• Tidak ada hasil yang ditemukan

Politik Kesejahteraan dan Reformasi Jams

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Politik Kesejahteraan dan Reformasi Jams"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

Politik Kesejahteraan dan Reformasi Jamsosnas Pasca Orde Baru1

Oleh: Imran Thahir2

I. Pendahuluan

Jaminan sosial (social security) adalah kebijakan yang telah diterapkan di berbagai negara untuk menjamin tegaknya seperangkat hak-hak setiap orang seperti yang telah dirangkum dalam The Universal Declaration of Human Right (Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak asasi Manusia) Tahun 1948. Kebijakan tersebut juga menyangkut perlindungan tenaga kerja sesuai dengan amanat Konvensi ILO Nomor 102 Tahun 1952 yang menganjurkan semua negara untuk memberikan perlindungan minimum kepada setiap tenaga kerja.

Sejak runtuhnya Orde Baru, berdasarkan konstitusi yang telah diamandemen bahwa negara mengembangkan sistim jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.3 Selain itu secara kontitusional dinyatakan bahwa jaminan sosial adalah

hak setiap orang, sehingga jaminan sosial tidak hanya diperuntukkan bagi warga negara Indonesia saja melainkan warga negara asing yang juga tinggal di Indonesia dengan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh peraturan perundang-undangan.

Dalam pengalaman berbagai negara bahwa pada dasarnya Sistem Jaminan Sosial (social security system) merupakan program negara yang bertujuan memberi kepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat sebuah negara. Melalui kebijakan dan program ini, setiap orang atau penduduk diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak apabila tejadi hal-hal yang dapat mengakibatkan hilang atau berkurangnya pendapatan, karena menderita sakit, mengalami kecelakaan, kehilangan pekerjaan, memasuki usia lanjut, atau pensiun. Oleh karenanya, system jaminan sosial sering dikaitkan dengan isu kemiskinan dan

1 Dimuat Pada Jurnal Politikologi IPDN jatinangor, Desember 2013

(2)

kesenjangan kesejahteraan.4 Sistem jaminan sosial pada dasarnya sangat erat

kaitannya secara konsepsional dengan politik kemiskinan (politics of poverty) dan negara kesejahteraan (welfare state). Menurut Pete Alcock, Politik kemiskinan adalah sesuatu isu mainstream dalam negara kesejahteraan, sedangkan policy framework-nya adalah dengan system jaminan sosial (social Security System).5

Selama beberapa dekade terakhir ini, Indonesia telah menjalankan beberapa program jaminan sosial.6 Berbagai program tersebut baru mencakup sebagian kecil

masyarakat sedangkan sebagian besar rakyat belum memperoleh perlindungan yang memadai. Disamping itu, pelaksanaan berbagai program jaminan sosial tersebut belum memberikan perlindungan yang adil dan memadai sesuai dengan manfaat program kepada seluruh rakyat.

Program-program kesejahteraan selama ini pada umumnya tidak menjangkau seluruh penduduk dan warga negara sehingga sangat nyata belum mengejewantahkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Oleh karena itu, berbarengan dengan dipromosikannya demokrasi dan keadilan pasca runtuhnya Orde Baru juga mendorong perbaikan kebijakan perlindungan sosial bagi seluruh komponen bangsa dengan reformasi jaminan sosial nasional (Jamsosnas). Reformasi Jamsosnas tersebut ditujukan untuk memperluas jangkauan penjaminan hak-hak sosial dan ekonomi bagi seluruh rakyat tanpa kecuali. Selain itu, tujuan dari reformasi Jamsosnas tersebut untuk menciptakan efisiensi ekonomi baik menyangkut aspek pengelolalaan maupun

4 Pete Alcock,. Understanding Poverty, 2nd Edition. Macmillan Press, 1997, hal 75 5Ibid

6 Undang-Undang yang secara khusus mengatur jaminan sosial bagi tenaga kerja swasta adalah

(3)

dampak atas perekonomian dengan menyatukan seluruh program-program jaminan sosial dalam satu sistem jaminan sosial.

Cika-bakal kebijakan seperti ini pertamakali terlahir di Inggris Raya dengan lahirnya Poor Law Act (1601) demi menjamin mereka yang terpinggirkan untuk diberikan perlindungan sosial seperti jaminan kesehatan dan jaminan pekerjaan.7

Kemudian, jaminan sosial atau dikenal dengan social security diperkenalkan oleh Otto Von Bismark di Jerman jaman dulu (Prusia).8 Pasca krisis ekonomi 1930-an,

Amerika Serikat telah meperkenalkan system kesejahteraan serupa melalui kebijakan New Deal.9

Sistem jaminan sosial terpadu tersebut telah dipraktekkan di berbagai negara dengan berbagai ciri system masing-masing. Dari segi pendanaan, sistem jaminan sosial dapat dibedakan antara lain berdasarkan prinsip Beveridge, prinsip Bismarck, atau prinsip pasar.10 Dalam prinsip Beveridge yang diambil dari nama ekonom Inggris

yang mereformasi sistern jaminan sosialnya, jaminan sosial didanai oleh pemerintah lewat pajak. Rakyat tak perlu menerima tagihan atas layanan kesehatan, misalnya, karena rumah sakit maupun praktisi kesehatan akan dibayar langsung oleh negara. Karena mengandalkan pajak, proporsi upah yang dipotong pajak pun relatif besar (20-50%). Sistem seperti ini dianut oleh Inggris, Spanyol, Selandia Baru, dan negara-negara Skandinavia.

7 Lihat misalnya uaraian Brodie, Marc. The Politics of the Poor_ The East End of London 1885-1914.

Oxford. Oxford University Press, 2004 atau dalam Tierney, Brian. Medieval poor law_ a sketch of canonical theory and its application in England. University of California Press, 1959 atau dalam Hindle, Steve. On the Parish: The Micro-Politics of Poor Relief in Rural England c. 1550-1750. Oxford Studies in Social History, 2004

8 Tentang reformasi jaminan sosial Bismark di Jerman lihat misalnya Abrams, Lynn.

Bismarck_and_the_German_Empire_1871-1918. London. Routledge, 1995 atau dalam Bruno Palier. A Long Goodbye to Bismarck: The Politics of Welfare Reform in Continental Europe.Amsterdam University Press, 2010 atau dalam Martin Schludi. The Reform of Bismarckian Pension Systems_ A Comparison of Pension Politics in Austria_ France_ Germany_ Italy and Sweden. Amsterdam University Press, 2005

9Lihat mislanya uraian tentang kebijakan Franklin D. Roosevelt tentang new deal berkaitan uraian

liberalism lama dan Baru dalam Ebenstein, William. Great Political Thinkers. New York. NY: holt Rinehart, and Wunston, 1960 hal 623-672

10 Dinna Wisnu. Politik Sistem Jaminan Sosial Nasional. Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2012 hal

(4)

Dalam. prinsip Bismarck yang diambil dari nama kanselir Jerman yang pertama mendirikan sistem jaminan kesehatan di negeri itu, jaminan sosial didanai oleh iuran pemerintah, pengusaha, dan pekerja. Sistemnya diatur ketat oleh pemerintah, sehingga meskipun penyelenggara layanan kesehatannya adalah pihak swasta, mereka tak berorientasi profit. Sistem ini biasanya mengakomodasi model subsidi iuran bagi kelompok atau kalangan tertentu yang dianggap penting oleh negara, misalnya pegawai negeri dan militer. Sistem seperti ini dianut di Jerman, Perancis, Belanda, Swiss, dan di beberapa negara Amerika Selatan.

Sistem yang ketiga adalah sistem pasar, seperti yang dilakukan oleh Amerika Serikat, di mana jaminan sosial didanai oleh iuran pekerja dan pengusaha saja, dikelola oleh lembaga-lembaga swasta, tetapi ada aturan pemerintah yang menjadi patokan pengelolaan. Di sini faktor pilihan bagi konsumen dan prinsip pasar bagi keikutsertaan lembaga pengelola menjadi pertimbangan utama.

Indonesia telah mengawali reformasi Jamsosnas dengan serangkaian penataan dan penetapan aturan perundang-undangan. Secara tidak langsung bahwa dengan reformasi Jamsosnas tersebut telah memberikan dasar atas pengakuan hak kesejahteraan (welafere right) pada seluruh rakyat tanpa terkecuali.11 Selain itu,

amanat konstitusi yang telah diamandemen tersebut menggariskan pula bahwa pemerintah mengembangkan sebuah sistem jaminan sosial nasional.12 Amandemen

konstitusi tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan rangkaian reformasi sistem jaminan sosial dengan keputusan-keputusan politik penting seperti Undang-Undang tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan Undang-Undang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Nasional (BPJS).13 Sebelum dijalankannya reformasi

Jamsosnas ini, Indonsia adalah “negara tanpa system jaminan sosial (social security system).” 14 Setelah serangkaian reformasi awal Jamsosnas itu barulah dianggap

11 Pasal 28h dan Pasal 34 UUD 1945 Amandemen ke-4

12 Undang-Undang No 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional

13 Undang-Undang No 24Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Sistem Jaminan Sosial (BPJS) 14 Sulastomo. Sistem Jaminan Sosial Nasional; mewujudkan amanah konstitusi. Jakarta, Penerbit Buku

(5)

memiliki sistem jaminan sosial yang belaku universal yang menjadi dasar dari peraktek negara kesejahteraan (welfare state).15 Dengan reformasi Jamsosnas

akhirnya dipilih prinsip-prinsip pendanaan model Bismark.

Perjalanan reformasi Jamsosnas tersebut tidaklah berjalan mulus dan telah memakan waktu kurang lebih sepuluh tahun untuk menyelesaikan perangkat perundang-undangannya saja. Bahkan untuk program implementasinya baru akan dimulai setelah 12 tahun, pada 1 January 2014 yakni beroperasinya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan. Sedangkan untuk Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) ketenagakerjaan rencananya akan mulai beroperasi tahun 2015. Lamanya rentan waktu tersebut adalah buah dari berbagai persoalan substansial dalam proses politik yang melatari formulasi dalam penyusunan kebijakannya seperti perbedaan persepsi dan kepentingan politik oleh aktor-aktor politik yang menjadi bagiannya.16 Fakta ini menunjukkan bahwa dalam proses

reformasi system jaminan sosial di Indonesia, berproses dengan power interplay yang intensif antar kekuatan dan aktor-aktor politik yang memberikan dampak terutama terkatung-katungnya selama enam tahun pembahasan Undang-Undang tentang BPJS (2004-2011).

Tujuan dari tulisan ini adalah untuk memahami dan menguraikan secara singkat dinamika politik yang menyertai proses politik dan power interplay dalam perjalanan reformasi Jamsosnas di Indonesia. Atau dengan kata lain bahwa proses reformasi Jamsosnas tersebut dapat dipahami dalam konteks ilmu politik melalui tinjauan dari segi interaksi kekuasaan yang terjadi dalam dalam proses formulasi kebijakannya berikut problem politik yang menyertainya. Seperti diuraikan di atas bahwa interaksi kekuasaan dan proses politik yang tersebut diindikasikan sebagai sumber dari lambannya proses pengambilan keputusan dan kebijakan reformasi Jamsosnas tersebut.

15 Lihat uraian “negara tanpa system jaminan sosial” dalam Sulastomo. Sistem Jaminan Sosial

Nasional; mewujudkan amanah konstitusi. Jakarta, Penerbit Buku Kompas, 2011 halaman 1-4

(6)

Dinamika politik yang dimaksudkan di atas melibatkan elit politik, partai politik, birokrasi pemerintahan, kelompok penekan (pressure groups) dan kelompok kepentingan (interest groups). Kenyataan tersebut mengindikasikan bahwa dalam perjalanan reformasi, proses legislasi system jaminan menampilkan interaksi politik yang meliputi kontroversi politik, pertarungan politik dan pertentangan pandangan serta sikap politisi atas agenda-agenda tersebut. Tulisan ini juga akan menyoroti dinamika pada level interaksi politik di lembaga legislatif dalam kaitannya hubungan-hubungan sistem kekuasaan formal dan informal dengan actor-aktor politik lainnya.

II. Politik Kesejahteraan

Pemaparan di atas membawa kepada sebuah sudut pandang bahwa proses reformasi Jamsosnas mengimplementasikan prinsip negara kesejahteraan berkaitan erat dengan disiplin ilmu politik. Konteks ilmu politik disini adalah salah satunya tentang proses legislasi sebagai arena politik untuk pembuatan keputusan tentang reformasi Jamsosnas. Arena politik yang dimaksud adalah proses legislasi peraturan perundang-undangan jamsosnas yang melibatkan interaksi kekuasaan di lembaga legislatif. Dalam arena politik ini, debat tentang politik kesejahteraan dan kemiskinan dipercaya memberikan nuansa interaksi kekuasaan yang terjadi untuk menghasilkan kebijakan anti-kemiskinan (anti-poverty policy) yang akan diformulasikan sebagai politik Jamsosnas.

Salah satu acuan buku tentang politik kemiskinan (politics of poverty) adalah karya Pete Alcock, Understanding Poverty (1997).17 Buku yang komprehensif dan

mudah dipahami berkaitan dengan definisi, pengukuran dan distribusi kemiskinan. Buku ini menganalisis berbagai perdebatan tentang penyebab dan solusi yang mungkin, termasuk perdebatan kemiskinan dan negara kesejahteraan dalam arena politik. Buku ini juga secara khusus membahas tentang konteks politik dari kebijakan

(7)

anti-kemiskinan yang disebutnya sebagai politik kemiskinan.18 Buku ini secara

khusus juga membahas politik kemiskinan dalam satu bagiannya.

Menurut Alcock, kemiskinan adalah problem politik sebab secara alamiah merupakan dampak dari proses pembangunan19. Sedangkan persoalan kemiskinan

sebagai bagian dari konsep politik sebab keputusan politik tentang kebijakan anti-kemiskinan menjadi bagian dari debat politik dan arena pertarungan ideologis.20

Sehingga pengambilan keputusan (decicion making) dalam kebijakan anti-kemiskinan akan erat kaitannya dengan demokrasi dan proses demokratis itu sendiri. Seperti diketahui bahwa dalam pengalaman berbagai negara, demokrasi dan proses demokratis berkaitan erat dengan peningkatan kesejahteraan di berbagai belahan dunia.21

Pete Alcock menegaskan bahwa policy framework dari politik kemiskinanadalah implementasi social security system (system jaminan sosial).22 Sebagai konsep dan

problem politik serta sebagai hasil dari proses politik, isu kemiskinan dengan pendekatan negara kesejahteraan mengisyaratkan adanya sebuah keputusan politik melalui proses politik. Sehingga tipe negara kesejahteraan dan model penerapan system jaminan sosial akan sangat dipengaruhi oleh proses dan struktur politik berikut system kepartaian yang ada pada tiap-tiap negara.

David Brady dalam bukunya Democracy Rich and People Poor (2009) mengaitkan dinamika politik dengan masalah kemiskinan. Dalam Bab khusus tentang politics of poverty, Ia melihat adanya keterkaitan antara pengaruh partai berkuasa di Inggris dan Swedia dengan perubahan kebijakan kesejahteraan dan kemiskinan.23

Pandangan ini diperkuat oleh studi Klingerman (1999) dkk yang menyebutkan bahwa corak dan keragaman ideology kepartaian sangat memberikan corak bagi sikap

partai-18Ibid 19Ibid, hal 13 20Ibid hal 19

21 Zen, Amartya. Demokrasi Bisa Memberantas Kemiskinan. Bandung, Mizan, 2000 22 Alcock, Ibid hal 197-230

23 David Brady. Democracy Rich and People Poor; How Politics Explain Poverty. Oxford University

(8)

partai politik atas isu kemiskinan dan penerapan system jaminan sosialnya.24

Misalnya partai kiri (right parties) akan lebih cenderung untuk lebih progressif dalam reformasi system jaminan sosial dibandingkan dengan partai kanan (left parties).25 Disamping itu pula, perilaku elit atau actor partai politik akan sangat

mempengaruhi sikap partai politik terhadap isu kemiskinan.

James Midgley dalam studinya tentang Social Policy and Poverty in East Asia: The Role of Social Security (2009) menyebutkan bahwa adanya polemik tentang peran kebijakan jaminan sosial. Olehnya disebutkan bahwa, polemik tersebut disebabkan perbedaan perspektif tentang jaminan sosial. Midgey menyebutkan pula bahwa sebagian pemikir menekankan jaminan sosial sebagai peran penanggulangan kemiskinan dan yang lain menantang gagasan tersebut. Sebagian pemikir yang menolak anggapan tersebut berargumen bahwa program jaminan sosial pada dasarnya tidak dimaksudkan untuk mengatasi masalah kemiskinan. Mereka menunjukkan bahwa jaminan sosial seperti diperkenalkan oleh Von Bismark (Jerman) hanyalah untuk alasan politik, ekonomi, demografi dan budaya.26 Sehingga pada dasarnya tidak

akan memberikan konstribusi pada pencegahan kemiskinan.

Akhirnya Midgey menegaskan bahwa perbedaan sikap atas pandangan terhadap jaminan sosial dan kesejahteraan umum lebih disebabkan perbedaan pengetahuan dan pemahaman. Dalam studinya tersebut menyimpulkan bahwa gejala kemiskinan dan kesejahteraan bisa disalah ditafsirkan bahwa orang miskin tidak pantas mendapat dukungan adalah lebih mencerminkan kurangnya publisitas oleh pihak berwenang (pemerintah). Menurut Midgey, jika temuan empirisnya di Hong Kong dapat digeneralisasi, hanya akurasi pengetahuan tentang siapa orang miskin dan kesejahteraan yang cenderung mendorong tindakan pro-welfare.27 Midgey

menjelaskan bahwa masyarakat di negara-negara sistem kesejahteraan residual pada

24 Hans Dieter Klingerman, Richard I. Hofferbert dan Ian Budge. Partai Kebijakan dan Demokrasi.

Yogyakarta, Jentera, 1999, hal 15

25Ibid

26 James Midgley dalam studinya tentang Social Policy and Poverty in East Asia: The Role of Social

Security (2009) halaman 21

(9)

dasarnya memiliki sikap yang kurang bersahabat terhadap orang miskin dan kurang mendukung kebijakan tentang kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, penelitian empirisnya tersebut membuktikan bahwa pengetahuan yang akurat tentang kebijakan publik akan dapat mengurangi sikap tidak bersahabat tersebut, tidak terkecuali dalam negara kesejahteraan residual seperti Hong Kong.

Dinna Wisnu tentang Politik Jaminan Sosial di Indonesia; Menciptakan Rasa Aman dalam Ekonomi Pasar (2012) adalah salah satu buku yang mengkaji tentang reformasi Jamsosnas di Indonesia sebagai studi perbandingan politik (comparative politics studies) dengan Singapura dan Philipina.28 Meski diangkat sebagai studi

politik tersirat bahwa dari sisi penekanan judul, buku ini menunjukkan bahwa gagasan yang dikembangkan oleh penulisnya adalah alasan yang lebih bersifat ekonomi. Buku ini bertolak dari asumsi bahwa individu perlu mendapat dukungan akibat dirugikan oleh proses ekonomi pasar.29 Sedangkan landasan untuk mendukung

individu yang beresiko kesejahteraan adalah bahwa untuk menopang kelangsungan ekonomi pasar itu sendiri.30

Akan tetapi hasil studi Dinna Wisnu ini dapat pula memberikan dasar teoritik penting untuk memahami konteks politik dalam reformasi Jamsosnas di Indonesia. Antara lain bahwa dalam proses pengembangan sistem jaminan sosial merupakan hasil dari tarik menarik antar berbagai kepentingan. Digambarkannya bahwa setidaknya di belahan dunia mana pun, system jaminan sosial lahir dari tarik menarik kepentingan, negoisasi, pencarian titik konsesi, yang durasi waktunya bisa berpuluh bahkan berates tahun.31 Studi ini menyimpulkan antara lain bahwa reformasi

Jamsosnas di Indonesia sulit dilepaskan dari kontroversi politik, pertarungan politik

28 Buku ini bersumber dari penelitian disertasi doctoral penulisnya pada Ohio State University yang

berjudul Governing Social Security in Indonesia (2006).

29 Wisnu, Dinna. Politik Sistem Jaminan Sosial Nasional. Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2012

halaman 23

(10)

dan obyekan kalangan politisi.32 Kesemua itu menurutnya dapat mengganggu tujuan

atas tujuan sistem jaminan sosial itu sendiri.

Hasil studi-studi di atas mendeskripsikan berbagai konteks politik dari system jaminan sosial yang berkaitan dengan relasi politik (political relation) dan interaksi kekuasaan (power interaction) dan permainan kekuasaan (power interplay). Bahkan Dinna Wisnu menegaskan bahwa dalam pengalaman reformasi Jamsosnas di Indonesia terdapat sejumlah besar aspek reformasi yang sebenarnya cukup dibahas dan disepakati bisa mentah lagi akibat perdebatan antarkelompok yang sifatnya berulang-ulang saja.33

III. Pembangunan Ekonomi dan Politik Kesejahteraan di Indonesia

Demokratisasi dan reformasi 1998 dipicu oleh krisis finansial regional Asia yang menyeret kepada krisis ekonomi dan krisis multidimensial di Indonesia. Ketika itu, diawali oleh krisis beberapa mata uang di Asia seperti baht dan won yang juga menggiring rupiah, ringgit dan peso terdepresiasi serta ikut dalam pusaran krisis. Krisis itu serta merta meruntuhkan optimisme pertumbuhan ekonomi Asia seperti Indonesia, Thailand dan Korea Selatan yang ketika itu dijuluki “the Asian miracle”.

Antara tahun 1973-1996 beberapa negara di Asia mengalami mengalami pertumbuhan ekonomi yang stabil dan mengesankan antara 3,5 sampai 7,1 persen seperti Indonesia, China, Korea Selatan, Thailand, dan Malaysia. Petumbuhan ekonomi negera-negara tersebut jauh melampaui petumbuhan negara-negara industri utama seperti Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Inggris, Perancis dan Italy yang hanya mengukir pertumbuhan rata-rata di bawah 2 persen.34

Bagi Indonesia, terpaan krisis tersebut merupakan pukulan yang teramat berat dan mencoreng prestasi gemilang pembangunan pemerintahan Orde Baru yang diukir selama lebih dari tiga puluh tahun. Dalam catatan Jason Furman dan Joseph E. Stigliz (1998), Orde Baru adalah regim yang menghantarkan Indonesia sebagai salah 32Ibid halaman n 187

33Ibid halaman 187

(11)

satu negara Asia Tenggara yang sukses dalam pertumbuhan, stabilitas dan penurunan angka kemiskinan.35 Perekonomian Orde Baru selama tiga decade lebih ketika itu

memang prestisius yang ditopang oleh kestabilan sosial politik.

Salah satu kunci keberhasilan pembangunan regim Soeharto adalah dengan angka pertumbuhan dan stabilitas ekonomi, yang sebelumnya justeru mewarisi situasi ekonomi yang sangat buruk. Diantaranya, akhir pemerintahan regim Soekarno, Inflasi naik tak terkendali dari 19 persen pada 1960 dan mencapai puncak sebesar 636 persen pada 1966.36 Pemerintahan Soekarno dimasa demokrasi terpimpin maupun era

sebelumnya, bukannya tidak melakukan upaya penyusunan dan menjalankan program pembangunan. Seperti program banteng, Program Rencana Urgensi Ekonomi 1951-1956, Rencana Pembangunan Lima Tahun Pertama 1956-1960, Rencana Pembangunan semesta delapan tahun di era demokrasi terpimpin dan semuanya gagal total.

Penyebab kegagalan ekonomi Orde Lama adalah akibat lebih disibukkan untuk ”menyelesaikan revolusi nasional”, Soekarno tidak cukup berusaha meminimalkan dampak slogan-slogan itu terhadap ekonomi.37 Sebelumnya, bidang sosial-ekonomi

diketepikan karena keutamaan perjuangan negara di awal-awal kemerdekaan.38 Selain

itu, kebijakan ekonomi terutama periode 1950 sampai 1957 di Indonesia dapat dipahami sebagai tahun-tahun pertarungan tanpa harapan antara sekelompok kecil pemimpin politik yang pragmatis dan konservatif dan koalisi politik yang semakin kuat, yang pada umumnya berorientasi radikal.39

35 Furman, Jason, And Joseph E. Stiglitz. 1998. “Economic Crises: Evidence and Insights from East

Asia.” Brookings Papers on Economic Activity, no. 2 halaman 1–114.

36 Stephen Grenville, ”Monetary Policy and the Formal Financial Sector”, dalam dalam Booth, Anne

& Peter McCawley (eds.), The Indonesian Economy during the Soeharto Era. Petaling Jaya: Oxford University Press, 1981 halaman 102-125

37 J.D.Legge. Sukarno–A Political Biography. Ringwood, Victoria: Penguin Books Australia, 1972

halaman 328-29

38 G. McT. Kahin, Nationalism and revolution in Indonesia, Ithace: Cornell University Press, 1978,

halaman 573

39 Bruce Glassburnuer. The Economy of Indonesia— Selected Readings. Ithaca and London: Cornell

(12)

Sebaliknya, indikasi prestasi ekonomi pemerintahan Soeharto dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi dan berkelanjutan (mulai tahun 1967-2007) menjadikan Indonesia digolongkan kedalam ekonomi industri baru (Newly Industrializing Economies, NIEs) Asia Tenggara. Antara tahun 1967-1990-an, pendapatan per kapita riil meningkat lebih dari tiga kali. Proporsi penduduk yang hidup dalam kemiskinan absolut menurun tajam dari 60% tahun 1966 menjadi 15% pada tahun 1990.

Seiring dengan peningkatan pertumbuhan, Indonesia juga dalam kurun enam program pembangunan lima tahun (Pelita) memperlihatkan peningkatan penanaman modal dan perbaikan sumber daya manusia secara signifikan yang keberadaanya menjadi pendorong utama pertumbuhan. Peningkatan ini menghasilkan akumulasi modal fisik maupun SDM bagi pembangunan secara umum. Sebagai ilustrasi adalah adanya peningkatan signifikan penanaman modal domestik (dalam negeri) yang rata-rata meningkat sebesar 50,43% pertahun selama kurun waktu 1976-1997. Beberapa capaian prestasi ini sehingga Indonesia digolongkan sebagai salah satu “Keajaiban Asia” tersebut.

Salah satu kunci keberhasilan Orde Baru itu adalah strategi pembangunan yang lebih bercirikan ekonomi sebagai panglima (ESP), berkebalikan dengan kecenderungan Orde Lama yang dianggap lebih mengedepankan politik sebagai panglima (PSP).40 Regim Orde Baru memberikan kepercayaan yang sebesar besarnya

pada kalangan teknokrat dalam rangka untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Perihal ini sesuai dengan pandangan Richard Robison, Orde Baru digambarkan sebagai negara teknokrat, selain oleh gambaran berbagai referensi lainnya sebagai negara birokratik, negara komprador dan negara qua negara.41 Selain itu, keberhasilan

pembangunan ekonomi Orde Baru dikaitkan dengan bangkitnya kapitalisme domestik, terutama pada kalangan usahawan non-pribumi.

40 Mohtar Mas’oed. Politik, Birokrasi dan Pembangunan. Yogyakarta, Pusataka Pelajar 1994 halaman

37

41 Richard Robison. Soeharto dan bangkitnya kapitalisme Indonesia. Jakarta, Komunitas Bambu, 2012

(13)

Selang beberapa dekade dengan catatan emas demikian, akhirnya Soeharto jatuh pada paruh 1998 dan meyerahkan kekuasaan pasca Indonesia diterpa krisis ekonomi yang menghantarkan kolapsnya perekonomian. Perekonomian yang stagnan tersebut selanjutnya melemahkan jantung kekuasaan, yakni delegitimasi pemerintahan Soeharto. Akhirnya Ia mundur setelah mendapatkan tekanan dari kalangan intelektual serta mahasiswa dan kerelaannnya untuk lengser keprabon dari kursi presiden juga akibat ditinggalkan oleh para kongsi politik dan ekonominya.42

Problem ekonomi Indonesia pada dasarnya telah bermula pada tahun 1990-an yang mendorong kepada derelgulasi finansial yang serius.43 Kondisi diakibatkan oleh

lonjakan kredit sector swasta pada 1980-an dan mendorong pemerintah untuk menaikkan tingkat bunga. Selain itu, pinjaman luar negeri besar-besaran pada masa itu memberikan bukti dikemudian hari bahwa Indonesia rentan terimbas imforted inflation. Dan ketika rupiah ikut dalam pusaran krisis regional Asia, Indonesia tidak sebatas goyah secara finansial namun sektor ril pun ikutan hancur lebur akibat hyper inflation. Selanjutnya, kerentanan perekonomian Indonesia juga diindikasikan dengan kegagalan keberlanjutan reformasi ekonomi setelah tahun 1993 dan mengakibatkan melambatnya pertumbuhan ekonomi.44

Gambaran kolapsnya ekonomi dan jatuhnya kekuasaan Orde Baru di atas telah lebih menunjukkan signifikannya kaitan antara situasi ekonomi dan stabilitas kekuasan di Indonesia. Fakta terutama yang terlihat bahwa ternyata kemorosotan ekonomi tersebut telah membukakan peluang perubahan politik secara mendasar, yang bagi situasi Indonesia sebelum masa itu teramat sulit untuk terjadi dalam kurun tigapuluh tahun kekuasaan Orde Baru. Dengan kekuasaan yang represif, menancapkan stabilitas sosial politik demi mengejar pertumbuhan ekonomi.

42 David C. Kang. “Transaction Costs and Crony Capitalism in East Asia “Journal of Comparative

Politics, Vol. 35, No. 4 (Jul., 2003), halaman 439-458. Lihat juga ulasan dalam, David C. Kang. Crony Capitalism. Cambridge. Cambridge University Press, 2002, halaman 189, lihat juga ulasan Stephen Haber. Crony Capitalism and Economic Growt in Latin America Theory and Evidence.Hoover Institution on War, Revolution and Peace, 2002, halaman xv

43 Kevin Evan, “Economic Update” dalam Geoff Forrester, editor. Post-Soeharto Indonesia: Renewal

or Chaos?. Singapura, ISEAS 1999 halaman 105-128

(14)

Keruntuhan Orde Baru akibat krisis demi krisis sampai kepada krisis multidimensional menggambarkan bahwa kekuasaan kokoh nan prestisius tersebut hanyalah sebatas “rumah kartu”.

Rapor gemilang pemerintahan Soeharto dibangun dengan sistem ekonomi politik crony capitalism atau kapitalisme perkoncoan.45 Seperti dalam studi O’Donnel,

Kapitalisme jenis ini sangat identik dengan pola kekuasaan birokratik otoriter,46 yang

dalam kasus Indonesia misalnya, keberhasilan kebangkitan kapitalisme adalah tidak lain dari oligarki kapitalis di bawah sebuah sistem birokrat otoriter yang terbentuk dari persekutuan politico-birokratis dan keluarga-keluarga kapitalis terkemuka.47

Perihal ini mengindikasikan bahwa keberhasilan dan kue pembangunan ketika itu hanya dinikmati dan diperoleh sebagian kecil kalangan tertentu saja.

Dalam studi Andrinof Chaniago tentang “Gagalnya Pembangunan, Membaca Ulang Keruntuhan Orde Baru” menyebut sebagai wajah suram Indonesia, dan menyimpulkannya sebagai gagalnya pembangunan.48 Andrinof menganalisis bahwa

"hulu"‐nya memang sudah sarat dengan kepentingan yang tidak pro‐masyarakat, dan,

di sisi yang lain, "hilir"‐nya pun menimbulkan berbagi persoalan sosial‐politik dan ekonomi yang akut. Andrinof menunjukkan dengan menyebutnya sebagai "tujuh ketimpangan warisan Orde Baru".49 Melalui hasil penelitian lapangan, ia

memperlihatkan bagaimana hak‐hak publik atas ruang dan lokasi strategis telah diambil alih oleh kekuatan modal. Wilayah Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang,

dan Bekasi), yang seharusnya dirancang sebagai tempat‐tempat strategis bagi

kekuatan publik, karena strategi kebijakan pembangunan yang memang tidak pro‐

45 Lihat misalnya uraian M. R. J Vakitiotis. Indonesian Politics Under Suharto: The Rise and Fall of

the New Order. London Routledge, 1998

46O'Donnell, Guillermo. Bureaucratic Authoritarianism: Argentina 1966-1973 in Comparative

Perspective. Berkeley, University of California, 1988

47 Lihat Robinson, Richard dan Vedi R, Hadiz. 2004. "The Genesis of Oligarchy: Soeharto's New

Order 1965-1982", dalam Reorganising Power in Indonesia the Politics of Oligarchy in an Age of Markets. New York, Routledge Curzon, halaman 136-167.

48 Andrinof Chaniago. Gagalnya Pembangunan, Membaca Ulang Keruntuhan Orde Baru (Edisi

Revisi). Jakarta, LP3ES, 2012,

(15)

masyarakat, lambat‐laun digeser oleh aliansi antara kekuatan modal besar dan

kalangan birokrat dan penguasa (sipil dan militer). Mal‐mal besar, apartemen dan hotel mewah, jalan tol yang menggusur rakyat, real estat, dan berbagai tempat hiburan dan wisata lainnya yang tidak diperuntukkan buat publik secara umum adalah contohnya.

Lanjut menurut Andrinof, pada saat Indonesia mengalami bonanza minyak, pada episode kedua Orde Baru (etatisme baru), semua persoalan yang ada diselesaikan dengan uang pemerintah, yang saat itu memang sangat melimpah. Semuanya disupervisi, dikelola, dan dikerjakan oleh negara melalui berbagai departemen dan BUMN.50 Negara bertindak sebagai pengawas sekaligus pelaku ekonomi, dan

kalangan swasta kroni menjadi anak yang menyusu semua uang hasil minyak

tersebut. Tak mengherankan, saat itu hingga akhir‐akhir menjelang krisis ekonomi

bermunculan kelas pengusaha baru yang tiba‐tiba menjadi besar. Mereka terakhir inilah yang diuntungkan oleh kebijakan Orde Baru yang lebih mengutamakan elit dalam negara.51 Mereka inilah pula akhirnya adalah oligarkis politik dan ekonomi di

akhir Orde Baru dan sesudahnya.52

Olehnya, Orde Baru dan keruntuhannya pada dasarnya telah menyisakan tema yang sangat krusial yakni tentang ketimpangan dalam kesejahteraan sosial. Perihal ini kontras atas kesan prestasi Orde Baru yang sukses dalam statistik indikator makro-ekonomi seperti pertumbuhan, inflasi, investasi, penciptaan lapangan kerja, kemiskinan dan pemerataan pendapatan. Sehingga bahwa fakta pertumbuhan ekonomi selama Orde Baru berikut penurunan angka kemiskinan serta kecilnya kesenjangan kesejahteraan yang dilambangkan dengan indeks gini yang cenderung mendekati angka nol hanyalah menunjukkan kesejahteran semu belaka. Kontradiksi ini setidaknya dapat melambangkan bahwa terlalu sedikitnya populasi yang mendominasi pendapatan dan kesejahteraan, sehingga besaran indeks gininya terlihat

50Ibid halaman 46 51Log cit

(16)

lebih kecil. Kembali ke krisis 1997-1998, tampaknya terdapat cukup alasan untuk mengatakan bahwa krisis demi krisis tersebut telah menimbulkan dampak sosial-ekonomi-politik yang luar biasa bagi Indonesia.

Perihal di atas adalah unik sebab problema disorientasi kesejahteraan bukannya diakibatkan kegagalan pasar (market failure) akan tetapi justeru oleh kegagalan negara. Kondisi ini bagi Indonesia sendiri akhirnya bukanlah menjadi alasan untuk mengalihkan kepada solusi yang bertumpu kepada peranan pasar. Oleh karenanya, solusi pasca krisis 1997-1998 telah didahului dengan perbaikan factor-faktor non-ekonomi seperti reformasi politik, hukum dan birokrasi.

Berangkat dari kenyataan persoalan kemiskinan, kesenjangan kesejahteraan dan kegagalan pembangunan seperti yang diuraikan di atas, politik kemiskinan dalam konteks negara kesejahteraan sangat penting untuk diketengahkan untuk memberi tekanan pada kebijakan dan keputusan politik. Sebab bertolak dari pengalaman Orde Baru, campur tangan negara yang besar dalam menciptakan, mengalokasikan dan mendistribusikan kesejahteraan telah gagal dengan kenyataan gagalnya pembangunan. Quasi kapitalisme negara dengan kalangan pengusaha tertentu kekuasaan Orde Baru yang berlatar KKN (Kolusi, Korupsi dan Nepotisme) di masa lalu telah disaksikan berujung pada gagal dan stagnannya perekonomian. Dan dalam kasus Indonesia ini, kegagalan negara (state failure) adalah sangat tepat untuk mendapatkan vonis sebagai penyebab mencuatnya krisis yang lebih serius dalam area yang lebih luas dan saling berhimpit.

(17)

melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,…”.

Terutama dalam pandangan Ir. Soekarno selaku founding father Indonesia yang melihat kesejahteraan sebagai sesuatu yang sangat urgens bagi kemerdekaan bangsa. Dalam sebuah pidatonya menegaskan bahwa,

“…prinsip kesedjahteraan, prinsip: tidak ada kemiskinan di dalam Indonesia Merdeka ... Maka oleh karena itu djikalau kita memang betul-betul mengerti, mengingat, mentjintai rakyat Indonesia, marilah kita terima prinsip hal sociale rechtvaardigheid ini, jaitu bukan sadja persamaan politiek. Saudara-saudara, tetapi pun diatas lapangan ekonomi kita harus mengadakan persamaan, artinja kesedjahteraan bersama jang sebaik-baiknya.”53

Akan tetapi pada kenyataannya, problem kemiskinan adalah persoalan kesejahteraan umum yang masih menjadi masalah pelik yang dihadapi Indonesia hingga sekarang ini. Sampai dengan tahun 2011 seperti dalam Tabel 1.1, tingkat kemiskinan nasional telah dapat diturunkan menjadi 12,49 persen dari 13,33 persen di Tahun 2010.54 Akan

tetapi, angka kemiskinan nasional ini dianggap tetap tinggi mengingat jumlah penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan masih pada kisaran hampir tiga puluh juta jiwa yang masih tidak beruntung. Perihal ini sudah jelas bertolak belakang dengan prinsip kesejahteraan yang ingin diwujudkan dalam negara nasional Indonesia.

Rangkaian data dan fakta menunjukkan bahwa kemiskinan di Indonesia hingga Maret 2012 jumlah penduduk miskin turun menjadi 29,13 juta, turun dari 30,02 juta per Maret 2011. Secara persentase, tingkat kemiskinan per Maret 2012 menjadi 11,96 persen, membaik dari 12,49 persen. Dibandingkan dengan data pada 1990 persentase kemiskinan sebesar 15,1 persen atau setara 27,2 juta penduduk kala itu. Pada 2010, persentase penduduk miskin sebesar 13,33 persen atau sebesar 31,02 juta jiwa dan sedikit berkurang lagi pada 2012 menajdi 11, 9 persen. Jadi, selama 20 tahun terakhir

(18)

dapat dikatakan bahwa telah ada kemajuan untuk menekan angka kemiskinan akan tetapi kelihatannya bahwa persentase penduduk miskin tidak banyak mengalami penurunan dan kondisi kesejahteraan rata-rata tidak membaik dengan meningkatnya jumlah penduduk yang miskin. Kelihatannya persentase kemiskinan menurun akan tetapi dibarengi peningkatan jumlah penduduk miskin akibat peningkatan populasi penduduk.

Tabel 1. Pertumbuhan Ekonomi, Kemiskinan, dan Indeks Gini, 2002-2011

(19)

ketimpangan pendapatan dari skala 0 sampai 1) menunjukkan peningkatan. Pada tahun 1990, rasio gini Indonesia masih 0,29, lalu pada 2002 Rasio Gini meningkat menjadi 0,32. Keadaan tersebut semakin parah pada 2010 yang telah melesat menjadi 0,38 (makin tinggi berarti kian timpang). Bahkan, pada 2011 Rasio Gini Indonesia mencetak rekor baru menjadi 0,41 (Tabel 1).

Data tersebut menunjukkan bahwa untuk pertama kalinya Rasio Gini di Indonesia masuk dalam ketimpangan menengah, angka di bawah 0,4 menunjukkan ketimpangan rendah. Rasio gini menunjukkan proporsi penduduk yang menikmati pendapatan dan kekayaan dan Indeks gini 0,41 menunjukkan bahwa 1 persen penduduk menguasai hingga 41 persen total kekayaan di Indonesia. Semakin melebarnya kesenjangan kesejahteraan tersebut adalah ironis sebab semenjak Indonesia melakukan pembangunan secara sistematis sejak 1966 tidak pernah angka Gini Rasio menembus 0,4 yang berarti bahwa proses pembangunan makin terkonsentrasi pada sekelompok kelas ekonomi saja, yaitu kelas menengah ke atas. Perihal ini pula mengindikasikan bahwa setelah 15 tahun reformasi, ketimpangan ekonomi semakin lebar.55

Realitas kemiskinan di Indonesia tersebut di atas tidak dapat dipisahkan dengan arena politik sebab berkaitan dengan persoalan kemiskinan secara konteks dan kebijakan politik. Terminologi politik kemiskinan (politics of Poverty) adalah identik dengan kelahiran konsep negara kesejahteraan dengan argumentasi bahwa negara kesejahteraan adalah pertama dan terutama sebagai political artifact atau bagian dari sejarah dan kompromi politik berkaitan dengan isu kemiskinan.56

III. Konteks Politik Reformasi Jamsosnas

Telah dijelaskan dan diuaraikan di atas, bahwa proses reformasi system jaminan sosial di Indonesia melalui formulasi kebijakan (policy formulation) dalam proses politik yakni terutama dalam proses legislasi di lembaga perwakilan rakyat, DPR-55 Laporan utama Harian Kompas “Ketimpangan Makin Lebar”, Selasa 21 May 2013

56 Robert E. Goodin. The_Political Theory of the Welfare State. New Jersey, Priceton University

(20)

MPR RI. Proses legislasi tersebut melalui beberapa tahap penyusunan peraturan yang dimulai dengan amandemen pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945 (tahun 2000), Undang-Undang No 40 Tahun 2004 tentang system jaminan sosial nasional, dan Undang-Undang No 24 Tahun 2011 tentang Badan Pengelola Sistem Jaminan Sosial Nasional. Ketiga formulasi perundang-undangan tersebut melalui proses politik dengan berbagai konteks politik yang berlainan. Perbedaan konteks politik terutama dilatarbelakangi oleh penyusunan perundang-undangan dengan latar politik yang berbeda. Amandemen pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945 dan penyusunan Undang-Undang No 40 Tahun 2004 disusun dan diputuskan oleh lembaga legislatif dan lembaga eksekutif hasil pemilu 1999 yang berbeda dengan konteks politik penyusunan Undang-Undang No 24 Tahun 2011 yakni disusun dibawah formasi politik hasil pemilu tahun 2009.

Konteks politik hasil pemilu 1999 dan 2009 tidaklah sama jika didasarkan pada jumlah partai politik yang berpartisipasi dalam masing-masing pemilu dan akhirnya yang berhasil lolos dan mendudukkan wakil-wakilnya di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Seperti diketahui bahwa pemilu 1999 diikuti oleh 48 partai politik dengan berbagai latar belakang ideologis dan akhirnya hanya 21 partai politik yang berhasil mendulang kursi di DPR-RI. Sedangkan pemilu 2009 diikuti oleh 38 partai politik nasional dan menghasilkan hanya 9 partai politik yang meraih kursi di DPR-RI. Seperti yang diperlihatkan pada Tabel 1, komposisi Sembilan partai politik teratas perolehan suaranya memperlihatkan konfigurasi partai yang jauh berbeda antara pemilu 1999 dan pemilu 20098. Misalnya dari sisi pemenang pemilu, pada pemilu 1999 dimenangkan oleh PDIP dengan 153 kursi sedangkan Pemilu 2009 justeru dimenangkan oleh Partai Demokrat dengan perolehan 148 kursi.

(21)

Uru-tan

Pemilu 1999 Pemilu 2009

Partai Politik Perolehan

Kursi DPR

Partai Politik Perolehan

Kursi DPR

1 PDIP 153 Partai Demokrat 148

2 Golkar 120 Partai Golkar 106

3 PPP 59 PDI Perjuangan 94

4 PKB 51 PKS 57

5 PAN 35 PAN 46

6 PBB 13 PPP 38

7 Partai Keadilan 6 PKB 28

8 PKP 6 Gerindra 26

9 PNU 3 Hanura 17

Sumber: diolah dari berbagai sumber57

Dari gambaran sekilas di atas dapat mengindikasikan bahwa corak kompetisi dan pertarungan politik pada arena legislatif di dua periode pemilihan tersebut tidaklah sama akibat perbedaan jumlah partai politik dan perbedaan keragaman partai politik yang terdapat di lembaga tersebut. Sisi pertarungan politik dalam DPR-RI 1999-2004 yang nyaris memperlihatkan kompetisi ideologis terutama akibat pertarungan pada agenda amandemen pertama UUD 45 mengenai posisi Piagam Jakarta dalam konstitusi. Selain itu, pertikaian politik yang melibatkan kekuatan-kekuatan politik di berbagai arena politik yang akhirnya berujung dengan dimaksulkannya Gus Dur dan naiknya Megawati Soekarnoputri ke kursi RI-1 sangat jelas akan berpengaruh kuat pada perjalanan reformasi jamsosnas tersebut.

Perbedaan konteks politik di balik reformasi Jamsosnas tersebut sudah jelas akan memberikan konsekuensi pada proses legislasi untuk menyusun aturan perundang-undangannya. Dalam penyusunan peraturan perundang-undangan atau proses legislasi seperti pada reformasi Jamsosnas tersebut merupakan rangkaian formulasi kebijakan (policy formulation) melalui proses demokratis yang melibatkan aktor-aktor politik seperti partai politik dan termasuk politisi-politisi yang ada di

(22)

dalamnya.58 Proses demikian mutlak dipahami sebagai konsekuensi dari pilihan

sistem dan mekanisme demokratis. Sebagaimana sepatutnya dalam proses formulasi kebijakan dalam mekanisme demokrasi, partai-partai politik tersebut berkompetisi untuk memperjuangkan kepentingan politik (political articulation) sesuai dengan flatform atau manifesto partai politik masing-masing.

Dalam teori penyusunan kebijakan demokratis yang menyatakan bahwa tuntutan masyarakat dijembatani oleh system kepartaian yang kompetitif.59 Dengan demikian

bahwa demokrasi modern yang identik dengan demokrasi perwakilan menyiratkan adanya kompetisi partai politik untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat yang diwakilinya. Oleh karena itu, kongruensi antara apa yang dinyatakan oleh partai-partai dan apa yang dilakukan oleh pemerintah menjadi penting dalam demokrasi perwakilan.60 Dengan kata lain bahwa dalam kompetisi politik antar partai-partai di

parlemen seharusnya dapat menggambarkan kompetisi untuk menentukan atau membatasi tindakan atau kebijakan pemerintah.

Lebih lanjut seperti yang diungkapkan oleh Harry S. Truman yang mantan Presiden Amerika Serikat bahwa platform-platform partai merupakan kontrak dengan rakyat,61 maka selayaknya bahwa kompetisi partai atau fraksi di legislatif dibatasi

oleh flatform politik dari masing-masing-masing partai. Atau dengan kata lain bahwa eksistensi partai di parlemen adalah perjuangan politik merelisasikan maksud dari flatform partai politik masing-masing dalam kebijakan pemerintahan ataupun tercermin dalam regulasi politik melalui formulasi peraturan perundang-undangan serta komposisi prioritas anggaran negara.

Dalam teori pengambilan keputusan demokratis, corak kompetisi politik di lembaga legislative dikenal tiga model kompetisi yakni model mandat, model agenda

58 Paul Pennings, Hans Keman and Jan Kleinnijenhuis. Doing Research in Political Science. London,

Sage, 2006 Hal 184

59 Klingemann, Hans-Dieter and Dieter Fuchs ed. Citizens and the State Oxford: Oxford University

Press.Fuch and Klingermann 1993

(23)

dan model ideologis.62 Model agenda lebih mencerminkan bahwa dalam kompetisi

politik di parlemen oleh partai-partai besar berkecenderungan berubah penekanan programatisnya sesuai dengan perkembangan situasi lingkungannya, sehingga dua atau lebih partai besar dapat menerjemahkan penekanan programatisnya dalam prioritas kebijakan yang sama.63 Model mandat lebih mencerminkan bahwa kompetisi

politik berhenti sampai kepada pemilihan umum yang pemenangnya menentukan kebijakan sesuai dengan yang ditawarkannya kepada pemilih dan mengesampingkan program dan agenda kebijakan partai-partai politik yang kalah dalam pemilu.64

Sedangkan model ideologis lebih mencerminkan bahwa kompetisi partai-partai yang lebih menekankan pertarungan yang didasarkan pada ideology masing-masing partai dengan basis yang kurang lebih abadi.65 Ketiga model kompetisi politik ini dalam

pengamatan di berbagai negara nyatanya tidak dijalankan secara parsial, namun terkadang dengan variasi antar ketiga model kompetisi tersebut.66

Akan tetapi, persaingan atau kompetisi politik dalam legislatif di Indonesia berkecenderungan tidak menunjukkan pola-pola kompetitif seperti yang dijelaskan dalam model-model persaingan partai politik sesuai yang diuraikan di atas. Misalnya penelitian tentang perilaku legislatif di Indonesia justeru memperlihatkan bahwa para anggota legislatif lebih menunjukkan perilaku oportunistik dan lebih menonjolkan kepentingan pribadi (self interest) oleh masing-masing politisi.67 Oleh kalangan

politikus di lembaga legislatif cenderung dimanfaatkan sebagai arena untuk menumpuk kekayaan melalui permainan anggaran dan berbagai peluang yang mengarah kepada transaksi politis. Sehingga tidak heran jika menyeruak berbagai kasus-kasus korupsi yang melibatkan anggota legislatif atau anggota Banggar di DPR-RI dengan berbagai latar belakang fraksi atau partai politik. Kasus-kasus

62Ibid hal 80-99 63Ibid

64Ibid 65Ibid 66Ibid

67 Disertasi Syukri Abdullah, Perilaku Oportunistik Legislatif dan Faktor-Faktor yang

(24)

penyelewengan sumberdaya finansial tersebut lebih menegaskan bahwa terdapatnya distorsi kepentingan rakyat dalam proses politik.

Terdapat pula studi lainnya yang menunjukkan bahwa keberadaan partai-partai politik di Indonesia dalam dua periode pemilu antara 1999-2004 dan 2004-2009 lebih memperlihatkan bahwa adanya kerjasama antara berbagai partai untuk membagi sumber-sumber keuangan di pemerintahan dan parlemen untuk kepentingan partainya masing-masing.68 Kenyataan tersebut lebih menegaskan sikap opurtunistik partai

sehingga partai tidak lagi mewakili segmen-segmen yang ada di masyarakat dan menjadi kepentingan dirinya sendiri.69 Oleh Katz dan Meir kenyataan politik seperti

itu disebut sebagai kartelisasi politik.70 Dan reformasi Jamsosnas dapat juga

tersandera oleh konteks politik kartel tersebut dengan indikasi lambannya penuntasan proses legislasi di DPR. Politik transaksionis dapat dianggap tidak terelakkan dalam proses tersebut mengingat besarnya mobilisasi finansial dalam pembiayaan program-program Jamsosnas nantinya.

Berbeda dengan di Indonesia, isu kesejahteraan justeru menjadi arena kompetisi politik yang intensif di berbagai negara demokratis yang didasarkan perbedaan yang lebih bersifat ideologis. Seperti yang terlihat dalam kasus reformasi jaminan sosial di Amerika Serikat pada masa Presiden Bill Clinton (1996) dan terakhir oleh pemerintahan Presiden Obama (2013) yang keduanya dari partai demokrat mendapatkan penolakan keras oleh partai republic di badan legislatif.71 Kedua-duanya

akhirnya mendapati situasi government shutdhown yakni pemberhentian sementara aktivitas pemerintahan yang justeru meresahkan rakyat mereka dan menimbulkan

68 Kuskridho Ambardi,. Politik Kartel. Jakarta. Kepustakaan Populer Gramedia, 2009 69Ibid

70 Ricard Katz and Peter Meir. How Party Organize: Change Adaftation in Party Organization in

Western Democracies. London Sage Publication 1995 hal 19

71 Kebijakan reformasi jaminan sosial Clinton dikenal dengan the Personal Responsibility and Work

(25)

gangguan pada dunia bisnis dan usaha secara domestik dan global. Penutupan sementara pelayanan pemerintahan Amerika Serikat di tahun 2013 ini memberikan dampak kerugian sebesar USD 24 milyar bagi perekonomiannya.72

Tentang kasus reformasi Jamsosnas di Indonesia yang berbarengan dengan agenda reformasi menyeluruh pasca runtuhnya Orde Baru juga menunjukkan pola dan corak kompetisi antar partai atas formulasi kebijakan kesejahteraan tersebut. Dinna Wisnu dalam penelitiannya tentang Governing Social Security: Economic Crisys Indonesia, Philipine and Singapura menunjukkan bahwa reformasi Jamsosnas di Indonesia merupakan hasil dari tarik menarik antar berbagai kepentingan.73

Setidaknya di belahan dunia mana pun, system jaminan sosial lahir dari tarik menarik kepentingan, negoisasi, pencarian titik konsesi, yang durasi waktunya bisa berpuluh bahkan beratus tahun.74 Studi ini menyimpulkan antara lain bahwa system

jaminan sosial di Indonesia sulit dilepaskan dari kontroversi politik, pertarungan politik dan obyekan kalangan politisi.75 Kesemua itu menurutnya dapat mengganggu

tujuan atas tujuan sistem jaminan sosial itu sendiri.

Indikasi bahwa jauhnya dari corak pertarungan ideologis dan kecenderungan oportunistik dari kalangan politisi di parlemen seperti yang dijelaskan di atas justeru dapat memberikan hambatan politik bagi tercapainya cita-cita keadilan. Penegasan ini akhirnya akan memberikan kesangsian akan keberlanjutan reformasi Jamsosnas yang kini masih bergulir. Mekanisme demokrasi yang dilalui dalam reformasi Jamsosnas tersebut kelihatannya belum memberikan garansi akan perwujudan cita-cita keadilan sosial diatas pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka. Sehingga kerinduan sebahagian anak-anak bangsa untuk ikut menikmati hasil-hasil dari upaya peningkatan kesejahteraan dapat tersandera oleh serangkaian proses politik. Lebih

72 Menurut mayotitas pemilih bahwa kerugian itu adalah tanggungjawab partai republik sehingga

muncul sentimen negative atas partai tersebut dan menjadi kunci kemenangan democrat pada pemilihan walikota dan gubernur di New York dan Virginia Lihat laporan harian Repulika “Demokrat Kuasai New York dan Virginia” Kamis 7 November 2013

73 Dinna Wisnu. Governing Social Security: Economic Crisys Indonesia, Philipine and Singapura.

Disertation Politics in Ohio State University 2007

(26)

memiriskan lagi, proses politik yang terselewengkan tersebut justeru dibumbui retorika untuk dan atas nama rakyat itu sendiri.

Akan tetapi pada dasarnya perbedaan sikap atas formulasi kebijakan tentang reformasi jamsosnas tidak hanya tergantung oleh konteks dan factor-faktor yang telah disebutkan di atas yang lebih menekankan pada perilaku kepartaian dan karakter politisi. Faktor kapasitas, pengetahuan dan pengalaman individu anggota legislatif juga akan sangat menentukan sikap mereka atas formulasi kebijakan system jaminan sosial. Seperti yang ditegaskan oleh Midgey bahwa perbedaan sikap atas pandangan atas jaminan sosial dan kesejahteraan umum lebih disebabkan perbedaan pengetahuan dan pemahaman. Dalam studinya tersebut menyimpulkan bahwa gejala kemiskinan dan kesejahteraan bisa disalah ditafsirkan bahwa orang miskin tidak pantas mendapat dukungan adalah lebih mencerminkan kurangnya publisitas oleh pihak berwenang (pemerintah). Menurut Midgey, jika temuan empirisnya di Hong Kong dapat digeneralisasi, hanya akurasi pengetahuan tentang siapa orang miskin dan kesejahteraan yang cenderung mendorong tindakan pro-welfare.76

Oleh sebab itu, dapat diasumsikan bahwa selain oleh faktor manifesto partai, dorongan kepentingan pribadi (self interest) atau sikap opurtunisme politik untuk mengincar sumber-sumber keuangan terdapat pula factor pengetahuan dan pengalaman serta pemahaman anggota legislatif atas konsepsi Jamsosnas tersebut. Asumsi tersebut dapat diperkuat oleh pandangan Soelastomo bahwa kendala reformasi jaminan sosial di Indonesia antara lain pertama oleh tiadanya kesamaan persepsi tentang konsep-konsep jaminan sosial diberbagai pemangku kepentingan. Selain itu kedua adanya persepsi yang keliru bahwa jaminan sosial akan membebani anggaran negara. Ketiga, adanya anggapan bahwa jamainan sosial akan sulit diterapkan di Indonesia bahkan tidak layak diwajibkan. Keempat, kepentingan bisnis yang merasa terasa eksistensi usahanya. Kelima, kepentingan politik jangka pendek

(27)

untuk lebih mengedepankan bantuan sosial (social assistance) karena lebih menguntungkan secara politik.77

V. Penutup

Cita-cita agung pendirian negara Indonesia yang merdeka telah dirumuskan dengan seuntai kalimat bahwa pemerintah Negara Indonesia Merdeka yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan ketertiban umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Dengan demikian, telah sedari awalnya politik kesejahteraan diposisikan sebagai sesuatu yang sangat urgens sebagai landasan ideologis dan kebijakan bagi segenap pemangku kepentingan untuk menegakkan keadilan sosial di Indonesia. Prinsip kesejahteraan yang berkumandang jauh sebelum kemerdekaan bangsa itu adalah untuk memerangi kemiskinan pada bangsa Indonesia nantinya. Akan tetapi pada kenyataannya, problem kemiskinan adalah persoalan kesejahteraan umum yang masih memenjarakan kondisi sosial ekonomi Indonesia hingga sekarang ini.

Berbagai upaya untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat telah menunjukkan berbagai kendala dan kegagalan untuk mewujudkannya. Oleh karena itu sejak runtuhnya Orde baru, negara mengembangkan sebuah sistem jaminan sosial yang universal bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan dengan rangkaian reformasi Jamsosnas. Sistem kesejahteran ini dipilih dengan tujuan memberi kepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat. Melalui kebijakan dan program ini, setiap orang atau penduduk diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak apabila tejadi hal-hal yang dapat mengakibatkan hilang atau

(28)

berkurangnya pendapatan, karena menderita sakit, mengalami kecelakaan, kehilangan pekerjaan, memasuki usia lanjut, atau pensiun.

Reformasi Jamsosnas ini tidak dapat dipisahkan dari dinamika politik yang menyertainya atas konsekuensi pilihan mekanisme dan sistem demokrasi yang telah diyakini sebagai pilihan tepat pada bentuk sistem politik Indonesia mutakhir. Dinamika politik yang dimaksud melibatkan elit politik, partai politik, birokrasi pemerintahan, kelompok penekan (pressure groups) dan kelompok kepentingan (interest groups). Kenyataan tersebut mengindikasikan bahwa dalam perjalanan reformasi itu, terutama dalam proses legislasi system jaminan menampilkan konteks sebagai kontroversi politik, pertarungan politik dan pertentangan pandangan serta sikap politisi atas agenda-agenda tersebut. Terlebih lagi senyatanya pada level interaksi politik di lembaga legislatif dalam kaitannya hubungan-hubungan system kekuasaan formal dan informal dengan actor-aktor politik lainnya. Akan tetapi reformasi Jamsosnas dapat tersandera oleh konteks politik tersebut dengan indikasi lambannya penuntasan proses legislasi di DPR. Kecenderungan tersebut dapat terjadi akibat endemy politik transaksionis dan oportunisme politisi yang ditengarai telah amat mewabah dalam proses politik, terutama dalam setiap proses legislasi di parlemen .

(29)

Kepustakaan

Alcock, Pete. Understanding Poverty, 2nd Edition. Macmillan Press, 1997,

Almon, Gabriel Study Perbandingan Politik dalam Mohtar Mas’oed dan Colin MacAndrews. Perbandingan Sistem Politik. GMU Press, 2008

Blase, J. (Ed.).. The politics of life in schools: Power, conflict and cooperation. Newbury Park, CA: Sage. 1991

Brady, David. Democracy Rich and People Poor; How Politics Explain Poverty. Oxford University Press, 2009

Brian Tierney. Medieval poor law_ a sketch of canonical theory and its application in England. University of California Press, 1959

Bruno Palier. A Long Goodbye to Bismarck: The Politics of Welfare Reform in Continental Europe.Amsterdam University Press, 2010

Booth, Anne & Peter McCawley (eds.), The Indonesian Economy during the Soeharto Era. Petaling Jaya: Oxford University Press, 1981

Corporaso James dan David Levine. Teori-Teori Ekonomi Politik. Yogyakarta, Pusataka Pelajar, 2008

Chaniago, Andrinof. Gagalnya Pembangunan, Membaca Ulang Keruntuhan Orde Baru (Edisi Revisi). Jakarta, LP3ES, 2012,

Corporaso, James dan David Levine. Teori-Teori Ekonomi Politik. Yogyakarta, Pusataka Pelajar, 2008 halaman 23

Crick, Bernard. In Defense of Politics. London: Weidenfeld and Nicolson. Middlesex, England: Penguin Books, 1964

Easton, David. The Political System: An lnquiy into the State of Political Science. Chicago: University of Chicago Press. 1981

(30)

Evan, Kevin “Economic Update” dalam Geoff Forrester, editor. Post-Soeharto Indonesia: Renewal or Chaos?. Singapura, ISEAS 1999 halaman 105-128 Ferrara. The Obamacare Disaster. Chicago, Illinois. Heartland Institute. 2010

Furman, Jason, And Joseph E. Stiglitz. 1998. “Economic Crises: Evidence and Insights from East Asia.” Brookings Papers on Economic Activity, no. 2 halaman 1–114.

Glassburnuer, Bruce. The Economy of Indonesia— Selected Readings. Ithaca and London: Cornell University Press

Grenville, Stephen ”Monetary Policy and the Formal Financial Sector”, dalam dalam Goodin Robert E. The_Political Theory of the Welfare State. New Jersey, Priceton University Press, 1988

Haber, Stephen. Crony Capitalism and Economic Growt in Latin America Theory and Evidence.Hoover Institution on War, Revolution and Peace, 2002

Hans-Dieter Klingemann and Dieter Fuchs ed. Citizens and the State Oxford: Oxford University Press.Fuch and Klingermann 1993

Harian Kompas, Laporan utama tentang “Ketimpangan Makin Lebar”, Selasa 21 May 2013

Kahin, G. McT. Nationalism and revolution in Indonesia, Ithace: Cornell University Press, 1978

Kang, David C.. “Transaction Costs and Crony Capitalism in East Asia “Journal of Comparative Politics, Vol. 35, No. 4 (Jul., 2003), halaman 439-458.

Kang, David C.. Crony Capitalism. Cambridge. Cambridge University Press, 2002 Katz, Ricard and Peter Meir. How Party Organize: Change Adaftation in Party

Organization in Western Democracies. London Sage Publication 1995

Klingerman, Hans Dieter, Richard I. Hofferbert dan Ian Budge. Partai Kebijakan dan Demokrasi. Yogyakarta, Jentera, 1999

(31)

Legge, J.D.. Sukarno–A Political Biography. Ringwood, Victoria: Penguin Books Australia, 1972

Levy. The Case against President Obamas Health Care Reform. Massachusetts, Cato Institute, 2011

Lynn Abrams. Bismarck_and_the_German_Empire_1871-1918. London. Routledge, 1995

Mas’oed, Mohtar. Politik, Birokrasi dan Pembangunan. Yogyakarta, Pusataka Pelajar 1994

Marc Brodie. The Politics of the Poor_ The East End of London 1885-1914. Oxford. Oxford University Press, 2004

Martin Schludi. The Reform of Bismarckian Pension Systems_ A Comparison of Pension Politics in Austria_ France_ Germany_ Italy and Sweden. Amsterdam University Press, 2005

Midgley, James. Social Policy and Poverty in East Asia: The Role of Social Security (2009)

O’Connor, Mary Katherine. Organization practice : a guide to understanding human services. Hoboken, New Jersey John Wiley & Sons, Inc

O'Donnell, Guillermo. Bureaucratic Authoritarianism: Argentina 1966-1973 in Comparative Perspective. Berkeley, University of California, 1988

Richard K Caputo,. U.S. Social Welfare Reform Policy Transitions from 1981 to the Present-New York. Springer, 2011

Robinson, Richard dan Vedi R, Hadiz. 2004. "The Genesis of Oligarchy: Soeharto's New Order 1965-1982", dalam Reorganising Power in Indonesia the Politics of Oligarchy in an Age of Markets. New York, Routledge Curzon, halaman 136-167.

Robison, Richard. Soeharto dan bangkitnya kapitalisme Indonesia. Jakarta, Komunitas Bambu, 2012

(32)

Stigliz, Josep E and Shahid Yusuf. Rethinking The East Asian Miracle. Word Bank, 2001

Sulastomo. Sistem Jaminan Sosial Nasional; mewujudkan amanah konstitusi. Jakarta, Penerbit Buku Kompas, 2011

UUD 1945 Amandemen ke-4

Undang-Undang No 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional

Undang-Undang No 24Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Sistem Jaminan Sosial (BPJS)

Vakitiotis, M. R. J. Indonesian Politics Under Suharto: The Rise and Fall of the New Order. London Routledge, 1998

William Ebenstein. Great Political Thinkers. New York. NY: holt Rinehart, and Wunston, 1960

Willner, Roland “Micro-politics: An Underestimated Field of Qualitative Research in Political Science” German Political Studies Vol. 7, No. 3, 2011 pp. 155-185 Wisnu, Dinna. Governing Social Security: Economic Crisis and Reform in Indonesia,

Philipine and Singapura. Disertasi Ohio State University, 1996

Wisnu, Dinna. Politik Sistem Jaminan Sosial Nasional. Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2012

Zald, Majer “Political Economy: A framework for comparative analysis” dalam M Zald,. (Ed.), Power in Organizations. Nashville: Vanderbilt University Press. 1970 halaman 221–261

Gambar

Tabel 1. Pertumbuhan Ekonomi, Kemiskinan, dan Indeks Gini, 2002-2011

Referensi

Dokumen terkait

Dan dari hasil penelitian yang ditunjukkan pada tabel di atas juga menunjukkan motivasi belajar siswa pada perkembangan masa puber di Madrasah Aliyah PUI

[r]

Dalam penelitian ini, metode Agglomerative Hierarchical Clustering dapat dengan baik mengelompokkan jenis suara anggota baru penyanyi paduan suara mahasiswa Cantus

Hasil uji coba lapangan menunjukkan t hitung > t tabel yaitu 1,83 > 1,67 maka, hipotesis H 0 ditolak,sehingga dapat disimpulkan pembelajaran dengan menggunakan

kesadaran diri, prompt dan kontrak belajar. Proses intervensi melalui modifikasi perilaku akan memepengaruhi domain kognisi, afeksi dan psikomotorik siswa. Proses

Makro fauna tanah merupakan salah satu komponen tanah, kehidupan makrofauna tanah sangat tergantung habitatnya, karena keberadaan dan kepadatan populasi suatu jenis

Selanjutnya, hipotesis minor pada penelitian ini adalah ada hubungan negatif signifikan antara konsep diri dengan kesepian yang artinya semakin rendah konsep diri

Cara menanaman sikap perilaku fanatisme sebagai berikut: 1). Mengajak berfikir rasionil. Jika ia dapat kembali berfikir rationil dalam bidang yang diyakini itu