• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tabel 3 Kenaikan muka laut Kota Semarang berdasarkan data citra satelit.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Tabel 3 Kenaikan muka laut Kota Semarang berdasarkan data citra satelit."

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

dianggap nol. Sehingga biaya proteksi pantai dapat diketahui dari biaya kehilangan lahan basah dan biaya kehilangan lahan kering. Lahan basah merupakan lahan yang tergenang sepanjang tahun, dalam hal ini rawa digolongkan sebagai lahan basah. Sedangkan lahan kering merupakan lahan yang dapat digunakan untuk melakukan kegiatan ekonomi.

Wilayah pemukiman dan sawah digolongkan sebagai lahan kering.

3. 3.5 Jumlah Pengungsi

Besarnya jumlah pengungsi diperkirakan dari luas wilayah pemukiman yang tergenang dan kepadatan penduduk pada wilayah tersebut.

Data kepadatan penduduk diperoleh dari BPS 2009 dan dengan asumsi tidak ada peningkatan jumlah penduduk selama terjadi bencana. Maka jumlah pengungsi dapat diketahui dengan menggunakan persamaan:

𝑝𝑒𝑛𝑔𝑢𝑛𝑔𝑠𝑖 = 𝑙𝑢𝑎𝑠 ∗ 𝑝𝑒𝑛𝑑 𝑘𝑚2. . . (9) Besarnya jumlah pengungsi dapat digunakan untuk menentukan tahapan mitigasi dan jenis adaptasi yang harus dilakukan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Prediksi Kenaikan Muka Air Laut Kenaikan muka air laut terjadi akibat mencairnya es di kutub sebagai dampak dari naiknya suhu global. Tren meningkatnya muka air laut sejalan dengan tren meningkatnya suhu bumi. Pengukuran terhadap peningkatan muka air laut telah dilakukan sejak abad ke-18 dengan memanfaatkan data pasang surut. Pada saat ini pengukuran dilakukan dengan menggunakan citra satelit diantaranya yaitu Topex/ Posseidon, Jason1, dan Jason2. Selain itu, Envisat, ERS1 dan ERS2 juga digunakan untuk menghitung kenaikan muka air laut di wilayah lintang tinggi.

Keempat satelit tersebut telah mengalami koreksi data terhadap berbagai pengaruh global.

Laju Kenaikan muka air laut diprediksi dengan menggunakan data citra satelit altimetri.

Dari data citra tersebut dilakukan croping pada wilayah semarang. Data-data tersebut kemudian diambil rataan wilayahnya. Dari rataan tersebut diperoleh empat laju kenaikan muka air laut untuk wilayah laut jawa.

Tabel 3 Kenaikan muka laut Kota Semarang berdasarkan data citra satelit.

Satelit Laju Kenaikan Muka air laut (mm/tahun)

Jason 1 9,86

Jason 2 6,333

Topex 6,835

Merged 4,452

Dari keempat citra diperoleh bahwa laju kenaikan muka air laut dari Citra Jason1 merupakan yang tertinggi yaitu sebesar 9,86 mm/ tahun, sedangkan pada citra merged merupakan yang terendah dengan laju kenaikan muka air laut adalah 4,452 mm/tahun. Dari keempat laju tersebut kemudian diperoleh laju rataan yaitu sebesar 6,87 mm / tahun.

Berdasarakan Prediksi yang diperoleh laut jawa memiliki laju kenaikan muka air laut sebesar 0,69 m per 100 tahun atau 0,006 m per tahun, dengan menggunakan asumsi bahwa keniakan muka air laut bersifat statis setiap tahun maka kenaikan muka laut untuk wilayah semarang diktahui 0,35 m untuk tahun 2050 dan 0,69 m untuk tahun 2100.

Tabel 4 Kenaikan muka laut Kota Semarang per 50 tahun

Tahun Kenaikan Muka air laut (m)

2000 0

2050 0,35

2100 0,69

Hasil tersebut berbeda dengan hasil prediksi yang dilakukan oleh BAPPENAS (2010) yaitu sekitar 1 m/abad atau 1 cm/tahun. Hal tersebut dikarenakan data prediksi yang dihasilkan merupakan data hasil dari olahan model, satelit altimetri, dan data pasang surut. Data pasang surut tertinggi bulanan berdasarkan hasil pemodelan OTIS (Ocean Tidal Inverse Solution).

Kenaikan muka laut di Kota Semarang tidak hanya disebabkan oleh naiknya muka air laut, tetapi juga akibat turunnya muka tanah akibat kompaksi lahan. Asumsi yang digunakan untuk menentukan kenaikan muka air laut dalam penelitian ini adalah bahwa kenaikan muka air laut hanya berasal dari laut. Faktor-faktor lain yang memperngaruhi seperti El Nino dan La Nina, serta kompaksi lahan tidak dimasukkan ke

(2)

dalam perhitungan. Hal tersebut dikarenakan penurunan muka tanah di Kota Semarang sangat bervariasi pada setiap wilayah.

4.2 Peta Wilayah Genangan

Peta wilayah genangan diprediksi dengan menggunakan perangkat lunak khusus.

Perangkat lunak tersebut dibuat dengan memanfaatkan Macro VBA Excel. Perangkat lunak akan menghitung panjang garis pantai, kemiringan pantai, dan luas wilayah genangan.

Perangkat lunak dibuat dengan menggunakan algoritma empat titik. Algoritma tersebut dipilih guna menghindari kesalahan akibat adanya wilayah cekungan yang terdapat di wilayah pantai.

Hasil prediksi kenaikan muka air laut dari satelit altimetri dijadikan sebagai input perangkat lunak khusus. Dari hasil olah data menggunakan perangkat lunak diperoleh peta wilayah genangan. Peta keluaran model berupa peta DEM ASCII dengan nilai 0, 1 dan 2.

Angka–angka tersebut mewakili lautan, daerah yang tergenang dan daratan. Peta hasil keluaran Arc view membedakan jenis wilayah berdasarkan warna. Wilayah yang berwarna biru merupakan wilayah laut, wilayah yang berwarna biru muda merupakan wilayah yang tergenang, sedangkan wilayah yang berwarna hijau merupakan wilayah dartan.

Gambar 15 Peta DEM ASCII pada sebagian wilayah kajian saat kenaikan muka air laut 0,35 m

Gambar 16 Peta DEM ASCII pada sebagian wilayah kajian saat kenaikan muka laut 0,69 m

Terdapat tiga pola genangan yang mungkin terjadi akibat kenaikan muka air laut. Ketiga pola tersebut mewakili jenis topografi yang berbeda. Pola genangan A adalah genangan yang langsung menggenangi wilayah yang lebih renadah dari kenaikan muka air laut dan tidak terahalang topografi. Pada wilayah pantai umumnya mempunyai pola genangan A, sedangkan pada wilayah yang memliki topografi lebih tinggi di bibir pantai umunya mengalami pola genangan B. Pola genangan B adalah air laut yang masuk melalui celah-celah topografi.

Pola genangan C terjadi pada wilayah yang dilalui oleh anak sungai. Berdasarkan hasil pengolahan terlihat ada 2 pola genangan yang terjadi. Kedua pola tersebut ada lah pola A dan pola B. Pola A terjadi hampir di seluruh wilayah pantai utara Kota Semarang. Pola B terjadi hanya terjadi di beberapa titik di Kecamatan Genuk.

Tabel 5. Pola Genangan

Pola Keterangan

A

Air laut menggenangi wilayah yang lebih rendah dari kenaikan muka air laut dan tidak terhalang topografi B Air laut masuk melalui celah

topografi

C Air laut masuk melalui anak sungai 4. 2.1 Luas Wilayah Genangan

Dari hasil pengolahan data diperoleh luas wilayah genangan dengan luas yang terbesar terjadi pada kenaikan 0,35 dan 0,69 meter wilayah yang tergenang hampir sama yaitu 1,828 km2 dan 1,862 km2. Luas wilayah ini akan berpengaruh terhadap kerugian ekonomi dan jumlah pengungsi. Apabila semakin luas wilayah yang tergenang maka akan semakin

(3)

besar kerugian ekonomi dan akan semakin banyak jumlah pengungsi. Luas wilayah genangan akan semakin luas apabila penurunan muka tanah dihitung.

Tabel 6 Luas daratan yang tergenang akibat kenaikan muka laut

Tahun Luas Daratan Yang Hilang (km2)

2050 1,828

2100 1,862

Wilayah genangan di Kota Semarang didoaminasi oleh pola genangan A. Pola ini mengakibatkan adanya abrasi di sepanjang garis pantai Kota Semarang. Pola ini juga mengakibatkan pergeseran wilayah pantai. Hal tersebut mengakibatkan luas daratan menjadi menyusut.

4. 2.2 Kemiringan Pantai

Kemiringan suatu pantai akan berpengaruh terhadap penggunaan lahan tersebut. Semakin landai lahan maka akan semakin banyak dimanfaatkan sebagai lahan untuk pemukiman dan industri. Karena pembangunan infrastruktur dan transportasi menjadi lebih mudah.

Berdasarkan hasil pengolahan data, diketahui bahwa kemiringan pantai di kota semarang adalah sebesar 0,52%. Berdasarkan klasifikasi kemiringan lahan, nilai 0,52% masuk ke dalam kelas satu dan memiliki kemiringan yang datar.

4. 2.3 Panjang Garis Pantai

Pantai merupakan wilayah daratan yang berbatasan dengan laut. Garis pantai merupakan adalah batas pertemuan laut dan daratan yang posisinya tidak tetap dan dapat berpindah sesuai dengan pasang surut dan erosi atau akreasi pantai yang terjadi.

Terjadinya wilayah genangan akibat kenaikan muka air laut menyebabkan perubahan posisi dan panjang garis pantai. Terjadi perubahan panjang garis pantai yang semula 47,61 km menjadi lebih panjang. Pada saat kenaikan muka air laut 0,35 m panjang garis pantai bertambah menjadi 50,46 km dan pada saat kenaikan muka air laut sebesar 0,69 m panjang garis pantai bertambah menjadi 50.7 km.

Kenaikan muka air laut seharusnya mengakibatkan panjang garis pantai akan

berkurang. Karena panjang garis pantai diukur mengelilingi seluruh pantai yang merupakan daerah teritorial suatu negara. Sehingga, bila luas daratan menyusut maka keliling pantai akan berkurang. Namun dalam penelitian ini akibat kenaikan muka air laut panjang garis pantai menjadi bertambah panjang. Hal tersebut dikarenakan air laut masuk melalui celah daratan yang ada di pantai, sehingga membuat air akan membentuk wilayah seperti sebuah danau yang mengakibatkan panjang garis pantai bertambah panjang. Asumsi yang digunakan dalam menentukan panjang garis pantai adalah bahwa setiap wilayah daratan bertemu dengan lautan dan genangan air laut merupakan wilayah pantai.

Tabel 7 Perubahan panjang garis pantai Tahun Panjang Garis pantai

Sesudah KML (km)

2050 50. 46

2100 50. 7

Perubahan garis pantai tidak hanya ditandai dengan pertambahan panjang garis pantai.

Perubahan lain yang terlihat adalah pergeseran garis pantai sepanjang 60 m ke arah daratan.

Hampir seluruh garis pantai Kota Semarang bergeser ke arah daratan. Pergeseran ini terjadi karena genangan menggenang dengan pola A.

4. 3 Peta Penggunaan Lahan

Kerugian ekonomi untuk setiap penggunaan lahan akan berbeda nilainya. Besarnya nilai investasi dan produktivitas yang dihasilkan suatu lahan akan sangat mempengaruhi besarnya kerugian ekonomi. Selain itu besarnya nilai ekonomi lahan juga akan bergantung dari rente yang dihasilkan lahan.

Peta penggunaan lahan yang digunakan dalam penelitian ini merupakan Peta Penggunaan Lahan Pulau Jawa tahun 2001 dan Peta Rencana Penggunaan Lahan Kota Semarang tahun 2030. Peta tersebut kemudian di overlay dengan peta wilayah genangan, sehingga diperoleh polygon penggunaan lahan untuk setiap wilayah genangan.

Dari hasil pengolahan peta penggunaan lahan diperoleh persentase perbandingan penggunaan lahan pada wilayah genangan adalah sebagai berikut.

(4)

Gambar 17 Diagram penggunaan wilayah pada

lahan yang tergenang tahun 2050

Gambar 18 Diagram penggunaan wilayah pada lahan yang tergenang pada tahun 2100

Berdasarkan peta penggunaan lahan tahun 2002 dan 2030 terlihat bahwa wilayah yang tergenang adalah wilayah rawa kemudian persawahan dan pemukiman. Wilayah rawa merupakan wilayah yang dimanfaatkan oleh warga sebagai tambak.

Perubahan penggunaan lahan pada tahun 2030 tidak membawa pengaruh yang signifikan pada penggunaan lahan pada wilayah pantai.

Wilayah pesisir masih di dominasi wilayah rawa yang digunakan untuk tambak. Sedangkan pemukiman dan lahan kering lainnya hanya mengalami sedikit perubahan. Perubahan penggunaan lahan akan membawa dampak pada perubahan nilai ekonomi pada lahan.

4. 4 Estimasi Kerugian Ekonomi

Kerugian ekonomi dari lahan dihitung berdasarkan jenis lahan yang tergenang dan peruntukannya. Menurut Sugiyama 2007, jenis

lahan yang hilang akibat kenaikan muka air laut terbagi atas dua yaitu lahan basah dan lahan kering. Lahan basah merupakan lahan yang tanahnya jenuh dengan air baik secara musiman maupun permanen. Yang digolongkan lahan basah antara lain adalah rawa, bakau, dan gambut. Lahan basah merupakan wilayah yang memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi. Oleh karena itu akan sangat merugi bila wilayah ini tergenang oleh air laut. Kerugian ekonomi lahan basah ini dihitung menggunakan persamaan Toll yang terdapat dalam Sugiyama (2007). Dari hasil perhitungan diketahui bahwa nilai kerugian dari lahan rawa untuk setiap hektranya adalah 5.431 US$ atau setara dengan 51 juta rupiah.

Lahan yang kedua adalah lahan kering.

Definisi yang diberikan oleh Soil Survey Staffs (1998) dalam Haryati (2002), lahan kering adalah hamparan lahan yang tidak pernah tergenang atau digenangi air selama periode sebagian besar waktu dalam setahun. Dari pengertian diatas, maka wilayah persawahan digolongkan menjadi lahan kering. Nilai kerugian ekonomi lahan sawah dihitung berdasarkanEconomicOutput per Segmen Area.

Dimana setiap segmen akan mewakili satu hektar sawah. Nilai output sawah untuk setiap wilayah akan berbeda-beda bergantung pada produktivitas lahan dan nilai investasi yang digunkan oleh petani. Nilai output sawah dicari berdasarkan nilai pengganda output (output multiplier). Nilai pengganda output tanaman padi untuk wilayah Semarang berdasarkan data BPS (2001) yang terdapat dalam Ahmad et al (2007) adalah sebesar 1,263. Dari hasil perhitungan dengan nilai penggada output dikethui bahwa nilai kerugian pada lahan sawah adalah sekitar 30 juta rupiah per hektar.

Kerugian ini berasal dari investasi dan keuntunganyang tidak jadi diperoleh para petani karena lahannya terendam banjir pada setiap kali tanam. Lahan yang terendam nilainya tidak dihitung karena hak kepemilikannnya tidak berubah dan masih dapat dimanfaatkan untuk tambak ikan atau kegiatan ekonomi lainnya sebagai kegiatan pengganti.

Wilayah pemukiman merupakan wilayah yang memiliki perhitungan nilai ekonomi tersendiri. Hal ini disebabkan karena lahan pemukiman diasumsikan sebagai lahan yang tidak produktif atau tidak menghasilkan rente ekonomi bagi pemiliknya. Maka kerugian ekonomi wilayah ini dihitung berdasarkan nilai 20%

10%

70%

rawa rumah sawah

19%

11%

70%

rawa rumah sawah

(5)

investasi yang dikeluarkan oleh pemilik lahan.

Asumsi yang digunakan adalah rumah yang tergenang di wilayah tersebut merupakan rumah semi permanen. Menurut Ali (2010), untuk membuat sebuah bangunan semi permanen di wilayah Semarang dibutuhkan investasi sebesar 20 juta rupiah.

Tabel 8 Nilai ekonomi berdasarkan penggunaan lahan pada tahun 2050

Jenis Luas ( ha) Nilai ekonomi Rawa 35.05 Rp 1,808,834,448 Rumah 19.13 Rp 950,660,143 Sawah 128.02 Rp 3,925,722,984 Tabel 9 Nilai ekonomi berdasarkan penggunaan

lahan pada tahun 2100

Jenis Luas ( ha) Nilai ekonomi Rawa 37.22 Rp 1,920,521,954 Rumah 19.71 Rp 979,400,332 Sawah 129.84 Rp 3,981,342,405 Dari hasil perhitungan diperoleh bahwa peningkatan kerugian ekonomi sejalan dengan peningkatan luas wilayah genangan. Selain itu, diketahui pula bahwa kerugian ekonomi dari lahan pemukiman memiliki nilai yang terkecil dan yang terbesar bearsal dari lahan persawahan. Hal tersebut dikarenakan besarnya biaya investasi yang dikeluarkan oleh pemilik lahan dan tingkat produktivitas yang tinggi pada lahan persawahan.

4. 4. 1 Biaya Lingkungan

Biaya lingkungan merupakan total dari semua komponen biaya yang terjadi pada suatu sumberdaya akibat adanya perubahan lingkungan. Menurut Sugiyama (2007) komponen biaya yang terkait dalam peningkatan muka air laut adalah biaya kehilangan lahan basah, biaya kehilangan lahan kering, dan biaya proteksi pantai. Biaya lingkungan akan bernilai nol apabila besarnya biaya proteksi sama dengan total biaya kehilangan lahan basah dan lahan kering. Dengan demikian besarnya total kerugian ekonomi yang ditimbulkan akan sama besarnya dengan biaya yang dibutuhkan untuk membangun sistem perlindungan atau merehibilitasi pantai. Selain itu, biaya tersebut juga sama dengan biaya yang dikeluarkan untuk

perlidungan pada lahan basah dan hutan mangrove.

Tabel 10 Total kerugian ekonomi per tahun Tahun Total kerugian ekonomi

2050 Rp 6,713,957,766.00 2100 Rp 6,852,524,503.13 Pada tahun 2050 biaya lingkungan yang harus dikeluarkan oleh masyarakat pada tahun 2050 adalah sebesar 6,7 miliar rupiah atau setara dengan 36 juta rupiah setiap hektarnya. Jumlah tersebut hampir sama dengan kerugian pada tahun 2100.

Biaya tersebut lebih kecil dibandingkan biaya yang dikeluarkan melakukan perlindungan pantai. Biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun sebuah seawall adalah sekitar 300 juta rupiah per hektar. Biaya tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan biaya kerugian per hektar yang hanya 36 juta rupiah per hektar. Sementara biaya untuk melakukan reklamasi pantai jauh lebih mahal dibandingkan untuk membangun seawall. Pembuatan rumah panggung atau melakukan relokasi jauh lebih murah dibandingkan dengan pembuatan seawall atau reklamasi pantai. Namun dengan pembangunan seawall dan reklamasi pantai akan melindungi wilayah yang diprediksi tergenang.

Perlindungan terhadap wilayah-wilayah produktif akan mengurangi defisit dari pembangunan biaya perlindungan laut.

Seangkan dengan melakukan relokasi atau reklamasi kemungkinan akan menimbulkan masalah baru di wilayah sekitar pesisir.

4. 5 Jumlah Pengungsi

Kenaikan muka air laut tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomi. Masalah- masalah lain akan timbul seperti timbulnya wabah penyakit, menurunya kualitas air tanah, dan gejala-gejala sosial. Salah satu gejala sosial yang timbul adalah adanya pengungsi.

Pada saat peningkatan muka air laut 0,35 m pengunsi diperkirakan sebesar 124 jiwa dan pada kenaikan 0,69 m meningkat menjadi sebesar 145 jiwa. Peningkatan tersebut tidak bertambah signifikan karena pertambahaan lahan pemukiman yang tergenang lebih kecil.

(6)

Tabel 11 Proyeksi jumlah pengungsi akibat kenaikan muka laut

Tahun Kenaikan muka air laut (m)

Pengungsi (Jiwa)

2050 0,35 124

2100 0,69 145

Dengan mengetahui jumlah pengungsi maka pemerintah akan lebih mudah dalam melakukan penanganan bencana. Baik untuk menentukan adaptasi fisik maupun melakukan berbagai macam mitigasi maupun regulasi.

4. 5. 1 Adaptasi dan Mitigasi

Adaptasi dan mitigasi terhadap kenaikan muka air laut dapat dilakukan dengan berbagai cara. Adaptasi yang dilakukan berupa adaptasi fisik dan non-fisik. Jenis adaptasi yang dilakukan berbeda pada setiap tipe genangan yang terjadi.

Gambar 19 Wilayah yang tergenang dengan pola genangan A.

Pada wilayah yang memiliki pola genangan A maka lebih tepat dilakukan upaya relokasi, reklamasi atau rumah panggung. Upaya relokasi merupakan upaya pemindahan seluruh masyarakat yang ada di sekitar wilayah pesisir ke tempat yang lebih aman. Relokasi hanya akan menambah wilayah yang tidak terkena dampak kenaikan muka air laut mejadi lebih padat. Reklamasi merupakan upaya peninggian wilayah pantai agar lebih tinggi dari kenaikan muka air laut. Upaya ini lebih sering digunakan pada kota-kota besar yang terletak di wilayah pesisir. Cara ini cukup efektif untuk mengurangi resiko terjadinya wilayah genangan dan menambah luas wilayah daratan. Namun reklamasi banyak menuai kontroversi terkait isu lingkungan, selain itu diperlukan pula biaya yang besar. Cara yang terakhir yaitu rumah

panggung, cara ini banyak dilakukan di wilayah yang sering terkena banjir. Rumah panggung cukup efektif untuk melakukan adaptasi dan tidak memakan biaya yang tinggi.

Gambar 20 Adaptasi pemukiman di daerah pesisir (sumber: kobayashi, dalam wuryanti 2002)

Pada wilayah yang terkena pola genangan B, maka lebih tepat dilakukan upaya dengan pembuatan tanggul atau sea wall sebagai upaya fisik. Hal ini dikarenakan wilayah tersebut masih dapat diselamatkan dari banjir yang terjadi dengan membangun penahan pada celah yang menjadi pintu masuk air laut. Selain itu, penanaman kembali hutan bakau pada wilayah pantai akan sangat membantu dalam upaya adaptasi dan mitigasi kenaikan muka air laut.

Gambar 21 Wilayah yang tergenang dengan pola genangan B.

Gambar

Gambar  15  Peta  DEM  ASCII  pada  sebagian  wilayah  kajian  saat  kenaikan  muka  air laut 0,35 m
Gambar  19    Wilayah  yang  tergenang  dengan  pola genangan A.

Referensi

Dokumen terkait

Presentasi yang dilakukan oleh Jomblo.com dimulai dengan menghubungi beberapa stakeholders bahkan sering kali pihak Jomblo.com yang dihubungi oleh para

ketenagakerjaan, baik memberikan perlindungan hukum bagi para buruh maupun pemberian sanksi kepada perusahaan yang melanggar ketentuan- ketentuan yang berlaku. Sarana

Penghargaan layak kita berikan kepada para ne- layan Kuala Idi, Pemerintah Kecamatan Idi Rayeuk, pihak Angkatan Laut Sabang, dan Pemerintah Sabang yang telah mengedepankan

(2) Dekonstruksi cerita asal usul tari tradisional Minangkabau menjadi karya sastra berbasis kebudayaan lokal merupakan sebuah contoh pemanfaatan teori dekonstruksi untuk

Lokasi penelitian A merupakan daerah penelitian yang memiliki paling banyak jenis capung, yaitu lima jenis capung pada pagi dan empat jenis pada pengamatan sore, lokasi penelitian

Pada waktu sekolah (SD, SMP, dan SMA) penulis paling tidak suka dengan mata pelajaran matematika karena matematika dianggap sebagai symbol yang kita tidak tahu maknanya

Penelitian yang dilakukan Dinawan (2010), Rosvita (2010) dan Idris (2013) menunjukkan hasil bahwa secara positif citra merek dan kualitas produk berpengaruh terhadap

Remaja merupakan suatu masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Pada masa inilah terbentuk hubungan kematangan seksual dan psikososial yang ditandai oleh pubertas.