• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosedur Pembuatan Pati Sorgum

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Prosedur Pembuatan Pati Sorgum"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PROSIDING SENTRINOV Vol. 001, Tahun 2015 | ISSN: 2477 – 2097 277

MODIFIKASI PATI SORGUM (Sorgum Bicolor L. Moench)

DENGAN METODE HEAT – MOISTURE TREATMENT

SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN BIHUN Kristinah Haryani1 , Hadiyanto2, Mochamad Alpin3, Riang

Anggraini4 & Suryanto5

1,2,3,4,5 Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Jln. Prof. Soedarto, Tembalang, Semarang, 50239, Telp/Fax: (024)7460058

5Jurusan Teknik Mesin, Politeknik Negeri Semarang, Jln. Prof. Soedarto, Tembalang, Semarang, 50239

Abstrak

Pati sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) alami yang mempunyai profil gelatinisasi tipe A (puncak viskositas tinggi yang diikuti oleh pengenceran yang cepat selama pemanasan) kurang sesuai sebagai bahan baku bihun karena adonan yang dihasilkan sangat lengket sehingga antar untaiannya sulit dipisahkan dan cenderung rapuh. Salah satu metode fisik untuk memodifikasi sifat fungsional pati sorgum alami yang dapat digunakan sebagai bahan baku bihun adalah metode Heat-Moisture Treatment (HMT). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pati sorgum termodifikasi HMT dengan karakteristik terbaik yang sesuai untuk diaplikasikan pada pembuatan produk bihun sorgum dengan mengkaji pengaruh penambahan konsentrasi air (%w air), suhu, dan lama waktu pemanasan terhadap viskositas, daya kembang (swelling power), dan solubility. Variabel tetap adalah sorgum merah dan putih dari Wonogiri dan variabel berubah penelitian ini meliputi waktu pemanasan (4 jam, 6 jam, 8 jam, 10 jam, dan 12 jam), konsentrasi air (18%w; 21%w; 24%w; 27%w; 30%w), dan suhu HMT (80°C, 90°C, 100°C, 110°C, 120°C). Variabel yang diamati meliputi kondisi optimum modifikasi tepung sorgum dengan HMT. Kondisi optimum yang ditentukan dari penelitian ini yaitu variabel dengan waktu 10 jam, konsentrasi air 21%w dan suhu HMT 110oC. Kondisi optimum dari modifikasi pati sorgum dengan HMT mendekati profil tepung yang dapat digunakan sebagai bahan baku bihun.

Kata kunci: pati sorgum, Heat Moisture Treatment, karakterisasi pati, bihun Abstract

Natural sorghum (Sorghum bicolor L. Moench) starch gelatinization profile having type A ( high viscosity peak followed by a rapid dilution during heating ) is less suitable as a raw material produced bihon because the batter between the strands so unbelievably sticky and tend to be brittle subtle. One physical methods to modify the functional properties of sorghum starch can be used as natural raw materials is a method bihon Heat - Moisture Treatment (HMT). This study aimed to obtain sorghum starch by Heat Moisture Treatment (HMT) method with the best characteristic for application of making bihon from sorghum with studying the effect of water concentration ( % w water ) , temperature , and length of time of heating on viscosity, swelling power, elasticity (gel structure),and solubility. Fixed variables are red and white sorghum from Wonogiri and changing variables of the study include the time of HMT (4 hr; 6 hr; 8 hr; 10 hr; 12 hr) , the addition of water (18%w; 21%w; 24%w; 27%w; 30%w) , and temperature (°C, 90°C, 100°C, 110°C, 120°C). The observed variable is optimum conditions of HMT modification from sorghum starches. The optimum condition of this study is the time condition at 10 hr, 21% of water concentration and temperature of

110oC . The optimum conditions of sorghum starch HMT modification approach the profile

of flour that can be used as raw material of bihon.

(2)

PROSIDING SENTRINOV Vol. 001, Tahun 2015 | ISSN: 2477 – 2097 278

PENDAHULUAN

Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) merupakan tanaman serealia sumber karbohidrat dari famili Gramineae (rumput-rumputan). Pemanfaatan sorgum di Indonesia masih sangat terbatas. Selama ini sorgum hanya dijadikan sebagai pakan ternak, padahal sorgum memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan di Indonesia. Kandungan nutrisi sorgum tidak kalah bila dibandingkan dengan tanaman serealia lainnya seperti padi, jagung, dan beras. Kandungan nutrisi sorgum dalam 100g bahan yaitu pati (73-80%) setara dengan beras (78-80%), protein (7-12%) lebih tinggi dibandingkan dengan beras (6-10%); lemak (2-6%) lebih tinggi dibandingkan dengan beras (0,5-1,5%); dankandungan serat (2-3%) lebih tinggi dibandingkan dengan beras (1-1,5%). Hal ini membuktikan bahwa sorgum memiliki potensi untuk dijadikan sumber pangan alternatif. Namun diversifikasi dari sorgum masih sangat terbatas karena pola konsumsi pangan pokok masyarakat Indonesia masih mengarah pada beras dan bahan pangan berbasis tepung terigu yang merupakan komoditas impor.

Salah satu cara untuk mengembangkan sorgum adalah dengan mengubahnya menjadi produk yang dapat diterima masyarakat, seperti bihun. Untuk menghasilkan bihun dengan kualitas yang baik diperlukan bahanbaku dengan karakteristik yang sesuai untuk produk bihun. Pati yang ideal untukbahan baku bihun adalah pati yang memiliki ukuran granula kecil (Singh dkk.2002). Pati sorgum terdiri atas 20%-30% amilosa dan 70-80% amilopektin. Ukuran granula pati sorgum cukup besar yaitu sekitar 25-30 µm. Pati sorgum termasuk dalam karakteristik gelatinisasi tipe A yaitu mempunyai viskositas puncak yang tinggi namun akan menurun dengan cepat selama pemanasan dan pengadukan (Purwani, dkk.,2006; Wattanachant, dkk.,2003; Muhammad dkk.,2000). Hal ini mengakibatkan swelling power dan kelarutan pati sorgum tinggi.

Dengan karakteristik tersebut, akan menghasilkan bihun yang mempunyai kekompakan dan elastisitas rendah sehingga mudah patah selama penanganan maupun pemasakan kembali (rehidrasi). Bihun akan mudah mengembang dan menyerap air dalam jumlah besar pada saat dimasak sehingga berat rehidrasi menjadi tinggi. Selain itu, bihun yang dihasilkan cenderung lengket karena molekul amilosa sangat mudah keluar dari granula selama proses gelatinisasi berlangsung.

(3)

PROSIDING SENTRINOV Vol. 001, Tahun 2015 | ISSN: 2477 – 2097 279

dilakukan dengan metode Heat Moisture Treatment (HMT). HMT adalah metode modifikasi pati yang dilakukan secara fisik yaitu dengan melibatkan perlakuan panas dan pengaturan kadar air (Collado, dkk.,2001). Suatu sumber pati dipanaskan di atas suhu gelatinisasi dengan kadar air terbatas agar tidak terjadi gelatinisasi pati tersebut, namun hanya mengalami perubahan konformasi molekul serta perubahan karakteristiknya (Collado dan Corke, 1999., Singh, dkk.,2005 ;). Sehingga dengan metode tersebut diharapkan tepung sorgum dapat digunakan sebagai bahan dasar bihun menggantikan tepung jagung yang selama ini menjadi bahan dasar pembuatan bihun.

BAHAN DAN METODE PENELITIAN Bahan

Bahan yang digunakan adalah biji sorgum terdiri dari 2 jenis yaitu biji sorgum merah dan putih yang diperoleh dari daerah Wonogiri, Jawa Tengah serta aquades yang diperoleh dari Toko Kimia Indrasari, Semarang.

Prosedur

Pembuatan Pati Sorgum

Biji sorgum dicuci untuk memisahkan dari kotoran dan disosoh menggunakan mesin sosoh Satake Grain Testing Mill untuk memisahkan kulit dari biji sorgum. Penyosohan dilakukan pada 100 g biji sorgum selama 1 menit dan dilakukan hanya satu kali sosoh untuk mendapatkan rendemen biji sorgum sosoh maksimum (Marissa, 2012). Tepung sorgum yang didapat diayak dengan menggunakan sieving 100 mesh. Pati sorgum didapatkan dengan cara menambahkan aquades dengan perbandingan 1:2 kemudian disimpan ke dalam kulkas bersuhu 40C dan didiamkan selama 12 jam. Pati yang

diperoleh dikeringkan hingga diperoleh kadar air <14% (Herawati. 2009). Pati sorgum kering disimpan untuk digunakan dalam metode HMT.

Modifikasi Pati Sorgum dengan Metode Heat Moisture Treatment

Pati sorgum kering dianalisis kadar airnya terlebih dahulu. Kemudian sebanyak 10 gram sorgum diatur kadar airnya hingga 27% w (Collado, dkk., 2001) dengan menambahkan aquades. Jumlah aquades ditentukan berdasarkan perhitungan kesetimbangan massa (Ramadhan, 2009). Pati sorgum yang telah diatur kadar air 27% selanjutnya diletakkan ke dalam mangkok ditutup menggunakan aluminium foil. Mangkok berisi pati dipanaskan dalam oven bersuhu 1100C (Collado, dkk., 2001). Waktu

(4)

PROSIDING SENTRINOV Vol. 001, Tahun 2015 | ISSN: 2477 – 2097 280

Setelah didinginkan, pati termodifikasi dikeringkan pada suhu ruang. Selanjutnya pati termodifikasi HMT dianalisis nilai swelling power dan solubility. Nilai swelling power dan solubility yang lebih rendah dibanding nilai swelling power dan solubility sorgum alami dipilih sebagai variabel optimum untuk modifikasi pati selanjutnya sesuai variabel peubah yaitu variabel konsentrasi air (18%w, 21%w, 24%w, 27%w, 30%w) dan variabel suhu (80°C, 90°C, 100°C, 110°C, 120°C).

Analisa Swelling Power

Pati sebanyak 0,1 gr dilarutkan dalam aquadest 10 ml, kemudian larutan dimasukan ke dalam centrifuge tube dan dipanaskan menggunakan beaker glass dengan temperatur 60oC selama 30 menit. Supernatan dipisahkan menggunakan centrifuge dengan kecepatan

2500 rpm selama 15 menit. Swelling power dihitung dengan rumus :

Swelling power = (Leach dkk, 1959)

Analisa Solubility

Pati sebanyak 0,5 gr dilarutkan dalam 10 ml aquadest, kemudian larutan dimasukkan ke dalam centrifuge tube dan dipanaskan dalam beaker glass dengan temperatur 60oC selama 30 menit. Supernatant dipisahkan menggunakan centrifuge

dengan kecepatan 2500 rpm selama 30 menit lalu diambil untuk dikeringkan dalam oven dan dicatat berat endapan keringnya.

% Solubility = x 100% (Kainuma dkk, 1967)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakterisasi Sifat Fisikokimia Pati Sorgum Alami

(5)

PROSIDING SENTRINOV Vol. 001, Tahun 2015 | ISSN: 2477 – 2097 281

Tabel 1

Hasil Analisis Proksimat Sorgum Alami

Dari tabel di atas terbukti bahwa kandungan air, abu, lemak, serat, protein dan karbohidrat yang dimiliki oleh sorgum merah dan putih dari wonogiri rata-rata hampir mendekati kandungan sorgum yang berasal dari China (Chinese National Center for Sorghum Improvement) yaitu pati 72,08%, protein 11,45%, lipid 3,44%, abu 1.10%, serat 1.05% (Qingjie, 2013).

Swelling power merupakan suatu sifat yang mencirikan daya kembang dan sangat menentukan kegunaan dari suatu pati serta dapat menunjukkan ukuran jumlah rantai amilopektin yang terdapat dalam pati tersebut. Sedangkan solubility atau kelarutan adalah kemampuan suatu zat tertentu, zat terlarut (solute), untuk larut dalam suatu pelarut (Philip;dkk, 2008). Solubility merupakan suatu nilai yang berhubungan dengan perubahan ukuran partikel dan jumlah amilosa yang terdapat dalam pati. Swelling power dan solubility merupakan sifat fungsional dari pati ketika terdispersi di dalam air dan berkaitan dengan sifat gelatinisasi pati (Mariotti et al, 2006). Analisa swelling power dan solubility pada sorgum alami dilakukan sebelum melakukan modifikasi pati sorgum dengan metode Heat Moisture Treatment (HMT) sehingga dapat digunakan sebagai pembanding. Pada sorgum merah didapatkan nilai swelling power dan solubility secara berturut-turut yaitu 10,57 g/g; 4,22%. Dan pada sorgum putih didapatkan nilai swelling power sebesar 9.68 g/g dan nilai solubility sebesar 4,6 %. Analisa swelling power dan solubility tersebut dilakukan pada suhu 600C. Nilai swelling power pati sorgum merah

dan putih dari wonogiri tersebut lebih besar bila dibandingkan dengan nilai swelling power pati sorgum dari china yang dianalisa pada suhu 650C yaitu 4,11 g/g. Sedangkan

nilai solubility antara sorgum merah dan putih dari wonogiri dengan sorgum dari china tidak jauh berbeda. Nilai solubility sorgum china yang dianalisa pada suhu 650C yaitu

(6)

PROSIDING SENTRINOV Vol. 001, Tahun 2015 | ISSN: 2477 – 2097 282

Sebagai pembanding pati sorgum sebagai bahan baku bihun, terdapat pati kentang yang berasal dari Filiphina. Penelitian tentang tipe bihun yang berasal dari pati kentang termodifikasi HMT (Bihon-Types Noodles from Heat Moisture Treated Sweet Potato Starch) dilakukan oleh Collado. Pada penelitian tersebut didapatkan nilai swelling power dan solubility pada pati kentang termodifikasi (HMT modified sweet potato) pada suhu 1100C secara berurutan adalah 15,3 g/g dan 10,5% (Collado, 2001).

Tabel 2

Perbandingan Sifat Fisikokimia antara Pati Sorgum dengan Pati Kentang Karakteristik Merah Sorghum Starch Putih Sweet Potato Starch Swelling Power

(g/g) 8.76 4.6 15.3

Solubility (%) 2.8 4.4 10.9

Modifikasi Pati Sorgum

Proses pembuatan pati sorgum HMT dilakukan dengan tiga perlakuan yang berbeda yaitu perlakuan terhadap lama waktu pemanasan yang berbeda, penambahan konsentrasi air yang berbeda, dan suhu pemanasan yang berbeda. Pemilihan kombinasi lama waktu pemanasan berdasarkan pada studi yang dilakukan oleh Collado, dkk. (1999) menunjukkan bahwa modifikasi HMT dapat dilakukan dengan waktu kurang dari 16 jam. Sedangkan pemilihan kadar air modifikasi 27%w berdasarkan studi yang dilakukan oleh Lawal dan Adebowale (2005) tentang modifikasi HMT pati jack bean. Pemilihan suhu modifikasi dilakukan berdasarkan beberapa studi yang dilakukan sebelumnya. Modifikasi HMT pada suhu 1100C dapat menghasilkan pati termodifikasi

dengan profil gelatinisasi tipe C (Collado et al. 1999; Collado et al. 2001; Olayinka et al. 2008). Dan studi yang dilakukan oleh Lorlowhakarn dan Naivikul (2006) menunjukkan bahwa mie yang dibuat dari pati beras termodifikasi HMT dengan suhu 1200C

mempunyai tensile strength yang tinggi.

Variabel-variabel optimum didapat dengan melakukan analisa swelling power dan solubility. Variabel-variabel optimum untuk sorgum merah dan sorgum putih antara lain lama waktu pemanasan 10 jam, kadar air 21 %w, dan suhu pemanasan 1100C. Data

(7)

PROSIDING SENTRINOV Vol. 001, Tahun 2015 | ISSN: 2477 – 2097 283

Tabel 3

Data Swelling Power dan Solubility Pati Sorgum Termodifikasi

Pengaruh Lama Pemanasan terhadap Swelling Power dan Solubility Pati Sorgum Swelling power merupakan perbandingan berat pasta dan berat pati kering. Pasta tersebut adalah amilopektin yang tidak larut dalam air. Semakin panjang rantai molekul amilopektin semakin tinggi sifat swelling power suatu pati (Cozzolino, dkk; 2013). Begitu pula sebaliknya jika kandungan pasta (amilopektin) dalam pati semakin berkurang, maka swelling powernya juga semakin berkurang. Swelling power berkaitan dengan banyaknya air yang terserap ke dalam pati selama pemasakan. Semakin besar swelling power berarti semakin banyak air yang diserap selama pemasakan, hal ini berkaitan pula dengan kandungan amilosa-amilopektin yang terdapat pada pati. Kadar amilosa yang tinggi pada pati dapat mengakibatkan pati dapat menyerap air lebih banyak sehingga pengembangan volume juga semakin besar (Murillo, 2008).

(8)

PROSIDING SENTRINOV Vol. 001, Tahun 2015 | ISSN: 2477 – 2097 284

terutama amilosa. Semakin banyak amilosa yang keluar maka semakin besar solubility. Oleh karena itu, pati dengan kandungan amilosa tinggi, pada umumnya memiliki solubility yang tinggi pula.

Dari tabel 2. dan grafik di atas dapat diketahui bahwa swelling power dan solubility sorgum termodifikasi dengan variabel waktu HMT baik sorgum merah maupun sorgum putih mengalami penurunan dari sorgum alami. Penurunan solubility dan swelling power terjadi karena adanya penataan ulang molekul pati pada saat HMT (Qingjie et al, 2013). Selama HMT, ikatan ganda heliks rantai amilopektin samping terbentuk sehingga mengakibatkan peningkatan kristalinitas, mengurangi sifat hidrasi, dan pembentukan kompleks amilosa-lipid. Semakin lama pemanasan maka semakin

HMT Sorgum Merah HMT Sorgum Putih

Waktu HMT (Jam)

Swelling 

Power (gr/gr)

Gambar 1. Hubungan Waktu HMT terhadap Swelling Power

HMT Sorgum Merah HMT Sorgum Putih

Waktu HMT (Jam)

Solubility 

(%)

Waktu HMT (Jam)

Solubility 

(%)

(9)

PROSIDING SENTRINOV Vol. 001, Tahun 2015 | ISSN: 2477 – 2097 285

banyak kompleks amilosa-lipid yang terbentuk, sifat hidrasi granul semakin berkurang serta kristalinitas yang semakin meningkat. Efek lanjutan apabila kompleks amilosa-lipid terbentuk adalah menghambat pembengkakan granul sehingga amilosa yang keluar dari granul saat pecah sedikit. Hal ini mengakibatkan sifat solubilty pati sorgum menurun.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Korrakot Lorlowhakarn dan Onanong Naivikul (2006) yang memodifikasi tepung beras dengan metode HMT sebagai bahan baku mie. Mereka mendapatkan hasil bahwa swelling power dan solubility pada pati beras termodifikasi yang dilakukan pada suhu 1100C dan 1200C

dengan variabel waktu pemanasan 1 jam, 3 jam, dan 5 jam mengalami penurunan dari pati beras alami. Penurunan solubility pada pati termodifikasi juga ditemukan pada penelitian pati kentang (Perera et al, 1997), pati umbi (Gunaratne and Hoover, 2002) dan pati mucuna bean (Adebowale and Lawal, 2003). Modifikasi pada pati tersebut dilakukan pada suhu 1000C dengan kadar air antara 16-30%.

Pengaruh Penambahan Konsentrasi Air terhadap Swelling Power dan Solubility Pati Sorgum

Modifikasi pati sorgum yang dilakukan pada kombinasi kadar air (18%w, 21%w, 24%w, 27%w, dan 30%w) menghasilkan pati sorgum termodifikasi dengan sifat swelling power dan solubility yang berbeda dengan pati sorgum alaminya.

HMT Sorgum Merah HMT Sorgum Putih

Swelling 

Power (gr/gr)

Kadar Air HMT (%)

(10)

PROSIDING SENTRINOV Vol. 001, Tahun 2015 | ISSN: 2477 – 2097 286

Dari tabel 2. dan grafik di atas dapat dilihat bahwa swelling power dan solubility sorgum termodifikasi dengan variabel kadar air baik sorgum merah maupun sorgum putih mengalami penurunan dari sorgum alami. Hal ini dikarenakan adanya interaksi antara molekul amilosa dan amilopektin di dalam granula dengan air. Imbibisi air ke dalam granula pati sorgum pada suhu 1100C mengakibatkan ikatan hidrogen baik antar molekul

amilosa-amilosa, amilosa-amilopektin maupun amilopektin-amilopektin terputus. Sehingga ikatan hidrogen tersebut digantikan oleh ikatan hidrogen dengan air. Perubahan rantai molekul selama HMT ini mengakibatkan swelling power dan solubility sorgum termodifikasi mengalami penurunan. Selain itu rendahnya swelling power juga dikarenakan kristalinitas pati yang meningkat setelah dimodifikasi HMT.

Hasil penelitian ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Qingjie Sun et al (2013) tentang perbedaan sifat fisikokimia antara pati sorgum dan tepung sorgum. Pada studi tersebut menyatakan bahwa swelling power dan solubility pati sorgum yang dimodifkasi dengan kadar air 20%w dan 25%w mengalami penurunan dari pati sorgum alaminya. Penelitian tentang modifikasi HMT pada sorgum putih dengan kadar air 18%w, 21%w, 24%w, dan 27%w yang dilakukan oleh Olayinka et al. (2006) juga menunjukkan penurunan dari pati sorgum alaminya.

Pengaruh Suhu Pemanasan terhadap Swelling Power dan Solubility Pati Sorgum Modifikasi pati sorgum yang dilakukan pada kombinasi suhu pemasanan (800C,

HMT Sorgum Merah HMT Sorgum Putih

Kadar Air HMT (%)

Solubility 

(%)

(11)

PROSIDING SENTRINOV Vol. 001, Tahun 2015 | ISSN: 2477 – 2097 287

900C, 1000C, 1100C, dan 1200C) menghasilkan pati sorgum termodifikasi dengan sifat

swelling power dan solubility yang berbeda dengan pati sorgum alaminya.

Dari tabel 2. dan grafik di atas dapat dilihat bahwa swelling power dan solubility sorgum termodifikasi dengan variabel suhu pemanasan baik sorgum merah maupun sorgum putih mengalami penurunan dari sorgum alami. Pada saat HMT, molekul amilosa berinteraksi langsung dengan amilopektin pada daerah kristalinnya. Hal ini mengakibatkan berkurangnya mobilitas rantai amilopektin sehingga suhu gelatinisasi meningkat. Peningkatan gelatinisasi pati yang menyebabkan perubahan amilosa yang berbentuk amorphous menjadi bentuk helix, meningkatkan interaksi antar rantai amilosa dan alterasi antara struktur kristalin dan matrix amorphous pada pati sorgum (Adebowale, 2008). Sehingga menyebabkan terlepasnya ikatan double helix pada pati sorgum dan mengganggu struktur kristalin pada pati sorgum alami. Akibatnya, swelling power pati mengalami penurunan.

HMT Sorgum Merah HMT Sorgum Putih

Swelling 

Power (gr/gr)

Suhu HMT (0C)

Gambar 5. Hubungan Suhu Pemanasan HMT terhadap Swelling Power

HMT Sorgum Merah HMT Sorgum Putih

Suhu HMT (0C)

Solubility

(%)

(12)

PROSIDING SENTRINOV Vol. 001, Tahun 2015 | ISSN: 2477 – 2097 288

Pada sorgum merah didapatkan nilai solubility yang paling rendah yaitu terdapat pada suhu 110oC. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Adebowale

tentang efek HMT terhadap sifat fisikokimia sorgum merah dan putih. Sedangkan pada sorgum putih, nilai solubility paling rendah terdapat pada suhu 60oC.

SIMPULAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa modifikasi pati sorgum dengan metode Heat Moisture Treatment dapat mempengaruhi sifat fisikokimia yang berpengaruh pada sifat swelling power dan solubility. Pada sorgum merah alami didapatkan nilai swelling power dan solubility secara berturut-turut yaitu 10,57 g/g; 4,22%. Dan pada sorgum putih alami didapatkan nilai swelling power sebesar 9.68 g/g dan nilai solubility sebesar 4,6 %. Setelah dilakukan modifikasi HMT, swelling power dan solubility pati sorgum mengalami penurunan. Didapatkan waktu HMT optimum untuk pati sorgum merah dan putih yaitu 10 jam. Dengan nilai swelling power untuk pati sorgum merah dan putih yaitu 8,76 dan 4,6; serta nilai solubility untuk pati sorgum merah dan putih yaitu 2,8% dan 4,4% Konsentrasi penambahan air pada HMT untuk sorgum merah dan putih yaitu 21%w. Dengan nilai swelling power untuk pati sorgum merah dan putih yaitu 6,97 dan 6,71; serta nilai solubility untuk pati sorgum merah dan putih yaitu 2,2% dan 2,8%. Dan suhu pemanasan HMT optimum untuk sorgum merah dan putih yaitu 1100C. Dengan nilai

swelling power untuk pati sorgum merah dan putih yaitu 7,77 dan 4,96; serta nilai solubility untuk pati sorgum merah dan putih yaitu 1,8% dan 4,8%.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan segala limpahan rahmat-Nya, orang tua kami yang selalu memberi doa dan dukungan, serta Ir. Kristinah Haryani, M.T. sebagai dosen pembimbing yang telah banyak memberi masukan untuk penulis hingga selesainya laporan penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Adebowale, K. O., Olu-owolabi, B. I., Olayinka, O. O., Olayide, S. 2005. Effect of Heat Moisture Treatment and Annealing on Physicochemical Properties of Red Sorghum Starch, 4(9), 928–933.AOAC, 1995. Analysis of the Association of Official Agriculture Chemistry. In Official Methods of Analysis, 16th Edition. Gaithersburg, Maryland: AOAC International.

(13)

PROSIDING SENTRINOV Vol. 001, Tahun 2015 | ISSN: 2477 – 2097 289

Collado, L.S. & Corke, H. 1999. Heat-Moisture Treatment Effects on Sweetpotato Starches Differing in Amylose Content, vol 65, pp.339–346.

Herawati, D. 2009. Modifikasi Pati Sagu dengan Teknik Heat Moisture Treatment (HMT) dan Aplikasinya dalam Memperbaiki Kualitas Bihun. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Hoover, R. & Gunaratne, A. 2002. Effect of Heat-Moisture Treatment on the Structure and Physicochemical Properties of Normal Maize, Waxy Maize, Dull Waxy Maize and Amylomaize V Starches. Journal of Cereal Sci, 23, pp.153–162.

Hoover, R., & Vasanthan, T. 1994. The effect of annealing on the physicochemical properties of wheat, oat, potato and lentil starches. Journal of Food Biochemistry, 17, pp.303–325.

Kainuma, K., Odat, T. & Cuzuki, S. 1967. Study of starch Phosphates Monoester. J. Technol, Soc. Starch, 14, pp.24–28.

Leach, H., LD, M.C. & Schoch, T. 1959. Structure of the starch granules. Didalam: Daramola. B dan Osanyinlusi. S.A. 2006. Investigation on modification of cassava starch using active components of ginger roots (Zingiber officinale Roscoe). African Journal of Biotechnology, 5(10), pp.917–920.

Lii, C.Y. & Chang, S.M. 1981. Characterization of Red Bean Starch and Its Noodle Quality. Didalam: Kim, Y.S., D.P. Wiesenborn, J.H. Lorenzen & P. Berglund. 1996. Suitability of Edible Bean and Potato Starches for Starch Noodles. Cereal Chem, 73(3), pp.302-308.

Lorlowhakarn, K. and O. Naivikul. 2006. Modification of rice flour by UV irradiation to improve rice noodle quality, pp.323-328. In Starch update 2005: The 3rd conference on starch technology. Bangkok: National center for genetic engineering and biotechnology (BIOTEC), National science and technology development agency (NSTDA) and Ministry of science and technology (MOST).

Olayinka, O., Adebowale, K. & Oluowolabi, B. 2008. Effect of heat-moisture treatment on physicochemical properties of white sorghum starch. Food Hydrocolloids, 22(2), pp.225–230.

Purwani, E.Y. & Thahir, R. 2006. Effect of Heat Moisture Treatment of Sago Starch on Its Noodle Quality. Indonesian Journal of Agric Sci, 7(1), pp.8–14.

Ramadhan, K. 2009. Aplikasi Pati Sagu Termodifikasi Heat Moisture Treatment untuk Pembuatan Bihun Instan. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Singh, H., Chang, Y. H., Lin, J.H., Singh, N. 2011. Influence of Heat Moisture Treatment and Annealing on Functional Properties of Sorghum Starch. Food Research International, 44(9), 2949–2954.

Gambar

Tabel 3 Data Swelling Power dan Solubility Pati Sorgum Termodifikasi
Gambar 1. Hubungan Waktu HMT terhadap Swelling Power
Gambar 3. Hubungan Kadar Air pada HMT terhadap Swelling Power
Gambar 4. Hubungan Kadar Air pada HMT terhadap Persen Solubility
+2

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan, suhu pemanasan dan kadar air pati secara nyata mempengaruhi kadar air, kadar amilosa dan swelling power pati talas kimpul termodiikasi, tetapi

Modifikasi yang dilakukan pada suhu pemanasan 110 o C selama 6 jam dapat menghasilkan pati termodifikasi dengan karakteristik gelatinisasi tipe C, pati tersebut

Pada modifikasi tepung tapioka dengan hidrolisa HCl-methanol, dari hasil analisa % solubility, swelling power dan suhu gelatinasi terhadap volume HCl dan waktu

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh waktu operasi dan pH larutan awal terhadap swelling power, solubility dan kadar gugus karboksilat pada pati

Prototipe mesin sosoh tipe abrasif PSA-M3 diuji untuk menyosoh biji sorgum varietas Lokal Selayar dengan warna biji merah, hitam, dan putih.. Frekuensi penyosohan

Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan karakteristik pati sagu ( solubility, swelling power, freeze-thaw stability, dan paste clarity ) yang telah dimodifikasi

Bihun Instan dari Pati Termodifikasi Empat Varietas Ubi Jalar. Bihun Instan dari pati ubi jalar

Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa formulasi campuran pati sorgum- kitosan 7:3 dengan plasticizer sorbitol terbaik adalah pada konsentrasi 20% dan