• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Deskriptif Mengenai Tipe Iklim Sekolah yang Dipersepsi Oleh Guru di Sekolah Dasar Alam Bandung.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Studi Deskriptif Mengenai Tipe Iklim Sekolah yang Dipersepsi Oleh Guru di Sekolah Dasar Alam Bandung."

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

vii Universitas Kristen Maranatha Abstrak

Beberapa model pembelajaran yang berbeda dengan sekolah reguler mulai bermunculan di Indonesia, dengan iklim sekolah yang berbeda-beda pula. Penelitian ini menggunakan Teori Iklim Sekolah (Hoy dan Miskel, 1987) untuk mengetahui gambaran mengenai tipe iklim sekolah yang dipersepsi oleh guru di Sekolah Dasar Alam Bandung.

Terdapat 32 guru yang berpartisipasi sebagai responden di dalam penelitian ini. Setiap responden melengkapi kuesioner yang merupakan hasil terjemahan dari OCDQ-RE (Organizational Climate Description Questionaire – Revised), yang kemudian diadaptasi dan dimodifikasi oleh peneliti menjadi 48 item. OCDQ-RE ini adalah hasil revisi dari OCDQ yang disusun oleh Halpin bersama dengan rekannya Crofit (1962). Skor total dibandingkan dengan norma mutlak untuk menentukan derajat masing-masing dimensi, sehingga dapat menentukan tipe iklim sekolah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 81,3% guru di Sekolah Dasar Alam Bandung memersepsi tipe iklim sekolah open climate. Selain itu, terdapat pula 15,6% guru yang memersepsi engaged climate dan 3,1% guru memersepsi disengaged climate.

(2)

viii Universitas Kristen Maranatha Abstract

Several different learning models from regular schools are starting to emerge in Indonesia, with different school climate. This study uses School Climate Theory (Hoy and Miskel, 1987) to discover the description of the type of school climate that is perceived by teachers at Bandung Elementary School of Nature.

There were 32 teachers who participated as respondents in this study. Each respondent completed a questionnaire that was translated from OCDQ-RE (Organizational Climate Description Questionaire - Revised), which was then adapted and modified by the researcher into 48 items. This OCDQ-RE is a revised of OCDQ compiled by Halpin and Crofit (1962). The total score is compared to the absolute norm to determine the degree of each dimension, so it can determine the type of school climate.

The results showed that 81.3% teachers at Bandung Elementary School of Nature perceived open climate. In addition, there are also 15.6% teachers who perceived the engaged climate and 3.1% teachers perceived disengaged climate.

(3)

ix Universitas Kristen Maranatha DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

LEMBAR ORISINALITAS ... iii

LEMBAR PUBLIKASI ... iv

KATA PENGANTAR ... v

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR BAGAN ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah ... 1

1.2. Identifikasi Masalah ... 7

1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian ... 8

1.3.1. Maksud Penelitian ... 8

1.3.2. Tujuan Penelitian ... 8

1.4. Kegunaan Penelitian ... 8

1.4.1. Kegunaan Teoretis ... 8

1.4.2. Kegunaan Praktis ... 8

1.5. Kerangka Pemikiran ... 9

(4)

x Universitas Kristen Maranatha BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Iklim Sekolah ... 15

2.2. Dimensi Iklim Sekolah ... 16

2.3. Tipe-tipe Iklim Sekolah ... 18

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Rancangan Penelitian ... 22

3.2. Bagan Prosedur Penelitian ... 22

3.3. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 23

3.3.1. Variabel Penelitian ... 23

3.3.2. Definisi Konseptual ... 23

3.3.3. Definisi Operasional ... 23

3.4. Alat Ukur ... 25

3.4.1. Alat Ukur Iklim Sekolah ... 25

3.4.1.1. Prosedur Pengisian Kuesioner ... 26

3.4.1.2. Sistem Penilaian ... 27

3.4.2. Data Sosiodemografis ... 28

3.4.3. Validitas dan Reliabiltas Alat Ukur ... 28

3.4.3.1. Validitas Alat Ukur ... 28

3.4.3.2. Reabilitas Alat Ukur ... 29

3.5. Populasi Penelitian ... 30

(5)

xi Universitas Kristen Maranatha BAB IV. METODOLOGI PENELITIAN

4.1. Gambaran Responden ... 32

4.1.1. Usia Responden ... 32

4.1.2. Jenis Kelamin Responden ... 32

4.1.3. Pendidikan Responden ... 33

4.1.4. Masa Kerja Responden ... 33

4.1.5. Status Marital Responden ... 33

4.2. Hasil Penelitian ... 34

4.2.1. Gambaran Tipe Iklim Sekolah... 34

4.2.2. Gambaran Dimensi Iklim Sekolah ... 34

4.3. Hasil Uji Statistik Data dengan Tipe Iklim Sekolah ... 35

4.4. Pembahasan ... 36

BAB V. SIMPULAN DAN SARAN 5.1. Simpulan ... 40

5.2. Saran ... 40

5.2.1. Saran Teoretis ... 40

5.2.2. Saran Praktis ... 40

DAFTAR PUSTAKA ... 41

DAFTAR RUJUKAN ... 42

(6)

xii Universitas Kristen Maranatha DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Tipologi Iklim Sekolah ... 18

Tabel 2.2. Prototipe Iklim Sekolah ... 19

Tabel 3.1. Gambaran Alat Ukur Iklim Sekolah ... 26

Tabel 3.2. Skor Jawaban ... .27

Tabel 3.3. Norma Mutlak Dimensi ... 27

Tabel 4.1. Gambaran Responden Berdasarkan Usia ... 32

Tabel 4.2. Gambaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 32

Tabel 4.3. Gambaran Responden Berdasarkan Pendidikan ... .33

Tabel 4.4. Gambaran Responden Berdasarkan Masa Kerja ... .33

Tabel 4.5. Gambaran Responden Berdasarkan Status Marital ... 33

Tabel 4.6. Gambaran Tipe Iklim Sekolah ... 34

Tabel 4.7. Gambaran Dimensi Iklim Sekolah ... 34

(7)

xiii Universitas Kristen Maranatha DAFTAR BAGAN

Bagan 1.1. Kerangka Pemikiran ... 13

(8)

xiv Universitas Kristen Maranatha DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 – Kisi-kisi Alat Ukur L-1

Lampiran 2 – Kata Pengantar Kuesioner L-7

Lampiran 3 – Letter of Consent L-8

Lampiran 4 – Data Sosiodemografis L-9

Lampiran 5 – Kuesioner Iklim Sekolah L-10

Lampiran 6 – Validitas dan Reliabilitas L-14

Lampiran 7 – Data Hasil Kuesioner L-17

Lampiran 8 – Data Hasil Tipe Iklim Sekolah L-23

Lampiran 9 – Data Sosiodemografis Responden L-25

Lampiran 10 – Chisquare Tipe Iklim Sekolah dengan Data Sosiodemografis L-26

(9)

1 Universitas Kristen Maranatha BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Pendidikan memegang peranan penting untuk menjamin kelangsungan hidup suatu

bangsa dan negara. Pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan

terencana untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

mampu mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

keagamaan, kepribadian yang baik, pengendalian diri, berakhlak mulia, kecerdasan, dan

keterampilan yang diperlukan oleh dirinya dan masyarakat (UU SISDIKNAS No. 20 Tahun

2003). Pendidikan ditujukan bagi siswa untuk memelajari pengetahuan, kebiasaan, dan

keterampilan yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pelatihan,

pembelajaran, atau penelitian di bawah bimbingan orang lain ataupun dengan cara otodidak.

Tujuan-tujuan pendidikan di atas dapat tercapai dengan adanya organisasi yang bertugas

untuk mengatur bidang pendidikan secara sistematis yang disebut lembaga pendidikan.

Lembaga pendidikan adalah suatu tempat atau wadah berlangsungnya proses

pendidikan yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengubah tingkah laku seseorang ke arah

yang lebih baik melalui interaksi dengan lingkungan sekitar, serta wawasan dan pengetahuan

yang diperoleh. Lembaga pendidikan formal merupakan salah satu lembaga pendidikan yang

sistematis dan memiliki aturan-aturan. Lembaga pendidikan formal memiliki jenjang

pendidikan yang dimulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai dengan Perguruan Tinggi.

Sekolah Dasar (SD) merupakan satuan pendidikan yang ada pada jenjang pendidikan dasar.

Dikatakan sebagai Sekolah Dasar karena sekolah pada jenjang ini merupakan sekolah yang

mendasari untuk ke jenjang-jenjang berikutnya, yaitu ke jenjang menengah

(10)

2

Universitas Kristen Maranatha Pada umumnya, anak yang dimasukkan ke Sekolah Dasar, belum mengetahui tujuan

dasarnya bersekolah. Biasanya orangtuanya akan memilihkan sekolah yang terbaik bagi

anaknya dengan standar nasional maupun internasional (www.kompasiana.com). Beberapa

model pembelajaran yang berbeda dengan sekolah reguler mulai bermunculan di Indonesia,

salah satunya yang berkembang pesat saat ini adalah sekolah alam. Laporan dari Harian Suara

Merdeka (2010), sampai tahun 2010 lebih dari 1000 sekolah alam telah terbentuk di

Indonesia. Bagi anak-anak yang kurang cocok dengan sekolah reguler dan segala aturan yang

ada, sekolah alam hadir sebagai jalan keluar untuk mengatasi kebosanan ketika belajar

sekaligus mewujudkan cita-cita bagi siapa saja yang peduli akan perubahan dunia pendidikan

di Indonesia.

Sekolah alam merupakan salah satu model pendidikan yang berupaya untuk

melakukan pengembangan pendidikan secara alami, berupa belajar dari alam semesta. Di

samping itu, sekolah alam juga merupakan suatu bentuk alternatif pendidikan yang

menggunakan alam untuk tempat belajar, sebagai bahan dan media ajar, dan untuk objek

pembelajaran. Berbeda dengan sekolah reguler yang kebanyakan menggunakan model metode

pembelajaran di dalam kelas tanpa membiarkan para siswanya belajar lebih banyak di alam

bebas. Sementara pada sekolah alam, metode belajarnya lebih banyak dengan melakukan

active learning (siswa diajak untuk fun, fresh and friendly dalam belajar dan aktif dengan kegiatan observasi dan eksplorasi).

Sekolah alam mengajak para siswanya untuk mengartikan konsep yang berbeda,

dalam hal ini sekolah tidak lagi dijadikan sebagai beban namun lebih sebagai realitas

kehidupan yang ilmunya bisa diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Sekolah alam hadir

sebagai jalan ke luar untuk mengatasi kebosanan bagi anak-anak ketika belajar sekaligus

mewujudkan cita-cita bagi siapa saja yang peduli akan perubahan dunia pendidikan di

(11)

3

Universitas Kristen Maranatha saja, namun juga cara pandangnya terhadap dunia pendidikan secara mendasar dan

menyeluruh (www.informasi-pendidikan.com).

Lokasi belajar di sekolah alam biasanya terletak di alam bebas, sehingga pihak sekolah

tidak menyediakan bangunan layaknya sekolah reguler. Para siswa di sekolah alam bisa

belajar sekaligus merasakan keindahan alam dan juga menghirup udara yang segar setiap

harinya. Di sekolah alam semua siswa bisa bebas berekspresi, termasuk melakukan berbagai

eksperimen seperti mengenal bagian-bagian tumbuhan secara langsung dan menyusun puzzle

gambar anggota tubuh manusia. Selain itu, siswa juga bisa mengeksplorasi segala yang ada di

sekitarnya untuk memenuhi rasa ingin tahu siswa. Siswa lebih sadar dan peduli terhadap

lingkungan, sehingga bisa memahami betapa pentingnya menghargai alam.

Ada beberapa keunggulan sekolah alam yang tidak dimiliki oleh sekolah reguler, dan

itu merupakan salah satu cara perubahan yang lebih baik untuk diterapkan di dunia

pendidikan. Beberapa perbedaan sekolah alam dan sekolah reguler dapat dilihat dari hal-hal

berikut, seperti ruang kelas sekolah reguler tertutup, sedangkan ruang kelas sekolah alam

terbuka dan terbuat dari saung kayu. Siswa sekolah regular memakai seragam, sedangkan

siswa sekolah alam memakai pakaian bebas. Kegiatan pembelajaran sekolah reguler

cenderung dilakukan di dalam kelas dengan menggunakan sistem pembelajaran konvensional,

yaitu para guru menerangkan dan siswa mendapatkan pengetahuan dengan mengandalkan

buku panduan, dan jarang diberi kesempatan untuk mengalami langsung pengetahuan yang

dipelajarinya. Sedangkan kegiatan pembelajaran sekolah alam lebih bervariasi dan tidak

terpaku pada teori saja, sebab siswa juga dapat mengalami langsung atau melihat langsung

bentuk pengetahuan yang dipelajarinya (Dien, Karini, dan Agustin, 2015).

Peraturan yang diberlakukan di sekolah alam biasanya tidak seketat peraturan sekolah

reguler, misalnya siswa di sekolah reguler harus duduk rapi mendengarkan guru dan

(12)

4

Universitas Kristen Maranatha alam jarang diberikan tugas atau PR (www.tentangsekolahalam.wordpress.com). Akan tetapi,

bukan berarti siswa tidak diajarkan bentuk tanggung jawab. Jika PR merupakan wujud

tanggung jawab dari sekolah reguler, pengajaran tentang disiplin diri dan tanggung jawab di

sekolah alam diajarkan melalui cara dan kegiatan yang berbeda, misalnya merapikan

barang-barang yang telah digunakan di kelas, menghabiskan makan siang, dan mencuci tempat bekal

makanan sendiri.

Salah satu sekolah alam yang terdapat di Bandung adalah Sekolah Alam Bandung.

Sekolah alam ini berangkat dari gagasan konsep pendidikan Sekolah Alam Bang Lendo

Novo. Lokasi bangunan dengan model saung di atas perbukitan sebagai tempat belajar,

memungkinkan perbukitan tetap terjaga kesuburan dan penghijauannya. Kurikulum Sekolah

Dasar Alam Bandung meliputi 3 kurikulum khas sekolah alam dengan kurikulum Diknas

sebagai pelengkap. Materi Pendidikan Dasar terdiri atas Akhlaqul Karimah (sikap hidup),

Falsafah Ilmu Pengetahuan (logika berpikir), dan Latihan Kepemimpinan (leadership)

(www.sekolahalambandung.sch.id).

Implementasi kurikulum dilakukan dengan pedoman pelaksanaan sebagai berikut : fun

learning dan exciting learning, exploring alam, konsep belajar 70% eksplorasi dan 30% literatur, penguasaan dan pendalaman ilmu, pelajaran yang diberikan merupakan pelajaran

yang terintegrasi melalui spider web (dengan berbasis tema ataupun proyek, proses belajar

dikembangkan secara menyeluruh ke semua bidang ilmu), guru sebagai fasilitator dan

motivator, mengajari anak bertanggung jawab atas keputusan yang dibuat, learning by

experience, dan memanfaatkan media barang bekas dan multimedia. Setiap kegiatan yang dilakukan siswa di dalam maupun di luar sekolah, mengarah pada pelaksanaan kurikulum

Sekolah Dasar Alam Bandung, dengan menyelipkan kurikulum Diknas. Misalnya siswa

mengunjungi kebun binatang, di dalamnya tercakup pelajaran IPA dengan tujuan mengenal

(13)

5

Universitas Kristen Maranatha ditugaskannya siswa untuk bekerjasama dengan teman dan berinteraksi dengan orang-orang

yang ada di sekitar mereka.

Melihat pemaparan mengenai kurikulum dan sistem pembelajaran di Sekolah Dasar

Alam Bandung, maka kualitas dan peranan guru serta persepsi guru tentang lingkungan

kerjanya sangat penting. Hal tersebut dikarenakan guru adalah kreator proses pembelajaran,

artinya seorang guru harus mampu mengembangkan suasana bebas bagi siswa untuk mengkaji

apa yang menarik dan mampu mengekspresikan ide-ide dan kreativitasnya dalam batas

norma-norma yang ditegakkan secara konsisten. Upaya guru dalam menghadapi dan

menjalankan tantangan sebagai tenaga pendidik profesional memerlukan suatu pemahaman

terhadap kondisi lingkungan kerjanya, atau yang dikenal sebagai iklim sekolah. Iklim sekolah

secara langsung memengaruhi kinerja guru, yaitu iklim sekolah yang sejuk dan harmonis akan

memberikan gairah dan inspirasi bagi guru dalam bekerja.

Iklim sekolah adalah istilah yang mengacu pada persepsi guru terhadap lingkungan

kerja mereka secara umum (Hoy & Miskel, 1987). Oleh karena itu, iklim sekolah dapat

dipahami sebagai karakteristik yang menggambarkan ciri-ciri psikologis dari suatu sekolah,

yang membedakan sekolah tersebut dari sekolah lain. Iklim sekolah terdiri atas enam dimensi

yang terbagi menjadi dua kategori umum, yaitu : perilaku kepala sekolah dan perilaku guru.

Perilaku kepala sekolah dibagi ke dalam tiga dimensi, yaitu perilaku kepala sekolah

supportive, directive, dan restrictive. Sedangkan perilaku guru dibagi ke dalam tiga dimensi yaitu, perilaku guru collegial, intimate, dan disengaged. Kombinasi dari dimensi iklim

sekolah tersebut akan menghasilkan empat tipe yaitu, iklim terbuka (open climate), iklim

terikat (engaged climate), iklim tidak terikat (disengaged climate), dan iklim tertutup (closed

climate).

Menurut survei awal yang dilakukan peneliti kepada delapan orang guru di Sekolah

(14)

6

Universitas Kristen Maranatha Sekolah Dasar Alam Bandung tidak dijalankan dengan konsisten, misalnya tidak semua guru

baru mendapatkan training sehingga tidak jarang menimbulkan kebingungan pada para guru

baru karena belum mengetahui gambaran kurikulumnya. Hal ini berkaitan dengan persepsi

guru terhadap perilaku kepala sekolah yang kurang supportive. Oleh karena itu, para guru

berharap sekolah memberikan kejelasan kepada guru dengan cara memberikan

indikator-indikator dalam bentuk buku mengenai apa yang harus dicapai oleh siswa, dan setiap guru

baru diberikan training untuk mendukung pencapaian visi dan misi di Sekolah Dasar Alam

Bandung. Kepala sekolah dianggap hanya sekedar formalitas karena setiap keputusan tetap

dibuat oleh pihak yayasan. Kepala sekolah juga kurang memberi pengarahan kepada guru dan

terlalu membebaskan guru dalam mengajar. Hal ini berkaitan dengan persepsi guru terhadap

perilaku kepala sekolah yang kurang directive. Guru merasa bahwa rapat diadakan bukan

sebagai kesempatan bagi para guru untuk menyampaikan pendapat, melainkan untuk

menyampaikan keputusan yang sudah ditetapkan oleh yayasan melalui kepala sekolah. Hal ini

berkaitan dengan persepsi guru terhadap perilaku kepala sekolah yang kurang supportive.

Sebanyak dua orang guru berpendapat bahwa para guru di Sekolah Dasar Alam

Bandung dituntut untuk kreatif dan bisa mengidentifikasi kebutuhan masing-masing siswa.

Siswa di Sekolah Dasar Alam Bandung mudah teralihkan, oleh karena itu guru harus menjalin

kerjasama yang baik dengan partner mengajarnya dalam hal mendidik siswa. Guru senior

memiliki kewajiban untuk mentransfer ilmu atau berbagi pengalaman kepada guru baru.

Kesulitan kadang terjadi jika partner-nya pendiam. Terkadang partner-nya lebih suka bekerja

sendiri, oleh karena itu sebagai guru baru harus lebih sering bertanya-tanya kepada

partner-nya yang lebih senior. Hal ini berkaitan dengan persepsi guru terhadap perilaku rekan sesama

guru yang collegial.

Sebanyak empat orang guru berpendapat bahwa kepala sekolah cukup bijaksana dan

(15)

7

Universitas Kristen Maranatha membangun kepada guru, misalnya guru yang terlambat diberi teguran dan guru yang tidak

pernah terlambat diberi reward berupa bonus. Hal ini berkaitan dengan persepsi guru terhadap

perilaku kepala sekolah yang supportive. Program sekolah membuat para guru di Sekolah

Dasar Alam Bandung menjadi kompak. Para guru dan kepala sekolah memiliki kebersamaan

yang erat dan segala sesuatunya mudah dikomunikasikan, termasuk juga membuat tabungan

bersama dan sering mengadakan outing di luar program sekolah. Hal tersebut membuat guru

merasa betah mengajar di Sekolah Dasar Alam Bandung karena gaji dan fasilitas yang juga

terus mengalami peningkatan. Hal ini berkaitan dengan persepsi guru terhadap perilaku rekan

sesama guru yang intimate.

Melihat pemaparan mengenai tugas dan kewajiban guru terkait dengan kurikulum

yang ada di Sekolah Dasar Alam Bandung, dapat dikatakan peluang guru untuk berkreasi

dalam mengajar sangat tinggi. Walaupun kepala sekolah memberi keleluasaan kepada guru

untuk berkreasi dalam mengajar, para guru tetap membutuhkan dukungan dan arahan dari

kepala sekolah agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Oleh karena itu, sangatlah wajar jika

guru membutuhkan kerjasama yang baik dengan sesama staf pengajar dan juga kepala

sekolah.

Mencermati hasil survei awal terhadap guru di Sekolah Dasar Alam Bandung, peneliti

tertarik untuk mengetahui tipe iklim sekolah yang dipersepsi oleh guru di Sekolah Dasar

Alam Bandung.

1.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan penelitian ini ingin diketahui tipe iklim sekolah yang dipersepsi oleh guru

(16)

8

Universitas Kristen Maranatha 1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian

1.3.1. Maksud Penelitian

Penelitian ini dimaksudkan untuk memeroleh gambaran mengenai persepsi guru

terhadap tipe iklim sekolah di Sekolah Dasar Alam Bandung.

1.3.2. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tipe iklim sekolah yang dipersepsi

oleh guru di Sekolah Dasar Alam Bandung.

1.4. Kegunaan Penelitian

1.4.1. Kegunaan Teoretis

1) Memberi masukan bagi ilmu pengetahuan khususnya di bidang Psikologi Pendidikan

mengenai tipe iklim sekolah yang dipersepsi oleh guru di Sekolah Dasar Alam Bandung.

2) Sebagai referensi bagi peneliti lain yang tertarik dan membutuhkan bahan acuan untuk

melakukan penelitian lebih lanjut mengenai gambaran dan perbedaan tipe iklim sekolah.

1.4.2. Kegunaan Praktis

1) Memberikan gambaran kepada Sekolah Dasar Alam Bandung mengenai tipe iklim

sekolah yang dipersepsi guru, sehingga bisa menjadi pertimbangan dalam membuat

kebijakan-kebijakan dan pola hubungan di dalam sekolah tersebut.

2) Memberikan manfaat dan sebagai bahan masukan kepada guru Sekolah Dasar Alam

Bandung mengenai tipe iklim sekolah yang dipersepsi guru, sehingga para guru bisa

mempertahankan hal-hal baik yang sudah dicapai dan terus mengembangkan potensinya.

3) Memberikan informasi bagi sekolah-sekolah lain mengenai tipe iklim sekolah yang

dipersepsi oleh guru di Sekolah Dasar Alam Bandung dan menjadi acuan untuk

mengoptimalkan potensi dalam menghadapi berbagai tuntutan dan tanggung jawab

(17)

9

Universitas Kristen Maranatha 1.5. Kerangka Pemikiran

Guru berperan sebagai pembimbing dalam melaksanakan proses pembelajaran.

Menurut UU No. 14 Tahun 2005, guru ialah seorang pendidik profesional dengan tugas

utamanya mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan

mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini melalui jalur formal pendidikan

dasar dan pendidikan menengah. Dalam pengertian yang sederhana, guru merupakan orang

yang memfasilitasi proses peralihan ilmu pengetahuan dari sumber belajar ke peserta didik.

Guru memiliki peranan penting dalam pembelajaran. Peserta didik memerlukan peran seorang

guru untuk membantunya dalam proses pengembangan diri dan pengoptimalan bakat serta

kemampuan yang dimiliki peserta didik. Guru merupakan salah satu unsur masukan

instrumental yang sangat menentukan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan pendidikan dan

pelatihan. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualifikasi, kompetensi, dan

kesejahteraan yang memadai untuk dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik

(Suparlan, 2008).

Di Sekolah Dasar Alam Bandung, peran guru dalam proses pengajaran di sekolah

alam adalah sebagai mediator, evaluator, pengelola kelas, dan sebagai model. Guru dituntut

untuk kreatif, komunikatif baik terhadap siswa maupun partner mengajar, dan juga peka

dalam mengidentifikasi kebutuhan siswa. Guru berperan menuntun anak untuk bersikap kritis,

kreatif, bertanggung jawab, problem solving, peduli dengan teman-temannya, dan melatih

sikap leadership. Guru juga turut membimbing dan mengawasi siswa dalam kegiatan yang

dilakukan di luar sekolah, seperti outbond, berenang, dan berbagai aktivitas yang

berhubungan dengan alam. Oleh karena itu, guru yang berkualitas sangat diperlukan untuk

menunjang pembelajaran sekolah alam ini.

Menurut Wayne K. Hoy, iklim sekolah adalah persepsi guru terhadap lingkungan kerja

(18)

10

Universitas Kristen Maranatha kategori umum, yaitu perilaku kepala sekolah dan perilaku guru. Perilaku kepala sekolah

dibagi ke dalam tiga dimensi, yaitu perilaku kepala sekolah supportive, directive, dan

restrictive. Perilaku supportive adalah perilaku kepala sekolah yang mendengarkan rencana pembelajaran dari para guru dan memberikan kritik yang membangun dengan menjabarkan

keunggulan dan kelemahan dari rencana tersebut, dan sebaliknya akan memuji guru atas hasil

kreatifnya dalam menyusun rencana mengajar. Perilaku directive adalah perilaku kepala

sekolah yang memantau apapun yang para guru lakukan di kelas, turut mengatur guru dalam

kegiatan pembelajaran di kelas, dan memeriksa rencana pembelajaran secara detil. Perilaku

restrictive adalah perilaku kepala sekolah yang membebani guru dengan pekerjaan yang sangat padat, memberikan tugas rutin dan tuntutan yang mengganggu kegiatan mengajar guru.

Perilaku guru di Sekolah Dasar Alam Bandung dibagi ke dalam tiga dimensi yaitu:

perilaku guru collegial, intimate, dan disengaged. Perilaku collegial mendukung terjadinya

interaksi profesional diantara para guru Sekolah Dasar Alam Bandung sebagai kolega, para

guru saling membantu dan mendukung satu sama lain dalam kegiatan kelasnya

masing-masing, para guru menghargai kompetensi profesional dari rekan kerja mereka dengan

meminta pendapat dari guru yang lebih mengerti tentang kegiatan kelas yang akan

dilaksanakan, dan para guru bekerja dengan semangat dan senang. Perilaku intimate

menggambarkan kualitas pribadi para guru, seperti bersosialisasi satu sama lain, teman-teman

terdekat para guru adalah guru lainnya di sekolah ini, saling bertukar pikiran dan saling

mendukung satu sama lain. Perilaku disengaged menggambarkan perasaan keterasingan dan

keterpisahan secara umun diantara para guru di dalam sekolah, seperti halnya para pengajar

menganggap pertemuan antar staf pengajar tidak berguna. Adanya sebuah kelompok

minoritas yang selalu menentang kelompok mayoritas, dan para guru berbicara tidak teratur

saat berada dalam rapat, dengan saling menjelek-jelekan, dan memberikan kritik yang tidak

(19)

11

Universitas Kristen Maranatha Berdasarkan kombinasi dari perilaku kepala sekolah (supportive, directive, restrictive)

dan perilaku guru (collegial, intimate, disengaged), akan tercipta empat tipe iklim sekolah

menurut Hoy & Miskel (1987) yaitu iklim terbuka (open climate), iklim terikat (engaged

climate), iklim tidak terikat (disengaged climate), dan iklim tertutup (closed climate). Iklim terbuka (open climate) dengan ciri khasnya adalah kerjasama, rasa hormat dan keterbukaan

yang ada pada guru dan kepala sekolah di Sekolah Dasar Alam Bandung. Kepala sekolah

mendengarkan dan menerima ide-ide guru merupakan bentuk perilaku supportive yang tinggi.

Kepala sekolah memberikan kebebasan guru dalam memandu berjalannya kegiatan belajar

mengajar tanpa melakukan pengawasan merupakan bentuk perilaku directive yang rendah,

dan memberikan fasilitas yang dibutuhkan dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk

perilaku restrictive yang rendah. Demikian juga guru saling mendukung dan membantu satu

sama lain merupakan bentuk perilaku collegial tinggi. Para guru berhubungan dekat dan

saling bersoisalisasi satu sama lain merupakan bentuk perilaku intimate yang tinggi. Mereka

bekerjasama dan berkomitmen agar seluruh kegiatan berjalan lancar, sukses, dan mencapai

tujuan merupakan bentuk perilaku disengaged yang rendah. Singkatnya, perilaku kepala

sekolah dan guru-guru di Sekolah Alam Dasar Bandung bersifat tulus dan terbuka.

Iklim terikat (engaged climate) ditandai oleh usaha-usaha kepala sekolah di Sekolah

Dasar Alam Bandung yang tidak efektif untuk memimpin. Di sisi lain, guru Sekolah Dasar

Alam Bandung memiliki kinerja yang profesional. Kepala sekolah yang menentukan tema dan

mengatur seluruh prosedur dalam kegiatan belajar mengajar setiap harinya merupakan bentuk

perilaku supportive yang rendah dan perilaku directive yang tinggi. Selain itu, kepala sekolah

tidak memberikan kesempatan guru untuk berkreasi mengembangkan kegiatan belajar

mengajar dalam tema yang sudah ditentukan merupakan bentuk perilaku restrictive yang

tinggi. Guru menghargai tugas yang sudah ditentukan kepala sekolah merupakan bentuk

(20)

12

Universitas Kristen Maranatha melaksanakan kegiatan merupakan bentuk perilaku intimate yang tinggi. Para guru melakukan

kegiatan bersama untuk memenuhi tuntutan dari kepala sekolah merupakan bentuk perilaku

disengaged yang rendah. Singkatnya, para guru Sekolah Dasar Alam Bandung tetap produktif meskipun kepemimpinan kepala sekolah lemah, dan guru berkomitmen dan saling

mendukung.

Iklim tidak terikat (disengaged climate) ditandai oleh perilaku kepemimpinan kepala

sekolah yang kuat dan mendukung. Kepala sekolah di Sekolah Dasar Alam Bandung

mendukung guru dan memberikan kebebasan tanpa ikut campur untuk menentukan kegiatan

dalam mengaplikasikan tema setiap harinya merupakan bentuk perilaku supportive yang

tinggi dan perilaku directive yang rendah. Kepala sekolah memberikan guru izin dan fasilitas

yang memadai dalam kegiatan belajar megajar merupakan bentuk perilaku restrictive yang

rendah. Di antara guru Sekolah Dasar Alam Bandung tidak saling membantu dan mendukung,

mereka hanya mengerjakan kegiatan yang menjadi tugasnya tanpa peduli dengan kegiatan

guru lainnya merupakan bentuk perilaku intimate dan perilaku collegial yang rendah, serta

perilaku disengaged yang tinggi. Meskipun kepala sekolah mendukung, fleksibel, dan tidak

ketat dalam pengawasan, guru terpecah-belah, tidak toleran dan tidak terikat.

Iklim tertutup (closed climate) adalah kebalikan dari iklim terbuka. Kepala sekolah di

Sekolah Dasar Alam Bandung menuntut guru untuk setiap harinya melaksanakan kegiatan di

ruang terbuka, namun tidak memberikan fasilitas yang mendukung di ruang terbuka,

melainkan hanya membebani guru untuk mencari sendiri tempat belajar di ruang terbuka,

merupakan bentuk perilaku supportive yang rendah, perilaku restrictive dan directive yang

tinggi. Guru Sekolah Dasar Alam Bandung hanya mengutamakan kepentingan kegiatan

kelasnya masing-masing tanpa peduli dengan guru yang lainnya. Guru tidak saling membantu

dan mendukung kegiatan rekannya, melainkan hanya terpatok untuk menyelesaikan kegiatan

(21)

13

Universitas Kristen Maranatha perilaku disengaged yang tinggi. Singkatnya, pada closed climate memiliki pemimpin yang

tidak suportif, tidak fleksibel, menghambat, dan terlalu mengendalikan, serta guru Sekolah

Dasar Alam Bandung yang berperilaku tidak terikat, apatis, dan tidak toleran.

Bagan 1.1. Kerangka Pemikiran Guru

Sekolah Dasar Alam

Bandung

Tipe Iklim Sekolah Dimensi :

1. Perilaku Kepala Sekolah

Supportive Directive Restrictive 2. Perilaku Guru

Collegial Intimate Disengaged

Closed Climate Open Climate

Engaged Climate

Disengaged Climate Data Sosiodemografis :

1) Usia

(22)

14

Universitas Kristen Maranatha 1.6. Asumsi Penelitian

1) Guru Sekolah Dasar Alam Bandung memiliki persepsi terhadap perilaku kepala sekolah

yang berbeda-beda, yang diukur melalui tiga dimensi yaitu supportive, directive, dan

restrictive. Sedangkan persepsi terhadap perilaku rekan sesame guru diukur melalui tiga dimensi yaitu collegial, intimate, dan disengaged.

2) Setiap guru di Sekolah Dasar Alam Bandung memersepsi tipe iklim sekolah yang

berbeda-beda.

3) Usia, jenis kelamin, masa kerja, pendidikan, dan status marital dapat memengaruhi

(23)

40 Universitas Kristen Maranatha BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan peneliti, maka

dapat disimpulkan bahwa tipe iklim sekolah yang paling dominan yang dipersepsi oleh guru

di Sekolah Dasar Alam Bandung adalah tipe iklim sekolah open climate. Artinya, melalui

peran yang dijalankan sebagai kepala sekolah, dipersepsi oleh para guru sebagai perilaku

supportive yang tinggi, sedangkan para guru memersepsi rekan sesama guru memiliki perilaku collegial dan intimate yang tinggi. Tipe iklim lain yang juga ditemukan adalah

engaged climate dan disengaged climate.

5.2. Saran

5.2.1. Saran Teoretis

Terbuka peluang untuk meneliti tipe iklim sekolah di semua setting sekolah,

mengingat tipe iklim sekolah akan memberikan dampak positif pada kinerja para guru, yang

pada akhirnya akan meningkatkan prestasi akademik siswa. Untuk itu, disarankan pada

penelitian lanjutan untuk meneliti juga kinerja para guru dan prestasi akademik siswa secara

empirik.

5.2.2. Saran Praktis

Melalui penelitian ini, terindikasi bahwa masih terdapat sebagian kecil guru yang

memersepsi perilaku kepala sekolah yang kurang supportive, dan perilaku directive dan

(24)

STUDI DESKRIPTIF MENGENAI TIPE IKLIM SEKOLAH YANG

DIPERSEPSI OLEH GURU DI SEKOLAH DASAR ALAM BANDUNG

SKRIPSI

Diajukan untuk menempuh sidang sarjana pada Fakultas Psikologi

Universitas Kristen Maranatha Bandung

Oleh:

MELIANA H. SEREPINA

NRP: 1230153

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA

BANDUNG

(25)

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat

dan rahmat-Nya, peneliti dapat menyelesaikan outline penelitian ini yang berjudul “Studi

Deskriptif Mengenai Tipe Iklim Sekolah yang Dipersepsi Oleh Guru di Sekolah Dasar Alam

Bandung”. Outline penelitian ini disusun sebagai salah satu syarat untuk menempuh siding

Sarjana Strata 1 (S1) di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung.

Peneliti menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan outline

penelitian ini. Oleh karena itu, peneliti sangat mengharapkan pembaca untuk memberikan

kritik dan saran demi perbaikan dan penyempurnaan penulisan outline penelitian ini. Peneliti

beharap dalam segala kekurangannya, penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi Fakultas

Psikologi khususnya bagi mahasiswa lain yang ingin melanjutkan penelitian ini.

Selama menyusun penelitian ini, peneliti mengalami banyak hambatan dan kesulitan,

tetapi hal tersebut dapat diatasi berkat adanya bantuan dan dukungan dari berbagai pihak.

Oleh karena itu pada kesempatan kali ini peneliti ingin mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada :

1. Dr. Oej Irene Prameswari Edwina, M.Si., Psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi

Universitas Kristen Maranatha.

2. Dr. Ria Wardani, M.Si., Psikolog selaku dosen pembimbing utama yang telah

menyediakan waktu, tenaga, pikiran, serta memberikan motivasi bagi peneliti selama

penyusunan Skripsi ini.

3. Destalya Anggrainy M. P., S.Psi., M.Pd. selaku dosen pembimbing pendamping yang

telah menyediakan waktu, tenaga, pikiran, serta memberikan motivasi bagi peneliti

(26)

iii

4. M. Yuni Megarini C., M.Psi., Psikolog selaku konsulen yang telah banyak membantu

memberikan bimbingan, arahan, dan masukan-masukan yang berguna bagi peneliti

untuk menyelesaikan Skripsi ini.

5. Kepala sekolah dan para guru di Sekolah Dasar Alam Bandung yang telah

memberikan izin dan membantu peneliti dalam hal pengambilan data.

6. Kedua orangtua peneliti yang selalu memberikan doa, semangat, dukungan moril, dan

memberikan fasilitas yang dibutuhkan oleh peneliti.

7. Tiffani, Puspa, Maria, Yusni, Verin, Rizky, Karin, Hajeng, Febri, selaku teman-teman

terdekat peneliti yang senantiasa mendukung dan selalu menjadi teman diskusi selama

penyusunan Skripsi ini.

8. Bayu Agung Baskara selaku orang terdekat peneliti yang telah setia mendampingi dan

memberi semangat dalam menyelesaikan Skripsi ini.

9. Thomas Gabe selaku teman peneliti yang telah memberikan banyak bantuan, saran,

dan motivasi kepada peneliti selama penyusunan Skripsi ini.

10.Teman-teman seperjuangan di Fakultas Psikologi Univesitas Kristen Maranatha yang

telah mendukung dan memberikan semangat kepada peneliti.

Semoga Tuhan senantiasa memberikan perlindungan dan balasan atas segala kebaikan

dan bantuan yang Bapak, Ibu, serta rekan-rekan berikan. Akhir kata, peneliti berharap outline

penelitian ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan pihak-pihak yang membutuhkan.

Bandung, Mei 2017

(27)

41 Universitas Kristen Maranatha DAFTAR PUSTAKA

Bafadal. (2004). Peningkatan Profesionalisme Guru SD. Jakarta: Bumi Aksara.

Hoy, W. K., Tarter, C. J., & Kottkamp. (1991). Open School/Healthy School; Measuring Organizational Climate. Thousand Oaks, CA: Sage.

Hoy and Miskel. (2001). Educational Administration, Theory, Research and Practice. Mc Graw–Hill: North America.

Imron, Ali. (1995). Pembinaan Guru Di Indonesia . Cetakan 1, Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya.

Mulyasa,E. (2009). Implementasi Kurikulum Satuan Pendidikan Kemandirian Guru Cetakan II, Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Nazir, Moh., Ph.D. (2009). Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru.

Salamah. (2004). Efektivitas Guru Sekolah Dasar di Kota Yogyakarta. Jurnal Dinamika Pendidikan, Volume 2 Nomor 2. Hlm. 79-155.

Sardiman. (2011). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Press.

Sudjana. (1995). Metode Statistika Edisi Keenam. Bandung: Tarsito.

Sugiyono. (2005). Statistik untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Suharsimi Arikunto. (2002). Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Sugiyono dan Eri Wibowo. (2004). Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Sukmadinata. (2006). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Suparlan. (2006). Guru sebagai Profesi. Yogyakarta: Hikayat Publishing.

Suparlan. (2008). Menjadi Guru Efektif, Jakarta: Hikayat Publishing.

Sutedja, Made Wahyu. (1988). Bagaimana Membangun Semangat Staf Pengajar. Bandung: Rosdakarya.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

(28)

42 Universitas Kristen Maranatha DAFTAR RUJUKAN

Agustiani, N. (2015). Pentingnya Peran Guru dalam Peningkatan Mutu Pendidikan. (Online). (http://www.kompasiana.com/nia1714/pentingnya-peran-guru-dalam-peningkatan-mutu-pendidikan_552915326ea8345b3f8b4587, diakses 15 Agustus 2016).

Dien, A, N., Karini, S. M., Agustin, R. W. (2015). Perbedaan Kecerdasan Emosi Siswa Sekolah Dasar Ditinjau dari Model Pembelajaran Sekolah Reguler, Sekolah Alam, dan Homeschooling. (Vol. 4, No. 1). Diunduh dari http://candrajiwa.psikologi.fk.uns.ac.id/index.php/candrajiwa/article/view/98/0

Informasi Pendidikan. (2014). Mengenal sekolah Alam. (Online). (http://www.informasi-pendidikan.com/2014/09/mengenal-sekolah-alam.html, diakses 15 Agustus 2016).

Parenting. (2015). Keuntungan Anak Belajar Di Sekolah Alam. (Online). (http://www.parenting.co.id/usia sekolah/keuntungan+anak+belajar+di+sekolah+alam, diakses 19 September 2016).

Premita, A. (2016). Studi Deskriptif Mengenai Tipe Iklim Sekolah pada Staf Pengajar Sekolah

Dasar Alam ‘X’ di Kota Bogor (Skripsi). Fakultas Psikologi Universitas Kristen

Maranatha: Bandung.

Sekolah Alam Bandung. (2016). Kurikulum SD. (Online).

(http://www.sekolahalambandung.sch.id/kurikulum-sd, diakses 15 Agustus 2016).

Seputar Pengetahuan. (2015). Macam-macam Lembaga Pendidikan dan Fungsinya Lengkap. (Online). (http://www.seputarpengetahuan.com/2015/03/macam-macam-lembaga-pendidikan-dan-fungsinya.html, diakses 15 Agustus 2016).

Seputar Pengetahuan. (2015). Pengertian Pendidikan Menurut Para Ahli. (Online). (http://www.seputarpengetahuan.com/2015/02/15-pengertian-pendidikan-menurut-para-ahli.html, diakses 15 Agustus 2016).

Suara Merdeka. (2010). Sekolah Alam, Sebuah Alternatif Pendidikan. (Online). (http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/02/12/98766/Sekolah-Alam-Sebuah-Alternatif-Pendidikan-, diakses 15 Agustus 2016).

Suci, Rahayu. (2007). Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah, Iklim Organisasi, Kepuasan Kerja terhadap Kinerja Guru SMA Negeri di Kota Tegal (Tesis). Program Studi Manajemen Pendidikan Fakultas Manajemen Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang: Semarang.

Referensi

Dokumen terkait

Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Tindakan Dengan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Onan Hasang kecamatan Pahae Julu Kabupaten

Terima kasih atas dukungan dan doa yang kalian berikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dan semoga kita sukses semua dan dapat berkumpul kembali..

BENTUK-BENTUK PERJUANGAN TOKOH UTAMA MENGEJAR IMPIAN DALAM NOVEL BIRU KARYA AGNES JESSICA: KAJIAN PSIKOLOGI.. SASTRA Oleh Bima

Sahabat MQ// Adanya isu yang menyatakan bahwa/ Indonesia akan keluar dari ASEAN adalah tidak benar// Seiring peran Indonesia yang meningkat/ dalam forum kelompok G20/

Dalam penelitian ini biji ketapang (Terminalia catappa L) diekstraksi menggunakan pelarut n-heksan selama tujuh jam pada suhu 63 dan diperoleh randemen minyak

Telah dilakukan penelitian tentang analisis Gas Kromatografi-Spektrometer Massa (GC-MS) dari kemenyan sumatera dengan teknik asap cair dan esterifikasi.. Dengan membandingkan

Informasi dan data bergerak melalui kabel-kabel (wire line) atau tanpa kabel(wireless) sehingga memungkinkan pengguna jaringan komputer dapat saling bertukar dokumen dan data,

telah menghasilkan komponen senyawa kimia dari kemenyan sumatera dengan berbagai metode dan instrument yang berbeda-beda berdasarkan hidrolisa basa dari getah kemenyan dan