Apa itu Typography Tipografi Indonesia

30  17 

Teks penuh

(1)

Apa itu Typography? (Tipografi

Typography yang berasal dari kata Yunani

Typos

= bentuk dan

graphein

= menulis yang

merupakan seni dan teknik mengatur huruf menggunakan gabungan bentuk huruf

cetak, ukuran huruf, ketebalan garis, spasi antar huruf, garis pandu dan jarak antar

baris.

Pengertian tipografi menurut buku Manuale Typographicum adalah :

Typography can defined a art of selected right type printing in accordance with specific

purpose ; of so arranging the letter, distributing the space and controlling the type as to

aid maximum the reader's.

Dari pengertian diatas, memberikan penjelasan bahwa tipografi merupakan seni

memilih dan menata huruf dengan pengaturan penyebarannya pada ruang-ruang yang

tersedia, untuk menciptakan kesan khusus, sehingga akan menolong pembaca untuk

mendapatkan kenyamanan membaca semaksimal mungkin.

Sebagai bagian dari kebudayaa manusia, huruf tak pernah lepas dari kehidupan

keseharian. Hampir setiap bangsa di dunia menggunakannya sebagai sarana

komunikasi. Sejarah perkembangan tipografi dimulai dari penggunaan pictograph.

Bentuk bahasa ini antara lain dipergunakan oleh bangsa Viking Norwegia dan Indian

Sioux. Di Mesir berkembang jenis huruf Hieratia, yang terkenal dengan nama

(2)

Bentuk tipografi tersebut akhirnya berkembang sampai di Kreta, lalu menjalar ke Yunani

dan akhirnya menyebar keseluruh Eropa. Puncak perkembangan tipografi, terjadi

kurang lebih pada abad ke-8 SM di Roma saat orang Romawi mulai membentuk

kekuasaannya. Karena bangsa Romawi tidak memiliki sistem tulisan sendiri, mereka

mempelajari sistem tulisan Etruska yang merupakan penduduk asli Italia serta

menyempurnakannya sehingga terbentuk huruf-huruf Romawi.

Perkembangan tipgrafi saat ini mengalami perkembangan dari fase penciptaan dengan

tangan (hand drawn) hingga mengalami komputerisasi. Fase komputerisasi membuat

penggunaan tipografi menjadi lebih mudah dan dalam waktu yang lebih cepat dengan

jenis pilihan huruf yang ratusan jumlahnya. Berikut ini beberapa jenis huruf berdasarkan

klasifikasi yang dilakukan oleh James Craig, antara lain sbb :

1. Roman

Ciri dari huruf ini adalah memiliki sirip/kaki/serif yang berbentuk lancip pada ujungnya.

Huruf Roman memiliki ketebalan dan ketipisan yang kontras pada garis-garis hurufnya.

Kesan yang ditimbulkan adalah klasik, anggun, lemah gemulai dan feminin.

2. Egyptian

Adalah jenis huruf yang memiliki ciri kaki/sirip/serif yang berbentuk persegi seperti

papan dengan ketebalan yang sama atau hampir sama. Kesan yang ditimbulakn adalah

kokh, kuat, kekar dan stabil.

3. Sans Serif

Pengertian San Serif adalah tanpa sirip/serif, jadi huruf jenis ini tidak memiliki sirip pada

ujung hurufnya dan memiliki ketebalan huruf yang sama atau hampir sama. Kesan yang

ditimbulkan oleh huruf jenis ini adalah modern, kontemporer dan efisien.

4. Script

Huruf Script menyerupai goresan tangan yang dikerjakan dengan pena, kuas atau

pensil tajam dan biasanya miring ke kanan. Kesan yang ditimbulkannya adalah sifast

pribadi dan akrab.

5. Miscellaneous

Huruf jenis ini merupakan pengembangan dari bentuk-bentuk yang sudah ada.

Ditambah hiasan dan ornamen, atau garis-garis dekoratif. Kesan yang dimiliki adalah

dekoratif dan ornamental.

(3)

Tipografi merupakan unsur penting di dalam desain, karena tipografi adalah inti.

Tipografi adalah salah satu elemen yang menyampaikan isi dan maksud dari sebuah

karya desain. Tidak jarang, desain yang efektif adalah desain yang hanya

menggunakan tipografi yang baik tanpa menggunakan elemen visual sama sekali.

Sebegitu pentingnya peran tipografi pada desain yang kita hasilkan, jadi biarpun desain

visual kita “wah”, tetapi kalau tipografi nya tidak mudah di baca dan susah di mengerti,

maka desain tersebut termasuk gagal. Untuk menghindari itu, berikut 6 tips dasar untuk

membuat tipografi lebih menarik, nyaman dan mudah terbaca.

1. Kerning

Kerning adalah jarak antar huruf. Dan ini merupakan favorit saya, kalau sudah bingung

bagaimana membuat judul/kalimat tertentu menjadi lebih menarik, saya biasanya

mendempetkan kerning pada judul/kalimat tersebut.

Namun harap di perhatikan, jangan sampai terlalu mendempetkan kerning karena

hasilnya judul/tulisan akan susah terbaca dan terasa ‘penuh’. Jadi, gunakanlah teknik

ini secukupnya.

2. Pemilihan font

Pemakaian jenis font yang tepat dapat membantu desain menjadi lebih menyatu dan

lebih cepat mengkomunikasikan maksud dari desain. Misalnya, pada desain brosur

kecantikan, kita tidak mungkin menggunakan font yang ‘keras’, berbentuk kaku dan

tebal. Akan lebih tepat jika kita menggunakan font yang tipis dan luwes, sesuai dengan

kepribadian target market yang di tuju, yaitu wanita.

Jenis font bisa di ibaratkan jenis ‘suara’ yang berbicara pada desain. Font dengan gaya

tebal akan terasa seperti suara laki-laki dan bersuara berat. Font berbentuk kaku dan

kotak-kotak, akan terasa seperti robot atau mesin yang berbicara, dan seterusnya.

Masing-masing jenis font mempunyai jenis suara tersendiri.

3. Berat dan Ukuran

Kita bisa memainkan berat (tebal tipis) dan ukuran (besar kecil) font, untuk memberikan

emphasis (elemen mana yang akan di baca atau di tampilkan terlebih dahulu).

(4)

Cara ini juga untuk mencegah pembaca pusing akan bagian mana yang seharusnya di

lihat terlebih dahulu. Salah urutan dalam membaca akan mengakibatkan informasi yang

kita sebarkan susah di mengerti.

4. Leading

Leading adalah jarak spasi antara kalimat atas dan bawah dalam satu paragraf.

Biasanya elemen ini jarang di utak-atik oleh kebanyakan desainer. Padahal leading

yang di atur dengan baik akan membuat pembaca tidak merasa lelah jika mereka

membaca suatu artikel yang panjang.

Jarak yang di hasilkan jika kita memainkan leading akan memberikan kesan ruang

kosong (whitespace). Yang tentu saja membuat mata tidak cepat lelah saat melihat teks

yang begitu banyak.

5. Warna

Warna pada font biasanya di sesuaikan dengan background. Jika background berwarna

(foto) maka lebih baik menggunakan 1 warna font yang netral (putih misalnya). Yang

pasti harus menghasilkan kontras yang cukup, sehingga tetap nyaman di baca dan

tidak ‘menusuk’ mata.

Teman-teman desainer kebanyakan pasti menyukai warna background hitam, namun

masalahnya kalau di website, kombinasi background hitam dan teks putih itu akan

menghasilkan ‘efek negatif film’ pada mata saat kita selesai membaca.

Akan lebih baik jika warna background di buat tetap gelap, namun tidak hitam 100%,

dan berikan warna abu-abu muda pada font. Dengan begitu maka mata tidak akan

terlalu lelah dan ‘efek negatif film’ tidak akan ada lagi.

6. Lebar Paragraph

Hal ini sangat penting, karena sangat mempengaruhi kenyamanan membaca. Coba

bayangkan paragraf yang lebar di halaman website dengan artikel yang panjang. Kita

sampai harus perlu memutar kepala sedikit (dari kiri ke kanan) untuk membaca artikel

tersebut. Saya jamin kita hanya akan bertahan 1-2 paragraf saja!

(5)

Alfabet Latin atau Alfabet Romawi adalah alfabet yang pertama kalinya dipakai oleh orang Romawi untuk menuliskan bahasa Latin kira-kira sejak abad ke-7 Sebelum Masehi. Mereka belajar menulis dari orang-orang Etruria, sedangkan orang Etruria belajar dari orang Yunani. Alfabet Etruska merupakan adapatasi dari alfabet Yunani. Menurut hipotesis, semua aksara alfabetis tersebut berasal dari abjad Fenisia, dan abjad Fenisia berasal dari hieroglif Mesir.

Pada saat ini alfabet Latin adalah aksara yang paling banyak dipakai di dunia untuk menuliskan berbagai bahasa. Beberapa negara mengadopsi dan memodifkasi alfabet Latin sesuai dengan fonologi bahasa mereka, karena tidak semua fonem dapat dilambangkan dengan huruf Latin. Beberapa usaha modifkasi tersebut antara lain dengan menambahkan huruf baru (contoh: J, Wi, penambahan diakritik (contoh: Ñ, Üi, penggabungan huruf/ligatur (modifkasi bentuk, contoh: ß, Æ, Œi. Beberapa negara mengatur penggunaan dwihuruf dalam bahasa resmi mereka, yang melambangkan suatu fonem yang tidak dapat dilambangkan oleh alfabet Latin, misalnya “Th” (untuk bunyi /θ/ dan /ð/i, “Ng” atau “Nk” (untuk bunyi /ŋ/i, “Sch” atau “Sh” (untuk bunyi /ʃ/i, “Ph” (untuk bunyi /ɸ/ dan /f/i.

Sejarahnya

Dipercaya bahwa bangsa Romawi Kuno mengadopsi sebuah varian dari alfabet Yunani di Cumae, sebuah koloni bangsa Yunani di Italia Selatan, pada abad ke-7 SM. (Gaius Julius Hyginus dalam Fab. 277 menyebutkan legenda bahwa Carmenta, seorang sibila Kimmeri, menyerap lima belas huruf Yunani menjadi alfabet Latin, yang diperkenalkan lewat Latium oleh putranya, Evander, sekitar 60 tahun sebelum perang Troya, namun tidak ada jejak sejarah mengenai kisah ini.i Alfabet Yunani Kuno sendiri pada mulanya berasal dari abjad Fenisia. Dari alfabet Yunani di Cumae, terciptalah alfabet Etruska dan selanjutnya bangsa Romawi mengadopsi 21 huruf dari 26 huruf dalam alfabet Etruska, sebagai berikut:

(6)

dengan menambahkan garis vertikal kecil. Sejak saat itu, ⟨G⟩ melambangkan bunyi /ɡ/ (konsonan plosif bersuarai, sementara ⟨C⟩ melambangkan /k/ (konsonan plosif nirsuarai. Huruf ⟨K⟩ amat jarang digunakan, misalnya dalam beberapa kata seperti Kalendae, seringkali ejaannya tergantikan oleh ⟨C⟩.

Setelah penaklukkan Yunani oleh Romawi pada abad pertama SM, alfabet Latin memungut (atau mengadopsi kembalii huruf Yunani ⟨Y⟩ dan ⟨Z⟩ untuk menuliskan kata serapan dari bahasa Yunani, sehingga ditempatkan di akhir susunan alfabet. Sebuah usaha oleh Kaisar Claudius yang memperkenalkan tiga huruf tambahan tidak berhasil. Maka dari itu pada masa klasiknya, alfabet Latin hanya mengandung 23 huruf:

Beberapa nama huruf tersebut dalam bahasa Latin masih diragukan.

Bagaimanapun, umumnya bangsa Romawi tidak menggunakan nama-nama tradisional seperti dalam alfabet Yunani (yang pada dasarnya diturunkan dari rumpun abjad Semitik: Fenisia, Ibrani, Suryani, Arabi. Untuk huruf-huruf yang melambangkan konsonan plosif (B, C, G, dsb.i, bangsa Romawi menambahkan bunyi vokal /eː/ dalam penamaannya (kecuali ⟨K⟩ dan ⟨Q⟩, yang memerlukan vokal berbeda agar dapat dibedakan dengan ⟨C⟩i dan nama-nama untuk huruf yang melambangkan konsonan malaran dapat memakai bunyi lugas atau konsonan yang diawali dengan bunyi /e/. Huruf ⟨Y⟩ saat diperkenalkan mungkin disebut “hy” /hyː/ seperti dalam bahasa Yunani, sementara nama upsilon masih belum digunakan, namun kemudian diubah menjadi “i Graeca” (huruf I Yunanii karena penutur bahasa Latin kesulitan membedakan bunyi vokal /y/ dengan /i/. ⟨Z⟩ diberi nama sesuai namanya dalam bahasa Yunani, zeta.

Huruf kursif Romawi Kuno, juga disebut huruf kursif kapital, adalah bentuk tulisan tangan sehari-hari, yang digunakan untuk keperluan bisnis bagi para pedagang, untuk pembelajaran alfabet Latin bagi para anak-anak, dan untuk menuliskan titah oleh Kaisar Romawi. Gaya penulisan yang lebih resmi berdasarkan pada Capitalis Monumentalis, sementara huruf kursif digunakan untuk penulisan yang lebih cepat dan informal. Huruf ini lazim digunakan sejak sekitar abad pertama SM hingga ke-3 M, namun mungkin kemunculannya lebih awal daripada masa tersebut. Huruf ini merupakan dasar bagi huruf Unsial, suatu jenis huruf kapital yang digunakan pada abad ke-3 hingga ke-8 M oleh para juru tulis Latin dan Yunani.

Huruf kursif Romawi Baru, juga dikenali sebagai huruf kursif kecil, digunakan sejak abad ke-3 hingga ke-7 M, dan menggunakan bentuk huruf yang lebih mudah dikenali di masa kini; ⟨a⟩, ⟨b⟩, ⟨d⟩, dan ⟨e⟩ mengambil bentuk yang lebih familier, dan huruf lainnya proporsional antara satu sama lain. Huruf ini berkembang hingga Abad Pertengahan sebagai aksara Merovingian dan Carolingian.

A

A adalah huruf pertama dalam alfabet Latin. Dalam bahasa Inggris huruf ini dibaca [eɪː]; bentuk jamaknya aes.[1] Huruf ini berasal dari huruf Yunani Α (alfai dan sering digunakan sebagai lambang vokal depan terbuka tak bulat. A juga sering digunakan sebagai indikasi sesuatu yang bermakna “awal” atau “terbaik”.

(7)

seekor sapi jantan dalam hieroglif Mesir atau abjad Proto-Sinaitik.[2] Sekitar tahun 1600 SM huruf dalam abjad Fenisia mempunyai bentuk linear yang menjadi dasar bagi bentuk-bentuk berikutnya. Namanya tampaknya sangat erat berkaitan dengan alef dalam abjad Ibrani.

Ketika bangsa Yunani kuno mengadopsi abjad, mereka tidak menggunakan konsonan celah suara (bunyi hamzahi yang dikandung huruf ini dalam bahasa Fenisia dan bahasa-bahasa Semit lainnya, karena itu mereka menggunakan tanda ini untuk vokal /a/, dan mempertahankan namanya dengan perubahan kecil (alfai. Dalam prasasti-prasasti Yunani yang paling awal setelah Zaman Kekelaman Yunani, yang terjadi pada abad ke-8 SM, huruf ini dituliskan terbaring, tetapi dalam alfabet Yunani berikutnya, huruf ini pada umumnya mirip dengan huruf besar A modern, meskipun berbagai variasi setempat dapat dibedakan dengan memperpendek salah satu kakinya, atau dengan sudut tempat garis melintang diletakkan.

Bangsa Etruska membawa alfabet Yunani ke dalam peradaban mereka di Jazirah Italia dan membiarkan huruf ini tidak berubah. Kemudian orang-orang Romawi mengadopsi alfabet Etruska untuk menulis bahasa Latin, dan huruf yang dihasilkan kemudian dilestarikan dalam alfabet Latin modern yang digunakan untuk menulis banyak bahasa, termasuk bahasa Inggris.

Dalam bahasa Inggris, “a” biasanya melambangkan bunyi vokal depan hampir terbuka takbulat (IPA: /æ/; seperti pada kata padi, vokal belakang terbuka takbulat (IPA: /ɑː/; seperti pada kata fatheri, atau diftong /eɪ/ seperti pada kata ace dan major, karena efek Pergeseran Vokal Besar-besaran.

Pada kebanyakan bahasa yang menggunakan sistem alfabet Latin, “a”

melambangkan bunyi vokal depan terbuka takbulat (/a/i. Dalam Alfabet Fonetik Internasional, variasi huruf “a” mengindikasikan berbagai vokal yang berbeda-beda pula. Dalam sistem X-SAMPA, huruf besar “A” menandakan vokal belakang terbuka takbulat dan huruf kecil “a” menandakan vokal depan terbuka takbulat.

“A” adalah huruf ketiga yang paling sering digunakan dalam bahasa Inggris, dan yang kedua terbanyak digunakan dalam bahasa Spanyol dan Perancis. Dalam suatu studi, rata-rata, sekitar 3.68% huruf yang digunakan dalam bahasa Inggris

cenderung kepada ‹a›, sedangkan angka 6.22% untuk bahasa Spanyol dan 3.95% untuk bahasa Perancis.[3]

“A” seringkali digunakan untuk menunjukkan sesuatu atau seseorang dengan kualitas atau status yang lebih baik dan bergengsi: A-, A atau A+, hasil terbaik yang diberikan oleh guru/dosen kepada tugas siswa/mahasiswa; nilai A untuk restoran yang bersih, dsb.

B

B adalah huruf kedua dalam alfabet Latin. Dalam bahasa Latin dan bahasa lain pada umumnya (termasuk bahasa Indonesiai, huruf ini biasanya melambangkan

konsonan dwibibir, khususnya fonem [b], konsonan letup dwibibir bersuara.

Berdasarkan sejarahnya. ‹B› berasal dari sebuah piktogram denah sebuah rumah dalam aksara hieroglif Mesir atau aksara Proto-Sinaitik. Sekitar tahun 1050 SM, huruf itu dikembangkan dalam abjad Fenisia menjadi bentuk linear dan bernama beth.

(8)

transkripsi bahasa Tionghoa, B tidak bersuara, tetapi masih dibedakan dari huruf P, yang dipanjangkan menjadi /pp/ dalam bahasa Estonia, dan dihembuskan pula menjadi /pʰ/ dalam bahasa Tionghoa dan Islandia. Dalam bahasa Fiji, B

dipranasalisasi menjadi /mb/, sementara dalam bahasa Zulu dan bahasa Xhosa menjadi konsonan letup-balik /ɓ/, berbanding dwihuruf Bh yang melambangkan /b/. Bahasa Finlandia hanya memakai huruf b untuk kata pinjaman.

Dalam huruf IPA dan X-SAMPA, huruf /b/ menandakan konsonan letup dwibibir bersuara. Adanya bentuk variasi huruf b yang menandakan konsonan dwibir berkaitan, seperti konsonan letup-balik dwibibir bersuara dan konsonan getar dwibibir. Dalam X-SAMPA, huruf besar B menandakan konsonan desis dwibibir bersuara.

C

C adalah huruf ketiga dalam alfabet Latin. Dalam bahasa Indonesia, huruf ini disebut ce sedangkan dalam bahasa Inggris disebut cee, dibaca [siː].[1] Dalam bahasa Latin, huruf ini melambang fonem /k/, konsonan letup langit-langit belakang tak bersuara, sedangkan dalam bahasa Indonesia dan Melayu huruf ini

melambangkan fonem /tʃ/, konsonan gesek pascarongga-gigi tak bersuara.

Berdasarkan sejarahnya. ‹C› dan ‹G› berasal dari huruf yang sama. Bangsa Semit menamakannya gimel (Arab: jimi. Lambangnya diadaptasi dari hieroglif Mesir yang berbentuk umban tongkat, yang mungkin merupakan arti dari nama gimel itu sendiri. Kemungkinan lainnya adalah lambang itu menggambarkan unta, yang dalam rumpun bahasa Semit disebut gamal.

Dalam Bahasa Etruska, konsonan letup (eksplosifi tidak mempunyai penyuaraan kontrastif, jadi huruf Yunani Γ (Gammai diadaptasi ke dalam alfabet Etruska untuk mewakili fonem /k/. Pun dalam Alfabet Yunani Barat, mulanya Gamma mengambil bentuk dalam alfabet Etruska Awal, kemudian dalam Etruska Klasik. Selanjutnya dalam bahasa Latin huruf itu mengambil bentuk C pada alfabet Latin klasik. Huruf Latin Awal menggunakan C untuk konsonan /k/ dan /ɡ/, tetapi selama abad ketiga SM, satu huruf yang diubah, telah diperkenalkan sebagai lambang bunyi /ɡ/, dan C sendiri ditetapkan untuk melambangkan bunyi /k/. Penggunaan huruf C (dan

variasinya yaitu Gi menggantikan sebagian besar penggunaan K dan Q. Oleh karena itu, pada masa kuno dan sesudahnya, G telah dikenal setara secara fonetik dengan Gamma, dan C sama dengan Kappa, dalam alih aksara kata-kata Yunani ke dalam ejaan Latin, seperti pada kata KA∆MOΣ, KYPOΣ, ΦΩKIΣ, dalam surat-surat Romawi ditulis CADMVS, CYRVS, PHOCIS.

Aksara lain mempunyai huruf-huruf mirip dengan bentuk C tetapi tidak sama dalam penggunaan dan asal mulanya, khususnya huruf Sirilik Es, yang berasal dari suatu bentuk huruf Yunani sigma, dikenali sebagai “lunar sigma” karena bentuknya menyerupai bulan sabit.

(9)

dengan C: cyn, brecan, brocen, Þicc, dan séoc. Tetapi selama periode bahasa Inggris Kuna, /k/ sebelum vokal depan (/e/ dan /i/i mengalami palatalisasi, berubah menjadi bunyi [tʃ] pada abad kesepuluh, meskipun C masih digunakan, seperti pada kata cir(iice, wrecc(eia. Sementara itu di daratan benua Eropa, perubahan fonetik serupa juga terjadi (contohnya dalam bahasa Italiai.

Dalam bahasa Latin Rakyat, /k/ dipalatalisasi menjadi [tʃ] di Italia and Dalmatia; di Perancis dan semenanjung Iberia, bunyinya menjadi [ts]. Meskipun demikian C masih digunakan sebelum vokal depan (E, Ii dengan nilai bunyi yang berbeda. Kemudian, fonem /kʷ/ dalam bahasa Latin (ditulis sebagai QVi tidak terbibirkan sehingga menjadi bunyi /k/, berarti bahasa-bahasa Roman mengandung bunyi /k/ sebelum vokal depan. Di samping itu, bahasa Normandia menggunakan huruf Yunani K sehingga bunyi /k/ dapat dilambangkan oleh K maupun C, yang kemudian dapat melambangkan bunyi /k/ maupun /ts/ tergantung apakah mendahului vokal depan atau tidak. Kaidah menggunakan C dan K diterapkan pada penulisan bahasa Inggris setelah penaklukan Normandia, mengakibatkan pengejaan kembali kata-kata Inggris Kuna. Sementara ejaan kata-kata candel, clif, corn, crop, cú, dalam bahsa Inggris Kuna masih lestari, Cent, cæ´ (cé´ i, cyng, brece, séoce, sekrang (tanpa perubahan bunyii dieja Kent, keȝ, kyng, breke, dan seoke; bahkan kemudian cniht (knighti diubah menjadi kniht dan þic (thicki diubah thik atau thikk. Ejaan cw dalam Inggris Kuna teragntikan oleh qu dari bahasa Perancis sehingga kata cwén dan cwic menjadi queen dan quick.

Bunyi [tʃ] yang merupakan palatalisasi bunyi /k/ Inggris Kuna telah berkembang, juga muncul dalam bahasa Perancis, terutama seperti aturan /k/ sebelum ‹a› dalam bahasa Latin. Dalam bahasa Perancis bunyi itu ditulis Ch, seperti pada kata champ (dari bahasa Latin camp-umi dan pengejaan ini diperkenalkan ke dalam bahasa Inggris. Dalam Injil Hatton, ditulis sekitar tahun 1160, tertulis pada Matius i-iii, child, chyld, riche, mychel, untuk kata cild, rice, mycel, dari versi Inggris Kuna yang disalin. Dalam hal ini, C dalam bahasa Inggris Kuno tergantikan oleh K, Qu, Ch, tetapi selain itu, C dengan nilai bunyi baru yaitu /ts/ sebagian besar datang dari kata-kata Perancis seperti processiun, emperice, grace, dan disubtitusikan untuk ejaan Ts dalam beberapa kata-kata Inggris Kuno, seperti miltse, bletsien, dan milce, blecien dalam bahasa Inggris Pertengahan.

Cetakan kisah drama tragedi Romeo dan Juliet pada tahun 1597 (abad ke-16i, dengan ejaan yang menyerupai ejaan bahasa Inggris masa kini. Huruf C digunakan di tengah dan awal kata dengan nilai bunyi berbeda. Tidak ditemukan penggunaan huruf J karena digantikan oleh huruf I, demikian pula huruf V karena digantikan oleh huruf U, variasi huruf V.

Pada akhir abad ke-13 di Perancis dan Inggris, bunyi (konsonan geseki /ts/ tidak tergesekkan sehingga menjadi bunyi /s/ (desisi; dan semenjak itu C melambangkan bunyi /s/ sebelum vokal depan, baik secara etimologis, seperti pada lance, cent, atau (bertentangan dengan etimologii untuk menghindari ambigu karena

(10)

sense. Maka dari itu, di masa kini rumpun bahasa Roman dan bahasa Inggris memiliki ciri umum yang diwarisi dari bahasa Latin Rakyat, yaitu C yang memiliki nilai bunyi “keras” ([k]i dan “lembut” (biasanya konsonan afrikat atau frikatifi tergantung vokal yang mengikutinya.

Dalam ortogaf bahasa Inggris, Perancis, Spanyol dan Portugis, C menandakan nilai “lembut” sebelum E atau I, dan selain itu melambangkan nilai “keras” dari bunyi /k/. Seperti beberapa hal lainnya yang bertentangan dengan ejaan bahasa Inggris, terdapat pula beberapa pengecualian: “soccer” dan “Celt” adalah kata-kata yang mengandung bunyi /k/.

Pelafalan nilai “lembut” berbeda-beda menurut bahasa. Dalam ortograf bahasa Inggris, Perancis, Portugis, dan Spanyol di Amerika Latin dan Spanyol Selatan, nilai bunyi C lembut adalah /s/. Dalam bahasa Spanyol yang dituturkan di Spanyol Utara dan Tengah, nilai bunyi C lembut adalah konsonan desis gigi tak bersuara (/θ/i. Dalam bahasa Italia dan Romania, nilai C lembut adalah [tʃ], konsonan gesek pascarongga-gigi tak bersuara, seperti pelafalan C dalam bahasa Indonesia. D

D adalah huruf keempat dalam alfabet Latin. Dalam bahasa Indonesia disebut de (dibaca [ˈde]i, sedangkan dalam bahasa Inggris dan Melayu disebut dee (dibaca [ˈdiː]i. Dalam bahasa Latin dan bahasa Indonesia, huruf ini melambangkan fonem /d/, konsonan letup rongga-gigi bersuara.

Huruf Semitik Dâlet kemungkinan besar berkembang dari logogram yang bermakna “ikan” atau “pintu”. Terdapat berbagai hieroglif Mesir yang mungkin

mengilhaminya. Dalam bahasa Semitik, Yunani Kuno, dan Latin, huruf ini

melambangkan konsonan /d/; dalam huruf Etruska pula huruf ini seolah-olah tidak diperlukan, tetapi masih dilestarikan (lihat huruf Bi. Huruf Yunani yang setara dengannya adalah: Δ (besari atau δ (kecili (Deltai.

Bentuk huruf kecil “d”, yang terdiri dari satu lekukan dan satu garis vertikal yang tinggi, berkembang dari perubahan bervariasi pada bentuk huruf besar “D”. Dalam penulisan pada zaman dahulu adalah suatu kelaziman untuk memulai lekukan pada kiri garis vertikal, sehingga menghasilkan suatu serif di atas lekukan itu. Serif ini disambung manakala bagian lain huruf ini dikurangi, menghasilkan suatu tangkai bersudut dan lengkungan. Kemudian tangkai bersudut ini berubah menjadi tangkai vertikal.

Dalam kebanyakan bahasa yang memakai alfabet Latin, huruf d melambangkan bunyi /d/, tetapi dalam alfabet bahasa Vietnam, huruf ini dibaca /z/ di utara dan /j/ (seperti “y” dalam “ya”i di selatan.

Dalam bahasa Jerman, huruf d berbunyi /d/ (konsonan letup rongga-gigi bersuarai, tetapi berubah menjadi /t/ (konsonan letup rongga-gigi tak bersuarai jika di akhir kata.

Dalam bahasa Fiji, huruf ini melambangkan konsonan hambat pranasal /nd/. Dalam beberapa bahasa yang mana konsonan hambat tak bersuara tanpa hembusan berlawanan dengan konsonan hambat tak bersuara berhembusan, d melambangkan /t/ tanpa hembusan, sementara t juga berbunyi /tʰ/ berhembusan. Contoh-contoh bahasa berkenaan meliputi bahasa Islandia, bahasa Gaelik Scot, bahasa Navajo, dan alih aksara pinyin untuk bahasa Mandarin.

(11)

tapi di kemudian hari, M dipakai sebagai lambang 1000i, sehingga D berarti 500 (angkai atau tahun 500.

E

E adalah huruf Latin yang kelima. Dalam bahasa Inggris, namanya dibaca [iː]. Huruf E paling banyak digunakan dalam bahasa Inggris.[1] Huruf ini biasanya

melambangkan bunyi vokal tak bulat depan hampir tertutup.

Menurut sejarahnya E diperoleh dari huruf Yunani epsilon yang kira-kira identik bentuknya (Ε, εi dan fungsinya. Menurut etimologi, huruf hê Semitik kemungkinan melambangkan bentuk manusia yang bersembahyang atau bersorak (hillul,

‘kegembiraan’i, dan juga mungkin berdasarkan suatu hieroglif Mesir yang serupa bentuknya tetapi berbeda bunyi dan kegunaannya. Dalam abjad Semitik, huruf ini mewakili bunyi /h/ (dan /e/ dalam kata asingi, dalam bahasa Yunani hê menjadi Εψιλον (Epsiloni yang mewakili bunyi /e/. Orang-orang Etruska dan Romawi Kuno juga menggunakan huruf ini sedemikian, maka munculah huruf Romawi “E”. Meskipun bahasa Inggris pertengahan menggunakan E sebagai lambang bunyi /e/ panjang dan pendek, oleh sebab Peralihan Vokal Besar-besaran, kegunaannya dalam bahasa Inggris agak berbeda. Bunyi /eː/ (dalam “me” atau “bee”i menjadi /iː/, sementara /e/ pendek (seperti bedi bertahan sebagai vokal madya.

Seperti huruf vokal Latin lainnya, ‹e› muncul dengan nilai bunyi yang panjang dan pendek. Pada mulanya perbedaan terletak pada panjangnya vokal, namun

kemudian ‹e› pendek mewakili vokal /ɛ/. Dalam bahasa lainnya yang menggunakan ‹e›, huruf itu mewakili nilai bunyi yang berbeda-beda, kadangkala dengan tanda aksen untuk menegaskan perbedaan pelafalan (‹e ê é è ë ē ĕ ě ẽ ė ẹ ę ẻ›i.

Dwihuruf dengan ‹e› sering ditemukan dalam berbagai bahasa untuk

melambangkan diftong dan monoftong, seperti ‹ea› atau ‹ee› untuk /iː/ atau /eɪ/ dalam bahasa Inggris; ‹ei› untuk /aɪ/ dalam bahasa Jerman; dan ‹eu› untuk /ø/ dalam bahasa Prancis, /ɔɪ/ dalam bahasa Jerman, /ɯ/ dalam bahasa Korea, /ɤ/ dalam bahasa Sunda.

Dalam ilmu pasti seperti fsika dan kimia, huruf E digunakan untuk melambangkan tenaga (energyi, terutama dalam rumus “E=mc2.

F

F adalah huruf Latin ke-6. Namanya dalam bahasa Inggris, Indonesia, dan Melayu adalah ef, dibaca [ɛf]. Huruf ini sering digunakan untuk menandai bunyi konsonan desis bibir-gigi nirsuara.

Asal-usul huruf F bermula dari huruf Semitik vâv yang melambangkan bunyi /v/, dan kemungkinan mulanya menggambarkan “kait” atau “gada”. Huruf vâv mungkin juga terbentuk berdasarkan suatu hieroglif Mesir, yang menggambarkan “gada”: Bentuk huruf Fenisia waw diserap ke dalam huruf Yunani sebagai huruf vokal, upsilon (yang menyerupai keturunannya, huruf Y, tetapi juga menjadi leluhur huruf-huruf U, V, dan Wi; dan juga dalam satu bentuk lain, yaitu huruf-huruf konsonan digamma yang menyerupai huruf F Romawi, tetapi diucapkan /w/ seperti dalam bahasa

Fenisia. Kemudian, fonem /w/ tersebut pudar dari bahasa Yunani, lalu fungsi digamma sebagai angka saja.

Dalam bahasa Etruska, F juga diucapkan /w/. Pada akhirnya orang Etruska

(12)

huruf F mewakili fonem /f/ saat orang Romawi menyerapnya (karena mereka sudah meminjam huruf U dari huruf Yunani upsilon untuk bunyi /w/i. Huruf phi (Φ φi juga menyamai bunyi /f/ dalam bahasa Yunani.

Huruf kecil f tidak boleh diidentikkan dengan huruf ſ, yaitu s panjang yang

digunakan pada zaman dahulu. Contohnya, “sinfulness” ditulis “ſinfulneſs” apabila memakai huruf s panjang. Kegunaan huruf s panjang memudar menjelang akhir abad ke-19, kemungkinan untuk menghindari kekeliruan dengan huruf f.

G

Huruf G atau g adalah huruf ke-7 dalam alfabet Latin. Dalam bahasa Indonesia dan Melayu, huruf G mewakili konsonan letup langit-langit belakang bersuara (/ɡ/i. Huruf G juga digunakan dalam dwihuruf “ng” untuk konsonan sengau langit-langit belakang (/ŋ/i. Dalam bahasa Inggris, huruf G digunakan untuk konsonan letup langit-langit belakang bersuara dan juga konsonan gesek pascarongga-gigi bersuara (/dʒ/i.

Huruf G diperkenalkan pada zaman Latin Kuno sebagai suatu bentuk lain bagi huruf C untuk membedakan konsonan langit-langit belakang bersuara (/ɡ/i dengan yang tidak bersuara (/k/i.

Orang pertama yang diketahui menulis huruf G ialah Spurius Carvilius Ruga, orang Romawi pertama yang membuka sekolah berbayar, dan mengajar sekitar 230 SM. Ketika itu, huruf K makin kurang dipakai, sedangkan huruf C yang mulanya mewakili bunyi /ɡ/ dan /k/ sebelum bunyi vokal terbuka, kemudian hanya mewakili bunyi /k/ dalam setiap kedudukan.

Penempatan G oleh Ruga menunjukkan bahwa susunan alfabet, yang berkaitan dengan nilai huruf itu sebagai angka Yunani, menarik perhatian pada abad ke-3 SM. Sampson (1985i berpendapat bahwa: “Jelas sekali bahwa susunan alfabet dirasakan sebagai perihal yang begitu konkrit sehingga suatu huruf baru boleh ditambah di tengah susunan hanya jika terdapat ‘ruangan’ setelah menggeser huruf yang lama.”[1] Menurut beberapa catatan, huruf ketujuh sebelumnya, yaitu Z, disingkirkan dari alfabet Latin pada awal abad ke-3 SM oleh seorang censor Romawi, Appius Claudius, yang merasa huruf itu asing dan tidak penting.[2]

Tidak lama kemudian, kedua konsonan langit-langit belakang /k/ dan /ɡ/ mengalami proses palatalisasi dan alofon sebelum vokal di depan; maka dari itu, huruf C dan G mempunyai nilai bunyi berbeda dalam rumpun bahasa Roman, serta juga bahasa Inggris (akibat pengaruh bahasa Perancisi.

Huruf g kecil mempunyai dua bentuk dasar yang berlainan: “g berekor terbuka” dan “g berekor melingkar” .

Bahasa non-Roman biasanya menggunakan ‹g› untuk melambangkan bunyi /ɡ/ tanpa mempedulikan posisi. Di antara bahasa-bahasa Eropa, bahasa Belanda adalah pengecualian karena tidak mengandung bunyi /ɡ/ dalam kosakata aslinya, sebaliknya ‹g› melambangkan bunyi konsonan desis langit-langit belakang bersuara (IPA: /ɣ/i, bunyi yang tidak ada dalam bahasa Inggris Modern. Bahasa Faroe

menggunakan ‹g› untuk melambangkan /dʒ/, selain /g/, dan juga menggunakannya untuk mengindikasikan bunyi semivokal.

(13)

Spanyol lainnyai. Dalam rumpun bahasa tersebut, kecuali Italia dan Romania, pelafalan “G lembut” sama seperti pelafalan huruf J dalam bahasa bersangkutan. Dalam bahasa Inggris, huruf G dapat melambangkan konsonan gesek pascarongga-gigi bersuara (IPA: /dʒ/; “G lembut”i, seperti pada kata giant, ginger, dan geology; atau konsonan letup langit-langit belakang bersuara (IPA: /ɡ/; “G keras”i, seperti pada kata goose, gargoyle, dan game. Dalam beberapa kata yang berasal dari bahasa Perancis, “G lembut” dilafalkan sebagai konsonan desis (/ʒ/i, seperti pada kata rouge, beige, dan genre. Pada umumnya, ‹g› diucapkan lembut sebelum ‹e›, ‹i›, dan ‹y› pada kata-kata yang berasal dari bahasa Roman, selain itu

menggunakan “G keras”; ada banyak kosakata Inggris yang tidak berasal dari bahasa Roman yang menggunakan “G keras” tanpa mengacuhkan posisi

(contohnya geti, dan tiga kata (gaol, margarine, algaei yang diucapkan lembut sebelum huruf hidup ‹a›.

Beberapa dwihuruf yang mengandung G umum dijumpai dalam bahasa Inggris. Dwihuruf ‹gh› yang muncul setelah penggunaan yogh dihapuskan dari alfabet, mengambil nilai bunyi yang berbeda-beda meliputi /ɡ/, /ɣ/, /x/, dan /j/. Dwihuruf itu kini mengandung banyak nilai bunyi, termasuk bunyi /f/ dalam kata enough, /ɡ/ dalam kata serapan seperti spaghetti, dan sebagai indikator pengucapan bunyi panjang dalam ejaan kata-kata seperti eight dan night. ‹Gn› dengan nilai bunyi /nj/ juga umum terdapat dalam kata serapan, seperti kata lasagna (meskipun pada awal kata, seperti gnome, huruf ‹g› tidak diucapkani.

Dalam bahasa Italia dan Romania, ‹gh› digunakan untuk melambangkan bunyi /ɡ/ sebelum vokal depan, selain ‹g› sebagai lambang bunyi lembut. Dalam bahasa Italia dan Perancis, ‹gn› digunakan untuk melambangkan bunyi konsonan sengau langit-langit /ɲ/, bunyi yang dilambangkan oleh dwihuruf ‹ny› pada kata nyamuk dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Italia, trihuruf ‹gli›, saat ditulis sebelum huruf hidup, konsonan hampiran-sisi langit-langit /ʎ/; dalam artikula tertentu dan kata ganti gli (IPA: /ʎi/i, dwihuruf ‹gl› melambangkan bunyi yang sama.

Huruf G juga digunakan sebagai bahasa gaul untuk kata Gangster atau Gangsta, biasanya digunaka pada frasa seperti My grand dad is a ‘G’ (kakekku seorang Gangsteri.

Dalam kebanyakan bahasa, seperti bahasa Denmark, Filipino, Indonesia, Inggris, Maori (Te Reo Māorii, Melayu, dan Vietnam, ‹g› dikombinasikan membentuk

dwihuruf ‹ng› agar melambangkan konsonan sengau langit-langit belakang /ŋ/ dan dilafalkan seperti ‹ng› pada kata “tong”.

G juga digunakan dalam ilmu pasti. Dalam Fisika, G adalah simbol konstanta

gravitasi, sedangkan g adalah simbol percepatan gravitasi. G merupakan singkatan dari prefks Giga yang berarti 1.000.000.000. Dalam Sistem Satuan Internasional, g adalah singkatan dari unit massa: gram.

H

(14)

yang berbunyi /ɛː/ (dalam bahasa Yunani modern, fonem ini bergabung dengan /i/.i Bahasa Etruska dan bahasa Latin pernah memiliki fonem /h/, namum hampir semua rumpun bahasa Roman kehilangan bunyi itu. Kemudian bahasa Romania meminjam fonem /h/ dari bahasa-bahasa Slavia di dekatnya, dan bahasa Spanyol

mengembangkan bunyi /h/ sekunder dari /f/ sebelum kehilangan bunyi itu lagi, sementara beberapa dialek bahasa Spanyol memakai /h/ sebagai alofon /s/ di beberapa wilayah yang memakai bahasa tersebut.

Dalam Alfabet Fonetik Internasional, simbol ini digunakan untuk mewakili dua bunyi. Huruf kecilnya, [h], mewakili konsonan desis celah suara tak bersuara atau ‘berhembus’, dan huruf besar yang dikecilkan, [ʜ], melambangkan konsonan desis katup napas tak bersuara.

H juga digunakan dalam ilmu pasti. Dalam kimia, H adalah simbol kimia untuk Hidrogen. H adalah simbol konstanta Hubble (huruf besari dan

ketinggian/kedalaman (huruf kecili dalam fsika.

H juga merupakan singkatan dari unit induktansi dalam sistem Satuan Internasional: henry.

I

Huruf I atau i adalah huruf ke-9 dalam alfabet Latin. I merupakan lambang angka 1 (satui atau tahun 1 dalam angka Romawi.

Dalam rumpun bahasa Semit, huruf Yôdh mungkin berasal dari suatu piktogram untuk “lengan” dan “tangan”, berasal dari hieroglif serupa yang membawa nilai konsonan desis hulu kerongkongan bersuara (/ʕ/i dalam bahasa Mesir, tetapi dialihkan ke /j/ (seperti y pada kata “ya”i oleh orang-orang Semit, karena kata Semit untuk “lengan” diawali dengan bunyi itu. Huruf ini juga boleh digunakan untuk bunyi vokal /i/, terutama dalam kata asing.

Orang Yunani menerima suatu bentuk yodh Fenisia ini sebagai huruf iota (Ι, ιi mereka untuk bunyi vokal /i/, begitu juga dalam alfabet Italik Kuno. Dalam bahasa Latin (seperti dalam bahasa Yunani Moderni, huruf ini juga dipakai untuk bunyi konsonan /j/. Huruf J modern mulanya merupakan bentuk variasi bagi huruf ini, dan keduanya dapat digunakan bergantian untuk vokal dan konsonan, sehingga

akhirnya dibedakan pada abad ke-16.

Detail crucifx Yesus dengan tulisan INRI yang merupakan singkatan dari Iesus Nazarenus Rex Iudaeorum. Huruf I dipakai sebagai lambang konsonan /j/ karena huruf J maupun Y belum tercipta.

Dalam berbagai bahasa, huruf I biasanya melambangkan vokal depan tertutup takbulat (/i/i. Pada mulanya dipakai untuk bunyi konsonan hampiran langit-langit (simbol IPA: [j]; contohnya ejaan Latin Kuno untuk Yesus: Iesus atau Iesvs, karena dulu huruf J dan U belum terciptai, tetapi kemudian bunyi /j/ dilambangkan oleh huruf J dan Y.

Dalam bahasa Inggris modern, I melambangkan berbagai bunyi berbeda, terutama diftong “panjang” /aɪ/ yang berkembang dari /iː/ bahasa Inggris Pertengahan

setelah Peralihan Vokal Besar-besaran pada abad ke-15, serta juga vokal “pendek” terbuka /ɪ/ seperti pada kata bill. Titik pada atas ‘i’ kecil kadangkala dipanggil tittle. Dalam alfabet Turki, I bertitik dan tanpa titik dianggap sebagai huruf yang berbeda dan keduanya mempunyai bentuk huruf besar (I, İi dan kecil (ı, ii.

(15)

lagi semenjak akhir Perang Dunia II, tidak terlalu membedakan bentuk huruf besar I dan J. Karakter yang sama, sebuah ‘J’ dengan serif di atasnya berbentuk tilde, kadangkala digunakan untuk keduanya, tetapi huruf kecil i dan j masih dibedakan. Huruf I digunakan pula dalam ilmu pasti. I merupakan simbol kimia untuk Yodium (Iodiumi. Dalam fsika, I adalah simbol arus listrik.

J

J adalah huruf kesepuluh dalam alfabet Latin, dan huruf terakhir yang ditambah dalam kalangan 26 huruf. Namanya adalah je, dibaca [dʒeɪ].

J asalnya merupakan bentuk lain huruf I, sedangkan huruf I berasal dari huruf iota Yunani. Bentuk huruf kecil j digunakan pada Abad Pertengahan untuk mengakhiri angka Romawi menggantikan i. Penggunaan yang berbeda diawali dalam bahasa Jerman Hulu Pertengahan.[1] Petrus Ramus (d. 1572i menjadi orang pertama yang secara jelas membedakan I dan J sebagai lambang bunyi yang berbeda. Mulanya, kedua huruf I dan J melambangkan /i/, /iː/, dan /j/; tetapi rumpun bahasa Roman mengembangkan bunyi-bunyi baru (dari /j/ dan /g/i yang menjadi bunyi-bunyi lambang I dan J; oleh itu, J bahasa Inggris (dari J Perancis, dan akhirnya dipakai dalam Indonesiai agak berbeda bunyinya dari [j]*

Koin emas dari Italia (abad ke-15 Mi, bergambar Yohanes Pembaptis dengan tulisan S Iohannes B di sekelilingnya. Huruf I digunakan karena pada masa itu huruf J maupun Y belum tercipta.

Semua bahasa Jermanik kecuali Inggris, Skotlandia dan Luksemburg menggunakan J untuk /j/; begitu juga dalam bahasa Albania, serta rumpun bahasa Ural dan Slavia yang memakai alfabet Romawi, seperti bahasa Hongaria, Finlandia, Estonia, Polandia, Ceko, dan Slowakia. Sebagian bahasa dalam rumpun ini, seperti bahasa Serbia, turut menyerap J ke dalam abjad Sirilik untuk tujuan yang sama. Oleh karena itulah, huruf kecilnya dipilih sebagai lambang fonetik IPA untuk [j]* (seperti “y” dalam “ya”i.

Penggunaan J sebagai lambang konsonan gesek pascarongga-gigi (/dʒ/i terdapat dalam bahasa Igbo, Indonesia, Melayu, Shona, Somali, Oromo dan Zulu. Bahasa Inggris menggunakannya pada beberapa kata, misalnya kata jam (dibaca [d͡ʒæm]i. Dalam bahasa Basque, diafonem yang dilambangkan oleh j dilafalkan berbeda-beda menurut dialek: [j], [ʝ], [ɟ], [ʒ], [ʃ], [x] (yang terakhir umum digunakan di País

Vascoi.

Dalam bahasa Indonesia, J awalnya melambangkan /j/, konsonan hampiran langit-langit. Sejak tahun 1972, bunyi tersebut digantikan dengan Y dan huruf J digunakan untuk melambangkan /dʒ/.

Dalam ejaan standar bahasa Italia modern, hanya kata dari bahasa Latin, nama diri (seperti Jesi, Letojanni, Juventus, dsb.i atau kata dari bahasa asing yang memakai J. Sampai abad ke-19, J cenderung digunakan daripada I dalam diftong, sebagai

pengganti akhiran -ii, dan dalam kelompok vokal (seperti pada kata Savojai; aturan ini cukup ketat dalam pedoman ejaan resmi. J juga digunakan untuk menyerap bunyi /j/ dalam dialek, misalnya ajo dalam bahasa Romanesque menjadi aglio (–/ʎ/–i. Novelis Italia Luigi Pirandello menggunakan J pada kelompok vokal dalam karya-karyanya yang ditulis dalam bahasa Italia; ia juga menulis bahasa ibunya, bahasa Sicilia dengan tetap mempertahankan penggunaan J.

(16)

konsonan gesek /dʒ/i, serupa dengan bunyi “h” atau “kh” Indonesia.

Dalam bahasa Perancis, Portugis dan Rumania, huruf J mulanya berbunyi /dʒ/ tetapi kini berubah menjadi /ʒ/ (seperti pada kata measure bahasa Inggrisi.

Dalam bahasa Turki, Azerbaijan dan Tatar, huruf J umumnya melambangkan bunyi / ʒ/.

“J” ialah satu-satunya huruf yang tidak ditemukan dalam sistem periodik unsur (namun Jl pernah digunakan untuk mewakili joliotium, dan J sendiri pernah dipakai untuk yodium[2]i.

K

K adalah huruf ke-11 dalam alfabet Latin. Dalam bahasa Indonesia, namanya disebut ka; dalam bahasa Inggris disebut kay, dibaca [ˈkɛɪ].

Huruf K berasal dari huruf Κ (kapai Yunani, yang diambil dari huruf kap dalam abjad bahasa Semitik, yang berbentuk lambang tangan terbuka.[1] Huruf kap itu mungkin dipinjam oleh kaum Semit yang tinggal di Mesir dari hieroglif bentuk “tangan” yang melambangkan bunyi /d/ pada kata “tangan” dalam bahasa Mesir Kuno, yaitu d-r-t. Orang Semit menetapkan bunyi /k/ untuk huruf ini karena kata “tangan” dalam bahasa mereka diawali dengan bunyi tersebut.[2]

Pada prasasti kuno berbahasa Latin, huruf C, K dan Q dipakai untuk melambangkan bunyi /k/ dan /g/ (yang tidak dibedakan dalam penulisani. Dalam hal ini, Q

digunakan untuk melambangkan /k/ atau /g/ sebelum vokal bulat, K sebelum /a/, dan C selain itu. Kemudian, penggunaan C (dan G sebagai variannyai menggantikan banyak penggunaan K dan Q. K tersisa hanya pada beberapa ejaan yang

ketinggalan zaman seperti Kalendae, ‘hari pertama tiap bulan’.[3]

Ketika kata-kata Yunani diserap ke dalam bahasa Latin, huruf Kapa diubah menjadi C, dengan beberapa pengecualian seperti praenomen Kaeso.[1] Beberapa kata dari alfabet lainnya juga dialihaksarakan menjadi C. Maka dari itu, rumpun bahasa Roman hanya mengandung K pada kata-kata dari bahasa lain. Rumpun bahasa Keltik juga cenderung menggunakan C daripada K, dan pengaruh tersebut terbawa ke dalam bahasa Inggris Kuno. Di masa kini, bahasa Inggris adalah satu-satunya bahasa dari rumpun bahasa Germanik yang giat menggunakan huruf C keras di samping huruf K (walaupun bahasa Belanda juga memakai huruf C dalam kata pinjaman bahasa Latin serta mengikuti hukum pembedaan “lembut keras” dalam kata-kata tersebut, begitu pula bahasa Perancis dan Inggris, tetapi tidak bagi kosakata Belanda aslii.

Beberapa ahli bahasa Inggris cenderung membalikkan proses alih aksara Latin bagi kata-kata khas Yunani, misalnya mengeja Hecate menjadi “Hekate”. Penulisan bahasa-bahasa yang tidak memiliki sistem tulisan sendiri sehingga menggunakan alfabet Latin biasanya memilih K untuk bunyi /k/, seperti Kwakiutl.

Dalam Alfabet Fonetik Internasional, [k] merupakan lambang konsonan letup langit-langit belakang nirsuara.

(17)

L

L adalah huruf ke-12 dalam alfabet Latin. Huruf ini disebut el, dibaca [ɛl]. Huruf L berasal dari bentuk huruf Semitik “tongkat” atau “kambing” yang mewakili bunyi /l/. Ini mungkin berdasarkan hieroglif Mesir yang telah diadaptasi oleh orang Semit untuk tujuan penulisan. Huruf Yunani Lambda Λ (huruf besari atau λ (huruf kecili, yang juga merupakan huruf Etruska serta Latin, mewakili bunyi yang sama

sebagaimana huruf Semitik tersebut.

Dalam bahasa Inggris, L memiliki beberapa nilai, tergantung kemunculannya

sebelum atau setelah huruf hidup. Bunyi konsonan hampiran-sisi rongga-gigi (bunyi yang dilambangkan oleh Alfabet Fonetik Internasional sebagai “L” kecili diucapkan bila mendahului vokal, seperti pada kata lip atau please, sementara bunyi

hampiran-sisi rongga-gigi tervelarisasi (IPA: [ɫ]i dilafalkan pada kata bell dan milk. Velarisasi ini tidak muncul pada banyak bahasa-bahasa Eropa yang menggunakan L; itu juga merupakan faktor yang membuat pelafalan L menjadi sulit bagi

pengguna bahasa yang tidak memiliki, atau memiliki nilai bunyi berbeda, untuk L^, eperti pada bahasa Jepang atau bahasa Tionghoa dialek selatan.

L dapat muncul sebelum hampir setiap bunyi letup, desis, atau gesek dalam bahasa Inggris. Dwihuruf umum seperti LL, yang memiliki nilai sama seperti L dalam bahasa Inggris, namun memiliki nilai berbeda yaitu konsonan desis-sisi ronga-gigi tak bersuara (IPA: /ɬ/i dalam bahasa Welsh, yang muncul pada awal kata.

Bunyi hampiran-sisi langit-langit atau L palatal (IPA: /ʎ/i muncul dalam berbagai bahasa, dan dilambangkan dengan GL dalam bahasa Italia, LL dalam bahasa Spanyol dan Katalan, LH dalam Portugis, dan Ļ dalam Latvia.

L adalah lambang angka 50 (lima puluhi atau tahun 50 dalam angka Romawi. L juga digunakan dalam ilmu pasti. Dalam fsika, L adalah simbol panjang. L singkatan dari unit volume dalam sistem Satuan Internasional: liter.

M

M adalah huruf Latin modern yang ke-13. Namanya em, dibaca [ɛm]. Bentuk huruf M berasal dari huruf Fenisia Mem, melalui huruf Yunani Mu (Μ, μi. Huruf Mem Semitik kemungkinan besar melambangkan air. Diketahui bahawa masyarakat Semit yang hidup di Mesir kira-kira 2000 SM mengadaptasi hierogif “air” yang mulanya melambangkan konsonan sengau rongga-gigi (/n/i, karena kata Mesir untuk “air” berbunyi “n-t”. Simbol itu dijadikan huruf M dalam bahasa Semitik, karena kata air dalam bahasa mereka diawali dengan bunyi tersebut.

Huruf M melambangkan bunyi konsonan sengau dwibibir (mi, baik dalam bahasa klasik maupun modern. Dalam Alfabet Fonetik Internasional, huruf M kecil

melambangkan konsonan sengau dwibibir, sedangkan variasi bentuknya (ɱi melambangkan konsonan sengau bibir-gigi. Kamus Bahasa Inggris Oxford (edisi pertamai menyatakan bahawa huruf ‘m’ kadangkala berbunyi vokal dalam kata seperti spasm dan akhiran -ism. Dalam istilah modern, penggunaan demikian diuraikan sebagai konsonan suku ([m̩]i.

N

(18)

Dipercaya bahwa bangsa Semit di Mesir menyesuaikan hieroglif untuk menciptakan abjad pertama, dan maka dari itu menggunakan lambang ular bagi bunyi /n/,

karena kata “ular” dalam bahasa mereka mungkin sekali diawali dengan konsonan tersebut, namun nama huruf ini dalam abjad Fenisia, Ibrani, Aramea dan Arab berbunyi nun, yaitu “ikan” dalam beberapa bahasa tersebut. Huruf ini berbunyi /n/, seperti dalam alfabet Yunani, Etruska, Latin dan semua bahasa di masa sekarang. N berfungsi sebagai konsonan sengau gigi atau konsonan sengau rongga-gigi dalam hampir semua bahasa yang memakai alfabet. Dalam Alfabet Fonetik Internasional, huruf kecil [n] melambangkan konsonan sengau rongga-gigi. Huruf besar N yang dikecilkan ([ɴ]i melambangkan bunyi konsonan sengau tekak.

Salah satu dwihuruf yang menyertakan huruf adalah , yang menghasilkan konsonan sengau langit-langit belakang (dibaca [ŋ]i, seperti pada kata “sengau”. Dalam bahasa Inggris, n biasanya tidak diucapkan saat diikuti oleh m, dalam kata seperti hymn (meskipun dilafalkan pada kata damnationi. Pada beberapa kata, n dapat melambangkan bunyi konsonan sengau langit-langit belakang, contohnya kata think (dibaca [θɪŋk]i dan bank (dibaca [bæŋk]i.

n adalah huruf kedua yang paling sering dipakai dalam bahasa Inggris. Yang pertama adalah t. Dalam beberapa bahasa seperti Italia dan Perancis,

melambangkan konsonan sengau langit-langit (/ɲ/i. Ejaan Portugis untuk bunyi tersebut adalah, sementara dalam bahasa Spanyol dan beberapa bahasa lainnya menggunakan tanda istimewa (n dengan tanda tilda di atasnyai.

O

O adalah huruf Latin modern yang ke-15, disebut o. Dalam bahasa Indonesia dibaca [o], sedangkan dalam bahasa Inggris diucapkan sebagai diftong [ˈoʊ], bentuk

jamaknya oes.[1] Biasanya huruf ini melambangkan bunyi vokal belakang setengah tertutup bulat. Dalam beberapa bahasa, ortograf masing-masing bahasa membuat nilai fonetik huruf ini berbeda-beda, seperti “eo” dalam bahasa Korea untuk bunyi [ʌ] (vokal belakang setengah terbuka takbulati; “oe” dalam bahasa Belanda untuk bunyi [u] (vokal belakang tertutup bulati.

Huruf O berasal dari huruf Semitik `Ayin (matai yang melambangkan konsonan, kemungkinan konsonan desis hulu kerongkongan bersuara (ʕi, yang juga

dilambangkan oleh huruf Arab ع (`Ayni. Huruf Semitik dalam bentuk asalnya nampaknya diilhami oleh bentuk hieroglif Mesir untuk “mata”.

Bangsa Yunani mengadakan inovasi huruf; oleh sebab tiadanya konsonan hulu kerongkongan, maka mereka meminjam huruf ini menjadi huruf omikron untuk melambangkan bunyi /o/, yaitu bunyi yang kemudian ditetapkan untuk huruf ini dalam bahasa Etruska dan Latin. Dalam tulisan Yunani, wujud huruf ini berlainan untuk membedakan bunyi o panjang (Omega, “O besar”i dengan o kecil (Omikron, “o kecil”i.

Huruf O paling banyak dikaitkan dengan vokal belakang setengah tertutup bulat [o] dalam berbagai bahasa. Bentuk ini disebut long o ‘o panjang’ dalam bahasa Inggris, tetapi huruf o ini berbunyi diftong ([əʊ]i; di Amerika pula [oʊ].

(19)

Dwihuruf umum seperti OO, melambangkan bunyi /ʊ/ atau /uː/; OI biasanya

melambangkan diftong /ɔɪ/; dan OA, OE, dan OU melambangkan berbagai pelafalan tergantung konteks dan etimologi.

Berbagai bahasa menggunakan O dengan nilai yang berbeda, biasanya sebagai lambang vokal belakang. Huruf pinjaman seperti Ö dan Ø diciptakan untuk sistem tulisan pada beberapa bahasa untuk membedakan bunyi vokal yang tidak

dilambangkan oleh huruf Latin dan Yunani, khususnya vokal depan bulat. Dalam IPA, [o] melambangkan vokal belakang setengah tertutup bulat. P

P adalah huruf Latin modern yang ke-16. Dalam bahasa Indonesia disebut pe, sedangkan dalam bahasa Inggris disebut pee (dibaca [ˈpiː]i.

Huruf P berasal dari huruf Proto-Semitik Pi’t yang berarti “mulut”, yang juga menurunkan huruf Fenisia pe, serta huruf-huruf Yunani (Pii dan Etruska yang

berkembang dari huruf Fenisia tersebut. Semuanya melambangkan bunyi /p/, yaitu konsonan letup dwibibir nirsuara.

Bangsa Etruska mengadaptasi alfabet Yunani dan mengubah beberapa bentuk hurufnya, termasuk Pi yang melambangkan bunyi /p/. Lengkungan pada huruf P Etruska tidak tertutup, dan pada beberapa variasi, lengkungan itu justru tertutup; variasi bentuk tertutup tersebut juga merupakan lambang bunyi /r/ dalam alfabet Etruska. Bangsa Romawi mengadaptasinya dan menetapkan bentuknya sebagai P, sehingga menyerupai bentuk huruf R dalam alfabet Etruska dan huruf Ro dalam alfabet Yunani. Meskipun demikian, nilai bunyinya berbeda. Untuk melambangkan bunyi /r/, akhirnya bentuk varian dari Ro dengan garis diagonal ( i diadaptasi menjadi huruf R oleh bangsa Romawi.

Dalam bahasa Indonesia, Melayu, Inggris dan berbagai bahasa yang memakai alfabet Latin, huruf P melambangkan bunyi konsonan letup dwibibir nirsuara. Satu dwihuruf dalam bahasa Inggris dan Perancis yang melibatkan huruf P ialah “ph” yang menandakan bunyi konsonan desis bibir-gigi nirsuara /f/, dan digunakan untuk mengalihaksarakan huruf Phi (φi dalam kata-kata pinjaman bahasa Yunani. Dalam bahasa Jerman, dwihuruf “pf” yang menandakan konsonan gesek bibir /pf/ kerap dijumpai.

Penutur bahasa Arab tidak biasa menyebut bunyi /p/ karena dalam bahasa mereka tidak ada bunyi konsonan ini; sebaliknya mereka cenderung menyebutnya seperti / b/ atau /v/.

Q

Q adalah huruf ke-17 dalam alfabet Latin. Dalam bahasa Indonesia, namanya ki; dalam bahasa Inggris disebut cue (dibaca [ˈkjuː]i sedangkan dalam Bahasa Melayu ialah kyu. Nilai bunyi huruf Semitik Qôp (mungkin pada mulanya qaw ‘gulungan tali’, dan mungkin berdasarkan kepada hieroglif Mesiri adalah /q/ (konsonan letup tekak nirsuarai, suatu bunyi biasa untuk rumpun bahasa Semit, tetapi tidak

dijumpai dalam bahasa Inggris atau Indo-Eropa lainnya. Dalam bahasa Yunani, tanda itu diserap sebagai Qoppa Ϙ, mungkin melambangkan beberapa konsonan letup langit-langit terbibirkan, di antaranya adalah /kʷ/ dan /kʷʰ/. Hasil dari

(20)

huruf: Qoppa, yang hanya untuk bilangan; dan Phi Φ yang digunakan untuk

konsonan aspirasi /pʰ/ dan disebut sebagai /f/ dalam Bahasa Yunani Modern. Orang Etruska menggunakan Q bersamaan dengan V untuk mewakili /kʷ/.

R

R adalah huruf Latin modern yang ke-18. Dalam bahasa Indonesia disebut er, dibaca [ɛr], sedangkan dalam bahasa Inggris disebut ar (dibaca [ɑr]i.

Bentuk huruf Semitik asalnya mungkin diilhami dari hieroglif Mesir yang berarti “kepala”, disebut t-p dalam bahasa Mesir Kuno, tetapi dipinjam oleh orang Semit untuk lambang bunyi /r/ karena dalam bahasa mereka, kata “kepala” berbunyi Rêš (akhirnya menjadi nama hurufnyai. Huruf tersebut berkembang menjadi Ρ ῥῶ (Rhôi Yunani dan R Latin. Kemungkinan beberapa bentuk huruf tersebut dalam bahasa Etruska dan Yunani Barat dibubuhi satu garis lagi agar berbeda bentuknya dari huruf P sekarang.

Bangsa Romawi mengadaptasi huruf P Etruska menjadi bentuk P yang sekarang, sedangkan bentuk P mirip sekali dengan huruf R dalam alfabet Etruska dan Yunani. Untuk membedakannya, maka bangsa Romawi menciptakan huruf R yang mirip dengan variasi huruf R dalam alfabet Etruska dan ro dalam alfabet Yunani, yaitu dengan garis diagonal di bawah lekukannya.

Dalam Alfabet Fonetik Internasional (AFIi, simbol [r] menandakan bunyi konsonan getar rongga-gigi. Variasi bentuk [r] dalam AFI digunakan untuk melambangkan konsonan getar dan rhotik lainnya. Beberapa bahasa memakai huruf r menurut ortograf (atau skema alih aksara Latini masing-masing, baik sebagai konsonan getar maupun konsonan rhotik.

S

S adalah huruf ke-19 dalam alfabet Latin. Huruf ini disebut es, dibaca [ɛs]. Huruf Syin (“gigi”i dari rumpun bahasa Semit pernah melambangkan konsonan desis pascarongga-gigi nirsuara /ʃ/ (seperti dalam kata syarati. Bentuk asalnya mungkin menggambarkan gigi atau buah dada. Bahasa Yunani tidak mengandung bunyi /ʃ/ tersebut, maka huruf sigma (Σi digunakan untuk mewakili /s/. Nama

“sigma” barangkali diambil dari huruf Semitik “Sâmek” (ikan; tulang belakangi dan bukan “Šîn”. Dalam bahasa Etruska dan Latin, nilai bunyi [s] ditetapkan, dan hanya dalam bahasa modernlah huruf ini dipakai untuk mewakili bunyi lain, seperti

konsonan desis pascarongga-gigi nirsuara [ʃ] dalam bahasa Hongaria dan Jerman (sebelum p, ti, atau konsonan desis rongga-gigi bersuara [z] dalam bahasa Inggris (rise, ‘bangun’i, Perancis (lisez, ‘baca’i dan Jerman (lesen, ‘membaca’i.

Pada masa dahulu, suatu bentuk alternatif bagi s, yaitu ſ (s panjangi, digunakan pada permulaan atau pertengahan kata dalam bahasa-bahasa Eropa tertentu; bentuk terkininya, s spendek, digunakan pada akhir perkataan. Contonhya,

sinfulness (“penuh dosa”i ditulis ſinfulneſs menggunakan s panjang itu. Penggunaan long s merosot menjelang awal abad ke-19, untuk mengurangi kekeliruan dengan huruf f kecil. Ligatur “ſs” (atau “ſz”i dalam bahasa Jerman menjadi ess-tsett ( ß i. Dalam kebanyakan bahasa yang memakai alfabet Latin, serta juga Alfabet Fonetik Internasional, huruf s mewakili konsonan desis rongga-gigi nirsuara, kecuali bahasa Vietnam dan bahasa Hongaria. Di sana S melambangkan konsonan desis

(21)

Bahasa-bahasa lain termasuk Bahasa-bahasa Inggris, Portugis dan Jerman mengandung kata-kata yang mana “s” mewakili bunyi /ʃ/ dan /z/.

Dalam ortograf bahasa Jerman, huruf ß digunakan sebagai pengganti ligatur “ss”, mewakili bunyi [s] nirsuara. Dalam bahasa Jerman huruf itu disebut Eszett, dibaca [ɛsˈtsɛt]. Huruf itu digunakan untuk melambangkan bunyi [s] di antara dua vokal, misalnya beißen (dibaca [baɪ̯sən], arti: ‘menggigit’i; küssen (dibaca [kʏsən], arti: ‘mencium’i.

Dalam beberapa bahasa, S juga digunakan untuk mewakili bunyi konsonan desis rongga-gigi bersuara ([z]i, seperti dalam bahasa Yup’ik bila S ditulis di antara huruf hidup. Dalam bahasa Pinyin, bunyi /z/ tersebut menggunakan dwihuruf SS.

S juga digunakan sebagai lambang dalam ilmu pasti. Dalam ilmu kimia, S adalah simbol kimia untuk Sulfur (belerangi. Dalam fsika, S digunakan sebagai simbol jarak. S juga merupakan singkatan dari unit waktu dalam sistem Satuan

Internasional: sekon (detiki. T

T adalah huruf Latin modern yang ke-20. Dalam bahasa Indonesia disebut te; dalam bahasa Inggris disebut tee, dibaca [tiː]. Huruf ini merupakan huruf konsonan yang paling sering digunakan dalam bahasa Inggris.[1]

Taw merupakan huruf terakhir abjad Semitik Barat dan Ibrani, kemungkinan melambangkan silang atau salib. Nilai bunyi huruf Taw, Tαυ (Taui Yunani, dan T Italik Kuno dan Romawi sama, yaitu menandakan fonem /t/; begitu juga dengan bentuk dasarnya dalam semua abjad-abjad tersebut.

Dalam banyak bahasa, huruf ini melambangkan konsonan letup rongga-gigi nirsuara. Dalam Alfabet Fonetik Internasional, konsonan tersebut dilambangkan sebagai [t].

Dalam bahasa Finlandia, Italia, Portugis, Swedia, dan beberapa dialek bahasa Indonesia, huruf ini melambangkan konsonan letup gigi nirsuara. Huruf ini juga dipakai dalam kebanyakan bahasa yang mengandung konsonan tersebut.

Dalam bahasa Inggris, jarang ditemui bahwa huruf ini melambangkan fonem [t͡ʃ] (konsonan gesek rongga-gigi nirsuarai, contohnya dalam kata nature (dibaca

[ˈneɪt͡ʃɚ]i. Huruf H yang mengikuti T membentuk dwihuruf “th” yang melambangkan bunyi konsonan desis gigi, baik nirsuara (dibaca [θ]i maupun bersuara (dibaca [ð]i. U

U adalah huruf Latin modern yang ke-21. Dalam bahasa Inggris, huruf ini disebut u atau you, dibaca [ˈjuː]; bentuk jamaknya ues.[1][2] Biasanya melambangkan vokal belakang tertutup bulat ([u]i, menggantikan fungsi huruf V yang beralih sebagai lambang konsonan desis bibir-gigi nirsuara.

Mosaik Yustinianus I di Basilika Sant’Apollinare Nuovo (abad ke-6i. Vokal /u/ pada nama “Justinian” ditulis dengan huruf V sebelum terciptanya U, sementara

konsonan /j/ dtulis dengan huruf I sebelum terciptanya J.

Huruf U berasal dari variasi huruf V pada masa Romawi Kuno. Asalnya dari huruf upsilon Yunani, yang melambangkan vokal /y/.

(22)

memandang bunyinya. Oleh karena itu, kata-kata seperti valour dan excuse sama seperti ejaan zaman sekarang, tetapi kata have dan upon juga ditulis haue dan vpon. Akhirnya pada tahun 1700-an, agar bunyi konsonan dan vokal dipisahkan, bentuk V menandakan konsonan sementara bentuk U untuk vokal, maka lahirlah huruf U modern. Pada masa inilah tercipta huruf besar U; sebelum ini selalu dipakai huruf besar V. Mulanya, semenjak huruf U dan V dijadikan huruf yang terpisah, V mendahului U dalam susunan abjad, namun kini terjadi hal sebaliknya.

Huruf u dimasukkan dalam abjad Romawi oleh Petrus Ramus pada abad ke-16.[3] Pada kebanyakan bahasa yang menggunakan sistem alfabet Latin, u

melambangkan bunyi vokal belakang tertutup bulat, [u]*, demikian pula dalam Alfabet Fonetik Internasional.

Dalam bahasa Belanda, U dapat melambangkan bunyi [ɤ]* (vokal hampir depan hampir tertutup bulati, contohnya pada kata hut. Dwihuruf uu melambangkan [yː]*, vokal depan tertutup bulat dipanjangkan, contohnya kata fuut. Bunyi vokal

belakang tertutup bulat (seperti “u” pada kata “ibu”i ditulis oe, contohnya kata hoed.

Dalam bahasa Inggris, biasanya huruf U melambangkan bunyi /juː/, sering disebut long u, ‘u panjang’, terutama bila di tengah kata, contohnya cute, amuse, music, dsb. Setelah Pergeseran Vokal Besar-besaran, U dapat melambangkan bunyi [ʌ]* (vokal belakang setengah terbuka takbulati, contohnya pada kata up, sub, cut, abduct, awalan un-, dsb. U dapat pula melambangkan vokal rhotik [ɜː]* (vokal madya setengah terbuka takbulati, contohnya pada kata burn, turd, fur, dsb. Dalam bahasa Perancis, u melambangkan vokal depan tertutup bulat (simbol IPA: [y]i, sementara ou melambangkan vokal belakang tertutup bulat (simbol IPA: [u]i. Menurut posisi artikulasi, kedua vokal tersebut berlawanan (/y/ vokal depan

sementara /u/ vokal belakangi. Di Jerman, vokal /y/ (vokal depani tersebut ditulis sebagai Ü untuk membedakannya dengan U (vokal belakangi.

V

V adalah huruf Latin modern yang ke-22. Dalam bahasa Indonesia, huruf ini disebut ve meski dibaca [fe], sedangkan dalam bahasa Inggris disebut vee, dibaca [viː]. Awalnya huruf ini melambangkan bunyi [u], vokal belakang tertutup bulat, namun vokal tersebut menjadi huruf tersendiri (Ui, sementara V menjadi lambang bunyi [v]* (konsonan desis bibir-gigi bersuarai. Dalam bahasa Indonesia sering dilafalkan seperti [f]* (konsonan desis bibir-gigi tak bersuarai. Huruf V berasal dari huruf Semitik Waw, begitu juga huruf-huruf modern F, U, W, dan Y. Huruf Semit kemudian memengaruhi huruf Fenisia, Yunani, dan Etruska. Huruf Latin dipengaruhi oleh huruf Yunani, dengan perubahan seperlunya karena alasan penyesuaian fonologi dan sebagainya.

Dalam bahasa Yunani, huruf upsilon (Υi diadaptasi dari huruf waw, awalnya untuk melambangkan bunyi vokal /u/ seperti pada kata “bulan”, kemudian berubah

menjadi /y/ (vokal depan tertutup bulati, yaitu sama seperti pelafalan huruf ü dalam bahasa Jerman.

Prasati pada Arch of Titus di Roma, Italia (abad pertama Masehii. Pada tulisan Latin kuno tersebut, vokal /u/ ditulis dengan huruf V, sehingga ejaan SENATVS

dialihaksarakan sebagai SENATUS setelah terciptanya huruf U.

(23)

untuk menandakan bunyi /u/ yang sama, dan juga bunyi konsonan /w/. Oleh karena itu, kata num—atau asalnya dieja NVM—disebut “noom” (/num/i sementara kata via/VIA disebut “wi-a” (/wia/i. Mulai abad pertama Masehi, bergantung pada dialek setempat, konsonan /w/ berubah menjadi /β/, dan akhirnya menjadi /v/.

Ketika akhir Zaman Pertengahan, timbulnya dua bentuk huruf v atau u, kedua-duanya dipakai untuk bunyi /u/ dan /v/. Bentuk v bersudut ditulis di awal kata, sedangkan bentuk u bundar dipakai di tengah atau akhir kata tanpa menghiraukan bunyinya. Oleh itu, kata-kata seperti valour dan excuse sama seperti ejaan zaman sekarang, tetapi kata have dan upon ditulis haue dan vpon. Akhirnya pada tahun 1700-an, agar bunyi konsonan dan vokal diasingkan, bentuk v menandakan konsonan sementara bentuk u untuk vokal, maka lahirlah huruf u modern. Pada masa itulah tercipta huruf besar U; sebelumnya selalu dipakai huruf besar V. Mulanya, semenjak huruf u dan v dijadikan huruf yang berbeda, v mendahului u dalam susunan alfabet, tapi kini terjadi sebaliknya.

Mosaik Justinianus I di Basilika Sant’Apollinare Nuovo (abad ke-6i. Vokal /u/ pada nama “Justinian” ditulis dengan huruf V sebelum terciptanya U, sementara konsonan /j/ dtulis dengan huruf I sebelum terciptanya J.

Dalam sistem angka Romawi, huruf V melambangkan nomor 5 atau tahun 5, karena menyerupai kebiasaan menghitung takik yang diukir pada kayu, yaitu setiap takik kelima dikerat dua agar membentuk “V”.

Dalam sistem Alfabet Fonetik Internasional, /v/ menandakan bunyi konsonan desis bibir-gigi bersuara.

Dalam bahasa Irlandia, huruf ‹v› kebanyakan digunakan pada kata serapan, seperti veidhlín dari bahasa Inggris violin. Tetapi bunyi [v] muncul secara alami dalam bahasa Irlandia saat bunyi /b/ mengalami lenisi atau “dilembutkan”, ditulis menurut ortograf dengan ‹bh›, sehingga bhí dilafalkan [viiː], an bhean dilafalkan [ən̪ˠ ˈvian̪ˠ], dsb.

Bahasa Polandia tidak menggunakan huruf V, demikian pula Q dan X. Akan tetapi, bahasa mereka mengandung bunyi /v/, yang dilambangkan oleh huruf W, mengikuti kaidah dalam bahasa Jerman.

Dalam sistem pinyin bahasa Mandarin, semua huruf Latin digunakan kecuali huruf V, karena tidak ada bunyi [v] dalam bahasa Mandarin, tetapi huruf “v” dipakai kebanyakan kaedah pengetikan sebagai pengganti huruf “ü” yang umumnya tidak tersedia pada papan tombol biasa. Romanisasi merupakan kaidah yang banyak dilakukan untuk mengetik bahasa Tionghoa secara fonetik.

Dalam alih aksara bahasa Sanskerta atau IAST, huruf V digunakan sebagai lambang bunyi [ʋ]* (konsonan hampiran bibir-gigii, yang dalam aksara Dewanagari ditulis व. Dalam aksara turunan Brahmi lainnya (misalnya aksara Thai, Jawa, Bali, dsbi yang melestarikan kata serapan dari bahasa Sanskerta, bila dalam fonologi bahasa bersangkutan tidak mengandung bunyi konsonan hampiran bibir-gigi, maka lambang konsonan tersebut dalam aksara mereka seringkali tergantikan oleh konsonan hampiran langit-langit belakang terbibirkan (simbol IPA: /w/i, yang ditulis dalam huruf Latin sebagai W.

Huruf V juga digunakan sebagai lambang dalam ilmu pasti. V adalah simbol kimia untuk Vanadium. Dalam Fisika, v menjadi Simbol kecepatan dan volume (berasal dari kata velocity, ‘kecepatan’i. Dalam linguistik, v menjadi simbol kata kerja

(24)

Internasional: volt.

Beberapa bahasa memiliki penyebutan V yang berbeda-beda:

• Indonesia: ve [fe], pengucapannya mirip seperti pengucapan huruf F, yaitu konsonan desis bibir-gigi tak bersuara.

• Italia: vi [ˈvi] atau vu [ˈvu] • Jerman: fau [ˈfaʊ]

• Katalan: ve, dilafalkan [ˈve], namun dalam dialek yang tidak memiliki bunyi /v/ dinamakan ve baixa [ˈbe ˈbajɕə] “vi rendah”.

• Portugis: vê [ˈve] • Perancis: vé [ve]

• Spanyol: uve [ˈuβe] direkomendasikan, tetapi ve [ˈbe] secara tradisional. Karena keduanya dilafalkan /b/ dalam bahasa Spanyol[1], diperlukan istilah untuk

membedakan ve dari be, yaitu huruf ‹b›. Dalam beberapa wilayah huruf itu disebut ve corta, ve baja, ve pequeña, ve chica atau ve labiodental.

Dalam bahasa Jepang, V sering disebut “bui” (ブイi. Nama ini adalah penyesuaian dengan nama dalam bahasa Inggris, yang mensubtitusi konsonan letup dwibibir bersuara untuk bunyi konsonan desis bibir-gigi bersuara (yang tidak ada dalam fonologi bahasa Jepangi dan berbeda dengan “bī” (ビーi, nama Jepang untuk huruf B. Bunyi itu dapat ditulis dengan simbol katakana 「ヴ」 (vui yang kini sudah dikembangkan,[2] sehingga menjadi va, vi, vu, ve, vo (ヴァ, ヴィ, ヴ, ヴェ, ヴォ?i, meskipun pelafalannya (saat diterapkani bukanlah bunyi konsonan desis bibir-gigi bersuara seperti dalam bahasa Inggris. Selain itu, beberapa kata seringkali dieja dengan b daripada vu (contoh: “violin” seringkali dieja baiorin (バイオリン?i

daripada vaiorin (ヴァイオリン?i; karena kecenderungan untuk memakai konsonan yang tersedia dalam fonologi bahasa Jepang daripada konsonan asingi.

X

X adalah huruf ke-24 dalam alfabet Latin. Huruf ini dibaca /ɛks/. Dalam ilmu fonetik, x adalah lambang IPA dan X-SAMPA bagi konsonan desis langit-langit belakang nirsuara, seperti dwihuruf “kh” pada kata “khusus” dalam bahasa Indonesia. Pada mulanya, gabungan konsonan /ks/ dalam bahasa Yunani Kuno ditulis sama, sebagai Khi Χ (dialek Barati atau Ksi Ξ (dialek Timuri. Akhirnya, Khi digunakan untuk bunyi /kʰ/ (/x/ dalam bahasa Yunani Moderni, sementara Ksi digunakan untuk bunyi /ks/. Orang Etruska telah mengambil alih Χ dari dialek Yunani Barat Kuno; maka, X mewakili bunyi /ks/ dalam bahasa Etruska dan Latin.

Tidak diketahui apakah huruf Khi dan Ksi merupakan ciptaan orang Yunani, ataupun berasal dari rumpun bahasa Semit. Khi diurutkan hampir pada akhir susunan alfabet Yunani, setelah huruf-huruf asal Semit, bersama dengan Fi, Psi, dan Omega, dengan gagasan bahwa huruf-huruf itu merupakan inovasi; terlebih lagi, tidak terdapat huruf yang mewakili bunyi /ks/ secara terperinci dalam bahasa Semit. Terdapat satu huruf Fenisia kheth yang kemungkinan berbunyi /ħ/, agak serupa dengan /kʰ/, tetapi mulanya diterima dalam alfabet Yunani sebagai konsonan /h/, dan kemudian,

digunakan untuk bunyi vokal panjang Eta (Η,ηi, maka huruf itu tidak tampak

(25)

Djed, namun ini juga tidak pasti karena tidak ada bentuk Protosinaitik bagi huruf ini yang identik dengannya.

Penggunaannya dalam keseharian adalah sebagai berikut:

• Dalam Alfabet Fonetis International, [x] adalah simbol konsonan desis langit-langit belakang nirsuara.

• Dalam alfabet Latin, X melambangkan bunyi /ks/.

• Dalam Angka Romawi, X melambangkan bilangan 10 (sepuluhi atau tahun 10. • Dalam beberapa bahasa, sebagai perubahan nilai fonetik dan adaptasi tulisan tangan, X dilafalkan berbeda-beda.

• Dalam bahasa Indonesia, X dipakai dalam istilah yang diserap dari bahasa asing, misalnya xenon.

• Dalam bahasa Inggris, X adalah huruf untuk gugus konsonan [ks]; atau kadang-kadang apabila diikuti oleh suku kata beraksen yang diawali dengan bunyi vokal, atau apabila diikuti oleh “h” nirsuara dan bunyi vokal beraksen [gz] (cth. exhaust, exami; lazimnya diucapkan [z] apabila menjadi huruf pertama suatu kata (cth. xylophonei, serta dalam beberapa kata majemuk bunyi [z] tidak berubah (cth. meta-xylenei. X juga melambangkan bunyi [kʃ] dalam perkataan yang berakhir dengan -xion. X juga melambangkan bunyi [gʒ] atau [kʃ], misalnya dalam kata luxury dan sexual. Apabila huruf X mengawali kata dalam bahasa Inggris seperti xynene dan bunyi z yang dihasilkan, maka huruf X tidak diucapkan. X di akhir kata biasanya diucapkan [ks] (cth. ax/axei kecuali dalam kata pinjaman seperti faux (lihat ulasan bagi bahasa Perancis, di bawahi.

• Dalam bahasa Melayu, X bukan saja merupakan huruf yang paling sedikit digunakan di seluruh kosakata bahasa Melayu, huruf ini seolah-olah tidak pernah digunakan kecuali bagi kata-kata yang menyebut nama huruf ini dalam kata

tersebut (cth: sinar-Xi. Bagi kata-kata pinjaman dari bahasa lain yang mengandung huruf “x” seperti sex dan xylophone, huruf x diganti dengan “ks” ([ks] di tengah atau akhir katai atau “z” ([z] di awal katai, sehingga dieja seks dan zilofon. • Dalam bahasa Perancis, di akhir kata, X tidak diucapkan (atau dibaca [z] jika mengikuti bunyi vokali. Penggunaan ini timbul sebagai perubahan tulisan bagi akhiran -us. Terdapat dua pengecualian, yaitu x disebut [s] dalam six dan dix, namun dibaca [z] dalam sixième and dixième.

• Dalam bahasa Spanyol lama, X disebut seperti [ʃ] karena bahasa ini masih

sebunyi dengan bahasa Iberia yang lain. Kemudian, bunyi ini berubah menjadi bunyi [x] yang keras. Dalam bahasa Spanyol modern, bunyi [x] dieja dengan j, atau

dengan g sebelum e dan i, namun x dikekalkan bagi sesetengah nama (misalnya México, yang beralternasi dengan Méjicoi. Kini, X mewakili bunyi [s] (sebagai huruf pertama perkataani, atau gagasan konsonan [ks] dan [gs] (cth. oxígeno, exameni. Lebih jarang lagi; seperti dalam bahasa Spanyol lama, huruf x boleh disebut sebagai [ʃ] di hari ini dalam kata-kata nama khas seperti Raxel (variasi Racheli dan Xelajú. Dalam variasi bahasa Spanyol di Amerika dan seseo, digraf xc di excelente disebut sebagai [ks] tetapi di Spanyol, kombinasi konsonan tersebut disebut [ks-θ].

• Dalam bahasa Albania, x mewakili [dz], sementara digraf xh mewakili [dʒ]. • Dalam Hanyu Pinyin, sistem transkripsi resmi bagi bahasa Mandarin, huruf x mewakili bunyi konsonan desis pralangit-langit tidak bersuara (/ɕ/i.

(26)

Y

Y adalah huruf Latin modern yang ke-25. Dalam bahasa Indonesia disebut ye; dalam bahasa Inggris disebut wye atau wy (dibaca [ˈwaɪ], jamak: wyesi.[1] Dalam

berbagai bahasa, Y memiliki nilai bunyi yang berbeda-beda. Alfabet Fonetis Internasional memakai huruf Y kecil sebagai lambang bunyi vokal bulat depan tertutup.

Leluhur asal huruf Y merupakan huruf Yunani upsilon.

Penggunaan huruf Y dalam alfabet Latin berawal dari abad pertama SM. Huruf itu digunakan untuk menulis kata pinjaman dari bahasa Yunani, sehingga Y bukan huruf untuk menulis kosakata asli bahasa Latin dan biasanya dilafalkan /u/ atau /i/. Pelafalan yang kedua menjadi umum pada masa klasik dan digunakan oleh banyak orang kecuali kalangan terpelajar. Claudius, Kaisar Romawi memperkenalkan huruf baru ke dalam alfabet Latin untuk melambangkan apa yang disebut sonus medius (vokal pendek sebelum konsonan bibiri, tetapi kadangkala dalam prasasti ditulis sebagai huruf upsilon dari Yunani.

Pada masa Yunani Kuno, huruf Υ (Upsiloni melambangkan [u], sebelum beralih ke [y]* (vokal depan tertutup bulati. Mulanya bangsa Romawi Kuno mengadaptasi huruf ini menjadi huruf V, untuk menandakan bunyi vokal /u/ dan konsonan /w/, tetapi tidak lama kemudian, oleh karena sebutan Ypsilon dalam bahasa Yunani beranjak ke vokal /y/, maka bangsa Romawi meminjam huruf Yunani tersebut sesuai bentuk asalnya termasuk garis vertikal di bawahnya, khususnya untuk menandai nama-nama dan kata-kata pinjaman bahasa Yunani. Y dinamakan Y Graeca, ‘Y Yunani’. Tak diragukan lagi bahwa pelafalannya I Graeca, ‘I Yunani’, karena penutur bahasa Latin sulit mengucapkan vokal depan [y]*, yang tidak terdapat dalam kosakata asli bahasa Latin. Dalam rumpun bahasa Roman, pelafalannya menjadi nama yang umum: i griega dalam bahasa Spanyol, i grec dalam bahasa Perancis, dsb.

Huruf Y digunakan dalam bahasa Inggris Kuno dan Latin untuk melambangkan fonem /y/; namun, ada yang menganalisa penggunaan ini merupakan kreasi tersendiri di Inggris dengan menggabungkan V ke atas I, tanpa menghubungkan penggunaan huruf ini dalam bahasa Latin. Mungkin juga bahwa huruf Y, meskipun dinamakan Y Græca (dibaca [u gre:ka]i atau ‘u Yunani’ agar dibedakan dari /u/ dalam bahasa Latin, tetap dianalisa sebagai huruf V (disebut /uː/i di atas huruf I (disebut /iː/i. Maka huruf Y dipanggil [uː iː]; setelah /uː/ menjadi /w/ dan setelah pergeseran vokal besar-besaran dalam bahasa Inggris maka sebutannya menjadi /waɪ/.

Pada masa bahasa Inggris Pertengahan, kebundaran vokal /y/ (vokal depan tertutup “bulat”i memudar sehingga bunyinya mirip dengan vokal /iː/ (vokal depan tertutup “tak bulat”i dan /ɪ/. Maka dari itu, banyak kata yang awalnya dieja dengan I

kemudian dieja dengan Y, dan demikian sebaliknya. Penggantian serupa terjadi dalam kosakata Latin: kata asli silva (“kayu”i dieja dengan Y dalam kata

Pennsylvania.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :