Pertemuan 05
HI dan Otonomi Daerah/Paradiplomasi
Regulasi dan Kebijakan Paradiplomasi
Dosen Pengampu : Kaslam, M.Si
Program Studi Hubungan Internasional
Evaluasi Tugas Mandiri IV
Topik 1: Regulasi Internasional Terkait Paradiplomasi 1. Jelaskan bagaimana prinsip kedaulatan negara dalam
hukum internasional membatasi ruang gerak paradiplomasi oleh pemerintah daerah!.
2. Uraikan peran United Nations dan organisasi
internasional lain dalam membentuk norma dan praktik paradiplomasi!.
3. Bandingkan pendekatan regulasi internasional
terhadap paradiplomasi antara negara federal dan
negara kesatuan!.
Topik 2: Kebijakan Nasional yang Mengatur Kerja Sama Luar Negeri oleh Daerah
1. Jelaskan isi dan implikasi dari Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah terkait kerja sama luar negeri!.
2. Bagaimana peran Kementerian Luar Negeri dalam
mengawasi dan memfasilitasi kerja sama internasional oleh daerah?
3. Analisis bagaimana Peraturan Presiden atau Permendagri memengaruhi fleksibilitas pemerintah daerah dalam
menjalankan hubungan luar negeri!.
Topik 3: Kewenangan Pemerintah Daerah dalam Diplomasi Internasional
1. Jelaskan bentuk kewenangan pemerintah daerah dalam
menjalankan kerja sama luar negeri yang diakui secara legal di Indonesia!.
2. Berikan contoh konkret paradiplomasi oleh suatu provinsi atau kota di Indonesia dan evaluasi efektivitasnya!.
3. Apa perbedaan antara diplomasi formal oleh pemerintah pusat dan paradiplomasi oleh pemerintah daerah dari sisi legalitas dan fungsi?
Topik 4: Hambatan Regulasi dalam Pelaksanaan Paradiplomasi
1. Uraikan hambatan regulatif yang dihadapi daerah dalam menjalin kerja sama luar negeri secara langsung!.
2. Jelaskan bagaimana ketidaksinkronan antara pemerintah
pusat dan daerah dapat menghambat inisiatif paradiplomasi!.
3. Analisislah potensi konflik yurisdiksi antara pemerintah pusat dan daerah dalam praktik paradiplomasi dan cara penyelesaiannya!.
Topik 5: Upaya Penguatan Regulasi Paradiplomasi di Indonesia
1. Bagaimana strategi penguatan regulasi paradiplomasi yang dapat meningkatkan peran aktif daerah dalam diplomasi ekonomi?.
2. Jelaskan bagaimana sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dapat membentuk tata kelola paradiplomasi yang efektif!.
3. Menurut Anda, apakah Indonesia perlu memiliki undang- undang khusus tentang paradiplomasi? Jelaskan alasan dan konsekuensinya!.
Outline
A. Regulasi internasional terkait paradiplomasi
B. Kebijakan nasional yang mengatur kerja sama luar negeri oleh daerah
C. Kewenangan pemerintah daerah dalam diplomasi internasional D. Hambatan regulasi dalam pelaksanaan paradiplomasi
E. Upaya penguatan regulasi paradiplomasi di Indonesia
Quote’s
"Diplomasi bukan tentang kekuatan senjata, melainkan tentang kekuatan dialog." – Mahatma Gandhi
"Di era globalisasi, daerah tak lagi sekadar penonton, tetapi juga pemain dalam politik luar negeri." – Adaptasi dari teori paradiplomasi
modern.
A. Regulasi internasional terkait paradiplomasi
Pengakuan Hukum Internasional bagi Pemerintah Daerah
• Aktor subnasional (provinsi, kota, kabupaten) tidak diakui sebagai subjek hukum internasional.
• Konvensi Wina 1969 hanya menyebut negara sebagai pihak sah dalam perjanjian internasional.
• Sister City Agreements adalah bentuk umum kerja sama daerah,
namun biasanya tidak membawa konsekuensi politik/hukum formal.
• Peran subnasional dibuka secara informal oleh organisasi
internasional seperti PBB, khususnya dalam isu-isu global (iklim, pendidikan, lingkungan).
• Era globalisasi menantang batas-batas negara
dalam diplomasi.Aktor lokal mulai terlibat dalam isu-isu transnasional: perubahan iklim,
pendidikan, kesehatan.
• Agenda 2030 (SDGs) mendorong keterlibatan semua pemangku kepentingan, termasuk
pemerintah daerah.
• Subnasional kini terlibat dalam pelaporan indikator SDGs lokal dan kemitraan global.
Norma Baru dalam Diplomasi Global
Dukungan Lembaga Global untuk Paradiplomasi Daerah
• C40 Cities Climate Leadership Group: Koalisi kota besar global untuk aksi iklim. Jakarta adalah anggota aktif.
• ICLEI – Local Governments for Sustainability: Mendukung kota untuk pembangunan berkelanjutan.
• Jaringan ini menyediakan platform dialog, pendanaan, dan kebijakan bersama untuk daerah.
• Contoh Praktik:
• Jakarta di C40: inisiatif pengurangan emisi dan transportasi berkelanjutan.
• Surabaya: smart city dengan model kerja sama internasional digitalisasi dan pengelolaan sampah.
Keterbatasan Legalitas Internasional
• Prinsip kedaulatan negara → Hanya negara yang berhak mewakili secara legal di forum internasional.
• Kerja sama luar negeri daerah harus selaras dengan kebijakan nasional.
• Daerah tidak boleh menandatangani perjanjian internasional formal secara independen.
• Contoh kasus: Papua dan Aceh perlu izin pusat dalam kerja sama luar negeri karena faktor politis dan keamanan.
• Manfaat: peningkatan diplomasi lokal, promosi budaya.
• Tantangan: legalitas, konflik regulasi, keamanan nasional.
B. Kebijakan Nasional yang Mengatur Kerja Sama
Luar Negeri oleh Daerah
UU No. 37 Tahun 1999 – Hubungan Luar Negeri
• Pasal 1: Diplomasi adalah wewenang eksklusif pemerintah pusat.
• Pasal 12: Daerah dapat menjalin kerja sama luar negeri hanya setelah mendapat persetujuan dari pemerintah pusat.
• Kerja sama ini harus tetap sejalan dengan politik luar negeri nasional.
• UU ini menjadi dasar utama dalam membatasi serta
mengarahkan peran pemerintah daerah dalam hubungan luar negeri. Tanpa persetujuan pusat, seluruh bentuk kerja sama dianggap tidak sah secara hukum.
UU No. 24 Tahun 2000 – Perjanjian Internasional
• Pasal 2: Hanya pemerintah pusat yang dapat menandatangani dan meratifikasi perjanjian internasional.
• Pasal 15: Daerah dapat terlibat dalam pelaksanaan, tetapi bukan sebagai penandatangan.
• Surat Kuasa dari Menlu dibutuhkan jika Pemda terlibat langsung.
• UU ini memperjelas bahwa perjanjian internasional harus melalui jalur pusat. Daerah hanya bisa berpartisipasi dalam implementasi, bukan pembuatan hukum internasional.
UU No. 23 Tahun 2014 – Pemerintahan Daerah
• Pasal 6: Urusan hubungan luar negeri bukan kewenangan daerah.
• Pasal 13: Daerah dapat kerja sama luar negeri dalam sektor tertentu (ekonomi, budaya, pendidikan), dengan izin pusat.
• Sinergi antara pusat–daerah menjadi kunci.
• UU ini menegaskan bahwa meski otonomi daerah luas, urusan luar negeri tetap dikendalikan pusat. Namun, peluang kerja
sama dibuka selama sesuai koridor yang ditetapkan.
Permenlu No. 3 Tahun 2019 – Koordinasi Strategis
• Permenlu ini menegaskan bahwa daerah harus melibatkan Kemlu saat hendak melakukan kerja sama luar negeri.
• Syarat utama:
• Mitra luar negeri harus memiliki hubungan diplomatik resmi dengan RI.
• Draft kerja sama dikaji oleh Kemlu (substansi & dampak).
• Kemlu sebagai pintu diplomasi: menjaga konsistensi politik luar negeri nasional.
• Regulasi ini menjaga integritas kebijakan luar negeri nasional.
Daerah tidak bisa bertindak sendiri meski dalam kerja sama yang tampak sederhana, seperti MoU budaya atau pendidikan.
Permendagri No. 25 Tahun 2020 – Panduan Teknis
• Panduan teknis kerja sama luar negeri oleh daerah (KSDLL &
KSDPL).
• Syarat formal:
• Proposal kerja sama harus disetujui oleh kepala daerah.
• Analisis dampak terhadap kebijakan nasional.
• Konsultasi wajib dengan Kemlu dan Kemendagri.
• Monitoring dan evaluasi oleh pusat.
• Permendagri ini menjadi pedoman praktis yang menjembatani daerah dengan pusat dalam menyusun dan mengelola kerja sama luar negeri yang aman secara hukum.
C. Kewenangan Pemerintah Daerah
Jenis Kerja Sama yang Diizinkan
1. Pemda mengajukan rencana kerja sama ke Gubernur/Walikota.
2. Dikirim ke Kemendagri dan Kemlu.
3. Evaluasi substansi & dampak oleh Kemlu.
4. Persetujuan resmi diberikan oleh pemerintah pusat.
5. Pelaksanaan & pelaporan evaluatif berkala.
• Paradiplomasi di Indonesia bersifat administratif dan sangat terstruktur. Hal ini menjaga agar setiap kerja sama tetap dalam kontrol negara secara menyeluruh.
Alur Resmi Kerja Sama Internasional Daerah
Bidang Kerja Sama yang Diizinkan
• Ekonomi ➤ Promosi investasi daerah, perdagangan UMKM, pengembangan kawasan industri.
• Budaya ➤ Festival budaya internasional, promosi kesenian daerah.
• Pendidikan ➤ Pertukaran pelajar, kerja sama universitas, riset bersama.
• Kesehatan dan Lingkungan ➤ Program sanitasi, pengelolaan limbah, energi terbarukan.
• Paradiplomasi memberi ruang inovasi lokal. Daerah dapat tampil sebagai pusat pertumbuhan dan kebudayaan global melalui kerja sama lintas batas yang spesifik dan berdampak.
Pembatasan Kewenangan Diplomasi Formal Daerah
• Daerah dilarang:
Menandatangani traktat/perjanjian internasional Mendirikan kantor diplomatik
Melakukan negosiasi politik luar negeri secara mandiri
• Semua bentuk kerja sama harus berbasis MoU atau
"arrangement" informal.
• Tindakan yang melebihi kewenangan bisa dibatalkan pusat.
• Batasan ini menjaga kedaulatan dan posisi Indonesia dalam sistem internasional. Pemda wajib berhati-hati agar tidak
menabrak batas konstitusional.
Kewenangan Khusus untuk Wilayah Khusus
• Aceh:
➤ UU No. 11 Tahun 2006 memungkinkan peran lebih besar dalam promosi budaya dan pendidikan ke luar negeri.
➤ Dapat membuka kantor perwakilan untuk urusan sosial-budaya (dengan izin pusat).
• Papua:
➤ Karena isu sensitif, semua kerja sama internasional harus dalam pengawasan ekstra ketat.
➤ Potensi kerja sama lebih dibatasi dibanding wilayah lain.
• Kewenangan asimetris mencerminkan kebutuhan lokal yang unik.
Namun, tetap dalam koridor integritas nasional dan kedaulatan negara.
D. Hambatan Regulasi dalam
Pelaksanaan Paradiplomasi di Indonesia
Tumpang Tindih Regulasi
• Banyak regulasi pusat dan daerah yang tidak sinkron, contoh:
➤ UU Hubungan Luar Negeri vs UU Pemerintahan Daerah.
• Paradiplomasi sering terhambat karena daerah bingung: mengikuti aturan siapa?
• Akibatnya: kerja sama tertunda, dibatalkan, atau tidak mendapat izin.
• Tanpa regulasi yang harmonis, daerah sulit bergerak. Mereka cenderung menunda atau menghindari kerja sama luar negeri karena takut
bertabrakan dengan hukum nasional.
Koordinasi Lintas Kementerian yang Lemah
• Kemlu, Kemendagri, dan Kementerian Teknis sering tidak sinkron dalam menilai proposal kerja sama luar negeri daerah.
• Akibat:
➤ Lamanya waktu proses persetujuan
➤ Kebingungan teknis di daerah
➤ Tidak ada one-gate policy
• Paradiplomasi memerlukan koordinasi yang solid antar instansi pusat.
Kalau antar kementerian saja tidak sepakat, daerah makin bingung harus mengikuti yang mana.
Prosedur yang Tidak Konsisten dan Tidak Tertulis
• Tidak ada SOP nasional baku untuk pengajuan, penilaian, dan evaluasi kerja sama daerah dengan luar negeri.
• Setiap instansi kadang mempunyai standar sendiri.
• Akibat:
➤ Paradiplomasi terhambat karena takut “salah langkah”.
• Ketidakpastian membuat pejabat daerah ragu. Paradiplomasi butuh kejelasan prosedural agar pemerintah daerah yakin
bahwa langkah mereka sah dan dilindungi hukum.
Minimnya SDM dan Kapasitas Daerah
• SDM daerah belum siap menghadapi diplomasi internasional.
➤ Minim pelatihan diplomasi
➤ Tidak memahami hukum internasional
• Banyak kerja sama dibuat asal-asalan, tidak berdampak signifikan.
• Akibat:
➤ Kerja sama gagal implementasi
➤ Tidak ada tindak lanjut
• Kapasitas manusia adalah fondasi. Tanpa SDM yang paham diplomasi, kerja sama luar negeri hanya jadi simbolik tanpa nilai strategis.
Isu Separatisme: Kekhawatiran Politik atas Paradiplomasi
• Pemerintah pusat khawatir bahwa kerja sama luar negeri bisa dimanfaatkan oleh gerakan separatis.
• Contoh:
➤ Papua diawasi sangat ketat.
➤ Aceh diawasi untuk isu tertentu seperti HAM atau agama.
• Akibat:
➤ Kerja sama ditolak meski temanya non-politik.
• Isu keamanan dan integritas negara sangat sensitif. Paradiplomasi
dianggap bisa menjadi celah politik jika tidak dikendalikan secara ketat.
E. Upaya Penguatan Regulasi
Paradiplomasi di Indonesia
• Tujuan Blueprint:
• Menyelaraskan regulasi pusat dan daerah.
• Menentukan mekanisme persetujuan kerja sama yang jelas.
• Menjamin akuntabilitas dalam setiap kerja sama internasional oleh daerah.
• Komponen Utama:
• Standarisasi prosedur kerja sama luar negeri daerah.
• Sistem informasi terintegrasi.
• Peran pengawasan multi-level (daerah, pusat, DPR).
• Blueprint akan menjadi panduan nasional agar setiap daerah tahu
“jalur legal” yang bisa digunakan untuk bekerja sama dengan aktor luar negeri tanpa melanggar konstitusi.
Perlu Blueprint Nasional untuk Regulasi Paradiplomasi
• Tantangan:
• Banyak pejabat daerah belum paham hukum diplomasi & prosedur internasional.
• Solusi:
• Pelatihan diplomasi internasional untuk pejabat daerah.
• Rekrutmen ASN muda dengan latar belakang HI, hukum internasional, atau hubungan antarbudaya.
• Kolaborasi pelatihan dengan Kemlu, kampus, dan lembaga internasional.
• Paradiplomasi yang kuat butuh SDM yang memahami tata aturan internasional, bukan hanya semangat kerja sama. Kapasitas aparatur sangat menentukan keberhasilan di lapangan.
Penguatan Kapasitas SDM Daerah
• Solusi Teknologi:
• Platform daring (dashboard nasional) untuk permohonan dan pelacakan kerja sama luar negeri daerah.
• Fungsi Platform:
• Pengajuan proposal.
• Verifikasi oleh pusat.
• Monitoring dan evaluasi real-time.
• Manfaat:
• Transparansi, efisiensi waktu, dan keterlacakan kerja sama daerah secara nasional.
• Transformasi digital bisa menjadi jalan keluar dari prosedur birokratis yang rumit. Dengan sistem satu pintu digital, kerja sama daerah menjadi lebih tertib dan efisien.
Digitalisasi & Platform Nasional Kerja Sama
• Masalah Saat Ini:
• Regulasi pusat dan daerah sering tumpang tindih atau multitafsir.
• Solusi:
• Forum koordinasi reguler antara Kemlu, Kemendagri, Bappenas, dan pemda.
• SOP bersama untuk seluruh kerja sama internasional daerah.
• Revisi regulasi agar sinkron dan progresif.
• Paradiplomasi tidak akan maju jika pusat dan daerah tidak duduk bersama. Forum dan SOP kolaboratif bisa menjadi solusi konkret untuk mempercepat sinkronisasi regulasi.
Harmonisasi Kebijakan Pusat–Daerah
• Isu yang Relevan untuk Daerah:
• Perubahan iklim, teknologi, pariwisata, kebudayaan, ekonomi kreatif.
• Langkah Strategis:
• Mendukung keanggotaan kota/daerah dalam jaringan global (C40, ICLEI, UCLG).
• Menjadikan pemimpin daerah sebagai “wakil diplomasi tematik”.
• Hasil yang Diharapkan:
• Branding daerah di kancah global.
• Akses jejaring dan dana internasional.
• Paradiplomasi adalah kesempatan emas untuk mempromosikan potensi lokal. Saat pusat membuka ruang, daerah dapat menjadi representasi Indonesia dalam isu global.
Perluasan Ruang Partisipasi Daerah di Forum Global
Kesimpulan
• Paradiplomasi belum memiliki pengakuan formal dalam hukum internasional karena subjek hukum internasional terbatas pada negara. Namun, perkembangan norma
global dan dukungan dari organisasi internasional telah membuka ruang partisipasi informal bagi pemerintah daerah, terutama dalam isu-isu seperti lingkungan, budaya, dan pembangunan berkelanjutan. Meski begitu, keterbatasan legal dan prinsip
kedaulatan negara tetap menjadi kendala utama yang harus diperhatikan.
• Regulasi nasional Indonesia secara tegas mengatur bahwa hubungan luar negeri
adalah kewenangan pemerintah pusat. Melalui UU No. 37/1999, UU No. 24/2000, dan UU No. 23/2014, kerja sama luar negeri daerah hanya diperbolehkan jika
disetujui pusat dan bersifat non-politik. Permendagri dan Permenlu hadir sebagai panduan teknis, namun proses birokratis dan kurangnya harmonisasi masih menjadi hambatan tersendiri.
• Pemerintah daerah memiliki ruang terbatas dalam kerja sama internasional, hanya pada bidang-bidang teknis seperti ekonomi, budaya, pendidikan, dan lingkungan.
Daerah dilarang melakukan diplomasi formal dan tidak boleh membuat perjanjian internasional. Namun, dalam praktiknya, beberapa daerah dengan status khusus seperti Aceh dan Papua memiliki kewenangan asimetris yang memungkinkan
fleksibilitas tertentu dalam kerja sama luar negeri—tentu tetap dalam pengawasan pusat.
• Paradiplomasi di Indonesia masih terhambat oleh tumpang tindih regulasi, koordinasi antar-kementerian yang lemah, prosedur yang tidak pasti, serta keterbatasan SDM daerah. Selain itu, kekhawatiran pusat terhadap potensi separatisme menyebabkan pembatasan kerja sama luar negeri di daerah tertentu. Semua ini menunjukkan bahwa meskipun semangat kerja sama ada, sistem pendukungnya masih perlu dibenahi.
• Untuk memperkuat paradiplomasi, Indonesia perlu menyusun blueprint nasional yang memuat regulasi yang selaras antara pusat dan daerah. Penguatan SDM,
digitalisasi proses, harmonisasi kebijakan lintas lembaga, serta pelibatan aktif daerah dalam forum global adalah langkah-langkah kunci menuju praktik paradiplomasi yang aman, efektif, dan relevan dengan kepentingan nasional.
Daftar Referensi
Undang-Undang Republik Indonesia
• Undang-Undang No. 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri.
• Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional.
• Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
• Undang-Undang No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.
Peraturan Menteri
• Permendagri No. 25 Tahun 2020 tentang Kerja Sama Daerah dengan Luar Negeri.
• Permenlu No. 3 Tahun 2019 tentang Tata Cara Koordinasi Kerja Sama Luar Negeri oleh Pemerintah Daerah.
Konvensi Internasional
• Vienna Convention on the Law of Treaties (1969).
• Agenda 2030 for Sustainable Development, United Nations.
Literatur Pendukung
• Nye, Joseph S. Jr. (1990). Bound to Lead: The Changing Nature of American Power. Basic Books.
• Berridge, G. R. (1995). Diplomacy: Theory and Practice. Prentice Hall.
• Diamond, Louise & McDonald, John W. (1996). Multi-Track Diplomacy: A Systems Approach to Peace. Kumarian Press.
Situs Resmi Organisasi Internasional
• C40 Cities: https://www.c40.org
• ICLEI – Local Governments for Sustainability: https://iclei.org
• UCLG – United Cities and Local Governments: https://www.uclg.org
Tugas Mandiri V
1. Jelaskan dua contoh kota atau provinsi di Indonesia yang aktif dalam menjalin kerja sama internasional serta bentuk kerja
sama yang mereka lakukan.
2. Mengapa Jakarta dianggap sebagai contoh kota yang berhasil dalam praktik paradiplomasi?
3. Apa kelebihan pendekatan “Sister City Agreement” dalam kerja sama luar negeri oleh pemerintah daerah?
Topik 1 Kota dan Provinsi yang Aktif dalam Paradiplomasi
4. Menurut Anda, sejauh mana peran kepemimpinan kepala daerah memengaruhi keberhasilan paradiplomasi?
5. Jelaskan bagaimana kapasitas sumber daya manusia (SDM) memengaruhi kualitas kerja sama internasional daerah.
6. Sebutkan dan jelaskan satu contoh keberhasilan paradiplomasi yang didukung oleh jejaring internasional.
Topik 2 Faktor Keberhasilan Daerah dalam Menjalin Kerja Sama Internasional
7. Jelaskan mengapa tumpang tindih regulasi nasional menjadi hambatan serius dalam pelaksanaan paradiplomasi.
8. Apa dampak minimnya pemahaman tentang hukum internasional di kalangan aparatur daerah terhadap pelaksanaan kerja sama luar negeri?
9. Mengapa isu separatisme sering menjadi faktor yang membuat pusat membatasi ruang paradiplomasi di daerah-daerah
tertentu?
Topik 3 Tantangan yang Dihadapi Daerah dalam Paradiplomasi
10. Menurut Anda, apakah kebijakan yang ada saat ini sudah cukup mendukung inisiatif paradiplomasi daerah? Jelaskan pendapat Anda.
11. Evaluasilah efektivitas Permendagri No. 25 Tahun 2020 dalam mengatur proses kerja sama luar negeri oleh daerah.
12. Menurut Anda, apa saja kelemahan yang masih terdapat
dalam UU No. 24 Tahun 2000 jika dikaitkan dengan praktik paradiplomasi oleh pemerintah daerah?
Topik 4 Evaluasi Kebijakan Paradiplomasi Daerah
13. Jelaskan bagaimana peran Kementerian Luar Negeri dalam
mendampingi pemerintah daerah menjalin kerja sama luar negeri.
14. Apa saja bentuk sinergi yang ideal antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam konteks diplomasi internasional?
15. Menurut Anda, bagaimana sebaiknya pemerintah pusat merancang mekanisme pendampingan agar daerah dapat berperan aktif secara global tanpa melanggar prinsip kedaulatan?
Topik 5 Peran Pemerintah Pusat dalam Mendukung Paradiplomasi Daerah
Panduan
1. Jawaban harus jelas sumbernya (gunakan referensi yang telah disiapkan atau referensi kredibel lainnya) 2. Jawaban setiap soal harus dijawab minimal 250 kata 3. Jawaban di ketik di MS. Word dan di kumpul dalam
bentuk file pdf melalui link : https://bit.ly/TMgeo 4. Batas pengumpulan, sehari sebelum perkuliahan