• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosiding SEMNASAL (Seminar Nasional Sumberdaya Lokal) I ISBN:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Prosiding SEMNASAL (Seminar Nasional Sumberdaya Lokal) I ISBN:"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

111

STRUKTUR USAHA SAPI PERAH DI KOPERASI KARYA AMANAH KABUPATEN PASURUAN

Andrie Kisroh Sunyigono

Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura Email korespondensi: [email protected]

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis struktur pasar susu di Koperasi “Karya Amanah” Pasuruan-Jawa Timur. Respomden dalam penelitian ini adalah peternak sapi perah di Desa Balong Anyar Pasuruan Jawa Timur yang menjual susu ke Koperasi Karya Amanah. Disamping itu, peneliti juga mengumpulkan data dari actor lainnya yaitu penyedia input, pemerintah dan konsumen. Digunakan dua metode analisis yaitu rasio konsentrasi dan hambatan keluar masuk pasar. Struktur pasar dalam penelitian ini adalah oligopoly. Hal ini mengindikasikan beberapa peternak mempunyai posisi tawar yang lebih tinggi dibandingkan peternak laiinya. Di lapangan, terdapat lima peternak yang mempunyai sapi perah lebih dari 20 ekor. Hambatan utama masuk pasar adalah investasi yang tinggi, teknologi produksi, lingkungan dan modal. Sedangkan hambatan keluar pasar adalah besarnya investasi yang sudah ditanamkan, kontrak, tingginya penjualan susu dan tidak ada peluang usaha lainnya.

Kata Kunci: rasio konsentrasi, pasar, sapi perah, peternak

PENDAHULUAN

Dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta, Potensi pasar susu di Indonesia sangat besar, namun tingkat konsumsi susu perkapita masih rendah jika dibandingkan negara-negara Asia lainnya. Padahal jika ditinjau dari peningkatan pendapatan, pertumbuhan penduduk, dan meningkatnya arus informasi maka peningkatannya harus lebih besar.

Terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi oleh industri susu nasional mulai dari sektor hulu, sektor tengah dan sektor hilir. Masalah yang dihadapi pada sektor hulu yaitu kurangnya bibit sapi perah, produktifitas sapi perah rendah, biaya pakan yang tinggi, jumlah kepemilikan yang rendah, dan kualitas sumber daya manusia yang masih rendah.

Masalah sektor tengah yaitu keterbatasan pada teknis budidaya sapi perah, sistem recording pada sapi perah, ketersediaan lahan budidaya, modal usaha peternak, dan belum padunya kerjasama antara peternak dengan instansi lainnya. Sedangkan masalah pada sektor hilir yaitu harga susu yang masih rendah dan ketidakstabilan harga jual pedet (Ermawati, 2011).

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di Wilayah Kerja Koperasi Karya Amanah Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan, dengan pertimbangan tingginya populasi sapi perah dan tentunya saja juga tingginya produksi susu. Produksi susu Kabupaten Pasuruan tertinggi nomor dua setelah Kabupaten Malang.

Metode penentuan responden adalah simple random sampling dari populasi peternak sapi perah anggota koperasi Karya Amanah. Dengan perhitungan Yamane mana jumlah respondennya adalah 30 orang dengan tingkat signifikansi 1,7%.

(2)

112

Data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder dengan teknik observasi, wawancara terstruktur, dan FGD.

Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dan analisis kuantitatif. Metode deskriptif kualitatif dilakukan untuk menganalisis perilaku pasar peternak sapi perah. Sedangkan untuk analisis kuantitatif dilakukan dengan menggunakan pendekatan struktur yaitu rasio konsentrasi dan hambatan keluar masuk pasar.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Profil Desa Balong Anyar

Desa Balunganyar adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Desa ini terdiri dari 8 dusun, 33 RT, dan 15 RW, dengan jumlah penduduk 7. 225 jiwa dari 2. 117 KK.

Potensi utama desa Balunganyar adalah peternak sapi perah, sedangkan sisanya petani, nelayan, dan mata pencaharian yang lain. Di desa ini, dalam setiap harinya mampu menghasilkan sebanyak 8 ribu liter susu per hari.

Desa Balunganyar memiliki keunikan di daerah yang cukup panas udaranya serta berada di dekat pesisir pantai yang terletak dipinggiran kecamatan Lekok mempunyai potensi sapi perah dan susu yang relative tinggi. Hal ini yang memicu warga untuk menekuni usaha sapi perah.

Kondisi social ekonomi penduduknya relative kurang mampu dan rata-rata kepemilikan sapi adalah 3 - 4 ekor. Namun ada beberapa warga desa yang memiliki memiliki 10 sampai 88 ekor sapi. Keunikan lainnya adalah desa yang sangat kaya akan hasil susu perah tetapi jarang di konsumsi sendiri.

Di Desa Balung Anyar terdapat beberapa koperasi susu besar yang menampung produksi susu dari para peternak. Koperasi tersebut diantaranya adalah Koperasi Suka Makmur dan Koperasi Karya Amanah. Pada penelitian ini dianalisis struktur, perilaku dan kinerja peternak sapi perah anggota Koperasi Karya Amanah.

2. Profil Peternak Sapi Perah

Peternak desa Balung Anyar umumnya menggunakan jenis sapi perah local. Pemeliharaan terhadap sapi perahnya dengan cara dikandangkan di belakang atau sekitar rumahnya secara terus menerus, hanya kadang – kadang saja sapi di keluarkan dari kandang.

Kandang sapi perah yang terletak di belakang atau sekitar rumahnya ini umumnya dibangun dengan bambu dengan atapnya agar terhindar dari panas matahari dan dilengkapi dengan tempat pakan serta minum berupa palungan yang terbuat dari cor semen yang diletakkan di depan kandang dan untuk tempat pakan konsentrat biasanya menggunakan timba plastik.

Pada bagian lantai kandang banyak yang masih tanah jarang yang sudah dirapikan dengan lantai semen. Kandang tersebut umumnya dibangun di atas tanah sendiri. Sedangkan bila membangun kandang di atas tanah milik orang lain maka harus membayar uang sewa tanah yang harganya disesuaikan dengan lokasinya yang cukup strategis atau tidak dan ukuran tanah yang digunakan untuk kandang.

(3)

113

Kandang untuk sapi dewasa umumnya berukuran rata – rata 1,75 m x 1,20 m per ekor dan untuk kandang pedet biasanya berupa kandang kelompok yang berukuran 1,20 m x 1,20 m.

Dalam usaha peternakan sapi perah tentunya terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan maupun kendala usahanya. Salah satu diantara faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha ini adalah terpenuhinya pakan bagi sapi perah yang berupa pakan hijauan maupun pakan konsentrat. Biaya terbesar yang dikeluarkan oleh peternak produksi sapi perah yaitu biaya pakan dari total input produksi sebesar 60 hingga 70%. Pakan yang digunakan oleh peternak Balung Anyar yaitu pakan hijauan berupa rumput. Terkadang diberikan bahan penguat ini terdiri dari berbagai bahan pakan biji – bijian maupun bahan hasil pengolahan produk pertanian. Sapi dewasa rata – rata mengkonsumsi pakan hijauan sebesar + 12 kg/ ekor per hari. Pemberian pakan hijauan pada pedet hanya digunakan sebagai pelengkap perkembangan saja dan akan rutin diberi pakan hijauan sejak umur dua minggu.

Sistem perkawinan menggunakan Inseminasi buatan ini tidak cukup hanya dilakukan satu kali bila ingin sapi perah mengalami kebuntingan. Inseminasi Buatan perlu dilakukan satu hingga empat kali. Keberhasilan kebuntingan sapi juga dipengaruhi oleh peternak yang mampu mendeteksi sapi bila masa birahi dan kemampuan inseminator pada saat melakukan kawin suntik sapi tersebut. Setiap peternak juga perlu membayar biaya kesehatan hewan (Keswan) kepada Koperasi Karya Amanah.

Peternak sapi perah Desa Balung Anyar mulai beraktifitas sejak pukul 04.00 WIB dimulai dengan membersihkan kandang sapi, membersihkan badan ternak terutama bagian ambing serta puting sapi yang akan diperah dan menyiapkan peralatan untuk memerah berupa ember dan milk can susu. Setelah diperah dalam ember, susu disaring ke dalam milk can.

Setelah sapi perah dan kandang bersih maka dilakukan proses memerah sapi dan segera menyetor hasil susu tersebut ke pos penampungan. Peternak sapi perah menyetor hasil susu perahannya dua kali sehari yaitu pagi pada pukul 05.00 WIB dan sore hari pada pukul 14.30 WIB. Setelah peternak melakukan kegiatan pemerahan pada pagi dan sore hari, sapi perah diberi pakan. Sedangkan pada siang hari peternak memanfaatkan waktu senggangnya untuk mencari pakan hijauan berupa rumput di sekitar Desa Balung Antar.

Pada usaha pemeliharaan sapi perah diantaranya melakukan pekerjaan menyabit rumput atau mencari rumput, pemberian pakan pada sapi perah, memandikan sapi perah, membersihkan kandang sapi dan melakukan pemerahan pada sapi.

Sedangkan untuk tenaga kerja dalam pemeliharaan sapi perah tersebut pada umumnya menggunakan tenaga kerja keluarga sendiri hanya ada beberapa yang mempekerjakan orang lain.

3. Rasio Konsentrasi Peternak

Rasio konsentrasi adalah perhitungan total pangsa pasar dari beberapa perusahaan terbesar yang terdapat dalam suatu industri (Kuncoro, 2007). Rekapitulasi hasil perhitungan rasio konsentrasi pada peternak sapi perah Desa Balung Anyar dapat dilihat berikut ini.

Analisis CR4 adalah salah satu alat analisis yang digunakan untuk melihat posisi penjualan susu pada peternak Desa Balung Anyar sehingga akan mendapatkan gambaran bagaimana struktur pasar peternak sapi perah,

(4)

114

Dari hasil perhitungan konsentrasi empat peternak sapi perah terbesar di Desa Balung Anyar mendapatkan nilai CR4 sebesar 34% dan nilai tersebut menunjukkan bahwa jenis struktur pasar peternak adalah oligopoli berkonsentrasi longgar karena penguasaan pasarnya kurang dari 40%. Hal tersebut disebabkan karena sedikit peternak yang dominan untuk mempengaruhi pasar dalam usaha tersebut dan cenderung memiliki posisi tawar yang sama dalam pemasaran susu.

Posisi tawar yang sama diantara setiap peternak disebabkan lemahnya posisi tawar peternak atau dengan kata lain, peternak hanya sebagai price taker (pengambil harga) karena harga jual susu telah ditetapkan oleh koperasi Karya Amanah.

Seperti terdapat dalam penelitian (Sunyigono, 2012) menyebutkan bahwa CR4 pemasok sapi potong dengan nilai CR4 12,99% dengan peternak kecil sapi potong sebesar 11,83% menunjukkan bahwa kedua sub pasar tersebut termasuk jenis struktur pasar tidak terkonsentrasi. Kedua aktor tersebut kompetitif dan memiliki posisi tawar yang sama sehingga tidak ada aktor yang dominan mempengaruhi pasar.

Tidak terkonsentrasinya struktur pasar peternak juga disebabkan karena usaha peternakan sapi perah milik masyarakat Desa Balung Anyar masih tergolong usaha kecil atau rumahan dengan kepemilikan sapi perah 2 sampai 8 ekor.

4. Hambatan Masuk dan Keluar Pasar

Struktur pasar dapat juga dianalisis dengan mengetahui hambatan untuk masuk dan keluar pada suatu usaha. Hambatan masuk dan hambatan keluar pasar usaha peternakan sapi perah dapat terlihat dari mudah atau tidaknya pesaing untuk masuk dan keluar pada suatu pasar. Dalam penelitian ini mengidentifikasi apakah terdapat hambatan dalam hal investasi, apakah terdapat hambatan terkait teknologi produksi dan pengetahuan khusus yang harus dimiliki oleh peternak dalam usahanya, apakah terdapat hambatan dalam permodalan, , kondisi sumber daya dan lingkungan.

Dari hasil kuisioner yang didapat dari 30 peternak sapi perah Desa Balung Anyar terdapat beberapa hambatan untuk masuk dan keluar pasar usaha peternakan sapi perah. Berikut hambatan masuk yang dialami peternak sapi perah:

Tabel 1. Hambatan Masuk Pasar Peternak Sapi Perah

Hambatan Masuk Pasar Presentase Total Responden (%)

Investasi sapi besar 43%

Teknologi produksi 17%

Kondisi lingkungan 17%

Modal 10%

Tidak tahu 13%

Sumber: Data Primer, diolah 2017

Tabel 1 menunjukkan hambatan masuk ke dalam usaha peternakan sapi perah. Menurut 30 responden peternak sapi perah, terdapat 3 hambatan masuk yaitu modal investasi besar, teknologi dan kondisi lingkungan. Sebanyak 43% peternak menyebutkan harga beli input berupa sapi perah untuk dibudidayakan sebagai penghasil susu tergolong mahal yaitu di atas Rp 5.000.000 untuk pedet sapi.

Selain pembelian input berupa sapi perah, input lain yaitu biaya pembangunan kandang pemeliharaan sapi perah permanen, biaya pembelian obat-obatan dan inseminasi

(5)

115

buatan, biaya pembelian pakan sapi perah, biaya perawatan untuk sapi perah dan biaya untuk membeli peralatan pemerahan sapi perah.

Hambatan masuk lain yaitu teknologi produksi sebanyak 17% dan kondisi lingkungan sebesar 17%. Teknologi produksi menjadi kendala karena peternak harus memahami betul cara merawat sapi perah termasuk perlakuannya terhadap susu yang dihasilkan.

Sedangkan lingkungan ekstrim yang dihadapi masyarakat desa membuat usaha peternakan masyarakat desa Balung Anyar hanya berskala kecil dengan kepemilikan sapi 2 sampai 8 ekor. Hal tersebut mengakibatkan struktur pasar peternak tidak terkonsentrasi karena hanya mengandalkan produksi susu dari sapi perah yang terbatas jumlahnya.

Selain itu dalam hal teknologi produksi dan keahlian khusus, yang dimiliki, peternak sapi perah Desa Balung Anyar tidak menggunakan teknologi modern dalam usahanya. usaha peternakan sapi perah dijalankan secara tradisional. Peternak menjalankan usaha ini dengan mudah karena pengetahuan tentang usaha ini sudah mereka miliki secara turun – temurun. Sehingga konsekuensinya adalah produktifitasnya cenderung menurun.

Investasi modal menjadi hambatan terbesar dalam memasuki usaha ini. Oleh karena itu ketika peternak tidak memiliki modal atau uang yang cukup untuk membeli sapi perah dan untuk pemeliharaannya, maka peran mereka berkurang dan hanya dipekerjakan sebagai peternak penyetor susu setiap hari kepada koperasi dan peternak juga tidak mampu untuk memperluas usaha mereka dengan menambah jumlah sapi perah yang diusahakan untuk beternak.

Tabel 2 Hambatan Keluar Pasar Peternak Sapi Perah Hambatan Keluar Pasar Presentase Total Responden (%) Modal yang diinvestasikan 40%

Ikatan kontrak 17%

Penjualan susu meningkat 20%

tidak ada peluang lain 23%

Sumber: Data Primer, diolah 2017

Analisi hambatan untuk keluar pasar berguna untuk mengidentifikasi kendala maupun biaya yang akan dihadapi para pelaku pasar jika mereka ingin keluar dari usaha tersebut. Maka jika kendala atau biaya untuk meninggalkan pasar lebih tinggi dari biaya memasuki pasar, mereka akan mengambil keputusan tetap bertahan dan melanjutkan bersaing dalam pasar (Sunyigono, 2012).

Pada Tabel 2 menunjukkan hambatan untuk keluar pasar peternak sapi perah Desa Balung Anyar. Menurut 40% peternak menyatakan besarnya modal yang telah diinvestasikan menjadi penghalang terbesar untuk keluar dari usaha peternakan sapi perah. Saat peternak merasa telah menginvestasikan modal untuk terjun ke dalam usaha peternakan sapi perah yang tergolong bermodal besar tersebut, maka peternak merasa ragu dan berpikir ulang untuk melepas usaha tersebut.

Potensi permintaan yang besar menurut 20% peternak juga menjadi hambatan peternak untuk keluar dari usaha tersebut. Peternak percaya pada prospek usaha sapi perah sebagai bisnis di masa depan selama pemerintah bersedia untuk mengatur pemasaran susu dan memperhatikan kesejahteraan peternak.

(6)

116

Sedangkan penghalang lain oleh 23% peternak menyatakan sulit untuk keluar karena usaha peternakan tersebut sudah menjadi usaha turun temurun dan mendarah daging di keluarga mereka sehingga mereka tetap menjalankan usaha tersebut. Usaha yang sudah mendarah daging tersebut membuat 3,3% peternak menjadikan usaha beternak sebagai usaha sampingan. Hal ini dikarenakan sebagian peternak tetap bekerja di tempat lain (kantor, perusahaan atau instansi lain) namun tetap menjalankan usaha peternakan sapi perah mereka di rumah.

Hambatan keluar lain menurut 17% peternak adalah usaha tersebut sudah terikat kontrak dengan pihak lain sehingga mereka harus tetap melakukan usaha sapi perah dan menyetor hasil produksi susu ke Koperasi setiap dua kali sehari pada pagi dan sore hari.

Berdasarkan analisis struktur pasar menggunakan rasio konsentrasi dan hambatan untuk masuk serta keluar pasar maka didapat kesimpulan bahwa struktur pasar peternak sapi perah Desa Balung Anyar masih tidak terkonsentrasi karena usaha mereka masih kurang ekonomis dengan jumlah sapi yang terbatas 2 sampai 8 ekor sehingga keuntungan dari hasil penjualan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga yang cukup tinggi dan belum memperhitungkan biaya dari tenaga kerja. Padahal apabila biaya tenaga kerja diperhitungkan maka lebih rendah dibandingkan dengan keseluruhan biaya kebutuhan hidup keluarga. Hal tersebut menjadi penyebab dari rendahnya kesejahteraan peternak sapi perah di Indonesia dan peternak Desa Balung Anyar pada khususnya.

Oleh karena itu perlu dilakukan perluasan usaha untuk mengatasi rendahnya jumlah populasi sapi yang dimiliki peternak. Menurut Mandaka (2005) menyatakan bahwa perluasan usaha perlu dilakukan sebagai upaya untuk mencapai efisiensi usaha dan profitabilitas usaha yang tinggi bagi pengembangan agribisnis sapi perah.

Sedangkan menurut Rusdiana (2009) perluasan usaha dapat menyebabkan biaya input tetap dan biaya total semakin menurun karena adanya kenaikan jumlah output yang dihasilkan. Perluasan skala usaha peternakan sapi perah juga harus diimbangi dengan efektifnya sistem kerja koperasi yang menangani hasil produksi sapi perah. Perluasan usaha membutuhkan bantuan modal yang cukup tinggi dari pemerintah untuk mengatasi hambatan untuk masuk dalam usaha tersebut.

Perluasan usaha yang harus dilakukan peternak sapi perah Desa Balung Anyar dengan cara meningkatkan skala kepemilikan sapinya agar dapat berkontribusi besar memenuhi permintaan susu Nasional yang tinggi dan meningkatkan jumlah penghasilan peternak sehingga tercipta kesejahteraan bagi peternak.

PENUTUP Simpulan

Hasil analisis rasio konsentrasi menunjukkan bahwa struktur pasar industri susu adalah oligopoly yang berarti sebagian besar peternak mempunyai posisi tawar yang tidak terlalu tinggi sehingga kekuatannya relatif merata. Hambatan utama masuk pasar adalah investasi yang tinggi, teknologi produksi, lingkungan dan modal. Sedangkan hambatan keluar pasar adalah besarnya investasi yang sudah ditanamkan, kontrak, tingginya penjualan susu dan tidak ada peluang usaha lainnya.

(7)

117

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih disampaikan kepada Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat yang telah mendanai Penelitian Strategis Nasional Institusi.

DAFTAR PUSTAKA

Andiani, I. 2006. Analisis Struktur-Perilaku-Kinerja Industri Susu di Indonesia (Skripsi). Fakultas Ekonomi dan Manajemen: Institut Pertanian Bogor.

Aziz, M.A. 1993. Agroindustri Sapi Potong (Prospek Pengembangan PJPT II).Bangkit: Jakarta.

Bessant, Rr Beta Tyas Wijayanti. 2005. Analisis Usaha Peternakan Sapi Perah Rakyat Dalam Kaitannya Dengan Kesejahteraan Peternak Di Kabupaten Dan Kota Bogor (Tesis).Manajemen Bisnis IPB: Bogor.

Direktorat Budidaya Ternak. 2012. Pedoman Teknis Pengembangan Budidaya Sapi Perah Pola PMUK. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan-Departemen Pertanian: Jakarta.

Ermawati, S. 2011. “Profitabilitas Usahatani Sapi Perah Rakyat di Kabupaten Sleman”. Journal Science Peternakan. Vol. 9, No 2: 100-108.

Mandaka, S dan M.P Hutagaol. 2005. Analisis Fungsi Keuntungan, Efisiensi Ekonomi dan Kemungkinan Skema Kredit bagi Pengembangan Skala Usaha Peternakan Sapi Perah Rakyat di Kelurahan Kebon Pedes, Kota Bogor. Jurnal Agro Ekonomi 23: 191-208.

Reksohadiprodjo,Soedomo. 1995. Pengantar Ilmu Peternakan Tropik, Edisi 2. BPFE: Yogyakarta.

Risnandar, Cecep. 2009. Artikel: Oligopoli Pasar Susu Rugikan Peternak Kecil. Serikat Petani Indonesia: Departemen Komunikasi Nasional.

Rusdiana dan Wahyuning K Sejati. 2009. “Upaya Pengembangan Agribisnis Sapi Perah Dan Peningkatan Produksi Susu Melalui Pemberdayaan Koperasi Susu”. Forum Penelitian Agro Ekonomi. Vol 1 :43 - 51.

Sari, Ika Mustika. 2011. Analisis Struktur-Perilaku-Kinerja Industri Pengolahan Susu Di Indonesia (Skripsi). Fakultas Ekonomi dan Manajemen: Institut Pertanian Bogor. Siregar, S. 1996. Sapi Perah. Jenis, Teknik dan Analisa Usaha. Penerbit Penebar

Swadaya: Jakarta.

Soekartawi. 2003. Analisis Usahatani.UI-Press. Jakarta

Sudono, A. 1999.Ilmu Produksi Ternak Perah. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor: Bogor.

Suhartini, S.H. 2001. Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Keragaan Industri Persusuan Indonesia (Tesis). Program Pascasarjana IPB. Bogor.

(8)

118

Suherman, D. 2008. “ Evaluasi penerapan aspek teknis peternakan pada usaha peternakan sapi perah sistem individu dan kelompok di Rejang Lebong”. J. Sains Peternakan Indonesia. 3. (1) : 35 - 42.

Sulistiyani, Ambar T. dan Rosidah.2003. Manajemen Sumber Daya Manusia. Graha Ilmu: Yogyakarta.

Sunyigono, Andrie. 2012. Economic Assessment Of The Beef Cattle Commodity Chain For Smallholder And Large Farmers In East Java, Indonesia. University of The Philippines Los Banos: Philippines.

Swastika, Danuwijaya, D., Sudono, A. 2005. Kondisi Persusuan di Indonesia. PT. Gramedia. Jakarta.

Gambar

Tabel 1. Hambatan Masuk Pasar Peternak Sapi Perah
Tabel 2 Hambatan Keluar Pasar Peternak Sapi Perah  Hambatan Keluar Pasar  Presentase Total Responden (%)

Referensi

Dokumen terkait

Analisis Struktur pasar pisang diukur dengan mengukur tingkat konsentrasi pasar, hambatan masuk pasar ( barrier to entry ), informasi (pengetahuan) pasar dan ada

Setelah melakukan penelitian dan pembahasan dari uraian diatas maka didapat kesimpulan dari hasil penelitian ini bahwa: modifikasi atau memvariasikan konsentrasi NaOH 0%,

Tabel 3 menunjukkan bahwa aktivitas mikroorganisme (respirasi) tanah rhizosfer kedelai akibat perlakuan jenis bahan organik limbah sawit rasio C/N<20 berbeda

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada keseluruhan tahap penelitian yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar yang

Hal yang sama juga terjadi pada perlakuan P3 ayam mengalami pembatasan pakan dan pemberian tepung bawang putih didapat penurunan persentase lemak abdomen lebih

SCTV CITRA MEREK DAN KUALITAS PRODUK TERHADAP KEPUASAN Euis Soliha PELANGGAN DAN DAMPAKNYA PADA LOYALITAS PELANGGAN Sophiyanto Wuryan Suzy Widyasari PENGARUH STRUKTUR

Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui terdapat 5 sumber risiko dengan tingkat risiko yang terbesar hingga terkecil secara berurutan yaitu risiko sumberdaya manusia

terlihat bahwa di minggu 1 konversi itik hibrida yang terendah ada diperlakuan P3 dimana diperlakuan ini diberi tambahan daun sukun sebanyak 12%, dimana dengan pemberian daun sukun 12%