BAB I PENDAHULUAN
Indonesia memiliki Sejarah yang kaya nan panjang jikalau di bukukan contohnya seperti buku SNI (Sejarah Nasional Indonesia jilid 1-6 terbitan 2008) yang berjumlah 6 jilid itu pun masih kurang lengkap dan cenderung general, tentunya dalam kekuarangan-kekurangan ini terdapat kekosongan Sejarah yang luput dari kita, contohnya saja pembahasan terhadap papua sangat kurang, dan mungkin karena itu maka mereka rasa nasionalisame mereka menjadi kurang dan menimbulkan banyak gerakan separatis yang mengancam kedaulatan NKRI karena itulah maka di dalam Sejarah lokal perlu ada, untuk mengisi kerumpangan Sejarah Nasional dan juga sebagai penjelas peristiwa-peristiwa Sejarah Nasional sperti yang di katakana oleh sartono kartodirjo, seringkali hal-hal yang berada di tingkatan Nasional baru bisa di mengeti dengan baik, apabila kita mengerti dengan baik pula perkembangan dalam tingkat lokal. Hal-hal di tingkatan yang lebih luas itu biasanya hanya memberikan gambaran dari pola-pola serta masalah-masalah umumnya, sedangkan situasinya yang lebih konkret dan mendetail baru bisa di ketahui melalui gambaran sejarah lokal.1 secara lebih A.B. Lapian menegaskan keutamaan lain dari Sejarah lokal yaitu “untuk bisa mengadakan koreksi terhadap generalisasi-generalisasi yang sering di buat dalam penuisan Sejarah Nasional”.2
Sejarah lokal juga dapat meningkatkan rasa cinta terhadap daerah, karena Masyarakat Indonesia dewasa ini kurang peduli akan nasib daerahnya misalnya saja di daerah-daerah yang tadinya merupakan daerah lumbung padi sekarang sawah-sawah beralih fungsi menjadi areal perumahan-perumahan dan tentu lambat laun ini akan mengingkat daya tahan pangan daerah akan berkurang lalu stok padi nasional pun menurun dan mengakibatkan ketergantungan kepada negara lain. Dengan adanya Sejarah lokal ini akan diceritakan kekuatan-kekuatan daerah ketika pada masa jayanya. Hal ini tidak lepas dari peran para sejarawan di daerah tersebut sebagai agen yang membangunkan kesadaran Masyarakat. Berkaitan dengan Sejarah lokal yang sifatnya mengembangkan kecintaan terhadap daerah muncullah “Sejarah lokal edukatif inspiratif”.
1 Sartono Kartodirdjo. Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia: Suatu Alternatif.1983.Gramedia: Jakarta.hlm.35
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Sejarah Lokal Edukatif-Inspiratif
Dalam pengembangan sejarah lokal terdapat bermacam-macam tipe sejarah lokal yang dilihat dari tujuan penulisan sejarah lokal, latar belakang pendidikan penyusunnya, sifat-sifat pendekatan metodologis khusus yang digunakan dan aspek-aspek kehidupan yang dijadikan sasaran utama studi sejarah lokal.3 Tipe-tipe sejarah lokal itu saling bersinggungan namun tetap memiliki penekanan dalam setiap tipe. Hal ini berguna untuk membedakan dari sejarah lokal dan memperkaya berbagai jenis sejarah lokal.
Salah satu tipe yang akan kami bahas ialah tipe Sejarah lokal edukatif-inspiratif.
Sejarah lokal edukatif-inspiratif adalah salah satu tipe sejarah lokal yang disusun dalam rangka mengembangkan kecintaan sejarah, terutama sejarah lingkungannya yang kemudian menjadi pangkal bagi timbulnya kesadaran sejarah dalam artian yang luas.4 Kata edukatif pada tipe sejarah ini berarti menyadari akan makna dari sejarah sebagai gambaran peristiwa masa lampau yang penuh arti. Kita dapat mengambil ide-ide ataupun konsep-konsep kreatif sebagai motivasi pemecahan masalah yang ada pada masa kini dan juga agar dapat merealisasikan harapan pada masa mendatang. Pada kata inspiratif lebih ditekankan “daya gugah” atau semangat yang ditimbulkan oleh usaha mempelajari sejarah tersebut.5
Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa tiap tipe sejarah lokal saling bersinggungan, begitu pun pada tipe sejarah edukatif-inspiratif ini yang salah satu cirinya menyinggung peranan para sejarawan diletantis, yakni usaha menumbuhkan kesadaran sejarah di masyarakat lingkungannya. Namun, perbedaan terlihat dari tujuan penyusunannya dimana sejarah lokal diletantis merupakan usaha untuk memenuhi kesenangan pribadi. Sedangkan penyusunan sejarah lokal edukatif-inspiratif dari awal adalah untuk memberikan edukasi serta inspirasi.
Oleh karena tujuan dari sejarah lokal edukatif-inspiratif seperti yang dipaparkan di atas, maka pihak yang biasanya sangat berkepentingan dengan tipe sejarah lokal ini ialah lembaga-lembaga pendidikan atau badan pemerintah daerah yang memandang hal ini adalah sebagai bagian dari upaya untuk pembangunan mental masyarakatnya bahkan sekaligus mendukung pembangunan fisik suatu daerah apabila pembangunan mental berhasil dilaksanakan karena
3 I Gde Widja. Sejarah Lokal Suatu Perspektif dalam Pengajaran Sejarah.Depdikbud DIKTI PPLPTK. 1989. hlm.39 4 Ibid. hlm.44
dengan adanya kebanggaan serta harga diri kolektif akan memudahkan pihak pemerintah setempat memotivasi masyarakat setempat untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan fisik.6
Adanya proyek penulisan “sejarah daerah” berdasarkan “pesanan” seperti dalam tipe sejarah lokal edukatif-inspiratif ini lebih didorong oleh rasa nasionalisme yang sangat baik pula untuk pendidikan generasi muda dan juga sering didukung oleh keinginan memperlihatkan partisipasi daerah dalam sejarah perjuangan tetapi tidak jarang kegiatan ini mengganggu perspektif sejarah dalam kajian sejarah secara akademisnya.7 Hal ini terjadi karena tujuan utama dari tipe sejarah lokal ini bukan semata-mata untuk suatu kajian ilmiah serta kebanyakan yang melakukannya adalah kelompok sejarawan non-profesional, diantaranya guru-guru atau unsur-unsur anggota masyarakat setempat yang dianggap punya minat besar dalam sejarah.8
Berikut contoh-contoh buku sebagai sejarah lokal edukatif-inspiratif :
B. Rengasdengklok dalam Revolusi dan Peristiwa 16 Agustus 1945 Sebagai Sejarah Lokal Edukatif Inspiratif
Dalam buku Rengasdengklok Revolusi dan Peristiwa dijelaskan sejarah local dengan kaidah-kaidah sejarah lisan9, yaitu dengan metode wawancara terhadap narasumber yang mengalami kejadian peristiwa sejarah pada 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok.Seperti yang dijelaskan dalam definisi tentang sejarah local Edukatif Inspiratif buku tentang pernyataan kemerdekaan yang dilakukan di Rengasdengklok, Karawang menjadi salah satu contoh buku yang dapat menggugah kesadaran sejarah dan kebanggaan warga Rengasdengklok karena di tempat itu terdapat peristiwa peryataan kemerdekaan olehSoncho (camat) Rengasdengklok Soejono Hadipranoto yang juga menjadi narasumber utama pada bab keempat10 . Dalam peristiwa tersebut yang terjadi pada pukul 06.30 pagi Soejono Hadipranoto didatangi oleh pemuda yakni Soekarni dan dua orang yang berseragam militer PETA, Dokter Soejipto dan Singgih yang menginstruksikan langsung kepada Soejono Hadipranoto untuk melangsungkan
6 Ibid.hlm.46
7 Taufik Abdullah. Sejarah Lokal di Indonesia : Kumpulan Tulisan.Gadjah Mada University Press.1990. hlm. 33 8 Loc.cit
9M. Frisch, AShared Authority; Essays on the Craft and Meaning of Oral and Public History, Albany,dalam artikel pusat penelitian regional LIPI oleh Erwiza Erman.artinya bagaimana orang mengartikan masa lalunya, bagaimana mereka menghubungkan pengalaman individu dan konteks sosialnya, bagaimana masa lalu menjadi bagian dari masa kini, dan bagaimana orang menggunakan sumber-sumber lisan untuk menginterpretasikan kehidupan mereka dan dunia yang mengitarinya.
10
pengumuman kemerdekaan di daerah Rengasdengklok11, padahalaman selanjutnya diceritakan tentang jalannya upacara, dimana Soejono Hadipranoto dan para pejabat daerah lainnya telah berhasil mengumpulkan masyarakat untuk melaksanankan upacara bendera, dengan penuh kebingungan Soejono Hadipranoto memimpin jalannya upacara, setelah dikibarkannya bendera merah putih oleh anggota Seinendan, Soejono Hadipranoto menyampaikan pidato yang berisi penegasan tentang kemerdekaan Indonesia, dan mengajak seluruh masyarakat yang mengikuti upacara untuk menolak penyerahan Indonesia dari NIPPON terhadap pasukan sekutu, adapun beberapa Pidato Soejono Hadipranoto saat memimpin upacara,
“Saudara-saudara perhatian-perhatian”. “Bendera Hinomaru telah diturunkan”
“Seinendan yang telah ditunjuk mulai menurunkan bendera Nippon”. “Kibarkan sang merah putih”12.
Sebagai peringatan pemerintah juga menjadikan beberapa bangunan sebagai kantor pemerintahan hingga sekarang, seperti kantor kecamatan Kecamatan Rengasdengklok yang dulu digunakan sebagai tempat upacara. Peristiwa sejarah ini menjadikan wilayah Rengasdengklok memiliki arti penting sebagai lokalitas yang menjadi tempat berlangsungnya upacara pernyataan kemerdekaan pertama di Indonesia. Mengapa peristiwa ini menjadi sangat penting karena disana juga dihadiri Soekarno dan Hatta yang saat itu dianggap menjadi pemimpin revolusi Indonesia.13
C. Sejarah Lokal Edukatif Inspiratif dalam Buku “Sejarah Perjuangan Kemerdekaan RI di Bangka Belitung”
Pada buku ini menjelaskan tentang perjuangan rakyat di daerah Bangka Belitung yang merupakan daerah penghasil timah, perjuangan tersebut terjadi pada zaman kolonial Belanda yang berperang membela kemerdekaan Indonesia. Sejak Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia bangkit untuk mempertahankan kemerdekaannya. Rakyat Bangka pun tidak mau ketinggalan, mereka membentuk organisasi dan barisan-barisan seperti K.N.I, A.P.I, T.K.R dan lain-lain, rakyat pun turut serta secara langsung dalam perjuangan tersebut. Pada 11 Februari 1946 Belanda yang membonceng NICA mendarat di daerah Mentok. Awalnya tentara sekutu yang datang tersebut tidak mendapat perlawanan, namun
setelah Belanda mengibarkan bendera merah-putih-Biru, rakyat baru menyadari bahwa itu bukanlah sekutu14. Selama Rakyat Bangka berjuang melawan penjajah Belanda sejak tanggal 12 Februari 1946 B.K.R, K.N.I, A.P.I, T.K.R, dan rakyat saling bahu membahu berjuang melawan Belanda. Ketika Tentara Belanda menguasai Pangkal Pinang, Tentara Indonesia mundur guna menghimpun kekuatan baru. Tentara yang berada diluar kota melakukan perlawanan kepada NICA dengan taktik perang gerilya terhadap Belanda dengan dibantu oleh rakyat yang ikut bergerilya15. Pemerintah, tentara dan rakyat tidak mau menyerah begitu saja terhadap Belanda meskipun mereka terpencar-pencar tapi serangan-serangan terhadap tentara NICA tetap dilancarkan di daerah-daerah.
Dari segi sejarah lokal edukatif inspiratif buku ini menunjukkan gigihnya perjuangan para pejuang Bangka yang tergabung dalam organisasi-organisasi (B.K.R, T.KR, A.P.I dan lain-lain) bersama rakyat saling bahu-membahu mempertaruhkan jiwa raganya untuk melawan penjajah. Rakyat Bangka merasa lebih baik mati daripada menyerah begitu saja. Mereka tidak mengharapkan imbalan jasa atas perjuangan mereka, mereka hanya ingin lepas dari rasa cemas dan takut karena selalu mendapat ancaman dari Belanda. Selain itu buku ini menimbulkan rasa bangga bagi daerah Bangka dikarenakan Bangka tidaklah hanya dikenal sebagai tambang timah dan penduduknya yang merupakan penambang namun menunjukkan bahwa rakyat Bangka juga ikut andil dalam perjuangan membela kemerdekaan.
D. Sejarah Lokal Edukatif-Inspiratif dalam Buku “Sumatera Barat : Plakat Panjang”
Bulan Januari 1833, Pemerintahan Hindia-Belanda dikejutkan oleh pemberontakan serentak kaum Padri di Sumatra Barat. Dengan kejadian tersebut ternyata bahwa tentara penjajah hanya berhasil mengungguli pertempuran. Tujuan utama Gubernur Jendral Van den Bosch tetap tidak percapai, yakni menguras kekayaan alam Sumatra Barat. Pada tanggal 2 Oktober 1883, diumumkan tindakan-tindakan mengambil hati rakyat, yang dinamakan “Plakat Panjang" berisi sebuah pernyataan bahwa kedatangan Belanda ke Minangkabau tidaklah bermaksud untuk menguasai negeri tersebut, mereka hanya datang untuk berdagang dan menjaga keamanan, penduduk Minangkabau akan tetap diperintah oleh para penghulu (sebutan bagi seorang pemimpin di kawasan Melayu) mereka dan tidak pula diharuskan
14Abdullah, Husnial Husin. Sejarah Perjuangan Kemerdekaan RI Di Bangka Belitung. (Jakarta: P.T Karya Unipress 1983) hlm. 116
membayar pajak. Kemudian Belanda berdalih bahwa untuk menjaga keamanan, membuat jalan, membuka sekolah, dan sebagainya memerlukan biaya, maka penduduk diwajibkan menanam kopi dan mesti menjualnya kepada Belanda. Plakat Panjang yang diumumkan oleh Komisaris Pemerintah (Van Sevenhoven dan Jendral Mayor Riesz) atas nama Komisaris Jendral Van den Bosch itu ternyata malah ‘menjebak rakyat’. Banyak yang percaya akan janji manis pemerintah jajahan. Setelah empat tahun dari dikeluarkannya Plakat Panjang, Belanda berhasil menundukkan Bonjol (1887). Dengan jatuhnya Bonjol ke tangan Belanda, mulailah Belanda secara sistematis melanggar semua pasal Plakat Panjang. Keingkaran janji dari Belanda inilah yang kemudian membawa rakyat Minangkabau ke zaman duka nestapa. Sebuah kutipan dari harian Belanda yang terbit di Padang pada awal abad 20, Plakat Panjang adalah dokumen negara yang pintar tiada tara untuk menaklukan sebuah bangsa yang belum takluk. Sampai hari ini, fakta tersebut seperti tergores di hati sanubari bangsa Melayu.
Disamping masalah Plakat Panjang yang mulai terlihat adanya penyelewengan, ada salah satu isi Plakat yang akan dibahas, yaitu Pendidikan di Sumatra Barat. Pemerintah Hindia Belanda sendiri pada umumnya sejak semula telah memperhatikan soal pendidikan. Tetapi hanya untuk anak-anak Eropa satau atau yang berdarah Eropa., umumnya anak-anak pegawai mereka. Sekolah dasar pertama disebut “lembaga pendidikan pemerintah untuk anak-anak berdarah Eropa” pada tahun 1870. Tujuan pendidikan ialah untuk menghasilkan juru tulis bagi kantor pemerintahan, dagang atau kantor swata lainnya. Usaha merintis pendidikan Barat bagi anak-anak pribumi di Padangsche bovelanden, diadakan ketika Steinmetz menjadi residen. Namun, dengan adanya pendidikan pada abad 19 di Sumatra Barat malah menimbulkan kecemburuan sosial orang pribumi terhadap anak keturunan Eropa yang tinggal di Sumatra Barat.
No. 93, 95 dan 96. Perpem No. 93 menetapkan pajak sebesar 2% terhadap semua penduduk di Sumatra Barat yang disebut “pajak pencarian”. Perpem No. 94 tentang pemungutan pajak sebesar 3 gulden setahun untuk potong hewan (sapi, kerbau dan kuda), babi dikenakan pajak 1½ gulden. Sedangkan Perpem No. 96, mulai tanggal 1 Maret 1908 penyerahan wajib kopi pada pemerintah dihapuskan dan juga penghapusan budidaya kopi. Singkatnya, peraturan pajak dipaksakan juga. Kurang dari sebulan kemudian, darah mengalir. Hampir di seluruh Sumatra Barat secara serempak rakyat berontak. Dengan demikian maka Plakat Panjang betul-betul telah berakhir.
Dengan uraian diatas, yang dapat kita ketahui antara lain cara licik Belanda ketika berada dalam keadaan sulit atas kejadian Perang Padri, dengan dikeluarkannya janji-janji manis palsu yang disebut dengan Plakat Panjang.Ddapat kita ketahui pula ternyata rakyat Sumatra Barat jelas-jelas telak tertipu oleh Plakat tersebut dan membawa daerah Bonjol, tunduk oleh Belanda. Sisi lain yang dapat kita pelajari bahwa ternyata di dalam sejarah Sumatra Barat, ternyata daerah Sumatra Barat memiliki potensi kekayaan alam yang melimpah, terbukti dengan adanya dokumen-dokumen yang menceritakan tentang budidaya kopi yang dapat menjadi pendapatan utama bagi penjajah. Selain itu, sumber daya manusia di daerah Sumatra Barat pada masa itu (sejak abad 19) bisa dikatakan maju dan terdidik. Dibuktikan dengan adanya lembaga-lembaga pendidikan, meskipun hanya bagi kaum elit.
Yang dapat dijadikan inspirasi bagi kita yang telah membaca buku Sumatra Barat: Plakat Panjang adalah bagaimana perjuangan rakyat Sumatra Barat dalam melawan ketidakadilan kebijakan. Selain itu, kisah inspiratif tentang pendidikan di Sumatra Barat pada abad 29, yang awalanya hanya untuk kaum elit dan pada akhirnya rakyat pribumi bisa merasakan pendidikan, dapat kita jadikan acuan semangat untuk harus sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, agar pendidikan yang telah kita dapatkan nantinya bisa ditransfer ke generasi selanjutnya dan bisa menimbulkan kesadaran untuk lebih memajukan pendidikan bangsa kita dengan mengetahui sejarahnya.
kebutuhan hidup mereka. Seorang pria dan seorang anak laki-laki bekerja dengan santai selama setengah hari dapat menebang pohon sagu bermutu dan mengolahnya menjadi bubur untuk makanan mereka. Pemberian alam yang unggul dan unik kepada pulau Ternate dan Tidore adalah pohon cengkeh yang menyelimuti lereng-lereng gunung-gunung berapi di pulau itu.16
Pada masa pemerintahan Bajang Ullah di kepulauan Maluku, muncullah orang Eropa pertama ke kawasan itu bernama Ludovico de Varthema. Petualang ini menulis tentang Pulau Banda sebagai sumber buah Pala. Saat Varthema mendarat di Pulau Banda tanahnya tidak menghasilkan apa-apa kecuali buah pala; batang pohonnya seperti pohon Peach. Buah pala ini dijual menurut beratnya dan 26 pon dijual dengan harga senilai 3 Souse. Setelah mengenal kekayaan pulau ini, dari Varthema banyak petualang Eropa yang ingin mencari pulau rempah-rempah itu. Diantaranya Antonio d’Abreu dan Ferdinand Magellan. Setelah kedatangan mereka datanglah bangsa-bangsa Portugis dan Spanyol yang akhirnya menguasai wilayah pulau Ternate dan Tidore.17 Setelah memudarnya kekuasaan Spanyoldi Ternate dan Tidore, masuklah kekuasaan Belanda yang dipimpin VOC.18 Yang mengeksploitasi kekayaan alam Ternate dan Tidore yang akhirnya menimbulkan kesengsaraan rakyat Ternate dan Tidore akibat adanya tanam paksa.
Hingga terjadi kekacauan dalam tubuh VOC pada awal tahun 1970-an dan kerajaan Belanda yang dikuasai Napoleon. Akibat hal ini Inggris turut ikut campur. Dimana Inggris memutuskan untuk mengambil alih beberapa tempat strategis dari Belanda. Agar Perancis tidak menguasai jajahan Belanda di Hindia sebagai basis operasi. Yang akhirnya Ternate dan Tidore sempat dikuasai juga oleh Inggris.19 Hingga pada tanggal 3 Agustus 1814, sesudah jatuhnya Napoleon, Inggris menyetujui untuk mengembalikan wilayah Belanda yang mereka rebut.20
Kesimpulannya, dalam buku ini penulis ingin menunjukkan bahwa terdapat rasa kebanggaan terhadap lingkungannya dimana wilayah pulau Ternate dan Tidore ini memiliki sangat banyak kekayaan alam yang dianggap sebagian orang sebagai anugerah. Namun, dibalik anugerah yang terdapat di pulau ini memicu penderitaan para masyarakat Ternate dan Tidore akibat adanya tanam paksa yang diberlakukan pemerintahan Belanda. Dalam
16Hanna, Willard A., ed., Ternate dan Tidore Masa Lalu Penuh Gejolak, Jakarta, 1996, hlm. 2 17 Ibid. hlm. 5-6
Biografinya Des Alwi mengatakan bahwa kepentingan utamanya adalah kesejahteraan rakyat Banda dan meningkatkan ekonomi pulau kelahirannya.21 Dimana dalam buku ini ia ingin menyampaikan bagaimana keadaan rakyat Ternate dan Tidore pada masa kependudukan Belanda yang sangat berbeda dari masa sekarang ini sehingga membuat para pembaca ingat akan perjuangan pahlawan Ternate dan Tidore pada masa lalu.
Daftar Pustaka
Abdullah, Husnial Husin. Sejarah Perjuangan Kemerdekaan RI di Bangka Belitung. PT Karya Unipress : Jakarta.1983.
Abdullah, Taufik. Sejarah Lokal di Indonesia : Kumpulan Tulisan. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta. 1990.
Amran, Rusli. Sumatera Barat : Plakat Panjang. Sinar Harapan : Jakarta. 1981.
Erman, Erwiza. Artikel Pusat Penelitian Regional LIPI : Jakarta. 2004.
Hanna, Willard.A,ed. Ternate dan Tidore Masa Lalu Penuh Gejolak. Pustaka Sinar Harapan: Jakarta.1996.
Kartodirdjo, Sartono. Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia Suatu Alternatif. Gramedia : Jakarta. 1983.
Lapian, A.B. Memperluas Cakrawala melalui Sejarah Lokal. LP3ES : Jakarta. 1980.
Suganda, Her. Rengasdengklok : Revolusi dalam Peristiwa 16 Agustus 1945. Kompas : Jakarta.2009.