1
KEBIJAKAN PENGEMBANGAN EKOWISATA
Oleh: Yurisal Aesong
Manado, 2013
LATAR BELAKANG
2
PENGERTIAN KEBIJAKAN dan EKOWISATA
Pengertian kebijakan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yaitu, pertama, kepandaian, kemahiran, kebijaksanaan, kedua, rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak, ketiga, pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran, atau sebagai garis haluan.
Kebijakan adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi pedoman dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak. Istilah ini dapat diterapkan pada pemerintah, organisasi dan kelompok sektor swasta, serta individu. Kebijakan berbeda dengan peraturan dan hukum. Apabila hukum dapat memaksakan atau melarang suatu perilaku (misalnya suatu hukum yang mengharuskan pembayaran pajak penghasilan), kebijakan hanya menjadi pedoman tindakan yang paling mungkin memperoleh hasil yang diinginkan. Kebijakan atau kajian kebijakan dapat pula merujuk pada proses pembuatan keputusan-keputusan penting organisasi, termasuk identifikasi berbagai alternatif seperti prioritas program atau pengeluaran, dan pemilihannya berdasarkan dampaknya. Kebijakan juga dapat diartikan sebagai mekanisme politis, manajemen, finansial, atau administratif untuk mencapai suatu tujuan eksplisit.
3
Secara umum, istilah kebijakan atau “policy” dipergunakan untuk menunjuk perilaku seorang aktor (misalnya seorang pejabat, suatu kelompok, maupun suatu lembaga pemerintah) atau sejumlah aktor dalam suatu bidang kegiatan tertentu. Pengertian kebijakan seperti ini dapat kita gunakan dan relatif memadai untuk keperluan pembicaraan-pembicaraan biasa, namun menjadi kurang memadai untuk pembicaraan-pembicaraan yang lebih bersifat ilmiah dan sistematis menyangkut analisis kebijakan publik, oleh karena itu, kita memerlukan batasan atau konsep kebijakan publik yang lebih tepat.
Kebijakan (policy) adalah sebuah instrumen pemerintahan, bukan saja dalam arti government, dalam arti hanya menyangkut aparatur negara, melainkan pula governance yang menyentuh berbagai bentuk kelembagaan, baik swasta, dunia usaha maupun masyarakat madani (civil society). Kebijakan pada intinya merupakan keputusan-keputusan atau pilihan-pilihan tindakan yang secara langsung mengatur pengelolaan dan pendistribusian sumber daya alam,finansial dan manusia demi kepentingan publik, yakni rakyat banyak, penduduk, masyarakat atau warga negara. Kebijakan merupakan hasil dari adanya sinergi, kompromi atau bahkan kompetisi antara berbagai gagasan, teori, ideologi, dan kepentingan-kepentingan yang mewakili sistem politik suatu negara.
4
Davis, seringkali, kebijakan publik tidak lebih dari pengertian mengenai ‘whatever government choose to do or not to do’. Kadang-kadang, kebijakan
publik menunjuk pada istilah atau konsep untuk menjelaskan pilihan-pilihan tindakan tertentu yang sangat khas atau spesifik, seperti kepada bidang-bidang tertentu dalam sektor-sektor fasilitas umum, transportasi, pendidikan, kesehatan, perumahan atau kesejahteraan.
Urusan-urusan yang menyangkut kelistrikan, air, jalan raya, sekolah, rumah-sakit, perumahan rakyat, lembaga-lembaga rehabilitasi sosial ialah beberapa contoh yang termasuk dalam bidang kebijakan publik. Sebagai contoh, kebijakan sosial secara ringkas dapat diartikan sebagai salah satu bentuk kebijakan publik yang mengatur urusan kesejahteraan. Kebijakan sosial secara khusus sejatinya merupakan kebijakan kesejahteraan.
Konsep kesejahteraan menunjuk pada proses mensejahterakan manusia atau aktivitas untuk mencapai kondisi sejahtera. Di sini, istilah ‘kesejahteraan’ tidak perlu pakai kata ‘sosial’ lagi, karena sudah jelas menunjuk pada sektor atau bidang pembangunan sosial. Sektor ‘pendidikan’ dan ‘kesehatan’ jugatidak pakai
embel-embel ‘sosial’ atau ‘manusia’. Selain di Indonesia kata sosial memiliki terlalu banyak arti dan karenanya sering disalahpahami, dinegara lain istilah yang banyak digunakan untuk menjelaskan ‘bidang sosial’ secara spesifik ini adalah ‘welfare’ (kesejahteraan) yang umumnyamenerangkan berbagai sistem pelayanan
sosial dan skema jaminan sosial bagi kelompok yang tidak beruntung, karena itu, istilah ‘pembangunan kesejahteraan sosial’ sesungguhnya cukup disebut
5
Beragam pengertian mengenai kebijakan publik ini tidak bisa dihindarkan, karena kata ‘kebijakan’ (policy) merupakan penjelasan ringkas yang berupaya
untuk menerangkan berbagai kegiatan mulai dari pembuatan keputusan-keputusan, penerapan, dan evaluasinya. Telah banyak upaya untuk mendefinisikan kebijakan publik secara tegas dan jelas, namun pengertiannya tetap saja menyentuh wilayah-wilayah yang seringkali tumpang-tindih, ambigu, dan luas. Beberapa kalangan mendifinisikan kebijakan publik hanya sebatas dokumen-dokumen resmi, seperti perundang-undangan dan peraturan pemerintah. Sebagian lagi, mengartikan kebijakan publik sebagai pedoman, acuan, strategi dan kerangka tindakan yang dipilih atau ditetapkan sebagai garis besar atau roadmap pemerintah dalam melakukan kegiatan pembangunan.
Berdasarkan berbagai definisi para ahli kebijakan publik, kebijakan publik adalah kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah sebagai pembuat kebijakan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu di masyarakat di mana dalam penyusunannya melalui berbagai tahapan. Tahap-tahap kebijakan publik, yaitu sebagai berikut:
a. Penyusunan Agenda.
6
lain, dalam agenda setting juga sangat penting untuk menentukan suatu isu publik yang akan diangkat dalam suatu agenda pemerintah.
Isu kebijakan (policy issues) sering disebut juga sebagai masalah kebijakan (policy problem). Policy issues biasanya muncul karena telah terjadi silang pendapat di antara para aktor mengenai arah tindakan yang telah atau akan ditempuh, atau pertentangan pandangan mengenai karakter permasalahan tersebut. Isu kebijakan merupakan produk atau fungsi dari adanya perdebatan baik tentang rumusan, rincian, penjelasan maupun penilaian atas suatu masalah tertentu, namun tidak semua isu bisa masuk menjadi suatu agenda kebijakan.
Ada beberapa kriteria isu yang bisa dijadikan agenda kebijakan publik, diantaranya:
1) Telah mencapai titik kritis tertentu à jika diabaikan, akan menjadi ancaman yang serius.
2) Telah mencapai tingkat partikularitas tertentu yang berdampak dramatis. 3) Menyangkut emosi tertentu dari sudut kepent. orang banyak (umat
manusia) dan mendapat dukungan media massa. 4) Menjangkau dampak yang amat luas .
5) Mempermasalahkan kekuasaan dan keabsahan dalam masyarakat.
6) Menyangkut suatu persoalan yang fasionable (sulit dijelaskan, tetapi mudah dirasakan kehadirannya).
7
kesehatan dan kesejahteraan untuk dipelajari dan disetujui. Rancangan berhenti di komite dan tidak terpilih. Penyusunan agenda kebijakan seyogianya dilakukan berdasarkan tingkat urgensi dan esensi kebijakan, juga keterlibatan stakeholder. Sebuah kebijakan tidak boleh mengaburkan tingkat urgensi, esensi, dan keterlibatan stakeholder.
b. Formulasi kebijakan.
Masalah yang sudah masuk dalam agenda kebijakan kemudian dibahas oleh para pembuat kebijakan. Masalah-masalah tadi didefinisikan untuk kemudian dicari pemecahan masalah yang terbaik. Pemecahan masalah tersebut berasal dari berbagai alternatif atau pilihan kebijakan yang ada. Sama halnya dengan perjuangan suatu masalah untuk masuk dalam agenda kebijakan, dalam tahap perumusan kebijakan masing-masing slternatif bersaing untuk dapat dipilih sebagai kebijakan yang diambil untuk memecahkan masalah.
c. Adopsi/legitimasi kebijakan
Tujuan legitimasi adalah untuk memberikan otorisasi pada proses dasar pemerintahan. Apabila tindakan legitimasi dalam suatu masyarakat diatur oleh kedaulatan rakyat, warga negara akan mengikuti arahan pemerintah, namun warga negara harus percaya bahwa tindakan pemerintah yang sah. Dukungan untuk rezim cenderung berdifusi cadangan dari sikap baik dan niat baik terhadap tindakan pemerintah yang membantu anggota mentolerir pemerintahan disonansi.Legitimasi dapat dikelola melalui manipulasi simbol-simbol tertentu. Dimana melalui proses ini orang belajar untuk mendukung pemerintah.
8
Secara umum evaluasi kebijakan dapat dikatakan sebagai kegiatan yang menyangkut estimasi atau penilaian kebijakan yang mencakup substansi, implementasi dan dampak, dalam hal ini, evaluasi dipandang sebagai suatu kegiatan fungsional. Artinya, evaluasi kebijakan tidak hanya dilakukan pada tahap akhir saja, melainkan dilakukan dalam seluruh proses kebijakan, dengan demikian, evaluasi kebijakan bisa meliputi tahap perumusan masalah-masalah kebijakan, program-program yang diusulkan untuk menyelesaikan masalah kebijakan, implementasi, maupun tahap dampak kebijakan.
Ekowisata atau ekoturisme merupakan salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan.
Ekowisata dimulai ketika dirasakan adanya dampak negatif pada kegiatan pariwisata konvensional. Dampak negatif ini bukan hanya dikemukakan dan dibuktikan oleh para ahli lingkungan tapi juga para budayawan, tokoh masyarakat dan pelaku bisnis pariwisata itu sendiri. Dampak berupa kerusakan lingkungan, terpengaruhnya budaya lokal secara tidak terkontrol, berkurangnya peran masyarakat setempat dan persaingan bisnis yang mulai mengancam lingkungan, budaya dan ekonomi masyarakat setempat, pada mulanya ekowisata dijalankan dengan cara membawa wisatawan ke objek wisata alam yang eksotis dengan cara ramah lingkungan. Proses kunjungan yang sebelumnya memanjakan wisatawan namun memberikan dampak negatif kepada lingkungan mulai dikurangi.
9
Kebijakan pengembangan ekowisata merupakan implementasi sistem manajemen nasional yang melekat kepada sistem kelembangaan yang sedang berlaku. Kebijakan ekowisata dapat mengacu kepada hubungan antar industri maupun terlaksananya fungsi-fungsi organisasi. Hubungan antar industri ditunjukkan dengan keterkaitan sektor jasa ekowisata dengan sektor lain, misalnya kehutanan, perkotaan, pendidikan, dan infra struktur. Sementara hubungan fungsional organisasi mengacu kepada fungsi-fungsi perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian. Lebih jauh, dalam banyak hal kebijakan eokowisata juga mengacu kepada perkembangan lingkungan global.
Pengelolaan industri jasa pariwisata secara langsung berada dalam wewenang Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) dan Kementerian dalam Negeri (Kemendagri). Ketiganya merupakan unsur pelaksana yang mengoperasionalkan ke dalam rambu-rambu pengelolaan ekowisata secara berkelanjutan. Pemerintah daerah (Kemendagri) berperan dalam upaya mengkoordinasikan dan mengendalikan peran dan aliran manfaat kepada masyarakat, penduduk lokal dan swasta, melalui kebijakan penataan ruang, prosedur investasi dan perihal teknis lainnya.
Peran pemerintah daerah sangat penting untuk mengoperasionalkan pengembangan ekowisata dilandasi prinsip-prinsip sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 33 Tahun 2009 Tentang Pedoman Pengembangan Ekowisata di Daerah, dalam Pasal 2 yaitu :
1. Kesesuaian antara jenis dan karakteristik ekowisata.
10
3. Ekonomis, yaitu memberikan manfaat untuk masyarakat setempat dan menjadi penggerak pembangunan ekonomi di wilayahnya serta memastikan usaha ekowisata dapat berkelanjutan.
4. Edukasi, yaitu mengandung unsur pendidikan untuk mengubah persepsi seseorang agar memiliki kepedulian, tanggung jawab, dan komitmen terhadap pelestarian lingkungan dan budaya.
5. Memberikan kepuasan dan pengalaman kepada pengunjung.
6. Partisipasi masyarakat, yaitu peran serta masyarakat dalam kegiatan perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian ekowisata dengan menghormati nilai-nilai sosial-budaya dan keagamaan masyarakat di sekitar kawasan, dan
7. Menampung kearifan lokal.
Melalui Permendagri Nomor 33 Tahun 2009 dapat menjamin tercapainya sasaran yaitu pertumbuhan ekonomi wilayah, pengunjung memperoleh pengalaman dan ketrampilan, masyarakat dan penduduk lokal memperoleh kesempatan kerja dan penghasilan, swasta memperoleh nilai tambah dan pemerintah daerah memperoleh pajak/retribusi untuk dikembalikan ke upaya-upaya konservasi.
11
Aspek perencanaan di tingkat teknis mendukung ekowisata melalui kelembagaan dan penyediaan pertanahan, infrastruktur dan kapasitas daerah.
Ekowisata memerlukan fungsi pengendalian dan monitoring agar senantiasa terpelihara kualitas aliran manfaat. Manfaat ekowisata dalam wujud konservasi air dan habitat berguna untuk irigasi sektor pertanian, pemijahan sektor perikanan dan usaha-usaha jasa lain. Perencanaan teknis menjadi daya taris dan motivasi pengelolaan dan pengembangan ekowisata. Atas dasar hubungan kelembagaan tersebut, fungsi koordinasi menjadi penting. Landasan koordinasi yaitu Instruksi Presiden Nomor 16 Tahun 2005 tentang Kebijakan Pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata, yang menginstruksikan meteri dan badan-badan pemerintah terkait serta semua gubernur dan bupati/walikota untuk mendukung dan berkoordinasi erat bagi percepatan pembangunan pariwisata Indonesia.
12
makanan minuman, dan penyediaan sarana wisata alam yang meliputi wisata tirta, akomodasi, transportasi, dan wisata petualangan.
Seiring dengan berkembangnya tujuan-tujuan ekowisata di luar wilayah taman nasional atau otoritas kementerian kehutanan, serta semangat pembangunan otonomi daerah, sesua Permendagri Nomor 33 Tahun 2009 pelaku usaha ekowisata dapat berbentuk perseorangan dan/atau badan hukum, atau pemerintah daerah, atau kerja sama diantara mereka. Pemerintah daerah juga bertanggungjawab dalam pengendalian melalui pemberian izin pengembangan ekowisata, pemantauan pengembangan ekowisata, penertiban atas penyalahgunaan izin pengembangan ekowisata, dan penanganan dan penyelesaian masalah atau konflik yang timbul dalam penyelenggaraan ekowisata. Pengendalian ekowisata dilakukan antara lain terhadap fungsi kawasan, pemanfaatan ruang, pembangunan sarana dan prasarana, kesesuaian spesifikasi konstruksi dengan desain teknis, dan kelestarian kawasan ekowisata.
Peran Kemenbudpar dalam kebijakan pengembangan ekowisata menitikberatkan dalam aspek layanan, substansi dan promosi/pengembangan kebudayaan. Standar mutu manajemen menjadi unsur penting untuk dipromosikan. Tanpa mengurangi prinsip-prinsip kesederhanaan, hemat energi, konservasi atau kemudahan pengendalian, aspek-aspek umum mutu manajemen perlu dipenuhi, misalnya kebersihan, kecepatan layanan, teknologi informasi dan keamanan.
PENUTUP
13
Indonesia terkait penyediaan pertanahan, penataan ruang, infrastruktur dan kapasitas daerah, terutama pengelolaan sarana dan prasarana yang mendukung jasa ekowisata.
DAFTAR PUSTAKA
Budi Winarno, Teori dan Proses Kebijakan Publik, Penerbit Media Pressindo, Yogyakarta, 2002.
Chafid Fandeli, Pengertian dan Konsep Dasar Ekowisata, Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2007.
Edi Suharto, Modal Sosial dan Kebijakan Publik, Artikel, 2006.
Iwan Nugroho, Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2011.
Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 33 Tahun 2009 tentang Pedoman Pengembangan Ekowisatadi Daerah.
Wikipedia, Ekowisata, Diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Ekowisata, pada tanggal 30 Maret 2013.
Wikipedia, Kebijakan, Diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Kebijakan, pada tanggal 10 Mei 2013.
Wikipedia, Kebijakan Publik, Diakses dari
http://id.wikipedia.org/wiki/Kebijakan_publik, pada tanggal 10 Mei 2013. William Dunn, Pengantar Analisis Kebijakan Publik, Penerbit Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta, 1998.