• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. pekerjaan tertentu. Menurut Robbins (2006) bahwa kinerja pegawai adalah. untuk mengelola proses kerja selama periode tersebut.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. pekerjaan tertentu. Menurut Robbins (2006) bahwa kinerja pegawai adalah. untuk mengelola proses kerja selama periode tersebut."

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1 A. Latar Belakang Masalah

Kinerja pegawai merupakan suatu hasil yang dicapai oleh pekerja dalam pekerjaannya menurut kriteria tertentu yang berlaku untuk suatu pekerjaan tertentu. Menurut Robbins (2006) bahwa kinerja pegawai adalah sebagai fungsi dari interaksi antara kemampuan dan motivasi. Lebih lanjut Robbins menyebutkan penetapan tujuan kinerja adalah menyusun sasaran yang berguna tidak hanya bagi evaluasi kinerja pada akhir periode tetapi juga untuk mengelola proses kerja selama periode tersebut.

Rumah Sakit sebagai tempat pelayanan kesehatan memiliki peran yang sangat strategis untuk menciptakan Sumber Daya Manusia berkualitas dalam rangka upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan secara menyeluruh, terpadu, merata, terjangkau dan dapat diterima oleh seluruh masyarakat. Sebagaimana fungsinya, rumah sakit meurpakan institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat (UU nomor 44 tahun 2009)

Sumber Daya Manusia di rumah sakit yang cukup berperan dalam

pemberin pelayanan kepada pasien adalah perawat. Peran perawat di rumah

sakit khususnya di Instalasi Rawat Inap sangatlah penting. Perawat

merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan di Rumah Sakit yaitu tenaga

(2)

yang paling lama berhubungan dengan pasien. Praktik keperawatan seharusnya senantiasa dapat meningkatkan mutu pelayanan profesinya, dengan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pendidikan dan pelatihan sesuai dengan bidang tugasnya (Kusnanto, 2004).

Kinerja perawat saat ini dapat dilihat dari mutu asuhan keperawatannya. Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktek keperawatan yang langsung diberikan kepada pasien dengan berbagai tatanan pelayanan kesehatan termasuk rumah sakit dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Asuhan keperawatan yang bermutu adalah pelayanan keperawatan yang dapat memuaskan pasien (Kusnanto, 2004).

Kinerja karyawan atau perawat merupakan suatu hasil yang dicapai oleh pekerja dalam pekerjaannya menurut kriteria tertentu yang berlaku untuk suatu pekerjaan tertentu. Menurut Robbins (2007) bahwa kinerja karyawan adalah sebagai fungsi dari interaksi antara kemampuan dan motivasi. Penetapan tujuan kinerja berguna untuk menyusun sasaran yang dituju dan tidak hanya bagi evaluasi kinerja pada akhir periode tetapi juga untuk mengelola proses kerja selama periode tersebut. Boone dan Kurtz (2007) menyatakan evaluasi terhadap kinerja karyawan dapat dilakukan dengan membandingkan antara hasil aktual dengan hasil yang diinginkan.

Seorang pemimpin dapat mempengaruhi bawahannya dengan

kualitas-kualitas yang dimilikinya untuk mencapai pengertian dan

kepercayaan bawahannya. Peran pemimpin akan sangat berpengaruh apabila

(3)

dapat menerangkan kepada bawahannya mengenai tindakan yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukannya. Tindakan pimpinan yang menyalahgunakan kekuasaannya akan menjadi persoalan yang serius bagi organisasi. Hal ini dapat menimbulkan ketidakpercayaan karyawan terhadap pemimpin dan dapat menyebabkan kondisi suatu organisasi sulit diprediksi sehingga menimbulkan ketidakpuasan kerja karyawan yang akhirnya berpengaruh terhadap kinerjanya.

Berkaitan dengan hal tersebut di atas maka dapat dikatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja perawat adalah pemimpin dengan gaya kepemimpinannya. Terdapat berbagai macam gaya kepemimpinan yang dapat dikembangkan oleh seorang pemimpin, misalnya gaya kepemimpinan transaksional dan gaya kepemimpinan transformasional (Tondok dan Andarika, 2004).

Gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh seorang pemimpin dalam mempengaruhi anak buahnya juga dapat terwujud dalam bentuk kepemimpinan otoriter, partisipatif dan delegatif. Pemilihan gaya kepemimpinan yang tepat akan cenderung menumbuhkan kepercayaan, partisipasi, loyalitas, dan internal motivasi para bawahan dengan cara persuasif. Hal ini akan dicapai karena kecakapan, kemampuan dan perilaku pemimpin tersebut (Hasibuan, 2002).

Banyaknya permasalahan yang dihadapi oleh organisasi seperti

kinerja karyawan yang rendah, tingkat presensi yang rendah serta sikap

mogok kerja merupakan pertanda adanya ketidakpuasan kerja karyawan. Hal

(4)

tersebut dapat disebabkan oleh karena karyawan merasa pimpinan tidak memberi kepercayaan kepada karyawan, tidak ada keterlibatan karyawan dalam pembuatan keputusan, pemimpin berlaku tidak objektif dan tidak jujur pada karyawan. Pada dasarnya karyawan yang merasa puas akan meningkatkan kinerjanya sedangkan yang tidak puas dapat mengurangi usaha yang dilakukan karena tidak sebanding dengan apa yang diharapkan.

Berdasarkan hasil wawancara pada tanggal 26 Juli 2013 dengan 10 perawat pelaksana ditemukan 5 diantaranya menyebutkan bahwa selama ini pimpinan lebih sering mendelegasikan tugas kepada bawahan, dan hanya memiliki sedikit waktu untuk bersama bawahan. Pimpinan selama ini seringkali diundang untuk rapat bersama para pimpinan.

Keluhan lain adalah ditemukan adanya 7 dari 10 karyawan yang diwawancarai merasa kurang diperhatikan dan seringkali dimarahi jika melakukan kesalaha tanpa memberikan pengarahan yang tepat kepada bawahan. Pimpinan dirasakan kurang menjalin hubungan emosional dengan bawahan dan selama ini sifatnya hanya struktural antara atasa dan bawahan sehingga tidak terjalin hubungan yang harmonis antara pimpinan dengan bawahan.

Gaya kepemimpinan yang diterapkan ini menyebabkan adanya

penurunan kinerja pada perawat. Berdasarkan hasil wawancara dengan 10

perawat menunjukkan 5 perawat tidak melakukan tahap asuhan keperawatan

dengan benar terutama pada pendokumentasian keperawatan dimana perawat

(5)

merasa malas untuk mengerjakan pendokumentasian keperawatan secara mendetail.

Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan antara kepemimpinan kepala ruang terhadap kinerja perawat pelaksana di ruang rawat inap Rumah Sakit Roemani Semarang”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas maka dalam penelitian ini dirumuskan permasalahan sebagai berikut : apakah ada hubungan antara gaya kepemimpinan kepala ruang terhadap kinerja perawat pelaksana di ruang rawat inap Rumah Sakit Roemani Semarang?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Adapun tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara gaya kepemimpinan kepala ruang terhadap kinerja perawat pelaksana di ruang rawat inap Rumah Sakit Roemani Semarang.

2. Tujuan Khusus

a. Mendeksipsikan gaya kepemimpinan kepala ruang rawat inap Rumah Sakit Roemani Semarang.

b. Mendeksipsikan kinerja perawat ruang rawat inap Rumah Sakit

Roemani Semarang.

(6)

c. Menganalisis hubungan antara gaya kepemimpinan kepala ruang terhadap kinerja perawat pelaksana di ruang rawat inap Rumah Sakit Roemani Semarang.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi profesi keperawatan

Sebagai bahan masukan bagi tenaga keperawatan untuk meningkatkan kinerjanya dalam usaha mempertahankan mutu pelayanan kesehatan terkait dengan pelaksanaan tindakan dalam asuhan keperawatan.

2. Bagi Rumah Sakit

a. Memberikan sumbangan pemikiran dan informasi kepada rumah sakit tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja karyawannya.

b. Meningkatkan pengetahuan pihak manajemen rumah sakit terutama berkaitan dengan manajemen sumber daya manusia

3. Bagi Peneliti

Dapat menerapkan metodologi penelitian secara nyata serta menambah pengetahuan penelitian terutama dalam pemberian metode asuhan keperawatan profesional.

E. Bidang Ilmu

Penelitian ini berkaitan dengan ilmu keperawatan khususnya manajemen

keperawatan

(7)

F. Originalitas Penelitian

Tabel 1.1 Originalitas Penelitian

No Judul Peneliti Desain Hasil

1 Hubungan antara gaya kepemimpinan

terhadap motivasi kerja karyawan di rsu pku muhammadiyah gombong

Fatah Widodo (2011)

Kuantitatif descriptive survey

Ada hubungan yang signifikan antara gaya

kepemimpinan terhadap motivasi kerja pada kelompok

karyawan dengan tingkat

pendidikan yang berbeda di RSU PKU Muhammadiyah Gombong

2 Gaya kepemimpinan dan manajemen

konflik kepala ruangan di instalasi Rindu A

RSUP H. Adam Malik Medan

Juli Rostandi Purba (2011)

Studi deskriptif Lebih dari setengah responden (70,8%) mempersepsikan gaya kepemimpinan kepala ruangan diterapkan di ruang rawat inap instalasi Rindu A RSUP H. Adam Malik Medan adalah partisipatif, manajemen konflik kepala ruangan yang dipersepsikan oleh perawat pelaksana di ruang rawat inap instalasi Rindu A RSUP H. Adam Malik Medan adalah kompromi (44,4

%).

3 Pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap komitmen

organisasional dengan variabel

moderating kepuasan kerja pegawai rumah sakit

swasta di PKU Muhammadiyah

Surakarta

Lamidi (2009) Kuantitatif

dengan analisis regresi

Hasil uji pengaruh langsung menunjukkan, bahwa kepemimpinan transformasional mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap komitmen organisasional, kepuasan kerja mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap komitmen

organisasional, dan kepuasan kerja memoderasi pengaruh kepemimpinan transformasional

(8)

terhadap komitmen organisasional

4 Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kinerja Perawat

Di Rumah Sakit Tingkat III 16.06.01 Ambon

M. Hadi Mulyono,Asiah Hamzah,A.

Zulkifli Abdullah

Kuantitatif,

survey analitik dengan

rancangan cross sectional study

Hasil uji korelasi gamma menunjukkan hubungan/pengaruh yang siqnifikan antara kepuasan kerja dan supervisi dengan kinerja perawat.

5 Pengaruh Kepemimpinan Transformasional, Kepercayaan Pada Supervisor, Dan Perilaku Ideal Kewargaan Organisasi Terhadap Kualitas Layanan Perawat

Muhammad Cholil

Kuantitatif

dengan analisis regresi

Kepemimpinan transformasional berpengaruh positif terhadap kepercayaan perawat pada supervisor,

perilaku ideal kewargaan baik yang

berfokus pada

individu maupun organisasi, dan kualitas layanan

Referensi

Dokumen terkait

Gambaran umum tentang jenis kegiatan, jenis usaha, bentuk organisasi dan modal usaha BUM Desa sesuai dengan Permendes 4/2015 adalah sebagai berikut: PASAL 17 dan 18 Swasta yang

KPU Kabupaten Bangka Tengah telah menetapkan Sasaran Strategis Meningkatnya Kapasitas Lembaga Penyelenggara Pemilu/Pemilihan yang diukur melalui Persentase

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga.. TESIS ANALISIS

serat cantula dengan core honeycomb tipe kombinasi C-Flute dan A-Flute hampir semua mengalami gagal skin, skin paling atas mengalami kegagalan dikarenakan mengalami

Level 2 Relevant research into the design brief and intended user/s with appropriate analysis of the data/information leading to a clear and partly justiied speciication for

Hal itu sesuai dengan teori karena material SS400 memiliki nilai modulus elastisitas lebih besar daripada yang lainnya, kemudian diikuti oleh matterial AISI 1018 kemudian

Karena Fhitung lebih besar dari Ftabel (4,106>3,16), sehingga H3 diterima yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara emotional exhaustion dan motivasi

Kedua, Bank sebagai kreditor pemegang hak tanggungan jika terjadi pembatalan APHT dan Perjanjian Kredit oleh Pengadilan dimana obyek jaminan diperoleh secara