BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Sebelum penulis masuk ke dalam hasil penelitian dan pembahasan, terlebih dahulu penulis akan menjabarkan mengenai pidana tanpa korban di Indonesia.Istilah tindak pidana tanpa korban dalam hukum pidana positif di Indonesia hanya dapat kita temui di dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Walaupun dalam UU ini tidak dijelaskan secara gamblang mengenai arti maupun pengertian pidana tanpa korban. Oleh karena itu, perlu diketahui definisi tersebut melalui sarana alternative seperti pendapat para ahli maupun berdasarkan putusan pengadilan sebagai dasar pembatasan lingkup kajian dari penelitian ini.
Berdasarkan pendapat Made Darma Weda dalam keterangannya sebagai ahli pada perkara Nomor: 56/PID.SUS/2014/PN.Pdl di Pengadilan Negeri Pandeglang, kejahatan tanpa korban (crime without victim) tidak diartikan sebagai kejahatan yang tidak menimbulkan korban melainkan mempunyai makna bahwa korban dari kejahatan ini adalah dirinya sendiri. Dengan kata lain si pelaku sekaligus sebagai korban kejahatan. Pengertian kejahatan tanpa korban (crime without victim) berarti kejahatan ini tidak menimbulkan korban sama sekali, akan tetapi si pelaku sebagai korban. Sementara dalam kategori kejahatan, suatu perbuatan jahat haruslah menimbulkan korban dan korban itu adalah orang lain (an act must take place that involves harm inflicted on someone by the actor). Artinya apabila hanya diri sendiri yang menjadi korban, maka hal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai kejahatan.
Menurut Mardjono Reksodiputro, pengertian “kejahatan tanpa korban”
(crime without victims) harus diartikan adanya “masyarakat” (atau “moral masyarakat”) sebagai korban (misalnya dalam hal pornografi atau penggunaan narkoba) (Reksodiputro, 2009:52). Beberapa perilaku yang dikategorikan sebagai crime without victim (kejahatan tanpa korban) adalah seperti pemabuk, gelandangan, perjudian, prostitusi, dan penggunaan obat bius.
46 commit to user
Menurut Andi Hamzah, anggota Tim Perumus RKUHP, jika Jepang dan hampir seluruh Eropa telah mencabut delik permukahan dari KUHP mereka karena dipandang sebagai kejahatan tanpa korban (victimless crime), maka di dalam RKUHP Indonesia ini justru diperluas. Selain memperjelas makna permukahan dan perzinahan, ancaman pidananya dinaikkan dari maksimum 9 bulan menjadi 5 tahun penjara. Dalam KUHP lama, perzinahan hanya bisa dikenakan kepada mereka yang salah satunya sudah menikah sehingga KUHP tidak bisa menjerat perzinahan yang dilakukan oleh pasangan muda-mudi atas dasar suka sama suka. Tetapi dengan mengadopsi pandangan Islam mengenai zinah ke dalam pasal-pasal baru dalam RKUHP, pasangan muda-mudi tadi dapat dipidana. Masalah kesusilaan lain yang dinilai terpengaruh Islam adalah pasal-pasal tentang larangan kumpul kebo, homoseksual, perkawinan sejenis dan pornografi, namun penerapan bentuk hukuman untuk delik-delik tersebut, dianggap tidak mengacu kepada model hukum pidana Islam. (Erasmus Cahyadi, 2007: 57-58)
Berikut salah satu pengaturan Tindak Pidana tanpa korban dalam hukum pidana positif di Indoensia, yaitu:
Pengaturan Tindak Pidana Penyalahgunaan Narkotika Bagi Diri Sendiri Penyelesaian perkara penyalahgunaan narkotika mengacu pada Pasal 111 sampai dengan Pasal 148 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Di antara ketentuan tersebut, terdapat dua pasal dengan tafsiran yang harus dikaji secara komprehensif dan kritis, yaitu ketentuan pada pasal 112 dan pasal 127. Hal ini sangat penting karena kriminalisasi terhadap penyalahgunaan narkotika yang diatur oleh dua pasal tersebut mengakibatkan konsekuensi hukum yang berbeda terhadap para pelanggarnya meskipun perbuatan yang dilakukan merupakan suatu perbuatan yang sama.
Menurut Mahkamah Konstitusi, kriteria penjatuhan sanksi pidana wajib memperhatikan ketentuan tentang rehabilitasi yang diatur pada Pasal 127 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Oleh
commit to user
karena itu, terdapat beraneka jenis pola pemidanaan terhadap tindak pidana penyalahgunaaan narkotika, yaitu
1. Terdapat 2 (dua) pola pidana minimum terhadap pelaku tindak pidana ketergantungan obat menurut Pasal 112 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Bagi pelaku yang memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I bukan tanaman beratnya tidak melebihi 5 (lima) gram, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun. Bagi pelaku yang memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I bukan tanaman beratnya melebihi 5 (lima) gram, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun.
2. Tidak terdapat pola pidana minimum terhadap pelaku tindak pidana ketergantungan obat menurut Pasal 127 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
3. Ditinjau dari kualifikasi ancaman pidana, ancaman pidana bagi pelaku tindak pidana ketergantungan obat berdasarkan Pasal 127 Undang- Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika adalah bersifat tunggal, yaitu terhadap pelaku hanya dikenakan pidana penjara.
4. Ditinjau dari kualifikasi ancaman pidana, ancaman pidana bagi pelaku tindak pidana ketergantungan obat berdasarkan Pasal 127 Undang- Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika adalah bersifat kumulatif, yaitu terhadap pelaku selain diancam dengan pidana penjara, juga diancam dengan pidana denda. 5.
5. Pengaturan tindak pidana ketergantungan obat hanya diatur dalam Hukum Pidana Khusus (di luar KUHP), tanpa diatur dalam Hukum Pidana Umum (KUHP).
Berdasarkan penjelasan mengenai tindak pidana tanpa korban terutama dalam Tindak pidana Penyalahgunaan Narkotika Bagi Diri Sendiri, penulis mengambil salah satu putusan untuk penuli teliti yakni Putusan tingkat pertama yang di keluarkan oleh Pengadilan Negeri Maros dengan Nomor :
commit to user
190/PID.Sus/2018/PN.Mrs dan Putusan tingkat Bandingnya yang di keluarkan oleh Pengadilan Tinggi Makassar Nomor : 653/PID.Sus/2018/PT.Mks mengenai penerapannya terhadap hukum positif di Indonesia.
Adapun kronologi kasus kedua Putusan Pengadilan Negeri Maros Nomor 190/PID.Sus/2018/PN.Mrs dan Putusan Tingkat Bandingnya Nomor : 653/PID.Sus/2018/PT.Mks adalah sebagai berikut :
1. Putusan Pengadilan Negeri Maros Nomor: 190/PID.Sus/2018/PN.Mrs dan Putusan Banding Pengadilan Tinggi Makassar Nomor : 653/PID.Sus/2018/PT.Mks
a. Identitas Terdakwa
Nama Lengkap : SULHAM ALIAS CUCU BIN ABD GAFFAR;
Tempat Lahir : Maros;
Umur/Tanggal Lahir : 30 Tahun/30 Juni 1988;
Jenis Kelamin : Laki-laki;
Kebangsaan : Indonesia;
Tempat Tinggal : Jl. Taufik Nomor 28 Kel. Aliri Tengae Kabupaten Maros;
Agama : Islam;
Pekerjaan : Wiraswasta.
b. Kasus Posisi
Pada hari Rabu tanggal 5 September 2018 sekitar pukul 15.00 WITA Terdakwa menelpon Ocal (DPO) dan memesan 1 (satu) sachet narkotika jenis shabu, selanjutnya pada pukul 16.00 wita Ocal (DPO) datang ke rumah Terdakwa Jln. Taufik, Kel. Alliri Tengae, Kec. Turikale, Kab. Maros, kemudian Ocal (DPO) menyerahkan 1 (satu) sachet narkotika jenis shabu kepada Terdakwa di teras rumah Terdakwa dan Terdakwa menyerahkan uang sebesar Rp.200.000,- (dua ratus ribu rupiah) kepada Ocal (DPO).
Selanjutnya Terdakwa menyimpan 1 (satu) sachet narkotika jenis shabu ke dalam saku celana Terdakwa, lalu Terdakwa menuju ke warung di depan SMU DDI Maros. commit to user
Setibanya Terdakwa di warung tersebut, tidak lama kemudian aparat kepolisisan dating lalu selanjutnya melakukan penggeledahan pada diri Terdakwa, dan ditemukan pada diri Terdakwa 1 (sachet) narkotika jenis shabu dimana 1 (satu) sachet narkotika jenis shabu tersebut diakui merupakan milik Terdakwa.
Berdasarkan Berita Acara Pemeriksaan Laboratoris Kriminalistik pada Pusat Laboratorium Forensik Polri Cabang Makassar No. Lab:
3479/NNF/IX/2018 Tanggal 10 September 2018 yang dibuat dan ditanda tangani Drs. SAMIR, Sst, Mk, M.A.P selaku Kepala Labfor Polri Cab.
Makassar yang Pada pokoknya menyimpulkan bahwa:
• Barang bukti dengan nomor barang bukti 8956/2018/NNF berupa 1 (satu) sachet plastic berisikan Kristal bening dengan berat netto 0,0470 gram benar mengandung metamfetamina;
• Barang bukti dengan nomor barang bukri 8957/2018/NNF berupa 1 (satu) botol plastic bekas minum berisi urine milik Tersangka Sulham Alias Cucu Bin Abd. Gaffar benar mengandung metamfetamina.
c. Dakwaan Penuntut Umum
Perbuatan Terdakwa yang telah melakukan tindak pidana narkotika didakwa oleh Penuntut Umum dengan dakwaan subsidaritas, sebagai berikut:
Dakwaan Primair,
Pasal 114 Ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009
“Setiap orang yang tanpa haka tau melawan hukum menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau, menyerahkan Narkotika Golongan I, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan dipidana denda paling sedikit Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).”
Dakwaan Subsidair.
Pasal 112 Ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 commit to user
“setiap orang tanpa hak atau melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan, Narkotika Golongan I bukan tanaman, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp.
800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.
8.000.000.000,00 (delapan miliar rupiah).”
Dakwaan Lebih Subsidair
Pasal 127 Ayat (1) huruf a Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009
“Setiap Penyalah Guna Narkotika Golongan I bagi diri sendiri dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun.”
d. Tuntutan Penuntut Umum
1. Menyatakan Terdakwa SULHAM ALIAS CUCU BIN ABD GAFFAR terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah melakukan tindak pidana “Tanpa hk atau melawan hukum menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar atau menyerahkan Narkotika Golongan I” sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 114 Ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika seperti tersebut dalam Dakwaan Primair Penuntut Umum.
2. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa SULHAM ALIAS CUCU BIN ABD GAFFAR dengan pidana penjara selama 7 (tujuh) tahun dan 9 (Sembilan) bulan dikurangi selama Terdakwa berada dalam tahanan sementara dan denda sebesar Rp. 1.000.000.000 (satu milyar rupiah) subsidair pidana penjara selama 3 (tiga) bulan.
3. Menyatakan barang bukti berupa:
a. 1 (satu) sachet plastic bening yang di dalamnya terdapat narkotika jenis shabu dengan berat 0,0470 gram;
b. 1 (satu) buah rangkaian alat hisap yang terbuat dari botol air mineral yang mana pada penutup botol tersebut terdapat 2 (dua) buah pipet;
c. 1 (satu) buah rangkaian alat hisap yang terbuat dari botol kaca yang mana pada penutup botol tersebut terdapat 1 (satu) buah pipet; commit to user
d. 3 (tiga) buah pireks kaca;
e. 2 (dua) bungkus saset kosong;
f. 1 (Satu) buah penutup botol yang mana pada penutup botol tersebut terdapat 2 (dua) buah pipet;
g. 2 (dua) buah potongan pipet warna bening;
h. 1 (satu) buah potongan pipet warna putih;
i. 1 (satu) unit handphone merek Samsung lipat warna hitam ungu bersama dengan simcard dengan nomor panggil 082343440402;
Dirampas untuk dimusnahkan
4. Menyatakan supaya Terdakwa SULHAM ALIAS CUCU BIN ABD GAFFAR dibebani membayar biaya perkara sebesar Rp. 2.000,- (dua ribu rupiah).
II. Perbedaan Putusan Pengadilan Negeri Maros Nomor:
190/PID.Sus/2018/PN.Mrs dan Putusan Banding Pengadilan Tinggi Makassar Nomor : 653/PID.Sus/2018/PT.Mks
Table 1. Perbedaan Putusan Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi
NO INDIKATOR PEMBEDA
Putusan Pengadilan Negeri Maros Nomor:
190/PID.Sus/2018/PN.Mrs
Putusan Banding Pengadilan Tinggi Makassar Nomor:
653/PID.Sus/2018/PT.Mks 1. PASAL
YANG
DIKENAKAN
Pasal 114 Ayat (1) Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
Pasal 127 Ayat (1) Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
2. PUTUSAN 1. Menyatakan Terdakwa
SULHAM ALIAS
CUCU BIN ABD
GAFFAR telah terbukti secara sah dan
1. Menyatakan Terdakwa Sulham Alias Cucu Bin Abd Gaffar tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak commit to user
meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “tanpa hak dan
melawan hukum
membeli narkotika golongan I bukan tanaman” sebagaimana dalam dakwaan primair penuntut umum;
2. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa
SULHAM ALIAS
CUCU BIN ABD GAFFAR oleh karena itu dengan pidana penjara selama 5 (lima) tahun dan denda sebesar Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar akan diganti dengan pidana penjara selama 1 (satu) bulan;
3. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani oleh Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;
pidana sebagaimana yang didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum dalam dakwaan primair dan subsidair;
2. Membebaskan Terdakwa Sulham Alias Cucu Bin Abd Gaffar dari dakwaan primair dan subsidair tersebut;
3. Menyatakan Terdakwa Sulham Alias Cucu Bin Abd Gaffar terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Penyalah Guna Narkotika Golongan I bagi diri sendiri” sebagaimana dalam dakwaan lebih subsidari Jaksa Penuntut Umum;
4. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa tersebut oleh karena itu dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun dan 6 (enam) bulan;
5. Menetapkan lamanya Terdakwa ditangkap dan ditahan dikurangkan commit to user
4. Memerintahkan agar Terdakwa tetap ditahan;
5. Menetapkan agar barang bukti berupa:
a. 1 (satu) sachet plastic bening yang di dalamnya terdapat narkotika jenis shabu dengan berat 0,0470 gram;
b. 1 (satu) buah rangkaian alat hisap yang terbuat dari botol air mineral yang mana pada penutup botol tersebut terdapat 2 (dua) buah pipet;
c. 1 (satu) buah rangkaian alat hisap yang terbuat dari botol kaca yang mana pada penutup botol tersebut terdapat 1 (satu) buah pipet;
d. 3 (tiga) buah pireks kaca;
e. 2 (dua) bungkus saset kosong;
f. 1 (Satu) buahpenutup botol yang mana pada
seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;
6. Menetapkan Terdakwa tetap ditahan;
7. Menetapkan barang bukti berupa:
a. 1 (satu) sachet plastic bening yang di dalamnya terdapat narkotika jenis shabu dengan berat 0,0470 gram;
b. 1 (satu) buah rangkaian alat hisap yang terbuat dari botol air mineral yang mana pada penutup botol tersebut terdapat 2 (dua) buah pipet;
c. 1 (satu) buah rangkaian alat hisap yang terbuat dari botol kaca yang mana pada penutup botol tersebut terdapat 1 (satu) buah pipet;
d. 3 (tiga) buah pireks kaca;
e. 2 (dua) bungkus saset kosong;
f. 1 (Satu) buah penutup botol yang mana pada commit to user
penutup botol tersebut terdapat 2 (dua) buah pipet;
g. 2 (dua) buah potongan pipet warna bening;
h. 1 (satu) buah potongan pipet warna putih;
i. 1 (satu) unit handphone merek Samsung lipat warna hitam ungu bersama dengan simcard dengan nomor panggil
082343440402;
Dirampas untuk
dimusnahkan
6. Membebankan kepada Terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp.2000,- (dua ribu rupiah);
penutup botol tersebut terdapat 2 (dua) buah pipet;
g. 2 (dua) buah potongan pipet warna bening;
h. 1 (satu) buah potongan pipet warna putih;
i. 1 (satu) unit handphone merek Samsung lipat warna hitam ungu bersama dengan simcard dengan nomor panggil 082343440402;
Dirampas untuk dimusnahkan 8. Membebankan kepada
Terdakwa untuk
membayar biaya perkara dalam kedua tingkat peradilan yang dalam tingkat banding sebesar Rp.2.500,- (dua ribu lima ratus rupiah);
Dari kedua putusan tersebut diatas penulis menemukan ketidaksesuaian penggunaan pasal dalam Putusan Hakim Pengadilan Negeri Maros dan Hakim pada Pengadilan Tinggi Makassar yang mengakibatkan perbedaan dalam penjatuhan pidana pada amar putusan dalam kasus yang sama. Dan dalam kasus ini penulis berpendapat hakim pengadilan negeri kurang dapat commit to user
membedakan apa yang di maksud mengenai pengedar narkotika dan penyalahgunaan narkotika bagi diri sendiri.
B. PEMBAHASAN
1. Pengaturan Mengenai Tindak Pidana Penyalahgunaan Narkotika Golongan I Bagi Diri Sendiri.
Berdasarkan prinsip hukum pidana, setiap orang yang melakukan tindak pidana harus mempertanggung jawabkan perbuatannya, dalam mempertanggung jawabkan perbuatannya tersebut harus didasari oleh dua unsur yang penting yaitu actus reus dan mens rea. Acutus reus ialah suatu perbuatan lahiriah dari diri seseorang yang secara nyata dan jelas diakui sebagai perbuatan pidana, sedangkan mens rea adalah suatu itikad dasar atau kondisi batin yang menjadi latar belakang seseorang melakukan perbuatan pidana. Kedua unsur tersebut harus dikaitkan terlebih dahulu (concurrence) untuk merujuk seseorang dapat mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dalam bukunya Asas-Asas Hukum Pidana, Andi Hamzah menerangkan bahwa hukum pidana tidak hanya sekedar mengevaluasi perbuatan pidana dari segi objektifnya sebagai tindak pidana (actus reus), namun hukum pidana juga mengevaluasi segi-segi subjektif pelaku tindak pidana, yaitu kondisi jiwa/latar belakang yang melandasi perbuatan pidana (mens rea) untuk pelaku tersebut mempertanggung jawabkan perbuatnnya.
Hal tersebut berlaku juga dalam tindak pidana penyalahgunaan narkotika golongan I bagi diri sendiri.
Seseorang yang melakukan tindak pidana penyalahgunaan narkotika golongan I bagi diri sendiri juga harus mempertanggung jawabkan perbuatan pidananya sesuai dengan apa yang diperbuat (actus reus) dan kondisi batin (mens rea) yang ada dalam dirinya, apabila dalam melakukan perbuatannya tersebut pelaku tindak pidana dihukum hanya atas dasar perbuatan pidananya (actus reus) saja dan tidak diimbangi dengan dasar unsur kesalahannya (mens rea), maka seseorang tersebut tidak dapat dihukum. Perbuatan pidana (actus reus) dari tindak pidana commit to user
penyalahgunaan narkotika bagi diri sendiri sudah sangat jelas yaitu perbuatan menggunakan narkotika tanpa hak dan tanpa ijin untuk digunakannaya sendiri dengan tujuan mendapat kepuasan tersendiri.
Dalam perbuatannya menggunakan narkotika hampir setiap pelaku penyalahguna juga diikuti dengan tindakan memiliki atau menguasai, menyimpan, atau membeli narkotika. Sedangkan unsur kesalahan (mens rea) dari tindak pidana penyalahgunaan narkotika bagi diri sendiri ini dilihat dari sikap batin atau suatu hal yang melatar belakangi pelaku melakukan tindak pidana ini, yang mana dalam hal ini pelaku melakukan perbuatannya atas dasar untuk menggunakan bagi diri sendiri. Sehingga, dalam hal mempertanggung jawabkan perbuatannya pelaku tindak pidana penyalahguna narkotika bagi diri sendiri harus didasari dengan actus reus dan mens rea yang jelas.
Indonesia merupakan negara hukum yang menganut asas legalitas dalam sistem peradilan pidananya maka dalam proses penegakan hukumnya, setiap kasus narkotika termasuk penyalahgunaan narkotika bagi diri sendiri yang bukan merupakan sindikat pengedar tetap harus diproses secara hukum yang sesuai dengan norma hukum yang tercantum dalam UU Narkotika. Dalam penegakan hukum kasus tindak pidana penyalahgunaan narkotika bagi diri sendiri pada dasarnya diatur dalam Pasal 127 UU Narkotika, selain pada Pasal 127 penanganan kasus penyalahgunaan narkotika bagi diri sendiri diatur pula dalam Pasal 4 butir (d) dan Pasal 54 UU Narkotika yang mana pada intinya pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika wajib mendapatkan jaminan rehabilitasi medis dan juga rehabilitasi sosial, karena dalam tindak pidana penyalahgunaan narkotika bagi diri sendiri pelaku juga sekaligus menjadi korban dari perbuatannya (mutual victimillation), namun dalam Pasal 103 UU Narkotika juga memberikan hak bagi hakim untuk dapat memutus dan menetapkan bahwa Terdakwa Pecandu Narkotika yang terbukti bersalah dalam tindak pidana narkotika untuk menjalani pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi. commit to user
Berdasarkan kasus-kasus di Indonesia sering kali seseorang pelaku tindak pidana penyalahgunaan narkotika bagi diri sendiri tidak hanya diancam pidana menggunakan Pasal 127 UU Narkotika, melainkan pelaku tersebut juga selalu dikumulatifkan dengan Pasal 111, 112, dan 114 UU Narkotika, hal ini terjadi karena pada dasarnya perbuatan pidana seorang pelaku tindak pidana penyalahgunaan narkotika bagi diri sendiri tidak hanya menggunakan narkotika tanpa hak tetapi juga biasanya perbuatan tersebut diikuti oleh perbuatan memilik, menyimpan, menguasi atau bahkan membeli narkotika tersebut, yang mana dalam hal ini perbuatan- perbuatan tadi memenuhi unsur Pasal 111, 112, dan 114. Dalam kasus seperti ini secara tidak langsung mempertanyakan apa perbuatan pidana yang sebenarnya dilakukan oleh pelaku penyalahgunaan narkotika bagi diri sendiri, apakah pasal-pasal tersebut telah sesuai dengan tindakan yang diperbuat dan pantas untuk dipertanggung jawabkan?. Hal ini dapat dilihat dari dua prinsip hukum pidana tadi yang mana harus memperimbangkan kedua unsur penting yaitu perbutan pidana seseorang (actus reus) dan unsur kesalahan (mens rea).
Melihat gambaran kasus di atas penyalahgunaan narkotika bagi diri sendiri yang bukan merupakan sindikat pengedar perlu mendapat perhatian lebih dari pemerintah dan penegak hukum dalam penyelesaian kasusnya, karena bukan tidak mungkin pelaku penyalahgunaan narkotika bagi diri sendiri mendapat hukuman yang tidak sesuai dengan maksud yang melatar belakangi perbuatannya tersebut. Pemerintah dan aparat penegak hukum sudah mulai merancang peraturan-peraturan umum atau internal lingkup instansi masing-masing dalam penanganan kasus penyalahgunaan narkotika bagi diri sendiri, contohnya saja dengan dikeluarkannya Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2010 tentang Penempatan Penyalahgunaan, Korban Penyalahgunaan dan Pecandu Narkotika Ke Dalam Lembaga Rehabilitasi Medis dan Rehabilitasi Sosial yang mana dalam surat edaran ini berisi tentang bagiamana penerapan pemidanaan sesuai dengan Pasal 103 huruf a dan b commit to user
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan klasifikasi sebagai berikut:
a. Terdakwa berada dalam kondisi tertangkap tangan pada saat ditangkap oleh penyidik POLRI dan Penyidik BNN;
b. Pada saat Terdakwa tertangkap tangan ditemukan barang bukti pemakaian 1 (satu) hari dengan rincian sebagai berikut:
1) Kelompok metamphetamine (shabu): 1 gram 2) Kelompok MDMA (ekstasi): 2,4 gram = 8 butir 3) Kelompok heroin: 1,8 gram
4) Kelompok kokain: 1,8 gram 5) Kelompok ganja: 5 gram 6) Daun Koka: 5 gram 7) Meskalin: 5 gram
8) Kelompok Psilosybin: 3 gram 9) Kelompok LSD: 2 gram
10) Kelompok PCD (phencyclidine): 3 gram 11) Kelompok Fentanil: 1 gram
12) Kelompok Metadon: 0,5 gram 13) Kelompok Morfin: 1,8 gram 14) Kelompok Petidin: 0,96 gram 15) Kelompok Kodein: 72 gram 16) Kelompok Bufrenorfin: 32 mg
c. Surat uji laboratorium yang menerangka hasil positif menggunakan narkotika berdasarkan permintaan penyidik;
d. Perlu surat keterangan dari dokter jiwa/psikiater pemerintah yang ditunjuk oleh Hakim;
e. Tidak terdapat bukti bahwa yang bersangkutan terlibat dalam peredaran gelap narkotika.
Berdasarkan SEMA Nomor 4 Tahun 2010 tersebut, seorang penyalahgunaan narkotika bagi diri sendiri dapat dilihat dari adanya klasfikasi tersebut. Apabila Terdakwa memenuhi klasifikasi tersebut commit to user
sudah barang pasti bahwa Terdakwa benar pelaku penyalahguna narkotika bagi diri sendiri. Dalam penerapan SEMA Nomor 4 Tahun 2010 ini sering disebut asesmen yang mana permohonan asesmen ini diajukan oleh tersangka kepada penyidik, dan dalam pemenuhan asesmen tersebut hal paling penting yang menjadi pertimbangan asesmen tersebut ialah grammatur narkotika yang dimiliki tersangka saat tertangkap. Dari jumlah grammatur narkotika yang dimiliki tersangka saat tertangkap akan menjadikan pertimbangan aparat penegak hukum untuk melakukan klasifikasi awal terhadap status tersangka, yang mana apabila tersangka saat tertangkap tangan jumlah yang dimiliki lebih rendah dari syarat grammatur SEMA, maka tersangka dapat digolongkan sebagai penyalahguna narkotika bagi diri sendiri. Namun, jika jumlah narkotika yang dimiliki terdakwa saat tertangkap tangan dalam jumlah yang melebihi grammatur SEMA, maka terdakwa dapat diasumsikan bahwa narkotika yang dimiliki tidak hanya untuk digunakan pribadi melainkan juga untuk diedarkan.
Selain dikeluarkannya SEMA Nomor 4 Tahun 2010 di atas, Mahkamah Agung dan lembaga negra lainnya juga mengatur tentang tindak pidana penyalahgunaan narkotika bagi diri sendiri dengan mengeluarkan Peraturan Bersama Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Menteri Sosial Republik Indonesia, Jaksa Agung Republik Indonesia, Kepala Kepolisian Repblik Indonesia, Kepala Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia Nomor 01/PB/MA/III/2014, 03 Tahun 2014, 11/Tahun 2014, PER- 005/A/JA/03/2014, 1 Tahun 2014, PERBER/01/III/2014/BNN tentang Penanganan Pecandu Narkotika dan Korban Penyalahgunaan Narkotika Dalam Lembaga Rehabilitasi yang mana pada Pasal 4 menerangkan bahwa pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika sebagai Tersangka dan/atau Terdakwa dapat ditempatkan di Lembaga rehabilitasi medis dan/atau lembagai rehabilitasi sosial yang dikelola olehpemerintah commit to user
apabila saat hasil tes urine, darah, rambut, atau DNA Tersangka dan/atau Terdakwa menunjukkan hasil positif baik dalam kasus tertangkap tetapi tanpa barang bukti narkotika ataupun saat tertangkap tangan terdapat barang bukti dengan jumlah tertentu sesuai dengan ketentuan yang berlaku setelah dibuatkan Berita Acara Pemeriksaan Hasil Laboratorium dan Berita Acara Pemeriksaan oleh Penyidik serta telah dilengkapi dengan hasil asesmen Tim Asesmen Terpadu. Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2011 tentang Penempatan Korban Penyalahgunaan Narkotika Di dalam Lembaga Rehabilitasi Medis Dan Rehabilitasi Sosial, Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2011 tentang Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu Narkotika, dan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 01 Tahun 2017 tentang Pemberlakukan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2017 Sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas Bagi Pengadilan. Dalam SEMA Nomor 01 Tahun 2017 ini salah satu isinya adalah membahas tentang perkara tindak pidana narkotika yang mana dalam dakwaannya jaksa tidak mendakwakan Pasal 127 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan hanya mendakwakan Pasal 111, Pasal 112, dan Pasal 114, maka hakim dapat memutus sesuai surat dakwaan namun hakim dapat menyimpangi ketentuan pidana minimum khusus dengan membuat pertimbangan yang cukup.
Peraturan-peraturan yang dapat diterapkan kepada pelaku tindak pidana penyalahgunaan narkotika bagi diri sendiri dapat dilihat pada Pasal 127 dan Pasal 4 butir (d) dan Pasal 54 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan mempertimbangkan Pasal 103 UU Narkotika dan SEMA Nomor 4 Tahun 2010 tentang Penempatan Penyalahgunaan, Korban Penyalahgunaan dan Pecandu Narkotika Ke Dalam Lembaga Rehabilitasi Medis dan Rehabilitasi Sosial, Mahkamah Agung mengeluarkan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2011 tentang Penempatan Korban Penyalahgunaan Narkotika Di dalam Lembaga Rehabilitasi Medis Dan Rehabilitasi Sosial, SEMA Nomor 1 Tahun 2017 tentang Pemberlakukan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar commit to user
Mahkamah Agung Tahun 2017 Sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas Bagi Pengadilan, serta Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2011 tentang Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu Narkotika, Peraturan Bersama Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Menteri Sosial Republik Indonesia, Jaksa Agung Republik Indonesia, Kepala Kepolisian Repblik Indonesia, Kepala Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia Nomor 01/PB/MA/III/2014-03 Tahun 2014-11/ Tahun 2014-PER-005/A/JA/03/2014-1 Tahun 2014 PERBER/01/III/2014/BNN tentang Penanganan Pecandu Narkotika dan Korban Penyalahgunaan Narkotika Dalam Lembaga Rehabilitasi.
Peraturan-peraturan yang ada dalam menangani kasus tindak pidana penyalahgunaan narkotika bagi diri sendiri sudah banyak dan cukup untuk mewujudkan dan memberikan kepastian bagaimana seseorang pelaku penyalahgunaan narkotika mendapatkan hak dan hukuman yang seharusnya Terdakwa dapatkan untuk menjadi manusia yang dapat kembali ke masyarakat dengan baik hal ini sudah memperjelas bahwa pemerintah dan aparat penegak hukum tidak hanya mengedepankan hukuman pidana penjara saja tetapi juga mempertimbangkan keadaan yang seharusnya diperbaiki yaitu mendapatkan pengobatan, perawatan, dan pemulihan, namun dalam implementasinya peraturan-peraturan tersebut masih sering diabaikan dalam penegakannya.
2. Pertimbangan Hukum Hakim Terhadap Tindak Pidana Penyalahgunaan Narkotika Golongan I Bagi Diri Sendiri
Pertimbangan hakim atau yang biasa disebut Ratio Decidendi merupakan argument/alasan hakim yang digunakan sebagai pertimbangan hukum untuk menjadi dasar dalam memutus perkara. Pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan dibagi menjadi dua kategori, yaitu:
a. Pertimbangan yang bersifat yuridis, dalam pertimbangannya hakim didasarkan pada fakta-fakta yuridis yang terungkap dalam persidangan dan oleh Undang-Undang ditetapkan sebagai hal yang commit to user
harus dimuat di dalam putusan. Hal-hal yang harus termuat adalah:
dakwaan jaksa penuntut umum, keterangan terdakwa, keterangan saksi, dan barang bukti, serta pasal-pasal dalam peraturan hukum pidana.
b. Pertimbangan yang bersifat non yuridis, yaitu: latar belakang terdakwa, akibat perbuatan terdakwa, kondisi diri terdakwa, agama terdakwa.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis pada Putusan Pengadilan Negeri Maros Nomor: 190/PID.SUS/2018/PN.MRS dan Putusan Pengadilan Tinggi Makassar Nomor: 653/PID.SUS/2018/PT.MKS Majelis Hakim Tingkat Pertama menetapkan bahwa Terdakwa SULHAM ALIAS CUCU BIN ABD GAFFAR bersalah karena telah melanggar Pasal 114 Ayat (1) UU Narkotika dengan menjatuhkan pidana penjara 5 (lima) tahun dan denda sebesar Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) dan apabila tidak dibayarkan diganti dengan pidana penjara selama 1 (satu) bulan, sedangkan Majelis Hakim Tingkat banding menetapkan Terdakwa SULHAM ALIAS CUCU BIN ABD GAFFAR telah melanggar Pasal 127 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan menjatuhkan pidana 1 (satu) tahun dan 6 (enam) bulan, yang mana putusan ini berbeda dengan Putusan Pengadilan tingkat pertama
Pada putusan pengadilan tingkat banding Majelis Hakim menganggap bahwa terdakwa merupakan seorang penyalahguna narkotika bagi diri sendiri maka dari itu Majelis Hakim menggunakan Pasal 127 ayat (1) untuk menghukum terdakwa, sedangkan dalam putusan pengadilan tingkat pertama Majelis Hakim menganggap bahwa terdakwa merupakan seorang pengedar karena Majelis Hakim menggunakan Pasal 114 ayat (1) yang mana maksud dalam Pasal tersebut digunakan untuk seorang pengedar.
Perbedaan penggunaan pasal oleh Majelis Hakim tingkat banding maupun tingkat pertama dipengaruhi hal-hal yang diperoleh di dalam persidangan. Hal-hal yang diperoleh dalam persidangan dan menjadikan commit to user
dasar pertimbangan hakim dalam mengadili perkara Terdakwa SULHAM ALIS CUCU BIN ABD GAFFAR adalah sebagai berikut:
a. Keterangan para saksi, dalam kasus ini dihadirkan beberapa saksi yaitu:
1) Saksi Fiand Donald, memberikan keterangan di bawah sumpah sebagai berikut:
a) Pada hari Rabu, tanggal 5 September 2018 saksi melakukan patrol Bersama tim di daerah Jl. Taufik, Kelurahan Alliri Tengae, Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros dikarenakan saksi Bersama tim mendengar di daerah tersebut sering terjadi penyalahgunaan narkotika;
b) Setibanya saksi dan tim di depan SMU DDI Maros, saksi Bersama Syahrul Sukri melihat terdakwa sedang berdiri sehingga saksi melakukan penggeledahan terhadap terdakwa;
c) Saat melakukan penggeledahan saksi dan Syahrul Sukri menemukan 1 (satu) sachet narkotika jenis shabu dalam kantong celana bagian depan sebelah kanan. Saat itu juga terdakwa mengakui jika narkotika jenis shabu tersebut adalah miliknya;
d) Berdasarkan keterangan dari terdakwa narkotika jenis shabu tersebut terdakwa dapatkan dengan cara membeli dari OCAL (DPO) seharga Rp. 200.000,- (dua ratus ribu rupiah);
e) Setelah ditemukannya narkotika jenis shabu tersebut, saksi dan Syahrul Sukri membawa terdakwa kerumahnya untuk menggeledah rumah Terdakwa;
f) Sesampainya di rumah terdakwa saksi dan tim melakukan penggeledahan dan menemukan 2 (dua) buah rangakaian alat hisab shabu, 2 (dua) buah batang pireks kaca, 2 (dua) bungkus sasetan plastik bening baru, 1 (satu) potongan pipet warna putih (sendok shabu), 1 (satu) potong pipet bening, 1 (satu) buah potong botol YOU C 1000 yang pada penutupnya disambungkan dengan dua batang potongan pipet warna putih commit to user
yang menurut pengakuan terdakwa adalah milik Ocal (DPO), dimana barang-barang tersebut ada yang ditemukan di bawah tempat tidur dan di depan TV;
g) Saksi menjelaskan bahwa terdakwa baru 1 (satu) kali membeli narkotika jenis shabu dari Ocal (DPO) untuk digunakan oleh terdakwa;
h) Bahwa terdakwa tidak memiliki ijin dari pihak yang berwenang untuk membeli, menyimpan, atau memiliki narkotika jenis shabu tersebut.
2) Saksi Muh. Syahrul Sukri, memberikan keterangan di bawah sumpah sebagai berikut:
a) Pada hari Rabu, tanggal 5 September 2018 saksi melakukan patrol Bersama tim di daerah Jl. Taufik, Kelurahan Alliri Tengae, Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros dikarenakan saksi Bersama tim mendengar di daerah tersebut sering terjadi penyalahgunaan narkotika;
b) Setibanya saksi dan tim di depan SMU DDI Maros, saksi Bersama Syahrul Sukri melihat terdakwa sedang berdiri sehingga saksi melakukan penggeledahan terhadap terdakwa;
c) Saat melakukan penggeledahan saksi dan Fiand Donald menemukan 1 (satu) sachet narkotika jenis shabu dalam kantong celana bagian depan sebelah kanan. Saat itu juga terdakwa mengakui jika narkotika jenis shabu tersebut adalah miliknya;
d) Berdasarkan keterangan dari terdakwa narkotika jenis shabu tersebut terdakwa dapatkan dengan cara membeli dari OCAL (DPO) seharga Rp. 200.000,- (dua ratus ribu rupiah);
e) Setelah ditemukannya narkotika jenis shabu tersebut, saksi dan Fiand Donald membawa terdakwa kerumahnya untuk menggeledah rumah Terdakwa;
commit to user
f) Sesampainya di rumah terdakwa saksi dan tim melakukan penggeledahan dan menemukan 2 (dua) buah rangakaian alat hisab shabu, 2 (dua) buah batang pireks kaca, 2 (dua) bungkus sasetan plastik bening baru, 1 (satu) potongan pipet warna putih (sendok shabu), 1 (satu) potong pipet bening, 1 (satu) buah potong botol YOU C 1000 yang pada penutupnya disambungkan dengan dua batang potongan pipet warna putih yang menurut pengakuan terdakwa adalah milik Ocal (DPO), dimana barang-barang tersebut ada yang ditemukan di bawah tempat tidur dan di depan TV;
g) Saksi menjelaskan bahwa terdakwa baru 1 (satu) kali membeli narkotika jenis shabu dari Ocal (DPO) untuk digunakan oleh terdakwa;
h) Bahwa terdakwa tidak memiliki ijin dari pihak yang berwenang untuk membeli, menyimpan, atau memiliki narkotika jenis shabu tersebut.
3) Saksi Ahmad Sukri Alias Ahmad, saksi telah dipanggil secara sah dan patut akan tetapi tidak hadir, dan keterangannya dibacakan oleh jaksa penuntut umum yang pada pokoknya sebagai berikut:
a) Pada hari Rabu, tanggal 5 September 2018 sekitar pukul 16.15 WITA saksi saat itu berada di warung depan SMU DDI Maros, tepatnya di JL. Taufik, Kelurahan Alliri Tengae, Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros;
b) Saksi melihat sendiri SULHAM ALIAS CUCU BIN ABD GAFFAR ditangkap oleh pihak kepolisian;
c) Saksi tidak mengetahui SULHAM ALIAS CUCU BIN ABD GAFFAR dibawa kemana, namun sepengetahuan saksi di bawa ke kanto polisi Polres Maros;
d) Sepengetahuan saksi SULHAM ALIAS CUCU BIN ABD GAFFAR ditangkap karena membawa narkotika.
commit to user
b. Barang butki berupa:
1) 1 (satu) sachet plastic bening yang di dalamnya terdapat narkotika jenis shabu dengan berat 0,0470 gram;
2) 1 (satu) buah rangkaian alat hisap yang terbuat dari botol air mineral yang mana pada penutup botol tersebut terdapat 2 (dua) buah pipet;
3) 1 (satu) buah rangkaian alat hisap yang terbuat dari botol kaca yang mana pada penutup botol tersebut terdapat 1 (satu) buah pipet;
4) 3 (tiga) buah pireks kaca;
5) 2 (dua) bungkus saset kosong;
6) 1 (Satu) buah penutup botol yang mana pada penutup botol tersebut terdapat 2 (dua) buah pipet;
7) 2 (dua) buah potongan pipet warna bening;
8) 1 (satu) buah potongan pipet warna putih;
9) 1 (satu) unit handphone merek Samsung lipat warna hitam ungu bersama dengan simcard dengan nomor panggil 082343440402;
c. Keterangan Terdakwa, sebagai berikut:
1) Kejadiannya Pada hari Rabu, tanggal 5 September 2018 sekitar pukul 16.15 WITA bertemmpat di depan SMU DDI Maros, tepatnya di JL. Taufik, Kelurahan Alliri Tengae, Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros;
2) Saat kejadian terdakwa berdiri di depan warung untuk membeli rokok dan saat itu terdakwa didekati oleh petugas polisi dan dilakukan penggeledahan;
3) Shabu yang ditemukan tersebut diperoleh terdakwa dengan cara membeli dari Ocal (DPO) pada hari Rabu tanggal 5 September 2018 sekitar pukul 15.00 WITA, yang mana Ocal (DPO) membawakan narkotika jenis shabu tersebut kepada Terdakwa dan Terdakwa menyerahkan uang sebedar Rp. 200.000,00 (dua ratus ribu rupiah);
commit to user
4) Saat terdakwa menerima narkotika tersebut terdakwa juga meminta agar Ocal (DPO) meminjamkan alat hisap yang dimilikinya;
5) Sepengetahuan terdakwa alat hisap yang dipinjam dari Ocal (DPO) sudah dibawakan dan pada saat digeledah alat hisap tersebut sudah di kamar terdakwa;
6) Terdakwa membeli narkotika jenis shabu ke Ocal (DPO) karena mengetahui jika Ocal (DPO) menjual dan terdakwa pernah memakai narkotika jenis shabu bersama-sama;
7) Terdakwa mengenal Ocal (DPO) karena Ocal (DPO) merupak sepupu terdakwa;
8) Terdakwa menggunakan narkotika jenis shabu terakhir kali bersama Ocal (DPO) seminggu yang lalu sebelum terdakwa ditangkap;
9) Urine terdakwa saat ditangkap dan diperiksa positif mengandung shabu;
10) Jarak antara rumah tedakwa dan Ocal (DPO) tidak terlalu jauh dan hanya membutuhkan waktu kurang dari 5 menit apabila jalan kaki;
11) Tujuan terdakwa membeli narkotika untuk digunakan agar terdakwa semangat bekerja, karena dengan menggunakan narkotika jenis shabu terdakwa dapat menyelesaikan pekerjaannya;
12) Terdakwa tidak memiliki izin untuk membeli, menrima dan menguasai narkotika jenis shabu.
Dari keterangan para saksi, barang bukti yang ditemukan dan keterangan terdakwa, maka Majelis Hakim Tingkat Pertama dan Tingkat Banding menemukan fakta-fakta hukum dari peristiwa tersebut yang akan menjadi pertimbangan Majelis Hakim untuk menjatuhkan putusan dalam mengadili perkara tersebut. Berikut Pertimbangan dari Majelis Hakim Tingkat Pertama maupun Tingkat Banding:
commit to user
Table 2. Perbedaan Pertimbangan Majelis Hakim Tingkat Banding dan Tingkat Pertama
No Pertimbangan Majelis Hakim Tingkat Pertama
Pertimbangan Majelis Hakim Tingkat Banding
1. Sulham Alias Cucu Bin Abd Gaffar memenuhi syarat sebagai subjek hukum dan juga cukup memenuhi unsur setiap orang
bahwa kesalahan atau mens rea ini sangat penting dipertimbangkan sehubung dengan prinsip hukum pidana yang mengatakan bahwa tidak seorangpun dapat dipidana tanpa adanya kesalahan atau mens rea.
2. Bahwa narkotika jenis shabu merupakan golongan I yang penggunaannya dalam jumlah terbatas dan hanya untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan untuk reagnensia diagnostic, serta reagensia laboratorium setelah mendapat persetujuan Menteri atas rekomendasi kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan dan juuga narkotika jenis shabu dapat mengakibatkan sindroma ketergantungan sehingga peredarannya diatur dalam suatu ketentuan agar tidak disalahgunakan oleh manusia.
bentuk kesalahan dalam tingkat sengaja atau culfa pada diri Terdakwa dapat dibuktikan berdasarkan perbuatan materiil yang dilakukan, dimana Terdakwa baru dapat dinyatakan bersalah dan dihukum apabila terbukti adanya kesalahan (sengaja ataut culfa) atau adanya mens rea;
3. Bahwa fakta yang terungkap dipersidangan pada hari Rabu tanggal 5 September 2018 sekitar
sesuai dengan prinsip hukum pidana, bahwa hakim tidak dapat menghukum Terdakwa hanya mendasarkan pada commit to user
pukul 15.00 WITA Terdakwa menellpon Ocal (DPO) dan memesan 1 (satu) sachet narkotika jenis shabu, selanjutnya pada pukul 16.00 WITA Ocal dating ke rumah Terdakwa di Jl.
Taufik, Kel. Alliri Tengae, Kec.
Turikale, Kab. Maros, kemudian Ocal menyerahkan 1 (satu) sachet narkotika jenis shabu kepada Terdakwa di teras rumah Terdakwa dan Terdakwa menyerahkan uang sebesar Rp.
200.000,- (dua ratus ribu rupiah) kepada Ocal selanjutnya Terdakwa menyimpan narkotika tersebut di dalam saku celananya, lalu Terdakwa menuju ke warung di depan SMU DDI Maros.
Setibanya Terdakwa di warung tersebut, tidak lama kemudian aparat kepolisian dating lalu selanjutnya melakukan penggeledahan pada diri Terdakwa, dan ditemukan 1 (Satu) sachet narkotika jenis shabu milik Terdakwa yang baru saja di beli dari Ocal dan sebelumnya Terdakwa sudah pernah membeli narkotika jenis shabu dari Ardi di Makassar
perbuatan pidana atau Actus Reus semata, melainkan bahwa untuk menghukum seseorang wajib dibuktikan adanya unsur perbuatan pidana atau actus reus dan unsur pertanggungjawaban pidana diantaranya adalah unsur kesalahan.
commit to user
berdasarkan pengakuan Terdakwa.
4. Berdasarkan pengakuan Terdakwa, Terdakwa meminta alat hisap sahbu kepada Ocal dan telah diantar dan disimpan Ocal di dalam kamar Terdakwa yang telah ditemukan disaat penggeledahan di rumah Terdakwa, termasuk adanya beberapa sachet plastic kosong yang biasa digunakan untuk menyimpan shabu.
pertimbangan dan pendapat Majelis Hakim Tingkat pertama yang menyatakan Terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar ketentuan Pasal 114 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika hanya mendasarkan pada perbuatan Actus Reus atau perbuatan materiil semata tanpa mempertimbangkan apa sesungguhnya yang menjadi niat, maksud dan tujuan serta keinginan dari Terdakwa dalam hal membeli shabu tersebut;
5. Berdasarkan Berita Acara Pemeriksaan Laboratoris Kriminalistik pada Pusat Laboratorium Forensik Polri Cabng Makassar No. Lab:
3479/NNF/IX/2018 pada tanggal 10 September 2018 yang menyimpulkan bahwa barang bukti dengan Nomor barang bukti 8956/2018/NNF berupa 1 (satu) sachet plastic berisikan kristal bening dengan berat netto 0,0470 gram benar mengandung
bahwa kesalahan Terdakwa yang membeli shabu dari Sdr. Ocal tersebut adalah untuk digunakan secara melawan hukum dan bukan untuk kegiatan peredaran gelap narkotika, hal tersebut dapat terungkap dari fakta hukum di persidangan bahwa Terdakwa saat dilakukan penangkapan dan penggeledahan hanya ditemukan barang bukti berupa 1 (satu) sachet shabu di dalam saku celananya yang setelah ditimbang commit to user
metamphetamina dan barang bukti 8957/2018/NNF berupa 1 (satu) botol plastic bekan minuman berisi urine milik Terdakwa benar mengandung metamfetamina. Terdakwa tidak memiliki ijin dari pihak yang berwenang untuk membeli dan menerima NArkotika golongan I jenis shabu dan tujuan Terdawka menguasai 1 (Satu) sachet jenis shabu tersebut untuk Terdakwa gunakan sendiri.
beratnya adalah 0,0470 gram atau di bawah 1 (satu) gram;
6. Bahwa berdasarkan pertimbangan yang sudah diuraikan tadi Majelis Hakim berpendapat bahwa perbuatan Terdakwa dapat dikategorikan sebagai perbuatan yang tanpa hak dan melawan hukum membeli narkotika golongan I sebagaimana ketentuan Pasal 114 Ayat (1) UU Narkotika. Meskipun saat ditemukan Terdakwa tidak dalam posisi sedang transaksi jual beli akan tetapi fakta persidangan terungkap bahwa penguasaan narkotika jenis shabu yang ada pada Terdakwa adalah atas dasar membeli dari Ocal beberapa saat sebelum Terdakwa ditangkap
selain itu ketika Terdakwa selesai membeli shabu dari Sdr. Ocal, Terdakwa juga menyampaikan kepada Sdr. Ocal agar setelah dilakukan penggeledahan terhadap diri Terdakwa, oleh petugas kepolisian langsung dilakukan penggeledahan di rumah Terdakwa dan ditemukan barang bukti berupa 2 (dua) buah rangkaian alat hisap, 2 (dua) batang pireks kaca, 2 (dua) bungkus sachetan plastic bening baru, 1 (satu) potongan pipet bening dan 1 (satu) buah penutup botol You C 1000 yang pada penutupnya disambungkan dengan dua batang potongan pipet warna putih. Hal tersebut didukung pula dengan fakta hukum bahwa commit to user
yang sebelumnya Terdakwa juga sudah pernah membeli narkotika jenis hsbau yang semuanya bukan untuk kepentingan pelayanan keshatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan Terdakwa tidak memiliki ijin untuk membeli narkotika jenis shabu tersebut, dengan demikian Majelis Hakim berpendapat unsur
“tanpa hak dan melawan hukum membeli dan menerima narkotika golongan I” telah terpenuhi
selama persidangan berlangsung Terdakwa tidak pernah terkait dengan kegiatan peredaran gelap narkotika terlebih lagi Terdakwa tidak terkait dengan jaringan atau sindikat peredaran galap narkotika serta hasil pemeriksaan urine Terdakwa yang benar mengandung metamphetamina;
7. Bahwa dalam persidangan Majelis Hakim tidak menemukan hal-hal yang dapat menghapuskan pertanggungjawaban pidana baik sebagai alasan pembenar dan atau alasan pemaaf, maka Terdakwa harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
dari fakta hukum tersebut dari segi mens rea, sangat jelas bahwa sikap batik dalam membeli shabu bukan dalam rangka kegiatan peredaran gelap narkotika artinya Terdakwa tidak bermaksud membeli kemudian menjual atau mengedarkan kembali shbau tersebut, akan tetapi semata- mata dengan tujuan untuk di pakai sendiri, bukankan seorang penyalah guna sebelum menggunakan narkotika atau shabu terlebih dahulu membeli, menyimpan, memiliki, dan menguasai narkotika atau shabu?
Setelah tahapan itu baru narkotika atau shabu tersebut digunakan, karena tidak mungkin seorang penyalahguna narkotika atau shabu dapat commit to user
menggunakan narkotika atau shabu tanpa terlebih dahulu membeli, menguasai, menyimpan, memiliki narkotika atau shabu, setelah itu barulah Terdakwa menggunakannya sehingga harus dapat dibedakan antara membeli narkotika dengan tujuan untuk peredaran gelap dengan membeli narkotika untuk digunakan sendiri;
8. bahwa pandangan Sebagian besar
aparat penegak hukum bahwa seseorang baru dinyatakan sebagai penyalahguna narkotika apabila saat ditangkap sedang menyalah gunakan narkotika adalah kurang tepat dan tidak realistis serta tidak memaknai kandungan serta misi dari Undang- Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
9. meskipun pada waktu ditangkap
Terdakwa tidak sedang menggunakan narkotika atau shabu, tidak berarti Terdakwa bukan penyalah guna.
Bahwa Terdakwa yang fakta hukumnya terbukti membeli narkotika atau shabu dari Sdr Ocal lalu kemudian peristiwa ini dijadikan commit to user
sebagai dasar oleh majelis hakim tingkat pertama mempermasalahkan Terdakwa melanggar Pasal 114 Ayat (1), tanpa mempertimbangkan Mens rea dan latar belakang Terdakwa terkait dengan Narkotika dan baranag bukti yang ditemukan dalam jumlah sedikit (di bawah 1 gram) yaitu hanya 0,0470 gram Jo SEMA Nomor 4 Tahun 2010 Jo SEMA Nomor 3 Tahun 2011 serta pemeriksaan urine berdasarkan hasil Laboratorium Forensik, Terdakwa serta merta dinyatakan terbukti melanggar ketentuan Pasal 114 Ayat (1) Undang- Undang Nomor 35 Tahun 2009 hanya dapat diterapkan kepada pengedar, bandar atau penjual bukan diterapkan terhadap penyalah guna;
Berdasarkan pertimbangan di atas kedua Majelis Hakim memiliki pandangan yang berbeda dalam kasus Terdakwa SULHAM ALIAS CUCU BIN ABD GAFFAR. Perbedaan ini didasarkan dari pandangan Majelis Hakim dalam menafsirkan seorang penyalahguna narkotika bagi diri sendiri dan seorang pelaku jual beli narkotika yang diamanatkan dalam Pasal 114 Ayat (1) UU Narkotika. Sebagaimana Majelis Hakim tingkat banding berpendapat bahwa terdakwa merupakan seorang penyalahguna narkotika bagi diri sendiri yang pada hal ini pasal yang harus dikenakan sesuai dengan tindakannya adalah Pasal 127 ayat (1) UU Narkotika dan bukan Pasal 114 ayat (1) UU Narkotika sesuai dengan Pasal yang dikenakan oleh Majelis commit to user
Hakim tingkat pertama karena pasal ini merupakan pasal untuk seorang pengedar. Majelis Hakim tingkat banding mendasarkan pertimbangannya karena perbuatan yang terdakwa lakukan termasuk dalam kriteria seorang penyalahguna narkotika bagi diri sendiri dan tidak masuk dalam kriteria perbuatan seorang pengedar narkotika. Sedangkan Majelis Hakim tingkat pertama mendasarkan pertimbangannya pada perbuatan Terdakwa yang telah menyelesaikan transaksi jual beli narkotika jenis shabu oleh Ocal.
Beranjak dari perbedaan pandangan dari kedua Majelis Hakim tadi maka perlu adanya kejelasan bagaimana perbedaan penyalahguna narkotika bagi diri sendiri dan pengedar narkotika yang diamanatkan Pasal 114 Ayat (1) UU Narkotika. Perbedaan dari seorang penyalahguna narkotika bagi diri sendiri dan seorang pengedar narkotika dapat dilihat dari motif kejahatannya. Apabila seorang penyalahguna narkotika bagi diri sendiri melakukan kejahatannya dikarenakan untuk mencapai kenikmatan atau kesenangan bagi diri sendiri. Sedangkan seorang pengedar narkotika melakukan kejahatannya bukan hanya untuk kesenangan, tetapi karena professional dalam bidang perdagangan narkotika.
Dalam UU Narkotika juga dapat dilihat perbedaan antara penyalahguna narkotika, pecandu narkotika dan seorang pengedar narkotika. Pada Pasal 1 angka 13 dijelaskan bahwa pengertian pecandu narkotika adalah orang yang menggunakan atau menyalahgunakan narkotika dan dalam keadaan ketergantungan pada narkotika, baik secara fisik maupun psikis. Sedangkan pengertian penyalahgunaan narkotika diatur dalam Pasal 1 angka 15 yang mana menjelaskan bahwa penyalahgunaan narkotika adalah orang yang menggunakan narkotika tanpa hak atau melawan hukum. Lalu pengertian pecandu narkotika dalam UU Narkotika tidak dijelaskan secara rinci namun dapat ditarik kesimpulan bahwa pengedar narkotika adalah seorang atau beberapa orang yang melakukan kegiatan atau serangkaian kegiatan dengan maksud menngedarkan, menyalurkan narkotika dengan cara menjual, membeli, mengangkut,
commit to user
menyimpan, menguasai, menyediakan, narkotika. Dalam KBBI sendiri pengertian pengedar adalah orang yang mengedarkan.
Berangkat dari perbedaan pengertian penyalahgunaan narkotika bagi diri sendiri dan pengedar narkotika yang telah penulis jelaskan di atas, maka dapat dikaitkan dengan kasus Terdakwa SULHAM ALIAS CUCU BIN ABD GAFFAR bahwa Majelis Hakim tingkat banding sudah benar dalam menggunakan Pasal 127 ayat (1) UU Narkotika dalam putusannya, karena apabila dilihat dari maksud terdakwa sengaja membeli narkotika jenis shabu oleh Ocal (DPO) untuk digunakan sendiri dan bukan bermaksud untuk diperjual belikan.
Berdasar dari pertimbangan Majelis Hakim Tingkat Banding, hakim mendasarkan pertimbangannya kepada asas hukum pidana yaitu Geen Straf Zonder Schuld (seseorang tidak mungkin dipidana apabila tidak ada kesalahan) dan prinsip hukum pidana yang tidak sekedar menitik beratkan suatu perbuatan pidana dari segi objektif bahwa perbuatan lahiriah seseorang secara empiris dan diakui sebagai tindak pidana (actus reus), Majelis Hakim lebih jauh mempertimbangkan dari itu, yang mana hukum pidana juga harus mempertimbangkan segi-segi subjektif pelaku tindak pidana, yaitu kondisi jiwa atau latar belakang yang mendasari pelaku melakukan perbuatan pidananya (mens rea). Atas dasar tersebutlah Majelis Hakim memberikan ruang pengecualian bagi pertanggung jawaban pidana ketika unsur-unsur pemidanaan (kesalahan) tidak terpenuhi, dengan demikian Majelis Hakim benar menggunakan prinsip hukum pidana yang tidak hanya menitik beratkan tindak pidana secara an sich, melainkan berupaya mengevaluasi tindak pidana yang dapat dibebankan tanggungjawab pidana (liability).
Dalam pertimbangan Majelis Hakim di atas, bahwa kesalahan (mens rea) Terdakwa dalam tindak pidana tersebut adalah membeli narkotika jenis shabu dari Sdr Ocal untuk digunakan sendiri secara melawan hukum dan bukan untuk kegiatan peredaran gelap narkotika. Hal tersebut didukung dengan adanya alat hisap yang dipinjam Terdakwa oleh Sdr Ocal commit to user
di rumah Terdakwa saat petugas kepolisian menggeledah rumah Terdakwa, dan hasil pemeriksaan urine Terdakwa yang benar positif mengandung metamfitamina, serta selama persidangan berlangsung tidak ada fakta hukum yang menyatakan bahwa Terdakwa terkait dengan kegiatan peredaran gelap narkotika dengan jaringan atau sindikat peredaran gelap narkotika. Bahwa hal yang melatar belakangi Terdakwa membeli narkotika jenis shabu tersebut untuk digunakan sendiri agar Terdakwa mendapat semangat dan bisa menyelesaikan pekerjaannya, yang mana hal tersebut merupakan efek samping dari penggunaan narkotika jenis shabu.
Berbeda dengan Majelis Hakim Tingkat Pertama pertimbangan Majelis Hakim di atas, menekankan bahwa majelis hakim tingkat pertama telah keliru menerapkan hukum, yang mana hakim tingkat pertama menghukum Terdakwa atas dasar Pasal 114 Ayat (1) yang pada dasarnya Pasal 114 Ayat (1) merupakan Pasal yang seharusnya diterapkan kepada seorang pengedar, bandar, atau sindikat pengedaran gelap narkotika.
Dalam kasus tindak pidana yang dilakukan Terdakwa memang perbuatan Terdakwa membeli narkotika tersebut memenuhi unsur Pasal 114 Ayat (1), namun perlu dilihat lagi latar belakang dan sikap batin Terdakwa membeli narkotika tersebut. Alasan Terdakwa sendiri membeli narkotika ini dengan tujuan menggunakan narkotika atau shabu ini untuk digunakan sendiri yang mana hal ini sesuai dengan unsur Pasal 127 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009. Dalam kasus ini perbuatan pidana yang dilakukan oleh Terdakwa memanglah membeli narkotika, namun dalam memberikan pidana bagi seseorang harus juga mempertimbangkan sikap batin atau kesalahan (mens rea) dari Terdakwa, yang mana dalam hal ini kesalahan dari Terdakwa adalah menggunakan narkotika atau shabu tersebut.
Berdasarkan pertimbangan tersebut juga, penetapan seseorang dapat dihukum sebagai penyalah guna narkotika bukan semata-mata saat ditangkap harus sedang menggunakan narkotika, melainkan banyak factor yang dapat dipertimbangkan untuk menetapkan seseorang ini melakukan commit to user
tindak pidana narkotika. Salah satu pertimbangan dalam menetapkan seseorang sebagai pelaku tindak pidana penyalahguna narkotika adalah hasil assesmen yang menunjukkan bahwa Terdakwa positif menggunakan narkotika, grammatur narkotika saat ditangkap tidak melebihi batas maksimum yang tercantum pada SEMA Nomor 4 Tahun 2010 tentang Penempatan Penyalahgunaan, Korban Penyalahgunaan dan Pecandu Narkotika Ke Dalam Lembaga Rehabilitasi Medis dan Rehabilitasi Sosial Jo SEMA Nomor 3 Tahun 2011 tentang Penempatan Korban Penyalahgunaan Narkotika Di Dalam Lembaga Rehabilitasi Medis Dan Rehabilitasi Sosial. Penetapan seseorang sebagai penyalahguna narkotika dalam kasusnya tidak tertangkap tangan seperti Terdakwa ini, namun apabila dalam surat dakwaan penuntut umum tidak mendakwakan Pasal 127 Ayat (1), tetapi dalam persidangan muncul dan terbukti bahwa Terdakwa sebagai penyalahguna narkotika golongan I bagi diri sendiri, maka hakim dapat memeriksa dan mengadili dengan mendasarkan putusannya pada fakta hukum yang terbukti dipersidangan yaitu terdakwa dihukum sebagai penyalahguana narkotika, namun dengan kualifikasi tindak pidana yang tetap mengacu pada surat dakwaan, hal ini sesuai dengan SEMA Nomor 1 Tahun 2017.
Dari pertimbangan di atas dapat dilihat bahwa Majelis Hakim Tingkat Banding telah sesuai dalam menerapkan peraturan-peraturan yang ada bagi penyalahgunaan narkotika bagi diri sendiri, yang mana dalam putusannya Majelis Hakim Tingkat Banding menghukum Terdakwa sebagai penyalah guna narkotika golongan I bagi diri sendiri dan dihukum pidana penjara 1 (satu) tahun 6 (bulan). Vonis yang dijatuhkan hakim juga telah sesuai dengan bunyi Pasal 127 Ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, yang mana dalam rumusan pasal tersebut menjelaskan bahwa hukuman pidana penjara paling lama bagi penyalah guna narkotika golongan I bagi diri sendiri adalah 4 (empat) tahun, sedangkan vonis yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim Tingkat Banding tidak melebih batas maksimal 4 (empat) tahun tersebut. Sedangkan commit to user
pertimbangan Majelis Hakim Tingkat Pertama masih terlalu sempit dalam perkara ini karena Majelis Hakim Tingkat Pertama hanya bertolak kepada Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, namun tidak mempertimbangkan peraturan-peraturan lain yang dapat dimasukkan kedalam perkara ini.
Beranjak dari uraian di atas walaupun pertimbangan Majelis Hakim Tingkat Banding sudah cukup baik dalam pandangannya melihat Terdakwa sebagai seorang penyalahguna narkotika bagi diri sendiri, namun tidak serta merta pertimbangan Majelis Hakim Tingkat Banding sempurna karena Majelis Hakim tidak mempertimbangkan Pasal 54 yang mana menegaskan bahwa Pecandu Narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial, hal ini sedikit menyimpangi tujuan dari UU Narkotika yaitu menjamin pengaturan upaya rehabilitasi medis dan sosial bagi penyalahguna dan pecandu narkotika. Majelis Hakim juga tidak mempertimbangkan Peraturan Bersama Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Menteri Sosial Republik Indonesia, Jaksa Agung Republik Indonesia, Kepala Kepolisian Repblik Indonesia, Kepala Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia Nomor 01/PB/MA/III/2014-03 Tahun 2014-11/ Tahun 2014-PER-005/A/JA/03/2014-1 Tahun 2014 PERBER/01/III/2014/BNN tentang Penanganan Pecandu Narkotika dan Korban Penyalahgunaan Narkotika Dalam Lembaga Rehabilitasi, dengan tidak mempertimbangkan peraturan peraturan tadi majelis hakim sudah lalai akan hak yang seharusnya diterima oleh penyalahguna narkotika untuk sembuh dari kecanduan narkotika. Walaupun pada dasarnya Majelis Hakim memiliki hak untuk dapat atau tidaknya memutus atau menetapkan seorang pecandu narkotika ke dalam Lembaga rehabilitasi yang sesuai dengan Pasal 103 UU Narkotika, namun setidaknya melihat dari kondisi yang ada di Indonesia bahwa makin banyak seorang penyalahguna narkotika yang mendapatkan hukuman pidana penjara yang mana hal itu commit to user
menyebabkan menumpuknya jumlah narapidana narkotika di Lapas, seharusnya Majelis Hakim bisa mempertimbangkan Terdakwa untuk di berikan pengobatan dan/atau perawatan di Lembaga Rehabilitasi untuk memulihkan kondisi dari Terdakwa.
Dengan memasukkan Terdakwa tindak pidana penyalahgunaan narkotika ke dalam Lembaga rehabilitasi bukan hanya memperbaiki kondisi dari Terdakwa melainkan juga menguranginya penumpukkan jumlah narapidana yang ada di Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia, system seperti ini sudah di gunakan di Belanda, yang mana menurut Professor Kriminologi di Sekolah Hukum Erasmus School di Rotterdam, Rene Van Swaaningen Belanda memiliki pragmatisme yang mandarah daging ketika mengatur hukum dan ketertiban, oleh karena itu Belanda lebih fokus pada upaya penanganan kriminalitas dengan upaya rehabilitasi ketimbang menjebloskan manusia ke dalam penjara termasuk dalam penanganan kasus narkotika, Belanda akan lebih menanganin kecanduannya terhadap narkotika ketimbang menjebloskannya ke penjara.
Hal tersebut dianggap lebih efektif untuk menghemat biaya operasional untuk memberikan pengobatan daripada membiayai operasional narapidana di Lembaga Permasyarakatan. Dalam Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yang dibuat oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI Tahun 2018 fokus utamanya adalah memberikan kebijkan untuk mengedepankan upaya rehabilitasi dengan melalui mekanisme asesmen yang komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan yang mana dengan tujuannya untuk mengurangi over kapasitas Lembaga pemasyarakatan di Indonesia. Bukan hanya dalam naskah akademik Rancangan UU Narkotika melainkan dalam RKUHP pada Pasal 106 menjelaskan bahwa Tindakan rehabilitasi dikenakan kepada Terdakwa yang kecanduan alcohol, narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya, dalam RKUHP memiliki salah satu tujuan pemidanaan adalah memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan pembinaan commit to user
sehingga menjadi orang yang baik dan berguna serta mencegah dilakukannya tindak pidana dengan menegakkan norma hukum demi pengayoman masyarakat, lebih lanjut tujuan pemidanaan tidak dimaksudkan untuk menderitakan dan merendahkan martabat manusia.
Tujuan tersebut dapat sejalan dengan diberikannya rehabilitasi bagi Terdakwa tindak pidana penyalahgunaan narkotika bagi diri sendiri.
Tujuan pemidanaan dalam RKUHP ini sesuai dengan teori tujuan pemidanaan relatif.
Dalam kasus ini Terdakwa merupakan seorang penyalah guna narkotika bagi diri sendiri yang mana seorang penyalah guna narkotika bagi diri sendiri adalah korban dari perbuatannya, maka dari itu Terdakwa seharusnya juga dapat diberikan hak untuk pengobatan dan rehabilitasi untuk menyembuhkan dirinya. Walaupun dalam Undang-Undang Narkotika pengertian seorang penyalah guna narkotika, pecandu narkotika, dan korban penyalah guna narkotika dibedakan, namun pada prinsipnya ketiga subjek tersebut sama, yaitu sama-sama orang yang perlu pengobatan dan pemulihan akibat dampak negatif dari penggunaan zat narkotika yang digunakan sebelumnya, hal tersebut untuk menyembuhkan dirinya supaya menjadi manusia yang lebih baik. Mengingat dari adanya peraturan-peraturan yang telah dijelaskan sebelumnya maka seharusnya Majelis Hakim dalam amar putusannya memberikan putusan untuk memerintahkan Terdakwa menjalani pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi di Lembaga Rehabilitasi terdekat yang di tunjuk oleh Majelis Hakim secara jelas.
Berdasarkan apa yang telah diuraikan sebelumnya, perbedaan pandangan antara Majelis Hakim Tingkat Pertama dan Tingkat kedua ini menyebabkan ketidakpastian penerapan hukum bagi para pencari keadilan, yang mana perbedaan presepsi antar penegak hukum dalam satu perkara, akan sulit untuk mencapai suatu keadilan yang seharusnya didapatkan oleh para pencari keadilan baik pelaku kejahatan, korban, dan masyarakat umum. Sedangkan keadilan yang ingin dicari itu untuk commit to user
mencapai suatu kebahagian, yang mana apabila seseorang mendapat keadilan bagi dirinya, orang tersebut akan mendapat kebahagian bagi dirinya pula. Para penegak hukum terutama Majelis Hakim sebagai pembuat hukum itu sendiri harus tau hukum apa yang seharusnya diterapkan di perkara yang ditangani (ius curia novit), walaupun hakim dianggap tau hukumnya namun hakim dalam penegakan keadilan harus tetap mempertimbangkan peraturan-peraturan yang berlaku di Indonesia baik itu peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh badan legislative ataupun instansi terkait untuk menghindari ketidakpastian penerapan hukum di Indonesia dan mencapai keadilan yang diinginkan oleh para pencari keadilan.
commit to user