• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKNA AKSARA HANZI PADA TIANG DAN DINDING KLENTENG SEE HIN KIONG DI KOTA PADANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MAKNA AKSARA HANZI PADA TIANG DAN DINDING KLENTENG SEE HIN KIONG DI KOTA PADANG"

Copied!
113
0
0

Teks penuh

(1)

MAKNA AKSARA HANZI PADA TIANG DAN DINDING KLENTENG SEE HIN KIONG DI KOTA PADANG

巴东市西興宫的柱子和墙壁上的汉字字迹的意义

(Bā dōng shì xī xìng gōng de zhùzi hé qiángbì shàng de hànzì zìjì de yìyì)

SKRIPSI OLEH:

RAFIQHAH HUSNI 130710037

PROGRAM STUDI BAHASA MANDARIN FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2019

(2)
(3)

PERNYATAAN ORISINALITAS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelarkesarjanaanpada suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh negara lain, kecuali yang secara tertulis di acu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Apabila pernyataan yang saya buat ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi berupa pembatalan gelar sarjana yang saya peroleh.

Medan, 22 Maret 2019 Penulis,

Rafiqhah Husni 130710037

(4)

MAKNA AKSARA HANZI PADA TIANG DAN DINDING KLENTENG SEE HIN KIONG DI KOTA PADANG

RAFIQHAH HUSNI 130710037 ABSTRAK

Judul skripsi ini adalah “Makna Aksara Hanzi Pada Tiang dan Dinding Klenteng See Hin Kiong di Kota Padang”. Skripsi ini menjelaskan pengertian makna Aksara Hanzi yang terdapat dalam tulisan- tulisan pada tiang dan dinding Klenteng. Penulis memilih Makna Aksara Hanzi Pada Klenteng, karena Tulisan tersebut memiliki makna yang mengandung filosofi yang sangat mendalam menganai kebajikan dan kebaikan. Lokasi penelitian adalah di Jalan Klenteng No.312, Kelurahan Kampung Pondok, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Sumatera Barat. Dalam mengumpulkan dan menganalisis data, penulis menggunakan metode kualitatif dan menguraikan analisis data dengan metode deskriptif. Teori Semantik digunankan untuk menganalisis tentang lambang- lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna, hubungan makna yang satu dengan makna yang lain, dan pengaruhnya terhadap manusia dan masyarakat.

Dari analisis ini ditemukan pengertian makna tulisan-tulisan yang terdapat pada tiang dan dinding klenteng memiliki makna yang mengandung filosofi yang mengajarkan kebaikan yang mana tulisan ini pun memiliki warna dan arti yang berbeda yang menimbulkan keindahan pada klenteng tersebut.

Kata Kunci : Kebudayaan Cina, Tulisan Aksara Han, Klenteng, Padang.

(5)

THE MEANING OF THE HANZI SCRIPT ON THE PILLAR AND WALL OF THE SEE HIN KIONG TEMPLE IN THE CITY OF PADANG

RAFIQHAH HUSNI 130710037

ABSTRACT

The tittle of this thesis is “Makna Aksara Hanzi Pada Tiang dan Dinding Klenteng See Hin Kiong di Kota Padang”. This thesis talks about the meaning of the Hanzi script contained on the pillars and walls of the temple. The writer chooses the Meanings of Hanzi Scriptures in Temples, because they have meaning that contains a very deep philosophy concerning about virtue and goodness. The place of observation in Jalan Klenteng No.312, Kelurahan Kampung Pondok, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Sumatera Barat. To describe the analysis, the writer used qualitative method and descriptive methods. The theory used in thesis is Semantic theory. Semantic Theory is used to analyze the symbols or signs that express meaning,the connect meanings with another, and affect for humans and society. From this analysis found an understanding of the meaning of the writings contained in the masts and walls of pagoda has a meaning that contains a philosophy that teaches goodness in which this writing also has different colors and meanings that cause beauty in the temple.

Keywords: Chinese Culture, Hanzi, Temple, Padang.

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

“Analisis Makna Aksara Hanzi pada Klenteng See Hin Kiong di Kota Padang”

sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan studi Bahasa Mandarin , untuk memperoleh gelar Sarjana Sastra. Penulis menyadari bahwa skripi ini masih banyak memiliki kekurangan dan belum sempurna karena keterbatasan dan daya serap penulis yang masih kurang. Untuk itu penulis berharap saran dan kritik untuk perbaikan skripsi ini.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis telah banyak mendapat bantuan dan bimbingan, baik secara moril dan materil dari berbagai pihak. Terlebih dahulu penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orangtua penulis Herman dan Yulfiati, suami dan anak tercinta serta ketiga saudara penulis Rahma Rifa, Alex Hidayat, dan Nurfaziah yang selama ini telah mendukung, memotivasi, menasihati dan memberikan doa yang tiada henti kepada penulis.

Dengan segala kerendahan hati, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Mhd. Pujiono,M.Hum.,Ph.D., selaku Ketua Program Studi Bahasa Mandarin Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Niza Ayuningtias, S.S., MTSCOL., selaku Sekretaris Program Studi Bahasa Mandarin Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara sekaligus sebagai Dosen Pembimbing II saya yang selama ini banyak

(7)

membantu penulis dalambelajar Bahasa Mandarin dan membimbing saya dengan keluangan waktunya dalam penyusunan skripsi dalam Bahasa Mandarin, saya mengucapkan terimakasih karena sangat membantu saya dalam menyelesaikan skripsi ini.

4. Ibu Dra. Lila Pelita Hati, M.Si., selaku Dosen Pembimbing I penulis yang telah memberikan dukungan, masukan, pengarahan, nasihat, dan motivasi yang sangat berharga dan sangat membantu dalam penyelesaian skripsi saya serta sabar membimbing saya untuk menulis skripsi ini hingga selesai.

5. Seluruh Dosen dan staf Program Studi Bahasa Mandarin Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Terkhusus penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Kak Endang dan Kak Fifi yang telah memberikan motivasi, dukungan dan membantu penulis dalam melengkapi berkas dan keperluan untuk penulisan skripsi ini.

6. Ucapan terima kasih penulis terbesar disampaikan kepada orang tua penulis, yaitu Ibunda Yulfiati dan Bapak Herman, yang sangat setia memberikan dukungan terhadap saya, baik dukungan moral, doa, kasih sayang, material, memenuhi semua kebutuhan saya dalam hidup dan yang telah mendidik, membiayai saya dari kecil hingga sekarang, sehingga dapat menyelesaikan perkuliahan di Program Studi Sastra Cina Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Semoga Allah SWT selalu menyertai dan memberikan rezeki dan kesehatan yang berlimpah. Kepada suami penulis Safrizal dan anak tercinta penulis Fathir Arfadhia Otello yang selalu menjadi semangat penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

(8)

7. Kakak saya tercinta, Nurfaziah dan Rahma Rifa terima kasih atas semua masukan, dukungan, saran dan motivasi untuk menggerakkan penulis dalam penyusunan dan penulisan skripsi ini. Penulis berdoa semoga semua pekerjaan dan keinginan tercapai dan terkabul.

8. Sahabat saya Dienvi Kesitha Br. Sinuhaji yang selalu menghibur dan membantu saya dalam penyusunan skripsi ini, dia yang selalu mendampingi saya dan membatu setiap kesulitan dalam penulisan skripsi ini sehingga penulis menjadi semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.

9. Teman – teman mahasiswa stambuk 2013 pada Program Studi Bahasa Mandarin Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Terima kasih atas semua bantuan, perhatian, dan motivasinya yang telah diberikan kepada penulis.

10. Keluarga besar penulis pada mahsiswa Bahasa Mandarin mulai dari stambuk 2007, 2008, 2009, 2010, 2011, 2013, 2014, 2015, dan 2016.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, dengan segala kerendahan hati penulis mengaharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya penulis mengharapkan agar skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak di kemudian hari, khususnya untuk diri penulis sendiri.

Medan, 22 maret 2019 Penulis

Rafiqhah Husni NIM 130710037

(9)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... i

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR GAMBAR ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 3

1.3. Batasan Masalah ... 3

1.4. Tujuan Penelitian ... 3

1.5. Manfaat Penelitian ... 3

1.5.1 Manfaat Teoritis ... 4

1.5.2 Manfaat Praktis ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1. Konsep... 5

2.1.1 Makna ... 5

2.1.2 Aksara Hanzi ... 5

2.1.3 Klenteng ... 7

2.1.4 Klenteng See Hin Kiong Padang... 8

2.1.5 Tiang ... 11

2.1.6 Dinding ... 12

2.2. Landasan Teori ... 12

2.2.1 Teori Semantik ... 12

(10)

BAB III METODE PENELITIAN ... 16

3.1. Data dan Sumber Data ... 17

3.1.1 Data ... 17

3.1.2 Sumber Data ... 17

3.2. Lokasi Penelitian ... 18

3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 18

3.3.1 Observasi ... 19

3.3.2 Wawancara ... 19

3.3.3 Dokumentasi ... 20

BAB IV HASIL DAN PEMBAHSAN ... 21

4.1 Gambaran Umum Tulisan Hanzi ... ... 21

4.2 Klenteng See Hin Kiong... ... 22

4.3 Makna Aksara Hanzi Pada Klenteng See Hin Kiong... 25

4.3.1. Aksara Hanzi pada Tiang... 25

4.3.2. Akara Hanzi pada Dinding ... 35

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 46

5.1 Simpulan... .... 46

5.2 Saran... ... 47

DAFTAR PUSTAKA ... 48

LAMPIRAN ... 50

DAFTAR PERTANYAAN ... 62

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Gambar 4.1 Klenteng See Hin Kiong

Gambar 4.2 Tulisan Pada Tiang Klenteng See Hin Kiong Gambar 4.3 Tulisan Pada Dinding Klenteng See Hin Kiong Gambar 4.4 Peneliti dengan Informan

(12)
(13)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap agama yang diakui di Indonesia memiliki sarana tempat peribadatan yang dilihat secara fisik bangunannya berbeda-beda bentuk serta memiliki ciri khas tersendiri.Hal ini menunjukkan betapa besar ide dan gagasan manusia dalam menciptakan sebuah karya spiritual. Manusia juga memiliki konsep, bahwasanya dalam menciptakan sebuah karya spiritual yang diwujudkan dalam bentuk tempat peribadatan itu mendasar dan semata-mata untuk memberikan kesan tertinggi yang ditujukan kepada Tuhan. Salah satu tempat peribadatan yang menunjukkan sebuah perpaduan budaya dan agama adalah klenteng. Tempat peribadatan klenteng sangat khas dengan budaya Cina, disamping itu klenteng menjadi salah satu identitas bangunan suci bagi masyarakat Tionghoa untuk beribadah kepada Tuhan, Dewa/Dewi, atau arwah para leluhur yang berkaitan dengan ajaran Konfusianisme, Taoisme, dan Budha. Klenteng tidak sekedar tempat kehidupan keagamaan berlangsung, tetapi juga merupakan ungkapan lahiriah masyarakat yang mendukungnya. Itulah sebabnya penelitian tentang sebuah klenteng dapat memberikan sumbangan yang sangat berharga untuk memahami sejarah sosial masyarakt Tionghoa setempat.

Di Indonesia, tempat peribadatan klenteng ini banyak tersebar di pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Pulau Sumatra,salah satunya adalah klenteng yang berada di jalan Kelenteng No.312, Kelurahan Kampung Pondok, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Sumatra Barat. Klenteng ini selain

(14)

sebagai tempat peribadatan, juga berfungsi sebagai media ekspresi untuk menampilkan eksistensi budaya masyarakat etnis Tionghoa di kawasan tersebut.

Sebenarnya kelenteng adalah nama yang biasa digunakan untuk menyebut tempat peribadatan dan kegiatan keagamaan masyarakat Tionghoa dan penganut ajaran Tridharma yang meliputi Buddha, Tao dan Konghucu. Isitilah ini hanya dikenal di Indonesia. Klenteng juga disebut bio yang merupakan dialek Hokkian dari karakter 廟 ( miao ). Ini adalah sebutan umum bagi klenteng di China. Klenteng See Hin Kiong memiliki aksara Han yang sangat menarik, sangat berbeda dengan klenteng yang umum dijumpai di Indonesia, yangmana aksara Han tersebut memilki makna dan filosofi tersendiri.

Kelenteng See Hin Kiong merupakan klenteng pertama dan tertua keberadaannya di Ranah Minang. Klenteng See Hin Kiong dibangun pada tahun 1861. Keistimewaan klenteng ini yaitu berada pada tulisan-tulisan yang berkaitan dengan filosofi yang mengajarkan kebaikan. Hal inilah yang membedakan klenteng ini dengan klenteng lainnya. Klenteng ini merupakan kleenteng satu- satunya di Padang karena masyarakat Tionghoa hanya tersebar di Kampung Pondok saja.

Aksara Han merupakan aksara yang digunakan dalam penulisan bahasa Tionghoa yang disebut Hanzi (汉字). Aksara Han merupakan sistem penulisan tertua di dunia yang digunakan secara terus menerus. Beberapa bagian dari Klenteng See Hin Kiong terdapat Aksara Hanzi yang sangat menarik seperti pada tiang dan dinding klenteng tersebut.

(15)

Dari latar belakang maka peneliti mengambil judul “Makna Aksara Hanzi Pada Tiang dan Dinding Klenteng See Hin Kiong Di Kota Padang. Peneliti ingin menggali lebih dalam mengenai makna aksara Hanzi pada Klenteng See Hin Kiong di Kota Padang karena aksara yang terdapat pada klenteng ini memiliki filosofi yang mengajarkan kebaikan. Klenteng ini juga merupakan Klenteng pertama dan tertua di kota di kota Padang. Hal yang menarik dari klenteng ini adalah tulisan-tulisan yang terdapat pada tiang dan dinding klenteng memiliki makna yang mengandung filosofi yang mengajarkan kebaikan yang mana tulisan ini pun memiliki warna dan arti yang berbeda yang menimbulkan keindahan pada klenteng tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa makna Aksara Hanzi yang terdapat pada tiang dan dinding Klenteng See Hin Kiong di Kota Padang ?

1.3 Batasan Masalah

Untuk menghindari pembahasan yang terlalu luas, sehingga dapat mengaburkan penelitian, maka peneliti membatasi ruang lingkup yaitu aksara Hanzi yang terdapat pada tiang dan dinding klenteng See Hin Kiong di Kota Padang.

1.4 Tujuan Penelitian

1. Untuk menjelaskan makna aksara Hanzi pada tiang dan dinding Klenteng See Hin Kiong di Kota Padang.

1.5 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis.

(16)

1.5.1 Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis penelitian ini adalah menambah wawasan tentang makna aksara Hanzi pada klenteng See Hin Kiong di Kota Padang. Selain itu juga dapat memberi informasi lebih terperinci mengenai makna aksara Hanzi yang terdapat pada tiang dan dinding klenteng See Hin Kiong di Kota Padang dan membantu masyarakat untuk mengenal lebih jauh mengenai makna aksara Hanzi pada klenteng See Hin Kiong di Kota Padang.

1.5.2 Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi pada khalayak umum dan masyarakat Tiongkok tentang makna aksara Hanzi pada tiang dan dinding Klenteng See Hin kiong di Kota Padang. Skripsi ini juga dapat dijadikan bahan referensi untuk penelitian lebih lanjut tentang makna aksara Hanzi pada klenteng.

(17)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep

Konsep adalah suatu arti yang mewakili sejumlah objek yang mempunyai ciri-ciri yang sama. Konsep dapat diartikan sebagai suatu abstraksi dari ciri-ciri sesuatu yang mempermudah jalinan komunikasi antara manusia serta memunkinkan manusia untuk berpikir (Hamidi, 2010:11).

Berdasarkan KBBI (2003:588) konsep diartikan sebagai rencana atau pengertian yang diabstrakkan dari pengertian kongkret, gambaran mental dari objek ataupun yang ada diluar bahasan yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain.

2.1.1 Makna

Makna (pikiran atau referensi) adalah hubungan antara lambang (simbol) dan acuan atau referen. Hubungan antara lambang dan acuan bersifat tidak langsung sedangkan hubungan antara lambang dengan referensi dan referensi dengan acuan bersifat langsung. Batasan makna ini sama dengan istilah pikiran, referensi yaitu hubungan antara lambang dengan acuan atau referen atau konsep (Ogden dan Richards dalam Sudaryat, 2009: 13). Secara linguistik makna dipahami sebagai apa-apa yang diartikan atau dimaksudkan oleh kita (Hornby dalam Sudaryat, 2009:13).

2.1.2 Aksara Hanzi

Hanzi adalah aksara Mandarin yang awalnya berupa simbol atau lukisan yang mengandung sebuah makna. Hanzi sudah ada sejak 3000 tahun yang lalu

(18)

dan sudah mengalami beberapa kali perubahan sehingga menjadi huruf-huruf yang sederhana seperti sekarang ini.

Aksara Han atau Aksara Tionghoa adalah aksara morfemis yang digunakan dalam penulisan bahasa Tionghoa dan beberapa bahasa Asia. Dalam Bahasa Mandarin dinamakan Hanzi (Hanzi Sederhana: 汉字; Hanzi Tradisional:

漢字; Pinyin: Hànzì). Aksara Han telah diadaptasi untuk menulis beberapa bahasa lain termasuk Jepang yang dikenal sebagai kanji, Korea yang dikenal sebagai hanja, dan Vietnam dalam sebuah sistem yang disebut chữ Nôm. Aksara Han merupakan sistem penulisan tertua di dunia yang digunakan secara terus-menerus.

Berdasarkan penggunaannya saat ini secara luas di Asia Timur, dan penggunaan historis di seluruh Sinosfer, aksara Han adalah salah satu sistem penulisan di dunia yang diadopsi secara luas (Lijian, 2015:16).

Jumlah aksara Han mencapai puluhan ribu, meskipun sebagian besarnya adalah varian grafis minor yaitu hanya ditemukan teks sejarah. Studi di Tiongkok telah menunjukkan bahwa literasi fungsional dalam penulisan bahasa Tionghoa membutuhkan pengetahuan antara tiga sampai empat ribu aksara Han. Di Jepang, 2.136 aksara diajarkan melalui sekolah menengah (Jōyō Kanji), ratusan lebih dalam penggunaan sehari-hari. Ada berbagai daftar standar nasional untuk aksara, bentuk, dan pengucapan. Bentuk Sederhana dari aksara tertentu digunakan di Tiongkok, Singapura, dan Malaysia; aksara tradisional yang bersesuaian digunakan di Taiwan, Hong Kong, Makau, dan sampai batas tertentu di Korea Selatan. Di Jepang, aksara umum ditulis dalam bentuk sederhana spesifik Jepang pasca-Perang Dunia II (shinjitai), yang lebih dekat dengan bentuk-bentuk

(19)

lazim ditulis dalam bentuk tradisional Jepang (kyūjitai), yang hampir identik dengan bentuk aksara Han tradisional. Di Korea Selatan, aksara Han yang digunakan adalah varian tradisional dan hampir identik dengan yang digunakan di negara seperti Taiwan dan Hong Kong (Lijian, 2015;16)

Meskipun jumlah Hanzi sangat banyak, tetapi jumlah komponen atau bagian dari aksaranya terbatas. Dalam penulisan Hanzi pasti tidak terlepas dari sejumlah goresan-goresan dasar. Agar menulis Hanzi tidak menghambat proses mempelajari Bahasa Mandarin, maka muncullah usaha untuk memudahkannya.

“Di daratan China, usaha pelatihan tulisan Hanzi sudah dirintis pada abad ke-16 oleh para misionaris Jesuit dan berlangsung terus sampai ke masa pemerintahan Maodze-dung. Tahun 1958, Kongres Rakyat Nasional secara resmi menerima abjad fonetik China (Hanyu-pin yin fang an) untuk tujuan penulisan bahasa itu dengan huruf latin. Hingga saat ini penulisan dengan huruf latin tersebut kita kenal dengan sebutan Hanyu-pinyin. Meskipun sebagian besar Hanzi merupakan gabungan goresan yang menunjukkan cara baca atau arti, seseorang harus menguasai komponen-komponen dasar terlebih dahulu sebelum dapat memahami aturannya dan menerapkannya dalam menulis Hanzi (Harry Suryadi, dalam Lois 2012 : 14).

2.1.3 Klenteng

Klenteng merupakan tempat suci yang digunakan sebagai tempat untuk melaksanakan kegiatan keagamaan sebagai perwujudan interaksi umat kepada Tuhan-Nya. Klenteng adaalah istilah yang digunakan di Indonesia untuk menyebut kuil China (Fox, 2002:56). Klenteng yang dikenal di Indonesia saat ini adalah sebagai tempat ibadah umat Konghuchu, dan ataupun penganut Tri

(20)

Dharma. Disamping sebagai tempat peribadatan, klenteng merupakan sebuah identitas yang menggabungkan antara kebudayaan dan kepercayaan terhadap Tuhan.

Klenteng memiliki bermacam jenis dan klasifikasi. Baik itu ditinjau dari bangunan ataupun fungsinya. Namun secara umum, fisik bangunan klenteng pada umumnya terdiri dari empat bagian yaitu halaman depan, ruang suci utama, bangunan samping dan bangunan tambahan. Sebenarnya kelenteng adalah nama yang biasa digunakan untuk menyebut tempat peribadatan dan kegiatan keagamaan masyarakat Tionghoa dan penganut ajaran Tridharma yang meliputi Buddha, Tao dan Konghucu. Isitilah ini hanya dikenal di Indonesia. Klenteng juga disebut bio yang merupakan dialek Hokkian dari karakter 廟 ( miao ). Ini adalah sebutan umum bagi klenteng di China.

2.1.4 Klenteng See Hin Kiong Padang

Padang memiliki kota tua di Kampung Pondok. Di tempat ini dapat dijumpai Kelenteng See Hin Kiong yang bersejarah.Kelenteng See Hin Kiong merupakan bangunan heritage yang memiliki nilai sejarah bagi warga keturunan Tiongkok di Padang dan menjadi tempat favorit untuk dikunjungi. Kelenteng See Hin Kiong merupakan klenteng pertama dan tertua keberadaannya di Ranah Minang. Dengan lokasi di jalan Kelenteng No.312, Kelurahan Kampung Pondok, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Sumatra Barat.

Nama kelenteng itu sendiri diambil dari suara yang terdengar dari genta yang dipukul dan menimbulkan bunyi klinting, jika gentanya besar, maka bunyi yang ditimbulkan terdengar seperti kelenteng. Dahulunya kota Padang tidak memiliki Kwan Im Teng. Pertama kali Kwan Im Teng didirikan yaitu ketika

(21)

orang Tjiang dan Tjoan Tjioe dari Tiongkok datang berniaga di Padang.

Kelenteng See Hin Kiong ini pada awal mulanya bernama Kwan Im Teng.

Munculnya kata klenteng ini bermula saat orang Hokkian berinteraksi dengan orang pribumi setiap kali akan berangkat ke klenteng. Orang Hokkian akan menjawab dengan cepat „Kwan Im Teng‟ ketika ditanyakan penduduk pribumi tempat tujuan mereka. Kemudian didengar orang pribumi sebagai klenteng.

Semenjak itulah kata klenteng di pergunakan. Dulunya, klenteng ini bermaterialkan kayu dan beratapkan daun rumbia.

Dalam situs seehinkiong.org diceritakan pada zaman Raja Ham Hong tahun Sien Yoe sejalan dengan tahun masehi 1861, karena kecerobohan salah seorang pandit yang bernama Sae Kong telah terjadi kebakaran yang menghanguskan Kelenteng Kwan Im Teng hingga menjadi abu. Pada masa itu Lie Goan Hoat yang menjadi Kapten, Lim Sun Mo dan Lie Lien It yang berpangkat letnan bersepakat membangun kembali Kelenteng Kwan Im Teng yang tebakar.Pembangunan dimulai pada tahun 1893 hingga selesai tahun 1897.

Kemudian pada tahun 1905, Kwan Im Teng berganti nama menjadi Kelenteng See Hin Kiong. Latar belakang pergantian nama klenteng ini disebabkan oleh keteledoran pendeta Sae Kong yang menyebabkan klenteng terbakar dan menjadi abu. Pada masa Lie Goan Hoat bersama dengan Letnan Lien Soen Mo dan Letnan Lie Bian Ek bermufakat untuk membangun kembali klenteng dan berganti nama menjadi See Hin Kiong yang secara harfiah diartikan “siapa yang diantara mereka itu yang keliru pikirannya, disana tempat ia pergi bertenang, bagi orang yang sakit boleh bertanya obat apa yang harus diambil, orang berdagang bisa beruntung dan orang dalam negri memperoleh selamat”. Bukti pembangunan

(22)

klenteng ini juga dapat dilihat pada batu prasasti yang ada di sisi dalam bangunan Kelenteng See Hin Kiong. Lazimnya adat dinegri beragama Budha seperti Tibet atau She Tjong, segala amalan keramat ( HUT) diupayakan untuk dihormati dan dimuliakan. Maka, agama HUT menjadi berkembang dan nama Kwan Im Teng secara turun temurun tetap tinggal seperti sediakala. See Hin Kiong berarti tempat kedudukan HUT yang beragama Budha.

Sayangnya, akibat gempa 30 September 2009 kelenteng ini mengalami banyak kerusakan sehingga tidak lagi digunakan untuk tempat ibadah. Mengingat kelenteng lama merupakan cagar budaya, maka kelenteng lama tersebut akan direnovasi dan dijadikan sebagai museum masyarakat Tionghoa Padang.Sebagai gantinya, tahun 2010 kembali dibangun kelenteng baru dilokasi yang berbeda dan tidak jauh kelenteng lama. Bangunan kelenteng baru ini memiliki desain yang tak jauh beda dengan yang lama.

Kelenteng ini dirancang langsung oleh Lie Goan Hoat dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya yaitu model kelenteng kuno dari Hokkian, Tjoan Tjiu.Semenjak diresmikan lagi akhir Maret 2013, Kelenteng See Hien Kiong ramai dikunjungi. Kelenteng ini terbuka untuk umum dari pagi hingga sekitar pukul 21.00 WIB. Pengunjung tidak boleh masuk ke dalam kelenteng, hanya bisa menikmati suasannya di halaman kelenteng saja. Biasanya pada hari dimana umat etnis Tionghoa sembahyang, kelenteng ini tertutup untuk umum.

Awalnya kelenteng ini sebagai tempat ibadah dan sebenarnya bukan tempat wisata, namun telah menjadi destinasi wisata yang wajib dikunjungi bila ke Kota Padang. Saat momen Imlek misalnya, kelenteng ini akan ramai

(23)

menyambut tahun baru Cina yakni Imlek, suasana di Jalan Kelenteng akan sedikit berbeda dan jauh lebih meriah dari hari biasanya. Pernak pernik dan berbagai macam ornamen akan menghiasi tiap bangunan dan jalan Klenteng ini.Menariknya suguhan kesenian tradisionalCina seperti atraksi barongsai, naga, dan singa peking akan ditampilkan dihadapan masyarakat umum. Biasanya atraksi tersebut merupakan tradisi dari masyarakat etnis Tionghoa tiap tahunnya dalam menyambut tahun baru Imlek.

Tidak jauh dari sana ada juga banguan tua lainnya yang memiliki nilai sejarah yang tinggi seperti Gedung Himpunan Keluarga Tan No.327 yang berdiri sejak tahun 1888, rumah tinggal Ang Sia No. 268 yang dibangun pada tahun 1880.

Kemudian terdapat Gedung Himpunan Tjinta Teman No.331 yang juga dibangun tahun 1880 serta rumah tinggal Nio Seng No.339.Bangunan-bangunan yang dibuat pada abad ke-19 ini menjadikan kawasan jalan Kelenteng sebagai daerah heritage-nya warga Kota Padang dari keturunan Cina.

2.1.5 Tiang

Tiang merupakan salah satu dari unsur-unsur pokok bangunan, sebuah tiang menandakan adanya sebuah titik dalam ruang dan menjadikan titik tersebut terlihat nyata, dua buah tiang membentuk sebuah membranruang yang dapat kita lalui, dengan menyangga sebuah balok, tiang-tiang berubah menjadi garis tepi sebuah bidang datar transparan. (Ching, 2000: 11)

Column atau tiang dibuat dari kayu keras ataupun batu dan terbagi atas dua jenis utama, yaitu zhi yang bertipe tegak serta suo yang bertipe membulat atau menebal di tengah (Lip dalam Suryatenggara, 2011:26).

(24)

2.1.6 Dinding

Dinding merupakan salah satu syarat terbentuknya ruang, secara tradisional, dinding telah berfungsi sebagai struktur pemikul lantai di atas permukaan tanah, langit-langit dan atap. ( Ching,2000: 176 )

Dinding pada bangunan Cina terbuat dari komposit atau campuran beberapa material yang dipadatkan, sehingga dinding tebal atau permanen dapat dikatakan tidak menutupi dan hanya dibangun sebagian untuk menahan segala ancaman dan serangan baik cuaca dan invasi (Knapp dalam Suryatenggara, 2011:25).

2.2 Landasan Teori

Teori adalah landasan dasar keilmuan yang berfungsi untuk menganalisis berbagai fenomena. Suatu teori pada hakikatnya merupakan hubungan antara dua fakta atau lebih, Atau pengaturan fakta menurut cara-cara tertentu (Soekanto 2001:30). Fakta tersebut merupakan sesuatu yang dapat diamati dan pada umumnya dapat diuji secara empiris. Tanpa adanya teori, pengetahuan hanya menjadi serangkaian fakta saja, tetapi tidak ada ilmu pengetahuan. Karena teori berguna untuk mempertajam atau mengkhususkan fakta yang dipelajari.

2.2.1 Semantik

Semantik berasal dari bahasa Yunani semantikos, artinya studi tentang makna. (Lehrer dalam Pateda 2010:6). Semantik adalah studi tentang makna.

Semantik berfokus pada hubungan antara penanda seperti kata, frase, tanda dan simbol. Semantik menelaah lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna, hubungan makna yang satu dengan yang lain, dan pengaruhnya terhadap manusia dan masyarakat. Oleh karena itru, semantik mencakup makna-makna

(25)

kata, perkembangannya dan perubahannya. (Tarigan dalam Septina, 2012 : 9).

Jadi semantik adalah adalah ilmu yang mempelajari tentang makna sebuah kata.

Semantik mengandung pengertian “studi tentang makna”. Studi yang mempelajari makna merupakan bagian dari linguistik. Seperti halnya bunyi dan tata bahasa, komponen makna dalam hal ini juga menduduki tingkat tertentu.

Maksudnya apabila komponen bunyi menduduki pertama, tata bahasa pada tingkat kedua sedangkan komponen makna menduduki tingkat yang terakhir.

Hubungan ketiga komponen tersebut karena bahasa pada awalnya merupakan 8 bunyi-bunyi abstrak mengecu pada lambang-lambang yang memiliki tatanan bahasa memiliki bentuk dan hubungan yang mengasosiasikan adanya makna (Aminuddin dalam Septiana 2012: 10). Objek studi semantik adalah makna bahasa. Lebih tepat lagi, makna dari satuan-satuan bahasa seperti kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana. Bahasa memiliki tataran-tataran analisis, yaitu fonologi, morfologi, dan sintaksis. Bagian-bagian yang mengandung masalah semantik adalah leksikon dan morfologi (Chaer dalam Dwita 2013 : 24).

2.2.2 Konfusius

Konfusius (bentuk Latin dari nama Kong-Fu-Tse, “guru dari suku Kung”) hidup antara 551 dan 497 S.M. Ia mengajar bahwa Tao (”jalan” sebagai prinsip utama dari kenyataan) adalah “jalan manusia”. Artinya: manusia sendirilah yang dapat menjadikan Tao luhur dan mulia, kalau ia hidup dengan baik. Keutamaan merupakan jalan yang dibutuhkan. Kebaikan hidup dapat dicapai melalui perikemanusiaan (”yen”), yang merupakan model untuk semua orang. Secara hakiki semua orang sama walaupun tindakan mereka berbeda.

(26)

Konfusianisme sebagai suatu ide filsafat yang menekankan pada keteraturan sosial dan etika selama ribuan tahun telah mengakar dan melebur menjadi satu dalam pranata masyarakat Cina.Nilai-nilai Konfusius sangat berakar dalam setiap ritual-ritual penting dalam keluarga dan kelompok kekerabatan.

Struktur dasar keluarga mulai dari jia 家 (keluarga) sampai zu 祖 (klen) merupakan dasar dari suksesnya Konfusianisme. Seluruh kehidupan dan tingkah laku keluarga, adat istiadat,ritual, jaringan sosial masyarakat terpadu dalam pranata politik, ekonomi, dan sosial.

Konfusianisme yang tertata menurut Ajaran Agung. Konfusianisme adalah ajaran dari Konfusius/Confucius atau dalam BahasaMandarin disebut Kongzi (孔 子) yang merupakan filsuf besar dari Cina. Nama aslinya adalah Kong Qiu alias Zhong Ni.Ia lahir pada tahun 551 SM di Negara Lu. Ayahnya adalah seorang panglima perang. Ayahnya meninggal pada saat ia berumur tiga tahun sedangkan ibunya meninggal pada saat ia berumur 26 tahun. Konfusius wafat dalam

usia 72 tahun pada tahun 479 SM.

Ajaran pokok dari Konfusius adalah lima sifat mulia yang memiliki arti lima kebajikan, yaitu :

1). Ren (忍) yaitu cinta kasih yang universal yang tidak mementingkan diri sendiri tetapi mementingkan orang lain.

2). Yi 意 yaitu kebenaran atau pribadi luhur.

3). Li 礼 yaitu kesusilaan, sopan santun, rasa susila, dan budi pekerti.

4). Ci 慈 yaitu kebijaksanaan, pengertian, kearifan.

(27)

5). Xin 信, yaitu kejujuran kepercayaan, rasa untuk dapat dipercaya orang lain serta dapat memegang janji dan menepati janji ( Dewi Hartati 2016: 174-175).

Oleh karena penulis membahas tentang analisis makna tulisan Hanzi pada tiang dan dinding Klenteng See Hin Kiong di Kota Padang, maka penulis menggunakan teori semantik ini yang mana terdapat pemikiran konfusius pada tulisan-tulisan tersebut.

(28)

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Menurut Strauss dan Corbin (1997: 11-13), penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai (diperoleh) dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau cara- cara lain dari kuantifikasi (pengukuran). Penelitian kualitatif ini bertujuan mendeskripsikan dan mengintepretasikan objek yang diteliti sesuai dengan keadaan sebenarnya. Peneliti menggunakan pendekatan studi pustaka dan studi lapangan.

Studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, literatur-literatur, catatan-catatan, dan laporan- laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan.(Nazir,1988:

111). Pendekatan ini digunakan karena peneliti bermaksud mendeskripsikan, mencatat, menjelaskan, dan menginterpretasikan sebuah objek bangunan spiritual, berupa tempat peribadatan bersejarah yaitu Klenteng See Hin Kiong.

Studi lapangan adalah salah satu proses kegiatan pengungkapan fakta-fakta melui observasi atau pengamatan dan wawancara dalam memperoleh keterangan atau data dengan cara terjun langsung ke lapangan. Pendekatan ini digunakan agar memberkan hasil yang lebih akurat untuk menghindari kesalahan penelitian serta

(29)

dapat menambah pengalaman. Selain itu studi lapangan dapat diungkapkan fakta- fakta sebagai realisasi dari teori yang ada.

Metode ini digunakan untuk mendeskripsikan secara relevan terhadap kasus yang diteliti yaitu Makna Aksara Hanzi pada tiang dan dinding Klenteng See Hin Kiong di Kota Padang. Dibutuhkan analisis data dari data yang diperoleh melalui beberapa sumber kepustakaan maupun studi lapangan berupa data dari observasi, wawancara dengan beberapa informan terkait yaitu pengelola klenteng See Hin Kiong di kota Padang dan dokumentasi.

3.1 Data dan Sumber Data 3.1.1 Data

Data adalah hal yang sangat penting bagi setiap penulis dalam melakukan sebuah penelitian. Data merupakan catatan atas kumpulan fakta. Kumpulan fakta tersebutlah yang akan menjadi data. Data kemudian diolah sehingga dapat diutarakan secara jelas dan tepat. Data terbagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder.

Data primer dalam penelitian ini yaitu hasil wawancara terhadap informan yang dianggap dapat memberikan informasi secara tepat dan terperinci tentang Makna Aksara Hanzi pada Tiang dan Dinding Klenteng See Hin Kiong di Kota Padang. Data skunder dalam penelitian ini yaitu buku, jurnal dan sumber publikasi elektronik yang berkaitan dengan topik yang akan dibahas yaitu mengenai Makna Aksara Hanzi pada Tiang dan Dinding Klenteng See Hin Kiong di Kota Padang.

3.1.2 Sumber Data

(30)

Sumber data yang utama adalah penelitian yang dilakukan peneliti terhadap subjek dan objek penelitian. Subjek dalam penelitian adalah interior Klenteng See Hin Kiong Padang. Objek dalam penelitian ini adalah Makna Aksara Hanzi pada Tiang dan Dinding Klenteng See Hin Kiong di Kota Padang. Sumber data ini juga diperoleh dari studi kepustakaan, yang berupa kumpulan beberapa data pustaka dari sumber bacaan atau tulisan yang relevan dan dapat dipertanggungjawabkan seperti buku-buku ilmiah, laporan penelitian, karya ilmiah, tesis, disertasi, ensiklopedia dan sumber lain yang membahas tentang teori Semiotik, makna Aksara Hanzi dan Klenteng See Hin Kiong di Kota Padang.

3.2 Lokasi Penelitian

Untuk mendapatkan data dan informasi yang dibutuhkan penulis, maka sesuai dengan judul, penulis harus menentukan tempat penelitian. Adapun lokasinya yaitu di Klenteng See Hin Kiong, tepatnya dijalan Kelenteng No.312, Kelurahan Kampung Pondok, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Sumatera Barat.Alasan penelitian ini dilaksanakan di Klenteng See Hin Kiong Padang karena tempat peribadatan klenteng tertua ini merupakan salah satu bangunan bersejarah yang kental akan budayanya. Disamping itu klenteng ini merupakan bangunan cagar budaya yang dimiliki kota Padang.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data tidak lain dari suatu proses pengadaan data primer untuk keperluan penelitian. Pengumpulan data merupakan langkah yang amat penting dalam metode ilmiah, karena pada umumnya data yang dikumpulkan digunakan untuk menguji hipotesa yang telah dirumuskan. Ada dua teknik

(31)

pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu penelitian kepustakaan (library research) dan penelitian lapangan (field research).

3.3.1 Observasi

Observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. (Sugiyono, 2009:145). Observasi bertujuan untuk mengamati, mendokumentasi, dan mengumpulkan data secara langsung, kemudian dideskripsikan dengan menggambarkan dan menginterpretasikan hasil penelitian ke dalam rangkaian kata-kata. Observasi ini dilakukan secara langsung dilokasi penelitian dengan pengamatan mendalam dan terfokus padaAnalisis Makna Aksara Hanzi pada Tiang dan Dinding Klenteng See Hin Kiong di Kota Padang.

3.3.2 Wawancara

Wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dilakukan secara sistematis dan berlandaskan kepada tujuan penelitian (Lerbin,1992 dalam Hadi, 2007). Wawancara yang digunakan adalah wawancara semi tersruktur, termasuk kedalam kategori in dept interview, yang dimana dalam pelaksanaannya lebih bebas dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Wawancara ini bertujuan menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang diwawancarai diminta pendapat, dan ide-idenya.

Dalam melakukan wawancara, peneliti perlu mendengarkan secara teliti dan mencatat apa yang dikemukakan oleh narasumber. Dalam penelitian ini, metode wawancara dilakukan dengan mewawancarai pengelola Klenteng See Hin Kiong di Kota Padang. Sehingga beberapa informasi mengenai seluk beluk objek penelitian ini dapat diperoleh lebih mendalam.

(32)

3.3.3 Dokumentasi

Dokumentasi adalah mencari dan mengumpulkan data mengenai hal-hal yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, notulen, rapot, agenda dan sebagainya Arikunto (2006:158). Metode pengumpulan data penelitian ini menggunakan analisis dokumen. Analisis ini merujuk pada kumpulan dari beberapa data yang diperoleh melalui sejumlah literatur kepustakaan berkaitan dengan Makna Aksara Hanzi pada Klenteng See Hin Kiong serta gambaran umum mengenai Klenteng See Hin Kiong di Kota Padang yang terdapat di internet atau dokumen lain dan dinilai relevan dengan penelitian ini.

Dokumentasi tersebut dapat digunakan apabila diperlukan yaitu berupa rekaman, video, dan gambar atau foto yang berkaitan tentang Makna Aksara Hanzi pada Tiang dan Dinding Klenteng See Hin Kiong di Kota Padang.

Dokumen berupa tulisan diperoleh dengan melakukan studi pustaka yaitu dengan mengumpulkan data pustaka yang relevan dari buku-buku ilmiah, disertasi, tesis, ensiklopedia, laporan penelitian, karya ilmiah, dan sumber lain yang membahas tentang Makna Aksara Hanzi serta profil Klenteng See Hin Kiong di Kota Padang.

(33)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Tulisan Hanzi

Hanzi sama artinya dengan menulis huruf Cina. Menuliskan Hanzi bagi pemula bukanlah hal yang mudah, karena Hanzi bentuknya merupakan penggambaran dari objek yang dimaksud. Menulis Hanzi berbeda dengan menulis huruf lain yang kita tulis sehari-hari. Setiap Hanzi telah memiliki arti sendiri, dan penulisanya merupakan kombinasi dari macam-macam goresan dasar (Jerry dalam Lois ,2011:14).

Hanzi adalah huruf paling tua di dunia, juga huruf pengguna paling banyak di dunia. Jumlah huruf di dalam Hanzi sangat banyak, totalnya kira-kira 60.000, dan diantaranya yang seringa dipakain hanya 6000. ( Harry Suryadi dalam Lois, 2011: 14 ).

Meskipun jumlah Hanzi banyak, tetapi jumlah komponen bagian dari aksaranya terbatas. Dalam penulisan Hanzi pasti tidak terlepas dari sejumlah goresan-goresan dasar. Agar menulis Hanzi tidak menghambat proses mempelajari Bahasa Mandarin, maka muncullah usaha untuk memudahkannya.

“Di Daratan Cina, usaha pelatihan tulisan Hanzi sudah dirintis pada abad ke-16 oleh para misionaris Jesuit dan berlangsung terus sampai ke masa pemerintahan Mao dze-dung. Tahun 1958, Kongres Rakyat Nasional secara resmi menerima abjad fonetik Cina ( Hanyu-pin yin fang an) untuk tujuan penulisan bahasa itu dengan huruf latin. Hingga saat penulisan huruf latin tersebut kita kenal dengan sebutan Hanyu-pinyin. Meskipun sebagian besar Hanzi merupakan gabungan goresan yang menunjukkan cara baca atau arti, seseorang harus menguasai

(34)

komponen-komponen dasar terlebih dahulu sebelum dapat memahami aturannya dan menerapkannya dalam menulis Hanzi ( Harry Suryadi dalam Lois, 2011: 14 ).

Hanzi memiliki sejarah yang sangat panjang. Saat ini Hanzi yang paling kuno yang telah ditemukan adalah jiaguwen yang berumur 3400 tahun lebih.

Jiaguwen sudah merupakan tulisan yang matang. Menurut perkiraan para ahli, sejarah Hanzi ada kira-kira 5000 tahun.

Hanzi berasal dari catatan berupa gambar. Sejak zaman dahulu hingga sekarang, bentuk Hanzi mengalami perubahan yang besar, yaitu dari jiaguwen, jinwen, xiaozhuan,lishu,kaishu. Hanzi yang dipakai sekarang ini adalah bentuk kaishu.

4.2 Klenteng See Hin Kiong

Kelenteng See Hin Kiong merupakan bangunan heritage yang memiliki nilai sejarah bagi warga keturunan Tiongkok di Padang dan menjadi tempat favorit untuk dikunjungi. Klenteng See Hin Kiong merupakan tempat ibadah bagi penganut aliran Tri Dharma (Konfusianisme, Taoisme, dan Budhisme). Klenteng ini dikelola oleh sebuah kepengurusan yang dipilih melalui musyawarah bersama marga-marga yang menggunakan klenteng ini. Dari setiap marga-marga tersebut mengutus beberapa orang perwakilan yang nantinya akan dipilih dan dijadikan pengurus klenteng (Rianly, 2017 : 46).

Kelenteng ini dirancang langsung oleh Lie Goan Hoat dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya yaitu model kelenteng kuno dari Hokkian, Tjoan Tjiu. Semenjak diresmikan lagi akhir Maret 2013. Awalnya kelenteng ini sebagai tempat ibadah dan sebenarnya bukan tempat wisata, namun telah menjadi destinasi wisata yang wajib dikunjungi bila ke Kota Padang. Saat momen Imlek

(35)

misalnya, kelenteng ini akan ramai dikunjungi oleh berbagai kalangan dan daerah di luar Kota Padang.

Klenteng See Hin Kiong memiliki daya tarik tersendiri terutama pada tulisan - tulisan yang terdapat pada tiang dan dinding klenteng. Tulisan – tulisan tersebut mengandung arti yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama, yaitu mengajarkan kebaikan. Dari hal tersebut dapat dimaknai pemilihan tulisan yang terdapat pada klenteng mempunyai tujuan untuk memberi kekuatan dan keyakinan serta mengajak penganut aliran Tri Dharma ( Konfusianisme, Taoisme, dan Budhisme) untuk rajin beribadah dan melakukan kebaikan. Klenteng See Hin Kiong menghadap arah Selatan yang dilambangkan dengan burung Hong (Phoenix). Burung Hong melambangkan kekuatan dan kebaikan. Dari hal tersebut dapat dimaknai pemilihan arah klenteng mempunyai tujuan agar bangunan ini mempunyai kebaikan bagi lingkungannya, serta memberikan kekuatan untuk bangunannya.

Gambar 4.1 Klenteng See Hin Kiong (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

(36)

Gambar 4.2 Tulisan Pada Tiang Klenteng See Hin Kiong (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Gambar 4.3 Tulisan Pada Dinding Klenteng See Hin Kiong (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

(37)

4.3 Makna Aksara Hanzi Pada Klenteng See Hin Kiong 4.3.1 Makna Aksara Hanzi pada Tiang

Setiap Klenteng memiliki jumlah tiang dan dinding yang genap, karena tiang dan dinding tersebut harus berdampingan dan memiliki makna keseimbangan dan keselarasan. Tulisan pada tiang terletak di bagian tengah Klenteng yang menghadap luar supaya pengunjung yang datang dapat melihat tulisan-tulisan tersebut. Tiang yang berbentuk bundar ini mempunyai makna kebulatan hati dan pikiran.

Menurut hasil wawancara dengan informan secara keseluruhan klenteng ini memiliki 12 tiang, namun hanya 8 tiang yang memiliki tulisan atau aksara Hanzi. 4 tiang lagi terdapat ukiran naga yang mengelilingi tiang. Tiang ini terletak pada ruang suci atau ruang utama yang mana terdapat 4 tiang berwarna putih dengan tulisan berwarna merah. Warna putih pada tiang memiliki arti bahwa mereka memiliki biksu yang bertujuan untuk mengarahkan mereka dalam beribadah, memberi nilai dan ajaran Budha kepada umatnya. Jadi klenteng yang memiliki tiang dengan warna putih menandakan mereka memiliki biksu sebagai pemimpin spiritual mereka. Seperti pada gambar dibawah terdapat tiang kecil berwarna merah. Tiang tersebut dinamakan tiang pikul. Tiang pikul berfungsi untuk memikul orang beribadah supaya klenteng ini berdiri kokoh dan masyarakat yang sembahyang disana bertambah kuat imannya.

Tulisan yang berwarna merah memiliki arti perasaan yang bahagia, gembira dan biasanya digambarkan untuk hal-hal yang menyenangkan,seperti perayaan Imlek, Pernikahan, Festival yang identik dengan warna merah, karena

(38)

biasanya masyarakat Tionghoa tidak pernah menggunakan warna merah untuk suasana berduka. Warna merah juga melambangkan benda hidup. Tiang dan tulisan tersebut dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar Keterangan

慈济葯医惠万民 Cí jì yào yī huì wàn mín Tulisan ini bermakna “ suatu badan organisasi yang mana mereka yang memiliki

kemurahan hati untuk membantu banyak orang”

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa makna tersebut menjelaskan tentang makna yang mengajarkan kebaikan.

慈 Cí : baik hati 济 jì [濟] : membantu 葯 yào [藥] : obat 医 yī [醫] : dokter 惠 huì : kebaikan hati 万 wàn [萬] : banyak 民 mín : orang

Aksara lama yang terdapat pada tulisan ini adalah :

濟,藥, 醫 , 萬

(39)

真人德术传千古

Zhēn rén dé shù chuán qiān gǔ

Tulisan ini bermakna “seseorang yang baik hati yang memiliki kemahiran maka akan diteruskan selama-lamanya”

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa makna tersebut menjelaskan tentang makna yang mengajarkan kebaikan.

真 Zhēn : benar

人 rén : orang 德 dé : berbuat baik

术 shù [術] : kemahiran 传 chuán [傳] : diteruskan

千 qiān

banyak

古 gǔ

Aksara lama yang terdapat pada tulisan ini adalah :

術,傳

(40)

昔日荒芜群重建

xī rì huāng wú qún zhòng jiàn Tulisan ini bermakna “di masa lalu tempat ini terlantar, banyak rumput, dan lahan kosong, sehingga seluruh anggota organisasi melakukan kegiatan membangun kembali”

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa makna tersebut menjelaskan tentang asal usul klenteng See Hin Kiong.

昔 xī

日 rì 荒 huāng 芜 wú [蕪]

群 qún [羣] : seluruh

重 zhòng

建 jiàn

Aksara lama yang terdapat pada tulisan ini adalah :

蕪,羣

Masa lalu

kosong

membangun

(41)

今朝盛世铺民安

Jīn cháo shèng shì pù mín ān

Tulisan ini bermaka “dimasa sekarang mereka melebarkan jalan agar rakyat dimasa depan memiliki kehidupan, ketentraman dan keamanan yang lebih baik ”

Dari penjelasan diatas dapat disimpulan bahwa makna tersebut menjelaskan tentang kegiatan yang dilakukan oleh badan organisasi untuk meningkatkan

今 Jīn

Masa kini 朝 cháo

盛 shèng

Puncak kejayaan 世 shì

铺 pù [鋪] : meluruskan jalan

民 mín

Ketentraman 安 ān

Aksara lama yang terdapat pada tulisan ini adalah :鋪

(42)

kesejahteraan rakyat dimasa yang akan datang.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan terdapat 4 tiang berwarna coklat. Warna cokelat pada tiang menendakan sebagai pembawa hoki. Tiang yang berwarna coklat memiliki tulisan berwarna emas. Tulisan yang berwarna emas merupakan kepercayaan kepada Dewa dan ajaran-ajarannya dan biasanya menandakan derajat yang tinggi seperti Dewa/Dewi dan dilambangkan sebagai benda yang sudah tiada atau tidak hidup. Tiang dan tulisan tersebut dapat dilihat pada gambar berikut :

(43)

西土灑扬技超衆生拉古海 Xī tǔ sǎ yáng jì chāo zhòng shēng lā kǔ hǎi

Tulisan ini bermakna “di surga dibekali kemampuan yang luar biasa atau suatu keahlian supaya semua lapisan orang terlepas dari kesusahan (neraka) ”

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa makna tersebut menjelaskan tentang makna ajaran agama budha.

西 xī 土 tǔ 洒 sǎ [灑]

扬 yáng [揚]

技 jì 超 chāo 众 zhòng [衆]

生 shēng

拉 lā : sebutir 苦 kǔ

Kesusahan (neraka) 海 hǎi

Aksara lama yang terdapat pada tulisan ini adalah:

灑,揚,衆

surga

Dibekali

kemampuan

Semua lapisan orang

(44)

兴帮翻页清醒下界之谜涂 Xīng bāng fān yè qīng xǐng xià jiè zhī mí tú

Tulisan ini bermakna “untuk membangun desa harus membuka halaman dalam kondisi yang sadar untuk menyadarkan lapisan bawah yang mana mereka dalam keadaan bimbang”

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa makna tersebut menjelaskan tentang

兴 xīng [興]

desa 帮 bāng

翻 fān 页 yè [ ] 清 qīng

醒 xǐng

下 xià

Lapisan bawah 界 jiè atau dunia 之 zhī : menunjukkan tempat 谜 mí

涂 tú

Aksara lama yang terdapat pada tulisan ini adalah :

興,

halaman

sadar

bimbang

(45)

makna ajaran agama budha yang mengajarkan kebaikan.

随处化身莲花座上清风 Suí chǔ huà shēn lián huā zuò shàng qīng fēng jìng

Tulisan ini bermakna “jika seseorang memliki kesucian jiwa dari dalam dan dari luar maka diibaratkan dia dapat duduk diatas bunga teratai seperti Dewi Kwan Im”

Dari penjelasan diatas dapat

随 suí 处 Chǔ

化 huà

身 shēn

莲 lián [蓮]

花 huā

座 zuò 上 shàng

清 qīng

风 fēng [風] suci

静 jìng

Aksara yang terdapat pada tulisan ini adalah : 蓮

Seluruh tempat

Merubah keterampilan

Teratai atau tempat duduk budha

diatas

(46)

tersebut menjelaskan tentang kesucian jiwa.

弘犵救苦杨柳枝头甘露香 Hóng qì jiù kǔ yáng liǔ zhī tóu gān lù xiāng

Tulisan ini bermakna “minta pertolongan akan seperti di pucuk membantu orang bebas dari kesusahan seperti embun yang agak wangi ”

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa makna tersebut menjelaskan tentang makna yang mengajarkan kebaikan.

弘 hóng : arah

犵 qì : mengalir terus

救 jiù 苦 kǔ 杨 yáng [] 柳 liǔ

枝 zhī 头 tóu [頭]

甘 gān 露 lù

乡 xiāng : desa

Aksara lama yang terdapat pada tulisan ini adalah :

,頭

Bantu bebas dari

Kesusahan

Sejenis pohon

pucuk

embun

(47)

4.3.2 Makna Aksara Hanzi Pada Dinding

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan terdapat 8 dinding yang memiliki tulisan sedangkan bagian dinding yang lainnya terdapat ukiran-ukiran yang berbentuk hewan dan jiga legenda rakyat Tionghoa. Dinding yang rata bermakna menjaga dan melindungi klenteng ini dari hawa buruk atau pengaruh yang datang dari luar klenteng. 2 dinding yang berwarna putih dengan tulisan berwarna merah, 4 dinding berwarna hitam dengan tulisan berwarna emas, 2 dinding berwarna merah dengan tulisan berwarna emas. Hal ini merupakan sesuatu yang menarik, karena pada gambar tersebut dipadukan dua warna yang saling bertolak belakang tetapi memiliki makna yang saling berhubungan antara Dewa dengan pengikutnya atau benda yang tidak hidup dengan benda yang hidup.

Dinding yang memiliki warna putih dengan tulisan warna merah memiliki arti yang sama seperti pada tiang yang mana sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya. 4 dinding yang berwarna hitam dengan tulisan berwarna emas.

Warna hitam pada dinding artinya gelap,yang menandakan Dewa yang tidak terlalu tajam atau terbatas.

Tulisan-tulisan yang terdapat pada tiang dan dinding Klenteng See Hin Kiong ditulis untuk arti yang bagus dan membawa hoki, karena masyarakat yang datang beribadah secara tidak langsung berkaitan dengan tulisan-tulisan tersebut.

Tulisan-tulisan ini ditulis dari atas kebawah karena wadahnya tiang dan dinding agar mudah terlihat dan lebih menonjol. Tulisan pada dinding terletak pada sisi kiri dan kanan di bagian dalam Klenteng yang saling berhadapan. Dinding dan tulisan dapat dilihat pada gambar berikut :

(48)

Gambar Keterangan

门庭开豁江山常在掌中看

Mén tíng kāi huò jiāng shān cháng zài zhǎng zhōng kàn

Tulisan ini bermakna “pintu dibuka dengan senang hati (terbuka) masa depan akan berada di telapak tangan sendiri”

Dari penjelasan diatas dapat

disimpulkan bahwa makna tersebut menjelaskan tentang masa depan yang ditentukan oleh diri sendiri.

门 mén [門] : pintu 庭 tíng : teras 开 kā i [開]

豁 huò 江 jiāng

Masa depan 山 shān

常 cháng : selalu 在 zài : membawa 掌 zhǎng

中 zhōng

看 kàn : lihat

Aksara lama yang terdapat pada tulisan ini adalah :

terbuka

telapak

(49)

地位清高日月每清省上濄

dì wèi qīng gāo rì yuè měi qīng shěng shàng guō

Tulisan ini bermakna “tempat yang sudah cukup bersih dan suci”

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa makna tersebut menjelaskan tentang klenteng yang merupakan tempat yang bersih dan suci.

地 dì : bumi

位 wèi : tempat 清 qīng : bersih

高 gāo : tinggi

日 rì : hari 月 yuè : bulan

每 měi : rutin

清 qīng : suci

省 shěng : suku

上 shàng : atas

過 guò : lewat

(50)

真心拜佛此处就是天台

Zhēn xīn bài fó cǐ chǔ jiù shì tiān tái Tulisan ini bermakna “jika kita sepenuh hati menyembah Budha maka kita akan dibantu masuk surga”

Dari penjelasan diatas dapat

disimpulkan bahwa makna tersebut menjelaskan tentang seberapa besar iman dan keyakinan terhadap keprcayaan Budha.

真 zhēn : betul-betul 心 xīn : hati

拜 bài : sembahyang

佛fó : budha

此 cǐ

处 chǔ [䖏]

就 jiù 是 shì 天 tiān surga 台 tái

Aksara lama yang terdapat pada tulisan ini adalah : 䖏

Di tempat

jernih

(51)

有意烧香何必远游南海 yǒu yì shāo xiāng hé bì yuǎn yóu nán hǎi

Tulisan ini bermakna “kalau bermaksud mau bakar Hio tidak perlu jauh-jauh ke selatan untuk menyembah karena indonesia di selatan laut cina”

Dari penjelasan diatas dapat

disimpulkan bahwa makna tersebut menjelaskan tentang letak klenteng yang bertujuan agar masyarakat datang beribadah di Klenteng See Hin Kiong.

有 yǒu 意 yì 烧 shāo [燒]

Bakar hio 香 xiāng

何 hé

Tidak harus 必 bì

远 yuǎn [遠]

游 yóu [遊]

南 nán

海 hǎi

Aksara lama yang terdapat pada tulisan ini adalah :

berniat

Melancong jauh-jauh

Lautan selatan

(52)

西方佛教崇万家同沾法雨

xī fāng fó jiào chóng wàn jiā tóng zhān fǎ yǔ

Tulisan ini bermakna “dalam agama Budha akan sembahyangkan setiap pintu rumah bisa menyentuh inti dari Budha”

Dari penjelasan diatas dapat

disimpulkan bahwa makna tersebut menjelaskan tentang ajaran-ajaran Budha.

西 xī 方 fāng

佛 fó

教 jiào

崇 chóng : tinggi 万 wàn [萬]

家 jiā 同 tóng 沾 zhān 法 fǎ

雨 yǔ

Aksara lama yang terdapat pada tulisan ini adalah : 萬

surga

Budha

Setiap pintu rumah

menyentuh

Inti Budha

(53)

兴土神灵显庶预共皮春风

xīng tǔ shén líng xiǎn shù yù gòng pí chūn fēng

Tulisan ini bermakna “membangun suatu tempat secara otomatis dewa akan tunjukkan suatu rezeki yang cukup untuk menikmati angin kemakmuran”

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa makna tersebut menjelaskan tentang dewa yang member rezeki yang bagus.

兴xīng [興]

土 tǔ 神 shén

Dewa 灵 líng [靈]

显 xiǎn [顯]

庶 shù

预 yù [預] : menunjukkan 共 gòng : jumlah

被 bèi : luar

春 chūn 风 fēng [風]

Aksara lama yang terdapat pada tulisan ini adalah :

Tanah kosong

Rezeki yang cukup

Angin kemakmur an

(54)

定 dìng 有 yǒu 佛 fó

Agama Budha 光 guāng

普 pǔ

sebar 照 zhào

自 zì

南 nán 自 zì 北 běi

惟 wéi

凭 píng [憑]

善 shàn 果 guǒ

真 zhēn

菩 pú Dewa 提 tí

tetap

Ke selatan

Ke utara

Hanya tergan tung

Hasil buah yang baik

(55)

定有佛光普照自南自北惟凭善果真 菩提

dìng yǒu fó guāng pǔ zhào zì nán zì běi wéi píng shàn guǒ zhēn pú tí

Tulisan ini bermakna “sebarkan agama Budha ke utara dan selatan untuk menunjukkan suatu saat kamu bisa menjadi dewa”

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa makna tersebut menjelaskan tentang perintah untuk menyebaran ajaran Budha.

Aksara lama yang terdapat pada tulisan in adalah : 憑

(56)

查 chá 然 rán

性 xìng : sesuatu

地dì : jadi 皆 jiē 空 kōng

蕪 wú : tidak ada 色 sè : warna 蕪 wú : tidak ada

声 shēng [ 聲 ] : suara 但 dàn : tetapi 愿 yuàn : baik hati 慈 cí

肮 āng

超 chāo 苦 kǔ

海 hǎi

Secara otomatis

hampa

Terlepas dari kesusahan

(57)

Pada gambar-gambar diatas telah dijelaskan terdapat beberapa aksara lama.

Aksara-aksara ini tidak mempengaruhi makna tulisan pada klenteng karena hanya cara penulisannya saja yang berubah. Awalnya tulisan-tulisan Hanzi merupakan gambaran dari sebuah objek yang dimaksud dan tetapi seiring berjalannya waktu tulisan hanzi berubah menjadi lebih sederhana.

查然性地皆空蕪色蕪声但愿慈肮超 苦海

chá rán xìng dì jiē kōng wú sè wú shēng dàn yuàn cí āng chāo kǔ hǎi Tulisan ini bermakna “secara otomatis dalam keadaan hampa ( tidak ada suara, kecantikan, cinta atau dunia sudah kosong) tetapi sudah terlepas dari kesusahan”

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa makna tersebut menjelaskan tentang kesucian diri seperti dewa/dewi.

Aksara lama yang terdapat pada tulisan ini adalah : 聲

(58)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian, secara umum dapat disimpulkan:

1. Tulisan aksara Han Pada Klenteng See Hin Kiong di Kota Padang terletak pada dinding dan tiang klenteng yang tersusun rapi. Tulisan tersebut terdapat pada 8 tiang dan 8 pada dinding klenteng. Penulisan aksara Han pada klenteng See Hin Kiong sebahagian menggunakan aksara lama atau aksara kuno yang secara tidak langsung menambah keindahan klenteng tersebut.

2. Fungsi dari aksara Han tersebut selain dari menambah keindahan dan melengkapi fisik bangunan klenteng, tulisan ini juga mengandung makna spiritual yang mengajarkan kebajikan kepada penganut ajaran Budha.

3. Tulisan Aksara Han yang terdapat pada tiang dan dinding Klenteng See Hin Kiong memiliki beberapa makna yang berbeda yaitu: asal usul klenteng, kesucian diri atau jiwa, dewa yang memberi perlindungan dan rejeki, serta nasehat-nasehat tentang kebaikan. Tetapi makna yang paling mendominasi adalah nasehat-nasehat tentang kebaikan.

(59)

5.2 Saran

1. Pengurus Klenteng See Hin Kiong sebaiknya menyediakan lebih banyak keterangan bagi pengunjung klenteng, dari segi makna tulisan aksara Han pada klenteng ini sehingga segala informasi mengenai klenteng dapat diketahui oleh pengunjung, baik itu berupa brosur atau pamflet.

2. Sebaiknya pengurus klenteng menyediakan tulisan pinyin ( cara baca ) dari tulisan Hanzi terutama tulisan kuno, karena tidak semua orang dapat membaca tulisan tersebut serta arti dari tulisan tersebut agar setiap pengunjung yang datang dapat membaca dan mengetahui arti tulisan tersebut.

3. Akan lebih baik jika pengunjung yang datang untuk beribadah lebih memperhatikan dan memahami tulisan tersebut, karena pengunjung yang datang untuk beribadah cenderung mengabaikannya.

4. Selain sebagai tempat ibadah klenteng ini juga dikunjungi masyarakat umum sebagai destinasi wisata. Oleh karena itu, pemerintah diharapkan mendukung klenteng ini, karena dari informasi yang diperoleh hanya masyarakat Tionghoa Padang dan masyarakat sekitar yang membantu donasi klenteng.

(60)

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto. 2006. Posedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Agita, Lois. 2012. Pengajaran Menulis Hanzi di kelas X Sma Negeri 4 Surakarta.

Univrsitas Sebelas Maret Surakarta.

Astuti, Septiana. 2012. Kajian Makna Leksikal Nama Peralatan Rumah Tangga Tradisional di Pasar Gedhe Klaten. Universitas Negeri Yogyakarta.

Catra, Nugraha,Rianly..2017.Analisis Makna Struktur Klenteng See Hin Kiong Ditinjau dari Feng Shui.Universitas Sumatera Utara.

Ching, Francis. 2000. Ilustrasi Desain Interior. Jakarta: Erlangga.

Depdiknas. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Dwita. 2013. Analisis Penggunaan Setsuzokushi ga dan keredomo dalam Novelet Kappa karya Akutagawa Ryuunosuke. Universitas Udayana.

Fox, James J. 2002. “Agama dan Upacara”,Klenteng. Jakarta: Buku Antar Bangsa.

Hadi. 2007. Pengertian Wawancara. Jakarta: Ghalia.

Hamidi. 2010. Metode Penelitian Kualitatif. Malang: UMM Press.

Herdiansyah, Haris. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif Untuk IlmuIlmu Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.

Kaelan, M.S. 2005. Metode Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat:Yogyakarta:

Paradigma.

Laksono. 1999. Teori Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Lijian. 2015. Chinese Characters. Jakarta:Xlibris Corporation.

Lombard Deny, Salmon Claudine.2013.Klenteng-Klenteng dan Mayarakat Tionghoa di Jakarta. Jakarta: Cipta Loka Cakara.

Mansoer, Pateda. Semantik Leksikal. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Nazir, Moh. 1988. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.

(61)

Strauss, Juliet Corbin. 1997. Dasar-Dasar Penelitian Kualitatif. Surabaya: PT.

Bina Ilmu.

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:

Alfa Beta

Suryatenggara, Stefanus Hansel. 2011. Klenteng Boen Tek Bio TangerangKajian Arsitektural. Skripsi. Depok. Universitas Indonesia.

Website:

http://seehinkiong.com/Diakses pada tanggal 20 april 2017, pukul 15.00 WIB.

https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Klenteng_See_Hin_Kiong.jpgDiakses pada tanggal 02 Mei 2017, pukul 20.00 WIB.

https://eprints.uns.ac.id/5533/1/207272111201108121.pdfDiakses pada tanggal 05 Mei 2017, pukul 10.00 WIB.

https://situsbudaya.id/kelenteng-see-hin-kiong-padang/ Diakses pada tanggal 05 Mei 2017, pukul 13.00 WIB.

http://kelenteng.com/kelenteng-see-hien-kiong-padang/Diakses pada tanggal 11 Mei 2017, pukul 16.00 WIB.

http://padangkita.com/wajah-baru-klenteng-see-hin-kiong/Diakses pada tanggal 20 Mei 2017, pukul 08.00 WIB.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Artikel ini menegaskan bahwa sertifikat kelayakan (dalam hal ini maksudnya adalah kelayakan pesawat udara) dan sertifikat kompetensi dan lisensi dari pilot yang dikeluarkan

Penggunaan strategi inkuiri terbimbing adalah siswa dapat terarah dalam menyelesaikan permasalahan dalam belajar ( Rustaman 2011). Menurut Sanjaya tujuan utama

Oleh itu, dalam usaha merialisasikan matlamat ini adalah diharapkan perisian berbantukan komputer yang direka dapat meningkatkan minat pelajar terhadap matapelajaran sistem

Pada periode ini, beberapa isu penting yang perlu diperhatikan adalah kekerasan terkait Pemilukada yang masih terjadi di beberapa wilayah seperti di Kabupaten Aceh Selatan dan

Kompetensi yang dimaksud meliputi kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan untuk menjadi manusia Indonesia yang cerdas dan pekerja yang kompeten, sesuai dengan standar

Dari hasil perhitungan Indeks Williamson dan Indeks Entropi Theil menunjukkan bahwa ketimpangan yang terjadi di Wilayah Pembangunan I Jawa Tengah menunjukkan

Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) merupakan pusat permukiman yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala antar desa. Desa yang ditetapkan sebagai pusat permukiman

adil disini bukan hanya adil terhadap diri sendiri tetapi adil terhadap sesama manusia, adil terhadap masyarakat, terhadap bangsa dan terhadap Tuhan YME (