BAB IV MAKNA PATUNG SLEEPING BUDDHA DI VIHARA BUDDHA
B. Makna Simbolik Patung Sleeping Buddha di Vihara Buddha Dharma & 8
Disaat berumur 80 tahun Pangeran Siddharta meninggal dunia di pangkuan saudara sepupu dan sekaligus murid yang dikasihinya. Sebelum menghembuskan nafas yang terakhir ia masih sempat menyampaikan suatu nasihat yang maknanya : “kerontokan itu suatu kemestian setiap susunan. Ikhtiarkan keselamatan dirimu dengan rajin”.
Jenazah Sidharta Gautama yang disemayamkan selama tujuh hari tujuh malam di kerajaan Kusinara dikunjungi oleh raja-raja dan masyarakat tanpa henti-hentinya. Pada hari ketujuh jenazahnya dibakar dan abunya dibagi menjadi sepuluh bagian untuk diberikan kepada sepuluh raja yang pernah dikunjungi oleh Sidharta Gautama semasa hidupnya. Masing-masing raja itu membangun Stupa (Pagoda) guna menyimpan abu jenazah yang dipandang suci itu.89
Buddha Rupa atau Patung Buddha juga sering disebut Buddhapatima atau bentuk tiruan diri Sang Buddha yang baru muncul ratusan tahun setelah sepeninggalan Beliau. Yaitu sekitar setelah India
86 Sulan. Karsan, Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti, (Jakarta : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud, 2015), hlm 2
87 Dian Sri Pandewi, Buddha, (Denpasar : Vidya Aksara, 2008), hlm. 22
88 Ulum Janah, Jurnal : Pendataan Tempat-Tempat Pariwisata di Kota Balikpapan Serta
Perbatasan Wilayah Kutai Kartanegara di Samboja, Abdimas Universal, Volume 1, Nomor 1,
2019, Hlm. 26.
89 Rosmani Ahmad, Jurnal : Gerakan-gerakan Spiritualitas Dalam Komunitas Budha, Analytica Islamica. Vol, 1, No, 1, 2012: hlm. 165
45
Kuno mendapat pengaruh budaya Yunani. Melewati sejarah yang amat panjang, pada akhirnya patung Buddha diterima dalam jenis uddesikacetiya.
Bila ditinjau secara geografis, awal pembuatan patung Buddha terjadi di wilayah India bagian utara dan barat laut, yaitu Kashmir, Pakistan, Afganistan sekarang, yang penduduk penganut agama Buddhanya mengikuti tradisi Uttaranikaya, cikal bakal tradisi Acariyavada (atau Mahayana) sehingga dapat dikatakan objek puja dalam bentuk patung mulai dikenal dalam tradisi Acariyavada, yang disisi lain tradisi Theravada pada zaman itu menganggap pembuatan patung Buddha adalah sikap kurang hormat terhadap Sang Buddha. Masyarakat tradisi Theravāda pada saat itu telah menerapkan beberapa aspek seni ke dalam penggambaran bentuk/keberadaan Sang Buddha. Namun, penggambaran tersebut tidak dengan cara menampilkan sosok Buddha dalam bentuk gambar atau patung secara jelas.90
Seiring berjalannya waktu pembuatan patung Buddha semakin berkembang dan meluas hingga saat ini, banyak kita jumpai di rumah ibadah Buddha (Vihara) dan juga di rumah-rumah para pemeluk agama Buddha. Salah satunya Patung Buddha di Indonesia ada di Bogor yang ukurannya cukup besar, tepatnya di KP. Jati Rt 06/02 Desa Tonjong Kecamatan Tajurhalang Kabupaten Bogor, yaitu Patung Sleeping Buddha atau Patung Buddha Tidur, Patung Buddha Tidur itu sendiri diresmikan pada tahun 2012.
Patung Buddha Tidur dibangun atas inspirasi dari Bapak Andi Suwanto selaku pendiri Vihara Buddha Dharma & 8 Pho sat. Setelah bermeditasi ia mendapat inspirasi bahwa daerah ini akan berkembang dengan didirikannya Patung Buddha Tidur, yang nantinya akan membawa daya tarik masyarakat umum maupun mancanegara terutama penganut agama Buddha.
90 Carina Tjandradipura dkk, Jurnal : REPRESENTASI DAN ORIENTASI SIMBOL
PENGHORMATAN DALAM DINAMIKA RUANG IBADAH AGAMA BUDDHA (Studi Kasus: Ruang Ibadah Cetiya di Bandung), Jurnal I D E A L O G Jurnal Desain Interior & Desain Produk
Patung Buddha Tidur didirikan sebagai penghormatan kepada Sang Buddha. Posisi Patung Buddha Tidur didirikan dengan posisi berbaring kearah kanan yaitu posisi wafatnya Sang Buddha atau Mahaparinibbana. Patung Buddha Tidur ini juga bisa diartikan sebagai posisi manfaat tidur.91 Manfaat tidur miring ke kanan yaitu untuk mencegah terjadinya penyakit jantung koroner, selain itu tidur miring ke kanan memberikan manfaat agar tidak memberatkan kerja jantung dan untuk membantu renovasi fungsi jantung. Tidur miring ke kanan juga membantu kelancaran buang air besar.92
Gambar Patung Buddha tidur di Vihara Buddha Dharma & 8 Phosat Kemang Bogor
Ukuran Patung Buddha Tidur ini yaitu 18 meter, yang artinya satu ditambah delapan yaitu sembilan yang bermakna umur panjang, kesejahteraan, angka delapan dalam masyarakat chinese atau tionghoa dipercaya sebagai angka pembawa hoki, angka delapan dan sembilan juga dipercaya sebagai angka yang bagus untuk ukuran-ukuran sebuah bangunan. Tinggi Patung Buddha Tidur ini 4,75 meter, yang tertinggi ada diposisi sebelah bahu, dan untuk panjang alasnya yaitu 22 meter.
91 Wawancara Pribadi dengan Bapak Andrean Halim, selaku sekretaris di Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat Kemang Bogor. 9 Februari 2021.
92 Joko Sutrisno, HUBUNGAN KEBIASAAN POSISI TIDUR DENGAN RESIKO
TERJADINYA SERANGAN ULANG PADA PASIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER DI POLI JANTUNG RSUD GAMBIRAN KOTA KEDIRI, (Kediri : STIKES SURYA MITRA HUSADA),
47
Pada Patung Buddha Tidur ini terdapat tanda Swastika di dada,93 Swastika merupakan simbol kuno yang telah digunakan oleh berbagai budaya untuk melambangkan kehidupan, matahari, kekuasaan, kekuatan, dan keberuntungan. Begitu pula dalam tradisi ajaran agama Buddha, swastika melambangkan hal-hal yang baik dan positif. Selain itu, swastika juga merepresentasikan jejak kaki Sang Buddha (Buddhapada). Swastika kerap kali digunakan sebagai tanda atau icon dalam sebuah teks Buddhis. Di Cina dan di Jepang, swastika digambarkan sebagai simbol kemajemukan, kebahagiaan, kesejahteraan, dan umur yang panjang. Saat ini, swastika masih digunakan sebagai tanda istimewa pada patung-patung Sang Buddha dan wiharawihara.94 Dan ada titik merah di dahi yaitu sebagai tanda bahwa Sang Buddha berasal dari India, pada telapak kaki juga terdapat roda yang menggambarkan Roda Dharma.95 Roda Dharmaitu sendiri memiliki delapan ruas yang merupakan perlambangan dari Jalan Mulia Berunsur Delapan. Lingkaran atau bentuk roda memiliki makna hukum sebab akibat (Karma) dimana saling berkaitan satu sama lain.96
Pembangunan Patung Buddha Tidur ini memakan waktu dua tahun, dan dikerjakan oleh orang lokal, yang didampingi langsung oleh Bapak Andi Suwanto selaku pendiri Vihara Buddha Dharma & 8 Pho sat. Dalam proses pengerjaan para pekerja harus Vegetarian, selama mengerjakan patung Buddha tidur, yang bermakna sebagai penyucian atau pembersihan diri. Vegetarian sendiri merupakan syarat yang harus dijalankan oleh para pekerja. selain itu sebelum pengerjaan diadakan juga sedekahan atau selametan mengikuti tradiri agama islam, hal ini dikarenakan berdasarkan saran para pekerja yang mayoritas muslim, Bapak Andy Suwanto sendri
93 Wawancara Pribadi dengan Bapak Andrean Halim, selaku sekretaris di Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat Kemang Bogor. 9 Februari 2021.
94 Willy Yandi Wijaya, DHAMMA DANA PARA DHAMMADUTA, (Yogyakarta : Vidyasena Production, 2009), hlm. 50
95 Wawancara Pribadi dengan Bapak Andrean Halim, selaku sekretaris di Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat Kemang Bogor. 9 Februari 2021.
96
http://digilib.mercubuana.ac.id/manager/t!@file_artikel_abstrak/Isi_Artikel_275947609889.pdf. Diakses pada tanggal 23 februari 2021 pukul 21:26 WIB
tidak mempermasalahkan hal tersebut karena baginya setiap doa pasti akan sampai kepada Sang Pencipta yang sama.97
Awalnya pembuatan Patung Buddha Tidur ini ingin mengunakan batu dan dipahat, namun mencari batu yang berukuran 18 meter itu cukup sulit, kemudian Bapak Andi Suwanto mendapat pencerahan kembali yaitu pengerjaannya dengan cara dicor dengan menggunakan kerangka besin, dalam pengerjaan ini menghabiskan 500 sak semen. Setelah selesai pengecoran barulah kerangka tersebut dicopot, dan baru bisa dibentuk. Bagian tersulit dari pembentukan Patung Buddha Tidur ini yaitu ada pada bagian muka, karena menurut Bapak Andy Suwanto untuk bagian muka harus sesuai dengan Buddha yang beliau temui dalam meditasi, bahkan sampai lima kali pembongkaran demi menginginkan Aura Patung Buddha Tidur yang sesuai seperti yang beliau temui dalam meditasi. Dan akhirnya mendapatkan hasil yang hampir mirip seperti yang beliau temui dalam meditasi.
Selain pengerjaan Patung Buddha Tidur yang rumit, pengerjaan bantalan tidak kalah rumit karena jika pengerjaan bantalan yang salah bisa mengakibatkan Patah dan nantinya akan lebih sulit untuk diperbaikinya. Dalam pengerjaan bantalan atau alas Patung Buddha Tidur ini membutuhkan dua puluh tujuh cakar ayam dengan kedalaman 2 meter, setelah itu pembentukan atasnya dengan anyaman besi setinggi 30 senti. Setelah selesai patung dan alasnya barulah menuju tahap selanjutnya, yaitu prosesi penyucian, prosesi penyucian ini dengan cara pemandian Patung Buddha Tidur yaitu dengan air, bunga sedap malam, dan bunga melati. Bunga sedap malam dan melati ini sendiri mempunyai makna suci salah satunya dilihat dari warna bunganya yang putih.98 Setelah selesai menjalankan seluruh prosesinya barulah Patung Buddha Tidur ini
97 Wawancara Pribadi dengan Bapak Andy Suwanto, selaku pendiri Vihara Buddha Dharma 8 Pho Sat sekaligus Guru Spiritual, di Vihara Buddha Dharma 8 Pho Sat Kemang Bogor. 11 Maret 2021.
98 Wawancara Pribadi dengan Bapak Andy Suwanto, selaku pendiri Vihara Buddha Dharma 8 Pho Sat sekaligus Guru Spiritual, di Vihara Buddha Dharma 8 Pho Sat Kemang Bogor. 11 Maret 2021.
49
diresmikan pada tahun 2012 oleh Djoko Wuryanto selaku Direktorat Jendral Agama Hindu Buddha. 99
C. Pandangan Jamaat Tentang Patung Sleeping Buddha di Vihara