KERJASAMA PEMERINTAH DENGAN BADAN USAHA/
PUBLIC PRIVATE PARTNERSHIP (PPP) DALAM PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR
A. Latar Belakang
Dalam Infrastructure Asia Exhibition pada 14-17 April 2010, Pemerintah memperkenalkan 100 proyek infrastruktur nasional kepada investor senilai USD$ 472,98 Miliar yang telah masuk dalam Public Private Partnership (PPP) Book Tahun 2010.
William J. Parente dari USAID Environmental Services Program memberikan definsi Public Private Partnership adalah an agreement or contract, between a public entity and a private party, under which : (a) private party undertakes government function for specified period of time, (b) the private party receives compensation for performing the function, directly or indirectly, (c) the private party is liable for the risks arising from performing the function and, (d) the public facilities, land or other resources may be transferred or made available to the private party.
PPP sudah dilaksanakan di beberapa negara lain seperti Amerika, Inggris, Korea Selatan, India, Thailand, Filipina dan Afrika Selatan. Sementara di Indonesia sendiri, kerjasama antara Pemerintah dan Badan Usaha Swasta mulai dikenal sejak Pemerintah mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 7 Tahun 1998 tentang Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha Swasta dalam Pembangunan dan atau Pengelolaan Infrastruktur. PPP ini merupakan pilihan Pemerintah untuk menyiasati datangnya krisis moneter.
Bahkan pada tahun anggaran 2010, meskipun mengalami peningkatan
dibandingkan APBN sebelumnya, namun jumlah Rp105,6 triliun hanyalah sekitar
2% dari Produk Domestik Bruto (PDB), padahal seharusnya dibutuhkan alokasi
sebesar 5% dari PDB agar dapat mengejar pertumbuhan ekonomi.
Adanya keterbatasan kemampuan keuangan negara inilah yang mendorong Pemerintah untuk mengikutsertakan badan usaha khususnya badan usaha swasta berperan dalam kegiatan penyediaan infrastruktur guna menunjang pembangunan nasional.
B. PERMASALAHAN
1. Apakah landasan hukum yang mengatur PPP dalam rangka kegiatan penyediaan infrastruktur ?
2. Siapakah pihak-pihak terlibat dalam PPP dalam rangka kegiatan penyediaan infrastruktur ?
3. Apakah jenis-jenis infrastruktur yang dapat dikerjasamakan dengan Badan Usaha (PPP) ?
4. Bagaimanakah mekanisme PPP dalam rangka kegiatan penyediaan infrastruktur ?
5. Apakah pengaruh PPP dalam rangka kegiatan penyediaan infrastruktur ini memiliki terhadap keuangan negara ?
C. PEMBAHASAN 1. Landasan Hukum PPP
Kegiatan penyediaan infrastruktur adalah kegiatan yang meliputi pekerjaan konstruksi untuk membangun atau meningkatkan kemampuan infrastruktur dan/atau kegiatan pengelolaan infrastruktur dan/atau pemeliharaan infrastruktur dalam rangka meningkatkan kemanfaatan infrastruktur.
Kegiatan ini merupakan lingkup kegiatan pengadaan barang dan jasa sebagaimana diatur dalam Keputusan Presiden No 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang telah diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketujuh Atas Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
Pasal 51 Keputusan Presiden No 80 Tahun 2003 tentang Pedoman
Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang diubah terakhir
dengan Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2007 tentang Perubahan
Ketujuh Atas Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman
Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah menyebutkan bahwa
ketentuan pengadaan barang/jasa yang dilakukan melalui pola kerjasama
pemerintah dengan badan usaha, diatur dengan Keputusan Presiden tersendiri.
Aturan yang dimaksud terdapat dalam Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2005 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur yang kemudian direvisi melalui Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2005 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur.
2. Pihak-Pihak yang melaksanakan PPP
Pasal 2 ayat (1) : Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah dapat bekerjasama dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur.
Pasal 2 ayat (3) : Dalam hal peraturan perundang-undangan mengenai sektor infrastruktur yang bersangkutan menyatakan bahwa Penyediaan Infrastruktur oleh Pemerintah diselenggarakan atau dilaksanakan oleh Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah, maka Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah tersebut bertindak selaku penanggung jawab Proyek Kerjasama.
Dari pasal-pasal tersebut dapat dilihat bahwa pihak-pihak yang melakukan PPP adalah Menteri/Kepala Lembaga
1/Kepala Daerah
2/BUMN/BUMD dan Badan Usaha
3.
3. Jenis-Jenis proyek PPP
Pasal 4 menyebutkan bahwa jenis infrastruktur yang dapat dikerjasamakan dengan Badan Usaha meliputi :
• infrastruktur transportasi, meliputi pelayanan jasa kebandarudaraan, penyediaan dan/atau pelayanan jasa pelabuhan, sarana dan prasarana perkeretaapian.
• infrastruktur jalan, meliputi jalan tol dan jembatan tol.
• infrastruktur pengairan, meliputi saluran pembawa air baku.
1
Menteri/Kepala Lembaga adalah pimpinan kementerian/lembaga yang ruang lingkup, tugas dan tanggung jawabnya meliputi sektor infrastruktur yang diatur dalam Perpres No. 13 Tahun 2010.
2
Kepala Daerah adalah gubernur bagi daerah provinsi, atau bupati bagi daerah kabupaten, atau walikota bagi
daerah kota.
• infrastruktur air minum, meliputi bangunan pengambilan air baku, jaringan transmisi, jaringan distribusi, instalasi pengolahan air minum.
• infrastruktur air limbah, meliputi instalasi pengolah air limbah, jaringan pengumpul dan jaringan utama, dan sarana persampahan yang meliputi pengangkut dan tempat pembuangan.
• infrastruktur telekomunikasi dan informatika meliputi jaringan telekomunikasi dan infrastruktur e-government.
• infrastruktur ketenagalistrikan, meliputi pembangkit, termasuk pengembangan tenaga listrik yang berasal dari panas bumi, transmisi, atau distribusi tenaga listrik.
• infrastruktur minyak dan gas bumi, meliputi transmisi dan/atau distribusi minyak dan gas bumi.
4. Mekanisme pelaksanaan PPP
Proyek kerjasama ini diawali adanya hasil identifikasi proyek
4oleh Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah. Hasil identifikasi ini kemudian ditetapkan dalam daftar prioritas proyek yang dinyatakan terbuka untuk umum dan disebarluaskan kepada masyarakat, setelah terlebih dahulu dilakukan konsultasi publik.
Selain itu, proyek kerjasama dapat juga dilakukan atas prakarsa badan usaha dengan kriteria tertentu
5yang diikuti dengan adanya evaluasi kelayakan oleh Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah. Jika layak, maka akan diikuti dengan kegiatan pelelangan umum dan bagi badan usaha ini akan diberikan kompensasi berbentuk pemberian tambahan nilai atau pemberian hak untuk melakukan penawaran oleh Badan Usaha pemrakarsa terhadap penawar terbaik sesuai dengan hasil penilaian dalam proses pelelangan atau pembelian prakarsa proyek kerjasama termasuk hak kekayaan intelektual yang menyertainya.
Proyek-proyek yang terdapat dalam daftar prioritas proyek maupun yang diperoleh atas prakarsa badan usaha selanjutnya akan dikerjasamakan melalui Perjanjian Kerjasama atau Pemberian Izin Pengusahaan.
4
Identifikasi proyek dilakukan oleh Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah dengan mempertimbangkan kesesuaian dengan RPJMN/RPJMD dan rencana strategis sektor infrastruktur; kesesuaian lokasi proyek dengan RTRW; keterkaitan antarsektor infrastruktur dan antarwilayah; analisa biaya dan manfaat sosial.
5
Kriteria yang harus dipenuhi adalah tidak termasuk dalam rencana induk pada sektor yang bersangkutan;
terintegrasikan secara teknis dengan rencana induk pada sektor yang bersangkutan; layak secara ekonomi dan
financial; dan tidak memerlukan Dukungan Pemerintah yang berbentuk kontribusi fiskal.
Perjanjian Kerjasama adalah kesepakatan tertulis untuk penyediaan infrastruktur antara Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah dengan Badan Usaha yang ditetapkan melalui pelelangan umum, dengan tahapan kegiatan meliputi perencanaan pengadaan dan pelaksanaan pengadaan. Dalam tahapan perencanaan pengadaan, yang dilakukan adalah membentuk Panitia Pengadaan, menyusun jadwal pelaksanaan. menyusun HPS, menyusun dokumen pelelangan umum yang memuat undangan kepada peserta lelang, instruksi kepada peserta lelang, rancangan perjanjian kerjasama, daftar kuantitas dan harga, spesifikasi teknis dan gambar, bentuk surat penawaran, bentuk kerjasama, bentuk surat jaminan penawaran, bentuk surat jaminan pelaksanaan, dan penjelasan mengenai metode penyampaian dokumen penawaran. Sementara tahapan pelaksanaan pengadaan meliputi :
(i) Pengumuman dan Pendaftaran peserta
Kegiatan pelelangan umum harus diumumkan oleh panitia pengadaan dengan memuat nama dan alamat Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah yang akan mengadakan pelelangan umum, uraian singkat pekerjaan yang akan dilaksanakan, perkiraan nilai pekerjaan, syarat- syarat peserta lelang, tempat, tanggal, hari dan waktu untuk mengambil dokumen pelelangan umum.
(ii) Prakualifikasi
Meliputi pengumuman prakualifikasi untuk pelelangan umum, pendaftaran dan pengambilan dokumen prakualifikasi, penyampaian dokumen prakualifikasi oleh peserta lelang, evaluasi dan klarifikasi dokumen prakualifikasi, penetapan daftar peserta lelang yang lulus prakualifikasi, pengesahan hasil prakualifikasi, pengumuman hasil prakualifikasi, pengajuan keberatan apabila terdapat keberatan dari peserta lelang yang tidak lulus prakualifikasi, penelitian dan tindak lanjut atas sanggahan/keberatan terhadap hasil prakualifikasi, evaluasi ulang apabila sanggahan/keberatan terbukti benar dan pengumuman hasil evaluasi ulang.
(iii) Penyusunan Daftar Peserta, Penyampaian Undangan dan Pengambilan Dokumen Pelelangan Umum
Daftar peserta lelang yang akan diundang harus disahkan oleh
Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah, dan peserta yang diundang
berhak mengambil dokumen pelelangan umum.
(iv) Penjelasan Lelang (Aanwijzing)
Dilakukan pada tempat dan waktu yang ditentukan, dengan menjelaskan kepada peserta mengenai metode pelelangan, cara penyampaian penawaran, dokumen yang harus dilampirkan dalam dokumen penawaran, acara pembukaan dokumen penawaran, metode evaluasi, hal-hal yang menggugurkan penawaran, bentuk perjanjian kerjasama, ketentuan dan cara evaluasi berkenaan dengan preferensi harga atas penggunaan produksi dalam negeri, besaran, masa berlaku dan pihak yang dapat mengeluarkan jaminan penawaran.
(v) Penyampaian dan Pembukaan Dokumen Penawaran
Dokumen penawaran menggunakan metode 2 (dua) sampul yang disampaikan langsung kepada Panitia Pengadaan pada tempat, tanggal dan waktu yang telah ditentukan. Dokumen kemudian dibuka sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam dokumen pelelangan, dengan disaksikan oleh sekurang-kurangnya 2 (dua) wakil dari peserta lelang yang hadir.
(vi) Evaluasi Penawaran, dilakukan sesuai ketentuan dalam dokumen pelelangan.
(vii) Pembuatan Berita Acara Hasil Pelelangan
Bersifat rahasia sampai saat penandatanganan kontrak, dan memuat : nama semua peserta lelang dan harga penawaran dan/atau harga penawaran terkoreksi dari masing-masing peserta, metode evaluasi yang digunakan, rumus yang digunakan, keterangan-keterangan lain mengenai ikhwal pelaksanaan lelang, tanggal dibuatnya berita acara serta jumlah peserta lelang yang lulus dan tidak lulus pada setiap tahapan evaluasi, dan penetapan urutan dari 1 (satu) calon pemenang dan 2 (dua) cadangan.
(viii) Penetapan Pemenang Lelang
Berdasarkan hasil evaluasi, Panitia Pengadaan menetapkan calon pemenang lelang. Panitia Pengadaan kemudian membuat dan menyampaikan laporan kepada Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah untuk menetapkan pemenang lelang.
(ix) Penetapan Penawar Tunggal
Panitia Pengadaan menetapkan calon penawar tunggal berdasarkan hasil
evaluasi, kemudian dibuatkan laporan untuk disampaikan kepada
Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah guna menetapkan persetujuan
negosiasi dengan calon penawar tunggal. Jika Menteri/Kepala
Lembaga/Kepala Daerah menolak persetujuan pelaksanaan negosiasi maka proses pengadaan diulang.
(x) Pengumuman Pemenang Lelang atau Penawar Tunggal
Diumumkan dan diberitahukan oleh Panitia Pengadaan kepada para peserta lelang selambat-lambatnya 2(dua) hari kerja setelah diterima surat penetapan pemenang lelang atau penawar tunggal dari Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah.
(xi) Sanggahan Peserta Lelang
Diajukan secara tertulis baik sendiri-sendiri maupun bersama peserta lelang lain kepada Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah disertai bukti-bukti terjadinya penyimpangan.
(xii) Penerbitan Surat Penetapan Pemenang Lelang atau Penerbitan Surat Penetapan Penawar Tunggal
Baik surat penetapan pemenang lelang maupun surat penetapan penawar tunggal harus dibuat paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah pengumuman penetapan pemenang lelang/penawar tunggal dan segera disampaikan kepada pemenang lelang/penawar tunggal dengan salah satu tembusan minimal kepada unit pengawasan internal. Bagi pemenang lelang/penawar tunggal yang telah ditetapkan, namun mengundurkan diri
6maka jaminan penawaran menjadi barang milik negara.
Setelah tahapan pengadaan dilalui maka dilakukan penandatanganan Perjanjian Kerjasama
7, dan paling lama dalam jangka waktu 12 (duabelas) bulan
8setelahnya Badan Usaha harus telah memperoleh pembiayaan
9.
6
Pemenang lelang/penawar tunggal yang mengundurkan diri harus berdasarkan alasan yang dapat diterima secara obyektif oleh Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah, namun jika alasan tidak dapat diterima, pemenang/penawar tunggal dikenakan sanksi berupa larangan untuk mengikuti kegiatan pelelangan umum untuk Proyek Kerjasama selama 2 (dua) tahun.
7
Ketentuan Perjanjian Kerjasama minimal memuat ketentuan mengenai lingkup pekerjaan, jangka waktu, jaminan pelaksanaan, tariff dan mekanisme penyesuaiannya, hak dan kewajiban termasuk alokasi risiko, standar kinerja pelayanan, pengalihan saham sebelum Proyek Kerjasama beroperasi secara komersial, sanksi apabila para pihak tidak memenuhi ketentuan perjanjian, pemutusan atau pengakhiran perjanjian, laporan keuangan Badan Usaha yang diperiksa secara tahunan oleh auditor independen dan diumumkan dalam media cetak nasional, mekanisme penyelesaian sengketa berjenjang, mekanisme pengawasan kinerja Badan Usaha, penggunaan dan kepemilikan asset infrastruktur, pengembalian asset infrastruktur dan/atau pengelolaannya kepada Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah, keadaan memaksa, pernyataan dan jaminan para pihak, penggunaan bahasa Indonesia, pemberlakuan hukum Indonesia, serta status kepemilikan asset yang diadakan selama jangka waktu perjanjian.
8
Jangka waktu ini dapat diperpanjang, dan bilamana dalam waktu tersebut tidak dapat dipenuhi oleh Badan Usaha maka Perjanjian Kerjasama berakhir dan jaminan pelaksanaan berhak dicairkan oleh Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah.
9