PEMBELAJARAN PENULISAN STORYTELLING UNTUK MEMPERTEBAL IKATAN EMOSI CALON PELANGGAN PADA SUATU PRODUK YANG BERAKIBAT PADA MENINGKATNYA
KONVERSI PENJUALAN PADA PEMASARAN ONLINE
Yudhistiro Pandu Widhoyoko [email protected]
Pendidikan Teknologi Informasi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UNISRI Surakarta, Indonesia
An Abstract
Social media menghubungkan berbagai orang di seluruh pelosok dunia tanpa ada batasan. Pertumbuhan ini secara langsung menstimulasi trend budaya menulis bagi penggunanya. Salah satu manfaat yang didapat dari perkembangan menulis berkat adanya social media bagi dunia pemasaran suatu produk baik berupa barang maupun jasa adalah penulisan cerita atau storytelling. Model pemasaran menggunakan model storytelling sangatlah kuat dan efektif hasilnya. Bahkan model pemasaran menggunakan storytelling ini menjadi prioritas atau strategi utama dalam memasarkan suatu produk baik berupa barang maupun jasa. Salah satu kekuatan storytelling adalah dengan cara mempertebal keterlibatan emosi calon pelanggan terhadap suatu produk yang ditawarkan. Sehingga, merupakan keharusan bagi pemasar dewasa ini untuk menguasai kemampuan storytelling dengan baik sehingga produk yang mereka tawarkan dapat menghasilkan konversi penjualan yang baik.
Kata Kunci: Storytelling, menulis cerita, keterlibatan emosi calon pelanggan, media online, pemasaran online
A. Pendahuluan
Kegiatan menulis bagi mahasiswa memang tidak bisa dilepaskan bahkan erat kaitannya. Bagaimana tidak, setiap tugas dari semua mata kuliah melibatkan kegiatan penulisan. Belum lagi ketika semua teori sudah diselesaikan, maka datanglah skripsi yang tentu saja full dengan tulisan. Untuk itu kemampuan menulis menjadi syarat wajib magi mahasiswa untuk harus dimiliki.
Kegiatan menulis dewasa ini, sangatlah terbantu denagn adanya media online. Media ini beraneka rupa. Ada yang menghubungkan para penggunanya secara searah maupun dua arah. Pada kedua bentuk media tersebut, salah satu tampilan yang sering ada adalah dalam bentuk tulisan atau artikel. Memang tidak ditentukan ukuran panjang dan pendeknya, akan tetapi tulisan tersebut berfungsi sebagai penerang ata u penjelas sesuatu. Apalagi jika display dalam media online tersebut berupa gambar, maka tulisan menjadi sangatlah penting untuk memberikan keterangan.
Apalagi, dengan semakin berkembanganya feature-feature dalam media online yang sangat mempermudah terjadinya komunikasi dua arah dengan sangat
cepat. Hal ini mengundang kreativitas penggunanya untuk tidak hanya menggunakan sebagai ajang komunikasi ataupun reunion, akan tetapi salah satunya adalah untuk menjual produk mereka. Karena sekarang media online memungkinkan adanya komunikasi secara langsung dua arah. Hal ini sangat menunjang kecepatan interaksi antara pembeli dan penjual. Asalkan displaynya menarik, boleh jadi kemungkinan untuk dibeli akan semakin tinggi.
Informasi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Slamet Riyadi, Surakarta.
Penelitian ini tidak hanya berupaya untuk meningkatkan jumlah konversi penjualan produk akan tetapi juga terdapat upaya-upaya untuk peningkatan yang lain karena penelitian ini adalah penelitian Tindakan Kelas. Untuk itu, untuk membatasi ruang lingkup pada penelitian ini, terdapat tiga formulasi permasalahan. Yang pertama; 1) 1) bisakah storytelling ini meningkatkan kemampuan menulis mahasiswa pada kontek pemasaran sebuah produk? 2) Benarkah storytelling dapat meningkatkan jumlah konversi penjualan suatu produk menggunakan media social online? 3) Bagaimana respon para mahasiswa yang berakibat pada suasana pembelajaran terhadap metode story telling ini dalam mata kuliah kewirausahaan.
B. Rasional
Peneliti sudah menyebutkan bahwa para mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Slamet Riyadi pada mata kuliah kewirausahaan mempunyai permasalahan dalam penulisan article untuk promosi produk di media online. Kemampuan mereka
dalam hal menulis rendah. Hal ini dapat diketahui dari sedikitnya jumlah mahasiswa pada mata kuliah ini yang tidak asing dengan metode story telling untuk promosi produk. Kondisi dan situasi kelas begitu pasif. Beberapa mahasiswa dalam kelas tersebut terllihat tidak antusias dalam mengikuti proses belajar mengajar.
untuk meningkatkan konversi penjualan. Peneliti juga berharap agar kemampuan menulis artikel promosi produk, pemilihan sudut pandang yang dianggap dapat meningkatkan ikatan emosional caon pembeli juga dapa terlatih dalam diri mahasiswa yang kemudian, dapat berakibat pada peningkatan partisipasi keaktifan mahasiswa di dalam kelas pada mata kuliah kewirausahaan. Sehingga dengan menggunakan metode ini, para mahasiswa akan mengalami pengalaman, situasi dan kondisi layaknya seperti yang dimaui oleh pengajar atau dosen mata kuliah kewirausahaan.
C. Metode Penelitian
Setting penelitian atau lokasi dalam penelitian tindakan kelas ini adalah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Jawa Tengah. Subjek Penelitian yang digunakan adalah mahasiswa yang mengambil mata kuliah kewirausahaan pada Program studi Pendidikan Teknologi Informasi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Slamet Riyadi Surakarta Tahun Akademik 2016/2017. Waktu pelaksanaan tindakan adalah empat kali dimana setiap pertemuannya menggunakan waktu 90 menit. Dalam penelitian tindakan kelas ini peneliti berkolaborasi dengan satu orang
Dosen pada prodi PTI FKIP Unisri sebagai kolaborator dan pengamat.
Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research, CAR) karena permasalahan yang dihadapi dialami oleh guru peneliti, maka solusinya dirancang berdasarkan kajian teori pembelajaran dan input dari lapangan. Menurut Hopkins (1993) dalam Wiriatmadja ( 2005: 11) bahwa Penelitian Tindakan kelas adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan subtantif, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri, atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi, sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan. Berdasarkan tujuan penelitian jelas bahwa penelitian ini tidak menguji hipotesis secara kuantitatif, akan tetapi mendekripsikan dan menginterpretasikan data, fakta dan keadaan yang ada, serta melakukan analisis tentang proses pembelajaran. Penelitian tindakan memiliki serangkaian langkah yang membentuk spiral. Setiap langkah memiliki empat tahap yaitu perencanaan (planning), tindakan
( acting), pengamatan (observing), dan refleksi ( reflecting) ( Niff, 1992: 32).
pengamatan, wawancara atau diskusi, kajian dokumen dan tes.
1. Pengamatan.
Pengamatan yang peneliti lakukan adalah pengamatan secara pasif. Pengamatan ini dilakukan terhadap dosen mata kuliah kewirausahaan sebelumnya ketika melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas maupun kinerja siswa selama proses belajar mengajar berlangsung. Pengamatan dilakukan oleh peneliti dengan mengambil tempat duduk paling belakang. Dalam posisi itu peneliti dapat secara lebih leluasa melakukan pengamatan terhadap aktivitas belajar mengajar siswa di kelas.
Pengamatan terhadap guru didapat pada kegiatan guru dalam menjelaskan pelajaran, memotivasi siswa, mengajukan pertanyaan dan menanggapi jawaban siswa, mengelola kelas, memberikan latihan dan umpan balik, dan melakukan penilaian terhadap hasil belajar siswa. Sementara itu, pengamatan terhadap siswa difokuskan pada tingkat partisipasi siswa dalam mengikuti pelajaran seperti terlihat pada keaktifan
bertanya dan menanggapi stimuli baik yang datang dari guru maupun teman lain, keaktifan siswa dalam mangerjakan tugas dan sebagainya.
2. Wawancara atau diskusi. Wawancara atau diskusi dilakukan setelah dan atas dasar hasil dan pengamatan di kelas maupun kajian dokumen. Wawancara atau diskusi dilakukan oleh peneliti dan guru. Wawancara atau diskusi dengan guru dilaksanakan setelah melakukan pengamatan pertama terhadap proses belajar mengajar (PBM) dimaksudkan untuk memperoleh informasi tentang berbagai hal yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran bahasa inggris
3. Kajian dokumen.
Kajian juga dilakukan terhadap berbagai dokumen atau arsip yang ada seperti kurikulum, rencana pembelajaran yang dibuat guru, buku atau materi pelajaran.
4. Tes
setelah kegiatan pemberian tindakan. Tes kemampuan awal diberikan pada awal kegiatan penelitian untuk mengidentifikasi
kakurangan atau kelemahan siswa dan setiap akhir siklus untuk mengetahui peningkatan mutu hasil belajar siswa. Dengan perkataan lain tes disusun dan dilakukan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa sesuai dengan siklus yang ada. Teknik Analisis Data
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hal ini dilakukan karena sebagian besar data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah berupa uraian deskriptif tentang perkembangan proses pembelajaran, yakni peningkatan kemampuan membaca, pengalaman dan permasalahan yang dihadapi guru dan siswa, strategi pembelajaran yang diberikan guru, sikap dan motivasi guru setelah kegiatan riset aksi dan sebagainya.
Teknik analisis ini mengacu pada model analisis Miles dan Huberman, yang dilakukan dalam tiga komponen, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Reduksi data meliputi penyeleksian data melalui ringkasan atau uraian singkat dan penggolongan data ke dalam pola yang lebih luas. penyusunan
informasi secara sistematik dari hasil reduksi data dimulai dari perencanaan, pelaksanaan tindakan observasi dan refleksi pada masing-masing siklus. Penarikan simpulan merupakan upaya pencarian makna data, mencatat keteraturan dan penggolongan data. Data terkumpul disajikan secara sistematis dan perlu diberi makna.
Pemeriksaan Validitas Data
Suatu informasi yang akan dijadikan data penelitian perlu diperiksa validitasnya sehingga data
tersebut dapat
hasil tindakan, observasi selama PBM berlangsung.
D. Hasil Penelitian dan Diskusi
1. Hasil PenelitianPeneliti menemukan beberapa hasil penelitian untuk menjawab beberapa pertanyaan pada penelitian ini. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah: 1) bisakah storytelling ini meningkatkan kemampuan menulis mahasiswa pada kontek pemasaran sebuah produk? 2) Benarkah storytelling dapat meningkatkan jumlah konversi penjualan suatu produk menggunakan media social online? 3) Bagaimana respon para mahasiswa yang berakibat pada suasana pembelajaran terhadap metode story telling ini
dalam mata kuliah
kewirausahaan.
Faktanya, kompetensi menulis para mahasiswa
menggunakan metode
storytelling ini meningkat. Metode ini mampu menolong para mahasiswa untuk menulis sebuah article berupa promosi sebuah produk di media online dengan baik. Hasil ini juga dapat terlihat dari hasil dari pre-test dan post-test yang dilaksanakan di tiap siklus. Skor rata-rata di pre-test adalah 59, skor rata-rata pada siklus pertama adalah 63 dan skor rata-rata siklus ke dua adalah 71.
Dari data tersebut dapat dilihat bahwa terdapat peningkatan dari siklus ke siklus.
Selain itu, menggunakan media ini, selain juga untuk belajar menulis, juga untuk dapat meningkatkan konversi penjualan di media online dan juga meningkatkan tingkat keaktivan para mahasiswa di kelas. Atau dengan kata lain, para mahasiswa menjadi aktif dan bergairah dalam mengikuti kelas atau matakuliah kewirausahaan. 2. Diskusi
Penelitian dengan menggunakan metode belajar menulis story telling ini menghasilkan beberapa peningkatan tidak hanya dalam hal peningkatan kemampuan menulis para mahasiswa, tetapi juga meningkatkan jumlah konversi penjualan produk di media online. Para mahasiswa terlatih untuk memikirkan dan memilih dari beberpa sudut pandang yang bisa dipakai pada pemasaran suatu prroduk
menggunakan metode
Peningkatan kemampuan menulis
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan storytelling menghasilkan hasil yang memuaskan pada peningkatan kemampuan menulis story telling. Karena para mahasiwa terlatih untuk merasakan kemudian memilih dari sudut pandang mana storytelling mereka ditulis dan juga berakibat peningkatan konversi penjualan di media online. Hal ini karena pemilihan angel terbaik dalam suatu produk dapat melibatkan emosi calon pembeli untuk membeli.
Peningkatan Situasi Kelas Keaktifan dan Partisipasi Mahasiswa
Pembelajaran penulisan storytelling pada penelitian ini juga meningkatkan situasi dan kondisi kelas yang lebih baik pada mata kuliah kewirausahaan. Metode ini dirasakan oleh para mahasiswa lebih menarik dan lebih atraktive sehingga meingkatkan gairah dalam proses belajar mengajar. Para mahasiswa secara mandiri atau individual menjadi tertuntut lebih aktif dalam hal mempersiapkan materi atau angel suatu produk, mengeksekusi storytelling dari suatu produk dan aktif untuk menunggu dan mendapatkan interaksi dari customer.
E.
Kesimpulan
B e r d a s a r d a r i p e n e l i t i a n
P e m b e l a j a r a n
i s a n
S t o r y t e l l i n g
U n t u k
M e m p e r t e b a l I k a t a n
E m o s i C a l o n
P e l a n g g a n
P a d a S u a t u
P r o d u k
n g
B e r a k i b a t P a d a M e n i n g k a t n y a K o n v e r s i P e n j u
a l a n
P a d a P e m a s a r a n
i n i , P e n e l i t i d a p a t m e n y i m p u l k a n
b e b e r a p a h a
i n i j u g a d a p a t m e m p e r l i h a t k a n
p e n i n g k a t a n
k
e m a m p u a n
m e n u l i s m a h a s i s w a d a n
k o n v e r s i p e n j u a l a n
d i m e d i a o n l i n e .
Karena penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, maka situasi kelas juga tidak luput dari perhaitan peneliti. Dari penelitian ini, situasi kelas menjadi hidup dan bervariasi. Setiap mahasiswa menunjukkan tingkat partisipasi yang tinggi. Hal ini dikarenakan
penggunaan storytelling dalam pemasaran suatu produk yang ditawarkan dapat menggugah rasa penasaran mereka atas interaksi atau respon yang didapat dari pasar.
1. Implikasi
2. Rekomendasi
Peneliti menyarankan agar pembelajaran penulisan story telling dalam pemasaran online ini mulai dilaksanakan di kelas-kelas kewirausahaan atau kelas-kelas entreupreuneurships pada tingkat perguruan tinggi. Karena hal ini ternyata efektif dalam hal melibatkan emosi para calon pembeli sehingga meningkatkan konversi penjualan dalam penjualan berbasis online. Diharapkan ke depan dapat tercetak para wirausahawan handal yang dapat berguna bagi bangsa dan Negara dengan cara membuka banyak lapangan pekerjaan bagi yang membutuhkan.
F. Daftar Pustaka
Akgun. A. E., Keskin. H., Ayar. H., Erdogan. Ebru., (2015). The Influence of Storytelling Approach in Travel Writings on Readers’ Emphaty and Travel Intentions. Social and Behavioral Science Journal. Volume 207. Pages 577-586 Bad
a n
S t a n d a r
N a s i o n a l
P e n d i d i k a n .
2 0 0 6 .
S t a n d a r
I s i
u r i k u l u m
T i n g k a t
S a t u a n
P e n d i d i k a n .
J a k a r
t a :
D e p a r t e m e n
P e n d i d i k a n
N a s i o n a l . Duf
f y ,
e v e r ,
M c D o n a l d ,
J e a n
B ,
M i z z e l ,
A l
P .
2 0 0
3 .
T e a c h i n g
a n d
L e a r n i n g
w i t h
N e w
Y o r k :
P e a r s o n
E d u c a t i o n ,
I n c . Fen
g e r .
M
.
H .
J . ,
A s c h e m a n n -W i t z e l .
J . ,
H a n s e n .
,
G r u n e r t .
K .
G .
( 2 0 1 5 ) .
D e l i c i o u s
W o r d s
–
A s s e s i n g
T h e
I m p a c t
o f
S h o r t
n g
M e s s a g e s
o n
C o n s u m e r
P r e f e r e n c e s
f o r
V
a r i a t i o n s
o f
A
N e w
P r o c e s s e d
M e a t
.
F o o d
Q u a l i t y
a n d
P r e f e r e n c e
J o u r n a l s .
V
o l u m e
4 1 .
P a g e s
2 3 7 -2 4 4 Gill
i a m .
D .
A . ,
r t y .
K .
E . ,
( 2 0 1 5 )
S t o r y t e l l i n g
b y
t h e
S a
l e s
F o r c e
a n d
I t s
E f f e c t
o n
E x c h a n g e .
I n d u s t r i a l
M a r k e t i n g
M a n a g e m e n t
J o u r n a l s .
V o l u m e
4 6 .
P
1 3 2 -1 4 2 Guld
e n .
T . ,
2 0 1 5 ) .
A
S y s t e m
A n a l y s i s
o f
T r a n s m e d i a
S t
o r y t e l l i n g
T o y s
i n
R e l a t i o n
t o
D e s i r e
P l e a s u r e .
P r o c e d i a
M a n u f a c t u r i n g
J o u r n a l
s .
V o l u m e
3 .
P a g e s
2 0 7 1 -2 0 7 8 Lun
d .
N . F . ,
e n .
S . A . ,
S c a r l e s .
C . ,
( 2 0 1 7 )
T h e
p o w e r
o
f
S o c i a l
M e d i a
S t o r y t e l l i n g
i n
n
B r a n d i n g .
J o u r n a l s
o f
D e s t i n a t i o n
M a r k e
t i n g
&
M a n a g e m e n t .
Mil e s ,
M a t t h e w
B
d a n
b e r m a n ,
A
M i c h a e l .
1 9 9 2 .
A n a l i s i s
D a t a
K u
a l i t a t i f
.
J a k a r t a .
U n i v e r s i t a s
P r e s s
Moleong, Lexy J. 1995.
Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Ne w b y ,
J .
T i m o t h y ,
S t e p i c ,
D o n a l
d
A ,
L e h m a n ,
J a m e s
D ,
R u s s e l ,
J a m e s
D .
0 9 .
I n s t r u c t i o n
T e c h n o l o g y
f o r
T e a c h i n g
a
n d
L e a r n i n g .
N e w
J e r s e y :
P r e n t i c e
Port o .
M .
D . ,
B e l m o n t e
I .
A . ,
( 2 0 1 4 ) .
F r o m
L
o c a l
t o
G l o b a l :
V i s u a l
S t r a t e g i e s
o f
a l i z a t i o n
i n
D i g i t a l
S t o r y t e l l i n g .
L a n g u a
g e
a n d
C o m m u n i c a t i o n
J o u r n a l s .
V o l u m e
P a g e s
1 4 -2 3
Skerritt, Ortrum Zuber.1996. New Direction in Action Research. Falmer Press Tuckman, Bruce W, 1978.
Conducting Educational Research. New York: Harcour Brace Jovanovich, Inc.
Wiriatmaja, Rochiati. 2006.
Metode Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: