MODERNISASI DAN
DISCONNECTED SOCIETY:
KAJIAN SINGKAT TENTANG MASALAH SOSIAL
BANGSA JEPANG DEWASA INI
Antonius R. Pujo Purnomo
Departemen Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga
Jl. Dharmawangsa Dalam Selatan Surabaya 60286 Indonesia Tel. 031-506-5676 Fax. 031-503-5807
E-mail: [email protected]
Abstract:
Disconnected society or “muen shakai” is a condition of a society that has been compartmentalized and separated from each other in between one another. This situation or phenomenon is caused by the policy of modernization that is not
accompanied by social resistance that can adapt to a variety of problems throughout the ages. This phenomenon has
occurred in Japan since the Meiji period (1868-1912). In this paper I want to discuss about the phenomenon, its history
and any efforts that have been and should have been taken by the Japanese government and the community in addressing
these issues today and in the future.
Keyword: modernization, kodokushi, traditional value, en (conecction)
I Pendahuluan
Dewasa ini, Jepang sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia telah menuai berbagai macam
persoalan sosial sebagai dampak dari modernisasi. Persoalan urbanisasi dari desa ke kota telah dialami Jepang
sejak awal Zaman Meiji (1868-1912). Kehancuran infrastruktur, lenyapnya ratusan ribu jiwa akibat perang,
kerusakan ekosistem akibat industrialisasi besar-besaran pasca perang dunia ke-2 telah mereka rasakan sebagai
dampak negatif dari pilihan mereka sendiri. Kini di paruh awal abad ke-21 Jepang menghadapi masalah-masalah
baru, seperti turunnya angka perkawinan, rendahnya angka kelahiran, tingginya tingkat bunuh diri, perceraian,
kemiskinan dan lain-lainnya. Dan akhir-akhir ini yang sedang mendapatkan sorotan media adalah tentang
munculnya golonganorang-orang yang terpisah dari masyarakat atau dalam bahasa Jepang disebut muen shakai
(disconnected society).
Tachibanaki Toshiaki dalam bukunya yang berjudul Muen Shakai no Shotai menyampaikan bahwa pada awalnya masyarakat Jepang memiliki prinsip-prinsip yuen shakai (connected society). Dengan kata lain, yaitu masyarakat yang mempunyai kesadaran tinggi terhadap fungsi komunitas untuk saling tolong menolong
dan menganggap hal tersebut sebagai inti dari kehidupan manusia dalam lingkungan keluarga, komunitas
maupun masyarakat. Namun sayangnya ciri khas masyarakat seperti itu kini mulai redup dan berubah menjadi
muen shakai (disconnected society)
1. Dalam bukunya ini ia telah mengidentifikasi berbagai macam permasalahan yang telah
menimbulkan fenomena baru ini misalnya, kemiskinan lansia, tingkat perkawinan rendah, tingkat perceraian
membandingkan permasalahan tersebut dengan Amerika Serikat lalu memberikan berbagai macam alternatif
cara pemecahannya.
Namun demikian, Tachibana kurang merinci penyebab yang menjadi dasar dari munculnya
permasalahan ini sehingga menyebabkan fenomena kematian-kematian anggota masyarakat tanpa diketahui
oleh masyarakat sekitarnya (kodokushi), rincian sejarahnya serta alternatif pemecahan masalah yang melibatkan penanganan sisi spiritual atau kejiwaan dari masyarakat urban tersebut. Oleh sebab itu kajian singkat ini
bertujuan selain untuk mengindetifikasi ulang berbagai permasalahan yang ada pada masyarakat Jepang
tertutama yang berhubungan dengan muen shakai, juga mencoba untuk menganalisis penyebabnya, serta mencoba memberikan alternatif pemecahan terhadap berbagai permasalahan tersebut.
II Disconnected Society Sebagai Puncak Gunung Es Masalah Sosial di Jepang
Disconnected Society (muen shakai) adalah istilah yang pertama kali digunakan oleh tim peliputan “Working Poor” NHK pada tahun 20092. Keprihatinan tim ini terhadap para pekerja miskin didasari oleh
kenyataan tersisihnya mereka dari komunitas sekitarnya. Meski telah bekerja sekeras apa pun penghasilan
mereka tidak pernah cukup untuk menghidupi diri sendiri secara layak, akibatnya mereka memilih hidup sendiri
terpisah dari komunitas asal maupun sekitarnya. Kecenderungan mereka menutup diri dari lingkungan sekitar
serta tipisnya kepedulian di antara sesama warga di kota-kota besar, membuat keberadaan mereka sulit terdeteksi
oleh lembaga-lembaga sosial. Akibatnya, banyak sekali kejadian seseorang yang jatuh sakit tanpa sempat
mendapatkan pertolongan. Sampai-sampai ada yang baru ditemukan dalam keadaan meninggal selama
berhari-hari, berbulan-bulan bahkan mungkin bertahun-tahun. Orang-orang yang meninggal dalam kesendirian ini
disebut sebagai kodokushi. Dan golongan ini disebut sebagai disconnected society atau muen shakai oleh tim peliputan NHK tersebut. Walaupun jumlahnya tidak sampai menimbulkan kekhawatiran nasional, namun
fenomena seperti ini adalah gambaran masyarakat Jepang dewasa ini yang harus segera diatasi sebelum meluas
dan menimbulkan berbagai macam masalah baru.
Muen shakai sebenarnya adalah puncak dari gunung es masalah sosial yang dihadapi oleh bangsa Jepang dewasa ini. Masalah-masalah serius yang menjadi tubuh dari gunung es ini antara lain adalah tingkat
perkawinan yang rendah, tingkat perceraian yang tinggi, tingkat kelahiran yang rendah, tingkat harapan hidup
yang tinggi, dan lain-lainnya. Berbagai macam permasalahan ini turut memberikan andil terhadap terciptanya
kelompok-kelompok manusia yang terpisah dari komunitasnya. Ini semua adalah konsekuensi yang harus
dibayar dari kehidupan modern.
Tingkat perkawinan di Jepang pernah mengalami kenaikan yang sangat signifikan, yaitu pada tahun
1947 (12.0%) dan turun sedikit pada tahun 1970 (10.0%). Untuk yang pertama, hal ini disebabkan oleh rasa
aman setelah berakhirnya perang dunia ke-2, sehingga bayi-bayi yang lahir pada saat itu disebut sebagai baby
boom I. Untuk yang kedua adalah perkawinan antara pasangan dari anak-anak generasi baby boom I. Selanjutnya anak-anak mereka yang lahir pada tahun 1970an disebut sebagai baby boom II. Namun setelah paruh akhir tahun 1970an hingga saat ini, industrialisasi yang berkembang pesat telah menyita banyak waktu
generasi muda Jepang sehingga banyak yang memilih untuk mengejar karir dalam pekerjaan daripada membina
menjadi 6.1 % di tahun 1985 kemudian menjadi 5.7% di tahun 2007. Penurunan tingkat perkawinan pada 10
tahun terakhir ini diperkirakan diakibatkan oleh melemahnya perekonomian Jepang sehingga banyak generasi
muda yang enggan untuk menikah karena ketidakpercayaan diri mereka untuk membiayai kehidupan sebuah
keluarga. Sedangkan tingkat kelahiran anak pun seiring sejalan dengan tingkat perkawinan. Sebagai contoh pada
tabel 2, tingkat kelahiran anak yang relatif tinggi terjadi pada kurun waktu antara tahun 1950-1970, yaitu sekitar
3-4% lebih. Namun, seiring dengan industrialisasi besar-besaran pada paruh akhir tahun 1970an hingga saat ini,
angka kelahiran bayi terus turun dari 2,12% di tahun 1971-1974 menjadi 1.37% di tahun 2009. Sedangkan
tingkat perceraian di Jepang cenderung mengalami kenaikan dari waktu ke waktu. Misalnya antara kurun waktu
1955-1970, tingkat perceraian belum mencapai 1%, namun antara tahun 1975-1995, telah mencapai 1% lebih.
Sedangkan memasuki tahun 2000 hingga saat ini mencapai lebih dari 2%. Diperkirakan faktor ekonomi yang
menjadi penyebab utama dari permasalahan ini.
Tingkat harapan hidup yang tinggi di satu sisi adalah merupakan salah satu indikator kemakmuran
sebuah negara, namun di sisi lain ketidaktersediaan tenaga perawat dan fasilitas yang memadai untuk para lansia
membuat biaya perawatan semakin mahal. Untuk memenuhi kebutuhan perawat lansia, pemerintah Jepang telah
membuka kran masuknya perawat asing ke Jepang. Namun standarisasi keahlian yang cukup tinggi membuat
mereka sulit diterima sebagai pegawai tetap di instansi-instansi tersebut. Di sisi lain, pekerjaan perawat yang
cukup berat membuat lebih dari 10 % perawat Jepang mengundurkan diri dari pekerjaannya tiap tahunnya.
3Fasilitas tempat berkumpulnya para lansia di tiap-tiap daerah juga mulai banyak didirikan, namun itu pun
dirasakan belum memadai.
III Kodokushi Dalam Sejarah Jepang
Kodokushi sebenarnya bukan sepenuhnya fenomena baru. Dalam makalah penelitian yang berjudul
Meskipun istilah kodokushi tidak ditemui pada masa sebelum tahun 1970an, namun kematian yang menyerupai
kodokushi telah diberitakan pada surat kabar sejak tahun 1880an. Misalnya sebuah artikel di Yomiuri Shimbun pada tanggal 14 Oktober 1886 yang memberitakan tentang kematian seorang lansia penghuni apartemen akibat
penyakit kolera.5 Jenazah lansia tersebut baru ditemukan oleh utusan pemilik apartemen yang hendak menagih
biaya apartemen 6 hari setelah kematiannya. Berita lainnya, misalnya pada tanggal 14 November 1927 di
Yomiuri Shimbun, jenazah pria berusia 25 tahun ditemukan seminggu lebih setelah kematiannya. Hal ini
membuktikan bahwa fenomena kodokushi atau kematian menyendiri tidak hanya berlaku bagi para lansia saja
melainkan juga pada usia muda. Dalam penelitian ini Kotsuji dan Kobayashi hanya menemukan 10 kasus yang
diberitakan di surat kabar antara tahun 1880 sampai tahun 1945. Meskipun jumlah kasus tersebut hanya sedikit,
namun fenomena seperti ini telah ada sejak Zaman Meiji.
Masih menurut penelitian Kotsuji dan Kobayashi, istilah kodokushi pertama kali muncul di surat kabar pada tanggal 16 April 1970 yaitu pada sebuah artikel di Asahi Shimbun dengan judul Mata Tokyo no Kodokushi,
Isshukanme Hakken (Lagi Kodokushi di Tokyo, Ditemukan Setelah Seminggu). Dalam artikel ini disampaikan bahwa jenazah pemuda yang masih bujang tersebut ditemukan oleh teman kerjanya karena telah seminggu tidak
masuk kantor. Pemuda yang telah meninggal tersebut memang punya penyakit yang membuatnya harus libur
kerja untuk perawatan di rumah sakit 2-3 hari tiap bulannya. Ketika tidak masuk kerja selama 3 hari, semuanya
mengira dia ke rumah sakit, namun setelah ditunggu lebih dari 3 hari tidak masuk juga akhirnya rekan kerjanya
curiga dan menjenguknya ke apartemen. Disana ia ditemukan telah meninggal di dalam futonnya. Dari judul
berita di atas, yaitu mata (lagi) menunjukkan bahwa sebelumnya juga pernah terjadi peristiwa kematian serupa. Misalnya pada tanggal 30 Maret 1970, yaitu kematian seorang lansia berusia 82 tahun di dalam apartemennya
di Tokyo, namun baik pada judul berita maupun isinya tidak tercantum kata kodokushi.
Pada kurun waktu tahun 1995-2000, gempa bumi besar Hanshin Awaji, telah mengakibatkan banyak
korban yang kehilangan sanak keluarga dan tempat tinggal. Trauma akibat bencana besar serta penempatan
mereka di apartemen-apartemen baru di luar komunitas asal mereka membuat para korban tersebut merasa
terasing dan hidup menyendiri. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Asahi Shimbun, kematian kodokushi
korban gempa besar ini selama tahun 1995-2000 mencapai 233 jiwa di wilayah bencana saja. Sebagian besar
dari korban tersebut adalah para lansia yang merasa tidak punya teman di daerah baru dan khawatir bila terjadi
bencana besar lagi.6
Kotsuji dan Kobayashi membagi sejarah pemberitaan kodokushi di media menjadi tiga bagian, yakni; Zaman Sebelum Perang, Tahun 1970an, dan kurun waktu antara tahun 1995-2000. Fenomena kematian
menyendiri (kodokushi) sudah terlihat sejak tahun 1890an, namun penamaan istilah kodokushi di media baru muncul pada tahun 1970. Selanjutnya fenomena kodokushi tersebut semakin meningkat pada kurun waktu tahun 1995-2000, korbannya terutama para lansia yang selamat dari gempa besar Hanshin-Awaji. Pada penelitian ini
Kotsuji dan Kobayashi hanya menyoroti mengenai pemberitaan kodokushi di media saja tanpa mencoba mencari akar dari permasalahan secara mendasar. Mengetahui akar permasalahan ini sangat penting dalam upaya
pencegahan atau mengatasi fenomena tersebut agar tidak semakin melebar. Menurut peneliti, fenomena
modernisasinya di paruh akhir abad ke-19.
IV Pergeseran Nilai-nilai Tradisional Ketsuen, Chien, dan Shaen
Ketsuen adalah hubungan antar manusia berdasarkan pertalian darah. Dengan kata lain anggota keluarga yang masuk ke dalam kategori ini adalah suami-istri, anak, orang tua, kakek-nenek, saudara (baik dari
pihak istri maupun suami) dan cucu serta keponakan. Dewasa ini, bentuk keluarga kebanyakan di Jepang adalah
keluarga inti, yaitu terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Namun sebelum Zaman Perang, atau bahkan pada Zaman
Edo (1603-1867), secara umum terdapat dua macam sistem keluarga, yaitu sistem keluarga besar dan sistem
keluarga patrilineal (berdasarkan garis keturunan ayah). Sistem keluarga besar adalah ketika dimana dalam satu
rumah tinggal 3-4 generasi keluarga, misalnya; kakek-nenek, suami-istri, anak-anak, dan cucu. Bahkan ada
kalanya di daerah pedesaan, saudara dari suami-istri atau anak-anak mereka yang menikah turut tinggal di dalam
rumah tersebut. Sedangkan sistem keluarga patrilineal atau berdasarkan garis keturunan ayah, merupakan
warisan dari golongan samurai di Zaman Edo. Orang tua akan tinggal bersama dengan anak laki-laki
sulungnya. Sedangkan anak-anak lainnya, setelah menikah meninggalkan rumah asal mereka. Namun setelah
memasuki Zaman Meiji, sistem keluarga berubah menjadi sistem ie sesuai anjuran dari pemerintah. Dalam sistem ie yang mengadopsi etika Konfusianisme ini, hubungan atasan-bawahan diatur secara ketat. Misalnya istri harus tunduk kepada suami selaku kepala keluarga, anak-anak harus tunduk kepada orangtua. Namun
demikian sistem ie ini juga membawa kebebasan individu, misalnya, bila sang ayah selaku kepala keluarga oleh karena suatu sebab tidak bisa menjalankan fungsinya, maka sang ibu akan mengambil alih pimpinan keluarga
dengan dibantu dengan anak sulung mereka. Sistem ie terus berlanjut hingga Zaman Pasca Perang.
Dalam penelitiannya mengenai keluarga, Fujimi dan Seino menemukan bahwa 95% lebih
respondennya menganggap bahwa anak dan pasangan perkawinan mereka adalah keluarga.7 Sebanyak 84.7%
menganggap cucu adalah bagian dari keluarga, anggapan menantu sebagai anggota keluarga adalah 81.5%,
orangtua sebagai bagian keluarga adalah 76%, kakek-nenek dan mertua sebanyak kurang dari 60%, kemudian
yang di bawah 50% hanyalah saudara kandung, saudara sepupu, keponakan, dan terakhir adalah paman-bibi. Dari data tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa “keluarga” bagi kebanyakan orang Jepang dewasa ini, kecenderungan yang paling kuat adalah pasangan menikah dan anak, dengan kata lain adalah keluarga inti.
Sedangkan di luar keluarga inti anggapan sebagai bagian dari keluarga semakin menipis.
Chien adalah istilah yang digunakan untuk menyebut satuan terkecil organisasi kemasyarakatan di suatu daerah berdasarkan sekumpulan keluarga di suatu daerah yang sama. Dengan demikian rasa keterikatan
antara sesama anggota masyarakat yang berasal dari suatu daerah yang sama dapat dirasakan. Struktur hubungan
antar manusia yang didasari oleh kesamaan wilayah tempat tinggal seperti ini sudah dimulai sejak sebelum
Zaman Nara (710-784) hingga saat ini. Dalam skala struktur pemerintahan, contoh dari chien adalah; mura, cho,
shi, dan ken. Sedangkan dalam skala lebih kecil misalnya; chonaikai. Sebagai sebuah organisasi kemasyarakatan paling kecil, chonaikai mempunyai peran penting dalam menyatukan kepentingan masing-masing keluarga di dalam satu kesatuan wilayah mereka. Namun demikian, berbeda dengan keadaan di desa-desa, peranan keluarga
wilayah baru tersebut.
Pertemuan berbagai macam orang dari berbagai macam latar belakang ke dalam suatu institusi atau
organisasi di kota-kota besar seperti ini disebut sebagai shaen. Hubungan antar manusia dalam shaen sama sekali tidak terikat oleh pertalian darah (ketsuen) atau pun kesamaan daerah asal (chien). Sosiolog; Kato Hidetoshi menyebutkan bahwa seperti halnya para penumpang kereta shinkansen yang berasal dari berbagai
macam daerah, pertemuan orang-orang dalam shaen pada dasarnya adalah pertemuan yang tidak disengaja. 8Ini
juga yang mendasari teorinya tentang hubungan antar-manusia, yaitu semuanya bermula dari pertemuan yang
tidak disengaja yang akhirnya membentuk suatu ikatan tertentu yang menyatukan hubungan antar mereka
sendiri.
Namun demikian, terutama bagi orang-orang urban yang menempati daerah-daerah baru di kota-kota
besar, hubungan antar manusia di dalam perusahaan tempat mereka bekerja adalah semata-mata hubungan
professional. Ketika mereka telah kembali ke rumah, pengaruh orang-orang di perusahaan akan semakin
menipis. Sedangkan keberadaan keluarga mereka di tengah-tengah komunitas baru di kota-kota besar semakin
longgar, karena tidak ada keterikatan pada kesamaan wilayah asal (chien). Inilah yang menyebabkan kepedulian mereka terhadap orang atau keluarga lain juga sama tipisnya. Sebagai contoh misalnya akhir-akhir ini di media
Jepang sering diberitakan tentang penemuan mayat penghuni apartemen yang telah meninggal lama sekali tanpa
diketahui oleh para tetangganya. Hal ini menunjukkan bahwa urbanisasi dan melemahnya sistem chonaikai
mempunyai andil besar dalam pergeseran nilai-nilai tradisi lama di Jepang.
V Individualisme dan Kemandirian Sebagai Bencana atau Berkah?
Salah satu ciri khas modernisasi Jepang dan sebagian besar bangsa Barat adalah ‘semangat
kemandirian’-nya. Namun demikian, semangat kemandirian Jepang berbeda dengan Amerika Serikat (AS).
Penduduk AS adalah para imigran yang mau tidak mau harus punya jiwa mandiri yang kuat dalam menjalani
kehidupan di tanah baru, sedangkan bangsa Jepang adalah sebuah suku bangsa homogen yang mempunyai sifat
saling tergantung dan tolong menolong yang tinggi. Seperti yang diungkapkan oleh Doi Takeo dalam Amae no
Kozo, ciri khas psikologi orang Jepang adalah kesalingtergantungan dengan orang lain disekitar, agar keberadaan mereka disukai oleh yang lainnya sehingga akan tercipta ritme kerja yang harmonis dan seiring
sejalan.9 Dengan kata lain, Jepang bukan bangsa yang mengedepankan sifat-sifat kemandiriannya dalam
berhubungan dengan orang lain.
Namun demikian, memasuki Zaman Meiji bangsa Jepang berhadapan dengan bangsa-bangsa Barat
yang mempunyai kekuatan militer, industri serta kemajuan teknologi yang jauh berada di atasnya. Untuk
mengejar ketertinggalannya tersebut para pemimpin Jepang merasakan perlunya mempelajari semangat dan
pemikiran Bangsa Barat. Selain gagasan untuk mempelajari Kristen melalui kitab sucinya yang dirasakan
penting oleh beberapa cendekiawan Kristen.10 Cendekiawan lainnya memandang perlu untuk mempelajari
buku-buku etika dan filosofi Barat. Salah satu buku Barat yang banyak memberikan inspirasi kepada bangsa
Jepang pada Zaman Meiji adalah Self Help (1859) karya Samuel Smiles (1812-1904). Buku penulis Skotlandia ini mengupas mengenai kemandirian individu dan negara dalam memperoleh kemajuan dalam hidupnya.
maupun bakat yang dimiliki, melainkan niat dan usaha keras adalah hal yang paling penting dalam mencapai
tujuan. Buku ini telah memberikan inspirasi bagi bangsa Jepang terutama untuk membangun kepercayaan diri
dalam mengejar ketertinggalannya dari bangsa Barat.
Kepercayaan diri yang dilandasi oleh kemandirian yang kuat bangsa Jepang memicu berbagai macam
capaian dalam sejarah modernisasi mereka. Misalnya, deflasi perekonomian yang terjadi pada tahun 1881 telah
dapat memicu semangat mereka dalam menggelindingkan revolusi industri di tahun 1886. Berkat revolusi
industri ini 4 tahun kemudian volume produksi industri di Jepang meningkat tajam menjadi lebih dari 50%.
11Hal ini pula yang mendorong tumbuhnya kota-kota industri baru yang kebanyakan berpusat Tokyo dan Osaka.
Sementara itu daerah-daerah yang sulit berkembang akibat iklim yang kurang mendukung seperti daerah
Tohoku, banyak ditinggalkan oleh warganya dan pindah ke kota-kota pusat industri. Di daerah-daerah baru ini
mereka bertemu dengan para pendatang dari daerah lain yang sama sekali tidak dikenal sebelumnya. Di
daerah-daerah baru yang tidak terikat sama sekali dengan pertalian darah kerabat maupun tetangga asal wilayah
membuat hubungan antar manusia menjadi semakin longgar. Hal ini pulalah yang membuat sifat-sifat
individualisme menjadi tumbuh subur.
Demikianlah, di Zaman Meiji bangsa Jepang mulai mengenal individualisme dan kemandirian sebagai
turunan dari modernisasi. Dari sisi pembangunan jati diri sebagai manusia seutuhnya, kedua sifat ini mempunyai
kelebihan-kelebihan sendiri. Misalnya, sifat-sifat yang mendorong untuk terus berbuat lebih baik lagi dan tidak
tergantung dengan siapa pun. Di sisi hubungan antar manusia, mulai timbullah sifat-sifat kekurang pedulian
terhadap orang lain sejauh tidak ada ikatan apa pun diantara mereka (baik ketsuen, chien, maupun shaen). Sifat inilah yang lambat laun telah berkembang menjadi sifat apatis terhadap orang lain seperti yang telah terjadi pada
masyarakat Jepang dewasa ini.
VI Mengembalikan Nilai-Nilai Lama
Kondisi keterputusan hubungan orang-orang dengan masyarakat sekitar (muen shakai) seperti ini menjadi persoalan serius bagi pemerintah Jepang untuk segera ditangani. Bila tidak ditangani dengan segera
maka akan lebih banyak lagi korban yang berjatuhan. Tidak hanya upaya pencegahan terhadap timbulnya
korban meninggal dalam kesendirian (kodokushi), namun juga korban-korban meninggal akibat bunuh diri (jisatsu). Terutama karena populasi lansia di Jepang yang semakin meningkat dan tidak diimbangi dengan peningkatan kelahiran yang memadai. Hal tersebut mengakibatkan semakin besarnya beban, penduduk usia
kerja dalam membayar dana pensiun mereka. Sehingga efek domino yang akan ditimbulkan adalah tingkat
tekanan psikologis bagi para penduduk usia kerja tersebut yang kemungkinan berujung pada kematian.
Langkah-langkah strategis yang dilakukan oleh pemerintah pusat dan daerah di Jepang sangat variatif.
Misalnya dengan membangun shelter-shelter untuk para lansia agar dapat saling bertukar informasi di beberapa
tempat. Di daerah-daerah tertentu dimana populasi lansianya sangat banyak, pemerintah daerahnya
menyediakan petugas khusus untuk melakukan patrol menengok para lansia tersebut setiap hari. Ada juga
daerah yang meminta para lansia tersebut memasang bendera kuning di depan mereka tiap pagi, lalu
menurunkan bendera tersebut pada waktu sore. Tujuannya tak lain adalah untuk menunjukkan bahwa mereka
oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Tujuannya tak lain adalah untuk membantu beban biaya yang
dikeluarkan para orangtua dalam mengasuh anak-anaknya. Selain itu, upaya untuk memperbanyak
tempat-tempat penitipan anak juga terus dilakukan agar para ibu juga dapat bekerja kembali untuk mendukung
perekonomian keluarga.
Selain upaya-upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah, masyarakat secara mandiri juga dituntut
untuk meminimalisir jatuhnya korban akibat kodokushi maupun jisatsu. Salah satu organisasi soasial yang telah ada di masyarakat adalah chonaikai. Melalui chonaikai, terutama di kota-kota besar diharapkan dapat menjadi penghubung atau perekat jalinan chien baru bagi warganya yang mayoritas kaum urban yang datang dari berbagai macam daerah. Upaya ini mungkin tidak mudah dan akan mendapat berbagai tentangan dari warga
baru yang merasa bukan bagian dari daerah tersebut. Namun justru disinilah peranan dari chonaikai akan dipertanyakan. Bagaimana mereka dapat meyakinkan para pendatang baru tersebut bahwa mereka adalah bagian
dari daerah tersebut. Contoh-contoh kegiatan yang telah dan mungkin bisa dilakukan adalah misalnya, dengan
penyelenggaraan festival musim panas yang berpusat di jinja atau lapangan sekolah setempat. Atau dengan
mengundang warganya untuk berpartisipasi dalam undokai setiap musim gugur, dan lain-lainnya.
Tindakan pencegahan juga bisa dilakukan oleh organisasi-organisasi keagamaan maupun kalangan
perguruan tinggi. Meskipun Jepang adalah negara sekuler dan kebanyakan rakyatnya mengaku tidak memeluk
agama tertentu, namun akhir-akhir ini mulai banyak yang tertarik pada agama atau kepercayaan tertentu.
Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Kokugakuin University antara tahun 1996-2010, mahasiswa yang
percaya terhadap agama tertentu atau mempunyai minat terhadap agama telah meningkat secara signifikan. 12
Sebagai salah satu alasan ketertarikan mereka adalah kepedulian dan rasa persaudaraan tinggi yang ditunjukkan
oleh pemeluk agama-agama tersebut yang tidak mereka temui di antara orang Jepang sendiri. 13
Bagi kaum muda Jepang, agama atau kepercayaan spiritual ini dianggap sebagai sebuah sub culture
yang ditandai dengan meningkatnya berbagai kunjungan ke tempat-tempat yang dipercaya memiliki kekuatan
gaib (power spot). Dengan adanya fenomena seperti ini organisasi-organisasi keagamaan di Jepang mestinya melihat kesempatan ini bukan hanya untuk menyebarluaskan doktrin keagamaan. Namun yang terlebih penting
adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat Jepang secara spiritual agar lebih memahami hakikat hidup
dan tujuan dari kehidupan itu sendiri. Pelayanan seperti ini bisa berupa konseling gratis atau pembagian
buku-buku spiritual secara cuma-cuma kepada masyarakat luas. Demikian pula dengan institusi perguruan tinggi
tentunya diharapkan berperan lebih kepada masyarakat secara luas. Tidak hanya menjadikan fenomena di
masyarakat sebagai objek penelitian semata, namun juga turun langsung memberikan sumbangsih pemikiran
kepada masyarakat. Contoh nyata yang bisa dilakukan adalah misalnya dengan jalan memberikan konseling
ini. Dengan demikian agama dan ilmu pengetahuan akan dapat
menjadi sebuah perekat dan pembungkus hubungan antar manusia di
Zaman Modern ini.
Dengan turut aktifnya semua pihak dalam pencegahan
kematian sia-sia seperti ini maka akan terjalin sinergi yang baik
dalam menciptakan sebuah tatanan masyarakat modern yang lebih
peduli terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Tradisi lama tidak mungkin
diterapkan sepenuhnya di Zaman Modern ini, namun nilai-nilai lama
tersebut tetap dapat ditanamkan dalam setiap tindakan yang diambil
untuk menjaga keharmonisan tersebut. Seperti yang pernah
disampaikan oleh Mencius, bahwa hubungan antar manusia seperti
melihat ke cermin, sikap orang lain terhadap diri kita mencerminkan
sikap kita kepada orang lain. Dengan kata lain jika setiap pribadi
saling mencintai sesamanya seperti mencintai diri sendiri niscaya
kebajikan ini akan dapat menyelamatkan dunia dari kehancuran.
VII Kesimpulan
Disconnected Society atau orang-orang yang terpisah dari masyarakat sekitar adalah salah satu masalah yang timbul dari modernisasi Jepang. Namun bukan berarti modernisasi hanya membawa bencana
belaka. Prinsip-prinsip individualisme dan kemandirian sebagai jiwa dari modernisasi adalah jalan yang dipilih
oleh bangsa Jepang dalam mengejar ketertinggalan bangsa Jepang sejak Zaman Meiji. Sebagai salah satu
hasilnya, lahirlah revolusi industri dan pembukaan kota-kota baru sebagai tempat tinggal baru bagi kaum urban
dari berbagai daerah. Di tempat inilah nilai-nilai tradisi ketsuen dan chien mulai ditinggalkan kemudian lahirlah
shaen sebagai ikatan baru antar kaum pendatang di masing-masing perusahaan atau instansi yang mereka tempati. Namun, terlepas dari ikatan sesama pekerja dalam satu perusahaan, kebanyakan dari kaum urban
tersebut tidak memiliki ikatan apa pun dengan daerah baru yang mereka tempati. Disinilah mulai terjadi
berbagai masalah sosial akibat kerenggangan hubungan antar manusia karena tidak ada lagi yang dapat
mengikat mereka. Beban hidup yang dirasakan semakin berat serta perubahan gaya hidup manusia-manusia
modern mengakibatkan mulai munculnya pemikiran bahwa perkawinan dan melahirkan anak pun merupakan
beban berat yang harus dipikul. Akibatnya, ketika tingkat harapan hidup semakin meningkat akibat kemajuan
teknologi kedokteran, angka perkawinan dan kelahiran anak justru semakin menurun dari tahun ke tahun. Dan
lagi, beban hidup yang berat telah menyebabkan peningkatan jumlah kematian akibat kodokushi maupun jisatsu
dari tahun ke tahun.
Berbagai macam persoalan ini tidak hanya bisa diselesaikan oleh pemerintah saja. Partisipasi
masyarakat dan lembaga-lembaga sosial pun harus saling bekerjasama untuk mencegah timbulnya
masalah-masalah tersebut. Pemerintah pusat dan daerah diharapkan memberikan fasilitas dan tunjangan untuk
meringankan beban masyarakat. Sedangkan lembaga-lembaga sosial pun diharapkan mau membuka pintu dan
diharapkan untuk semakin sadar terhadap pentingnya memupuk hubungan yang baik terhadap sesama anggota
masyarakat di sekitarnya. Bila semua pihak saling bersinergi niscaya masalah-masalah sosial seperti ini akan
dapat teratasi.
11 Tachibana Toshiaki, Muen Shakai no Shotai (Wujud Sebenarnya dari Masyarakat yang Terpisah), PHP, Tokyo, 2011, hal. 1. 2 NHK Supesharu Shuzaihan, Muen Shakai, Bunshun Bunko, Tokyo, 2012
3 Perawat yang mengundurkan diri di tahun 2007 sebanyak 12.4%, 2008 sebanyak 12.6%, 2009 sebanyak 11.9%. Alasan tertinggi
adalah karena kesehatan yang kurang baik. Kangoushi nado no “koyou shitsu” no kojou ni kan suru shonai purojekuto chiimu houkokusho, (Laporan Tim Proyek Peningkatan Kualitas Perekrutan Perawat dan lain-lainnya), kosei roudousho purojekuto (Kementrian Kesehatan dan Tenaga Kerja), 2010. mhlw.go.jp diakses tanggal 23 November 2013.
4 Kotsuji Hisanori, Kobayashi Muneyuki, Kodokushi Hodo no Rekishi, Core Ethics Vol. 7, 2011
5 Wabah kolera melanda Jepang akibat kebiasaan masyarakat Jepang saat itu yang kurang menjaga kebersihan sekitarnya. Korban
meninggal akibat kolera pada tahun 1879 sebanyak 162.637 jiwa, tahun 1886 sebanyak 155.923 jiwa. Sumber: “Isei Hyakunenshi” (Seratus Tahun Kedokteran Jepang), Koseishou Imukyokuhen dalam Nihon Rekishi-kan, Shogakukan, 1993, hal.904
6 Hanshin Daishinsai Kasetsujuutaku Kodokushi, 233nin (Kematian kodokushi di Perumahan Sementara Korban Bencana Gempa
Hanshin, 233 jiwa) Osaka, Asahi Shimbun, 14 Januari 2000, dalam Kotsuji dan Kobayashi, 2011.
7 Fujimi Junko, Seino Riko, Gendai Kazoku no Kozo to Henyou, Tokyo Daigaku Shuppankai, 2004 dalam Muen Shakai no Shotai,
2011, hal. 128.
8 Kato Hidetoshi, Ningen Kankei: Rikai to Gokai, Chukou Shinsho, 1966, hal. 25 9 Doi Takeo, Amae no Kozo (Struktur Ketergantungan), Kobundo, Tokyo, 1971
10 Misalnya Uchimura Kanzo (1861-1930) yang menganggap perlu menanamkan nilai-nilai Kristen dalam jiwa Jepang tanpa
meninggalkan nilai-nilai tradisional yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai baru tersebut.
11 Shogakukan, Nihon no Sangyo Kakumei (Revolusi Industri Jepang) dalam Nihon Rekishikan, Shogakukan, Tokyo, 1993, hal. 920. 12 Berdasarkan hasil survey yang dilakukan terhadap 2003 orang mahasiswa yang kuliah di perguruan tinggi non-keagamaan,
sebanyak 7.5% responden menjawab bahwa mereka punya keyakinan tertentu, 46.4% mengatakan bahwa tertarik pada agama, lalu sebanyak 21.6% mengatakan bahwa manusia memerlukan agama. Ima Shukyo wo Shiritai (Sekarang Ingin Mengetahui Tentang Agama), Bunka, asahi.com (17 November 2011) diakses tanggal 22 November 2013.
13 Ikegami Akira, Ikegami noShukyou ga Wakareba Sekai ga Mieru (Bila Mengerti Agama, Maka Dunia Akan Semakin Jelas Terlihat
Ala Ikegami), Bungei Shinsho, 2011, hal.268