Pola Kuman Penyebab Infeksi Saluran Kemih dan Pola Sensitivitasnya Di Rumah Sakit Immanuel Bandung Periode Juli 2005-Juni 2006.

26 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

POLA KUMAN PENYEBAB INFEKSI SALURAN KEMIH DAN POLA SENSITIVITASNYA

DI RUMAH SAKIT IMMANUEL PERIODE JULI 2005-JUNI 2006

Dessy, 2007 Pembimbing Utama I : Dani Brataatmadja, dr., Sp.PK. Pembimbing Utama II : Lisawati Sadeli, dr.

Pembimbing Pendamping : Yanti Mulyana, Dra.Apt.,DMM,MS.

Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dijumpai dan dapat menyerang segala usia, terutama pasien rawat inap di rumah sakit. Bakteri penyebab ISK saat ini banyak yang resisten terhadap beberapa macam antibiotik. Terapi antibiotik standar didasarkan atas pola uji sensitivitas, tetapi untuk mendapatkan hasil tes perlu waktu beberapa hari sehingga kita perlu mengetahui terapi antibiotik empiris sambil menunggu hasil kultur sensitivitas antibiotik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola kuman penyebab ISK dan pola sensitivitasnya terhadap beberapa antibiotik untuk menentukan terapi antibiotik secara empirik.

Penelitian ini bersifat deskriptif observasional dengan rancangan cross sectional menggunakan data retrospektif penderita ISK di Laboratorium Rumah Sakit Immanuel Bandung periode Juli 2005 sampai Juni 2006.

Terdapat 279 penderita ISK, 149 (53,4%) wanita dan 130 (46,6%) pria. Kuman penyebab terbanyak adalah Escherichia coli (39,1%), disusul oleh Klebsiella sp (14%), Staphylococcus epidermidis (14%), Pseudomonas aeruginosa (8,5%),dan Alkaligenes faecalis (5,1%). Hasil uji sensitivitasnya memperlihatkan kurang dari 30% kuman sensitif terhadap antibiotik ampisilin, amoksisilin, asam nalidiksat, kloramfenikol, trimetoprim, kotrimoksasol, dan seftibuten; lebih dari 70% sensitif terhadap beberapa antibiotik seperti meropenem (85,2%), fosfomisin (84,3%), netilmisin (78,7%), amikasin (78,6%), dan sefoperason sulbaktam (74,9%). Lima kuman penyebab ISK tersering yaitu Escherichia coli, Klebsiella sp, Staphylococcus epidermidis, Pseudomonas aeruginosa, dan Alkaligenes faecalis. Pola sensitivitas kuman ISK terhadap antibiotik yaitu meropenem, fosfomisin, netilmisin, amikasin, dan sefoperason sulbaktam. Obat pilihan untuk penderita rawat inap adalah meropenem dan untuk penderita rawat jalan adalah moksifloksasin.

(2)

ABSTRACT

THE PROFILE OF URINARY TRACT INFECTION ETIOLOGY AND SUSCEPTIBILITY PATTERN

AT IMMANUEL HOSPITAL BANDUNG IN JULY 2005-JUNE 2006

Dessy, 2007 Tutor I : Dani Brataatmadja, dr., Sp.PK. Tutor II : Lisawati Sadeli, dr.

Tutor III : Yanti Mulyana, Dra.Apt.,DMM,MS

Urinary tract infection (UTI) is a health medical problem that often found and can occur in every age, especially inpatient at hospital. Recently many of bacteria those cause UTI have resistant to some antibiotics. The standard antibiotic therapy is based on susceptibility patterns but the result of culture susceptibility need a few days, so we need antibiotic empirical therapy while waiting the result of antibiotics susceptibility test. The purpose of this study are know the etiological UTI agents profile and its antibiotic susceptibility patterns to determine antibiotic empirical therapy.

We carried out an observational descriptive study with cross sectional design to retrospective data of UTI’s patients from Laboratory Department of Immanuel Hospital Bandung, in the period July 2005 to June 2006.

There were 279 patient with UTI, 149 (53.4%) women and 130 (46.6%) men. The common etiology of UTI is Escherichia coli(39.1%), followed by Klebsiella sp (14%), Staphylococcus epidermidis (14%), Pseudomonas aeruginosa (8.5%), and Alkaligenes faecalis (5.1%). The result of bacterial susceptibility testing showed only less 30% susceptible to ampicillin, amoxycillin, nalidixic acid, chloramphenicol, trimethoprim, cotrimoxazole, and ceftibuten; more than 70% UTI’s agents susceptible to several antibiotics, such as meropenem (85.2%), fosfomycin (84.3%), netilmicin (78.7%), amikacin (78.6%), and cefoperazone sulbactam (74.9%).

The five etiologic’s agents that common infected urinary tract were Escherichia coli, Klebsiella sp, Staphylococcus epidermidis, Pseudomonas aeruginosa, and Alkaligenes faecalis. The antibiotics susceptibility pattern of UTI’s agents were meropenem, fosfomycin, netilmicin, amikacin, and cefoperazone sulbactam. Drug of choice for UTI’s inpatient was meropenem and UTI’s outpatient was moxifloxacin.

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus atas cinta kasih, berkat, rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.

Keberhasilan penulisan Karya Tulis Ilmiah ini tidak lepas dari bimbingan, bantuan, dan dorongan berbagai pihak. Maka melalui kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha Bandung, yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas yang baik sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.

2. Dani Brataatmadja, dr., Sp.PK. sebagai pembimbing utama yang telah meluangkan waktu dan tenaga untuk membimbing, memberikan pengarahan, kritik, saran, serta dukungan moril selama penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini. 3. Lisawati Sadeli, dr. yang telah bersedia menjadi pembimbing utama pada

tahap akhir penulisan Karya Tulis Ilmiah ini. Terima kasih karena telah meluangkan waktu untuk membimbing dan memberikan pengarahan, serta dukungan moril selama penulis menyusun hingga Karya Tulis Ilmiah ini selesai.

4. Ibu Yanti Mulyana, Dra., Apt., DMM, MS. selaku pembimbing pendamping yang telah meluangkan waktu dan tenaga, membimbing, memberikan pengarahan, kritik, saran, serta dukungan moril selama penulis menyusun hingga Karya Tulis Ilmiah ini selesai.

5. Kedua orang tua yang selalu mendoakan keberhasilan saya, kakak-kakak dan adik tercinta yang selalu memberi dukungan doa, semangat, moril, serta kasih sayang.

6. Sasa, Nita, Angel, Bernadet, Andi, Samuel, Vita, Lifia, Ryan, Ika, Lea, dan Yen Nie yang telah memberikan dukungan dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini.

(4)

8. Pimpinan dan staf Laboratorium Rumah Sakit Immanuel yang telah meluangkan tenaga dan waktu untuk membantu saya dalam pengumpulan data.

9. Seluruh Staf Perpustakaan Universitas Kristen Maranatha, Bapak Eddy dan Ibu Wina, atas segala bantuan serta dukungan dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.

10.Seluruh Staf Perpustakaan Rumah Sakit Immanuel dalam peminjaman buku-buku serta dukungan dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.

11. Semua pihak dan teman-teman yang telah membantu serta memberikan dorongan kepada penulis yang tidak dapat disebutkan satu persatu oleh penulis.

Karya Tulis Ilmiah ini tidak lepas dari kesalahan, oleh sebab itu mohon maaf bila pada karya tulis ilmiah ini masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan penulis.

Semoga karya tulis ilmiah ini dapat memberikan masukan dan informasi yang berguna bagi pembacanya dan terutama untuk perkembangan ilmu kedokteran.

Bandung, Januari 2007

(5)

DAFTAR ISI

2.2 Klasifikasi Infeksi Saluran Kemih... 8

2.2.1 Uretritis... 8

2.2.2 Sistitis akut ... 9

2.2.3 Pielonefritis akut ... 9

2.3 Diagnosis Infeksi Saluran Kemih ... 10

2.3.1 Gejala klinik ... 10

2.3.2 Pemeriksaan urin... 11

2.3.3 Pemeriksaan darah ... 13

2.3.4 Pencitraan ... 13

2.4 Komplikasi Infeksi Saluran Kemih ... 14

2.4.1 Gagal ginjal akut ... 14

2.4.2 Urosepsis ... 14

2.4.3 Nekrosis papila ginjal dan nefritis interstitialis ... 15

(6)

2.5 Bentuk khusus Infeksi Saluran Kemih ... 15

2.5.1 Infeksi Saluran Kemih berulang ... 15

2.5.2 Infeksi Saluran Kemih pada penderita Diabetes Melitus . 16 2.5.3 Infeksi Saluran Kemih pada manula ... 17

2.5.4 Infeksi Saluran Kemih pada kehamilan ... 17

2.5.5 Infeksi Saluran Kemih pada gagal ginjal kronik ... 18

2.6 Terapi Infeksi Saluran Kemih ... 18

2.6.1 Antibiotik... 18

2.6.1.1 Aktivitas dan spektrum antibiotik ... 19

2.6.1.2 Mekanisme kerja antibiotik... 19

2.6.1.3 Pemilihan antibiotik... 19

2.6.1.4 Antibiotik untuk Infeksi Saluran Kemih... 20

2.6.2 Resistensi kuman dalam terapi ... 22

2.6.2.1 Mekanisme resistensi... 22

2.6.2.2 Asal resistensi... 23

2.6.2.3 Resistensi silang ... 23

2.6.2.4 Pemeriksaan resistensi ... 24

2.6.2.5 Pengendalian Resistensi dengan WHONET ... 25

BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1 Subjek penelitian ... 27

3.2 Metode penelitian ... 27

3.3 Analisis hasil penelitian ... 27

(7)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Epidemiologi ISK berdasarkan umur dan jenis kelamin ... 5

Tabel 2.2 Terapi empiris untuk Infeksi Saluran Kemih ... 21

Tabel 4.1 Distribusi kasus ISK berdasarkan jenis kelamin ... 28

Tabel 4.2 Jumlah kasus positif ISK berdasarkan pemeriksaan urin ... 28

Tabel 4.3 Jumlah kasus positif ISK berdasarkan hitung kuman dan tes resistensi... 29

Tabel 4.4 Jumlah kuman menurut jenis Gram ... 29

Tabel 4.5 Pola kuman... 30

Tabel 4.6 Pola sensitivitas kuman terhadap golongan penisilin ... 31

Tabel 4.7 Pola sensitivitas kuman terhadap golongan aminoglikosida ... 32

Tabel 4.8 Pola sensitivitas kuman terhadap golongan sefalosporin ... 33

Tabel 4.9 Pola sensitivitas kuman terhadap golongan kuinolon ... 34

(8)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Escherichia coli... 6

Gambar 2.2 Leukosuria ... 11

Gambar 2.3 Biakan bakteri... 12

Gambar 2.4 Gagal Ginjal Kronik ... 18

(9)

DAFTAR GRAFIK

Grafik 4.1 Proporsi kepekaan Alkaligenes sp terhadap golongan penisilin ... 36 Grafik 4.2 Proporsi kepekaan Alkaligenes sp terhadap golongan

aminoglikosida ... 36 Grafik 4.3 Proporsi kepekaan Alkaligenes sp terhadap golongan

sefalosporin ... 36 Grafik 4.4 Proporsi kepekaan Alkaligenes sp terhadap golongan kuinolon ... 37 Grafik 4.5 Proporsi kepekaan Alkaligenes sp terhadap antibiotik golongan

lain... 37 Grafik 4.6 Proporsi kepekaan Escherichia coli terhadap golongan penisilin ... 38 Grafik 4.7 Proporsi kepekaan Escherichia coli terhadap golongan

aminoglikosida ... 38 Grafik 4.8 Proporsi kepekaan Escherichia coli terhadap golongan

sefalosporin... 38 Grafik 4.9 Proporsi kepekaan Escherichia coli terhadap golongan kuinolon... 39 Grafik 4.10 Proporsi kepekaan Escherichia coli terhadap antibiotik golongan

lain... 39 Grafik 4.11 Proporsi kepekaan Klebsiella terhadap golongan penisilin... 39 Grafik 4.12 Proporsi kepekaan Klebsiella terhadap golongan aminoglikosida . 40 Grafik 4.13 Proporsi kepekaan Klebsiella terhadap golongan sefalosporin ... 40 Grafik 4.14 Proporsi kepekaan Klebsiella terhadap golongan kuinolon ... 40 Grafik 4.15 Proporsi kepekaan Klebsiella terhadap antibiotik golongan lain .... 41 Grafik 4.16 Proporsi kepekaan Pseudomonas aeruginosa terhadap golongan

penisilin ... 41 Grafik 4.17 Proporsi kepekaan Pseudomonas aeruginosa terhadap golongan

aminoglikosida ... 42 Grafik 4.18 Proporsi kepekaan Pseudomonas aeruginosa terhadap golongan

(10)

Grafik 4.19 Proporsi kepekaan Pseudomonas aeruginosa terhadap golongan kuinolon... 42 Grafik 4.20 Proporsi kepekaan Pseudomonas aeruginosa terhadap antibiotik

golongan lain ... 43 Grafik 4.21 Proporsi kepekaan Staphylococcus sp terhadap golongan penisilin 43 Grafik 4.22 Proporsi kepekaan Staphylococcus sp terhadap golongan

aminoglikosida ... 43 Grafik 4.23 Proporsi kepekaan Staphylococcus sp terhadap golongan

sefalosporin... 44 Grafik 4.24 Proporsi kepekaan Staphylococcus sp terhadap golongan

kuinolon... 44 Grafik 4.25 Proporsi kepekaan Staphylococcus sp terhadap antibiotik golongan

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

(12)
(13)

Lampiran 1. Data Pemeriksaan Urin di Laboratorium Rumah Sakit Immanuel Bandung Periode Juli 2005 - Juni 2006

19/07/05 12 MS L 634309 Streptococcus + < 105

(14)
(15)

Tgl No Nama JK No.Reg Kuman Gram HK 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 24/09/05 77 S P 647045 S. saprophyticus + < 105

28/09/05 78 M L 648328

-30/09/05 79 CAL P 648334 E. coli - < 105

01/10/05 80 EY P Andir E. coli - > 105 - - + - - - + + + + + + + + + - - + + + + + + + + 03/10/05 81 W P 647092

-05/10/05 82 LTM P 599765 E. coli - > 105 - - + - + - + + - + - - + + - + + + + + + - + + + 11/10/05 83 A P 651689 Candida < 105

13/10/05 84 D P 501646 -28/10/05 98 A L Andir Klebsiella - < 105

(16)
(17)

Tgl No Nama JK No.Reg Kuman Gram HK 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31

28/01/06 174 M P 667892 Alk. faecalis - < 105

(18)

Tgl No Nama JK No.Reg Kuman Gram HK 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 02/03/06 203 Y L 279012 S. epidermidis + < 105

03/03/06 204 D L DC S. aureus + < 105 04/03/06 205 O P 313541 Alk. faecalis - < 105 206 R L DC P. aeruginosa - > 105

- - + - - - + - + - + - - + + + + + + + + +

207 P P Andir E. coli - > 105 - + + - + + + + - - - + + - - - + + + - + - + 06/03/06 208 A L 673432 Alk. faecalis - < 105

07/03/06 209 E P DC S. epidermidis + < 105 11/03/06 210 M L Andir Proteus sp. - < 105

+ + + + + - + + + - + - + - - - + - + + + - - + + +

(19)

-Tgl No Nama JK No.Reg Kuman Gram HK 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31

05/05/06 250 A P 561869 S. saprophyticus + < 105

251 LPN L Andir Klebsiella - < 105 - - + - - - + + + - + - - + - - - - + - + + + - - + + +

30/05/06 264 S L 73181 Alk. viscensus - < 105

31/05/06 265 LPN L Andir S. aureus + < 105 - + + + + + + + + + - + + + + + + + - + + + + + + + + 02/06/06 266 V P 265929 E. coli - > 105 - - + - - - + - + + + - - - + - + - -05/06/06 267 W P 685821 P. aeruginosa - > 105

- - + - - - + -

(20)

Tgl No Nama JK No.Reg Kuman Gram HK 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 272 R P 202913 Alk. viscensus - < 105

16/06/06 273 I L 460958

-17/06/06 274 D L 47162 E. coli - > 105 - + - - - + + - + + + + + - - + + + - + + + - + 19/06/06 275 P P 287134 Par aerogenes - > 105

276 E L DC S. aureus + < 105 22/06/06 277 AT L 578277

-24/06/06 278 F L 691484 Klebsiella - < 105 27/06/06 279 S P Andir E. coli - < 105

- + + - + - + + + - - - + - - - + + + - + - +

Keterangan : 1 = ampisilin 10 = siprofloksasin 19 = trimetoprim + sulfametoksasol 28 = moksifloksasin 2 = ampisilin + sulbaktam 11 = eritromisin 20 = tobramisin 29 = fosfomisin

3 = amikasin 12 = kanamisin 21 = vankomisin 30 = dibekasin

4 = amoksisilin 13 = levofloksasin 22 = asam pipemedat 31 = sefeperason/sulbaktam 5 = amoksisilin + asam klavulanat 14 = asam nalidiksat 23 = sefepim 32 = metisilin

6 = kloramfenikol 15 = netilmisin 24 = teikoplanin 33 = seftisoksim

7 = sefotaksim 16 = nitrofurantoin 25 = sefpirom 34 = piperasilin + tazobaktam

8 = seftriakson 17 = ofloksasin 26 = meropenem 35 = linezolid

(21)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Infeksi saluran kemih (ISK) adalah salah satu masalah kesehatan yang sering dijumpai terutama pada wanita. ISK sering terjadi sebagai akibat infeksi nosokomial pada pasien di rumah sakit. ISK sering berupa silent infection, gejala baru timbul bila infeksinya sudah lebih lanjut, bahkan setelah ada komplikasi. Cara penanggulangan ISK kadang cukup dengan pemberian antibiotik spektrum sempit, yaitu antibiotik untuk kuman Gram negatif saja atau Gram positif saja, tetapi infeksi yang berat dan telah menimbulkan kerusakan pada berbagai macam organ membutuhkan antibiotik berspektrum luas, yaitu antibiotik untuk kuman Gram positif dan negatif, serta membutuhkan perawatan umum secara tepat (Basuki B. Purnomo, 2000).

Pemakaian antibiotik sekarang ini sering tidak rasional yang mengakibatkan tingginya resistensi kuman terhadap antibiotik.

Diagnosis ISK perlu ditegakkan secara dini yaitu berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan hasil pemeriksaan urin rutin, idealnya perlu identifikasi dan uji sensitivitas kuman ISK terhadap berbagai antibiotik khususnya pasien-pasien rawat inap di rumah sakit, tetapi pemeriksaan kultur dan pola sensitivitas kuman memerlukan biaya yang relatif tidak sedikit.

(22)

2

1.2 Identifikasi Masalah

• Apa pola kuman penyebab infeksi saluran kemih.

• Bagaimana pola sensitivitas kuman penyebab ISK terhadap beberapa antibiotik.

• Apa obat pilihan untuk penderita ISK rawat inap di rumah sakit. • Apa obat pilihan untuk penderita ISK rawat jalan.

1.3 Maksud dan Tujuan

Maksud penelitian ini adalah untuk mengetahui kuman penyebab ISK dan sensitivitasnya terhadap berbagai antibiotik di Rumah Sakit Immanuel Bandung periode Juli 2005 – Juni 2006.

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pola kuman penyebab ISK dan antibiotik yang paling efektif untuk ISK berdasarkan pola sensitivitasnya.

1.4 Manfaat Karya Tulis Ilmiah

Manfaat praktisnya adalah untuk memberikan masukan kepada para klinisi mengenai kuman-kuman penyebab ISK dan pola sensitivitasnya sehingga dapat digunakan sebagai panduan dalam menentukan terapi.

Manfaat akademisnya adalah untuk menambah wawasan mengenai pola kuman dan pola sensitivitas kuman penyebab ISK.

(23)

3

1.6 Lokasi dan Waktu

(24)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

• Kuman yang paling sering menyebabkan ISK adalah Escherichia coli, Klebsiella sp, Staphylococcus epidermidis, Pseudomonas aeruginosa, dan Alkaligenes faecalis.

• Sebagian besar kuman masih sensitif terhadap antibiotik meropenem, fosfomisin, netilmisin, amikasin, dan sefeperason sulbaktam.

• Obat pilihan untuk penderita ISK rawat inap adalah meropenem. • Obat pilihan untuk penderita ISK rawat jalan adalah moksifloksasin.

5.2 Saran

• Pemilihan dan pemakaian antibiotik hendaknya dilakukan secara rasional untuk mencegah terjadinya resistensi.

• Pemilihan antibiotik untuk pengobatan sebaiknya diarahkan pada antibiotik yang berdaya bunuh tinggi, memiliki toksisitas selektif, serta memiliki efek samping minimal. Selain itu perlu juga memperhatikan cara pemberiannya. • Tindakan aseptik dan antiseptik perlu digalakkan terutama di rumah sakit

yaitu pencucian tangan, sterilisasi alat, desinfeksi, dan kedisiplinan petugas kesehatan dalam melakukan tugasnya sehari-hari.

(25)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2006. Gangguan Sistem Ginjal dan Traktus Urinarius Pada Lanjut Usia., www.cigp.org/index. , 18 November 2006

Anonim. 2006. httpwww.nirgal.netgraphicse_coli.jpg., 18 November 2006

Basuki B. Purnomo. 2000. Dasar-dasar Urologi. Malang: FK Universitas Brawijaya. hal. 37-60

Brooks G.F., Butel J.S., Morse S.A. 2005. Jawetz, Melnick, Adelberg’s Mikrobiologi Kedokteran Buku 1. Jakarta: Salemba Medica. Hal.24-5, 224-378

Das R.N. 2006. Fluoroquinolones in Ophthalmology.,

http://www.jdosmp.org/fluoroquinolones_rnd.htm., 25 Desember 2006

Davis Roland Gustav Jouwena. 2006. Perbandingan Program WHONET Dengan Cara Manual Dalam Menyimpan dan Menganalisis Data Pola Resistensi Bakteri Terhadap Antibiotik. Bandung: FK UNPAD. hal. 22- 34

Dorland. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 29. Jakarta: EGC. hal. 120, 1891

Hawley L.B. 2003. Intisari Mikrobiologi dan Penyakit Infeksi. Jakarta : Penerbit Hipokrates. hal. 38-76

J. Pudji Rahardjo dan Endang Susalit. 1998. Infeksi Saluran Kemih. Dalam: Ilmu Penyakit Dalam Universitas Indonesia Jilid 2. Jakarta: Gaya Baru. hal. 264-72

Katzung B.G. 2004. Farmakologi Dasar dan Klinik Buku 3. Edisi 8. Jakarta: Salemba Empat. hal. 8-24

(26)

53

National Kidney and Urologic Diseases Information Clearinghouse. 2006 .

Urinary Tract Infections in Adults.,

http://kidney.niddk.nih.gov/kudiseases/pubs/utiadult/., 18 November 2006

Nguyen H.T. 2004. Bacterial Infections of the Genitourinary Tract In : Tanagho E.A., McAninch J.W. Editors: Smith’s General Urology. 16th ed. Singapore: McGraw-Hill Companies. p. 203-18

Noorhamdani. 2005. Protein Fimbria 16 kDa Bakteri Acinetobacter Baumannii Dari Urin Penderita Infeksi Saluran Kemih Berperan Sebagai Protein Hemaglutinin dan Adhesin. Jurnal Kedokteran Brawijaya, 1(21): 50-1

O’Brien T.F., Stelling J.M. 2006. WHONET: An Information System for

Monitoring Antimicrobial Resistance.,

http://www.cdc.gov/ncidod/EID/vol1no2/obrien.htm., 18 November 2006

Pingyan Shen, Ren Hong, Chen Xiaonong, Wen C., Li Xiao, Chen Nan. 2005. The Clinical Investigation of the Bacteria Spectrum and the Antimicrobial Resistance in the Urinary Tract Infection. Nephrology, 10: A337

R. Setiabudy dan Vincent H. S. Gen. 1998. Pengantar Antimikroba Dalam: Sulistia G. Ganiswara. Editor: Farmakologi dan Terapi. Edisi 4. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. hal. 571-83

Stamm W.E. 2001. Urinary Tract Infection and Pyelonephritis In: Braunwald E., Fauci A.S., Kasper D.L., Hauser S.L., Longo D.L., Jameson J.L. Editors: Harrison’s Principles of Internal Medicine. 15th ed. New York: McGraw-Hill. p. 1620-5

Soenarjo. 1997. Pengaruh Beberapa Antibiotika Golongan Betalaktam Terhadap Escherichia coli. Medika, 10: 801-4

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...