• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL PENELITIAN PENGETAHUAN IBU TENTAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "JURNAL PENELITIAN PENGETAHUAN IBU TENTAN"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PNEUMONIA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA UPTD KESEHATAN KECAMATAN

SANANWETAN KOTA BLITAR Erwan Trisnanto

Poltekkes Kemenkes Malang, Jl. Besar Ijen No. 77C Malang

email: trisnantoerwan@gmail.com

Abstract: Good mother's knowledge about pneumonia become very supportive in providing care to the son who suffered from pneumonia. The purpose of this research was to determine description of the mother's knowledge about pneumonia on children under five years old at the work area of the UPTD Kesehatan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar. This research design used descriptive. The population in this research were mothers who have child under five years old who have been sick at the work area of the UPTD Kesehatan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar. Sample size in this research were 30 mothers who have son under five years old who have been pneumonia at the work area of the UPTD Kesehatan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar on January to June 2015 with a purposive sampling technique. Researcher used a questionnaire instruments description of mother's knowledge about pneumonia on child under five years old. Results of this study showed mothers had good knowledge of 53,3% (16 mothers), mothers had sufficient knowledge of 40% (12 mothers), and mothers had less knowledge of 6,7% (2 mothers). Reinforcered factors of mother's knowledge were information from health care workers about pneumonia, mother didn't have a job, child nutrition, the time of child consumed breast milk, child's immunization status. Researcher recommend to the health public provider to provide information about pneumonia to mothers who have children at the work area of health public provider.

Keywords: Mother, knowledge, pneumonia, child under five years old

(2)

Kata Kunci: Pengetahuan, ibu, pneumonia, balita PENDAHULUAN

Masalah kesehatan anak merupakan salah satu masalah utama dalam bidang kesehatan yang saat ini terjadi di Indonesia. Derajat kesehatan anak mencerminkan derajat kesehatan bangsa, sebab anak sebagai generasi penerus bangsa memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan dalam meneruskan pembangunan bangsa. Balita adalah semua anak termasuk bayi baru lahir yang berusia 0 sampai menjelang 5 tahun (4 tahun, 11 bulan, 29 hari) (Maryunani, 2010:6). Meskipun jumlah kematian balita di Indonesia telah berkurang dari 385.000 pada tahun 1990 menjadi 152.000 pada tahun 2012, namun ada kekhawatiran dengan tingkat penurunan melambat selama 5 sampai 10 tahun terakhir dan pneumonia pun menjadi salah satu penyebab kamatian balita Indonesia pada peringkat ke 3 dengan 14% di tahun 2013 (http://www.unicef.org/indonesia/id/ media_12253.html, diakses pada 2 Desember 2014).

Pneumonia adalah radang parenkim paru yang dapat disebabkan oleh mikroorganisme tetapi kadang juga sejumlah penyebab non infeksi (Behrman dkk,1996 dalam Astuti & Rahmat, 2010:109). Perlunya dukungan dari beberapa pihak untuk mencegah terjadinya pneumonia pada balita merupakan hal penting. Termasuk dukungan dari keluarga merupakan hal mutlak yang harus diperoleh balita penderita pneumonia. Peran ibu dalam keluarga sangat sentral, salah satunya ibu sebagai pemberi asuhan di keluarga dalam sehat sakit (Friedman, 1998:307).

Ibu adalah wanita yang telah melahirkan seseorang (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Indonesia, 2008). Pengetahuan adalah hal penting yang harus dimiliki ibu dalam menjalankan perannya di keluarga dalam sehat sakit. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang dan perilaku yang didasarkan pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2007:144). Pengetahuan ibu yang baik tentang pneumonia menjadi hal yang sangat mendukung dalam ibu memberikan perawatan terhadap ankanya yang menderita pneumonia yang menurut menurut Astuti & Rahmat (2010) dan Muttaqin (2008) perawatan yang perlu dilakukan yaitu menjaga kebersihan jalan napas, menjaga agar pertukaran gas tetap lancar, mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal, memastikan kebutuhan nutrisi terpenuhi, dan memberikan obat sesuai resep medis pada saat rawat jalan.

Cakupan pneumonia pada balita di Indonesia mengalami kenaikan dari tahun 2012 sebesar 23,42% menjadi 24,46% pada tahun 2013. Namun angka penemuan pneumonia

balita tidak mengalami

(3)

2013 (Kementerian Kesehatan RI, 2014). Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di 3 UPTD Kesehatan Kecamatan yang ada di Kota Blitar yaitu di UPTD Kesehatan Kecamatan Sananwetan, UPTD Kesehatan Kecamatan Kepanjenkidul, dan UPTD Kesehatan Kecamatan Sukorejo pada Maret 2015 menunjukkan bahwa terjadi kenaikan cakupan penderita pneumonia pada balita di tahun 2014 dibandingkan tahun sebelumnya. Di tahun 2013 cakupan pneumonia pada balita di Kota Blitar adalah 17,37% dan pada tahun 2014 menjadi 17,89%. Dari total balita penderita pneumonia di Kota Blitar tahun 2014 bahwa 93,24% merupakan kunjungan baru, 6,76% merupakan kunjungan ulang, 30,92% tergolong pneumonia, 69,08% tergolong pneumonia berat, 44,92% diberi resep obat , dan 55,08% dirujuk ke rumah sakit.

Kejadian pneumonia pada balita di Kota Blitar yang paling mencolok terdapat di wilayah kerja UPTD Kesehatan Kecamatan Sananwetan dengan 94,94% merupakan kunjungan baru, 5% merupakan kunjungan ulang, 28,75% tergolong pneumonia, 71,25% tergolong pneumonia berat, 34,47% diberi resep obat , dan 65,63% dirujuk ke rumah sakit. Berdasarkan fenomena tersebut peneliti tertarik untuk melakukan wawancara terhadap ibu yang memiliki balita penderita pneumonia tentang pengertian, penyebab, tanda, klasifikasi, dan tindakan pada balita pneumonia. Dari wawancara yang dilakukan peneliti pada 18 Maret 2015 bahwa 4 dari 5 ibu tidak mengetahui tentang pneumonia pada balita dan 1 ibu pengetahuan kurang tentang pneumonia pada balita.

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang pneumonia pada balita di wilayah kerja UPTD Kesehatan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar.

METODE PENELITIAN

Rancangan penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian ini menggambarkan pengetahuan ibu tentang pneumonia pada balita di wilayah kerja UPTD Kesehatan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar. Pada penelitian ini populasi yang digunakan adalah ibu yang memiliki balita riwayat pneumonia di wilayah kerja UPTD Kesehatan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar pada Januari-Juni 2015 yaitu sebesar 41 orang. Besar sampel dalam penelitian ini adalah 30 ibu yang memiliki balita riwayat pneumonia di wilayah kerja UPTD Kesehatan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar pada Januari-Juni 2015. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan ciri-ciri sampel

yang dianggap mewakili

karakteristik populasi adalahi bu yang memiliki anak usia < 5 tahun pada 1 Januari-30 Juni 2015 yang memiliki riwayat sakit pneumonia dan alamat rumah ibu dalam wilayah kerja UPTD Kesehatan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar.

(4)

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengetahuan ibu tentang pneumonia pada balita. Dalam penelitian ini peneliti

menggunakan instrument

pengumpulan data berupa kuisioner. Kuisioner yang digunakan peneliti adalah kuisioner yang berisi 30 butir pernyataan yang disusun sendiri berdasarkan parameter. Untuk menguji instrumen, peneliti mencobakan instrumen tersebut dengan kegiatan iji coba (try-out) instrumen kepada ibu yang bukan diteliti.

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan pembentukan tim pengumpul data. Peneliti membentuk tim pengumpul data yang dipersiapkan untuk datang ke rumah setiap responden. Tim pengumpul data beranggotakan 5 mahasiswa Poltekkes Kemenkes Malang yang dibagi menjadi 3 tim, setiap tim terdiri 2 orang.

HASIL PENELITIAN

Berdasarkan kriteria usia ibu, diketahui bahwa mayoritas ibu berumur antara 30-39 tahun sebesar 47% (14 ibu).

Berdasarkan kriteria umur anak, diketahui bahwa mayoritas umur anak ibu adalah 13-36 bulan sebesar 60% (18 ibu).

Berdasarkan kriteria pekerjaan ibu, diketahui bahwa mayoritas ibu tidak bekerja sebesar 47% (14 ibu). Berdasarkan kriteria pendidikan terakhir ibu, diketahui bahwa mayoritas ibu berpendidikan terakhir SMA sebesar 57% (17 ibu).

Berdasarkan kriteria anak ibu sakit, diketahui bahwa mayoritas ibu frekuensi anaknya sakit pneumonia sebanyak 1 kali sebesar 63% (19 ibu).

Berdasarkan kriteria status gizi anak ibu, diketahui bahwa sebagian besar ibu status gizi anaknya tidak pernah di bawah garis merah, sedangkan sebesar 3% (1 ibu) status gizi anaknya pernah di bawah garis merah.

Berdasarkan kriteria lama anak konsumsi ASI, diketahui bahwa ibu yang memberikan ASI kepada anaknya selama kurang dari 6 bulan sebesar 7% ( 2 ibu).

Berdasarkan kriteria status imunisasi anak, diketahui bahwa ibu yang status imunisasi anaknya tidak lengkap dan diberikan imunisasi umur > 1 tahun sebesar 7% (2 ibu). Berdasarkan pengalaman ibu mendapat penyuluhan pneumonia, diketahui bahwa mayoritas ibu tidak pernah mendapat penyuluhan pneumonia sebesar 87% (26 ibu).

Tabel 1 Distribusi frekuensi pengetahuan ibu tentang pneumonia pada balita di wilayah kerja UPTD Kesehatan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar pada Juli 2015 (n=30)

Pengetahuan

Ibu F %

Baik 16 53,3

Cukup 12 40

Kurang 2 6,7

(5)

Tabel 2 Distribusi frekuensi tiap parameter pengetahuan ibu tentang pneumonia pada balita di wilayah kerja UPTD Kesehatan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar pada Juli 2015 (n=30)

Parameter

Pengetahuan Ibu

Baik Cukup Kurang Jumlah

F % F % F % F % Kecamatan Sananwetan pada Juli 2015 (n=30)

Pekerja an Ibu

Pengetahuan Ibu

Baik Cukup Kurang Jumlah

F % F % F % F % merahdengan pengetahuan ibu di wilayah kerja UPTD

Baik Cukup Kurang Jumlah

F % F % F % F %

(6)

Tabel 6 Tabulasi silang antara status imunisasi anak dengan pengetahuan ibu di wilayah kerja UPTD Kesehatan Kecamatan Sananwetan pada Juli 2015 (n=30) pengalaman ibu mendapat penyuluhan pneumonia data dari 30 ibu yang memiliki balita dengan riwayat pneumonia di wilayah kerja UPTD Kesehatan

Sananwetan Kota Blitar pada Januari-Juni 2015, didapatkan data pengetahuan ibu baik sebesar 53,3% (16 ibu), cukup sebesar 40% (11 ibu), dan kurang sebesar 6,7% (2 ibu).

(7)

seseorang. Pada ibu yang tidak bekerja memiliki waktu yang lebih untuk memperhatikan anaknya. Sedangkan ibu membutuhkan kesempatan untuk memperhatikan anaknya karena pada dasarnya peran ibu adalah sebagai pengurus, pengasuh, pendidik, dan pelindung keluarga. Peneliti berpendapat bahwa pengetahuan ibu baik pada ibu yang tidak bekerja karena ibu memiliki waktu yang lebih untuk memperhatikan perjalanan penyakit pneumonia anaknya.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pengetahuan ibu cukup tentang faktor risiko terjadinya pneumonia sebesar 43,3% (13 ibu), 6,7% (2 ibu) yang anaknya mengkonsumsi ASI < 6 bulan memiliki pengetahuan cukup sebesar 6,7% (2 ibu) dan 3,3% (1 ibu) status gizi anaknya pernah di bawah garis merah memiliki pengetahuan cukup sebesar 3,3% (1 ibu). Balita yang mengkonsumsi ASI < 6 bulan awal kehidupan dan status gizinya di bawah garis merah merupakan faktor risiko terjadinya pneumonia. Ibu memperoleh pengetahuan tentang faktor risiko terjadinya pneumonia dari berbagai sumber termasuk pengalaman. Menurut Notoatmodjo (2010) bahwa proses penalaran kesimpulan dimulai dari pernyataan-pernyataan khusus ke pernyataan-pernyataan yang bersifat umum, berarti dalam berpikir induksi pembuatan kesimpulan tersebut berdasarkan pengalaman-pengalaman empiris yang ditangkap oleh panca indra. Peneliti berpendapat bahwa ibu juga memperoleh pengetahuan tentang pneumonia dari penalarannya tentang kondisi anaknya berdasarkan pengalamannya merawat anaknya yang sakit pneumonia. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa

pengetahuan ibu cukup tentang klasifikasi pneumonia sebesar 43,3% (13 ibu), dan penatalaksanaan pneumonia sebesar 60% (18 ibu). Menurut Kementerian Kesehatan R1 (2010) bahwa ibu yang datang ke tempat pelayanan kesehatan dengan anak pneumonia diberikan konseling tentang pemeberian obat, pemberian nutrisi, dan tanda-tanda untuk kembali segera oleh petugas kesehatan. Peneliti berasumsi bahwa ibu mendapat informasi tentang klasifikasi dan penatalaksanaan pneumonia pada balita dari petugas kesehatan saat membawa anaknya ke tempat pelayanan kesehatan.

(8)

status gizi anaknya tidak pernah di bawah garis merah, anaknya mengkonsumsi ASI > 6 bulan, dan status imunisasi anaknya lengkap memiliki pengetahuan kurang tentang pneumonia pada balita karena tidak memiliki pengalaman status gizi anaknya pernah di bawah garis merah, anaknya mengkonsumsi ASI < 6 bulan, dan status imunisasi anaknya tidak lengkap sebagai sumber informasi. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa 86,7% (26 ibu) tidak pernah mendapat penyuluhan tentang pneumonia yang memiliki pengetahuan kurang sebesar 6,7 % (2 ibu). Notoatmodjo (2003) dalam Suparyanto (2012) menyatakan bahwa informasi adalah keseluruhan makna, dapat diartikan sebagai pemberitahuan seseorang adanya informasi baru mengenai suatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif dibawa oleh informasi tersebut apabila arah sikap tertentu. Pendekatan ini biasanya digunakan untuk menggunakan kesadaran masyarakat terhadap suatu inovasi yang berpengaruh perubahan perilaku, biasanya digunakan melalui media masa. Penyuluhan merupakan hal yang mendukung pengetahuan ibu. Pengetahuan ibu kurang disebabkan ibu tidak mendapat penyuluhan tentang pneumoia.

PENUTUP

Dari hasil penelitian pengetahuan ibu tentang pneumonia pada balita bahwa dari 30 ibu yang memiliki pengetahuan baik sebesar 53% (16 ibu), cukup sebesar 40% (12 ibu), dan kurang sebesar 6,7% (2 ibu). Hasil tersebut didukung oleh ibu mendapat informasi dari petugas pemberi pelayanan kesehatan, ibu

yang tidak bekerja, status gizi anak ibu, lama anak konsumsi ASI, dan status imunisasi anak.

Bagi institusi pendidikan diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang pengetahuan ibu tentang pneumonia pada balita. Bagi penelitian selanjutnya hendaknya dilakukan penelitian yang lebih luas lagi tentang faktor-faktor lain yang mempengaruhi pengetahuan ibu tentang pneumonia pada balita. Bagi tempat penelitian diharapkan tempat pelayanan kesehatan memberikan informasi tentang pneumonia kepada ibu yang yang memiliki balita di wilayah kerja pelayanan kesehatan. Karena berdasarkan hasil penelitian bahwa pengetahauan ibu juga dipengaruhi oleh pengalaman merawat anaknya yang sakit pneumonia dan ibu mendapat penyuluhan tentang pneumonia.

DAFTAR RUJUKAN Arikunto, S. 2006. Prosedur

Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:Rineka Cipta.

Astuti, H. W. & Rahmat, A. S. 2010. Asuhan Keperawatan Anak dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: TIM. Cahyaningsih, D. S. 2011.

Pertumbuhan Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarata: TIM.

Effendy, N. 1998. Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC. Friedman, M. M. 1998.

Keperawatan Keluarga Teori dan Praktik. Jakarta: EGC. Gunarsa, D. S. & Gunarsa, G. S.

(9)

Anak, Remaja, dan Keluarga. Jakarta: Gunung Mulia. Hidayat, A. A. A. 2008. Pengantar

Ilmu Kesehatan Anak Untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika. Indonesia UNICEF. 2013. Sekitar 35

Juta Balita Masih Beresiko jika Target Angka Kematian Anak Tidak Tercapai, (http:// www.unicef.org/indonesia/id/ media_12253.html), diakses pada 2 Desember 2014. Kementerian Kesehatan RI. 2012.

Modul Tatalaksana Standar Pneumonia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. Kementerian Kesehatan RI. 2014.

Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. Kurniati, N. 2014. Immunology

Pattern in Infant Born with Small for Gestational Age. (https://www.nestlenutrition-institute.org/country/id/resour

ces/Library/Free/NNI- Pediatric-Updates/Pediatric-Small-Gestational-Age/ Documents/dr

%20Nia_Immunology %20Pattern%20in%20Infant %20Born%20with%20Small %20for%20Gestational %20Age.pdf), diakses pada 8 Juni 2016.

Lewer, H. 1993. Belajar Merawat di Bangsal. Terjemahan oleh E. Noviestari & M. A. W. Rini. 1996. Jakarta: EGC.

Manurung, S dkk. 2009. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Pernafasan Akibat Infeksi. Jakarta: TIM.

Maryunani, A. 2010. Ilmu Kesehatan Anak Dalam Kebidanan. Jakarta: TIM.

Misnadiarly. 2008. Penyakit Infeksi Saluran Napas Pneumonia pada Anak, Orang Dewasa, Usia Lanjuut. Jakarta: Pustaka Obor Populer.

Muttaqin, A. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernafasan. Jakarta: Salemba Medika.

Notoatmodjo, S. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu & Seni. Jakarta: Rineka Cipta.

Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Nursalam, 2013. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Pendekatan Praktis. Jakarta: Salemba Medika.

Pusat Bahasa Deartemen Pendidikan Nasional Indonesia. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia,

(http://badanbahasa.kemdikb ud.go.id/kbbi/index.php, diakses pada 26 Februari 2015).

Soemantri, I. 2007. Keperawatan Medikal Bedah: Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.

Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC.

Supartini, Y. 2004. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC.

Suparyanto, 2012. Konsep Pengetahuan, (dr-suparyanto.blogspot.com/201

(10)

UNICEF & WHO. 2006. Pneumonia The Fogotten Killer of Children.

Yulianti, L. & Rukiyah, A. Y. 2012. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta: TIM.

Gambar

Tabel  2  Distribusi  frekuensi  tiapparameter  pengetahuan  ibutentang  pneumonia  padabalita di wilayah kerja UPTDKesehatan KecamatanSananwetan Kota Blitar padaJuli 2015 (n=30)
Tabel 6 Tabulasi silang antara statusimunisasi  anak  denganpengetahuan  ibu  di  wilayahkerja  UPTD  KesehatanKecamatan Sananwetan  padaJuli 2015 (n=30)

Referensi

Dokumen terkait

Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak penyusunan skripsi dengan judul, “Studi Kasus Tentang Perilaku Suka Mencari Perhatian di Kelas pada Siswa Kelas V SD

Yaitu, 38% dari usaha yang ada memandang bahwa prospek bisnis saat ini lebih buruk dibandingkan dengan dua tahun yang lalu, sementara 35% memiliki persepsi positif

Berdasarkan analisis struktur pasar menggunakan rasio konsentrasi dan hambatan untuk masuk serta keluar pasar maka didapat kesimpulan bahwa struktur pasar peternak

P &amp; P yang bersifat multidisiplin ini akhimya akan menyediakan kalangan pelajar yang mampu dan mahir berbahasa dengan baik tanpa menimbulkan masalah yang tidak diingini

Dalam penelitian ini akan dipelajari karakteristik dari bahan kelongsong AlMg2 yang digunakan di dalam reaktor yaitu laju korosinya setelah dilakukan pemanasan

Berdasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa variabel minat belajar dan kecerdasan emosional dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1

adalah kemampuan meyakinkan orang lain supaya bekerja sama di bawah pimpinannya sebagai suatu tim untuk mencapai atau melakukan suatu tujuan.. tertentu), demikian tulis James M

Syaddah atau tasydid yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda syaddah, dalam transliterasi ini tanda syaddah tersebut dilambangkan