• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

43 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Metode Penelitian

Menurut Sugiyono, (2017), penelitian ini merupakan proses panjang dan menyeluruh dimana berawal dari minat untuk mengetahui kejadian tertentu. Oleh sebab itu dilakukan langkah-langkah untuk memecahkan kejadian tersebut melalui proses pengumpulan data dan pengolahan data. Metode penelitian dibuat agar memperkecil kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi sehingga mendapatkan ketepatan penelitian. Dari hasil penelitian yang lengkap dengan studi keperpustakaan serta pengumpulan data yang diperlukan diperoleh data untuk diolah menjadi informasi yang siap dianalisa dan dapat ditarik menjadi suatu kesimpulan. Keterkaitan dari masing-masing tahapan sangat erat karena hasil dari tahap sebelumnya akan menentukan proses dan hasil dari tahap berikutnya.

Penelitian yang akan dilakukan adalah termasuk dalam penelitian deskriptif untuk menentukan faktor-faktor mempengaruhi keterlambatan pelaksanaan pekerjaan pada proyek pembangunan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang.

Pengumpulan data adalah dengan menggunakan pengamatan dan metode

kuesioner atau angket sebagai alat pengumpulan data. Penelitian ini menggunakan

metode survey dengan cara menjaring pendapat, pengalaman dan sikap responden

untuk mendapatkan data primer melalui wawancara serta observasi dan data

sekunder melalui kuesioner dan team schedule. Berdasarkan faktor-faktor yang

mempengaruhi keterlambatan pelaksanaan pekerjaan pada proyek pembangunan

Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang, maka ditentukan faktor-

faktor yang dilanjutkan dengan menentukan variabel-variabel untuk dijadikan butir-

butir pertanyaan yang akan diukur dalam bentuk kuesioner di dalam Tandur, (2010).

(2)

44 3.2. Langkah-langkah Penelitian

Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah : 1. Tahap 1

Tahap persiapan : langkah yang dilakukan yaitu merumuskan masalah penelitian dan menentukan batasan-batasan penelitian yang akan dinyatakan dalam penelitian agar dapat berjalan lancar.

2. Tahap 2

Tahap survei lapangan dan pengumpulan data. Langkah yang dilakukan dalam tahap ini adalah :

a. Survei lapangan : melihat kondisi proyek yang ada memenuhi syarat untuk dijadikan lokasi penelitian serta melakukan proses perijinan kepada pelaksanaan atau pemilik proyek.

b. Pengumpulan data tentang kinerja pekerjaan yang diperlukan untuk mendukung penelitian dengan data kuesioner.

c. Pengumpulan sumber data yaitu :

• Data primer

Data yang dikumpulkan dari sumber pertama. Data diperoleh dari mengamati langsung kinerja yang melakukan proyek pembangunan gedung Fakultas Ilmu Keolahragaan. Dari hasil pendahuluan wawancara dan observasi di lokasi proyek, maka didapatkan proyek tersebut yang berpengaruh terhadap keterlambatan, yaitu tenaga kerja yang kurang kreatif dan kurangnya pengawasan pekerjaan pada tenaga kerja di lihat dari hasil wawancara dan kenyataan di lapangan (observasi) pada proyek tersebut.

• Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari orang lain atau sumber lain.

Dalam penelitian ini, data sekunder diperoleh dari pihak pelaksana PT.

BRANTAS ABIPRAYA (PERSERO) dan PT. MITRAPLAN KONS. Data yang

diperoleh ialah berupa data material yang digunakan dan data waktu

pelaksanaan dalam bentuk kuesioner, team schedule, gambar perencanaan

pekerjaan.

(3)

45 3. Tahap 3

Tahap pengolahan data : tahap ini adalah pengolahan data kuesioner yang telah diberikan kepada responden pada proyek pembangunan gedung Fakultas Ilmu Keolahragaan tersebut.

4. Tahap 4

Tahap analisis : tahap ini menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan analisis data deskriptif dan inferensial dengan bantuan program SPSS versi 25.

5. Tahap 5

Tahap pembahasan : tahap ini untuk melakukan interprestasi terhadap hasil dari program SPSS versi.25 secara deskriptif untuk menemukan bobot faktor yang dapat mempengaruhi keterlambatan pekerjaan, juga dapat mengetahui faktor yang dominan serta langkah-langkah menentukan strategi yang dilakukan untuk pembangunan gedung Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang yang kemudian dijadikan kesimpulan.

3.3. Obyek Penelitian

Obyek penelitian, pada proyek pekerjaan konstruksi pembangunan gedung Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang .

3.4. Populasi dan Sampel 3.4.1. Populasi

Di dalam Tandur, A, (2010), populasi dari penelitian ini adalah orang-orang

yang mengetahui kondisi dan yang terlibat secara langsung di dalam pekerjaan

proyek pembangunan gedung Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri

Malang pada tanggal anggaran 14 Mei 2018 sampai 09 November 2018 sebanyak

30 responden, yang terdiri dari orang-orang yang ada di kontraktor pelaksana 21

orang dan konsultan pengawas sebanyak 10 orang (detail tugas masing-masing

pekerja di halaman 69) .

(4)

46 3.4.2. Sampel

Dalam penelitian ini sampel diambil dengan cara acak/random menggunakan disproportionate stratified random sampling (Sugiyono, 2006). Jumlah total yang akan diambil sebanyak 30 responden. Responden ini diambil dari orang- orang yang ada di kontraktor pelaksana 20 sampel, konsultan pengawas sebanyak 10 sampel. (hasil dari perhitungan sampel). Besaran atau ukuran sampel ini sangat tergantung dari besaran tingkat ketelitian atau kesalahan yang diinginkan peneliti.

Namun, dalam hal tingkat kesalahan, pada penelitian keterlambatan maksimal tingkat kesalahan adalah 5% (0,05). Makin besar tingkat kesalahan maka makin kecil jumlah sampel di kutip hendry (2010).

3.5. Perancangan Kuesioner 3.5.1. Instrumen Penelitian

Menurut Sugiyono (2017), yang dimaksud dengan instrumen penelitian adalah sebagai berikut :

Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan pengukuran fenomena maupun objek penelitian yang di amati. Instrumen penelitian digunakan sebagai alat pengumpulan data, dan instrumen yang lazim digunakan dalam penelitian adalah beberapa daftar pertanyaan serta kuesioner yang disampaikan dan diberikan kepada masing-masing responden yang menjadi sampel dalam penelitian pada saat observasi.

Dalam operasional variabel penelitian menggunakan skala ordinal. Skala ordinal digunakan untuk memberikan informasi nilai pada jawaban. Setiap variabel penelitian diukur dengan menggunakan instrumen pengukuran dalam bentuk kuesioner berskala ordinal yang memenuhi pernyataan-pernyataan tipe Skala Likert.

Menurut Sugiyono (2017) yang dimaksud dengan Skala Likert adalah sebagai berikut :

Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi

seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian,

(5)

47 fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian.

Instrumen penelitian yang akan digunakan adalah Skala Likert Adapun kriteria skor jawaban pertanyaan-pertanyaan yang terdapat pada tabel 3.1 dan tabel 3.2 menggunakan skala likert Interval empat yaitu :

1 = Tidak berpengaruh skor 1 2 = Agak berpengaruh skor 2 3 = Berpengaruh skor 3 4 = Sangat berpengaruh skor 4

Jadi alasan mengambil skala likert 4 jenis, penghilangan jawaban di tengah berdasarkan tiga alasan Lailiyatul, (2013) , yaitu :

1. Kategori ragu-ragu memiliki arti ganda, bisa diartikan netral, sangat berpengaruh, tidak berpengaruh.

2. Tersedianya jawaban yang ditengah menimbulkan kecenderungan jawaban ke-tengah (central tendency effect), terutama bagi mereka yang ragu-ragu atas arah kecenderungan jawabannya.

3. Maksud kategori jawaban TB-AB-B-SB adalah terutama untuk melihat kecenderungan pendapat responden kearah sangat berpengaruh atau arah tidak berpengaruh.

3.5.2 Kuesioner

Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribandinya, atau hal-hal lain yang diketahui.

Kuesioner dapat berupa pertanyaan atau pertanyaan tertutup dan terbuka.

Rancangan kuesioner yang dibuat penulis adalah kuesioner tertutup dimana jawaban

dibatasi atau sudah ditentukan oleh penulis, jumlah kuesioner ditentukan

berdasarkan indikator variabel penelitian. Peneliti menggunakan jenis kuesioner

(6)

48 tertutup yaitu kuesioner yang dibagikan sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih.

Kuesioner terdiri dari 25 Pernyataan yaitu 25 pernyataan mengenai faktor keterlambatan pada lokasi proyek.

3.5.3. Responden

Di dalam Suyatno, (2010), Responden dalam penelitian ini adalah individu yang berpengalaman sebagai pelaksana khusus pada pembangunan gedung Fakultas Ilmu Keolahragaan atau pada proyek studi kasus dan pernah memegang jabatan sebagai konsultan pengawas dan kontraktor pelaksanaan.

3.5.4. Merancang Kuesioner

Di dalam Suyatno, (2010), kuesioner (lampiran 2) dirancang dalam tiga kelompok :

1. Data responden, pada bagian ini dikumpulkan data mengenai data diri responden dalam proyek pekerjaan konstruksi pembangunan gedung Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang yang telah dikerjakan/tangani.

2. Data proyek, pada bagian ini akan didapatkan data mengenai untuk menggali informasi keterlambatan pada proyek pembangunan gedung Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang pada tanggal 14 Mei 2018 – 9 November 2018, maka responden diberikan pernyataan yang menyangkut hal tersebut dengan maksud menjaring data yang ada.

3. Data persepsi responden terhadap penyebab keterlambatan proyek. Bagian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana faktor keterlambatan proyek tersebut berpengaruh pada keterlambatan pelaksanaan pekerjaan proyek konstruksi pembangunan gedung Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang.

3.6. Identifikasi Variabel Penelitian dan Definisi

Definisi operasional variabel penelitian adalah suatu hal berbentuk apa saja

yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang

hal tersebut kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiono, 2000) di dalam Tandur,

(2010). Sesuai dengan tujuan, maka identifikasi variabel penelitian untuk

(7)

49 mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan pelaksanaan pekerjaan pada proyek pembangunan gedung Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang dan mendapatkan faktor yang paling dominan mempengaruhi keterlambatan pelaksanaan pekerjaan pada proyek pembangunan gedung Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang dalam penelitian ini dalam dilihat sebagai berikut :

Variabel penelitian yang diteliti ada 7 Variabel (X) terhadap Keterlambatan Pelaksanaan (Y) sesuai penelitian oleh Tandur, (2010) sebagai berikut :

1. Lingkungan kerja (X

1

)

Lingkungan kerja adalah situasi site yang ada dan kondisi sosial budaya yang melingkupi suatu proyek. Lingkungan kerja mempengaruhi keterlambatan dan lingkungan kerja yang baik akan mendorong individu senang bekerja dan meningkatkan rasa tanggung jawab untuk mendapatkan hasil kerja dengan lebih baik.

2. Material (X

2

)

Material adalah komponen dasar yang digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan proyek konstruksi dilapangan yang harus memenuhi standar karateristik yang ditetapkan dalam spesifikasi teknis. Menurut Setyanto dan Kaming (2000) di dalam Tandur, (2010), material adalah bahan-bahan dengan dengan spesifikasi tertentu yang digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan baik dilihat dari segi jumlah, bentuk maupun ukurannya, dimana semua material yang akan digunakan sudah harus dilakukan uji laboratorium dan material tersebut dinyatakan layak dan memenuhi persyaratan untuk digunakan.

3. Peralatan (X

3

)

Peralatan adalah alat-alat konstruksi atau disebut juga alat-alat berat yang

diciptakan dan di desain untuk dapat melaksanakan salah satu fungsi atau

kegiatan proses konstruksi yang sifatnya berat bila dikerjakan oleh tenaga

manusia seperti mengangkut, mengangkat, memuat, memindahkan, menggali,

mencampurkan dan seterusnya dengan cara mudah, cepat, hemat, aman,

memiliki type dan kapasitas yang berbeda sesuai dengan kegunaannya.

(8)

50 4. Tenaga kerja (X

4

)

Tenaga kerja adalah sekelompok individu yang sengaja dihimpun dalam suatu komunitas untuk suatu kegiatan konstruksi yang memiliki kemampuan dan keahlian tertentu dengan latar belakang pendidikan yang berbeda yang melakukan aktivitas dilapangan untuk menghasilkan suatu produk yang telah ditetapkan dalam suatu proyek.

5. Keuangan (X

5

)

Keuangan adalah dana yang disiapkan oleh kontraktor untuk menghasilkan suatu produk yang diinginkan mulai dari pengadaan material, pembayaran upah, operasional peralatan dan lainnya sampai produk tersebut dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan tujuan dari proyek tersebut dibangun. Menurut Soeharto, (1999) di dalam Tandur (2010) keuangan/modal adalah bagian dari sumber daya proyek yang dipakai untuk membangun instalasi atau menghasilkan produk proyek yang diinginkan. Mulai dari pengeluaran studi kelayakan, desain engineering, pengadaan, pabrikasi dan konstruksi sampai instalasi atau produk tersebut berfungsi penuh.

6. Metode Pelaksanaan (X

6

)

Metode pelaksanaan adalah cara-cara yang harus diikuti dalam melaksanakan pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai dengan urut-urutan yang ada, sehingga menghasilkan pekerjaan sesuai spesifikasi teknik yang ada. Kategori variabelnya adalah pekerjaan sudah dilaksanakan sesuai dengan cara-cara yang telah ditentukan dan pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan.

7. Perubahan Desain (X

7

)

Perubahan desain adalah kegiatan peralihan/pergantian/peninjauan ulang

desain rencana yang ada pada saat pelaksanaan proyek, pekerjaan yang

dilaksanakan tidak sesuai dengan perencanaan awal (dalam hal dimensi

konstruksi yang tidak tercapai) yang mengakibatkan pekerjaan tersebut harus

disempurnakan, serta adanya kesalahan dalam desain awal yang telah dibuat,

yang mengakibatkan review desain.

(9)

51

Variabel Indikator Pernyataan

Lingkungan Kerja (X1)

1. Adanya pengaruh kebudayaan (X1.1)

2. Pengaruh cuaca pada aktifitas pekerjaan (X1.2)

3. Keadaan topografi (X1.3)

4. Elevasi ketinggian pembangunan (X1.4)

1. Apakah kegiatan adat di daerah setempat berpengaruh pada seluruh aktifitas pekerjaan dalam pelaksanaan proyek.

2. Apakah perubahan cuaca (hujan, kemarau, dan suhu) dapat berpengaruh pada aktifitas pekerjaan pelaksanaan proyek.

3. Keadaan topografi yakni kondisi medan yang sulit dari lokasi pengambilan material menuju base camp atau dari quari menuju ke lokasi pekerjaan.

4. Apakah elevasi pelaksanaan pekerjaan pengankatan barang/material berpengaruh pada seluruh aktifitas pekerjaan.

• Variabel Penelitian

Varaibel-variabel yang ada dalam penelitian ini adalah :

a. Variabel bebas (X) di dalam Tandur, (2010) terdiri dari : 1. Lingkungan kerja (X

1

).

2. Material (X

2

).

3. Peralatan (X

3

).

4. Tenaga Kerja (X

4

).

5. Keungan (X

5

).

6. Metode Pelaksanaan (X

6

).

7. Perubahan Desain (X

7

).

b. Variabel terikat (Y) di dalam Tandur, (2010) terdiri dari : Keterlambatan Pelaksanaan Pekerjaan (Y)

Untuk mendapatkan data melalui kuesioner, maka dibuat pertanyaan- pertanyaan yang dihubungkan dengan variabel tersebut dengan indikatornya masing-masing. Berdasarkan jurnal (Wirabakti, 2014), maka disimpulkan 25 pertanyaan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:

Tabel 3.1. Variabel dan Indikator Penelitian (Variabel X)

Sumber : Tandur, (2010)

(10)

5. Kondisi tempat kerja (X1.5)

6. Kondisi jalan kerja yang sempit (X1.6)

5. Kondisi akses menuju proyek yang terbatas (keramaian aktifitas kampus dan sempitnya lokasi proyek).

6. Kondisi akses menuju proyek yang keramaian aktifitas kampus yang menyulitkan pendroping material.

Material (X2)

7. Kekurangan material (X2.1) 8. Terjadi perubahan

material (X2.2)

9. Penghantaran material terlambat (X2.3)

10. Kerusakan material dipenyimpanan (X2.4)

11. Sering terjadi kelangkaan material (X2.5)

7. Apakah sering terjadi kekurangan bahan/material dalam pelaksanaan pekerjaan.

8. Apakah sering terjadi perubahan penggunaan material pada bentuk dan fungsi dalam pelasanaan pekerjaan.

9. Apakah sering terjadi pengiriman bahan/material yang terlambat ke lokasi proyek.

10. Apakah sering terjadi kerusakan material ditempat penyimpanan dan pengiriman ke lokasi proyek dalam pelaksanaan pekerjaan.

11. Apakah sering terjadi kelangkaan material (non lokal) karena harus didatangkan dari luar daerah.

Variabel Indikator Pernyataan

Peralatan (X3)

12. Keterlambatan pengiriman peralatan (X3.1) 13. Kerusakan

peralatan (X3.2)

14. Terbatasnya

jumlah peralatan (X3.3)

15. Kemampuan peralatan (X3.4)

12. Apakah sering terjadi keterlambatan pengiriman peralatan saat pelaksanaan proyek.

13. Apakah sering terjadi kekurangan peralatan yang dimiliki oleh kontraktor berpengaruh dalam pelaksanaan pekerjaan.

14. Apakah terbatasnya jumlah peralatan alat berat di daerah yang dapat disewakan kepada kontraktor berpengaruh pada saat pelaksanaan pekerjaan.

15. Apakah kemampuan/kapasitas peralatan yang tidak sesuai untuk melayani volume pekerjaan yang di butuhkan berpengaruh pada pelaksanaan pekerjaan.

Tenaga kerja (X4)

16. Kekurangan tenaga kerja (X4.1)

16. Apakah kekurangan tenaga kerja berpengaruh pada pelaksanaan pekerjaan.

52

(11)

17. Keterampilan tenaga kerja (X4.2)

18. Tenaga mandor yang kurang memadai (X4.3) 19. Tenaga pengawas

lapangan yang kurang memadai (X4.4)

17. Apakah keterampilan tenaga kerja yang tidak memadai berpengaruh dalam pelaksanaan pekerjaan.

18. Apakah tenaga mandor yang kurang memadai dalam mengawas berpengaruh pada pelaksanaan pekerjaan.

19. Apakah tenaga pengawas lapangan (pihak kontraktor) yang kurang memadai dalam mengarahkan dan mengontrol berpengaruh pada pelaksanaan pekerjaan.

Keuangan (X5)

20. Keterlambatan pembayaran oleh kontraktor kepada pekerja (X5.1) 21. Keterlambatan

pembayaran oleh kontraktor kepada suplayer (X5.2) 22. Keterlambatan

pembayaran oleh owner/pemilik kepada kontraktor (X5.3)

20. Sering terjadinya keterlambatan pembayaran oleh kontraktor kepada pekerja berpengaruh dalam pelaksanaan pekerjaan.

21. Sering terjadinya keterlambatan pembayaran oleh kontraktor kepada suplayer berpengaruh dalam pelaksanaan pekerjaan.

22. Apakah sering terjadinya keterlambatan pembayaran oleh owner/pemilik (pihak proyek) kepada kontraktor dalam pelaksanaan proyek.

Variabel Indikator Pernyataan

Metode Pelaksanaan

(X6)

23. Pekerjaan tidak sesuai dengan cara-

cara yang

ditentukan (X6.1)

24. Pelaksanaan

pekerjaan tidak sesuai spesifikasi (X6.2)

23. Apakah metode pelaksanaan yang tidak tepat pada pelaksanakan yang telah ditentukan saat perencanaan awal berpengaruh pada pelaksanaan pekerjaan.

24. Apakah pelaksanaan pekerjaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan berpengaruh pada pelaksanaan pekerjaan.

Perubahan Desain

(X7)

25. Sering terjadinya perubahan desain oleh owner (X7.1)

25. Apakah sering terjadinya perubahan desain oleh owner akibat penggunaan atau fungsi yang berubah dari perencanaan awal pada saat pekerjaan sedang dilaksanakan berpengaruh pada pelaksanaan pekerjaan.

53

(12)

54 Tabel 3.2. Variabel dan Indikator Penelitian (Variabel Y)

Sumber : di dalam Tandur, (2010)

Indikator Indikator Pernyataan

Keterlambatan Pelaksanaan Pekerjaan (Y)

Keterlambatan Pelaksanaan

Proyek pembangunan gedung Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang telah mengalami keterlambatan pekerjaan.

Adapun kriteria skor jawaban pertanyaan-pertanyaan yang terdapat pada tabel 3.1 dan tabel 3.2 menggunakan skala likert interval empat yaitu :

1 = Tidak berpengaruh skor 1 2 = Agak berpengaruh skor 2 3 = Berpengaruh skor 3 4 = Sangat berpengaruh skor 4

Jadi alasan mengambil skala likert 4 jenis, penghilangan jawaban di tengah berdasarkan tiga alasan Lailiyatul, (2013) , yaitu :

1. Kategori ragu-ragu memiliki arti ganda, bisa diartikan netral, sangat berpengaruh, tidak berpengaruh.

2. Tersedianya jawaban yang ditengah menimbulkan kecenderungan jawaban ke-tengah (central tendency effect), terutama bagi mereka yang ragu-ragu atas arah kecenderungan jawabannya.

3. Maksud kategori jawaban TB-AB-B-SB adalah terutama untuk melihat kecenderungan pendapat responden kearah sangat berpengaruh atau arah tidak berpengaruh.

3.7. Pengujian Kelayakan Instrumen 3.7.1. Uji Validitas

Didalam uji validitas ini nantinya dapat menunjukkan sejauh mana tingkat

ketepatan penggunaan alat ukur terhadap gejala yang akan diukur. Kuesioner dapat

(13)

55 dikatakan valid jika pertanyaan dalam suatu kuesioner atau kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut.

Menurut Singarimbun dan Effendi, (2006) di dalam Tandur, (2010).

Valid tidaknya suatu instrumen dapat diketahui dengan membandingkan indeks korelasi Product Moment Person dengan taraf signifikan sebesar 0,05 (5%) sebagai nilai kritisnya dengan rumus 2.1 dengan membandingkan r

hitung

dengan r

table

pada lampiran 3 maka dapat ditentukan validitas instrumen dengan kriteria sebagai berikut :

r

hitung

> r

table

: Valid r

hitung

< r

table

: Tidak Valid

3.7.2. Uji Reliabilitas

Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Dengan kata lain, reliabilitas menunjukkan konsistensi suatu alat pengukur didalam mengukur gejala yang sama Menurut Singarimbun dan Effendi, (2006) di dalam Tandur, A, (2010). Dalam penelitian ini uji reliabilitas menggunakan pendekatan Alpha Cronbanch, Instrumen dikatakan reliabel apabila nilai Alpha Cronbanch > 0,6.

3.8. Pengolahan dan Analisa Data

Di dalam Tandur, A, (2010), data yang diperoleh dari hasil survei (kuesioner) nantinya diolah untuk memperoleh informasi dalam bentuk tabel. Hasil olahan data tersebut digunakan menjawab pertanyaan pada rumusan masalah.

Pengolahan data hendaknya memperhatikan jenis data yang dikumpulkan

dengan berorientasi pada tujuan yang hendak dicapai. Ketepatan dalam teknik

analisa sangat mempengaruhi ketepatan hasil penelitian. Adapun teknik analisis data

yang digunakan adalah statistik deskriptif, analisa faktor, dan analisa regresi linier

berganda. Data hasil kuesioner dengan rentang 1 sampai dengan 4 dari masing-

masing variabel tersebut kemudian diskor ulang, sehingga dari masing- masing

variabel yang mengadung beberapa indikator akan menghasilkan satu nilai

(14)

56 skor saja yang selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis faktor dan analisis regresi linier berganda. Pengolahan data dikerjakan dan bantuan program Statistical Package for Sosial Science (SPSS) for Windows.

3.8.1. Analisis Deskriptif

Di dalam Tandur, (2010), didalam penelitian ini, analisis deskriptif terhadap indikator-indikator item pertanyaan yang bersumber dari hasil pengamatan 28 sampel dilakukan distribusi frekuensi yang bertujuan untuk menjelaskan proporsi jawaban responden terhadap 25 indikator yang mempengaruhi keterlambatan pelaksanaan pekerjaan pada proyek pembangunan gedung Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang berskala 1-4 (tidak berpengaruh – sangat berpengaruh). Pengujian analisis deskriptif dilakukan dengan cara analisis presentase dan menggunakan prosedur frequencies yang menggunakan alat bantu SPSS.

3.8.2. Analisis Faktor

Di dalam Tandur, (2010), analisis faktor digunakan dalam penelitian ini untuk mereduksi serta menganalisis faktor-faktor yang dijadikan gambaran keterlambatan pelaksanaan pekerjaan. Pada analisis ini menghasilkan informasi tentang struktur data keterlambatan pelaksanaan pekerjaan pada proyek pembangunan gedung Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Hasil analisis faktor terhadap 7 variabel yang diduga sebagai penyebab keterlambatan pelaksanaan pekerjaan akan diuji kelayakan variabelnya untuk mengetahui keterkaitan variabel atau indikatornya, jika Nilai MSA < 0,5 akan dikeluarkan memudian akan dihitung kembali sampai memiliki nilai MSA > 0,5 sehingga nilai tersebut layak untuk dianalisis faktornya lebih lanjut lagi, kemudian akan diekstraksi menjadi beberapa faktor utama yang berdimensi lebih kecil dari jumlah total indikator (Gozali, 2006) di dalam Tandur, (2010).

Terdapat beberapa tahapan dalam analisis faktor, dan langkah-langkah dalam proses reduksi tersebut terdiri dari :

1. Pemilihan Komponen

(15)

57 Uji yang digunakan disini adalah KMO (Kaiser Mayer Olkin) Measure of Sampling Adequacy dan Bartlett’s Test, dan pengujian ini berdasarkan pada matrik korelasi. Dari hasil pengujian kuesioner secara keseluruhan diuji dengan menggunakan KMO (Kaiser Mayer Olkin) Measure of Sampling Adequacy, yaitu indeks yang digunakan untuk menguji ketepatan analisis faktor. Sampel diterima jika nilai KMO Measure of Sampling (MSA) ≥ 0,5. Untuk indeks anti image berkisar antara 0 sampai 1. Indeks akan menjadi 1 jika semua unsur matrik korelasi bernilai nol, yang menujukkan bahwa semua atribut dapat diprediksi tanpa kesalahan.

Artinya bahwa semua atribut dapat diprediksi dengan kesalahan semakin kecil.

(Kaiser Mayer Olkin) Measure of Sampling Adequacy merupakan satu statistik yang mengindikasikan analisis faktor. Nilai yang tinggi (mendekati 1.0) umumnya mengindikasikan analisis faktor sangat bermanfaat digunakan pada data.

Jika nilainya lebih kecil dari 0,50, hasil analisis faktor akan menjadi kurang bermanfaat.

Bartlett’s Test of sphericity untuk menguji hipotesis, apakah matrik korelasi merupakan matrik indentitas yang akan mengindikasikan bahwa komponen yang digunakan tidak saling berkorelasi dan sesuai untuk digunakan analisis faktor. Nilai yang rendah (kurang dari 0,05) mengindikasikan bahwa hasil analisis faktor nantinya akan bermanfaat untuk data yang akan digunakan.

2. Menentukan Jumlah Faktor

Langkah ini digunakan dengan metode determinantion base on eigen value dimana hanya faktor yang mempunyai eigen value lebih besar dari 1 yang dipakai, sedangkan faktor eigen value dibawah 1 tidak dimasukkan dalam model. Eigen value didapat melalui proses ekstraksi, dimana metode yang digunakan adalah Principal Components Analysis.

3. Penggolongan Komponen ke dalam Faktor

Setelah mentukan jumlah faktor, kemudian dilakukan penggolongan

komponen untuk dimasukkan ke dalam faktor, yaitu dengan melihat nilai loading

faktor yang berbeda dalam kolom yang sama, maka komponen tersebut akan

dimasukkan pada faktor yang sama.

(16)

58 Dalam tahap ini digunakan metode varimax dengan tujuan untuk memaksimumkan nilai loading setiap faktor dimana pengelompokan setiap aksi rotasi faktor lebih dekat dengan kelompok komponen masing-masing.

3.8.3. Analisis Regresi Linier Berganda

Di dalam Tandur, (2010), untuk menguji pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan pelaksanaan pekerjaan pada proyek pembangunan gedung Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang, teknik analisis yang digunakan adalah uji regresi linier berganda. Uji ini digunakan untuk menguji atau menganalisis pengaruh atau hubungan antara variabel bebas dengan satu atau lebih variabel, dalam teknik analisis digunakan uji anova atau uji t dan mencari besar koefisien determinasi atau R

2

adjusted perhitungan ini akan dilakukan dengan bantuan program SPSS sesuai persamaan linier berganda :

� = � + �

+ �

+ �

+ �

+ �

+ �

+

Dimana :

Y = Keterlambatan Pelaksanaan Pekerjaan X1 = Lingkungan Kerja

X2 = Material X3 = Peralatan X4 = Tenaga Kerja X5 = Keuangan

X6 = Metode Pelaksanaan X7 = Perubahan Desain B

0

= Konstanta

b

1

, b

2

, b

3

, b

4

, b

5

, b

6

, b

7

= Koefisien Regresi

• Uji Hipotesis Koefisien Model Regresi

(17)

59 Untuk membuktikan kebenaran hipotesis digunakan Uji F dengan kreteria pengujian sebagai berikut :

a. Hipotesis :

(18)

60 H

0

= tidak ada perbedaan indeks produktivitas antar kelompok.

H

1

= ada perbedaan indeks produktivitas antar kelompok.

b. Pengambilan kesimpulan didasarkan pada nilai Probabilitas :

▪ Jika Probabilitas > 0,05, maka H

0

diterima.

▪ Jika Probabilitas < 0,05, maka H

0

ditolak.

1. Pengaruh variabel bebas secara simultan terhadap variabel terikat

Uji F digunakan untuk menguji variabel-variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel terikat. Pengujian ini dilakukan dengan membandingkan nilai F

hitung

dengan F

tabel

atau perbandingan nilai sig F. Ketentuan dari penerapan atau penolakan hipotesis adalah sebagai berikut :

▪ Bila F

hitung

> F

tabel

atau nilai sig F < 0,05 : H

0

ditolak

▪ Bila F

hitung

< F

tabel

atau nilai sig F > 0,05 : H

0

tidak ditolak

Artinya variabel-variabel independent mempunyai pengaruh terhadap variabel dependent. Uji F untuk pengujian terhadap koefisien regresi secara simultan terhadap hipotesis .

▪ H

0

= faktor pengaruh yang terdiri dari lingkungan kerja (X1), material (X2), peralatan (X3), tenaga kerja (X4), keunagan (X5), metode pelaksanaa (X6) dan perubahan desain (X7), tidak berpengaruh secara simultan terhadap keterlambatan pelaksanaan pekerjaan (Y).

▪ H

1

= faktor pengaruh yang terdiri dari lingkungan kerja (X1), material (X2), peralatan (X3), tenaga kerja (X4), keunagan (X5), metode pelaksanaa (X6) dan perubahan desain (X7), berpengaruh secara simultan terhadap keterlambatan pelaksanaan pekerjaan (Y).

▪ Digunakan F-test dengan α = 5 % dengan penjelasan : Hipotesis :

▪ H

0

: β

1

= β

2

= β

3

= β

4

= β

5

= β

6

= β

7

= 0, Artinya tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel X1, X2, X3, X4, X5, X6 dan X7 secara simultan terhadap variabel Y.

▪ H

a

: Ada β

1

≠ 0, Artinya ada pengaruh yang signifikan antara variabel X1, X2, X3, X4, X5, X6 dan X7 secara simultan terhadap variabel Y.

Dasar pengambilan keputusan :

(19)

61

▪ Jika p < 0,05 maka H

a

diterima dan H

0

ditolak

▪ Jika p > 0,05 maka H

a

diterima dan H

0

diterima

2. Pengujian pengaruh variabel bebas secara parsial terhadap variabel terikat.

Uji t dilakukan untuk mengetahui pengaruh : lingkungan kerja (X1), material (X2), peralatan (X3), tenaga kerja (X4), keunagan (X5), metode pelaksanaa (X6) dan perubahan desain (X7), digunakan uji t dengan rumus sebagai berikut :

���� �

=

Keterangan :

� (

...

)

t = t

hitung

regresi β

1

= Koefisien regresi

se(β

1

) = standar deviasi dari variabel

▪ Jika t

hitung

> t

tabel

pada taraf uji 5% maka H

o

ditolak dan H

1

diterima, artinya variabel-variabel bebas bepengaruh terhadap variabel terikat.

▪ Jika t

hitung

< t

tabel

atau nilai sig t < 0,05 : H

0

ditolak, t

hitung

< t

tabel

atau nilai sig t < 0,05 : H

0

tidak ditolak.

Uji t ini digunakan untuk menguji hipotesis yaitu :

▪ H

0

: Faktor lingkungan kerja (X1), material (X2), peralatan (X3), tenaga kerja (X4), keunagan (X5), metode pelaksanaa (X6) dan perubahan desain (X7), tidak berpengaruh secara simultan terhadap keterlambatan pelaksanaan pekerjaan (Y).

▪ H

1

: Faktor lingkungan kerja (X1), material (X2), peralatan (X3), tenaga kerja (X4), keunagan (X5), metode pelaksanaa (X6) dan perubahan desain (X7), berpengaruh secara simultan terhadap keterlambatan pelaksanaan pekerjaan (Y).

Digunakan t-test dengan α = 5% dengan penjelasan :

Hipotesis :

(20)

62

▪ H

0

: β

1

= 0, Artinya tidak ada pengaruh positif yang signifikan antara

variabel X secara parsial terhadap variabel Y.

(21)

63

▪ H

a

: β

1

> 0, Artinya ada pengaruh positif yang signifikan antara variabel X secara parsial terhadap variabel Y.

Dasar pengambilan keputusan :

▪ Jika p < 0,05 maka H

a

diterima dan H

0

ditolak

▪ Jika p > 0,05 maka H

a

ditolak dan H

0

diterima

Uji hipotesis dilakukan dengan signifikansi atau taraf kesalahan 5% dengan pertimbangan bahwa penelitian ini merupakan penelitian dengan metode survei.

Uji-t yang dilakukan dalam analisis regresi pada paket SPSS bersifat dua arah, sedangkan hipotesis uji-t yang dirumuskan pada penelitian atau arah. Untuk nilai p- value yang didapatkan dibagi dua, sehingga hasil penguji dengan tingkat yang bersifat satu arah dapat diterapkan untuk uji yang bersifat dua arah.

t

hitung

> t

tabel

dan ρ-value < α : H

0

ditolak

A. Uji Asumsi Model Regresi

Di dalam Tandur, (2010), untuk mendapatkan parameter-parameter estimasi dari model dinamis yang dipakai, dalam penelitian ini digunakan metode penaksiran OLS (Ordinary Least Square). Penggunaan metode ini disertai dengan asumsi- asumsi yang mendasarinya. Asumsi-asumsi tersebut yaitu : Normalitas, Multikolinearitas, Homoskedastissitas, dan Non-Autokorelasi.

1. Asumsi Normalitas

Untuk menguji apakah sampel penelitian merupakan jenis distribusi normal maka digunakan pengujian Kolmogorov-Smirnov Goodness of Fit Test terhadap masing-masing variabel. Hipotesis dalam pengujian ini adalah :

▪ H

0

: F

(x)

= F

0(x)

, dengan F

(x)

adalah fungsi distribusi populasi yang diwakili oleh sampel, dan F

0(x)

adalah fungsi distribusi suatu populasi berdistrbusi normal.

▪ H

1

: F

(x)

≠ F

0(x)

atau distribusi populasi tidak normal.

Pengambilan keputusan apakah H

0

diterima atau ditolak didasarkan atas (Santoso,

2001) :

(22)

64

▪ Jika Probabilitas > 0,05, maka H

0

diterima.

▪ Jika Probabilitas < 0,05, maka H

0

ditolak.

2. Asumsi Multikolinearitas

Metode yang digunakan untuk mendeteksi adanya Multikolinearitas dalam penelitian ini dengan menggunakan tolerence and variance inflation factor (VIF) (Aliman, 2000:57) di dalam Tandur, A, (2010). Rule of thumb digunakan sebagai pedoman jika VIF dari suatu variabel melebihi 10, dimana hal ini terjadi ketika nilai R² melebihi 0,90 maka suatu variabel dikatakan berkorelasi sangat tinggi. Untuk Mengetahui besarnya VIF.

3. Asumsi Homoskedastissitas

Di dalam Tandur, (2010), seacara matematis asumsi ini dapat dituliskan, adapun metode yang akan di bahas disini yaitu metode korelasi Rank Spearman.

Sesuai dengan namanya, metode ini menggunakan korelasi peringkat X dan (e

i

).

Koefisien korelasi Sperman. Tingkat signifikan koefisien korelasi r

s

yang didapatkan dengan rumus di atas diuji dengan statistik uji t.

Jika nilai t yang dihitung melebihi nilai t

kritis

, kita bisa menerima hipotesis adanya sifat heteroskedastisitas, atau dengan kata lain asumsi Homoskedastissitas tidak terpenuhi.

4. Uji Non-Autokorelasi

Di dalam Tandur, A, (2010), untuk mendeteksi adanya Autokorelasi dalam penelitian ini dilakukan metode Durbin Watson dengan langkah sebagai berikut :

a. Lakukan regresi OLS dan dapatkan residual e

i

b. Hitung d dengan menggunakan .

c. Untuk ukuran sampel tertentu dan banyaknya variabel yang menjelaskan tertentu, dapatkan nilai kritis dL dan dU.

d. Jika hipotesis nol (H

0

) adalah tidak ada korelasi serial, maka jika :

d > dU dan 4 – d > dU : menerima H

0

(tdak ada korelasi serial/autokorelasi)

d < dL dan 4 – d < dL : menolak H

0

(ada korelasi serial/autokorelasi).

(23)

65 y

Revisi Kuesioner

idak 3.9. Bagan Alir Penelitian

Adapun tahapan-tahapan kegiatan yang akan dilakukan dalam penelitian ini, disajikan dalam bentuk bagan alir berikut ini :

Mulai

Perumusan Masalah dan Tujuan Penelitian

Tinjauan Pustaka dan Landasan Teori

Wawancara dan Observasi pendahuluan

Menentukan Variabel Penelitian

Menentukan Populasi dan Pengambilan Sample

Menyusun dan Menentukan Instrumen Penelitian

Penyebaran Kuesioner dan Pengumpulan Data

Uji Validitas r

hitung

> r

tabel

Uji Reliabilitas Alpha Cronbanch > 0,6

a

1

(24)

66 1

Analisis Data : Analisis Deskriptif

Analisis Faktor

Analisis Regresi Linier Berganda

Hasil Analisa :

1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keterlambatan

2. Mengetahui Faktor Yang Dominan

Strategi Untuk Mengatasi Keterlambatan Pelaksanaan Pekerjaan

Kesimpulan dan Saran

Selesai

Gambar 3.1 Diagram Alir Metode Penelitian

Sumber : Sulistiyono. W. (2013)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil Penelitian menunjukkan: terdapat 4 rantai saluran pemasaran kentang di kabupaten Probolinggo, dan saluran VI merupakan saluran yang paling efisien; ada dua kelembagaan

Sedangkan menurut Kerlinger (1973) dalam Sugiyono (2009) penelitian survey adalah penelitian yang di lakukan pada populasi besar atau kecil, tetapi data yang di

Pada perencanaan tindakan ada beberapa macam kegiatan yang perlu dipersiapkan antara lain: (1) menetapkan pokok bahasan yang akan dipelajari, (2) membuat Rencana Pelaksanaan

Puri merupakan tempat tinggal untuk kasta Ksatria yang memegang pemerintahan Umumnya menempati bagian kaja kangin di sudut pempatan agung di pusat desa.. Puri umumnya

menjelaskan keadaan erapan di mana pada tahap awal padatan memiliki afinitas yang tinggi terhadap zat terlarut. Apabila tapak-tapak erapan tersebut telah ditempati,

47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dapat menjadi dasar kebijaksanaan dalam upaya menjaga pemanfaatan dan pengelolaan danau dan waduk yang tetap

Pajak penghasilan bagi Wajib Pajak dihitung dengan cara mengalikan Penghasilan Kena Pajak dengan tarif pajak sesuai dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan Pasal 17