• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISA KADAR NITRIT (NO 2 ) PADA AIR MINUM DALAM KEMASAN DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS DI PT.TIRTA INVESTAMA PLANT LANGKAT KARYA ILMIAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISA KADAR NITRIT (NO 2 ) PADA AIR MINUM DALAM KEMASAN DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS DI PT.TIRTA INVESTAMA PLANT LANGKAT KARYA ILMIAH"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISA KADAR NITRIT (NO

2

) PADA AIR MINUM DALAM KEMASAN DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI

UV-VIS DI PT.TIRTA INVESTAMA PLANT LANGKAT

KARYA ILMIAH

SEPEN SINAMBELA 162401026

PROGRAM STUDI D3 KIMIA DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2019

(2)

UV-VIS DI PT.TIRTA INVESTAMA PLANT LANGKAT

KARYA ILMIAH

Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat memperoleh gelar Ahli Madya

SEPEN SINAMBELA 162401026

PROGRAM STUDI D3 KIMIA DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2019

(3)

i

(4)

ii

(5)

iii

(6)

iv

UV-VIS DI PT.TIRTA INVESTAMA PLANT LANGKAT ABSTRAK

Telah dilakukan analisis kandungan nitrit pada produk air minum dalam kemasan (AMDK) di PT. Pabrik Tirta Investama Langkat. Kadar nitrit ditentukan dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis dengan panjang gelombang 543 nm. Dari hasil analisis yang telah dilakukan diperoleh kadar nitrit dalam produk air minum dalam kemasan (AMDK) PT. Tirta Investama Plant Langkat adalah 0,002 mg / L pada produk Cup 240 mL line 1, 0,002 mg / L pada Cup 240 mL line 2, 0,003 mg / L pada Produk Botol 600 mL dan 0,002 mg / L pada produk Gallon.

Kata Kunci : Spektrofotometri UV-Vis, Nitrit.

(7)

v

ANALYSIS OF NITRITE (NO2) LEVELS IN BOTTLED DRINKING WATER USING THE UV-VIS SPECTROPHOTOMETRY AT

PT.TIRTA INVESTAMA PLANT LANGKAT

ABSTRACT

An analysis of nitrite content in bottled drinking water products (AMDK) has been carried out at PT. Tirta Investama Langkat Factory. Nitrite levels were determined using the UV-Visible spectrophotometry method with a wavelength of 543 nm. From the results of the analysis that has been done obtained nitrite levels in bottled drinking water products (AMDK) PT. Tirta Investama Plant Langkat is 0.002 mg / L in Cup 240 mL line 1 products, 0.002 mg / L in 240 mL line 2 Cup, 0.003 mg / L in Bottle Products 600 mL and 0.002 mg / L in Gallon products.

Key Word : Spektrofotometri UV-Vis, Nitrite.

(8)

vi

Halaman

PERSETUJUAN i

PERNYATAAN ii

PENGHARGAAN iii

ABSTRAK iv

ABSTRACT v

DAFTAR ISI vi

DAFTAR TABEL viii

DAFTAR LAMPIRAN ix

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Permasalahan 3

1.3 Tujuan 3

1.4 Manfaat 3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sumber dan Kegunaan Air 4

2.2 Air Tanah 5

2.2.1 Air Tanah Dangkal 5

2.2.2 Air Tanah Dalam 5

2.2.3 Mata Air 6

2.3 Sifat Air 6

2.4 Kualitas Air Untuk Kehidupan 8

2.4.1 Kualitas Air Secara Fisik 8

2.4.2 Kualitas Air Secara Kimia 9

2.4.3 Kualitas Air Secara Biologis 9

2.5 Pengolahan Air Minum 10

2.6 Pencemaran Air 10

2.6.1 Pencemar Air Oleh Bahan Inorganik Nutrisi Tanaman 11

2.6.2 Pencemaran Bahan Kimia Organik 11

2.6.3 Sumber Perncemaran Air Tanah 13

2.7 Nitrogen 13

2.8 Nitrat dan Nitrit 14

2.9 Nitrat 15

2.10 Nitrit 16

2.11 Sifat Fisika Dan Sifat Kimia Nitrit 16

2.12 Analisa Nitrit Pada air 18

2.13 Analisis Spektrofotometri UVVisible 19

2.13.1 Pembentukan senyawa yang menyerap sinar UVVis 19

2.13.2 Waktu Operasional 19

2.13.3 Pemilihan Panjang Gelombang 20

2.13.4 Pembuatan Kurva Baku 21

(9)

vii BAB 3 METODE PERCOBAAN

3.1 Alat 22

3.2 Bahan 22

3.3 Prosedur Percobaan 22

3.3.1 Pembuatan Larutan Pereaksi 22

3.3.2 Pembuatan Larutan Standar NO2 23

3.3.3 Kalibrasi Alat 24

3.3.4 Kurva Kalibrasi 25

3.3.5 Penentuan Absorbansi 25

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil 26

4.2 Pembahasan 26

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan 29

5.2 Saran 29

DAFTAR PUSTAKA 30

LAMPIRAN 32

(10)

viii

Nomor Judul Halaman

Tabel

4.1 Hasil Penentuan Kadar Nitrit Dalam Air Minum Dalam 26 Kemasan

(11)

ix

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

Lampiran

1 Daftar Ralat 33

2 Kriteria Kualitas Air Bersih SNI 3553 : 2015 35

3 Flowchart Perusahaan 37

4 Diagram Alir Proses pembuatan Air Minum Dalam 38 Kemasan

5 Alat yang Digunakan Dalam Analisa 39

(12)

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Air adalah zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara, 3/4 bagian tubuh kita terdiri dari air dan tidak seorang pun dapat bertahan hidup lebih dari 4-5 hari tanpa minum air. Selain itu air juga digunakan untuk memasak, mencuci, mandi, membersihkan kotoran yang ada disekitar rumah, untuk keperluan industri, pertanian, pemadam kebakaran, tempat rekreasi, transportasi dan lain-lain. Jumlah air dalam tubuh manusia rata-rata 65% dari berat tubuhnya, dan sangat bervariasi pada setip orang, bahkan juga bervariasi untuk setiap bagian tubuh seseorang (Chandra.2009).

Nitrit merupakan bentuk peralihan antara Ammonia dan Nitrit (Nitrifikasi) dan antara Nitrat dan gas Nitrogen (Denitrifikasi). Denitrifikasi berlangsung pada kondisi Anaerob. Pada denitrifikasi, gas N2 yang dapat terlepas dilepaskan dari dalam air ke udara. Ion Nitrit dapat berperan sebagai sumber Nitrogen bagi tanaman. Keberadaan nitrit menggambarkan berlangsungnya proses biologis perombakan bahan organik yang memiliki kadar oksigen terlarut sangat rendah (Achmad,2004).

Nitrogen dalam badan air baik dalam bentuk Amonia (NH3), Nitrat (NO3) dan Nitrit (NO2) sangat berpengaruh terhadap kualitas suatu badan air. Siklus- siklus Nitrogen yang terjadi dalam suatu badan air terkadang mengonsumsi paling banyak Oksigen terlarut dibandingkan dengan reaksi-reaksi biokimia lain yang terjadi dalam air. Kadar nitrit juga mempengaruhi lingkungan. Kadar nitrit yang tinggi akan mencemari air alam. Untuk itu, diperlukan analisa Nitrit dalam air alam. Nitrifikasi yang merupakan proses oksidasi Amonia menjadi Nitrit dan Nitrat adalah proses yang penting dalam siklus Nitrogen dal berlangsung pada kondisi aerob. Oksidasi Amonia menjadi Nitrit dilakukan oleh bakteri Nitrosomonas, sedangkan oksidasi Nitrit menjadi Nitrat dilakukan oleh bakteri Nitrobacter. Kedua jenis bakteri tersebut merupakan bakteri kemotrofik, yaitu bakteri yang mendapatkan energi dari proses kimiawi (Achmad,2004).

(13)

2

Diperairan alami, Nitrit (NO2) biasanya ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit, lebih sedikit dari pada Nitrat, karena bersifat tidak stabil dengan keberadaan oksigen. Keberadaan Nitrit menggambarkan berlangsungnya proses biologis perombakan bahan organik yang memiliki kadar oksigen terlarut rendah.

Nitrit yang dijumpai di air minum dapat berasal dari bahan inhibitor korosi yang dipakai di pabrik yang mendapatkan air dari sistem distribusi PDAM. Nitrit juga bersifat racun karena dapat bereaksi pada hemoglobin dalam darah, sehingga darah tidak dapat mengangkut oksigen, disamping itu juga Nitrit membentuk Nitrosamine pada air buangan tertentu dan dapat menimbulkan kanker. Efek terhadap kesehatan manusia yang dapat ditimbulkan adalah kandungan nitrit ini dalam air adalah serupa dengan apa yang diakibatkan oleh nitrat yaitu dapat menyebabkan terbentuknya “methaemoglobine” yang dapat menghambat perjalanan oksigen dalam tubuh, dan dapat menyebabkan “blubie” pada bayi.

Selain itu, nitrit adalah zat yang bersifat racun, sehingga standar persyaratan kualitas air minum yang ditetapkan oleh Dep. Kes. R.I. tidak memperbolehkan kehadiran bahan ini dalam air minum (Achmad,2004).

Pencemaran air diakibatkan oleh masuknya bahan pencemar yang dapat berupa gas, bahan-bahan terlarut, dan partikulat. Pencemaran memasuki badan air dengan berbagai cara, misalnya melalui atmosfer, tanah, limpasan pertanian, limbah domestik dan perkotaan, pembuangan limbah industri, dan lain-lain (Miller,1995).

Bahan baku yang digunakan pada PT.Tirta Investama Plant Langkat adalah air tanah yang diperoleh dengan cara digali sedalam ± 100 m. Mata air tanah yang digunakan dalam produksi yaitu berasal dari rumah sumber I, rumah sumber II, rumah sumber III dan rumah sumber IV, dimana lokasi mata air tanah PT.Tirta Investama Plant Langkat dikelilingi oleh banyak lahan pertanian sehingga kemungkinan banyak membawa kandungan senyawa-senyawa nitrogen dari sisa pemupukan dengan urea yang kurang tepat penggunaannya. Letak sumber mata air tanah juga berdekatan dengan pemukiman warga yang banyak penduduknya, sehingga limbah rumah tangga yang keluar dari kawasan padat pemukiman tentunya berpengaruh terhadap tingginya kandungan nitrit pada sumur galian sumber mata air tanah yang diguakan sebagai bahan baku tersebut.

(14)

Berdasarkan analisa dan uraian diatas maka penulis merasa tertarik dan ingin membahas masalah tersebut dengan memilih judul yaitu: Penentuan Kadar Nitrit (NO2) Pada Air Minum Dalam Kemasan Dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis di PT.Tirta Investama Plant Langkat.

1.2 Permasalahan

1. Apakah terdapat kandungan Nitrit (NO2) pada Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) PT.Tirta Investama Plant Langkat dan berapakah kadar Nitrit (NO2) yang diperoleh dari produk AMDK PT.Ptirta Investama Plant Langkat?

2. Apakah kandungan Nitrit (NO2) Pada AMDK PT. Tirta Investama Plant Langkat memenuhi standar menurut SNI 3553:2015?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui apakah terdapat kandungan Nitrit (NO2) pada Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) PT.Tirta Investama Plant Langkat dan kadar Nitrit (NO2) pada AMDK dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis.

2. Untuk mengetahui kandungan Nitrit (NO2) pada AMDK memenuhi Standar menurut SNI 3553:2015.

1.4 Manfaat

1. Dapat mengetahui apakah terdapat kandungan Nitrit (NO2) pada Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) PT.Tirta Investama Plant Langkat dan cara analisis Nitrit (NO2) dalam (Air Minum Dalam Kemasan) AMDK . 2. Dapat mengetahui kadar kadar Nitrit (NO2) dalam (Air Minum Dalam

Kemasan) AMDK.

(15)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sumber dan Kegunaan Air

Kuantitas dan kualitas air yang sesuai dengan kebutuhan menusia merupakan faktor penting yang menentukan kesehatan hidupnya. Kuantitas air berhubungan dengan adanya bahan-bahan lainnya terutama senyawa-senyawa kimia baik dalam bentuk senyawa organik maupun anorganik juga adanya mikroorganisme yang memegang peranan penting dalam menentukan komposisi kimia air (Agusnar,2008).

Seluruh peradaban manusia dan makhluk hidup lainnya dapat lenyap karena kurangnya air yang disebabkan berbagai faktor utama akibat dari perubahan iklim.

Kualitas air yang buruk disebabkan adanya berbagai jenis bakteri patogen dan kandungan bahan-bahan kimia berbahaya dapat membunuh berjuta manusia terutama di Negara-negara sedang berkembang (Agusnar,2008).

Air permukaan terdapat dalam permukaan danau, sungai dan sumber- sumber lainnya, sedangkan air tanah, terdapat didalam tanah. Air tanah dapat melarutkan mineral-mineralbahan induk dari tanah yang dilewatinya. Sebagian besar mikroorganisme yang semula ada dalam air tanah berangsur-angsur disaring sewaktu air meresap dalam tanah (Agusnar,2008).

Terdapat perbedaan yang cukup besar antara air tanah dan air permukaan.

Hal ini disebabkan oleh kandungan berbagai zat, baik yang terlarut maupun tersuspensi dalam perjalanan menuju kelaut. Air permukaan yang terkumpul dalam danau atau waduk mengandung nutrisi penting untuk pertumbuhan ganggang. Air permukaan yang mengandung bahan organik mudah terurai dalam konsentrasi tinggi secara normal mengandung bakteri dalam jumlah tinggi pula yang mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap kualitas air permukaan (Agusnar,2008).

Ada keterkaitan yang sangat kuat antara lapisan air, dimana air berada dengan lapisan tanah dimana keduanya dipengaruhi oleh kegiatan manusia.

Misalnya gangguan terhadap hutan menjadi lahan pertanian dapat menyebabkan reduksi negatif yang ada diatasnya dan mengurangi proses transpirasi yaitu

(16)

penguapan oleh tanaman. Hal itu dpat mempengaruhi iklim mikro (micro climate) diwilayah tersebut. Akibat dari hal tersebut adalah meningkatnya limpahan air, erosi, dan akumulasi dari lumpur dalam badan air serta dapat meningkatkan unsur-unsur hara dipermukaan air sehingga siklus nutrient akan dipercepat.

Terjadinya percepatan siklus tersebut akan sangat memberikan pengaruh terhadap karakteristik kimia dan biologi dari badan air (Agusnar,2008).

2.2 Air Tanah

2.2.1 Air Tanah Dangkal

Terjadi karena daya proses peresapan air dari permukaan tanah. Lumpur akan tertahan, demikian pula dengan sebagian bakteri, sehingga air tanah akan jernih tetapi lebih banyak mengandung zat kimia (garam-garam yang terlarut) karena melalui lapisan tanah yang mempunyai unsur-unsur kimia tertentu untuk masing-masing lapisan tanah. Lapis tanah ini berfungsi sebagai saringan.

Disamping penyaringan, pengotoran juga masih terus berlangsung, terutama pada muka air yang dekat dengan muka tanah setelah menemui lapisan rapat air, air akan terkumpul merupakan air tanah dangkal dimana air tanah ini dimanfaatkan untuk sumber minum melalui sumur-sumur dangkal. Air tanah dangkal ini dapat pada kedalam 15,00 m. Sebagai sumur air minum, air tanah dangkal ini ditinjau dari segi kualitas agak baik. Kuantitas kurang cukup dan tergantung pada musim (Sutrisno,1996).

2.2.2 Air Tanah Dalam

Terdapat setelah lapisan rapat air yang pertama. Pengambilan air tanah dalam, tak semudah pada air tanah dangkal. Dalam hal ini harus digunakan dan memasukkan pipa kedalamnya sehingga dalam suatu kedalaman (biasanya antara 100-300 m) akan didapatkan suatu lapisan air (Sutrisno,1996).

Kualitas dari air tanah dalam: Pada umumnya lebih baik dari air dangkal, karena penyaringan lebih sempurna dan bebas dari bakteri. Susunan unsur-unsur kimia tergantung pada lapis-lapis tanah yang dilalui. Jika melalui tanah kapur, maka air itu akan menjadi sadah, karena mengandung Ca(HCO3)2 dan

(17)

6

Mg(HCO3)2. Jika melalui batuan granit, maka air itu lunak dan agresid karena mengandung gas CO2 dan Mn(HCO3). Kualitas pada air tanah pada umumnya mencukupi (tergantung pada lapisan keadaan tanah) dan sedikit pengaruh oleh perubahan musim (Sutrisno,1996).

2.2.3 Mata Air

Menurut Sutrisno tahun 1996 Mata Air adalah air tanah yang keluar dengan sendirinya kepermukaan tanah. Mata air yang berasal dari tanah dalam, hampir tidak terpengaruh oleh musim dan kualitas/kualitasnya sama dengan kualitas air dalam. Berdasarkan keluarnya (munculnya permukaan tanah ) terbagi atas:

 Rembesan, dimana air keluar dari lereng-lereng.

 Umbul, dimana air keluar kepermukaan pada suatu dataran (Sutrisno,1996).

2.3 Sifat Air

Air memiliki karakteristik yang khas yang tidak dimiliki oleh senyawa kimia yang lain. Karakteristik tersebut adalah sebagi berikut:

1. Pada kisaran suhu yang sesuai bagi kehidupan, yakni 0°C (37°F) – 100°C (132°F), air berwujud cair. Suhu 0°C merupakan titik beku dan suhu 100°C merupakan titik didih air. Tanpa sifat tersebut, air yang terdapat dalam jaringan makhluk hidup maupun air yang terdapat dilaut, sungai, danau dan badan air yang lain akan berada dalam bentuk gas atau padatan, sehingga tidak akan terdapat kehidupan dibumi, karena sekitar 60% - 90% bagian sel makhluk hidup adalah air (Effendi,2002).

2. Perubahan suhu air berlangsung lambat sehingga air memiliki sifat sebgai penyimpan panas yang sangat baik. Sifat ini memungkinkan air tidak menjadi panas ataupun dingin seketika. Perubahan suhu air yang lambat mencegah terjadinya stress pada mahkluk hidup karena adanya perubahan suhu yang mendadak dan memelihara suhu bumi agar sesuai bagi mahkluk hidup. Sifat ini juga menyebabkan air sangat baik sebagian sebagai pendingin (Effendi,2002).

3. Air memerlukan panas yang tinggi dalam proses penguapan. Penguapan (evaporasi) adalah proses perubahan air menjadi uap air. Proses ini memerlukan energi panas dalam jumlah yang besar. Sebaiknya, proses

(18)

perubahan uap air menjadi cairan (kondensat) memerlukan energi panas yang besar. Pelepasan energi ini merupakan salah satu penyebab mengapa kita merasa sejuk pada saat berkeringat. Sifat ini juga merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan terjadinya penyebaran panas secara baik dibumi (Effendi,2002).

4. Air merupakan pelarut yang baik. Air mampu melarutkan berbagai senyawa kimia. Air hujan merupakan senyawa kimia dalam jumlah yang sangat sedikit, sedangkan air laut dapat mengandung senyawa kimia hingga 35.000 mg/L.

Sifat ini memungkinkan unsur hara terlarut diangkut keseluruh jaringan tubuh mahkluk hidup dan memungkinkan bahan-bahan toksik yang masuk kedalam jaringan tubuh mahkluk hidup dilarutkan untuk dikeluarkan kembali. Sifat ini juga memungkinkan air sebagai pencuci yang baik dan pengencer bahan pencemar yang masuk kebadan kita (Effendi,2002).

5. Air memiliki tegangan permukaan yang tinggi. Suatu cairan dikatakan memiliki tegangan permukan yang tinggi jika tekanan antar molekul cairan tersebut tinggi. Tegangan permukaan yang tinggi menyebabkan air memiliki sifat membasahi suatu bahan secara baik. Tegangan permukaan yang tinggi juga memungkinkan terjadinya sistem kapiler, yaitu kemampuan untuk bergerak dalam pipa kapiler (pipa dengan lubang yang kecil). Dengan adanya sistem kapiler dan sifat pelarut yang baik, air dapat membawa nutrient dari dalam tanah ke jaringan tumbuhan (akar, batang dan daun). Adanya tegangan permukaan memungkinkan beberapa organisme, misalnya jenis-jenis insekta, dapat merayap dipermukaan air (Effendi,2002).

6. Air merupakan satu-satunya senyawa yang merenggang ketika membeku. Pada saat membeku, air merenggang sehingga es memiliki nilai densitas (massa/volume) yang lebih rendah dari pada air. Dengan demikian, es akan mengapung di air. Sifat mengakibatkan danau-danau di daerah yang beriklim dingin hanya membeku pada bagian permukaan (bagian bawah permukaan masih berupa cairan) sehingga kehidupan organisme akuatik tetap berlangsung.

Sifat ini juga mengakibatkan pecahan pipa air pada saat air di dalam pipa membeku. Densitas (berat jenis) air maksimum sebesar 1 g/cm3 terjadinya pada suhu 3,95° C, densitas air lebih kecil dari satu (Effendi, 2002).

(19)

8

2.4 Kualitas Air Untuk Kehidupan

Sesuai dengan ketentuan badan dunia (WHO) maupun badan setempat (Departemen Kesehatan) serta ketentuan/peraturan lain yang berlaku seperti American Public Health Assocoation atau Asosiasi Kesehatan Masyarakat AS (APHA), layak tidaknya air untuk kehidupan manusia ditentukan berdasarkan persyaratan kualitas secara fisik, secara kimia dan secara biologis (Miller, 1995).

2.4.3 Kualitas Air Secara Fisik 1. Kekeruhan

Kekeruhan air dapat ditimbulakan oleh adanya bahan–bahan organik dan anorganik, seperti lumpur dan bangunan dari pemukiman tertentu yang menyebabkan air sungai menjadi keruh. Air yang mengandung kekeruhan tinggi akan mengalami kesulitan kalau diproses untuk sumber air bersih.

Kesulitannya antara lain dalam proses penyaringan. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa air dengan kekeruhan yang tinggi akan sulit untuk didefenisikan, yaitu proses pembunuhan terhadap kandungan mikroba yang tidak diharapkan (Wardhana, 1995).

2. Temperatur

Kenaikan temperatur atau suhu didalam badan air, dapat menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut atau Dissolved Oxygen (DO) air.

Dissolved Oxygen yang terlalu rendah, dapat menibulkan bau yang tidak sedap akibat terjadinya degradasi ayau penguraian bahan–bahan organik ataupun anorganik didalam air secara anaerobik. Sekalain itu dengan adanya kadar residu/sisa yang tinggi dalam air menyebabkan rasa yang tidak enak serta dapat mengganggu pencernaan makanan (Wardhana, 1995).

3. Warna

Warna air berubah tergantung kepada warna buangan yang memasuki badan air itu sendiri (Wardhana, 1995).

(20)

4. Bau dan rasa

Bau dan rasa yang terdapat di dalam air baku dapat dihasilkan oleh kehadiran organisme seperti mikroalga dan bakteri. Dari segi estetika, air yang berbau, apalagi bau busuk, ataupun air yang berasa secara alami, tidak dikehendaki dan tidak dibenarkan oleh peraturan dan ketentuan yang berlaku (Wardhana, 1995).

2.4.4 Kualitas Air Secara Kimia a. pH

Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan mempunyai pH berkisar antara 6,5 – 7,5 (Khopkar, 2003).

b. kandungan Senyawa Kimi di Dalam Air

Contoh: logam berat seperti Hg (air raksa) dan Pb (timbal) merupakan zat kimia berbahaya jika masuk kedalam air (Khopkar, 2003).

c. Kandungan Residu atau Sisa

Contoh: residu pestisida, detergent, kandungan senyawa toksin atau racun dan sebagainya (Khopkar, 2003).

2.4.5 Kualitas Air Secara Biologis 1. Parameter Mikroba Pencemar

Contoh: Eschericia coli di dalam air, sangat tidak diharapkan apalagi kalau air tersebut untuk kepentingan kehidupan manusia (rumah tangga). Untuk air minum harus kurang dari satu atau tidak ada sama sekali, kalau kualitas air tersebut termasuk yang betul-betul memenuhi syarat (Khopkar, 2003).

2. Patogen

Banyak jenis bakteri patogen (penyebab penyakit) berkembang dan menular melaui badan air, misalnya penyebab penyakit tifus (Sallmonella), disentri (Shigella), kolera (Vibrio) dan difteri (Cirynebacterium) (Khopkar, 2003).

(21)

10

2.5 Pengolahan Air Minum

Menurut Kusnaedi (2002), tujuan pengolahan air minum merupakan upaya untuk mendapatkan upaya untuk mendapatkan air yang bersih dan sehat sesuai dengan standart mutu air. Proses pengolahan air minum merupakan proses perubahan sifat fisik, kimia dan biologi air baku agar memenuhi syarat untuk digunakan sebagai air minum (Mulia,2005).

Pada dasarnya, pengolahan air minum dapat diawali dengan penjernihan air, pengurangan kadar bahan-bahan kimia terlarut dalam air sampai batas yang dianjurkan, penghilangan mikroba patogen, memperbaiki derajat keasaman (pH) serta memisahkan gas-gas terlarut yang dapat mengganggu estetika dan kesehatan(Mulia,2005).

Air tidak jernih umumnya mengandung residu. Residu tersebut dapat dihilangkan dengan proses penyaringan (filtrasi) dan pengendapan (sedimentasi).

Untuk mempercepat proses penghilangan residu tersebut perlu ditambahkan koagulan. Bahan koagulan yang sering dipakai adalah alum (tawas). Untuk memaksimalkan proses penghilangan residu, koagulan sebaiknya dilarutkan dalam air sebelum dimasukkan kedalam tangki pengendapan (Mulia,2005).

Penghilangan mikroba patogen, dapat dilkukan dengan menggunakan desinfectant. Bahan-bahan desinfecfant yang banyak dipakai adalah kaporit dan ozon. Umumnya bahan-bahan desinfectant ini bersifat oksidator., sehingga dapat membunuh mikroba patogen. Dalam mencarri kebutuhan kaporit, harus ditentukan sumber daya sergap Chlor nya. Daya sergap Chlor adalah banyaknya chlor aktif yang dipakai oleh senyawa pereduksi yang ada dalam air. Jika daya sergap telah ditentukan, maka kebutuhan kaporit dapat ditentukan (Mulia,2005).

2.6 Pencemaran Air

Abel wolman menyatakan air adalah H2O + X dimana X adalah zat-zat yang ditimbulkan karena buangan oleh aktivitas manusia bertahun-tahun melalui sistem Hydrological cyle. Dengan bertambahnya aktivitas manusia di dalam kehidupan modern maupun peningkatan aktivitas pembangunan maka faktor x dalam air akan merupakan masalah yang lebih hebat di waktu mendatang dalam hubungan masalah standarisasi air minum khususnya (Amsyari, 1996).

(22)

2.6.1 Pencemar Air Oleh Bahan Inorganik Nutrisi Tanaman

Penggunaan pupuk nitrogen dan fosfat dalam bidang pertanian telah dilakukan sejak lama secara meluas. Pupuk kimia ini dapat menghasilkan produksi tanaman pangan yang tinggi sehingga menguntungkan petani. Tetapi dilain pihak, nitrat dan fosfat dapat mencemari sungai, danau dan lautan.

Sebenarnya sumber pencemaran nitrat ini tidak hanya berasal dari pupuk pertanian saja, karena diudara atmosfer bumi mengandung 78% gas nitrogen.

Pada waktu hujan dan terjadi kilat dan petir, di udara akan terbentuk amonnia dan nitrogen (NH4¯, NO3¯) dan terbawa air hujan menuju permukaan tanah. Nitrogen akan bersenyawa dengan komponen yang kompleks lainnya (Amsyari, 1996).

Kandungan nitrit yang tinggi dalam air minum akan dapat menyebabkan gangguan sistem peredaran darah pada bayi berumur dibawah 3 bulan. Penyakit ini disebut “gejala bayi biru”, dengan gejala yang khas yaitu terlihat warna kebiruan pada daerah sekitar bibir dan ada dibagian beberapa tubuh. Hal ini disebabkan oleh jenis bakteri di dalam lambung yang mengubah nitrit yang mengubah nitrat menjadi nitrit (NO2) (Amsyari, 1996).

Beberapa penelitian melaporkan, nitrit dapat mengakibatkan kanker pada lambung dan saluran pernapasan pada orang dewasa. Hal ini menjadi perdebatan karena pada tahun 1984 ikatan dokter di Inggris melaporkan bahwa kasus kanker sangat menurun pada daerah air minumnya mengandung nitrat yang tinggi. Di lain pihak, di Cina pada wal tahun 1980 ditemukan 140 orang dari 100.000 orang pria meninggal dunia karena kanker lambung. Di daerah tempat ditemukan angka kematian yang tinggi tersebut, kandungan nitrat dalam air minum dan dalam sayuran lebih tinggi dari normal (Amsyari, 1996).

2.6.2 Pencemaran Bahan Kimia Organik

Bahan kimia organik seperti minyak, plastik, pestisida, larutan pembersih, detergen dan masih banyak lagi bahan organik terlarut yang digunakan oleh manusia dapat menyebabkan kematian pada ikan maupun organisme air lainnya.

Lebih dari 700 bahan kimia organik sintesis ditemukan dalam jumlah relatif.

Sedikit pada permukaan air tanah untuk minum di Amerika, dan dapat

(23)

12

menyebabkan gangguan pada ginjal, gangguan kelahiran dan beberapa macam bentuk kanker pada hewan percobaan di laboratorium. Tetapi sampai sekarang belum diketahui apa akibatnya pada orang yang mengonsumsi air tersebut sehingga dapat menyebabkan keracunan kronis (Amsyari, 1996).

Keadaan air yang ada disungai-sungai, danau dan laut yang berada di Indonesia, sebagian besar sudah terkontaminasi oleh berbagai bakteri-bakteri buruk seperti mokroorganisme patogen yang ditimbulkan dari berbagai aktivitas manusia, seperti sampah-sampah rumah tangga yang dibuang kesungai, limbah- limbah dari kegiatan rumah tangga yang dibuang kesungai. Kegiatan seperti ini secara tidak langsung telah mencemari air sehingga air sungai, danau dan laut yang seharusnya bisa kita gunakan untuk keperluan sehari-hari namun kini tidak bisa menggunakan sesuai fungsinya (Amsyari, 1996).

Limbah dari hasil kegiatan rumah tangga yang mencemari air jika terus menerus dibiarkan maka lambat laun akan menghasilkan dampak buruk yang luar biasa bagi semua makhluk hidup yang membutuhkan air. Dampak yang dihasilkan berupa krisis air bersih, dan bagi makhluk hidup yang berada dalam air seperti ikan plankton dampak terburuknya adalah kematian. Bagi manusia jika mengonsumsi hewan air yang tempat tinggalnya sudah tercemar tentu itu akan berdampak buruk bagi kesehatan tubuh manusia. Umumnya jika air sudah mengalami pencemaran yang cukup tinggi maka hewan air yang berada didalamnya juga sudah tercemar (Amsyari, 1996).

Limbah organik merupakan limbah yang dapat diuraikan oleh mikroorganisme dengan proses yang tidak terlalu lama. Limbah anorganik merupakan limbah yang tidak dapat diurai, dan bisa akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Namun jika limbah organik dan anorganik ini tidak diproses dengan baik dan atau dibuang pada air lingkungan seperti sungai, danau atau pun laut, tentu ini akan menyebabkan pencemaran air dan akan berdampak buruk bagi kehidupan mahkluk hidup (Amsyari, 1996).

(24)

2.6.3 Sumber Perncemaran Air Tanah

Air tanah dapat terkontaminasi dari beberapa sumber pencemar, baik local maupun regional. Dan sumber utama kontaminasi air tanah ialah terjadi kebocoran bahan kimia organik dari penyimpanan bahan kimia dalam bunker yang disimpan dalam tanah, dan penampungan limbah industri yang ditampung dalam suatu kolam besar yang terletak diatas atau di dekat sumber air tanah.

Perembesan minyak pelumas mobil dari suatu perbengkelan yang besar, pompa bensin, larutan pembersih dari suatu pabrik dan bahan-bahan kimia berbahaya yang tersimpan dalam gudang bawah tanah, sangat berperan dalam terjadinya kontaminasi air tanah mencapai 40% dari sumber air tanah. Perembesan minyak satu gallon per hari dapat mencemari dari air minum yang dikonsumsi 50.000 orang penduduk. Perembesan bahan polutan tersebut secara perlahan biasanya tidak diketahui atau tidak terdeteksi sampai terjadinya korban pada orang yang mengonsumsi air sumur yang bersangkutan (Amsyari, 1996).

2.7 Nitrogen

Nitrogen dan senyawa tersebar secara luas dalam biosfer. Lapisan atmosfer bumi mengandung sekitar 78% gas Nitrogen. Bebatuan juga mengandung nitrogen. Pada tunbuhan dan hewan, senyawa nitrogen ditemukan sebagai penyusun dan kloforil. Meskipun ditemukan dalam jumlah yang melimpah dilapisan atmosfer, akan tetapi nitrogen tidak dimanfaatkan oleh mahkluk hidup secara langsung. Nitrogen harus mengalami fiksasi terlebih dahulu menjadi NH3, NH4 dan NO3. Meskipun demikian bakteri Azetobacter dan clostridium serta beberapa jenia Algae hujau-biru, misalnya Anabaena, dapat memanfaatkan gas N2 secara langsung dari udara sebagai sumber Nitrogen (Mahida, 1984).

Nitrogen dalam air limbah pada umumnya terdapat dalam bentuk organik dan oleh bakteri berubah menjadi amonia. Dalam kondisi aerob dan dalam waktu tertentu bakteri dapat mengoksidasi amonia menjadi Nitrit dan Nitrat. Nitrat dapat digunakan oleh algae dan tumbuh-tumbuhan lain untuk membentuk protein tanaman dan oleh hewan untuk membentuk protein hewan. Perusakan protein tanaman dan hewan oleh bakteri menghasilkan amonia (Mahida, 1984).

(25)

14

2.8 Nitrat dan Nitrit

Nitrat dan nitrit merupakan bentuk yang teroksidasi, dengan tingkat oksidasi masing-masing +3 dan +5. Nitrit biasanya tidak bertahan lama dan merupakan keadaan sementara proses oksidasi antara amonia dan nitrat, yang dapat terjadi pada instalasi pengolahan air buangan. Nitrit yang ditemui pada air dapat berasal daribahan inhibitor korosi yang dipakai dipabrik yang mendapatkan air dari sistem distribusi PAM. Nitrit sendiri membahayakan kesehatan karena dapat bereaksi dengan hemoglobin dalam darah, sehingga darah tersebut tidak mengangkut oksigen lagi (Basset, 1994).

Nitrat dan nitrit merupakan ion yang terbentuk secara alami sebagai bagian siklus nitrogen. Nitrat digunakan terutama sebagai pupuk anorganik, dan natrium nitrit digunakan sebagai zat pengawet makanan terutama pada daging olahan.

Konsentrasi nitrat dalam air tanah dan air permukaan biasanya lebih rendah, tetapi dapat mencapai nilai yang tinggi akibat proses perembesan atau pengaliran dari lahan pertanian atau kontaminasi dari limbah manusia dan hewan sebagai konsekuensi proses oksidasi amonia dan sumber yang serupa. Kondisi anaerob dapat mengakibatkan pembentukan dan persistensi nitrit. Kloraminasi dapat memicu pembentukan nitrit dalam sistem distribusi apabila pembentukan kloramin tidak dikendalikan dengan tepat. Pembentukn nitrit merupakan konsekuensi aktivitas mikroba dan dapat bersifat naik-turun. Nitrifikasi dalam sistem distribusi dapat meningkatkan kadar nitrit, biasanya sampai 0,2 – 1,5 mg/L (Widyastuti.2005).

Masalah kesehatan utama berkaitan dengan nitrat dan nitrit adalah pembentukan methaemoglobinemia, yang disebut “sindrom bayi biru”. Nitrat direduksi menjadi nitrit dalam lambung bayi, dan nitrit dapat mengoksidasi hemoglobin (Hb) menjadi methaemoglobine (metHb) yang tidak mampu mentrasfer oksigen keseluruh tubuh. Penurunan transpor oksigen menjadi menifestasi klinis apabila konsentrasi methaemoglobine mencapai 70% atau lebih dari konsentrasi Hb normal; kondisi yang disebut sebagai methaemoglobinemia yang menyebabkan sianosis. Kadar Hb normal pada bayi usia kurang dari 3 bulan adalah 3% (Widyastuti.2005).

(26)

2.9 Nitrat

Adanya NO3 dalam air adalah berkaitan erat dengan siklus Nitrogen dalam alam. Dalam siklus tersebut dapat diketahui bahwa Nitrat dapat terjadi baik dari N2 atmosfir maupun dari pupuk-pupuk (fertilizer) yang digunakan dan dari oksidasi NO2¯ oleh bakteri dari kelompok Nitrobacter. Nitrat yang terbentuk dari proses-proses tersebut adalah merupakan pupuk bagi tanam-tanaman. Nitrat yang kelebihan dari yang dibutuhkan oleh kehidupan tanaman terbawa oleh air yang merembes melalui tanah, sebab tanah tidak mempunyai kemampuan untuk menahannya. Ini mengakibatkan terdapatnya konsentrasi Nitrat yang relatif tinggi pada air tanah (Sunu, 2001).

Jumlah NO3¯ (nitrat) yang besar dalam usus cenderung untuk berubah menjadi nitrit (NO2¯), yang dapat bereaksi langsung dengan haemoglobin dalam darah membentuk “methaemoglobine” yang menghalangi perjalanan oksigen di dalam tubuh (Sunu, 2001).

Standar konsentrasi maksimum yang diperoleh untuk NO3¯ yang ditetapkan Dep. Kes. R.I. adalah sebesar 20,0 mg/L. Menurut standar internasional WHO, batas konsentrasi yang diterima adalah 45 mg/L, sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh US Public Health Service (Sutrisno,T.,1996). Nitrat adalah bentuk senyawa nitrogen yang merupakan sebuah senyawa yang stabil. Nitrit merupakan salah satu unsur penting untuk sintesa protein tumbuh-tumbuhan dan hewan, akan tetapi nitrat dalam konsentrasi yang tinggi dapat menstimulasi pertumbuhan ganggang yang tidak terbatas, sehingga air kekurangan oksigen terlarut yang menyebabkan kematian ikan. Nitrat dapat berasal dari buangan industri pabrik peledak, pupuk, cat dan sebaginya. Kadar nitrat secara alamiah biasanya agak rendah, namun kadar nitrat dapat menjadi tinggi sekali pada tanah di daerah- daerah yang diberi pupuk yang mengandung nitrat. Kadar nitrat tidak boleh melebihi 10 mg/L (Sunu, 2001).

(27)

16

2. 10 Nitrit

Nitrit merupakan bentuk nitrogen yang teroksidasi. Nitrit biasanya tidak bertahan lama dan merupakan keadaan sementara proses oksidasi antara amonia dan nitrat, yang dapat terjadi pada instalasi pengolahan air buangan, air sungai dan system drainase. Pada air minum nitrit nerasal dari bahan inhibitor korosi pada pabrik dengan sistem distribusi PAM. Nitrit membahayakan kesehatan karena bereaksi dengan hemoglobin dalam darah, sehingga darah tidak dapat mengangkut oksigen lagi. Pada air buangan tertentu menimbulkan nitrosamine yang menyebabkan kanker (Achmad,2004).

Efek terhadap kesehatan manusia yang dapat ditimbulkan adalah kandungan nitrit ini dalam air adalah serupa dengan apa yang diakibatkan oleh nitrat yaitu dapat menyebabkan terbentuknya “methaemoglobine” yang dapat menghambat perjalanan oksigen dalam tubuh, dan dapat menyebabkan “blubie” pada bayi.

Selain itu, nitrit adalah zat yang bersifat racun, sehingga standar persyaratan kualitas air minum yang ditetapkan oleh Dep. Kes. R.I. tidak memperbolehkan kehadiran bahan ini dalam air minum (Achmad,2004).

Nitrit dalam alam yang pada akhirnya akan sampai juga ke air, dapat terbentuk baik dari oksidasi amonia (NH3) oleh bakteri Nitrosomonas group dalam kondisi aerobic:

2 NH3 + 3 O2 bakteri 2 NO2¯ + 2 H¯ + 2 H2O

maupun dari reduksi Nitrat (NO3¯) oleh proses Nitrit, yang lain (Sutrisno,1996).

2.11 Sifat Fisik Dan Sifat Kima Nitrit

Nitrit merupakan bentuk nitrogen yang hanya sebagian teroksidasi. Nitrit bersumber dari bahan-bahan bersifat korosif dan banyak digunakan di pabrik- pabrik. Nitrit tidak tetap dan dapat berubah menjadi amonia atau dioksidasi menjadi nitrat. Pengaruh nitrit pada kesehatan manusia yaitu, dapat menyebabkan methaemoglobine dan efek racun kandungan nitrit dalam air lebih besar dari 0 (nol) mg/L (Prabowo, 2016).

(28)

Nitrit dapat teroksidasi lebih lanjut oleh oksihemoglobin [HbFe(II)O2] membentuk nitrat dan methaemoglobine (MetHb). Perlu diperhatikan NO dapat bereaksi langsung dengan oksihemoglobin menghasilkan nitrat dan methaemoglobine dan reaksi tersebut dapat terjadi pada pembuluh darah arteri maupun vena (Jobgen, 2007).

Diperairan alami, nitrit (NO2) ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit, lebih sedikit dari pada nitrat, karena bersifat tidak stabil dengn keberadaan oksigen. Nitrit merupakan bentuk peralihan (intermediate) antara amonia dan nitrat (nitrifikasi) dan antara nitrat dengan gas nitrogen (denitrifikasi) yang berlangsung pada kondisi anaerob. Bagi manusia dan hewan, nitrit lebih bersifat toksik dari pada nitrat. Garam-garam nitrit digunakan sebagai penghambat terjadinya korosi pada industri. Pada manusia, konsumsi nitrit yang berlebihan dapat mengakibatkan terganggunya proses pengikatan oksigen oleh hemoglobin darah, yang selanjutnya membentuk methaemoglobine yang tidak mampu mengikat oksigen. Selain itu, NO2 juga dapat menimbulkan nitrosamin (RR’N – NO) pada air buangan tertentu yang dapat menyebabkan kanker. Pada pH 2 sampai 2,5, nitrit berikatan dengan hasil reaksi antara diazo asam sulfanilik dan N- (1-naftil) - ethilenediamine dihydrocloride membentuk celupan berwarna ungu kemerah-merahan (Juanda,2012).

Nitrat dan nitrit adalah komponen yang mengandung nitrogen berikatan dengan atom oksigen, nitrat mengikat tiga atom oksigen sedangkan nitrit mengikat dua atom oksigen. Dialam nitrat sudah diubah menjadi bentuk nitrit atau bentuk lainnya. Berat molekul nitrit adalah sebesar 46,006 gram/mol. Pada kondisi yang normal, baik nitrit maupun nitrat adalah komponen yang stabil, tetapi dalam suhu yang tinggi menjadi tidak stabil dan dapat meledak pada suhu yang sangat tinggi dan tekanan yang sangat besarBiasanya adanya ion klorida, bahan metal tertentu atau bahan organik akan mengakibatkan nitrat dan nitrit menjadi tidak stabil. Jika terjadi kebakaran, maka tempat penyimpanan nitrit maupun nitrat sangat berbahaya untuk didekati karena dapat terbentuk gas beracun bila terbakar dan menimbulkan ledakan. Bentuk garam dari nitrat dan nitrit tidak berwarna dan tidak berbau serta tidak berasa. Nitrat dan nitrit bersifat higroskopis (Wahyudi, 2007).

(29)

18

2.12 Analisa Nitrit Pada Air

Kandungan nitrit yang terdapat dalam air dapat dianalisis dengan metode Nessler. Kadar nitrir dapat diukur dengan menggunkan metode Nessler kualitatif dan kuantitatif. Dimana metode nessler kualitatif yaitu dengan cara menggunakan asam sulfonil dan naphtyl amine. Dimana warna sampel dibandingkan dengan warna larutan standart atau larutan stock nitrit. Warna sampel yang paling mendekati warna larutan stock nitrit itulah yang paling tinggi kadar nitritnya (Day,dkk,2002).

Sinar ultraviolet (UV) mempunyai panjang gelombang antara 200-400 nm, dan sinar tampak (Visible) mempunyai panjang gelombang 400-750 nm.

Pengukuran spektrofotometri menggunakan alat spektrofotometer yang melibatkan energi elektronik yang cukup besar pada molekul yang dianalisis, sehingga spektrofotomoeter UV-Vis lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif dibandingkan kualitatif. Spektrum UV-Vis sangat berguna untuk pengukuran secara kuantitatif. Konsentrasi dari analit didalam larutan bisa ditentukan dengan absorban pada panjang gelombang tertentu dengan menggunakan hukum Lambert-Beer (Rohman,2007).

Nitrit NO2 ditentukan secara kolorimetris dengan alat spektrofotometer.

Pada pH 2,0 sampai 2,5 nitrit berkaitan dengan hasil teaksi antara diazo asam sulfanilik dan N (1-naftil) etilendiamin dihidroklorida (yaitu, NED Dihidroklorida), maka akan terbentuk celupan yang berwarna ungu kemerah- merahan. Warna tersebut mengikuti hukum Lambert-Beer dan menyerap sinar dengan panjang gelombang 543 nm. Metode kolorimetris tersebut sangat peka, sehingga biasanya perlu pengenceran sampel. Selain dari metode ini, tidak ada cara analisa lain yang dapat dianggap bersifat baku (Santika,S.S, dkk,1987).

Metode kolorimetris tersebut sangat peka. Skala konsentrasi 5 sampai 50 µg/L dapat ditentukan bila filter sinar berwarna hijau digunakan dalam fotometer sederhana, serta lebar fotometer adalah 5 cm, pada panjang gelombang 543 nm dan dengan sel biasa selebar 1 cm, konsentrasi antara 5 dan 180 µg/L dapat ditentukan. Penyimpangan baku relatif yang dapat diharapkan adalah antara 2 sampai 5 % bila analisa dilaksanakan secara teratur dan teliti (Santika,S.S, dkk,1987).

(30)

2.13 Analisis Spektrofotometri UVVis

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam analisis dengan spektrofotometri UVVis terutama untuk senyawa yang semula tidak berwarna yang akan dianalisis dengan spektrofotometri visible karena senyawa tersebut harus diubah terlebih dahulu menjadi senyawa yang berwarna (Ryadi,1984).

2.13.1 Pembentukan senyawa molekul yang menyerap sinar UVVis

Cara yang digunakan adalah dengan merubah menjadi senyawa lain atau direaksikan dengan pereaksi tertentu. Pereaksi yang digunakan harus memenuhi beberapa persyaratan:

1. Reaksinya selektif dan sensitif

2. Reaksinya cepat, kuantitatif dan reprodusibel 3. Hasil reaksi stabil dalam waktu yang sama

Keselektifan dapat dinaikkan dengan mengatur pH, pemakaian atau penggunaan teknik ekstraksi. Kelebihan asam nitrit dihilangkan dengan penambahan asam sulfat karena kalau tidak dihilangkan, senyawa yang sudah berwarna akan dirusak oleh asam nitrit sehingga kembali lagi menjadi tidak berwarna (Ryadi,1984).

Sinar atau cahaya yang berasal dari sumber tertentu disebut juga sebagai radiasi elektromagnetik. Radiasi elektromagnetik yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah cahaya matahari. Dalam interaksi materi dengan cahaya atau radiasi elektromagnetik kemungkinan dihamburkan, diabsorbansi atau dihamburkan sehingga dikenal adanya spektroskopi hamburan, spektroskopi absorbsi ataupun spektroskopi emisi. Radiasi elektromagnetik memiliki sifat ganda yang disebut sebagai sifat dualistik cahaya yaitu sebagai gelombang dan sebagai partikel-partikel energi yang disebut foton. Karena sifat tersebut maka beberapa parameter perlu diketahui misalnya panjang gelombang, frekuensi dan energi tiap foton (Ryadi,1984).

2.13.2 Waktu Operasional

Cara ini biasa digunakan untuk pengukuran hasil reaksi atau pembentukan warna. Tujuannya adalah untuk mengetahui waktu pengukuran yang stabil. Waktu operasional ditentukan dengan mengukur hubungan antara waktu pengukuran dengan absorbansi larutan (Ryadi,1984).

(31)

20

Pada saat terjadi reaksi, absorbansi senyawa yang berwarna ini meningkat sampai waktu tertentu hingga diperoleh absorbansi yang stabil. Semakin lama waktu pengukuran, maka ada kemungkinan senyawa yang berwarna tersebut menjadi rusak atau terurai sehingga intensitas warnanya turun akibatnya absorbansinya juga turun. Karena alasan inilah, maka untuk pengukuran senyawa harus dilakukan pada saat waktu operasional (Ryadi,1984).

Banyaknya radiasi yang diterapkan oleh suatu molekul dapat diukur.

Grafik yang menghubungkan antara banyaknya sinar yang diserap dengan frekuensi (panjang gelombang) sinar disebut spektrum absorbsi. Transisi yang dibolehkan untuk suatu molekul dengan struktur kimia tertentu akan berbeda dari molekul lainnya, sehingga spektrum serapannya juga berbeda. Dengan demikian spektrum serapan molekul ini dapat, dijadikan sebagai informasi analisis.

Banyaknya sinar yang diabsorbsi sebanding dengan banyaknya molekul yang menyerap radiasi, sehingga spektrum dapat digunakan untuk analisis kuantitatif (Ryadi,1984).

2.13.3 Pemilihan Panjang Gelombang

Panjang gelombang yang digunakan untuk analisis kuantitatif adalah panjang gelombang yang mempunyai absorbansi maksimal. Untuk memilih panjang gelombang maksimal, dilakukan dengan membuat kurva hubungan antara absorbansi dengan panjang gelombang dari suatu larutan baku pada konsentrasi tertentu (Rohman,2007)..

Ada beberapa alasan mengapa harus menggunakan panjang gelombang maksimal, yaitu:

1. Pada panjang gelombang maksimal, kepekaannya juga maksimal karena pada panjang gelombang maksimal tersebut, perubahan absorbansi untuk setiap satuan konsentrasi adalah yang paling besar.

2. Disekitar panjang gelombang maksimal bentuk kurva absorbansi datar dan pada kondisi tersebut hukum Lambert-Beer akan terpenuhi.

3. Jika dilakukan pengukuran ulang maka kesalahan yang disebabkan oleh pemasangan ulang panjang gelomang akan kecil sekali (Rohman,2007)..

(32)

Kadang-kadang dijumpai keadaan yang mana pemakaian panjang gelombang maksimal kurang baik. Hal ini karena misalnya, selain zat yang akan dianalisis juga terdapat zat lain yang mempunyai absorbansi pada panjang gelombang tersebut. Ada beberapa variabel yang dapat mempengaruhi absorbansi yaitu: Jenis pelarut, pH larutan, Suhu, Konsentrasi tinggi dan Zat-zat pengganggu (Rohman,2007).

2.13.4 Pembuatan Kurva Baku

Dibuat seri larutan baku dari zat dari zat yang akan dianalisis dengan berbagai konsentrasi. Masing-masing absorbansi larutan dengan berbagai konsetrasi diukur, kemudian dibuat kurva yang merupakan hubungan antara absorbansi (y) dengan konsentrasi (x). Bila hukum Lambert-Beer terpenuhi, maka kurva baku berupa garis lurus. Kemiringan atau slope adalah a (absorptivitas) atau (absorptivitas molar) (Moore,2007).

Spektrofotometri menyiratkan pengukuran jauhnya penyerapan energi cahaya oleh suatu sistem kimia itu sebagai suatu fungsi dari panjang gelombangg radiasi, demikian pula pengukuran penyerapan yang menyendiri pada suatu panjang gelombang tertentu. Keuntungan utama pemilihan metode spektrofotometri bahwa metode ini memberikan metode yang cepat, sederhana, spesifik, sensitive dan dapat dipakai untuk analisis zat uji dalam jumlah/kadar yang kecil (Moore,2007).

Spektrofotometri dapat dianggap sebagai perluasan suatu pemeriksaan visual dengan studi yang lebih mendalam dari absorbsi energi. Absorbsi radiasi oleh suatu sampel diukur pada berbagai panjang gelombang dan dialirkan oleh suatu perekam untuk menghasilkan spektrum tertentu yang khas untuk komponen berbeda (Moore,2007).

(33)

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Alat

 Spektrofotometer UV-Vis

 Kuvet 10 mL

 Pipet Tips 10 mL

 Mikro Pipet 10 mL

 Labu Ukur 100 mL

 Labu Erlenmeyer 100 mL

 Gelas Beaker 100 mL

 Pipet Tetes

3.2 Bahan

 Asam Sulfanilamid

 Naftil Etilendiamin Dihidroklorida

 Nitrit Standar 1000 ppm

 Air Produksi 240 mL line 1 dan line 2

 Air Produksi 600 mL

 Air Produksi HOD 5 Gallon

3.3 Prosedur Percobaan

3.3.1 Pembuatan Larutan Pereaksi

1. Pembuatan Larutan Asam Sulfanilat

Ditimbang 5 g sulfanilamid

Dimasukan kedalam labu ukur 500 mL

Ditambahkan 50 mL HCl pekat

Ditambakan 300 mL aquades

Penuhkan sampai tanda batas

 Disimpan didalam botol berwarna gelap, suhu ruang dan tahan 1 bulan

(34)

2. Pembuatam Larutan NED (Naftil Etilendiamin Dihidroklorida)

 500 mg Naftil Etilendiamin Dihidroklorida

 Dimasukkan kedalam labu ukur 500 mL

 Ditambahkan 100 mL aquades

 Dipenuhkan sampai tanda batas

 Disimpan dalam botol berwarna gelap, suhu ruang dan tahan satu bulan

3.3.2 Pembuatan Larutan Standar NO2

1. Larutan Induk NO2 1000 ppm

 Ditimbang 1,5 g NaNO2 dalam beaker glass

Dilarutkan dengan aquades

Dipindahkan kedalam labu ukur 1000 mL

Tambahkan aquades sampai tanda batas

Dihomogenkan

2. Larutan Satndar NO2 1000 ppb

 Dipipet 1 ml larutan standar NO2 1000 ppm

Dimasukkan kedalam labu ukur 1000 mL

Diencerkan dengan aquades sampai garis tanda

Dihomogenkan

3. Larutan Satndar NO2 100 ppb

Dipipet 10 mL larutan standar 1000 ppb

Dimasukkan kedalam labu ukur 100 mL

Diencerkan dengan aquadest sampai tanda batas

 Dihomogenkan

4. Larutan Satndar NO2 50 ppb

 Dipipet 5 mL larutan standar 1000 ppb

 Dimasukkan kedalam labu ukur 100 mL

 Diencerkan dengan aquadest sampai tanda batas

 Dihomogenkan

(35)

24

5. Larutan Satndar NO2 10 ppb

 Dipipet 1 mL larutan standar 1000 ppb

 Dimasukkan kedalam labu ukur 100 mL

 Diencerkan dengan aquadest sampai tanda batas

 Dihomogenkan

6. Larutan Satndar NO2 5 ppb

 Dipipet 0,5 mL larutan standar 1000 ppb

 Dimasukkan kedalam labu ukur 100 mL

 Diencerkan dengan aquadest sampai tanda batas

 Dihomogenkan

7. Larutan Satndar NO2 1 ppb

 Dipipet 0,1 mL larutan standar 1000 ppb

 Dimasukkan kedalam labu ukur 100 mL

 Diencerkan dengan aquadest sampai tanda batas

 Dihomogenkan

3.3.3 Kalibrasi Alat

Dihubungkan arus listrik dengan Spektrofotometer UV-Vis

Diatur panjang gelombang 543 nm

Dihidupkan lampu ULTRA VIOLET dan lampu VISIBLE

 Dituliskan nama dan jumlah sampel pada layar monitor kemudian disimpan dan di klik start

Disiapkan blanko dan sampel yang akan diuji

 Ditambahkan 1 mL larutan sulfanilamid ke dalam masing-masing erlenmeyer yang telah berisi sampel

Didiamkan selama 2-8 menit

 Ditambahkan 1 mL larutan NED (Naftil Etilendiamin Dihidroklorida) ke dalam masing-masing erlenmeyer

Dikocok

Didiamkan selama 10 menit

Dimasukkan blanko kedalam kuvet lalu tekan tombol zero

(36)

3.3.4 Kurva Kalibrasi

 Dipipet 50 mL dari masing-masing larutan standar yang konsentrasinya 0,1000 mg/L; 0,0500 mg/L; 0,0100 mg/L; 0,0050 mg/L; 0,0010 mg/L.

Dimasukkan kedalam labu erlenmeyer

 Ditambahkan 1 mL larutan asam Sulfanilamid ke dalam masing- masing labu erlenmeyer yang telah berisi larutan standar

Didiamkan selama 2-8 menit

 Ditambahkan 1 mL larutan Naftil Etilendiamin Dihidroklorida ke dalam masing-masing labu erlenmeyer

Dikocok

Didiamkan selama 10 menit

 Diukur absorbansi larutan 0,1000 mg/L; 0,0500 mg/L; 0,0100 mg/L;

0,0050 mg/L; 0,0010 mg/L NO2 dengan menggunakan Spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 543 nm

Dibuat kurva kalibrasi antara konsentrasi dengan absorbansi.

3.3.5 Penentuan Absorbansi

Dipipet air sampel Aqua 240 mL sebanyak 50 mL

Dimasukkan kedalam labu erlenmeyer

Ditambahkan 1 mL larutan Sulfanilamid

Didiamkan selama 8 menit

Ditambahkan 1 mL larutan Naftil Etilendiamin Dihidroklorida

Dikocok

Didiamkan selama 10 menit

Diukur absorbansi larutan Blanko pada panjang gelombang 543 nm

Diukur absorbansi larutan sampel Aqua 240 mL

Dicatat angka absorbansi air sampel Aqua 240 mL

 Dilakukan perlakuan yang sama terhadap air sampel Aqua 600 mL dan HOD 5 Gallon

(37)

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil

Hasil pengujian langsung yang telah dilakukan di laboratorium fisika-kimia PT.Tirta Investama Plant Langkat.

Tabel 4.1.1 Penentuan Kadar Nitrit Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) pada pukul 11:00 WIB

No. Produk Standar Kadar NO2

1 Cup 240 mL line 1 0.1 mg/L 0.002 mg/L

2 Cup 240 mL line 2 0.1 mg/L 0.002 mg/L

3 Botol 600 mL 0.1 mg/L 0.003 mg/L

4 Gallon 0.1 mg/L 0.002 mg/L

4.2 Pembahasan

Dari hasil analisa yang dilakukan, terdapat beberapa perbedaan antara kadar nitrit pada produk AMDK yaitu, 0,002 mg/L ( Produk Cup 240 mL line 1, line 2 dan juga gallon) dan 0,003 mg/L ( Produk Botol 600 mL). Hal ini disebabkan karena sumber air yang digunakan adalah air tanah. Dan ada kemungkinan terdapat bakteri yang terbawa oleh air kedalam pipa penyalur dan tangki tempat air produksi sehingga menyebabkan perbedaan kadar nitrit pada produk air minum dalam kemasan.

Pencemaran air oleh bahan organik menyebabkan kadar amonia dan hidrogen sulfida meningkat. Amonia larut dalam air dan membentuk senyawa amonium yang cenderung akan mengikat oksigen. Dengan adanya mikroba Nitrosomonas senyawa amonium dan oksigen dapat membentuk senyawa nitrit (NO2) dan dengan adanya mikroba Nitrobacter dapat membentuk senyawa nitrat (NO3). Siklus diawali dengan masuknya nitrogen dan amonia dari buangan domestik dan industri kedalam badan air.

(38)

Nitrogen organik mengalami reaksi hidrolisis menghasilkan ammonia yang merupakan sumber makanan bakteri nitrogen. Proses oksidasi kemudian terjadi oleh bakteri Nitrosomonas, mengubah amonia menjadi nitrit dan selanjutnya bakteri Nitrobacter mengoksidasi nitrit menjadi nitrat. Setelah nitrit terbentuk selanjutnya dioksidasi menjadi nitrat oleh bakteri jenis Nitrobacter, hal ini lazim disebut sebagai nitrifikasi. Selanjutnya dalam keadaan konsentrasi oksigen terlarut yang rendah terjadi reduksi nitrat menjadi nitrit diikuti lebih lanjut reduksi nitrit menjadi amonia dan gas nitrogen. Reaksi reaksi tersebut menyediakan oksigen untuk mikroorganisme yang digunakan dalam keseimbangan materi organik tanpa mengganggu oksigen terlarut yang ada. Dalam keadaan benar-benar anaerob reaksi nitrifikasi tidak dapat berlangsung. Hal tersebut membuktikan bahwa reduksi nitrat dapat meningkat dalam kondisi oksigen terlarut yang rendah (0 hingga 2 mg/L).

Nitrit (NO2) adalah ion-ion anorganik alami, yang merupakan bagian dari siklus nitrogen. Aktifitas mikroba dalam tanah ataupun air menguraikan sampah yang mengandung nitrogen organik pertama-tama menjadi amonia, kemudian dioksidasi menjadi nitrit dan nitrat. Oleh karena nitrit dapat dengan mudah dioksidasi menjadi nitrat, maka nitrat adalah senyawa yang paling sering dijumpai di dalam air bawah tanah maupun air permukaan.

Nitrit merupakan bentuk nitrogen yang teroksidasi. Nitrit tidak ditemukan dalam air limbah yang segar, melainkan dalam limbah yang sudah basi atau lama.

Nitrit tidak dapat bertahan lama dan merupakan keadan sementara proses oksidasi antara amonia dan nitrat. Nitrit bersumber dari bahan-bahan yang bersifat korosif dan banyak dipergunakan di pabrik-pabrik. Nitrit tidak tetap dan dapat berubah mejadi amonia atau dioksidasi menjadi nitrat.

Nitrit (NO2) merupakan bentuk peralihan antara amonia dan nitrat (nitrifikasi) dan antara nitrat dan gas nitrogen (denitrifikasi). Oleh karena itu, nitrit bersifat tidak stabil dengan keberadaan oksigen. Kandungan nitrit pada perairan alami sekitar 0,001 mg/L. Kadar nitrit yang lebih dari 0,06 mg/L adalah bersifat toksik bagi organisme perairan. Keberadaan nitrit menggambarkan berlangsungnya proses biologis perombakan bahan organik yang memiliki kadar oksigen terlarut yang rendah.

(39)

28

Nitrit juga bersifat racun karena dapat bereaksi dengan hemoglobin dalam darah, sehingga darah tidak dapat lagi mengangkut oksigen, disamping itu juga nitrit membentuk nitrosamine (RRN-NO) pada air buangan tertentu dan dapat menimbulkan kanker. Pengaruh nitrit pada kesehatan manusia yaitu dapat menyebabkan methaemoglobinemia dan efek racun kandungan nitrit dalam air lebih besar dari 0 (nol) mg/L. Nitrit sangat berbahaya untuk tubuh manusia khususnya bagi bayi dibawah umur 3 bulan, karena dapat menyebabkan methaemoglobinemia yaitu kondisi dimana nitrit akan mengikat hemoglobin (Hb) darah sehingga menghalangi ikatan Hb dengan oksigen.

Berdasarkan SNI 3553 : 2015 tentang Syarat Mutu Air Mineral, disebutkan bahwa baku mutu cemaran Nitrit sebagai (NO2) adalah sebesar 0,1 mg/L. Dan kadar nitrit pada air minum dalam kemasan di PT. Tirta Investama Plant Langkat memenuhi standart mutu air mineral yang berlaku yaitu SNI 3553 : 2015.

(40)

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

Dari data hasil percobaan yang telah dilakukan, disimpulkan bahwa:

 Pada produk air minum dalam kemasan (AMDK) PT.Tirta Investama Plant Langkat memiliki kandungan nitrit dan kadarnya adalah 0,002 mg/L sampai 0,003 mg/L.

 Kadar nitrit pada semua produk air minum dalam kemasan (AMDK) memenuhi standart nitrit berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 3553 : 2015 tentang syarat mutu air mineral yaitu sebesar 0,1 mg/L.

5.2 Saran

Adapun saran dalam karya ilmiah ini yaitu:

1. Sebaiknya pada pegujian selanjutnya menggunakan metode yang berbeda dalam penentuan kadar nitrit dalam air minum dalam kemasan (AMDK) agar dapat membandingkan metode yang paling efektif untuk digunakan.

2. Sebaiknya pada pengujian selanjutnya parameter yang digunakan lebih banyak dalam pengujian nitrit pada air minum dalam kemasan (AMDK).

(41)

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, R.2004.Kimia Lingkungan.Edisi I.Jakarta:Universitas Negeri Jakarta Agusnar, H. 2008. Analisa Pencemaran dan Pengendalian Lingkungan. Terbitan

Pertama. Medan:USU Press

Amsyari,F.1996. Pencemaran Lingkungan. Jakarta: Rineka Cipta Basset,J.1994. Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta: EGC Chandar,B.2009. Pengantar Kesehatan lingkungan. Jakarta: EGC

Day,J.R.R.A dan Underwood, A.L.2002.Analisa Kimia Kuantitatif, Edisi Keempat. Jakarta: Erlangga

Effendi, H.2002. Telaah Kualitas Air. Yogyakarta:Kansius

Jobgen, W.S.2007. Analysis Of Nitrite And Nitrate In Biological Samples Using High-Performance Liquid Chromatography. Journal Of Chromatography B. 851(2007) 17 Agustus 2016

Juanda, M.2012. Parameter Fisika – Kimia – Biologi Penenntu Kualitas Air.

Bandung:Wordpress

Khopkar,S.M.2003.Konsep Dasar Kimia Analitik.Jakarta:UI-Press

Mahida, U.1984. Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah. Cetakan Pertama.

Jakarta:Rajawali

Miller, G.1995. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran. Jakarta: Universitas Indonesia

Moore, J.2007. Kimia for Dummies. Cetakan Pertama. Bandung: Pakar Raya Mulia, R.M.2005. Kesehatan lingkungan.Yogyakarta:Graha Ilmu

Prabowo, R. 2016. Jurnal Fakultas Pertanian, Universitas Wahid Hasyim Semarang. Kadar Nitrit Pada Sumber Air Sumur Di Kelurahan Meteseh, Kec. Tembalang. Kota Semarang. 16 Agustus 2016

Rohman, A.2007. Kimia Farmasi Analisis. Cetakan Pertama. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Ryadi,S.1984. Pencemaran Air. Surabaya: Karya Anda

Santika, S.S. dan Alaerts, G.1984. Metode Penelitian Air. Surabaya : Usaha- Nasional

(42)

Sunu,P.2001. Melindungi Lingkungan. Jakarta: Indonesia

Sutrisno,T.1996.Teknologi Penyediaan Air Bersih.Jakarta: Rineka Cipta Wahyudi, H.2007. Keracunan Nitrat-Nitrit. Bandung:Sulita

Wardhana,W.1995. Dampak Pencemaran Lingkungan.Yogyakarta

Widyastuti,P. Pedoman Mutu Air Minum. Jakarta: EGC

(43)

LAMPIRAN

(44)

DAFTAR RALAT

No. Halaman Yang Diralat Yang Benar

1. 1 Utnuk Untuk

2 1 Ammonia Amonia

3 1 Biasanyya Biasanya

4 2 Nitrosamine Nitrosamine

5 2 Diguakan Digunakan

6 3 UV Vis UV-Vis

7 4 Prnting Penting

8 4 Senyaw-senyawa Senyawa-senyawa

9 5 Micro climate Micro climate

10 5 Nutrient Nutrient

11 5 Tu Itu

12 6 199 1996

13 6 Ataupu Ataupun

14 6 Mendadal Mendadak

15 6 Perubhan Perubahan

16 7 Tiggi Tinggi

17 7 Jjika Jika

18 7 Tekana Tekanan

19 8 Krhidupan Kehidupan

20 8 Kimi Kimia

21 8 Ditimbualkn Ditimbulkan

22 8 DO Dissolved Oxygen

23 8 Buanagn Buangan

24 9 Dpata Dapat

25 9 Deterjen Detergent

26 9 Haus Harus

27 9 Pathogen Patogen

28 10 Dipaki Dipakai

30 10 Chlot Chlor

31 10 Chlornya Chlor nya

32 10 Mencarri Mencari

33 10 Serga Sergap

34 10 Chlor Chlor

35 10 Perduksi Pereduksi

36 10 Dlaam Dalam

37 11 Mennggal Meninggal

38 11 Kimi Kimia

39 11 Leboh Lebih

40 12 Ornag Orang

41 13 Bebearapa Beberapa

42 13 Penampuagn Penampungan

43 13 Biasanaya Biasanya

44 13 Atmsfer Atmosfer

45 13 Aerobik Aerob

(45)

34

46 14 Dpat Dapat

47 14 Antrium Natrium

48 14 Methemoglobin Methaemoglobine

49 14 metHb Methaemoglobine

50 15 Fertilizer Fertilizer

51 15 Nitrobacter Nitrobacter

52 15 Methaemoglobine Methaemoglobine

53 16 Demoglobin Hemoglobin

54 16 Aerobic Aerobic

55 16 O2 O2

56 17 Visible Visible

57 18 Sensitive Sensitif

58 18 Paramete Parameter

59 18 Tujuanya Tujuannya

60 19 Variable Variabel

61 25 0.02 mg/L 0.002 mg/L

62 25 Ammonia Amonia

63 26 Amoniak Amonia

64 26 Perairn Perairan

65 27 Iakatan Ikatan

(46)

Lampiran 1. Kriteria Kualitas Air Bersih SNI 3553-2015

No. Kriteria Uji Satuan Persyaratan

1 Keadaan

1.1 Bau - Tidak

berbau

1.2 Rasa - normal

1.3 Warna Unit Pt-Co Maks. 5

2 pH - 6,0-8,5/

min 4,0 *)

3 Kekeruhan NTU Maks. 1,5

4 Zat yang terlarut mg/L Maks. 500

5 Zat oeganik (angka KmnO4) mg/L Maks 1,0

6 Nitrat (NO3) mg/L Maks. 44

7 Nitrit (NO2) mg/L Maks. 0,1

8 Amonium (NH4) mg/L Maks. 0,15

9 Sulfat (SO4) mg/L Maks. 200

10 Klorida (Cl-) mg/L Maks. 250

11 Fluorida (F) mg/L Maks. 1

12 Sianida (CN) mg/L Maks.0,05

13 Besi (Fe) mg/L Maks. 0,1

14 Mangan (Mn) mg/L Maks. 0,05

15 Klor bebas (Cl2) mg/L Maks. 0,7

16 Kromium (Cr) mg/L Maks. 2,4

17 Barium (Ba) mg/L Maks. 0,7

18 Boron (B) mg/L Maks. 2,4

19 Selenium (Se) mg/L Maks. 0,001

20 Bromat mg/L Maks. 0,01

21 Perak (Ag) mg/L Maks. 0,025

22 Kadar karbon dioksida (CO2) bebas mg/L 3000 – 5890 23 Kadar oksigen (O2) terlarut awal **) mg/L Min. 40,0 24 Kadar oksigen (O2) terlarut akhir ***) mg/L Min. 20,0 25 Cemaran logam

25.1 Timbal (Pb) mg/L Maks. 0,005

(47)

36

25.2 Tembaga (Cu) mg/L Maks. 0,5

25.3 Kadmium (Cd) mg/L Maks. 0,003

25.4 Merkuri (Hg) mg/L M1aks. 0,00

26 Cemaran arsen (As) mg/L Maks. 0,01

27 Cemaran mikroba:

27.1 Angka lempeng total awal **) Koloni/mL Maks.1,0 x 102

27.2 Angka lempeng total akhir ***) Koloni/mL Maks.1,0 x 105

27.3 Coliform Koloni/250 mL TTD

27.4 Pseudomonas aureginosa Koloni/250 mL TTD Catatan : *) Air Karbonisasi

**) Di Pabrik

***) Di Pasaran TTD: Tidak Terdeteksi

Catatan Kaki : No 20 diuji jika dilakukan desinfeksi dengan proses ozonisasi No 21 diuji jika dilakukan desinfeksi dengan ion perak No 22 diuji jika dilakukan penambahan CO2

No 23 dan 24diuji jika dilakukan penambahan O2

(48)

Lampiran 2. Flowchart perusahaan (Sumber:PT.Tirta Investama Plant Langkat

(49)

38

Lampiran 3. Diagram Alir Proses pembuatan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). (Sumber : PT.Tirta Investama Plant Langkat

SUMBER MATA AIR

STORAGE TANK

Unit PreWater Treatment

Catridge 10 µm

Catridge 5 µ

Catridge 1 µ

FINISH TANK

FILLING PRODUCT

CAPPING

CODING

PACKING

DISTRIBUTION Ultra Violet

OZONISASI

(50)

Lampiran 4. Alat Yang Digunakan Dalam Penelitian 4.1 Alat-alat Instrumentasi Elektrik

A B

4.2 Alat-alat Gelas (Kaca)

C D E

F G H

Keterangan : A = Spektrofotometer UV-Vis B = Mikro pipet

C = Kuvet

D = Gelas Beaker E = Pipet Tips F = Erlenmeyer G = Labu Ukur

(51)

40

H = Pipet Tetes

Referensi

Dokumen terkait

Motivasi merupakan suatu istilah yang lazim digunakan untuk mengetahui maksud seseorang atas suatu hal untuk mencapai tujuan tertentu, misalnya uang, keselamatan, prestise,

didapat dipengaruhi oleh adanya perbedaan temperatur antara kedua sambungan logam termoelektrik, yaitu semakin besar perubahan temperatur maka semakin besar juga nilai

Selain itu, dapat membantu pihak akademik dan ketua prodi dalam pendataan mahasiswa yang telah melakukan pendaftaran Kerja Praktek (KP) pada

completely dark in the picture, not even shedding some lighting as in the background, creating a distinct contrast between her dazzling silver clothing and the darkness.. As

Didampingi Deputi Bidang Pengembangan Regional Kementerian PPN/Bappenas Rudy Soeprihadi Prawiradinata, Menteri Bambang mengatakan bahwa kerjasama antara Kementerian

Pertemps People Development Group (  ), Employment related support services framework agreement mini competitions for the provision of the Work Programme invitation to tender

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti mengenai penerapan pembelajaran outdoor pada anak usia 5-6 tahun kelompok B2 di TK Immanuel II

Penelitian mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan pada pekerja pembuat tahu di Pabrik Tahu Kelurahan Sumurrejo Kecamatan Gunungpati Semarang