BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG VIHARA BUDDHA DHARMA &
C. Kegiatan di Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat Kemang Bogor
Vihara mempunyai fungsi kegiatan dan sebagai pusat keagamaan selain sebagai tempat ibadah dan tempat tinggal para Bhikku/Bhikkuni. Vihara mempunyai peranan sebagai pusat kegiatan keagamaan yang diharapkan dapat meningkatkan moral dan budi pekerti luhur dalam kehidupan beragama bagi umat Buddha serta mendidik dan menimbulkan
47 Andy Suwanto Dhanujaya, Vihara Buddha Dharma & 8 Pho sat (Sleeping Buddha), (Bogor : Panti Asuhan Yayasan Teratai Kasih, 2017), hlm. 58-59
48 Wawancara Pribadi dengan Bapak Andrean Halim, selaku sekretaris di Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat Kemang Bogor. 24 Maret 2021.
27
kesadaran dalam mendalami Dhamma pada umat buddha dan masyarakat agar menjadi lebih baik dalam bermasyarakat.
Berdasarkan Peraturan Departemen Agama Republik Indonesia Nomor H III/BA.01.1.03/1/1992 Bab II menyebutkan fungsi Vihara adalah sebagai tempat suci yang dipakai untuk tempat tinggal para Bhikku/Bhikkuni, Samanera/samaneri dan peranannya adalah mendidik masyarakat dengan ajaran suci.49 bangunan Vihara didesain harus dapat menampung kegiatan banyak umat sekaligus, memiliki bentukan yang unik dari lingkungan sekitar, dan memiliki identitas agama Buddha yang jelas dan kuat.50
Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat dibuka setiap hari, dengan maksud mempersilahkan kepada jemaat untuk dapat bersembahyang pada setiap waktu. Selain ibadah mingguan dan perayaan hari-hari besar, Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat juga memiliki kegiatan-kegiatan yang rutin dilakukan diantaranya :
1. Kebaktian dilakukan setiap hari minggu, acara kebaktian ini yang diikuti oleh anak-anak asuh dan sekolah mingguan.
2. Ce It Capgo, atau masyarakat biasa menyebutnya Uposattha, yaitu mengadakan Fang Shen, Fang Shen ini adalah sebuah kegiatan melepas mahluk hidup, hewan yang biasa dilepaskan oleh Vihara ini yaitu Ikan dengan harapan memberikan kesempatan bagi makhluk hidup untuk hidup lebih lama, kegiatan ini biasa dilakukan tanggal 1 dan 15 setiap bulan pada penanggalan imlek. 3. Memperingati hari lahir para dewa atau Pho Sat, yang ada di
Vihara ini dengan melakukan upacara, pemandian rupang dan memberikan persembahan bunga dan buah.
4. Imlek dan Waisak yaitu kegiatan rutin yang biasa dilakukan rutin setiap tahun. Kegiatan yang dilakukan yaitu kebaktian, pemandian rupang dan juga mengundang dinas pariwisata dan aparat setempat
49 Wagito, Jurnal : VIHARA THERAVADA DI KOTA SINGKAWANG, Jurnal online mahasiswa Arsitektur Universitas Tanjungpura Volume 5 / Nomor 1 / Maret 2017, hlm. 54
50 A. Agung dkk, Jurnal : Vihara Buddha Theravada di Surabaya, JURNAL eDIMENSI Vol.1 No. 2 (2013), hlm. 147
selain itu juga ada makan bersama, barongsai, dan sembahyang bersama51
5. Perayaan ulang tahun Vihara, acara ini biasa dirayakan setiap tahun. Ulang tahun Vihara jatuh pada penanggalan imlek tepatnya pada bulan empat tanggal delapan imlek.
6. Santunan Vihara, santunan ini ditujukan kepada anak yatim di Desa terdekat, Desa yang menjadi sasaran ditentukan oleh pihak Vihara yang dilakukan secara bergilir dari desa satu ke Desa yang lain, santunan ini diserahkan langsung ke Desa karena agar santunan yang diberikan tepat sasaran. Santunan yang diberikan adalah berupa paket sembako.
7. Pemberkatan Nikah, yaitu prosesi sakral dalam sebuah pernikahan, atau dengan kata lain di Vihara ini bisa menikahkan sepasang calon mempelai agar bisa menjadi suami istri dan sah dimata agama, yang dipimpin oleh Romo Pandita, selanjutnya pihak Vihara mengurus surat-surat dan diajukan kecatatan sipil.52
8. Memberikan arahan keagamaan atau nasehat-nasehat kepada jemaat, selain itu juga memberikan pengobata kejiwaan seperti kesurupan, korban guna-guna atau lain sebagainya. Yang didampingi langsung oleh Bapak Andy Suwanto selaku Guru Spiritual.53
Dari seluruh rangkaian kegiatan yang ada di Vihara ini selalu diselipkan pesan moral yang intinya yaitu selalu berbuat baik kepada siapapun, karena setiap perbuatan baik pasti ada pahala kebajikan. Prinsip hidup Bapak Andy Suwanto sendiri yaitu buatlah hidup ini menjadi lebih berguna untuk masyarakat orang banyak dengan memperbanyak berbuat baik. Amal baik itu sendiri adalah perbuatan yang dapat menolong menghilangkan atau mengurangi penderitaan orang lain tanpa
51 Wawancara Pribadi dengan Bapak Andrean Halim, selaku sekretaris di Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat Kemang Bogor. 24 Maret 2021.
52 Wawancara Pribadi dengan Bapak Andrean Halim, selaku sekretaris di Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat Kemang Bogor. 9 Februari 2021.
53 Wawancara Pribadi dengan Bapak Andy Suwanto, selaku pendiri Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat sekaligus Guru Spiritual, di Vihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat Kemang Bogor. 11 Maret 2021.
29
mengharapkan balasan/imbalan, tanpa pamrih. Intinya adalah cinta kasih, tanpa rasa cinta kasih seseorang tidak dapat melakukan amal yang baik, tetapi amal yang pamrih.54
Buddha bukan merupakan gambaran dari diri Siddharta secara lahiriyah. Patung tersebut merupakan gambaran Siddharta secara rokhani, yang harus dapat memperlihatkan dengan sungguh-sungguh siapakah Buddha itu bagi kaum Buddhis.
Patung Buddha adalah sebagai simbul dalam agama Buddha yang merupakan ungkapan spiritual. Bukan saja para Buddhis dapat mengenang jasa-jasa Shiddharta Buddha Gautama sebagai guru Utama yang menunjukkan di jalan kelepasan, tetapi secara spiritual patung tersebut dianggap mempunyai sugesti yang kuat bagi para Buddhis. Hal ini dipercaya oleh para Buddhis bahwa patung Buddha adalah gambaran atas asas rohani yang ada pada diri Shiddharta Buddha Gautama.55
Salah satu jenis patung Buddha adalah patung sleeping buddha, patung sleeping Buddha atau Buddha tidur merupakan gambaran posisi wafatnya sang Buddha dengan posisi tidur ke arah kanan dan kepala dialaskan bantal dengan disangga tangan kanannya. Ketika sang Buddha mencapai usia ke-80, sang Buddha mengalami sakit karena faktor usia yang semakin menua. Namun, berkat kekuatan batinnya. Sang Buddha mampu mengatasi rasa sakit tersebut. Batin Sang Buddha selalu bersinar laksana berlian, meskipun jasmaniNya telah mulai melemah.56 Dan pada usia ini pula Buddha mencapai Mahaparinibbana atau wafatnya sang Buddha.
54 Herman Utomo. NY. Silvie Utomo, Ibadah Dari Vihara ke Vihara, (Kelompok Spiritual Universitas Jakarta), hlm. 29
55 Arief Wibowo, Jurnal : Makna Patung Buddha dalam Agama Buddha, SUHUF, Vol. 20, No. 1, Mei 2008: hlm. 80
56 Sulan. Karsan, Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti, (Jakarta : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud, 2015), hlm 2