• Tidak ada hasil yang ditemukan

MANAJEMEN LIKUIDITAS BANK SYARIAH docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MANAJEMEN LIKUIDITAS BANK SYARIAH docx"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

MANAJEMEN LIKUIDITAS BANK SYARI’AH

Makalah

Disusun untuk memenuhi tugas

Mata Kuliah : Manajemen Bank Syari’ah

Dosen Pengampu : Drs. Wahab Zaenuri, M.M

Disusun Oleh :

Yuni Catur Sugianti (132411160)

Ahmad Najih (132411182)

M. Labib Fahmi Arif (132411194)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

(2)

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Bank merupakan suatu lembaga yang berdiri di tengah keramaian kehidupan masyarakat dengan mengusung misi sebagai badan intermediasi antara pihak surplus masyarakat dan kaum deficit di dalamnya, dimana aktivitas inti di dalamnya adalah perputaran uang yang terbentuk oleh skema funding serta landing ke khalayak umum, hal ini juga tidak berbeda dengan yang ada di bank syari’ah, hanya saja dasar filosofis yang membedakan antara yang berlabel syariah dan konvensional.

Suatu tujuan yang diharapkan tercapai oleh bank tentunnya harus ditopang oleh suatu sistem yang terorganisir serta terkordinasi dengan baik antara unsur satu dengan yang lainnya, untuk itulah disuntikkannya ilmu manajemen ke dalam sistem kegiatan bank dianggap sebagai hal yang urgen dan harus dilakukan agar tercapainya cita-cita dari bank dapat terwujud secara baik, dalam manajemen bank syariah terdapat beberapa fungsi operasional ataupun pembagian sub pembahasan, diantaranya: manajemen likuiditas, manajemen dana, mansjemen dana, manajemen pembiayaan, dan lain-lain.

Pada tulisan kali ini kami akan menuliskan salah satu fungsi operasional dari manajemen bank syari’ah tersebut yaitu terkait manajemen likuiditas bank syari’ah.

B. Rumusan Masalah 1. Apa itu likuiditas?

2. Apa itu Manajemen likuiditas?

(3)

PEMBAHASAN

A.

Pengertian Likuiditas

Ketika kita membaca buku-buku literatur mengenai perbankan, biasanya beberapa istilah asing yang berkaitan dengan bank dapat kita temukan di dalamnya, termasuk istilah likuiditas. Namun terkadang sebagian dari para pembaca belum memahami apa maksud dari likuiditas itu sendiri. Perlu diketahui bahwa pengertian dasar likuiditas adalah kemampuan sesorang ataupun perusaaan dalam membayar kewajiban atau hutangnya yang sudah jatuh tempo dengan hutang lancarnya.

Sedangkan dalam ruang lingkup perbankan, istilah likuiditas digunakan untuk menyatakan kemampuan manajemen bank dalam menyediakan dana yang cukup untuk memenuhi kewajibannya setiap saat. Kewajiban tersebut dapat meliputi penarikan yang tidak terduga seperti commitment loan dan penarikan-penarikan tidak terduga lainnya. Secara sederhana likuiditas berarti tersedianya uang kas yang cukup apabila sewaktu-waktu dibutuhkan.1

Lebih rinci diesbutkan oleh Josep E. Burns bahwa likuiditas bank harus terdiri dari tiga unsur yaitu: jumlah dana, biaya dana, dan waktu yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas bank. Josep menambahkan, semakin besar jumlah dana yang dapat diperoleh suatu bank dalam waktu tertentu untuk memenuhi likuiditasnya, maka semakin likuid bank tersebut. Begitu pula jika semakin cepat bank memperoleh sebuah dana, semakin tingi pula likuiditas bank yang bersangkutan, dengan catatan tetap rendahnya biaya atas dana yang diperolehnya tersebut dalam suatu periode tertentu, semain likuid pula bank yang bersangkutan, karena dalam realitanya dalam memenuhi masalah likuiditasnya bank akan terkendala oleh biaya yang timbul dari penyimpanan dana cadangan, serta waktu pencairan aset yang tidak dapat dalam sekejap diuangkan untuk menutup kekurangan likuiditasnya.

Mengelola likuiditas dengan baik merupakan harga mati bagi setiap perbankan, baik itu perbankan konvensional maupun perbankan syariah. Hal ini dimaksudkan agar risiko likuiditas yang disebabkan oleh adanya kekurangan dana dapat diminimalisir, sehingga dalam memenuhi kewajibanya bank tidak harus mencari dana dengan tingkat bagi hasil yang

(4)

lebih tinggi dari tingkat bagi hasil yang ada di pasar, atau menjual sebagian dari asetnya dengan resiko kerugian yang relatif besar, pada akhirnya pendapatan bank akan berkurang dan tidak menutup kemungkinan kepercayaan masyarakat terhadap bank tersebut juga akan hilang. Masalah likuiditas memang menjadi perhatian yang sangat penting bagi perbankan. Supaya bank tidak mengalami kelebihan atau kekurangan dana likuid, maka bank perlu mengatur (baca: me-manage)dananya secara terencana dan tepat.

B. Manajemen Likuiditas

Setelah disebutkan seberapa pentingnya likuiditas dalam perbankan, maka penerapan ilmu manajemen ke dalamnya dianggap hal yang wajib dilakukan, adapun pengertian dari manajemen likuiditas sendiri adalah proses pengendalian dari instrumen-instrumen likuid yang mudah ditunaikan guna memenuhi kewajiban yang harus segera dibayar sesuai jatuh temponya.2

instrumen-istrumen likuiditas bagi bank syari’ah sendiri mulai dibentuk oleh bank sentral seiring dengan menjamurnya IKB berbasis syari’ah di indonesia yang disertai pula dengan kesadaran Bank Indonesia akan pentingnya pembuatan ketentuan-ketentuan banking yang sesuai dengan landasan islam, adapun Instrumen likuiditas Bank Syari’ah yang telah ditentukan oleh Bank Indonesia yaitu:

1. Memiliki Primary Reserve

Dalam dunia perbankan, primary reserve terdiri dari :

 Giro pada Bank Sentral, dikenal dengan istilah Giro Wajib Minimum (GWM) yaitu

simpanan minimum bank umum dalam giro pada Bank Indonesia, ketentuan mengenai GWM bank syari’ah sudah diatur oleh Bank Indonesia dalam regulasi yang telah dibuatnya yang menyatakan bahwa GWM dalam rupiah yang harus dipenuhi oleh bank sebesar 5% dari dana pihak ketiga (DPK).3

Giro Wajib Minimum ini merupakan kewajiban bank dalam rangka mendukung pelaksanaan prinsip kehati-hatian bank dan berperan pula sebagai instrumen moneter untuk mengendalikan jumlah uang beredar.

 Kas pada vault, alat likuid ini berisi uang tunai yang dipelihara oleh bank untuk memenuhi

kebutuhan transaksi sehari-hari.

2 Martono, Bank dan Lembaga Keuangan Lain, (Yogyakarta:Ekonisia, 2002), hlm. 45

(5)

 Giro pada Bank lain, Rekening giro pada bank lain bertujuan untuk melancarkan transaksi

antar bank (transfer, inkaso, transaks L/C, dan lain-lain).

 Item-item uang tunai yang masih dalam proses inkaso, Alat likuid ini terdiri dari cek bank

sentral atau bank koresponden yang belum secara efektif dikreditkan pada rekening bank pada bank sentral atau bank koresponden.

Tujuan dari primary reserve (cadangan primer) ini adalah:

a. Memenuhi reserve requirement yang ditempatkan dalam bentuk Giro Wajib Minimum di Bank Indonesia.

b. Memenuhi keperluan operasional bank sehari-hari. c. Penyelesaian kliring antar bank.

d. Memenuhi kewajiban jangka pendek yang jatuh tempo.

2. Memiliki Secondary Reserve, merupakan cadangan yang berfungsi sebagai penyangga Primary Reserve, ditanam dalam bentuk investasi jangka pendek. Baik dalam kondisi normal apalagi kondisi krisis atau pasar sedang ketat, kebutuhan likuiditas sulit untuk diantisipasi dan dipenuhi segera terutama jika terjadi rush, sehubungan dengan hal tersbut Cadangan Sekunder yang ditempatkan dalam bentuk surat-surat berharga (Marketable Securities) dilakukan dalam rangka memaksimalisasi penempatan dana setiap saat. Oleh karena itu, Marketable Securities tersebut harus memenuhi kriteria Short Term, High Quality, Marketable.4

Adapun cadangan sekunder berupa surat-surat berharga bisa berupa:

 Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI) adalah sertifikat yang diterbitkan Bank

Indonesia sebagai bukti penitipan dana berjangka pendek dengan prinsip wadiah.

Piranti tersebut dapat dijadikan sarana penitipan dana jangka pendek khususnya bagi bank yang mengalami kelebihan likuiditas.5

 Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) adalah surat berharga negara yang diterbitkan

pemerintah berdasarkan prinsip syariah, sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap aset SBSN, baik dalam mata uang rupiah ataupun mata uang asing. Pemerintah dalam hal ini bertanggung jawab atas pembayaran imbalan dan nilai nominal sukuk yang diterbitkan

4 http://mudharabah-ekonomisyariah.blogspot.com/2010/05/manajemen-likuiditas-bank-syariah.html diakses pada hari Rabu, 13 Mei 2015 jam 19:58.

(6)

sampai dengan sukuk jatuh tempo. Jenis-jenis sukuk yang banyak beredar di pasaran meliputi : Sukuk ijarah, Sukuk mudharabah, Sukuk musyarakah, Sukuk istisna’.6

3. Mempunyai akses ke pasar uang

Pasar uang yang dimaksudkan di sini adalah pasar uang antar bank syariah dan pasar modal syariah.

 Pasar Uang Antar Bank Syariah (PUAS) : Pasar Uang Antar Bank Syariah merupakan

pasar bagi instrument keuangan jangka pendek (kurang dari 1 tahun). Pasar Uang Antar Bank berdasarkan Prinsip Syariah adalah transaksi keuangan jangka pendek antar bank berdasarkan prinsip syariah baik dalam rupiah maupun valuta asing, yang digunakan antara lain : Sertifikat Bank Indonesia Syari’ah (SBIS), Deposito Antar-Bank Syariah, Sertifikat Investasi Mudharabah Antar-Bank Syariah (SIMA), Fasilitas Bank Indonesia Syari’ah (FASBIS), dan Fasilitas Likuiditas Intrahari bagi Bank Umum Berdasarkan Prisnip Syari’ah (FLIS).7

 Pasar Modal Syariah : Instrument di pasar modal syariah saat ini meliputi saham yang

masuk kategori Jakarta Islamic Index, Sukuk, dan reksadana syariah. Namun jika dibandingkan dengan instrument keuangan pada Pasar Uang Antar Bank Syariah (PUAS), maka instrument pada Pasar Modal Syariah ini kurang likuid. Untuk itu kriteria high quality dan marketable menjadi penting bagi pemilihan sukuk dan reksadana syariah.

 Fasilitas Pembiayaan Jangka Pendek bagi Bank Syariah (FPJPS) merupakan instrument

terakhir untuk memenuhi kebutuhan likuiditas bagi Bank Syariah atau Unit Usaha Syariah setelah terjadinya saldo giro negative dan tidak berhasilnya akses pasar uang syariah untuk menutup kewajiban jangka pendek, sehinga Bank syari’ah tersebut dapat meminta bantuan Bank Indonesia berupa pendanaan jangka pendek yang bersifat syariah untuk membantu masalah likuiditasnya, dengan syarat masih memenuhi persyaratan tingkat kesehatan dan permodalan. Fasilitas Pembiayaan Jangka Pendek ini, yang disebut dengan FPJPS, diberikan hanya kepada Bank Syariah atau Unit Usaha Syariah yang mengalami kesulitan pendanaan jangka pendek, namun masih memenuhi persyaratan tingkat kesehatan dan permodalan.

Dalam rangka mengatur likuditas ini terkadang pihak menajemen bank syariah dihadapkan pada dua hal yang sama urgennya, yaitu menaikkan rasio likuiditas atau profabilitas, karena 6 Lihat Fatwa no. 69/DSN-MUI/VI/2008 tentang SBSN

(7)

kedua hal tersebut mempunyai korelasi negatif, dimana jika bank syari’ah menyimpan banyak dana demi memenuhi primary maupun secondary reserve-nya maka dana yang akan dialokasikan ke bagian landing pun akan tergerus, sehingga pencapaian laba yang diharapkan bank syariah pun akan mengalami penurunan juga, sebaliknya jika bank syari’ah menggebu-gebu mengejar profabilitas dengan mengeluarkan pembiayaan dengan jumlah banyak, maka akan berdampak buruk jika suatu ketika terjadi penarikan bersama-sama atas tabungan nasabah yang tidak dapat terpenuhi sehingga tingkat kecairan dana dari bank syari’ah pun akan rendah.

Selain itu, Bank yang selalu berhati-hati dalam menjaga likuiditas akan cenderung memelihara alat likuid yang relatif lebih besar dari yang diperlukannya dengan maksud agar terhindar dari kesulitan masalah likuiditas, Namun cara seperti ini akan menghadapkan bank tersebut pada biaya yang besar yang disebabkan pemeliharaan alat likuid yang berlebihan, karena dana yang banyak disimpan untuk cadangan likuiditas akan memakan biaya administrasi yang tidak sedikit.

Masalah-masalah itu timbul karena bank yang gundah akan adanya idle funds yang terlalu banyak mengendap dalam brankas bank tanpa terjamah oleh sistem pemutaran uang yang dapat menghasilkan profit baginya, untuk itu manajemen likuiditas memerlukan bantuan manajemen aset dan liabilitas (ALMA), dimana ALMA merupakan suatu cara yang digunakan untuk mengatur keseimbangan antara aset yang didapat dari sisi landing dengan liabilitas dari skim

funding, dengan jangka waktu yang berbeda pula, dengan bantuan ALMA maka manajemen likuiditas diharapkan menjadi lebih terstruktur dan terkordinir lebih baik.

Namun, sebaliknya jika bank syaria’ah tidak dapat menyeimbangkan antara penerimaan liabilitas yang likuid dengan penginvestasian aset dalam bentuk non likuid, maka akan terjadi

gap yang lebar antara keduanya dan akan menimbulkan risiko likuiditas yang akan membuat bank tersebut gulung tikar karena dilikuidasi oleh pihak yang berwenang. Maka dari itu, untuk membantu dalam pengelolaan likuiditas para ekonom sudah merumuskan 4 macam teori, yaitu:

1. CommecialLoanTheory

(8)

2. ShiftbilityTheory

Teori tentang aktiva yang bisa dipindahkan, teori ini beranggapan bahwa likuiditas sebuah bank tergantung pada kemampuan bank memindahkan aktivanya kepada orang lain dengan harga yang dapat diramalkanya.

3. AnticipatedIncomeTheory

Teori pendapatan yang diharapkan, artinya semua dana yang dialokasikan atau setiap upaya mengalokasikan dana ditujukan pada sektor yang feasible dan layak yang nantinya akan menguntungkan bagi bank.

4. TheLiabilityManajemenTheory

Teori ini menyatakan bagaimana bank dapat mengelola pasivanya sedemikian rupa sehingga pasiva tersebut dapat menjadi sumber likuiditas.8

Teori-teori tersebut akan membentuk beberapa alternatif yang dapat digunakan bank syari’ah dalam mencapai titik aman likuiditas, diantaranya: 1).menyediakan uang kas yang cukup, 2). mengkonventir aset ke dalam uang kas, dan 3).meminjam dari bank lain.

C. Pengukuran Likuiditas

Sangat sulit untuk mengukur berapakah likuiditas yang memadai untuk suatu bank, hal ini dikarenakan permintaan atau kebutuhan nasabah terhadap dana tidak dapat dipastikan dan sulit untuk diperkirakan. Jumlah likuiditas yang diinginkan perbankan biasanya ditentukan oleh perubahan tingkat deposito atau simpanan yang ada di bank dan permintaan nasabah terhadap kredit atau transaksi lainya, tetapi ada dua patokan yang sering dijadikan sebagai ukuran likuiditas dari bank, yaitu:

1. Statutoryreserverequirementratio (Giro Wajib Minimum)

Rasio GWM menunjukkan kemampuan bank dalam memenuhi kewajibannya dengan segera dengan mengandalkan saldo gironya di BI, sudah disebutkan sebelumnya bahwa batas minimum GWM dalam rupiah bagi bank syari’ah adalah 5%, tetapi untuk memenuhi kelancaran likuiditas sebaiknya bank tidak merasa aman dengan batas pas sesuai peraturan yang ada, tetapi harus berpegang kepada besarnya dana yang benar-benar mereka butuhkan. Adapun rumus yang digunakan untuk mengetahui rasio Giro Wajib Minimum adalah:

Saldo Giro pada Bank Indonesia GWM=

Kewajiban kepada pihak ketiga

(9)

2. Financing toDepositRatio

FDR atau biasa disebut LDR (loan to Deposit Ratio) di bank konvensional adalah suatu angka yang menunjukkan besarnya kemampuan bank dalam membayar kembali liabilitas (penarikan dari dana titipan) dengan mengandalkan dana pembiayaan yang telah disalurkan, sehingga semakin besar angka yang ditunjukkan oleh FDR mengartikan bahwa semakin tidak likuidnya bank syari’ah tersebut, yang disebabkan oleh kelebihan pembiayaan yang disalurkan daripada dana pihak ketiga yang dititipkan, sehingga sewaktu-waktu dapat terjadi

gap, jumlah maksimum Financing to Deposit Ratio telah ditentukan oleh pemerintah sebanyak 110%,9 penetapan batas rasio pembiayaan ini bertujuan agar bank syari’ah tidak melakukan ekspansi yang berlebihan serta ingin melindungi kelangsungan hidup bank dan melindungi konsumen pula. Adapun rumus penghitungan FDR adalah:

Total pembiayaan yang diberikan

FDR= x 100%

Total Dana Pihak ketiga +Modal Inti

(10)

PENUTUP A. Kesimpulan

Bank sebagai lembaga intermediasi akan selalu mempertemukan pihak surplus dan

deficit dalam memenuhi kebutuhan mereka, darisitulah skim funding maupun landing akan beraksi, tetapi tidak semua kegiatan operasional itu dapat berjalan dengan semena-mena dan harus sesuai batas yang ditentukan demi kenyamanan bersama.

Salah satu batas tersebut adalah kecukupan likuiditas yang dimiliki oleh bank, dimana bank harus selalu mempunyai persediaan uang kas untuk memenuhi kewajiban yang tidak pasti datangnya, oleh karenanya kecukupan likuiditas ini perlu diatur dengan sistem manajemen likuiditas agar tidak adanya resiko likuiditas yang menimpa bank syari’ah tersebut dan akan menyebabkannya dilikuidasi.

B. Kritik dan Saran

Demikian yang dapat kami sampaikan, kami menyadari bahwa makalah kami jauh dari kata sempurna, maka kami mohon kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk makalah kami yang selanjutnya. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya. Aamiin…

DAFTAR PUSTAKA

 Kasmir. 2003. Manajemen Perbankan. Jakarta:Rajawali Press

 http://mudharabah-ekonomisyariah.blogspot.com/2010/05/manajemen-likuiditas-bank-syariah.html diakses pada hari Rabu, 13 Mei 2015 jam 19:58.

 Martono. 2002. Bank dan Lembaga Keuangan Lain. Yogyakarta:Ekonisia

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini berawal dari kenyataaan bahwa dalam proses pembelajaran masih bersifat monoton dan pengembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotor siswa

Ketidak seimbangan jumlah siswa dengan guru BK (koselor sekolah) juga menjadi penyebab sering terjadinya bully. Jumlah siswa kelas XI yang sekitar 327 orang belum termasuk kelas X

Peraturan pelaksanaan dari peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai penyusunan dan penetapan kebutuhan, pengadaan, pangkat dan Jabatan, pengembangan karier,

Kaitan antara tingkat pendidikan dan pengetahuan gizi ibu, serta pola asuh dengan perilaku keluarga kadar gizi dan status gizi anak.. Bogor: Departemen Gizi Masyarakat,

Berdasarkan Gambar 4.3 Histogram output variabel koordinasi dan komunikasi yang buruk antara bagian-bagian dalam organisasi kerja kontraktor memperoleh nilai rata-rata (mean)

digunakan untuk meenguatkan atau meningkatkan perilaku yang diinginkan. Asumsi dasar teknik ini adalah bahwa dalam pelaksanaannya, ganjaran diri. paralel dengan

a. Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif untuk mencapai suatu tujuan tertentu [2]. Manajemen waktu

Lama pengukusan biji kakao lindak dan mulia mempengaruhi sifat fisik lemak kakao yang meliputi : kadar air, titik cair, asam lemak bebas, angka peroksida dan bilangan