1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hutan menurut Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 merupakan suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Lebih lanjut dalam Pasal 3 disebutkan bahwa penyelenggaraan kehutanan bertujuan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat yang berkeadilan dan berkelanjutan salah satunya dengan meningkatkan kapasitas dan keberdayaan masyarakat secara partisipatif, berkeadilan, dan berwawasan lingkungan sehingga mampu menciptakan ketahanan sosial dan ekonomi serta ketahanan terhadap akibat perubahan eksternal. Berdasarkan hal tersebut, maka pelaksanaan pengelolaan dan penyelenggaraan hutan harus memperhatikan elemen sosial, ekonomi, dan lingkungan sehingga dapat menciptakan pengelolaan hutan yang lestari sekaligus dapat menyejahterakan masyarakat di dalam maupun di sekitar hutan.
Namun dalam pelaksanaannya, kualitas dan kuantitas sumber daya alam hutan di Indonesia terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Sampai tahun 2013, luas tutupan hutan alam hanya tinggal 82 juta Ha atau sekitar 46% dari luas daratan Indonesia dan 62,6% dari total luas kawasan hutan (Forest Watch Indonesia, 2014). Adanya penurunan kualitas dan kuantitas hutan menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan, yang akan berdampak pada perubahan musim dan meningkatnya intensitas bencana alam yang membahayakan kehidupan dan kelangsungan hidup manusia.
Oleh karena itu, kesadaran akan lingkungan menjadi kunci perubahan dalam pengelolaan dan penyelenggaraan hutan untuk meningkatkan kualitas kehidupan disamping bertujuan untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat. Desa Semoyo yang merupakan wilayah pedesaan di Kabupaten Gunungkidul yang termasuk dalam rangkaian pegunungan Batur Agung, seharusnya merupakan
2 daerah tangkapan air, tetapi justru memiliki karakteristik lahan yang tandus dan gersang. Hal tersebut menyebabkan air tidak terserap ke dalam tanah dengan baik.
Lahan yang tadinya kurang produktif menjadi lebih produktif dengan adanya pemanfaatan lahan hutan rakyat yang dikombinasikan dengan pola pertanian melalui kesadaran masyarakat untuk mengelola dan memanfaatkan lahan.
Kesadaran masyarakat kemudian berkembang menjadi gerakan masyarakat yang dilakukan secara terus menerus dan seiring dengan pembaruan inovasi kelompok- kelompok masyarakat telah membawa Desa Semoyo unggul dalam berbagai kompetisi kelestarian lingkungan. Proses dalam kelompok telah berhasil melahirkan keberanian masyarakat untuk mendeklarasikan diri sebagai model desa konservasi, hingga akhirnya berhasil dicanangkan sebagai Desa Kawasan Konservasi oleh Bupati Gunungkidul pada tanggal 18 Agustus 2007.
Hutan rakyat pada awalnya dibangun dari aktivitas individu yang berusaha memadukan tujuan sosial ekonominya dengan kondisi alam sekitarnya. Hutan rakyat dikelola dengan teknik tradisional melalui pengetahuan-pengetahuan masyarakat yang masih terbatas. Namun, lama-kelamaan aktivitas individu berubah menjadi aktivitas bersama yang memadukan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan (ARUPA, 2009). Fenomena desa kawasan konservasi merupakan contoh dari adanya perubahan aktivitas individu menjadi aktivitas bersama melalui adanya proses penyadaran masyarakat. Proses penyadaran masyarakat tersebut berkembang dan memunculkan partisipasi masyarakat untuk melakukan proses pembelajaran yang dapat meningkatkan kapasitas dalam mengelola lahan yang dimanfaatkan sebagai hutan rakyat yang berbasis pelestarian lingkungan dan tidak mengesampingkan peluang ekonomi yang didapatkan dari pengelolaan hutan rakyat. Peningkatan kapasitas tersebut diperoleh masyarakat dari pembelajaran sosial melalui interaksi sosial baik dari internal masyarakat serta didukung oleh kegiatan yang diadakan oleh pemangku kepentingan dari pemerintah maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Keterlibatan masyarakat, pemerintah, dan LSM dalam mendorong Desa Semoyo menjadi desa yang mandiri dalam hal pengelolaan hutan rakyat telah mampu meningkatkan kualitas kehidupan dan taraf ekonomi masyarakat.
3 Proses pengelolaan hutan dengan adanya keterlibatan berbagai pihak dalam pengelolaan hutan rakyat yang dilakukan oleh masyarakat menarik untuk diteliti lebih lanjut mengenai peran dan pengaruh berbagai pihak dalam mewujudkan pengembangan dan pengelolaan hutan rakyat oleh masyarakat. Diharapkan hasil penelitian yang dilakukan dapat menjadi masukan untuk pemangku kepentingan dalam pengembangan dan pengelolaan hutan rakyat dalam rangka mewujudkan kelestarian lingkungan dan meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat.
1.2 Rumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian
Pengelolaan hutan rakyat oleh masyarakat Desa Semoyo merupakan salah satu fenomena gerakan masyarakat yang dinilai sebagai upaya melestarikan lahan hutan rakyat sekaligus menangkap peluang ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan. Gerakan masyarakat tersebut tumbuh dari adanya perubahan perilaku dan aktivitas masyarakat melalui adanya proses partisipasi aktif masyarakat yang didorong oleh adanya pengaruh internal dan eksternal. Proses pembelajaran dalam gerakan masyarakat mendorong masyarakat untuk melakukan perubahan dalam memanfaatkan potensi lahan untuk meningkatkan produktivitas lokal yang berdampak pada peningkatan taraf ekonomi masyarakat.
Awang (2008) mengatakan bahwa kegagalan melakukan kegiatan pembangunan terutama pembangunan yang berorientasi pada pembangunan masyarakat disebabkan oleh lemahnya kelembagaan yang ada dalam proses kelembagaan tersebut. Pemahaman akan karakteristik sosial, budaya, dan ekonomi pada masyarakat yang melakukan pengelolaan hutan rakyat menjadi penting karena karakteristik pengelolaan hutan rakyat pasti berbeda pada setiap daerah.
Keberlanjutan pengelolaan hutan rakyat bergantung dari keberlanjutan dalam mengelola hutan rakyat ditingkat masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan kajian yang dapat menggambarkan proses pengelolaan hutan rakyat yang dilakukan oleh masyarakat serta peran berbagai pihak dalam mewujudkan pengelolaan hutan rakyat, maka pertanyaan penelitian yang dapat dirumuskan dari penelitian ini adalah “Bagaimana Proses Terbentuknya Pengelolaan Hutan Rakyat yang dilakukan oleh Masyarakat Desa Semoyo?”
4 1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana proses terbentuknya pengelolaan hutan rakyat yang dilakukan oleh masyarakat dalam mengelola dan mengembangkan lahan hutan rakyat yang mencakup kronologi dan proses pengelolaan hutan oleh masyarakat, upaya yang dilakukan oleh masyarakat untuk mewujudkan pengelolaan hutan rakyat, dan peran pemangku kepentingan dalam pengelolaan hutan rakyat berbasis masyarakat.
1.4 Batasan Penelitian
Pembatasan penelitian dilakukan agar proses penelitian dapat dilakukan secara terfokus dan terarah, sehingga peneliti dapat mempertajam perumusan masalah yang akan diteliti. Adapun batasan penelitian ini terdiri dari fokus dan lokus, yaitu:
1.4.1 Fokus
Fokus dari penelitian ini adalah proses pengelolaan hutan rakyat yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Semoyo.
1.4.2 Lokus
Lokus penelitian ini adalah di Desa Semoyo, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul.
Gambar 1.1 Lokasi Penelitian Sumber: Bappeda Provinsi DIY, 2008
5 1.5 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Dapat menjadi masukan untuk mengatur masyarakat dalam pemanfaatan ruang.
b. Dapat menjadi referensi dan masukan dalam mengembangkan penelitian yang memiliki kesamaan tema, khususnya mengenai pengelolaan hutan oleh masyarakat.
c. Dapat memberikan gambaran dinamika yang terjadi, sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu pertimbangan dan arahan bagi pemerintah dalam proses pembangunan dan penyusunan rencana dan pengembangan tata ruang dimasa mendatang, serta diharapkan dapat membantu mencari gap antara masyarakat dan pemerintah untuk mencari jalan keluar permasalahan yang ada secara efektif.
1.6 Keaslian Penelitian
Sebuah penelitian dapat ditinjau dari beberapa aspek diantaranya fokus, lokus, dan metode penelitian. Adapun penelitian “Pengelolaan Hutan Rakyat sebagai Aset Kolektif Penghidupan Berkelanjutan di Desa Semoyo, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul” terdapat penjabaran:
a. Fokus: proses pengelolaan hutan rakyat yang dilakukan oleh masyarakat Desa Semoyo
b. Lokus: Desa Semoyo, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul c. Metode Penelitian: Induktif-kualitatif dengan pendekatan grounded
theory
Sepanjang pengetahuan peneliti, telah banyak penelitian dengan menggunakan topik hutan rakyat dengan fokus upaya yang dilakukan masyarakat dalam memanfaatkan dan mengelola lahan. Selain itu, telah banyak penelitian dengan lokus Desa Semoyo. Namun, penelitian-penelitian tersebut memiliki fokus yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk memperkaya dan memperdalam penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya dan memunculkan spesifikasi baru dalam penelitian fenomena pengelolaan hutan rakyat.
6 (Bersambung... ) Untuk mendukung keaslian penelitian, peneliti melakukan pencarian beberapa referensi terhadap penelitian-penelitian yang sudah ada yang sesuai dengan topik yang diangkat oleh peneliti. Penelitian ini berbeda dari penelitian yang telah dilakukan sebelumnya karena penelitian ini mencoba mendalami proses terbentuknya pengelolaan hutan rakyat oleh masyarakat dan peran pemangku kepentingan dalam membentuk upaya pengelolaan hutan rakyat, serta dampak yang ditimbulkan setelah adanya kegiatan pengelolaan hutan rakyat, sehingga pada akhir penelitian didapatkan spesifikasi konsep pengelolaan hutan rakyat oleh masyarakat Desa Semoyo. Berikut merupakan penjabaran dari penelitian-penelitian sebelumnya:
Tabel 1.1 Keaslian Penelitian (1) Judul Penelitian Peneliti Jenis/
Tahun Fokus Metode
Dampak Perubahan Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Semoyo Pasca Menjadi Desa Kawasan
Konservasi Semoyo
Puji Lestari dan M. Riza
Jurnal Digital FIS UNY, 2014
Faktor yang melatarbelakangi perubahan masyarakat dan dampak perubahan sosial ekonomi
Deskriptif- Kualitatif
Motivasi Serikat Petani Pembaharu Dalam Pengelolaan Kawasan Konservasi Masyarakat (Community Conserved Areas) (Studi Kasus Desa Semoyo, Kecamatan Patuk, Kabupaten
Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta)
Lido De Rio
Skripsi Mana- jemen Kehuta- nan UGM, 2015
Motivasi masyarakat dalam menggerakkan masyarakat untuk melakukan upaya konservasi dan perilaku untuk mewujudkan motivasi tersebut
Induktif- Kualitatif
Kemandirian Rakyat dalam Mengelola Hutan Rakyat di Kabupaten Gunungkidul
Tim Studi ARUPA
Publikasi makalah ARUPA, 1999
Proses pemberdayaan masyarakat dan
penguatan kelembagaan sosial
Kualitatif
Pola Pengelolaan Hutan Rakyat di Kawasan Perbukitan Menoreh Kabupaten Kulonprogo
Supri- yanto
Tesis MPKD UGM, 2005
Pola pengelolaan hutan rakyat
Induktif- Kualitatif
7 Judul Penelitian Peneliti Jenis/
Tahun Fokus Metode
Upaya Pengembangan Hutan Rakyat Berbasis Komunitas Berkelanjutan
Doni Prabo- wo
Tesis MTPWK UNDIP, 2009
Upaya dalam mewujudkan
pengembangan hutan rakyat
Deduktif- Positivistik
Evaluasi Pengelolaan Kesatuan Pengelolaan Hutan Yogyakarta;
Kasus Bagian Daerah Hutan Playen
Kabupaten Gunungkidul Era Isdhiar- tanto
Tesis MPKD UGM, 2014
Evaluasi implementasi proses pengelolaan hutan
Deduktif
Penggarapan Lahan Hutan Lindung oleh Masyarakat Sekitar Kawasan Hutan (Studi Kasus Dataran Tinggi Dieng, Desa Sigedang, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo)
Friza Libi El Berid
Skripsi PWK UGM, 2009
Proses penggarapan lahan dan faktor yang menyebabkan
penggarapan lahan
Induktif- Kualitatif
Pengembangan Hutan Rakyat Berbasis Komunitas
Berkelanjutan di Desa Giripurno Kecamatan Karanganyar Kabupaten Kebumen
Wahyu Febriana Ningsih
Tesis MPKD UGM, 2011
Faktor yang berpengaruh dalam mewujudkan
pengembangan hutan rakyat
Induktif- Kualitatif
Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Hutan Rakyat dalam Memelihara Kelestarian Hutan (Studi Kasus Kelompok Masyarakat Gaharu, Kelurahan Pekan Bahorok, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat)
M. Reza Ardillah
Jurnal Sosiologi USU, 2013
Proses pembentukan kelompok masyarakat Gaharu dan upaya pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan hutan rakyat
Kualitatif
Sumber: Analisis Peneliti, 2017
Selanjutnya berdasarkan spesifikasi penelitian, dapat diketahui bahwa perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian-penelitian lain terkait dengan pengelolaan hutan rakyat terdapat pada:
(Lanjutan tabel 1.1... )
8 Tabel 1.2 Keaslian Penelitian (2)
No Judul Peneliti Jenis/
Tahun Temuan Perbedaan
1
Dampak Perubahan Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Semoyo Pasca Menjadi Desa Kawasan Konservasi Semoyo
Puji Lestari dan M. Friza
Jurnal Digital FIS UNY, 2014
Desa kawasan konservasi sebagai hasil gerakan masyarakat dapat meningkatkan interaksi sosial, ilmu pengetahuan, kepedulian, perbaikan infrastruktur, peningkatan hasil hutan, dan terbukanya unit usaha masyarakat, tetapi juga menimbulkan konflik masyarakat dan prasangka sosial antar masyarakat.
Penelitian ini membahas konteks sosial ekonomi setelah adanya pencanangan Desa Kawasan Konservasi dari pemerintah, sedangkan penelitian yang akan dilakukan membahas pengelolaan hutan rakyat melalui konteks sejarah, masyarakat (sosial), ruang, dan kelembagaan.
2
Motivasi Serikat Petani Pembaharu Dalam Pengelolaan Kawasan Konservasi Masyarakat (Community Conserved Areas) (Studi Kasus Desa Semoyo, Kecamatan Patuk,
Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta)
Lido De Rio
Skripsi Mana- jemen Kehu- tanan UGM, 2015
Kelompok Serikat Petani Pembaharu (SPP) dilatarbelakangi oleh motivasi untuk memenuhi kebutuhan fisiologis berupa air, tempat tinggal; dan kebutuhan akan rasa aman berupa jaminan terhadap ketersediaan air, jaminan kelestarian hutan,
ketersediaan bahan makanan, pendidikan, jaminan hasil panen berkala, dan jaminan kesejahteraan ekonomi.
Penelitian ini membahas motivasi masyarakat untuk melakukan gerakan masyarakat melalui salah satu kelompok masyarakat (kelompok SPP), sedangkan penelitian yang akan dilakukan membahas konteks kelembagaan dalam
pengelolaan hutan rakyat yang ada di Desa Semoyo.
3
Kemandirian Rakyat dalam Mengelola Hutan Rakyat di Kabupaten Gunungkidul
Tim Studi ARUPA
Publikasi makalah ARUPA, 1999
Hutan rakyat dilatarbelakangi oleh kesadaran menanam kayu untuk mengurangi erosi,
meningkatkan produktivitas lahan, dan melindungi sumber mata air. Kesadaran semakin berkembang setelah memperoleh manfaat ekonomis dan ekologis yang kemudian mendorong masyarakat melakukan upaya pengembangan dan pengelolaan hutan rakyat.
Penelitian ini membahas secara umum
pengelolaan hutan rakyat oleh masyarakat pada skala kabupaten, sedangkan penelitian yang akan dilakukan dikaji secara spesifik pada tingkat desa untuk mengetahui proses masyarakat dalam melakukan pengembangan dan pengelolaan hutan rakyat.
(Bersambung... )
9
No Judul Peneliti Jenis/
Tahun Temuan Perbedaan
4
Pola Pengelolaan Hutan Rakyat di Kawasan Perbukitan Menoreh Kabupaten Kulonprogo
Supri- yanto
Tesis MPKD UGM, 2005
Faktor fisik wilayah dan karakteristik sosial ekonomi mempengaruhi pengelolaan hutan rakyat. Faktor fisik berupa ketinggian lahan, sedangkan karakteristik sosial dan ekonomi adalah luas kepemilikan lahan, jumlah tanggungan keluarga, pendapatan keluarga, dan adanya peranan kelompok petani hutan rakyat.
Penelitian ini membahas konteks spasial dan konteks sosial ekonomi yang mempengaruhi pola pengelolaan hutan rakyat oleh masyarakat, sedangkan penelitian yang akan dilakukan lebih membahas konteks sejarah dan kelembagaan dalam pengelolaan hutan rakyat.
5
Upaya Pengembangan Hutan Rakyat Berbasis Komunitas Berkelanjutan
Doni Prabowo
Tesis MTPWK UNDIP, 2009
Pengembangan hutan rakyat mengalami pencapaian secara bertahap pada setiap periode
perkembangannya. Capaian tersebut terjadi karena adanya upaya proses belajar keluarga, upaya replikasi, upaya penularan dalam lingkup keluarga, serta upaya stimulan yang dilakukan oleh pemangku kepentingan.
Penelitian ini membahas upaya masyarakat secara individu yang distimulasi oleh pendamping untuk mengembangkan hutan rakyat, sedangkan penelitian yang akan dilakukan masyarakat telah terlebih dahulu berinisiatif membentuk kelompok untuk mengembangkan lahan hutan rakyat.
6
Evaluasi Pengelolaan Kesatuan Pengelolaan Hutan Yogyakarta;
Kasus Bagian Daerah Hutan Playen Kabupaten Gunungkidul
Era Isdhiar- tanto
Tesis MPKD UGM, 2014
Keberhasilan implementasi pengelolaan hutan pada Bagian Daerah Hutan Playen (BDH) membutuhkan investasi yang besar. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan tersebut adalah partisipasi masyarakat, komunikasi, sumberdaya, disposisi, struktur
birokrasi, kepemimpinan lokal, kebijakan daerah, dan sejarah pengelolaan hutan.
Penelitian ini membahas pengelolaan hutan dibawah pengawasan Dirjen Planologi Kehutanan, sedangkan pada penelitian yang akan dilakukan upaya pengelolaan hutan dilakukan oleh masyarakat yang memiliki kekuatan hukum dalam kepemilikan lahan sehingga aspek pengelolaannya dipengaruhi oleh individu dan kelompok masyarakat.
(Lanjutan tabel 1.2... )
(Bersambung... )
10
No Judul Peneliti Jenis/
Tahun Temuan Perbedaan
7
Penggarapan Lahan Hutan Lindung oleh Masyarakat Sekitar Kawasan Hutan (Studi Kasus Dataran Tinggi Dieng, Desa Sigedang, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo)
Friza Libi El Berid
Skripsi PWK UGM, 2009
Belum efektifnya pengelolaan hutan yang dilakukan oleh perhutani dimana masyarakat di sekitar hutan lindung melakukan penggarapan lahan hutan menjadi lahan pertanian di lahan hutan lindung setelah melakukan pengambilan kayu di hutan lindung.
Penelitian ini membahas perilaku masyarakat yang berinisiatif melakukan penggarapan lahan di lahan milik pemerintah (Perhutani) untuk meningkatkan perekonomian, sedangkan pada penelitian yang akan dilakukan masyarakat menggarap lahan di lahan milik pribadi (hutan rakyat).
8
Pengembangan Hutan Rakyat Berbasis Komunitas Berkelanjutan di Desa Giripurno Kecamatan Karanganyar Kabupaten Kebumen
Wahyu Febriana Ningsih
Tesis MPKD UGM, 2011
Pengembangan hutan rakyat dipegaruhi oleh adanya perubahan kondisi hutan rakyat, perubahan perilaku masyarakat, dan peningkatan kepercayaan diri dan kemandirian masyarakat.
Pada penelitian ini, hutan berada di bawah pengawasan Perhutani yang dibantu oleh mantri hutan untuk mengembangkan tanaman keras.
Selain itu, kelembagaan masyarakat dibentuk oleh adanya LSM, sedangkan dalam penelitian yang akan dilakukan kelembagaan masyarakat dibentuk atas dasar inisiatif masyarakat.
9
Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Hutan Rakyat dalam Memelihara Kelestarian Hutan (Studi Kasus Kelompok Masyarakat Gaharu, Kelurahan Pekan Bahorok, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat)
M. Reza Ardillah
Jurnal Sosiologi USU, 2013
Adanya kelompok masyarakat lokal di sekitar kawasan konservasi taman nasional yang terwujud dalam KEMAGAHAN (Kelompok Masyarakat Gaharu) untuk membudidayakan pohon gaharu yang memiliki nilai ekonomis.
Penelitian ini membahas inisiatif masyarakat menanam pohon gaharu untuk meningkatkan perekonomian, sedangkan pada penelitian yang akan dilakukan, inisiatif masyarakat untuk menanam kayu berasal dari kesadaran mengenai manfaat ekonomi dan ekologis tanaman keras (pohon).
Sumber: Analisis Peneliti, 2017 (Lanjutan tabel 1.2... )
9