menjelaskan bagaimana pelaksanaan pembelajaran daring yang dilakukan guru pada mata pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA N 1 Ampek Nagari.
Penelitian ini dilatarbelakangi kesulitan guru dalam memilih metode yang sesuai dengan tujuan materi yang mengharapkan siswa dapat mempraktekkan, media pembelajaran pembelajaran online yang hanya menggunakan aplikasi whats’app dan youtube sehingga guru dan siswa tidak dapat melakukan tatap muka secara virtual, karena keterbatasan pada jaringan dan kuota internet. kesulitan dalam memahami materi pembelajaran yang dilakukan secara daring karena ada beberapa materi yang bersifat praktek. Maka yang menjadi rumusan dari penelitian ini adalah bagaimana pelaksanaan pembelajaran daring Pendidikan Agama Islam pada masa New Normal di SMA N 1 Ampek Nagari. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana saja, pelaksanaan pembelajaran daring Pendidikan Agama Islam pada masa new normal sehingga tercapainya tujuan pembelajaran.
Jenis penelitian ini adalah penelitian yang bersifat lapangan (fleld research) dengan pendekatan kualitatif yaitu menggambarkan suatu fenomena yang terjadi sesuai dengan data yang ada di lapangan. Peneliti melakukan penelitian di SMA N 1 Ampek Nagari, dengan informan kunci yaitu Guru PAI kelas XI IPA 1 dan informan pendukung peserta didik kelas XI IPA 1 dan Guru PAI kelas XII. Dalam mengumpulkan data peneliti menggunakan teknik wawancara dan dokumentasi. Sedangkan untuk menganalisisnya peneliti melakukan beberapa Langkah yaitu memilih data, menyajikan data dan menarik kesimpulan, untuk menguji kredibilitas dan kevalidan data peneliti mengecek data yang sudah diperoleh dari berbagai sumber kemudian dipilih dan disajikan, dari sumber yang berbeda dideskripsikan, dikategorikan mana pandangan yang sama, berbeda , dan mana yang lebih spesifik.
Dari penelitian yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa bahwa dalam Pelaksanaan Pembelajaran Daring Pendidikan Agama Islam Pada Masa New Normal Di SMA N 1 Ampek Nagari kurang maksimal disebabkan 1) Guru kesulitan dalam memilih metode yang sesuai dengan tujuan materi yang mengharapkan siswa dapat mempraktekkan, 2) Media pembelajaran pembelajaran online yang hanya menggunakan aplikasi whats’app dan youtube sehingga guru dan siswa tidak dapat melakukan tatap muka secara virtual, karena keterbatasan pada jaringan dan kuota internet. 3) Evaluasi yang dilakukan dengan pemberian tugas kepada siswa dan dikumpulkan dalam grup whats’app.
Kata kunci: Implementasi, Pembelajaran Daring, Pendidikan Agama Islam, New Normal
i
ABSTRAK ... ii
DAFTAR ISI ... iii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ...1
B. Fokus Penelitian ...9
C. Rumusan Masalah ...9
D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ...9
E. Penjelasan Judul ...10
F. Sistematika Penulisan ...11
BAB II LANDASAN TEORI A. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam 1. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam...13
2. Pelaksanaan Pembelajaran Daring ...26
3. Pendidikan Agama Islam...39
B. PenelitianRelevan ...40
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ...45
B. Lokasi Penelitan ...45
C. Informan Penelitian ...46
ii
A. Temuan Umum
1. Profil SMA N 1 Am pek Nagari ...51 2. Visi dan Misi SMA N 1 Ampek Nagari ...51 B. Temuan Khusus
Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Masa New Normal
1. Metode Yang Digunakan Dalam Pembelajaran Daring ...53 2. Media Pembelajaran Daring ...58 3. Penilaian Yang Dilakukan Pembelajaran Daring ...60 BAB V KESIMPULAN
A. Kesimpulan ...62 B. Saran ...62 DAFTAR KEPUSTAKAAN
LAMPIRAN-LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja yang oleh orang dewasa agar anak menjadi dewasa.1 Pendidikan adalah proses perubahan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam upaya mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran latihan, proses perluasan dan cara mendidik.2 Sejalan dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional menyatakan bahwa:
‘’Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.’’3 Dalam islam untuk memperoleh pendidikan
sebagaimana terdapat di dalam al-qur’an suart Al-‘Alaq ayat 1-5
1 Wedra Aprison, Junaidi, Pendekatan Saintifik Melihat Arah Pembangunan Karakter Dan
Peradaban Bangsa Indonesia, 2017, jilid 12, hal 513
2 Moh Nawafil, Cornerstone Of Education (Landasan-Landasan Pendidikan),
(Yogyakarta:CV Absolute Media, 2028) hal.2
3 Iswantir, Pendidikan Islam Sejarah, Peran dan Kontribusi Dalam Sistem Pendidikan
Artinya: ‘Bacalah dengan (menyebut) nama tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan tuhanmulah yang maha pemurah, yang mengajarkan (manusia) dengan peranta kalam, dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.’’
Dari ayat diatas kata iqra’ atau perintah membaca diulang dua kali, yaitu pada ayat 1 dan 3. Menurut Quraiys Shihab, perintah pertama dimaksudkan sebagai perintah belajar tentang sesuatu yang belum diketahui, sedangkan yang kedua perintah untuk mengajarkan ilmu kepada orang lain.4 Ini mendedikasikan bahwa dalam proses belajar dan pembelajaran dituntut adanya usaha yang maksimal dengan memungsikan segala komponen berupa alat-alat potensial yang ada pada diri manusia. Setelah ilmu tersebut diperoleh melalui pembelajaran, maka amanat selanjutnya adalah mengajarkan ilmu tersebut, dengan cara memungsikan segala komponen tersebut, dalam proses tersebut disebut dengan pendidikan.
Pendidikan merupakan sebuah usaha yang dilakukan oleh individu secara sadar dan terencana untuk mewujudkan proses pembelajaran yang efektif dengan tujuan mendidik peserta didik dalam mengembangkan potensi dirinya. Namun dewasa ini, masih banyak sekali permasalahan- permasalahan di dalam dunia pendidikan yang dapat menghalangi tercapainya tujuan-tujuan yang diharapkan.
Permasalahan di dalam pendidikan tersebut merupakan prioritas utama yang harus dipecahkan salah satunya menyangkut tentang masalah kualitas pendidikan.
4 M. Quraish Shihab, Tafsir al-Qur’an al Karim; Surat-Surat Pendek Berdasarkan Urutan
Kualitas pendidikan saat ini tengan mengalami tantangan sebagai dampak mewabahnya virus Covid-19.5
Pemerintah melalui kebijakan new normal secara bertahap mulai diterapkan di Indonesia. New normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal, namun dengan menerapkan protokol kesehatan. Masyarakat mau tidak mau harus mengupayakan adaptasi dalam tatanan aktivitasnya. Salah satu kunci sukses dalam menghadapi covid-19 adalah dengan menerapkan protokoler kesehatan dari pemerintah sebagai pola adaptasi perilaku yang diterapkan pada sektor pendidikan.
Pembukaan sekolah di masa kelaziman baru (new normal) dibedakan berdasarkan zona di wilayah sekolah tersebut. Protokol kesehatan di sekolah merupakan aturan untuk mencegah meluasnya penyebaran penyakit COVID19 yang diakibatkan covid di institusi pendidikan.6 Mendikbud, pemerintah
membolehkan pembelajaran tatap muka di awal Semester genap, Januari 2021 dengan beberapa ketentuan (Kemko PMK, dan Kepala BNPB/Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19).7
Dalam buku Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi COVID-19 yang disusun Kemendikbud, Kemenkes, Kementarian Agama, Kementerian Dalam Negeri bahwa ketentuan umum Satuan pendidikan yang berada
5 Adhetya Cahyani dkk, Motivasi Belajar Siswa SMA Pada Pembelajaran Daring di Masa
Pandemi Covid-19, Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 3 No. 01 Tahun 2020, hal 124
6 Ida Waluyati, Tasrif,dan Arif, Penerapan New Normal Dalam Masa Pandemi Covid 19
di Sekolah,…… hal 59
7 Bambang Suwardi Joko, Kesiapan Sekolah Pasca Akan Diperbolehkan Pembelajaran
Tatap Muka, Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan Dan Kebudayaan Kementerian Pendidikan Dan
di daerah Zona Kuning, Oranye, dan Merah, dilarang melakukan proses pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan dan tetap melanjutkan Belajar Dari Rumah (BDR) sesuai dengan Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID 19).8
Dalam konteks pendidikan, disadari atau tidak, new normal telah mulai terjadi secara global sejak pandemi Covid-19. Kegiatan belajar mengajar yang biasanya dilaksanakan secara tatap muka secara langsung, dimana pendidik dan peserta didik hadir secara fisik di ruangan-ruangan kelas dan tempat-tempat belajar, kini diganti dengan pembelajaran melalui media elektronik (e-learning) baik secara sinkron ataupun secara nir-sinkron.9 Menurut Sigit dalam Normal Baru Pasca Covid-19, New Normal atau Normal Baru adalah suatu cara hidup baru atau cara baru dalam menjalankan aktivitas hidup ditengan pandemi covid-19 yang belum selesai.10
Implementasi adalah suatu proses penerapan ide, konsep, kebijakan, atau inovasi dalam suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak, baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap.11 Agustino dalam Konsep Dasar Belajar Dan Pembelajaran menjelaskan, Implementasi merupakan suatu proses
8 Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, Dan Menteri
Dalam Negeri, Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pada Tahun Ajaran 2020/2021 Dan
Tahun
9 Hadion Wijoyo, Suherman dkk, Dosen Inovatif Era New Normal, (Sumatera Barat:
Deepublish, 2021) Hal, 74
10 Andrian Habibi, Normal Baru Pasca Covid-19, Jurnal Adalah Buletin Hukum Dan
Keadilan, Vol. 4 No 1, 2020, hal 198
11 Abdullah Idi, Pengembangan Kurikulum Teori & Praktik, (Jogyakarta: Ar-Ruzz Media,
yang dinamis, dimana pelaksanaan kebijakan melakukan suatu aktivitas atau kegiatan, sehingga pada akhirnya akan mendapatkan suatu hasil yang sesuai dengan tujuan atau sasaran kebijakan itu sendiri.12
Pembelajaran adalah aktifitas penyampaian informasi dari pengajar kepada pelajar. Pembelajaran berarti kegiatan belajar yang dilakukan oleh pemelajar dan guru. Pembelajaran itu sendiri merupakan suatu sistim yang membantu individu belajar dan berinteraksi dengan sumber belajar dan lingkungan. Menurut Salaga dalam Implementasi Pembelajaran, pembelajaran adalah membelajarkan siswa dengan menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu keberhasilan pendidikan. Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan, implementasi pembelajaran adalah suatu tindakan atau pelaksanaan dari sebuah rencana yang telah disusun secara matang dan terperinci dalam melakukan proses pembelajaran.13
Pembelajaran daring sebagai bentuk belajar dari rumah melalui pembelajaran jarak jauh termuat dalam Surat Edaran Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan No 4 Tahun 2020. Pembelajaran Daring (online) yang sering dimanfaatkan oleh guru adalah pembelajaran yang berbantu media grup di media sosial seperti WhatsApp (WA), telegram, instagram, aplikasi zoom ataupun media lainnya sebagai media pembelajaran.14 Pembelajaran daring merupakan pembelajaran yang berlangsung di dalam jaringan dimana pengajar dan yang diajar
12 M.Ismail Makki dan Aflahan, Konsep Dasar Belajar Dan Pembelajaran, (Kadur
Pemekasan: Duta Media Publishing,2019) hal 7
13 Nurdin dan Usman, Implementasi Pembelajaran, (Yogyakarta: Rajawali Pers, 2011) hal
34
14 I Ketut Sudarsana Dkk, Covid-19: Perspektif Pendidikan, (Denpasar: Yayasan Kita
tidak bertatap muka secara langsung. Menurut Isman di dalam Konsep Pembelajaran Daring Berbasis Pendekatan Ilmiah, pembelajaran daring adalah pemanfaatan jaringan internet dalam pembelajaran.15
Pembelajaran harus tetap berlangsung, walaupun terjadi bencana pandemik global yang menjadikan pemerintah menerapkan social distancing pada dunia pendidikan, sehingga solusi yang paling tepat adalah pembelajaran daring. Pembelajaran daring pada dasarnya adalah pembelajaran yang dilakukan secara virtual melalui aplikasi virtual yang tersedia. Walaupun demikian, pembelajaran daring harus tetap memperhatikan kompetensi yang akan diajarkan. Guru harus menyadari bahwa pembelajaran memiliki sifat yang kompleks karena melibatkan aspek pedagogis, psikologis, dan didaktis secara bersamaan. Oleh karena itu pembelajaran daring bukan sekedar materi yang dipindahkan melalui media internet, bukan juga soal-soal yang dikirim melalu aplikasi sosial media.16
Pembelajaran daring menawarkan kegiatan pembelajaran yang efektif dan aman dari penularan covid-19 bagi pelaku pendidikan, karena pembelajran yang dilakukan dari tempat yang berbeda-beda. Konsep new normal dalam bidang pendidikan melalui pembelajaran daring merupakan pradigma baru yang harus dibiasakan oleh guru, siswa dan orang tua sebelum ditemukan vaksin atau penangkal virus corona.17
15 Albert Efendi Pohan, Konsep Pembelajaran Daring Berbasis Pendekatan Ilmiah,
(Tanjung Pinang: CV Sarnu Untung, 2020) hal 2
16 Albitar Septian Syarifuddin, Implementasi Pembelajaran Daring Untuk Meningkatkan
Mutu Pendidikan Sebagai Dampak Diterapkannya Social Distancing, Jurnal Pendidikan Bahasa
Dan Sastra Indonesia, Vol. 5 No. 1, 2020, hal 31
Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan agama islam melalui kegiatan bimbingan, pengarahan atau latihan dengan memerhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan kesatuan nasional.18 Menurut Zakiyah Darajat, dalam evaluasi hasil belajar bahwa Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta agar senantiasa dapat memahami kandungan ajaran agama islam secara menyeluruh, menghayati makna tujuan, pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan islam sebagai pandangan hidup.19
Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan pada hari Selasa, tanggal 25 Mei 2021, Bersama guru pengampu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam SMA N 1 Ampek Nagari yaitu bapak Fauzi S. Pd. I yang mengajar mata pelajaran PAI pada kelas XI, beliau menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran saat ini kembali dilaksanakan secara daring, karena pada masa new normal ini mengantisipasi agar wabah covid-19 tidak menyebar ketengah masyarat. Peneliti mendapatkan informasi bahwa pelaksanaan pembelajaran dilakukan dalam jaringan dengan menggunakan media Whats’app Group dan Youtube.
Peneliti juga mendapatkan informasi bahwa pada pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan secara daring terdapat beberapa permasalahan atau kendala yang dihadapi oleh guru atau. Guru kesulitan dalam memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan, karena ada beberapa tujuan dari materi
18 Akmal Hawi, Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2013) Cet ke 1, hal 19
yang diharapkan siswa dapat mengaplikasikannya atau mempraktekkannya, sehingga guru hanya mengirimkan videonya kepada siswa tanpa bisa dipraktekkan secara langsung.
Selanjutnya pendidik kurang mampu menggunakan teknologi dalam pelaksanaan pembelajaran daring. Tidak semua platform pembelajaran sebagai media utama pendukung pembelajaran daring atau online dikuasai seperti E-learning, Edmodo, Schoolgy dan lain sebagainya, sehingga guru hanya menggunakan media WhatsApp Gruop dan Youtube sebagai media pembelajaran, sehingga guru tidak dapat melakukan tatap muka karena keterbatasan jaringan dan kuota internet.
Peneliti juga melakukan wawancara kepada salah satu siswi kelas XI IPA 1 yaitu siswi Vinky Vinanda, siswi Vinky menjelaskan bahwa pelaksanaan pembelajaran pada masa New Normal ini dilakukan secara daring dengan memanfaatkan media What’sApp Grup dan aplikasi youtube, permasalah yang dihadapi selama pembelajaran daring yaitu kesulitan dalam memahami materi pembelajaran yang dilakukan secara daring karena ada beberapa materi yang bersifat praktek. Permasalahan selanjutnya akses internet yang kurang memadai, karena banyak siswa dan siswi yang tinggal di daerah yang kurang terjangkau oleh akses internet.
Berdasarkan kenyataan tersebut, peneliti ingin lebih mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran PAI yang dilakukan oleh guru pada masa new normal. Oleh karena itu penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA MASA NEW NORMAL DI SMA N 1 AMPEK NAGARI
B. Fokus Penelitian
Agar lebih terarah dan terpusatnya penelitian ini dilakukan fokusan penelitian, maka penulis memfokuskan penelitian yaitu Implementasi Pembelajaran PAI di Masa New Normal pada pelaksanaan pembelajaran daring kelas XI IPA 1 di SMA N 1 Ampek Nagari.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, agar penelitian ini tidak menyimpang dari pokok permasalahan, maka perlu diberikan rumusan masalah yaitu bagaimana pelaksanaan pembelajaran daring Pendidikan Agama Islam di kelas XI IPA 1 pada masa new normal di SMA N 1 Ampek Nagari?
D. Tujuan Dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana saja, pelaksanaan pembelajaran daring yang dilakukan oleh guru PAI dalam masa new normal sehingga tercapainya tujuan pembelajaran.
2. Manfaat Penelitian
Sedangkan yang menjadi manfaat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Sebagai penambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang implementasi yaitu pelaksanaan pembelajaran daring PAI pada masa new normal.
b. Sebagai bahan kajian bagi guru Pendidikan Agama Islam pada kelas XI IPAI 1 di SMA N 1 Ampek Nagari
c. Sebagai persyaratan untuk mencapai gelar sarjana pada Program studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan di IAIN Bukittinggi.
E. Penjelasan Judul
Implementasi : Pelaksanaan atau penerapan.20 Artinya segala sesuatu yang dilaksanakan dan diterapkan, sesuai dengan kurikulum yang telah dirancang atau didesain untuk kemudian dijalankan sepenuhnya sesuai dengan peraturan yang telah diterapkan.
Pembelajaran Daring : Pembelajaran daring merupakan pembelajaran yang berlangsung di dalam jaringan dimana pengajar dan yang diajar tidak bertatap muka secara langsung.21
Pendidikan Agama Islam : Usaha sadar untuk menciptakan siswa dalam meyakini, memahami, mengahayati, dan mengamalkan agama islam melalui kegiatan bimbingan, pengarahan atau latihan dengan memerhatikan tuntutan untuk menghormati
20 M. Joko Susilo, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2007) hal 174
21 Albert Efendi Pohan, Konsep Pembelajaran Daring Berbasis Pendekatan Ilmiah,,….hal
agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan kesatuan nasional pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA N 1 Ampek Nagari.22
New Normal : Perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19.23 Jadi, maksud judul keseluruhan adalah, pelaksanaan pembelajaran daring Pendidikan Agama Islam pada masa New Normal di kelas XI IPA 1 di SMA N 1 Ampek Nagari
F. Sistematika Penulisan
Penelitian ini terdiri dari tiga bab dengan sistematika penulisan sebagai beriku:
BAB I : Merupakan pendahuluan yang meliputi latarbelakang masalah, fokus penelitian, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, penjelasan judul dan sistematika penulisan.
BAB II : Merupakan landasan teori yang berpijak bagi penelitian yang membahas bab selanjutnya. Diantaranya yaitu penjelasan tentang pembelajaran Pendidikan Agama Islam, dan penelitian relevan.
22 Akmal Hawi, Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam,….,hal 19
23 Hadion Wijoyo dkk, Dosen Inovatif Era New Normal, (Sumatera Barat: Insan Cendekia
BAB III : Merupakan metodologi penelitian yang terdiri dari jenis penelitian, lokasi penelitian, informasi penelitia, teknik pengumpulan data dan teknik analisis data.
BAB IV : Merupakan hasil penelitian yang terdiri dari temuan umum dan temuan khusus
BAB II
LANDASAN TEORI A. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Pembelajaran Daring
Pembelajaran Daring sangat dikenal di kalangan masyarakat dan akademik dengan istilah pembelajaran online (online learning). Istilah lain yang sangat umum diketahui adalah pembelajaran jarak jauh (learning distance). Pembelajaran Daring merupakan pembelajaran yang berlangsung di dalam jaringan dimana pengajar dan yang diajar tidak bertatap muka secara langsung. Menurut Isman dalam Konsep Pembelajaran Daring Berbasis Pendekatan Ilmiah, pembelajaran daring adalah pemanfaatan jaringan internet dalam proses pembelajaran.
Sedangkan menurut Meidawati, dkk menjelaskan Pembelajaran Daring sendiri dapat dipahami sebagai pendidikan formal yang diselenggarakan oleh sekolah yang peserta didik dan instrukturnya (guru) berada di lokasi terpisah sehingga memerlukan sistem telekomunikasi interaktif untuk menghubungkan keduanya dan berbagai sumber daya yang diperlukan didalamnya. Pembelajaran daring dapat dilakukan dari mana saja dan kapan saja tergantung pada ketersediaan alat pendukung yang digunakan.24
Belajar daring adalah metode belajar yang menggunakan model interaktif berbasis internet dan Learning Menagament System (LMS). Seperti menggunakan Zoom, Google Meet, dan lainnya. Defenisi pembelajaran daring adalah metode
24 Albert Efendi Pohan, Konsep Pembelajaran Daring Berbasis Pendekatan Ilmiah,
belajar yang menggunakan model interaktif berbasis Internet dan Learning Manajemen System (LSM). Seperti menggunakan ZOOM, Google Meet, Google Drive, dan sebaginya. Kegiatan daring diantaranya Webinar, kelas online, seluruh kegiatan dilakukan menggunakan jaringan internet dan computer. Pembelajaran daring dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu synchronous dan asynchronous.
Synchronous Learning, dengan pembelajaran daring jenis synchronous, pembelajar terlibat dalam pembelajaran daring dengan pengajar melalui streaming video dan suara pada waktu yang bersamaan. Dalam hal ini pengajar sebelumnya telah menyepakati waktu pembelajaran. Pengajar dapat dengan langsung berinteraksi dengan para pembelajar dan menjawab pertanyaan pada saat pertanyaan diajukan.
Asynchronous Learning (Collaborative) Learning yaitu pembelajar dapat berpartisipasi dalam pembelajaran daring pada waktu yang dapat ditentukan oleh mereka sendiri yang berarti pula bahwa pengajar tidak akan menanggapi langsung pertanyaan yang muncul. Dalam hal ini fleksibelitas waktu sangat terlihat jelas.25 Asynchronous menggunakan jasa teknologi seperti telepon, audio, transmisi satelit dan computer.26
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan pembelajaran daring adalah pembelajaran yang diselenggarakan melalui jejaring Web. Setiap mata kuliah/pelajaran menyediakan materi dalam bentuk rekaman video atau slideshow,
25 Komang Trisnadewi, Ni Made Muliani, Dkk. Covid:19Perspektif Pendidikan,
(Denpasar: Yayasan Kita Menulis, 2020) hal. 30-40
26 Supratman Zakir, Menggagas Model Pemvelajaran Dari Rumah (Learning From Home),
dengan tugas-tugas mingguan yang harus dikerjakan dengan batas waktu pengerjaan yang telah ditentukan dan beragam sistem penilaian.27
a. Ciri-Ciri Pembelajaran Daring
Pembelajaran daring merupakan pembelajaran yang dilakukan tanpa melakukan tatap muka, tetapi melalui platform yang tersedia. Segala bentuk materi pelajaran didistribusikan secara online, komunikasi juga dilakukan secara online, dan tes juga dilaksanakan secara online. Daring juga menyatakan kondisi pada suatu alat perlengkapan atau suatu unit fungsional. Sebuah kondisi dikatakan daring apabila memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut:
1) Di bawah pengendalian langsung dari alat yang lainnya 2) Di bawah pengendalian langsung dari sebuah sistem 3) Tersedia untuk pengguna segera atau real time
4) Tersambung pada suatu sistem dalam pengoperasiannya. 5) Bersifat fungsional dan siap melayani
Selama pelaksanaan pembelajaran daring, peserta didik memiliki keluluasaan waktu untuk belajar. Peserta didik dapat belajar kapan pun dan dimana pun, tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Peserta didik juga dapat berinteraksi dengan guru pada waktu yang bersamaan, seperti menggunakan video call atau live chat. Pembelajaran daring dapat disediakan secara elektronik menggunakan forum atau massage.
b. Tujuan Pembelajaran Daring
Pada Sebagian besar wilayah Republik Indonesia memasuki tahun pelajaran 2020/2021 yang umumnya akan dimulai tanngal 13 Juli 2021 masih sangat dimudahkan menerapkan Belajar Dari Rumah (BDR) atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau yang kerap disebut dengan Pembelajaran Daring selama darurat Covid-19 bertujuan untuk:
1) Memastikan pemenuhan hak peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan selama darurat Covid-19
2) Melindungi warga satuan pendidikan dari dampak buruk Covid-19 3) Mencegah penyebaran dan penularan Covid-19 di satuan
pendidikan, dan
4) Memastikan pemudahan dukungan psikososial bagi pendidik, peserta didik dan orang tua/wali. 28
c. Manfaat Pembelajaran Daring
Keberadaan teknologi dalam pendidikan sangat bermanfaat untuk mencapai efesiensi proses pelaksanaan pembelajaran dalam jaringan. Manfaat tersebut seperti efesiensi waktu belajar, lebih mudah mengakses sumber belajar dan materi pembelajaran. Menurut Meidawati dalam Konsep Pembelajaran Daring Berbasis Pendekatan Ilmiah, menjelaskan manfaat pembelajaran daring Learning yaitu sebagai berikut:
1) Dapat membangun komunikasi dan diskusi yang sangat efesien antara guru dengan murid,
2) Siswa saling berinteraksi dan berdiskusi antara yang satu dengan yang lainnya tanpa melalui guru,
3) Dapat memudahkan interaksi antara guru, dengan orang tua 4) Guru dapat dengan mudah memberikan materi kepada siswa
berupa gambar dan video, selain itu murid juga dapat mengunduh bahan ajar tersebut
5) Dapat memudahkan guru membuat soal dimana saja dan kapan saja tanpa batas waktu.
Pembelajaran daring juga memberikan metode pembelajaran yang efektif, seperti berlatih denga nada umpan balik terkait, menggabungkan kolaborasi kegiatan dengan belajar mandiri, personalisasi pembelajaran berdasarkan kebutuhan siswa yang menggunakan simulasi dan permainan.
Pembelajaran daring juga dapat mendorong siswa tertantang dengan hal-hal baru yang mereka peroleh selama proses belajar, baik Teknik interaksi dalam pembelajaran maupun pengguna media-media pembelajaran yang beraneka ragam. Siswa juga secara otomatis, tidak hanya mempelajari materi ajar yang diberikan guru, melainkan mempelajari cara belajar itu sendiri.
d. Prinsip-prinsip Pembelajaran Daring
Prinsip pembelajaran daring adalah terselenggaranya pembelajaran yang bermakna, yaitu proses pembelajaran yang berorientasi pada ininteraksi dan kegiatan pembelajaran. Pembelajaran bukan terpaku pada pemberian tugas-tugas belajar kepada siswa. Tenaga pengajar dan yang diajar harus tersambung dalam proses pembelajaran daring.
Menurut Munawar di dalam Konsep Pembelajaran Daring Berbasis Pendekatan Ilmiah, perencanaan sistem pembelajaran daring harus mengacu pada tiga prinsip yang harus di penuhi yaitu:
1) Sistem pembelajaran harus sederhana sehingga mudah untuk dipelajari 2) Sistem pembelajaran harus dibuat personal sehingga pemakai sistem
tidak saling tergantung.
3) Sistem harus cepat dalam proses pencarian materi atau menjawab soal dari hasil perancangan sistem yang dikembangkan.
e. Dasar Hukum Pembelajaran Daring
Pembelajaran daring di Indonesia diselenggarakan dengan aturan dan sistem yang terpusat pada peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah. Untuk mengatur pembelajaran daring pemerintah merumuskan dasar-dasar hukum penyelenggaraan pembelajaran Dalam Jaringan (Daring) di masa Pandemic Corona Virus 2019. Adapun dasar hukum dimaksud adalah:
1) Keppres No. 11 Tahun 2020, tentang penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Covid-19
2) Keppres No. 12 Tahun 2020, tentang Penetapan Bencana Nonalam Penyebaran Corona Virus (Covid-19) Sebagai Bencana Nasional 3) Surat Keputusan Kepala BNPB Nomor 9.A. Tahun 2020 tentang
Penetapan Status Keadaan Tertentu Darurat Bencana Wabah Penyakit akibat Corona Virus Indonesia
4) SE Mendikbud No. 3 Tahun 2020, Tentang Pencegahan Covid-19 pada satuan pendidikan
5) Surat Mendikbud No. 46962/MPK.A/HK/2020, tentang pembelajaran secara daring dan bekerja dari rumah dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19 pada perguruan tinggi
6) SE Mendikbud No. 4 Tahun 2020, tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran Virus Corona
7) Surat Edaran Menteri PANRB No. 19 Tahun 2020, tentang Penyesuaian Sistem Kerja Aparatur Sipil Negara dalam Upaya Pencegahan Penyebaran Covid-19 Lingkungan Instansi Pemerintah.
f. Ketentuan Pembelajaran Daring
Ketentuan pembelajaran daring telah diatur oleh Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui Surat Edaran No. 4 Tahun 2020, tentang Batasan-batasan dalam pelaksanaan pembelajaran daring. Adapun Batasan-batasannya sebagai berikut:
1) Siswa tidak dibebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas
2) Pembelajaran dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa
3) Difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup antara lain mengenai Covid-19
4) Tugas dan aktivitas disesuaikan dengan minat dan kondisi siswa, serta mempertimbangkan kesenjangan akses dan fasilitas belajar di rumah
5) Bukti atau produk aktivitas belajar dari rumah diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dari guru, tanpa harus berupa skor/nilai kuantitatif.29
g. Karakteristik Pembelajaran Daring
Adapun karakteristik pembelajaran daring adalah sebagai berikut:
1) Materi ajar disajikan dalam bentuk teks, grafik dan berbagai elemen multimedia,
2) Komunikasi dilakukan secara serentak dan tak serentak seperti video conferencing, chats rooms, atau discussion forums,
3) Digunakan untuk belajar pada waktu dan tempat maya,
4) Dapat digunakan berbagai elemen belajar berbasis internet, untuk meningkatkan komunikasi belajar,
5) Materi ajar relatif mudah diperbaharui,
6) Meningkatkan interaksi antara mahasiswa dan fasilitator,
7) Memungkinkan bentuk komunikasi belajar formal dan informal, 8) Dapat menggunakan ragam sumber belajar yang luas di internet.
h. Kegiatan Yang Harus Ada Dalam Pembelajaran Daring
Menurut Khan B.H, di dalam Covid-19: Perspektif Pendidikan, menjelaskan terdapat beberapa kegiatan yang harus ada dalam pembelajaran daring, yaitu:
1) Meningkatkanperhatian siswa,
2) Menyampaikan tujuan belajar kepada siswa,
29 Albert Efendi Pohan, Konsep Pembelajaran Daring Berbasis Pendekatan Ilmiah
3) Mendorong ingatan kembali mahasiswa tentang informasi yang telah dipelajarinya,
4) Menyajikan stimuli secara khusus, 5) Memberi petunjuk belajar,
6) Memperoleh performan siswa,
7) Memberikan umpan balik yang informatif, 8) Menilai tingkat performan mahasiswa, 9) Meningkatkan retensi dan transfer belajar
Keberhasilan sistem pembelajaran daring sangat tergantung dari beberapa komponen baik siswa, guru, sumber belajar, maupun teknologi informasi. Komponen-komponen tersebut terintegrasi supaya benar-benar dapat menghasilkan hasil belajar yang berkualitas.30
i. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Daring
1) Kelebihan Pembelajaran Daring a) Dapat diakses dengan mudah
Cukup menggunakan smartphone atau perangkat teknologi lain seperti laptop yang terhubung dengan internet pendidik dan peserta didik sudah dapat mengakses materi yang akan dipelajari. Dengan menerapkan pembelajaran daring pendidik dan peserta didik dapat melakukan kegiatan pembelajaran di mana saja dan kapan saja.
b) Biaya lebih terjangkau
Dengan bermodalkan paket data internet, pendidik dan peserta didik dapat mengakses berbagai materi pembelajaran tanpa khawatir ketinggalan pelajaran apabila tidak hadir. Disarankan supaya peserta didik mendaftar menjadi member dalam e-learning karena biaya member lebih mudah dibandingkan mengikuti tes atau kursus di Lembaga pembelajaran.
c) Waktu belajar fleksibel
Biasanya kebanyakan orang yang ingin belajar lagi tidak memiliki waktu yang cukup. Salah satu alasannya mungkin karena waktu yang sudah digunakan untuk bekerja. Pembelajaran daring adalah solusinya. Waktu belajar bisa dilakukan kapan saja tanpa terikat dengan jam belajar.
d) Wawasan yang luas
Dengan menerapkan pembelajaran daring, tentunya pendidik dan peserta didik akan menemukan banyak halyang semula belum diketahui. Hal ini desebabkan materi pembelajaran yang tersedia di platform online belum tersedia dalam media cetak seperti buku yang sering digunakan dalam metode belajar mengajar konvensional berbeda dengan pembelajaran melalui tatap muka yang dilakukan dengan membaca buku.
2) Kekurangan Pembelajaran Daring a) Keterbatasan akses internet
Salah satu kekurangan metode pembelajaran daring adalah terbatasnya akses internet. Jika peserta didik berada di daerah yang tidak mendapatkan jangkauan internet stabil, maka akan sulit bagi mereka mengakses layanan internet.
Hal ini tentunya masih banyak terjadi di Indonesia mengingat beberapa daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) masih belum terjangkau akses internet. Selain itu, harga pemakaian data internet juga masih dirasa cukup mahaluntuk beberapa kalangan masyarakat Indonesia. Hal ini menyebabkan pembelajaran daring masih dianggap beban yang berlebih bagi masyarakat.
b) Beberapa metode pembelajaran daring bersifat satu arah.
Hal tersebut menyebabkan interaksi pendidik dan peserta didik menjadi berkurang sehingga akan sulit bagi peserta didik untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut mengenai materi yang sukar dipahami. c) Materi yang diajarkan dalam pembelajaran daring direspon
berdasarkan tingkat pemahaman yang berbeda-beda.
Tergantung kepada kemampuan si pengguna. Beberapa peserta didik mungkin data menangkap materi dengan lebih cepat hanya dengan membaca, namun ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama sampai benar-benar paham. Bahkan ada juga yang membutuhkan penjelasan dari orang lain, agar dapat memahami materi yang dipelajari.
d) Minimnya pengawasan dalam belajar
Kekurangan pengawasan dalam melakukan pembelajaran secara daring membuat peserta didik kadang kehilangan fokus. Degan adanya kemudahan akses, beberapa pengguna cendrung menunda-nunda waktu belajar.31
j. Problematika Yang Terjadi Pada Saat Pembelajaran Jarak Jauh Bagi Baik Dari Sisi Siswa,Mahasiswa,doden ataupun Guru
1) Ketersediaan Sarana dan Prasarana Pembelajaran
Siswa/guru tidak memiliki sarana dan prasarana pembelajaran jarak jauh seperti HP, laptop, computer, bagi Sebagian siswa merupakan barang mewah. Namun mereka terpaksa harus memiliki salah satunya. Kuota internet dan jaringan juga merupakan bagian dari sarana dan prasarana yang harus ada, namun kondisi ekonomi juga letak geografis menyebabkan hal ini menjadi kendala.
2) Ketidaksiapan mental
Ketidaksiapan mental dialami oleh siswa, guru dan orang tua. Siswa tidak siap karena memang tidak memiliki kebiasaan pjj sebelumnya. Mereka tidak bisa melakukan pembelajaran mandiri berbasis IT. Rasa frustasi membuat mereka menjadi malas mengikuti pjj. Untuk siswa yang memang pada dasarnya malas atau lebih senang berkegiatan dari pada manis di depan perangkat digital, maka kondisi ini membuat siswa berada dalam tekanan. Ketidaksiapan mental juga dialami guru. Guru yang biasa aktif kini harus lebih banyak duduk di depan perangkat menyiapkan bahan pembelajaran yang semuanya hatus berbasis digital.
3) Kesulitan mengubah pola belajar dan mengajar
Bagi siswa mengubah pola belajar yang terbiasa dengan pembelajaran tatap muka, mengikuti pola pembelajaran daring tentu membingungkan. Siswa terlanjur maunya diingatkan, diberitahu, ditegur secara langsung kini mereka harus
belajar mandiri hanya ditemani oleh media elektronik. Demikian juga bagi guru, mengubah kebiasaan mengajar di kelas dengan jadwal tersedia menjadi pola pjj juga membingungkan.
Banyak guru yang menyamakan pola belajar tatap muka dengan pjj. Padahal pjj harus beda dengan tatap muka. Pada pjj prinsip yang dianut harusnya dapat diakses dimana saja dan kapan saja. Sehingga yang perlu dilakukan guu adalah menyediakan bahan pembelajaran dalam bentuk digital dan ruang/tempat bagi siswa untuk melaporkan hasil pembelajaran.
4) Kurangnya kemampuan menggunakan TIK
Siswa yang karena keterbatasan ekonominya sangat mungkin selama ini ia tidak mengenal dunia digital. Saat ini diharuskan menggunakan media digital tersebut. Hal ini mengakibatkan gagap dalam mengakses pembelajaran.
Keterbatasan kemampuan guru dalam bidang TIK juga membuat guru bingung harus menyediakan pembelajaran yang bagaimana. Dengan demikian pembelajaran menjadi sangat terbatas karena disesuaikan dengan kemampuan masing-masing guru.
5) Kurangnya pemahaman tentang pembelajaran jarak jauh
Kurangnya pemahaman baik bagi siswa maupun guru terhadap hakikat pjj membuat siswa maupun guru tidak siap secara mental seperti telah dikemukakan di atas. Seharusnya siswa dan guru sama tahu bahwa pembelajaran jarak jauh sangat berbeda dengan pembelajaran tatap muka. Berikut perbedaan antara PJJ dan PTM yang seharusnya dipahami.32
32 Adi Wijayanto, Penerapan Adaptasi Kebiasaan Baru Pada Era Pandemi Virus
k. Komponen Pendukung Pembelajaran Daring
Untuk memperlancar pelaksanaan pembelajaran daring selama pandemi Covid-19 perlu didukung oleh beberapa komponen Yaitu:
1) Infrastruktur adalah semua fasilitas fisik yang diperlukan dalam melaksanakan pembelajaran daring antara lain seperti hp, komputer, laptop dan alat elektronik lainnya.
2) Sistem dan aplikasi
Sistem adalah kumpulan dari elemenelemen yang berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu. Aplikasi merupakan penerapan dari rancang sistem untuk mengolah data yang menggunakan aturan atau ketentuan bahasa pemrograman tertentu. Sistem dan aplikasi yang digunakan dalam pembelajaran daring antara lain: internet, whatsapp, google classroom, zoom, google meet, serta sistem dan aplikasi lainnya.
6) Konten adalah informasi yang tersedia melalui media atau produk elektronik. Konten mengacu pada materi atau informasi pembelajaran yang dibuat oleh pengajar.
7) Operator mengacu pada orang yang bertugas menggunakan infrastruktur, menjalankan sistem dan aplikasi serta membuat konten. Baik pengajar, pembelajar atau keduanya dapat berfungsi sebagai operator dalam.33
2. Pelaksanaan Pembelajaran Daring
33 Noor Anisa Nabila, Pembelajaran Daring Di Masa Covid-19, Jurnal Pendidikan, Vol. 1
Pelaksanaan adalah suatu tindakan atau pelaksanaan dari sebuah rencana yang sudah disusun secara matang, dan terperinci, implementasinya biasanya dilakukan setelah perencanaan seudah dianggap selesai. Secara sederhana pelaksanaan bisa diartikan penerapan. Menurut Majone dan Wildavsky dalam Pelaksanaan Pembelajaran Daring di Era Covid-19 mengemukakan pelaksanaan sebagai evaluasi. Browne dan Wildavsky mengemukakan bahwa pelaksanaan adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan.
Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kata pelaksanaan bermuara pada aktivitas, adanya interaksi, tindakan, atau mekanisme suatu sistem. Ungkapan mekanisme mengandung arti bahwa pelaksanaan bukan sekedar aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana dan dilakukan secara sungguh-sungguh berdasarkan norma tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan.
Pelaksanaan pembelajaran menurut Nana Sudjana di dalam Pelaksanaan Pembelajaran Daring di Era Covid-19 adalah proses yang diatur sedemikian rupa menuntut Langkah-langkah tertentu agar pelaksanaan mencapai hasil yang diharapkan. Sedangkan menurut Syaiful Bahri dan Aswan Zain pelaksanaan pembelajaran adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif, nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dan siswa. Interaksi yang bernilai edukatif dikarenakan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yng telah dirumuskan sebelum pelaksanaan pembelajaran dimulai.
Pelaksanaan pembelajaran daring adalah segala aktivitas atau usaha yang dilakukan oleh pendidik dan peserta didik pada suatu lingkungan belajar dengan bantuan internet. Pelaksanaan pembelajaran daring adalah sistem pembelajaran
yang dilakukan secara online (tanpa tatap muka) dan dalam waktu yang fleksibel. Jadi dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran daring adalah berlangsungnya proses interaksi peserta didik dengan guru pada suatu lingkungan belajar melalui media internet.
Prinsip pelaksanaan pembelajaran daring dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip yang tertuang dalam Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Viru Disease (Covid-19), yaitu:
a) Keselamatan dan Kesehatan lahir bathin peserta didik, pendidik, kepala satuan pendidikan dan seluruh warga satuan pendidikan menjadi pertimbangan utama dalam pelaksanaan pembelajaran daring.
b) Pembelajaran daring dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik,tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum
c) Pembelajaran daring dapat difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup, antara lain mengenai pandemic Covid-19
d) Materi pembelajaran bersifat inklusif sesuai dengan usia dan jenjang pendidikan, konteks budaya, karakter dan jenis kekhususan peserta didik.
e) Aktivitas dan penugasan dalam pembelajaran daring dapat bervariasi antar daerah, satuan pendidikan dan peserta didik sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses terhadap fasilitas pembelajaran daring
f) Hasil belajar peserta didik selama pembelajaran daring diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna dari guru tanpa harus memberi skor/nilai kuantitatif
g) Mengedepankan pola interaksi dan komunikasi yang positif antar guru dengan orang tua/wali.
Dalam pelaksanaan pembelajaran pembelajaran ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:
a. Metode yang digunakan pada pembelajaran daring
Metode dalam Bahasa arab dikenal dengan istilah Thariqah yang berarti langkah-langkah strategis dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan. Bila dihubungkan dengan pendidikan, maka startegi tersebut haruslah diwujudkan dalam proses pendidikan, dalam rangka pengembangan sikap mental dan kepribadian agar peserta didik memahami materi ajar dengan mudah, efektif dan dapat dicerna dengan baik.
Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dipergunakan oleh pendidik dalam mengadakan hubungan dengan peserta didik pada saat berlangsungnya proses pembelajaran. Dengan demikian, metode pembelajaran merupakan alat untuk menciptakan proses pembelajaran yang diharapkan.
Untuk melaksanakan proses pembelajaran suatu materi pembelajaran perlu difikirkan metode pembelajaran yang tepat. Ketepatan penggunaan metode pembelajaran tergantung pada kesesuaian metode pembelajaran dengan beberapa faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketepatan penggunaan metode pembelajaran yaitu:
1) Kesesuaian metode pembelajaran dengan tujuan pembelajaran 2) Kesesuaian metode pembelajaran dengan materi pembelajaran 3) Kesesuaian metode pembelajaran dengan kemampuan guru 4) Kesesuaian metode pembelajaran dengan kondisi siswa
5) Kesesuaian metode pembelajaran dengan sumber dan fasilitas yang tersedia
6) Kesesuaian metode pembelajaran dengan situasi dan kondisi belajar mengajar
7) Kesesuaian metode pembelajaran dengan waktu yang tersedia 8) Kesesuaian metode pembelajaran dengan tempat pelajaran.
Sedangkan ciri-ciri metode yang baik untuk proses belajar mengajar antara lain:
1) Bersifat luwes, fleksibel dan memilih daya yang sesuai dengan watak murid dan materi
2) Bersifat fungsional dalam menyatukan teori dengan praktek dan mengantarkan murid pada kemampuan praktis
3) Tidak mereduksi materi, bahkan sebaiknya mengembangkan materi
4) Mengembangkan keleluasaan pada murid untuk menyatakan pendapat.
5) Mampu menetapkan guru dalam posisi yang tepat, terhormat dalam keseluruhan proses pembelajaran.34
Metode pembelajaran adalah seperangkat cara yang dilakukan guna mencapai tujuan tertentu dalam proses pembelajaran. Metode pembelajaran juga diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan dari pembelajaran akan memberikan arah kemana pembelajaran ini dilaksanakan untuk apa pembelajaran ini dilaksanakan.
Dengan segala sisi positif dan negatif yang dimiliki oleh pembelajaran daring, pelaksanaan pembelajaran tetap harus berpedoman pada tujuan dari pembelajaran itu sendiri. Metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran daring selama pandemi covid-19 yaitu:
1) Metode ceramah
Metode ceramah dapat diartikan sebagai cara menyajikan pelajaran melalui penurutan secara lisan atau penjelasan langsung kepada kelompok siswa. Metode ini terbilang mudah untuk dilaksanakan. Dalam hal ini pengajaran lebih menguasai kelas. Metode ini dapat dilakukan dengan memberikan penjelasan kepada pemelajar. Untuk membuat lebih menarik pengajar dapat membuat penjelasan materi dalam bentuk video pembelajaran. Keunggulan video pembelajaran yang dibuat oleh pengajar akan memudahkan pemelajar untuk
34 Siti Nur Aidah, Cara Efektif Penerapan Metode dan Model Pembelajaran, (Jogjakarta: KBM
memahami materi pelajaran karena bisa diulang mempelajari apabila ada materi yang belum mengerti.
2) Metode diskusi
Metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran, dimana peserta didik dihadapkan kepada suatu masalah, yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama. Metode ini sangat bagus digunakan untuk membuat pembelajaran menjadi kritis serta mendorong mereka untuk mengekspresikan ide dan pikirannya. Diskusi dapat dilaksanakan melalui video conference secara langsung dengan menggunakan zoom, google meet, webex dan aplikasi video conference lainnya. Diskusi juga dapat dilakukan degan saling berbalas komentar pada google classroom, komentar yang diberikan dalam bentuk tulisan.
3) Metode demosntrasi
Metode demostrasi dilakukan dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan dan urutan melakukan kegiatan, baik secara langsung melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang disajikan. Kegiatan demonstrasi dapat langsung melalui aplikasi video conference ataupun dengan bantuan media video. Dalam hal ini pengajar dapat membuat video tentang mereka saat menjelaskan sesuatu.
4) Metode resitasi
Metode resitasi adalah salah satu metode dalam proses belajar mengajar dimana siswa dan guru memberikan tugas tertentu dan siswa mengerjakannya kemudian tugas tersebut dipertanggungjawabkan kepada guru.
Metode ini mengharuskan pemelajar untuk membuat resume dengan kalimat sendiri. Kelemahan saat pembelajaran daring adalah pengajar tidak dapat mengontrol pekerjaan yang dibuat oleh pemelajar, apakah benar-benar kata-kata sendiri atau copy paste.
5) Metode pemecahan masalah
Metode ini mengajarkan penyelesaian masalah dengan memberikan penekanan pada terselesaikannya suatu masalah secara menalar. Pembelajaran dapat diberikan soal lalu diminta untuk mencapi penyelesaiannya. Metode ini melatih pembelajar untuk berfikir kritis, mandiri dankreatif.
6) Metode discovery
Metode ini digunkan untuk mengembangkan cara belajar aktif dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan. Melalui belajar penemuan, siswa juga bisa belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan sendiri masalah yang dihadapi. Metode ini meminta pemelajar untuk mencari sendiri materi yang akan dipelajari, metode ini melatih keterlibatan pebelajar secara aktif dalam proses pembelajaran.
7) Metode inquiry
Metode inquiry adalah suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, krisis, logis, analitis sehingga mereka dapat menemukan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Pengajar menjelaskan materi lalu pemelajar diberikan beberapa pertanyaan terkait materi yang dibahas. Pengajar dapat membantu pemelajar menjawab pertanyaan yang sulit
dipahami pemelajar. Di akhir pembelajaran, pemelajar membuat rangkuman materi.
35
b. Media pembelajaran daring
Media pembelajaran adalah adalah suatu alat perantara atau pengantar yang berfungsi untuk menyalurkan pesan atau informasi dari guru kepada siswa agar efektivitas dan efesiensi proses pembelajaran tercapai. Media pembelajaran dapat berbentuk perangkat lunak maupun perangkat keras.36
Media teknologi pembelajaran jarak jauh yang dapat digunakan antara lain, aplikasi zoom, google classroom, TVRI, WhatsApp group, Google meet dan lain sebagainya. Selain itu, kemendikbud juga juga mempunyai portal belajar belajar sendiri, yaitu Rumah Belajar yang dapat diakses secara gratis.37
1) Zoom adalah salah satu satunya aplikasi yang dapat digunakan dengan cara melakukan pembelajaran secara virtual, aplikasi zoom dapat mempertemukan antara pereta didik dengan pengajar secara virtual atau video sehingga proses pembelajaran dapat tersimpulkan secara baik.
2) Google Class merupakan ruang kelas yang disediakan oleh google, dalam google classroom pengajar dapat lebih mudah membagikan materi maupun tugas yang telah di golongkan ataupun disusun bahkan pada google classroom pengajar dapat memberi waktu pengumpulan tugas sehingga peserta didik tetep diajarkan disiplin dalam mengatur waktu.
35 Noor Anisa Nabila, Pembelajaran Daring Di Masa Covid-19, Hal 49-51
36 Hari Antoni dan Jasmienti dkk, Implementasi Teknologi Virtual Reality Pada Media
Pembelajaran Perakitan Komputer, Jurnal Nasional Pendidikan Teknik Informatika: Janapati,
Vol. 9, No. 1, 2020, hal 85
37 Handion Wijoyo dkk, Efektivitas Proses Pembelajaran Di Masa Pandemi, (Solok:
3) Whatsapp adalah aplikasi yang sangat popular saat ini, apikasi Whatsapp ini merupakan aplikasi gratis yang mudah digunakan dan telah menyediakan fitur enkripsi yang membuat komunikasi menjadi aman. Whatapp adalah aplikasi untuk melakukan percakapan baik dengan menirim teks, suara maaupun video, whatsapp merupakan aplikasi yang paling diminati masyarakat dalam berkomunikasi melalui internet.
4) Youtube merupakan aplikasi untuk mengupload video, youtube banyak digunakan untuk berbagai video, dimana youtube kini juga digunakan dalam pembelajaran. Youtube adalah salah satu media yang menunjang pembelajaran berbasis internet atau online yang dapat memvisualisasikan teknik dan materi pembelajaran yang baik melalui youtube.
5) Penggunaan Whatsaap, Google Class, digunakan secara baik dalam menyampaikan informasi, materi ataupun penugasan, dan zoom juga sangat bermanfaat dalam menyampaikan materi secara tatap muka secara virtual, peserta didik dan pengajar dapat berinteraksi dengan baik serta adanya feedback antara peserta didikpeserta didik dan pengajar dalam pembelajaran sehingga pembelajaran lebih menyenagkan dan materi juga tersampaikan kepada peserta didik degan baik dan dapat diserap dengan mudah walaupun pengguna pelaksanaan pembelajaran secara online ini cukup mahal namun baik peserta didik maupun pendidik dapat mengambil manfaat yang sangat besar dari pelaksanaan pembelajaran online ini
yaiu pembelajaran online yang relative mahal ini bisa menggantikan biaya transformasi peserta didik maupun pendidik saat harus dating ke kelas. 38
Secara yuridis pembelajaran jarak jauh (PJJ) merupakan pola pembelajaran yang berlangsung dengan adanya keterpisahan antara guru dan anak didik. Mendikbud UU Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 15 pendidikan jarak jauh merupakan pendidikan yang anak didik terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi dan komunikasi dan media lain. Pembelajaran jarak jauh juga dikenal dengan E-Learning.
E-Learning merupakan aplikasi tercipta untuk mengatasi keterbatasan antara pendidik dan anak didik, terutama dalam hal ruang dan waktu, dengan E-Learning pendidik dan anak didik tidak harus berada dalam satu dimensi ruang dan waktu dan pembelajaran dapat berjalan dan mengabaikan kedua hal tersebut.
Dalam membuat pembelajaran daring digunakan sebagai alat untuk meningkatkan efesiensi dan efektivitas pembelajaran. Media pembelajaran dipergunakan untuk mencapai tujuan seperti membuat jelas pesan secara visual sehingga tidak terlalu verbal. Mengatasi keterbatasan ruang, menimbulkan semangat dalam belajar, memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk berinteraksi secara langsung dengan lingkungan mereka dan kenyataan dilapangan, serta memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar mandiri berdasarkan kemampuan dan minat mereka.
38Meda Yuliani, Pembelajaran Daring Untuk Pendidikan: Teori Dan Penerapan
Pembelajaran yang dilakukan dirumah memudahkan orang tua dalam me monitoring atau mengawasi secara langsung terhadap perkembangan belajar anak. Orang tua mempunyai tugas untuk membimbing anak supaya dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Komunikasi yang intensif dibutuhkan anak didik baik antara guru dengan siswa, siswa dengan orang tua, maupun guru dengan orang tua untuk selalu sejalan dalam membimbing kegiatan belajar siswa di rumah.39
c. Penilaian Hasil Belajar Pembelajaran Daring
Secara umum proses pembelajaran terdiri dari tiga tahapan, yaitu tahapan persiapan, pengajaran, dan evaluasi (penilaian hasil belajar). Ketiga proses tersebut tersebut harus dilewati dengan sebaik mungkin guna menghasilkan pembelajaran yang bermutu dan terukur tingkat kemajuan dan ketuntasannya.
Penilaian merupakan proses pegumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik dalam ranah sikap (spriritual dan sosial), ranah pengetahuan, dan ranah ranah keterampilan yang dilakukan secara terancana dan sistematis, selama dan setelah proses pembelajaran suatu kompetensi muatan pembelajaran untuk ukuran waktu tertentu. Penilaian hasil belajar berperan membantu peserta didik mengetahui capaian pembelajaran (learning outcomes) memperoleh informasi tentang kelemahan dan kekuatan pembelajaran dan belajar. Ada tiga pendekatan dalam penilaian yaitu sebagai berikut:
1) Penialain akhir pembelajaran (assessment of learning)
39 Handion Wijoyo dkk, Efektivitas Proses Pembelajaran Di Masa Pandemi,…. Hal,
Penialaian ini merupakan penilaian yang dilaksanakan setelah proses pembelajaran selesai. Proses pembelajaran tidak selalu terjadi di akhir tahun atau di akhir peserta didik menyelesaikan pendidikan pada jenjang tertentu. Setiap pendidikan melakukan penilaian yang dimaksudkan untuk memberikan pengakuan terhadap pencapaian hasil belajar setelah proses pembelajaran selesai, yang berarti pendidik tersebut melakukan assessment of learning.
2) Penilaian untuk pembelajaran (assessment for learning).
Penilain ini dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dan bisanya digunakan sebagai dasar untuk melakukan perbaikan proses belajar mengajar. Pada assessment for learning pendidik memberikan umpan balik terhadap proses belajar peserta didik, memantau kemanjauan, dan menentukan kemajuan belajarnya. Assessment for learning juga dapat dimanfaatkan oleh pendidik untuk meningkatkan performa peserta didik. Penugasan, presentasi, proyek, termasuk kuis merupakan contoh-contoh bentuk assessment for learning (penilaian untuk proses pembelajaran).
3) Penilaian sebagai pembelajaran (assessment as learning)
Penilaian ini mempunyai fungsi yang mirip dengan assessment for learning, yaitu berfungsi sebagai formatif dan dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung. Perbedaannya, assessment as learning melibatkan peserta didik secara aktif dalam kegiatan penilaian tersebut. Peserta didik diberi pengalaman untuk belajar menjadi penilai bagi dirinya sendiri.40
40 Albert Efendi Pohan, Konsep Pembelajaran Daring Berbasis Pendekatan
3. Pendidikan Agama Islam
Dalam peraturan pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 pasal 1 ayat 1 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan, pendidikan agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan pembentukan sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran/ kuliah pada semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan.
Sementara itu pengertian lebih spesifik tentang Pendidikan Agama Islam menurut Muhaimin yakni usaha sadar, yakni suatu kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan yang dilakukan secara berencana dan sadar untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan dan pengalaman ajaran agama islam dari peserta didik di sekolah.41
Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah satu mata pelajaran yag bertujuan untuk membina, membimbing peserta didik secara maksimal demi tercapainya pribadi yang matang. Dengan Pendidikan Agama Islam ini, peserta didik diharapkan mampu memadukan fungsi iman, ilmu dan amal shaleh secara integral, sehingga dapat diperoleh kehidupan yang harmonis, baik di dunia, maupun di akhirat karena menurut ahli pendidikan Islam Asy Syaibany, tujuan tertinggi dari pendidikan Islam adalah memperiapkan kehidupan dunia dan akhirat.42 Selain itu Pendidikan Agama Islam menurut Zakiyah Daradjat adalah usaha terhadap anak
41 Muahaimin, Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002)
hal 76
42 Irna Adrianti, Dkk, Implementasi Pendekatan Scientific Pada Mata Pelajaran
Pendidikan Agama Islam, Jurnal Educative: Jurnal Of Educational Studies, Vol. 2, No 2, Tahun
didik agar kelak dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup.43
Jadi dapat disimpulkan bahwa Pendidikan agama islam adalah pendidikan melalui ajaran-ajaran agama islam melalui bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama islam itu sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.
B. Penelitian Relevan
1. Hasil penelitian dari skripsi Dewi Ftimah dengan judul Analisis Pelaksanaan Pembelajaran Daring Pada Masa Pandemi Covid-19 Di Sekolah Dasar yaitu menggambarkan bahwa pelaksanaan pembelajaran daring di SDIT Ahmad Dahlan tepatnya pada kelas V A sudah terlaksana cukup baik, peserta didik dan guru telah memiliki fasilitas-fasilitas dasar yang dibutuhkan, hal itu menggambarkan kesiapan pelaksanaan pembelajaran daring. Dalam pelaksanaan pembelajaran dari guru sudah melakukan perencanaan pembelajaran dan sudah melaksanakan pembelajaran dengan baik, yaitu menggunakan media pembelajaran, strategi, model dan pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan peserta didik. Pesamaan dari kedua penelitian ini yaitu terletak pada pembahasan tentang pelaksanaan pembelajaran daring. Perbedaan penelitiannya terletak pada variabel dan tempat penelitiannya. Skripsi Dewi
43 Mardan Umar dan Feiby Ismail, Buku Ajar Pendidikan Agama Islam (Konsep
Dasar Bagi Mahasiswa Perguruan Tinggi Umum), (Jawa Tengah: CV. Pena Persada, 2020) Cet
Fatimah menggunakan variabel Analisis Pelaksanaan Pembelajaran Daring Pada Masa Pandemi Covid-19 di Sekolah Dasar sebagai variabelnya, sedangkan proposal penulis Implementasi Pembelajaran PAI Pada Masa New Normal. Dan tempat penelitiannya juga berbeda, Skripsi Deewi Fatimah melakukan penelitian di SDIT, Jl. Enggano, Hadi Jaya, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, Provinsi Jambi, sedangkan proposal penulis melakukan penelitian di SMA N 1 Ampek Nagari, Jl lintas Bawan, Nagari Bawan, Kecamatan Ampek Nagari, Kabupaten Agam.
2. Hasil penelitian dari skripsi Yuwainee Mayeetae dengan judul Implementasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Ma’had Ass-Saqafah Al-Islamiyah Di Patani (Thailand Selatan) yaitu menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Ma’had As-Saqafah Al-Islamiyah menerapkan system pendidikan agama islam sesuai dengan materi yang telah ditetapkan kurikulum pendidikan yang menyesuaikan antara materi pembelajaran dengan potensi yang dimiliki oleh peserta didik, baik terkait dengan kemampuan kognitif, afektif, maupun psikomotoriknya dan berdasarkan Falsafah Negara, dengan tujuan untuk membentuk peserta didik menjadi warga negara yang mempunyai jiwa membangun negara. Persamaan dari kedua penelitian ini yaitu terletak pada pembahasan implementasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Perbedaan dari penelitian ini yaitu terletak pada variabel dan tempat penelitiannya. Skripsi Yuwainee Mayeetae menggunakan Implementasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada Ma’had Ass-Saqafah
Al-Islamiyah di Patani (Thailand Selatan) sebagai variabelnya, sedangkan proposal penulis menggunakan implementasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada masa pandemi covid-19. Dan tempat penelitiannya juga berbeda, skripsi Yuwainee Mayeetae melakukan penelitian di Ma’had Ass-Saqafah Al-Islamiyah di Patani (Thailand Selatan), sedangkan proposal penulis melakukan penelitian di SMA N 1 Ampek Nagari, Jl lintas Bawan, Nagari Bawan, Kecamatan Ampek Nagari, Kabupaten Agam.
3. Hasil Penelitian dari skripsi Umi Zulaikha dengan judul Implementasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) Bagi Nara Pidana Anak Di Lembaga Pemasyarakatan Anak Kutoarjo Kabupaten Purworejo Jawa Tengah yaitu pembelajaran pendidikan agama islam di lapas anak Kutoarjo berbeda dengan pembelajaran PAI di lembaga formal yang menekankan pada kemampuan akademik peserta didik. Lapas Anak Kutoarjo lebih menekankan pada materi akhlak hal ini dikarenakan latar belakang anak didik di Lapas yang lebih membutuhkan materi akhlak untuk membenahi akhlak anak didik. Pesamaan dari kedua penelitian ini yaitu terletak pada pembahasan implementasi pembelajaran PAI. Perbedaan dari penelitian ini terletak pada subjek dan tempat penelitiannya. Skripsi Umi Zulaikha menggunakan anak binaan di lapas Kutoarjo sebagai subjek penelitiannya, sedangkan proposal penulis menggunakan peserta didik kelas XI IPA 1 sebagai subjek penelitiannya. Dan tempat penelitiannya juga berbeda, Skripsi Umi Zulaikha melakukan penelitian di lembaga pemasyarakatan anak Kutoarjo Kabupaten Purworejo Jawa Tengah, sedangkan proposal
penulis di SMA N 1 Ampek Nagari Jl lintas Bawan, Nagari Bawan, Kecamatan Ampek Nagari, Kabupaten Agam.
4. Hasil penelitain dari skripsi Thoyibin Mustaqim dengan judul Implementasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas VIII Di SMP Negeri 2 Polanharjo Klaten Tahun Pelajaran 2014/2015 yaitu implementasi pembelajaran PAI dilaksanakan dengan baik, yaitu guru melakukan perencanaan pembelajaran dengan membuat RPP, silabus, dan materi kemudian melakukan pengorganisasian dan melaksanakan pembelajaran sesuai pada perencanaannya serta pada mengevaluasi untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi. Selain itu guru juga mengkoordinasi shalat berjama’ah yaitu kegiatan diluar pembelajaran untuk membiasakan siswa melaksanakan ibadah. Persamaan kedua penelitian ini yaitu terletak pada pembahasana implementasi pembelajaran PAI. Perbedaan penelitian ini terletak pada subjek penelitian dan tempat penelitiannya. Skripsi Thoyibin Mustaqim menggunakan peserta didik SMP Kelas VIII, sedangkan proposal penulis menggunakan peserta didik SMA Kelas XII. Dan pada tempat penelitiannya juga terdapat perbedaan tempat, pada penelitian skripsi Thoyibin Mustaqim melakukan penelitian di SMP Negeri 2 Polanharjo Klaten, sedangkan proposal penulis melakukan penelitian di SMA N 1 Ampek Nagari Jl lintas Bawan, Nagari Bawan, Kecamatan Ampek Nagari, Kabupaten Agam.
5. Hasil penelitian dari Skripsi Ahmad Khoriddin yang berjudul Implementasi Blended Learning dalam Pembelajaran PAI (Studi Kasus di SMP N 13
Surabaya) yaitu 1) konten media pembelajaran daring mampu menambah antusiasme belajar PAI bagi peserta didik dengan fitur yang tergolong lengkap, terdiri dari materi, video, gambar, dan lai-lainnya. 2) pelaksanaan model pembelajaran blended learning di SMP N 13 Surabaya dapat peneliti katakan berlangsung dengan baik, karena dengan menggunakan model pembelajaran ini peneliti melihat bahwa hamper semua siswa sangat antusias dan menikmati pembelajaran saat jam pelajaran berlangsung. Persamaan kedua penelitian ini yaitu terletak pada pembahasan Pendidikan agama Islam. Perbedaan penelitian ini terletak pada variabel, tempat dan subjek penelitian. Skripsi Ahmad Khoriddin menggunakan variabel Implementasi Blended Learning dalam Pembelajaran PAI, sedangkan proposal penulis Implementasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Masa Pandemi Covid-19 Di SMA N 1 Ampek Nagari, perbedaan selanjutnya terletak pada tempat penelitian. Skripsi Ahmad Khoriddin melakukan penelitian di SMP N 13 Surabaya, sedangkan proposal penulis melakukan penelitian di SMA N 1 Ampek Nagari Jl lintas Bawan, Nagari Bawan, Kecamatan Ampek Nagari, Kabupaten Agam. Perbedaan terakhir yaitu pada subjek penelitian, dimana Skripsi Ahmad Khoriddin menggunakan Peserta didik Kelas VIII SMP N 13 Surabaya sebagai subjek penelitiannya, sedangkan proposal penulis menggunakan peserta didik kelas XI SMA N 1 Ampek Nagari sebagai subjek penelitiannya.