• Tidak ada hasil yang ditemukan

Segmentasi bukan sekadar pasar sasar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Segmentasi bukan sekadar pasar sasar "

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Segmentasi Pembaca, Bukan Sekedar Masalah Pasar

Oleh: Birgitta Bestari Puspita

Teringat dulu ketika saya masih kecil, hobi membaca selalu terpuaskan oleh salah satu

majalah anak-anak. Konten majalah tersebut dapat memuaskan rasa ingin tahu saya sebagai

anak-anak dan juga sekaligus memberikan hiburan versi anak-anak, dengan berbagai kisah

lucu, cerita pendek dan juga dongeng yang dihadirkannya setiap minggu. Tak hanya fiksi dan

fakta ilmiah yang dapat menghibur anak-anak seusia sekolah dasar. Profil seorang idola atau

sosok terkenal pun menjadi salah satu daya tarik tersendiri.

Masih segar ingatan saya, ketika di usia sekolah dasar saya membaca berbagai profil tokoh

nasional seperti Didik Nini Thowok, beberapa tokoh dalang, kemudian Guruh Soekarno

Putra, penyanyi-penyanyi cilik, dan banyak lagi. Tokoh-tokoh tersebut diharapkan bisa

menginspirasi anak-anak untuk berkarya, berprestasi dan meraih mimpi, serta

mengharumkan nama bangsa. Bahkan profil dalam majalah tersebut tidak harus tokoh

terkenal, bisa jadi “hanya” seorang anak sekolah dasar dengan prestasi luar biasa yang

pantas diketahui dan menjadi penyemangat bagi anak-anak Indonesia lainnya.

Itu dulu. Zaman memang sudah banyak berubah. Teknologi sudah berkembang pesat. Tren

di masyarakat pun berubah mengikuti tren global, bukan lagi tren lokal seperti ketika

penyebaran informasi belum sebebas sekarang. Kemajuan teknologi memungkinkan kita

untuk mengetahui dan mengikuti isu-isu apa yang sedang hangat dibicarakan di dunia.

Dengan adanya internet, kecepatan penyebaran informasi pun berlipat ganda. Benar apa

(2)

waktu tak lagi jelas dan tak lagi menjadi penghalang. Tak perlu lagi kita menunggu lama

untuk bisa up date informasi tentang dunia di luar kita. Peribahasa “bagai katak dalam

tempurung” pun kini bisa jadi hanya berlaku bagi segelintir orang yang belum bisa

mengakses internet. Toh kalau pun mereka belum bisa mengakses internet, informasi

terbaru akan disediakan oleh media-media mainstream, seperti televisi,radio, dan media

cetak, yang notabene memperoleh isu-isu global melalui internet. Arus infomasi nampaknya

“membabi buta’ meringsek kehidupan kita.

Media dan Khalayak Sasaran

Media, baik cetak maupun elektronik, masing-masing memiliki target khalayak yang ingin

disasar. Bicara soal media cetak, majalah terutama, segmentasi khalayak sasarannya cukup

jelas. Ada yang berdasarkan gender, misalnya majalah untuk perempuan dan majalah untuk

laki-laki. Ada yang berdasarkan usia, majalah untuk anak-anak, remaja dan dewasa. Ada pula

majalah yang ditujukan untuk keluarga. Belum lagi khalayak pecinta hobi tertentu yang

dijadikan sasaran, misalnya otomotif, berkebun, desain interior, dan sebagainya. Apakah

pembagian tersebut hanya berfungsi sebagai pembeda majalah satu dengan yang lainnya?

Tentu saja tidak. Segmentasi tersebut juga mempengaruhi konten media yang bersangkutan,

mulai dari kemasan,informasi yang diberikan, bahkan sampai pada gaya bahasa yang

digunakan. Dan bagi perusahaan media itu sendiri, spesifikasi khalayak yang menjadi

sasaran berarti market atau pasar, yang nantinya tidak jauh dari urusan profit.

Hal tersebut berlaku pula pada majalah anak-anak. Jelas di sini khalayak yang dituju adalah

anak-anak. Anak-anak berarti bukan remaja, karena rentang usia jelas berbeda. Rentang usia

yang bisa dikatakan anak-anak umumnya adalah usia sampai 12 tahun. Maka, konten

(3)

Sedikit terkejut ketika saya kembali mengamati majalah anak-anak yang dulu menjadi favorit

saya. Dari segi rubrikasi tak banyak berubah, tetap menarik seperti biasanya. Namun satu

konten fatal di mata saya. Profil. Satu grup girlband menjadi profil di edisi kali ini. Dari sini

terlihat bahwa terpaan informasi global pun mempengaruhi majalah anak-anak.

Pertanyaannya, apakah ketika bicara segmentasi khalayak maka kita hanya bicara tentang

tren, pasar dan profit? Bukankah salah satu fungsi media adalah mengedukasi dan bukan

sekedar memberi informasi?

Tidak dipungkiri bahwa mengikuti dan mengetahui hal apa serta isu apa yang tengah hangat

diperbincangkan dunia adalah sesuatu yang penting diketahui khalayak, termasuk

anak-anak. Dan di antaranya adalah fenomena K-Pop. K-Pop memang tengah menjadi satu trend

menarik yang bisa kita amati di media. Aliran musik ini pun mempengaruhi aliran musik yang

ada di Indonesia, termasuk beberapa konten media, misalnya program khusus salah satu

radio swasta di Jogja yang menyiarkan lagu-lagu Korea. Namun menjadi tidak pas ketika

demi mengikuti tren global tersebut, profil yang lebih cocok diulas di majalah remaja

kemudian di tampilkan di majalah anak-anak usia sekolah dasar.

Profil dalam Media untuk Anak-Anak

Secara teorotis memang tidak ada persyaratan tentang siapa yang patut dimunculkan

sebagai sosok dalam rubrik profil untuk majalah anak-anak. Namun secara etika, sudah

menjadi tanggung jawab media untuk menjaga konten yang mereka hadirkan bagi khalayak

sasaran mereka, termasuk dari ketepatan isi.

Rubrik profil berbicara tentang kisah hidup seseorang. Bisa saja dalam bentuk cerita kisah,

(4)

mereka-mereka yang memiliki prestasi secara nasional, memberikan kontribusi bagi negara, atau

mereka yang dianggap mampu menjadi inspirasi bagi orang lain. Untuk majalah anak-anak,

tentu akan lebih pas apabila yang memenuhi ruang artikel adalah mereka yang memiliki

kontribusi pada dunia anak-anak, atau justru anak-anak yang berprestasi dan mampu

menginspirasi teman-temannya.

Kemudian salahkah apabila satu grup girlband menjadi sosok dalam rubrik profil majalah

anak-anak? Tentu saja tidak, asalkan mereka ada hubungannya dengan dunia anak-anak dan

atau memberikan kontribusi bagi anak-anak, terutama kontribusi positif. Menjadi kurang

ideal apabila dari segi lagu saja sudah tidak pas dengan segmen majalah tersebut. Lagu-lagu

yang dibawakan oleh grup ini adalah lagu-lagu cinta, yang notabene bukan konsumsi

anak-anak sekolah dasar. Apabila hanya untuk menunjukkan trend global serta lifestyle atau

fashion , maka majalah remaja akan lebih cocok untuk icon-icon musik seperti ini. Paduan

lagu cinta dan high heels nampaknya belum bisa sinkron dengan dongeng dan komik dalam

majalah ini.

Di sisi lain, hal ini bisa menjadi kritik bagi bangsa kita sendiri. Seharusnya kita lebih hati-hati

dalam menyeleksi arus informasi yang masuk ke ranah media kita. Bahwa apa yang menjadi

tren di luar sana, belum tentu pas untuk khalayak. Masuknya icon remaja di majalah

anak-anak, seolah menunjukkan bahwa kita tak lagi memiliki tokoh dunia anak yang pantas untuk

diprofilkan. Benarkah demikian?

Ataukah media hanya melulu mengejar profit dan lupa menghadirkan apa yang baiknya

(5)

adalah penerus bangsa, informasi yang edukatif dan sesuai dengan perkembangan usianya

akan menjadi teman pertumbuhannya untuk menjadi insan yang cerdas dan berprestasi.

Dan media sebenarnya memiliki andil cukup besar di dalam proses tersebut.

Referensi

Dokumen terkait

39 Tabel 4.4 Distribusi Pasien dengan Keluhan Gatal Berdasarkan Riwayat Asma Bronkial pada Diri Sendiri dan Riwayat Atopi Keluarga di Poli Penyakit Kulit dan Kelamin

Ada beberapa masalah yang dihadapi dalam kegiatan penilaian seperti Siswa sering terlambat mengumpulkan tugas, kurang peduli terhadap nilai yang diperoleh, kurang bisa

Karena setelah melakukan uji-t test awal pada penelitian ini diketahui tidak terdapat perbedaan kemampuan awal siswa pada kelas IV A dan kelas IV B, maka penelitian

“Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintahan daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi yang

Sistem basis data (database system) adalah suatu sistem informasi yang mengintegrasikan kumpulan dari data yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya dan

Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan analisis korelasi maka diperoleh hasil antara lain : ada hubungan yang nyata antara luas lahan dengan produksi beras di Sumatera

1) Pertumbuhan daerah perkotaan yang terus menerus, termasuk sejumlah CBD dan pusat daerah pinggir kota dan regional, membutuhkan pelayanan transportasi yang

Kekurangharmonisan hubungan ini selain disebabkan karena posisi polisi yang relatif lebih memiliki kewenangan paska berpisah dari militer, juga dikarenakan lembaga CJS yang ada