• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINGKAT KEBUGARAN JASMANI SATUAN POLISI PAMONG PRAJA KOTA JAMBI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "TINGKAT KEBUGARAN JASMANI SATUAN POLISI PAMONG PRAJA KOTA JAMBI"

Copied!
64
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI Diajukan Kepada

Universitas Jambi untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Olahraga dan Kesehatan

OLEH PRASETYO NIM: KIA218032

PROGRAM STUDI KEPELATIHAN OLAHRAGA FAKULTAS KKEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JAMBI 2022

(2)

i

(3)

ii

(4)

iii

(5)

iv ABSTRAK

Prastyo. 2022 “Tingkat Kebugaran Jasmani Satuan Polisi Pamong Praja Kota Jambi”. Program Studi Kepelatihan Olahraga, FKIP Universitas Jambi, Pembimbing (I) Boy Indrayana, S.Pd., M.Pd (II) Ahmad Muzaffar, S.Pd., M.Pd

Kata kunci: Kebugaran Jasmani, Polisi Pamong Praja Kota Jambi

Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, Sat Pol PP Kota Jambi di butuhkan kebugaran fisik guna menjalankan tugas sebagai penyelenggara ketertiban di lingkungan masyarakat, terutama yang bertugas di langan atau yang sering terjun langsung di masyarakat, kebugaran sangat di butuhkan sekali. Dalam satu tahun selalu dilakukan tes kebugaran para anggota Sat Pol PP Kota Jambi, guna mengetahui kebugaran yang di miliki setiap anggota, selain itu di wajibkan mengikuti latihan bela diri, untuk kebugaran juga berguna untuk pengamanan diri anggota saat bertugas.

Tujan penelitian ini yaitu: untuk mengetahui: “Tingkat Kebugaran Jasmani Satuan Polisi Pamong Praja Kota Jambi”

Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang menggunakan metode survei dan teknik pengumpulan datanya menggunakan tes dan pengukuran, sehingga memberikan gambaran mengenai apa yang akan diteliti berupa angka-angka dan diukur secara pasti. Sampel dalam penelitian ini adalah semua anggota Satuan Polisi Pamong Praja Kota Jambi yang berjumlah 20 Orang

Berdasarkan hasil analisis data hasil kebugaran jasmani tes push up dari 20 orang yang memiliki kategori Baik sebanyak 15 orang dengan persentasi 75%, yang memiliki kategori sedang sebanyak 5 orang dengan persentasi 25%.

kebugaran jasmani shit up dari 20 orang yang memiliki kategori baik sebanyak 18 orang dengan persentasi 90%, kategori cukup sebanyak 2 orang dengan persentasi 10%. Kebugaran Jasmani Bleep Tes dari 20 orang yang memiliki kategori baik sebanyak 12 orang dengan persentasi 60%, yang memiliki kategori sedang sebanyak 7 orang degan persentasi 35%, yang memiliki kategori kurang sebanyak 1 orang degan persentasi 5%. kebugaran Jasmani vertical jump dari 20 orang yang memiliki kategori baik sebanyak 2 orang dengan persentasi 10%, yang memiliki kategori cukup sebanyak 17 orang dengan persentasi 85%, yang memiliki kategori sedang sebanyak 1 orang degan persentasi 5%. kebugaran jasmani lari 60 meter dari 20 orang yang memiliki kategori baik sebanyak 2 orang dengan persentasi 10%, yang memiliki kategori cukup sebanyak 11 orang degan persentasi 55%.

yang memiliki kategori sedang sebanyak 7 orang degan persentasi 35%.

kebugaran jasmani tes pull up dari 20 orang yang memiliki kategori cukup sebanyak 7 orang dengan persentasi 35%, yang memiliki kategori sedang sebanyak 13 orang degan persentasi 65%.

Kesimpulan yaitu: Tingkat Kebugaran Jasmani Satuan Polisi Pamong Praja Kota Jambi berada pada kategori baik 90%.

(6)

v

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah Puji dansyukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat, rahmat, dan karunia- Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Shalawat berserta salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, para sahabatnya, hingga kepada umatnya hingga akhir zaman, amin. Skripsi ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana pada Program Studi Kepelathan Olahraga, Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Jambi. Skripsi ini berjudul “Tingkat Kebugaran Jasmani Satuan Polisi Pamong Praja Kota Jambi.”.

Dalam penyusunan dan penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini dengan ketulusan hati dan kerendahan hati, penulis ingin menyampaikan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada: Bapak Prof. Drs. H. Sutrisno, M.Sc, Ph. D selaku Rektor Universitas Jambi, Bapak Prof Dr. M. Rusdi, S.Pd. M.Sc Selaku Dekan Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi. 3) Bapak Dr. Palmizal. A. S.Pd., M.Pd selaku Ketua Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kepelatihan FKIP Universitas Jambi, Bapak Adhe Saputra, S.Pd, M.Pd selaku Ketua Prodi Pendidikan Kepelatihan olahraga FKIP Universitas Jambi, Bapak Boy Indrayana, S.Pd., M.Pd selaku pembimbing I selalu memberi arahan dan bimbingannya hingga saya bisa menyelesaikan skripsi ini, Bapak Ahmad Muzaffar, S.Pd., M.Pd selaku pembimbing II terimakasih waktu dan bimbinganya hingga sekeripsi dapat di selesaikan, Bapak/Ibu dosen staf pengajar Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Jambi atas ilmu dan pendidikan yang telah diberikan selama perkuliahan, Teman-teman angkatan 2018, dan seluruh teman-teman Kepelatihan Olahraga yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Terimakasih atas dorongan dan do’anya.

(7)

vi DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...

HALAMAN PERSETUJUAN ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

HALAMAN PERNYATAAN ... iii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 3

1.3 Batasan Masalah ... 4

1.4 Rumusan Masalah ... 4

1.5 Tujuan penelitian ... 4

1.6 Manfaat Penelitian ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Polisi Pamong Praja (POL PP) ... 5

2.1.1 Tugas dan Kewenangan Satuan Polisi Pamong Praja ... 8

2.2 Kebugaran Jasmani ... 9

2.2.1 Klasifikasi Kebugaran Jasmani. ... 10

2.2.2 Komponen Kebugaran Jasmani. ... 10

2.2.3 Faktor yang Mempengaruhi Kebugaran Jasmani. ... 15

2.2.4 Manfaat kebugaran Jasmani ... 19

2.3 Penelitian relevan ... 20

BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ... 23

3.2 Jenis Penelitian ... 23

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 23

3.3.1. Populasi ... 23

3.3.2. Sampel ... 24

3.4 Instrumen Penelitian ... 24

3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 25

3.6. Teknik Analisis Data ... 37

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil penelitian ... 38

4.2. Pembahasan ... 45

BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan ... 48

5.2. Saran ... 48

DAFTAR PUSTAKA ... 49

LAMPIRAN ... 51

(8)

vii

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

3.1 Norma Tes Lari 60 meter ... 26

3.2 Norma Penilaian Push UP ... 27

3.3 Norma Penilaian Sit Up ... 28

3.4 Norma Penilaian Vertical Jump ... 29

3.5. Formulir Penilaian Bleep Test ... 31

3.6. Data Normatif untuk VO2 Max ... 34

3.7 Norma Penilaian Pull up ... 34

(9)

viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

3.1 Sprint 60 meter... 26

3.2 Penilaian Push Up ... 28

3.3 Penilaian Sit Up ... 29

3.4. Vertical Jump ... 31

3.5 Penilaian Pull up ... 36

(10)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan sehari-hari Kebugaran Jasmani akan menggambarkan pada kehidupan seseorang secara harmonis, bersemangat dan kreatif. Dengan kata lain, orang yang bugar adalah orang yang berpandangan sehat, cerah terhadap kehidupannya baik untuk saat ini maupun masa depan.

Saat ini di Indonesia, minat masyarakat melakukan olahraga meningkat baik di tempat umum, di jalan raya maupun di lapangan olahraga. Selain itu bermunculan berbagai kelompok olahraga rekreasi seperti bersepeda, mendaki, trekking, mincing dan pusat kebugaran jasmani. Dilain pihak kemajuan IPTEK memberi kemudahan bagi masyarakat dalam melakukan berbagai kegiatan se hari- hari sehingga masyarakat cendrung kurang bergerak yang dapat mengakibatkan tingkat kebugaran jasmani menurun.

Kita dapat saja hidup sehat, tetapi mempunyai kebugaran jasmani yang jelek, atau sebaliknya kita dalam keadaan sakit tetapi tingkat kebugaran jasmani kita yang cukup tinggi. Untuk mencapai hidup yang lebih baik (hidup sehat) seseorang harus bertindak sesuai dengan standar gaya hidup sehat, karena kesehatan merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam kehidupan manusia dan kebutuhan pokok manusia disamping kebutuhan lainnya. Oleh karena itu, setiap individu harus menjaga kebugaran jasmaninya guna dapat menjalankan dan meningkatkan kualitas hidup yang efektif dalam melakukan aktivitas gerak dan menyelesaikan tugas-tugas dalam kehidupan sehari-hari.

(11)

Kebugaran jasmani merupakan kebutuhan pokok dalam melakukan aktivitas untuk kehidupan sehari-hari. Orang yang bugar berarti dia sehat secara dinamis. Sehat dinamis akan menunjang terhadap berbagai aktivitas fisik maupun psikis. Kebugaran yang dimiliki seseorang akan memberikan pengaruh terhadap kinerja seseorang dan juga akan memberikan dukungan yang positif terhadap produktivitas bekerja atau belajar.

Seseorang memiliki kebugaran jasmani yang optimal, maka dalam melakukan pekerjaanya tanpa merasakan lelah yang berlebihan walaupun pekerjaanya itu berat dan melelahkan. Tetapi sebaliknya jika tidak memiliki kebugaran jasmani yang tinggi, segala pekerjaan apapun akan terasa berat. Maka kebugaran jasmani adalah kesanggupan atau kemampuan seseorang dalam menyelesaikan suatu tugas fisik tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan dan memiliki kesanggupan untuk melakukan pekerjaan lainnya.

Satuan Polisi Pamong Praja, yang selanjutnya disingkat Satpol PP, merupakan salah satu perangkat yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah dalam memelihara ketentraman dan ketertiban umum serta menegakkan Peraturan Daerah. Organisasi dan tata kerja Satuan Polisi Pamong Praja ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Satpol PP dapat berkedudukan di Daerah Provinsi dan Daerah atau Kota.

Tugas Satuan Polisi Pamong Praja yaitu menegakkan peraturan daerah dan menyelenggarakan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat serta perlindungan masyarakat. Satuan Polisi Pamong Praja memiliki kewenangan dalam penegakan hukum Perda karena Satuan Polisi Pamong Praja adalah pejabat

(12)

Pemerintah Pusat yang ada di daerah yang melaksanakan urusan pemerintahan umum.

Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, Satuan Polisi Pamong Praja Kota Jambi di butuhkan kebugaran fisik guna menjalankan tugas sebagai penyelenggara ketertiban di lingkungan masyarakat, terutama yang bertugas di laangan atau yang sering terjun langsung di masyarakat, kebugaran sangat di butuhkan sekali. Dalam satu tahun selalu dilakukan tes kebugaran para anggota Satuan Polisi Pamong Praja Kota Jambi, guna mengetahui kebugaran yang di miliki setiap anggota, selain itu Anggota Satuan Polisi Pamong Praja Kota Jambi di wajibkan mengikuti latihan bela diri, selain untuk kebugaran juga berguna untuk pengamanan diri anggota saat bertugas.

Berdasarkan Latar belakang masalah diatas maka peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul “Tingkat Kebugaran Jasmani Satuan Polisi Pamong Praja Kota Jambi”

1.2 Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah penelitian ini yaitu:

1. Satuan Polisi Pamong Praja Kota Jambi di butuhkan kebugaran fisik guna menjalankan tugas sebagai penyelenggara ketertiban di lingkungan masyarakat,

2. terutama yang bertugas di laangan atau yang sering terjun langsung di masyarakat,

3. kebugaran sangat di butuhkan sekali. Dalam satu tahun selalu dilakukan tes kebugaran para anggota Satuan Polisi Pamong Praja Kota Jambi, guna mengetahui kebugaran yang di miliki setiap anggota.

(13)

1.3 Batasan Masalah

Batasan masalah penelitian ini yaitu: “Tingkat Kebugaran Jasmani Satuan Polisi Pamong Praja Kota Jambi”

1.4 Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada penelitian ini yaitu: Bagaimana Tingkat Kebugaran Jasmani Satuan Polisi Pamong Praja Kota Jambi?

1.5 Tujuan penelitian

Tujan penelitian ini yaitu: untuk mengetahui: “Tingkat Kebugaran Jasmani Satuan Polisi Pamong Praja Kota Jambi”

1.6 Manfaat Penelitian

1. Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan penulis khususnya dalam bidang kebugaran jasmani Satuan Polisi Pamong Praja di Kota Jambi.

2. Untuk mengetahui anggota Satuan Polisi Pamong Praja yang kebugaran Jasmaninya rendah bias di tingkatkan melalui aktivitas olahraga.

3. Untuk memberikan dasar-dasar serta landasan guna penelitian lebih lanjut.

(14)

1

(15)

5 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Polisi Pamong Praja (POL PP)

Satuan Polisi Pamong Praja, yang selanjutnya disingkat Satpol PP, merupakan salah satu perangkat yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah dalam memelihara ketentraman dan ketertiban umum serta menegakkan Peraturan Daerah. Organisasi dan tata kerja Satuan Polisi Pamong Praja ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Satpol PP dapat berkedudukan di Daerah Provinsi dan Daerah, Kota.

1. Di Daerah Provinsi, Satuan Polisi Pamong Praja dipimpin oleh Kepala yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah

2. Di Daerah Kota, Satuan Polisi Pamong Praja dipimpin oleh Kepala yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Sekretaris Daerah.

Menurut tata bahasa Pamong Praja berasal dari kata Pamong dan Praja, Pamong artinya pengasuh yang berasal dari kata Among yang juga mempunyai arti sendiri yaitu mengasuh. Mengasuh atau merawat anak kecil itu sendiri biasanya diartikan sebagai mengemong anak kecil, sedangkan Praja adalah pegawai negeri. Pangreh Praja atau Pegawai Pemerintahan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pamong Praja adalah Pegawai Negeri yang mengurus pemerintahan Negara. (Hasan, 2001: 218).

(16)

Definisi lain mengenai Polisi Pamong Praja adalah sebagai salah satu Badan Pemerintah yang bertugas memelihara keamanan dan ketertiban umum atau pegawai Negara yang bertugas menjaga keamanan. Sedangkan menurut Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2010 mengenai Satuan Polisi Pamong dijelaskan Satpol PP adalah bagian dari perangkat aparatur di daerah yang memiliki kewajiban untuk melaksanakan penegakan peraturan daerah dan menyelenggrakan ketertiban umum serta menciptakan ketentraman di masyarakat.

Ketertiban umum dan Ketentraman masyarakat merupakan sebuah keadaan dinamis yang dimana memungkinkan pemerintah daerah dan masyarakat daerah dapat melakukan kegiatanya dengan tentram, tertib, dan teraur.

Berdasarkan definisi-definisi yang tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa Polisi Pamong Praja adalah Polisi yang mengawasi dan mengamankan keputusan pemerintah di wilayah kerjanya (Dirjen PUOD, 2006)

Republik Indonesia, yang menyebutkan bahwa "Pengemban fungsi kepolisian adalah Kepolisian Negara Republik Indonesia yang dibantu oleh Kepolisian Khusus, Penyidik Pegawai Negeri Sipil atau bentuk-bentuk pengamanan swakarsa”

Keberadaan Polisi Pamong Praja dalam jajaran pemerintahan daerah mempunyai arti khusus yang cukup menonjol, karena tugas-tugasnya membantu kepala daerah dalam pembinaan ketentraman dan ketertiban serta penegakan peraturan daerah sehingga berdampak pada upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Pada hakekatnya, seorang anggota Satpol PP adalah seorang polisi, yang oleh karenanya dapat (dan bahkan harus) dibilangkan sebagai bagian dari aparat

(17)

penegak hukum (law enforcer). Dikatakan demikian, karena Satpol PP dibentuk untuk membantu kepala daerah dalam menegakkan peraturan daerah (Perda).

Sebagaimana diketahui, Perda menurut Pasal 7 ayat (1) UU Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah salah satu jenis perundang-undangan.

Pada hakekatnya, seorang anggota Satpol PP adalah seorang polisi, yang oleh karenanya dapat (dan bahkan harus) dibilangkan sebagai bagian dari aparat penegak hukum (law enforcer). Dikatakan demikian, karena Satpol PP dibentuk untuk membantu kepala daerah dalam menegakkan peraturan daerah (Perda).

Sebagaimana diketahui, Perda menurut Pasal 7 ayat (1) UU Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah salah satu jenis perundang-undangan. (UUD 2004).

Pada tahun 1620 Gubernur Jenderal VOC telah membentuk BAILLUW yaitu semacam Polisi yang merangkap Jaksa dan Hakim yang bertugas untukmenangani perselisihan hukum antara warga dan dan VOC juga menjagaketertiban dan ketentraman warga kota. Pasca Raffles (1815) BAILLUW ini terus berkembang menjadi organisasi yang tersebar disetiap Keresidenan dengan dikendalikan sepenuhnya oleh Resident dan asisten Resident. Satuan baru lainnya yang disebut BESTURPOLITIE atau Polisi Pamong Praja yang dibentuk dengan tugas membantu Pemerintah Kewedanan untuk melakukan tugas ketertiban dan keamanan.Keberadaan Polisi Pamong Praja dimulai pada eraKolonial sejak VOC menduduki Batavia di bawah pimpinan Gubernur Jenderal PIETER BOTH, bahwa kebutuhan memelihara Ketentraman dan Ketertiban penduduk sangat diperlukan karena pada waktu itu Kota Batavia sedang mendapat

(18)

serangan secara sporadis baik dari pendduduk lokal maupun tentara Inggris sehingga terjadi peningkatan terhadap gangguan Ketenteraman dan Keamanan (Http//:Sejarah Satpol PP.)

2.1.1 Tugas dan Kewenangan Satuan Polisi Pamong Praja

Tugas SatPol PP yaitu menegakkan peraturan daerah dan menyelenggarakan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat serta perlindungan masyarakat (PP No.6 2010) SatPol PP memiliki kewenangan dalam penegakan hukum Perda karena SatPol PP adalah pejabat Pemerintah Pusat yang ada di daerah yang melaksanakan urusan pemerintahan umum. Dengan adanya kedudukan di atas maka dapat disimpulkan bahwa Polisi Pamong Praja berwenang: (PP No.6 2010)

a. Melakukan tindakan penertiban nonsustisial terhadap warga masyarakat, aparatur, atau badan hukum yang melakukan pelanggaran atas Perda dan atau peraturan kepala daerah,

b. Menindak warga masyarakat, aparatur, atau badan hukum yang mengganggu ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat,

c. Fasilitasi dan pemberdayaan kapasitas penyelenggaraan perlindungan masyarakat,

d. Melakukan tindakan penyelidikan terhadap warga masyarakat, aparatur, atau badan hukum yang diduga melakukan pelanggaran atas Perda dan atau peraturan kepala daerah.

e. Melakukan tindakan administratif terhadap warga masyarakat, aparatur, atau badan hukum yang melakukan pelanggaran atas Perda atau peraturan kepala daerah.

(19)

2.2 Kebugaran Jasmani

Kebugaran jasmani adalah kemampuan untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan sehari-hari dan adaptasi terhadap pembebanan fisik tanpa menimbulkan kelelahan yang berlebih dan masih mempunyai cadangan untuk menikmati waktu senggang maupun pekerjaan yang mendadak serta bebas dari penyakit (Annas, 2011: 25).

Sedangkan menurut Purwanto (2012: 25) Kebugaran jasmani merupakan kemampuan seseorang pada saat menghadapi aktivitasnya, dimana orang yang dalam kondisi “fit” dapat melakukan pekerjaannya secara berulang dengan tidak menyebabkan kelelahan dan masih mempunyai cadangan tenaga untuk mengatasi kelelahan yang tidak terduga sebelumnya. Dikatakan fit (memiliki kebugaran jasmani) adalah orang yang dapat memenuhi kebutuhan, kesanggupan, kemampuan dan ketahanan yang baik untuk melakukan secara efisien tanpa menimbulkan kelelahan yang berarti.

Lutan (2002: 7) “mengatakan bahwa kebugaran jasmani (yang terkait dengan kesehatan) adalah kemampuan seseorang untuk melakukan tugas fisik yang memerlukan kekuatan, daya tahan dan fleksibilitas”. Menurut Irianto (2004:2) “kebugaran fisik (physical fitness) yaitu kemampuan seseorang untuk dapat melakukan kerja sehari-hari secara efisien tanpa menimbulkan kelelahan yang berlebihan sehingga masih dapat menikmati waktu luangnya”.

Dari definisi tersebut, disimpulkan bahwa kebugaran jasmani merupakan kemampuan pada tubuh seseorang untuk melakukan aktivitas sehari-hari dengan tidak menimbulkan kelelahan yang berarti, sehingga tubuh masih mempunyai

(20)

tenaga untuk mengatasi beban kerja tembahan atau berikutnya. Tanpa menimbulkan beban yang berarti yang dimaksud adalah setelah melakukan aktivitas seseorang masih mempunyai cukup energi dan semangat menjalani aktivitas selanjutnya setiap harinya (Supriyanto, 2016: 32).

2.2.1 Klasifikasi Kebugaran Jasmani.

Kebugaran jasmani diklasifikasikan menjadi 2 yaitu :

1) Kebugaran jasmani yang berhubungan dengan kesehatan antara lain: daya tahan kardiovaskular, daya tahan otot, kelenturan, dan komposisi tubuh (Pramono, 2012: 23).

2) Kebugaran jasmani yang berhubungan dengan ketrampilan gerak yaitu:

kecepatan, kelincahan, kecepatan reaksi, daya tolak, keseimbangan, ketepatan, koordinasi (Penggalih dkk, 2015: 23).

2.2.2 Komponen Kebugaran Jasmani.

Ada beberapa komponen kebugaran jasmani dan itu sangat penting untuk di ketahui karena komponen-komponen tersebut merupakan penentu baik buruknya tingkat kebugaran jasmani seseorang. Menurut Irianto (2004:4), kebugaran yang berhubungan dengan kesehatan memiliki empat komponen dasar, meliputi:

1) Daya tahan paru jantung 2) Kekuatan dan daya tahan otot 3) Kelentukan

4) Komposisi tubuh

Menurut Lutan (2002: 8), komponen dasar kebugaran jasmani terdiri dari:

1) Daya tahan aerobik 2) Kekuatan otot

(21)

3) Ketahanan otot 4) Fleksibilitas

Menurut Sadoso (2007: 19), kebugaran jasmani mempunyai komponen- komponen:

1) Ketahanan jantung dan peredaran darah (cardiovascular endurance).

2) Kekuatan (strength)

3) Ketahanan otot (muscular endurance) 4) Kelenturan (flexibility)

Pendapat Soebroto (2001: 57), komponen-komponen kebugaran jasmani:

1) Daya tahan terhadap gangguan penyakit 2) Daya tahan otot-otot dalam jangka waktu lama 3) Daya tahan pernafasan dan jantung

4) Kekuatan otot 5) Kelentukan 6) Kecepatan 7) Keterampilan 8) Koordinasi 9) Keseimbangan 10) Ketepatan

Menurut Hinson (2005: 6) bahwa “komponen kebugaran jasmani dibagi atas kebugaran gerak dan kebugaran yang berhubungan dengan kesehatan”.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa komponen kebugaran jasmani adalah unsur-unsur yang dimiliki oleh jasmani dan mampu berfungsi dengan baik untuk menuju kondisi jasmani yang baik pula.

(22)

Komponen-komponen tersebut bersifat saling melengkapi dan untuk memperbaiki tingkat kebugaran jasmani harus melakukan latihan. Ada empat komponen terpenting yang minimal dapat meningkatkan kebugaran jasmani yaitu daya tahan kardiorespirasi, daya tahan otot, kekuatan otot dan fleksibilitas. Dari empat komponen tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Daya Tahan Kardiorespirasi

Semakin baik daya tahan kardiorespirasi yang dimiliki maka semakin lama dalam mendukung aktivitas aerobik (Hinson, 2005: 6). Menurut Irianto (2004: 27), daya tahan paru jantung adalah kemampuan fungsional paru jantung mensuplai oksigen untuk kerja otot dalam waktu lama. Sajoto (1995: 44), daya tahan kardiorespirasi adalah keadaan dimana jantung seseorang mampu bekerja dengan mengatasi beban berat selama suatu kerja tertentu.

2) Daya Tahan Otot

Lutan (2002: 56), daya tahan otot adalah kemampuan sekelompok otot untuk mengerahkan daya maksimum selama periode waktu yang relatif lama terhadap sebuah tahanan yang lebih ringan dari pada beban yang bisa digerakkan oleh seseorang. Sedangkan menurut Irianto (2004: 35), daya tahan otot adalah kemampuan sekelompok otot melakukan serangkaian kerja dalam waktu lama.

Sedangkan menurut Lindsey (2013: 6), ketahanan otot adalah kemampuan otot untuk berkali-kali digunakan. Orang yang bugar dapat melakukan aktivitas berulang-ulang tanpa kelelahan. Maka penulis menyimpulkan bahwa daya tahan otot adalah kemampuan untuk melakukan kontraksi yang beturut-turut dalam waktu yang cukup lama.

(23)

3) Kekuatan Otot

Menurut pendapat Irianto (2004: 35), kekuatan otot adalah kemampuan sekelompok otot melawan beban dalam satu usaha. Sedangkan pendapat Lutan (2002: 56), kekuatan otot adalah kemampuan seseorang untuk mengerahkan daya semaksimal mungkin untuk mengatasi sebuah tahanan, secara fisiologis kekuatan otot adalah kemampuan otot atau sekelompok otot untuk melakukan satu kali kontraksi secara maksimal melawan tahanan atau beban. Secara mekanis kekuatan otot didefinisikan sebagai gaya (force) yang dapat dihasilkan oleh otot atau sekelompok otot dalam satu kontraksi maksimal.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kekuatan otot kemampuan seseorang untuk mengerahkan tenaga semaksimal mungkin untuk mengatasi sebuah tahanan atau mengangkat beban.

4) Fleksibilitas

Menurut Irianto (2004: 68), pengertian kelentukan adalah kemampuan persendian untuk bergerak secara leluasa. Sedangkan menurut Lutan (2002: 80), fleksibilitas dapat didefinisikan sebagai kemampuan dari sebuah sendi dan otot, serta tali sendi sekitarnya untuk bergerak dengan leluasa dan nyaman dalam ruang gerak maksimal yang diharapkan. Dari pendapat Sadoso (2007: 21), kelentukan adalah kapasitas fungsional persendian-persendian kita untuk bergerak pada daerah gerak yang maksimal, bergantung pada panjang otot, tendo, dan ligamen persendian. Sedangkan menurut Sajoto (1995: 51), kebugaran kelentukan adalah kemampuan persendian, ligamen, dan tendo di sekitar persendian, melaksanakan gerak seluas-luasnya.

(24)

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa fleksibilitas merupakan kelentukan gerak dari persendian tubuh melalui gerak yang luas jangkauannya tergantung pada pengaturan tendo, ligamenta, jaringan penghubung dan otot-otot. kebugaran jasmani sangat erat kaitannya dengan kegiatan manusia melakukan pekerjaan dan bergerak dan setiap individu tentu tidak sama tergantung kebutuhan dan keadaan seseorang.

Dalam kehidupan sehari-hari, kondisi kebugaran jasmani menggambarkan keadaan anak mampu melakukan aktivitas belajar mulai pagi sampai siang hari atau mulai siang sampai sore hari, kemudian anak masih sanggup untuk melakukan aktivitas fisik lainnya seperti jalan-jalan, olahraga, dan kegiatan pengisi waktu luang lainnya. Jadi manfaat kebugaran jasmani adalah untuk meringankan tugas fisik dalam melakukan aktivitas sehari-hari sehingga tidak mengalami kelelahan yang berarti.

Beberapa komponen kebugaran jasmani antara lain :

1. Kelincahan yaitu kemampuan tubuh seseorang untuk berpindah posisi dan arah secepat mungkin sesuai dengan kondisi yang dihadapi. Kelincahan dapat diukur dengan cara bolak-balik secepat mungkin sebanyak 6 – 8 kali (jaraknya 4 – 5 meter) (Hapsari, 2014: 31).

2. Daya ledak (power) merupakan gabungan dari kekuatan dan kecepatan dimana kemampuan yang dilakukan dapat semaksimal mungkin. Bentuk latihannya yaitu melompat dengan dua kaki, melompat dengan satu kaki bergantian, melompat jongkok, melompat dua kaki dengan box (Hapsari, 2014: 33).

(25)

3. Daya tahan (endurance) yaitu kemampuan tubuh seseorang untuk melawan kelelahan yang timbul saat melakukan aktivitas dalam waktu yang cukup lama (Pramono, 2012: 19).

4. Kecepatan adalah dimana seseorang mampu melakukan suatu gerakan yang berkesinambungan dalam waktu yang singkat (Penggalih, 2015: 23).

5. Kekuatan otot merupakan kemampuan yang dimiliki sekelompok otot tersebut untuk melakukan aktivitas dengan beban yang diterima (Pramono, 2012: 21).

6. Daya tahan kardiorespirasi merupakan keadaan dimana kardiovaskuler dapat melakukan aktivitasnya dengan cara mengatasi beban yang berat selama waktu tertentu (Pramono, 2012: 22)

7. Kelenturan adalah efektifitas seseorang dalam menyesuaikan dirinya untuk melakukan semua aktivitasnya dengan penguluran seluas-luasnya terutama otot dan ligamen disekitar persendian (Penggalih, 2015).

2.2.3 Faktor yang Mempengaruhi Kebugaran Jasmani.

Komponen kebugaran jasmani dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya (Shomoro & Mondal, 2014: 56):

1) Umur.

Penurunan dan kenaikan tingkat kebugaran jasmani seseorang dapat dipertahankan apabila rajin melakukan olahraga. Tingkat kebugaran jasmani akan mencapai maksimal pada usia 30 tahun.

2) Jenis Kelamin.

(26)

Laki-laki setelah mengalami pubertas tingkat kebugaran jasmani akan jauh lebih baik dibandingkan dengan perempuan karena disebabkan adanya perbedaan dengan perkembangan otot dan kekuatan otot.

3) Merokok.

Adanya nikotin dalam rokok akan memperbesar pengeluaran energi dalam tubuh dan kadar karbondioksida yang terhisap juga dapat mempengaruhi daya tahan tubuh seseorang.

4) Status Kesehatan.

Adanya gangguan fungsi pada tubuh seseorang akan mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melakukan aktivitas. Oleh sebab itu kesehatan seseorang juga akan mempengaruhi tingkat kebugaran jasmani.

5) Aktivitas Fisik.

Olahraga adalah salah satu aktivitas fisik yang dapat mempengaruhi tingkat kebugaran jasmani karena energi yang digunakan selama melakukan kegiatan sangat bermanfaat untuk tubuh. Intensitas, durasi dan frekuensi yang baik akan mempengaruhi perkembangan kebugaran jasmani.

6) Obesitas.

Penggunaan tenaga yang lebih banyak akan membuat kebutuhan oksigen jauh lebih besar yang akan memacu jantung untuk bekerja lebih keras. Hal tersebut dapat dialami pada seseorang yang mempunyai berat badan berlebih atau disebut juga dengan obesitas yang cenderung mempunyai tingkat kebugaran jasmani lebih rendah.

e. Kategori Kebugaran Jasmani.

(27)

Menurut Halim, (2013: 54) terdapat 5 kategori kebugaran jasmani yaitu : 1) Kategori Sangat Kurang.

Seseorang yang kurang melakukan aktifitas fisik atau malas, biasanya selalu duduk berjam jam di depan televisi, orang yang banyak makan, pecandu rokok dan alkohol dan tidak berolahraga sama sekali.

2) Kategori Kurang.

Seseorang yang melakukan olahraga hanya musiman atau hanya karena pergaulan, dan orang yang tidak memanfaatkan waktu senggang untuk berolahraga

3) Kategori Sedang.

Seseorang yang memanfaatkan waktu senggangnya untuk berolahraga, rajin berjalan kaki dipagi hari, orang yang dapat memelihara kondisi kesehatannya.

4) Kategori Baik.

Seseorang yang tekun berlatih dan berusaha keras dalam bentuk latihan olahraga agar berprestasi, orang yang sebagian waktu besarnya hanya untuk melakukan kegiatan berolahraga.

5) Kategori Sangat Baik.

Seseorang yang berolahraga secara kompetitif, orang yang selalu meningkatkan kondisi tubuh, selalu aktif dalam tiga olahraga besar (lari, renang dan sepeda) orang yang termasuk dalam kategori ini tidak perlu lagi program kondisi apapun dalam mengejar kebugaran jasmani.

(28)

Menurut Irianto (2004: 7), untuk mendapatkan kebugaran yang memadahi diperlukan perencanaan sistematik melalui pemahaman pola hidup sehat, yang meliputi: makan, istirahat, dan berolahraga.

1) Makan

Makanan merupakan kebutuhan pokok setiap manusia, namun untuk memelihara tubuh agar menjadi sehat makanan harus memenuhi beberapa syarat yaitu: 1) Dapat untuk pemeliharaaan tubuh, 2) Dapat menyediakan untuk pertumbuhan tubuh, 3) Dapat untuk mengganti keadaan tubuh yang sudah aus dan rusak, 4) Mengandung unsur-unsur yang diperlukan oleh tubuh, 5) Dapat sebagai sumber penghasil energi.

Setiap aktivitas tubuh membutuhkan asupan energi yang memadahi, sehingga faktor makanan ini harus mendapatkan perhatian yang serius.

Konsumsi makanan yang terprogam dan terkontrol dengan baik dapat mendukung meningkatkan tingkat kebugaran jasmani seseorang, oleh karena itu unsur-unsur gizi seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air harus benar benar tersedia dalam tubuh dan mencukupi untuk beraktivitas.

2) Istirahat

Tubuh manusia tersusun atas organ, jaringan, dan sel yang memiliki kemampuan kerja terbatas. Seseorang tidak akan mampu bekerja terus menerus sepanjang hari tanpa berhenti. Kelelahan adalah salah satu indikator keterbatasan fungsi tubuh manusia. Untuk itu, istirahat sangat diperlukan agar tubuh memiliki kesempatan melakukan recovery (pemulihan) sehingga dapat melakukan kerja atau aktivitas

(29)

sehari-hari dengan nyaman. Dalam sehari semalam, umumnya seseorang memerlukan istirahat 7 hingga 8 jam.

3) Berolahraga

Olahraga adalah suatu bentuk kegiatan fisik yang mempunyai pengaruh positif terhadap tingkat kebugaran jasmani manusia bila dilakukan dengan tepat dan terarah, karena dengan berolahraga semua organ tubuh kita akan bekerja dan terlatih. Kebanyakan pada masa sekarang ini orang cenderung disibukan oleh aktivitas keseharian yang kurang gerak padahal olahraga dapat membebaskan kita dari perasaan yang membelenggu kita, dan melancarkan system peredaran darah sehingga pikiran kita akan menjadi lebih segar serta fisik kita tetap terjaga. Kosasih (2005: 58), mengatakan bahwa bagi individu yang melakukan olahraga untuk memperbaiki kebugaran jasmani, membutuhkan: 1) Intensitas latihan 70-85% dari denyut nadi maksimal (DNM). DNM = 220-umur (dalam tahun). 2) Lamanya latihan antara 20- 30 menit. 3) Frekuensi latihan 3 kali seminggu. Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa kebugaran jasmani dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor, antara lain: makan, istirahat, dan berolahraga yang meliputi intensitas latihan, lamanya latihan, dan frekuensi latihan.

2.2.4 Manfaat kebugaran Jasmani

Bagi satpol PP sesegaran jasmani merupakan unsure dasar yang harus dimiliki dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Anggota yang memiliki kebugaran jasmani yang baik, dapat melakukan tugasnya sehari-hari dengan baik

(30)

baik pula. Sebaliknya siswa yang memiliki kebugaran jasmani yang kurang baik, tidak dapat melakukan tugasnya dengan baik pula.

Manfaat kebugaran jasmani dapat dibedakan menurut jenis pekerjaan, keadaan dan usia.

1) Manfaat kebugaran jasmani yang berhubungan dengan pekerjaan terdiri antara lain :

a) Pelajar atau mahasiswa untuk meningkatkan kemauan dan kemampuan belajar.

b) Olahragawan untuk meningkatkan prestasi olahraga.

c) Karyawan, pegawai, petani untuk meningkatkan efisiensi kerja.

2) Manfaat kebugaran jasmani yang berkaitan dengan keadaan atau kondisi tubuh.

3) Manfaat kebugaran jasmani yang dihubungkan dengan usia.

a) Anak-anak untuk membantu perkembangan dan pertumbuhan.

b) Orang tua dan lansia untuk mempertahankan kondisi fisik.

Berdasarkan beberapa pendapat tentang manfaat kebugaran jasmani bahwa tujuanya adalah untuk membantu meningkatkan kebugaran, prestasi kerja, dan olahraga. Berdasarkan dengan usia, kebugaran jasmani dapat membantu dalam pertumbuhan dan perkembangan serta mempertahankan kondisi fisik.

2.3 Penelitian relevan

1. Endang Rini Sukamti. 2016. Profil Kebugaran Jasmani Dan Status Kesehatan Instruktur Senam Aerobik Di Yogyakarta. Hasil pengukuran IMT menunjukkan bahwa sebanyak 5 orang (25%) subjek berkategori normal, 7 orang (35%) berkategori overweight, dan sebanyak 8 orang (40%) berkategori

(31)

obesitas. Rerata lingkar perut pada laki-laki adalah 69,8 cm, sedangkan nilai rerata pada perempuan adalah 70,37 cm. Hasil pengukuran persen lemak tubuh menunjukkan nilai rerata persen lemak tubuh sebesar 14,92% pada subjek laki-laki dan 31,31% pada perempuan. Seluruh subyek memiliki tekanan darah yang normal (< 140/90) dan nadi istirahat yang normal (<100 kali/menit). Nilai rerata gula darah puasa pada subjek yaitu 104 mg/dl dan rerata asam urat pada subjek yaitu dengan nilai 5,35 mg/dl. Pengukuran kebugaran kardiovaskular menunjukkan bahwa rerata VO2 max subjek adalah 29 kg/m 2

2. Santosa Giriwijoyo. 2010. Konsep Dan Cara Penilaian Kebugaran Jasmani Menurut Sudut Pandang Ilmu Faal Olahraga. Pada Tes Kesegaran Jasmani Indonesia (TKJI) tidak jelas konsep dasar fisiologi dan cara penilaiannya.

Kesalahan yang nyata ialah memposisikan butir (item) tes kemampuan aerobik sebagai salah satu dari 5 (lima) butir TKJI. Dengan demikian maka kontribusi peran fungsional kemampuan aerobik menjadi hanya 20 % saja (100 % : 5) dari seluruh nilai TKJI itu, sedangkan sesungguhnya kontribusi peran itu adalah 50%. Sebaliknya kontribusi peran fungsional kemampuan anaerobic menjadi sebesar 80%, sedangkan sesungguhnya kepentingan peran fungsional kemampuan anaerobik dan aerobik adalah setara, yaitu masing- masing 50%.

3. I Ketut Sudiana. 2014. Peran Kebugaran Jasmani Bagi Tubuh. VO2 max yang baik merupakan indikasi kebugaran fisik seseorang itu baik. Unsur yang paling penting dalam kebugaran jasmani adalah daya tahan cardiorespirasi atau cardiovasculer. Daya tahan cardiorespirasi ini dipengaruhi oleh berapa

(32)

faktor fisiologis antara lain: 1).Keturunan, diketahui bahwa 93,4% VO2 max diitentukan oleh faktor genetik; 2).Usia, daya tahan cardiorespirasi meningkat pada usia anak-anak dan kemudian mencapai puncaknya pada usia 18-20 tahun. Anak-anak yang masih tumbuh dan berkembang (13 tahun) bila berlatih akan meningkatkan VO2 max 10-20% lebih besar dari yang tidak terlatih; 3).Jenis kelamin selama akil baliq tidak ada perbedaan antara VO2 max antara anak laki -laki dan perempuan. Setelah usia ini VO2 max perempuan hanya kira-kira 70-75% laki-laki; 4).Aktivitas fisik, laju pemakian oksigen (O2) meningkat sejalan dengan meningkatnya intensitas kerja tergantung sampai tingkat maksimal. Pemakian oksigen (O2) maksimal atau kerja, aerobik maksimal sangat bervariasi bagi masing-masing individu dan meningkat dengan pelatihan yang sesuai.

(33)

23 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di lapangan Stadion Mini Kota Jambi pada bulan Maret 2021.

3.2 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang menggunakan metode survei dan teknik pengumpulan datanya menggunakan tes dan pengukuran, sehingga memberikan gambaran mengenai apa yang akan diteliti berupa angka-angka dan diukur secara pasti. Metode penelitian deskriptif kuantitatif dirancang untuk mengumpulkan informasi tentang keadaan nyata sekarang. Menurut Arikunto (2014: 245), menyatakan bahwa pada umumnya penelitian deskriptif merupakan penelitian non hipotesis, sehingga dalam langkah penelitiannya tidak perlu merumuskan hipotesis.

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian 3.3.1. Populasi

Menurut Arikunto (2014: 130), populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Sedangkan menurut Sugiyono ( 2013: 80 ) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah semua anggota Satuan Polisi Pamong Praja Kota Jambi yang berjumlah 20 Orang.

(34)

3.3.2. Sampel

Menurut Arikunto (2014: 131), sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Menurut Arikunto (2014: 139), purposive sampling dilakukan dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan atas strata, random atau daerah tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu. Sampel dalam penelitian ini adalah semua anggota Satuan Polisi Pamong Praja Kota Jambi yang berjumlah 20 Orang.

3.4 Instrumen Penelitian

Instrumen sebagai media bantu pengambilan data harus dapat memberikan informasi tentang responden sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Menurut Arikunto (2014: 150) Instrumen dibagi menjadi dua macam,yaitu test dan non test (bukan test). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan tes TKJI yang terdiri 6 Item tes Usia 17-21 tahun (Ahmad, 2020).

Adapun tes yang dilakukan yaitu:

1. Push up 2. Shit Up 3. Bleep Tes 4. Vertical Jump 5. Lari 60 meter 6. Pull UP

(35)

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode survei dengan instrumen tes dan pengukuran. Pengumpulan data yang menggunakan metode survei mempuyai tujuan untuk menetapkan atau mempertajam suatu rencana.

Pengambilan data penelitian ini dilaksanakan di GOS Kota Baru Kota Jambi.

Pelaksanaan dari masing-masing tes tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Lari 60 Meter (Sprint) a. Tujuan

Kemampuan lari dengan cepat dari posisi tak bergerak dibutuhkan di dalam permaian beregu, misalnya bola keranjang dan permaian bola kriket.

Kecepatan juga penting di dalam beberapa cabang olahraga yang membutuhkan ledakan aktifitas yang pendek dengan intensitas tinggi.

b. Peralatan 1) Stopwatch

2) Kerucut pembatas atau patok 10 buah

3) Lintasan lari 60 meter yang lurus, datar dan ditempatkan pada cross wind.

Apabila permukaan yang digunakan berumput, rumput harus dalam keadaan kering.

c. Prosedur

1) Berilah tanda lintasan lari sepanjang 60 meter dengan kerucut pembatas ditempatkan pada tiap interval 10 meter.

(36)

2) Tiap teste melakukan start dengan posisi berdiri, dan kaki depan tepat berada diatas garis start.

3) Pemeberian tanda waktu berdiri pada garis finish, meneriakkan aba-aba

“siap” dan mengayunkan bendera untuk memberi tanda start pada teste.

Pada saat lengan diayunkan, pemberi tanda waktu secara bersamaan mulai menghidupkan stopwatch yang dipegang.

4) Hentikan stopwatch pada saat dada teste telah melewati finish.

5) Tekankan kepada teste agar lari secepat mungkin.

6) Teste diperbolehkan melakukan maksimal dua kali.

d. Penilaian

Catatlah waktu yang diperlukan pada pelaksanaan yang paling cepat dengan ketelitian 0,1 detik yang terdekat.

Gambar 3.1 Sprint 60 meter Tabel 3.1 Norma Tes Lari 60 meter

No Nilai Norma Skor

1 sd- 7.2 detik Baik Sekali 5

2 7.3 – 8.3 detik Baik 4

3 8.4 – 9.6 detik Cukup 3

4 9.7 – 11.0 detik Sedang 2

5 11.1 – dst Kurang 1

Sumber: (Ahmad, 2020:20)

2. Push Up

(37)

a. Tujuan

Mengukur kekuatan dan daya tahan tubuh bagian atas.

b. Peralatan

Lantai yang datar (matras), stopwatch, dan alat tulis.

c. Prosedur Pelaksanaan Posisi awal:

1) Teste berdiri berhadapan, sehingga salah satu diantara mereka dapat menjadi penghitung gerakan.

2) Teste menelungkup dan menempatkan telapak tangan di lantai di bawah dada peserta test. Kedua tangan peserta test terletak dilantai di bawah kedua bahunya.

3) Siku dipertahankan atau dikunci dalam keadaan lengan yang diluruskan.

Seluruh tubuh lurus, tidak ada bagian tubuh yang menyentuh lantai kecuali kedua tangan dan tumitnya. Kedua kaki diregangkan selebar bahu.

Pelaksanaan:

1) Peserta test membengkokkan lengannya, badan diturunkan sampai dadanya dapat menyentuh tangan penghitung dan dorong kembali ke posisi awal.

2) Tubuh harus tetap dipertahankan dengan lurus sepanjang melakukan gerakan. Teste melakukan tes sebanyak mungkin tanpa harus berhenti.

d. Penilaian

Nilai yang diberikan didasarkan atas jumlah pengulangan yang dilakukan dengan benar selama 60 detik.

Tabel 3.2 Norma Penilaian Push UP

(38)

No Nilai Norma Skor

1 >38 Baik Sekali 5

2 29 – 37 Baik 4

3 20 – 28 Cukup 3

4 12 – 19 Sedang 2

5 4 – 11 Kurang 1

Sumber: (Ahmad, 2020:29)

Gambar 3.2 Penilaian Push Up Sumber: (Ahmad, 2020:29)

3. Sit Up a. Tujuan

Mengukur daya tahan dan kekuatan otot perut (abdominal).

b. Peralatan

Lantai yang datar (matras), stopwatch, dan alat tulis.

c. Prosedur Pelaksanaan

Peserta tidur terlentang dengan lutut ditekuk dan kedua kaki selebar kurang lebih 25 cm. kedua jari-jari tangan dihubungkan dan diletakkan di belakang kepala.

Teman memegang kedua pergelangan kakinya dan menekan agar telapak kaki tetap melekat di lantai selama melakukan sit up. Dan sikap awal di mulai gerakan sit up dengan menyentuhkan siku kanan ke lutut kiri dan kemudian kembali ke sikap awal. Berikutnya siku kiri disentuhkan ke lutut kanan.

(39)

d. Penilaian

Jumlah sit up yang benar dihitung dalam 60 detik yang dicatat.

Tabel 3.3 Norma Penilaian Sit Up

No Nilai Norma Skor

1 >30 Baik Sekali 5

2 26 – 30 Baik 4

3 20 – 25 Cukup 3

4 17 – 19 Sedang 2

5 <17 Kurang 1

Sumber: (Ahmad, 2020:29)

Gambar 3.3 Penilaian Sit Up Sumber: (Ahmad, 2020:29)

4. Vertical Jump a. Tujuan

Untuk mengukur daya ledak/tenaga eksplosif.

b. Peralatan

1) Papan berskala cm, warna gelap, ukuran 30 x 150 cm. dipasang pada dinding yang rata atau tiang. Jarak antara lantai dengan nol pada papan tes adalah 150 cm.

(40)

2) Serbuk kapur.

3) Alat penghapus papan tulis.

4) Alat tulis.

c. Prosedur Pelaksanaan

1) Terlebih dahulu ujung jari peserta diolesi dengan serbuk kapur/magnesium karbonat.

2) Peserta berdiri tegak dekat dinding, kaki rapat, papan berskala berada pada sisi kanan/kiri badan peserta. Angkat tangan dan ditempelkan pada papan skala hingga meninggalkan bekas jari.

3) Peserta mengambil awalan dengan sikap melakukan ayunan lengan ke belakang.

4) Kemudian peserta meloncat setinggi mungkin sambil menepuk papan dengan tangan yang terdekat sehingga menimbulkan bekas.

5) Lakukan tes ini sebanyak 3 kali kesempatan tanpa istirahat atau boleh diselingi dengan peserta yang lain.

d. Penilaian

1) Selesih raihan loncatan dikurangi raihan tegak.

2) Ketiga selisih hasil tes dicatat.

3) Masukan hasil selisih yang paling besar.

Tabel 3.4 Norma Penilaian Vertical Jump

No Nilai Norma Skor

1 >70 Baik Sekali 5

2 62 – 69 Baik 4

3 53 – 61 Cukup 3

4 46 – 52 Sedang 2

5 38 – 45 Kurang 1

(41)

Sumber: (Ahmad, 2020:26)

Gambar 3.4. Vertical Jump Sumber: (Ahmad, 2020:26)

5. Bleep Test

a. Panduan atau Cara Melakukan MFT | Bleep Test - Multistage Fitness Test atau Bleep Test

Tes yang digunakan untuk mengetahui tingkat kebugaran jasmani seseorang.

Biasanya tes ini banyak dipakai untuk olahraga seperti bola basket, sepak bola, voly dan lainnya. Tes MFT dapat dilakukan terhadap beberapa orang sekaligus asalkan pengetes dapat mencatat dengan tepat dan cermat setiap tahapan tes dan dapat menghentikannya dengan tepat sesuai ketentuan tes MFT. Berikut dijelaskan tentang beberapa tindakan pencegahan, perlengkapan tes, persiapan pelaksanaan tes, persiapan peserta sebelum dan sesudah tes dan pelaksanaan.

(42)

b. Beberapa Tindakan Pencegahan

1) Peserta harus dalam kondisi sehat.

2) Pengetes perlu menggugah motivasi dan perhatian peserta tes, agar mereka melakukan tes dengan sungguh-sungguh

c. Perlengkapan Tes

olahraga atau tanah datar yang tidak licin sepanjang 20 meter.

2) Pengeras suara dan tape recorder.

3) Panduan tes MFT.

d. Persiapan Pelaksanaan Tes

1) Ukur panjang lintasan lari adalah 20 meter dan beri tanda di kedua ujungnya.

2) Pastikan panduan tes MFT telah diseting dengan benar.

3) Sebelum melakukan tes jangan makan selama dua jam sebelum mengikuti tes, pakai pakaian olahraga dan sepatu olahraga yang tidak licin.

4) Melakukan peregangan terutama untuk otot-otot tungkai sebelum melaksanakan tes. Disarankan juga untuk melakukan pemanasan secara umum sehingga secara fisik dan mental siap melakukan tes.

5) Setelah melakukan tes lakukan pendinginan dengan melakukan peregangan.

e. Pelaksanaan Tes

1) Hidupkan tape recorder yang berisi panduan tes MFT mulai dari awal lalu ikuti petunjuknya.

(43)

2) Pada bagian permulaan, jarak dua sinyal tut menandai suatu interval satu menit yang terukur secara akurat.

3) Selanjutnya terdengan penjelasan ringkas mengenai pelaksanaan tes yang mengantarkan pada perhitungan mundur selama lima detik menjelang dimulainya tes.

4) Setelah itu akan keluar sinyal tut pada beberapa interval yang teratur.

5) Peserta tes diharapkan berusaha agar dapat sampai ke ujung yang berlawanan bertepatan dengan sinyal tut yang pertama berbunyi, untuk kemudian berbalik dan berlari ke arah yang berlawanan.

6) Setiap kali sinyal tut berbunyi peserta tes harus sudah sampai di salah satu ujung lintasan lari yang di tempuhnya.

7) Selanjutnya interval satu menit akan berkurang sehingga untuk menyelesaikan level selanjutnya peserta tes harus berlari lebih cepat.

8) Setiap kali peserta tes menyelesaikan jarak 20 meter, posisi salah satu kaki harus tepat menginjak atau melewati batas 20 meter, selanjutnya berbalik dan menunggu sinyal berikutnya untuk melanjutkan lari ke arah berlawanan.

9) Setiap peserta tes harus berusaha bertahan selama mungkin, sesuai dengan kecepatan yang telah diatur. Jika peserta tes tidak mampu berlari mengikuti kecepatan tersebut maka peserta harus berhenti atau dihentikan dengan ketentuan :

10) Jika peserta tes gagal mencapai dua langkah atau lebih dari garis batas 20 meter setelah sinyal tut berbunyi, pengetes memberi toleransi 1 x 20 meter, untuk memberi kesempatan peserta tes menyesuaikan kecepatannya.

(44)

11) Jika pada masa toleransi itu peserta tes gagal menyesuaikan kecepatannya, maka dia dihentikan dari kegiatan tes.

12) Tanda batas jarak.

Level No Balikan 1 1 2 3 4 5 6 7 2 1 2 3 4 5 6 7 8 3 1 2 3 4 5 6 7 8 4 1 2 3 4 5 6 7 8 9 5 1 2 3 4 5 6 7 8 9 6 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 7 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 8 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 9 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 10 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Tabel 3.5. Norma Penilaian VO2 Max

Tabel 3.6. Norma Penilaian VO2 Max

7. Pull Up a. Tujuan

Tes ini bertujuan untuk mengukur kekuatan dan ketahanan otot lengan dan bahu.

(45)

b. Alat dan fasilitas 1) Lantai rata dan bersih

2) Palang tunggal yang dapat diatur ketinggiannya yang disesuaikan dengan ketinggian peserta. Pipa pegangan terbuat dari besi ukuran ¾ inchi

3) Stopwatch

4) Serbuk kapur atau magnesium karbonat 5) Alat tulis

c) Petugas tes

1. Pengamat waktu

2. Penghitung gerakan merangkap pencatat hasil

d) Pelaksanaan Tes Gantung Angkat Tubuh 60 detik (Untuk Putra) Pull up

1) Sikap permulaan Peserta berdiri di bawah palang tunggal. Kedua tangan berpegangan pada palang tunggai selebar bahu. Pegangan telapak tangan menghadap ke arah letak kepala

2) Gerakan (Untuk Putra)

a) Mengangkat tubuh dengan membengkokkan kedua lengan, sehingga dagu menyentuh atau berada di atas palang tunggal (lihat gambar 4) kemudian kembali ké sikap permulaan. Gerakan ini dihitung satu kali.

b) Selama melakukan gerakan, mulai dan kepala sampai ujung kaki tetáp merupakan satu garis lurus.

c) Gerakan ini dilakukan berulang-ulang, tanpa istirahat sebanyak mungkin selama 60 detik.

3) Angkatan dianggap gagal dan tidak dihitung apabila:

a) pada waktu mengangkat badan, peserta melakukan gerakan mengayun

(46)

b) pada waktu mengangkat badan, dagu tidak menyentuh palang tunggal c) pada waktu kembali ke sikap permulaan kedua lengan tidak lurus e) Pencatatan Hasil

1) yang dihitung adalah angkatan yang dilakukan dengan sempurna.

2) yang dicatat adaiah jumlah (frekuensi) angkatan yang dapat dilakukan dengan sikap sempurna tanpa istirahat selama 60 detik.

3) Peserta yang tidak mampu melakukan Tes angkatan tubuh ini, walaupun teiah berusaha, diberi nilai nol (0).

h) Penilaian

Tabel 3.7 Norma Penilaian Pull up

No Nilai Norma Skor

1 > 38 Baik Sekali 5

2 29 – 37 Baik 4

3 20 – 28 Cukup 3

4 15 – 19 Sedang 2

5 4 – 14 Kurang 1

Sumber: (Ahmad, 2020:26)

Gambar 3.5 Penilaian Pull up Sumber: (Ahmad, 2020:26)

(47)

3.6. Teknik Analisis Data

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk memberikan gambaran realita yang ada tentang tingkat kebugaran jasmani.

Teknik analisis data yang digunakan adalah statistik deskriptif. Statistik deskriptif ini dilakukan untuk mengumpulkan data, menyajikan data dan menentukan nilai.

Selanjutnya dipakai pada pembahasan permasalahan dengan mengacu pada standar kebugaran jasmani yang sudah ditentukan.

Untuk mengetahui berapa persen besarnya kebugaran jasmani pemain dengan rumusan frekuensi sebagai berikut:

P =N x 100%

f Dimana:

P = Besarnya persentase

f = Jumlah subyek yang ada pada kategori tertentu N = Frekuensi total atau keseluruhan

(48)

38 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian

Berdasarkan serta uraian yang telah dikumpulkan sebelumnya maka didalam bab ini akan dilakukan analisa pembahasan yang diperoleh dalam penelitian ini. Hasil penelitian akan digambarkan sesuai dengan tujuan dan yang diajukan sebelumnya mengenai Tingkat Kebugaran Jasmani Satuan Polisi Pamong Praja Kota Jambi. Gambaran dari data dalam kelompok dapat dilihat pada diskripsi berikut ini :

4.1.1 Hasil Tes Kebugaran Jasmani

Hasil tes kebugaran jasmani yang didapatkan dari Satuan Polisi Pamong Praja Kota Jambi dengan jumlah 20 orang dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Tes Push Up

Hasil tes kebugaran jasmani yang diperoleh melalui tes pada sampel sebagai berikut:

Tabel 4.1 Klasfikasi kebugaran jasmani Push Up

No

Klasifikasi Lari

60 meter Norma Fi %

1. Baik Sekali >38 0 0%

2. Baik 29 – 37 16 80%

3. Cukup 20 – 28 4 20%

4. Sedang 12 – 19 0 0%

5. Kurang 4 – 11 0 0%

Jumlah 20 100%

(49)

Gambar 4.1 Diagram Kebugaran Jasmani Push Up

Berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan kebugaran jasmani tes push up dari 20 orang yang memiliki kategori Baik sebanyak 16 orang dengan persentasi 80%, yang memiliki kategori sedang sebanyak 4 orang dengan persentasi 20%.

2. Tes Shit Up

Hasil tes kebugaran jasmani shit up yang diperoleh melalui tes pada sampel sebagai berikut:

Tabel 4.2 Klasfikasi kebugaran jasmani shit up

No

Klasifikasi kebugaran jasmani

shit up

Norma Fi %

1. Baik Sekali >30 0 0%

2. Baik 26 – 30 18 90%

3. Cukup 20 – 25 2 10%

4. Sedang 17 – 19 0 0%

5. Kurang <17 0 0%

Jumlah 20 100%

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

70%

80%

Baik Sekali Baik Cukup Sedang Kurang

Persentase

Klasfikas

(50)

Gambar 4.2 Diagram kebugaran jasmani shit up

Berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan kebugaran jasmani shit up dari 20 orang yang memiliki kategori baik sebanyak 18 orang dengan persentasi 90%, kategori cukup sebanyak 2 orang dengan persentasi 10%.

3. Tes Bleep Tes

Hasil tes kebugaran jasmani bleep tes yang diperoleh melalui tes pada sampel sebagai berikut:

Tabel 4.3 Klasfikasi Kebugaran Jasmani Bleep Tes

No

Klasifikasi kebugaran jasmani

bleep tes

Norma Fi %

1. Baik Sekali 51,6 keatas 0 0%

2. Baik 42,6 – 51,5 12 60%

3. Sedang 33,8 – 42,5 7 35%

4. Kurang 25,0 – 33,7 1 5%

5. Kurang Sekali <25,0 0 0%

Jumlah 20 100%

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

70%

80%

90%

Baik Sekali Baik Cukup Sedang Kurang

Persentase

Klasfikasi

(51)

Gambar 4.3 Diagram Kebugaran Jasmani Bleep Tes

Berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan Kebugaran Jasmani Bleep Tes dari 20 orang yang memiliki kategori baik sebanyak 12 orang dengan persentasi 60%, yang memiliki kategori sedang sebanyak 7 orang degan persentasi 35%, yang memiliki kategori kurang sebanyak 1 orang degan persentasi 5%.

4. Tes Vertical Jump

Hasil tes kebugaran Jasmani vertical jump yang diperoleh melalui tes pada sampel sebagai berikut:

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

70%

Baik Sekali Baik Sedang Kurang Kurang

Sekali

Persentase

Klasfikasi

(52)

Tabel 4.4 Klasfikasi kebugaran Jasmani vertical jump

No

Klasifikasi kebugaran Jasmani

vertical jump

Norma Fi %

1. Baik Sekali >70 0 0%

2. Baik 62 – 69 2 10%

3. Cukup 53 – 61 17 85%

4. Sedang 46 – 52 1 5%

5. Kurang 38 – 45 0 0%

Jumlah 20 100%

Gambar 4.4 Diagram kebugaran Jasmani vertical jump

Berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan kebugaran Jasmani vertical jump dari 20 orang yang memiliki kategori baik sebanyak 2 orang dengan persentasi 10%, yang memiliki kategori cukup sebanyak 17 orang dengan persentasi 85%, yang memiliki kategori sedang sebanyak 1 orang degan persentasi 5%.

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

70%

80%

90%

Baik Sekali Baik Cukup Sedang Kurang

Persentase

Klasfikasi

(53)

5. Tes Lari 60 meter

Hasil tes kebugaran jasmani lari 60 meter yang diperoleh melalui tes pada sampel sebagai berikut:

Tabel 4.5 Klasfikasi kebugaran jasmani lari 60 meter

No

Klasifikasi kebugaran jasmani

lari 60 meter

Norma Fi %

1. Baik Sekali sd- 7.2 detik 0 0%

2. Baik 7.3 – 8.3 detik 2 10%

3. Cukup 8.4 – 9.6 detik 11 55%

4. Sedang 9.7 – 11.0 detik 7 35%

5. Kurang 11.1 – dst 0 0%

Jumlah 20 100%

Gambar 4.5 Diagram kebugaran jasmani lari 60 meter

Berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan kebugaran jasmani lari 60 meter dari 20 orang yang memiliki kategori baik sebanyak 2 orang dengan persentasi 10%, yang memiliki kategori

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

Baik Sekali Baik Cukup Sedang Kurang

Persentase

Klasfikasi

(54)

cukup sebanyak 11 orang degan persentasi 55%. yang memiliki kategori sedang sebanyak 7 orang degan persentasi 35%.

6. Tes Pull Up

Hasil tes kebugaran jasmani tes pull up yang diperoleh melalui tes pada sampel sebagai berikut:

Tabel 4.6 Klasfikasi kebugaran jasmani tes pull up

No

Klasifikasi kebugaran jasmani

tes pull up

Norma Fi %

1. Baik Sekali > 38 0 0%

2. Baik 29 – 37 0 0%

3. Cukup 20 – 28 7 35%

4. Sedang 15 – 19 13 65%

5. Kurang 4 – 14 0 0%

Jumlah 20 100%

Gambar 4.6 Diagram kebugaran jasmani tes pull up

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

70%

Baik Sekali Baik Cukup Sedang Kurang

Persentase

Klasfikasi

(55)

Berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan kebugaran jasmani tes pull up dari 20 orang yang memiliki kategori cukup sebanyak 7 orang dengan persentasi 35%, yang memiliki kategori sedang sebanyak 13 orang degan persentasi 65%.

7. Tingkat Kebugaran Jasmani Satuan Polisi Pamong Praja Kota Jambi

Tabel 4.7 Tingkat Kebugaran Jasmani Satuan Polisi Pamong Praja Kota Jambi

No Klasifikasi

Kebugaran Jasmani Norma Fi %

1. Baik Sekali 25-30 0 0%

2. Baik 19-24 18 90%

3. Sedang 13-18 2 10%

4. Kurang 7-12 0 0%

5. Sangat Kurang 1-6 0 0%

Jumlah 20 100%

Berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan kebugaran jasmani dari 20 orang yang memiliki kategori baik sebanyak 18 orang dengan persentasi 90%, yang memiliki kategori sedang sebanyak 2 orang degan persentasi 10%.

4.2 Pembahasan

Satuan Polisi Pamong Praja, yang selanjutnya disingkat Satpol PP, merupakan salah satu perangkat yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah dalam memelihara ketentraman dan ketertiban umum serta menegakkan Peraturan Daerah. Organisasi dan tata kerja Satuan Polisi Pamong Praja ditetapkan dengan

(56)

Peraturan Daerah. Satpol PP dapat berkedudukan di Daerah Provinsi dan Daerah atau Kota.

Tugas Sat Pol PP yaitu menegakkan peraturan daerah dan menyelenggarakan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat serta perlindungan masyarakat. Sat Pol PP memiliki kewenangan dalam penegakan hukum Perda karena Sat Pol PP adalah pejabat Pemerintah Pusat yang ada di daerah yang melaksanakan urusan pemerintahan umum.

Lutan (2002: 7) “mengatakan bahwa kebugaran jasmani (yang terkait dengan kesehatan) adalah kemampuan seseorang untuk melakukan tugas fisik yang memerlukan kekuatan, daya tahan dan fleksibilitas”. Menurut Irianto (2004:2) “kebugaran fisik (physical fitness) yaitu kemampuan seseorang untuk dapat melakukan kerja sehari-hari secara efisien tanpa menimbulkan kelelahan yang berlebihan sehingga masih dapat menikmati waktu luangnya”.

Dari definisi tersebut, disimpulkan bahwa kebugaran jasmani merupakan kemampuan pada tubuh seseorang untuk melakukan aktivitas sehari-hari dengan tidak menimbulkan kelelahan yang berarti, sehingga tubuh masih mempunyai tenaga untuk mengatasi beban kerja tembahan atau berikutnya. Tanpa menimbulkan beban yang berarti yang dimaksud adalah setelah melakukan aktivitas seseorang masih mempunyai cukup energi dan semangat menjalani aktivitas selanjutnya setiap harinya (Supriyanto, 2016: 32).

Kebugaran jasmani diklasifikasikan menjadi 2 yaitu :

1) Kebugaran jasmani yang berhubungan dengan kesehatan antara lain: daya tahan kardiovaskular, daya tahan otot, kelenturan, dan komposisi tubuh (Pramono, 2012: 23).

(57)

2) Kebugaran jasmani yang berhubungan dengan ketrampilan gerak yaitu:

kecepatan, kelincahan, kecepatan reaksi, daya tolak, keseimbangan, ketepatan, koordinasi (Penggalih dkk, 2015: 23).

Berdasarkan hasil yang di peroleh bahwa kebugaran jasmani dari 20 orang yang memiliki kategori baik sebanyak 18 orang dengan persentasi 90%, yang memiliki kategori sedang sebanyak 2 orang degan persentasi 10%.

(58)

48 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Setelah dari pembahasan diatas analisis yang dilakukan maka penelitian ini dapat ditarik suatu kesimpulan yaitu: Tingkat Kebugaran Jasmani Satuan Polisi Pamong Praja Kota Jambi berada pada kategori baik 90%.

5.2 Saran

Dari kesimpulan diatas maka dapat disarankan kepada :

1. Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan penulis khususnya dalam bidang kebugaran jasmani SatPol PP di Kota Jambi.

2. Untuk mengetahui anggota SatPol PP yang kebugaran Jasmaninya rendah bias di tingkatkan melalui aktivitas olahraga.

3. Untuk memberikan dasar-dasar serta landasan guna penelitian lebih lanjut.

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti, didapatkan pada kelompok perlakuan yang diberikan latihan trampoline, terdapat peningkatan, sedangkan pada

Hasil penelitian menunjukkan setelah dilakukan penyuluhan pada kelompok intervensi, pada kelompok kontrol di dapat responden dengan pengetahuan baik sebesar 7

Timur yang selanjutnya disebut dengan Kawasan Perbatasan Negara adalah Kawasan Strategis Nasional yang berada di bagian dari wilayah negara yang terletak pada

Untuk analisis keuntungan finansial tidak dapat dilakukan karena hal-hal yang berkaitan dengan keuangan maupun anggaran perencanaan investasi teknologi informasi

Bagian terpenting dari mesin coater adalah sistem susunan roll yang digunakan untuk mengaplikasikan coating pada sheet.. Sistem roll yang digunakan pada mesin coater terdiri

Cookies juga dapat bersifat fungsional bila di dalam proses pembuatanya ditambahkan bahan yang mempunyai aktifitas fisiologis dengan memberikan efek positif bagi kesehatan

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan Fusarium oxysporum yang telah diadaptasikan pada media fermentasi eceng gondok (Eichhornia crassipes) dan mendapatkan data

 Isyarat bunuh diri dengan diagnosis: harga diri rendah kronis. Isyarat bunuh diri dengan diagnosis: harga diri rendah kronis. Tindakan kepe Tindakan keperawatan untuk rawatan