• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

19 BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Landasan Teori

2.1.1. Pengertian Struktur Pengendalian Intern

Menurut Standar Profesional Akuntan Publik pasal SA 319 par 06, struktur pengendalian intern adalah suatu proses yang dijalankan oleh dewan komisaris, manajemen, dan personel lain entitas yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapian tiga golongan tujuan berikut ini : (a) keandalan pelaporan keuangan, (b) efektivitas dan efisiensi operasi, dan (c) kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.

Menurut Jusup (2001:252) pengendalian intern adalah suatu proses yang dipengaruhi oleh dewan komisaris, manajemen dan anggota satuan usaha lainnya yang dirancang untuk mendapatkan keyakinan memadai tentang pencapaian tujuan dalam hal-hal berikut yaitu keandalan pelaporan keuangan, efektivitas dan efisiensi operasi serta kesesuaian dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku.

Struktur pengendalian intern memiliki beberapa tujuan dan konsep.

Menurut Halim (2008:208) tujuan pokok struktur pengendalian intern adalah:

1) Menjaga kekayaan dan catatan organisasi

2) Mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi 3) Mendorong efisiensi

4) Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen

10

(2)

20

Sedangkan menurut Mulyadi (2002:180) tujuan pengendalian intern adalah untuk memberikan keyakinan yang memadai dalam pencapaian tiga golongan tujuan entitas yaitu keandalan informasi keuangan, kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku, dan efektivitas dan efisiensi intern.

Konsep dasar struktur pengendalian intern menurut Halim (2008:209) adalah :

1) Pertanggungjawaban Manajemen

Manajemen bertanggung jawab untuk menetapkan dan mempertahankan struktur pengendalian intern. Tanggung jawab manajemen meliputi pelaksanaan pengawasan struktur pengendalian intern yang sedang berjalan.

2) Kewajaran atau keyakinan rasional yang memadai

Manajemen mencari tingkat yang wajar dari kualitas struktur pengendalian intern untuk memastikan bahwa sasaran struktur pengendalian intern dapat tercapai.

3) Keterbatasan bawaan

Keterbatasan bawaan ini dapat diakibatkan antara lain oleh faktor manusia yang melakukan fungsi prosedur pengendalian, dan pengendalian yang tidak dapat mengarah pada seluruh transaksi.

4) Metode pengolahan data

Pengendalian dapat diterapkan baik untuk sistem pengolahan data manual maupun terkomputerisasi.

11

(3)

21

2.1.2. Komponen Struktur Pengendalian Intern

Menurut Halim (2008:212) struktur pengendalian intern memiliki lima komponen yaitu:

1) Lingkungan Pengendalian

Lingkungan pengendalian menetapkan corak suatu organisasi, mempengaruhi kesadaran pengendalian orang-orangnya. Lingkungan pengendalian merupakan dasar untuk semua komponen pengendalian intern, menyediakan disiplin dan struktur. Faktor – faktor yang terkandung dalam lingkungan pengendalian adalah:

a) Integritas dan nilai etika

Integritas dan nilai etika merupakan unsur pokok lingkungan pengendalian yang mempengaruhi pendesainan pengurusan, dan pemantauan komponen yang lain.

b) Komitmen terhadap kompetensi.

Komitmen terhadap kompetensi mencakup pertimbangan manajemen atas tingkat kompetensi untuk pekerjaan tertentu dan bagaimana tingkat tersebut diterjemahkan ke dalam persyaratan keterampilan dan pengetahuan.

c) Partisipasi dewan komisaris atau komite audit.

Atribut yang berkaitan dengan dewan komisaris dan komite audit ini mencakup independensi dewan komisaris atau komite audit dari manajemen, pengalaman dan tingginya pengetahuan anggotanya, luasnya keterlibatan dan kegiatan pengawasan, memadainya tindakan,

12

(4)

22

tingkat sulitnya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dewan atau komite kepada manajemen, dan interaksi dewan atau komite dengan auditor intern dan ekstern.

d) Filosofi dan gaya manajemen

Falsafah dan gaya operasi manajemen menjangkau rentang karakteristik yang luas, meliputi pendekatan manajemen dalam mengambil dan memantau risiko usaha; sikap dan tindakan manajemen terhadap pelaporan keuangan dan upaya manajemen untuk mencapai angaaran, laba serta tujuan bidang keuangan dan sasaran operasi lainnya.

e) Struktur organisasi

Struktur organisasi memberikan kerangka untuk perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan pemantauan aktivitas entitas mencakup pembagian tanggung jawab di dalam suatu organisasi.

f) Pemberian wewenang dan tanggung jawab

Dengan pembagian wewenang yang jelas, organisasi akan dapat mengalokasikan berbagai sumber daya yang dimiliki untuk mencapai tujuan organisasi. Disamping itu pembagian wewenang yang jelas akan memudahkan pertanggungjawaban konsumsi sumber daya organisasi dalam pencapaian tujuan organisasi.

13

(5)

23 g) Kebijakan dan praktek personalia

Praktek dan kebijakan karyawan berkaitan dengan pemekerjaan, orientasi, pelatihan, evaluasi, bimbingan, promosi, dan pemberian kompensasi, dan tindakan perbaikan.

2) Penaksiran Risiko.

Penaksiran Risiko entitas untuk tujuan pelaporan keuangan merupakan identifikasi, analisis, dan manajemen terhadap risiko yang relevan dengan penyusunan laporan keuangan yang wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia (AU 319.28).

3) Aktivitas Pengendalian

Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang membantu memastikan bahwa arahan manajemen dilaksanakan. Aktivitas tersebut membantu memastikan bahwa tindakan yang diperlukan untuk menanggulangi risiko dalam pencapaian tujuan entitas. Aktivitas pengendalian yang relevan dengan audit dapat digolongkan sebagai kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan:

a) Review terhadap kerja b) Pengolahan informasi c) Pengendalian fisik d) Pemisahan tugas 4) Informasi dan Komunikasi

Sistem informasi yang relevan dengan tujuan pelaporan keuangan yang meliputi sistem akuntansi terdiri dari metode dan catatan yang dibangun

14

(6)

24

untuk mencatat, mengolah, meringkas, dan melaporkan transaksi entitas (baik peristiwa maupun kondisi) dan untuk memelihara akuntabilitas bagi aktiva, utang, dan ekuitas yang bersangkutan (AU 319.34). Komunikasi mencakup penyediaan suatu pemahaman tentang peran dan tanggung jawab individu berkaitan dengan pengendalian intern terhadap pelaporan keuangan (AU 319.35).

5) Pemantauan

Pemantauan adalah proses penentuan kualitas kinerja pengendalian intern sepanjang waktu. Pemantauan ini mencakup penentuan desain dan operasi pengendalian tepat waktu dan pengambilan tindakan koreksi. Proses ini dilaksanakan melalui kegiatan yang berlangsung secara terus menerus, evaluasi secara terpisah, atau dengan berbagai kombinasi dari keduanya (AU 319.38)

2.1.3. Pengertian Independensi

American Institute of Certified Public Accountant (AICPA) dalam

Mayangsari (2003:6) menyebutkan bahwa independensi merupakan suatu kemampuan untuk bertindak berdasarkan integritas dan objektivitas. Integritas merupakan prinsip moral yang tidak memihak, jujur, memandang dan mengemukakan fakta seperti adanya. Objektivitas merupakan sikap tidak memihak dalam mempertimbangkan fakta, kepentingan pribadi tidak dalam fakta yang dihadapi. Sedangkan Mulyadi (2002) menyebutkan bahwa integritas berarti jujur dan dapat dipercaya, dan objektivitas berhubungan dengan kemampuan

15

(7)

25

auditor untuk memiliki sikap adil dalam segala hal yang berkaitan dengan tugasnya.

Dalam Nizarul Alim, dkk (2007:8) disebutkan bahwa independensi adalah sikap yang diharapkan dari seorang auditor untuk tidak mempunyai kepentingan pribadi dalam pelaksanaan tugasnya, yang bertentangan dengan prinsip integritas dan objektivitas. Pernyataan Standar Umum Kedua dalam SPKN (BPK RI, 2007) dalam Ariyanto (2010:159) menjelaskan bahwa dalam semua hal berkaitan dengan pekerjaan pemeriksaan, organisasi pemeriksa dan pemeriksa harus bebas dari sikap mental dan penampilan pribadi, ekstern dari organisasi yang mempengaruhi independensinya. Menurut Eric (1975) dalam Rijasa (2006:13) mendefinisikan independensi sebagai suatu hubungan antara auditor dan kliennya yang mempunyai sifat sedemikian rupa sehingga temuan dan laporan yang diberikan hanya dipengaruhi oleh bukti-bukti yang ditemukan dan dikumpulkan sesuai dengan aturan atau prinsip-prinsip profesionalnya.

Internal auditor harus mandiri dan terpisah dari berbagai kegiatan yang

diperiksanya. Kemandirian para internal auditor dapat dilihat dengan memberikan penilaian yang tidak memihak dan tanpa prasangka. Hal ini dapat diperoleh melalui status organisasi dan objektivitas internal auditor yang dijelaskan sebagai berikut.

1) Status organisasi

Status organisasi unit audit internal haruslah memberikan keleluasaan dan memenuhi atau menyelesaikan tanggung jawab pemeriksaan yang diberikan. Melihat fungsi internal auditor yang tidak mempunyai

16

(8)

26

wewenang eksekutif untuk mengambil kebijaksanaan atau keputusan yang menyangkut kegiatan perusahaan yang bersangkutan maka kedudukan internal auditor dalam perusahaan merupakan suatu jalur yang terpisah

dengan kegiatan perusahaan yang bertanggung jawab langsung kepada pimpinan perusahaan. Sehingga internal auditor dapat bertindak objektif dan independen dalam melaksanakan tugas-tugasnya, karena fungsi internal auditor bukan sebagai pengambil kebijakan atau pengambil

keputusan yang menyangkut kegiatan perusahaan yang bersangkutan.

Internal auditor harus memberikan laporan tahunan tentang hasil

kegiatannya yang berisi berbagai temuan penting dalam pemeriksaan dan rekomendasi-rekomendasi serta informasi tentang berbagai penyimpangan yang terjadi.

2) Objektivitas

Para internal auditor haruslah melakukan pemeriksaan secara objektif.

Objektif adalah sikap mental bebas yang harus dimiliki oleh internal auditor dalam melaksanakan pemeriksaan sehingga mereka akan sungguh-

sungguh yakin atas hasil pekerjaannya dan tidak akan membuat penilaian yang kualitasnya merupakan hasil kesepakatan. Sikap objektif internal auditor tidak terpengaruh apabila auditor menganjurkan suatu standar

pengawasan bagi sistem atau meninjau prosedur yang berlaku sebelum hasil tersebut diterapkan.

17

(9)

27 2.1.4. Aspek Independensi

Halim (2008:21) menyebutkan ada tiga aspek independensi seorang auditor yaitu:

1) Independence in fact (independensi senyatanya)

Untuk menjadi seorang auditor yang independen maka auditor harus memiliki kejujuran yang tinggi. Jadi ada keterkaitan erat antara independence in fact dengan objektivitas.

2) Independence in appearance (independensi dalam penampilan)

Merupakan pandangan pihak lain terhadap diri auditor sehubungan dengan pelaksanaan audit. Auditor harus menjaga kedudukannya sedemikian rupa sehingga pihak lain akan mempercayai sikap independensi dan objektivitasnya.

3) Independence in competence (independensi dari sudut keahlian)

Berhubungan erat dengan kompetensi atau kemampuan auditor dalam melaksanakan dan menyelesaikan tugasnya. Independensi dari sudut keahlian terkait erat dengan kecakapan profesional auditor.

Independensi seorang badan pengawas sangat penting untuk menunjang keefektivan struktur pengendalian intern. Independensi mencerminkan sikap tidak memihak seorang badan pengawas namun, berdasarkan pengamatan pada LPD di Kecamatan Tabanan, fungsi badan pengawas adalah ex-officio yaitu merangkap sebagai bendesa adat. dengan adanya perangkapan tugas tersebut tingkat independensi yang dimiliki oleh badan pengawas menjadi berkurang.

18

(10)

28 2.1.5. Pengertian Keahlian Profesional

Hates Roth,dkk (1983) dalam Desyanti (2006:22) mendefinisikan keahlian sebagai keberadaan dari pengetahuan tentang suatu lingkungan tertentu, pemahaman terhadap masalah-masalah yang timbul dalam lingkungan tersebut, dan keterampilan untuk memecahkan permasalahan tersebut. Menurut Kalbers dan Forgaty (1995:72) dalam Wahyudi dan Mardiyah (2006:4) profesi dan profesionalisme dapat dibedakan secara konseptual yaitu profesi merupakan jenis pekerjaan yang memenuhi beberapa kriteria, sedangkan profesionalisme merupakan suatu atribut individual yang penting tanpa melihat suatu pekerjaan merupakan profesi atau tidak.

Dalam Murtanto (1999), hal-hal yang harus dimiliki oleh seorang internal auditor yang profesional adalah sebagai berikut:

1) Kesesuaian dengan standar profesi

Para internal auditor haruslah mematuhi standar profesional dalam melaksanakan pemeriksaan. Kode etik menetapkan standar profesi dan dasar bagi pelaksanaannya yang mensyaratkan internal auditor untuk jujur, objektif, tekun, dan loyalitas.

2) Pengetahuan dan kecakapan

Para internal auditor haruslah memiliki pengetahuan, kecakapan, dan berbagai disiplin ilmu yang penting dalam pelaksanaan pemeriksaan.

Keahlian internal auditor dalam menetapkan berbagai standar, prosedur, dan teknik pemeriksaan yang diperlukan dalam pelaksanaan pemeriksaan.

Keahlian berarti kemampuan dalam menerapkan pengetahuan pada

19

(11)

29

persoalan tersebut. Diperlukan juga pemahaman terhadap dasar-dasar dari berbagai pengetahuan seperti akuntansi, ekonomi, hukum, perdagangan, perpajakan, pengetahuan manajemen. Pemahaman berarti kemampuan untuk mengetahui berbagai persoalan yang mungkin timbul dan apa yang akan dilakukan untuk memecahkan lebih lanjut.

3) Hubungan antar manusia dan komunikasi

Para internal auditor harus memiliki kemampuan untuk menghadapai orang lain dan berkomunikasi secara efektif. Mereka juga harus memahami hubungan antar manusia dan mengembangkan hubungan baik dengan pihak yang diperiksa, serta harus memiliki kecakapan dalam komunikasi lisan dan tulisan sehingga mereka dapat secara jelas dan efektif menyampaikan berbagai hal.

4) Pendidikan berkelanjutan

Para internal auditor harus meningkatkan kemampuan teknisnya melalui pendidikan berkelanjutan. Mereka berkewajiban meneruskan pendidikannya untuk meningkatkan keahliannya. Informasi tentang kemajuan dan perkembangan baru dalam standar, prosedur, dan teknik pemeriksaan haruslah diperoleh.

5) Ketelitian profesional

Para internal auditor harus melaksanakan ketelitian profesional yang sepantasnya dalam melaksanakan pemeriksaan. Ketelitian profesional menghendaki penerapan ketelitian dan kecakapan yang akan dilakukan oleh pemeriksa yang bijaksana dan kompeten. Internal auditor harus

20

(12)

30

mewaspadai berbagai kemungkinan terjadinya pelanggaran yang dilakukan dengan sengaja, kesalahan, kelalaian, ketidakefektifan, pemborosan, ketidakefisienan, dan konflik kepentingan. Ketelitian yang selayaknya mewajibkan internal auditor melakukan pengujian dan verifikasi terhadap suatu lingkup yang pantas dan tidak harus melakukan pemeriksaan mendetail sehingga pemeriksaan tidak memberikan jaminan mutlak bahwa dalam organisasi tidak terdapat suatu ketidakberesan.

Seorang badan pengawas LPD harus memiliki keahlian atau kompetensi dalam melekukan tugasnya. Semakin tinggi keahlian yang dimiliki, maka semakin efektif pengendalian yang dilakukan. Berdasarkan pengamatan pada LPD di Kecamatan Tabanan, badan pengawas diangkat dari bendesa adatnya, kemungkinan keahlian yang dimiliki kurang maksimal. Untuk dapat memaksimalkan keahlian atau kompetensi, badan pengawas LPD sangat memerlukan pelatihan-pelatihan yang memadai.

2.1.6. Pengertian Pengalaman Kerja

Pengalaman kerja dipandang sebagai suatu faktor penting dalam memprediksi kinerja seorang auditor. Pengetahuan auditor tentang audit akan semakin berkembang dengan bertambahnya pengalaman bekerja. Menurut Tubbs (1992) dalam Noviyani (2002:483) jika seorang auditor yang berpengalaman maka auditor tersebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1) Auditor menjadi sadar terhadap lebih banyak kekeliruan

2) Auditor memiliki salah pengertian yang lebih sedikit tentang kekeliruan

21

(13)

31

3) Auditor menjadi sadar mengenai kekeliruan yang tidak lazim

4) Hal-hal yang terkait dengan penyebab kekeliruan departemen tempat terjadinya kekeliruan dan pelanggaran serta tujuan pengendalian internal menjadi relatif lebih menonjol.

Menurut Murphy dan Wright (1984) dalam Noviyanti (2002:483) menyatakan bahwa seorang dengan lebih banyak pengalaman dalam suatu bidang substantif memiliki lebih banyak hal yang tersimpan dalam ingatannya dan dapat mengembangkan suatu pemahaman yang baik mengenai frekuensi relatif peristiwa-peristiwa. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada LPD di Kecamatan Tabanan, hampir semua badan pengawas telah bekerja di LPD kurang lebih 5 tahun. Namun untuk memiliki struktur pengendalian intern yang memadai diperlukan pengalaman yang lebih lama.

2.1.7. Pengertian Lembaga Perkreditan Desa

Pengertian LPD menurut Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 3 Tahun 2007 adalah usaha keuangan milik desa yang melaksanakan kegiatan usaha di lingkungan desa dan untuk krama desa. LPD merupakan lembaga keuangan milik desa pakraman yang telah berkembang dan memberikan manfaat sosial, ekonomi,

dan budaya pada anggotanya. Dengan demikian, LPD harus dibina dan ditingkatkan kinerjanya agar semakin baik dan terus berkembang guna meningkatkan taraf kehidupan di desa. LPD juga merupakan wadah kekayaan desa adat yang dimiliki oleh warga adat.

22

(14)

32

Tujuan LPD adalah (1) mendorong pembangunan ekonomi masyarakat desa melalui tabungan dan penyaluran modal yang efektif, (2) membrantas ijon, gadai gelap, dan sejenisnya, (3) menciptakan pemerataan dan kesempatan berusaha bagi warga desa dan tenaga kerja di pedesaan, (4) meningkatkan daya beli masyarakat dan melancarkan lalu lintas pembayaran dan peredaran uang di desa. Untuk memenuhi tujuan tersebut maka LPD seharusnya terus meningkatkan kinerjanya agar tetap menjadi utama desa yang terpercaya.

2.1.8. Kedudukan Lembaga Perkreditan Desa dalam Sistem Perbankan Sesuai dengan Undang-Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 pasal 58 (Kasmir,2004:366) dinyatakan sebagai berikut:

“Bank Desa, Lumbung Desa, Bank Pasar, Bank pegawai, Lumbung Pitih Negari (LPN), Lembaga Perkreditan Desa (LPD), Bank Kredit Desa (BKD), Badan Kredit Kecamatan (BKK), Kredit Usaha Rakyat (KUR), Lembaga Perkreditan Kecamatan (LPK), Bank Karaya Produksi Desa (BKPD), dan atau lembaga-lembaga lainnya yang dipersamakan dengan itu diberikan status sebagai Bank Perkreditan Rakyat (BPR) berdasarkan Undang-Undang ini dengan mematuhi persyaratan tata cara yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah”.

Dengan kedudukan yang sama dengan BPR, LPD mempunyai fungsi strategis dalam mengembangkan dan memajukan perekonomian masyarakat yang berada disekitarnya. Kegiatan usaha yang boleh dilakukan sesuai dengan Pasal 7 Perda No.8 Tahun 2002 Provinsi daerah Tingkat I Bali tentnag Lembaga Perkreditan Desa adalah:

1) Menerima atau menghimpun dana dari krama desa dalam bentuk tabungan dan deposito.

2) Memberikan pinjaman hanya kepada krama desa

23

(15)

33

3) Menerima pinjaman dari lembaga-lembaga keuangan maksimum sebesar 100 persen dari jumlah modal, termasuk cadangan dan laba ditahan, kecuali batasan lain dalam jumlah pinjaman atau dukungan atau bantuan dana.

4) Menyimpan kelebihan likuiditasnya pada BPD dengan imbalan bunga bersaing dan pelayanan yang memadai.

Walaupun LPD disamakan dengan Bank Perkreditan Rakyat, yang mempunyai peran sebagai lembaga mediasi, ada hal lain yang membedakan LPD dengan lembaga keuangan lainnya terutama yang berkaitan dengan pembagian keuntungan pada akhir tahun pembukuan (Pasal 22 Perda No.8 Provinsi Bali Tahun 2002) yaitu:

1) Cadangan modal sebesar 20% yang digunakan untuk meningkatkan dan memupuk modal LPD

2) Dana pembangunan desa adat sebesar 20% yang diserahkan kepada desa adat untuk membiayai pembangunan desa dan pembangunan lain yang dianggap perlu.

3) Jasa produksi sebesar 10% yang diberikan kepada pengurus, pegawai LPD, pengawas LPD, dan pihak lain terkait berdasarkan keputusan desa.

4) Dana pembinaan, pengawasan, dan perlindungan sebesar 5% yang disetor oleh LPD ke BPD Bali cabang setempat digunakan untuk pembinaan oleh pembina umum, PLPDK dan untuk pengawasan BPD serta untuk dana perlindungan LPD.

24

(16)

34

5) Dana sosial sebesar 5% yang digunakan untuk sumbangan kegiatan sosial, adat, dan budaya atau sumbangan kepada desa.

Selain berbeda dalam pembagian keuntungan, perbedaan lain yang tidak terdapat dalam lembaga keuangan lainnya adalah adanya sanksi adat yang akan dikenakan kepada para nasabah (debitur) yang menunggak. Dengan adanya sanksi adat tersebut diharapkan kesetiaan warga yang meminjam kredit tetap terjaga sehingga mereka membayar kredit tepat pada waktunya. Sanksi adat tersebut umumnya disesuaikan dengan kondisi dan keadaan sosial masing-masing desa adat (Mertha dan Budiartha, 2009:251).

2.1.9. Sistem dan Administrasi Keuangan LPD

LPD yang baik tidak hanya mampu mencairkan kredit, memungut tabungan sebanyak-banyaknya dan pada akhirnya menghasilkan laba yang tinggi, tetapi harus didukung dengan sistem administrasi dan sistem pengendalian intern yang baik. Bagaimanapun besarnya LPD, tanpa didukung dengan administrasi yang baik dan sistem pengendalian yang baik, lambat laun LPD tersebut akan terpuruk dan pada akhirnya akan mengalami kebangkrutan. Menurut Mertha dan Budiartha (2009:251) ada beberapa karakteristik administrasi yang baik yaitu:

1) Bukti transaksi dan surat-surat menggunakan nomor urut (tercetak lebih disarankan)

2) Semua bukti transaksi dan surat-surat tercatat dalam buku register.

3) Bukti transaksi dan surat-surat dibuat rangkap sesuai dengan kebutuhan 4) Setiap bukti transaksi dan surat-surat harus jelas yang menandatangani.

25

(17)

35

5) Bukti transaksi, surat-surat dan buku-buku tersimpan dengan rapi sesuai urut nomor dan urut tanggal dan urut bulan.

6) Seluruh bukti transaksi disimpan selama 10 tahun sesuai dengan Pasal 28 UU No. 16 Tahun 2000 tentang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan.

Sistem pengendalian intern yang lainnya terdiri dari:

1) Adanya struktur organisasi yang memisahkan tugas, wewenang, dan tanggung jawab.

2) Adanya sistem dan prosedur pencatatan sehingga memungkinkan diperolehnya akurasi data dan keandalan informasi.

3) Sedapat mungkin dipisahkan antara fungsi pencatatan dengan fungsi penyimpanan.

4) Dipatuhinya segala kebijakan dan aturan yang berlaku

5) Adanya pengawasan dan evaluasi hasil-hasil dari kegiatan sehingga jika terjadi penyimpangan dari rencana awal dapat dideteksi sedini mungkin.

6) Dilakukan mutasi karyawan untuk menghindari penumpukan pekerjaan secara terus menerus dan untuk menghindari kebosanan.

Berdasarkan tahapan-tahapan tersebut, yang merupakan bagian dari sistem pengendalian intern, diharapkan operasional LPD dapat berjalan dengan baik dan terhindar dari kemungkinan penyelewengan-penyelewengan.

26

(18)

36 2.1.10. Fungsi Pengawasan dalam LPD

Untuk menjamin bahwa tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya telah tercapai maka perlu ada suatu pengawasan. Tugas Badan Pengawas LPD yang tertuang pada Peraturan Gubernur Bali 16 Tahun 2008 adalah:

1) Mengawasi pengelolaan LPD

2) Memberikan petunjuk kepada pengurus

3) Memberikan saran, pertimbangan dan ikut menyelesaikan permasalahan

4) Mensosialisasikan keberadaan LPD

5) Mengevaluasi kinerja pengurus secara berkala

6) Menyususn dan menyampaikan laporan hasil pengawasan kepada Paruman Desa.

Berdasarkan tugasnya, Badan Pengawas dapat berfungsi sebagai Internal Auditor karena pengawas LPD merupakan orang dalam LPD yang diberi tugas

untuk mengawasi jalannya kebijakan dan pengelolaan usaha LPD. Hal ini sesuai dengan tujuan dari internal auditor yaitu membantu semua tingkat manajemen agar tanggung jawab tersebut dilaksanakan secara efektif (Bambang Hartadi,2004).

Untuk pelaksanaan tugas pokok Badan Pengawas, fungsi Badan Pengawas dapat meliputi 3 fungsi yaitu fungsi pengawasan,Pemeriksaan, dan Penasehat. Fungsi pengawasan lebih ditekankan pada kegiatan pemantauan terhadap manajemen, operasional dan pelaksanaan tugas dan tanggung jawab pengurus atau pengelola LPD dalam memberikan pelayabnan prima kepada warga

27

(19)

37

masyarakat serta memantau pencapaian target yang telah disepakati dalam rencana kerja. Fungsi pemeriksaan memberikan penekanan kepada pelaksanaan pemeriksaan keuangan dan non keuangan serta operasional.

Untuk memaksimalkan fungsi Badan Pengawas maka pengawasan yang dilakukan meliputi:

1) Pengawasan administrasi meliputi pengawasan terhadap ketepatan waktu penerbitan laporan keuangan, penyampaian laporan kepada pihak terkait, arsip surat menyurat dan lainnya.

2) Pengawasan akuntansi (pemeriksaan akuntansi/audit)

2.1.11. Kualifikasi Badan Pengawas

Dalam Mertha dan Budiartha (2009:255) badan pengawas terdiri dari seorang ketua dan beberapa anggota (sesuai paruman desa adat). Kedudukan bendesa adat yang secara ex-officio bertindak sebagai Ketua Badan Pengawas memiliki arti bahwa bendesa adat merupakan fungsi yang memegang peranan penting dan bertanggung jawab secara penuh atas maju mundurnya LPD. Dengan fungsi seperti itu, bendesa adat dituntut untuk memahami dan mengetahui secara utuh operasional LPD dan tingkat kemajuan yang dicapai. dalam kenyataannya tidak semua bendesa adat memahami secara utuh operasional LPD karena umumnya bendesa adat yang dipilih oleh paruman desa adat adalah orang yang berwibawa dan kharismatik.

Untuk meyeimbangkan kekurangan tersebut maka bisa ditutupi oleh anggota Badan Pengawas. Untuk hal tersebut proses pemilihan anggota Badan

28

(20)

38

Pengawas perlu memperhatikan dengan seksama tentang kualifikasi yang dimiliki oleh anggota dan tidak didasarkan pada unsur politik, tetapi betul-betul memperhatikan kebutuhan LPD.

2.2. Pembahasan Hasil Penelitian Sebelumnya

Penelitian oleh M.Nizarul Alim, dkk (2007) tentang pengaruh kompetensi dan independensi terhadap kualitas audit dengan etika auditor sebagai variabel moderasi. Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi moderate Two Way Interactions. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kompetensi dan independensi berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah pada variabel terikat dan subjek penelitian.

Penelitian oleh Desyanti dan Ratnadi (2008), tentang pengaruh independensi, keahlian profesional, dan pengalaman kerja Pengawas Intern terhadap efektivitas penerapan struktur pengendalian intern pada Bank Perkreditan Rakyat di Kabupaten Badung. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa baik secara simultan maupun parsial independensi, keahlian profesional, dan pengalaman kerja berpengaruh signifikan terhadap efektivitas penerapan struktur pengendalian intern. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah pada lokasi penelitian.

Mertha dan Budiartha (2009) dengan judul “Profesionalisme Badan Pengawas Mendorong Kemajuan LPD”. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui profesionalisme badan pengawas dalam mendorong kemajuan LPD.

29

(21)

39

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan sistem pengendalian intern yang baik serta fungsi pengawasan yang baik maka diharapkan penyelewengan- penyelewengan dapat ditekan dan diminimalisir dan bahwa baik keberhasilan maupun kegagalan suatu LPD sangat tergantung dari pengurus LPD dan peran serta Badan Pengawas.

Penelitian yang dilakukan oleh Yadnyana (2009) mengenai pengaruh kualitas jasa auditor internal terhadap efektivitas pengendalian intern pada hotel berbintang empat dan lima di Bali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor- faktor yang membentuk kualitas jasa auditor internal yang meliputi independensi, keahlian profesional, lingkup kerja pemeriksaan, pelaksanaan pekerjaan pemeriksaan, dan pengelolaan bagian pemeriksaan intern, secara bersama berpengaruh secara signifikan terhadap efektivitas pengendalian intern pada hotel berbintang empat dan lima di Bali. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah pada lokasi penelitian.

Ika Sukriah,dkk (2009) meneliti tentang pengaruh pengalaman kerja, independensi, objektifitas, integritas, dan kompetensi terhadap kualitas hasil pemeriksaan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengalaman kerja, objektifitas, dan kompetensi berpengaruh positif terhadap kualitas hasil pemeriksaan. Sedangkan untuk independensi dan integritas tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas hasil pemeriksaan. Sedangkan secara simultan kelima variabel tersebut berpengaruh terhadap kualitas hasil pemeriksaan. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah pada variabel terikat dan subjek penelitian.

30

(22)

40

Penelitian oleh Githa Arie (2010) tentang pengaruh kualitas jasa Badan Pengawas terhadap efektivitas struktur pengendalian intern pada Koperasi Primer Simpan Pinjam Jajaran Kodam IX/Udayana. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa independensi, keahlian profesional, lingkup kerja pemeriksaan, pelaksanaan pekerjaan pemeriksaan dan pengelolaan bagian pemeriksaan intern Badan Pengawas secara simultan dan parsial mempunyai pengaruh yang signifikan pada efektivitas struktur pengendalian intern. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah pada lokasi penelitian.

Candra Purna Wijaya (2010) meneliti tentang penilaian efektivitas Badan Pengawas sebagai fungsi Internal Auditor dalam pengawasan kredit pada LPD di Kota Denpasar. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analiai kuantitatif. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa Badan Pengawas sebagai fungsi Internal Auditor dalam fungsi pengawasan kredit pada LPD di Kota Denpasar sudah efektif. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah variabel bebas dan variabel terikat serta lokasi penelitian.

Sedangkan persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah pada subjek penelitian.

Junitayanti (2011) meneliti tentang pengaruh independensi, keahlian profesional, pengalaman kerja, tingkat pendidikan, dan lingkup pekerjaan pada kinerja Badan Pengawas sebagai fungsi internal auditor dalam pengawasan kredit pada LPD se-Kecamatan Kuta-Badung. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa independensi, keahlian profesional, pengalaman kerja, tingkat pendidikan, dan lingkup pekerjaan berpengaruh signifikan secara statistik pada kinerja badan

31

(23)

41

Pengawas sebagai internal auditor di LPD se-Kecamatan Kuta. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah pada variabel terikat dan pada lokasi penelitian.

Tabel 2.1 Ringkasan Penelitian Sebelumnya No Nama Peneliti

dan Tahun Penelitian

Judul Penelitian Teknik Analisis Data

Hasil Penelitian

1 M.Nizarul Alim, dkk (2007)

pengaruh kompetensi dan independensi terhadap kualitas audit dengan etika auditor sebagai variabel moderasi.

Analisis regresi moderate Two Way

Interactions.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa

kompetensi dan

independensi berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah pada variabel terikat dan subjek penelitian.

2 Eka Desyanti

dan Dwi

Ratnadi (2008)

Pengaruh

independensi, keahlian profesional, dan pengalaman kerja Pengawas Intern terhadap efektivitas penerapan struktur pengendalian intern pada Bank Perkreditan Rakyat di Kabupaten Badung.

Analisis regresi linear berganda

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa baik secara simultan maupun parsial independensi, keahlian profesional, dan pengalaman kerja berpengaruh signifikan terhadap efektivitas penerapan struktur pengendalian intern.

3 Mertha dan Budiartha (2009)

Profesionalisme Badan Pengawas Mendorong Kemajuan LPD

Analisis Kualitatif

Hasil penelitian menunjukkan bahwa

dengan sistem

pengendalian intern dan fungsi pengawasan yang

baik diharapkan

penyelewengan-

penyelewengan dapat ditekan dan diminimalisir

dan bahwa baik

keberhasilan maupun kegagalan suatu LPD sangat tergantung dari pengurus LPD dan peran serta Badan Pengawas.

32

(24)

42 No Nama Peneliti

dan Tahun Penelitian

Judul Penelitian Teknik Analisis Data

Hasil Penelitian

4 Yadnyana (2009)

Pengaruh kualitas jasa auditor internal terhadap efektivitas pengendalian intern pada hotel berbintang empat dan lima di Bali.

Analisis regresi linear berganda

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang membentuk kualitas jasa auditor internal yang meliputi independensi, keahlian profesional, lingkup kerja pemeriksaan, pelaksanaan pekerjaan pemeriksaan, dan pengelolaan bagian pemeriksaan intern, secara bersama berpengaruh secara signifikan terhadap efektivitas pengendalian intern pada hotel berbintang empat dan lima di Bali

5 Ika Sukriah,dkk (2009)

Pengaruh pengalaman kerja, independensi, objektifitas, integritas, dan kompetensi terhadap kualitas hasil pemeriksaan.

Analisis regresi linear berganda

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengalaman kerja, objektifitas, dan kompetensi berpengaruh positif terhadap kualitas hasil pemeriksaan.

Sedangkan untuk

independensi dan integritas tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas hasil pemeriksaan.

Sedangkan secara simultan kelima variabel tersebut berpengaruh terhadap kualitas hasil pemeriksaan .

6 Githa Arie (2010

Pengaruh kualitas jasa Badan Pengawas terhadap efektivitas struktur pengendalian intern pada Koperasi Primer Simpan Pinjam Jajaran Kodam IX/Udayana.

Analisis regresi linear berganda

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa independensi, keahlian profesional, lingkup kerja pemeriksaan, pelaksanaan pekerjaan pemeriksaan dan pengelolaan bagian pemeriksaan intern Badan Pengawas secara simultan dan parsial mempunyai pengaruh yang signifikan pada efektivitas struktur pengendalian intern

33

(25)

43 No Nama Peneliti

dan Tahun Penelitian

Judul Penelitian Teknik Analisis Data

Hasil Penelitian

7 Candra Purna Wijaya (2010)

Penilaian efektivitas Badan Pengawas sebagai fungsi Internal

Auditor dalam

pengawasan kredit pada LPD di Kota Denpasar.

Teknik analisis kuantitatif

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa Badan Pengawas sebagai fungsi Internal Auditor dalam fungsi pengawasan kredit pada LPD di Kota Denpasar sudah efektif.

8 Junitayanti (2011)

Pengaruh

independensi, keahlian profesional,

pengalaman kerja, tingkat pendidikan, dan lingkup pekerjaan pada kinerja Badan Pengawas sebagai fungsi internal auditor dalam pengawasan kredit pada LPD se- Kecamatan Kuta- Badung.

Analisis regresi linear berganda

Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa independensi, keahlian profesional, pengalaman kerja, tingkat pendidikan, dan lingkup pekerjaan berpengaruh signifikan secara statistik pada kinerja badan Pengawas sebagai internal auditor di LPD se- Kecamatan Kuta.

2.3. Rumusan Hipotesis

2.3.1. Pengaruh independensi, keahlian profesional, dan pengalaman kerja badan pengawas terhadap efektivitas struktur pengendalian intern

Dalam Nizarul Alim, dkk (2007:8) disebutkan bahwa independensi adalah sikap yang diharapkan dari seorang auditor untuk tidak mempunyai kepentingan pribadi dalam pelaksanaan tugasnya, yang bertentangan dengan prinsip integritas dan objektivitas. semakin tinggi kemungkinan independensi internal auditor atau badan pengawas berpengaruh terhadap penerapan

pengendalian intern.

Hayes Roth dkk (1983) dalam Murtanto (1999) mendefinisikan keahlian sebagai keberadaan dari pengetahuan tentang suatu lingkungan tertentu, pemahaman terhadap masalah-masalah yang timbul dalam lingkungan tersebut, dan keterampilan untuk memecahkan permasalahan tersebut. Semakin tinggi

34

(26)

44

keahlian badan pengawas maka semakin tinggi efektivitas struktur pengendalian intern LPD

Menurut Murphy dan Wright (1984) dalam Noviyanti (2002:483) menyatakan bahwa seorang dengan lebih banyak pengalaman dalam suatu bidang substantif memiliki lebih banyak hal yang tersimpan dalam ingatannya dan dapat mengembangkan suatu pemahaman yang baik mengenai frekuensi relatif peristiwa-peristiwa.

Berdasarkan teori dan penelitian sebelumnya, maka hipotesis pertama yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

H1 : Independensi, keahlian profesional, dan pengalaman kerja badan pengawas secara serempak berpengaruh positif terhadap efektivitas struktur pengendalian intern Lembaga Perkreditan Desa (LPD) di Kecamatan Tabanan.

2.3.2. Pengaruh independensi badan pengawas terhadap efektivitas struktur pengendalian intern

Dalam Nizarul Alim, dkk (2007:8) disebutkan bahwa independensi adalah sikap yang diharapkan dari seorang auditor untuk tidak mempunyai kepentingan pribadi dalam pelaksanaan tugasnya, yang bertentangan dengan prinsip integritas dan objektivitas. Krisnawati (2005:55), Risna Dewi (2006:75), dan Desyanti (2006:77) menemukan bahwa independensi internal auditor atau badan pengawas mempunyai pengaruh terhadap efektivitas penerapan struktur pengendalian intern. Semakin tinggi sikap independensi dari internal auditor atau

35

(27)

45

badan pengawas melakukan pemeriksaan intern pada suatu organisasi tertentu, maka semakin tinggi kemungkinan independensi internal auditor atau badan pengawas berpengaruh terhadap penerapan pengendalian intern.

Berdasarkan teori dan penelitian sebelumnya, maka hipotesis kedua yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

H2 : Independensi badan pengawas berpengaruh positif terhadap efektivitas struktur pengendalian intern Lembaga Perkreditan Desa (LPD) di Kecamatan Tabanan.

2.3.3. Pengaruh keahlian profesional badan pengawas terhadap efektivitas struktur pengendalian intern

Hayes Roth,dkk (1983) dalam Desyanti (2006:22) mendefinisikan keahlian sebagai keberadaan dan pengetahuan tentang suatu lingkungan tertentu, pemahaman terhadap masalah-masalah yang timbul dalam lingkungan tersebut, dan keterampilan untuk memecahkan permasalahan tersebut. Hasil penelitian Krisnawati (2005:55), Desyanti (2006:77), Risna Dewi (2006:75), dan Rijasa (2006:55) menunjukkan bahwa keahlian profesional seorang badan pengawas berpengaruh signifikan terhadap penerapan pengendalian intern. Semakin rendah tingkat keahlian profesional seorang badan pengawas, maka efektivitas penerapan pengendalian intern akan semakin rendah, hal ini disebabkan karena pengetahuan yang dimiliki sangat kurang dan akan kesulitan dalam memecahkan suatu masalah sehingga akan berpengaruh pada pengendalian intern.

36

(28)

46

Berdasarkan teori dan penelitian sebelumnya maka hipotesis ketiga yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

H3 : Keahlian profesional badan pengawas berpengaruh positif terhadap efektivitas struktur pengendalian intern Lembaga Perkreditan Desa (LPD) di Kecamatan Tabanan.

2.3.4. Pengaruh Pengalaman Kerja Badan Pengawas Terhadap Efektivitas Struktur Pengendalian Intern

Menurut pendapat Tubbs (1992) dalam Putri Noviyani (2002:483) dan dalam Desyanti (2006:26), jika seorang auditor berpengalaman maka auditor menjadi sadar terhadap lebih banyak kekeliruan, auditor memiliki salah pengertian yang lebih sedikit tentang kekeliruan, auditor menjadi sadar mengenai kekeliruan yang tidak lazim, dan hal-hal yang terkait dengan penyebab kekeliruan departemen tempat terjadinya kekeliruan dan pelanggaran serta tujuan pengendalian internal menjadi relatif lebih menonjol.

Penelitian yang dilakukan oleh Desyanti (2006:77) menunjukkan hasil bahwa pengalaman kerja pengawas intern berpengaruh signifikan terhadap penerapan pengendalian intern. Penelitian yang dilakukan oleh Rijasa (2006:77) dan Risna Dewi (2006:75) juga menunjukkan hasil bahwa pengalaman kerja badan pengawas memiliki pengaruh yang signifikan terhadap efektivitas penerapan pengendalian intern.

Berdasarkan teori dan penelitian sebelumnya, maka hipotesis keempat yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

37

(29)

47

H4: Pengalaman kerja badan pengawas berpengaruh positif terhadap efektivitas struktur pengendalian intern lembaga Perkreditan Desa (LPD) di Kecamatan Tabanan.

38

Gambar

Tabel 2.1 Ringkasan Penelitian Sebelumnya  No  Nama Peneliti

Referensi

Dokumen terkait

Berbeda dengan pendapat di atas yang menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan, Donovan dan Gibson

[r]

dengan resolusi tinggi. Memungkinkan untuk mendapatkan berbagai signal dari satu lokasi yang sama. Hanya meneliti area yang sangat kecil dari sampel. Perlakuan awal dari sampel

Masalah-masalah sosial pada hakikatnya juga merupakan fungsi-fungsi struktural dari totalitas sistem sosial, yaitu berupa produk atau kensekuensi yang tidak

Selain tipe kelapa Dalam dan Genjah, beberapa jenis kelapa yang dianggap unik adalah (1) kelapa Hibrida, adalah jenis kelapa hasil persilangan antara tipe kelapa Genjah dan

Wadi’ah dalam konteks perbankan berarti akad penitipan uang dari pihak yang mempunyai uang (nasabah) kepada bank sebagai pihak yang diberi kepercayaan dengan tujuan untuk

Oleh karena itu, formulasi terbaik yang dipilih adalah T4 yaitu yoghurt dengan penambahan 0,25% ekstrak kayu secang dan 0,25% ekstrak daun stevia yang memiliki antioksidan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan yang pertama sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar matematika khususnya pada materi