• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosiding Seminar Nasional PERHORTI 2014, Malang 5-7 November 2014 ISBN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Prosiding Seminar Nasional PERHORTI 2014, Malang 5-7 November 2014 ISBN"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

EVALUASI KERAGAAN PERTUMBUHAN BENIH JERUK 15 VARIETAS

KEPROK DAN 7 VARIETAS MANIS DI DUA KETINGGIAN

(KEBUN PERCOBAAN TLEKUNG 950 M DPL DAN KEBUN PERCOBAAN

BANJARSARI 2 M DPL)

Emi Budiyati* dan Jati

Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika Jl. Raya Tlekung No. 1 Junrejo, Batu, Jatim

*e-mail : [email protected] ABSTRAK

Tanaman jeruk menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Hasil eksplorasi jenis-jenis jeruk dan kerabat liarnya menunjukkan bahwa Indonesia kaya akan plasma nutfah, untuk itu diperlukan Evaluasi keragaan pertumbuhan vegetatif 15 asesi jenis keprok dan 7 asesi jenis manis baik di dataran tinggi maupun rendah untuk mengetahui sebarannya sesuai lingkungan yang dikehendaki dua jenis jeruk tersebut. Penelitian di susun berdasarkan Rancangan Acak Kelompok, diulangi 3 kali dengan unit percobaan 1 tanaman. Hasil menunjukkan bahwa secara umum pertumbuhan di KP Banjarsari (dataran rendah) menunjukkan pertumbuhan yang optimal dibanding di KP Tlekung (dataran tinggi) baik tinggi tanaman maupun diameter batang dan lebar tajuk. Hasil data statistik menunjukkan bahwa Keprok Gayo, Blinyu, Freemont, Siompu, Maseh, Pachuan, Berkerah, Chokkun, Thay Ayam, Maga, dan Selayar adalah plasma nutfah jeruk keprok yang mudah terkonservasi karena memiliki nilai perbedaan yang tidak signifikan antara dataran tinggi dan dataran rendah. Sedangkan varietas jeruk manis yang mudah terkonservasi adalah Manis Laukawar, Manis Robinson Navel, dan Manis Thomson.

Kata Kunci : Jeruk keprok, Jeruk manis, varietas, dataran rendah, dataran tinggi PENDAHULUAN

Plasma nutfah adalah suatu salah satu sumber daya yang penting untuk dilestarikan setelah air, tanah, dan udara (BPTP Sumatera Selatan, 2011). Plasma nutfah juga merupakan koleksi sumber daya genetik yang tediri atas keanekaragaman tumbuhan, hewan, atau jasad renik untuk banyak tujuan. Kekayaan plasma nutfah di alam memiliki potensi dalam industri pertanian. Hal ini dikarenakan plasma nutfah merupakan sumber gen yang berguna bagi perbaikan tanaman seperti gen untuk ketahanan terhadap penyakit, serangga, gulma, atau gen yang mampu bertahan pada cekaman lingkungan. Salah satu yang memiliki keragaman gen paling tinggi adalah tanaman jeruk (Cottin, 1997 dalam Karsinah et al., 2002).

Tanaman jeruk menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Hasil eksplorasi jenis-jenis jeruk dan kerabat liarnya menunjukkan bahwa Indonesia kaya akan plasma nutfah (Surgiyanto dan Supriyanto, 1992 dalam Karsinah et al., 2002). Dari sekitar 91 Kode Aksesi Tanaman Jeruk yang ditanam di Kebun Percobaan (KP) Tlekung-Batu dan 70 Kode Aksesi Di Kebun Percobaan (KP) Banjarsari-Probolinggo, akan dikarakterisasi secara vegetatif pada dua varietas jeruk yaitu jeruk keprok dan jeruk manis pada dataran tinggi dan dataran rendah.

Keragaman sumber daya genetic jeruk sangat tinggi, hal ini terbukti dengan banyaknya asesi atau varietas yang telah dikoleksi di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) Batu, Jawa Timur yang berasal dari hasil eksplorasi maupun hasil introduksi. Saat ini, Indonesia memiliki beberapa varietas unggul jeruk keprok yang kualitasnya dapat menandingi jeruk impor. Beberapa varietas jeruk keprok komersial hasil seleksi Balitjestro maupun dari Pemerintah Daerah yang sudah dilepas oleh Kementrian Pertanian dengan kualitas buah yang tidak kalah dengan jeruk impor antara lain Keprok Batu 55 berasal; dari Batu, Jawa Timur, keprok Garut dari Jawa Barat, keprok Pulung dari Jawa Timur, keprok Tawangmangu dari Jawa Tengah, dan keprok SOE dari NTT. Jenis keprok lainnya seperti keprok Tejakula (Bali), keprok Madura, keprok Borneo Prima (Kaltim) dan keprok Trigas (Kalbar) tampaknya juga dapat berpotensi untuk dikembangkan di masa mendatang khususnya untuk dataran rendah ( Budiyati, E. 2013)

Selain varietas – varietas unggul yang sudah didaftrakan tersebut diatas, masih banyak varietas varietas jeruk harapan pada koleksi Balitjestro yang masih belum dievaluasi keunggulannya, baik secara produktivitas maupun kualitasnya apabila ditanam di berbagai ketinggian. Untuk itu dibutuhkan evaluasi varietas- varietas harapan baik jeruk keprok maupun jeruk manis di dataran tinggi maupun dataran rendah untuk diketahui potensi keunggulannnya sehingga bisa dikembangkan sesuai habitatnya.

(2)

BAHAN DAN METODE

Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Tlekung (950 m dpl ) dan Kebun Percobaan Banjarsari (2 m dpl) dengan menggunakan benih tanaman rekoleksi jeruk keprok dan manis yang berumur 8 bulan setelah tanam. Penelitian di susun berdasarkan Rancangan Acak Kelompok, diulangi 3 kali dengan unit percobaan 1 tanaman. Pengamatan karakterisasi vegetatif dilakukan dengan pengukuran diameter batang bawah, diameter batang atas, panjang tajuk, dan tinggi tanaman. Selanjutnya analisa statistik menggunakan T-test.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil pertumbuhan tinggi tanaman di KP Tlekung dan KP Banjarsari dapat dilihat pada tabel 1 dan tabel 2. Pada gambar 3.2.1 dibawah ini grafik plasma nutfah tanaman jeruk keprok yang dapat tumbuh paling optimum, sedang, dan kurang optimum di dataran rendah (KP Banjarasari) dan 3.2.2 di dataran tinggi (KP Tlekung) seperti pada Lampiran tabel Sedangkan pada gambar 3.2.3 dibawah ini plasma nutfah tanaman jeruk manis yang dapat tumbuh paling optimum, sedang, dan kurang optimum di dataran rendah (KP Banjarasari) dan 3.2.4 di dataran tinggi (KP Tlekung) yang didapat

Tabel 1

. Keragaan pertumbuhan tinggi tanaman (15 Varietas jeruk keprok yang ditanam

pada dua ketinggian yang berbeda ( KP Tlekung 950 m dpl dan KP Banjarsari

15 m dpl)

No.

Varietas

Tinggi tanaman (cm)

KP Tlekung

KP Banjarsasi

1

K. Madura

60,99

28,70

2

K. Maga

35,99

16,42

3

K. Selayar

45,69

35,40

4

K. Maseh

40,16

25,48

5

K. Pachuan

33,40

27,61

6

K. Tai Ayam

49,87

31,30

7

K. Chokun

50,04

26,64

8

K. Grabag

58,70

26,93

9

K. Berkerah

42,44

21,74

10

K. Siompu

30,31

31,49

11

K. Kinabalu

50,33

26,16

12

K. Freemon

49,55

20,31

13

K. Komun

66,35

29,55

14

K. Blinyu

47,58

24,16

15

K. Gayo

43,75

31,43

(3)

Dari gambar 3.2.1 diatas, menunjukkan bahwa tanaman jeruk keprok yang pertumbuhannya paling optimum di dataran rendah (KP Banjarsari) adalah Keprok Komun, yaitu 66,353 cm ditinjau dari rata-rata diameter batang bawah, diameter batang atas, tinggi tanaman, dan tajuk. Untuk yang pertumbuhannya sedang adalah Keprok Blinyu, yaitu 47,578 cm dan yang kurang optimum adalah Keprok Siompu yaitu 30,54 cm.

Pada gambar 3.2.2 dibawah ini yang memiliki pertumbuhan optimum, sedang, dan kurang optimum secara berurutan yaitu Keprok Selayar (35,4 cm), Keprok Grabag (26,933 cm), dan Keprok Maga (16,42 cm). Sehingga gambar tersebut menunjukkan bahwa jeruk keprok mempunyai perbedaan yang cukup jauh antara dataran tinggi dan dataran rendah kecuali pada Keprok Siompu yang memiliki nilai pada grafik cukup stabil. Hal ini sesuai pendapat (Webber dan Swingle, 1967a). Bawa varietas jeruk keprok mampu hidup di dataran tinggi maupun dataran rendah karena mampu hidup di daerah kering, namun lebih optimum tumbuh di dataran rendah. Varietas jeruk keprok mampu tumbuh di daerah Subtropis seperti Indonesia dan juga di daerah tropis (Davies dan Albrigo, 2003). Begitu juga dengan varietas jeruk manis yang tumbuh optimum di dataran rendah, namun masih bisa tumbuh di dataran yang lebih tinggi (Webber dan Swingle, 1967b).

(4)

Tabel 2. Keragaan Pertumbuhan Tinggi Tanaman (7 Varietas jeruk Jeruk Manis yang

Ditanam Pada Dua Ketinggian yang Berbeda ( KP Tlekung 950 m dpl dan KP

Banjarsari 15 m dpl)

No.

Varietas

Tinggi Tanaman (cm)

KP Tlekung

KP Banjarsasi

1

Manis Pineaple

44,24

18,693

2

Manis Shagz Bonanza

54,88

28,847

3

Manis Thomson Navel

55,16

27,273

4

Manis Moo

57,72

34,88

5

Manis Robinson Navel

59,793

27,613

6

Manis Jemari Taji

63,42

26,113

(5)

Sedang untuk Jeruk manis menunjukkan bahwa pertumbuhan paling optimum, sedang, dan kurang optimum antara dataran rendah dan dataran tinggi secara berurutan pada gambar 3.2.3 yaitu Manis Laukawar (64,947 cm), Manis Moo (57,72 cm), dan Manis Pineapple (44,24).

Sedangkan pada gambar 3.2.4 yaitu Manis Moo (34,88 cm), Manis Robinson Navel (27,613 cm), dan Manis Pineapple (18,693 cm). Dari hasil tersebut terlihat jeruk dengan varietas Manis Moo mampu tumbuh cukup baik di daerah dataran tinggi dengan optimum dan dataran rendah cukup optimum hal yang sama menurut Davies dan Albrigo (2003) jeruk manis mampu tumbuh di daerah subtropis.

Hasil T-Test plasma nutfah jeruk keprok seperti pada Lampiran 1, menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara pertumbuhan dataran tinggi dan dataran rendah pada beberapa varietas jeruk keprok antara lain Keprok Madura dengan nilai 0,05, Keprok Grabag (0,05), Keprok Kinabalu (0,05), dan Keprok Komun (0,01). Sedangakan yang memiliki perbedaan pertumbuhan secara tidak signifikan adalah Keprok Gayo, Keprok Blinyu, Keprok Freemont, Keprok Siompu, Keprok Maseh, Keprok Pachuan, Keprok Berkerah, Keprok Chokkun, Keprok Thay Ayam, Keprok Maga, dan Keprok Maga.

Pada hasil data statistik 7 varietas jeruk manis seperti pada Lampiran 2, didapat hasil varietas manis beserta nilai signifikan yang memiliki perbedaan signifikan yaitu Manis Jemari Taji (0,01), Manis Pineapple (0,05), Manis Shagz Bonanza (0,01), dan Manis Moo (0,04). Sedangkan Pada jeruk Manis Laukawar, Manis Robinson Navel, dan Thomson navel memiliki perbedaan yang tidak signifikan.

Dari 15 varietas jeruk keprok yang mudah terkonservasi adalah yang tidak memiliki nilaii perbedaan signifikan anata dataran tinggi dan dataran rendah. Munculnya perbedaan tersebut terjadi karena adanya faktor yang mempengaruhi. Faktor yang mempengaruhi perbedaan tersebut adalah karena adanya perbedaan kontur atau kondisi lahan penanaman yang akhirnya mempengaruhi gen-gen yang bekerja saat pertumbuhan, sehingga karakteristik vegetatif tanaman antara tanaman yang berada di dataran rendah (KP Banjarsari) dan dataran tinggi (KP Tlekung) berbeda. Seperti yang dijelaskan oleh Mangoendidjojo (2003) , faktor lingkungan (cekaman, kondisi lahan, maupun organisme pengganggu) mempengaruhi pola pewarisan sifat dari karakter

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis 15 varietas jeruk keprok dan 7 varietas jeruk manis di dataran tinggi (KP Tlekung) dan dataran rendah (KP Banjarsari), didapatkan beberapa kesimpulan,

 Bahwa 15 varietas jeruk keprok yang memiliki keragaan paling optimum di dataran tinggi (Kebun Percobaan Tlekung) secara berurutan adalah Keprok Selayar, Keprok Grabag, dan Keprok Maga, pada 7 varietas jeruk manis adalah: Manis Laukawar, Manis Robinson Navel, Manis Pineapple. Sedangkan yang memiliki keagaan optimum di dataran rendah (Kebun Percobaan Banjarsari-Probolinggo) adalah Keprok Komun dan Manis Moo.

Hasil data statistik menunjukkan bahwa Keprok Gayo, Blinyu, Freemont, Siompu, Maseh, Pachuan, Berkerah, Chokkun, Thay Ayam, Maga, dan Selayar adalah plasma nutfah jeruk keprok yang mudah terkonservasi karena memiliki nilai perbedaan yang tidak signifikan antara dataran tinggi dan dataran rendah. Sedangkan varietas jeruk manis yang mudah terkonservasi adalah Manis Laukawar, Manis Robinson Navel, dan Manis Thomson

DAFTAR PUSTAKA

Balitjestro, 2014a. KP Banjarsari. [online] http://balitjestro.litbang.deptan.go.id /id/banjarsari .html. Diakses pada 30 Juni 2014.

Balitjestro, 2014c. KP Punten. [online] http://balitjestro.litbang.deptan.go.id/id/ punten.html. Diakses pada 30 Juni 2014.

Balitjestro, 2014d. Profil Balitjestro [online] http://balitjestro.litbang.deptan. go.id/id/tlekung. html. Diakses pada 26 Juni 2014.E

Budiyati E, 213. Potensi Pengembangan Varietas-Varietas Jeruk Unggul Indonesia Sebagai Subtitusi Impor, Poceding semnas Perhorti 2013. Halaman 141-150

BPTP Sumatera Selatan, 2011. Plasma Nutfah. [online] http://sumsel.litbang. deptan.go. id/index.php/plasma-nutfah. Diakses pada 26 Juni 2014.

Davies, Frederick S. dan Albrigo, L. Gene. 2003. Citrus. UK : University Press. Cambridge. Halaman 23-30.

Karsinah, Sudarsono, Setyobudi, Lilik., Aswidinnoor, Hajrial. 2002. Keragaman Genetik Plasma Nutfah Jeruk Berdasarkan Analisis Penanda RAPD. Jurnal Biologi Pertanian Vol 7 , No.1, pp. 8-16.

(6)

Mangoendidjojo, W. 2003. Dasar – Dasar Pemuliaan Tanaman. Yogyakarta : Kanisius. Halaman 56. Diakses dari http://www.google.co.id/books?

id=BoM_ENK4gqkC&printsec=frontcover#v=onepage&q&f=false. Diakses pada 3 Juli 2014. Webber, H.J. dan Swingle, W. T. 1967a. The Citrus Industry. University of California : United States of

America. Halaman : 442.

Webber, H.J. dan Swingle, W. T. 1967b. The Citrus Industry. University of California : United States of America. Halaman : 490.

Gambar

Tabel  2.  Keragaan  Pertumbuhan  Tinggi  Tanaman    (7    Varietas  jeruk  Jeruk    Manis  yang  Ditanam  Pada    Dua  Ketinggian  yang  Berbeda  (  KP  Tlekung  950  m  dpl  dan  KP  Banjarsari 15 m  dpl)

Referensi

Dokumen terkait

Usulan dividen BUMN sebesar Rp 32,136 triliun tersebut sudah termasuk dividen saham Krakatau Steel (KRAS) sebesar Rp 956 miliar yang merupakan pendapatan non tunai dan

SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN KUOTA 2012 LPTK IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA.. INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

Diameter zona hambatan terbesar terdapat pada ekstrak kasar (48 jam = 16,30 mm) dan untuk fraksi protein terdapat pada tingkat fraksi 40-60% (48 jam = 14,40 mm) yang

Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri serai konsentrasi 10%, 12,5%, 15%, 17,5%, dan 20% memiliki daya antibakteri terhadap Enterococcus faecalis yang ditunjukkan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami pengaruh paham feminisme radikal di dalam anime Mononoke Hime pada tokoh Eboshi dan pekerja wanita di

Seluruh Dosen Fakultas Bisnis Jurusan Manajemen Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, yang telah memberikan seluruh ilmu yang diperlukan untuk menyelesaikan skripsi

Biaya Administrasi adalah 5% dari total tagihan RS untuk pasien asuransi (tanpa batas maksimal), dan 5% dengan maksimal nilai Rp 600rb - Rp 900rb untuk pasien umum (tergantung

Atas kesetiaannya, Padre Pio diberkati dengan banyak kelebihan seperti bilocation-kemampuan untuk berada di lebih dari 1 lokasi, kemampuan menyembuhkan, kemampuan untuk