MANAJEMEN RISIKO USAHATANI SAWI ORGANIK (STUDI KASUS DI CV. KURNIA KITRI AYU FARM)
Moh. Hasan Bisri1, Isdiana Suprapti2
1,2 Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Trunojoyo Madura Email korespondensi: [email protected]
ABSTRAK :
Salah satu subsektor pendorong pembangunan di Indonesia adalah Hortikultura. Sawi organik termasuk kedalam produk hortikultura yang memiliki sifat mudah rusak, dan membutuhkan volume dalam penyimpanan sehingga terdapat risiko dalam berusahatani sawi organik. CV. Kurnia Kitri Ayu Farm merupakan salah satu perusahaan yang mengusahakan komoditas sawi organik. Penelitian ini bertujuan antara lain untuk mengetahui sumber-sumber, tingkat, dan penanganan risiko usahatani sawi organik di CV. Kurnia Kitri Ayu Farm. Penelitian ini menggunakan metode Aproksimasi Expert Opinion. Hasil penelitian menjelaskan bahwa risiko produksi dengan nilai 3,69 satuan, risiko pasar dengan risiko 3,12 satuan, risiko institusional dengah risiko 2,64 satuan, risiko SDM dengan nilai 5,40 satuan, dan risiko finansial dengan nilai 2,36 satuan. Penanganan risiko yang digunakan berupa strategi preventif dan mitigasi. Implikasi kebijakan yang dapat dilakukan oleh CV. Kurnia kitri ayu Farm yaitu menggunakan SDM yang disiplin dalam menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP) perusahaan dan memberlakukan kontrak kerja secara tertulis.
Kata kunci: Manajemen Risiko, Sawi Organik, Aproksimasi Expert Opinion.
Risk Management of Organic Mustard Farming in CV. Kurnia Kitri Ayu Farm ABSTRACT:
Horticulture is a driving subsector of development in Indonesia. Organic mustard is included in vegetable products that are perishable, and require volume in storage so there is a risk in cultivating organic mustard greens. One of the efforts to make organic mustard commodities is CV. Kurnia Kitri Ayu Farm. The purpose of this study was to find out the sources, levels and risks of organic mustard farming in CV. Kurnia Kitri Ayu Farm. This study uses the Approxion Expert Opinion method. The results showed that the sources and level of risk included production risk with a value of 3.69 units, market risk with a risk of 3.12 units, institutional risk with a risk of 2.64 units, HR risk with a value of 5.40 units, and financial risk with a value of 2.36 units. Risk management that can be used is using preventive and mitigation strategies. Policy implications that can be done by CV. Kurnia kitri ayu Farm is using disciplined HR in running the company's Standard Operating Procedure (SOP) and enforcing written employment contracts.
Keyword: Risk Management, Organic Mustard, Expert Opinion Approximation. PENDAHULUAN
PDB sektor pertanian secara sempit (hortikultura, perkebunan, peternakan, perburuhan dan jasa pertanian) sebesar Rp. 340,62 triliun pada Triwulan III tahun 2015 (PUSDATIN Pertanian, 2015). Subsektor hortikultura menyumbang PDB sebesar 47,51 triliun pada Triwulan III tahun 2015 (PUSDATIN Pertanian, 2015). Susenas tahun 2016 menyebutkan bahwa komoditas sayuran sangat digemari oleh masyarakat Indonesia, hal ini dibuktikan dengan jumlah persentase penduduk indonesia yang mengkonsumsi sayur sebesar 97,29% (BPS, 2017).
Sayuran sawi merupakan salah satu komoditas sayuran yang memiliki nilai komersial dan diminati berbagai golongan sehingga memiiki prospek yang baik. Hal ini dapat dilihat dari Tabel 1.1 yang menunjukan luas panen, produksi dan produktivitas sawi provinsi Jawa Timur.
Tabel 1
Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Sayuran Sawi Provinsi Jawa Timur Tahun Luas Panen(Ha) Produksi (ton) Produktivitas (ton/Ha)
2017 5.299 61.264 11,56
2016 4.244 44.043 10,38
2015 3.930 39.289 10,00
2014 3.821 39.399 10,31
2013 3.848 36.929 9,60
Sumber : Direkap dari BPS, 2018.
Tabel 1 menjelaskan bahwa prospek sayuran sawi provinsi Jawa Timur memiliki prospek yang baik, dikarenakan tiap tahunnya luas panen cenderung mengalami peningkatan dan hanya mengalami penurunan dari tahun 2013 ke tahun 2014. Namun hal tersebut belum diimbangi dengan peningkatan produksi dan produktivitas secara signifikan. Kondisi ini dikarenakan penambahan dari produksi dan produktivitasnya masih berfluktuatif. Bahkan pada tahun 2015 produksi dan produktivitas mengalami penurunan sedangkan luas panen mengalami peningkatan daripada tahun sebelumnya. Artinya ada indikasi kurang efektifnya usahatani yang dilakukan dan kemungkinan terdapatnya sebuah risiko yang akan dihadapi.
CV. Kurnia Kitri Ayu Farm Malang menggunakan sistem organik dalam budidayanya dan memiliki serifikasi dari INOFICE (Indonesian organic farming certification) yang ditunjuk KAN (Komite Akreditasi Nasional) sebagai LSO (Lembaga Sertifikasi Organik) resmi (Dirjen Tanaman Pangan, 2016). Permasalahan yang kemungkinan dihadapi CV. Kurnia Kitri Ayu Farm Malang seperti rusaknya daun sawi oleh hama dan penyakit, tempat penyimpanan yang terbatas, dan sifat alami sayuran yang harus dikonsumsi dalam keadaan segar. CV. Kurnia Kurnia Kitri Ayu Farm Malang juga masih menggunakan sumberdaya manusia dari keluarga dan masih terdapat toleransi yang tinggi terhadap sumberdaya manusia yang masih kurang disiplin terhadap standar operasional prosedur (SOP). Manajemen risiko yang baik diperlukan untuk menghindari dan meminimalisir risiko yang akan terjadi di CV. Kurnia Kitri Ayu Farm Malang.
Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Mengidentifikasi sumber-sumber risiko yang ada di CV. Kurnia Kitri Ayu Farm Malang (2) Menganalisis tingkat risiko yang ada di CV. Kurnia Kitri Ayu Farm Malang (3) Menganalisis penanganan risiko yang dapat dilakukan sebagai rekomendasi CV. Kurnia Kitri Ayu Farm Malang.
METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan di CV. Kurnia Kitri Ayu Farm Malang. Penentuan lokasi penelitian dilakukan dengan cara purposive (disengaja). Penentuan sampel atau responden pada penelitian ini menggunakan metode purposive sampling (sengaja). Responden pada penelitian ini adalah masing-masing bagian perusahaan yang berjumlah enam. Responden tersebut yaitu: 1) pemimpin atau pemilik perusahaan yang merangkap jabatan di bagian pengendalian mutu, 2) bagian administrasi, 3) Quality Control, 4) bagian panen dan pascapanen, 5) bagian budidaya, 6) bagian pemasaran. Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi,
wawancara dan kuisioner. Sedangkan data sekunder diperoleh dari pustaka terdahulu seperti buku, jurnal, BPS menjadi sumber data sekunder.
Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Aproksimasi Expert
Opinion. Menurut Kountur, (2008) alat ini digunakan dengan menggunakan perkiraan dari
suatu risiko kepada orang lain. Alat analisis ini dapat dilakukan dengan cara pengumpulan informasi dimana seorang yang dianggap ahli diwawancarai untuk mendapatkan tentang berapa besar kemungkinan/probabilitas dan berapa besar dampak yang terjadi dari suatu risiko.
Identifikasi sumber-sumber risiko dilakukan menggunakan metode analisis deskriptif menggunakan teknik wawancara dipandu kuisioner. Adapun identifikasi risiko yang dilakukan menggunakan teori Harwood, et.al (1999) yang meliputi risiko produksi, risiko institusional, risiko sumber daya manusia, risiko finansial, dan risiko pasar. Metode yang digunakan untuk menganalisis tingkat risiko (probabilitas dan dampak) adalah metode Aproksimasi Expert Opinion. Langkah-langkah menggunakan metode ini yaitu:
1. Menanyakan kepada responden mengenai risiko dalam bentuk skala dan bobot Tabel 2
Skala dan Bobot dari Probabilitas dan Dampak Risiko Skala
Probabilitas Bobot Dampak Bobot
Sangat Sering 5 Sangat Besar 5
Sering 4 Besar 4
Sedang 3 Sedang 3
Jarang 2 Kecil 2
Sangat Jarang 1 Sangat Kecil 1
Sumber: Kountur, 2008.
2. Menganalisis nilai yang didapat dari responden dengan cara sebagai berikut: a. Probabilitas dan Dampak :
Dimana:
O = Nilai optimis
M = Nilai most likely (nilai yang sering muncul) P = Nilai pesimis
Nilai optimis adalah nilai yang paling kecil, dikarenakan optimis menganggap bahwa kemungkinan atau dampak risiko kecil. Nilai pesimis adalah nilai yang paling besar dikarenakan. Sedangkan nilai most likely adalah nilai yang sering muncul.
3. Penentuan status risiko
Penentuan status risiko diperoleh dari hasil perkalian antara probabilitas dan dampak. Setelah tingkat risiko (kemungkinan dan dampak) diketahui, selanjutnya yang dilakukan adalah pemetakan risiko pada peta risiko. Peta risiko dapat dilihat pada gambar berikut.
Sumber: Kountur, 2008.
Gambar 1 Pemetaan Risiko
Keterangan:
Probabilitas = Besarnya ditentukan oleh manajemen. Dampak = Besarnya ditentukan oleh manajemen.
Kuadran I = Memiliki dampak risiko kecil dan probabilitas besar. Kuadran II = Memiliki dampak risiko besar dan probabilitas besar. Kuadran III = Memiliki dampak risiko kecil dan probabilitas kecil. Kuadran IV = Memiliki dampak risiko besar dan kuadran kecil.
Penempatan risiko pada peta risiko berdasarkan atas perkiraan posisinya berada dimana dari hasil perhitungan probabilitas dan dampak. Berdasarkan peta risiko tersebut dapat diketahui strategi penanganan risiko. Terdapat dua strategi penanganan risiko, yaitu: 1. Preventif (penghindaran risiko)
Strategi preventif dilakukan untuk menangani risiko yang berada pada kuadran I dan II. Strategi preventif akan membuat risiko yang berada pada kuadran I bergeser ke kuadran III dan risiko yang berada pada kuadran II bergeser ke kuadran IV. Strategi preventif dilakukan dengan beberapa cara diantaranya membuat atau memperbaiki sistem dan prosedur, mengembangkan sumber daya manusia, memasang atau memperbaiki fasilitas fisik.
2. Strategi Mitigasi (mengurangi risiko)
Strategi mitigasi dilakukan untuk menangani risiko yang berada pada kuadran II dan IV akan membuat risiko yang berada pada kuadran II bergeser ke kuadran I dan risiko yang berada di kuadran IV akan bergeser ke kuadran III. Strategi mitigasi dilakukan dengan beberapa cara seperti disversifikasi, penggabungan, dan pengalihan risiko.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sumber-sumber dan Tingkat Risiko Usahatani Sawi Organik di CV. Kurnia Kitri Ayu Farm
Tabel 3 menunjukan tingkat risiko yang dihadapi oleh CV. Kurnia Kitri Ayu Farm. Tingkat risiko dari penyebab risiko diperoleh dari perkalian antara probabilitas dengan dampak, sedangkan rata-rata tingkat risiko dari sumber risiko diperoleh dari hasil perata-rataan tingkat risiko dari masing-masing penyebab risiko. Tingkat risiko yang dihadapi oleh CV. Kurnia Kitri Ayu Farm secara berurutan dari yang tertinggi hingga terendah berturut-turut bersumber dari risiko sumberdaya manusia, risiko produksi, risiko pasar, risiko institusional, dan risiko finansial. Hal ini menunjukan bahwa urutan risiko yang lebih diutamakan untuk ditangani terlebih dahulu.
Risiko Produksi
Status risiko dari risiko produksi di CV. Kurnia Kitri Ayu Farm memiliki nilai rata-rata sebesar 3,69 satuan. Risiko produksi menjadi sumber risiko terbesar kedua dalam usahatani sawi organik di CV. Kurnia Kitri Ayu Farm. Penyebab risiko terbesar pada risiko produksi adalah hama dan penyakit dengan nilai status risiko sebesar 11,00 satuan. Penyebab risiko dari risiko produksi selanjutnya berturut-turut dari yang terbesar adalah iklim atau cuaca, lahan atau kesuburan tanah, tidak tersedia input, pengairan, pupuk, kegiatan pasca panen, kesalahan menanam, proses panen, dan yang terendah adalah gulma dengan nilai status risiko sebesar 1,56 satuan.
Tabel 3
Sumber : Data Primer Diolah, 2019. Risiko Pasar
Status risiko pasar secara rata-rata memiliki nilai 3,12 satuan. Risiko pasar menjadi sumber risiko terbesar ketiga dalam usahatani sawi organik di CV. Kurnia Kitri Ayu Farm. Penyebab risiko pasar yang memiliki nilai status risiko terbesar adalah adanya pesaing dengan nilai status risiko sebesar 4,50 satuan. Penyebab risiko pasar selanjutnya adalah harga input dan perilaku konsumen yang masing-masing memiliki nilai status risiko sebesar 3,11 satuan. Penyebab risiko pasar yang terkecil adalah harga produk dengan nilai status risiko sebesar 1,75 satuan.
Risiko Institusional
Status risiko institusional memiliki nilai rata-rata sebesar 2,64 di CV. Kurnia Kitri Ayu Farm. Risiko institusional menjadi sumber risiko terbesar keempat dalam usahatani sawi organik di CV. Kurnia Kitri Ayu Farm Terdapat 2 penyebab risiko institusional yaitu kebijakan pemerintah dan kemitraan. Kebijakan pemerintah menjadi penyebab risiko yang memiliki nilai status risiko terbesar pada risiko institusional dengan nilai sebesar 2,81 satuan. Sedangkan kemitraan menjadi penyebab risiko terkecil pada risiko institusional dengan nilai status risiko sebesar 2,44 satuan.
Risiko Sumberdaya Manusia (SDM)
Status risiko sumberdaya manusia (SDM) memiliki nilai rata-rata sebesar 5,40 satuan. Sumber risiko ini menjadi sumber risiko yang memiliki nilai rata-rata status risiko terbesar di CV. Kurnia Kitri Ayu Farm. Penyebab risiko terbesar pada risiko sumberdaya manusia adalah kesalahan pasca panen dengan nilai status risiko sebesar 6,72 satuan. Kesalahan proses produksi menjadi penyebab terbesar kedua dengan nilai status risiko sebesar 5,50 satuan. Sedangkan penyebab risiko yang memiliki nilai terkecil adalah kesalahan administrasi dengan nilai status risiko sebesar 3,97 satuan.
Risiko Finansial
Status risiko finansial memiliki nilai rata-rata sebesar 2,36 satuan. Sumber risiko finansial menjadi sumber risiko yang memiliki nilai status risiko terkecil di CV. Kurnia Kitri Ayu Farm dibandingan dengan 5 sumber risiko yang ada. Penyebab risiko yang memiliki nilai status risiko terbesar pada risiko finansial adalah pembayaran sertifikasi organik dengan nilai status risiko sebesar 3,67 satuan. Penyebab risiko selanjutnya adalah piutang jatuh tempo, permodalan, dan pengaruh suku bunga bank. Pengaruh suku bunga bank menjadi penyebab risiko terkecil pada risiko finansial dengan nilai status risiko sebesar 1,00 satuan.
Penanganan Risiko Usahatani Sawi Organik di CV. Kurnia Kitri Ayu Farm
Penanganan risiko usahatani sawi organik di CV. Kurnia Kitri Ayu Farm menggunakan strategi preventif dan mitigasi. Penanganan tersebut dapat dilakukan ketika sudah diketahui status risiko berdasarkan pemetaan risiko. Penanganan secara preventif dilakukan ketika risiko berada pada kuadran I dan II sedangkan penanganan secara mitigasi dilakukan ketika risiko berada pada kuadran II dan IV. Risiko yang berada pada kuadran III menunjukan status risiko memiliki probabilitas dan dampak yang rendah, hal tersebut menunjukan adanya kemungkinan CV. Kurnia Kitri Ayu Farm sudah melakukan strategi dengan tepat sehingga risiko berada pada kuadran III. Penanganan risiko yang dapat dilakukan di CV. Kurnia Kitri Ayu Farm adalah sebagai berikut:
Risiko Produksi
Berdasarkan Gambar 2 terdapat satu risiko yang menggunakan strategi preventif dikarenakan berada pada kuadran II yaitu hama dan penyakit. Hal ini dikarenakan kebun CV. Kurnia Kitri Ayu Farm berada di pekarangan rumah yang dekat dengan sungai. Strategi
preventif yang dapat dilakukan yaitu menggunakan tanaman perangkap ataupun tanaman
yang memang disediakan untuk hama dan penyakit dan melakukan penanaman di dalam
greenhouse. Strategi tersebut dilakukan karena sistem pertanian organik yang tidak
membolehkan membunuh hama dan penanaman di dalam greenhouse.membuat lingkungan tanaman sawi lebih terjaga kebersihannya.
Gambar 2 Peta Risiko Produksi
Selanjutnya terdapat tiga risiko yang menggunakan strategi mitigasi yaitu hama dan penyakit, tidak tersedia input, dan pengairan hal ini dikarenakan risiko tersebut berada pada kuadran II dan IV. Strategi mitigasi yang dapat dilakukan yaitu menanam di tempat lain seperti bekerjasama dengan mitra produksi dalam penyediaan produk sawi organik untuk penanganan hama dan penyakit, membeli dan membuat benih sendiri serta bekerjasama
dengan mitra penyedia input seperti pupuk organik dari kotoran kambing untuk penanganan tidak tersedia input, dan meperbaiki prosedur pengairan dan melengkapi fasilitas fisik seperti penambahan teknologi pengairan otomatis menggunakan alat penyiram otomatis yang diatur agar dapat menyiram tiap sore hari sampai tanah lembab. Strategi tersebut dilakukan untuk menghindari kerugian apabila risiko tersebut terjadi dan untuk mengurangi kerusakan tanaman yang disebabkan pengairan yang tidak tepat waktu ataupun kekeringan.
Sedangkan risiko lainnya berada pada kuadran III dikarenakan CV. Kurnia Kitri Ayu Farm dirasa sudah tepat dalam melakukan strategi penanganan risiko. Sehingga nilai risiko tersebut memiliki probabilitas dan dampak yang kecil. Risiko tersebut meliputi ikilim atau cuaca, gulma, lahan dan kesuburan tanah, kesalahan menanam, proses panen, pupuk, dan kegiatan pasca panen.
Risiko Pasar
Berdasarkan Gambar 3 terdapat satu risiko yang menggunakan strategi preventif dikarenakan berada pada kuadran I yaitu adanya pesaing. Adanya pesaing probabilitasnya besar, namun sangat jarang para pesaing CV. Kurnia Kitri Ayu Farm bertahan lama. Hal ini dikarenakan terdapat pembayaran sertifikasi organik untuk memiliki sertifikat organik. CV. Kurnia Kitri Ayu Farm memiliki sistem penjualan kualitas supermarket harga petani dan sistem menabung yang baik untuk pembayaran sertifikasi organik sehingga dapat mempertahankan sertifikat organik yang dimilikinya. CV. Kurnia Kitri Ayu Farm juga sudah memiliki pasar tetap, sehingga adanya pesaing tidak begitu berdampak terhadap CV. Kurnia Kitri Ayu Farm.
Gambar 3 Peta Risiko Pasar
Selanjutnya terdapat satu risiko yang menggunakan strategi mitigasi yaitu harga input hal ini dikarenakan risiko tersebut berada pada kuadran IV. Strategi mitigasi yang dapat dilakukan yaitu dengan cara bermitra dengan penyedia input dan membuat kontrak harga ataupun dengan cara membeli dengan kuantitas yang banyak agar mendapatkan harga input yang murah. Strategi tersebut dilakukan untuk menghindari fluktuatifnya harga input yang dapat menyebabkan kerugian pada CV. Kurnia Kitri Ayu Farm.
Sedangkan risiko lainnya berada pada kuadran III dikarenakan CV. Kurnia Kitri Ayu Farm dirasa sudah tepat dalam melakukan strategi penanganan risiko. Sehingga nilai risiko
tersebut memiliki probabilitas dan dampak yang kecil. Risiko tersebut meliputi harga produk dan perilaku konsumen. Hal tersebut terjadi dikarenakan CV. Kurnia Kitri Ayu Farm sudah memiliki pasar tetap dan menerapkan kontrak kerja didalamnya.
Risiko Institusional
Berdasarkan Gambar 4 terdapat satu risiko yang menggunakan strategi mitigasi dikarenakan berada pada kuadran IV yaitu kebijakan pemerintah. Sedangkan strategi
preventif tidak digunakan dikarenakan tidak ada risiko yang berada pada kuadran I dan II.
Kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan CV. Kurnia Kitri Ayu Farm adalah terkait sertifikasi organik. Strategi penanganan mitigasi yang diterapkan yaitu dengan cara menabung atau juga menyisihkan uang pemasukan dari penjualan ke supermarket. Pemasukan tersebut dikhususkan untuk pembayaran sertifikasi organik.
Gambar 4
Peta Risiko Institusional
Sedangkan risiko lainnya berada pada kuadran III dikarenakan CV. Kurnia Kitri Ayu Farm dirasa sudah tepat dalam melakukan strategi penanganan risiko. Sehingga nilai risiko tersebut memiliki probabilitas dan dampak yang kecil. Risiko tersebut yaitu risiko kemitraan. Hal tersebut terjadi dikarenakan CV. Kurnia Kitri Ayu Farm sudah memiliki pasar tetap dan menerapkan kontrak kerja didalamnya. Hal ini dikarenakan CV. Kurnia Kitri Ayu Farm sudah menerapkan penanganan risiko berupa membuat kontrak kerja dengan pihak mitra, baik mitra produksi maupun mitra pasar meskipun kontrak tersebut tidak secara tertulis. Untuk penanganan mitra produksi yang tidak sesuai ketentuan maka CV. Kurnia Kitri Ayu Farm sudah ada kebun buffer stock. Sehingga secara keseluruhan penyebab risiko kemitraan memiliki probabilitas kecil dengan dampak yang terminimalisir.
Risiko Sumberdaya Manusia (SDM)
Berdasarkan gambar 5 terdapat dua risiko yang menggunakan strategi mitigasi dikarenakan berada pada kuadran IV yaitu kesalahan proses produksi dan kesalahan pasca panen. Sedangkan strategi preventif tidak digunakan dikarenakan tidak ada risiko
yang berada pada kuadran I dan II. Strategi mitigasi yang dapat dilakukan yaitu melakukan mitra kerja dalam produksi dalam penyediaan produk sawi organik dan melakukan pengawasan pada proses tersebut dan juga mengarahkan ke pihak mitra untuk setor produknya dalam kondisi siap jual. Hal ini dilakukan untuk mengurangi dampak risiko yang terjadi.
Gambar 5
Peta Risiko Sumberdaya Manusia (SDM)
Sedangkan risiko lainnya berada pada kuadran III dikarenakan CV. Kurnia Kitri Ayu Farm dirasa sudah tepat dalam melakukan strategi penanganan risiko. Sehingga nilai risiko tersebut memiliki probabilitas dan dampak yang kecil. Risiko tersebut yaitu risiko kesalahan administrasi. Hal ini dikarenakan CV. Kurnia Kitri Ayu Farm memiliki sistem administrasi yang baik dan selalu melakukan pengecekan kembali untuk menghindari kesalahan. Risiko Finansial
Berdasarkan Gambar 6 terdapat satu risiko yang menggunakan strategi mitigasi dikarenakan berada pada kuadran IV yaitu pembayaran sertifikasi organik. Sedangkan strategi preventif tidak digunakan dikarenakan tidak ada risiko yang berada pada kuadran I dan II. Strategi mitigasi yang dapat dilakukan yaitu dengan cara menabung atau juga menyisihkan uang pemasukan dari penjualan ke supermarket. Pemasukan tersebut dikhususkan untuk pembayaran sertifikasi organik. Sehingga CV. Kurnia Kitri Ayu Farm selalu tepat waktu dalam pembayaran sertifikasi organik dalam waktu satu tahun sekali dan dampak risiko dapat terminimalisir.
Gambar 1.6 Peta Risiko Finansial
Sedangkan risiko lainnya berada pada kuadran III dikarenakan CV. Kurnia Kitri Ayu Farm dirasa sudah tepat dalam melakukan strategi penanganan risiko. Sehingga nilai risiko tersebut memiliki probabilitas dan dampak yang kecil. Risiko tersebut meliputi permodalan, piutang jatuh tempo dan pengaruh suku bunga bank.. Hal ini dikarenakan CV. Kurnia Kitri Ayu Farm menggunakan modal pribadi dengan arus keuangan yang stabil, piutang yang terjadi yaitu dengan nominal kecil dari tetangga yang membeli sawi dengan cara menghutang. Sehingga probabilitas dan dampaknya kecil.
PENUTUP
Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui terdapat 5 sumber risiko dengan tingkat risiko yang terbesar hingga terkecil secara berurutan yaitu risiko sumberdaya manusia (SDM), risiko produksi, risiko pasar, risiko institusional, risiko finansial. Sedangkan dilihat dari penyebab risiko terbesar adalah hama dan penyakit yang bersumber dari risiko produksi. Penyebab risiko yang menggunakan preventif yaitu risiko hama dan penyakit dan juga adanya pesaing sedangkan sumber risiko yang menggunakan mitigasi yaitu hama dan penyakit, tidak tersedia input, pengairan,harga input, kebijakan pemerintah, kesalahan proses produksi,kesalahan pasca panen, dan pembayaran sertifikasi organik. Saran yang dapat diberikan kepada CV. Kurnia Kitri Ayu Farm yaitu sebaiknya menggunakan sumberdaya manusia yang disiplin dalam menjalankan standar operasional prosedur yang ditetapkan, memberlakukan kontrak kerja secara tertulis terhadap pihak mitra, melakukan penambahan teknologi baru untuk sistem pengairan dan mempertahankan penggunaan tanaman perangkap dan mengutamakan penanaman dalam greenhouse serta mempertahankan sistem menabung untuk pembayaran sertifikasi organik.
DAFTAR PUSTAKA
BPS. 2017. Konsumsi Buah dan Sayur Susenas Maret 2016. Badan Pusat Statistik. BPS. 2018. (Online),(https://jatim.bps.go.id diakses 01 April 2019).
Dirjen Tanaman Pangan. 2016. Petunjuk Teknis Fasilitasi Sertifikasi Pertanian Organik. Kementerian Pertanian.
Harwood, R Et. all. Managing Risk in Farming: Conscepts, Research, and Analysis.
Economic Research Service, USDA. Washington.