• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS TEKNIK TATA CAHAYA PADA SINETRO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS TEKNIK TATA CAHAYA PADA SINETRO"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS TEKNIK TATA CAHAYA PADA SINETRON ‘ANAK KAKI GUNUNG SCTV’

Oleh Maria Ulfa ABSTRAK

Tata cahaya pada sinetron di televisi Indonesia pada umumnya “datar”. Sangat sulit menemui adanya bayangan pada sinetron di Indonesia. Kesinambungan tata cahaya antar shot bahkan kerap diabaikan. Sinetron Anak Kaki Gunung sinetron Anak Kaki Gunung di SCTV memiliki konsep tata cahaya yang berbeda dengan sinetron pada umumnya. Tulisan ini memperlihatkan perbandingan sinetron Anak Kaki Gunung dengan salah satu sinetron terpopuler Indonesia pada saat itu, Cinta Fitri. Sangat terlihat jelas tata cahaya pada sinetron Cinta Fitri hanya berfungsi sebagai penerang objek dan tidak lebih dari itu. Bahkan tidak dapat dibedakan tata cahaya di dalam ruangan atau luar ruangan, ataupun antara siang dan malam. Sementara sinetron Anak Kaki Gunung memiliki konsep tata cahaya yang merujuk pada teknik tata cahaya film, atau tata cahaya filmis. Pengamatan lebih lanjut pada tata cahaya beberapa adegan sinetron Anak Kaki Gunung dibahas dalam tulisan ini sehingga dapat diketahui bagaimana karakter tata cahaya filmis tersebut. Ternyata kefilmisan tersebut terlihat dari matangnya konsep tata cahaya, perhitungan arah, sumber, dan warna cahaya yang sesuai dengan seting adegan, serta penggunaan kualitas cahaya yang dapat membetuk mood adegan.

Keyword: Tata cahaya, sinetron, Cinta Fitri, Anak Kaki Gunung

A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Menurut Teguh Karya, sutradara terkenal asal Indonesia, istilah sinetron yang digunakan secara luas di Indonesia, pertama kali dicetuskan oleh Soemardjono, salah satu pendiri dan mantan pengajar Institut Kesenian Jakarta Serikat dan Inggris, sinetron biasa disebut dengan soap apera (opera sabun). Sinetron sendiri merupakan kepanjangan dari sinema elektronik yang merupakan sebuah tayangan drama sandiwara berseri.

(2)

menghibur dan dangkal. Kedangkalan kualitas sinetron dapat dilihat dari sisi teknis produksi, cerita, penokohan, sampai nilai moral yang terkandung.

Biasanya, kedangkalan sinetron paling terlihat dalam teknis produksi dan alur serta penokohannya. Dari teknis produksi, contohnya, hampir semua sinetron di televisi Indonesia tata cahayanya “datar” atau tidak ada gelapnya satu senti pun. Padahal, dalam penataan cahaya, cahaya tidak hanya berfungsi untuk menerangi objek saja. Maka, munculnya sinetron berjudul Anak Kaki Gunung yang tayang di SCTV cukup menarik perhatian. Disamping jalan cerita yang disajikan amat berbeda dengan sinetron pada umumnya, teknis visual yang disajikan juga begitu unik dan nampak matang. Apalagi tata pencahayaannya. Anak Kaki Gunung punya gaya pencahayaan yang merujuk pada gaya pencahayaan layar lebar. Sementara sinetron pada umumnya tidak mengaplikasikan teknis pencahayaan semacam ini. Atas dasar inilah maka penulis mencoba menganalisis segi tata cahaya yang diaplikasikan pada sinetron Anak Kaki Gunung.

2. Rumusan Masalah

a. Bagaimana penggunaan tata cahaya dalam sinetron Indonesia pada umumnya? b. Bagaimana penggunaan tata cahaya pada sinetron Anak Kaki Gunung SCTV? c. Karakter tata cahaya seperti apakah yang dipergunakan dalam sinetron anak kaki

gunung?

3. Tujuan

a. Memenuhi tugas mata kuliah Seminar

b. Mengetahui penggunaan tata cahaya dalam sinetron Indonesia pada umumnya. c. Mengetahui penggunaan tata cahaya pada sinetron Anak Kaki Gunung SCTV.

d. Mengetahui karakter tata cahaya seperti apakah yang tercipta atas penggunaan tata cahaya pada sinetron Anak Kaki Gunung.

4. Manfaat

(3)

B. PEMBAHASAN

1. Tata Cahaya

Unsur sinematik dari program audio video terdiri dari apa yang ada di depan layar, hal-hal yang berkaitan dengan kamera dan pengambilan gambar, suara yang terdengar, serta hubungan antar gambar dalam video tersebut. Segala yang ada di dalam gambar dan terlihat oleh penonton di depan layar disebut mise-en-scene. Mise-en-scene berasal dari bahasa Prancis yang berarti meletakkan di atas panggung. (Pratista, 2008:61)

Secara estetika, sinetron sangatlah jauh berbeda bila dibandingkan dengan film feature atau film utama. Semua unsur dalam film dibuat dengan matang. Naskah, misalnya. Proses pra-produksi untuk membicarakan naskah saja dapat mencapai waktu 7 bulan hingga bertahun-tahun lamanya. Belum lagi proses untuk membuat set dan properti untuk keperluan artistik yang tentu begitu rumit, membutuhkan banyak waktu dan biaya. Berbeda dengan film, sinetron tidak memiliki waktu untuk itu. Naskah dibuat dalam hitungan jam, setting dibangun dalam hitungan menit. Properti dicari dalam hitungan jam. Bahkan para pemerannya pun hanya punya waktu dengan hitungan jam untuk melatih perannya dalam satu episode. Sistem kejar tayang yang diterapkan dalam produksi sinetron membuat waktu untuk mengkonsep gaya artistik sebuah episode sangatlah terbatas. Kalau untuk naskah tentang cerita yang ingin disampaikan saja hanya mendapatkan waktu dengan hitungan hari, apalagi untuk konsep visual seperti tata cahaya.

(4)

Menurut Himawan Pratista dalam buku Memahami Film, tata cahaya secara umum dapat dikelompokkan menjadi empat unsur yakni:

1. Kualitas Pencahayaan

Kualitas cahaya merujuk pada besar kesilnya intensitas pencahayaan. Cahaya terang cenderung menghasilkan bentuk objek serta bayangan yang jelas. Sementara cahaya lembut cenderung menyebarkan cahaya sehingga menghasilkan bayangan yang tipis. 2. Arah Pencahayaan

Merujuk pada posisi sumber cahaya terhadap objek yang dituju. Arah cahaya dapat dibagi menjadi lima jenis yakni arah depan (frontal lighting), arah samping (side lighting), arah belakang (back lighting), arah bawah (under lighting), dan arah atas (top lighting).

3. Sumber Cahaya

Merujuk pada karakter sumber cahaya, yakni cahaya buatan dan pencahayaan natural seperti apa adanya di lokasi. Sineas umumnya memakai dua sumber cahaya. Yakni sumber cahaya utama (key light) dan sumber cahaya pengisi (fill light).

4. Warna Cahaya

Merujuk pada penggunaan warna dari sumber cahaya. Warna natural terbatas pada dua warna saja yakni putih (sinar matahari) dan kuning muda (lampu). Namun dengan penggunaan filter sineas dapat menghasilkan warna tertentu sesuai keinginannya.

Penataan tata cahaya pada sebuah film ataupun sinetron berperan besar dalam mendukung terciptanya suasana, nuansa serta mood yang ingin dimunculkan. Oleh karena itu rancangan tata lampu amat diperhitungkan. Rancangan tata lampu secara umum dikelompokkan menjadi dua jenis, yakni high key lighting dan low key lighting.

(5)

Variasi penataan cahaya dipergunakan dengan cara-cara yang tidak terasa untuk menciptakan suasana dan memberikan pada adegan tersebut suatu suasana dramatik yang sesuai untuk peristiwa yang akan dibuat. Oleh karena tata cahaya dalam sebuah film harus sesuai dengan suasana setiap adegan, maka suatu pengamatan yang teliti tentang sifat dari penataan cahaya yang dipergunakan sangat membantu untuk menentukan suasana atau nada film sebagai suatu keseluruhan.

2. Tata Cahaya pada Sinetron Populer di Indonesia Umumnya

Televisi merupakan sebuah media yang memberikan kesan flat atau datar pada tampilan visualnya, oleh karena itu diperlukan upaya penataan cahaya yang tepat untuk mempengaruhi penafsiran penonton. Menurut David Bordwell dan Kristin Thompson dalam Film Art: An Introduction, ‘seni film memiliki dua unsur pembentuk, unsur yang berhubungan dengan cerita atau unsur naratif, dan unsur yang berhubungan dengan gaya film, unsur stilistik (sinematik).’ Begitu pula dengan sinetron, dua hal tersebut merupakan pondasi dari terciptanya sebuah tayangan audio visual yang layak tonton.

Namun belakangan dua hal tersebut tidak lagi dipertimbangkan dengan matang bagi para pembuat sinetron di tanah air. Sering terlihat penataan cahaya yang terkesan asal dan tidak diperhitungkan secara matang menambah kesan flat pada tayangan yang disajikan di televisi, utamanya pada sinetron. Sinetron Cinta Fitri contohnya.

Cinta Fitri adalah sebuah pertama di menjadi sinetron dengan 7 musim dan 1002 episode. Cinta Fitri memenangkan kategori Drama Seri Terbaik selama 2 tahun berturut-turut

(6)

Gambar 2.1 Gambar 2.2

Gambar 2.3 Gambar 2.4

Di atas merupakan potongan gambar dari salah satu adegan dalam sinetron Cinta Fitri, dimana Farel yang sedang berada di ruang kerjanya tengah melamun, kemudian datanglah Fitri yang merupakan istrinya. Farel dan Fitri lalu melakukan obrolan serius dengan posisi Fitri yang duduk diatas pangkuan Farel. Pada gambar 2.1 nampak shotclose up Farel yang tengah melamun. Arah pencahayaan paling kuat (key light) berasal dari sisi kiri objek sedangkan fill light berasal dari arah depan (frontal light), samping kanan objek (side light) dan bagian bawah objek (under light). Cahaya belakang atau biasa disebut back light tidak begitu nampak sebab antara objek dan latar masih terlihat seperti menyatu.

(7)

kiri objek. Sama seperti shot sebelumnya, fill light juga berasal dari arah depan (frontal light), samping kanan objek (side light) dan bagian bawah objek (under light). Pada shot ini, cahaya belakang tertolong oleh adanya pantulan atau refleksi cahaya pada tembok yang berasal dari luar jendela ruang kerja Farel, sehingga antara objek dan background terlihat lebih terpisah dibanding dengan shot sebelumnya.

Gambar 2.3 menampilkan shot close up tokoh Fitri yang duduk diatas pangkuan Farel. Terdapat suatu keganjilan pada shot ini dimana cahaya utama (key light) berasal dari sisi kanan objek padahal pada dua shot sebelumnya sangat jelas bahwa arah datang cahaya berasal dari bagian sisi kiri objek. Cahaya yang mengenai tembok pada bagian background memang memungkinkan untuk menghasilkan pantulan terhadap objek lain. Namun, logikanya, cahaya pantulan tidak akan sekuat seperti pada gambar 2.3. Pada bagian kiri objek yang seharusnya menjadi arah datang cahaya utama (key light) justru terlihat tidak kuat dan terkesan hanya sebagai cahaya pengisi (fill light). Hal tersebut tentu saja dapat diasumsikan sebagai sebuah rangkaian shot

yang tidak berkesinambungan.

Gambar 2.4 menampilkan close up tokoh Farel, pada shot ini arah datang cahaya seakan datang dari dua arah yakni dari sisi kanan dan sisi kiri objek, di mana pada sisi kiri objek cahaya menerangi bagian wajah objek, sedangkan pada bagian kanan cahaya menerangi bagian bahu objek. Hal ini dapat menjadi pertanyaan, cahaya dari sisi kanan objek bersumber dari apa dan berfungsi untuk apa.

Potongan seluruh rangkaian gambar diatas memiliki warna cahaya putih, hal ini merujuk pada penggunaan warna dari sumber cahaya. Warna putih biasa diidentifikasikan sebagai cahaya yang bersumber dari matahari di siang hari. Tata cahaya dengan kualitas soft light menjadi salah satu identitas sinetron ini, sebab tata cahaya yang dipergunakan cenderung menyebarkan cahaya sehingga menghasilkan bayangan yang tipis. Teknik tata cahaya yang menciptakan batas tipis antara area gelap dan terang ini sangat meminimalisir adanya bayangan, Teknik ini biasa disebut

(8)

Gambar 2.5 Gambar 2.6

Gambar diatas merupakan potongan shot dari sebuah adegan dalam sinetron Cinta Fitri dengan lokasi di luar ruangan. Tata cahaya juga masih memiliki masalah, baik dari segi arah datang cahaya dan lainnya. Tata cahayanya pun tidak memiliki perbedaan dengan tata cahaya pada adegan di ruang kerja Farel. Logikanya, pencahayaan di dalam dan luar ruangan tentunya berbeda. Tata cahaya, selain berfungsi untuk menerangi objek, juga berfungsi untuk membentuk mood. Pada kenyataannya, tata cahaya pada sinetron ini hanya difungsikan sebagai penerang.

Seperti pada adegan Fitri dan Farel di ruang kerjanya. Saat itu, mereka tengah membicarakan masalah yang serius. Namun tata cahaya yang hanya serba putih dan serba terang tidak dapat mendukung jalannya cerita, sehingga nilai dramatisnya berkurang. Mood penonton pun tidak terbentuk sempurna. Begitu juga dengan adegan di luar ruangan yang diperankan oleh Donita dan Adly. Pada adegan tersebut, Donita kabur dari penyekapan dan dikejar oleh penjahat. Kemudian mereka bertemu Adly dan perkelahian pun terjadi. Pada adegan tersebut, cahaya melakukan fungsinya juga hanya sebagai penerang. Sedangkan mood dan kesan secara psikologis tidak tercipta dengan baik. Berbagai masalah di atas juga banyak ditemui pada sinetron populer lainnya di Indonesia.

3. Tata Cahaya pada Sinetron Anak Kaki Gunung SCTV

(9)

bahagia serta kisah persahabatan yang indah juga merupakan nilai budi pekerti lainnya yang diharapkan dapat menjadi tontonan yang menarik serta mendidik bagi anak-anak.”

Serial istimewa Anak Kaki Gunung diangkat dari novel ‘Anak-Anak Mamak’ karya Tere Liye dan diproduksi oleh PT Demi Gisela Citra Sinema bekerja sama dengan Sandiego dengan sutradara Kiki ZKR yang juga merupakan sutradara sinetron ‘Para Pencari Tuhan’. Skenario serial ini ditulis Misbach Yusa Biran, Ida Farida, Arief Gustaman, Firman Triyadi, dan Al Kadri Johan.

Serial Istimewa Anak Kaki Gunung menceritakan tentang kehidupan empat bersaudara yaitu Eliana, Pukat, Burhan, dan Amelia merupakan anak-anak pasangan Pak Syahdan serta Mak Nur. Keluarga sederhana tersebut tinggal di sebuah kampung yang terdapat di kaki gunung Singgalang, Sumatra Barat, yang jauh dari perkotaan. Hanya terdapat satu sekolah dasar. Tragisnya sekolah dasar tersebut tergolong bangunan yang tak layak. Di sekolah itu, salah satu tenaga pengajar yakni Pak Taufik, merupakan guru honorer yang sudah mengabdi selama 15 tahun. Setiap kelas di sekolah tersebut hanya mempunyai murid yang tak lebih dari delapan orang. Selain bersekolah, setiap malam Eliana, Pukat, Burhan, serta Amelia pun mengaji pada Nek Kiba, satu-satunya guru mengaji yang ada di kampung tersebut. Julukan anak-anak mamak ini ialah anak kaki gunung, yang peka pada alam serta makhluknya, yang kerap bisa mengatasi beraneka ragam masalah dengan kearifan seperti yang diajarkan oleh orang tua serta guru-gurunya.

Setiap episode, Anak Kaki Gunung selalu menyajikan cerita yang penuh inspirasi dan kerap membuat penontonnya terharu. Misalnya pada episode “Kaleng Kejujuran”, dikisahkan Mak Ahmad, pemilik warung di SD Teladan beberapa hari tak membuka warungnya. Ternyata dia harus menunggui anaknya yang sakit TBC. Karena ia harus menunggui anaknya ia tidak memperoleh penghasilan, Mak Ahmad juga tak punya uang untuk mengobati anaknya yang butuh pengobatan rutin. Melihat kenyataan itu, Pukat bersama teman-temannya berinisiatif membantu Mak Ahmad. Pukat dengan rela hati tiap pagi mengambil kunci di rumah Mak Ahmad sembari mengambil jajanan yang dibuat si Emak. Pukat jugalah yang membuka dan mengurus kantin. Namun karena Pukat harus masuk kelas, kantin dibiarkan tanpa penunggu. Sebagai gantinya, disediakan sebuah kaleng kejujuran. Tiap anak harus jujur memasukkan uang ke kaleng itu sesuai dengan nominal yang harus dibayar. Tiap pulang sekolah, Pukat mengunci kantin dan mampir ke rumah Mak Ahmad menyerahkan uang pendapatan kantin hari itu. Di sini penonton ditunjukkan sikap anak-anak yang tulus membantu dan peka terhadap lingkungannya.

(10)

diciptakan secara naratif dan artistik yang terkonsep dengan amat matang, terutama dari segi tata pencahayaannya. Anak Kaki Gunung memang berbeda dari sinetron lain di masanya. Produser sinetron Anak Kaki Gunung membatasi jumlah episodenya hanya dengan 15 episode. Jumlah episode yang terbatas ini mengakibatkan tidak adanya sistem kejar tayang. Maka, sinetron ini pun punya cukup waktu untuk mengkonsep semua unsur-unsur artistik yang hendak dimunculkan dalam tiap epsiodenya. Faktor ini-lah yang membuat sinetron Anak Kaki Gunung, bila disejajarkan dengan sinetron lainnya, sangat berbeda. Sinetron Kaki Gunung sempat meraih penghargaan sebagai sinetron terpuji 2012 pada Festival Film Bandung.

Pada sebuah tayangan, mise-en-scene mencakup set atau latar dalam gambar, kemudian pencahayaan dalam gambar, kostum yang dipakai, tata rias yang digunakan, serta akting para pemainnya. Biasanya, sinetron di Indonesia sangat mengandalkan pada kemampuan serta kebintangan para pemainnya. Sedangkan bagian yang lainnya agak luput dari perhatian para sineasnya. Anak Kaki Gunung ternyata sanggup mengarahkan perhatian penonton pada semua unsur diatas.

3.1 Analisa 1 Tata Cahaya Anak Kaki Gunung SCTV

Gambar 3.1.1 Gambar 3.1.2

(11)

Gambar-gambar diatas merupakan potongan adegan dari sinetron Anak Kaki Gunung, dimana anak-anak mamak dan teman-temannya sedang belajar mengaji bersama Nek Kiba. Lokasi adegan berada didalam rumah dengan sumber pencahayaan yang seolah hanya berasal dari lampu tempel yang dipasang di empat sisi tembok ruangan.

Gambar 3.1.1 menampilkan shot luas yang menggambarkan suasana belajar mengajar antara murid-murid dan Nek Kiba. Pada shot ini cahaya yang berperan sebagai key light berasal dari arah kanan (sisi kiri 45 derajat ke depan dari murid laki-laki) dan kiri frame (sisi belakang 45 derajat ke atas dari kepala Nek Kiba). Tidak terdapat background lighting pada frame tersbut namun antara background dan objek terkesan terpisah sebab backround termasuk pada area gelap. Sedangkan cahaya yang menerangi ruangan tergolong cukup untuk menerangi dan membentuk objek.

Gambar 3.1.2 menampilkan medium shot Burhan dan kawan-kawan, pada shot ini arah cahaya datang dari sisi kiri objek 45 derajat ke depan. Cahaya cenderung keras menerangi objek sehingga mampu membentuk sosok Burhan dengan jelas di tengah teman-temannya. Under light

tidak dipergunakan dalam shot ini, hal ini terlihat dari adanya bayangan yang cukup jelas di bagian bawah dagu hingga leher Burhan. Back light hanya memanfaatkan dari pantulan cahaya (bounce) yang telah ada di ruangan, dengan demikian cahaya background memiliki intensitas cahaya yang lebih rendah. Keuntungannya antara objek dan background terkesan terpisah.

Gambar 3.1.3 menampilkan frame medium long shot pemeran Eliana, Amelia dan kawan-kawan. Arah cahaya utama (key light) berasal dari sisi kiri objek. Cahaya tersebut berasal dari lampu tempel yang dipasang pada kayu penyangga rumah. Beberapa tokoh tidak begitu terlihat sebab cahaya yang mengenai objek juga cenderung minim. Namun minimnya cahaya yang menyinari objek bukan tanpa alasan. Posisi objek yang berada sedikit di belakang kayu tempat lampu menempel membuat cahaya menuju objek terhalang oleh kayu tersebut. Pada shot ini hampir tidak ada banyangan yang bersifat keras, hal ini mengindikasikan bahwa pada shot tersebut memiliki kualitas cahaya soft light.

(12)

dengan titik berat pada wajah tuanya yang lelah. Kesan seperti inilah yang mampu membantu membentuk mood penonton dalam menghayati setiap adegan pada sinetron ini. Seperti pada shot

dalam gambar 3.1.2. Pada shot ini under lighting juga tidak berperan banyak sebab masih terdapat bayangan yang cukup keras pada bagian bawah dagu objek, namun hal ini masuk akal mengingat konsep pencahayaan di dalam ruangan yang hanya berasal dari lampu tempel sehingga memiliki

ambience yang tepat.

Seluruh rangkaian gambar diatas memiliki warna cahaya yang cenderung kuning, warna kuning pada dasarnya memang berasal dari lampu atau api. Intensitas pencahayaan pada adegan di atas cenderung menghasilkan bentuk objek dengan bayangan yang jelas. Adanya bayangan yang jelas dalam mise-en-scene mengidikasikan bahwa tata cahaya pada adegan diatas memiliki batasan yang tegas pada area gelap dan terang. Dari tampilan gambar yang ada dapat diketahui pada sinetron ini memiliki rasio tata cahaya 4:1.

3.2 Analisa 2 Tata Cahaya Anak Kaki Gunung

Gambar 3.2.1 Gambar 3.2.2

(13)

Gambar diatas merupakan potongan shot dari salah satu adegan dalam sinetron Anak Kaki Gunung dimana Pukat tengah dimintai kesaksian mengenai pengakuannya tentang pemangsa kambing tetangganya. Lokasi adegan berada di dalam kelas di sela jam sekolah. Dengan setting

tempat dan waktu yang sedemikian rupa maka dapat dipastikan sumber cahaya seolah dari sinar matahari pagi yang menerobos lewat jendela kelas.

Pada gambar 3.2.1 menampilkan medium long shot tokoh Pukat yang duduk sendiri di tengah kelas. Cahaya yang cenderung menyebar dengan garis bayangan yang tipis dan tidak tegas mengindikasikan adanya penggunaan tata cahaya soft light. Key light berasal dari sisi kanan objek yang berasal dari cahaya matahari di luar jendela. Cahaya yang menyebar hampir keseluruh ruangan mampu membentuk ambience yang tepat. Fill light berasal dari sisi kiri objek yang berasal dari cahaya yang berada di luar jendela kecil. Hasil dari pantulan cahaya key light dan fill light pada tembok menimbulkan bouncing. Hasil bouncing ini dimanfaatkan sebagai background lighting, sehingga objek terpisah dari background.

Gambar 3.2.2 menunjukkan gambar full shot dari semua tokoh yang ada di lokasi. Arah cahaya utama (key light) berasal dari sisi kanan Pak Taufik. Cahaya pada keseluruhan ruangan cenderung menyebar dan halus, namun cahaya pada objek cenderung terang dan menghasilkan bayangan yang tegas. Pada shot ini nampaknya kualitas cahaya soft light dan hard light dipadukan menjadi satu. Key light juga berfungsi menyinari background sehingga mampu membentuk kedalaman ruang. Fill light berasal dari depan objek namun dengan intensitas yang tidak begitu kuat sehingga mampu membentuk cahaya ambience dalam ruangan yang menyebar.

Gambar 3.2.3 menampilkan medium close up dua orang polisi. Shot ini hampir serupa dengan shot sebelummnya, dimana arah cahaya utama (key light) berasal dari sisi kanan objek dan

fill light berasal dari arah depan. Sedangkan pantulan cahaya key light ke tembok di belakang objek dapat berfungsi sebagai background lighting. Cahaya yang secara keseluruhan nampak halus namun pada objek masih terdapat bayangan yang tegas mengindikasikan teknik hard light dan soft light

yang dipadukan.

Gambar 3.2.4 menampilkan shot medium close up Pak Taufik. Arah datang cahaya utama berasal dari sisi kanan objek. Cahaya ini cukup keras sebab objek berdiri tidak jauh dari pintu yang terbuka. Fill light berasal dari depan objek dengan intensitas cahaya yang tidak begitu kuat.

(14)

dipergunakan pada sinetron ini. Kualitas cahaya pada shot ini juga merupakan perpaduan antara

hard light dan soft light.

Pada rangkaian adegan diatas hal yang paling menonjol adalah kesinambungan arah datang cahaya (key light) antar shot satu dengan yang lainnya. Perpaduan penggunaan hard light dan soft light juga menjadi poin tersendiri. Warna cahaya cenderung putih sesuai dengan setting waktu cerita dan sumber cahaya. Gambar di atas juga menjelaskan bahwa terdapat kontras yang cukup tinggi antara area gelap dan terang sehingga dapat disimpulkan shot-shot pada adegan diatas menggunakan konsep low key lighting dengan rasio 4:1.

3.3 Analisa 3 Tata Cahaya Anak Kaki Gunung SCTV

Gambar 3.3.1 Gambar 3.3.2

Gambar 3.3.3 Gambar 3.3.4

(15)

memberikan nasihat pada Pukat. Lokasi adegan berada di pinggir sungai ketika Pukat dan ayahnya tengah beristirahat. Sumber cahaya berasal dari cahaya matahari, yang dapat diketahui dari warna cahayanya, warna putih.

Gambar 3.3.1 menampilkan two shot Ayah dan Pukat yang sedang duduk. Arah datang cahaya utama (key light) berasal dari sisi kiri 45 sampai 70 derajat arah atas tokoh Ayah. Key light

juga berfungsi sebagai back light. Sedangkan fill light berasal dari arah depan yang merupakan hasil refleksi cahaya utama. Kualitas cahaya tergolong hard light sebab intensitas cahaya matahari tergolong tinggi sehingga menghasilkan garis bayangan yang jelas, terutama pada bahu kanan ayah yang terdapat bayangan topi serta dari batu di belakang ayah dan batu tempat ayah duduk.

Gambar 3.3.2 menampilkan close up wajah Pukat, cahaya utama datang dari arah belakang tubuh Pukat sedikit ke atas. Senada dengan shot sebelumnya key light juga berfungsi sebagai back light, sedangkan fill light berasal dari arah depan yang merupakan hasil refleksi cahaya utama.

Gambar 3.3.3 menampilkan Ayah dan Pukat, dimana Ayah terlihat dari samping. Arah datang cahaya utama (key light) serta fill light dan back light sama dengan shot sebelumnya. Kualitas cahaya juga senada dengan shot sebelumnya. Hal ini menandakan adanya kesinambungan tata cahaya yang rapi.

Gambar 3.3.4 menampilkan close up ekspresi wajah Ayah. Arah datang cahaya dari key light,

fill light dan back light berkesinambungan dengan shot-shot sebelumnya. Framing close up ini cenderung menonjolkan sosok ayah dengan cahaya dari matahari yang terang dan kuat, sehingga menimbulkan bayangan yang tegas. Oleh karena itu pada frame ini termasuk pada kualitas pencahayaan hard light.

Hasil analisa 3 tata cahaya pada sinetron Anak Kaki Gunung menunjukkan bahwa tata cahaya di luar ruangan hampir seluruhnya mengandalkan cahaya yang bersumber pada matahari dan digunakan sebagai cahaya utama (key light). Warna cahaya yang merujuk pada warna putih menunjukkan cahaya bersumber pada matahari. Untuk memperjelas ekspresi dimunculkanlah fill light melalui hasil refleksi dari cahaya matahari itu sendiri. Bayangan yang muncul dengan tegas pada objek menunjukkan bahwa tata cahaya pada adegan tersebut memiliki kualitas pencahayaan

hard light. Namun ketika dilihat secara menyeluruh pada frame, cahaya tergolong menyebar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada adegan tersebut konsep hard light dan soft light

(16)

C. KESIMPULAN

Hasil analisa diatas menunjukkan bahwa sinetron umum di Indonesia bahkan yang paling populer cenderung kurang memperhatikan penataan cahayanya. Intensitas cahaya antara key light

dan fill light yang tidak disesuaikan mengakibatkan gambar nampak serba terang dan flat. Tata cahaya hanya difungsikan sebagai media penerangan untuk kamera, sehingga banyak ketidaksinambungan tata cahaya antara satu shot dengan yang lainnya terutama dari arah datang cahaya. Sumber cahaya juga tidak terkonsep dengan jelas dan tidak logis, sebab pada adegan dengan seting waktu tertentu dan lokasi di luar ruangan atau di dalam ruangan tentunya memiliki intensitas dan karakter cahaya yang berbeda, namun dalam sinetron di Indonesia, umumnya konsepnya sama. Dengan demikian maka tata cahaya bisa dianggap gagal dalam mendukung aksi cerita, sebab tidak membantu adanya kesan tertentu, kedalaman serta mood yang ingin ditampilkan.

Pada sinetron Anak Kaki Gunung, konsep tata cahaya tergolong matang, Arah cahaya, sumber cahaya dan warna cahaya yang dimunculkan sesuai dengan setting waktu dan lokasi. Kualitas cahaya yang memadukan prinsip soft light dan hard light membuat adanya kesan wajar, seimbang dan logis. Penataan cahaya yang dihasilkan berdasarkan pada motivasi yang jelas sehingga mampu membantu pembentukan mood dan kesan terhadap objek dan suasana cerita. Adanya area gelap terang yang cukup kontras dan adanya bayangan disebagian besar set mengindikasikan penggunaan rancangan tata cahaya dengan teknik low key lighting. Teknik ini merupakan salah satu tata cahaya yang paling menonjol dalam sinetron ini dan membedakannya dengan sinetron Indonesia kebanyakan. Sebab, umumnya sinetron di Indonesia menggunakan teknik high key lighting. Rasio pencahayaan pada sinetron umum yang populer di Indonesia kebanyakan 2:1, sedangkan pada sinetron Anak Kaki Gunung memiliki rasio 4:1.

(17)

D. DAFTAR PUSTAKA

Boggs, Joseph M. Cara Menilai Sebuah Film, Yayasan Citra, Jakarta, 1992. (Terjemahan Drs. Asrul Sani)

Bordwell, David, Kristin Thompson. Film Art: An Introduction, McGraw-Hill Companies, New York, 2004

Darwanto Sastro Subroto. Produksi Acara Televisi, Duta Wacana University Press, Yogyakarta, 1994. Himawan Pratista. Memahami Film, Homerian Pustaka, Yogyakarta, 2008.

Tinjauan internet:

(18)

Profil Penulis

(19)

MAKALAH SEMINAR

TEKNIS PENGGUNAAN TATA CAHAYA PADA SINETRON

‘ANAK KAKI GUNUNG SCTV’

Disusun oleh:

Maria Ulfa

1010473032

PROGRAM STUDI S-1 TELEVISI

JURUSAN TELEVISI

FAKULTAS SENI MEDIA REKAM

ISI YOGYAKARTA

Gambar

Gambar diatas merupakan potongan shot dari sebuah adegan dalam sinetron Cinta Fitri
Gambar 3.1.2
Gambar 3.2.2
Gambar 3.3.2

Referensi

Dokumen terkait

Ketika koneksi jaringan komputer lokal ke server sudah kembali tersambung, maka sistem akan mengirimkan SMS notifikasi seperti yang tampak pada gambar 4.32. Ketika server

Berdasarkan jumlah lalu lintas harian rata-rata pada bulan Pebruari 1995, kendaraan yang melewati ruas jalan ini (kendaraan bermotor) mencapai 1120 kendaraan dalam 2 arah berarti

Keinginan mencari peluang untuk menambah ilmu pengetahuan dengan melakukan penerokaan terhadap sesuatu isu dan melaksanakan tugas semampu mungkin. Inisiatif Tahap

Noor membuat event organizer (EO) yang bernama CITA Entertaiment. Nama Cita Entertainment diambil dari nama pendirinya yaitu ibu Nur Cita Qomariyah yang akrab disapa Bu Cita

Menyatakan bahwa Karya Ilmiah atau Skripsi saya yang berjudul Strategi Pengelolaan Pariwisata Alam Sumber Maron Berbasis Masyarakat (Studi Desa Karangsuko Kecamatan

Paparan di atas menunjukkan bahwa mahasiswa prodi PBA memiliki akses untuk mendapatkan pelayanan mahasiswa yang dapat dimanfaatkan untuk membina dan mengembangkan

Berdasarkan Pedoman Pengelolaan Farmasi dan Perbekalan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI (2008), serta Standar Pelayanan Farmasi (2004), menjelaskan bahwa Perencanaan kebutuhan

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Angahar dan Alematu (2014) mengenai dampak manajemen modal kerja terhadap profitabilitas perusahaan di Nigeria menunjukkan