• Tidak ada hasil yang ditemukan

ACARA PENGUCAPAN PUTUSAN (IV) J A K A R T A

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ACARA PENGUCAPAN PUTUSAN (IV) J A K A R T A"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

 

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

--- RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 38/PHP.BUP-XV/2017 PERKARA NOMOR 39/PHP.BUP-XV/2017 PERKARA NOMOR 41/PHP.BUP-XV/2017 PERKARA NOMOR 42/PHP.BUP-XV/2017 PERKARA NOMOR 43/PHP.BUP-XV/2017 PERKARA NOMOR 44/PHP.GUB-XV/2017 PERKARA NOMOR 45/PHP.GUB-XV/2017 PERKARA NOMOR 46/PHP.KOT-XV/2017 PERKARA NOMOR 47/PHP.BUP-XV/2017 PERKARA NOMOR 48/PHP.KOT-XV/2017

PERIHAL

PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN BUPATI DOGIYAI PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN BUPATI SORONG

PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN BUPATI PATI PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN BUPATI PUNCAK JAYA PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN BUPATI MALUKU TENGAH

PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN GUBERNUR GORONTALO PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN GUBERNUR BANTEN PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN BUPATI PULAU MOROTAI

PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN BUPATI LANNY JAYA PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN WALIKOTA JAYAPURA

ACARA

PENGUCAPAN PUTUSAN (IV)

J A K A R T A

SELASA, 4 APRIL 2017

(2)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

--- RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 38/PHP.BUP-XV/2017 PERKARA NOMOR 39/PHP.BUP-XV/2017 PERKARA NOMOR 41/PHP.BUP-XV/2017 PERKARA NOMOR 42/PHP.BUP-XV/2017 PERKARA NOMOR 43/PHP.BUP-XV/2017 PERKARA NOMOR 44/PHP.GUB-XV/2017 PERKARA NOMOR 45/PHP.GUB-XV/2017 PERKARA NOMOR 46/PHP.KOT-XV/2017 PERKARA NOMOR 47/PHP.BUP-XV/2017 PERKARA NOMOR 48/PHP.KOT-XV/2017

PERIHAL

Perselisihan Hasil Pemilihan Bupati Dogiyai Perselisihan Hasil Pemilihan Bupati Sorong Perselisihan Hasil Pemilihan Bupati Pati

Perselisihan Hasil Pemilihan Bupati Puncak Jaya Perselisihan Hasil Pemilihan Bupati Maluku Tengah Perselisihan Hasil Pemilihan Gubernur Gorontalo Perselisihan Hasil Pemilihan Gubernur Banten Perselisihan Hasil Pemilihan Bupati Pulau Morotai Perselisihan Hasil Pemilihan Bupati Lanny Jaya Perselisihan Hasil Pemilihan Walikota Jayapura PEMOHON

Markus Waine dan Angkian Goo (Perkara Nomor 38/PHP.BUP-XV/2017) Zeth Kadakolo dan Ibrahim Pokko (Perkara Nomor 39/PHP.BUP-XV/2017) Gerakan Masyarakat Pati (GERAM PATI), dll (Perkara Nomor 41/PHP.BUP-XV/2017) Yustus Wonda dan Kirenius Telenggen (Perkara Nomor 42/PHP.BUP-XV/2017) Alter Sopacua dan Aswar Rahim (Perkara Nomor 43/PHP.BUP-XV/2017) Hana Hasanah Fadel dan Tonny S. Junus (Perkara Nomor 44/PHP.GUB-XV/2017) Rano Karno dan Embay Mulya Syarief (Perkara Nomor 45/PHP.GUB-XV/2017) M. Ali Sangaji dan Yulce Makasarat (Perkara Nomor 46/PHP.BUP-XV/2017) Briyur Wenda dan Paulus Kogoya (Perkara Nomor 47/PHP.BUP-XV/2017) Lembaga Demokrasi dan Riset Papua (PDRI) (Perkara Nomor 48/PHP.KOT-XV/2017)

(3)

TERMOHON

KPU Kabupaten Dogiyai KPU Kabupaten Sorong KPU Kabupaten Pati

KIP Kabupaten Puncak Jaya KPU Kabupaten Maluku Tengah KPU Provinsi Gorontalo

KPU Provinsi Banten

KPU Kabupaten Pulau Morotai KPU Kabupaten Lanny Jaya KPU Kota Jayapura

ACARA

Pengucapan Putusan (IV)

Selasa, 4 April 2017, Pukul 14.05 – 16.40 WIB

Ruang Sidang Panel I Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat

SUSUNAN PERSIDANGAN

1) Arief Hidayat (Ketua)

2) Anwar Usman (Anggota)

3) Aswanto (Anggota)

4) I Dewa Gede Palguna (Anggota)

5) Manahan MP Sitompul (Anggota)

6) Maria Farida Indrati (Anggota)

7) Suhartoyo (Anggota)

8) Wahiduddin Adams (Anggota)

Saiful Anwar Panitera Pengganti Wilma Silalahi Panitera Pengganti Ery Satria Pamungkas Panitera Pengganti Ria Indriani Panitera Pengganti Hani Adhani Panitera Pengganti Achmad Edi Subiyanto Panitera Pengganti Syamsudin Noor Panitera Pengganti Rizki Amalia Panitera Pengganti

(4)

Pihak yang Hadir:

A. Pemohon Perkara Nomor 38/PHP.BUP-XV/2017:

1. Markus Waine

B. Kuasa Hukum Pemohon Perkara Nomor 38/PHP.BUP-XV/2017:

1. Eko Perdana Putra 2. Rio Ramabaskara

C. Kuasa Hukum Termohon Perkara Nomor 38/PHP.BUP-XV/2017:

1. -

D. Pihak Terkait Perkara Nomor 38/PHP.BUP-XV/2017:

1. Yakobus Dumupa 2. Oskar Makai

E. Kuasa Hukum Pihak Terkait Perkara Nomor 38/PHP.BUP-XV/2017:

1. Muh. Salman Darwis

F. Kuasa Hukum Termohon Perkara Nomor 39/PHP.BUP-XV/2017:

1. Daniel Tonapa Masiku

G. Kuasa Hukum Pihak Terkait Perkara Nomor 39/PHP.BUP-XV/2017:

1. Yance Salambauw 2. Christoffel Tutuarima 3. Sukoharjono

H. Kuasa Hukum Pemohon 41/PHP.BUP-XV/2017:

1. Haris Azhar

I. Kuasa Hukum Termohon Perkara Nomor 41/PHP.BUP-XV/2017:

2. Umar Ma’ruf 3. Denny

J. Kuasa Hukum Pihak Terkait Perkara Nomor 41/PHP.BUP-XV/2017:

1. R. M. Armaya Mangkunegara

(5)

K. Kuasa Hukum Pemohon Perkara Nomor 42/PHP.BUP-XV/2017:

1. Sudharmono K. Lewa Yusuf 2. Dhimas Pradana

L. Kuasa Hukum Termohon Perkara Nomor 42/PHP.BUP-XV/2017:

1. Thomas Ulukyana 2. Abraham Ulukyana

M. Kuasa Hukum Pihak Terkait Perkara Nomor 42/PHP.BUP-XV/2017:

1. Eliekezer Ismael Murafer 2. Novianti Magdalena

N. Kuasa Hukum Pemohon Perkara Nomor 43/PHP.BUP-XV/2017:

1. M. Fauzan Rahawarin 2. Abdul Jabbar

O. Kuasa Hukum Termohon Perkara Nomor 43/PHP.BUP-XV/2017:

1. Anthoni Hatane 2. Charles Litaay

P. Kuasa Hukum Pihak Terkait Perkara Nomor 43/PHP.BUP-XV/2017:

1. Helmy Sulilatu

Q. Kuasa Hukum Pemohon Perkara Nomor 44/PHP.GUB-XV/2017:

1. Sandi Situngkir 2. Pilipus Tarigan

R. Kuasa Hukum Termohon Perkara Nomor 44/PHP.GUB-XV/2017:

1. Muh. Nursal 2. Baron Harahap

S. Pihak Terkait Perkara Nomor 44/PHP.GUB-XV/2017:

1. Rusli Habibi

T. Kuasa Hukum Pihak Terkait Perkara Nomor 44/PHP.GUB-XV/2017:

1. Meyka Camaru

2. Dorel Almir

(6)

U. Kuasa Hukum Pemohon Perkara Nomor 45/PHP.GUB-XV/2017:

1. Azis Fahri Pasaribu 2. Imran Mahfudi

V. Kuasa Hukum Termohon Perkara Nomor 45/PHP.GUB-XV/2017:

1. Syarif Hidayatullah

2. Syamsudin Slawat Pesilette

W. Kuasa Hukum Pihak Terkait Perkara Nomor 45/PHP.GUB-XV/2017:

1. Ramdan Alamsyah 2. Fery Renaldy 3. Ismail Fahmi 4. Fery Anka 5. Arif Hidayat

X. Kuasa Hukum Pemohon Perkara Nomor 46/PHP.BUP-XV/2017:

1. Medya Rischa 2. Effendi Saragih 3. Mangalaban Silaban

Y. Kuasa Hukum Termohon Perkara Nomor 46/PHP.BUP-XV/2017:

1. Asep Andryanto

Z. Pihak Terkait Perkara Nomor 46/PHP.BUP-XV/2017:

1. Benny Laos 2. Asrun Padoma

AA. Kuasa Hukum Pihak Terkait Perkara Nomor 46/PHP.BUP-XV/2017:

3. Samsudin 4. Asrun

BB. Kuasa Hukum Pemohon Perkara Nomor 47/PHP.BUP-XV/2017:

1. Supriyono 2. Yanuar Trisulo

CC. Kuasa hukum Termohon Perkara Nomor 47/PHP.BUP-XV/2017:

1. David Soumokil

(7)

DD. Kuasa Hukum Pihak Terkait Perkara Nomor 47/PHP.BUP-XV/2017:

1. Habel Rumbiak 2. Juniana Sipayung

EE. Pemohon Perkara Nomor 48/PHP.KOT-XV/2017:

1. Musa Rudamaga

FF. Kuasa Hukum Termohon Perkara Nomor 48/PHP.KOT-XV/2017:

1. Ali Nurdin

GG. Kuasa Hukum Pihak Terkait Perkara Nomor 48/PHP.KOT-XV/2017:

1. Eliekezer Murafer 2. Muh. Salman Darwis HH. KPU:

1. Beatrix Wanane (KPU Prov. Papua) 2. M. Nasich (Ketua KPU Pati)

3. Abdul Samad Ningkeula (Ketua KPU Maluku Tengah)

4. Agus Supriatna (Ketua KPU Banten)

5. Saima Nuang (Ketua KPU Pulau Morotai) 

(8)

1. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Bismillahirrahmaanirrahiim. Sidang pengucapan putusan untuk Perkara Nomor 38/PHP.BUP-XV/2017, 39/PHP.BUP-XV/2017, 41/PHP.BUP-XV/2017, 42/PHP.BUP-XV/2017, 43/PHP.BUP-XV/2017, 44/PHP.GUB-XV/2017, 45/PHP.GUB-XV/2017, 46/PHP.BUP-XV/2017, 47/PHP.BUP-XV/2017, dan 48/PHP.KOT-XV/2017 tentang Perselisihan Hasil Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota Dalam Pemilihan Serentak 2017 dengan ini dimulai, dibuka, dan terbuka untuk umum.

Saya cek kehadirannya terlebih dahulu. Untuk Termohon[Sic!]

38/PHP.BUP-XV/2017, hadir? Termohon[Sic!] 38/PHP.BUP-XV/2017? Di mana Pemohon 38/PHP.BUP-XV/2017?

2. KUASA HUKUM PEMOHON PERKARA NOMOR 38/PHP.BUP- XV/2017: RIO RAMABASKARA

Hadir, Yang Mulia.

3. KETUA: ARIEF HIDAYAT

39/PHP.BUP-XV/2017? Tidak hadir, belum.

41/PHP.BUP-XV/2017?

4. KUASA HUKUM PEMOHON PERKARA NOMOR 41/PHP.BUP- XV/2017: HARIS AZHAR

Hadir, Yang Mulia.

5. KETUA: ARIEF HIDAYAT 42/PHP.BUP-XV/2017?

6. KUASA HUKUM PEMOHON PERKARA NOMOR 42/PHP.BUP- XV/2017: PILIPUS TARINGAN

Hadir, Yang Mulia.

7. KETUA: ARIEF HIDAYAT

43/PHP.BUP-XV/2017? Dinyalakan itu, biar direkam.

SIDANG DIBUKA PUKUL 14.05 WIB

KETUK PALU 3X

(9)

8. KUASA HUKUM PEMOHON PERKARA NOMOR 43/PHP.BUP- XV/2017: ABDUL JABBAR

Hadir, Yang Mulia.

9. KETUA: ARIEF HIDAYAT

43/PHP.BUP-XV/2017, ya yang tadi? 44/PHP.GUB-XV/2017?

10. KUASA HUKUM PEMOHON PERKARA NOMOR 44/PHP.GUB- XV/2017: PILIPUS TARIGAN

Hadir, Yang Mulia.

11. KETUA: ARIEF HIDAYAT 45/PHP.GUB-XV/2017?

12. KUASA HUKUM PEMOHON PERKARA NOMOR 45/PHP.GUB- XV/2017: AZIS FAHRI PASARIBU

Hadir, Yang Mulia.

13. KETUA: ARIEF HIDAYAT 46/PHP.BUP-XV/2017?

14. KUASA HUKUM PEMOHON PERKARA NOMOR 46/PHP.BUP- XV/2017: MEDYA RISCHA

Hadir, Yang Mulia.

15. KETUA: ARIEF HIDAYAT 47/PHP.BUP-XV/2017?

16. KUASA HUKUM PEMOHON PERKARA NOMOR 47/PHP.BUP- XV/2017: SUPRIYONO

Hadir, Yang Mulia.

17. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Dan 48/PHP.KOT-XV/2017?

(10)

18. PEMOHON PERKARA NOMOR 48/PHP.KOT-XV/2017: MUSA RUDAMAGA

Hadir, Yang Mulia.

19. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Baik, untuk sekarang Termohon. Termohon 38/PHP.BUP- XV/2017? Termohonnya di mana? Di belakang? Termohon? Lho, kok di situ? Lho, harus dicarikan tempat. Lebih baik kalau di situ, di luar saja.

Dicarikan tempat, itu ada itu. Nanti kalau di sana, dikira enggak hadir, enggak dapat apa-apa nanti.

Ya, ini tadi Termohon perkara berapa? 38/PHP.BUP-XV/2017.

20. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Ya. Sekarang Termohon 39/PHP.BUP-XV/2017?

21. KUASA HUKUM TERMOHON PERKARA NOMOR 39/PHP.BUP- XV/2017: DANIEL TONAPA MASIKU

Hadir, Yang Mulia.

22. KETUA: ARIEF HIDAYAT 41/PHP.BUP-XV/2017?

23. KUASA HUKUM TERMOHON PERKARA NOMOR 41/PHP.BUP- XV/2017:

Hadir, Yang Mulia.

24. KETUA: ARIEF HIDAYAT 42/PHP.BUP-XV/2017?

25. KUASA HUKUM TERMOHON PERKARA NOMOR 42/PHP.BUP- XV/2017: THOMAS ULUKYANA

Hadir, Yang Mulia.

26. KETUA: ARIEF HIDAYAT

43/PHP.BUP-XV/2017?

(11)

27. KUASA HUKUM TERMOHON PERKARA NOMOR 43/PHP.BUP- XV/2017: CHARLES LITAAY

Hadir, Yang Mulia.

28. KETUA: ARIEF HIDAYAT 44/PHP.GUB-XV/2017?

29. KUASA HUKUM TERMOHON PERKARA NOMOR 44/PHP.GUB- XV/2017: M. NURSAL

Hadir, Yang Mulia.

30. KETUA: ARIEF HIDAYAT 45/PHP.GUB-XV/2017?

31. KUASA HUKUM TERMOHON PERKARA NOMOR 45/PHP.GUB- XV/2017: SYAMSUDIN SLAWAT PESILETTE

Hadir, Yang Mulia.

32. KETUA: ARIEF HIDAYAT 46/PHP.BUP-XV/2017?

33. KUASA HUKUM TERMOHON PERKARA NOMOR 46/PHP.BUP- XV/2017: ALI NURDIN

Hadir, Yang Mulia.

34. KETUA: ARIEF HIDAYAT 47/PHP.BUP-XV/2017?

35. KUASA HUKUM TERMOHON PERKARA NOMOR 47/PHP.BUP- XV/2017: DAVID SOUMOKIL

Hadir, Yang Mulia.

36. KETUA: ARIEF HIDAYAT

48/PHP.KOT-XV/2017?

(12)

37. KUASA HUKUM TERMOHON PERKARA NOMOR 48/PHP.KOT- XV/2017: ALI NURDIN

Hadir, Yang Mulia.

38. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Terima kasih. Pihak Terkait sekarang.

Pihak Terkait 38/PHP.BUP-XV/2017?

39. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT PERKARA NOMOR 38/PHP.BUP- XV/2017: MUH. SALMAN DARWIS

Hadir, Yang Mulia.

40. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Pihak Terkait 39/PHP.BUP-XV/2017?

41. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT PERKARA NOMOR 39/PHP.BUP- XV/2017: CHRISTOFFEL TUTUARIMA

Hadir, Yang Mulia.

42. KETUA: ARIEF HIDAYAT 41/PHP.BUP-XV/2017?

43. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT PERKARA NOMOR 41/PHP.BUP- XV/2017: R. M. ARMAYA MANGKUNEGARA

Hadir, Yang Mulia.

44. KETUA: ARIEF HIDAYAT 42/PHP.BUP-XV/2017?

45. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT PERKARA NOMOR 42/PHP.BUP- XV/2017: ELIEKEZER ISMAEL MURAFER

Hadir, Yang Mulia.

46. KETUA: ARIEF HIDAYAT

43/PHP.BUP-XV/2017?

(13)

47. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT PERKARA NOMOR 43/PHP.BUP- XV/2017: HELMY SULILATU

Hadir, Yang Mulia.

48. KETUA: ARIEF HIDAYAT 44/PHP.GUB-XV/2017?

49. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT PERKARA NOMOR 44/PHP.GUB- XV/2017: DOREL ALMIR

Hadir, Yang Mulia, bersama Prinsipal.

50. KETUA: ARIEF HIDAYAT 45/PHP.GUB-XV/2017?

51. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT PERKARA NOMOR 45/PHP.GUB- XV/2017: RAMDAN ALAMSYAH

Hadir, Yang Mulia.

52. KETUA: ARIEF HIDAYAT 46/PHP.BUP-XV/2017?

53. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT PERKARA NOMOR 46/PHP.BUP- XV/2017: SAMSUDIN

Hadir, Yang Mulia, bersama Prinsipal.

54. KETUA: ARIEF HIDAYAT Ya, 47/PHP.BUP-XV/2017?

55. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT PERKARA NOMOR 47/PHP.BUP- XV/2017: JUNIANA SIPAYUNG

Hadir, Yang Mulia.

56. KETUA: ARIEF HIDAYAT

48/PHP.KOT-XV/2017?

(14)

57. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT PERKARA NOMOR 48/PHP.KOT- XV/2017: MUH. SALMAN DARWIS

Hadir, Yang Mulia.

58. KETUA: ARIEF HIDAYAT

Baik, kita mulai untuk pengucapan putusan. Dimulai dari Perkara Nomor 38/PHP.BUP-XV/2017 terlebih dahulu.

PUTUSAN

NOMOR 38/PHP.BUP-XV/2017

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

[1.1] Yang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir, menjatuhkan putusan dalam perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua Tahun 2017, yang diajukan oleh Markus Waine dan Angkian Goo, S.Pi.

Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Dogiyai Tahun 2017, Nomor Urut 4 (empat).

Dalam hal ini berdasarkan Surat Kuasa Khusus bertanggal 24 Februari 2017, memberi kuasa kepada Carrel Ticualu, S.E., S.H., M.H., dan kawan-kawan, Advokat/Kuasa Hukum yang tergabung dalam Tim Hukum WAINE – GOO, berkedudukan di Jln.

Raya Kelapa Nias Blok QB5 Nomor 1, Kelapa Gading, Jakarta Utara, baik sendiri-sendiri atau bersama-sama bertindak untuk dan atas nama Pemberi Kuasa.

Selanjutnya disebut sebagai---Pemohon.

terhadap:

I. Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Dogiyai, beralamat di Jalan Raya Trans Nabire – Ilaga KM 200, Distrik Kamu Kabupaten Dogiyai, Propinsi Papua.

Dalam hal ini berdasarkan Surat Kuasa Khusus bertanggal 14 Maret 2017 memberi Kuasa kepada Guntoro, S.H.,M.H., dan kawan-kawan, para advokat pada kantor Gun & Rekan, beralamat di Jalan Menteng Atas Dalam No 9 Setiabudi, Jakarta Selatan 12960, baik sendiri-sendiri atau bersama-sama bertindak untuk dan atas nama Pemberi Kuasa.

Selanjutnya disebut sebagai ---Termohon.

II. Nama : Yakobus Dumupa dan Oskar Makai.

(15)

Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Dogiyai dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Dogiyai Tahun 2017 dengan Nomor Urut 1 (satu).

Dalam hal ini memberi kuasa kepada Dr. Refly Harun, S.H., M.H., LL.M., dan kawan-kawan, para Advokat/Konsultan Hukum pada kantor Refly Harun & Partners, beralamat di Jl. Musyawarah I Nomor 10, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11530. Berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 14 Maret 2017, baik sendiri-sendiri atau bersama-sama bertindak untuk dan atas nama Pemberi Kuasa.

Selanjutnya disebut sebagai --- Pihak Terkait.

[1.2] Membaca permohonan Pemohon.

Mendengar keterangan Pemohon.

Mendengar dan membaca Jawaban Termohon.

Mendengar dan membaca Keterangan Pihak Terkait.

Memeriksa bukti-bukti para pihak.

Bagian duduk perkara dan selanjutnya dianggap telah dibacakan.

59. HAKIM ANGGOTA: MARIA FARIDA INDRATI PERTIMBANGAN HUKUM

[3.1] Menimbang bahwa sebelum mempertimbangkan lebih jauh permohonan Pemohon, Mahkamah memandang perlu untuk menegaskan kembali beberapa hal penting berkenaan dengan penyelesaian perselisihan hasil pemilihan gubernur, bupati, dan walikota serentak tahun 2017 sebagai berikut:

Kesatu, perihal kewenangan Mahkamah dalam mengadili perselisihan hasil pemilihan gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati, serta walikota, dan wakil walikota serentak 2017.

Kedua, perihal keberlakuan Pasal 158 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5898, selanjutnya disebut Undang-Undang 10/2016) dalam hubungannya dengan pelaksanaan kewenangan Mahkamah dalam mengadili perselisihan hasil pemilihan gubernur dan wakil gubernur, bupati, dan wakil bupati, serta walikota dan wakil walikota serentak 2017.

Terhadap masalah yang kesatu: perihal kewenangan

Mahkamah dalam mengadili perselisihan hasil pemilihan gubernur,

(16)

bupati, dan walikota serentak 2017, Mahkamah berpendapat dan perlu memberikan penegasan:

a. bahwa berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 97/PUU-XI/2013, bertanggal 19 Mei 2014 dalam Pengujian Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, Mahkamah telah menegaskan pendiriannya bahwa pemilihan gubernur, bupati, walikota bukan merupakan rezim pemilihan umum, oleh karena itu maka kewenangan Mahkamah dalam mengadili perselisihan hasil pemilihan gubernur, bupati, dan walikota serentak 2017 bukanlah kewenangan yang diturunkan dari Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 melainkan kewenangan tambahan yang bersifat sementara yang semata-mata dimaksudkan untuk menghindari kekosongan hukum.

b. bahwa sifat sementara kewenangan Mahkamah dalam mengadili perselisihan hasil pemilihan gubernur, bupati, dan walikota serentak 2017, sebagaimana dimaksud pada huruf a di atas, tegas dinyatakan dalam Pasal 157 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) Undang-Undang 10/2016 yang selengkapnya berbunyi:

(1) Perkara perselisihan hasil Pemilihan diperiksa dan diadili oleh badan peradilan khusus.

(2) Badan peradilan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk sebelum pelaksanaan Pemilihan serentak nasional.

(3) Perkara perselisihan penetapan perolehan suara tahap akhir hasil Pemilihan diperiksa dan diadili oleh Mahkamah Konstitusi sampai dibentuknya badan peradilan khusus.

Dengan demikian, kewenangan Mahkamah untuk mengadili perselisihan hasil pemilihan gubernur, bupati, dan walikota akan berakhir begitu badan peradilan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 ayat (1) Undang- Undang 10/2016 terbentuk.

c. bahwa berdasarkan penjelasan sebagaimana diuraikan pada

huruf a dan huruf b di atas, telah menjadi terang bahwa

kedudukan Mahkamah dalam hubungannya dengan

keseluruhan proses penyelesaian perselisihan hasil pemilihan

gubernur, bupati, dan walikota serentak 2017 adalah sebagai

pelaksana Undang-Undang yang kewenangannya telah

ditentukan batas-batasnya, sebagaimana halnya dengan

institusi-institusi lainnya sesuai dengan kewenangannya

masing-masing, yaitu (i) untuk pelanggaran administratif

kewenangan penyelesaiannya ada di tangan Komisi Pemilihan

(17)

Umum pada tingkatannya masing-masing (vide Pasal 10 UU Nomor 10/2016). (ii) untuk sengketa antarpeserta pemilihan kewenangan penyelesaiannya ada di tangan panitia pengawas pemilihan sesuai dengan tingkatannya masing-masing (vide Pasal 22B, Pasal 30, dan Pasal 33 Undang-Undang 10/2016).

(iii) untuk sengketa penetapan pasangan calon kewenangan penyelesaiannya merupakan yurisdiksi pengadilan dalam lingkungan peradilan tata usaha negara (vide Pasal 135A, Pasal 153, dan Pasal 154 Undang-Undang 10/2016). (iv) untuk tindak pidana pemilihan kewenangan penyelesaiannya ada di tangan Sentra Gakkumdu, yaitu Bawaslu Provinsi dan/atau Panwas Kabupaten/Kota, Kepolisian, Kejaksaan (vide Pasal 152), dan Pengadilan dalam lingkungan peradilan umum (vide Pasal 146 Undang-Undang 10/2016), serta (v) untuk perselisihan hasil pemilihan kewenangannya diberikan kepada badan peradilan khusus yang dibentuk untuk itu, yang untuk sementara sebelum terbentuk kewenangan itu diberikan kepada Mahkamah Konstitusi (vide Pasal 157 UU Nomor 10/2016).

Selanjutnya, terhadap masalah kedua: perihal keberlakuan Pasal 158 Undang-Undang 10/2016 dalam hubungannya dengan pelaksanaan kewenangan Mahkamah dalam mengadili perselisihan hasil pemilihan gubernur, bupati, dan walikota serentak 2017, Mahkamah berpendapat dan perlu menegaskan:

a. bahwa substansi Pasal 158 Undang-Undang 10/2016 tidak

berbeda dengan substansi Pasal 158 Undang-Undang

Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Undang-

Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1

Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan

Walikota Menjadi Undang-Undang (selanjutnya disebut

Undang-Undang 8/2015). Sementara itu, terhadap Pasal

158 Undang-Undang 8/2015 telah pernah dimohonkan

pengujian konstitusionalitasnya yang oleh Mahkamah

dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 51/PUU-

XIII/2015, bertanggal 9 Juli 2015, telah dinyatakan ditolak

dan dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 58/PUU-

XIII/2015, bertanggal 9 Juli 2015, telah dinyatakan tidak

dapat diterima karena Mahkamah berpendapat bahwa hal

itu merupakan kebijakan hukum terbuka pembentuk

Undang-Undang, sekaligus sebagai bagian upaya

membangun struktur, substansi, dan terutama etika dan

budaya politik yang makin dewasa.

(18)

Dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 51/PUU-XIII/2015, Mahkamah menyatakan, antara lain, [3.19] … bahwa tidak semua pembatasan serta merta berarti bertentangan dengan UUD 1945, sepanjang pembatasan tersebut untuk menjamin pengakuan, serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum maka pembatasan demikian dapat dibenarkan menurut konstitusi [vide Pasal 28J ayat (2) UUD 1945].

Menurut Mahkamah, pembatasan bagi peserta Pemilu untuk mengajukan pembatalan penetapan hasil penghitungan suara dalam Pasal 158 Undang-Undang 8/2015 merupakan kebijakan hukum terbuka pembentuk Undang-Undang untuk menentukannya, sebab pembatasan demikian logis dan dapat diterima secara hukum sebab untuk mengukur signifikansi perolehan suara calon”.

Dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 58/PUU-XIII/2015, Mahkamah menyatakan, antara lain,

“Bahwa rasionalitas Pasal 158 ayat (1) dan ayat (2) UU 8/2015 sesungguhnya merupakan bagian dari upaya pembentuk Undang-Undang mendorong terbangunnya etika dan sekaligus budaya politik yang makin dewasa, yaitu dengan cara membuat perumusan norma Undang- Undang di mana seseorang yang turut serta dalam kontestasi Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota tidak serta-merta menggugat suatu hasil pemilihan ke Mahkamah Konstitusi dengan perhitungan yang sulit diterima oleh penalaran yang wajar”.

b. bahwa selanjutnya, terkait dengan keberadaan Pasal 158

Undang-Undang 10/2016 tersebut, berdasarkan

kewenangan yang diberikan oleh Pasal 86 Undang-

Undang MK, Mahkamah telah menerbitkan Peraturan

Mahkamah Konstitusi Nomor 1 Tahun 2016 tentang

Pedoman Beracara Dalam Perkara Perselisihan Hasil

Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota (selanjutnya

disebut PMK 1/2016) sebagaimana telah diubah dengan

Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 1 Tahun 2017

tentang Perubahan Atas Peraturan Mahkamah Konstitusi

Nomor 1 Tahun 2016 tentang Pedoman Beracara Dalam

Perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Gubernur, Bupati, dan

Walikota (selanjutnya disebut PMK 1/2017) yang

merupakan penjabaran terhadap ketentuan Pasal 158

Undang-Undang 10/2016 tersebut, yang selanjutnya

(19)

dijadikan pedoman oleh Mahkamah dalam melaksanakan kewenangannya yang diberikan oleh Undang-Undang 10/2016 dalam mengadili perselisihan hasil pemilihan gubernur, bupati, dan walikota serentak 2017.

c. bahwa keberadaan Mahkamah dalam diskursus/perdebatan tentang penerapan Pasal 158 Undang-Undang 10/2016 dalam persoalan penyelesaian perselisihan hasil pemilihan gubernur, bupati, dan walikota harus dibedakan dengan keberadaan Mahkamah dalam persoalan permohonan untuk mengesampingkan penerapan Pasal 158 Undang- Undang 10/2016. Dalam hal yang disebutkan terdahulu, kedudukan Mahkamah adalah sebagai pelaksana Undang- Undang dan itu pun sifatnya sementara, sedangkan dalam hal yang disebut belakangan kedudukan Mahkamah adalah sebagai organ negara yang sedang melaksanakan fungsinya “mengadili” norma Undang-Undang. Dengan demikian, mencampuradukkan kedudukan Mahkamah dalam dua keadaan yang berbeda tersebut dengan dalih demi keadilan substantif adalah tindakan yang justru mencederai keadilan itu sendiri.

[3.2] Menimbang bahwa meskipun Undang-Undang 10/2016 adalah Undang-Undang perubahan dari Undang-Undang sebelumnya, yaitu Undang-Undang 8/2015, secara substansial tidak ada perbedaan antara UU 8/2015 dan Undang-Undang 10/2016 yang berkenaan dengan kewenangan Mahkamah. Sementara itu, substansi pertimbangan sebagaimana diuraikan pada paragraf [3.1] di atas sesungguhnya telah diuraikan secara panjang lebar dalam pertimbangan hukum putusan-putusan Mahkamah dalam perkara perselisihan hasil pemilihan gubernur, bupati, dan walikota tahun 2015 (vide Putusan Mahkamah Nomor 8/PHP.BUP- XIV/2016, bertanggal 21 Januari 2016, paragraf [3.1] sampai dengan paragraf [3.2.15] dan putusan-putusan lainnya dalam perkara perselisihan hasil pemilihan gubernur, bupati, dan walikota serentak 2015), sehingga dengan demikian pertimbangan hukum Mahkamah pada putusan dalam perkara perselisihan hasil pemilihan gubernur, bupati, dan walikota tahun 2015 dimaksud mutatis mutandis berlaku pula terhadap permohonan a quo.

[3.3] Menimbang bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana diuraikan pada paragraf [3.1] sampai dengan paragraf [3.2] di atas, Mahkamah berpendapat:

a. Bahwa tidak terdapat dasar hukum bagi Mahkamah untuk

memperluas kewenangannya sendiri, sehingga melampaui

kewenangan yang diberikan kepadanya oleh Pasal 157 ayat

(3) Undang-Undang 10/2016 yaitu kewenangan mengadili

perkara perselisihan hasil pemilihan gubernur, bupati, dan

(20)

walikota. Dengan kata lain, secara a contrario, tidak mungkin bagi Mahkamah memperluas kewenangannya, sehingga melampaui kewenangan yang diberikan berdasarkan Pasal 157 ayat (3) Undang-Undang 10/2016 tanpa menyerobot kewenangan yang dimiliki oleh institusi-institusi lainnya.

Dengan demikian, Mahkamah tidak sependapat dengan dalil-dalil yang dibangun Pemohon yang dengan dalih menegakkan keadilan substantif lalu hendak “memaksa”

Mahkamah, melanggar dan mengabaikan batas-batas kewenangan yang diberikan kepada Mahkamah oleh Undang- Undang, in casu Undang-Undang 10/2016. Sekali Mahkamah terbujuk untuk melampaui batas-batas itu, maka hal itu akan menjadi preseden buruk dalam penegakan hukum dan keadilan di masa yang akan datang, khususnya yang berkenaan dengan penyelesaian perkara perselisihan hasil pemilihan gubernur, bupati, dan walikota, sehingga pada saat yang sama akan dengan sendirinya juga menjadi preseden buruk bagi upaya membangun budaya demokrasi yang menghormati ketentuan yang ditetapkan oleh Undang-Undang sesuai dengan prinsip-prinsip yang berlaku universal dalam negara hukum yang demokratis (constitutional democratic state).

b. bahwa dalam hubungannya dengan Pasal 158 Undang-Undang 10/2016, Mahkamah tidak mungkin mengesampingkan keberlakuan Pasal 158 Undang-Undang 10/2016, sebab mengesampingkan Pasal 158 Undang-Undang 10/2016 sama halnya dengan menentang putusan dan pendiriannya sendiri sebagaimana ditegaskan dalam Putusan Nomor 58/PUU- XIII/2015, bertanggal 9 Juli 2015, dan PMK 1/2016 sebagaimana telah diubah dengan PMK 1/2017.

Demikian pula, Mahkamah tidak mungkin

mengesampingkan keberlakuan Pasal 158 Undang-Undang

10/2016, tanpa mencampuradukkan kedudukan Mahkamah

sebagai pelaksana (sementara) Undang-Undang (in casu

Undang-Undang 10/2016) dan kedudukan Mahkamah sebagai

pengadil Undang-Undang atau kedudukan Mahkamah dalam

melaksanakan kewenangan lainnya yang diturunkan dari Pasal

24C UUD 1945. Pengesampingan keberlakuan suatu norma

Undang-Undang hanya dapat dilakukan oleh Mahkamah

tatkala Mahkamah sedang melaksanakan kewenangan yang

diberikan kepadanya oleh Konstitusi, in casu Pasal 24C ayat

(1) UUD 1945, bukan tatkala Mahkamah sedang menjadi

pelaksana ketentuan Undang-Undang, sebagaimana halnya

dalam perkara a quo. Oleh karena itu, Mahkamah tidak

sependapat dengan dalil Pemohon yang dengan dalih

(21)

menegakkan keadilan substantif lalu “memaksa” Mahkamah untuk, di satu pihak, mengubah pendiriannya tanpa landasan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan menurut kaidah-kaidah penalaran hukum sehingga dapat menjadi persoalan serius dalam konteks akuntabilitas peradilan (judicial accountability) dan di pihak lain memperlakukan pihak-pihak lain secara tidak fair, yaitu mereka yang karena sadar akan norma yang ditentukan dalam Pasal 158 Undang-Undang 10/2016 lalu memutuskan untuk tidak mengajukan permohonan kepada Mahkamah, padahal mereka boleh jadi memiliki argumentasi yang lebih kuat atau setidak-tidaknya sama kuatnya dengan argumentasi Pemohon dalam permohonan a quo.

60. HAKIM ANGGOTA: SUHARTOYO Kewenangan Mahkamah

[3.4] Dianggap dibacakan.

[3.5] Menimbang bahwa permohonan Pemohon a quo adalah permohonan keberatan terhadap Keputusan Termohon Nomor 07/Kpts/KPU-DGY/II/Tahun 2017, tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara dan Hasil Pemilihan Bupati Dan Wakil Bupati Dogiyai Tahun 2017, tanggal 22 Februari 2017 [vide bukti P-03 = bukti TD.3.001 = bukti PT-4]. Dengan demikian, Mahkamah berwenang mengadili permohonan Pemohon a quo.

Tenggang Waktu Pengajuan Permohonan

[3.6] Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 157 ayat (5) Undang- Undang 10/2016 dan Pasal 5 ayat (1) PMK 1/2016 sebagaimana telah diubah dengan PMK 1/2017, sebagai berikut: Pasal-pasal dimaksud dianggap dibacakan.

[3.6.3] Bahwa berdasarkan Pasal 157 ayat (5) Undang-Undang 10/2016 dan Pasal 5 ayat (1) PMK 1/2016, sebagaimana telah diubah dengan PMK 1/2017, tenggang waktu pengajuan permohonan pembatalan Penetapan Perolehan Suara Tahap Akhir Hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Dogiyai Tahun 2017 paling lambat 3 (tiga) hari kerja sejak Termohon mengumumkan penetapan perolehan suara hasil pemilihan.

[3.6.4] Bahwa Pasal 1 angka 27 PMK 1/2017 menyatakan, dianggap dibacakan.

[3.6.5] Bahwa hasil penghitungan suara Pemilihan Bupati dan

Wakil Bupati Kabupaten Dogiyai diumumkan oleh

Termohon, berdasarkan Keputusan Komisi Pemilihan

(22)

Umum Kabupaten Dogiyai Nomor 07/Kpts dan seterusnya tahun 2017, tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara dan Hasil Pemilihan Bupati Dan Wakil Bupati Kabupaten Dogiyai Tahun 2017, hari Rabu, tanggal 22 Februari 2017, pukul 16.15 WIT (vide bukti TD.3.001).

[3.6.6] Bahwa tenggang waktu 3 (tiga) hari kerja sejak Termohon mengumumkan penetapan perolehan suara hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Dogiyai Tahun 2017 adalah hari Rabu, tanggal 22 Februari 2017, pukul 24.00 WIB sampai dengan hari Jum’at tanggal 24 Februari 2017, pukul 24.00 WIB.

[3.7] Menimbang bahwa permohonan Pemohon diajukan di Kepaniteraan Mahkamah pada hari Jum’at tanggal 24 Februari 2017, pukul 14.55 WIB, berdasarkan Akta Pengajuan Permohonan Pemohon Nomor 4/PAN.MK/2017, sehingga permohonan Pemohon diajukan masih dalam tenggang waktu pengajuan permohonan yang ditentukan peraturan perundang-undangan.

Kedudukan Hukum (Legal Standing) Pemohon Dalam Eksepsi

[3.8] Menimbang bahwa sebelum Mahkamah mempertimbangkan lebih lanjut mengenai pokok permohonan, Mahkamah terlebih dahulu mempertimbangkan eksepsi Termohon/eksepsi Pihak Terkait yang pada pokoknya menyatakan bahwa Pemohon tidak memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan a quo.

[3.9] Menimbang bahwa dalam mempertimbangkan kedudukan hukum (Legal Standing) Pemohon, Mahkamah akan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

1) Apakah Pemohon memenuhi ketentuan Pasal 1 angka 4 Undang-Undang 8/2015, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang 10/2016, Pasal 157 ayat (4) Undang- Undang 10/2016, Pasal 2 huruf a dan Pasal 3 ayat (1) huruf b PMK 1/2016 sebagaimana telah diubah dengan PMK 1/2017?

2) Apakah Pemohon memenuhi ketentuan pengajuan permohonan sebagaimana diatur dalam Pasal 158 ayat (2) huruf a Undang-Undang 10/2016 dan Pasal 7 ayat (2) huruf a PMK 1/2016?

[3.10] Menimbang bahwa terhadap dua hal tersebut Mahkamah mempertimbangkan sebagai berikut:

[3.10.1] Bahwa Pasal 1 angka 4 Undang-Undang 8/2015, Pasal

157 ayat (4) Undang-Undang 10/2016, Pasal 2 huruf a,

(23)

dan Pasal 3 ayat (1) huruf b PMK 1/2016, menyatakan (pasal-pasal dimaksud dianggap dibacakan).

[3.10.2]Bahwa Keputusan Termohon Nomor 11/Kpts/KPU.Dogiyai/X/2016 tentang Penetapan Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Peserta Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Dogiyai Tahun 2017, tanggal 24 Oktober 2016, dan Keputusan Termohon Nomor 12/Kpts/KPU.Dogiyai/X/2016 tentang Penetapan Nomor Urut Pasangan Calon Dalam Pemilihan Bupati Dan Wakil Bupati Kabupaten Dogiyai Tahun 2017, tanggal 25 Oktober 2016, menyatakan bahwa Pemohon adalah Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Dogiyai Peserta Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Dogiyai Tahun 2017 dengan Nomor Urut 4 (empat).

[3.10.3]Bahwa berdasarkan pertimbangan di atas, Pemohon adalah Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Dogiyai tahun 2017, dengan Nomor Urut 4 (empat).

[3.10.4] Bahwa Pasal 158 ayat (2) huruf a Undang-Undang 10/2016 dan Pasal 7 ayat (2) huruf a PMK 1/2016, menyatakan (dianggap dibacakan).

[3.10.5]Bahwa jumlah penduduk di Kabupaten Dogiyai berdasarkan Dinas Kependudukan Catatan Sipil dan Tenaga Kerja Pemerintah Kabupaten Dogiyai Jumlah Penduduk Kabupaten Dogiyai adalah sebanyak 159.518 jiwa [vide bukti TB-001], sehingga perbedaan perolehan suara antara Pemohon dengan pasangan calon peraih suara terbanyak (Pihak Terkait) untuk dapat mengajukan permohonan perselisihan hasil pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Dogiyai Tahun 2017 adalah paling banyak sebesar 2% dari total suara sah hasil penghitungan suara tahap akhir yang ditetapkan oleh KPU Kabupaten Dogiyai.

[3.10.6]Bahwa jumlah perbedaan perolehan suara antara Pemohon dengan pasangan calon peraih suara terbanyak adalah paling banyak 2% x 126.717 suara (total suara sah) = 2.534 suara.

[3.10.7] Bahwa perolehan suara Pemohon adalah 36.888 suara,

sedangkan perolehan suara Pihak Terkait (pasangan

calon peraih suara terbanyak) adalah 46.034 suara,

sehingga perbedaan perolehan suara antara Pemohon

dan Pihak Terkait adalah 9.146 suara, atau setara dengan

19,8%, sehingga lebih dari 2.534 suara.

(24)

[3.11] Menimbang bahwa berdasarkan pertimbangan hukum di atas, Mahkamah berpendapat, meskipun Pemohon adalah Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Dogiyai dalam Pemilihan Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Dogiyai Tahun 2017, namun Pemohon tidak memenuhi ketentuan pengajuan permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 ayat (2) huruf a Undang-Undang 10/2016 dan Pasal 7 ayat (2) huruf a PMK 1/2016, sehingga Pemohon tidak memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan perkara a quo. Dengan demikian, eksepsi Termohon dan Pihak Terkait bahwa Pemohon tidak memiliki kedudukan hukum (legal standing) beralasan menurut hukum.

[3.12] Menimbang bahwa oleh karena eksepsi Termohon dan eksepsi Pihak Terkait mengenai kedudukan hukum (legal standing) Pemohon beralasan menurut hukum maka eksepsi lain dari Termohon dan Pihak Terkait serta pokok permohonan Pemohon tidak dipertimbangkan.

61. KETUA: ARIEF HIDAYAT

KONKLUSI

Berdasarkan penilaian atas fakta dan hukum sebagaimana diuraikan di atas, Mahkamah berkesimpulan:

[4.1] Mahkamah berwenang mengadili permohonan a quo.

[4.2] Permohonan Pemohon diajukan masih dalam tenggang waktu yang ditentukan peraturan perundang-undangan.

[4.3] Eksepsi Termohon dan eksepsi Pihak Terkait mengenai kedudukan hukum (legal standing) Pemohon beralasan menurut hokum.

[4.4] Pemohon tidak memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan a quo.

[4.5] Eksepsi lain dari Termohon dan Pihak Terkait serta pokok permohonan tidak dipertimbangkan.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota Menjadi Undang-Undang, dan seterusnya dianggap telah dibacakan.

AMAR PUTUSAN Mengadili,

1. Mengabulkan eksepsi Termohon dan eksepsi Pihak Terkait mengenai kedudukan hukum (legal standing) Pemohon.

2. Menyatakan permohonan Pemohon tidak dapat diterima.

KETUK PALU1X

(25)

Demikian diputus dalam Rapat Permusyawaratan Hakim oleh delapan Hakim Konstitusi yaitu Arief Hidayat selaku Ketua merangkap Anggota, Anwar Usman, Maria Farida Indrati, Wahiduddin Adams, Suhartoyo, Manahan M.P Sitompul, I Dewa Gede Palguna, dan Aswanto, masing-masing sebagai Anggota, pada hari Kamis, tanggal tiga puluh, bulan Maret, tahun dua ribu tujuh belas, dan diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi terbuka untuk umum pada hari Selasa, tanggal empat, bulan April, tahun dua ribu tujuh belas, selesai diucapkan pada pukul 14.38 WIB, oleh delapan Hakim Konstitusi yaitu Arief Hidayat selaku Ketua merangkap Anggota, Anwar Usman, Maria Farida Indrati, Wahiduddin Adams, Suhartoyo, Manahan M.P Sitompul, I Dewa Gede Palguna, dan Aswanto, masing-masing sebagai Anggota, dengan didampingi oleh Saiful Anwar sebagai Panitera Pengganti, dan dihadiri oleh Pemohon/Kuasa Hukumnya, Termohon/Kuasa Hukumnya, dan Pihak Terkait/Kuasa Hukumnya.

Berikut, Perkara Nomor 39/PHP.BUP-XV/2017.

PUTUSAN

NOMOR 39/PHP.BUP-XV/2017

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

[1.1] Yang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir, menjatuhkan putusan dalam perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Tahun 2017, yang diajukan oleh:

Zeth Kadakolo, S.E., M.M. dan H. Ibrahim Pokko.

Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Sorong Tahun 2017, Nomor Urut 1 (satu).

Berdasarkan Surat Kuasa Khusus bertanggal 27 Februari 2017, memberi kuasa kepada Habel Rumbiak, S.H., SpN. dan Muhajir, S.H., advokat dan konsultan hukum pada kantor Kamasan Law Firm, beralamat di Gedung Arva Lantai 3, Jalan R.P.

Soeroso Nomor 40, Gondangdia Lama, Jakarta Pusat, baik sendiri- sendiri atau bersama-sama bertindak untuk dan atas nama pemberi kuasa.

Selanjutnya disebut sebagai --- Pemohon.

Terhadap:

I. Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Sorong, berkedudukan di

Jalan Baru Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua

Barat.

(26)

Berdasarkan Surat Kuasa Khusus, bertanggal 13 Maret 2017, memberi kuasa kepada Daniel Tonapa Masiku, S.H. dan kawan-kawan advokat/konsultan hukum, beralamat di Gedung ITC Cempaka Mas Lantai 7 Nomor 12C, Jalan Letjend Suprapto Kav-1, Jakarta Pusat, dan kepada Alexi Sasube, S.H., advokat dan konsultan hukum pada kantor Hukum Alexi Sasube &

Rekan, beralamat di Jalan Jenderal Sudirman RT. 04/RW. IV, Kelurahan Malabutor, Distrik Sorong Manoi, Kota Sorong, Papua Barat, baik secara bersama-sama maupun sendiri- sendiri, bertindak atas nama pemberi kuasa.

Selanjutnya disebut sebagai --- Termohon.

II. Nama: Dr. Johny Kamuru, S.H., M.Si. dan Suko Harjono, S.Sos., M.Si.

Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Sorong Tahun 2017, Nomor Urut 2 (dua).

Berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor 02/SK dan seterusnya, tanggal 16 Maret 2017 memberi kuasa kepada Yance Salambauw, S.H., M.H. dan kawan-kawan advokat/penasihat hukum pada kantor Hukum (Law Office) Yance Salambauw &

Rekan, yang beralamat di Jalan Dotulolong Lasut Nomor 32, Lt. II, Kelurahan Pinaesaan, Kecamatan Wenang, Kota Manado, Sulawesi Utara, baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri, bertindak atas nama pemberi kuasa.

Selanjutnya disebut sebagai ---Pihak Terkait.

[1.2] Membaca permohonan Pemohon.

Mendengar keterangan Pemohon.

Mendengar dan membaca Jawaban Termohon.

Mendengar dan membaca Keterangan Pihak Terkait.

Memeriksa bukti-bukti Pemohon, Termohon, dan Pihak Terkait.

Bagian Duduk Perkara dan selanjutnya dianggap telah dibacakan.

62. HAKIM ANGGOTA: WAHIDUDDIN ADAMS Kewenangan Mahkamah

[3.4] Dianggap dibacakan.

[3.5] Menimbang bahwa permohonan Pemohon a quo adalah

permohonan keberatan terhadap Surat Keputusan Komisi

Pemilihan Umum Kabupaten Sorong Nomor 025/SK Tahun 2017

tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan

Suara dan Hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten

Sorong Tahun 2017, bertanggal 24 Februari 2017 (vide bukti P-1

(27)

dan seterusnya). Dengan demikian, Mahkamah berwenang mengadili permohonan Pemohon a quo.

Tenggang Waktu Pengajuan Permohonan

[3.6] Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 157 ayat (5) UU 10/2016 dan Pasal 5 ayat (1) PMK 1/2016 sebagaimana telah diubah dengan PMK 1/2017, sebagai berikut.

Pasal-pasal tersebut dianggap dibacakan.

[3.6.3] Bahwa berdasarkan Pasal 157 ayat (5) UU 10/2016 dan Pasal 5 ayat (1) PMK 1/2016 sebagaimana telah diubah dengan PMK 1/2017, tenggang waktu pengajuan permohonan pembatalan Penetapan Perolehan Suara Tahap Akhir Hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Sorong Tahun 2017 paling lambat 3 (tiga) hari kerja sejak Termohon mengumumkan penetapan perolehan suara hasil pemilihan.

[3.7] Dianggap dibacakan.

[3.7.1] Bahwa hasil penghitungan suara Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Sorong Tahun 2017 diumumkan oleh Termohon berdasarkan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Sorong Nomor 025/2017 tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara dan Hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Sorong Tahun 2017, hari Jumat, tanggal 24 Februari 2017, pukul 04.15 WIT (vide bukti P-1 dan seterusnya).

[3.7.2] Bahwa tenggang waktu 3 (tiga) hari kerja sejak Termohon mengumumkan penetapan perolehan suara hasil Pemilihan adalah hari Jumat, tanggal 24 Februari 2017, pukul 04.15 WIT sampai dengan hari Selasa, tanggal 28 Februari 2017, pukul 24.00 WIB.

[3.8] Menimbang bahwa permohonan Pemohon diajukan dan diterima di Kepaniteraan Mahkamah pada hari Senin, tanggal 27 Februari 2017, pukul 16.44 WIB, berdasarkan Akta Pengajuan Permohonan Pemohon Nomor 21/PAN.MK/2017, sehingga permohonan Pemohon diajukan masih dalam tenggang waktu pengajuan permohonan yang ditentukan peraturan perundang-undangan.

Kedudukan Hukum (Legal Standing) Pemohon Dalam Eksepsi

[3.9] Menimbang bahwa sebelum Mahkamah mempertimbangkan lebih

lanjut mengenai pokok permohonan, Mahkamah terlebih dahulu

mempertimbangkan eksepsi Termohon dan eksepsi Pihak Terkait

yang pada pokoknya menyatakan bahwa Pemohon tidak memiliki

(28)

kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan a quo.

[3.10] Menimbang bahwa dalam mempertimbangkan kedudukan hukum (legal standing) Pemohon, Mahkamah akan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut.

1) Apakah Pemohon memenuhi ketentuan Pasal 1 angka 4 UU 8/2015 sebagaimana telah diubah dengan UU 10/2016, Pasal 157 ayat (4) UU 10/2016, dan Pasal 7 ayat (2) huruf a PMK 1/2016?

2) Apakah Pemohon memenuhi ketentuan pengajuan permohonan sebagaimana diatur dalam Pasal 158 ayat (2) huruf a UU 10/2016 dan Pasal 7 ayat (2) huruf a PMK 1/2016 sebagaimana telah diubah dengan PMK 1/2017?

[3.11] Menimbang bahwa terhadap dua hal tersebut, Mahkamah mempertimbangkan sebagai berikut.

[3.11.1] Bahwa Pasal 1 angka 4 UU 8/2015 sebagaimana telah diubah dengan UU 10/2016, Pasal 157 ayat (4) UU 10/2016, dan Pasal 7 ayat (2) huruf a PMK 1/2016 sebagaimana telah diubah dengan PMK 1/2017, menyatakan:

Pasal-pasal tersebut dianggap dibacakan.

[3.11.2] Bahwa Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Sorong Nomor 010/Kpts/2016 tentang Penetapan Pasangan Calon Peserta Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Sorong Periode 2017 – 2022, bertanggal 24 Oktober 2016 (vide bukti P-5 dan seterusnya), yaitu sebagai berikut.

Johny Kamuru, S.H., M.Si. dan Suko Harjono, S.Sos., M.Si.

Zeth Kadakolo, S.E., M.M. dan H. Ibrahim Pokko.

Sebagai Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Peserta Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Sorong.

Serta Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Sorong Nomor 011/Kpts/2016 tentang Pengundian, dan Pencabutan, serta Penetapan Nomor Urut Pasangan Calon Peserta Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Sorong Periode 2017-2022, bertanggal 25 Oktober 2016 (vide bukti P-6 dan seterusnya), sebagai berikut.

No. Nama

Calon Bupati

Nama Calon Wakil Bupati

Nomor Urut

1. Zeth

Kadakolo, H.

Ibrahim 1

(29)

S.E., M.M. Pokko

2. Dr. Johny

Kamuru, S.H., M.Si.

Suko Harjono, S.Sos., M.Si.

2

[3.11.3] Bahwa berdasarkan pertimbangan di atas, Pemohon adalah Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati di Kabupaten Sorong Tahun 2017, dengan Nomor Urut 1 (satu).

[3.11.4] Bahwa Surat Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Sorong Nomor 025/2017 tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara dan Hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Sorong Tahun 2017, bertanggal 24 Februari 2017 (vide bukti P-1), menetapkan hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Sorong Tahun 2017 sebagai berikut.

[a] Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Sorong Nomor Urut 1, Sdr. Zeth Kadakolo, S.E., M.M.

dan Sdr. H. Ibrahim Pokko dengan perolehan suara sebanyak 21.875 (dua puluh satu ribu delapan ratus tujuh puluh lima) suara dan [b] Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Sorong Nomor Urut 2, Sdr.

Dr. Johny Kamuru, S.H., M.Si. dan Sdr. Suko Harjono, S.Sos., M.Si. dengan perolehan suara sebanyak 33.773 (tiga puluh tiga ribu tujuh ratus tujuh puluh tiga) suara dan sesuai Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara di Tingkat Kabupaten dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sorong Tahun 2017 (vide bukti P-3), bertanggal 23 Februari 2017.

[3.11.5] Bahwa Pasal 158 ayat (2) huruf a UU 10/2016 dan Pasal 7 ayat (2) huruf a PMK 1/2016, menyatakan:

Pasal-pasal tersebut dianggap dibacakan.

[3.11.6] Bahwa jumlah penduduk Kabupaten Sorong berdasarkan

Data Agregat Kependudukan per Kecamatan (DAK2)

Semester II 2015 per 31 Desember 2015 adalah 117.945

(seratus tujuh belas ribu sembilan ratus empat puluh

lima) jiwa, sehingga perbedaan perolehan suara antara

Pemohon dengan pasangan calon peraih suara

terbanyak untuk dapat mengajukan permohonan

perselisihan hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati

Kabupaten Sorong Tahun 2017 adalah paling banyak

sebesar 2% (dua persen) dari total suara sah hasil

penghitungan suara tahap akhir yang ditetapkan oleh

Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Sorong.

(30)

[3.11.7] Bahwa jumlah perbedaan perolehan suara antara Pemohon dengan pasangan calon peraih suara terbanyak (Pihak Terkait) adalah paling banyak 2% x 55.648 suara (total suara sah) = 1.113 (seribu seratus tiga belas) suara.

[3.11.8] Bahwa perolehan suara Pemohon adalah 21.875 (dua puluh satu ribu delapan ratus tujuh puluh lima) suara, sedangkan perolehan suara pasangan calon peraih suara terbanyak (Pihat Terkait) adalah 33.773 (tiga puluh tiga ribu tujuh ratus tujuh puluh tiga) suara, sehingga perbedaan perolehan suara antara Pemohon dan Pihak Terkait adalah 11.898 (sebelas ribu delapan ratus sembilan puluh delapan) suara (21.38%), sehingga lebih dari 1.113 (seribu seratus tiga belas) suara.

[3.12] Menimbang bahwa berdasarkan pertimbangan hukum di atas, Mahkamah berpendapat, meskipun Pemohon adalah Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Sorong dalam Pemilihan Calon Bupati dan Wakil Bupati di Kabupaten Sorong Tahun 2017, namun Pemohon tidak memenuhi ketentuan pengajuan permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 UU 8/2015 sebagaimana telah diubah dengan UU 10/2016 dan Pasal 7 PMK 1/2016 sebagaimana telah diubah dengan PMK 1/2017, sehingga Pemohon tidak memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan perkara a quo. Dengan demikian, eksepsi Termohon dan eksepsi Pihak Terkait bahwa Pemohon tidak memiliki kedudukan hukum (legal standing) beralasan menurut hukum.

[3.13] Menimbang bahwa oleh karena eksepsi Termohon dan eksepsi Pihak Terkait mengenai kedudukan hukum (legal standing) Pemohon beralasan menurut hukum, maka eksepsi lain dari Termohon dan Pihak Terkait serta pokok permohonan tidak dipertimbangkan.

63. KETUA: ARIEF HIDAYAT

KONKLUSI

Berdasarkan penilaian atas fakta dan hukum sebagaimana diuraikan di atas, Mahkamah berkesimpulan:

[4.1] Mahkamah berwenang mengadili permohonan a quo.

[4.2] Permohonan Pemohon diajukan masih dalam tenggang waktu yang ditentukan peraturan perundang-undangan.

[4.3] Eksepsi Termohon dan eksepsi Pihak Terkait mengenai kedudukan hukum (legal standing) Pemohon beralasan menurut hukum.

[4.4] Pemohon tidak memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk

mengajukan permohonan a quo.

(31)

[4.5] Eksepsi lain dari Termohon dan Pihak Terkait serta pokok permohonan tidak dipertimbangkan.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota Menjadi Undang-Undang dan seterusnya dianggap dibacakan.

AMAR PUTUSAN Mengadili

1. Mengabulkan eksepsi Termohon dan eksepsi Pihak Terkait mengenai kedudukan hukum (legal standing) Pemohon.

2. Menyatakan Permohonan Pemohon tidak dapat diterima.

Demikian diputus dalam Rapat Permusyawaratan Hakim oleh delapan Hakim Konstitusi yaitu Arief Hidayat selaku Ketua merangkap Anggota, Anwar Usman, Maria Farida Indrati, Wahiduddin Adams, Suhartoyo, Manahan M.P Sitompul, I Dewa Gede Palguna, dan Aswanto, masing-masing sebagai Anggota, pada hari Kamis, tanggal tiga puluh, bulan Maret, tahun dua ribu tujuh belas, dan diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi terbuka untuk umum pada hari Selasa, tanggal empat, bulan April, tahun dua ribu tujuh belas, selesai diucapkan pada pukul 14.54 WIB, oleh delapan Hakim Konstitusi tersebut di atas dengan didampingi oleh Wilma Silalahi sebagai Panitera Pengganti, dan dihadiri Termohon/Kuasa Hukumnya, Pihak Terkait/Kuasa Hukumnya, tanpa dihadiri oleh Pemohon/Kuasa Hukumnya.

Berikutnya, Perkara Nomor 41/PHP.BUP-XV/2017.

PUTUSAN

NOMOR 41/PHP.BUP-XV/2017

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

[1.1] Yang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir, menjatuhkan putusan dalam perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah Tahun 2017, yang diajukan oleh Sutiyo, Awang Dodik Setiawan, Digdo Agoes Soeharto, Sunarto, dan Moh. Hadi. Kesemuanya adalah warga negara Indonesia, penduduk Kabupaten Pati yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Pati (GERAM PATI) alias Aliansi Kotak

KETUK PALU 1X

(32)

Kosong untuk Pati yang Bermartabat yang beralamat di Tlogo Ayu Gabus, Pati.

Berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 28 Februari 2017, memberi kuasa kepada Haris Azhar, S.H., M.A., dan kawan-kawan keseluruhannya adalah Advokat yang tergabung dalam Tim Advokasi Gerakan Masyarakat Pati (GERAM PATI) yang beralamat di Kantor Kontras, Jalan Kramat II Nomor 7, Kwitang, Jakarta Pusat, baik sendiri-sendiri atau bersama-sama bertindak untuk dan atas nama Pemberi Kuasa.

Selanjutnya disebut sebagai --- Pemohon.

Terhadap:

I. Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Pati, berkedudukan di Jalan Kolonel Sunandar Nomor 54, Kabupaten Pati.

Berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor 15/UMP dan seterusnya, bertanggal 14 Maret 2017, memberi kuasa kepada Dr. H. Umar Ma’ruf, S.H., Sp.N., M.Hum., dan kawan-kawan para Advokat dan Advokat Magang yang bergabung pada Kantor Advokat & Pengacara “Umar MF & Partners” yang beralamat di Jalan Soekarno Hatta Nomor 28, Pedurungan, Semarang, baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri, bertindak untuk dan atas nama pemberi kuasa.

Selanjutnya disebut sebagai --- Termohon.

II. H. Haryanto, S.H., M.M., M.Si., dan H. Saiful Arifin.

Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Pati Tahun 2017.

Berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor 72/SKK dan seterusnya tanggal 15 Maret 2017 memberi kuasa kepada RM.

Armaya Mangkunegara, S.H., M.H., dan kawan-kawan Advokat pada Mangkunegara Law Firm yang beralamat di Ruko Taman Buah Nomor 09, Jalan Taman Buah Boulevard, Kompleks Puri Beta 2, Ciledug, Kota Tangerang, baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri, bertindak untuk dan atas nama pemberi kuasa.

Selanjutnya disebut sebagai ---Pihak Terkait.

[1.2] Membaca permohonan Pemohon.

Mendengar keterangan Pemohon.

Mendengar dan membaca Jawaban Termohon.

Mendengar dan membaca Keterangan Pihak Terkait.

Memeriksa bukti-bukti Pemohon, Termohon, dan Pihak Terkait.

Bagian duduk perkara dan selanjutnya dianggap telah dibacakan.

(33)

64. HAKIM ANGGOTA: MANAHAN M. P. SITOMPUL PERTIMBANGAN HUKUM Kewenangan Mahkamah

[3.1] Dianggap dibacakan.

[3.2] Menimbang bahwa permohonan Pemohon a quo adalah permohonan keberatan terhadap Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Pati Nomor 16/Kpts dan seterusnya tahun 2017 tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara dan Hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Pati Tahun 2017, tanggal 23 Februari 2017 [vide bukti P-1 dan seterusnya].

Dengan demikian, Mahkamah berwenang mengadili permohonan Pemohon a quo.

Tenggang Waktu Pengajuan Permohonan Dalam Eksepsi

[3.3] Menimbang bahwa sebelum Mahkamah mempertimbangkan lebih lanjut mengenai kedudukan hukum (legal standing) Pemohon dan pokok permohonan, Mahkamah terlebih dahulu mempertimbangkan eksepsi Termohon dan eksepsi Pihak Terkait yang menyatakan bahwa pengajuan permohonan Pemohon telah melewati tenggang waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 ayat (5) UU 10/2016 dan Pasal 6 ayat (1) dan ayat (5) Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 2 Tahun 2016 tentang Pedoman Beracara Dalam Perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota Dengan Satu Pasangan Calon (selanjutnya disebut PMK 2/2016) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 2 Tahun 2016 tentang Pedoman Beracara Dalam Perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota Dengan Satu Pasangan Calon (selanjutnya disebut PMK 2/2017).

[3.3.1] Bahwa Pasal 157 ayat (5) UU 10/2016 menyatakan,

“Peserta Pemilihan mengajukan permohonan kepada Mahkamah Konstitusi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) paling lambat 3 (tiga) hari kerja terhitung sejak diumumkan penetapan perolehan suara hasil Pemilihan oleh KPU Provinsi atau KPU Kabupaten/Kota”.

[3.3.2] Bahwa Pasal 1 angka 21 PMK 2/2016 sebagaimana telah

diubah dengan PMK 2/2017 menyatakan, “Hari kerja

adalah hari kerja Mahkamah Konstitusi, yaitu hari Senin

sampai dengan hari Jumat”. Selanjutnya Pasal 6 ayat (1)

dan ayat (5) PMK 2/2017 menyatakan, “Permohonan

Pemohon diajukan kepada Mahkamah paling lambat 3

(34)

(tiga) hari kerja terhitung sejak diumumkan penetapan perolehan suara hasil pemilihan oleh KPU/KIP Provinsi atau KPU/KIP Kabupaten/Kota.” dan “Hari kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1), yaitu pukul 07.30 WIB sampai dengan pukul 24.00 WIB.”

[3.4] Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 157 ayat (5) UU 10/2016 serta Pasal 1 angka 21, Pasal 6 ayat (1) dan ayat (5) PMK 2/2017, tenggang waktu pengajuan permohonan pembatalan penetapan perolehan suara hasil pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota paling lambat 3 (tiga) hari kerja sejak Termohon mengumumkan penetapan perolehan suara hasil pemilihan. Hari kerja dimaksud adalah hari kerja Mahkamah, yaitu hari Senin sampai dengan hari Jumat, pukul 07.30 WIB sampai dengan pukul 24.00 WIB.

[3.4.1] Bahwa penetapan rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Pati Tahun 2017 diumumkan oleh Termohon berdasarkan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Pati Nomor 16/Kpts dan seterusnya tahun 2017 tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara dan Hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Pati Tahun 2017, hari Kamis, tanggal 23 Februari 2017, pukul 15.05 WIB [vide bukti P-1 dan seterusnya].

[3.4.2] Bahwa tenggang waktu 3 (tiga) hari kerja sejak Termohon mengumumkan penetapan perolehan suara hasil Pemilihan adalah hari Kamis, tanggal 23 Februari 2017, pukul 15.05 WIB sampai dengan hari Senin, 27 Februari 2017, pukul 24.00 WIB.

[3.4.3] Bahwa permohonan Pemohon diajukan di Kepaniteraan Mahkamah pada hari Selasa, tanggal 28 Februari 2017, pukul 21.12 WIB, berdasarkan Akta Pengajuan Permohonan Pemohon Nomor 37/PAN.MK/2017, sehingga permohonan Pemohon diajukan melewati tenggang waktu pengajuan permohonan yang ditentukan peraturan perundang-undangan. Dengan demikian, eksepsi Termohon dan eksepsi Pihak Terkait bahwa permohonan Pemohon diajukan melewati tenggang waktu beralasan menurut hukum.

[3.5] Menimbang bahwa oleh karena permohonan Pemohon diajukan

melewati tenggang waktu pengajuan permohonan yang

ditentukan peraturan perundang-undangan maka kedudukan

hukum (legal standing) Pemohon, eksepsi lain dari Termohon dan

Pihak Terkait, serta pokok permohonan tidak dipertimbangkan.

(35)

65. KETUA: ARIEF HIDAYAT

KONKLUSI

Berdasarkan penilaian atas fakta dan hukum sebagaimana diuraikan di atas, Mahkamah berkesimpulan:

[4.1] Mahkamah berwenang mengadili permohonan a quo.

[4.2] Eksepsi Termohon dan eksepsi Pihak Terkait mengenai tenggang waktu pengajuan permohonan beralasan menurut hukum.

[4.3] Permohonan Pemohon melewati tenggang waktu pengajuan permohonan yang ditentukan peraturan perundang-undangan.

[4.4] Kedudukan hukum (legal standing) Pemohon, eksepsi lain dari Termohon dan Pihak Terkait serta pokok permohonan tidak dipertimbangkan.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota Menjadi Undang-Undang dan seterusnya dianggap telah dibacakan.

AMAR PUTUSAN Mengadili

1. Mengabulkan eksepsi Termohon dan eksepsi Pihak Terkait mengenai tenggang waktu pengajuan permohonan.

2. Menyatakan permohonan Pemohon tidak dapat diterima.

Demikian diputus dalam Rapat Permusyawaratan Hakim oleh delapan Hakim Konstitusi yaitu Arief Hidayat selaku Ketua merangkap Anggota, Anwar Usman, I Dewa Gede Palguna, Manahan M.P Sitompul, Aswanto, Suhartoyo, Maria Farida Indrati, dan Wahiduddin Adams, masing-masing sebagai Anggota, pada hari Kamis, tanggal dua puluh tiga, bulan Maret, tahun dua ribu tujuh belas, dan diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi terbuka untuk umum pada hari Selasa, tanggal empat, bulan April, tahun dua ribu tujuh belas, selesai diucapkan pada pukul 15.05 WIB, oleh delapan Hakim Konstitusi yaitu Arief Hidayat selaku Ketua merangkap Anggota, Anwar Usman, I Dewa Gede Palguna, Manahan M.P Sitompul, Aswanto, Suhartoyo, Maria Farida Indrati, dan Wahiduddin Adams, masing-masing sebagai Anggota, dengan didampingi oleh Rizki Amalia sebagai Panitera Pengganti, dan dihadiri oleh Pemohon/kuasa hukumnya, Termohon/kuasa hukumnya, dan Pihak Terkait/kuasa hukumnya.

Berikutnya, Perkara Nomor 42/PHP.BUP-XV/2017.

KETUK PALU 1X

(36)

PUTUSAN

NOMOR 42/PHP.BUP-XV/2017

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

[1.1] Yang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir, menjatuhkan putusan dalam perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Puncak Jaya Provinsi Papua Tahun 2017, diajukan oleh Yustus Wonda, S.Sos., M.Si. dan Kirenius Telenggen, S.Th., M.CE. Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati dalam pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Puncak Jaya Tahun 2017 Nomor Urut 1

.

Berdasrkan Surat Kuasa Khusus Nomor 299/SK dan seterusnya tanggal 1 Maret 2017, memberi kuasa kepada Jou Hasyim Waimahing, S.H., M.H., dan Sudharmono K. Lewa Yusuf, S.H., advokat/kuasa hukum pada Kantor Advokat/Pengacara &

Konsultan Hukum Jou Hasyim Waimahing & Associates, beralamat di Komplek Duta Merlin Blok B Nomor 31-32, lt.2, Jalan Gajah Mada Nomor 3-5, Jakarta Pusat dan berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 3 Maret 2017, memberi kuasa kepada Heru Widodo, S.H., M.Hum. dan kawan-kawan advokat/kuasa hukum pada kantor Heru Widodo Law Office (HWL), beralamat di Menteng Square Tower A Lantai 3 AO-12 Jalan Matraman Raya Kav. 30-E, Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, baik sendiri- sendiri atau bersama-sama bertindak untuk dan atas nama Pemberi Kuasa.

Selanjutnya disebut sebagai---Pemohon.

Terhadap:

I. Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Puncak Jaya, beralamat di Jalan Drs. Philipus Andreas Coem, Distrik Pagaleme Kabupaten Puncak Jaya, Provinsi Papua.

Berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor 72/KPU dan seterusnya tanggal 15 Maret 2017 memberi kuasa kepada Thomas Ulukyanan, S.H. dan Abraham Krisleo Ulukyanan, S.H., advokat/kuasa hukum pada Kantor Advokat & Konsultan Hukum Thomas Ulukyanan, S.H. & Rekan, Jalan Jenderal Sudirman, RT 04/RW 02, Kelurahan Ohoijang-Watdek, Kecamatan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku, baik sendiri-sendiri atau bersama-sama bertindak untuk dan atas nama Pemberi Kuasa.

Selanjutnya disebut sebagai ---Termohon.

(37)

II. Yuni Wonda, S.Sos., S.I.P., M.M. dan Deinas Geley, S.Sos., M.Si.

Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Puncak Jaya Tahun 2017, Nomor Urut 3 (tiga).

Berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 14 Maret 2017, memberi kuasa kepada Paskalis Letsoin, S.H., M.H., dan kawan-kawan, advokat/kuasa hukum pada Kantor Advokat dan Konsultan Hukum Paskalis Letsoin, S.H., M.H. & Rekan, beralamat di Jalan Karang V Grand II-Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Provinsi Papua, baik sendiri-sendiri atau bersama-sama bertindak untuk dan atas nama Pemberi Kuasa.

Selanjutnya disebut sebagai --- Pihak Terkait.

[1.2] Membaca permohonan Pemohon.

Mendengar keterangan Pemohon.

Mendengar dan membaca Jawaban Termohon.

Mendengar dan membaca Keterangan Pihak Terkait.

Mendengar dan membaca Keterangan Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kabupaten Puncak Jaya.

Memeriksa bukti-bukti Pemohon, Termohon, dan Pihak Terkait, serta Bukti Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kabupaten Puncak Jaya.

Bagian duduk perkara dan selanjutnya, dianggap telah dibacakan.

66. HAKIM ANGGOTA: MARIA FARIDA INDRATI PERTIMBANGAN HUKUM Kewenangan Mahkamah

[3.2] Menimbang bahwa permohonan Pemohon a quo adalah permohonan keberatan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Puncak Jaya Nomor 14/Kpts/2017 tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara dan Hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Puncak Jaya Tahun 2017, bertanggal 27 Februari 2017 pukul 14.30 WIT [vide bukti P- 1, = bukti TD.3.001 = bukti PT-1]. Dengan demikian, Mahkamah berwenang mengadili permohonan a quo.

[3.3] Menimbang bahwa sebelum Mahkamah mempertimbangkan mengenai tenggang waktu, kedudukan hukum dan pokok permohonan, Mahkamah terlebih dahulu akan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

1. Bahwa setelah Mahkamah membaca permohonan dan

mendengar Permohonan Pemohon, Jawaban Termohon,

Referensi

Dokumen terkait

Membawa pas foto close up ukuran 2x3 & 3x4 masing – masing 1 lembar Adapun Persyaratan Peserta Penataran Wasit Lisensi B2 :.. Aktif sebagai wasit lisensi C minimal 2 tahun

5 ayat (3) Permohonan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi yang tercantum dalam Surat Tagihan Pajak sebagaimana dimaksud Pasal 4 huruf a hanya dapat

Berdasarkan kebutuhan pasar yang masih tinggi terutama adanya pendapat dari pengguna lulusan setuju dengan pembukaan prodi DIII Teknik Listrik, meskipun peminatnya

Ditandai lapisan dengan kecepatan rendah (sebagai Lempung overpressure Formasi Kalibeng); 3) Penafsiran sumber air (Formasi Prupuh) dan sumber lumpur (Kalibeng)

Dari penjelasan di atas yang dimaksud dengan persepsi peran (role perceptions) adalah gambaran seseorang akan hak dan kekuasaan yang dimiliki, serta kewajiban dan tanggung jawab

Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan pada tanggal 20 Maret 2013 di Prodi Kebidanan Magetan pada 25 mahasiswi didapatkan hasil, 4% mahasiswa mengalami

Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan untuk soal pilihan ganda diperoleh nilai rata-rata posttest kelas eksperimen sebesar 72,00 dan kelas kontrol sebesar

Menimbang, bahwa apa yang menjadi keberatan Pembanding sebagaimana termuat dalam memori bandingnya yang pada intinya telah dirangkum oleh Majelis Hakim Tingkat