• Tidak ada hasil yang ditemukan

Irin Iriana Kusmini, Rudy Gustiano, dan Mulyasari. Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Jl. Raya Sempur No. 1, Bogor

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Irin Iriana Kusmini, Rudy Gustiano, dan Mulyasari. Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Jl. Raya Sempur No. 1, Bogor"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

Ikan tengadak merupakan ikan perairan umum asli Kalimantan yang potensial untuk dikembangkan. Penelitian karakterisasi ikan tengadak bertujuan untuk mengetahui data base (karakter morfometrik) serta kekerabatannya dengan ikan sejenis yang ada di Jawa Barat. Pengukuran morfometrik dilakukan menggunakan metode truss morfometrik. Untuk melihat penyebaran karakter morfologi ikan dilakukan dengan analisis kanonikal, analisis sharing component atau indeks kesamaan dilakukan dengan analisis diskriminan. Hasil analisis menunjukkan adanya sedikit kesamaan morfologi antara tengadak asal Kalimantan dengan tengadak albino asal Jawa Barat, sedangkan dengan tawes jauh berbeda di mana karakter morfometrik tidak saling bersinggungan.

KATA KUNCI: truss morfometrik, ikan tengadak, tengadak albino, tawes PENDAHULUAN

Perairan umum di Kalimantan Barat diperkirakan dihuni 300 jenis ikan, di mana sekitar 100 jenis ikan dominan merupakan jenis ekonomis penting, antara lain gabus (Channa spp.), sepat (Trichogaster spp.), jelawat (Leptobarbus hoeveni), kelabau (Osteochilus spp.), pipih (Notopterus spp.), patin (Pangasius spp.), betutu (Oxyleotris marmorata), papuyu (Anabas testuidens), baung (Mystus nemurus), tengadak (Barbonymus spp.), dan lele (Clarias spp.). Jenis-jenis ikan tersebut merupakan penghuni khas perairan rawa yang mempunyai nilai ekonomi penting.

Ikan tengadak (Barbonymus schwanenfeldii) merupakan ikan asli dari Provinsi Kalimantan Barat. Menurut Rochman et al. (2008), ikan tengadak mempunyai prospek yang baik untuk dibudidayakan. Provinsi Kalimantan Barat dengan luas wilayah daratan sekitar 146.087 km2 dan memiliki sungai

terpanjang di Indonesia yaitu Sungai Kapuas dengan panjang 1.038 km2. Potensi sektor perikanan

meliputi budidaya ikan air tawar seluas 11.276 ha. Menurut Kristanto et al. (2008), ikan kelabau dan ikan tengadak memiliki ukuran mencapai 1 kg/ekor jika dibandingkan dengan ikan nilem dari Jawa Barat yang hanya mencapai ukuran 100–200 g/ekor.

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui karakter morfometrik ikan tengadak, yang akan bermanfaat sebagai data base karakter morfometrik serta kekerabatannya dengan ikan-ikan sejenis yang terdapat di Jawa Barat.

METODOLOGI

Ikan tengadak ukuran 10–20 cm/ekor dikumpulkan dari berbagai lokasi di Kalimantan Barat. Identifikasi kekerabatan ikan tengadak dilakukan dan sebagai pembanding (kontrol) adalah jenis ikan yang hampir sama dengan tengadak di Jawa Barat (ikan tengadak albino dan ikan tawes). Pengukuran morfometrik dilakukan menggunakan metode truss morfometrik, berdasarkan metode Strauss & Bookstein (1982) yang dimodifikasi dalam Corti et al. (1988). Metode ini berupa pengukuran jarak titik-titik tanda yang akan dibuat pada kerangka tubuh (Gambar 1). Tubuh ikan dibagi menjadi empat bagian besar yaitu: A, B, C, dan D serta sepuluh titik truss. Masing-masing garis truss menghasilkan enam karakter sehingga dari 10 titik truss diperoleh 21 karakter yaitu:

A1 : Jarak antara titik di akhir sirip perut dengan titik di bagian atas sirip dada A2 : Jarak antara titik di bagian atas sirip dada dengan titik di ujung mulut A3 : Jarak antara titik di ujung mulut dengan titik di ujung bagian atas insang

KARAKTERISASI TRUSS MORFOMETRIK IKAN TENGADAK

(

Barbonymus schwanenfeldii

)

ASAL KALIMANTAN BARAT DENGAN IKAN TENGADAK ALBINO DAN IKAN TAWES ASAL

JAWA BARAT

Irin Iriana Kusmini, Rudy Gustiano, dan Mulyasari Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar

Jl. Raya Sempur No. 1, Bogor E-mail: [email protected]

(2)

A4 : Jarak antara titik di ujung bagian atas insang dengan titik di bagian atas sirip perut A5 : Jarak antara titik di akhir sirip perut dengan titik di ujung mulut

A6 : Jarak antara titik di bagian ujung atas insang dengan titik di bagian atas sirip dada B1 : Jarak antara titik di akhir sirip perut dengan titik di awal sirip anal

B3 : Jarak antara titik di ujung bagian atas insang dengan titik di awal sirip punggung B4 : Jarak antara titik di awal sirip punggung dengan titik di awal sirip anal

B5 : Jarak antara titik di awal sirip anal dengan titik di ujung bagian atas insang B6 : Jarak antara titik di awal sirip punggung dengan titik di akhir sirip perut C1 : Jarak antara titik di awal sirip anal dengan titik di akhir sirip anal

C3 : Jarak antara titik di awal sirip punggung dengan titik di akhir sirip punggung C4 : Jarak antara titik di akhir sirip punggung dengan titik di akhir sirip anal C5 : Jarak antara titik di awal sirip punggung dengan titik di akhir sirip anal C6 : Jarak antara titik di awal sirip anal dengan titik di akhir sirip punggung D1 : Jarak antara titik di akhir sirip anal dengan titik di awal sirip ekor bawah D3 : Jarak antara titik di akhir sirip punggung dengan titik di awal sirip ekor atas D4 : Jarak antara titik di awal sirip ekor atas dengan titik di awal sirip ekor bawah D5 : Jarak antara titik di akhir sirip punggung dengan titik di awal sirip ekor bawah D6 : Jarak antara titik di akhir sirip anal dengan titik di awal sirip ekor atas

Mengingat ukuran dan umur ikan tidak seragam setiap karakter ikan tengadak dibagi dengan panjang standar ikan.

Analisis Data

Hasil pengukuran truss morfometrik seluruh karakter dikonversi terlebih dahulu ke dalam rasio dengan cara membagi nilai karakter dengan panjang standar kemudian dianalisis menggunakan program SPSS versi 11.5. Untuk melihat penyebaran karakter morfologi ikan dilakukan dengan analisis kanonikal, analisis sharing component atau indeks kesamaan dilakukan dengan analisis diskriminan. HASIL DAN BAHASAN

Ikan tengadak dari Kalimantan Barat:

Nama ilmiah : Barbonymus schwanenfeldii (Bleeker, 1853)

Hasil Analisis Truss Morfometrik Ikan Tengadak, Tengadak Albino, dan Tawes

Pengukuran truss morfometrik dilakukan terhadap 21 karakter ikan tengadak, tengadak albino, dan ikan tawes (Gambar 2). Rerata karakter truss morfometrik ikan tersebut disajikan dalam Tabel 1.

(3)

Gambar 2. Ikan tengadak, tengadak albino, dan tawes Tengadak Kapuas Hulu Tengadak Sintang Tengadak Sekadau Tengadak Albino Tawes A1 0,25±002 0,27±0,02 0,27±0,03 0,24±0,02 0,27±0,02 A2 0,30±0,02 0,29±0,02 0,28±0,03 0,29±0,02 0,28±0,03 A3 0,23±0,01 0,21±0,01 0,23±0,01 0,22±0,01 0,23±0,02 A4 0,46±0,01 0,49±0,03 0,47±0,02 0,45±0,02 0,43±0,03 A5 0,54±0,02 0,56±0,03 0,54±0,02 0,53±0,02 0,53±0,02 A6 0,30±0,02 0,27±0,03 0,27±0,02 0,26±0,02 0,25±0,02 B1 0,25±0,02 0,25±0,02 0,24±0,02 0,25±0,02 0,29±0,03 B3 0,36±0,04 0,38±0,02 0,37±0,02 0,35±0,02 0,36±0,03 B4 0,50±0,02 0,51±0,02 0,51±0,02 0,49±0,02 0,43±0,04 B5 0,64±0,02 0,65±0,01 0,62±0,03 0,64±0,04 0,63±0,04 B6 0,48±0,03 0,50±0,03 0,51±0,04 0,44±0,02 0,42±0,04 C1 0,13±0,01 0,14±0,02 0,15±0,01 0,16±0,02 0,19±0,01 C3 0,17±0,02 0,180±0,02 0,19±0,02 0,19±0,02 0,13±0,02 C4 0,33±0,02 0,33±0,02 0,32±0,02 0,31±0,01 0,34±0,06 C5 0,49±0,01 0,49±0,02 0,49±0,02 0,48±0,02 0,44±0,03 C6 0,38±0,02 0,38±0,02 0,37±0,02 0,35±0,02 0,31±0,03 D1 0,15±0,02 0,15±0,01 0,15±0,02 0,15±0,01 0,13±0,02 D3 0,34±0,03 0,34±0,01 0,33±0,02 0,36±0,02 0,36±0,02 D4 0,16±0,01 0,17±0,01 0,18±0,01 0,16±0,01 0,19±0,01 D5 0,40±0,02 0,41±0,03 0,40±0,01 0,41±0,02 0,40±0,02 D6 0,25±0,02 0,25±0,02 0,25±0,01 0,24±0,01 0,21±0,03 Karakter yang diukur Rataan

(4)

Keragaman morfometrik dinyatakan dalam koefisien keragaman karakter (CV), koefisien keragaman 21 karakter ikan yang diukur disajikan dalam Tabel 2. Berdasarkan Tabel 2, keragaman morfometrik ikan tengadak asal Kalimatan Barat ini relatif rendah, hal ini diduga karena ikan tengadak yang berasal dari alam telah mengalami penurunan populasi akibat rusaknya habitat oleh pencemaran lingkungan dan praktek penyetruman. Jumlah populasi ikan yang terbatas menyebabkan peluang terjadinya perkawinan sekerabat atau inbreeding sangat besar yang akan berdampak pada penurunan keragaman genetik suatu jenis ikan. Keragaman morfometrik ikan tengadak albino dan ikan tawes juga memperlihatkan nilai yang rendah diduga rendahnya keragaman tersebut disebabkan karena tengadak albino dan tawes telah lama di budidayakan secara luas di Jawa Barat. Pengelolaan sistem rekrutmen yang tidak terarah sering terjadi pada budidaya ikan yang dapat menyebabkan terjadinya seleksi tanpa sengaja sehingga berpengaruh pada penurunan keragaman genetik ikan tersebut. Menurut Taniguchi et al. (1983) dalam Setijaningsih et al. (2007), proses domestikasi dapat menurunkan variasi genetik pada turunan berikutnya.

Tengadak Kapuas Hulu Tengadak Sintang Tengadak Sekadau Tengadak

Albino Tawes Rataan

A1 7,73 7,31 7,49 12,42 6,39 8,27 A2 10,44 6,81 6,65 10,80 5,83 8,10 A3 7,26 4,06 5,96 5,47 5,91 5,73 A4 5,98 2,48 5,77 3,55 4,00 4,36 A5 4,61 3,38 4,81 4,31 3,28 4,08 A6 9,44 7,71 12,19 6,83 6,11 8,46 B1 10,27 8,42 6,27 9,20 9,88 8,81 B3 8,73 10,90 4,91 4,28 5,54 6,87 B4 9,10 3,35 3,62 3,96 4,24 4,85 B5 5,54 2,63 2,28 5,39 5,54 4,28 B6 9,00 5,45 5,33 7,59 5,03 6,48 C1 10,27 9,32 12,68 7,70 9,78 9,95 C3 16,25 9,55 10,24 8,19 10,01 10,85 C4 16,77 5,64 5,34 4,99 4,50 7,45 C5 6,36 2,43 4,47 3,51 4,05 4,17 C6 12,28 4,42 6,12 4,64 5,82 6,66 D1 15,35 12,75 9,20 13,45 8,46 11,84 D3 4,65 7,41 4,32 5,40 4,93 5,34 D4 8,54 7,25 6,26 6,13 7,91 7,22 D5 5,72 4,69 6,17 3,27 6,04 5,18 D6 12,96 6,66 6,24 5,60 5,29 7,35 Koefisien keragaman (%) Karakter yang diukur

Tabel 2. Koefisien keragaman (CV) morfometrik ikan tengadak, tengadak albino, dan tawes

Uji signifikansi dilakukan untuk mengetahui karakter-karakter yang dapat digunakan sebagai penciri dari suatu jenis ikan. Karakter yang tidak berbeda secara nyata dapat dijadikan sebagai penciri atau marka ikan tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa dari 21 karakter yang diuji, 17 karakter berbeda nyata (P<0,05) dan 4 karakter yang tidak berbeda nyata (P>0,05) yaitu karakter A2 (Jarak antara titik di bagian atas sirip dada dengan titik di ujung mulut), B5 (Jarak antara titik di awal sirip anal dengan titik di ujung bagian atas insang), D1 (Jarak antara titik di akhir sirip anal dengan titik di awal sirip ekor bawah) dan D5 (Jarak antara titik di akhir sirip punggung dengan titik di awal sirip ekor bawah) (Tabel 3). Hal ini mengindikasikan bahwa ikan tengadak asal Kalimantan Barat, ikan tengadak albino, dan ikan tawes asal Jawa Barat masih memiliki kesamaan karakter yang diduga karena ketiga jenis ikan ini termasuk ke dalam genus yang sama yaitu Barbonymus sp.

(5)

Hasil analisis fungsi kanonikal (Gambar 3) memperlihatkan bahwa karakter morfologi ikan tengadak yang berasal dari Kapuas hulu, Sintang, dan Sekadau saling bersinggungan. Karakter morfometrik ikan tengadak dari Sintang dan Sekadau berada di sekitar atas garis nol dari axis X dan berada di sebelah kanan ordinat Y, sedangkan karakter ikan yang berasal dari Kapuas Hulu kebanyakan berada di bawah garis nol dari axis X dan berada di sebelah kanan ordinat Y. Persinggungan yang

Keterangan :‘ns = tidak berbeda nyata

Karakter yang diuji Wilks' Lambda F df1 df2 Sig, A1 .830 4,201 4 82 .004 A2 .911 2,009 4 82 .101ns A3 .794 5,329 4 82 .001 A4 .547 16,97 4 82 .001 A5 .791 5,417 4 82 .001 A6 .691 9,172 4 82 .001 B1 .797 5,216 4 82 .001 B3 .877 2,863 4 82 .028 B4 .369 35,071 4 82 .000 B5 .900 2,279 4 82 .068ns B6 .483 21,909 4 82 .000 C1 .745 7,027 4 82 .000 C3 .550 16,760 4 82 .000 C4 .869 3,081 4 82 .020 C5 .550 16,798 4 82 .000 C6 .446 25,481 4 82 .000 D1 .938 1,348 4 82 .259ns D3 .723 7,839 4 82 .000 D4 .755 6,637 4 82 .000 D5 .946 1,179 4 82 .326ns D6 .701 8,738 4 82 .000

Tabel 3. Uji signifikansi pada 21 karakter morfometrik ikan tengadak, tengadak albino, dan tawes

1. Tengadak Kapuas Hulu 2. Tengadak Sintang 3. Tengadak Sekadau 4. Tengadak Albino 5. Tawes

Gambar 3. Penyebaran karakter morfometrik ikan tengadak Kapuas Hulu, Sintang, Sekadau, tengadak albino, dan tawes

Canonical Discriminant Functions

Function 1 4 2 0 -2 -4 -6 -8 F unc ti on 2 4 3 2 1 0 -1 -2 -3 -4 POPULASI Group Centroids Ungrouped Cases 5 4 3 2 1 5 4 3 2 1

(6)

terjadi antara populasi ikan tengadak ini menunjukkan adanya gejala pencampuran antara keempat populasi ikan tersebut. Menurut Suparyanto (1999) dalam Setijaningsih (2007) dan Parenrengi et al. (2007), nilai kesamaan ukuran tubuh memberikan penjelasan adanya pencampuran terukur yang disebabkan oleh adanya trait yang dipertahankan sewaktu terjadi aliran gen. Karakter ikan tengadak albino berada di atas axis X dan sebelah kiri ordinat Y, hanya sedikit bersinggungan dengan karakter ikan tengadak asal Sintang. Meskipun ikan tengadak albino ini dikenal sebagai ikan tengadak, namun hanya memiliki sedikit kesamaan karakter dengan ikan tengadak asal Kalimantan Barat. Hal ini menunjukkan bahwa ikan tengadak albino memiliki struktur genetik yang berbeda dengan tengadak Kalimantan Barat. Diduga bahwa ikan tengadak albino merupakan jenis ikan tengadak yang mengalami mutasi sehingga terjadi perubahan morfologi. Mengingat ikan tengadak sudah lama dibudidayakan di Jawa Barat dan juga kondisi lingkungan yang secara geografis mungkin berbeda antara Jawa Barat dan Kalimantan Barat menyebabkan ikan ini mengalami perubahan pada karakter morfologinya.

Ikan tawes cenderung membentuk kelompok sendiri yaitu berada di bawah axis X dan sebelah kiri ordinat Y yang menunjukkan bahwa ikan ini tidak memiliki kesamaan morfologi dengan ikan tengadak. Hasil ini sesuai dengan hasil analisis indeks kesamaan atau sharing component (Tabel 4) di mana ikan tawes tidak menunjukkan adanya percampuran karakter (nilai 0) dengan ikan tengadak dari Kalimantan Barat. Menurut Setijaningsih (2007) tinggi rendahnya nilai indeks kesamaan dipengaruhi oleh sumber genetik pembentuknya, sehingga kuat dugaan bahwa perbedaan antara ikan tengadak asal Kalimantan Barat dengan ikan tawes asal Jawa Barat terjadi karena adanya perbedaan spesies antara keduanya.

Dendrogram mengenai hubungan kekerabatan antara ikan tengadak asal Kalimantan Barat dengan ikan tengadak albino dan tawes asal Jawa Barat disajikan pada Gambar 4. Berdasarkan dendogram tersebut ikan dapat dibagi menjadi empat kelompok yaitu kelompok pertama adalah yang memiliki hubungan kekerabatan terdekat yaitu antara tengadak asal Sintang dengan tengadak asal Sekadau,

Tabel 4. Nilai indeks kesamaan antara ikan tengadak kapuas hulu, sintang, sekadau, albino, dan tawes

Tengadak Kapuas Hulu Tengadak Sintang Tengadak Sekadau Tengadak Albino Tawes

Tengadak Kapuas Hulu 85,0 5,0 10,0 0,0 0,0 100,0

Tengadak Sintang 5,0 75,0 20,0 0,0 0,0 100,0 Tengadak Sekadau 10,0 10,0 75,0 5,0 0,0 100,0 Tengadak Albino 0,0 0,0 0,0 100,0 0,0 100,0 Tawes 0,0 0,0 0,0 0,0 100,0 100,0 Sharing Component (%) Total

Gambar 4. Dendogram hubungan kekerabatan antara ikan tengadak, tengadak albino, dan tawes

+ + + + + + T. Sintang T. Sekadau T. K. Hulu T. Albino Tawes 0 5 10 15 20 25

(7)

kelompok kedua adalah hubungan antara kedua ikan tengadak tersebut dengan tengadak asal Kapuas Hulu, sedangkan kelompok ketiga adalah antara kelompok kedua dengan tengadak albino. Kelompok keempat adalah hubungan kekerabatan yang memiliki jarak terjauh yaitu antara kelompok ketiga dengan ikan tawes.

Hubungan kekerabatan memberikan gambaran terhadap kemungkinan adanya perkawinan silang. Terkait dengan usaha domestikasi, salah satu aspek yang perlu diperhatikan dan berperan penting dalam program domestikasi adalah penyediaan induk yang berkualitas untuk budidaya. Perkawinan antara populasi ikan tengadak dari Kapuas Hulu dengan populasi Sintang maupun Sekadau memiliki peluang yang lebih besar dalam meningkatkan nilai heterosis ikan tersebut bila dibandingkan perkawinan antara ikan tengadak asal Sekadau dengan Sintang. Perkawinan yang sekerabat jauh diduga dapat meningkatkan nilai heterosis keturunan dari populasi yang disilangkan tersebut (Parenrengi et al., 2007). Heterosis adalah kejadian dalam persilangan di mana performa hasil silangannya melampaui performa kedua induknya (Hardjosubroto, 1994). Mengingat ukuran ikan tengadak dapat mencapai ukuran 1 kg/ekor, Ikan ini memiliki potensi untuk dihibrid dengan tengadak albino atau tawes asal Jawa Barat untuk meningkatkan variasi genetik dan nilai heterosis keturunan ikan tersebut.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa ikan tengadak asal Kalimantan Barat memiliki morfologi yang berbeda dengan ikan tawes asal Jawa Barat dan sedikit memiliki kesamaan dengan tengadak albino asal Jawa Barat.

DAFTAR ACUAN

Corti, M., Thorpe, R.S., Sola, L., Sbodoni, V., & Cataudella, S. 1998. Multivariate Morphometrics in Aquaculture: a Case Study of Six Stocks of Common Carp (Cyprinus carpio) from Italy. Canadian J. Fisheries Aquaculture Science, (45): 1548–1554.

Kristanto, A.H., Asih, S., Sukadi, M.F., & Yosmaniar. 2008. Prospek Ikan Kelabau (Osteochilus melanopleura Blkr.), Tengalan (Puntius bulu) dan Tengadak (Puntius sp.) Sebagai Ikan Budidaya Baru. Prosiding Seminar Nasional Perikanan 2008. Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta, hlm. 133–135.

Parenrengi, A., Sulaeman, Hadie, W., & Tenriulo, A. 2007. Keragaman Morfologi Udang Pama (Penaeus semisulcatus) dari Perairan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. J. Ris. Akuakultur, 2(1): 27–32. Rochman, A., Wahyutomo, Riva’i, E., Darsono, A., Suryaman, & Helmiansyah. 2008. Domestikasi Ikan Kelabau (Osteochilus melanopleura Blkr.) dalam Karamba Apung yang Dipelihara di Perairan Umum. Seminar Indoaqua. Yogyakarta, 17–20 Desember 2008.

Setijaningsih, L., Arifin, O.Z., & Gustiano, R. 2007. Karakterisasi tiga strain ikan gurame (Osphronemus gouramy Lac.) berdasarkan metode truss morfometriks. J. Iktiologi Indonesia, 7(1): 23–30.

Gambar

Gambar 1. Pengukuran truss morfometrik
Gambar 2. Ikan tengadak, tengadak albino, dan tawes Tengadak  Kapuas Hulu Tengadak Sintang Tengadak Sekadau Tengadak Albino Tawes A1 0,25±002 0,27±0,02 0,27±0,03 0,24±0,02 0,27±0,02 A2 0,30±0,02 0,29±0,02 0,28±0,03 0,29±0,02 0,28±0,03 A3 0,23±0,01 0,21±0,0
Tabel 2. Koefisien keragaman (CV) morfometrik ikan tengadak, tengadak albino, dan tawes
Tabel 3. Uji signifikansi pada 21 karakter morfometrik ikan tengadak, tengadak albino, dan tawes
+2

Referensi

Dokumen terkait

Akulturasi tersebut disebabkan karena adanya unsur-unsur budaya yang terdapat pada arsitektur masjid, yaitu pada bagian atap kubah, mihrab, ornamen-ornamen, dan

Di dalam instrument sertifikasi dosen ada instrument deskripsi diri. Deskripsi diri ini ditulis oleh dosen yang disertifikasi, yang menjelaskan atau mendeskripsikan kegiatan,

Adanya limbah runtuhan bahan bangunan tersebut, merupakan potensi yang sangat besar apabila digunakan kembali sebagai bahan bangunan melalui teknologi daur ulang yang tepat, yang

Senin, 1 Juli'13 08:00 Studi Kelayakan Bisnis Hidayat Wiweko, SE., M.Si... Sri Wahyudi,

Pembelajaran tari pada penelitian ini menggunakan stimulus gerak burung karena dengan pembelajaran tari melalui stimulus gerak burung dapat dipakai sebagai wahana atau

Berdasarkan tabel 1 di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan Sedekah K.13 ini telah dilaksanakan sejak bulan Juli-September 2018 sebanyak 8 Batch. Total guru yang dilatih

Pemilihan Desa Bojongsari untuk kegiatan pengabdian masyarakat adalah didasari lokasi desa yang cukup dekat dengan IT Telkom namun memiliki IPM yang paling

dicapainya efisiensi ketel yang baik, maka uap yang dibutuhkan pabrik untuk proses pengolahan kelapa sawit dapat terpenuhi dan kebutuhan bahan bakar ketel dapat disuplai