• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN PROVINSI BANTEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN PROVINSI BANTEN"

Copied!
136
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN PROVINSI BANTEN

Lazuardi Fadillah 11140920000054

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 2021 M / 1442 H

(2)

PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN PROVINSI BANTEN

Oleh

Lazuardi Fadillah 11140920000054

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Agribisnis

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 2021 M / 1442 H

(3)

PENGESAHAN UJIAN

Skripsi yang berjudul “Peran Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Provinsi Banten”, telah diuji dan dinyatakan lulus dalam Sidang Munaqosah Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, pada Jumat, 07 Mei 2021. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Agribisnis.

Menyetujui

Penguji I Penguji II

Dr. Ir. Siti Rochaeni, M.Si. Titik Inayah, M.Si.

NIP.19620308 198903 2 001

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Achmad Tjahja Nugraha, M.P. Agustina Senjayani, M.Si., M.Si NIP. 19740709 200701 1 026

Mengetahui,

Dekan, Ketua

Fakultas Sains Dan Teknologi Program Studi Agribisnis

Ir. Nashrul Hakiem, M.T., Ph.D. Akhmad Mahbubi, M.M., Ph.D.

NIP.19710608 200501 1 005 NIP. 19811106 201101 1 001

(4)

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR- BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.

Banten, 07 Mei 2021

Lazuardi Fadillah 11140920000054

(5)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP Data Diri :

Nama : Lazuardi Fadillah

Usia : 24 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Alamat : Jl. Puskesmas RT/RW 02/011 Pondok Aren Tangerang Selatan

Status : Belum Menikah

Tinggi/Berat Badan : 170 cm/ 81kg Telepon (HP) 089617947379

Email : [email protected]

Riwayat Pendidikan :

1. 2003 sampai 2008 SD Negeri Ulujami 2. 2008 sampai 2011 SMP Negeri 153 Jakarta 3. 2011 sampai 2014 SMA Negeri 108 Jakarta

4. 2014 sampai 2021 S1 Jurusan Agribisnis UIN Jakarta

Pengalaman Organisasi

1. MPK SMA Negeri 108 Jakarta Jabatan Wakil Ketua II (2012-2013) 2. Anggota Himpunan Mahasiswa Jurusan Agribisnis Jabatan Anggota

Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia

Pengalaman Kerja

1. Magang di PT. Fastfood Indonesia Departement Rectruitment and Selection periode 1 September 2018- 31 November 2018

2. Pengemudi Ojek Online

(6)

RINGKASAN

LAZUARDI FADILLAH, Peran Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Provinsi Banten (Dengan pendekatan Location Quotient dan Dynamic Location Quotient). Di bawah bimbingan Achmad Tjahja Nugraha dan Agustina Senjayani

Pembangunan nasional merupaka upaya untuk membangun segala kehidupan masyarakat dan untuk mewujudkan salah satu tujuan nasional yaitu memajuka kesejahteraan umum, sesuai yang tersurat pada alinea IV Pembukaan UUD 1945. Pada dasarnya pembangunan adalah suatu proses yang direncanakan serta merupakan kegiatan yang berkesinambungan, berkepanjangan dan bertahap menuju tahap yang lebih baik. Salah satu tolak ukur untuk membuktikan adanya pembangunan ekonomi disuatu wilayah adalah pertumbuhan ekonomi. Dan salah satu indikator untuk melihat pertumbuhan ekonomi suatu wilayah adalah PDB/PDRB. Dalam pembentukan PDB Nasional Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan memegang peranan penting dengan berkontribusi sebesar 13%. Hal ini menunjukan pentingnya sektor pertanian dalam perekonomian Indonesia.

Dengan UU No 32 Tahun 2004 maka daerah memiliki kewenangan untuk menatur dan mengurus pemerintahan daerahnya, salah satu diantaranya adalah Pemerintah Provinsi Banten yang memiliki kewajiban untuk melakukan kebijakan pembangunan sektor pertanian dan sektor lainnya. Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan memberikan kontribusi sebesar 5,4% terhadap PDRB Provinsi Banten. Kebijakan untuk dapat mendorong sektor pertanian, kehutanan dan perikanan lebih jauh sudah dirumuskan dalam rencana pembangunan daerah, dan juga memasukaan sektor pertanian dan sektor perikanan menjadi sektor unggulan.

Namun laju pertumbuhan sektor ini justru mengalami penurunan. Sehingga perlu dilakukan evalusi dan perencanaan pembangunan sektor pertanian kehutanan dan perikanan di Provinsi Banten, sehingga dapat diketahui sektor unggulan di Provinsi Banten, sehingga pembangunan apat lebih fokus dilakukan.

Tujuan dari penelitian ini adalah 1) Mengetahui peran sektor pertanian, kehutanan dan perikanan terhadap perekonomian di Provinsi Banten 2) Mengetahui peran subsektor pertanian, kehutanan dan perikanan terhadap perekonomian di Provinsi Banten 3) Mengetahui Kabupaten/Kota yang menjadi basis kinerja sektor pertanian, kehutanan dan perikanan terhadap perekonomian di Provinsi Banten.

Hasil Penelitian dengan menggunakan metode Location Quotient dan Dynamic Location Quotient menunjukan bahwa sektor pertanian, kehutanan dan perikanan di Provinsi Banten akan mengalami perubahan posisi dimasa yang akan datang. Dimana saat ini sektor ini hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal saja dengan nilai LQ <1, namun pada masa yang akan datang sektor ini dinilai akan

(7)

mampu memenuhi kebutuhan lokal di Provinsi Banten dan dapat mengekspor ke luar wilayah Provinsi Banten dengan nilai DLQ >1.

Selanjutnya dari hasil penelitian dengan menggunakan metode Location Quotient dan Dynamic Location Quotient diketahui bahwa terdapat beberapa subsektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang menjadi sektor basis di perekonomian Provinsi Banten. Pertama adalah subsektor tanaman pangan dapat berperan untuk memenuhi kebutuhan lokal dan mengekspornya ke daerah lain dengan nilai LQ >1 dan pada masa yang akan datang subsektor ini tetap memiliki peran yang sama dengan nilai DLQ >1. Kedua subsektor hortikultura sudah juga mampu berperan dalam pemenuhan kebutuhan di Provinsi Banten serta mampu mengekspor ke luar wilayah dengan nilai LQ>1 dan pada masa yang akan datang subsektor inii juga dapat mengambil peran yang sama dengan nilai DLQ>1.

Ketiga subsektor peternakan adalah subsektor dengan peran tertinggi yang ditunjukan dengan nilai LQ dan DLQ tertinggi diantara semua subsektor.

Subsektor ini sudah mampu berperan untuk memenuhi kebutuhan lokal dan sudah mampu mengekspornya keluar wilayah dan pada masa yang akan datang peran ini dinilai akan tetap terjadi untuk subsektor peternakan.

Terdapat 8 daerah kabupaten/kota di Provinsi Banten yang memiliki peran berbeda untuk sektor pertanian, kehutanan dan perikanan di Provinsi Banten.

Berdasarkan metode Location Quotient dan Dynamic Location Quotient, terdapat dua daerah yang dinilai sudah mampu memenuhi kebutuhan lokalnya dan dapat mengekspor atau menjadi penyuplai bagi daerah lain, naik itu saat ini atau pada masa yang akan datang dengan nilai LQ dan DLQ >1. Kedua daerah ini adalah Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak. Terdapat juga daerah yang pada saat ini sudah mampu memenuhi kebutuhan lokalnya dan dapat mengekspornya keluar wilayah namun pada masa yang akan datang dinilai hanya akan mampu memenuhi kebutuhan lokalnya saja. Daerah yang tergolong didalamnya adalah Kabupaten Serang dan Kabupaten Tangerang. Namun terdapat empat daerah yang dinilai non basis sektor pertanian, kehutanan dan perikanan atau hanya untuk konsumsi lokal saja baik itu saat ini atau pada masa yang akan datang dengan nilai LQ dan DLQ <1. Keempat daerah ini adalah Kota Tangerang, Kota Cilegon, Kota Serang dan Kota Tamgerang Selatan

(8)

KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Shalawat dan salam selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad SAW, berseta keluarga dan para sahabatnya yang telah membawa manusis dari zaman gelap gulita kezaman terang benderang.

Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana.. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah ikut membanu dalam penyusunan skripsi ini, antara lain kepada :

1. Kedua orang tua dan keluarga atas doa dan semangatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan Penyusunan skripsi ini.

2. Bapak Dr. Achmad Tjachja Nugraha, SP., MM dan Ibu Agustina Senjayani M.Si selaku dosen pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, masukan dan saran yang banyak membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini.

3. Ibu Dr. Ir. Siti Rochaeni, M.Si dan Ibu Titik Inayah M.Si selaku dosen penguji yang telah meluangkan waktu dan memberikan kritik serta saran untuk kebaikan skripsi saya.

4. Bapak Akhmad Mahbubi, SP., MM, Ph.D selaku Ketua Program Studi Agribisnis

(9)

5. Ibu Rizky Adi Puspita Sari, SP., MM selaku Sekretaris Program Studi Agribisnis

6. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen Pengajar Program Studi Agribisnis yang telah memberikan Banyak ilmu yang bermanfaat serta pengalaman masa kuliah yang berharga.

7. Teman-teman seperjuangan, Agribisnis Angkatan 2014 yang telah memberikan semangat dan motivasi dalam Penyusunan Skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun akan sangat membantu penulis. Akhir kata, penulis berharap semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pihak

(10)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 6

1.3. Tujuan Penelitian ... 7

1.4. Manfaat Penelitian ... 8

1.5. Ruang Lingkup Penelitian ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pembangunan Ekonomi ... 9

2.2. Pertumbuhan Ekonomi ... 10

2.3. Pembangunan Ekonomi Daerah ... 12

2.4. Pembangunan Pertanian ... 13

2.5. Produk Domestik Bruto (PDB) ... 16

2.6. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ... 17

2.7. Peran Sektor Pertanian ... 19

2.8. Teori Ekonomi Basis ... 21

2.9. Penelitian Terdahulu… ... 22

2.10. Kerangka Pemikiran ... 26

BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 29

3.2. Jenis dan Sumber Data ... 29

3.3. Metode Pengumpulan Data ... 30

3.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 30

(11)

3.4.1. Analisis Location Quotient (LQ) ... 31

3.4.2. Analisis Dynamic Location Quotient (DLQ) ... 31

BAB IV KONDISI UMUM PROVINSI BANTEN 4.1. Kondisi Wilayah Provinsi Banten ... 33

4.2. Kependudukan ... 34

4.3. Ketenagakerjaan ... 36

4.4. Luas Penggunaan Lahan ... 39

4.5. Perekonomian Provinsi Banten ... 40

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Peran Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Terhadap Perekonomian Provinsi Banten ... 43

5.2. Peran Subsektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Terhadap Perekonomian Provinsi Banten ... 51

5.3. Kabupaten/Kota Yang Menjadi Basis Kinerja Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Terhadap Perekonomian Provinsi Banten ... 67

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan ... 81

6.2. Saran ... 82

DAFTAR PUSTAKA ... 84 LAMPIRAN

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Rata Rata Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2010

Menurut Lapangan Usaha (miliar rupiah) Indonesia 2016

2020 ... 3

2. Rata Rata Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha di Provinsi Banten 2016- 2020……….…..………... 4

3. Persamaan dan Perbedaan dengan Penelitian Terdahulu… ... 25

4. Data Kependudukan di Provinsi Banten ... 35

5. Laju Pertumbuhan dan Kepadatan Penduduk di Provinsi Banten ... 36

6. Penduduk Usia> 15 tahun yang Bekerja Pada Tahun 2020 Menurut Lapangan Usaha dan Kabupaten/Kota ... 37

7. Rata-Rata Pendapatan Dala Sebulan Pekerja Formal dan Informal Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan di Provinsi Banten ... 39

8. Luas Penggunaan Lahan Provinsi Banten 2020… ... 40

9. Laju Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 Tahun 2016-2020………... 41

10. Distribusi Persentase PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Banten Tahun 2016-2020 ... 42

11. Rata Rata Nilai LQ dan DLQ Serktor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Serta Sektor Lainnya Dalam Perekonomian Provinsi Banten ... 44

12. Laju Pertumbuhan PDRB Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan ADHK 2010 di Provinsi Banten Tahun 2016-2020… ... 52

13. Rata-Rata Nilai LQ dan DLQ Subsektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Dalam Perekonomian Provinsi Banten Tahun 2016-2020… 54 14. Nilai Analisis LQ dan DLQ Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Kabupaten/Kota di Wilayah Provinsi Banten Tahun 2016- 2020……….… 68

(13)

15. Laju Pertumbuhan Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan

Kabupaten/Kota di Provinsi Banten ... 70

(14)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Laju Pertumbuhan PDRB Sektor perikanan Atas Dasar Harga Konstan

2010 Provinsi Banten 2016-2020... 6

2. Kerangka Pemikiran ... 28

3. Peta Wilayah Provinsi Banten ... 33

4. Upah Minimum per Bulan Provinsi Banten 2020 ... 38

5. Luas Panen Subsektor Tanaman Pangan 2016-2020… ... 56

6. Total Produksi Subsektor Tanaman Pangan (Ton) ... 57

7. Produksi Subsktor Hortikultura (Ton)... 59

8. Populasi Subsektor Peternakan (Ekor) ... 63

9. Produksi Sektor Perikanan (Ton) ... 66

10. Rata Rata Produksi Subsektor Tanaman Pangan (Ton) Menurut Kabupaten/Kota ... 73

11. Rata Rata Produksi Subsektor Hortikultura (Ton) Menurut Kabupaten/Kota ... 75

12. Rata Rata Populasi Subsektor Peternakan (Ekor) Menurut Kabupaten/Kota ... 77

13. Rata Rata Produksi Sektor Perikanan (Ton) Menurut Kabupaten/Kota ... 79

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia ADHK 2010 Tahun 2016-

2020 ... 87

2. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Banten ADHK 2010 Tahun 2016-2020 ... 88

3. Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ADHK 2010 Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Berdasarkan Kabupaten/Kota di Provinsi Banten 2016-2020… ... 89

4. Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ADHK 2010 Berdasarkan Kabupaten/Kota di Provinsi Banten 2016-2020 ... 90

5. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia ADHK 2010 Tahun 2016-2020… ... 91

6. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Banten ADHK 2010 Tahun 2016-2020… ... 92

7. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ADHK 2010 Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Berdasarkan Kabupaten/Kota di Provinsi Banten 2016-2020… ... 93

8. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ADHK 2010 Berdasarkan Kabupaten/Kota di Provinsi Banten 2016- 2020……….… 94

9. Nilai LQ Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan ... 95

10. Perhitungan DLQ Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan ... 96

11. Nilai LQ Subsektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan ... 97

12. Perhitungan DLQ Subsektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan ... 98

13. Nilai LQ Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Berdasarkan Kabupaten/Kota ... 99

14. Perhitungan DLQ Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Berdasarkan Kabupaten/Kota ... 100

15. Produksi Subsektor Tanaman Pangan Provinsi Banten (Ton) ... 101

(16)

16. Produksi Subsektor Hortikultura, Komoditi Sayur dan Buah Musiman (Kuintal) ... 103 17. Produksi Subsektor Hortikultura, Komoditi Sayur dan Buah Tahunan

(Kuintal) ... 108 18. Produksi Subsektor Hortikultura, Komoditi Tanaman Biofarma

(Kg) ... 113 19. Populasi Subsektor Peternakan (Ekor) ... 118

(17)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pembangunan nasional merupakan upaya untuk membangun segala kehidupan masyarakat dan untuk mewujudkan salah satu tujuan nasional yaitu memajukan kesejahteraan masyarakat, sesuai yang tersurat pada alenia IV Pembukaan UUD 1945. Pembangunan ekonomi wilayah merupakan proses dimana pemerintah serta segala komponen warga mengelola bermacam sumber energi yang terdapat serta membentuk sesuatu model kemitraan untuk membentuk sesuatu lapangan pekerjaan baru serta memicu pertumbuhan aktivitas ekonomi dalam wilayah tersebut (Kuncoro, 2004).

Pada dasarnya pembangunan merupakan sesuatu proses yang direncanakan serta merupakan rangkaian aktivitas yang berkesinambungan, berkepanjangan serta bertahap mengarah tahap yang lebih baik. Kesuksesan sesuatu negara adalah gambaran keberhasilan pembangunan daerahnya. Pembangunan wilayah mengacu pada pemerataan serta kesejahteraan rakyatnya.

Pembangunan nasional dibagi menjadi dalam 2 area, yaitu pembangunan area perekonomian serta area non perekonomian. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu tolak ukur untuk membuktikan adanya pembangunan ekonomi sesuatu wilayah, dengan kata lain pertumbuhan ekonomi dapat memperlihatkan terdapatnya pembangunan ekonomi (Sukirno, 2004).

Pertumbuhan ekonomi daerah merupakan peningkatan pendapatan masyarakat yang terjadi disuatu daerah yang dicerminkan oleh peningkatan nilai tambah yang berlangsung di daerah tersebut (Tarigan 2005).

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah salah satu penunjuk pertumbuhan ekonomi suatu wilayah serta nilai barang serta jasa yang diproduksi pada negara tersebut dalam satu tahun tertentu. pertummbuhan dipengaruhi oleh beberapa aspek, antara lain infrastuktur ekonomi. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan jumlah nilai tambah bruto yang di hasilkan seluruh unit

(18)

usaha dalam daerah tertentu, ataupun merupakan besaran nilai barang serta jasa akhir yang dihasilkan oleh segala unit ekonomi (Sukirno, 2004).

Produk Domestik Bruto (PDB) pada tingkatan nasional dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada tingkatan regional (provinsi) menggambarkan keahlian sesuatu daerah untuk menghasilkan nilai tambah pada sesuatu waktu tertentu. PDB/PDRB berdasarkan lapangan usaha dapat di klarifikasikan jadi 17 sektor usaha. Salah satu dari 17 sektor usaha tersebut ialah sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang memiliki peranan penting dalam perekonomian di Indonesia (Banten Dalam Angka, 2020).

Sektor pertanian memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Hal ini dapat diukur dengan pangsa pasar sektor pertanian dalam pembentukan produk domestik bruto (PDB), penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, pengentasan kemiskinan, dan penciptaan pendapatan nasional melalui devisa pendapatan dari nonmigas dan ekspor gas. Ketahanan pangan, pemasok bahan baku, pasar, potensi dan kondisi penciptaan yang kondusif bagi pengembangan sektor lain (Budiman, 2013).

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang nyata dalam pembentukan PDB nasional 2016-2020 dan dapat dilihat dalam Tabel 1.

(19)

Tabel 1. Rata Rata Produk Domestik Bruto Indonesia Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) 2016-2020

No Sektor Rata-Rata Kontribusi

1 Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 1.301.959 13,17%

2 Pertambangan dan Penggalian 789.492 7,99%

3 Industi Pengolahan 2.160.063 21,86%

4 Pengadaan Listrik dan Gas 105.787 1,07%

5

Pengadaan Air, Pengelolaan sampah, Limbah dan Daur

Ulang 8.501 0,09%

6 Konstruksi 1.028.362 10,41%

7 Pengadaan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Motor 1.348.322 13,64%

8 Transportasi dan Pergudangan 414.728 4,20%

9 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 305.726 3,09%

10 Informasi dan Komunikasi 548.552 5,55%

11 Jasa Keuangan dan Asuransi 418.679 4,24%

12 Real Estet 301.963 3,06%

13 Jasa Perusahaan 184.477 1,87%

14 Administrasi pemerintahaan, Pertahanan dan Jaminan Sosial 345.395 3,49%

15 Jasa Pendidikan 322.298 3,26%

16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 119.826 1,21%

17 Jasa Lainnya 182.744 1,85%

Total 9.882.870 100,00%

Sumber: Data diolah BPS Indonesia, 2021

Tabel 1 menunjukan bahwa rata-rata kontribusi sektor pertanian pada pembentukan PDB nasional selama tahun 2016-2020 cukup besar dan signifikan yaitu sebesar 13,17%. Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan secara konsisten menjadi penyumbang ketiga terbesar PDB Nasional, dibawah sektor Industri Pengolahan dan dibawah sektor Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Motor. Hal ini menandakan pentingnya sektor pertanian dalam pembangunan dan perekonomian di Indonesia.

Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan amanat UUD 1945, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 merupakan salah satu landasan otonomi daerah Indonesia. Menurut undang-undang, pemerintah daerah mengatur sendiri urusan pemerintahan sesuai dengan asas otonomi dan pengelolaan bersama, sehingga daerah mempunyai hak, wewenang, dan kewajiban untuk mengurus urusan pemerintahan, dan untuk kepentingan rakyatnya. Serta sudah menjadi tanggung jawab pemerintah daerah untuk memanfaatkan potensi yang ada di wilayahnya untuk kesejahteraan masyarakat

(20)

yang terdapat diwilayahnya. Pemerintah Provinsi Banten adalah salah satunya yang memiliki hak dan kewajiban melaksanakan pembangunan sektor pertanian dan sektor lainnya di daerah yang termasuk ke dalam wilayah pemerintahannya.

Perekonomian di wilayah Provinsi Banten, ditopang oleh beberapa sektor usaha, salah satunya adalah sektor pertanian, kehutaam dan perikanan menjadi salah satu sektor yang berkontribusi dalam PDRB Provinsi Banten. Hal ini dapat dilihat dalam tabel 2 berikut.

Tabel 2. Rata Rata Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha di Provinsi Banten 2016-2020

No Sektor Rata-Rata Kontribusi

1 Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 23.746 5,6%

2 Pertambangan dan Penggalian 3.024 0,7%

3 Industi Pengolahan 147.043 34,5%

4 Pengadaan Listrik dan Gas 4.196 1,0%

5

Pengadaan Air, Pengelolaan sampah, Limbah dan Daur

Ulang 419 0,1%

6 Konstruksi 41.778 9,8%

7 Pengadaan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Motor 57.669 13,5%

8 Transportasi dan Pergudangan 26.425 6,2%

9 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 10.426 2,4%

10 Informasi dan Komunikasi 25.305 5,9%

11 Jasa Keuangan dan Asuransi 12.637 3,0%

12 Real Estet 37.143 8,7%

13 Jasa Perusahaan 4.397 1,0%

14

Administrasi pemerintahaan, Pertahanan dan Jaminan

Sosial 7.528 1,8%

15 Jasa Pendidikan 13.013 3,1%

16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 5.308 1,2%

17 Jasa Lainnya 6.407 1,5%

Total 426.261 100,0%

Sumber: Daya diolah BPS Banten, 2021

Berdasarkan Tabel 2 diketahui bahwa sektor pertanian memegang peranan cukup penting dalam perekonomian di wilayah Provinsi Banten. Rata-rata sektor memberikan kontribusi sebesar 5,5% dalam pembentukan PDRB Provinsi Banten selama tahun 2016-2020. Meskipun rata-rata kontribusi sektor pertanian masih dibawah sektor lainnya namun sektor pertanian masih menjadi sektor penopang ekonomi Provinsi Banten (Provinsi Banten Dalam Angka, 2021). Sektor pertanian memiliki beberapa subsektor didalamnya, diantaranya adalah subsektor tanaman pangan, subsektor hortikultura, subsektor perkebunan, subsektor peternakan, dan subsektor jasa pertanian dan perburuan. Kelima subsektor tersebut beserta sektor

(21)

kehutanan dan perikanan, merupakan bagian yang cukup penting dalam pembangunan dan perekonomian di Provinsi Banten.

Pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2005-2025 salah satu misi pembangunan yang terdapat didalamnya adalah mewujudkan perekonomian yang maju dan berdaya saing secara merata dan berkeadilan. Salah satu yang menjadi tujuan dari misi tersebut adalah untuk meningkatkan daya saing produk perekonomian yang berbasis pada sumber daya lokal, keunggulan kompetitif dan berorientasi pasar dengan sasaran dari misi dan tujuan tersebut salah satu diantaranya adalah meningkatnya produktivitas, kualitas dan daya saing produk agribisnis pertanian, perkebunan, kehutanan dan kelautan (RPJMD Perubahan, 2019).

Melihat RPJP tersebut dalam Peraturan Daerah Provinsi Banten Nomor 10 tahun 2019, tentang perubahan atas peraturan daerah nomor 7 tahun 2017 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Banten tahun 2017-2022 disebutkan bahwa salah satu misi pembangunannya adalah meningkatkan kualitas pertumbuhan dan pemerataan dan ekonomi. Salah satu prioritas unggulan dari misi tersebut adalah pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin khususnya petani dan nelayan. Terdapat beberapa sasararan dari misi tersebut dalam RPJMD perubahan adalah meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi sektor unggulan diantaranya adalah meningkatnya pertumbuhan ekonomi sektor pertanian yang optimal dan meningkatnya pertumbuhan sektor perikanan yang optimal. Hal ini didukung pula dengan rencana pembangunan infrastruktur di Provinsi Banten, salah satunya adalah pembangunan jaringan air yaitu rencana membangun Bendungan Karian di Kabupaten Lebak, Rencana membangun Bendungan Sindangheula di Kabupaten Serang dan Kota Serang, pembangunan atau peningkatan jaringan irigasi dan rencana sistem jaringan air lainnya untuk dapat mencapai sasaran yang diinginkan tersebut (RPJMD Perubahan, 2019).

(22)

1.2. Rumusan Masalah

Seiring dengan berjalannya perekonomian dan kebijakan pembangunan yang dilakukan diwilayah Provinsi Banten. Laju Pertumbuhan sektor pertanian dalam perekonomian justru mengalami penurunan dalam kurun waktu 2016- 2020. Laju pertumbuhan sektor pertanian dalam 5 tahun terakhir apat dilihat pada gambar berikut

Gambar 1. Laju Pertumbuhan PDRB Sektor Pertanian, kehutanan dan perikanan Atas Dasar Harga Konstan 2010 Provinsi Banten 2016-2020 (%)

Sumber: Data diolah BPS Banten, 2021

Berdasarkan Gambar 1. laju pertumbuhan sektor pertanian terus mengalami penurunan dalam 5 tahun terakhir. Pada 2016 pertumbuhan sektor pertanian kehutanan dan perikanan mencapai angka 6,58% namun hingga tahun 2019 pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan hanya mencapai 2,2% saja. Pada 2020 sektor pertanian, kehutanan dan perikanan mampu mengalami peningkatan sebesar 3,55%. Hal ini menandakan laju pertumbuhan sektor pertanian masih dibawah sasaran target dalam RPJMD perubahan 2017- 2022 yaitu sebesar 5,8% pada tahun 2020. Laju pertumbuhan yang terus mengalami penurunan untuk sektor pertanian, kehutanan dan perikanan harus menjadi perhatian khusus, mengingat sektor pertanian dan sektor perikanan

(23)

merupakan sektor unggulan dalam RPJMD Provinsi Banten. Rencana pola ruang untuk sektor pertanian, kehutanan dan perikanan dalam RPJMD Provinsi Banten tentu perlu di evaluasi kembali. Apakah daerah kabupaten/kota yang diarahkan memang merupakan daerah sentra produksi untuk sektor atau subsektor unggulan di Provinsi Banten.

Melihat dari uraian diatas peneliti merasa perlu dilakukan evaluasi kebijakan dan perencanaan pembangunan ekonomi yang telah dilakukan pemerintah Provinsi Banten terutama dalam sektor pertanian, kehutanan dan perikanan sehingga diharapkan pembangunan sektor pertanian di Provinsi Banten bisa lebih terfokus di sektor unggulan dan daerah yang tepat dengan melakukan penelitian yang berjudul “Peran Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Provinsi banten”

Rumusan dalam penelitian ini adalah

1. Bagaimana peran sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, terhadap perekonomian di Provinsi Banten ?

2. Bagaimana peran subsektor pertanian, kehutanan dan perikanan terhadap perekonomian di Provinsi Banten ?

3. Kabupaten/Kota apakah yang menjadi basis kinerja sektor pertanian, kehutanan dan perikanan terhadap perekonomian di Provinsi Banten ?

1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang telah dirumuskan, yaitu:

1. Mengetahui peran sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, terhadap perekonomian di Provinsi Banten.

2. Mengetahui peran subsektor pertanian, kehutanan dan perikanan terhadap perekonomian di Provinsi Banten.

3. Mengetahui Kabupaten/Kota yang menjadi basis kinerja sektor pertanian, kehutanan dan perikanan terhadap perekonomian di Provinsi Banten.

(24)

1.4. Manfaat Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagi peneliti, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan pengetahuan mengenai kinerja sektor pertanian dalam perekonomian wilayah Provinsi Banten, sekaligus sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana Pertanian di Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Jakarta 2. Bagi Pemerintah, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai

informasi dan bahan pertimbangan dalam melakukan pembangunan daerah.

3. Bagi pembaca, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan referensi untuk penelitian-penelitian selanjutnya.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Provinsi Banten, dengan menganalisis PDRB dalam periode 2016-2020 yaitu 17 lapangan usaha di Provinsi Banten, dengan lebih banyak difokuskan pada sektor pertanian, subsekor tanaman pangan, subsektor hortikultura, subsektor perkebunan, subsektor peternakan, subsektor jasa pertanian, sektor kehutanan dan penebangan dan sektor perikanan.

Penelitian ini berfokus pada peran sektor pertanian, sektor kehutanan dan sektor perikanan, apakah menjadi sektor unggulan di Provinsi Banten serta menganalisa peran subsektor pertanian apakah menjadi sektor unggulan di Provinsi Banten dan juga menganalisis Kabupaten/Kota yang menjadi basis kinerja sektor pertanian, kehutanan dan perikanan terhadap perekonomian di Provinsi Banten dengan menggunakan teori ekonomi basis yaitu metode Location Quotient (LQ) untuk mengetahui kondisi unggulan saat ini, dan dengan metode Dynamic Location Quotient(DLQ).

(25)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2. 1. Pembangunan Ekonomi

Pembangunan ekonomi didefinisikan sebagai sesuatu proses yang menimbulkan pemasukan perkapita riil penduduk suatu masyarakat meningkat hingga jangka panjang (Sukirno, 2004). Bersumber atas definisi ini dapat dikenal bahwa pembangunan ekonomi berarti terdapatnya sesuatu proses pembangunan yang terjalin terus menerus yang bersifat menaikkan memperbaiki segala sesuatu menjadi lebih baik. Terdapatnya proses pembangunan itu diharapkan terjadinya peningkatan pemasukan rill masyarakat berlangsung untuk jangka panjang.

Pembangunan ekonomi merupakan usaha- usaha untuk tingkatkan taraf hidup sesuatu masyarakat yang kerapkali diukur dengan besar rendahnya pemasukan riil perkapita (Irawan dan M. Suparmoko, 2008).

Menurut Arsyad (2009), pembangunan ekonomi harus dilihat sebagai sesuatu proses saling keterkaitan serta saling mempengaruhi antara faktor-faktor yang menciptakan pembangunan ekonomi tersebut. Proses- proses tersebut dapat dikenal sebagai deretan kejadian yang mencuat serta akan mewujudkan kenaikan aktivitas ekonomi serta taraf kesejahteraan warga dari satu tahap pembangunan ke tahap pembangunan selanjutnya. Berikutnya Pembangunan ekonomi perlu dilihat sebagai peningkatan pendapatan perkapita, sebab peningkatan itu menggambarkan penerimaan serta munculnya perbaikan dalam kesejahteraan ekonomi warga.

Keberhasilan pembangunan ekonomi sesuatu negeri diperuntukan terhadap 3 nilai pokok, antara lain: berkembangnya keahlian warga untuk penuhi kebutuhan pokoknya, menambah rasa harga diri warga selaku manusia serta meningkatnya keahlian warga untuk memilih. Dalam perkembangannya, pembangunan ekonomi tidak dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi. Pada dasarnya, pembangunan ekonomi mendesak pertumbuhan ekonomi serta sebaliknya, pertumbuhan ekonomi mendesak pembangunan ekonomi.

(26)

2. 2. Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi merupakan sesuatu proses transformasi keadaan perekonomian sesuatu negara ataupun daerah secara berkesinambungan mengarah ke kondisi yang lebih baik sepanjang periode tertentu. Pertumbuhan ekonomi dapat dimaksud juga sebagai proses peningkatan kapasitas produksi sesuatu perekonomian yang diwujudkan dengan peningkatan pendapatan nasional maupun secara regional. Pertumbuhan ekonomi yang baik ialah pertanda keberhasilan sesuatu pembangunan ekonomi (Todaro dan Smith, 2006).

Menurut Tarigan (2005), pertumbuhan ekonomi daerah merupakan akumulasi pendapatan warga yang berlangsung disesuatu daerah yang dicerminkan oleh peningkatan seluruh nilai tambah yang terjadi didaerah tersebut.

Hal ini pula yang nantinya akan menggambarkan kemakmuran daerah tersebut.

kemakmuran sesuatu daerah ditentukan pula oleh seberapa besar bagian pemasukan yang mengalir ke luar wilayah ataupun mendapat aliran dana dari luar daerah. Dari setiap negara akan senantiasa menargetkan laju pertumbuhan ekonoomi yang besar pada setiap daerahnya, sebab hal itu menggambarkan kemakmuran diwilayah tersebut.

Para ekonom sudah lama melihat beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi (Sukirno, 2004) antara lain:

a) Tanah dan kekayaan alam lain

Kekayaan alam akan memudahkan usaha untuk membangun perekonomian sesuatu negeri, paling utama pada masa awal dari proses pertumbuhan ekonomi. Di dalam tiap negeri dimana pertumbuhan ekonomi baru dimulai ada banyak hambatan untuk meningkatkan bermacam aktivitas ekonomi di luar sektor primer yakni sektor dimana kekayaan alam ada kekurangan modal, kekurangan tenaga pakar serta kekurangan pengetahuan para pengusaha untuk meningkatkan aktivitas ekonomi terbaru di satu pihak, serta terbatasnya pasar untuk bermacam jenis barang aktivitas ekonomi di lain pihak, sehingga menghalangi kemungkinan guna meningkatkan bermacam jenis aktivitas ekonomi.

(27)

Kekayaan alam yang sanggup diusahakan oleh negeri tersebut dapat menguntungkan, hambatan yang baru saja dipaparkan dapat di atasi serta pertumbuhan ekonomi dipacu kemungkinannya untuk memperoleh keuntungan tersebut serta mengundang pengusaha- pengusaha dari negara/daerah yang lebih maju untuk memanfaatkan kekayaan alam tersebut. Modal yang banyak, teknologi serta teknik produksi yang maju, serta tenaga- tenaga pakar yang dimiliki oleh pengusaha tersebut dari luar membuat kekayaan alam itu diusahakan secara efektif serta menguntungkan.

b) Jumlah dan mutu penduduk dan tenaga kerja

Penduduk yang meningkat dapat mendorong ataupun menghambat perkembangan ekonomi. Penduduk yang meningkat dapat memperbesar jumlah tenaga kerja serta peningkatan tersebut akan dapat menaikkan jumlah produksinya. Tidak hanya itu, pertumbuhan penduduk dapat mendesak pertumbuhan ekonomi melalui ekspansi pasar yang diakibatkannya. Besarnya pasardari beberapa barang yang dihasilkan dalam sesuatu perekonomian bergantung pada pendapatan penduduk serta jumlah penduduk.

Akibat kurang baik dari pertambahan penduduk kepada pertumbuhan ekonomi dapat berlangsung apa bila jumlah penduduk tidak sebanding dengan faktor- faktor produksi lain yang ada. Hal ini berarti peningkatan jumlah tenaga kerja tidak dapat memunculkan pertambahan jumlah produksi meskipun meningkat, peningkatannya sedikit dan berjalan lambat serta tidak mengimbangi pertambahan jumlah penduduk.

c) Barang-barang modal dan tingkat teknologi

Beberapa barang modal penting maksudnya dalam meninggikan efisiensi pertumbuhan ekonomi, beberapa barang modal meningkat jumlahnya serta teknologi yang menjadi lebih maju membuat peranan yang berarti sekali dalam mewujudkan kemajuan ekonomi yang besar. Apabila beberapa barang modal saja yang meningkat, sebaliknya tingkatan teknologi tidak mendapat kemajuan maka pertumbuhan yang ingin dicapai menjadi jauh lebih rendah.

(28)

d) Sistem sosial dan sikap masyarakat

Perilaku warga dapat memastikan hingga dimana pertumbuhan ekonomi dapat dicapai. Di sebagian warga ada perilaku yang menjadi pendorong yang besar bagi pertumbuhan ekonomi. Perilaku itu antara lain perilaku menghemat untuk mengumpulkan uang guna investasi, perilaku kerja keras serta kegiatan meningkatkan usaha, serta perilaku yang senantiasa menaikkan pemasukan serta keuntungan. selain itu perilaku warga yang masih menjalankan adat istiadat dapat membatasi warga untuk memakai cara produksi yang modern serta yang produktivitasnya besar, sehingga pertumbuhan ekonomi tidak dapat dipercepat.

e) Luas pasar sebagai sumber pertumbuhan

Adam Smith menunjukkan bahwa kemampuan dibatasi oleh besarnya pasar, serta kemampuan yang terbatas menghalangi pertumbuhan ekonomi.

Pemikiran ini menampilkan jika sudah lama orang sudah menyadari bagaimana berartinya luas pasar dalam pertumbuhan ekonomi. Apabila besarnya pasar terbatas, tidak terdapat dorongan bagi pengusaha untuk mengaplikasikan teknologi modern yang produktivitasnya besar. Sebab produktivitasnya yang rendah sehingga pemasukan para pekerja senantiasa rendah, serta ini menghalangi pasar.

2. 3. Pembangunan Ekonomi Daerah

Pembangunan ekonomi daerah merupakan sesuatu cara dimana pemerintah serta warganya mengelola sumberdaya diwilayah tersebut serta membentuk sesuatu sistem kemitraan oleh pemerintah wilayah dengan perusahaan swasta untuk menghasilkan sesuatu lapangan kerja baru serta memicu pertumbuhan aktivitas ekonomi dalam daerah tersebut. Pembangunan ekonomi daerah merupakan sesuatu cara yang mencakup pembentukan lembaga baru, pembangunan industri pengganti, perbaikan kapabilitas tenaga kerja yang terdapat di daerah itu untuk menciptakan produk serta jasa yang lebih baik, mempelajari pasar baru, berpindah ilmu pengetahuan serta pengembangan perusahaan baru (Arsyad, 2009).

(29)

Menurut Sjafrizal (2008), pada tataran wilayah yang lebih luas yaitu pada tataran provinsi, kabupaten dan kota, penerapan pembangunan dengan pendekatan wilayah dapat dilakuan dengan menerapkan konsep wilayah pembangunan dan pusat pertumbuhan. Pelaksanaan pembangunan kewilayahan diharapkan mampu meningkatkan kinerja pelakana pembangunan dalam sektor-sektor potensial yang ada. Hal ini merupakan dorongan bagi pertumbuhan ekonomi wilayah dan kota serta memberi dorongan bagi perubahaan sosial dan budaya komunitas lokal. Hal tersebut menunjukan bahwa pembangunan daerah yang sejalan dengan pembangunan kawasan meskipun dengan cakupan kecil namun lebih terencana memiliki prospek besar untuk berhasil.

Permasalahan utama dalam pembangunan daerah yaitu terdapat pada difokuskan pada kebijakan- kebijakan pembangunan yang didasarkan pada keunikan wilayah tersebut (Endogenous Development) dengan memanfaatkan kemampuan tenaga kerja, kelembagaan dan kekayaan alam daerah setempat. Hal ini memusatkan perhatian untuk memprakarsai kebijakan pembangunan yang berasal dari wilayah tersebut untuk menghasilkan peluang kerja baru serta memicu peningkatan aktivitas ekonomi (Arsyad, 2009).

2. 4. Pembangunan Petanian

Secara universal disampaikan jika pembangunan pertanian ditunjukan untuk tingkatkan pemasukan serta kualitas hidup petani serta nelayan, memperbanyak lapangan kerja serta kemungkinan kerja serta kemungkinan usaha, dan mengisi serta memperluas pasar, baik pasar di negara sendiri ataupun pasar luar negara. Ini dilakukan dengan pertanian yang modern, efektif serta tangguh sehingga sanggup menambah serta menganekaragamkan hasil, tingkatkan kualitas serta kualitas pengolahan produksi serta mendukung pembangunan daerah (Kamaludin, 1998).

Menurut Hasbullah (2009), pembangunan pertanian dapat menyumbang pendapatan negara dan disaat krisis, pertanian sanggup berperan sebagai penguat ekonomi Indonesia. Sehingga, pembangunan pertanian sebaiknya menjadi kunci utama pembangunan ekonomi Indonesia disaat situaasi darurat saat ini dan

(30)

pembangunan di masa depan. Pembangunan pertanian Indonesia kedepan sebaiknya memiliki ketertarikan, keberlanjutan, serta pengawasan yang dilaksanakan secara berkesinambungan. Pembangunan pertanian bertujuan pada pembangunan petani yang dapat dicirikan melalui kemandirian petani.

Menurut Sutrisno (2002), ketahanan sektor pertanian ketika menghadapi keadaan darurat menyebabkan terjadinya perubahan cara berpikir dari pembuat kebijakan pembangunan. Di negara yang saat ini berkembang apabila sebelumnya industrialisasi diunggulkan menjadi suatu pola pembangunan yang dapat memecahkan masalah ketertinggalan negara yang sedang berkembang. Setelah terjadi keadaan darurat negara tersebut, pembangunan sektor pertanian akan menjadi andalan baru untuk pembangunan di setiap negara.

Sektor pertanian terdiri atas beberapa subsector (BPS, 2020) 1. Pertanian

a. Tanaman pangan

Meliputi seluruh aktivitas ekonomi yang menciptakan komoditas bahan pangan. Bahan yang dihasilkan oleh aktivitas tanaman pangan yaitu padi, palawija, dan tumbuhan biji bijian yang lain. Semua bahan masuk ke kelompok tumbuhan semusim, dengan bentuk produksi ketika panen ataupun bentuk produksi dasar yang lain yang masih dikategorikan pertanian.

b. Tanaman Hortikultura

Tanaman hortikultura terdiri atas tumbuhan hortikultura semusim serta tumbuhan hortikultura tahunan. Tumbuhan hortikultura semusim termasuk tumbuhan hortikultura yang pada dasarnya berusia pendek, serta penuaiannya dilaksanakan satu ataupun beberapa kali penuaian untuk sekali tanam. Sebaliknya tumbuhan hortikultura tahunan yaitu tumbuhan hortikultura yang biasanya berusia lebih dari satu tahun serta serta penuaiannya dilaksanakan lebih dari satu kali untuk sekali tanam. Produk yang dihasilkan oleh aktivitas tumbuhan hortikultura yaitu produk sayur- mayur, buah-buahan, produk biofarmaka, serta tumbuhan hias.

(31)

c. Tanaman Perkebunan

Tanaman Perkebunan yaitu tumbuhan perkebunan semusim serta tumbuhan perkebunan tahunan, yang dilakukan oleh rakyat ataupun oleh perusahaan perkebunan. Ruang lingkup bisnis perkebunan ini yaitu pengolahan lahan, penyemaian, pembibitan, penanaman, pemeliharaan serta penuaian yang merupakan satu kesatuan aktivitas. Produk yang dihasilkan oleh aktivitas bisnis perkebunan antara lain tebu, tembakau, nilam, jarak, wijen, kelapa, kelapa sawit, karet, kopi, teh, kakao, lada, pala, kayu manis, cengkeh, jambu mete, dan lain lain.

d. Peternakan

Peternakan meliputi seluruh bisnis peternakan yang melaksanakan pembibitan dan budidaya seluruh jenis ternak serta unggas dengan tujuan untuk dikembangbiakkan, dibesarkan, dipotong, serta diambil hasilnya, baik dilakukan oleh rakyat ataupun oleh perusahaan peternakan. kategori ini meliputi pembudidayaan ternak ataupun unggas yang menciptakan produk repetitif, contohnya menciptakan susu serta telur. Produk yang dihasilkan oleh aktivitas peternakan jenis ternak antara lain sapi, kerbau kambing, domba, babi dan kuda, sedangkan produk yang dihasilkan aktivitas peternakan jenis unggas yaitu ayam, telur ayam, dan itik.

e. Jasa Pertanian dan Perburuan

Usaha jasa pertanian serta perburuan mencakup aktivitas jasa pertanian, perburuan serta penangkapan binatang liar, dan penangkaran binatang liar.

Aktivitas jasa pertanian merupakan aktivitas yang dilaksanakan oleh perorangan ataupun perusahaan atas dasar balas jasa ataupun kontrak yang spesial yang dilakukan untuk mendukung aktivitas pertanian. Aktivitas jasa pertanian mencakup usaha penyewaan perlengkapan pertanian/hewan dengan tenaga ahliya serta akibat buruk dari aktivitas jasa tersebut dipikul oleh yang memberi jasa.

2. Kehutanan dan Penebangan Kayu

Usaha ini meliputi aktivitas penebangan macam-macam kayu dan pengambilan daun, getah, serta akar- akaran, meliputi pula jasa yang mendukung aktivitas kehutanan bersumber pada sistem balas jasa/ kontrak. Produk yang

(32)

dihasilkan oleh aktivitas kehutanan mencakup kayu gelondongan, kayu bakar, rotan, bambu, serta hasil hutan yang lain. Meliputi pula dalam aktivitas kehutanan ini yaitu aktivitas reboisasi hutan yang dilaksanakan dengan sistem kontrak.

3. Perikanan

Usaha perikanan ini mencakup seluruh aktivitas penangkapan, pembenihan, serta budidaya seluruh ragam ikan serta biota air, yang hidup di air tawar, air payau ataupun hidup di laut. Produk yang dihasilkan oleh aktivitas perikanan diperoleh dari penangkapan di laut serta perairan tawar serta budidaya di laut, tambak, karamba, jaring apung, kolam, serta sawah. Aktivitas perikanan ini meliputi jasa yang mendukung aktivitas perikanan atas dasar balas jasa ataupun dengan sistem kontrak.

2. 5. Produk Domestik Bruto (PDB)

Salah satu penanda utama yang digunakan untuk mendapatkan ukuran pendapatan nasional adalah Prouk Domestik Bruto (PDB). Pada dasarnya, PDB ialah jumlah nilai tambah yang didapatkan oleh segala bidang usaha ataupun jumlah nilai baramg serta jasa akhir yang didapatkan oleh segala bidang ekonomi disesuatu negara pada periode waktu tertentu. PDB juga dapat menunjukkan bagaimana barang dan jasa dimanfaatkan, untuk konsumsi, ekspor, ataupun disimpan dalam inventori untuk dijual pada periode mendatang (BPS Indonesia,2020).

Melalui PDB dapat digambarkan struktur, tingkat, dan laju pertumbuhan perekonomian disesuatu negara pada satu periode waktu tertentu. Selain itu, PDB juga merupakan indikator ekonomi yang digunakan secara luas sehingga dapat dibandingkan antar wilayah atau negara. PDB pun menjadi alat untuk membantu berbagai pihak dalam memahami dan mengelola perekonomian. Indikator ini juga dapat digunakan untuk menggambarkan kesuksesan suatu pemerintahan untuk dapat menggerakkan sektor-sektor ekonomi. Alasan alasan inilah yang menjadikan PDB sebagai indikator makroekonomi utama dalam mengukur perekonomian suatu negara (BPS Indonesia,2020).

(33)

Secara konsep, PDB dapat dihitung menggunakan 3 pendekatan, antara lain:

a. Pendekatan Produksi

PDB ialah total nilai tambah atas barang dan jasa yang didapatkan oleh berbagai sektor produksi disuatu negara pada periode waktu tertentu, dijumlahkan dengan pajak atas barang neto.

b. Pendekatan Pendapatan

PDB ialah jumlah pengembalian jasa yang didapatkan oleh faktor produksi yang turut serta dalam kegiatan produksi disatu negara pada periode tertentu.

c. Pendekatan Pengeluaran

PDB ialah seluruh elemen permintaan akhir yang meliputi: (1) Pengeluaran pemakaian rumah tangga,(2) Pengeluaran pemakaian institusi non profit yang melayani rumah tangga, (3) pemakaian pemerintah, (4) Penyusun modal tetap bruto, (5) Perubahan persediaan, dan (6) Ekspor dikurang impor

Secara rancangan, baik dengan berdasarkan produksi, pendapatan, ataupun pengeluaran akan menghasilkan nilai yang sama. Hal ini disebabkan apa yang dihasilkan oleh sesuatu ekonomi sama dengan apa yang digunakan dalam perekonomian tersebut (BPS Indonesia,2020). Selain itu, PDB dapat ukur berdasarkan harga berlaku dan harga tetap. PDB berdasarkan harga berlaku mencerminkan nilai tambah barang dan jasa yang ukur dengan harga berlaku setiap tahunnya. Sementara itu, PDB berdasarkan harga tetap menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang diukur dengan harga yang berlaku pada satu tahun sebagai harga acuan. PDB diatas tahun 2010 hingga saat ini menggunakan harga tahun 2010 sebagai acuan (BPS Indonesia,2020).

2. 6. Produk Domestik Bruto (PDRB)

Salah satu penanda penting agar dapat mengetahui keadaan ekonomi suatu daerah pada satu periode tertentu ialah statistik Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), baik berdasarkan harga belaku ataupun harga tetap. PDRB adalah total

(34)

nilai tambah yang didapatkan oleh semua bidang usaha dalam satu daerah, atau total nilai barang dan jasa akhir (neto) yang didapatkan oleh semua unsur ekonomi. PDRB berdasarkan harga berlaku mencerminkan nilai tambah barang dan jasa yang diukur berdasarkan harga yang terjadi disetiap tahun, namun PDRB berdasarkan harga tetap menunjukan pertambahan nilai barang dan jasa tersebut yang diukur berdasarkan harga yang terjadi pada suatu waktu sebagai acuan (Widodo, 2006).

Untuk menyusun PDRB digunakan 2 pendekatan, antara lain lapangan usaha dan pengeluaran. Semuanya menampilkan struktur data nilai tambah urutkan berdasarkan sumber aktivitas ekonomi (lapangan usaha) serta berdasarlan komponen penggunaannya. PDB ataupun PDRB dari sisi lapangan usaha adalah total dari seluruh elemen nilai tambah bruto yang dapat dihsilkan oleh sektor ekonomi berdasarkan semua kegiatan produksinya. Sedangkan berdasarkan pengeluaran menggambarkan tentang pemanfaatan dari nilai tambah tersebut (BPS Banten, 2020).

PDB/PDRB berdasarkan lapangan usaha digolongkan tujuh belas lapangan usaha, antara lain 1) Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 2)Pertambangan dan Penggalian 3) Industri Pengolahan 4)Pengadaan Listrik dan Gas 5)Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 6)Konstruksi 6)Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 8)Transportasi dan Pergudangan 9)Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 10)Informasi dan Komunikasi 11)Jasa Keuangan dan Asuransi 12)Real Estat 13)Jasa Perusahaan 14)Administrasi Pemerintahan dan Jaminan Sosial Wajib 15)Jasa Pendidikan 16) Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 17)dan Jasa lainnya (BPS Banten 2020).

PDRB berdasarkan pengeluaran digolongkan menjadi tujuh elemen antara lain pengeluaran pemakaian rumah tangga, pengeluaran pemakaian LNPRT, pengeluaran pemakaian pemerintah, penyusun modal tetap bruto, perubahan persediaan, ekspor barang dan jasa (BPS Banten 2020).

(35)

2. 7. Peran Sektor Pertanian

Sektor pertanian adalah sektor paling penting, sektor ini sebagai pemasok bahan baku bagi perusahaan pengolahan, penyedia bahan makanan,tempat pemasaran hasil industri dan penghasil devisa negara. Setiap kebijakan yang menyentuh kepentingan petani akan membawa pengaruh besar terhadap perekonomian nasional (Saragih, 2002). Sektor pertanian pada perekonomian Indonesia adalah sektor ekonomi yang memanfaatkan sumber daya lokal serta digunakan oleh sebagian besar masyarakat. Pembangunan sektor ini dan aktivitas- aktivitasnya mampu menjadi cara yang ampuh dalam membangun sumber daya lokl sekaligus memanfaatkan tenaga kerja dikawasan pedesaan (Yudhoyono, 2004).

Peranan sektor pertanian masih krusial meskipun kemajuan sektor industri berkembang sangat cepat dalam perekonomian suatu daerah. Pentingnya sektor ini pada perekonomian dapat analisa dari berbagai hal, yaitu dari tingginya kontribusi sektor pertanian pada Produk Domestik Bruto (PDB), sektor ini adalah pemasok untuk industri, sebagai sumber pangan dan gizi, mampu memanfaatkan banyak tenaga kerja serta semakin besarnya kontribusi sektor pertanian dalam menaikan ekspor nonmigas (Soekartawi, 1996).

Kontribusi atau jasa dari sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi menurut (Jhingan, 2010) adalah:

a. Menyuplai kelebihan pangan sehingga akan meningkatkan pendapatan.

b. Menaikan permohonan produk industri sehingga dapat menggenjot peningkatan pendapatan di sektor industri.

c. Menyuplai tambahan pendapatan devisa untuk mendatangkan barang dari luar negeri untuk pembangunan dengan mengirim produk pertanian terus- menerus ke luar negeri.

d. Menggenjot pendapatan daerah.

e. Membenahi kesejahteraan masyarakat daerah.

A.T. Mosher (1965) dalam Arsyad (2010) mengkaji syarat pembangunan pertanian jika pertanian ingin dikembangan dengan baik. Mosher menggolongkan syarat pembangunan menjadi 2, yaitu ketentuan mutlak dan ketentuan pelancar.

(36)

Menurut Mosher, ada lima hal yang mutlak tersedia dalam pembangunan pertanian. Jika salah satu ketentuan tidak tersedia, maka pembangunan pertanian dapat terhenti atau mungkin pertanian akan dapat berjalan ditempat. Kelima syarat mutlak tersebut adalah sebagai berikut :

a. Terdapat pasar guna hasil usahatani.

Pembangunan pertanian dapat menaikan produksi atas hasil usahatani. Maka didalam menjual hasil produksi pertanian diperlukan pasar, permintaan, sistem pemasaran, dan tumpuan petani pada system pemasaran tersebut.

b. Teknologi yang senantiasa berkembang.

Meningkatnya produksi pertanian diakibatkan oleh pemakaian cara-cara atau teknik baru didalam usahatani. Teknologi pertanian berarti cara-cara bertani, termasuk didalamnya bagaimana para petani menyebarkan benih, memelihara tanaman dan memungut hasil serta memelihara ternak. Selain juga benih, pupuk, obat-obatan pemberantas hama, alat-alat, sumber sumber tenaga, juga merupakan kombinasi jenis usaha yang dilakukan petani sehingga dapat memanfaatkan tenaga dan sumber daya sebaik mungkin.

c. Terdapat bahan dan alat produksi yang di produksi lokal.

Mayoritas metode baru yang mampu mendongkrak produksi pertanian membutuhkan penggunan bahan dan alat produksi yang spesifik untuk petani. Antara lain bibit, pupuk, obat pemberantas hama, makanan dan obat ternak. Pembangunan pertanian membutuhkan semua faktor diatas tersedia di semua tempat dalam jumlah yang banyak agar dapat mendukung kebutuhan tiap petani yang mungkin akan memanfaatkannya.

d. Adanya perangsang produksi bagi pertanian.

Teknologi yang telah maju, pasar yang mudah dan tersedianya bahan baku dan alat-alat produksi, kesemuanya memberikan kesempatan kepada petani untuk dapat meningkatkan produksinya. Akan tetapi semuanya kesempatan tersebut akan sia-sia jika tidak dimanfaatkan. Oleh

(37)

karenanya harus ada perangsang yang membuat petani bergairah untuk meningkatkan produksinya. Faktor perangsang tersebut adalah harga hasil produksi yang menguntungkan, pembagian hasil yang wajar, dan tersedianya barang barang dan jasa yang ingin dibeli oleh petani.

e. Terdapat pengangkutan yang lancar dan berlanjut.

Tanpa adanya sarana pengangkutan yang efisen dan murah, maka 4 ketentuan mutlak lain tidak mampu berjalan dengan maksimal, karena produksi pertanian wajib tersedia dengan baik.

2. 8. Teori Ekonomi Basis

Teori Basis Ekonomi melandaskan pemikirannya jika laju pertumbuhan ekonomi sesuatu daerah ditetapkan oleh banyaknya ekspor dari daerah tersebut.

Didalam penafsiran ekonomi regional, ekspor merupakan menjual produk atau jasa ke luar daerah. Penafsiran ekspor ini tergolong juga tenaga kerja yang bertempat tinggal di daerah kita namun bekerja serta mendapatkan penghasilan dari daerah lain. Demikian juga usaha lokal namun mempunyai pelanggan dari luar daerah termasuk digolongkan sebagai aktivitas basis. Sebenarnya seluruh aktivitas produksi ataupun penyedia jasa yang menghasilkan uang dari luar daerah sebab kegiatannya, merupakan aktivitas basis. Lapangan kerja serta pemasukan di unit basis merupakan peranan dari permintaan yang bersifat tidak tergantung pada permintaan lokal (Tarigan, 2005).

Suatu metode agar dapat mengenali apakah suatu unit usaha adalah basis atau non basis dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu (1) cara mengukur langsung dan (2) mengukur tidak langsung. Mengukur secara langsung dilakukan dengan survei langsung untuk mengetahui sektor mana yang adalah sektor basis.

Cara ini mampu memastikan sektor basis dengan tepat. Namun cara ini membutuhkan biaya, waktu dan tenaga kerja yang banyak. Cara pengukuran tidak langsung, antara lain: (1) dengan pendekatan asumsi; (2) metode Location Quotient; dan (3) metode kebutuhan minimum (Budiharsono, 2005).

Dasar acuan LQ merupakan teori basis ekonomi yang dasarnya ialah karena unit basis memproduksi barang dan jasa untuk pasar lokal ataupun di luar

(38)

daerah yang, maka perdagangan keluar daerah dapat mendapatkan pendapatan bagi daerah tersebut. Selain itu, aliran pendapatan berawal luar daerah ini memicu kenaikan konsumsi serta penanaman modal di daerah tersebut. Hal ini dapat meningkatkan pendapatan serta terbuka lapangan kerja baru. Naiknya pendapatan tidak hannya menambah permintaan terhadap sektor basis, namun juga mendongkrak permintaan sektor non basis. Naiknya permintaan akan memicu penanaman modal pada sektor yang bersangkutan serta sektor lain (Widodo, 2006).

Metode LQ memiliki kekurangan yaitu perhitungannya yang hanya mampu ditampilkan pada waktu penelitian, kekurangan ini dapat ditanggulangi dengan Dynamic Location Quotient (DLQ) yaitu menekankan pada laju pertumbuhan dengan anggapan jika setiap nilai tambah tiap sektor ataupun PDRB memiliki rata-rata laju pertumbuhan tiap tahun sendiri pada kurun waktu berjalan (Suyatno, 2000).

2. 9. Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai peranan sektor tertentu terhadap perekonomian suatu daerah sudah banyak yang meneliti sebelumnya. Hasil yang terdapat pada beberapa penelitian baik berupa skripsi maupun jurnal yang dijadikan dasar pertimbangan dan acuan dalam penelitian ini, yaitu:

Aris Muchendar (2020) melakukan penelitian tentang “Peran Sektor Pertanian Dalam Perekonomian Provinsi Banten”. Penelitian Tersebut menganalisis peranan sektor pertanian dalam perekonomian provinsi Banten dan menganalisis keterkaitan sektor pertanian dengan sektor lainnya dalam perkonomian provinsi Banten. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif dengan menggunakan analisis Input-Output. Hasil analisis menunjukkan bahwa subektor peternakan memiliki nilai keterkaitan tertinggi ke belakang sebesar 1,5319, sedangkan sektor tanaman pangan memiliki nilai keterkaitan kedepan tertinggi pada sektor pertanian sebesar 1,6734.

Subsektor peternakan merupakan satu-satunya sub sektor pada sektor pertanian

(39)

yang memiliki nilai indeks penyebaran dan indeks derajat kepekaan (>1) dan berada di plot Kuadran I.

Annisa Permatasari (2011) melakukan penelitian tentang “Analisis Peranan Sektor Pertanian Dalam Perekonomian Di Kabupaten Grobogan”.

Penelitian tersebut menganalisis apakah pertanian menjadi sektor unggulan ekonomi di Kabupaten Grobokan. Data yang digunakan yaitu PDRB Provinsi Jawa Tengah Tahun 2005-2010 dan data PDRB Kabupaten Grobogan periode 2005-2010 atas dasar harga konstan tahun 2000. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan analisis Location Quotient (LQ), Dinamic Locationt Quotient (DLQ), dan analisis Shift Share (SS) dan alat analisis yang digunakan adalah Microsoft Excel.

Hasil penelitian menunjukan bahwa berdasarkan analisis LQ, sektor pertanian merupakan sektor basis dalam perekonomian di Kabupaten Grobogan, Subsektor pertanian yang menjadi subsektor basis di kabupaten grobogan adalah subsector pertanian tanaman pangan dan subsector kehutanan. Sedangkan berdasarkan analisis DLQ sektor pertanian diperkirakan tetap menjadi sektor unggulan pada masa sekarang dan masa akan datang. Untuk subsector pertanian diperkirakan subsector kehutanan akan berubah menjadi subsector non basis setealah sebelumnya adalah sektor basis. Sedangkan subsector perikanan diperkirakan akan menjadi sektor basis dari sebelumnya adalah sektor non basis.

Melalui analisis shift share diketahui bahwa perubahan posisi subsector kehutanan menjadu sektor non basis diperediksi desebabkan oleh struktur ekonomi, sedangkan subsector perikanan mengalami perubahan menjadi sekrtor basis disebabkan oleh faktor lokasi.

Penelitian Ilham Alkaf (2015) dengan judul “Peran Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Kabupaten Cilacap Periode 2002-2013”. Penelitian tersebut menganalisis apakah pertanian menjadi sektor unggulan ekonomi di Kabupaten Cilacap. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa PDRB Kabupaten Cilacap Periode 2002-2013 dan PDRB Provinsi Jawa Tengah periode 2002 – 2013 atas dasar harga konstan tahun 2000.

(40)

Dalam penelitian ini mengunakan pendekatan Tipologi Klassen, Shift Share dan Location Quotient.

Hasil analisis menunjukkan bahwa posisi sub-sektor pertanian di negara Cilacap dari tahun 2002 sampai tahun 2013 adalah : 1) sub-sektor tanaman pangan, ternak, perikanan dan forestries berada di posisi tertinggal, dan 2) subsektor perkebunan adalah dalam posisi potensial. Berdasarkan komponen pertumbuhan proporsional, perkebunan dan ternak mengalami pertumbuhan yang cepat. Analisis selanjutnya menunjukkan bahwa tanaman pangan dan forestries menjadi dasar ekonomi Cilacap.

Susi Rosia Sari (2018) melakukan penelitian tentang “Kontribusi Sektor Pertanian Dalam Struktur Ekonomi Di Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu”.

Penelitian tersebut menganalisis apakah pertanian menjadi sektor unggulan ekonomi di Kabupaten Kaur. Data yang digunakan yaitu PDRB Provinsi Bengkulu Tahun 2011 – 2016 dan data PDRB Kabupaten Grobogan periode 2011- 2016 atas dasar harga konstan tahun 2010. Dalam penelitian ini metode analisis yang digunakan adalah Location Quotient (LQ), Dynamic Location Quotient (DLQ), Shift-Share analysis (SS), dan Overlay.

Hasil penelitian menunjukan bahwa berdasarkan analisis LQ, sektor basis di Kabupaten Kaur yaitu sub sektor Kehutanan dan Penebangan Kayu, sub sektor perikanan, sub sektor pertenakan, sub sektor Jasa Pertanian dan Pemburuan, dan sub sektor tanaman pangan. Sedangkan berdasarkan analisis DLQ subsector pertanian yang mengalami perubahan posisi pada masa yang akan datang yaitu subsektor kehutanan dan penebangan kayu. Subsektor pertanian yang menjadi unggulan berdasarkan hasil analisis overlay antara Location Quotient (LQ), Dynamic Location Quotient (DLQ) dan ShiftShare adalah subsektor tanaman pangan, perkebunan, jasa pertanian dan perikanan ini artinya Subsektor ini memiliki keunggulan, Subsektornya maju, dan memiliki daya saing.

Sofiyanto (2015) melakukan penelitian tentang ”Analisis Peran Sektor Pertanian Dalam Pembangunan Daerah Di Kabupaten Batang”. Data yang digunakan yaitu PDRB Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2013 dan data PDRB Kabupaten Batang periode 2004-2013 atas dasar harga konstan tahun 2000.

(41)

Dalam penelitian ini metode analisis yang digunakan adalah Location Quotient (LQ) dan Shift-Share analysis (SS).

Hasil penelitian menunjukan bahwa berdasarkan analisis LQ, sektor pertanian termasuk kedalam sektor unggulan di kabupaten batang. Subsector pertanian yang termasuk kedalam sub sektor pertanian unggulan di kabupaten Batang pada periode 2004-2013 adalah sub sektor tanaman perkebunan, subsector peternakan, subsektor perkebunan dan subsektor perikanan.

Adapun persamaan dan perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang peneliti lakukan dapat dilihat pada Tabel 3. berikut:

Tabel 3. Persamaan dan Perbedaan dengan Penelitian Terdahulu

Judul Persamaan Perbedaan

Aris Muchendar (2020) melakukan penelitian tentang “Peran Sektor Pertanian Dalam Perekonomian Provinsi Banten”

Ingin melihat peran sektor pertanian

Metode yang digunakan input-output, data yang digunakan hanya tahun 2019 saja

Annisa Permatasari (2011) melakukan penelitian tentang

“Analisis Peranan Sektor Pertanian Dalam Perekonomian Di Kabupaten Grobogan”

Menggunakan metode Location Quotient dan Dynamic Location Quotient

Daerah yang dianalisis adalah Kabupaten Grobogan tahun 2005- 2010

Penelitian Ilham Alkaf (2015) dengan judul

“Peran Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Kabupaten Cilacap Periode 2002-2013”

Menggunakan metode Location Quotient

Daerah yang dianalisis adalah Kabupaten Cilacap tahun 2002-2013

(42)

Judul Persamaan Perbedaan Susi Rosia Sari (2018)

melakukan penelitian tentang “Kontribusi Sektor Pertanian Dalam Struktur Ekonomi Di Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu”.

Menggunakan metode Location Quotient dan Dynamic Location Quotient

Daerah yang dianalisis adalah kabupaten kaur 2011-2016

Sofiyanto (2015) melakukan penelitian tentang ”Analisis Peran Sektor Pertanian Dalam Pembangunan Daerah Di Kabupaten Batang”

Menggunkan metode Location Quotient

Daerah yang dianalisis adalah Kabupaten Batang tahun 2004-2013

Sumber: Data Diolah

2. 10. Kerangka Pemikiran

Pembangunan daerah Provinsi Banten meliputi 2 sektor yaitu perekonomian dan non perekonomian. Sektor perekonomian mencakup sektor pertanian dan non pertanian dan semua sektor memberikan kontribusi bagi PDRB Provinsi Banten. Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan menjadi salah satu sektor yang menjadi penyumbang bagi PDRB provinsi sebesar 5,5%. Dimana kontribusi ini diberikan oleh 10% penduduk Provinsi Banten yang berkerja pada sektor ini. Itulah kenapa sektor pertanian, kehutanan dan perikanan ini menjadi salah satu sektor yang cukup penting bagi perekonomian Provinsi Banten

Disisi lain sektor pertanian, kehutanan dan perikanan dari tahun ketahun mengalami laju pertumbuhan yang terus menurun. Maka dari itu sektor ini perlu mendapat perhatian lebih dalam pembangunan daerah Provinsi Banten. Sektor pertanian sendiri memiliki beberapa subsektor yaitu tanaman pangan, tanaman hortikultura, tanaman perkebunan, peternakan dan jasa pertanian dan perkebunan.

(43)

Pembangunan pertanian diwilayah Provinsi Banten tidak terfokus disemua Kabupaten/Kota, pembanggunan pertanian perlu dilakukan diwilayah yang menjadi basis sektor pertanian.

Oleh karena hal ini perlu dilakukan analisis mengenai peran sektor pertanian, kehutanan dan perikanan terhadap perekonomian banten. Serta peran subsektor pertanian terhadap perekonomian provinsi banten dan juga menganalisis kabupaten/kota yang menjadi basis sektor pertanian, kehutanan dan perikanan di Provinsi Banten. Metode analisis yang digunakan adalah metode Location Quotient (LQ) untuk mengetahui kondisi sekarang dan metode Dynamic Location Quotient (DLQ) untuk mengetahui perkiraan pada masa yang akan datang.

Secara skematis kerangka pemikiran dapat dijelaskan pada gambar 2 sebagai berikut:

Gambar

Tabel 1. Rata Rata Produk Domestik Bruto Indonesia Atas Dasar Harga Konstan  2010 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) 2016-2020
Tabel 2. Rata Rata Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan  2010 Menurut Lapangan Usaha di Provinsi Banten 2016-2020
Gambar 1. Laju Pertumbuhan PDRB Sektor Pertanian, kehutanan dan perikanan  Atas Dasar Harga Konstan 2010 Provinsi Banten 2016-2020 (%)
Tabel 3. Persamaan dan Perbedaan dengan Penelitian Terdahulu
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan alat berat yang digunakan, memperkirakan jumlah alat berat yang digunakan secara efisien, menghitung waktu penyelesaian alat berat

Ada baiknya bila dirundingkan kembali apakah bila memang diharuskan adanya pengantian biaya aktivasi collateral sebagai dana penyertaan modal sebesar 1% (satu pesen) dari

tentang Unit Transfusi Darah, Bank Darah Rumah Sakit dan Jejaring Pelayanan Transfusi Darah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor

contoh batubara II C diklasifikasikan sebagai batubara lignit (peringkat rendah) yang berdasarkan standar ASTM dengan kandungan karbon tertambat, nilai kalori yang

Meskipun sistem kesehatan di Inggris kini lebih dikenal dengan istilah National Health Service (NHS) suatu sistem kesehatan yang didanai dan dikelola oleh pemerintah secara

noise .Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sumiyana berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan oleh Fama &amp; French (1992) yang menyatakan bahwa perilaku harga

Berdasarkan hasil analisis data serta mempertimbangkan kondisi dinamika atmosfer di wilayah Indonesia dan sekitarnya, maka hasil prakiraan sifat dan curah hujan Kalimantan

Berdasarkan hasil tabulasi silang analisa hubungan frekuensi menyusui dengan keberhasilan kontrasepsi metode amenore laktasi dapat diketahui dari 38 responden,