Pencurian, Monopoli, dan Persoalan Air Warga Kota Bandung
*Tulisan ini merupakan ulasan buku Zaky Yamanii
Oleh Bagas Yusuf Kausan
“Jangan pernah menjual air, pamaliii!” kata Rukayah.
Seorang aktivis dari India, Vandana Shiva, sempat menyatakan bahwa;
sebagai hak asasi manusia, hak atas air merupakan hak guna, air boleh dimanfaatkan, tetapi tidak bisa dimiliki. Pandangan serupa, sebenarnya dapat kita jumpai dalam pandangan Islam mengenai agraria, terkhusus yang berkaitan dengan persoalan air. Seperti yang digambarkan secara historis oleh Gita Anggraeni, Islam mengharamkan tiga hal untuk diprivatisasi dan dikomersialisasi bagi keuntungan pribadi. Ketiga hal tersebut ialah: Api, Padang Rumput, dan Airiii.
Kedua pandangan diatas, rasanya cukup untuk mengafirmasi bahwa air, memang merupakan hak asasi dan kebutuhan mendasar manusia. Maka dari itu, segala bentuk privatisasi dan komersialisasi atas air, menjadi hal yang tidak dapat dibenarkan. Dan pemerintah sebagai pemilik kuasa, wajib memastikan terjaminnya hak dan akses air warganya secara adil. Melalui buku Zaki Yamani ini, kita dapat melihat telikung persoalan yang mengitari akses dan pengelolaan air, khususnya di Kota Bandung.
Buku ini, hadir sebagai tindak lanjut peliputan investigasi Zaky Yamani, yang proposalnya lolos dalam Mochtar Lubis Fellowship tahun 2010. Sebagai buku yang dihasilkan dari peliputan investigasi, serta menggunakan bahasa penulisan jurnalistik, Zaky Yamani berhasil menyampaikan maksud buku ini secara artikulatif. Disamping itu, pihak-pihak yang paling merasakan dan bertanggung jawab terkait persoalan air warga Kota Bandung, direkam secara menarik oleh Zaky Yamani. Warga yang tidak mendapat akses air, warga yang melakukan monopoli mata air dengan menjualnya kembali, serta PDAM yang gagal menjamin akses air bersih bagi warga Kota Bandung, merupakan secuil pihak-pihak yang digambarkan secara naratif.
baju. Pada musim hujan seperti ini, air PDAM agak hitam dan berbau…”. Ujar Tapip selepas begadang menanti air. Berbeda halnya dengan yang diungkapkan Sumiyati, “Kalau tidak punya sumber air, hidup di sini bisa balangsakv. Untuk air saja sudah habis berapa?... wah, sudahlah, pokoknya repot!”. Dua kutipan percakapan tersebut, dituliskan oleh Zaky Yamani sebagai penggambaran bahwa persoalan akses air bagi warga—terutama dari lapisan ekonomi yang lemah— menjadi persoalan yang vital.
Bergeser sedikit ke daerah Braga yang kerap menjadi landmark Kota Bandung, Rohman beserta warga RW 08 lainya justru menggantungkan kebutuhan airnya kepada fasilitas air yang diberikan oleh Braga City Walk. Ketergantungan tersebut dimulai ketika pembangunan hotel dan apartemen Braga, membuat air tanah warga tersedot semua sehingga air menjadi habis. Menindaklanjuti keringnya air tanah tersebut, warga berbondong-bondong meminta pertanggungjawaban pihak Braga, hingga akhirnya dikabulkan dalam bentuk pemberian fasilitas air berupa toren. Meski mendapat fasilitas air dari pihak Braga City Walk, Rohman mengatakan, “Akan tetapi, ya itu masalahnya, airnya tidak bisa diminum. Kalau dimasak, warnanya berubah menjadi hitam seperti bekas air cucian daging…oleh karena itu, warga tidak berani menggunakan air dari Braga City Walk untuk minum atau memasak”.
Untuk kasus warga dengan Braga City Walk, rasanya ada yang terlewatkan dari investigasi yang dilakukan oleh Zaky Yamani. Terutama terkait apakah air yang menghitam ketika dimasak tersebut, berlaku sama bagi air yang tersedia di hotel ataupun apartemen Braga? Atau jangan-jangan, air yang demikian sebatas hanya dirasakan warga yang terdampak pembangunan hotel dan apartemen. Jika demikian, air warga yang lancar dan layak minum sebelum pendirian hotel dan apartemen, justru digantikan oleh air yang tidak layak konsumsi oleh pihak Braga City Walk—dengan dalih upaya tanggungjawab mereka.
merah pendirian hotel dan apartemen guna menunjang tren Bandung sebagai kota pariwisata, dapat sesegera mungkin dinyalakan. Dengan menilik satu contoh kasus saja (Braga City Walk), kita dapat membayangkan berapa banyak warga yang air tanahnya semakin mengering akibat dari pendirian hotel dan apartemen di Bandung. Kalkulasi data tersebut, dapat pula digunakan sebagai cermin bahwa imajinasi menjadi kota metropolitan dengan suburnya pertumbuhan hotel dan apartemen mewah, memiliki ongkos sosial-ekonomi yang tidak sedikit. Yaitu, tercerabutnya hak dasar warga Kota Bandung dalam mengakses air yang layak.
Kembali ke isi buku Zaky Yamani, satu persoalan lain yang cukup menarik ialah tentang penguasaan mata air-mata air sekitaran Bandung, untuk kemudian diperjualbelikan kepada warga yang terpaksa tergantung kepada para penjual air. Banyak sebab yang menjadi latarbelakang mengapa warga perlu untuk membeli air kepada para pemonopoli mata air. Disamping karena memang air tanah daerahnya yang kering, air PDAM yang tidak lancar, ataupun memang tidak memiliki alternatif lain untuk mengakses air. Dengan bahasa yang mudah dipahami, Zaky Yamani mengilustrasikan monopoli mata air di hulu, hingga ke bisnis penjualan air bersih di hilirnya.
Untuk menopoli mata air di hulu, seperti yang dituliskan Zaky Yamani, dilakukan oleh masyarakat yang memiliki sumber daya lebih (modal) dengan melakukan privatisasi mata air di beberapa tempat di Bandung. Contohnya, seperti yang terjadi di wilayah Sindang Jaya dan Sindang Laya, dimana empat mata air disana telah dikuasai oleh masyarakat yang menangkap tidak meratanya distribusi air di Kota Bandung, sebagai pangsa pasar dan peluang bisnis yang menggiurkan. Dari penuturan Nasrudin selaku pebisnis air bersih, kita dapat melihat bahwa dalam satu hari saja, Nasrudin mampu menjual air dari mata air yang dikuasainya sebanyak 7 truk berkapasitas 5000 liter seharga Rp. 15.000 rupiah. Jika dihitung perbulan, terminal air Nasrudin mendapatkan omset senilai Rp.3.150.000 dengan perhitungan bahwa air yang terjual ialah sebanyak 1.050.000 liter atau 1.050 meter kubik.
biasa membeli air dari terminal air dengan harga Rp. 12.000 hingga Rp. 15.000 per 5000 liter. Rully kemudian menjual kembali air tersebut ke depot air minum isi ulang seharga Rp. 120.000 per 5000 liter. Dari penjualan tersebut, Rully mendapatkan keuntungan kotor setidaknya Rp.108.000,00 atau sekitar 900 persen dari modal yang dia keluarkan untuk membeli air. Lebih lanjut, Rully mengaku bahwa bisnis air bersih memang sangat menggiurkan, karena dalam satu hari saja ia dapat mendapat keuntungan kotor sebesar Rp.432.000 atau Rp.12.960.000 per bulan. Dan berdasar data pada tahun 2010, di Kota Bandung setidaknya terdapat sekitar dua ribu depot air munum isi ulang. Setiap depot air itu rata-rata menjual antara lima puluh sampai seratus botol air bervolume sembilan belas liter air per hari, yang dijual setiap botol (umumnya disebut galon) seharga Rp.3.500 sampai Rp.4000 untuk per botolnya.
Kenyataan eksploitasi air tersebut, akan terlihat semakin mengerikan ketika melihat bahwa contoh alur bisnis air yang telah dijabarkan diatas, hanya merupakan satu contoh kasus kecil saja. Gambaran privatisasi mata air yang terjadi di Sindang Jaya dan Sindang Laya, hanya merupakan dua contoh mata air dari delapan puluh mata air yang ada di Bandung dan sekitarnya. Dari jumlah tersebut, hanya sepuluh persen yang dimiliki Pemerintah Kota Bandung (cetak tebal dari penulis), sedangkan sisanya milik privat. Monopoli mata air oleh warga yang memiliki modal berlebih ini, diperparah dengan tidak adanya aturan resmivi
dan ketat dari pihak pemerintah untuk menghentikan laju bisnis air bersih ini. Maka alih-alih mendistribusikan air secara adil dan merata bagi warga secara keseluruhan, praktik privatisasi air justru menjadi ruang mendulang keuntungan sebanyak-banyaknya bagi segelintir pebisnis yang bermain di dalamnya, dari hulu ke hilir.
Keuntungan yang luar biasa dari bisnis monopoli dan penjualan air bersih yang telah dijelaskan di atas, sebenarnya masih dalam taraf bisnis yang skalanya tergolong kecil. Bisnis air dalam skala besar, seperti halnya yang dilakukan Perusahaan Danone Aqua misalnya, perlu pula untuk diangkat ke permukaan. Seperti yang dilansir dari sebuah portal berita, jumlah air yang dikuras dari mata air di Klaten oleh Perusahaan Danone Aqua, mencapai 64 liter per detikvii. Itu
mengambil air dari mata air di Klaten sebanyak 5.529.600 liter air. Ditaksir, dalam satu tahunnya perusahaan air kemasan ini mendapatkan keuntungan senilai Rp. 960 miliar (Data tahun 2013). Tak jarang ekspolitasi air yang dilakukan perusahaan air raksasa semacam Aqua, diiringi pula dengan konflik yang terjadi dimana mata air itu berada. Konflik yang terjadi di Subang, Banten, ataupun Klaten, adalah sedikit contohnya. Dari ketiga contoh tersebut, lagi-lagi masyarakat sekitarlah yang menerima dampak paling nyata, terutama terkait hilangnya akses air yang telah sejak dahulu kala menjadi sumber penghidupan.
Topik lain yang dikemukakan Zaky Yamani dalam bukunya ini, ialah tentang bagaimana pemerintah mengabaikan persoalan air, serta tentang persoalan-persoalan yang mendera PDAM sebagai institusi pemerintahan yang membidangi penyediaan air bagi warga. Zaky Yamani memulai pembahasannya dengan mempertanyakan sekaligus menggugurkan asumsi PDAM Kota Bandung yang mengklaim 65 persen warga Kota Bandung, telah mendapatkan pelayanan air bersih dari PDAM. Jika mengikuti klaim PDAM Kota Bandung, maka sebanyak 1.543.228 penduduk Kota Bandung sudah menikmati air PDAM. Berlainan dengan klaim yang dikemukakan PDAM, Zaky Yamani justru menyodorkan data yang sangat berbeda. Dalam perhitungannya, PDAM hanya mampu menyediakan air bagi warga kota Bandung sebanyak 24,75 persen semata. Atau, hanya 587.740 warga Kota Bandung saja yang mencicipi air bersih dari PDAM. Sementara kebutuhan domestik air warga Kota Bandung saja, berkisar 221.898,29 meter kubik per hari dan untuk usaha sebanyak 48.084,43 kubik perhari.
Mengacu pada laporan pemerintah kota ke DPRD tahun 2005, terdapat 40 persen warga yang berpenghasilan Rp. 241.500 perbulan, 40 persen warga lainnya berpenghasilan Rp.479.250 per bulan, dan hanya 20 persen saja warga yang berpenghasilan menyentuh angka Rp.2.179.500 per bulan. Jika warga yang tidak mendapat akses air dari PDAM disarankan untuk membeli air dari penjual swasta, maka terdapat setidaknya 40 persen warga yang defisit penghasilannya. Dari rata-rata penghasilan Rp.241.500 per bulan, Rp.180.000 habis untuk membeli air bersih. Dan 40 persen lainnya yang berpenghasilan rata-rata Rp.479.250, hanya akan menyisakan uang mereka sejumlah Rp.299.250 setelah memenuhi kebutuhannya membeli air.
Data yang digunakan oleh Zaky Yamani merupakan data yang terbit pada tahun 2005 (sebelum sensus tahun 2010). Meski terkesan lampau, namun data tersebut cukup menggambarkan bagaimana persoalan air di Kota Bandung, benar-benar menjadi persoalan yang besar. Itupun belum ditambah persoalan kian maraknya sumur artesis, yang biasanya digunakan warga yang bermukim di perumahan, atau yang digunakan dalam industri. Maka semakin menjamurnya perumahan di Kota Bandung, tentu akan berbanding lurus dengan makin membludaknya sumur artesis. Padahal, eksploitasi sumur artesis secara besar-besaran, secara tidak langsung akan mempersulit dan memperdalam galian akses ke air tanah (pompa/sumur), setelah sebelumnya terut mengakibatkan penurunan muka tanah. Ketika hal ini terus dibiarkan, maka air yang dihasilkan dari sumur/pompa pun lama kelamaan akan menyusut dan mengering. Jika sudah demikian, maka warga yang sebelumnya menggantungkan akses airnya kepada sumur/pompa, perlahan-lahan hanya akan memiliki dua pilihan: Menjadi pelanggan PDAM, atau masuk ke dalam jebakan pasar; membeli air ke pihak swasta.
—atau air sebanyak 181,81 kolam seluas lapangan sepakbola standar Internasional, dengan kedalaman 20 meter—hilang setiap tahunnya. Atau jika dijabarkan dalam angka, dalam setahun (2009) PDAM Kota Bandung kehilangan 30.070.768 meter kubik (42,57 persen dari total volume yang didistribusikan).
Hilangnya air dalam jumlah yang besar tersebut, disebabkan oleh beberapa hal. Diantaranya ialah water mater yang bermasalah, banyaknya jaringan yang melampaui umur teknisnya, belum semua jaringan dilengkapi meteran induknya (meter zoning), masih adanya sambungan langganan tidak resmi, serta banyaknya
water meter yang belum dikalibrasi. Selain itu, terdapat sekitar 4.575 pelanggan sosial, 285.339 pelanggan rumah tangga, 49.440 pelanggan niaga, dan 2.082 pelanggan industri, yang kubikasi pemakaiannya tidak pernah beranjak dari angka nol meter.
Jumlah kehilangan air yang sedemikian besarnya, disebabkan pula oleh perilaku sebagian pegawai PDAM yang terlibat dalam pemasangan sambungan pipa illegal dan/atau terlibat dalam rekayasa meteran air sehingga ratusan ribu rekening pelanggan PDAM, tidak pernah beranjak dari angka nol meter. Tak jarang, para oknum pegawai PDAM tersebut juga berani menantang para atasannya. Keberanian pegawai tersebut, didorong oleh kedekatan dan sokongan dalam bentuk perlindungan, oleh sebuah Organisasi Masyarakat bernama Angkatan Muda Siliwangi (AMS). Ormas ini memiliki klik dengan pemerintah dan Wali Kota Dada Rosada. Maka dari itu, dengan kekuatan politik yang cukup kuat, ‘mafia’ ditubuh PDAM ini pun sukar untuk dibinasakan.
Sebenarnya, warga tidak serta merta bungkam melihat kekacauan dan buruknya pelayanan PDAM Kota Bandung. Warga Jalan Caringin Lumbung I, Kecamatan Babakan Ciparay misalnya. Pada tanggal 23 Febuari 2011, warga Jalan Caringin tersebut menggelar unjuk rasa karena air PDAM tidak mengalir selama tiga bulan ke pemukiman mereka. Warga memasang spanduk sebagai bentuk protes dan kekecewaannya atas pelayanan PDAM yang buruk.
ngocor, bukan hanya waktu tidur warga yang berkurang,…mereka pun harus mengeluarkan uang tambahan untuk membeli air bersih…”. Maman beserta warga lainya, merupakan korban nyata dari buruknya pelayanan PDAM Kota Bandung. Terutama, mereka adalah korban hilangnya air sebanyak tiga puluh juta meter kubik dalam setahun, yang sebenarnya, dimainkan pula oleh oknum pegawai yang dilindungi ormas yang bersekutu dengan pemerintah.
*
Dengan segunung persoalan PDAM dan akses air bersih yang adil dan merata bagi warga Kota Bandung, maka hari ini—setelah berganti walikota--, apakah persoalan-persoalan tersebut akan dan/atau bisa selesai dibawah kepemimpinan Ridwan Kamil selaku Wali Kota Bandung? Atau warga akan kembali dirugikan, dan bahkan dipaksa melupakan, dengan sederet pembangunan taman-taman kota sebagai bentuk ilusi selesainya persoalan Kota Bandung? Kita layak menantikan!
i Zaky Yamani, Kehausan Di Ladang Air: Pencurian Air di Kota Bandung dan Hak Warga yang Terabaikan, (Bandung: SvaTantra, 2012).
ii Sunda: Semacam Pantangan.
iii Lihat Gita Anggraeni, Islam dan Agraria: Telaah Normatif dan Historis Perjuangan Islam dalam Merombak Ketidakadilan Agraria, (Yogyakarta: STPN Press, 2016).
iv Sunda: Mengalir.
v Sunda: Rusak atau hancur.
vi Hanya terdapat satu aturan resmi Pemerintah Kota Bandung tentang persoalan air. Yaitu Perda Kota Bandung no. 06 Tahun 2002 tentang manajemen penyediaan air. Namun, aturan itu hanya mengatur pembagian air untuk irigasi. Satu pasal di dalamnya, hanya menyebut aturan tentang sektor swasta harus menndapatkan izin jika mengambil dan menjual air bersih. Sektor swasta yang dimaksud ialah developer perumahan yang membangun perumahan di area yang belum mendapat penetrasi pipa PDAM.