelitian dan Pembahasan A. Hasil Penelitian
Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan yang begitu cepat dan signifikan dalam model masyarakat, budaya, ekonomi, dan penegakan hukum.
Didukung pula dengan munculnya berbagai media komunikasi masa berbasis daring dengan menggunakan media internet seperti facebook, twitter, instagram, dan masih banyak media lainnya yang populer disebut sebagai medsos (media sosial) dan melalui berbagai media sosial, hal ini dapat membuat dunia menjadi tanpa batas (borderless).
Perkembangan teknologi dan informasi tentunya tidak lepas dari segala hal positif maupun negatif. Dari sudut pandang siapa yang menguasai media sosial, media internet mungkin merupakan dua mata pisau yang berlawanan. Bisa berupa pisau tajam yang berguna jika dipegang di tangan yang benar, misalnya sebagai sarana bertukar pendapat, bertukar informasi, berbagi ilmu yang bermanfaat, dll. Namun, jika jatuh ke tangan yang salah, internet dan media sosial justru bisa menjadi pisau yang tajam karena penggunaannya jauh dari menguntungkan, sehingga dapat melukai dan merugikan diri sendiri bahkan orang lain karena pemanfaatannya yang jauh dari aspek yang bermanfaat.
Seperti yang sudah dipaparkan di atas, meskipun perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membawa kemudahan juga menimbulkan suatu tantangan baru, salah satunya tindak pidana pornografi yang sangat marak terjadi di Indonesia.
Tindak Pidana Pornografi dapat dimulai dari hal-hal yang berbau cabul, melanggar norma kesusilaan dan norma kesopanan, dan eksploitasi seksual banyak dijumpai dalam periklanan media massa, dunia model, film, majalah, televisi, video game, situs web dan media sosial seperti facebook. Banyak informasi yang disebar mengandung unsur pornografi. Mengutip dari Jurnal Internasional mengenai Ethic Cyber Strengthening Ascriminal Law Policy Formulations In Response Cyberporn,
2
“Cyber Porn is an act of using cyberspace to create, display, distribute, publish pornography and obscene material. Cyberspace with technology that carries pornography, so that pornography provides more feature-rich form of pornography, pornografipun experienced media translation and making pornography created with multi features. The lack of regulations on the provision of criminal sanctions for internet access service providers (ISP /Internet Service Provider) are not filtering out pornographic content so that they can be accessed internet users. Cyber ethics required for casting activity that is passed by internet users. Ideal criminal Legal policy of studies necessary legal substance of law reforms in the fight against cyberporn.”
(Hervina Puspitosari, dan Ashinta Sekar Bidari, 2017: 30-37).
Dalam artian Porno Dunia Maya adalah tindakan menggunakan dunia maya untuk membuat, menampilkan, mendistribusikan, mempublikasikan pornografi dan materi cabul. dunia maya dengan teknologi yang mengusung pornografi, sehingga pornografi memberikan lebih banyak fitur berupa pornografi, pornografipun mengalami terjemahan media dan membuat pornografi dibuat dengan multi fitur. Hal ini dapat menyebabkan penyebar informasi tersebut dapat terjerat hukum sebagaimana telah diatur dalam UU ITE. Permasalahan hukum yang seringkali dihadapi adalah ketika terkait dengan penyampaian informasi, komunikasi dan/atau transaksi secara elektronik, khususnya dalam hal pembuktian dan hal yang tekait dengan perbuatan hukum yang dilaksanakan melalui sistem elektronik. Belum adanya pengaturan tentang pemberian sanksi pidana bagi penyelenggara jasa akses internet (ISP/ Penyedia layanan internet) tidak memfilter konten pornografi agar dapat diakses pengguna internet. Etika siber diperlukan untuk aktivitas casting yang dilalui oleh pengguna internet. Kajian kebijakan hukum pidana yang ideal diperlukan substansi reformasi hukum dalam memerangi porno dunia maya.
Menurut data yang diperoleh Penulis dari Sistem Informasi Penelusuran Perkara Pengadilan Negeri Bojonegoro, jumlah kasus terkait Pengancaman yang mengandung unsur kesusilaan melalui Media Elektronik dalam kurun waktu tahun
3
2017 hingga 2021 di Pengadilan Negeri Bojonegoro akan dijelaskan dalam tabel di bawah ini:
Tabel. 1.1
Data Jumlah Kasus Pengancaman melalui Media Elektronik di Pengadilan Negeri Bojonegoro Tahun 2017-2021
No. Tahun Jumlah
1. 2017 0
2. 2018 0
3. 2019 1
4. 2020 0
5. 2021 (Sampai Juli 2021) 1
Sumber: Sistem Informasi Penelusuran Perkara Pengadilan Negeri Bojonegoro
Pada data di atas jumlah kasus Pengancaman yang mempunyai kekuatan hukum tetap pada Pengadilan Negeri Bojonegoro tahun 2017, 2018, dan 2020 adalah 0 kasus.
Kemudian pada tahun 2019 dan 2021 (Bulan Juli) masing-masing terdapat 1 (satu) kasus Pengancaman, sehingga dalam rentan waktu 4 Tahun 7 Bulan yaitu pada Tahun 2017 hingga Tahun 2021 hanya berjumlah 2 kasus. Dapat disimpulkan bahwa kasus pengancaman melalui media elektronik yang terjadi di Kabupaten Bojonegoro tiap tahunnya tergolong sangat sedikit.
Sedangkan, untuk pasal yang dikenakan pada perbuatan Pengancaman dalam media elektronik dalam kurun waktu tahun 2017 hingga 2020 menurut data yang diperoleh Penulis melalui Sistem Informasi Penelusuran Perkara Pengadilan Negeri Bojonegoro akan dipaparkan dalam tabel di bawah ini:
Tabel. 1.2
Daftar Kasus Pengancaman melalui Media Elektornik di Pengadilan Negeri Bojonegoro
Tahun Nama Pasal Kejahatan Hukuman
2017 - - -
4
2018 - - -
2019 Eko Purwanto Als Mblu Bin Kasmin
Pasal 29 1 (satu) Tahun 4 (empat) Bulan
2020 - - -
2021 Imam Gozali Bin Alm Suciono
Pasal 27 Ayat 1 10 (sepuluh) Bulan
Sumber: Sistem Informasi Penelusuran Perkara Pengadilan Negeri Bojonegoro
Kasus Pengancaman melalui Media Elektornik di Pengadilan Negeri Bojonegoro pada tahun 2019 dengan pelaku atas nama Eko Purwanto Als Mblu Bin Kasmin, Tempat/tgl Lahir: Bojonegoro, 25 Maret 1984, Jenis Kelamin: Laki-laki, Kebangsaan: Indonesia, Tempat Tinggal: Desa Beji RT. 01 RW. 01 Kecamatan Kedewan Kabupaten Bojonegoro, Agama: Islam, Pekerjaan: Jurnalis, dikenakan Pasal 29 dalam Putusan Nomor 125/Pid.Sus/2019/PN Bjn dilakukannya dengan cara Terdakwa mencatat nomor kontak/nomor WhatsApp dari facebook atas nama saksi Eny Nur Alisa, tata Nur Diana, Putri Nur Sela, Mariyatul Qibthiyah, Jovi Lidyawati, Rina Dewi Anggraeni yang masih duduk di bangku SMP Negeri Ngambon yang kemudian disimpan dan muncul foto dari saksi-saksi tersebut. Kemudian Terdakwa menghubungi masing-masing saksi dan berusaha membuka percakapan namun tidak ditanggapi. Oleh karena itu Terdakwa mengancam dan berusaha menakut-nakuti akan membobol facebook milik dari saksi-saksi tersebut. Untuk melaksanakan niat nya maka Terdakwa mengedit foto para korban dengan cara memakai aplikasi “Friend Blender” dan kemudian munculah gambar perempuan bugil dengan beberapa pose dan selanjutnya Terdakwa simpan. Kemudian Terdakwa tanpa sepengetahuan dari masing – masing saksi telah mengambil foto para saksi dari facebook melalui pada kolom galery foto, dan oleh Terdakwa di edit dan dipindahkan ke aplikasi “Friend Blender” sehingga secara otomatis wajah dari masing – masing saksi menyatu dengan bagian tubuh yang bergambar fose wanita bugil. Atas perbuatan tersebut Pelaku dikenai Pasal 29 UU ITE dan mendapat Hukuman Penjara selama 1 tahun 4 bulan serta denda sejumlah Rp
5
60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 1 (satu) bulan.
Kasus Pengancaman melalui Media Elektornik di Pengadilan Negeri Bojonegoro pada tahun 2021 dengan Pelaku atas nama Imam Gozali Bin Alm Suciono, Tempat/tgl Lahir: Kotabumi, 19 Mei 1993 (27 Tahun), Jenis Kelamin: Laki-laki, Kebangsaan: Indonesia, Tempat Tinggal: Desa Bimasakti RT 01/RW 01 Kecamatan Negeri Besar Kabupaten Way Kanan Provinsi Lampung/ Dusun Ngitik Desa Tanjungharjo, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Agama: Islam, Pekerjaan:
Wiraswasta, dikenakan Pasal 27 Ayat 1 dalam Putusan Nomor 149/Pid.Sus/2021/PN Bjn dilakukannya dengan cara berawal pada saat GERRY ADHISTIRA DHEWANGGA membawa laptop ke Hi-Tech Komputer di jalan Gajahmada turut Desa sukorejo kab. Bojonegoro untuk melakukan perbaikan dan instal ulang.
Terdakwa yang bekerja di toko Hi-tech sebagai karyawan bagian teknisi printer dan servis laptop, terdakwa membuka disc D yang ada di laptop Gerry ternyata ada foto setengah bugil milik CHINDY AYU MARITA lalu terdakwa memindahkan beberapa foto ke Handphone milik terdakwa sementara file yang ada di laptop tidak terdakwa hapus. Beberapa waktu kemudian setelah GERRY mengambil laptop tersebut, istrinya yaitu CHINDY AYU MARITA mendapatkan pesan melalui Whatssapp dan dalam pesan tersebut terdapat foto-foto setengah telanjang CHINDY yang sebelumnya ada pada laptop GERRY yang diservice di Hi tech Komputer Terdakwa mengirimkan pesan yang berisi pengancaman untuk tidak mengatakan kepada siapapun termasuk suami Chindy yaitu Gerry jika foto telanjang Chindy tidak mau tersebar, serta terdakwa memiliki data pribadi CHINDY. kemudian terdakwa mengirim kan foto-foto CHINDY setengah telanjang yang sebelumnya ada di laptop GERRY, selanjutnya terdakwa meminta video bugil kepada CHINDY, apabila tidak dipenuhi maka foto-foto tersebut akan disebarkan. Namun CHINDY tidak memenuhi permintaan terdakwa untuk mengirimkan video bugil meskipun terdakwa memintanya berulang kali, CHINDY sempat menawarkan untuk membayar sejumlah uang saja supaya foto tersebut tidak disebarkan. Terdakwa meminta CHINDY check in di hotel dan memberi tawaran jika
6
tidak mau uang dan meminta untuk cek in hotel semalam dan memberi tawaran uang 10 juta atau tidur semalam dengan terdakwa. CHINDY tetap tidak memenuhi permintaan terdakwa, akhirnya CHINDY lebih memilih untuk memberikan uang pada terdakwa asalkan jika uang itu dipenuhi maka data-data pribadi akan ditukar dan dihapus. CHINDY menceritakan hal ini kepada GERRY kemudian keduanya meminta saran pada anggota Polisi Satreskrim YUAN AGUS yaitu agar CHINDY mengikuti permintaan terdakwa sebagai pancingan supaya terdakwa bisa ditangkap. Atas perbuatan tersebut Pelaku dikenai Pasal 27 Ayat 1 UU ITE dan mendapat Hukuman Penjara selama 10 bulan serta dan pidana denda sejumlah Rp.1.000.000,00 (satu juta rupiah) dengan ketentuan apabila pidana denda tersebut tidak dibayar maka akan diganti dengan pidana kurungan selama 2 (dua) bulan.
Kasus tersebut telah diuraikan terkait perbuatan masing-masing pelaku yang sama-sama melakukan Tindak Pidana Pengancaman melalui media elektronik namun pengenaan pasal yang dikenakan kepada masing-masing pelaku berbeda. Masing- masing pelaku menggunakan modus operandi yang berbeda. Pelaku Eko Purwanto Als Mblu Bin Kasmin menggunakan modus operandi foto hasil editan yang memuat kesusilaan dan mengancamkan akan membobol facebook dan menyebarkan foto hasil editan tersebut jika korban tidak mau video call dengan pelaku sedangkan Pelaku Imam Gozali Bin Alm Suciono dengan modus operandi mengirimkan foto setengah telanjang yang ia dapat dari file laptop yang sedang di service kan kepadanya kemudian pelaku mengancam akan menyebarkan foto tersebut apabila korban tidak mau cek in hotel atau memberi uang 10 juta kepada pelaku.
Atas modus operandi yang dilakukan Pelaku Eko Purwanto Als Mblu Bin Kasmin, Penulis akan membahas lebih lanjut terkait Foto Hasil Rekayasa bermuatan Pornografi yang digunakan pelaku untuk menakut-nakuti korban dalam Putusan Nomor 125/Pid.Sus/2019/PN Bjn.
7
B. Pembahasan
1. Tindak Pidana yang terbukti pada Putusan Pengadilan Negeri Bojonegoro Nomor: 125/Pid.sus/2019/PN Bjn
Studi Kasus Putusan Nomor 125/Pid.sus/2019/PN Bjn yang terjadi di Desa Beji RT. 01 RW. 01 Kecamatan Kedewan Kabupaten Bojonegoro atas nama Terdakwa Eko Purwanto yang dituduh telah mengirimkan foto-foto bugil dengan wajah mirip para saksi korban yaitu saksi Eny Nur Alisa Binti Muntari, saksi Tata Nur Diana Binti Hamim, saksi Jovi Lidyawati binti Kuswo, saksi Rina Dewi Anggreani Binti Suparwo, saksi Nila Nungraini binti Kariman sedangkan badan yang ada didalam foto tersebut diperoleh dari foto – foto bugil dan dengan menggunakan aplikasi friendsblender telah mengubah atau mengedit 4 foto bugil yang disimpannya kemudian dengan melakukan manipulasi digital mengubah dan mengganti wajah dalam foto bugil tersebut dengan wajah dari masing-masing saksi korban yang kemudian foto – foto editan tersebut dikirim oleh Terdakwa kepada masing- masing saksi korban, disertai dengan chat “ akan menyebarkan foto bugil dan video para saksi korban ke media sosial apabila para saksi korban berusaha memblokir nomor WhatsApp Terdakwa dan memviralkannya “.
Dalam kasus tersebut Terdakwa dijatuhi pidana berupa Penjara selama 1 (satu) tahun dan 4 (empat) bulan dan menetapkan selama waktu Terdakwa berada dalam tahanan dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan. Berikut Penulis paparkan dakwaan serta pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan:
Dakwaan Putusan Hakim Kritik
Kesatu Primair
Bahwa perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 29 jo Pasal 45 Ayat (3) UU RI No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan
Menimbang, bahwa dengan mendasarkan dalam perkara a quo dengan memperhatikan konten dan konteks yang ada Terdakwa telah mengirimkan foto-foto bugil dengan wajah mirip para saksi
Berdasarkan analisis, penulis berpendapat bahwa penulis kurang setuju dengan pertimbangan hakim yang mempertimbangkan perbuatan Terdakwa sebagai
8
Dakwaan Putusan Hakim Kritik
Atas UU No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik jo pasal 65 ayat (1) KUHP;
Subsidair
Bahwa perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 27 Ayat (1) jo Pasal 45 Ayat (1) UU RI No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas UU No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik jo pasal 65 ayat (1) KUHP;
Atau Kedua
Bahwa perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 29 UU RI No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi jo pasal 65 ayat (1) KUHP;
korban yaitu saksi Eny Nur Alisa Binti Muntari, saksi Tata Nur Diana Binti Hamim, saksi Jovi Lidyawati binti Kuswo, saksi Rina Dewi Anggreani Binti Suparwo, saksi Nila Nungraini binti Kariman sedangkan badan yang ada didalam foto tersebut diperoleh dari foto – foto bugil dan dengan
menggunakan aplikasi
friendsblender telah mengubah atau mengedit 4 foto bugil yang disimpannya kemudian dengan melakukan manipulasi digital mengubah dan mengganti wajah dalam foto bugil tersebut dengan wajah dari masing-masing saksi korban setelah disimpan dalam gallery handphonenya Terdakwa yang kemudian foto – foto editan tersebut dikirim oleh Terdakwa kepada masing-masing saksi korban, disertai dengan chat “ akan menyebarkan foto bugil dan video para saksi korban ke media sosial apabila para saksi korban berusaha memblokir nomor Whats App
Perbuatan yang melanggar Pasal 29 UU No. 19 Tahun 2016.
Menurut penulis, Terdakwa telah melakukan kejahatan pornografi pada media elektronik atau cyberporn yang mana Terdakwa telah Memproduksi, Membuat, Memperbanyak,
Menggandakan, Menyebarluaskan,
Menyiarkan, Mengimpor, Mengekspor, Menawarkan, Memperjualbelikan,
Menyewakan, atau
Menyediakan Pornografi.
9
Dakwaan Putusan Hakim Kritik
Terdakwa dan memviralkannya “ menurut menurut Majelis perbuatan Terdakwa tersebut termasuk dalam tindakan telah mengirimkan informasi elektronik melalui media social berupa aplikasi Whats App yang berisi konten yang bertujuan untuk menakut-nakuti secara pribadi saksi korban Eny Nur Alisa Binti Muntari, saksi Tata Nur Diana Binti Hamim, saksi Jovi Lidyawati binti Kuswo, saksi Rina Dewi Anggreani Binti Suparwo, saksi Nila Nungraini binti Kariman, agar mau menuruti kemauan dari Terdakwa ;
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas Majelis berpendapat perbuatan Terdakwa telah memenuhi unsur ketiga secara sah menurut hukum ; Menimbang, bahwa sebagaimana uraian fakta tersebut tersebut diatas, Majelis berpendapat bahwa perbuatan mengirimkan informatika elektronik berupa foto
10
Dakwaan Putusan Hakim Kritik
melalui media sosial dengan bertujuan untuk menakut-nakuti secara pribadi dari para saksi korban, perbuatan tersebut dilakukan oleh Terdakwa sebagai suatu perbuatan-perbuatan yang sejenis akan tetapi bukan perwujudan dari satu kehendak karena maksud dan tujuan Terdakwa melakukan perbuatan- perbuatan pidana kepada masing – masing saksi korban adalah berdiri sendiri dan termasuk dalam pengertian dua atau lebih ketentuan pidana yang dilakukan oleh satu orang;
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas maka Majelis berpendapat perbuatan Terdakwa telah memenuhi unsur Pasal 65 ayat (1) KUHP;
Tindak pidana yang terbukti dalam pasal tersebut merupakan tindak pidana Informasi dan Transaksi Elektronik dengan sengaja dan tanpa hak mengirimkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang berisi ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi yang ditegaskan dalam Pasal 29 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008. Berikut penulis akan menguraikan unsur-unsur Pasal yang telah terbukti pada Putusan Nomor 125/Pid.sus/2019/PN Bjn dan Penulis
11
bandingkan dengan Pasal yang dapat dikenakan pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana:
Pasal 29 UU ITE Pasal 369 Ayat 1 KUHP
Setiap Orang
Setiap Orang yang dimaksud undang-undang adalah subyek hukum. Subyek hukum atau subject van een recht yaitu “orang” yang mempunyai hak, manusia pribadi atau badan hukum yang berhak, berkehendak atau melakukan perbuatan hukum (Soedjono Dirdjosisworo, 2012: 128). Setiap orang yang di maksud dalam pasal ini berarti “setiap orang” sehingga yang dapat digunakan dalam pasal ini adalah seseorang, individu, bukan kelompok orang, organisasi, badan hukum atau korperasi.
Dalam perkara a quo Terdakwa merupakan orang perorangan yang secara tegas membenarkan identitas sebagaimana tersebut dalam surat dakwaan, demikian pula dengan keterangan saksi-saksi, mengenal dan membenarkan, bahwa yang dimaksud dengan orang yang diduga melakukan tindak pidana dalam perkara ini adalah Terdakwa yang bernama Eko Purwanto Als Mblu Bin Kasmin.
Barang Siapa
Bahwa yang dimaksud “barang siapa” adalah subyek hukum baik orang maupun badan hukum yang mampu untuk bertanggung jawab di depan hukum atas segala perbuatan yang telah dilakukannya.
Dalam perkara a quo Terdakwa merupakan orang perorangan yang secara tegas membenarkan identitas sebagaimana tersebut dalam surat dakwaan, demikian pula dengan keterangan saksi-saksi, mengenal dan membenarkan, bahwa yang dimaksud dengan orang yang diduga melakukan tindak pidana dalam perkara ini adalah Terdakwa yang bernama Eko Purwanto Als Mblu Bin Kasmin.
Dengan Sengaja dan Tanpa Hak
Unsur kedua yang harus dipenuhi adalah dengan sengaja dan tanpa hak. Setiap unsur
Dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum
12
Pasal 29 UU ITE Pasal 369 Ayat 1 KUHP
tindak pidana tidak berdiri sendiri. Selalu mempunyai hubungan dengan unsur-unsur lainnya. Dari sudut normatif, tindak pidana adalah suatu pengertian tentang hubungan antara kompleksitas unsur-unsurnya tersebut.
Dari hubungan inilah kita dapat mengetahui alasan tercelanya (melawan hukum) perbuatan yang dilarang dalam setiap tindak pidana, termasuk tindak pidana penghinaan dalam UU ITE tersebut diatas. Hubungan yang dekat dengan unsur “tanpa hak” dari perbuatan mendistribusikan, mentransmisikan atau membuat dapat diakses informasi elektronik, terdapat pada 2 (dua) unsur. Pertama secara objektif. Hubungan itu sangat dekat dengan sifat isi informasi elektronik yang didistribusikan, ditransmisikan oleh si pembuat. Sifat isi informasi atau dokumen (objek) elektronik tersebut mengandung muatan bentuk-bentuk pengancaman pembunuhan dan kekerasan yang ditujukan secara pribadi. Pada unsur inilah melekat sifat melawan hukum perbuatan mendistribusikan dan mentransmisikan informasi elektronik tersebut. Sekaligus merupakan alasan mengapa perbuatan mendistribusikan dan mentransmisikan menjadi terlarang. Oleh
Bahwa arti “dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain” adalah perbuatan pelaku dilakukan benar-benar dengan maksud untuk menguntungkan, memberi kemanfaatan bagi dirinya ataupun orang lain, yang dilakukan dengan cara melawan hak, karena tidak ada alas hak/dasar hukum yang dapat membenarkan perbuatannya.
Dalam Perkara a quo Terdakwa dengan maksud menguntungkan diri nya sendiri agar dapat video call dengan para korban sehingga ia melakukan perbuatan pengancaman dengan foto rekayasa bermuatan pornografi secara melawan hukum akan menyebarkan foto hasil editannya apabila para korban tidak mau menuruti perintah Terdakwa.
13
Pasal 29 UU ITE Pasal 369 Ayat 1 KUHP
sebab itu, jika orang yang mengirimkan data elektronik tanpa memenuhi syarat tersebut tidak termasuk melawan hukum, dan tidak boleh dipidana. Kedua secara subjektif.
Hubungan melawan hukum sangat dekat dengan unsur dengan sengaja (kesalahan).
MvT WvS Belanda mengatakan bahwa
“pidana pada umumnya hendaknya dijatuhkan hanya pada barangsiapa melakukan perbuatan yang dilarang, dengan dikehendaki dan diketahui” (Moeljatno, 1983: 171). Secara singkat sengaja artinya menghendaki (willens) dan mengetahui (wetens). Mengenai keterangan dalam MvT WvS Belanda tersebut, Jan Remmelink menyatakan bahwa mengajarkan pada kita bahwa cara penempatan unsur sengaja dalam kentuan pidana akan menentukan relasi pengertian ini terhadap unsur-unsur delik lainnya, apa yang mengikuti kata ini akan dipengaruhi olehnya (Jan Remmelink, 2003: 152).
Dalam perkara a quo, diketahui Terdakwa melalui akun Facebook nya menyimpan kontak saksi Eny, Tata, Putri, Mariyatul, Jovi, Rina dan dengan nomor tersebut terdakwa menghubungi masing masing saksi dan berusaha membuka percakapan, namun karena
14
Pasal 29 UU ITE Pasal 369 Ayat 1 KUHP
tidak ditanggapi maka terdakwa tanpa sepengetahuan masing-masing saksi mengambil foto para saksi yang kemudian oleh terdakwa foto tersebut diedit dan dipindahkan ke aplikasi friend blender sehingga secara otomatis wajah dari masing-masing saksi menyatu dengan bagian tubuh yang bergambar fose wanita bugil. Kemudian foto tersebut disebarkan kepada para saksi untuk mengancam dan menakut-nakuti akan menyeberluaskan foto tersebut apabila chat dari terdakwa tidak ditanggapi. Sehingga dalam perkara a quo Terdakwa menghendaki perbuatan pembuatan foto rekayasa bermuatan pornografi yang kemudian dikirimkan kepada para saksi dan Terdakwa mengetahui bahwa perbuatannya tersebut merupakan melawan hukum.
Mengirimkan informasi elektronik dan / atau dokumen elektronik
Unsur selanjutnya yang harus dipenuhi oleh terdakwa adalah mengirim informasi elektronik atau data elektronik. Pasal 1 Angka 1 menyebutkan bahwa Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk, tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto,
Dengan ancaman pencemaran baik secara lisan maupun tulisan, atau dengan ancaman akan membuka rahasia, memaksa seseorang supaya memberikan barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang itu atau orang lain, supaya membuat hutang atau menghapuskan piutang;
Lamintang, menyebut istilah "pencemaran"
dengan istilah "ancaman membuat malu".
15
Pasal 29 UU ITE Pasal 369 Ayat 1 KUHP
electronic data interchange (EDJ), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.
Sedangkan data elektronik terdapat pada Pasal 1 Angka 4 yaitu setiap Informasi Elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirimkan, diterima, atau disimpan dalam bentuk analog, digital, elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui Komputer atau Sistem Elektronik termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol atau perforasi yang memiliki makna atau arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya. Kutipan dua pengertian yang terdapat dalam UU ITE tersebut memberi pencerahan bahwa pesan singkat yang dikirimkan oleh terdakwa atau yang disebut SMS (Layanan pesan singkat) itu termasuk sebagai informasi eletronik atau data elektronik. Pesan singkat yang dikirimkan tersebut termasuk tulisan, dan tulisan tersebut
Secara definitif, pengertian "ancaman pencemaran" telah dirumuskan dalam Pasa1310 ayat (1) KUHP. Menurut Pasal 310 ayat (1)
KUHP, yang dimaksud
pencemaran (smaad) adalah menyerang kehormatan atau nama baik seseorang, dengan menuduh sesuatu hal, yang maksudnya nyata agar hal itu diketahui umum.
Pasal 310 ayat (1) KUHP di atas memberikan pengertian terhadap apa yang dimaksud dengan
"pencemaran lisan". Lantas apa yang dimaksud dengan "pencemaran tertulis" ?" Apabila perbuatan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 310 ayat (1) KUHP tersebut dilakukan dengan tulisan, misalnya dengan menyebarkan atau menempelkan tulisan atau lukisan, maka hal itu disebut "pencemaran secara tertulis". Unsur lain dari Pasa1369 KUHP yang belum dijelaskan adalah unsur "ancaman membuka rahasia". Apa yang dimaksud dengan "rahasia?".
Tentang pengertian "rahasia" ini berbeda dengan pengertian rahasia sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 322 KUHP.
"Membuka rahasia" yang dimaksud dalam Pasal 322 KUHP ini berkaitan dengan pembukaan rahasia oleh orang yang karena jabatannya atau pekerjaannya wajib menyimpan rahasia itu.
16
Pasal 29 UU ITE Pasal 369 Ayat 1 KUHP
dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui komputer atau sistem elektronik.
Dalam perkara a quo, setelah Terdakwa selesai membuat foto rekayasa bermuatan pornografi kemudian hasil foto tersebut Terdakwa kirimkan kepada saksi untuk mengancam dan menakut-nakuti apabila memblokir atau tidak menanggapi chat Terdakwa maka foto tersebut akan disebarluaskannya di Facebook.
Sebagai contoh, misalnya, seorang notaris wajib menyimpan rahasia terhadap, misalnya, isi dari surat hibah wasiat yang bersifat rahasia (geheim testament), sehingga apabila notaris tersebut membuka rahasia ini, notaris tersebut dikenakan Pasal 322 KUHP.
"Membuka rahasia" dalam pengertian Pasal 369 KUHP m engandung arti, memberitahukan kepada orang lain atau pihak ketiga hal-hal mengenai orang yang diancam atau orang ketiga yang terkait dengan orang yang diancam.
Pada dasarnya baik pencemaran nama baik maupun membuka rahasia mempunyai tujuan yang sama, yaitu memberitahu kepada orang lain atau pihak ketiga atau kepada khalayak ramai tentang s esuatu hal yang menyangkut orang yang diancam. "Rahasia" pada hakikatnya mengenai suatu hal yang benar-benar terjadi, tetapi karena sesuatu hal (misalnya takut diketahui oleh istrinya, anaknya, atasannya, dan sebagainya) disembunyikan.
Sedang pencemaran nama baik mengenai suatu hal yang benar atau tidak benar yang dapat mencemarkan nama dan kehormatan orang yang diancam.
Berisi ancaman kekerasan atau menakut- nakuti yang ditujukan secara pribadi
17
Pasal 29 UU ITE Pasal 369 Ayat 1 KUHP
Unsur berisi ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi.
Mengenai unsur yang terakhir ini memenuhi atau tidak harus dilihat pada fakta persidangan yang ada.
Dalam perkara a quo, Terdakwa dalam mengirimkan Informasi/Dokumen elektronik berupa foto yang melanggar kesusilaan juga disertai dengan ancaman dan menakut-nakuti para saksi dengan mengirimkan pesan chat
“kalua wa ku kamu blok atau kamu viralkan jangan salahkan aku klau facebook mu aku bobol”, “tak viralkan semua foto ama video kamu di facebook kamu ama di sekolahan mu sumpah”.
Perbuatan Terdakwa tersebut termasuk dalam tindakan telah mengirimkan informasi elektronik melalui media social berupa aplikasi WhatsApp yang berisi konten yang bertujuan untuk menakut-nakuti secara pribadi saksi korban Eny Nur Alisa Binti Muntari, saksi Tata Nur Diana Binti Hamim, saksi Jovi Lidyawati binti Kuswo, saksi Rina Dewi Anggreani Binti Suparwo, saksi Nila Nungraini binti Kariman, agar mau menuruti kemauan dari Terdakwa, sehingga perbuatan Terdakwa telah memenuhi unsur ketiga secara sah menurut hukum.
2. Dakwaan yang seharusnya dapat didakwakan pada perbuatan foto rekayasa bermuatan pornografi pada applikasi chatting
a) Penggunaan Asas Concurcus Pada Pasal 65 KUHP
18
Penulis berupaya menyajikan bagaimana gambaran mengenai suatu konten foto rekayasa yang bermuatan pornografi dan digunakan sebagai alat pengancaman pada sosial media dapat melanggar ketentuan hukum yang berlaku terkait pembuatan foto rekayasa sebagaimana diatur dalam UU ITE dan melanggar ketentuan foto bermuatan pornografi sebagaimana diatur dalam UUP serta melanggar ketentuan pengambilan foto tanpa izin sebagaimana diatur dalam UUHC. Riset ini menjadi relevan dengan adanya aturan yang berperan sebagai payung hukum dalam melindungi penggunaan media sosial dalam pelaksanaan pidana di Indonesia yaitu UU ITE, UUP, dan UUHC.
Maka, dengan Terdakwa melakukan lebih dari satu tindak pidana atau beberapa tindak pidana secara perbarengan, di dalam Hukum Pidana disebut dengan istilah “Concursus”. Penulis mengambil teori dari Pakar Hukum Pidana yang sebenarnya Menurut Barda Nawawi Arief sebenarnya di dalam KUHP tidak ada definisi mengenai Concursus, namun demikian dari rumusan pasal- pasalnya diperoleh pengertian sebagai berikut (Amir Ilyas, 2012: 130):
1. Concursus Idealis (Pasal 63 KUHP) yaitu satu perbuatan masuk ke dalam lebih dari satu aturan pidana.
2. Perbuatan Berlanjut (Pasal 64 KUHP) yaitu Seseorang melakukan beberapa perbuatan dan perbuatan tersebut masing-masing merupakan kejahatan atau pelanggaran. Lalu antara perbuatan-perbuatan itu ada hubungan sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut.
3. Concursus Realis (Pasal 65 KUHP) yaitu Seseorag melakukan beberapa perbuatan yang masing-masing perbuatan itu berdiri sendiri-sendiri sebagai suatu tindak pidana (kejahatan/pelanggaran); jadi tidak perlu sejenis atau berhubungan satu sama lain.
Selanjutnya dari pengertian Concursus diatas, maka jika diterapkan dalam perkara ini, perbuatan Terdakwa telah masuk ke dalam Concursus Realis karena Terdakwa melakukan beberapa perbuatan yang masing-masing perbuatan itu berdiri sendiri-sendiri sebagai suatu tindak pidana. Jika kita tinjau
19
lebih jauh lagi perbuatan yang dilakukan oleh Terdakwa tidak hanya sebatas apa yang telah dirumuskan oleh Penuntut Umum di dalam keempat dakwaan, melainkan apa yang telah dilakukan Terdakwa termasuk ke dalam Concursus Realis yang mana Terdakwa melakukan beberapa perbuatan yang masingmasing berdiri sendiri sebagai suatu tindak pidana dan tidak perlu berhubungan serta tidak perlu sejenis. Penulis akan menjabarkan perbuatan Terdakwa yang melanggar ketentuan lain dalam peraturan perundang- undangan terkait dengan Penghinaan dalam UU ITE dan pelanggaran ciptaan dalam UU Hak Cipta.
b) Penggunaan Asas Lex posterior derogat legi priori
Asas hukum sebagai poin penting dalam penegakkan hukum di suatu negara merupakan aturan-aturan yang bersifat abstrak dan melandasi aturan konkret di dalam system hukum itu sendiri. Fungsi dari asas hukum adalah untuk menjaga keberlakuan asas dan kosistensinya serta menjadi pedoman dalam mengakhiri konflik atau perbedaan yang ada dalam sistem hukum yang berlaku (Franky Satrio Darmawan dan Dian Adriawan, 2018: 10). Asas hukum yang telah didefinisikan oleh banyak pakar hukum merupakan dasar, pondasi, dan landasan dari terbentuknya suatu peraturan hukum. Sehingga asas hukum diartikan sebagai aturan dasar dan prinsip-prinsip hukum yang abstrak dan pada umumnya melatar belakangi peraturan konkret dan pelaksanaan hukum.
Peraturan konkret seperti undang-undang tidak boleh bertentangan dengan asas hukum, begitu pula dalam sistem hukum.
Jadi, apabila dalam sistem hukum terjadi pertentangan, menurut Marwan Mas maka asas hukum akan tampil menurut fungsinya untuk mengatasi pertentangan tersebut. Misalnya, terjadi pertentangan antara satu undang-undang dengan undang-undang lainnya, maka harus kembali melihat asas hukum sebagai prinsip dasar yang mendasari suatu peraturan hukum berlaku secara universal. Hal itu dikarenakan untuk menjaga citra sistem hukum yang utuh.
20
Asas undang-undang demikian dalam ilmu hukum dikenal dengan suatu adagium: “Asas Lex posterior derogat legi priori”, yang berarti undang-undang yang lebih baru mengenyampingkan undang-undang yang lama (Dudu Duswara Mahmudin, Pengantar Ilmu Hukum). Bahkan Hartono Hadisoeprapto (2001:26) mengartikan asas tersebut dengan pengertian bahwa undang-undang baru itu merubah/meniadakan undang-undang lama yang mengatur materi yang sama.
Jadi apabila suatu masalah yang diatur dalam suatu undang-undang kemudian diatur Kembali dalam suatu undang-undang baru, meskipun pada undang-undang baru tidak mencabut/meniadakan berlakunya undang-undang lama itu, dengan sendirinya undang-undang lama yang mengatur hal yang sama tidak berlaku lagi. Pada kasus ini UU ITE 2016 mengenyampingkan UU ITE 2008 (Hartono Hadisoeprapto, 2001:26). Karena terjadi perubahan pada peraturan perundang-undangan tersebut diatas, maka menurut asas yang tepat diterapkan yaitu asas lex posteriori derogate legi priori, undang-undang yang berlaku kemudian mengubah undang-undang yang berlaku terdahulu. Undang- Undang No. 11 Tahun 2008 sebagai undang-undang yang datang lebih dulu (priori), sedangkan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 sebagai undang- undang yang baru (posteriori). Maka Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 mengenyampingkan Undang-Undang No. 19 Tahun 2016.
Suatu kehidupan Bersama, hukum adalah merupakan suatu sistem.
Sehingga hukum harus mencerminkan suatu tatanan dan kesatuan yang utuh yang terdiri dari bagian-bagian atau unsur-unsur yang saling berkaitan. Dengan demikian peraturan perundang-undangan merupakan bagian dari pada sistem hukum, dan pastinya suatu peraturan perundang-undangan mempunyai asas hukum sebagai landasan dan latar belakang dari suatu peraturan perundang- undangan.
Pada konteks penulisan hukum ini, penulis mengkaitkan asas Lex Posteriori Derogat Legi Priori ini dengan Putusan Pengadilan Negeri
21
Bojonegoro Nomor 125/pid.sus/2019/PN Bjn. Dalam putusan tersebut, Jaksa Penuntut Umum dan Hakim menggunakan Pasal 45 Ayat (3) tentang Ketentuan Pidana Pasal 29 UU ITE sebagai ketentuan yang digunakan untuk menjerat Terdakwa. Seperti yang telah dijabarkan dalam pembahasan sebelumnya, Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 sebagai undang-undang yang terdahulu dan terjadi perubahan yang menghasilkan undang-undang baru yaitu Undang- Undang No. 19 Tahun 2016 sehingga seharusnya Jaksa Penuntut Umum dan Hakim menggunakan Pasal 45B Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 sebagai ketentuan pidana untuk menjerat Terdakwa dalam pelanggaran Pasal 29.
c) Analisis Perbuatan Terdakwa yang seharusnya dapat didakwakan pada perbuatan foto rekayasa bermuatan pornografi pada applikasi chatting Perbuatan foto rekayasa merupakan tindak pidana apabila hasil dari foto rekayasa tersebut digunakan untuk kepentingan-kepentingan yang dapat merugikan atau menyebabkan adanya korban. Rekayasa foto yang digunakan untuk kegiatan yang bersifat tindak pidana dapat menimbulkan kerugian hak cipta. Bahwasannya dalam hal ini penulis kurang sependapat dengan penjatuhan hukuman oleh Hakim terhadap Terdakwa Eko Purwanto, karena menurut penulis pertimbangan hukum oleh hakim tidak memperhatikan segala perbuatan Terdakwa yang sangat merugikan bagi diri Korban. Berikut Penulis akan menganalisis model Dakwaan yang seharusnya dapat didakwakan:
Primair
Bahwa terdakwa EKO PURWANTO AlS MBLU BiN KASMIN pada hari Selasa tanggal 29 Januari 2019 sekira pukul 11.30 Wib, 12.56 Wib, 20.22 Wib, Jum’at tanggal 01 Februari 2019 sekira pukul 13.00 Wib, hari Sabtu tanggal 02 Februari 2019 sekira pukul 14.40 Wib dan hari Selasa tanggal 12 Februari 2019 sekira pukul 13.00 Wib atau setidak – tidaknya pada suatu waktu dalam Tahun 2019 bertempat di warung Desa Kedewan Kecamatan Kedewan Kabupaten Bojonegoro dan di Desa Beji Kecamatan Kedewan Kabupaten Bojonegoro atau setidak – tidaknya pada suatu tempat yang masih termasuk
22
dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Bojonegoro dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan manipulasi, penciptaan, perubahan, penghilangan, pengrusakan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dengan tujuan agar Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik tersebut dianggap seolah-olah data yang otentik, dengan unsur- unsur sebagai berikut:
(1) Unsur Setiap Orang
Bahwa yang dimaksudkan dengan unsur “Setiap Orang” adalah orang perseorangan atau korporasi, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum. Bahwa dalam hal ini Eko Purwanto Bin Kasmin dengan segala identitasnya sebagaimana terungkap di persidangan adalah orang. Selain itu, orang merupakan subjek hukum yang dimana Terdakwa adalah orang yang benar telah didakwa dalam perkara ini, dan kepadanya telah mampu bertanggung jawab atas tindakannya dari hasil pemeriksaan di Persidangan.
Bahwa benar Terdakwa bernama Eko Purwanto Bin Kasmin, sesuai dengan surat dakwaan Penuntut Umum, sehingga tidak terjadi Eror in Persona. Bahwa oleh karena itu, unsur “Setiap Orang” telah terpenuhi menurut hukum.
(2) Unsur Dengan Sengaja dan Tanpa Hak atau Melawan Hukum melakukan manipulasi, penciptaan, perubahan, penghilangan, pengrusakan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dengan tujuan agar Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik tersebut dianggap seolah-olah data yang otentik;
Yang dimaksud “Dengan Sengaja” dalam Memorie van Toelichting (MvT) telah dimuat antara lain bahwa kesengajaan adalah dengan sadar berkehendak untuk melakukan suatu kejahatan tertentu. Mengenai MvT tersebut, Prof. Satochid Kartanegara mengutarakan bahwa yang dimaksud dengan opzet willens en wetten (dikehendaki dan diketahui) adalah seseorang yang melakukan suatu perbuatan dengan sengaja harus menghendaki (willen) perbuatan itu serta harus menginsafi atau mengerti (wetten) akan akibat dari
23
perbuatan itu. Perbuatan merupakan pelaksanaan dari kehendak, dan kehendak dapat ditujukan terhadap perbuatan yang dilarang dan akibat yang dilarang.
Secara umum para pakar hukum pidana telah menerima adanya 3 (tiga) bentuk kesengajaan (opzet), yakni: 1. Kesengajaan sebagai maksud (opzet als oogmerk), 2. Kesengajaan dengan keinsyafan pasti (opzet als zekerheidsbewustzijn), dan 3. Kesengajaan dengan keinsyafan kemungkinan (dolus eventualis). (Dr. Leden Marpaung, SH., 2006: 13-15).
Bahwa unsur Dengan Sengaja, adalah adanya bukti suatu kehendak dari pelaku untuk mewujudkan unsur di dalam suatu delik, menurut Undang- Undang Informasi dan Transaksi Elektronik adalah pelaku aktif atau yang terbukti telah melakukan tindakan secara teknis sehingga dimaknai sebagai suatu perbuatan hukum, tanpa mempertimbangan motif dan atau alasannya sebagaimana yang telah dirumuskan oleh Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik dimana pelaku mengetahui atau menyadari akibat dari perbuatannya tersebut. Konstruksi hukum Undang-Undang Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik ini adalah bersifat lex specialis (khusus), dimana unsur kesengajaan itu hanya cukup dibuktikan dengan adanya fakta perbuatan berupa tindakan teknis “melakukan sesuatu” yang melanggar atau dilarang Undang-Undang, dengan menggunakan perangkat teknologi (system elektronik) baik secara langsung maupun tidak langsung atau melalui perantaraan tanpa keharusan diselidiki ataupun dipertimbangkan apa motif atau niat (mens rea) seperti misalnya iseng-iseng atau hanya sekedar meneruskan informasi maupun ketidaksengajaan yang melatarbelakanginya, sebagaimana dipertimbangkan di dalam delik pidana biasa yang diatur oleh KUHP.
Yang dimaksud dengan "tanpa hak" adalah bahwa pelaku tindak pidana dalam melakukan perbuatannya tidak mempunyai ijin yang sah untuk melakukan perbuatan tersebut, termasuk apabila perbuatan tersebut dilakukan melampaui hak atau kewenangan yang diberikan oleh Undang-Undang atau ijin dan alas hukum lain yang sah, termasuk apabila perbuatan tersebut melanggar
24
hak orang lain atau melawan hukum. Unsur tanpa hak dapat dibuktikan dari fakta yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan pelaku bukan pejabat atau aparat yang berwenang. Sedangkan untuk unsur melawan hukum dapat dibuktikan dari adanya suatu peraturan perundang-undangan yang dilanggar atau terjadinya suatu kerugian materiil akibat dari perbuatan pelaku yang bertentangan dengan undang-undang.
Dalam perkara a quo rangkaian perbuatan Terdakwa tersebut dilakukan dengan sengaja. Di sisi lain, kesengajaan Terdakwa tersebut dapat diketahui dari sikap bathin Terdakwa yang tercermin dan terwujud keluar dari serangkaian perbuatan Terdakwa sejak awal hingga akhir selesainya niat yang hendak dicapainya, yaitu terurai sebagai berikut: Terdakwa memiliki akun facebook bernama Mazblu yang digunakan untuk mencatat nomor kontak/nomor WhatsApp atas nama saksi Eny, Tata, Putri, Mariyatul, Jovi, Rina. Kemudian dengan nomor tersebut terdakwa menghubungi masing- masing saksi dan berusaha membuka percakapan, namun karena tidak ditanggapi maka terdakwa membuat foto dalam fose wanita bugil, yang memiliki muatan yang pornografi dengan cara terdakwa mengambil foto para saksi dari facebook dan kemudian oleh terdakwa foto tersebut di edit dipindahkan ke aplikasi friend blender sehingga secara otomatis wajah dari masing-masing saksi menyatu dengan bagian tubuh yang bergambar fose wanita bugil sehingga foto tersebut seolah-olah merupakan foto asli milik para saksi yang memiliki muatan melanggar kesusilaan.
Subsidair
Bahwa terdakwa EKO PURWANTO AlS MBLU BiN KASMIN pada hari Selasa tanggal 29 Januari 2019 sekira pukul 11.30 Wib, 12.56 Wib, 20.22 Wib, Jum’at tanggal 01 Februari 2019 sekira pukul 13.00 Wib, hari Sabtu tanggal 02 Februari 2019 sekira pukul 14.40 Wib dan hari Selasa tanggal 12 Februari 2019 sekira pukul 13.00 Wib atau setidak – tidaknya pada suatu waktu dalam Tahun
25
2019 bertempat di warung Desa Kedewan Kecamatan Kedewan Kabupaten Bojonegoro dan di Desa Beji Kecamatan Kedewan Kabupaten Bojonegoro atau setidak – tidaknya pada suatu tempat yang masih termasuk dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Bojonegoro Memproduksi, Membuat, Memperbanyak, Menggandakan, Menyebarluaskan, Menyiarkan, Mengimpor, Mengekspor, Menawarkan, Memperjualbelikan, Menyewakan, atau Menyediakan Pornografi. Dengan unsur-unsur sebagai berikut:
(1) Setiap orang;
Setiap orang yang di maksud dalam pasal ini berarti “setiap orang”
sehingga yang dapat digunakan dalam pasal ini adalah seseorang, individu, bukan kelompok orang, organisasi, badan hukum atau korperasi. Dalam perkara a quo Terdakwa merupakan orang perorangan yang secara tegas membenarkan identitas sebagaimana tersebut dalam surat dakwaan, bahwa yang dimaksud dengan orang yang diduga melakukan tindak pidana dalam perkara ini adalah Terdakwa yang bernama Eko Purwanto Als Mblu Bin Kasmin.
(2) Memproduksi, Membuat, Memperbanyak, Menggandakan, Menyebarluaskan, Menyiarkan, Mengimpor, Mengekspor, Menawarkan, Memperjualbelikan, Menyewakan, atau Menyediakan Pornografi.
Unsur ini bersifat alternatif apabila salah satu elemen terpenuhi maka sudah dianggap memenuhi unsur tersebut diatas. Dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat. Kemudian didalam Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi berbunyi : Setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau
26
menyediakan pornografi yang secara eksplisit memuat : a) persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang ; b) kekerasan seksual ; c) masturbasi atau onani ; d) ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan ; e) alat kelamin atau ; f) pornografi anak.
Dalam perkara a quo Terdakwa mengancam dan berusaha menakut – nakuti akan membobol Facebook milik dari saksi – saksi korban dan untuk melaksanakan niat nya maka terdakwa membuka aplikasi Friendblender dan kemudian muncullah gambar perempuan bugil dengan beberapa pose dan tanpa sepengetahuan masing – masing saksi, Terdakwa telah mendapatkan foto yang diambil dari facebook pada kolom galery foto, dan kemudian oleh terdakwa kemudian membuat foto – foto tersebut dengan cara di edit kemudian memindahkan ke aplikasi Friend Blender sehingga secara otomatis wajah dari masing – masing saksi menyatu dengan bagian tubuh yang bergambar fose wanita bugil sehingga foto tersebut memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.
Setelah terdakwa membuat membuat foto dalam fose wanita bugil, yang memiliki muatan yang pornografi kemudian menyebarluaskan kepada saksi Eny Nur Alisa Binti Muntari disertai ancaman akan menyebarkan foto bugil di media sosial apabila saksi berusaha memblokir nomor tersebut, dan hal ini juga terjadi pada saksi Tata Nur Diana Binti Hamim, Saksi Putri Nur Sela Binti Nyaman, Saksi Mariyatul Qibthiyah Binti Syi’aros syawal, Saksi Jovi Lidyawati Binti Kuswo, Saksi Rina Dewi Anggraeni Binti Suparwo, Saksi Nila Nurangraini Binti Kariman.
Tindak Pidana pembuatan pornografi tersebut, diancam pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 29 UU Pornografi yang berbunyi:
“Setiap orang yang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat
27
6 (enam) bulan dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp6.000.000.000,00 (enam miliar rupiah).”
Lebih Subsidair
Bahwa terdakwa EKO PURWANTO AlS MBLU BiN KASMIN pada hari Selasa tanggal 29 Januari 2019 sekira pukul 11.30 Wib, 12.56 Wib, 20.22 Wib, Jum’at tanggal 01 Februari 2019 sekira pukul 13.00 Wib, hari Sabtu tanggal 02 Februari 2019 sekira pukul 14.40 Wib dan hari Selasa tanggal 12 Februari 2019 sekira pukul 13.00 Wib atau setidak – tidaknya pada suatu waktu dalam Tahun 2019 bertempat di warung Desa Kedewan Kecamatan Kedewan Kabupaten Bojonegoro dan di Desa Beji Kecamatan Kedewan Kabupaten Bojonegoro atau setidak – tidaknya pada suatu tempat yang masih termasuk dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Bojonegoro dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memaksa seseorang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk memberikan barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang itu atau orang lain, atau supaya membuat hutang maupun menghapuskan piutang. Dengan unsur-unsur sebagai berikut:
(1) Barang Siapa
Bahwa yang dimaksud “barang siapa” adalah subyek hukum baik orang maupun badan hukum yang mampu untuk bertanggung jawab di depan hukum atas segala perbuatan yang telah dilakukannya. Dalam perkara a quo Terdakwa merupakan orang perorangan yang secara tegas membenarkan identitas sebagaimana tersebut dalam surat dakwaan, demikian pula dengan keterangan saksi-saksi, mengenal dan membenarkan, bahwa yang dimaksud dengan orang yang diduga melakukan tindak pidana dalam perkara ini adalah Terdakwa yang bernama Eko Purwanto Als Mblu Bin Kasmin.
(2) Dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum
28
Bahwa arti “dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain” adalah perbuatan pelaku dilakukan benar-benar dengan maksud untuk menguntungkan, memberi kemanfaatan bagi dirinya ataupun orang lain, yang dilakukan dengan cara melawan hak, karena tidak ada alas hak/dasar hukum yang dapat membenarkan perbuatannya.
Dalam Perkara a quo Terdakwa dengan maksud menguntungkan diri nya sendiri agar dapat video call dengan para korban sehingga ia melakukan perbuatan pengancaman dengan foto rekayasa bermuatan pornografi secara melawan hukum akan menyebarkan foto hasil editannya apabila para korban tidak mau menuruti perintah Terdakwa.
(3) Dengan ancaman pencemaran baik secara lisan maupun tulisan, atau dengan ancaman akan membuka rahasia, memaksa seseorang supaya memberikan barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang itu atau orang lain, supaya membuat hutang atau menghapuskan piutang;
Lamintang, menyebut istilah "pencemaran" dengan istilah "ancaman membuat malu". Secara definitif, pengertian "ancaman pencemaran" telah dirumuskan dalam Pasa1310 ayat (1) KUHP. Menurut Pasal 310 ayat (1) KUHP, yang dimaksud pencemaran (smaad) adalah menyerang kehormatan atau nama baik seseorang, dengan menuduh sesuatu hal, yang maksudnya nyata agar hal itu diketahui umum. Pasal 310 ayat (1) KUHP di atas memberikan pengertian terhadap apa yang dimaksud dengan "pencemaran lisan". Lantas apa yang dimaksud dengan "pencemaran tertulis" ?" Apabila perbuatan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 310 ayat (1) KUHP tersebut dilakukan dengan tulisan, misalnya dengan menyebarkan atau menempelkan tulisan atau lukisan, maka hal itu disebut "pencemaran secara tertulis". Unsur lain dari Pasa1369 KUHP yang belum dijelaskan adalah unsur "ancaman membuka rahasia". Apa yang dimaksud dengan "rahasia?".
Tentang pengertian "rahasia" ini berbeda dengan pengertian rahasia sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 322 KUHP. "Membuka rahasia"
29
yang dimaksud dalam Pasal 322 KUHP ini berkaitan dengan pembukaan rahasia oleh orang yang karena jabatannya atau pekerjaannya wajib menyimpan rahasia itu. Sebagai contoh, misalnya, seorang notaris wajib menyimpan rahasia terhadap, misalnya, isi dari surat hibah wasiat yang bersifat rahasia (geheim testament), sehingga apabila notaris tersebut membuka rahasia ini, notaris tersebut dikenakan Pasal 322 KUHP. "Membuka rahasia" dalam pengertian Pasal 369 KUHP m engandung arti, memberitahukan kepada orang lain atau pihak ketiga hal-hal mengenai orang yang diancam atau orang ketiga yang terkait dengan orang yang diancam.
Pada dasarnya baik pencemaran nama baik maupun membuka rahasia mempunyai tujuan yang sama, yaitu memberitahu kepada orang lain atau pihak ketiga atau kepada khalayak ramai tentang s esuatu hal yang menyangkut orang yang diancam. "Rahasia" pada hakikatnya mengenai suatu hal yang benar- benar terjadi, tetapi karena sesuatu hal (misalnya takut diketahui oleh istrinya, anaknya, atasannya, dan sebagainya) disembunyikan. Sedang pencemaran nama baik mengenai suatu hal yang benar atau tidak benar yang dapat mencemarkan nama dan kehormatan orang yang diancam.
Analisis dari unsur-unsur di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Foto Rekayasa bermuatan Pornografi merupakan salah satu bentuk dari Informasi Elektronik, sebagaimana pengertian dari Informasi Elektronik yang terdapat dalam Pasal 1 angka 1 Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yaitu
“Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk, tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange (EDJ), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol, atau perforasi yang telah
30
diolah yang memiliki arti. atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.”
Sehingga membuat Foto Rekayasa bermuatan Pornografi sama perihalnya dengan melakukan penciptaan informasi elektronik. Selanjutnya dijelaskan juga dalam Pasal 35, yaitu melakukan penciptaan Informasi Elektronik, “dengan tujuan agar Informasi Elektronik tersebut dianggap seolah- olah data yang otentik”. Data otentik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata Otentik sama halnya Autentik, yang berarti asli; dapat dipercaya;
tulen; atau sah.
Maka makna dari Pasal 35 atas kalimat “dengan tujuan agar Informasi Elektronik tersebut dianggap seolah-olah data yang otentik” artinya adalah
“dengan tujuan agar Informasi Elektronik tersebut dianggap seolah-olah data asli”. Berdasarkan apa yang telah Penulis jelaskan, maka sudah sangat jelas bahwa membuat Foto Rekayasa bermuatan Pornografi adalah tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 35 jo Pasal 51 Ayat (1) UU ITE. Berikut penulis uraikan unsur-unsur dari rumusan Pasal tersebut, yaitu:
Terdakwa dalam hal ini terbukti melakukan Tindak Pidana Pemalsuan, yaitu Menurut Adami Chazawi Tindak Pidana Pemalsuan adalah Tindak Pidana yang menyerang kepentingan hukum terhadap kepercayaan masyarakat mengenai kebenaran isi tulisan dan berita yang disampaikan. Kejahatan mengenai pemalsuan atau disingkat kejahatan pemalsuan adalah berupa kejahatan yang di dalamnya mengandung unsur keadaan ketidakbenaran atau palsu atau sesuatu (obyek), yang ssesuatunya itu tampak dari luar seolah-olah benar adanya padahal sesungguhnya bertentangan dengan yang sebenarnya.
(Adami Chazawi, 2001: 2-3).
Berdasarkan hasil wawancara bersama Wakil Ketua Pengadilan Negeri Bantul Bapak Dr. Muhammad Amrullah S.H., M.H menyatakan bahwa perbuatan Terdakwa Eko Purwanto Bin Kasmin telah melanggar beberapa pelanggaran yaitu menurutnya terjadi pelanggaran pembuatan foto rekayasa
31
yang melanggar Undang-Undang ITE, pelanggaran undang-undang pornografi, pemerasan, kesusilaan, eksploitasi anak dalam pelanggaran undang-undang perlindungan anak. Pada PN Bantul pernah terjadi pelanggaran UU ITE yang dilakukan oleh Terdakwa FAJAR WAHYU WIBOWO Als. BONENX Bin WAKIDIN pada putusan nomor 236/Pid.Sus/2019/PN Btl. Didakwakan dengan Pasal 27 Ayat (1).
Pada setiap perbuatan melanggar hukum, dapat menimbulkan kerugian immaterial. Perbuatan Terdakwa tersebut merupakan salah satu perbuatan yang menyebabkan kerugian Immateriil. Kerugian yang bersifat immateriil tidak terletak dalam harta kekayaan seseorang. Pada kerugian tersebut mungkin berupa timbulnya rasa sakit hati, berkurangnya kesenangan hidup, kehilangan akibat kesenangan kehidupan jasmaniah. Kerugian yang diderita seseorang mengenai tubuhnya atau jiwa seseorang dapat berupa luka-luka atau cacatnya seseorang adalah merupakan kerugian immaterial. Dengan hal demikian kerugian yang diderita karena perasaan direndahkan kehormatan seseorang, dikarenakan pihak lain menghina nama baik secara lisan ataupun secara tulisan yang mengakibatkan harga diri orang dihina itu merosot. Perbuatan pengancaman yang dilakukan Terdakwa menggunakan foto bugil tersebut bukan untuk mendapat keuntungan, Terdakwa hanya iseng ingin membuka percakapan kepada para saksi sehingga perbuatan yang dilakukan terdakwa hanya menyebabkan kerugian immaterial bagi saksi-saksi yaitu saksi-saksi menjadi takut dan tertekan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Dr. Muhammad Amrullah, S.H., M.H yang menyatakan bahwa Pada kasus Eko Purwanto Bin Kasmin tersebut sangat mungkin dilaksanakannya Mediasi Penal. Beliau menyatakan “Setiap hakim pasti memediasi tetapi dalam pengertian agar tidak terjadi dendam. Jadi tidak ada dendam antara orang tua anak kepada terdakwa.
Atau terdakwa kepada anak dan keluarga korban yg melaporkan dia. Jadi pelaku mempertanggungjawabkan perbuatannya dan tidak dendam kepada si anak dan terutama keluarga anak yang melaporkan pelaku, si anak juga tidak dendam,
32
sehingga mediasinya sebatas agar tidak ada dendam. Beda dengan kalau pelaku anak kemudian ada diversi, dan tidak harus ada mediasi penal dalam pengertian formal. Mediasi penal dalam pengertian restorative justice kalo hakim dalam prakteknya jika pelaku dewasa korbannya anak maka hanya mendamaikan, mendamaikan agar terdakwa mempertanggungjawabkan perbuatannya tidak dendam kepada si anak dan keluarganya jadi setelah dia menjalani pidana tidak ada lagi tindak pidana berikutnya, termasuk si anak tidak dendam kepada terdakwa, selesai beban mentalnya termasuk orang tuanya. Mediasi penal nya bersifat non formal.”
Terkait restitusi lebih lanjut Bapak Dr. Muhammad Amrullah, S.H., M.H menyatakan “setiap anak sebagai korban ada restitusinya tapi harus diajukan dalam tuntutan jaksa. Jika dalam putusan jaksa tidak mengajukan restitusi jadi biasanya hakim juga tidak memberikan restitusi kepada anak. Apabila restitusi diajukan dalam tuntutan seharusnya sebelum mengajukan itu mengajukan permohonan kepada perlindungan saksi dan korban. Dalam hal ini jaksa yang bersurat ke LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban).
Permasalahan kedua yang timbul dari pembuatan foto rekayasa adalah mengenai hak cipta. “Moral Rights protection is getting ignored in the era of global economy, specially since the beginning of the emergence of the Information Technology revolution is marked by the use of the Internet as a means of communication. In the era when copyrights exploitation is becoming more intensive, complex, and multifacet, the appreciation of moral rights is being ignored. Society can access information easily in the form of information products and other digital products which can be directly received” (Wiradirja, Imas Rosidawati, 2016). Artinya Perlindungan Hak Moral semakin terabaikan dalam era ekonomi global, terutama sejak munculnya revolusi Teknologi Informasi (TI) yang ditandai dengan maraknya penggunaan Internet sebagai sarana komunikasi.
Dalam era digital eksploitasi karya cipta semakin intensif, kompleks, dan
33
multifacet, sehingga cenderung mengabaikan penghormatan terhadap hak moral pencipta.
Dalam hal pembuatan foto rekayasa bermuatan pornografi oleh Terdakwa yang digunakan adalah ciptaan berupa potret milik orang lain. Potret merupakan sebuah lukisan, foto, patung, atau representasi seni dari seseorang, yang mana wajah atau ekspresinya adalah hal utama. Potret pada umumnya bukanlah foto spontan (snapshot), namun komposisi seseorang dalam kondisi diam dan dipersiapkan. Potret terdiri dari environmental portrait dan close-up/headshot.
Environmental portrait yaitu potret yang merekam lingkungan hidup subjek, sedangkan close-up/ headshot adalah potret yang hanya wajah saja. Selain itu terkait subjek yang ada dalam potret juga terdiri dari potret yang lebih dari satu orang dan potret diri. Dalam kasus pembuatan foto rekayasa bermuatan pornografi yang digunakan adalah potret seorang dengan mengedit dan menambahkan foto orang lain memiliki muatan pornografi. Padahal Pasal 5 ayat (1) huruf e menyebutkan bahwa: “Mempertahankan haknya dalam hal terjadi distorsi Ciptaan, modifikasi Ciptaan, atau hal yang bersifat merugikan kehormatan diri atau reputasinya”.
Mencermati hasil foto rekayasa, jelas terlihat bahwa dengan mengambil kemudian mengedit dan menambahkan foto yang tidak senonoh pada gambar asli tersebut dapat menciderai hak-hak dari objek yang terdapat dalam gambar tersebut atau pemilik foto aslinya. Hukum pidana adalah lex certa, sehingga hukum pidana menghendaki segala sesuatunya jelas dan tidak kabur.
Maka perlu adanya pembuktian dengan terang-benderang foto mana yang asli dan mana yang rekayasa.
Foto rekayasa merupakan sebuah foto atau gambar dalam bentuk digital yang bisa diolah oleh kembali menggunakan bantuan perangkat lunak (software) dengan tujuan supaya bisa menghasilkan foto atau gambar tersebut tampak lebih menarik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa foto rekayasa merupakan bentuk dari penggunaan kemajuan teknologi yang tidak tepat sasaran
34
dan telah melebihi batas kaidah aturan yang berlaku serta pemanfaatannya disalahfungsikan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Selain merugikan pihak yang diserang kehormatannya di dalam foto rekayasa tersebut, tindakan ini turut berdampak pula ke masyarakat karena dapat memberikan contoh yang tidak baik dalam cerminan penggunaan media social.
Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta Pasal 1 ayat 10 Potret adalah karya fotografi dengan objek manusia, hal ini menandakan bahwa definisi potret menurut Undang-Undang Hak Cipta merupakan karya fotografi dengan subjek didalamnya berupa wajah manusia.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta menyatakan bahwa karya fotografi merupakan semua foto yang dihasilkan dengan menggunakan kamera. Apabila dalam penjelasan sebelumnya dinyatakan bahwa potret dapat berupa lukisan, foto atau patung, maka yang dimaksud potret dalam Undang-Undang Hak Cipta adalah potret dalam bentuk foto hasil karya fotografi.
Saat ini, di internet banyak media social yang digunakan masyarakat untuk menyimpan foto-foto atau berupa tulisan. Dengan adanya penggunaan media social tersebut, banyak oknum-oknum yang iseng mengambil potret orang lain di internet kemudian ia edit atau menambah beberapa tulisan pada potret tersebut. Hal tersebut tentu saja merupakan salah satu bentuk pelanggaran Hak Cipta karena dengan sengaja tanpa persetujuan pencipta, mengedit suatu potret, tanpa mencantumkan nama pencipta aslinya bahkan mengganti nama pencipta tersebut.
Bahkan pelanggaran seperti ini seringkali dilakukan orang tanpa sadar.
Banyak orang sembarangan mengedit dan menambahkan kata-kata pada potret orang tanpa di sertai sumber sehingga melanggar Hak Moral pencipta. Orang yang melakukan pelanggaran tersebut tidak menyadari perbuatannya atau menganggap yang dilakukannya adalah hal sepele yang tidak ada konsekuensinya. Sehingga foto rekayasa memberikan ancaman bagi pembuatnya. Mengingat sarana online berupa internet merupakan media baru yang sifatnya viral, partisipatoris, serta
35
merupakan produk budaya masyarakat informasi, maka sudah jelas dan pasti akan selalu ada resistensi terhadap setiap kebijakan terhadapnya. Pasal 28 Undang Undang Hak Cipta jelas mengatakan, setiap karya cipta mengandung hak moral dan hak ekonomi bagi penciptanya. Hak moral itu melekat, tidak bisa dihapuskan, seseorang atau badan hukum tidak bisa begitu saja menggunakan karya orang lain tanpa seizin penciptanya. Apalagi kemudian sengaja mengubah atau menghilangkan nama penciptanyan diganti dengan nama orang lain. Karena pelanggaran hak cipta di media internet atau bisa disebut salah satu cybercrime maka Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang Undang nomor 11 tahun 2008 atau UU ITE juga turut melindungi segala pelanggaran yang terjadi di media daring.
Berikut ini adalah pasal pasal dari UU ITE yang mengatur terkait Hak Kekayaan Intelektual, diantaranya: Pasal 25 yang berbunyi “Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang disusun menjadi karya intelektual, situs internet, dan karya intelektual yang ada di dalamnya dilindungi sebagai Hak Kekayaan Intelektual berdasarkan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.”
Pasal 26 Ayat (1) berbunyi “Kecuali ditentukan lain oleh Peraturan Perundangundangan, penggunaan setiap informasi melalui media elektronik yang menyangkut data pribadi seseorang harus dilakukan atas persetujuan Orang yang bersangkutan.” Ayat (2) berbunyi “Setiap Orang yang dilanggar haknya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengajukan gugatan atas kerugian yang ditimbulkan berdasarkan Undang- Undang ini.” Adapun penjelasan atas pasal tersebut adalah Pasal 25 menjelaskan “Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang disusun dan didaftarkan sebagai karya intelektual, hak cipta, paten, merek, rahasia dagang, desain industri, dan sejenisnya wajib dilindungi oleh Undang-Undang ini dengan memperhatikan ketentuan Peraturan Perundangundangan.” Mengacu pada ketentuan Pasal 26 ayat (1) UU ITE, “setiap pemindahtanganan data pribadi seseorang harus terlebih dahulu mendapatkan ijin
36
dari pemilik data (larangan pemindahtanganan data pribadi secara sewenang‐
wenang)”. Pasal 26 Ayat (1) menjelaskan “Dalam pemanfaatan Teknologi Informasi, perlindungan data pribadi merupakan salah satu bagian dari hak pribadi (privacy rights). Hak pribadi mengandung pengertian sebagai berikut: a. Hak pribadi merupakan hak untuk menikmati kehidupan pribadi dan bebas dari segala macam gangguan. b. Hak pribadi merupakan hak untuk dapat berkomunikasi dengan Orang lain tanpa tindakan mematamatai. c. Hak pribadi merupakan hak untuk mengawasi akses informasi tentang kehidupan pribadi dan data seseorang.”
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2014 tentang Hak cipta dan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang Undang nomor 11 tahun 2008 diharapkan hadir untuk melindungi pelanggaran-pelanggaran dan hak-hak para pencipta yang dimana sesuai dengan teori perlindungan hukum menurut Fitzgerald, sebagaimana dikutip Satjipto Raharjo perlindungan hukum yaitu memberikan pengayoman terhadap Hak Asasi Manusia yang dirugikan orang lain dan perlindungan itu diberikan kepada masyarakat agar dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan hukum. UUHC harus menjadi koreksi terhadap kelemahan sistem hukum pelindungan terhadap pencipta, pemegang hak cipta, dan pemilik hak terkait. UUHC harus menjadi hukum yang pro-keadilan, yaitu hukum yang memberikan keadilan.
Dalam hal ini menganalisis tentang bagaimana bentuk pelanggaran hak cipta atas potret milik seseorang yang dijadikan modus untuk pengancaman berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Pasal 1 angka 1 UUHC berbunyi “Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.” Prinsip deklaratif merupakan prinsip hak cipta yang timbul dengan sendirinya (otomatis) dan sangat berkaitan erat dengan publikasi atau pengumuman suatu karya cipta. Artinya, hak cipta diberikan