1 BAB 1 PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Industri otomotif merupakan salah satu industri yang ada di Indonesia yang perkembangannya cukup besar mempengaruhi perekonomian Indonesia. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Vijay Rao (2016), Automotive and Transportation practice frost & sullivan, menyatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan perkembangan otomotif terbesar di ASEAN setelah Thailand.
Istilah otomotif mempunyai cakupan yang lebih luas. Secara umum sistem bisnis industri otomotif dibagi menjadi 6 yaitu industri pemegang merk (pemegang lisensi atau prinsipal), industri perakitan, industri karoseri, industri modifikator, industri perbengkelan / after sales dan industri komponen.
Industri komponen adalah industri yang melakukan pembuatan manufaktur untuk komponen-komponen otomotif sesuai dengan standarisasi teknis dari pemegang merk. Komponen yang dibuat bisa dibagi dalam 2 katagori, yaitu komponen Original Equipment Manufacturer (komponen yang digunakan untuk industri perakitan) dan komponen after market (komponen yang digunakan untuk perbaikan).
Sebuah perusahaan / industri, departemen pergudangan menjadi salah satu departemen yang selalu ada dan dibutuhkan. Dalam sistem departemen pergudangan ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar proses produksi di perusahaan berjalan dengan lancar. Hal yang perlu diperhatikan itu adalah layout gudang, utilitas gudang, distribusi barang dari gudang, transportasi barang menuju gudang dan inventory control barang yang ada di gudang.
PT XYZ merupakan salah satu perusahaan industri komponen otomotif yang berada di daerah Cibitung. PT XYZ memproduksi berbagai jenis komponen otomotif seperti leaf spring, coil spring dan stabilizier. PT XYZ sebagai supplier yang melayani permintaan Service Part (komponen yang digunakan untuk perbaikan) untuk beberapa perusahaan industri perakitan otomotif yaitu PT ADM, PT TAM dan PT HMSI.
2 Tabel I. 1 Jumlah Varian
(Sumber : Data PT XYZ) NO Perusahaan Jumlah SKU
1 ADM 43
2 TAM 23
3 HMSI 15
Jumlah 81
Dilihat pada Tabel I.1 PT XYZ mengelola komponen Service Part untuk konsumennya dengan total jumlah SKU (Stock Keeping Unit) 81 part. Banyaknya varian yang dikelola oleh PT XYZ, harus diimbangi dengan perencanaan dan pengendalian persediaan yang akurat untuk menghindari kesalahan yang akan mengakibatkan overstock maupun stockout.
Berdasarkan ketentuan dalam “Undang-Undang Perlindungan Konsumen” (UUPK) yang mewajibkan pelaku usaha, tidak terkecuali pelaku usaha industri otomotif, untuk melaksanakan layanan purna jual yang di dalamnya termasuk penyediaan suku cadang; sebagaimana dimaksud dalam pasal 25 ayat (1) Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK). Dengan adanya peraturan tersebut maka PT XYZ sebagai salah satu supplier dari perusahaan perakitan otomotif diharuskan tetap memproduksi Service Part untuk melayani konsumen purna jual dari pelanggan industri otomotif. Berikut ini merupakan data permintaan dan stok untuk kondisi persediaan pada PT. XYZ yang terhitung pada bulan Juli 2016 – Februari 2017.
(Sumber : Data PT XYZ)
Gambar I. 1 Permintaan dan Stok Service Part
Jul Agust Sept Okt Nov Des Jan Feb
Demand (P0) 1134 1493 1459 1172 1021 1201 1106 1438
Stock 1311 1709 1607 1274 1425 1873 2182 2237
persentase(%) 115,61 114,47 110,14 108,70 139,57 155,95 197,29 155,56 0,00 50,00 100,00 150,00 200,00 250,00
0 500 1000 1500 2000 2500
Demand (P0) Stock persentase(%)
3 Dari deskripsi Gambar I.1 dapat diketahui bahwa grafik menunjukkan tingkat persediaan lebih banyak dengan rata-rata 137.16 % dibandingkan permintaan dari pelanggan selama bulan Juli 2016 – Febuari 2017. Namun PT XYZ mendapat keluhan dari pelanggannya bahwa tidak semua produk Service Part yang dipesan pada bulan Juli 2016 – Febuari 2017 dapat terpenuhi. Data pemenuhan tersebut dapat dilihat pada Gambar I.2 berikut :
(Sumber: Data PT XYZ)
Gambar I. 2 Pemenuhan Produk Service Part
Berdasarkan Gambar I.2 menunjukkan bahwa pemenuhan produk Service Part dari bulan Juli 2016 – Febuari 2017 tidak pernah memenuhi permintaan dimana rata- rata pemenuhan hanya sampai 88.54 %. Sementara PT XYZ mempunyai target pemenuhan Service Part untuk konsumennya yaitu sebesar 95%.
Diketahui ada beberapa part yang mengalami kekurangan persediaan. Tabel I.2 merupakan data contoh 10 produk yang mengalami kekurangan stok.
Jul Agust Sept Okt Nov Des Jan Feb
Demand (PO) 1134 1493 1459 1172 1021 1201 1106 1438 pengiriman (DO) 1071 1384 1327 1066 844 1000 955 1231 persentase(%) 94,44 92,70 90,95 90,96 82,66 83,26 86,35 85,61
75,00 80,00 85,00 90,00 95,00 100,00
2000 400600 1000800 12001400 1600
Demand (PO) pengiriman (DO) persentase(%)
4 Gambar I. 3 10 Produk Stock Out (Contoh 10 SKU)
Stockout merupakan kondisi dimana perusahaan mengalami kekurangan persediaan. Hal ini menyebabkan pihak pengelola harus melakukan pemesanan ulang kembali (backorder) untuk memenuhi permintaan pelanggan.
Backorder ini merupakan cara untuk memenuhi permintaan pelanggan dengan mengirim ulang jumlah produk yang kurang, dan hal ini menyebabkan rendahnya tingkat service level dan juga mengakibatkan bertambahnya ongkos inventory.
Untuk itu perlu dilakukan pengendalian persediaan yang digunakan untuk meningkatkan service level dan mengurangi bertambahnya ongkos inventory perusahaan.
I.1 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka permasalahan yang menjadi objek penelitian ini, yaitu bagaimana kebijakan persediaan produk Service Part untuk dapat meningkatkan service level sehingga mengatasi permasalahan persediaan di PT XYZ Cibitung?
I.2 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan yaitu dapat menentukan kebijakan persediaan produk Service Part untuk dapat meningkatkan service level sehingga mengatasi permasalahan persediaan di PT XYZ Cibitung.
0 100 200 300 400 500 600 700 800 900
87548 87Z16 87Z24 BZ010 BZ130 BZ140 BZ370 BZ380 BZ050 BZ060
Jumlah Permintaan 55 201 96 90 208 838 89 26 463 33
Total Stock 40 115 70 61 134 820 73 23 387 29
Jumlah Permintaan Total Stock
5 I.3 Batasan Masalah
Untuk membatasi lingkup penelitian yang terlalu luas sehingga dapat menyimpang dari tujuan yang sudah direncanakan, maka penulis membatasi masalah yang akan diteliti. Adapun pembatasan penelitian tersebut adalah:
1. Penelitian ini konsentrasi kepada produk Service Part yang ada di PT XYZ 2. Data yang digunakan adalah data bulan Juli 2016 – Febuari 2017 di PT XYZ 3. Perhitungan dilakukan pada produk yang disimpan pada gudang yang berada
di PT XYZ Cibitung
4. Penelitian tidak sampai tahap implementasi, hanya sampai pada tahap usulan 5. Penelitian hanya dilakukan terhadap part number yang masih aktif dan
memiliki data historis pada periode Juli 2016 – Febuari 2017.
6. Lead time produksi dianggap diketahui dan selalu terpenuhi.
I.4 Manfaat Penelitian
Pada penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang terkait, antara lain perusahaan diharapkan dapat menentukan kebijakan persediaan usulan menyelesaikan masalah kekurangan persediaan maupun kelebihan persediaan yang terjadi agar dapat meningkatkan tingkat pelayanan kepada konsumen PT XYZ.
I.5 Sistematika Penulisan
Tugas akhir ini disusun berdasarkan suatu sistematika tertentu yang terbaik dalam beberapa bagian, yaitu:
Bab I Pendahuluan
Pada bab ini dijelaskan mengenai hal-hal yang melatar belakangi penelitian ini, merumuskan masalah yang menjadi permasalahan perusahaan, menentukan tujuan penelitian, menentukan batasan penelitian, menjelaskan manfaat penelitian dan menjelaskan sistematika penulisan.
Bab II Landasan Teori
Bab ini berisi tentang beberapa teori relevan yang digunakan dalam menyelesaikan permasalahan pada tugas akhir ini dan juga metode yang mendukung dalam penulisan tugas akhir.
6 Bab III Metodologi Penelitian
Bab ini berisi langkah-langkah penelitian dan tahapan terperinci yang akan dilakukan dalam melaksanakan penelitian, merumuskan teori yang akan digunakan dalam menyelesaikan masalah, merumuskan model konseptual dan sistematika penyelesaian masalah.
Bab IV Pengumpulan dan Pengolahan Data
Pada bab ini ditampilkan data umum perusahaan dan data-data pendukung lainnya melalui berbagai proses seperti wawancara dan observasi serta perolehan data dari perusahaan. Pengolahan data dilakukan sesuai dengan metode-metode yang telah dikonsepkan pada Bab III.
Bab V Analisis
Bab ini dilakukan analisis terhadap pengolahan data dan usulan perbaikan yang telah dilakukan pada bab sebelumnya. Pada bab ini juga akan dilakukan perbandingan kondisi aktual dan kondisi usulan yang diberikan.
Bab VI Penutup
Bab ini diberikan kesimpulan terhadap hasil penelitian serta mengajukan saran bagi objek kajian sebagai solusi perbaikan dan sebagai masukan untuk penelitian selanjutnya di masa yang akan datang.