• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Attitude, Subjective Norms, dan Perceived Behavioral Control Terhadap Intention Whistleblowing Dengan Religiusitas Sebagai Pemoderasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pengaruh Attitude, Subjective Norms, dan Perceived Behavioral Control Terhadap Intention Whistleblowing Dengan Religiusitas Sebagai Pemoderasi"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

Pengaruh Attitude, Subjective Norms, dan Perceived Behavioral Control Terhadap Intention

Whistleblowing Dengan Religiusitas Sebagai Pemoderasi

Tesis Oleh :

Dona Karlina NIM 01022681721040 Ilmu Ekonomi BKU Akuntansi

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Meraih Gelar Magister

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS SRIWIJAYA

FAKULTAS EKONOMI 2021

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis sapat menyelesaikan tesis ini yang berjudul “Pengaruh Attitude, Subjective Norms, dan Perceived Behavioral Control Terhadap Intention Whistleblowing Dengan Religiusitas Sebagai Pemoderasi”. Tesis ini disusun dalam rangka menyelesaikan studi pada program studi Mgister Ilmu Ekonomi BKU Akuntansi Program Pascasarjsna Universitas Sriwijaya.

Penulis menyampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu penulisan dalam menyelesaikan tesis ini. Penulis juga menyadari didalam penulisan tesis ini masih banyak terdapat kekurangan baik dari materi maupun tata bahasa. Hal ini disebabkan keterbatasan pemahaman serta pengetahuan yang penulis miliki. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak agar dapat bermanfaat pada penulisan di masa dating. Akhir kata penulis berharap semoga tesis ini bermanfaat bagi kita semua dan para pembaca khususnya mahasiswa Universitas Sriwijaya.

Palembang, Agustus 2021

Dona Karlina

(10)

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis sangat menyadari bahwa tesis ini merupakan hasil kerja sama dari berbagai pihak, sehingga dengan segala kerendahan hati perkenankanlah penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :

1. Bapak Prof. Dr. H. Didik Susetyo, M.Si selaku Pembimbing pertama dan Ibu Isni Andriana, SE., M.Fin., Ph.D selaku Pembimbing kedua yang telah memberikan bimbingan, kritikan dan saran dalam menyelesaikan tesis ini.

2. Bapak Dr. Tertoarto Wahyudi, MAFIS, Ak dan Bapak Dr. Ahmad Satiri, SE., M.Si selaku penguji tesis yang telah memberikan banyak saran dan masukan yang berguna dalam penyempurnaan tesis ini.

3. Ibu Dr. Anna Yulianita, SE., M.Si selaku Ketua Program Studi Magister Ilmu Ekonomi Universitas Sriwijaya, Bapak Prof. Dr. Mohamad Adam, SE., ME selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya, Bapak Prof. Dr. Ir. H.

Anis Saggaff, MSCE selaku rekor Universitas Sriwjaya.

4. Terkhusus untuk almarhum ayahanda Drs. A. Tajuddin Nur, MBA dan ibunda Dra. Hj Husnah, suamiku Eldo Oktri Lisendra, A.Md, serta saudara-saudaraku Kak Sok, Kak Cik dan Yuk Na, serta Anisa Suri, SE., MM, Winda Lestari, SE., M.Si dan teman-teman seperjuangan yang selalu memberikan semangat, dukungan, motivasi serta doa dalam menyelesaikan tesis ini.

Akhir kata, penulis mendoakan semoga Allah SWT membalas jasa, bimbingan dan dukungan yang telah diberikan dan semoga kita selalu dalam keridhoan Allah SWT.

Palembang, Agustus 2021

Dona Karlina

(11)

ABSTRAK

Pengaruh Attitude, Subjective Norms, dan Perceived Behavioral Control Terhadap Intention Whistleblowing Dengan Religiusitas

Sebagai Pemoderasi

Penelitian ini untuk menguji variable-variabel yang mempengaruhi karyawan perusahaan asuransi di Palembang dalam keputusan untuk melakukan intention whistleblowing (pelaporan kecurangan). Hal ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh attitudes, subjective norms, perceived behavioral control terhadap intention whistleblowing dengan religiusitas sebagai variable moderasi.

Pengumpulan data dilakukan dekan metode penyebaran kuesioner dengan cara memberikan pernyataan atau pertanyaan tertulis kepada responden. Sampel sebanyak 62 responden yaitu karyawan perusahaan asuransi di Kota Palembang.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh attitude dan subjective norms terhadap intention whistleblowin. Sedangkan perceived behavioral control tidak memiliki pengaruh terhadap intention whistleblowing. Di sisi lain, religiusitas sebagai pemoderasi juga tidak memiliki pengaruh terhadap attitudes, subjective norms, perceived behavioral control dan intention whistleblowing.

Kata Kunci: attitudes, subjective norms, perceived behavioral control, whistleblowing, religiousity

(12)

ABSTRACT

The Effect of Attitude, Subjective Norms, and Perceived Behavioral Control on Whistleblowing Intentions with Religiosity As Moderator

Fraudulent acts or ethical violations committed by staff or senior management can not only cause serious damage to the company's reputation and operations, but also lead to bankruptcy. According to the Corruption Perception Index and the level of internal ethical violations by staff or management in financial institutions (banks, insurance companies and others), Indonesia in 2018 ranked 90th out of 180 countries worldwide, which indicates the presence of such cases.

Violations can occur due to the weaknesses in the internal control system and the low level of integrity of employees. Instead, high employee self-awareness and company motivation to report violations (internal whistle-blowing intentions) can significantly improve the situation. The purpose of the article is to examine the variables that affect the insurance company employees in Palembang when making a decision to whistleblowing (reporting fraud). The variables considered in this study are: attitude, subjective norms, perceived behavioral control. The factor of religiosity in this study is used as a moderator. The sample of the study – 62 respondents, namely employees of insurance companies operating in the city of Palembang (Indonesia). The study results show that factors such as attitude and subjective norms influence the decisions of employees of insurance companies to report fraud. At the same time, the perceived behavioral control does not have a significant impact on the decision-making process. The religiosity of a person also does not affect both the studied variables (attitude, subjective norms, perceived behavioral control) and the whistleblowing intentions.

Keywords: attitude, subjective norms, perceived behavioral control, whistleblowing, religiousity.

(13)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI... i

DAFTAR GAMBAR... iii

DAFTAR TABEL... iv

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang……….. 1

1.2 Perumusan Masalah………... 6

1.3 Tujuan Penelitian……….. 7

1.4 Manfaat Penelitian……… 7

BAB II STUDI KEPUSTAKAAN 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Theory of Planned Behavior……….. 9

2.1.2 Religiusitas……….... 14

2.1.3 Whistleblowing……….. 20

2.2 Penelitian Terdahulu………...……….. 22

2.3 Kerangka Konsep……….. 31

2.4 Hipotesis Penelitian……….. 31

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Populasi dan Sampel………... 37

3.2 Metode Pengumpulan Data………. 38

3.3 Analisis Data………... 38

3.4 Definisi Operasional Variabel………. 44

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian………... 48

(14)

4.1.1 Karakteristik Responden……….. 48

4.1.2 Hasil Perhitungan………. 50

4.1.2.1 Variabel Attitude………... 50

4.1.2.2 Variabel Subjective Norms……… 52

4.1.2.3 Variabel Perceived Behavioral Control……… 54

4.1.2.4 Variabel Intention Whistleblowing……… 56

4.1.2.5 Variabel Religiusity………... 57

4.1.3 Pengujian Validitas……….. 58

4.1.4 Pengujian Reliabilitas………... 61

4.1.5 Estimasi Persamaan Regresi Berganda………. 62

4.1.6 Uji Hipotesis………. 64

4.1.7 Moderation Regression Analysis……….. 68

4.1.8 Uji Asumsi Klasik……… 70

4.2 Pembahasan………. 74

4.2.1 Pengaruh Attitudes Terhadap Intention Whistleblowing………... 74

4.2.2 Pengaruh Subjective Norms Terhadap Intention Whistleblowing………. 76

4.2.3 Pengaruh Perceived Behavioral Control Terhadap Intention Whistleblowing………. 78

4.2.4 Pengaruh Attitudes, Subjective Norms, dan Perceived Behavioral Controldengan Religiusity sebagai Moderasi Terhadap Intention Whistleblowing…………... 80

BAB V KESIMPULAN 5.1 Kesimpulan……….... 82

5.2 Implikasi Penelitian………... 83

5.3 Saran……….. 84

5.4 Keterbatasan Penelitian………... 84

(15)

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(16)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Berbagai kasus seperti pelanggaran etika yang ada oleh orang internal organisasi atau perusahaan seperti manajemen perusahaan, dan hal itu tentu saja akan merugikan organisasi atau perusahaan tersebut. Kasus yang disebabkan pelanggaran itu dapat menyebabkan kebangkrutan pada perusahaan apabila dibiarkan. Seperti kasus yang terjadi di Perusahaan ZZZ Best Inc pada tahun 1986, yang melakukan pencurian dan menciptakan dokumen palsu lebih dari 10.000 serta kwitansi penjualan (finance.detik.com, 2012). Bisnis Perusahaan ZZZ Best Inc dirancang untuk melakukan penipuan dan mengelabui auditor serta investor. Lalu kasus Enron yang terjadi di Amerika pada tahun 2001 dimana mereka memanipulasi dan membuat catatan fiktif pada laporan keuangannya (finance.detik.com, 2012).

Perusahaan Worldcom pada tahun 2002, yang mencatat pengeluaran operasional sebagai investasi yang pada faktanya menyebabkan perusahaan yang makin lama makin tidak menguntungkan (kompasiana.com, 2019). Pada akhirnya mengalami anjloknya harga saham mereka. Di tahun yang sama pula ada Tyco International, Kozlowski sang CEO melakukan berbagai pelanggaran guna memenuhi gaya hidup mewahnya, yang mengakibatkan perusahaan mengalami anjloknya saham (readerchoice.detik.com, 2012). Ini adalah beberapa kasus pelanggaran perusahaan di luar negeri yang dilakukan oleh pihak internal perusahaan sendiri, yang menyebabkan kerugian bahkan kebangkrutan.

(17)

Menurut data dari Corruption Perception Index (CPI) yang diterbitkan oleh Transparency International (TI) bahwa pada tahun 2018 Indonesia menempati peringkat 90 dari 180 negara sedunia (ti.or.id, 2018). Tentu saja hal ini memiliki dampak yang negatif. Terutama lembaga keuangan yang melakukan pelanggaran, mereka akan mendapatkan kerugian pada perusahaannya. Kasus di lembaga keuangan perbankan yang terjadi PT. Elnusa Tbk. Pada tahun 2011 yang senilai Rp 111 miliar, dengan cara menitipkan di Bank Mega dan memalsukan tanda tangan (financial.bisnis.com, 2020). Akhirnya dari kasus tersebut, Itman Harry Basuki selaku mantan KCP Bank Mega dijatuhi hukuman.

Dilihat dari kasus Jiwasraya dimana kembali lagi nasabah yang dirugikan, menurut Hotman selaku pengamat asuransi mengatakan bahwa regulator harus mewajibkan perusahaan untuk mengimplementasikan whistleblowing system yang menyediakan mekanisme palaporan bila ada penyimpangan yang dilakukan oleh orang dalam (ekonomi.kompas.com, 2018). Pengaduan yang dilakukan oleh pelapor terbukti lebih efektif dalam mengungkap kecurangan dan pelanggaran dibanding metode lainnya seperti audit internal, pengendalian internal maupun audit eksternal (Sweeney, 2010). Namun penyelenggaraan whistleblowing system akan berhasil jika didukung oleh pihak yang turut bekerjasama untuk melaporkan pelanggaran atau kecurangan yang terjadi.

Keterlibatan seseorang pada kasus pelanggaran terutama pada lembaga keuangan juga diakui Otoritas Jasa keuangan (OJK) yang menyebutkan bahwa umumnya bersumber dari internal, seperti kelemahan pengawasan internal, kurangnya integritas pegawai dan kelemahan sistem yang dimiliki. Berdasarkan

(18)

data dari Otoritas Jasa keuangan, jumlah pelaku yang berbuat tindak pidana pada lembaga keuangan meningkat sepanjang 2017.

Konsep whistleblowing di Indonesia dikembangkan oleh Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) menerbitkan Pedoman Sistem Pelaporan dan Pelanggaran pada tahun 2008 yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk mengembangkan sistem manual pelaporan pelanggaran. Otoritas Jasa Keuangan menyarankan untuk meningkatkan whistleblowing dalam perusahaan karena hal itu akan berdampak sangat baik bagi perusahaan dimana hal itu memfasilitasi bagi siapapun yang menngetahui dan ingin melaporkan tindak kecurangan atau pelanggaran yang terdapat di organisasi atau entitas. Whistleblowing merupakan pelaporan sebuah tindakan untuk melaporkan kecurangan atau pelanggaran yang dilakukan oleh pihak internal. Whistleblowing merupakan salah satu cara dalam mendapatkan kembali kepercayaan klien ataupun masyarakat dalam mencegah pelanggaran yang semakin marak saat ini. Seperti kasus di Amerika pada tahun 2007, dimana mereka menghadiahi mantan bankir bernama Bradley yang atas bantuannya membongkar penggelapan pajak di Bank UBS Swiss ditempatnya bekerja (tirto.id, 2016). Dengan menjadi whistleblower, Bradley diberikan hadiah oleh pemerintah agar menunjukkan bahwa seorang whistleblower akan diperlakukan dengan baik karena telah membantu mengungkapkan pelanggaran yang ada.

Whistleblowing merupakan elemen kunci dari tindakan anti korupsi di dalam tempat kerja. Mereka adalah orang pertama yang datang dalam bentuk kontak apapun ataupun menyaksikan kejadian seperti pelanggaran atau jenis kegiatan

(19)

keuangan yang curang yang dapat menyebabkan lebih banyak kerugian untuk perusahaan jika dibiarkan tidak terungkap. Otoritas Jasa Keuangan pun telah menyarankan untuk meningkatkan whistleblowing dalam perusahaan. Otoritas Jasa Keuangan berpendapat bahwa bank yang sudah ketat pengawasannya masih bisa melakukan pelanggaran, apalagi perusahaan Industri Keuangan Non Bank seperti asuransi yang pengawasannya masih rendah.

Kecurangan dan penipuan meningkat secara drastis sebanyak 35% selama masa pandemic saat ini dikemukakan oleh Angela selaku Head of Conculting RSM Indonesia (antaranews.com, 2020). Hasil dari survey juga menyatakan bahwa meski perusahaan menyadari ancaman kecurangan, tetapi sebanyak 20%

mengaku bahwa mereka tidak memiliki mekanisme formal untuk melaporkan pelanggaran yang terjadi di perusahaan. Padahal, hasil survey juga mengatakan bahwa sebanyak 29% whistleblowing dapat mendeteksi adanya kecurangan, itu menandakan bahwa masih rendahnya dalam melakukan pelaporan pelanggaran melalui whistleblowing yang dimana sudah diterapkan sistemnya di tiap perusahaan.

Whistleblower dapat berasal dari internal maupun eksternal perusahaan, dan tidak ada syarat ataupun batasan untuk menjadi seorang whistleblower karena siapapun bias melakukannya selama ada bukti. Tapi rendahnya niat whistleblower dikarenakan tidak semua orang mempunyai keberanian untuk melaporkan dikarenakan beberapa hal (Saud, 2016). Niat whistleblower dikalangan karyawan masih diperhitungkan, mengingat bahwa konsekuensi dan kekhawatiran dimasa yang akan datang apabila mereka melakukan pelaporan kecurangan yang akan

(20)

berimbas kepada karir mereka. Banyak karyawan yang masih merasa takut saat akan melaporkan pelanggaran (Hanif & Odiatama, 2017).

Pengukuran niat dapat diukur menggunakan teori dari Ajzen (1991) yaitu Theory Planned Of Behaviour. Ajzen (1991) membahas mengenai intensi yang ditentukan oleh tiga komponen utama yaitu sikap terhadap perilaku (attitudes), norma subjektif (subjective norms), dan kontrol perilaku yang dirasakan (perceived behaviour control). Ajzen (1991) mengatakan bahwa semakin bsaik attitudes terhadap perilaku, semakin besar kontrol perilaku yang dirasakan maka seharusnya semakin besar intention seseorang untuk melakukan suatu perilaku.

Intention merupakan prediktor yang baik dalam mempengaruhi berbagai macam suatu tingkah laku.

Attitudes, subjective norms dan pereived behavioral control dapat mengukur intention whistleblowing (Park & Blenkinsopp, 2009). Penelitian (Hapsari & Seta, 2019) (Amrullah & Kaluge, 2008) (Mayasari et al., 2018) menguji attitudes, subjective norms dan pereived behavioral control. Mereka menyatakan bahwa attitudes, subjective norms dan pereived behavioral control berpengaruh positif terhadap intention whistleblowing. Sedangkan penelitian (Tarjo, Prasetyono, Suwito, Aprillia, & Ramadha, 2019) (Djamal et al., 2019) dan (Perdana et al., 2018) menyatakan bahwa pereived behavioral control tidak memiliki pengaruh terhadap intention wshistleblowing.

Menurut Rahman (2013), intention tidak hanya dipengaruhi oleh attitudes, subjective norms dan pereived behavioral control yang dirasakan tetapi juga dipengaruhi oleh faktor moderat seperti variabel tingkat religiusitas. Hal ini

(21)

sejalan dengan penelitian (Kashif et al., 2017) yang memasukakan religiusitas ke dalam model theory planned of behavior. Theory Planned of Behavior menjelaskan bahwa perilaku individu berada dibawah kendali kehendaknya tanpa ada penghalang yang signifikan, memicu niat untuk berperilaku dengan cara tertentu (Isfan Fajar Satrya, Herlina Helmy, 2019). Nilai religiusitas akan membantu individu untuk bersikap sesuai etika, dimana ajaran agama telah menjelaskan bagamana cara yang baik dan yang harus dihindari. Sehingga seseorang individu yang mempunyai nilai religiusitas yang tinggi dalam dirinya, maka akan mempunyai rasa takut apabila dia melakukan pelanggaran yang ditetapkan dalam agama (Isfan Fajar Satrya, Herlina Helmy, 2019). Maka religiusitas dalam penelitian ini dijadikan sebagai variable moderasi yang tujuannya untuk melihat pengaruhnya terhadap attitude, subjective norms dan perceived behavioral control terhadap intention whistleblowing. Dengan memasukkan faktor-faktor ini di samping penentu asli dari intention karyawan dalam whistleblwoing.

Berdasarkan penjelasan sebelumnya, peneliti berusaha untuk menelaah mengenai intention whistleblowing yang akan dibuat dalam penelitian yang berjudul “Pengaruh Attitudes, Subjective Norms, dan Perceived Behavioral Control Terhadap Intention Whistleblowing Dengan Religiusitas Sebagai

Variabel Pemoderasi”

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

(22)

1. Bagaimana pengaruh attitudes terhadap intention whistleblowing?

2. Bagaimana pengaruh subjective norms terhadap intention whistleblowing?

3. Bagaimana pengaruh perceived behavioral control terhadap intention whistleblowing?

4. Bagaimana pengaruh attitudes, subjective norms dan perceived behavioral control terhadap intention whistleblowing dengan religiusitas sebagai variabel moderasi?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Menganalisis dan mengetahui pengaruh attitudes terhadap intention whistleblowing

2. Menganalisis pengaruh subjective norms terhadap intention whistleblowing 3. Menganalisis pengaruh perceived behavioral control terhadap intention

whistleblowing

4. Menganalisis pengaruh attitudes, subjective norms dan perceived behavioral control terhadap intention whistleblowing dengan religiusitas sebagai variable moderasi.

1.4 Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan referensi dalam membuat penelitian serupa dimasa yang akan datang dan memberikan sumbangan

(23)

pemikiran mengenai ilmu yang berkaitan tentang asuransi syariah dan theory of planned behavior yang berupa :

a. Attitudes yang dapat mempengaruhi intention dalam menunjukkan perilaku dalam whistleblowing.

b. Subjective norms yang dapat mempengaruhi intention dalam menunjukkan perilaku dalam whistleblowing.

c. Perceived behavioral control yang dapat mempengaruhi intention dalam menunjukkan perilaku dalam whistleblowing.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini di harapkan dapat memberikan bahan masukan atau informasi untuk praktisi ekonomi syariah khususnya asuransi syariah, mengenai theory of planned behavior berupa :

a. Attitudes yang dapat mempengaruhi intention dalam menunjukkan perilaku yang dapat menjadi acuan bagi praktisi untuk meningkatkan whistleblowing sistem.

b. Subjective norms yang dapat mempengaruhi intention dalam menunjukkan perilaku yang dapat menjadi acuan bagi praktisi untuk meningkatkan whistleblowing sistem.

c. Perceived behavioral control yang dapat mempengaruhi intention dalam menunjukkan perilaku yang dapat menjadi acuan bagi praktisi untuk meningkatkan whistleblowing sistem.

(24)

Daftar Pustaka

Ain, S. N., Singh, D. J., Selvanathan, D. M., & Harbindar, J. K. (2019).

Whistleblowing Behaviour At Work : A Study Among Non- Executive Public Servants In Malaysia. Amazonia Investiga, 8(18), 337–350.

Ajzen, I. (1991). The Theory of Planned Behavior. Organizational Behavior and Human Processes, 50, 179–211.

Amrullah, M. M., & Kaluge, D. (2008). Implementasi Theory of Planned Behavior dalam Mendeteksi Whistle-Blowing Intentions di Sektor Publik.

Jurnal Akuntansi Dan Bisnis, 1.

Djamal, V. A. Y., Pikir, T. W., & Wardani, R. P. (2019). The Influence Of The Characteristics Of Whistleblower To Whistleblowing Intentions. Journal Of Accounting and Strategic Finance, 2(1), 56–69.

Handika, M. F. D., & Sudaryanti, D. (2017). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Niat Mahasiswa Melakukan Tindakan Whistleblowing (Studi Pada Mahasiswa Akuntansi STIE Asia Malang). JIBEKA, 11, 56–63.

Hanif, R. A., & Odiatama, F. (2017). Pengaruh Personal Cost Reporting , Status Wrong Doer dan Tingkat Keseriusan Kesalahan Terhadap Whistleblowing Intention. Jurnal Akuntansi Keuangan Dan Bisnis, 10(1), 11–20.

Hapsari, A. N. S., & Seta, D. W. (2019). Identifikasi Kecurangan Dan Whistleblowing Universitas. Jurnal Riset Akuntansi Dan Keuangan, 7(1), 131–144. https://doi.org/10.17509/jrak.v7i1.15424

Husin, M. M., & Rahman, A. A. (2013). What drives consumers to participate into family takaful schemes ? A literature review. 4, 264–280.

https://doi.org/10.1108/JIMA-04-2012-0019

Isfan Fajar Satrya, Herlina Helmy, S. T. (2019). Pengaruh Komitmen Profesional dan Sosialisasi Antisipatif Mahasiswa Akuntansi Terhadap Niat Whistleblowing Dengan Religiusitas Sebagai Variabel Moderasi (Studi Empiris pada Mahasiswa Akuntansi di Kota Padang). Jurnal Eksplorasi Akuntansi, 1(4), 1863–1880.

Kashif, M., Zarkada, A., Thurasamy, R., & Kashif, M. (2017). The moderating effect of religiosity on ethical behavioural intentions An application of the extended theory of planned behaviour to Pakistani bank employees.

Personnel Review, 46(2), 429–448. https://doi.org/10.1108/PR-10-2015-0256 Khanifa, Anam, M. C., & Astuti, E. B. (2017). Pengaruh Attitude Toward Behavior, Subjective Norm, Perceived Behavioral Control Pada Intention Whistleblowing. Jurnal Akses, 12(21), 147–158.

KNKG. (2008). Pedoman Sistem Pelaporan Pelanggaran WBS.

(25)

Lin, L. Y., & Chen, C. S. (2006). The influence of the country-of-origin image, product knowledge and product involvement on consumer purchase decisions: An empirical study of insurance and catering services in Taiwan.

Journal of Consumer Marketing, 23(5), 248–265.

https://doi.org/10.1108/07363760610681655

Mayasari, M., Setiyanto, A. I., & Irawati, R. (2018). Pengaruh Faktor-Faktor Individual Terhadap Niat Melakukan Whistle-Blowing Internal Dan Eksternal Pada Akuntan Di Batam (Studi Kasus Politeknik Negeri Batam).

Jurnal Gama Societa, 2(1), 48–53.

Natawibawa, I. W. Y., Irianto, G., & Roekhudin. (2018). Theory of Reasoned Action sebagai Prediktor Whistleblowing Intention Pengelola. Jurnal Ilmiah Administrasi Publik ( JIAP ), 4(4), 310–319.

Parianti, N. P. I., Suartana, I. W., & Badera, I. D. N. (2016). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Niat Dan Perilaku Whistleblowing Mahasiswa Akuntansi. E- Jurnal Ekonomi Dan Bisnis, 12, 4209–4236.

Park, H., & Blenkinsopp, J. (2009). Whistleblowing as Planned Behavior – A Survey of South Korean Police Officers. Journal of Business Ethics, 545–

556. https://doi.org/10.1007/s10551-008-9788-y

Perdana, A. A., Hasan, A., & Rasuli, M. (2018). Pengaruh Sikap , Norma Subyektif , Persepsi Kontrol Perilaku dan Etika terhadap Whistleblowing Intention dan Perilaku Whistleblowing ( Studi Empiris di BPKP Perwakilan Riau dan Sumatera Barat ). Jurnal Akuntansi Dan Bisnis, 11(1), 89–98.

Raharjo, F. D. (2015). Faktor Yang Mempengaruhi Pelaporan Whistleblowing Internal Dengan Tingkat Pendidikan Sebagai Variabel Moderasi Persepsi Karyawan Di Pt. Krakatau Steel (Persero) Tbk. Media Riset Akuntansi, Auditing Dan Informasi, 15(2), 103–116.

Saud, I. M. (2016). Pengaruh Sikap dan Persepsi Kontrol Perilaku Terhadap Niat Whistleblowing Internal-Eksternal dengan Persepsi Dukungan Organisasi Sebagai Variabel Pemoderasi. Jurnal Akuntansi Dan Investasi, 17(2), 209–

219. https://doi.org/10.18196/jai.2016.0056.209-219

Setyawati, I., Ardiyani, K., & Sutrisno, C. R. (2015). The Factors Influencing Internal Whistleblowing Intentions. Jurnal Ekonomi Dan Bisnis, 17(September), 22–33.

Siallagan, H., Rohman, A., Januarti, I., & Din, M. (2017). The Effect Of Professional Commitment, Attitude, Subjective Norms And Perceived Behavior Control On Whistle Blowing. Internatioal Journal Of Civil Engineering and Technology (IJCIET), 8(January), 508–519.

Suryono, E., & Chariri, A. (2016). Attitude, Subjective Norms, and Intentions of Civil Servants to Blow the Whistle on Frauds. Jurnal Akuntansi Dan

(26)

Keuangan Indonesia, 13(1), 102–116.

Tarjo, Prasetyono, Suwito, A., Aprillia, I. D., & Ramadan, G. R. (2019). Theory of Planned Behavior and Whistleblowing Intention. Jurnal Keuangan Dan Perbankan, 23(1), 43–57.

Tarjo, Prasetyono, Suwito, A., Aprillia, I. D., & Ramadha, G. R. (2019). Theory of Planned Behavior and Whistleblowing Intention. Jurnal Keuangan Dan Perbankan, 23(1), 43–57.

Wahyudin, PRADISTI, L., SUMARSONO, & WULANDARI, S. Z. (2017).

DIMENSI RELIGIUSITAS DAN PENGARUHNYA TERHADAP ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOUR ( Studi Pada Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto ). 1–13.

Zakaria, M., Noor, S., Abd, A., Saiful, M., & Yusoff, A. (2016). The Theory of Planned Behaviour as a Framework for Whistle-Blowing Intentions. Review of European Studies, 8(3), 221–236. https://doi.org/10.5539/res.v8n3p221 Zhang, J., & Wei, L. (2009). Decision-Making Process of Internal Whistleblowing

Behavior in China : Empirical Evidence and Implications. Journal of Business Etchics, 25–41. https://doi.org/10.1007/s10551-008-9831-z

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil dari pengolahan data dan analisis data dari penelitian yang telah dibahas, dapat ditarik kesimpulan untuk menjawab permasalahan-permasalahan penelitian

Baik electronic Word-of-Mouth positif maupun electronic Word-of-Mouth negatif semuanya akan memiliki pengaruh masing-masing dalam membentuk sikap, norma subjektif, dan

Penelitian yang dilakukan oleh Byabashaija dan Katono (2011) menyatakan bahwa perceived behavioral control (PBC) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap niat

1) Entrepreneurship education does not significantly influence entrepreneurial intention of business management students at Universitas Ciputra Surabaya. 2)

disimpulkan tidak ada heterokedastisitas dalam model regresi. Analisis Regresi Berganda Tabel 3. Koefisien b1 = 0,890 adalah besarnya koefisien regresi X1 attitude,

Dilanjutkan subjective norm dan religiosity memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap purchase intention dengan attitude pada pengguna Halal brands di Jakarta.. Adapun

42 Analisis Pengaruh Perceived Usefulness, Perceived Ease to Use, Game Features, Trust in Game Developer, Attitude Toward Playing, Subjective Norm, dan Intention to Play: Pada Mobile

HALAMAN PERSETUJUAN Skripsi dengan judul PENGARUH ENTREPRENEUR ATTITUDE, SUBJECTIVE NORM, PERCEIVED BEHAVIORAL CONTROL, SELF EFFICACY, ENTREPRENEURSHIP EDUCATION DAN STUDENT