• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGELOLAAN PANEN TANAMAN KELAPA SAWIT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGELOLAAN PANEN TANAMAN KELAPA SAWIT"

Copied!
108
0
0

Teks penuh

(1)

PENGELOLAAN PANEN TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI SUNGAI BAHAUR ESTATE, PT BUMITAMA GUNAJAYA AGRO, KOTAWARINGIN TIMUR,

KALIMANTAN TENGAH

MOLIYA NURMALISA A24070050

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

(2)

MOLIYA NURMALISA. Pengelolaan Panen Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Sungai Bahaur Estate, PT Bumitama Gunajaya Agro, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah (Dibimbing oleh AHMAD JUNAEDI).

Magang bertujuan untuk mengetahui dan memahami pengelolaan perkebunan kelapa sawit khususnya aspek pemanenan. Kegiatan magang dilaksanakan di Sungai Bahaur Esate, PT Bumitama Gunajaya Agro, Kalimantan Tengah pada bulan Februari hingga Juni 2011. Kegiatan penulis di lapangan meliputi pemupukan, penyemprotan, perawatan dan pemeliharaan lahan, simulasi kebun, dan pemanenan. Keterampilan manajerial diperoleh dengan menjadi pendamping mandor, kerani, dan asisten divisi. Pengamatan yang dilakukan oleh penulis yaitu mengenai kebutuhan tenaga panen dan kualitas panen. Hasil pengamatan menunjukkan jumlah tenaga panen pada kenyataannya lebih sedikit dari pada kebutuhan tenaga panen, namun hanca panen tetap selesai dipanen. Hal ini dilakukan agar tiap pemanen dapat mencapai basis sehingga mendapatkan premi basis panen serta kondisi estate yang masih kekurangan tenaga panen.

Kualitas pekerjaan panen dan pengawasan terhadap tenaga panen menunjukkan bahwa brondolan yang tidak dikutip pemanen masih berada di bawah batas maksimum toleransi brondolan tidak dikutip, yaitu 30 butir/ha.

Kualitas pemeriksaan hasil mengenai kapasitas pemanen menunjukkan bahwa semua pemanen telah memenuhi basis dalam kg/HK, dengan rincian 8 orang pemanen memenuhi basis janjang sedangkan 2 orang lagi tidak memenuhi basis janjang. Pengamatan pelanggaran yang terjadi pada semua pemanen yaitu kesalahan dengan tidak mengutip bersih keseluruhan brondolan. Berdasarkan hasil pengamatan kriteria panen di blok D6 dan D5 diketahui bahwa tidak ada buah yang dipanen mentah, 13 % kurang matang, 80.6 % matang, dan 5.4 % lewat matang, 1.1 % janjang kosong/abnormal. Data hasil uji korelasi antara umur dengan prestasi, tingkat pendidikan dengan prestasi, dan lama pengalaman dengan prestasi menunjukkan tidak adanya pengaruh nyata.

(3)

PENGELOLAAN PANEN TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI SUNGAI BAHAUR ESTATE, PT BUMITAMA GUNAJAYA AGRO, KOTAWARINGIN TIMUR,

KALIMANTAN TENGAH

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

MOLIYA NURMALISA A24070050

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

(4)

PT BUMITAMA GUNAJAYA AGRO, KOTAWARINGIN TIMUR, KALIMANTAN TENGAH

Nama : MOLIYA NURMALISA NIM : A24070050

Menyetujui, Pembimbing

Dr. Ir Ahmad Junaedi, MSi.

NIP. 19681101 199302 1001

Mengetahui,

Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB

Dr. Ir. Agus Purwito, MSc.Agr.

NIP. 19611101 198703 1003

Tanggal Lulus :

(5)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Moliya Nurmalisa, dilahirkan pada tanggal 26 Februari 1989 di Pekalongan, Lampung Tengah. Penulis merupakan anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Bapak Nurman Syafei dan Ibu Erlistina Yazid.

Penulis menjalani pendidikan Sekolah Dasar pada tahun 1995 di SDN 2 Banjarsari dan SDN 5 Sukarame. Tahun 2001 penulis lulus dari Sekolah Dasar dan melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama di SMPN 2 Bandar Lampung dan lulus pada tahun 2004. Penulis menempuh pendidikan Sekolah Menengah Umum di SMAN 2 Bandar Lampung dan lulus pada tahun 2007.

Tahun 2007 penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur USMI (Ujian Seleksi Masuk IPB). Lalu penulis diterima di Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor pada tahun 2008. Selain mengikuti kegiatan perkuliahan, penulis juga mengikuti kegiatan kampus. Penulis pernah menjabat sebagai bendahara Koperasi Agrohotplate dan Departemen Kewirausahaan, Himpunan Mahasiswa Agronomi dan Hortikultura (2008/2009-2009/2010) dan anggota organisasi mahasiswa daerah yang bernama Keluarga Mahasiswa Lampung (KEMALA) selama menjadi mahasiswa.

Penulis juga aktif dalam kepanitiaan yang diselenggarakan di lingkungan Kampus IPB seperti Asrama Peduli Lingkungan (APEL) 2008 TPB IPB, Journalistic Fair 2008 BEM KM IPB, Sport and Entertainment – BEM A (SERI- A) 2009, IPB Social, Health, and Care (IPB-SHARE) 2009 BEM KM IPB, Olimpiade Mahasiswa IPB (OMI) 2009 BEM KM IPB, Masa Perkenalan Departemen Agonomi dan Hortikultura 2009, Temu Keluarga Besar (TEGAR) 2009 Dept. Agronomi dan Hortikultura, Farmer Field Day (FFD) 2010 IPB, dan Festival Tanaman (FESTA) XXXI 2010 HIMAGRON IPB.

Selain itu penulis juga pernah menjadi peserta Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang proposalnya didanai DIKTI pada tahun ajaran 2008- 2009, peserta Go Field 2009 sebagai Pendamping Posdaya Pasir Mulya Kab.

Bogor, Pendamping Posdaya As Salam Kab. Cianjur 2009, dan Asisten praktikum mata kuliah Manajemen Air dan Hara tahun 2010.

(6)

Puji syukur penulis panjatkan ke Hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, kemudahan, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan terimakasih kepada :

1. Mama (Erlistina Yazid) dan papa (Nurman Syafei) serta kakak (Yunisca Nurmalisa) dan adik-adik (Aulia Nurmalisa dan M. Nur Ilham Syah Putra) dan keluarga besar penulis, atas doa, kasih sayang, perhatian, dukungan, dan kepercayaan kepada penulis.

2. Bapak Dr. Ir. Ahmad Junaedi, MSi. selaku pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan serta arahan selama pelaksanaan magang dan penyusunan skripsi.

3. Bapak Dr. Ir. Suwarto MSi. dan Dr. Ir. Eko Sulistyono, MSi. selaku dosen penguji yang telah memberikan banyak saran untuk perbaikan skripsi saya.

4. Bapak Dr. Ir. Ade Wachjar, MS. selaku pembimbing akademik yang telah membimbing penulis selama menjalani studi.

5. Bapak Adityo Herlambang, SP. (Asisten Divisi I), Bapak Rudi Ismanto, SP. (Estate Manajer), Bapak Amsah Mulyadi, SP. (Estate Manajer PNRE) dan Bapak Darlin Bin Darwis, STP. (Asisten Kepala), serta Bapak Adi Nugroho, SE. (Kasie), selaku pembimbing lapangan dan manajerial yang telah membimbing penulis selama menjalani magang.

6. Keluarga besar Sungai Bahaur Estate dan PT Bumitama Gunajaya Agro.

7. ‘Tentang Seseorang’ yang selalu sabar menemani dan menjadi penyemangat dalam setiap langkah yang mewarnai hidup penulis.

8. Teman seperjuangan magang (Yuyun, Fajar, Turman, dan Manahan), Blobo’ers (Diny, Feni, Galuh, Lilis, Anin, Dyah, Ega, Meyga, Nazima, dan Neneng), dan teman-teman Agronomi dan Hortikultura angkatan 44.

Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak.

Bogor, Juli 2011

Penulis

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR LAMPIRAN... vii

PENDAHULUAN Latar Belakang... 1

Tujuan ... 2

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit ... 3

Panen... 3

METODE MAGANG Waktu dan Tempat... 7

Metode Pelaksanaan... 7

Pengamatan dan Pengumpulan Data... 7

Analisis Data dan Informasi ... 10

KEADAAN UMUM Lokasi dan Letak Geografis ... 11

Keadaan Iklim dan Tanah ... 11

Luas Areal dan Tata Guna Lahan ... 12

Kondisi Tanaman dan Produksi... 13

Struktur Organisasi Perusahaan dan Ketenagakerjaan ... 14

PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG Pelaksanaan Teknis... 20

Aspek Manajerial... 60

PEMBAHASAN Kebutuhan Tenaga Panen... 67

Basis Pemanen... 68

Kualitas Panen ... 69

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan... 83

Saran... 83

DAFTAR PUSTAKA ... 84

LAMPIRAN ... 86

(8)

Nomor Halaman

1. Produksi Tanaman Kelapa Sawit Sungai Bahaur Estate... 13

2. Jumlah Staf dan Non Staf di Sungai Bahaur Estate (SBHE), PT Windu Nabatindo Abadi, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah ... 18

3. Rekomendasi Pemupukan TM Kelapa Sawit Tahun 2011... 23

4. Simulasi Metode Hand picking ... 43

5. Simulasi Metode Pengutipan dengan Garu ... 43

6. Hasil Taksasi Harian dan Angka Kerapatan... 48

7. Pengamatan Sensus Produksi Semesteran di Divisi I ... 51

8. Pembagian Seksi Panen Divisi I ... 53

9. Ketentuan Premi Basis Borong dan Premi Lebih Borong berdasarkan Jenis Pemanen. ... 55

10. Kualitas Pekerjaan Potong Buah ... 70

11. Standar Kapasitas Produksi SBHE Divisi I Tahun 2011 ... 71

12. Hasil Tandan Pemanen... 72

13. Pelanggaran Pemanen dalam Pemenuhan Basis... 74

14. Hubungan antara Fraksi, Rendemen Minyak, dan Kadar ALB... 76

15. Kriteria Tingkat Kematangan Tandan... 77

16. Standar Kematangan Buah di Sungai Bahaur Estate ... 77

17. Hasil Fraksi Buah Pemanen Blok D6 ... 78

18. Hasil Fraksi Buah Pemanen Blok D5 ... 78

19. Perbandingan Persentase Hasil Grading blok D6 Penulis dengan PKS ... 80

20. Profil Pemanen dan Prestasinya... 81

(9)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Jurnal Harian Magang sebagai Karyawan Harian Lepas (KHL) ... 87

2. Jurnal Harian Magang sebagai Pendamping Mandor ... 88

3. Jurnal Harian Magang sebagai Pendamping Asisten... 89

4. Curah Hujan dan Hari Hujan di Sungai Bahaur Estate... 92

5. Peta Jenis Tanah ... 93

6. Peta Areal Statement Kebun Sungai Bahaur Estate... 94

7. Struktur Organisasi Wilayah ... 95

8. Struktur Organisasi Kebun ... 96

9. Peta Tahun Tanam ... 97

10. Tarif Premi Potong Buah Regional 2... 98

11. Denda Pemanen ... 99

(10)

Latar Belakang

Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) berasal dari Nigeria, Afrika Barat. Fauzi et al. (2008) menyatakan bahwa kelapa sawit berasal dari Amerika Selatan yaitu Brazil karena lebih banyak ditemukan spesies kelapa sawit di hutan Brazil dibandingkan dengan Afrika. Pada kenyataannya tanaman kelapa sawit hidup subur di luar daerah asalnya, seperti Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Papua Nugini, dan mampu memberikan hasil produktivitas yang lebih tinggi.

Tanaman kelapa sawit memiliki arti penting bagi pembangunan perkebunan nasional di Indonesia dengan menciptakan kesempatan kerja yang mengarah pada kesejahteraan masyarakat, juga sebagai sumber perolehan devisa negara.

Indonesia merupakan salah satu produsen utama minyak sawit (Fauzi et al., 2008). Potensi tinggi yang dimiliki sudah sewajarnya menjadikan kelapa sawit sebagai primadona komoditas perkebunan dan memegang peranan strategis pada perekonomian Indonesia. Minyak sawit mengandung beberapa keunggulan dibandingkan minyak nabati yang dihasilkan tanaman lainnya. Keunggulan tersebut diantaranya memiliki kadar kolesterol yang rendah, bahkan tanpa kolesterol (Sastrosayono, 2003).

Pada tahun 2004, luas areal perkebunan kelapa sawit 5 284 723 ha dengan produksi 10 830 389 ton. Pada tahun 2008, luas meningkat menjadi 7 363 847 ha dengan produksi 17 539 788 ton. Tahun 2010 diestimasikan luas areal kembali meningkat menjadi 7 824 623 ha (Ditjenbun, 2010). Luas areal pengusahaan kelapa sawit yang bertambah berpengaruh pada peningkatan volume ekspor minyak sawit Indonesia. Usaha peningkatan produksi, selain melalui perluasan areal, dilakukan juga melalui perbaikan teknik budidaya, peremajaan tanaman, peningkatan efisiensi pemanenan, pengolahan hasil, dan kebijakan tata niaga.

Salah satu kegiatan yang penting dalam teknik budidaya tanaman adalah pemanenan. Pemanenan pada tanaman kelapa sawit meliputi pemotongan tandan buah masak, memungut berondolan, dan pengangkutan ke tempat pengumpulan hasil (TPH), serta pengangkutan ke pabrik. Pelaksanaan pemanenan yang tepat meliputi usaha : penentuan kriteria panen, kerapatan panen, rotasi panen,

(11)

2

peramalan produksi, penyediaan tenaga pemanen terampil, organisasi panen, pengumpulan hasil, pengangkutan panen, serta pengawasan panen sehingga memperoleh hasil yang optimal.

Panen dan pengolahan hasil merupakan rangkaian terakhir dari kegiatan budidaya kelapa sawit. Kegiatan ini memerlukan teknik tersendiri untuk mendapatkan hasil yang berkualitas. Hasil panen utama dari tanaman kelapa sawit adalah buah kelapa sawit, sedangkan hasil pengolahan buah adalah minyak sawit (Fauzi et al., 2008).

Pekerjaan potong buah merupakan pekerjaan utama di perkebunan kelapa sawit karena langsung menjadi sumber pemasukan uang bagi perusahaan melalui penjualan minyak kelapa sawit (MKS) dan inti kelapa sawit (IKS) (Pahan, 2010).

Menurut Lubis (2008) keberhasilan panen dan produksi tergantung pada bahan tanaman yang dipergunakan, manusia (pemanen) dengan kapasitas kerjanya, peralatan yang digunakan untuk panen, kelancaran transportasi serta alat pendukung lainnya seperti organisasi panen yang baik, keadaan areal, insentif yang disediakan dan lain-lain. Setyamidjaja (2006) menyatakan bahwa pemanenan kelapa sawit perlu memperhatikan beberapa ketentuan umum agar TBS yang dipanen sudah matang, sehingga minyak kelapa sawit yang dihasilkan bermutu. Hasil penelitian Naibaho et al. (1992) menunjukkan kriteria matang panen didasarkan pada persyaratan tandan sebagai bahan olah pabrik kelapa sawit dan teknik pelaksanaan panen yang praktis.

Tujuan

Tujuan umum kegiatan magang adalah meningkatkan keterampilan kerja mahasiswa melalui praktik kerja di lapangan serta menambah wawasan dan pengalaman mahasiswa di lapangan. Tujuan khusus dari kegiatan magang penulis adalah mengetahui dan memahami pengelolaan perkebunan kelapa sawit khususnya aspek pemanenan.

(12)

Botani Kelapa Sawit

Tanaman kelapa sawit menurut Pahan (2010) diklasifikasikan sebagai berikut :

Divisi : Embryophyta Siphonagama Kelas : Angiospermae

Ordo : Monocotyledonae Famili : Arecaceae

Subfamili : Cocoideae Genus : Elaeis

Spesies : 1. E. guineensis Jacq.

2. E. oleifera (H. B. K.) Cortes 3. E. odora

Tanaman kelapa sawit berasal dari Afrika dan Amerika Selatan, tepatnya Brasilia.

Kelapa sawit yang termasuk dalam subfamili Cocoideae merupakan tanaman asli Amerika Selatan, termasuk spesies E. oleifera dan E. odora. Zeven (1965) dalam Pahan (2010) menyatakan asal E. guineensis berdasarkan hasil deskripsi para ahli botani sebelumnya dan para penjelajah di Benua afrika. Nama-nama kelapa sawit di dalam bahasa daerah di kedua sisi lautan Atlantik mengacu pada nama Afrika.

Panen

Panen merupakan suatu kegiatan memotong tandan buah yang sudah matang kemudian mengutip tandan dan brondolan yang tercecer di dalam dan di luar piringan, selanjutnya menyusun tandan buah di tempat pengumpulan hasil (TPH) (Risza, 1994). Menurut Lubis (2008) keberhasilan panen dan produksi tergantung pada bahan tanaman yang dipergunakan, manusia (pemanen) dengan kapasitas kerjanya, peralatan yang digunakan untuk panen, kelancaran transportasi serta alat pendukung lainnya seperti organisasi panen yang baik, keadaan areal, insentif yang disediakan dan lain-lain. Setyamidjaja (2006) menyatakan bahwa pemanenan kelapa sawit perlu memperhatikan beberapa ketentuan umum agar TBS yang dipanen sudah matang, sehingga minyak kelapa sawit yang dihasilkan bermutu. Hasil penelitian Naibaho et al. (1992) menunjukkan kriteria matang panen didasarkan pada persyaratan tandan sebagai bahan olah pabrik kelapa sawit dan teknik pelaksanaan panen yang praktis.

(13)

4

Persiapan Panen

Persiapan panen merupakan pekerjaan yang mutlak dilakukan sebelum TBM dimutasikan menjadi TM. Persiapan panen yang baik akan menjamin tercapainya target produksi dengan biaya panen seminimal mungkin. Hal-hal yang perlu dilakukan di dalam mempersiapkan pelaksanaan pekerjaan potong buah yaitu: 1. Persiapan kondisi areal, 2. Penyediaan tenaga potong buah, 3. Pembagian seksi potong buah, 4. Penyediaan alat- alat kerja (Pahan, 2010).

Kriteria Matang Panen

Suatu areal tanaman belum menghasilkan (TBM) dapat berubah menjadi tanaman menghasilkan (TM) dan mulai dapat dilakukan panen apabila 60% buah atau lebih telah matang panen (Setyamidjaja, 2006). Kriteria matang panen didasarkan pada persyaratan tandan sebagai bahan olah pabrik kelapa sawit dan teknik pelaksanaan panen yang praktis (Naibaho et al., 1992). Kriteria yang dipakai Kebun Teluk Siak adalah apabila telah jatuh berondolan sebanyak 2 berondolan tiap kilogram berat janjang rata-rata (BJR) (Kartika, 2007). Sedangkan ketentuan buah yang dapat dipanen di Pantai Bunati Estate dihitung berdasarkan pada jumlah brondolan lepas (buah yang terlepas secara alami dari janjang) sebanyak 5 butir brondolan yang jatuh di piringan. Kriteria umum untuk tandan buah dapat dipanen adalah berdasarkan jumlah brondolan yang terlepas dari tandannya dan jatuh ke tanah (piringan) secara alami (Tyas 2008).

Rotasi Panen

Rotasi panen adalah waktu yang diperlukan antara panen terakhir sampai panen berikutnya pada tempat yang sama. Perkebunan kelapa sawit di Indonesia pada umumnya menggunakan rotasi panen 7 hari, artinya satu areal panen dimasuki (diancak) oleh pemetik tiap 7 hari (Fauzi et al., 2008). Rotasi panen yang berlaku di Kebun PBSN PT Agrowiyana berbeda-beda untuk tiap divisi.

Namun pada umumnya rotasi panen yang digunakan adalah rotasi 6, artinya untuk panen selanjutnya dalam areal yang sama dibutuhkan waktu selama 7 hari (Purba, 2006). Menurut Lubis (2008) panen kelapa sawit juga dipengaruhi oleh iklim sehingga dikenal panen puncak dan panen kecil.

(14)

Hanca Panen

Pemilihan sistem potong buah yang sesuai dengan kondisi perkebunan setempat merupakan hal yang mutlak dilakukan dengan mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan masing-masing sistem buah yang ada (Pahan, 2010).

Menurut Fauzi et al. (2008) menyatakan bahwa dikenal dua sistem ancak panen, yaitu sistem giring dan sistem tetap.

Sistem giring. Pada sistem ini, apabila suatu ancak telah selesai dipanen, pemanen pindah ke ancak berikutnya yang telah ditunjuk oleh mandor, begitu seterusnya.

Sistem tetap. Sistem ini sangat baik diterapkan pada areal perkebunan yang sempit, topografi berbukit atau curam, dan dengan tahun tanam yang berbeda. Pada sistem ini pemanen diberi ancak dengan luas tertentu tidak berpindah-pindah.

Sistem Premi Panen

Pembuatan dan penetapan sistem premi potong buah harus didasarkan pada biaya potong buah per kg TBS sesuai anggaran tahun berjalan dan sistem premi sebelumnya. Besarnya premi potong buah diusahakan tetap dengan anggaran, tetapi tetap menarik bagi pemanen. Penetapan jumlah basis borong untuk setiap pemanen umumnya didasarkan pada pertimbangan kondisi berikut ini.

a. Rata-rata kemampuan seorang karyawan memanen TBS selama 7 jam per hari biasa dan 5 jam pada hari jumat.

b. Keadaan tanaman dalam blok-blok bersangkutan, misalnya pada tanaman tua yang sudah tinggi, tanaman muda yang masih rendah, kondisi setempat, dan sebagainya.

c. Kondisi spesifik tempat (Pahan, 2010).

Basis borong atau disebut juga basis premi adalah batasan jumlah tandan yang dipanen dalam basis tugas yang tidak mendapat premi (Lubis, 2008).

(15)

6

Sarana Panen

Alat-alat kerja untuk potong buah yang akan digunakan berbeda berdasarkan tinggi tanaman. Penggolongan alat kerja tersebut dibagi menjadi tiga bagian, yaitu alat untuk memotong TBS, alat untuk bongkar muat TBS, dan alat untuk membawa TBS ke TPH (Pahan, 2010). TBS harus segera diangkut ke pabrik untuk diolah. Buah yang tidak segera diolah, akan mengalami kerusakan.

Pemilihan alat angkut yang tepat dapat membantu mengatasi kerusakan buah selama pengangkutan. Alat angkut yang dapat digunakan dari kebunan ke pabrik, diantaranya lori, traktor, gandengan, atau truk. Pengangkutan dengan lori dianggap lebih baik dibanding dengan alat angkutan lain (Fauzi et al., 2008).

.

(16)

Waktu dan Tempat

Kegiatan magang dilaksanakan pada tanggal 14 Februari hingga 14 Juni 2011. Magang berlokasi di Sungai Bahaur Esate (SBHE), PT Bumitama Gunajaya Agro, Wilayah VI Metro Cempaga, Desa Pundu, Kecamatan Cempaga Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Metode Pelaksanaan

Metode yang dilakukan adalah kerja praktik langsung di kebun. Kegiatan yang dilakukan adalah seluruh jenis pekerjaan di lapangan dan di kantor pada seluruh level manajerial yang diizinkan mulai dari karyawan harian lepas (KHL), pendamping mandor, dan pendamping asisten. Kegiatan yang dilakukan bergantung pada kondisi di lapangan. Kegiatan penulis selama magang dapat dilihat dalam jurnal kegiatan harian (Lampiran 1, 2, dan 3).

Pengamatan dan Pengumpulan Data

Pengumpulan data dan informasi dilakukan dengan mengumpulkan data primer dan data sekunder. Data sekunder yang diperoleh dari kebun meliputi lokasi dan letak geografis kebun, organisasi dan manajemen perusahaan, keadaan tanah dan iklim, luas areal dan tata guna lahan, kondisi pertanaman, produksi kebun, dan norma kerja di lapangan.

Data primer pengamatan lapangan dipusatkan pada kegiatan panen yaitu persiapan panen, taksasi panen, sensus buah, angka kerapatan panen, tenaga panen, rotasi panen, pekerjaan potong buah, kapasitas pemanen, pelanggaran dan denda pemanen, sistem premi panen, mutu buah dan mutu hanca, kriteria matang panen, produktivitas pemanen, dan produksi TBS.

Praktik kerja di lapangan yang diikuti penulis meliputi kegiatan pemupukan, pengendalian gulma, perawatan lahan dan tanaman, kegiatan simulasi kebun, dan pemanenan. Kegiatan tersebut disertai pencatatan prestasi kerja, alat dan bahan, dan data-data lain yang terkait dalam kegiatan yang dilakukan setiap

(17)

8

hari pada jurnal harian. Pengetahuan manajerial diperoleh dengan menjadi pendamping mandor, kerani dan, asisten, serta melalui studi pustaka dokumentasi kebun (arsip kebun, laporan bulanan, dan laporan tahunan). Pengamatan yang dilakukan oleh penulis yaitu mengenai kebutuhan tenaga panen dan kualitas panen.

Kebutuhan Tenaga Panen

Kebutuhan Tenaga Panen Harian. Penulis melakukan pengamatan terhadap kebutuhan tenaga panen harian berdasarkan taksasi harian. Kebutuhan tenaga kerja panen harian diketahui dengan rumus sebagai berikut :

Kebutuhan tenaga panen = Keterangan :

A = Populasi pokok produktif B = Kerapatan panen

E = Basis janjang dalam blok

Pengambilan sampel dilakukan terhadap hasil pengamatan taksasi pada kadvel panen F yang terdiri dari 4 blok yaitu B3, B4, B5, dan B6.

Kebutuhan Tenaga Panen Setahun. Kebutuhan tenaga pemanen dalam setahun untuk tiap divisi dapat diketahui dengan rumus sebagai berikut :

Kebutuhan tenaga panen :

Keterangan :

A : Rata-rata hasil (kg/ha/tahun)

B : Total areal tanaman keseluruhan (ha) C : Kapasitas panen maksimal/HK D : Jumlah hari kerja/tahun

Pengamatan dilakukan dengan pengambilan sampel terhadap kebutuhan tenaga panen di Divisi I dengan luas 696.16 ha.

Kebutuhan tenaga pemanen dalam setahun untuk tingkat kebun dapat diketahui dengan rumus sebagai berikut :

Kebutuhan tenaga panen =

(18)

Keterangan :

A = Luas ancak (kadvel) yang dipanen pada semua seksi (ha) E = Kapasitas panen/HK

F = Jumlah seksi panen

Kualitas Panen

Kualitas Pekerjaan Potong Buah. Pengambilan sampel terhadap 10 pemanen pada luasan panen 1 ha/org. Kriteria pekerjaan panen yang diamati yaitu panen semua TBS masak, peletakkan TBS yang dipanen dalam piringan, potong rapat gagang TBS, buah mentah tidak ditinggal/ diperam, TBS disusun teratur di TPH, pengutipan semua brondolan, pengumpulan brondolan dalam tumpukan tersendiri, dan penumpukan pelepah di gawangan.

Kapasitas Pemanen. Pengamatan dilakukan terhadap hasil tandan yang dipanen oleh 10 pemanen, selama tiga minggu pada kadvel atau seksi panen yang sama dengan rincian sebagai berikut :

Blok panen : A3, A4, A5, A6 Tahun tanam : 1998 dan 2007

Berat janjang rata-rata (BJR) blok : 18 kg dan 7.6 kg Basis janjang : 100 jjg dan 120 jjg

Hasil tandan tersebut kemudian dirata-ratakan hingga diperoleh hasil kapasitas pemanen per hari.

Pelanggaran Pemanen. Penulis memeriksa pekerjaan potong buah 10 pemanen dengan luas hanca panen 1 ha. Kriteria kesalahan pekerjaan potong buah yang diamati ada 14 kriteria yaitu potong buah mentah, < 6 berondolan/jjg di TPH, buah masak tidak dipotong, buah masak dipotong tinggal di hanca, brondolan tidak dikutip, memotong buah tidak sempurna, buah tidak diantrikan/

tidak ditulis, berondolan banyak sampah/ alas karung, berondolan dalam karung utuh/ alas berondolan tidak terangkut, gagang panjang lebih dari 3 cm, pelepah tidak disusun pada bagian masing-masing, pelepah sengkleh (bukan sengkleh alami), buah busuk/ tidak diketek, dan lewat matang.

(19)

10

Kriteria Panen. Pengamatan dilakukan pada Blok D6 dan D5 dengan mengambil sampel 10 pemanen dalam satu kemandoran. Masing-masing blok diamati mutu buah di 10 TPH dengan jumlah total janjang 276, yaitu 11.50 % dari estimasi janjang hari itu 2 399 janjang.

Produktivitas Pemanen. Penulis melakukan pengamatan terhadap 10 pemanen untuk mengetahui prestasi pemanen berdasarkan umur, tingkat pendidikan, dan lama pengalaman dalam melakukan pekerjaan potong buah, dengan sampel jumlah janjang untuk seluruh kadvel dalam seminggu pada tiap blok di Divisi I.

Analisis Data dan Informasi

Data primer dan data sekunder yang dihasilkan dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif dengan mencari rata-rata, persentase hasil pengamatan, dan perhitungan statistik sederhana lainnya lalu diuraikan secara deskriptif dengan membandingkan terhadap norma baku yang berlaku pada perkebunan kelapa sawit dan standar yang telah ditetapkan perusahaan.

(20)

Lokasi dan Letak Geografis

Lokasi dari Sungai Bahaur Estate (SBHE) secara geografis terletak di antara 113.010-113.070Bujur Timur dan antara 1.800-1.860Lintang Selatan yang terletak di Desa Pundu, Kecamatan Cempaga Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Keadaan Iklim dan Tanah

Sungai Bahaur Estate (SBHE) mempunyai dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan. Puncak musim kemarau terjadi pada bulan Agustus dan September sedangkan puncak musim hujan terjadi pada bulan April dan Desember berdasarkan data curah hujan dari tahun 2002-2010. Rata-rata curah hujan selama 9 tahun terakhir (2002-2010) adalah 3 027 mm/tahun dengan rata- rata hari hujan adalah 134 hari/tahun. Rata-rata bulan kering 1.1 bulan/tahun, bulan lembab 0.7 bulan/tahun, dan bulan basah 10.1 bulan/tahun. Menurut klasifikasi Schmidth-Ferguson, iklim di SBHE termasuk tipe iklim A (sangat basah). Keadaan curah hujan bulanan di SBHE dapat dilihat pada Lampiran 4.

Keadaan topografi di Sungai Bahaur Estate (SBHE) mayoritas relatif datar dengan tingkat kemiringan 0-8% dan sedikit daerah bergelombang dengan tingkat kemiringan 9-15%. Jenis tanah SBHE berdasarkan yield gap analysis block by block terdiri dari atas tanah inceptisol sebesar 60.3 %, kaolin sebesar 19.9 %, ultisol sebesar 17.7 %, dan tanah entisol sebesar 0.7 %. Peta keadaan tanah SBHE dapat dilihat pada Lampiran 5. Hasil analisis ini menujukkan bahwa mayoritas SBHE memiliki jenis tanah inceptisol. Menurut Resman et al. (2006) tanah inceptisol adalah tanah yang belum matang (immature) dengan perkembangan profil yang lebih lemah dibanding dengan tanah yang matang dan masih banyak menyerupai sifat bahan induk. Warna tanah inceptisol beraneka ragam tergantung dari jenis bahan induknya. Warna kelabu menunjukkan bahan induknya berasal dari endapan sungai, warna coklat kemerahan terbentuk karena mengalami proses reduksi, warna hitam mengandung bahan organik yang tinggi. Menurut Jalaluddin dan Toni (2005) kaolin adalah salah satu jenis tanah lempung yang tersusun dari

(21)

12

mineral-mineral. Tanah lempung jenis ini berwarna putih keabu-abuan. Menurut Prasetyo dan Suriadikarta (2006) ultisol berkembang dari berbagai bahan induk, dari yang bersifat masam hingga basa. Ultisol dicirikan oleh adanya akumulasi liat pada horizon bawah permukaan sehingga mengurangi daya resap air dan meningkatkan aliran permukaan dan erosi tanah. Umumnya tanah ini mempunyai potensi keracunan Al dan miskin kandungan bahan organik. Menurut Utami dan Handayani (2003) tanah entisol merupakan tanah yang relatif kurang menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman. Tanah ini mempunyai konsistensi lepas-lepas, tingkat agregasi rendah, peka terhadap erosi dan kandungan hara yang tersedia rendah.

Kesesuaian lahan aktual untuk tanaman kelapa sawit di SBHE termasuk dalam kelas S3 (sesuai marjinal) dengan faktor pembatas utama adalah tekstur tanah pasir berlempung. Pemanfaatan tanah berdasarkan kelas lahan ini untuk pengembangan kelapa sawit, khususnya di SBHE harus diikuti dengan upaya untuk memperbaiki tingkat kesuburan tanah. Upaya tersebut diantaranya adalah penanaman tanaman kacangan penutup tanah, pemupukan, dan aplikasi bahan organik. Perbaikan yang dilakukan memberikan dampak positif terhadap produktivitas tanaman kelapa sawit sehingga dapat mencapai produksi yang diharapkan sesuai dengan potensi dan siklus tanaman kelapa sawit.

Luas Areal dan Tata Guna Lahan

Luas hak guna usaha PT Windu Nabatindo abadi adalah 12 000 ha dengan areal tanam seluas 9 589 ha yang terbagi atas tiga kebun, yaitu Sungai Bahaur Estate (SBHE) 3 987 ha, Bangun Koling Estate (BKLE) 2 505 ha, dan Sungai Cempaga Estate (SCME) 3 097 ha. PT WNA memiliki pabrik pengolahan crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil (PKO), yaitu Selucing Mill dengan kapasitas 45 ton TBS/jam. Sungai Bahaur Estate terdiri dari kebun inti dan kebun plasma.

Luas kebun inti 1 987 ha dan luas kebun plasma 2 000 ha.

Sungai Bahaur Estate tediri atas lima divisi, yaitu Divisi I (696 ha) yang terbagi atas 24 blok, Divisi II (671.4 ha) terbagi atas 25 blok, Divisi III (632 ha) terbagi atas 23 blok, Divisi IV (1 142 ha) terbagi atas 38 blok, dan Divisi V (845 ha) terbagi atas 31 blok. Peta areal SBHE dapat dilihat pada lampiran 6.

(22)

Kondisi Tanaman dan Produksi

Tanaman kelapa sawit yang diusahakan di Sungai Bahaur Estate adalah varietas Marihat yang dihasilkan oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS).

Jarak tanam yang digunakan 9.2 m x 9.2 m x 9.2 m dengan jarak antar barisan 7.97 m dan jarak dalam barisan 9.2 m sehingga populasi tanaman per hektarnya 136 pokok. Keadaan nyata di lapangan menunjukkan bahwa dalam satu blok terdapat jarak tanam yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena saat awal penanaman oleh PT Surya Barokah lahan tanaman kelapa sawit memiliki kerapatan tanam rendah dengan jarak tanam tinggi di atas 10 m. Kemudian setelah dilakukan take over oleh PT Windu Nabatindo Abadi kerapatan tanaman ditingkatkan dengan menambah tanaman sisipan. Selain itu populasi tanaman yang tidak seperti seharusnya disebabkan oleh serangan hama dan penyakit, lahan rawa, dan kondisi lahan lain yang tidak mungkin ditanami.

Sungai Bahaur Estate memiliki tanaman kelapa sawit TM dan TBM. Luas areal TBM adalah 502 ha dan areal TM seluas 3485 ha. Terdapat delapan tahun tanam kelapa sawit di Sungai Bahaur Estate, yaitu 1998, 2000, 2002, 2003, 2005, 2006, 2007, dan 2008. Produksi tandan buah segar (TBS) Sungai Bahaur Estate (SBHE) setiap tahunnya bervariasi, dengan produksi tertinggi selama lima tahun terakhir (2006-2010) dicapai pada tahun 2010 yaitu sebesar 54 781.8 ton. Data produksi TBS di Sungai Bahaur Estate dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Produksi Tanaman Kelapa Sawit Sungai Bahaur Estate (SBHE)

No. Tahun Produksi TBS

BJR Janjang Ton

1 2006 8.0 1 294 791 11 579.0

2 2007 8.2 2 397 493 21 595.8

3 2008 9.5 3 355 822 32 828.7

4 2009 10.6 4 372 208 45 781.8

5 2010 11.3 4 830 847 54 781.8

Data produksi menunjukkan SBHE terus mengalami peningkatan sejak tahun 2006 yaitu sebesar 11 579.0 ton TBS hingga tahun 2010 yaitu 54 781.8 ton TBS. Hal ini disebabkan oleh adanya penambahan luas areal tanaman kelapa sawit menghasilkan, perawatan yang intensif, curah hujan yang cukup, pemupukan yang teratur, dan adanya tahun tanam kelapa sawit yang telah

(23)

14

memasuki TM. TBS yang dihasilkan oleh SBHE kemudian dibawa ke PKS yang terletak di wilayah II, Pundu Nabatindo Mill (PNBM) dan wilayah IV, Selucing Agro Mill (SAGM) untuk selanjutnya diproses sehingga menghasilkan CPO (Crude Palm Oil).

Struktur Organisasi Perusahaan dan Ketenagakerjaan

Perkebunan kelapa sawit PT Windu Nabatindo Abadi merupakan salah satu unit usaha dari PT Bumitama Gunajaya Agro (BGA Group). Struktur organisasi PT BGA berdasarkan susunan garis dan staf dengan kekuasaan tertinggi dipegang oleh Chief Executive Officer (CEO), sedangkan operasional perusahaan dipegang oleh manajemen yang terdiri dari Engineering Director, Plantation Director, dan Finance Director yang membawahi langsung General Manager Plantation (GMP).

GMP memiliki tanggung jawab terhadap dua wilayah kebun yang masing- masing wilayah dikepalai oleh seorang Kepala Wilayah. PT Windu Nabatindo Abadi dipimpin oleh seorang kepala wilayah yang bertanggung jawab kepada GMP. Kepala Wilayah dibantu oleh seorang Admin Wilayah, Departemen Support, yang terdiri dari staf PAD (Public Affair Department), staf GIS (Geographic Information System), dan chief keamanan, Estate Manager, Mill Manager, Kepala Tata Usaha (KTU), dan Kepala Traksi Wilayah yang membawahi asisten Workshop dan Traksi, serta Asisten Teknik Sipil (Civil Engineering). Struktur organisasi PT Windu Nabatindo Abadi (wilayah VI) dapat dilihat pada Lampiran 7.

Kepala Wilayah bertanggung jawab terhadap beberapa hal, yaitu 1.

Mencapai seluruh target secara kuantitas maupun kualitas secara efektif dan efisien; 2. Menjamin penerapan kaidah kultur teknis sesuai dengan pedoman teknis agronomi; 3. Mengamankan seluruh kebijakan perusahaan; 4.

Mengamankan seluruh aktiva perusahaan; 5. Menjamin terlaksananya tertib administrasi dan keuangan; 6. Mengembangkan kompetensi sumber daya manusia agar mampu mencapai standar produktifitas; 7. Mengembangkan komunitas perkebunan di wilayahnya yang mencerminkan kehidupan masyarakat yang sehat dan sejahtera dalam rangka menunjang semangat kerja karyawan; 8. Mengelola

(24)

pembangunan dan pengembangan kebun serta pabrik secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Sungai Bahaur Estate dipimpin oleh seorang Estate Manager (EM) dan dibantu oleh seorang kepala asisten, asisten divisi, dan kasie (kepala administrasi).

Asisten divisi dibantu oleh mandor I, kerani divisi, kerani transport, kerani panen, mandor panen, mandor perawatan, mandor pupuk, dan mandor chemist.

Administrasi dipegang oleh seorang kepala administrasi (kasie). Kasie dibantu oleh seorang accounting, admin, kasir dan di bawahnya terdapat kerani divisi.

Estate Manager (EM) berperan dalam menjalankan tugas umum : 1.

Menjabarkan dan menyelenggarakan pengelolaan pembangunan dan pengembangan kebun yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan sesuai dengan kebijakan yang sudah ditetapkan oleh Manajemen dan atau Kepala Wilayah; 2. Meningkatkan produktivitas melalui pengembangan kompetensi dan karir sumber daya manusia di lingkungan Kebun; 3. Melakukan koordinasi lintas departemen dan atau rekan sekerja dalam upaya pencapaian target yang telah ditetapkan oleh Manajemen dan atau Kepala Wilayah; 4. Melakukan monitoring pelaksanaan pekerjaan operasional berdasarkan laporan dari divisi/bagian dari unit kebun, serta melaporkannya secara komprehensif kepada Atasan langsung; 5.

Mengembangkan komunitas perkebunan di unit usahanya yang mencerminkan kehidupan masyarakat yang sehat dan sejahtera dalam rangka menunjang semangat kerja karyawan. Estate Manager memiliki tugas pokok yang harus dijalankan, yaitu menyusun anggaran tahunan dan bulanan meliputi aspek Area Statement, Produksi, Kapital, Sumber Daya Manusia dan Totalitas Biaya, merencanakan strategi pencapaian target tanam dalam rangka pengembangan kebun berdasarkan perizinan yang sudah diperoleh, bersama-sama dengan kepala wilayah, mengadakan rapat kerja intern dengan Asisten Divisi dan Kepala Seksi (Kasi) beserta jajaran di bawahnya secara periodik (minimal seminggu sekali) dalam upaya percepatan/peningkatan kinerja, melaksanakan koordinasi dengan pihak intern maupun ekstern untuk mencapai target pekerjaan, menyampaikan laporan Manager secara akurat dan tepat waktu kepada Kepala Wilayah dengan tembusan kepada Kepala Departemen Agronomi. Estate Manager bertanggung

(25)

16

jawab langsung kepada Kepala Wilayah dan dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh Asisten Kepala, Asisten Divisi, dan Kepala Seksi Administrasi.

Asisten Kepala berperan dalam menjalankan tugas umum, yaitu membantu Estate Manager dalam pengelolaan seluruh aspek pekerjaan agronomi, antara lain :

1) menjabarkan dan menyelenggarakan pengelolaan pembangunan dan pengembangan kebun yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan sesuai dengan kebijakan yang sudah ditetapkan oleh Manajemen dan atau Kepala Wilayah.

2) Membantu Manajer Kebun meningkatkan produktivitas melalui pengembangan kompetensi dan karir sumber daya manusia di lingkungan Kebun.

3) Membantu Manajer Kebun melakukan koordinasi lintas departemen dan atau rekan sekerja dalam upaya pencapaian target yang telah ditetapkan oleh Manajemen dan atau Kepala Wilayah.

4) Membantu Manajer Kebun melakukan monitoring pelaksanaan pekerjaan operasional berdasarkan laporan dari divisi/bagian dari unit kebun, serta melaporkannya secara komprehensif kepada Atasan langsung.

5) Membantu Manajer Kebun mengembangkan komunitas perkebunan di unit usahanya yang mencerminkan kehidupan masyarakat yang sehat dan sejahtera dalam rangka menunjang semangat kerja karyawan.

Selain itu seorang asisten kepala juga bertanggung jawab kepada Estate Manager dalam mengelola seluruh aspek pekerjaan non agronomi untuk mendukung operasional kebun dan berperan aktif dalam pekerjaan-pekerjaan administrasi dan keuangan di tingkat kebun. Asisten Kepala dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh Asisten Divisi.

Asisten Kepala Memiliki tanggung jawab sebagai berikut: 1. Mencapai seluruh target secara kuantitas maupun kualitas secara efektif dan efisien; 2.

Menjamin penerapan kaidah kultur teknis sesuai dengan pedoman teknis agronomi; 3. Mengamankan seluruh kebijakan perusahaan; 4. Menjamin terlaksananya tertib administrasi dan keuangan; 5. Mengembangkan kompetensi sumber daya manusia agar mampu mencapai standar produktifitas; 6.

(26)

Mengembangkan komunitas perkebunan di unit usahanya yang mencerminkan kehidupan masyarakat yang sehat dan sejahtera dalam rangka menunjang semangat kerja karyawan; 7. Mengelola pembangunan dan pengembangan kebun secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Asisten Divisi memiliki tugas umum, yaitu : 1. Menjabarkan dan menyelenggarakan pengelolaan pembangunan dan pengembangan Divisi yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan sesuai dengan kebijakan yang sudah ditetapkan oleh Manajemen (Kepala Wilayah; Manager); 2. Meningkatkan produktivitas melalui pengembangan kompetensi dan karir sumber daya manusia di lingkungan Divisi; 3. Melakukan koordinasi lintas bagian dan atau rekan sekerja dalam upaya pencapaian target yang telah ditetapkan oleh Manager; 4.

Melakukan monitoring pelaksanaan pekerjaan operasional di divisi serta melaporkannya secara komprehensif kepada Manajer Kebun; 5. Mengembangkan komunitas perkebunan di dalam divisinya yang mencerminkan kehidupan masyarakat yang sehat dan sejahtera dalam rangka menunjang semangat kerja karyawan.

Asisten Divisi memiliki tanggung jawab antara lain : 1. Mencapai seluruh target secara kuantitas maupun kualitas secara efektif dan efisien; 2. Menjamin penerapan kaidah kultur teknis sesuai dengan pedoman teknis agronomi; 3.

Mengamankan seluruh kebijakan perusahaan; 4. Menjamin terlaksananya tertib administrasi dan keuangan; 5. Mengembangkan kompetensi sumber daya manusia agar mampu mencapai standar produktifitas; 6. Mengembangkan komunitas perkebunan di unit usahanya yang mencerminkan kehidupan masyarakat yang sehat dan sejahtera dalam rangka menunjang semangat kerja karyawan; 7.

Mengelola pembangunan dan pengembangan kebun secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Asisten Divisi bertanggung jawab langsung Asisten Kepala atau Estate Manager dan dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh Mandor I, mandor, dan kerani. Struktur organisasi SBHE dapat dilihat pada Lampiran 8. Jumlah staf dan non staf di Sungai Bahaur Estate dapat dilihat pada Tabel 2.

(27)

18

Tabel 2. Jumlah Staf dan Non Staf di Sungai Bahaur Estate (SBHE), PT Windu Nabatindo Abadi, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

No Status Pegawai Jumlah Orang

1. Staf 8

2. Karyawan Bulanan 40

3. Karyawan Harian Tetap (KHT) 424

4. Karyawan Harian Lepas (KHL) 244

ITK 0.18

Sumber : Data Tenaga Kerja Sungai Bahaur Estate (SBHE) tahun 2011.

Hari kerja karyawan dalam seminggu adalah 6 hari dengan lama jam kerja 7 jam/hari kecuali hari jumat 5 jam/hari. Perbedaan antara KHT dan KHL terletak pada tunjangan-tunjangan yang diberikan oleh perusahaan. Adapun ketentuan yang berlaku bagi karyawan bulanan, karyawan harian tetap (KHT), dan karyawan harian lepas (KHL) sebagai berikut:

Karyawan Bulanan :

1. Mendapat tunjangan beras (pekerja = 0.5 kg/hari, istri = 0.3 kg/hari, anak

= 0.25 kg/hari)

2. Mendapat fasilitas rumah dan tidak perlu membayar listrik

3. Mendapat tunjangan kesehatan apabila sakit bebas biaya untuk berobat 4. Jika masuk kerja penuh dari hari senin-sabtu maka pada hari minggu

dihitung upah satu hari

5. Jika tidak masuk tanpa izin tidak mendapat jatah beras dan cuti terpotong.

6. Upah per bulan sesuai golongan dan struktur upah bulanan.

Karyawan Harian Tetap (KHT) :

1. Mendapat tunjangan beras (pekerja = 0.5 kg/HK, istri = 0.3 kg/HK, anak = 0.25 kg/HK)

2. Mendapat tunjangan kesehatan apabila sakit bebas biaya untuk berobat 3. Mendapat rumah dan tidak perlu membayar listrik

4. Jika masuk kerja penuh dari hari senin-sabtu maka pada hari minggu dihitung upah satu hari

5. Jika tidak masuk tanpa izin tidak mendapat upah harian (Rp 41 471,-)

(28)

Karyawan Harian Lepas (KHL) :

1. Tidak mendapat tunjangan beras dan pelayanan kesehatan 2. Mendapat rumah dan tidak perlu membayar listrik

3. Jika tidak masuk tanpa izin tidak mendapat upah harian (Rp 49 765,-) 4. KHL dapat diangkat menjadi KHT setelah 3 bulan masa kerja.

PT Windu Nabatindo Abadi dalam menunjang kesejahteraan karyawannya menyediakan perumahan yang dilengkapi sarana air bersih dan listrik, tempat peribadatan, klinik kesehatan, lapangan olahraga, dan sarana pendidikan. Sarana pendidikan yang berada dalam lingkungan perusahaan adalah sekolah menengah pertama dan sekolah dasar. Perusahaan juga menyediakan kendaraan antar jemput bagi anak-anak karyawan yang berada pada jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) tersebut.

Sarana kesehatan yang disediakan pihak perusahaan untuk tiap estate berupa poliklinik yang ditangani oleh seorang mantri atau perawat. Bila terjadi kecelakaan kerja yang tidak dapat ditangan oleh poliklinik, maka poliklinik akan merujuk ke Rumah Sakit rekomendasi terdekat dengan seluruh biaya pengobatan ditanggung oleh pihak perusahaan.

(29)

PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG

Pelaksanaan Teknis

Kegiatan teknis selama magang dilakukan di kebun dengan tiga tingkatan pekerjaan diantaranya sebagai karyawan harian lepas (KHL), pendamping mandor, dan pendamping asisten. Pekerjaan di lapangan diawali dengan mengikuti apel pagi setiap hari kerja pukul 05.15 WIB. Pada apel pagi inilah dilakukan absensi kehadiran dan pembagian kerja masing-masing kelompok kerja dari kemandoran pemupukan, chemist, perawatan, pemanenan, dan kerani buah.

Pekerjaan usai hingga pukul 13.00 WIB di sela pekerjaan diberikan waktu istirahat ‘wolon’ pada pukul 10.00-10.30 WIB.

Pemupukan

Pemupukan adalah kegiatan memberi nutrisi atau hara tambahan pada tanaman agar produksi tanaman menjadi optimal. Pemupukan bertujuan memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan normal (pertumbuhan vegetatif), dapat berproduksi secara maksimal (pertumbuhan generatif), serta kesuburan tanah dapat dipertahankan (Petunjuk Teknis Program Pemupukan Tahun 2011 BGA). Pemupukan juga bertujuan untuk menyediakan kebutuhan hara bagi tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh baik dan mampu berproduksi maksimal dan menghasilkan minyak berkualitas baik (Adiwiganda dan Siahaan, 1994). Pemupukan dilakukan pada tanah kering atau lembab, tidak pada tanah tergenang air agar pupuk dapat terurai pada tanah dan mampu diserap akar tanaman. Pemberian pupuk pada tanaman harus memperhatikan beberapa hal yang menjadi kunci keefektifan pemberian pupuk, diantaranya daya serap akar tanaman, cara pemberian dan penempatan pupuk, waktu pemberian, serta jenis dan dosis pupuk (Fauzi et al., 2008).

Biaya pemeliharaan tidak kurang dari 50% adalah biaya pemupukan mulai dari biaya pengadaan, transportasi, dan pengawasan (Adiwiganda, 2002). Menurut Sugiono et al. (2005) pemupukan pada tanaman kelapa sawit membutuhkan biaya yang sangat besar sekitar 30% terhadap biaya produksi atau sekitar 60% terhadap

(30)

biaya pemeliharaan. Kebutuhan pupuk untuk tanaman menghasilkan (TM) dan tanaman belum menghasilkan (TBM) juga berbeda.

Jenis Pupuk

Pupuk yang umum digunakan dalam perkebunan kelapa sawit adalah pupuk anorganik dan pupuk organik. Pupuk anorganik yang digunakan adalah pupuk buatan yang mengandung garam mineral, kecuali beberapa pupuk seperti urea. Pupuk yang digunakan tergantung pada umur tanaman kelapa sawit (tanaman menghasilkan dan tanaman belum menghasilkan). Pupuk yang digunakan terdiri dari pupuk mikro dan makro untuk memenuhi kebutuhan hara tanaman. Pupuk mikro merupakan pupuk yang dibutuhkan tanaman dalam dosis sedikit, sedangkan pupuk makro dibutuhkan dalam dosis banyak.

Pada TBM digunakan jenis pupuk mikro HGFB (high grade fertilizer borate) yang mengandung boron , NPK 16-10-18-1-6-2-1, NPK 14-8-21-2-4-2-1, dan Cu (pada areal pasir dan gambut). Jenis pupuk makro yang digunakan pada TBM diantaranya Urea, MOP (muriate of potash), NPK 15-15-15-6-4, dan NPK 12-12-17-2, serta RP (rock phospate) / Giano. Pada TM digunakan jenis pupuk mikro Zn, Borate, CuSO4, FeSo4, dan menggunakan pupuk makro diantaranya, NPK 16 dan 14 (Palmo), Urea dan MOP, serta RP / Guano.

Adapun pupuk organik yang digunakan dalam perkebunan kelapa sawit pada umumnya berasal dari produk limbah perkebunan, limbah dari proses pengolahan kelapa sawit, dan inokulan tanah (Pahan, 2010). Produk limbah perkebunan yaitu, sisa-sisa tanaman seperti pelepah dan daun kacangan yang ditumpuk di gawangan mati. Pelepah juga diletakkan di sekitar pokok tanaman membentuk U-shape yang berfungsi untuk menjaga iklim mikro di sekitar pokok tanaman, mencegah erosi, dan mengurangi penguapan sehingga kebutuhan air tanaman tetap terjaga. Limbah dari proses pengolahan kelapa sawit yang digunakan adalah janjang kosong kelapa sawit. Janjang kosong tersebut dari PKS dikembalikan lagi ke kebun untuk dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Janjang kosong diaplikasikan di antara pokok tanaman di sela-sela pelepah mati berbentuk U-shape antar pokok tanaman. Janjang kosong tersebut diberikan sebanyak 200 kg/pokok pada TM, sedangkan untuk TBM 150 kg/pokok.

(31)

22

Inokulan tanah yaitu, bakteri legume pengikat N yang berasal dari tanaman penutup tanah (LCC/ Legume Cover Crops). Tanaman penutup tanah yang digunakan Sungai Bahaur Estate (SBHE) adalah Mucuna bracteata. LCC ini digunakan karena memiliki keunggulan pada pertumbuhan rambatnya yang cepat (14 cm/minggu), memberi nutrisi tambahan tanaman sebagai tempat hidup bakteri legume pengikat N, mampu melapukan kayu, sekaligus menjadi tanaman penutup tanah yang dapat menjaga iklim mikro di sekitar tanaman. Namun pemeliharaan tanaman ini membutuhkan biaya cukup tinggi untuk pengendalian pertumbuhannya yang cepat.

Hasil yang efektif dan efisien dalam pemupukan dapat dicapai dengan menerapkan disiplin aplikasi pupuk (4T) yang diberlakukan SBHE yaitu 1. Tepat dosis (takaran yang standard dan telah dikalibrasikan), 2. Tepat cara (tabur sebar atau tabur larik- u shape), 3. Tepat tempat (permukaan piringan atau sisi luar piringan), 4. Tepat waktu (tidak musim hujan besar dan tidak musim kemarau keras).

Dosis Pupuk

Menurut Siahaan et al. (1990), pendekatan untuk mengetahui dosis pupuk yang harus ditambahkan guna mengimbangi kekurangan hara dalam tanah yaitu dengan mempertimbangkan :

a. Jumlah hara yang diserap tanaman

b. Hara yang kembali ke tanah melalui dekomposisi bagian-bagian tanaman yang telah mati/lapuk

c. Hara yang hilang dari zona perakaran (rhizosfir) karena proses pencucian dan penguapan

d. Hara yang terangkut bersama hasil panen

e. Kemampuan tanah dalam menyediakan unsur hara f. Status hara dalam daun

g. Data agronomi yang mencakup pertumbuhan, produksi, dan gangguan hama/ penyakit

h. Data hasil percobaan pemupukan (kalau ada), serta

(32)

i. Pelaksanaan pemupukan sebelumnya, terutama jika program pemupukan tahun sebelumnya tidak terlaksana seluruhnya.

Berikut merupakan dosis pupuk yang diterapkan SBHE berdasarkan umur tanaman agar sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan tanaman kelapa sawit. Pada TBM 1 dibutuhkan pupuk urea sebanyak 250 gr/pokok, HGFB 25 gr/pokok, NPK 16-10-18-2-6 1200 gr/pokok, kieserite 300 gr/pokok, dan Chelated Zincopper 100 gr/pokok. TBM 2 membutuhkan pupuk urea sebanyak 500 gr/pokok, HGFB 50 gr/pokok, NPK 16-10-18-2-6 700 gr/pokok, NPK 14-8-21-2- 4-2 1 400 gr/pokok, RP 1 000 gr/pokok, MOP 1 000 gr/pokok, kieserite 800 gr/pokok, dan Chelated Zincopper 90 gr/pokok. TBM 3 dibutuhkan pupuk urea sebanyak 500 gr/pokok, HGFB 50 gr/pokok, NPK 14-8-21-2-4-2 2 250 gr/pokok, RP 1 500 gr/pokok, MOP 1 200 gr/pokok, kieserite 1 000 gr/pokok, dan Chelated Zincopper 50 gr/pokok. Pupuk tersebut diberikan secara bertahap sesuai rotasi dan ketentuan waktu pemupukan. Dosis yang berbeda juga diaplikasikan pada TM sesuai dengan tahun tanam. Data rekomendasi pemupukan TM kelapa sawit tahun 2011 dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Rekomendasi Pemupukan TM Kelapa Sawit Tahun 2011 Tahun

Tanam Tahap

Urea (kg/

pokok) RP Egypt (kg/

pokok)

MOP Kanada (kg/

pokok)

Kieserit Jerman (kg/

pokok)

Chelated Zincopper (kg/

pokok)

HGFB (kg/

pokok)

1998 I 1.27 2.27 1.53 1.48 0.01 0.1

II 1.12 - 1.46 - 0.01 0.1

2002 I 1.14 2.06 1.55 1.44 0.06 0.1

II 1.04 - 1.45 - 0.06 0.1

2003 I 1.06 2.12 1.81 1.44 0.05 0.1

II 1.00 - 1.62 - 0.05 0.1

2005 I 1.25 2.25 1.50 1.50 - 0.1

II 1.25 - 1.25 - - 0.1

2007 I 0.72 1.89 1.39 1.50 - 0.1

II 0.61 - 1.25 - - 0.1

2008 I 1.00 2.00 1.50 1.50 - 0.1

II 0.75 - 1.25 - - 0.1

Waktu Pemupukan

Waktu dan frekuensi pemupukan ditentukan oleh iklim (terutama curah hujan), sifat fisik tanah, logistik (pengadaan) pupuk, serta adanya sifat sinergis

(33)

24

dan antagonis antar unsur hara (Pahan, 2010). Waktu pemupukan sangat menentukan efektivitas dari penyerapan hara pada tanaman. Pemupukan yang optimum dilakukan pada saat curah hujan 100-200 mm/bulan dan minimum pada curah hujan 60 mm/bulan dan maksimum 300 mm/bulan. Jika terjadi kemarau dengan curah hujan kurang dari 60 mm/bulan maka pemupukan dihentikan dan dapat dilaksanakan pemupukan kembali jika sudah turun hujan 50 mm/10hari (IOM Urutan Aplikasi Pupuk Tahun 2011, BGA). Hal-hal yang mempengaruhi ketidaksesuaian waktu pemupukan diantaranya waktu musim panen puncak (peak crop) menghasilkan buah yang tinggi hingga membrondol menyebabkan pemupukan ditunda sampai pemanenan selesai dilakukan, gulma yang mencapai titik kritis, dan keadaan iklim yang tidak memungkinkan seperti hujan.

Cara Pemupukan

Cara pemupukan menentukan jumlah pupuk yang dapat diserap secara efektif oleh tanaman. Peningkatan efisiensi pemupukan ini mencakup aspek upaya bagaimana pupuk itu lebih cepat sampai zona perakaran dan seminimum mungkin hilang karena adanya aliran permukaan air dan penguapan (Pahan, 2010).

Pada TBM digunakan jenis pupuk mikro HGFB, NPK 16-10-18-1-6-2-1, dan NPK 14-8-21-2-4-2-1 (diaplikasikan dekat dengan pangkal batang ± 20 cm dari pangkal batang dengan sistem tabur), serta Cu (pada areal pasir dan gambut diaplikasikan sistem tugal dekat dengan pangkal batang) , sedangkan jenis pupuk makro yang digunakan Urea, MOP, dan NPK 15-15-15-6-4 dan NPK 12-12-17-2 (diaplikasikan di piringan di bawah tajuk terluar mengarah ke dalam dengan sistem tabur), serta RP/Giano (di bawah tajuk mengarah keluar dengan sistem tabur).

Pada TM digunakan jenis pupuk mikro Zn, Borate, CuSO4, dan FeSo4 (diaplikasikan di sekeliling pokok dengan radius 0.5-1 meter dari pangkal pokok dengan sistem tabur), jenis pupuk makro NPK 16 dan 14 (Palmo diaplikasikan pada areal pasir dilakukan dengan sistem pocket dekat dengan pangkal batang), Urea dan MOP (berbentuk u-shape dengan radius 1.5-2 meter dari pangkal pokok (arah dalam piringan) dengan sistem tabur), serta Rock Phosphate/Guano

(34)

(berbentuk u-shape dengan radius >2 meter dari pangkal pokok (arah luar piringan) dengan sistem tabur).

Lokasi Penempatan

Cara aplikasi pupuk yang diterapkan oleh Sungai Bahaur Estate (SBHE) berdasarkan Departemen Riset Bumitama Gunajaya Agro Group diantaranya sebagai berikut :

1. Pupuk RP-Guano diaplikasikan disusunan pelepah untuk memacu pertumbuhan akar tersier dan kuarter.

2. Pupuk Urea dan MOP diaplikasikan di pinggir rumpukan pelepah pada piringan terluar dengan jarak 1.5 - 2 m dari pokok.

3. Pasar pikul tidak boleh diaplikasikan pupuk.

4. Pupuk mikro diaplikasikan dekat pangkal batang dengan jarak 0.5-1 m dari pokok (Aplikasi Cu ditugal).

5. Pupuk Kieserit diaplikasikan di pinggir rumpukan pelepah pada piringan terluar dengan jarak 1.5 - 2 m dari pokok.

Rotasi/Frekuensi

Penentuan frekuensi pemupukan sangat penting karena berkaitan dengan sifat sinergis dan antagonis dari hara yang terkandung dalam pupuk. Secara umum, sifat sinergis unsur hara antara N dan K, sedangkan sifat antagonis antar unsur hara yaitu, N-P, N-Mg, dan K-Mg (Pahan, 2010). Interval rotasi pada jenis pupuk yang sama, tidak boleh kurang dari dua bulan. Interval pemupukan ditentukan oleh jenis pupuk yang akan diaplikasikan. Pupuk Guano diaplikasikan satu kali pada bulan Januari dan Februari, HGFB, Chelated zincopper, dan NPK diaplikasikan rotasi pertama pada bulan Februari selanjutnya rotasi kedua pada bulan Juli, MOP diaplikasikan rotasi pertama pada bulan April dan rotasi kedua bulan September, Urea diaplikasikan rotasi pertama pada bulan Mei dan rotasi kedua bulan Oktober, dan pupuk kieserit diaplikasikan satu kali pada bulan Maret.

(35)

26

Pelaksanaan Pemupukan

Pada divisi I Sungai Bahaur Estate, seorang mandor pupuk membawahi 20 KHL pemupuk dengan pembagian tugas 3 orang sebagai penguntil, 2 orang sebagai BMP (bongkar muat pupuk), dan 15 orang sebagai penabur pupuk di lahan. Kegiatan pemupukan dimulai dengan penguntilan yang dilakukan oleh 3 orang KHL wanita. Penguntilan dilakukan seseuai kebutuhan pupuk tiap pokok.

Contoh perhitungan kebutuhan pupuk :

Pemupukan pada blok A1 (tahun tanam 1998, seluas 34,38 ha, dan jumlah pokok 3 946). Pupuk diuntil menjadi 18 kg/karung. Tiap until untuk 8 pokok TM dengan dosis 2.25 kg/pokok. Pupuk yang diapliksikan RP (Rock phospate) dengan kebutuhan 2.25 kg/pokok, maka membutuhkan pupuk sebanyak = 3 946 x 2.25 kg

= 8 878.5 kg.

Jumlah pupuk yang dibutukan 8 878.5 kg : 50 kg = 178 karung.

Jumlah until pupuk yang dibutuhkan 8 878.5 kg : 18 kg = 494 untilan.

Penguntilan disesuaikan dengan dosis jenis pupuk yang akan diaplikasikan. Norma kerja basis penguntil 2 ton/HK. Jika penguntil mencapai lebih basis maka berhak mendapatkan premi lebih basis. Premi basis yang berlaku Rp 2 500 dan premi lebih basis Rp 24 000/ton. Ada pun teknik penguntilan yang berlaku di SBHE. Teknik Penguntilan efektif dan efisien pasti terjamin 4 orang per grup :

1. Karung pupuk disusun dengan jumlah sesuai yang dikehendaki, posisi cat benang jahitan yang tebal berada di atas. Cara membukanya dari sebelah kanan kita dengan dipotong mepet dengan bantuan pisau atau gunting.

2. Setelah benang ditarik tuang karung pupuk dari arah belakang.

3. Satu orang menakar dengan di cetak menggunakan sebatang kayu atau sejenisnya.

4. Orang kedua memasukkan pupuk ke dalam karung until.

5. Orang ketiga mengikat untilan.

6. Orang keempat menyusun untilan pada tempat yang telah ditentukan.

Penguntilan sebaiknya dilakukan oleh 4 orang namun dalam kenyataan di lapangan 3 orang sudah cukup untuk melakukan penguntilan.

(36)

Bongkar muat pupuk (BMP) dilakukan oleh dua orang dengan menggunakan truk. Pemupukan yang dilakukan di divisi I bergabung dengan tim pupuk dari divisi III, maka ada 4 orang tenaga bongkar muat (BM) masing-masing dua orang dari tiap divisi. Pupuk yang telah dimuat dalam truk akan dilangsir oleh tenaga BM 8 until tiap pasar pikul sesuai dengan kebutuhan pupuk/pokok tanaman. Norma kerja yang berlaku bagi tenaga BM 4 ton/HK. Premi basis yang didapat Rp 2 500 dan premi lebih basis Rp 12/kg.

Pemupukan dilakukan dengan membagi KHL menjadi beberapa KKP (kelompok Kerja Pupuk), 1 KKP terdiri dari 3 orang yaitu, 1 orang pelangsir dan 2 orang penabur. Pelangsir meletakkan 1 untilan untuk 8 delapan pokok hingga pasar tengah atau sesuai kemauan penabur. Tiap until biasanya diletakkan tiap 8 pokok di baris terdepan dalam pasar pikul untuk memupuk 4 pokok di baris kiri dan 4 pokok di baris kanan. Kelebihan KKP ini yaitu pokok dapat terpupuk semua, pemupukan dapat selesai dengan cepat dan terorganisasi, namun kesalahan yang terkadang terjadi pupuk yang disebar tidak merata.

SBHE memiliki 5 disiplin pemupukan yang harus dilakukan oleh pemupuk yaitu : 1. Pemupukan dimulai dari pasar tengah

2. Pemupukan sesuai dengan takaran 3. Pupuk harus di tabur merata 4. Setiap pokok wajib terpupuk

5. Karung dikumpulkan disusun rapi dibawa pulang

Setiap KKP memiliki hanca tugas 5 pasar pikul atau setara 2.5 ha dengan norma kerja 500 kg/HK. Alat yang digunakan diantaranya angkong untuk melangsir atau membawa pupuk ke dalam gawangan, gendongan, ember, timbangan cantelan, karung, sarung tangan, masker, dan seragam pemupukan.

Pada kegiatan pemupukan juga digunakan bendera penanda yaitu, bendera merah sebagai pertanda hanca luar dan bendera kuning sebagai pertanda hanca tengah.

SBHE menerapkan BMS dalam pelaksanaan pemupukannya. Adapun yang dimaksud dengan Block Manuring System adalah sistem pemupukan yang diatur sedemikian rupa sehingga :

 Blok-blok pemupukan terkonsentrasi dalam 1 hancak pemupukan bagi seluruh divisi per kebun.

(37)

28

 Dikerjakan block by block dengan orientasi mutu pemupukan yang lebih baik, supervisi lebih fokus dan untuk mendapatkan output yang tinggi.

 Hanca mandoran/ tukang pupuk di Divisi tetap tiap blok dan seksi (setiap pokok diketahui tenaga pupuknya dan setiap baris diketahui mandorannya).

 Pergeseran ancak diatur sedemikian rupa sehingga berlangsung cepat dan efisien.

 Tim pemupukan diorganisasi yang meliputi tenaga until, tukang angkut pupuk, tukang langsir/ecer pupuk, dan tenaga tabur pupuk dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas pemupukan.

BMS memiliki keuntungan dalam menghemat penggunaan unit sehingga satu unit sudah cukup untuk melangsir pupuk. Adapun permasalahan terkait dengan aplikasi pemupukan yang sering ditemukan dilapangan adalah :

 Dosis tidak sama per pokok.

 Ukuran takaran pupuk yang tidak seragam.

 Waktu yang tidak tepat.

 Supervisi yang kurang menghayati dan memahami pentingnya pemupukan.

 Cara penaburan yang tidak sesuai / tidak benar.

 Organisasi kerja yang tidak baik.

 Administrasi yang tidak up to date.

Premi Pemupukan

Premi yang ditetapkan Sungai Bahaur Estate yaitu Rp 20 000,-/HK untuk mandor pupuk. Premi basis bagi KHL/KHT Rp 2 500,-/hari dan mendapat extra fooding berupa susu satu kaleng untuk 6 hari. Jika melebihi basis KHL mendapat premi lebih basis Rp 100,-/kg.

Contoh perhitungan premi pemupukan :

Seorang pekerja memupuk sebanyak 30 until, tiap until berbobot 18 kg, maka pupuk yang telah ditabur sebanyak 30 until x 18 kg = 540 kg dengan basis pupuk 500 kg/HK. Jadi basis lebih borong yang didapat = 540 kg – 500 kg = 40 kg.

Premi yang didapat sebesar Rp 2 500 + (Rp 100,-/kg x 40 kg) = Rp 6 500,-

(38)

Pengendalian Hama dan Gulma Pengendalian Hama

Pengendalian hama dilakukan dengan menggunakan pestisida nabati khususnya untuk mengendalikan keberadaan ulat api. SBHE menggunakan tanaman Turnera ulmifolia dan Nephrolepis bisserata untuk mengendalikan ulat api. Tanaman ini merupakan tanaman inang bagi predator hama ulat api. Tanaman Turnera ulmifolia ditanam di sepanjang jalan utama, jalan antar blok, dan sebagian di pinggiran pasar pikul. Nephrolepis bisserata ditanam di antara pelepah pokok tanaman dan pada pokok tanaman. Nephrolepis bisserata ditanam pada pokok tanaman kelapa sawit karena memiliki kelebihan, selain sebagai inang predator hama ulat api juga untuk menjaga iklim mikro pada batang pokok kelapa sawit.

Pengendalian Gulma Manual

Pembabatan manual merupakan kegiatan yang dilakukan untuk membersihkan gulma secara manual yang menghalangi piringan, gawangan, pasar pikul, dan pokok tanaman kelapa sawit itu sendiri. Pembabatan dilakukan pada lahan kering dan lahan tergenang air atau banjir.

Pada lahan tergenang air atau banjir begitu juga lahan kering menggunakan alat parang dan arit. Pembabatan manual di lahan ini lebih diutamakan pada tanaman berkayu selain dari tanaman semak yang ada, setelah tanaman berkayu ditebas dilakukan pengolesan herbisida. Pembabatan manual dilakukan dengan cara menebas batang pohon dengan ketinggian ± 20 cm dari permukaan tanah atau pada lahan tergenang air atau banjir dengan ketinggian ± 20 cm dari permukaan air. Tanaman perdu yang telah tinggi, penebasan dilaksanakan cukup dengan mematahkan batang pohon dan kemudian tajuk dirubuhkan ke tanah atau ke genangan air. Setelah ditebas dilakukan pengolesan herbisida pada batang kayu tersebut.

Pembabatan dilakukan oleh 2 orang dalam satu gawangan dengan sistem hanca giring yaitu, pembabat akan berpindah ke gawangan lainnya yang belum dikerjakan pembabat lain apabila telah menyelesaikan satu gawangan.

Pembabatan manual memiliki standar 0.5 ha/HK dengan jumlah KHL 16 orang

(39)

30

maka saat kegiatan ini dilakukan pada blok C1 dengan luas lahan 30.64 ha pembabatan gulma masih belum dilakukan maksimal pada seluruh lahan selain kurangnya karyawan, lahan yang sebagian besar tergenang air pun menjadi kendala dalam pembabatan karena sulitnya mobilisasi dari satu gawangan ke gawangan lain. Lahan yang tergenang air ini disebabkan meluapnya air sungai yang berada di dalam kebun kelapa sawit.

Pada areal yang sering tergenang air dan banjir tiap kali hujan menyebabkan kondisi tanaman kelapa sawit meskipun tahun tanam sudah lama, tidak dapat tumbuh optimal dan tidak menghasilkan buah dengan baik serta buah sering membusuk.

Pengolesan Anak Kayu

Pengolesan anak kayu dilakukan saat pengendalian gulma secara manual di lahan kelapa sawit. Pengolesan herbisida pada anak kayu dilakukan agar anak kayu yang telah ditebas tidak tumbuh kembali. Cara aplikasi herbisida dilaksanakan dengan mengoleskan pada permukaan batang atau anak kayu yang telah ditebas tersebut, pengolesan dilakukan sebanyak dua kali. Pengolesan pertama untuk melapisi permukaan kayu sedangkan pengolesan kedua sebagai koreksi pengolesan pertama agar herbisida yang diberikan merata. Herbisida yang digunakan adalah starlone dicampur dengan solar dengan perbandingan 1 : 20.

Komposisi ini dianggap paling tepat untuk mematikan anak kayu yang telah ditebas. Sebelumnya pernah digunakan campuran starlone dengan glifosat namun hasil yang didapat tidak optimal anak kayu masih tetap hidup. Starlone merupakan herbisida purna tumbuh yang bersifat sitemik, berbentuk pekatan yang dapat diemulsikan untuk mengendalikan gulma semak belukar dan berdaun lebar pada tanaman kelapa sawit. Starlone memiliki kandungan bahan aktif : Triklopir Butoksi etil ester 665 g/l (setara Triklopir 480 g/l). Gulma yang dapat diatasi oleh starlone antara lain Cromolaena odorata, Clidemia hirta, Melastoma malabathricum, dan Mikania micrantha.

(40)

Pengendalian Gulma Kimiawi

Pengendalian gulma kimiawi merupakan pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida yang umumnya diaplikasikan dengan cara penyemprotan langsung pada gulma. Penyemprotan merupakan kegiatan pengendalian gulma yang dilakukan di lahan tanaman menghasilkan (TM) dan tanaman belum menghasilkan (TBM) yang dapat mengganggu produktivitas tanaman kelapa sawit.

Metode Pengendalian. Pengendalian gulma pada lahan kelapa sawit dilakukan di daerah gawangan dan piringan. Bahan herbisida yang digunakan untuk menyemprot daerah gawangan berbeda dengan piringan. Pada gawangan herbisida yang biasa digunakan primaxon/paraquat dan metaprima, sedangkan pada piringan digunakan kleen up (Glifosat). Penyemprotan diaplikasikan pada rumpun gulma secara merata hingga keseluruhan. Penyemprotan yang menggunakan bahan pestisida kontak harus lebih teliti dibanding sistemik agar gulma benar-benar mati dan tidak tumbuh kembali.

Jenis Pestisida. Pestisida yang digunakan merupakan jenis pestisida kontak dan sistemik. Adapun bahan herbisida dalam pengendalian gulma kimiawi untuk daerah gawangan dan piringan dilakukan dengan menggunakan primaxon/

paraquat, metaprima, dan glifosat.

Primaxon merupakan herbisida purna tumbuh bersifat kontak berbentuk larutan dalam air berwarna hijau tua dan mengandung bahan aktif paraquat diklorida 276 g/l dalam kemasaan isi 20 liter. Gulma yang dapat di atasi diantaranya pada lahan tanpa tanaman yaitu gulma berdaun lebar seperti Ageratum conyzoides, Calopogonium mucunoides (penyemprotan volume tinggi 1.5-3 l/ha), dan Comelina spp (2-3 l/ha). Gulma berdaun sempit, Paspalum conjugatum dan Digitaria ciliaris (penyemprotan volume tinggi 2-3 l/ha). Jika penggunaan pada pertanaman padi sawah pasang surut (TOT), gulma berdaun lebar Ludwigia octovalvia (penyemprotan volume tinggi 2-3 l/ha dengan waktu aplikasi 2 minggu sebelum tanam), gulma berdaun sempit Leersia hexandra (penyemprotan volume tinggi 2-3 l/ha) dan Echinochloa crus-galli (1.5-3 l/ha).

Gulma golongan teki Eleocharis dulcis dan Cyperus spp (penyemprotan volume

Referensi

Dokumen terkait

Dari ketiga bahan media yang digunakan yaitu serbuk sabut kelapa, serbuk gergaji dan tanah terlihat bahwa tanaman mawar yang menggunakan media serbuk sabut kelapa maupun

Bagi siswa, buku ajar yang dikembangkan dapat memberikan kemudahan bagi siswa untuk memahami mata pelajaran kimia, khususnya materi senyawa organik dan memberi dukungan

Uji yang banyak digunakan ialah reaksi Lieberman-Burchard yang dengan kebanyakan triterpena dan sterol yang memberikan warna hijau-biru (Harborne, 1987). Sterol adalah

Penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Adventiana (2012) menunjukkan bahwa fraksi polisakarida buah Mengkudu yang diperoleh dengan pengendapan menggunakan aseton,

Menurut Sohimin, (2014 : 184) langkah-langkah merupakan student facilitator and explaining sebagai penyampaian materi dan kompetensi yang ingin dicapai, mendemonstrasikan

DELETE FROM pegawai; -- Menghapus semua data dari tabel pegawai.

)ang dimiliki oleh setiap wila)ah mudah didapat. ;al ini juga dipengaruhi letak  topogra3i suatu wila)ah di Pro4insi Bengkulu )ang meliputi dataran tinggi, dataran rendah,

berlaku juga terhadap tindak pidana yang diatur dalam undang-undang di luar Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, kecuali undang- undang tersebut menentukan lain” (1)