MAKNA SIMBOLIK PATUNG SLEEPING BUDDHA DI VIHARA BUDDHA DHARMA & 8 PHO SAT KEMANG BOGOR
Tugas Akhir
Disusun Oleh :
MUHAMAD UBAYDILLAH 11170321000022
PRODI STUDI AGAMA-AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
Skripsi
Diajukan untuk memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S.Ag)
Disusun Oleh :
MUHAMAD UBAYDILLAH 11170321000022
PRODI STUDI AGAMA-AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
i
LEMBAR PERSETUJUAN
MAKNA SIMBOLIK PATUNG SLEEPING BUDDHA DI VIHARA BUDDHA DHARMA & 8 PHO SAT KEMANG BOGOR
Skripsi
untuk memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S, Ag)
Oleh:
Muhamad Ubaydillah NIM: 11170321000022
Pembimbing
Prof. Dr. M. Ikhsan Tanggok, M.Si
NIP: 19651129 199403 1 002
PROGRAM STUDI AGAMA-AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
LEMBAR PERNYATAAN
Yang bertnda tangan dibawah ini Nama : Muhammad Ubaydillah
NIM : 1117032100022
Fakulas : Ushuludin
Jurusan Prodi : Studi Agama-agama
Judul Skrips : “MAKNA SIMBOLIK PATUNG SLEEPING BUDHA DI VIHARA BUDDHA DHARMA & 8 PHO SAT KEMANG BOGOR”
Dengan ini saya menyatakan bahwa
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah stau persyaratan memperoleh gelar Strata Satu (S-1) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syari Hidayatullah Jakarta 3. Jika kemudian hari terbukti bahwa karya saya ini bukan asli saya atau
merupakan jiplakan dari orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidyatullah Jakarta
Jakarta, 5 Mei 2021
iii
PENGESAHAN PANITIA UJIAN
ABSTRAK
MUHAMAD UBAYDILLAH, "MAKNA SIMBOLIK PATUNG SLEEPING BUDDHA DI VIHARA BUDDHA DHARMA & 8 PHO SAT KEMANG BOGOR,” skripsi. Program Studi Agama-agama Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penelitian ini bertujuan untuk mendekskripsikan Makna Simbolik Patung Sleeping Buddha di Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat Kemang Bogor. Dalam hal ini penulis berusaha memahami Makna Simbolik Patung Sleeping Buddha di Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat Kemang Bogor.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Studi Lapangan, Metode yang penulis gunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode kualitatif. Adapun pendekatan yang penulis gunakan yaitu pendakatan Antropologi, Lankah selanjutnya yaitu Library Research (Studi Kepustakaan). Dengan kata lain penulis melakukan penelitian dengan cara membaca, mempelajari, membedah, dan meneliti Buku, E-Book, Jurnal dan Ensiklopedia semaksimal mungkin sesuai data yang dibutuhkan dalam penulisan skripsi ini. Penulis berusaha untuk menjelaskan hasil penelitian berdasarkan pengamatan yang telah penulis lakukan selama beberapa hari di Makna Simbolik Patung Sleeping Buddha di Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat Kemang Bogor.
Patung Buddha Tidur di Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat, didirikan sebagai penghormatan kepada Sang Buddha. Posisi Patung Buddha Tidur didirikan dengan posisi berbaring kearah kanan yaitu posisi wafatnya Sang Buddha atau Mahaparinibbana. Patung Buddha Tidur ini juga bisa diartikan sebagai posisi manfaat tidur. Manfaat tidur miring ke kanan yaitu untuk mencegah terjadinya penyakit jantung koroner, selain itu tidur miring ke kanan memberikan manfaat agar tidak memberatkan kerja jantung dan untuk membantu renovasi fungsi jantung. Tidur miring ke kanan juga membantu kelancaran buang air besar.
Pada Patung Buddha Tidur ini terdapat tanda Swastika di dada, Swastika merupakan simbol kuno yang telah digunakan oleh berbagai budaya untuk melambangkan kehidupan, matahari, kekuasaan, kekuatan, dan keberuntungan. Begitu pula dalam tradisi ajaran agama Buddha, swastika melambangkan hal-hal yang baik dan positif. Selain itu, swastika juga merepresentasikan jejak kaki Sang Buddha (Buddhapada). Swastika kerap kali digunakan sebagai tanda atau icon dalam sebuah teks Buddhis. Di Cina dan di Jepang, swastika digambarkan sebagai simbol kemajemukan, kebahagiaan, kesejahteraan, dan umur yang panjang. Saat ini, swastika masih digunakan sebagai tanda istimewa pada patung-patung Sang Buddha dan wihara-wihara. Dan ada titik merah di dahi yaitu sebagai tanda bahwa Sang Buddha berasal dari India, pada telapak kaki juga terdapat roda yang menggambarkan Roda Dharma. Roda Dharmaitu sendiri memiliki delapan ruas yang merupakan perlambangan dari Jalan Mulia Berunsur Delapan. Lingkaran atau bentuk roda memiliki makna hukum sebab akibat (Karma) dimana saling berkaitan satu sama lain.
v
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. WbSegala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Skripsi yang penulis beri judul “Makna Simbolik Patung Sleeping Buddha di Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat Kemang Bogor”, skripsi ini disusun untuk memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S,Ag) Progrsm Studi Agama-agama Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dalam penulisan skripsi ini penulis menyadari bahwa skripsi yang jauh dari kata sempurna ini tidak akan dapat selesai tanpa adanya dukungan dari banyak pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terimakasi kepada banyak pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini, khususnya kepada:
1. Kedua Orang tua tercinta yang selalu memberikan nasihat, motivasi, saran, dukungan baik moril maupun materil. Semoga penulis sebagai anak tercinta bisa membalas semua perjuangan Ayahanda Nurhasan dan Ibunda Ummah, dan tidak lupa ucapan trimakasih penulis kepada kakak-kakak tersayang Ujli dan Siti Maymunah yang telah memberikan motivasi, doa dan dukungan.
2. Bapak Syaiful Azmi, MA., selaku Kepala Jurusan Studi Agama-agama dan Ibu Lisfa Sentosa Aisyah, MA., selaku Sekertaris Jurusan Studi Agama-agama yang telah memberikan arahan dan Motivasi yang luar biasa kepada penulis dan selalu memberikan pelayanan yang terbaik kepada mahasiswa/i dengan baik.
3. Ibu Dra. Hj. Hermawati, MA dan Ibu Siti Nadroh S.Ag., M.Ag yang telah memberikan arahan dan motivasi kepada penulis dalam pengambilan Judul skripsi ini.
4. Bapak Dr. Ahmad Rido DESA sebagai dosen Penasehat Akademik yang telah meluangkan banyak waktu sehingga terciptanya proposal judul skripsi ini.
5. Bapak Prof. Dr. M. Ikhsan Tanggok, M. Si, sebagai dosen pembimbing yang selalu meluangkan waktu serta kesabaran untuk memberikan arahan dan bimbingan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
6. Seluruh dosen Studi Agama-Agama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang tidak dapat disebutkan satu persatu tanpa mengurangi rasa hormat atas ilmu dan pelajaran dalam perkuliahan atau di luar perkuliahan.
7. Seluruh jajaran pimpinan dan staff Fakultas Ushuluddin atas bantuan dalam persiapan pelaksanaan seminar proposal dan ujian komprehensif. 8. Bapak Andy Suwanto selaku Guru Spiritual Vihara Buddha Dharma & 8
Pho Sat kemang Bogor dan Bapak Andrean Halim selaku Sekretaris di Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat kemang Bogor yang telah berkenan memberikan izin penelitian sekaligus menjadi narasumber untuk melengkapi isi skripsi.
9. Trimakasi kepada teman-teman yang telah membantu dalam pembuatan skripsi ini penulis mengucapkan banyak trimakasi kepada Faiq, ilham, aidha, amel, febri, devita.
10. Trimakasi penulis ucak kepada teman-teman yang telah membantu dalam proses pengambilan judul yaitu kepada latifa, alvi, dila, dede winci, wulan, rodi, nawal, muria tidak lupa penulis ucapkan trimakasi kepada rekan KM yaitu irsyad dan juga keluarga besar anak kost bu dewi.
11. Trimakasi pula kepada teman-teman yang telah menemani penulis dalam pengerjaan skrisi ini yaitu trimakasi kepada yazid, fuji, tama, jeje. Trimakasi pula penulis ucapkan kepada teman-teman KKN 2020 kelompok 82. Trimakasi juga kepada seluruh para senior Studi Agama-agama.
12. Temen-temen alumni Mts Nurul Falah.
13. Seluruh teman-teman alumni Ponpes Darul Kholidin khususnya angkatan 15.
14. Seluruh teman-teman Studi Agama-Agama angkatan 2017 terimakasih sudah memberikan warna kehidupan di Fakultas Ushuluddin.
Sebagai manusia biasa yang tidak pernah luput dari kekurangan dan keterbatasan, penulis menyadari bahwa penelitian ini mungkin masih
vii
banyak kekurangannya. Oleh sebab itu, penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun untuk menyempurnakan penelitian ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Penulis mengharapkan penelitian ini bermanfaat bagi semua pihak dan dapat memenuhi apa yang diharapkan oleh semua pihak. Semoga Allah SWT memberikan keberkahan kepada kita semua. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Jakarta, 2 Agustus 2021
DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN ... i
LEMBAR PERNYATAAN ... ii
PENGESAHAN PANITIA UJIAN ... iii
ABSTRAK ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... x
BAB IPENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 5
D. Metode Penelitian ... 5
E. Tinjauan Pustaka ... 6
F. Kerangka Teori ... 7
G. Sistematika Penulisan ... 11
BAB IIGAMBARAN UMUM TENTANG VIHARA BUDDHA DHARMA & 8 PHO SAT KEMANG BOGOR ... 13
A. Sejarah Muncul dan Berkembang Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat Kemang Bogor ... 13
B. Bagian-bagian dari Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat Kemang Bogor ... 17
C. Kegiatan di Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat Kemang Bogor ... 26
BAB IIIMAKNA PATUNG DALAM AGAMA BUDDHA ... 30
A. Pengertian Patung Dalam Agama Buddha ... 30
ix
C. Proses Pensakralisasian Patung Dalam Agama Buddha. ... 37
BAB IVMAKNA PATUNG SLEEPING BUDDHA DI VIHARA BUDDHA DHARMA & 8 PHO SAT ... 40
A. Patung Sleeping Buddha Secara Umum ... 40
B. Makna Simbolik Patung Sleeping Buddha di Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat Kemang Bogor ... 44
C. Pandangan Jamaat Tentang Patung Sleeping Buddha di Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat Kemang Bogor. ... 49
BAB IVPENUTUP ... 53
A. Kesimpulan ... 53
B. Saran ... 54
DAFTAR PUSTAKA ... 56
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran I : Permohonan Pengajuan Proposal Skripsi Lampiran II : Permohonan Menguji Proposal Skripsi Lampiran III : Hasil Ujian Proposal Skripsi
Lampiran IV : Permohonan menjadi Pembimbing Skripsi Lampiran V : Surat Izin Observasi
Lampiran VI : Lembar Pernyataan Wawancara dengan Bapak Andy Suwanto Lampiran VII : Lembar Pernyataan Wawancara dengan Bapak Andrean Halim Lampiran VIII : Lembar Pernyataan Wawancara dengan Ibu Sheila
Lampiran IX : Lembar Pernyataan Wawancara dengan Bapak Ian Haji Lampiran X : Dokumentasi
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang MasalahDalam alur sejarah Agama-agama di India, zaman agama Buddha dimulai semenjak tahun 500 S.M. Hingga tahun 300 M. Secara historis agama tersebut mempunyai kaitan erat dengan agama yang mendahuluinya, namun mempunyai beberapa perbedaan dengan agama yang mendahuluinya dan yang datang sesudahnya, yaitu agama Hindu.1
Menurut pendapat Nasiman dan Nuswito dalam bukunya Pendidikan
Agama Buddha dan Budi Pekerti, agama memiliki beberapa fungsi
diantaranya yaitu :
1. Sebagai pemupuk rasa solidaritas artinya agama mampu menyatakan perbedaan melalui rasa solidaritas atau penghargaan yang tinggi terhadap agama orang lain.
2. Trasformatif artinya agama mampu mengubah kepribadian dan prilaku manusia dari yang buruk menjadi baik.
3. Kreatif artinya agama mampu mendorong umatnya menjadi produktif baik untuk diri sendiri maupun lingkungannya. Sublimatif artinya agama mampu menyucikan kehidupan manusia dari tiga akar kejahatan yaitu keserakahan, kebencian, dan kebodohan.
4. Edukatif artinya agama mampu mendidik masyarakat memiliki nilai-nilai spiritual yang tinggi.
5. Penyelamat artinya agama mampu menyelamatkan manusia dari penderitaan.
6. Kedamaian artinya agama mampu membuat masyarakat memiliki rasa damai dari kesalahan/dosa yang dibuatnya melalui tuntunannya.
1 Rahmat Fajri. Roni Imail. Khairullah Zikri, Agama-agama Dunia, (Yogyakarta, Jurusan
7. Kontrol sosial artinya agama mampu memelihara nilai-nilai sosial masyarakat melalui norma-norma yang diajarkan agamanya.2 Buddha merupakan sebuah agama dan filsafat yang meliputi beragam tradisi kepercayaan dan praktik yang diajarkan oleh Buddha Sakyamuni. Selain dikenal sebagai buddha Gautama. Ia juga memiliki nama Bhagava, Tathagata dan lain sebagainya.
Menurut catatan sejarah agama buddha lahir dan berkembang sekitar 6 abad SM di anak benua India bagian utara. Secara etimologi, kata Buddha ini berasal dari “Buddh” yang berarti bangun atau bangkit, dan dapat pula berarti pergi dari kalangan orang bawah atau awam.3
Agama buddha itu sendiri terletak pada sumbu penderitaan. Walaupun agama Buddha menekankan adanya penderitaan namun hal ini bukan berarti agama buddha adalah pesimistis, sebaliknya hal ini bukan pesimistis atau optimistis sama sekali, tetapi realistis. “penderitaan menimbulkan Kepercayaan (Saddha): Kepercayaan menimbulkan rasa gembira (pamajja): Rasa gembira menimbulkan kesenangan (Piti): Kesenangan menimbulkan ketenangan (pasadhi) : Ketenangan menimbulkan kebahagiaan (Sukha): kebahagiaan menimbulkan pemusatan pikiran (Samadhi): Konsentrasi menimbulkan Pengetahuan dan Pandangan akan benda-benda sebagaimana mereka adanya (Yathabhutananudassana): Pengetahuan dan benda-benda sebagai mana mereka adanya menimbulkan rasa benci (Nibbidha): Rasa benci menimbulkan ketidakmelekatan (Viraga): Ketidak melekatan menimbulkan Pelepasan (Vimutti): Pelepasan menimbulkan Pemadaman Nafsu Keinginan (Khaye Nana): yaitu Arahat.4
Secara garis besar ajaran agama buddha dapat dirangkum dalam tiga ajaran pokok, yaitu Buddha, dharma dan sangha. Ajaran tentang Buddha menakankan pada bagaimana umat buddha memandang Sang Buddha Gautama sebagai pendiri agama Buddha dan asas rohani yang dapat dicapai
2 Nasiman dan Nuswito, Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti, (Jakarta :
Kemantrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017), hlm. 46
3 Muhammad Ali Imron, Sejaraah Terlengkap Agama-agama di Dunia, (Yugyakarta :
IRCiSoD, 2015), hlm. 116
4 Alm. Ven. Narada Mahathera, Sang Buddha dan Ajaran-ajarannya, (Jakarta: Yayasan
3
oleh setiap makhluk hidup. Pada perkembangan selanjutnya ajaran tentang buddha ini berkaitan pula dengan masalah ketuhanan yang menjadi salah satu ciri semua agama. Ajaran tentang dharma banyak membicarakan masalah-masalah yang dihadapi manusia dalam hidupnya. Ajaran tentang sangha, selain mengajarkan umat buddha memandang sangha sebagai pasamuan para bhikkhu, juga berkaitan dengan umat buddha yang menjadi tempat para bhikkhu menjalankan dharmanya, juga dengan pertumbuhan dan perkembangan agama buddha, baik ditempat kelahirannya di India maupun di tempat-tempat agama tersebut berkembang.5
Nama Buddha itu sendiri diambil dari nama pendirinya, Sidharta Gautama (563-483 SM) yang lebih dikenal dengan panggilan Buddha. Sidharta Gautama atau Buddha Gutm (563-483 SM).6 Peristiwa yang diperingati dalam kehidupan Buddha adalah Hari Waisak (Hari Kelahirannya).7 Buddha Gautama menghabiskan 45 tahun dari 80 tahun usianya untuk berkhotbah dan menyebarkan ajarannya. Selama 45 tahun itu, Buddha Gautama mengajar dan berkhotbah siang maupun malam dan hanya tidur dua jam sehari. Buddha berbicara dengan semua kalangan manusia Raja, Pangeran, Brahmana, Petani, Pengemis, Kaum Terpelajar, dan Orang Biasa. Ajarannya disesuaikan dengan pengalaman, tingkat pemahaman, dan kapasitas mental pendengarnya. Apa yang diajarkannya dinamakan Buddha Vacana.8
Ketika mencapai usia ke-80, Sang Buddha mengalami sakit karena faktor usia yang semakin menua. Namun, berkat kekuatan batinnya. Sang Buddha mampu mengatasi rasa sakit tersebut. Batin Sang Buddha selalu bersinar laksana berlian, meskipun jasmaniNya telah mulai melemah.9 Dan pada usia ini pula Buddha mencapai Mahaparinibbana atau wafatnya sang buddha, patung buddha tidur merupakan gambaran posisi wafatnya sang buddha
5 Rahmat Fajri. Roni Imail. Khairullah Zikri, Agama-agama Dunia, (Yogyakarta, Jurusan
Perbandingan Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Belukar, 2012), H. 121
6 Rosmani Ahmad, Jurnal : Gerakan-Gerakan Spiritual Dalam Komunitas Buddha,
Analytica Islamica, Vol, 1, No. 1, 2012. Hlm. 164
7 Bhikku Bhodhi, Buddha & Pesannya, (Jakarta : Dian Dharma, 2006), Hlm. 2
8 Effendie Tanumihardja. Sapardi, Herino, BUKU AJARAN MATA KULIAH WAJIB PENDIDIKAN AGAMA BUDDHA, (Direktorat Jendral Pembelajaran dan Kemahasiswaan
Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, 2016), hlm. 4
9 Sulan. Karsan, Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti, (Jakarta : Pusat Kurikulum
dengan posisi tidur ke arah kanan, dan salah satu patung Buddha tidur yang ada di indonesia yaitu patung Buddha tidur di Kampung Jati Rt 02/06 Desa Tonjong Kecamatan Tajur Halang Kemang Bogor dengan nama Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat, merupakan satu-satunya patung Buddha tidur terbesar yang ada di Provinsi Jawa Barat, dengan panjang 18 meter dan tingginya 4,75 meter, yang membedakan Buddha tidur ditempat ini dengan yang lain yaitu salah satunya ada pada lambang swastika yang mempunyai makna kedamaian yang ada di dada patung Buddha tidur tersebut dan juga ada titik merah yang ada di dahi patung Buddha tidur tersebut sebagai simbol India negara asal Buddha Gautama.10
Dari penjelasan latar belakang diatas penulis tertarik untuk meneliti tentang Makna Simbolik Patung Sleeping Buddha. Patung Sleeping Buddha ini sangat menarik untuk diteliti karena masih banyak masyarakat terutama dikalangan mahasiswa yang belum mengetahui bahwa Patung Sleeping Buddha atau Patung Buddha Tidur adalah patung Buddha dengan posisi Buddha Gautama yang sedang tertidur, padahal Patung Sleeping Buddha itu sendiri adalah posisi wafatnya sang Buddha. Penulis juga mengangkat kata Makna yaitu untuk menjelaskan lebih dalam tentang Maksud serta Arti objek yang akan diteliti, jika penulis tidak menggunakan kata Makna maka pembahasan tentang objek yang akan diteliti hanya secara global atau tidak mendalam. Masih banyak makna dan peranan Buddha tidur. Maka penulis tertarik untuk mengkaji tentang Makna Simbolik Patung Sleeping Buddha, maka dari itu skripsi ini diberi judul: “MAKNA SIMBOLIK PATUNG
SLEEPING BUDDHA DI VIHARA BUDDHA DHARMA & 8 PHO SAT KEMANG BOGOR”
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah yang telah dipaparkan, maka Penulis mengangkat pokok-pokok permasalahan dalam sekripsi ini sebagai berikut : Apa Makna Patung Sleeping Buddha di Vihara Buddha Dharma & 8 Phosat?
10 Andy Suwanto Dhanujaya, Vihara Buddha Dharma & 8 Pho sat (Sleeping Buddha),
5
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penulisam skripsi ini yaitu :
a. Untuk mengetahui Apa Makna Patung Buddha Dharma di Vihara Buddha Dharma 8 Phosat.
b. Secara akademis skripsi ini bertujuan untuk memenuhi syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana di Prodi Studi Agama-agama Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta
2. Manfaat Penulisan
Penulis berharap semoga skripsi ini menjadi pijakan awal untuk pengembangan tentang MAKNA SIMBOLIK PATUNG SLEEPING BUDDHA. Penulis juga berharap dengan adanya skripsi ini bisa menambah bahan pustaka tentang MAKNA SIMBOLIK PATUNG SLEEPING BUDDHA.
D. Metode Penelitian
Metode yang penulis gunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode kualitatif. Yang dimaksud kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak bisa diperoleh dengan menggunakan prosedur-prosedur statistic atau cara-cara lain dari kuantitatif. Penelitian kualitatif secara umum dapat digunakan untuk penelitian tentang kehidupan masyarakat, sejarah, tingkahlaku, fungsionalisasi organisasi, aktivitas sosial, dan lain-lain.11
Adapun pendekatan yang penulis gunakan yaitu yang pertama pendakatan Antropologi. Pendekatan ini berupaya memahami kebudayaan-kebudayaan produk manusia yang berhubungan dengan agama. Sejauh mana agama memberi pengaruh terhadap budaya dan sebaliknya, sejauh mana kebudayaan suatu kelompok masyarakat memberi pengaruh terhadap agama. Menurut Clifford Geertz dapat dipahami bahwa
11 Pupu saeful Rahmah, Jurnal : Penelitian Kualitatif, EQUILIBRIUM,Vol. 5, No. 9,
Antropologi secara umum selalu melibatkan “lukisan mendalam.” Tugasnya, bukan semata mendeskripsikan (melukiskan) struktur suku-suku primitif atau bagian-bagian ritual yang lebih khusus.12
Adapun jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Studi Lapangan yaitu penulis mendatangi Vihara tempat penulis tuju untuk mengadakan penelitian yaitu : Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat di Kp. Jati Rt 02/06 Desa Tonjong Kec. Tajur Halang Kemang Bogor. Untuk memperkaya data atau bahan yang dianggap sangat diperlukan dengan melakukan wawancara pribadi dengan pengurus Vihara tersebut, demi untuk hasil yang maksimal dan baik.
Langkah selanjutnya yaitu Library Research (Studi Kepustakaan). Artinya, penelitian dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan secara sistematis untuk mengumpulkan, mengolah, dan menyimpulkan data dengan menggunakan metode/teknik tertentu guna mencari jawaban atas permasalahan yang dihadapi dalam penelitian kepustakaan.13 Dengan kata lain penulis melakukan penelitian dengan cara membaca, mempelajari, membedah, dan meneliti Buku, E-Book, Jurnal dan Ensiklopedia semaksimal mungkin sesuai data yang dibutuhkan dalam penulisan skripsi ini.
Sedangkan tehnik penulisan skripsi ini, penulis menggunakan buku pedoman penulisan karya ilmiah berupa Skripsi, Tesis dan Disertasi yang ditetapkan oleh Universitas Islam Negri Jakarta, 2017.
E. Tinjauan Pustaka
Dalam tinjauan pustaka ini penulis akan menunjukan beberapa karya tulis ilmiah yang telah dibahas tentang patung sleeping Buddha, untuk menunjukan orisinilitas karya tulis ilmiah ini. Dibawah ini merupakan beberapa penulis yang pernah menulis atau sekilas mirip dengan penulis gunakan yaitu:
12 Media Zainul Bahri, Wajah Studi Agama-agama, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2015),
hlm. 48-53
7
1. Skripsi Salwa Anwar Mahasiswa Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta yang berjudul “Makna Simbolik Patung Mi Lek Hut dan Patung Ta Oi Lao Shi di Vihara Dharma Jaya di Pasar Baru Jakarta Pusat” Skripsi ini membahas tentang makna relif dan bentuk relif Patung Mi Lek Hut dan Patung Ta Oi Lao Shi di Vihara Dharma Jaya (Sin Tek Bio) di Pasar Baru Jakarta Pusat. Yang di fokuskan pokok permasalahannya adalah makna relif dan bentuk relif Patung Mi Lek Hut dan Patung Ta Oi Lao Shi.14
2. Skripsi Choirulnisah Trisnayanti Mahasiswa institut Seni Indonesia Surakarta yang berjudul “Studi Bentuk dan Bentuk Makna Relif Candi Sojiwan”. Skripsi ini membahas tentang makna relif dan bentuk relif Candi Sojiwan. Yang di fokuskan pokok permasalahannya adalah makna relif dan bentuk relif Candi Sojiwan.15
3. Skripsi Yosanthi Sinthike Hutabarat Mahasiswa Departemen Sastra Cina Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan yang berjudul “Fungsi dan Makna Patung Dewi Kwan Im Pada Vihara Avalokitesvera Bagi Masyarakat Tionghoa di Pematang Siantar”, Skripsi ini membahas tentang Fungsi dan Makna Patung Dewi Kwan Im. Yang di fokuskan pokok permasalahannya adalah Fungsi dan Makna Patung Dewi Kwan Im.16
Dari ketiga judul diatas, bahwa judul yang penulis angkat yaitu Makna Agamis Patung Sleeping Buddha di Vihara Buddha Dharma & 8 Phosat Kemang Bogor, dapat dipastikan bahwa belum ada penelitian ilmiah yang membahas dengan detail.
F. Kerangka Teori
1. Makna simbolik
Makna adalah pertautan yang ada di antara unsur-unsur bahasa itu sendiri (terutama kata-kata). Menurut Lyons dan
14http://repository.uinjkt.ac.id Diakses pada tanggal 1 Februari 2021 pukul 13:35 WIB 15https://repository.isi-ska.ac.id diakses pada tanggal pada 1 Februari 2021 pukul 14:10
WIB
Mastansyir, bahwa makna merupakan suatu konsep, pengertian, ide, atau gagasan yang terdapat dalam sebuah satuan ujaran baik berupa sebuah kata, gabungan kata, maupun yang lebih besar lagi. Makna berupa penjelasan yang disampaikan atau diujarkan oleh seseorang kepada orang lain baik tertulis maupun secara lisan.17
Kata simbol berasal dari kata Yunani Simbolon yang berarti tanda atau ciri yang memberitahu sesuatu hal kepada seseorang. WJS Poerwadarwinta, dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa simbol atau lambang ialah sesuatu seperti: tanda, lukisan, perkataan, lencana dan sebagainya.18
Dalam kehidupan, manusia selalu menggunakan lambang atau simbol. Oleh karena itu, Eams Cassier, seorang sarjana dan filsuf mengatakan bahwa manusia adalah makhluk bersimbol. Hampir tidak ada kegiatan yang tidak terlepas dari simbol.
Firth mengemukakan bahwa simbol dalam kehidupan manusia memiliki fungsi sebagai berikut.
a. Fungsi Komunikasi
Fungsi simbol sebagai saran komunikasi mengacu pada hubungan antara simbol dengan makna atau pesan yang disampaikan melalui simbol tersebut. Fungsi simbol sebagai sarana komunikasi juga mengacu pada fungsi simbol sebagai penyampai pesan, ide, pikiran, dan perasaan oleh pengirim kepada penerima. Simbol dan komunikasi merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan karena komunikasi tidak akan berlangsung bila tidak ada simbol-simbol yang dipertukarkan.
b. Fungsi Pengetahuan
17 Sofia Filiandini, Jurnal : Makna Simbolik Upacara Kayori Suku Pendau di Desa Tovia Tambu Kecamatan Balaesang, Jurnal Bahasa dan Sastra Volume 4 No 1 (2019), hlm 85
18 Agustiono A, Jurnal : Makna Simbol Dalam Kebudayaan Manusia, Jurnal Ilmu
9
Pengetahuan berkaitan dengan segala sesuatu hal yang diketahui seseorang berdasarkan pengalaman atau karena dipelajari. Simbol sebagai produk budaya dapat dipelajari berdasarkan pengetahuan yang ada pada manusia atau berdasarkan pengetahuan tentang dunia. Pengetahuan pada dasarnya mengacu pada suatu keyakinan, ide atau pikiran yang diperoleh dari Jurnal Bahasa dan Sastra informasi atau dari pihak lain yang memberikan kontribusi atas informasi yang diperoleh.
c. Fungsi Mediasi
Istilah mediasi sering digunakan dalam dunia pendidikan khususnya dalam pembelajaran yang dikenal dengan media pembelajaran. Namun, istilah ini sebenarnya dapat digunakan dalam berbagai bidang kegiatan. Kata media berasal dari bahasa Latin, dari kata medius yang berarti ‘tengah’, ‘pengantar’, dan ‘perantara’. Media dalam konteks ini dipahami sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan informasi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa media merupakan sarana yang dapat digunakan sebagai sarana perantara. Media juga dapat dipandang sebagai segala sesuatu yang dapat mengantar pesan atau sebagai saluran komunikasi. d. Fungsi Partisipasi
Simbol dalam kehidupan masyarakat memiliki fungsi tertentu. Salah satu fungsi simbol itu adalah sebagai fungsi partisipasi. Simbol sebagai fungsi partisipasi mengacu pada dukungan atau partisipasi masyarakat berkenaan dengan nilai-nilai
simbol yang tercermin dalam segala aspek kehidupan sehari-hari. Berkaitan dengan simbol, terdapat pandangan yang menyatakan bahwa salah satu sifat dasar manusia adalah kemampuannya menciptakan dan menggunakan simbol.
Kemampuan manusia menciptakan dan
menggunakan simbol mengindikasikan bahwa manusia telah memiliki kebudayaan yang tinggi dalam berinteraksi dan berkomunikasi antar sesama anggota masyarakat.19
2. Patung
Patung adalah benda tiga dimensi karya manusia yang diakui secara khusus sebagai suatu karya seni. Orang yang menciptakan patung disebut pematung. Tujuan penciptaan patung adalah untuk menghasilkan karya seni yang dapat bertahan selama mungkin.
Menurut Susanto seni patung adalah sebuah tipe karya tiga dimensi yang bentuknya dibuat dengan metode subtraktif (mengurangi bahan seperti memotong, menatah) atau aditif (membuat model lebih dulu seperti mengecor dan mencetak). Sedangkan menurut Soenarso dan Soeroto, Seni Patung adalah semua karya dalam bentuk meruang. Menurut Kamus Besar Indonesia adalah benda tiruan, bentuk manusia dan hewan yang cara pembuatannya dengan dipahat. Selanjutnya B. S. Mayer mendefinisi-kan Seni patung adalah karya tiga dimensi yang tidak terikat pada latar belakang apa pun atau bidang manapun pada suatu bangunan. Karya ini diamati dengan cara mengelilinginya, sehingga harus nampak mempesona atau terasa mempunyai makna pada semua seginya. Selain itu Mayer menambahkan bahwa seni patung berdiri sendiri dan memang benar-benar berbentuk tiga
19 Sofia Filiandini, Jurnal : Makna Simbolik Upacara Kayori Suku Pendau di Desa Tovia
11
dimensi sehingga dari segi manapun kita melihatnya, kita akan dihadapkan kepada bentuk yang bermakna. Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa karya seni memiliki media yang sangat luas. Segala hal mampu menjadi aspek pendukung dalam terciptanya karya seni, yang perwujudan salah satunya adalah karya seni patung.
Cabang seni rupa tiga dimensi ini merupakan perwujudan ekspresi dan kreasi manusia. Kata bentuk dalam seni rupa diartikan sebagai wujud yang terdapat di alam dan yang tampak nyata. Sebagai unsur seni, bentuk hadir sebagai manifestasi fisik dari obyek yang dijiwai yang disebut juga sebagai sosok (dalam bahasa Inggris disebut form). Misalnya membuat bentuk manusia, binatang dsb. Ada juga bentuk yang hadir karena tidak dijiwai atau secara kebetulan (dalam bahasa Inggris disebut shape) yang dipakai juga dengan kata wujud atau raga. Di Indonesia pada masa lampau sudah dikenal patung primitif seperti yang terdapat di Irian Jaya (Asmad) dan Sulawesi Selatan (Toraja). Menurut pendapat Musoiful Faqih pada masa Hindu-Budha patung klasik terutama berkembang di Jawa dan Bali. Karya patung primitif dan klasik secara tradisional berlangsung turun temurun hingga sekarang. Selanjutnya primitif dan klasik disebut corak tradisional sedangkan patung di luar primitif dan klasik disebut patung yang bercorak modern.20
G. Sistematika Penulisan
Penulisan Skripsi ini terbagi menjadi beberapa bab dan sub bab yaitu :
BAB I : PENDAHULUAN
Bab Pendahuluan Merupakan bab yang terdiri dari lima sub bab, yang berisi antara lain : Latar Belakang Masalah,
20 Aceng Hasani, JURNAL : MEMBACA BAHASA DAN SASTRA INDONESIA, Banten :
rumusan masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Metode Penelitian, Sistematika Penulisan, Kerangka Teori.
BAB II : GAMBARAN UMUM VIHARA BUDDHA DHARMA
& 8 PHOSAT
Bab ini menjelaskan tentang sejarah dan Perkembangan Vihara Buddha Dharma & 8 Phosat, serta Aktivitas Sosial Keagamaaan yang ada di Vihara Buddha Dharma & 8 Phosat.
BAB III : PATUNG DALAM AGAMA BUDDHA
Bab ini menjelaskan tentang Pengertian Patung, Makna dan Fungsi Patung serta Proses Pensakralisasian Patung
BAB IV : MAKNA PATUNG SLEEPING BUDDHA DI
VIHARA BUDDHA DHARMA & 8 PHOSAT
Bab ini menjelaskan tentang Patung Sleeping Buddha Secara Umum, Makna Simbolik Patung Sleeping Buddha serta Pandangan Jamaat Tentang Patung Sleeping Buddha di Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat Kemang Bogor
BAB V : PENUTUP
Bab ini berisi Kesimpulan dari semua yang telah dipaparkan oleh penulis dan Saran-saran dari penulis.
DAFTAR PUSTAKA DAFTAR LAMPIRAN
13
BAB II
GAMBARAN UMUM TENTANG VIHARA BUDDHA
DHARMA & 8 PHO SAT KEMANG BOGOR
A. Sejarah Muncul dan Berkembang Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat Kemang Bogor
Di kalangan masyarakat Buddha ada ramalan yang menyatakan bahwa 2500 tahun setelah wafatnya Sang Buddha, agama Buddha akan lenyap dari muka bumi atau akan berkembang dengan pesat di muka bumi. Namun 2500 tahun setelah wafatnya Sang Buddha yaitu tahun 1956 yang dikenal dengan 2500 tahun Buddha Jayanti.
Tahun 1956 ini yang diramalkan sebagai tahun yang menyediakan lubang kubur bagi agama Buddha, ternyata tahun, 1956 agama Buddha berkembang sangat pesat penyebarannya begitu cepat dan meluas.21 Begitu juga perkembangan agama Buddha di Indonesia, tidak bisa di pungkiri perkembangan agama Buddha begitu cepat, agama Buddha sendiri banyak berpengaruh bagi Indonesia, dimulai dari budaya, adat istiadat dan lain sebagainya sehingga menambah kekayaan Indonesia. Penyebaran agama Buddha di Indonesia sangat cepat tersebar meluas, hingga sampai ke daerah Bogor.
21 Oka Diputhara, Agama Buddha Bangkit, (Arya Suryacandra Berseri, 2006), hlm. 25
AGAM
A ISLAM KRISTEN KHATHOLIK DU HIN BUDDHA KONGHUCU KEPERCAYAAN JUMLAH BOGOR SELAT AN 186,241 8,405 4,515 107 2,211 103 11 201,593 BOGOR TIMUR 91,430 6,232 4,347 92 1,439 42 0 103,582 BOGOR TENGA H 174,654 8,777 3,323 54 2,336 80 3 189,227 BOGOR BARAT 94,588 5,447 3,370 260 712 73 8 104,458
Tabel 1 : Jumlah pemeluk agama di kota Bogor tahun 2019
22
No Nama Kabupaten Kota Jumlah Vihara
1. Bogor Selatan 2 2. Bogor Timur 3 3. Bogor Tengah 2 4. Bogor Barat 0 5. Bogor Utara 0 6. Bogor Sareal 1 Jumlah 9
Tabel 2 : Data Jumlah Sarana Ibadah Menurut Kota Bogor.23
Berdasarkan data diatas penulis menyimpulkan bahwa jumlah penganut agama Buddha terbanyak ada di daerah Bogor Tengah dengan jumlah 2,336. Untuk jumlah penganut agama Buddha terbanyak kedua ada pada daerah Bogor Selatan dengan jumlah 2,211. Dari tabel diatas total penganut agama Buddha di kota Bogor dengan jumlah 2.096,986. Untuk rumah ibadah agama Buddha (Vihara) yang ada di kota Bogor berjumlah 9. Salah satunya ada di Kp. Jati Rt 06/02 Desa Tonjong Kecamatan Tajurhalang Kabupaten Bogor, dengan nama Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat.
Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat, merupakan sebuah Vihara sejak dari awal pembangunan bukan berawal dari kelenteng lalu berubah menjadi Vihara melainkan memang sejak dari awal berdiri tempat ini adalah Vihara, berdiri sejak tahun 2006 yang beralamat di Kp. Jati Rt
22 Jumlah pemeluk agama dikota Bogor tahun 2019,
https://data.kotabogor.go.id/user/detailstatistik/190 diakses pada tanggal 24 Februari 2019 Pukul 00:18
23 PENYUSUNAN LAYANAN PERSAMPAHAN KOTA BOGOR,
https://sanitasi.kotabogor.go.id diakses pada tanggal 24 Februari 2019 Pukul 00:14 BOGOR UTARA 229,412 5,662 2,703 356 767 46 12 238,958 TANAH SEREA L 199,8 64 6,591 3,195 215 612 40 3 210,520
15
06/02 Desa Tonjong Kecamatan Tajurhalang Kabupaten Bogor, didirikan oleh Bapak Andy Suwanto Danud Jaya. Vihara ini merupakan Vihara 8 Pho Sat pertama dan berdiri sendiri bukan berdasarkan cabang dari Vihara manapun atau lain sebagainya.24
Sebelum membahas lebih jauh, Vihara dan Kelenteng memiliki beberapa perbedaan diantaranya, Vihara adalah rumah ibadah agama Buddha, bisa juga dinamakan Kuil. Terdapat juga istilah Kelenteng yang dapat diartikan sebagai rumah ibadah penganut Taoisme, maupun Konfuciusisme, namun di Indonesia terjadi sedikit perbedaan penafsiran terhadap istilah ini, karena orang yang datang ke Vihara/Kuil/Kelenteng, umumnya adalah etnis Tionghoa, maka menjadi agak sulit untuk dibedakan. Banyak dari khalayak umum yang tidak mengerti perbedaan dari Kelenteng dan Vihara. Kelenteng dan Vihara pada dasarnya berbeda dalam arsitektur, umat dan fungsinya. Rancangan bangunan Kelenteng dibuat dengan langgam arsitektur tradisional Tionghoa, berfungsi untuk kegiatan keagamaan dan spiritual juga dapat berfungsi sebagai tempat aktivitas sosial masyarakat. Sedangkan, bangunan Vihara memiliki rancangan bangunan yang berasimilasi dengan arsitektur lokal dan cenderung berfungsi kegiatan spiritual. Namun ada beberapa Vihara yang memiliki rancangan arsitektur tradisional Tionghoa seperti pada Vihara Buddhis aliran Mahayana dari Tiongkok.25 Orientasi bangunan pada Kelenteng maupun Vihara adalah menghadap selatan, dimana selatan dianggap sebagai arah yang baik. Orientasi bangunan yang menghadap selatan dipilih menurut tradisi Cina (Feng Shui) dan arsitektur Cina.26
Nama Vihara ini memiliki arti sebagai berikut Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat.
1. Vihara sendiri adalah tempat ibadah umat Buddha.
24 Wawancara Pribadi dengan Bapak Andrean Halim, selaku sekretaris di Vihara Buddha
Dharma & 8 Pho Sat Kemang Bogor. 9 Februari 2021.
25 Novrizal Primayudha dkk, Jurnal : MAKNA PENERAPAN ELEMEN INTERIOR PADA BANGUNAN VIHARA SATYA BUDHI-BANDUNG, Jurnal Rekajiva Desain Interior Itenas, Jurnal
Online Institut Teknologi Nasional, No.01| Vol. 02, 2014, hlm 14
26 Jenny Irawan dkk, Jurnal : Kajian Perbedaan Interior Ruang antara Vihara dan Klenteng di Tarakan, JURNAL INTRA Vol. 3, No. 2, (2015). hlm. 515
2. Buddha adalah perlindungan yang digambarkan oleh Siddharta Gautama, bukan berarti berlindung kepada Siddharta Gautama semata, melainkan berlindung kepada Buddha sebagai manifestasi dari Bodhi (kebuddhaan) yang mengatasi keduniawian.
3. Dharma adalah sebagai ajaran kebenaran atau sebagai perlindungan dalam bentuk Hukum Kesunyataan atau kebenaran Yang Mutlak atau Paramartha Satya. Secara filosofis, Sunyata berarti Dharmakaya (tubuh halus Buddha, asal Kebuddhaan).27
4. Dan 8 Pho Sat artinya yang tertinggi dan yang telah mencapai penerangan sempurna selain itu 8 Pho Sat merupakan 8 bodhisattva atau 8 dewa yang sering dilafalkan oleh Bapak Andy Suwanto dari sejak masih muda.
Berangkat dari sinilah nama Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat tercipta, luas awal bangunan Vihara ini yaitu 600 meter yang merupakan sumbangan dari Bapak Andy Suwanto sendiri selaku pendiri, seiring berjalannya waktu banyak para donatur dan jemaat yang menyumbangkan hartanya untuk perluasan Vihara ini, dan hingga saat ini luas bangunan Vihara ini mencapai 6.500 meter.28
Proses pembangunan Vihara ini memerlukan waktu kurang lebih 1 tahun. Dalam kurun waktu tersebut, Bapak Andy suwanto dan jajaran pengurus sangat khawatir dengan keuangan yang dimiliki pada waktu itu, berkat doa dari semua rekan-rekan, akhirnya pembangunan terselesaikan tanpa kekurangan dana sepeserpun. Vihara ini didirikan pada tahun 2006 dan diresmikan pada tahun 2007 oleh Departemen Agama. Pada tahun 2012 Bapak Andy Suwanto melanjutkan pembangunannya dengan membangun Patung Buddha Tidur, dan untuk kenyamanan umat melakukan persembahyangan maka dilakukan renovasi ruangan 8 Pho Sat pada tanggal 18 September 2016 dan selesai pada tanggal 2 Mei 2017.29
27 Marga Singgih, Tridharma Selayang Pandang, (Jakarta : Perkumpulan Tridharma,
2016), hlm. 16-17
28 Wawancara Pribadi dengan Bapak Andrean Halim, selaku sekretaris di Vihara Buddha
Dharma & 8 Pho Sat Kemang Bogor. 9 Februari 2021.
29 Andy Suwanto Dhanujaya, Vihara Buddha Dharma & 8 Pho sat (Sleeping Buddha),
17
B. Bagian-bagian dari Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat Kemang Bogor
Setiap agama memiliki tempat ibadahnya sendiri. Untuk agama Buddha, memiliki tempat ibadah bernama Vihara. Dalam setiap Vihara memiliki ruangan yang berbeda pada umumnya terdapat patung sang Buddha untuk dipuja, ruang khotbah, ruang untuk upacara Bhikku dan tempat tinggal para Bhikku dan lain sebagainya.30
Bangunan yang dibangun dapat menghadirkan kenyamanan secara fisik maupun spiritual. Bangunan yang didirikan akan mendatangkan kemakmuran, kebahagiaan, kedudukan/jabatan, panjang umur dan keturunan bagi penggunanya.31
Dalam Vihara Buddha dharma & 8 Phosat terdapat beberapa ruangan dan rupang-rupang yang memiliki makna dan sejarah tersendiri diantaranya yaitu:
1. Giok Hong Shang Tee
Giok Hong Shang Tee adalah Maha Dewa tertinggi pelaksana memerintah alam semesta. Giok Hong Shang Tee ini tidak terdapat rupang atau arca, hanya berbentuk bangunan dengan tulisan besar, Giok Hong Shang Tee adalah Sang Pencipta sehingga tidak dapat digambarkan dalam bentuk apapun.32
Untuk sembahyang kepadanya cukup disediakan sebuah pedupaan besar yang terletak di ruang utama, pedupaan ini dinamakan Tian Gong Lu (Hiolo Thi Kong). Giok Hong Shang Tee merupakan urutan pertama dalam persembahyangan sebelum kepada para dewa lainnya.
Pada zaman dahulu di Tiongkok, pemujaan dan upacara kepada Giok Hong Shang Tee hanya boleh dilakukan oleh kaisar dan keluarga kerajaan yang dipimpin oleh kaisar sendiri sebagai
30 Aprilia Pratama, Jurnal : Perancangan Interior Vihara Buddhayana Surabaya,
Surabaya, JURNAL INTRA Vol. 5, No. 2, (2017), hlm. 19
31 Tecky Hendrarto dkk, Jurnal : Penggunaan Prinsip Fengsui dalam Penentukan Ruang Ibadah Pada Wihara Pemancar Keselamatan Kota Cirebon, Bandung, Jurnal Arsitektur
TERRACOTTA | No.1 | Vol. I |, 2019, hlm. 22-23
32 Wawancara Pribadi dengan Bapak Andrean Halim, selaku sekretaris di Vihara Buddha
pemimpin Upacara, dengan dibantu anggota keluarganya dan para petinggi kerajaan yang lain. Upacara sembahyang kepada Giok Hong Shang Tee dilakukan di ruang altar kerajaan yang disebut Tian Tan (kuil langit). Di Tian Tan ini kaisar dan keluarga melakukan persembahyangan kepada Giok Hong Shang Tee. Mereka beranggapan bahwa Giok Hong Shang Tee adalah leluhur mereka dan memberikan mandat kepada mereka untuk memerintah di bumi ini.
Sedangkan rakyat biasa tidak diperbolehkan memuja Giok Hong Shang Tee, karena persembahnyangan kepada Giok Hong Shang Tee hanya boleh dilakukan oleh keluarga kerajaan. Rakyat biasa hanya melakukan persembahyangan di rumah masing-masing, didepan pintu, atau ditepi jalan, tanpa upacara macam-macam, dan cukup menyalakan sepasang lilin dan satu atau tiga batang dupa yang diletakkan kearah langit.
2. Thian Tee
Thian Tee merupakan penguasa tertinggi kedua setelah Giok Hong Shiang Tee. Thian Tee Lebih dikenal oleh masyarakat sebagai “Penguasa Langit dan Bumi”. Di Vihara ini Thian Tee tidak terdapat rupang atau arca, hanya terdapat ruangan, tulisan besar dan pedupaan yang dilengkapi dengan hio dan hiolo untuk bersembahyang.33 Thian Tee ini adalah Penguasa Langit dan Bumi, sama seperti Giok Hong Shang Tee, Thian Tee ini tidak dapat digambarkan dalam bentuk apapun karena Thian Tee memiliki kedudukan tertinggi kedua setelah Giok Hong Shang Tee.34
3. Ibu Yang Maha Terang
Ibu Yang Maha Terang lebih dikenal sebagai “Wadah Pembauran”. Ibu Yang Maha Terang di Pulau Jawa lebih dikenal
33 Andy Suwanto Dhanujaya, Vihara Buddha Dharma & 8 Pho sat (Sleeping Buddha),
(Bogor : Panti Asuhan Yayasan Teratai Kasih, 2017), hlm. 4-6
34 Wawancara Pribadi dengan Bapak Andrean Halim, selaku sekretaris di Vihara Buddha
19
dengan nama “Pendaringan”/ Pemberasan/ Dewi Sri. Di Thailand juga dikenal dengan nama Dewi Padi.35
Di Vihara ini Ibu Yang Maha Terang tidak terdapat rupang atau arca dan hanya terdapat ruangan namun Ibu Yang Maha Terang disimbolkan dengan dua buah pendaringan yang berisikan beras, selain itu pada ruang Ibu Yang Maha Terang terdapat tulisan besar, dan pedupaan saja yang dilengkapi dengan hio dan hiolo untuk bersembahyang.36
4. Avalokitesvara /Kwan Si Im Pho-Sat
Kwan Si Im Pho Sat merupakan salah satu dewa dari 8 Pho Sat. Patung Kwan Si Im Pho Sat diletakan diruangan 8 Phosat merupakan ruangan yang dibangun lebih awal di Vihara ini.37
Kwan Si Im Pho-Sat atau Dewi Kwan Im adalah tokoh sentral yang diagungkan sebagai seorang bodhisattva (seorang calon Buddha). Dalam tradisi Buddhis dari Asia Timur, Kwan Im adalah penjelmaan dari Buddha Avalokitesvara, seorang Buddha yang menonjol sifat welas asihnya. Kwan Im sendiri pada umumnya memiliki wujud seorang perempuan.38
5. Maitreya/Milek Pho Sat
Maitreya/Milek merupakan salah satu dewa 8 Pho Sat, patung Maitreya/Milek diletakan di ruangan 8 Phosat. Maitreya/Milek Pho Sat dalam agama Buddha, Boddisattva Maitreya adalah Buddha yang akan datang, yang sekarang ini masih bergelar Bodhisattva (calon Buddha). Dan dalam bahasa Tionghoa, Maitreya terkenal sebagai Mile Pusa.
Ketika sang Buddha Gaotama terlahir ke India sebagai Buddha. Maitreya juga datang mengikuti Sang Buddha dan
35 Andy Suwanto Dhanujaya, Vihara Buddha Dharma & 8 Pho sat (Sleeping Buddha),
(Bogor : Panti Asuhan Yayasan Teratai Kasih, 2017), hlm. 59
36 Wawancara Pribadi dengan Bapak Andrean Halim, selaku sekretaris di Vihara Buddha
Dharma & 8 Pho Sat Kemang Bogor. 24 Maret 2021.
37 Andy Suwanto Dhanujaya, Vihara Buddha Dharma & 8 Pho sat (Sleeping Buddha),
(Bogor : Panti Asuhan Yayasan Teratai Kasih, 2017), hlm. 10
38 Yulianti, Jurnal : JEJAK BUDDHISME DALAM NOVEL KARYA KWEE TEK HOAY “BOENGA ROOS DARI TJIKEMBANG”: PERSPEKTIF FENOMENOLOGI, SASDAYA, Gadjah
dilahirkan di India Selatan. Sang Buddha mencapai kesempurnaan di bawah pohon Bodhi dan terkenal diseluruh India. Di waktu yang sama, Maitreya juga mencapai tingkat kesadaran akan alam semesta, rela melepas segala kenikmatan duniawi, sepenuh hati di bawah bimbingan Sang Buddha Gaotama terus meningkatkan diri.
Pada suatu kesempatan, ketika berada di gunung Yen Fang Sang Buddha bersabda tentang kitab Maitreya Mencapai kesempurnaan dan menjelaskan kepada Upali, “masa dua belas tahun kemudian, Maitreya akan terlahir di Surga Tusita. Pada saat itu penghuni Surga Tusita akan mendapatkan siraman kebahagiaan dan kebajikan yang besar”. Maitreya diyakini bertempat tinggal di Surga Tusita, yang merupakan tempat tinggal bagi para Bodhisattva sebelum mencapai tingkat kebuddhaan.39
6. Akasagarbha Bodhisattva / Hie Khong Cong Pho Sat
Nama Hie Khong Cong Pho Sat, banyak orang sering mendengar maupun membaca nama Bodhisattva Akasagarbha, termasuk Bapak Andy Suwanto beliau sering melafalkan dewa 8 Pho Sat, dan Hie Khong Cong Pho Sat menjadi salah satu dari dewa 8 Pho Sat yang sering dilafalkan beliau, patung Hie Khong Cong Pho Sat di Vihara ini diletakan diruangan 8 Pho Sat.
Hie Khong Cong Pho Sat adalah salah satu dari delapan Maha Boddhisattva. Dikatakan bahwa Hie Khong Cong Pho Sat pada masanya memiliki tinggi 20 yojana,40 memakai mahkota yang memanifestasikan 35 rupa para Buddha pertobatan. Beliau memberikan kesejahteraan pada para makhluk hidup terus menerus. Ditulis bahwa ketika Boddhisattva pemula melakukan pelanggaran dan mengaku salah dihadapan Akasagarbha Bodhisattva, maka
39 Andy Suwanto Dhanujaya, Vihara Buddha Dharma & 8 Pho sat (Sleeping Buddha),
(Bogor : Panti Asuhan Yayasan Teratai Kasih, 2017), hlm. 24-26
40 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata yojana adalah
satuan ukuran panjang, sama dengan 9 mil. Arti lainnya dari yojana adalah jarak. Contoh: seyojana mata, sejauh mata memandang. (https://lektur.id/arti-yojana/ di akses pada Selasa, 2 Maret 2021 Pukul 15:58)
21
karma buruk mereka terhapuskan dan mereka segera menjadi termurnikan kembali.
7. Samantha Bhadra / Pho Hian Pho Sat
Pho Hian Pho Sat dalam bahasa sansekerta adalah Samantha Bhadra Boddhisattva yang berarti kebajikan yang Universal. Pho Hian Pho Sat merupakan perwujudan dari cinta, kebajikan, ketekunan, kesabaran & aktivitas yang suci. Dan altar Pho Hian Pho Sat diletakan di ruang delapan Pho Sat.
Pho Hian Pho Sat memiliki tubuh yang besarnya tidak terbatas. Namun karena ingin turun ke dunia untuk membantu orang-orang yang sengsara, ia mengubah dirinya menjadi manusia biasa. Pho Hian Pho Satmuncul dengan menunggangi seekor gajah putih, di bawah telapak kaki gajah tersebut bunga-bunga teratai yang berwarna putih bermekaran.
8. Vajrapani Mahasthamaprapta / Kim Khong Tjiu Pho Sat
Kim Khong Tjiu Pho Sat merupakan salah satu Boddhisattva yang dipuja dan dihormati oleh umat Buddha Mahayana, dan juga merupakan salah satu Boddhisattva terkemuka dalam aliran Sukhavati (tanah suci). Namanya berasal dari bahasa Sansekerta yang mengandung arti “yang telah mencapai kekuatan universal”, atau dihormati dan dipuja sebagai manifestasi dari maitre karuna (cinta kasih dan belas kasihan).
Vajrapani dikenal juga dengan sebutan Guhyapati, “Penguasa Rahasia”, penjaga semua Tantara yang diajarkan oleh Buddha. Vajrapanilah yang memohon Buddha untuk memutar roda dharma sekali lagi yaitu ajaran Tantra dan memimpin pertemuan para Boddhisattva di Surga Tusita untuk merangkai dan menyusun kembali ajaran Tantra (Kriya, Carya dan Yoga) yang telah dipaparkan oleh Buddha. Dan di Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat ini, Vajrapani atau Kim Khong Tjiu Pho Sat merupakan salah satu dari dewa delapan Pho Sat, dan patung Kim Khong Tjiu Pho Sat ini ditempatkan diruangan delapan Pho Sat.
9. Manjusri / Biau Kit Siang Pho Sat
Dalam bahasa Sansekerta Manjusri artinya “nasib baik, kesuksesan yang menakjubkan’. Didalam agama Buddha Mahayana Boddhisattva Manjusri dianggap pribadi Maha Agung yang telah memiliki kebijaksanaan tinggi diantara para Boddhisattva. Mahayana Boddhisattva Manjusri sering menjadi “ibu” dari segala Buddha, menjadi guru dari Boddhisattva yang jumlahnya tidak terbilang, mendidik dan membuat umat mencapai keberhasilan.
Manjusri / Biau Kit Siang Pho Sat adalah seorang Boddhisattva yang dikaitkan dengan kebijaksanaan, pengajaran dan kesadaran dan dalam tradisi Vajrayana merupakan dewa meditasi (yidam), dan menggabarkan kebijaksanaan yang tercerahkan. Menurut sejarah, kitab suci Mahayana menjelaskan bahwa Manjusri adalah seorang pengikut Buddha Gautama, walaupun ia tidak disebutkan dalam kitab suci Pali. Mahayana Boddhisattva Manjusri, merupakan salah satu dewa delapan Pho Sat yang patungnya ditempatkan di ruang delapan Pho Sat.
10. Vajrayan Sarvanivarana Viskambhin / Tie Kat Chiang Pho Sat Sarvanivarana Viskambhin adalah satu dari delapan Maha Boddhisattva, Patung Sarvanivarana Viskambhin diletakkan diruangan delapan Pho Sat bersamaan dengan Maha Boddhisattva yang lain. Kata Sarvanivarana berarti menghalau semua rintangan atau halangan.
11. Ksitigarbha / Tee Cong Ong Pho Sat
Tee Cong Ong Pho Sat disebut juga Di Zang Phu Sa dalam bahasa Sansekerta disebut Boddhisattva Ksitigarbha, adalah dewa buddhisme yang paling banyak dipuja oleh masyarakat. Di Zang yang artinya, Di berarti bumi yang amat besar, Zang berarti menyimpan. Ini menunjukkan bahwa hati Tee Cong Ong Pho Sat seperti bumi yang amat besar, yang dapat menyimpan apa saja, termasuk manusia yang tidak terhitung jumlahnya, terutama yang
23
memiliki akar kebajikan. Sama seperti dewa delapan Pho Sat yang lain patung Ksitigarbha atau Tee Cong Ong Pho Sat ditempatkan di ruang delapan Pho Sat.
12. Kuan Seng Tee Kun (Satya Dharma/Kwan Kong)
Kwan Kong atau sering disebut Guan Di, yang berarti paduka Guan adalah seorang panglima perang kenamaan yang hidup pada zaman San Guo/Sam Kok (221-269 M). Nama aslinya adalah Guan YU atau Guan Yun Chan. Kwan Kong dipuja karena kejujuran dan kesetiaan, ia adalah lambing atau tauladan kesatria sejati yang selalu menepati janji dan setia pada sumpahnya.
Pada Vihara ini patung Kwan Kong ditempatkan diruangan tersendiri yang letaknya tidak jauh dengan ruangan delapan Pho Sat.41
13. Tayasuhu Sakyamuni Ji Lay Hud (Tridarma)
Secara umum Sakyamuni Buddha disebut Ru Lai Fo (Ji Lay Hud – Hokkian ), dan hari lahirnya diperingati pada tanggal 8 bulan 4 Imlek. Menurut sejarah, Sakyamuni Buddha adalah Sidharta Gautama atau yang kemudian lazim disebut sebagai Buddha Gautama. Sidharta lahir pada tahun 560 SM disebuah negeri yang bernama : Kapilavastu dekat Nepal.42
Terdapat tiga Altar Tayasuhu Sakyamuni Ji Lay Hud di Vihara ini satu di ruang 8 Pho Sat, satu di ruang Buddha Tidur dam satu lagi di ruang Tridharma, pada ruang tridharma ini altar Tayasuhu Sakyamuni Ji Lay Hud bersamaan dengan dua Altar lainnya yaitu Khonghucu dan Lao Cu.
Tridharma sendiri adalah agama yang penghayatannya menyatu dalam ajaran Buddha, Khonghucu, dan Tao. Pergerakan Tridharma dimulai pada awal tahun 1920 yang dipelopori oleh Kwee Tek Hoay, dan beliau diangkat sebagai Bapak Tridharma
41 Andy Suwanto Dhanujaya, Vihara Buddha Dharma & 8 Pho sat (Sleeping Buddha),
(Bogor : Panti Asuhan Yayasan Teratai Kasih, 2017), hlm. 30-56
42Sakyamuni Buddha, https://tridharma.or.id/sakyamuni-buddha/ di akses pada Sabtu, 6
Indonesia dan tanggal lahirnya 31 Juli 1886 dirayakan sebagai hari Tridharma di Indonesia.43
14. Khong Hu cu
Tokoh yang erat kaitannya dengan kebudayaan Cina adalah Konfusius akan tetapi ada juga yang menyebutnya dengan nama Kung Fu Tzu atau Kung sang Guru. Kong Hu Cu adalah seorang ahli Filsafat Cina yang terkenal sebagai pengembang sistem memadukan alam pikiran dan kepercayaan orang Cina yang mendasar. Ajarannya menyangkut kesusilaan perorangan dan gagasan bagi pemerintah agar melaksanakan pemerintahan dan melayani rakyat dengan teladan berperilaku yang baik.44
Pada Altar Khong Hu Cu ini mempunyai tempat yang khusus di Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat yaitu di ruang Tridharma, bersamaan dengan dua Altar lainnya yaitu Tayasuhu Sakyamuni Ji Lay Hud dan Lao Cu.
15. Lao Tse
Taoisme diajarkan oleh Lao Tse (”guru tua”) yang hidup sekitar 550 SM. Lao Tse melawan Konfucius. Menurut Lao Tse, bukan “jalan manusia” melainkan “jalan alam” yang merupakan Tao. Tao menurut Lao Tse adalah prinsip kenyataan objektif, substansi abadi yang bersifat tunggal, mutlak dan tak ternamai. Ajaran Lao Tse lebih-lebih metafisika, sedangkan ajaran Konfusius lebih-lebih etika. Puncak metafisika Taoisme adalah kesadaran bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang Tao. Kesadaran ini juga dipentingkan di India (ajaran “neti”, “na-itu”: “tidak begitu”) dan dalam filsafat Barat (di mana kesadaran ini disebut “docta ignorantia”, “ketidaktahuan yang berilmu”).45
43 Andy Suwanto Dhanujaya, Vihara Buddha Dharma & 8 Pho sat (Sleeping Buddha),
(Bogor : Panti Asuhan Yayasan Teratai Kasih, 2017), hlm. 57
44 Ahmad Zarkasi, Jurnal : MENGENAL POKOK-POKOK AJARAN KONG HUCU,
Al-AdYaN/Vol.IX, N0.1/Januari-Juni/2014, hlm. 21
45 I Wayan Widiana. Jurnal : FILSAFAT CINA: LAO TSE YIN-YANG KAITANNYA DENGAN TRI HITA KARANA SEBAGAI SEBUAH PANDANGAN ALTERNATIF MANUSIA TERHADAP PENDIDIKAN ALAM, Jurnal Filsafat Indonesia, Vol 2 No 3 Tahun 2019, hlm. 113
25
Pada Altar Lao Cu ini ditempatkan di ruang Tridharma, bersamaan dengan dua Altar lainnya yaitu Tayasuhu Sakyamuni Ji Lay Hud dan Khong Hu Cu.
16. Sian Jin Ku Poh
Di Vihara ini Sian Jin Ku Poh tidak terdapat rupang atau arca Sian Jin Ku Poh hanya terdapat ruangan saja, dalam sejarahnya Sian Jin Ku Poh dalam membantu orang menjelma menjadi berbagai macam jelmaan sehingga sulit untuk digambarkan. Pada ruang ini terdapat pula tulisan besar dan pedupaan yang dilengkapi dengan hio dan hiolo untuk bersembahyang.46
Asal mula lahirnya Sian Jin Ku Poh adalah pada zaman dahulu didaratan Tiongkok, ada seorang wanita yang sedang menunggu kepulangan suaminya yang sedang berlayar dipinggir laut. Wanita itu menunggu sampai berpuluh-puluh tahun di pinggir laut tersebut dan sampai akhirnya meninggal di tempat tersebut. kemudian jenazah tersebut dimakamkan disekitar pinggir laut itu.
Pada suatu hari, ada seorang pelaut yang ingin berlayar, kemudian melihat makam tersebut dan meminta air setelah itu iya bersembahyang meminta perlindungan keselamatan selama berlayar. Setelah ia pulang berlayar dan kembali melewati makam itu ia pun bersembahyang lagi mengucapkan rasa trimakasi. Seiring berjalannya waktu banyak orang yang meminta air dan bersembahyang dimakam tersebut.
17. Buddha Tidur
Awal pembangunan Buddha Tidur ini adalah Bapak Andy Suwanto selaku pendiri Vihara ini mendapat pencerahan setelah bermeditasi, untuk membangun Buddha Tidur di Vihara ini.
46 Wawancara Pribadi dengan Bapak Andrean Halim, selaku sekretaris di Vihara Buddha
Buddha Tidur ini dibangun pada tahun 2010 dan diresmikan pada tahun 2012 oleh Djoko Wuryanto selaku Direktorat Jendral Agama Hindu Buddha.47
Dari pemaparan diatas dapat kita pahami bahwa di Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat terdapat 8 ruangan yang disediakan oleh pengurus Vihara untuk ruang tempat Altar, dan terdapat 14 Altar, sembilan Altar pada ruangan 8 Pho Sat, satu Altar pada ruang Satya Dharma, tiga Altar pada ruang Tridharma dan satu Altar pada ruang Buddha Tidur, dan 4 ruang lainnya tidak disimbolkan dalam bentuk rupang atau arca lainnya seperti Giok Hong Shang Tee, Thian Tee, Ibu Yang Maha Terang, Sian Jin Ku Poh.
Tidak dapat dipungkiri banyak dari jemaat di Vihara ini yang sengaja datang untuk memohon doa agar dapat berkehidupan yang lebih baik lagi, kepercayaan jemaat kepada dewa menjadikannya lebih percaya diri dalam menjalankan kehidupan, mereka juga yakin bahwa para dewa akan menyampaikan doanya kepada Sang Maha Pencipta. Dewa itu sendiri dalam ajaran agama Buddha yaitu makhluk yang telah mengalami rengkarnasi dari kelahiran sebelumnya, bisa dikatakan manusia yang mempunyai amal baik dan kecenderungan seperti apa sebelumnya maka akan menjadi dewa seperti itu. Masing-masing negara mempunyai cerita tersendiri mengenai suatu dewa yang pada dasarnya dewa yang dimaksud adalah sama, karena berbaur dengan budaya yang ada ditempat maupun pada suatu negara maka terjadi perbedaan dalam cerita dewa tersebut.48
C. Kegiatan di Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat Kemang Bogor
Vihara mempunyai fungsi kegiatan dan sebagai pusat keagamaan selain sebagai tempat ibadah dan tempat tinggal para Bhikku/Bhikkuni. Vihara mempunyai peranan sebagai pusat kegiatan keagamaan yang diharapkan dapat meningkatkan moral dan budi pekerti luhur dalam kehidupan beragama bagi umat Buddha serta mendidik dan menimbulkan
47 Andy Suwanto Dhanujaya, Vihara Buddha Dharma & 8 Pho sat (Sleeping Buddha),
(Bogor : Panti Asuhan Yayasan Teratai Kasih, 2017), hlm. 58-59
48 Wawancara Pribadi dengan Bapak Andrean Halim, selaku sekretaris di Vihara Buddha
27
kesadaran dalam mendalami Dhamma pada umat buddha dan masyarakat agar menjadi lebih baik dalam bermasyarakat.
Berdasarkan Peraturan Departemen Agama Republik Indonesia Nomor H III/BA.01.1.03/1/1992 Bab II menyebutkan fungsi Vihara adalah sebagai tempat suci yang dipakai untuk tempat tinggal para Bhikku/Bhikkuni, Samanera/samaneri dan peranannya adalah mendidik masyarakat dengan ajaran suci.49 bangunan Vihara didesain harus dapat
menampung kegiatan banyak umat sekaligus, memiliki bentukan yang unik dari lingkungan sekitar, dan memiliki identitas agama Buddha yang jelas dan kuat.50
Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat dibuka setiap hari, dengan maksud mempersilahkan kepada jemaat untuk dapat bersembahyang pada setiap waktu. Selain ibadah mingguan dan perayaan hari-hari besar, Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat juga memiliki kegiatan-kegiatan yang rutin dilakukan diantaranya :
1. Kebaktian dilakukan setiap hari minggu, acara kebaktian ini yang diikuti oleh anak-anak asuh dan sekolah mingguan.
2. Ce It Capgo, atau masyarakat biasa menyebutnya Uposattha, yaitu mengadakan Fang Shen, Fang Shen ini adalah sebuah kegiatan melepas mahluk hidup, hewan yang biasa dilepaskan oleh Vihara ini yaitu Ikan dengan harapan memberikan kesempatan bagi makhluk hidup untuk hidup lebih lama, kegiatan ini biasa dilakukan tanggal 1 dan 15 setiap bulan pada penanggalan imlek. 3. Memperingati hari lahir para dewa atau Pho Sat, yang ada di
Vihara ini dengan melakukan upacara, pemandian rupang dan memberikan persembahan bunga dan buah.
4. Imlek dan Waisak yaitu kegiatan rutin yang biasa dilakukan rutin setiap tahun. Kegiatan yang dilakukan yaitu kebaktian, pemandian rupang dan juga mengundang dinas pariwisata dan aparat setempat
49 Wagito, Jurnal : VIHARA THERAVADA DI KOTA SINGKAWANG, Jurnal online
mahasiswa Arsitektur Universitas Tanjungpura Volume 5 / Nomor 1 / Maret 2017, hlm. 54
50 A. Agung dkk, Jurnal : Vihara Buddha Theravada di Surabaya, JURNAL eDIMENSI